Home
Login.
Artikelilmiahs
19519
Update
FAUZI GHUFRONI
NIM
Judul Artikel
Mistisisme dan Politik dalam Tradisi Ngalap Berkah Panembahan Kalibening Desa Dawuhan Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini menjelaskan tetang Mistisisme dan Politik dalam tradisi ngalap berkah panembahan Kalibening desa Dawuhan Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Memahami dan mendeskripsikan tradisi ngalap berkah merepresentasikan bertahannya mistisisme Jawa dalam Politik; 2) Mengetahui dan menjelaskan yang mendasari tradisi ngalap berkah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sementara pendekatan penelitiannya adalah etnografi dengan empat jenis data analisis, yaitu analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial dan analisis tematik. Karena sasaran utama dalam penelitian ini adalah masyarakat lokal Kalibening, maka empat jenis data analisis tersebut digunakan untuk memahami hubungan hubungan antar simbol yang melekat pada sasaran penelitian ini secara komperhensif yang kemudian membentuk makna dari tradisi ngalap berkah. Hasil penelitian ini Mistisisisme dalam tradisi ngalap berkah merupakan cara pandang Jawa untuk mendapat sebuah keberkahan dari situs keramat. Masyarakat Dawuhan yang memiliki situs keramat salah satunya makam Kalibening menjadi kebanggan karena dijadikan lokasi untuk berziarah dalam mencari keberkahan berupa keselamatan hidup dan kepentingan berpolitik. Kepercayaan masyarakat lokal dan peziarah melakukan prosesi ziarah di dasari oleh ketokohan Mbah Kalibening dalam penyebaran agama Islam di wilayah Banyumas, Mbah Kalibening dianggap orang yang dekat dengan Allah karena memiliki keistimewaan dalam spiritual semasa hidupnya. Oleh karena itu, setelah meninggal makamnya menjadi simbol sebagai tempat penyambung do’a kepada ke sang pencipta bagi orang-otang yang mencari ketenangan batin dan ingin mendapatkan posisi di pemerintahan. Di lokasi panembahan Kalibening terdapat sumur pesucen di mana sumber mata air tersebut dipercaya sebagai air barokah, sumur yang dianggap sakral oleh masyarakat Kalibening sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan peziarah. Terdapat 3 sumur di lokasi panembahan pertama dimanfaatkan untuk berwudhu, mencuci muka, untuk diminum kemudian sumur ke dua dan ke tiga untuk tempat mandi wanita dan pria. Selain sumur adapula batu mudjahadah sebagai lokasi untuk bermunajad prosesi ritual tersebut merupakan rangkaian prosesi dalam rangka mencari keberkahan di lokasi yang dianggap keramat.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research discusses the Mysticism and Politict in the traditions of ngalap berkah in Panembahan Kalibening Dawuhan Banyumas. The research aims at: 1) Understand and describe the tradition of ngalap berkah represents the persistence of Javanese mysticism in politics; 2) Knowing and explaining the underlying traditions ngalap berkah. This research used qualitative methods, while research is an ethnographic approach to the four types of data analysis, ie domain analusis, taconomic analysis, componential analysis, and thematic analysis. Since the main goal of this research is the local communitu Kalibening, the four types of data analysis were used to understand the relationships between symbols inherent relationship to the goal of this research comprehensively which then make up the meaning of tradition ngalap berkah. This results of this study in the tradition Mysticism ngalap berkah worldview Java to get a blessing form the sacred sites.Dawuhan community that has one tomb sacred sites Kalibening be used as the location for the pride for a pilgrimage in search for blessing in the form of safety of life and political interests. The trust of local people and pilgrims perform the pilgrimage procession in the underlying by Mbah Kalibening persona in the spread of Moeslim in Banyumas, Mbah Kalibening considered a person close to God as it has in the spiritual privilege during his lifetime. Therefore, after the death of his tomb became a symbol as a connector to prayer to the creator to the person on seeking peace of mind and want to get a position in the government At the site there Panembahan Kalibening sumur pesucen wells where the water source is belived to be berkah water, wells that are considered sacred by the people Kalibening often used by the local community and pilgrims. There are three wells at the site of the first Panembahan used of ablutions, the face wash, to drink, and then well into the sevond and third place to sumur ladies and gentle. In addition to the well unisex Mudjahadah stone as the location for the ritual procession bermunajad a series of processions in order to find berkah in locations that are considered sacred.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save