Artikelilmiahs
Menampilkan 14.321-14.340 dari 49.702 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 14321 | 17628 | H1B011027 | MODEL LOGISTIK DENGAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERGANTUNG WAKTU YANG DIPENGARUHI LAJU PEMANENAN PROPORSIONAL | Model logistik adalah model pertumbuhan populasi yang dibatasi oleh daya dukung lingkungan. Penelitian ini mengkaji model logistik dengan daya dukung lingkungan bergantung waktu yang dipengaruhi laju pemanenan proporsional. Daya dukung lingkungan pada model tersebut diformulasikan sebagai fungsi logistik. Model tersebut mempunyai empat titik kesetimbangan yang dapat bersifat stabil asimtotis, stabil, dan tidak stabil bergantung dengan parameter yang digunakan. Simulasi pada model tersebut dibagi menjadi dua kasus yaitu saat laju pertumbuhan intrinsik daya dukung lingkungan bernilai negatif dan positif. Masing-masing kasus juga dibagi menjadi tiga kondisi yaitu saat laju pertumbuhan intrinsik populasi lebih kecil dari laju pemanenan, laju pertumbuhan intrinsik populasi lebih besar dari laju pemanenan, dan laju pertumbuhan intrinsik populasi sama dengan laju pemanenan. Berdasarkan hasil simulasi, dalam jangka waktu yang lama jumlah populasi akan tetap ada ketika laju pertumbuhan intrinsik daya dukung lingkungan bernilai negatif maupun positif dimana kondisi laju pertumbuhan intrinsik populasi lebih besar dari laju pemanenan. | Logistic model is a model of population growth that limited by the carrying capacity. This research discuss the logistic model with time dependent of carrying capacity that affected harvest rate proportional. Formulation of carrying capacity in this model is a logistic function. Depend on the parameters that used, the model has four equilibrium points that can be asymptotically stable, stable, and unstable. Simulation model is divided into two cases, namely when intrinsic growth rate of carrying capacity are negative and positive. Each case is divided into three conditions, namely when intrinsic growth rate of population is less than harvesting rate, intrinsic growth rate of population is greater than harvesting rate, and intrinsic growth rate of population is equal to harvesting rate. Based on simulation results, for long periods of time the number of population will still be there when intrinsic growth rate of carrying capacity is negative or positive where the conditions of intrinsic growth rate of population is greater than harvesting rate. | |
| 14322 | 17622 | E1A111106 | PENOLAKAN ISTBAT NIKAH ( Tinjauan Yuridis Terhadap Penetapan Pengadilan Agama Bukittinggi Nomor 0098/Pdt.P/2015/Pdt.P/PA.Bkt) | PENOLAKAN ISTBAT NIKAH (Tinjauan Yuridis Terhadap Penetapan Pengadilan Agama Bukittinggi Nomor 0098/Pdt.P/2015/PA.Bkt) Oleh : Nahdia Nuraini NIM : E1A11106 ABSTRAK Undang – undang Nomor 1 Tahun 1974 menentukan bahwa setiap perkawinan harus dicatat oleh petugas yang berwenang. Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang menyatakan bahwa “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang – undangan yang berlaku” maka perkawinan yang tidak didaftarkan tidak semuanya dikabulkan Istbat Nikah seperti salah satu perkara yang terjadi di Pengadilan Agama Bukittinggi Nomor 0098/Pdt.P/2015/PA.Bkt. Metode penelitian dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian deskriptif analitis, sumber data yang digunakan data sekunder, metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan, metode analisis data normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertimbangan hukum hakim dalam penolakan permohonan Istbat Nikah sudah tepat, karena telah sesuai dengan Pasal 6 ayat(1) KHI dalam penolakan permohonan istbat nikah pada Penetapan Pengadilan Agama Bukittinggi Nomor 0098/Pdt.P/2015/PA.Bkt. selain itu Majelis Hakim sebaiknya mempertimbangkan Pasal 7 ayat(3) huruf (c) mengenai adanya keraguan sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan hal ini mengenai wali nikah yang digunakan adalah ayah tiri yang tidak sah untuk menjadi wali serta pelimpahan wali nikah oleh wali nasab yang melalui telepon tidaklah sah karena tidak ada bukti otentik mengenai pelimpahan wali nikah. Kata kunci: Istbat Nikah, Pelimpahan Wali Nikah, Pencatatan Perkawinan | Rejection for Israt Nikah (Judicial review of the court order of Bukittinggi Religious Court Number 0098/Pdt.P/2015/PA.Bkt) By: Nahdia Nuraini NIM: E1A11106 ABSTRACT The Law No. 1 of Marriage Act of 1974 requires every marriage must be recorded by the authorized officer. In accordance with Law No. 1 of 1974 concerning marriages in Indonesia (Article 2 (2): "each marriage shall be entered in a register conform to the statutory regulations. Therefore, not all of unregistered marriages can be approved of their Isbat Nikah (marriage legalisation), such case was one that was in Bukittinggi Religious Court Number 0098/Pdt.P/2015/PA.Bkt. The author uses normative juridical approach, and the specification of the analysis is descriptive analysis in this research. The data source used in this research is secondary data, which collected and obtained from the study of literature. Analytical method used in this research is normative-qualitative. The result of the research suggests that the legal considerations of the judge in the rejection for the application of Isbat Nikah had been the correct one since it was in accordance to the Article 6 paragraph 1 on the Compilation of Islamic Law (KHI), in the rejection of the Isbat Nikah application in the court order of Bukittinggi Religious Court Number 0098/Pdt.P/2015/PA.Bkt. Furthermore, the Panel of Judges should also consider Article 7, paragraph 3 (c) regarding the doubt whether it is legitimate or not on one of the conditions of marriage about the marriage if the guardian present is a stepfather, who is legally void to be a marriage guardian. Moreover, the devolution of a marriage guardian by a male relative guardian over the phone was also void, because there is no authentic proof of the devolution of the marriage guardian. Keywords: Isbat Nikah, devolution of marriage guardian, registration of marriage | |
| 14323 | 17629 | E1A012311 | Kajian Yuridis Mengenai Pengakuan Negara Republik Indonesia Berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB Tahun 1947 | Setiap negara memiliki hak kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri untuk bebas dari penjajah dan menjadi negara merdeka, oleh karena itu pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan hari kemerdekaannya, namun Belanda tidak mengakui Indonesia secara de facto dan de jure karena masih menganggap Indonesia sebagai bagian dari Belanda sesuai dengan Hukum Tata Negara Belanda. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pemberian pengakuan Negara Republik Indonesia berdasarkan hukum internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB Tahun 1947. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui syarat berdirinya suatu negara berdasarkan Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 dan pemberian pengakuan Republik Indonesia berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB Tahun 1947. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan hukum normatif dan pendekatan sejarah. Data-data sekunder yang terkumpul diolah dan dianalisis secara kualitatif dengan penyajian data secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa syarat berdirinya suatu negara harus memenuhi Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933. Pengakuan bukan merupakan kewajiban suatu negara untuk mengakui negara lain dan juga bukan merupakan hak dari suatu negara yang baru berdiri untuk mendapatkan pengakuan tersebut, tetapi pengakuan berkaitan dengan unsur keempat dalam Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933, sehingga pengakuan diperlukan untuk terpenuhinya unsur keempat tersebut. Indonesia telah memenuhi syarat berdirinya suatu negara berdasarkan Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933. Selain itu Indonesia mendapatkan pengakuan secara de facto dan de jure dari negara lain, dengan demikian Indonesia dapat diakui sebagai negara berdaulat dan mandiri, bukan bagian dari Belanda. | Every state has independence rights and self determination rights for free from invaders and become a freedom state, therefore on 17th August 1945 Indonesia proclaimed his independence day, but Netherlands not admitted de facto and de jure to Indonesia because they assume that Indonesia is still part of the Netherlands according to their constitutional law. This research was backgrounded by the problems of giving recognition to Republic of Indonesia based on International Law and resolution of United Nations of Security Council in 1947. The purpose of this research was to know the establishment of a state requirement is based on Article 1 of Montevideo Convention 1933 and giving recognition to Republic of Indonesia based on resolution of United Nations of Security Council in 1947. This research used normative legal research and historical approach. Secondary data collected was processed and anylyzed qualitatively with the presentment of data in descriptive. Based on the results of this research had been concluded that establishment of a state requirement based on Article 1 of Montevideo Convention 1933. Recognition is not a duty of a state to recognize another state and not rights from a new establish state for got a recognition but recognition relating to the fourth element in Article 1 of Montevideo Convention 1933, so recognition needs for fulfillment of the four elements. Other than that Indonesia had qualified establishment of a state based on Article 1 of Montevideo Convention 1933. Indonesia got de facto and de jure recognition from other states, therefore Indonesia can recognized as a sovereign an independent state not a part of Netherlands. | |
| 14324 | 17630 | B1J012082 | VIABILITAS DAN KARAKTER MORFOLOGI SEL-SEL LIMPA IKAN NILEM (Osteochilus vittatus ) PADA KONDISI IN VITRO | Galur sel yang telah tersedia saat ini sebagian besar berasal dari mamalia, sementara pada ikan masih sangat terbatas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian sebagai langkah awal dalam pembuaatan galur sel dari ikan, dalam hal ini memanfaatkan jaringan limpa ikan Nilem (Osteochilus vittatus). Limpa pada ikan merupakan salah satu jaringan hematopoitik. Kondisi lingkungan (in vitro) yang sesuai bagi kultur sel-sel suspensi limpa ikan Nilem menjadi tujuan dasar dalam penelitian. Penelitian dilakukan secara eksperimental (RAL Faktorial). Faktor pertama yaitu jenis serum berupa serum ikan Nilem dan Fetal Bovine Serum (FBS). Faktor kedua berupa konsentrasi serum dalam medium yaitu 0%, 5%, 10%. dan 15%. Konfluensi sel, viabilitas dan kepadatan sel dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA Two way (kultur primer) dan ANOVA One way (sub-culture) yang dilanjutkan dengan uji Post Hoc, sedangkan karakter morfologi dan proporsi masing-masing tipe sel dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan konfluensi 90% dicapai dalam 7 hari untuk kultur primer dan 6 hari untuk sub-culture. sedangkan nilai viabilitasnya semua perlakuan layak untuk dikultur kembali (≥80%). Hasil kepadatan tertinggi pada kultur primer pada FBS 15%, sedangkan hasil sub-culture pada SI 15%. Hasil pengamatan morfologi sel kultur diperoleh 8 tipe sel dengan karakter berbeda, namun umumnya menyerupai sel darah diantaranya reticulocytes, erythrocytes dan granular anucleate bodies. Tipe sel yang mendominasi > 65% yaitu tipe sel A yang mirip dengan granular anucleate bodies. | The a viability of cell strains largely derived from mammals, while the fish is still limited. Therefore, research needs to be done as the first step in making of cell strain of fish, in this case utilize spleen fish Nilem tissue (Osteochilus vittatus). The spleen on the fish is one of the hematopoitic tissue. Environmental conditions (in vitro) for suspension culture cells of the spleen to become the basic purpose Nilem fish research. The research was conducted experimentally using factorial completely randomized design. The first factor was the serum type consisted of fish serum and Fetal Bovine Serum. The second factor was the serum concentration consisted of control (without serum), 5%, 10% and 15%. Four replicates were provided for each treatment. The cell confluence, cell viability, and cell density were analyzed using two ways ANOVA (primary culture) and one way ANOVA (secondary culture), followed by Post Hoc test for cell confluence and cell desity. Cell morphology was describe and the proportion of each cell type was determinate. The results showed that 90% confluence was achieved in 7 days for the primary culture and 6 days for the secondary culture. The cell viability of all experimental groups were ≥ 80% indicating a good culture condition. The highest cell density was observed in primary culture supplemented with 15% Fetal Bovine Serum and in secondary culture supplemented with 15% fish serum. There were 8 different types of cell observed in the primary culture with morphological features similar to the reticulocyte, erythrocyte and granulocyte anucleated bodys. The culture was dominated by granulocyte anucleated bodys (>60%). | |
| 14325 | 17634 | F1A011026 | MAKNA GANJA DAN ILEGALISASI GANJA (Studi tentang Pandangan Pengguna Ganja Memaknai Ganja dan Ilegalisasi Ganja, di Kota Purwokerto, Solo, dan D.I.Y.) | Penelitian berjudul “MAKNA GANJA DAN ILEGALISASI GANJA (Studi tentang Pandangan Pengguna Ganja Memaknai Ganja dan Ilegalisasi Ganja – di Kota Purwokerto, Solo dan D.I.Y.)” ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan verstehen (pemahaman/penghayatan). Rangkaian pencarian data dilakukan melalui proses wawancara mendalam dan observasi. Penelitian ini menganalisis mengenai fenomena penggunaan ganja yang meliputi; (1) motivasi penggunaan, (2) efek penggunaan, sehingga sampai pada tahap (3) pemaknaan ganja dan ilegalisasi ganja. Metode analisis kualitatif pada penelitian ini berpedoman pada model analisis interaktif. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis diketahui bahwa pengguna ganja memaknai ganja sebagai penopang peradaban, tanaman obat, teman dan sejumlah pemaknaan lainnya. Pengguna ganja memaknai ilegalisasi ganja sebagai bentuk diskriminasi terhadap tanaman ganja dan penggunanya. Pengguna ganja masing-masing memiliki keunikan tersendiri dalam menyalurkan reaksi dari penggunaan ganja, sebagai sarana spiritualitas, melakukan perenungan, penghilang rasa penat, bahkan “teman” kala berimajinasi untuk menghasilkan sebuah karya. Pada hakikatnya, tidak ada istilah pengkategorian dalam penggunaan ganja. Awal adanya pengelompokan pengguna muncul sebab sebuah kebijakan ilegalisasi ganja yang menyebutkan bahwa penggunaan mariyuana dengan cara dihisap adalah bentuk penyalahgunaan dari ganja. Padahal, awal penggunaan ganja memang dilakukan dengan cara dibakar lalu dihisap. Adapun maksud dari pengkategorian ialah untuk meluruskan mengenai paham yang selama ini dimaknai secara keliru. Kata kunci : motivasi, efek, makna, ganja, ilegalisasi. | The research entitled "The Meaning of Marijuana and Cannabis Ilegalize (Study of Cannabis Users Interpret view Marijuana and Cannabis Ilegalize - in Purwokerto, Solo and D.I.Y.)" method was a qualitative research approach verstehen (understanding / appreciation). The series of data searches done through in-depth interviews and observation. This study analyzes the phenomenon of cannabis use include; (1) motivation of use, (2) effects of use, making up to the stage (3) the meaning of hashish and marijuana ilegalisasi. Methods of qualitative analysis in this study guided by an interactive model. Based on the research results and analysis show that marijuana users interpret as a crutch civilization marijuana, medicinal plants, friends and a number of other meanings. Ilegalisasi marijuana cannabis users interpret as a form of discrimination against the cannabis plant and its users. Cannabis users each has its own uniqueness in distributing the reaction of cannabis, as a means of spirituality, contemplating, relieving fatigue, even "friends" when imagination to produce a masterpiece. In essence, there is no term in the categorization of cannabis use. Beginning their user groupings arise because a ilegalisasi marijuana policy that says that the use of marijuana by smoking is a form of abuse of cannabis. In fact, the early use of marijuana is done by burning and then smoked. The purpose of the categorization is to straighten out the misunderstanding has been interpreted wrongly. Keywords: motivation, effects, meaning, marijuana, ilegalize | |
| 14326 | 17635 | E1A011197 | TANGGUNG JAWAB PENGANGKUT DALAM ANGKUTAN PEDESAAN JALUR 5B SUMBANG DI KABUPATEN BANYUMAS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 | TANGGUNG JAWAB PENGANGKUT DALAM ANGKUTAN PEDESAAN JALUR 5B SUMBANG DI KABUPATEN BANYUMAS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN Oleh: Ririh Rinto Ari Wibowo E1A011197 ABSTRAK Pengangkutan dalam operasionalnya dilandasi oleh suatu perjanjian yang disebut perjanjian pengangkutan, dalam Pasal 1313 Kitab Undang Undang Hukum Perdata mengenai Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan nama satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih, Perjanjian pengangkutan merupakan timbal balik dimana pihak pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dari dan ke tempat tujuan,tanggung jawab Pengangkut menurut Pasal 234 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/ Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh Penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga karena kelalaian pengemudi. Permasalahan dalam penelitian ini adalah pihak pelaku usaha angkutan pedesaan telah menunjukan tanggung jawabnya dengan membantu mengurus proses klaim asuransi jasa raharja dan pihak Pelaku Usaha Angkutan Pedesaan memberikan santunan kepada penumpang sebagai tanggung jawab terhadap penumpang Angkutan Pedesaan. Metode penelitian yang digunakan pada penulisan ini adalah yuridis normatif. Berdasarkan hasil penelitian ini, tanggung jawab pelaku usaha angkutan umum pedesaan sebagai pelaku usaha angkutan darat terhadap penumpang angkutan Jalur 5B Sumbang berdasarkan Pasal 234 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menderita kerugian akibat dari suatu peristiwa kecelakaan adalah haknya penumpang untuk mendapatkan ganti rugi. Kata Kunci: Tanggung Jawab Pelaku Usaha Angkutan Pedesaan. | CARRIER RESPONSIBILITY IN RURAL TRANSPORTATION ROUTE 5B SUMBANG IN BANYUMAS UNDER LAW NUMBER 22 OF 2009 ON TRAFFIC AND ROAD TRANSPORTATION By: Ririh Rinto Ari Wibowo E1A011197 ABSTRACT Transportation is operationally guided by an agreement called transportation treaty, under Article 1313 of Indonesian Civil Code. A treaty is an act including an individual or more binding himself to another individual or more. Transportation treaty is a reciprocal action which the carrier agrees to transport the goods from one destination to another destination. The responsibility of the carrier in accordance with Article 234 paragraph (1) of Law Number 22 of 2009 on Traffic and Road Transportation, that the driver, the owner of motor vehicle, and / or transportation company is responsible for the loss and damage suffered by the passenger and / or the owner of the goods and / or any third party due to the negligence of the driver. The problem in this research is that the transportation company of rural public transportation business have shown their responsibility to help taking care of the process of Jasa Raharja insurance claim. They also have provided compensations to the passengers as their responsibility. Normative juridicial method is applied in this paper. Based on the results, the responsibility of transportation company of rural public transportation as the operators of land transportation business to give compensations to the passengers of route 5B Sumbang who suffered losses in an accident under Article 234 paragraph (1) of Law Number 22 of 2009 on Traffic and Road Transportation. Keywords: Responsibilities, Business Operators, Rural Transportation Business. | |
| 14327 | 17636 | E1A112048 | “TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN OLEH ANGGOTA TNI” (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 19-K/PM.II-10/AD/III/2016). | TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN OLEH ANGGOTA TNI (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 19-K/PM.II-10/AD/III/2016 ) Oleh: Ainda Desy Luvitasari E1A112048 ABSTRAK Penganiayaan dalam istilah yang digunakan KUHP yaitu untuk tindak pidana terhadap tubuh. Tindak pidana penganiayaan dalam KUHP diatur dalam Buku II Bab XX Pasal 351 sampai dengan Pasal 356 KUHP dimana dalam tiap-tiap pasal diatur ancaman hukumannya. Salah satu kasus penganiayaan melibatkan anggota TNI AD dalam putusan Nomor 19-K/PM.II-10/AD/III/2016. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui unsur-unsur apa yang terbukti dalam Tindak Pidana Penganiayaan yang dilakukan anggota TNI. Selain itu juga untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum dari hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap anggota TNI dalam Putusan Pengadilan Militer II.10 Semarang Nomor 19-K/PM.II-10/AD/III/2016. Guna mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data sekunder yang terkumpul kemudian diolah, disajikan, dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif. Hasil penelitian menyatakan bahwa, terdakwa memiliki status sebagai militer, berdinas aktif sebagai anggota TNI aktif di Koramil/0720 Rembang dengan pangkat Koptu, sehingga berdasarkan status terdakwa sebagai anggota militer, maka terdakwa diadili di Pengadilan Militer. Selain itu unsur-unsur dalam Pasal 351 ayat 1 KUHP dapat dibuktikan dari persesuaian bukti-bukti berupa keterangan saksi diantaranya Mukhlisin, Masrukin dan Doni Setiawan, alat bukti surat, petunjuk dan keterangan terdakwa sehingga hakim memperoleh keyakinan akan kesalahan terdakwa. Kata kunci : Tindak Pidana, Penganiayaan dan Militer | CRIME OF ABUSE BY MEMBERS TNI (Judicial Review Decision No. 19-K/PM.II-10/AD/III/2016) by: Ainda Desy Luvitasari E1A112048 ABSTRACK The term ‘abuse’ as used in Criminal Code of Conduct (KUHP) refers to criminal offense against someone’s body. This particular crime in KUHP is regulated under Book II, Chapter XX within which Article 351 to Article 356 contains series of set penalties. There is one abuse case that will be presented within this paper and it involves member of the Army (TNI AD) as stated in court ruling No. 19-K/PM.II-10/AD/III/2016. Research was conducted in order to determine elements that are evident in the said abuse crime by the TNI AD personnel. Additionally, the research observes basic legal consideration of the judge when imposing punishment on that military personnel as decided in Semarang military court ruling II.10 No. 19-K/PM.II-10/AD/III/2016. To achieve these objectives, this research uses normative juridical approach. Secondary data gathered through the research is then collected, processed, and qualitatively analyzed to later be presented in a narrative. Study shows that the defendant is an active military personnel, posted and serving in Koramil/ 0720 Rembang as Koptu. Considering the military status, the defendant was tried in military court. Within this trial, the violation of elements in Article 351 paragraph 1 of KUHP is evident with the existence of several exhibits, including witness statements from Mukhlisin, Masrukin dan Doni Setiawan, documents, instructions and defendant’s testimony that led to judge’s conviction of defendant’s guilt. Keywords : Criminal Offense, Abuse and Military | |
| 14328 | 17638 | E1A012036 | Tinjauan Kriminologis Tentang Kejahatan Begal Yang Menggunakan Senjata Tajam Di Kabupaten Bekasi | Fenomena begal belakangan ini yang sering kali meresahkan warga terutama yang terjadi di daerah Kabupaten Bekasi. Begal atau dalam istilah hukum adalah pencurian dengan kekerasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kejahatan begal yang menggunakan senjata tajam di Kabupaten Bekasi dan upaya yang dilakukan oleh Polres Metro Bekasi untuk menanggulangi kejahatan begal yang menggunakan senjata tajam di Kabupaten Bekasi Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian yuridis sosiologis, dan spesifikasi penelitian adalah desktiptif, sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, metode pengumpulan data adalah wawancara dan studi kepustakaan dan metode analisis data menggunakan kualitatif. Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu faktor penyebab terjadinya kejahatan begal adalah faktor ekonomi, mental, pendidikan, lingkungan dan ringannya penjatuhan pidana. Upaya penanggulangan kejahatan begal dengan upaya represif dan preventif. | Begal phenomenon disturbing the residents, especially those that occur recently in Bekasi district area. In legal terms, begal can be categorized as theft with violence. The purpose of this research was to determine the factors that caused begal that used sharp weapon in Bekasi Regency and efforts made by the Bekasi police to overcome the phenomenon . This essay is written using juridical sociological research methods, and research specification is descriptive, the data sources are primary data and secondary data, the data collection methods were interviews and literature study, and data analysis methods using qualitative. From the research that has been done, it can be concluded that the causes of begal are economic factors, mental factors, educational factors, environmental factors, and the penalties that apply are still considered mild. Efforts to tackle begal is the repressive and preventive efforts. | |
| 14329 | 17639 | E1A111067 | PENETAPAN PENGESAHAN NIKAH (Tinjauan yuridis Terhadap Perkara No. 0125/PDT.P/2014/PA.PAS) | PENETAPAN PENGESAHAN NIKAH (Tinjauan yuridis Terhadap Perkara No. 0125/PDT.P/2014/PA.PAS) Oleh RIANA TRIANTI E1A111067 ABSTRAK Pengesahan nikah adalah penetapan suatu perkawinan, bahwa perkawinan ini telah dilakukan dengan sah yaitu sesuai dengan syarat dan rukun. Pengajuan pengesahan nikah, tidak semudah yang dibayangkan karena harus disertai dengan alasan-alasan antara lain: surat nikah hilang, nikah tidak tercatat di KUA. Hakim dalam mengabulkan permohonan pemohon pengesahan nikah dengan alasan perkawinan sah menurut agama dan ketentuan yang berlaku dengan mengkualifikasikan fakta-fakta di persidangan dan terpenuhinya syarat-syarat tersebut, seperti yang terdapat pada penetapan No.0125/Pdt.P/2014/Pa.Pas yang penulis teliti. Tujuan penelitian adalah ingin mengetahui dasar pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan penetapan pengesahan nikah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif. Spesifikasi penelitian dengan menggunakan deskriptif analitis. Sumber data yang digunakan data sekunder, metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan dengan pencatatan dan metode analisis dengan menggunakan normatif kualitatif. Kesimpulan peneliti, dari hasil penelitian menunjukan bahwa pertimbangan hukum yang dipakai oleh Hakim Pengadilan Agama Pasuruan dalam Penetapan No.0125/PDT.P/2014/PA.PAS. sudah tepat. Hakim dalam penetapannya mengacu pada syarat sahnya perkawinan yaitu ketentuan Pasal 2 ayat(1) Undang-Undang Perkawinan, dan mengesampingkan kelalaian Pegawai Pencatat Nikah terkait tidak memasukan buku nikah dalam register yaitu ketentuan Pasal 45 ayat (2) huruf b PP No.9 Tahun 1975. Kata kunci :Perkawinan, pengesahan nikah | Determination of Attestation of Marriage (Judicial Review of The Case Number 0125/Pdt.P/2014/Pa.Pas) By : Riana Trianti NIM : E1A111067 ABSTRACT Ratification of the determination of a marriage is a marriage, that marriage has been done legitimately is in accordance with terms and harmonious. The ratification of a marriage, is not so simple as to be accompanied by reasons such as: marriage certificate is lost, the marriage was not recorded at KUA. The judge granted the request of the applicant in the legalization of marriage for reasons of legal marriage in religious terms and conditions applicable to qualify the facts at the hearing and the fulfillment of these conditions, as well as on the determination number 0125/Pdt.P/2014/Pa.Pas he authors carefully , The research objective was to find out the basis of legal considerations in granting judges the determination of attestation of marriage. The author uses normative juridicial approach, and the specification of the analysisis descriptive analysis in this research. The data source used in this research is secondary data, which collected and obtained from the study of literature. Analytical method used in this research is normative-qualitative. The researchers' conclusion, the results of the study showed that the legal reasoning used by the Religious Court Judge Pasuruan in Determination No.0125 / PDT.P / 2014 / PA.PAS. own right. Judge in setting refers to the terms of the validity of a marriage is the provision of Article 2 paragraph (1) Marriage Act, and rule out negligence related Nikah Registrars Employees do not enter marriage book in the register that the provisions of Article 45 paragraph (2) letter b PP 9 1975. keyword : marriage. attestation of marriage | |
| 14330 | 17752 | G1F013012 | PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) TERHADAP RESPON RELAKSASI ISOPROTERENOL PADA RESEPTOR β-ADRENERGIK | Daun jambu biji (Psidium guajava) diketahui mempunyai aktivitas antialergi sehingga berpotensi merelaksasi saluran pernapasan pada penyakit asma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun jambu biji (EEDJ) terhadap respon relaksasi isoproterenol pada reseptor β-adrenergik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental secara in-vitro dengan metode organ terisolasi menggunakan organ trakea marmut jantan. Terdapat 4 kelompok uji yaitu kelompok kontrol tanpa pemberian EEDJ dan kelompok perlakukan yang diberikan EEDJ dengan konsentrasi sebesar 0,1; 0,2 dan 0,4 mg/mL. Masing-masing kelompok diberikan perlakuan induksi kontraksi otot polos dengan metakolin 10-4 M dan seri konsentrasi isoproterenol log konsentrasi -7; -6,5; -6; -5,5; -4,5; -4; dan -3 M. Hasil data yang didapatkan adalah data % relaksasi otot polos trakea dan nilai pD2. Nilai pD2 dianalisis statistik dengan menggunakan uji ANOVA satu jalan pada taraf kepercayaan 95% dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EEDJ mampu meningkatkan respon relaksasi otot polos trakea dan meningkatkan nilai pD2 isoproterenol. Nilai pD2 isoproterenol dengan penambahan EEDJ konsentrasi 0,1; 0,2 dan 0,4 mg/mL adalah 6,29 ±0,59; 5,25 ±0,50; dan 5,78 ±0,65 dibandingkan kelompok kontrol sebesar 4,77±0,50. EEDJ konsentrasi 0,1 mg/mL diketahui dapat meningkatkan nilai pD2 isoproterenol secara signifikan yang menandakan bahwa EEDJ konsentrasi 0,1 mg/mL memiliki efek agonis dengan afinitas cukup terhadap reseptor β-adrenergik. | Guava leaf (Psidium guajava L.) is known as efficacious antiallergy so that it is potential to relaxe respiratory tract in asthma. This study aimed to know the effect of ethanolic extract of Psidium guajava leaf (EEDJ) towards isoproterenol respons relaxation on β-adrenergic receptor. This is in-vitro experimental study with isolated organ method by using male guinea pigs’ trachea. There were 4 groups which were group control without giving EEDJ, and three other treatment groups were given EEDJ with dose 0,1; 0,2 and 0,4 mg/mL. Each group was given treatment of induction contraction of smooth muscle with metacholin 10-4 M and series concetration of isoproterenol with log dose -7; -6,5; -6; -5,5; -4,5; -4; dan -3 M. The result is % data of tracheal smooth muscle relaxation and pD2 value. Value of pD2 was analyzed using one-way ANOVA with a level of 95% then followed by Tukey test. The results showed that EEDJ could increase relaxation respons of trachea smooth muscle and pD2 isoproterenol value. pD2 value of isoproterenol with added of EEDJ dose 0,1; 0,2 and 0,4 mg/mL are 6,29 ±0,59; 5,25 ±0,50; and 5,78 ±0,65 compared with control 4,77±0,50. EEDJ dose 0,1 mg/mL could increase significantly the value of pD2 isoproterenol. It showed that EEDJ dose 0,1 mg/mL has agonist effect with enough affinity towards β-adrenergic receptor. | |
| 14331 | 17610 | G1H012032 | HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN ORANG TUA DAN INTERAKSI ORANGTUA ANAK DENGAN PERILAKU PICKY EATER PADA ANAK PAUD BIAS PURWOKERTO | Latar Belakang : Picky Eater adalah fase gangguan perilaku makan pada anak yang berhubungan dengan masa tumbuh kembangnya. Faktor- faktor yang mempengaruhi picky eater dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan ekternal. Tujuan penelitian : Mengetahui hubungan antara interaksi orang tua anak dan kebiasaan makan orang tua dengan perilaku picky eater. Metodologi Penelitian : Desain penelitian cross sectional. Responden pada penelitian ini merupakan total populasi yang memenuhi kriteria insklusi, yaitu 28 orang tua siswa PAUD Bina Insan Anak Sholeh (BIAS) Purwokerto mengisi kuesioner pengetahuan orang tua, interaksi orang tua anak, kebiasaan makan orang, kuesioner perilaku picky eater anak. Data dianalisis menggunakan uji chi square Hasil : Sebanyak 8,3% anak mengalami perilaku picky eater dengan interaksi orang tua baik, dan 6,2% anak mengalami perilaku picky eater dengan interaksi orang tua tidak baik. Sebanyak 8,3% anak mengalami perilaku picky eater dengan kebiasaan makan orang tua baik, dan 6,2% anak mengalami perilaku picky eater dengan kebiasaan orang tua tidak baik. Nilai p-value dari kedua variabel tersebut adalah 1,000 Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara interaksi orang tua anak dan kebiasaan makan orang tua terhadap perilaku picky eater pada anak. | Background : Picky Eater is a phase of disorder behavior feeding on children related to children growth. The influence factors of picky eaters are divided into two, namely internal and external factor. Objective : Knowing the relationship between parents interaction and eating behavior with Picky Eater. Methods : research design is Cross Sectional. The respondent are total population who are fulfill inclusion criteria, consist of 28 (twenty eight) parents of PAUD Bina Insan Anak Sholeh Students, Purwokerto. They were filled knowledge questioner, parenting interaction, parent eating habit and questioner of children picky eater. Data has been analyzed by Chi Square test. Result : 8,3% of PAUD BIAS’s students are picky eater with good parenting interaction and 6,2% of PAUD BIAS’s student are picky eater with bad parenting interaction. 8,3% of PAUD BIAS’s students are picky eater with good parent’s eating habit and 6,2% of PAUD BIAS’s student are picky eater with bad parent’s eating habit. p-value from both variable is 1,000. Conclusion : There is no relation between parenting interaction and parents habit with children picky eater. | |
| 14332 | 17668 | F1B009090 | DAMPAK PROGRAM BANGGA MBANGUN DESA TERHADAP STATUS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DAN KERJASAMA ANTAR LEMBAGA DI DESA KARANGMANGU KECAMATAN KROYA KABUPATEN CILACAP | ABSTRAK Penelitian ini berjudul “ Dampak Program Bangga Mbangun Desa Terhadap Status Sosial Ekonomi Masyarakat dan Kerjasama antar Lembaga di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap”.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh yang signifikan antara dampak program bangga mbangun desa terhadap status social ekonomi masyarakat dan kerjasama antar lembaga desa.Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif asosiatif, dengan teknik pengumpulan data melalui kuisioner. Pengujian hipotesis menggunakan kendall tau-b dan menggunakan regresi ordinal.Berdasarkan hasil analisis secara kuantitatif dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dampak program bangga mbangun desa berpengauh positif secara signifikan terhadap status social ekonomi masyarakat (koefisien korelasi 0,837). Sedangkan dampak program bangga mbangun desa berpengaryh positif secara signifikan terhadap kerjasama antar lembaga desa(koefisien korelasi 0,837). Sementara itu pengaruh program bangga mbangun desa terhadap status social ekonomi masyarakat dan kerjasama antar lembaga desa secara bersamaan berpengaruh secara positif secara signifikan (koefisien korelasi 0,937). Dapat disimpulkan penelitian ini memiliki pengaruh yaitu dampak program bangga mbangun desa terhadap stats social ekonomi masyarakat dan kerjasama antar lembaga desa, leh karena itu pemerintah Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap harus mampu mengkoordinasi pelaksanaan program bangga mbangun desa mencapai tujuan yang telah ditetapkan | This study entitled “Impact Program to build up Village Aagaints Rural Community Socio-economic Status and Cooperation between Instituations in the Village Tract Karangmangu Distict of cilacap’. The purpose of the study was to determine is there a significant relationship between tehe program’s impact on the village to build proud socio-economic status of the community and inter-agency cooperation village. This study uses a quantitative research associative, with data collection through questionnnaires. Hypothesis testing using kendall tau-b and using ordinal regression. Based on the results of quantitative analysis in this study can be cocluded that the impact of the program is proud village to build positive and significant effect on the socioeconomic status ot the community (correlation coefficient 0,837). While the impact of the pogram proud village to build positive and significant effect on inter-agency cooperation village (coorelation coefficient 0,837). While the effect of the program’s impact on the village to build proud socioekconomic status of the community and inter-agency cooperation at the same village significantly positive influence (correlation coefficient 0,937). This research can be concluded that had the effect that the program’s impact on the village to build proud socioecinimic status and inter-agency cooperation village, therefore the government village districts Karangmangu kroya Cilacap district should be able to coordinate the implementation of the program reaches proud to build up village has been set. Keyword : Impact Proud to build up village, socio-economic status of the community, collaboration between the village association. | |
| 14333 | 17679 | B1J012182 | PREVALENSI MIKROFILARIA PADA NYAMUK CULEX DAN MANUSIA DI DESA DUKUHTURI, KECAMATAN BUMIAYU, KABUPATEN BREBES | Filariasis atau penyakit kaki gajah merupakan salah satu penyakit tular vektor yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam kelenjar limfa dan saluran limfa manusia. Filariasis limfatik yang disebabkan Wuchereria bancrofti mendominasi hampir 90% infeksi di dunia. Di daerah perkotaan, filariasis bancrofti ditularkan oleh nyamuk Culex. Berdasarkan database kesehatan per Provinsi, jumlah penderita filariasis di Jawa Tegah dari tahun 2011 sampai 2014 tidak mengalami penurunan. Berdasarkan Profil kesehatan Kab/Kota 2014, di Kabupaten Brebes terdapat 23 kasus filariasis. Salah satu kasus filariasis tersebut ditemukan di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Survei mengenai filariasis belum pernah dilakukan di desa tersebut, oleh karena itu dilakukan survei terhadap darah tepi penduduk Desa Dukuhturi dan nyamuk Culex sp. sebagai vektornya. Nyamuk Culex sp. dapat berpotensi sebagai vektor filariasis jika ditemukan mikrofilaria di dalam tubuh nyamuk dan nyamuk pernah menghisap darah manusia, yang dapat diketahui dengan adanya kondisi parous (pernah bertelur) pada ovarium nyamuk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui parity rate nyamuk Culex sp., prevalensi nyamuk Culex sp. yang terinfeksi mikrofilaria, prevalensi penduduk Desa Dukuhturi yang terinfeksi mikrofilaria, dan kepadatan mikrofilaria pada penduduk yang terinfeksi mikrofilaria.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara cluster random sampling. Pengambilan sampel darah tepi dilakukan berdasarkan ethical clearance dan informed concent. Data yang diperoleh ditabulasi kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan parousitas nyamuk, keberadaan mikrofilaria pada darah tepi manusia dan nyamuk di Desa Dukuhturi, serta kepadatan mikrofilaria pada sampel darah tepi yang terinfeksi mikrofilaria.Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat parousitas nyamuk Culex sp. tinggi yaitu 94,45% tetapi prevalensi nyamuk Culex sp. dan penduduk Desa Dukuhturi yang terinfeksi mikrofilaria adalah 0%, sehingga kepadatan mikrofilaria adalah 0. | Filariasis or elephantiasis is a vector borne disease caused by filarial worms that live in the lymph glands and lymph vessels of humans. W. bancrofti is the highest infection (90%) in the world. In urban areas, filariasis bancrofti was transmitted by Culex mosquitoes. Based on the health databases province, the number of people with filariasis in Central Java from 2011 to 2014 did not decline the cases. Based on the health profile of Regency / City in 2014, there are 23 cases of filariasis in Brebes regency, Central Java. One of the filariasis cases were found in the village of Dukuhturi, District Bumiayu, Brebes. The survey of filariasis in Dukuhturi has never been done previously, therefore, this research conducted to observe of the biology of its vector and infection of filariasis in community. Culex sp. can be potentially as a vector is stated in many things, such as if was found microfilariae in the mosquito and the mosquito everbeen bite of the humans blood, it can be detected by the parousity mosquito in its ovaries. The aims of this research are to determine the parity rate of the mosquito, the prevalence of mosquitoes and villagers Dukuhturi were infected by microfilariae, and the density of microfilariae in respondents who infected by microfilariae. This research was conducted by using a survey method with cluster random sampling. Blood sampling performed by the ethical clearance and informed concent. The data were tabulated and analyzed descriptively based parousity of mosquitoes, the prevalence of mosquitoes and human who infected by microfilariae, and density of microfilariae in the human who infected by microfilariae. The result shows that parousity of mosquito Culex sp. is high (94,45%) but the prevalence either in mosquito and respondent were 0%, so that the density of microfilariae is 0. | |
| 14334 | 17669 | E1A013170 | PENGISIAN JABATAN KARIER PEGAWAI NEGERI SIPIL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA | PENGISIAN JABATAN KARIER PEGAWAI NEGERI SIPIL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA Oleh: KARINA DEWI E1A013170 ABSTRAK Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) bahwa mengenai Jabatan Karier telah terbagi menjadi tiga, yaitu Jabatan Administrasi, Jabatan Fungsional, dan Jabatan Pimpinan Tinggi. Pada undang-undang sebelumnya bahwa terkait jabatan hanya terbagi menjadi dua, yaitu Jabatan Struktural dan Jabatan Fungsional. Permasalahan yang akan dibahas adalah mengenai kriteria Jabatan Karier Pegawai Negeri Sipil dan pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang ASN. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kriteria Jabatan Karier Pegawai Negeri Sipil serta pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang ASN. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku literatur, dan situs-situs internet. Penelitian ini menjelaskan bahwa kriteria tiap-tiap Jabatan Karier berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan setiap instansi Pemerintah dan menjelaskan mengenai pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi secara terbuka. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu kriteria Jabatan Karier Pegawai Negeri Sipil dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang ASN belum ada peraturan pelaksananya. Oleh karena itu, berdasarkan Pasal 139 bahwa kriteria Jabatan Karier masih menggunakan peraturan Pemerintah yang sebelumnya. Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang ASN belum ada peraturan pelaksananya, maka dalam rangka penyelenggaraan pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi ini merujuk pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI No. 13 Tahun 2014 yang dikeluarkan sebagai pedoman mengenai penyelenggaraan pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi secara terbuka oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Kata Kunci : Pengisian, Jabatan Karier, Pegawai Negeri Sipil, Aparatur Sipil Negara | FILLING THE POSITION OF CAREER CIVIL SERVANT BASED ON LAW NO. 5 BY 2014 REGARDING CIVIL STATE APPARATUS By : KARINA DEWI E1A013170 ABSTRACT Based on Law No. 5 by 2014 regarding the State Civil Apparatus, the position of career civil servant has been divided into three, namely the Administrative Position, Functional Position, and High Leadership Position. In the previous law related with positions merely divide into two, namely the Structural Position and Functional Position. Issues to be discussed is about criteria for the position of career civil servant and the filling of High Leadership Position under the Law No. 5 by 2014 regarding State Civil Apparatus. This research is aimed to determine the criteria for the position of career civil servant as well as the filling of High Leadership Position under the Law No. 5 by 2014. The method used is the approach to research methods with normative juridical approach to legislation. The data used is secondary data such as legislation, literature books, and internet sites. This study explain that the criteria for each Career Positions are various according to the needs of each government agencies and expalin about the filling of High Leadership Position openly. The conclusion of this research is the criteria of the position of career civil servant in Law No. 5 by 2014 regarding the State Civil Apparatus has no implementing regulations. Therefore, under the article 139 that the criteria of the position of career civil servant still use the previous government regulations. Regarding the filling of High Leadership Position in Law No. 5 by 2014 about the State Civil Apparatus has no implementing regulation, then in the course of implementing the filling of High Leadership Position refers to the Regulation of the Minister of State for Administrative Reform and Reform of the Bureaucracy of the Republic of Indonesia No. 13 by 2014 issued as a guideline for the implementation of filling the High Leadership Position openly by the Minister for Administrative Reform and the Bureaucratic State Apparatus. Keywords : Filling, The Position of Career, Civil Servant, State Civil Apparatus. | |
| 14335 | 17641 | H1K012048 | SISTEM INSTRUMENTASI PENGUKUR KUALITAS AIR TERPADU DENGAN MIKROKONTROLER AVR ATMEGA 128 | Perancangan sistem instrumentasi pengukur kualitas air terpadu dengan mikrokontroler AVR ATmega 128 merupakan cara untuk memudahkan dalam melakukan pengamatan kualitas air tak terbatas waktu dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menguji akurasi sistem instrumentasi pengukur kualitas air terpadu. Metode pada penelitian ini menggunakan metode survey pada uji skala laboratorium dan uji lapangan. Analisis pada penelitian ini dengan menggunkan ordinary least aquare (OLS) estimation. Perancangan pada sistem, port PF0 terhubung sensor temperatur, port PF1 terhubung sensor pH, port PF2 terhubung sensor kecerahan dan port PF3 terhubung sensor salinitas. Port B pada rangkaian terhubung pada ke LCD matriks 16x2. Data yang dihasilkan pengukur kualitas air terpadu memiliki tingkat ketelitian : sensor temperatur 94 %, sensor pH 61%, sensor salinitas 87%, dan sensor kecerahan 90%. | Design of measuring water quality instrumentation system with integrated microcontroller AVR ATmega 128 is a way to make it easier to conduct water quality observations of infinite time and effective. This research aims to design and test the accuracy of measuring water quality instrumentation system integrated. Research on the method of using method survey on laboratory-scale test and field test. Analysis on the research with either ordinary least aquare (OLS) estimation. The design of the system, the connected temperature sensor port PF0, PF1 pH sensor connected port, port PF2 connected sensor the brightness , and port PF3 connected sensor salinity. Port B on the series of connected on to the LCD matrix 16x2. The resulted data for measuring water quality integrated has degree of accuracy: temperature sensor 94%, pH sensor 61%, 87% salinity sensor, and the sensor brightness of 90%. | |
| 14336 | 17642 | D1E009178 | ANALISIS NILAI EKONOMIS LIMBAH SAPI POTONG DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN PETERNAK DI KECAMATAN WATUKUMPUL – KABUPATEN PEMALANG | Penelitian bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai ekonomis dari pemanfaatan limbah sapi potong, kontribusi nilai ekonomis limbah terhadap pendapatan usaha ternak sapi potong, dan pengaruh jumlah ternak dan jumlah pakan terhadap besarnya kontribusi nilai ekonomis limbah sapi potong. Variabel yang diamati adalah kontribusi nilai ekonomis limbah sapi potong, jumlah kepemilikan ternak, dan jumlah pemberian pakan. Data diperoleh dari responden penelitian yang berjumlah 36 orang peternak dari Kecamatan Watukumpul, selanjutnya dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan bersih setiap peternak rata-rata adalah Rp 15.288.652,00. Rata-rata nilai kontribusi limbah terhadap usaha ternak sapi potong di Kecamatan Watukumpul adalah sebesar 23,88%. Jumlah kepemilikan ternak dan jumlah pakan yang diberikan tidak terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai kontribusi limbah ternak. Jumlah pemberian pakan tidak menyebabkan peningkatan ataupun penurunan kontribusi limbah peternakan, sedangkan kontribusi limbah ternak akan meningkat sebesar 0.9882% saat ternak yang dimiliki petani bertambah 1 ekor. | The research aimed to know the economic value of beef cattle waste utilization, economic value contribution of beef cattle waste towards farmer’s income, and the effect of cattle amount and feed given to the economic value contribution of waste. Variables observed were economic value contribution of beef cattle waste, cattle and feed given amount. Data collected from 36 farmers as respondents and analysed by linear regression. The results showed that the farmer’s net revenue average was Rp 15.288.652,00 and economic value contribution of beef cattle waste was 23,88%. The number of cattle was not significantly effected to economic value contribution, but it will increase as 0.9882% every a cattle added. | |
| 14337 | 17646 | G1F013011 | AKTIVITAS FRAKSI ETIL ASETAT DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava) TERHADAP RESPON RELAKSASI ISOPROTERENOL PADA OTOT POLOS TRAKEA MARMUT TERISOLASI | Jambu biji (Psidium guajava) memiliki kandungan senyawa flavonoid yaitu kuersetin terbukti berkhasiat sebagai antialergi sehingga tanaman ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai terapi alternatif pada asma alergi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek dari fraksi etil asetat (FEA) daun jambu biji terhadap respon relaksasi isoproterenol suatu agonis reseptor β2-adrenergik pada otot trakea marmut. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental secara in vitro menggunakan trakea terisolasi. Ekstraksi daun jambu biji menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%, kemudian dilakukan fraksinasi ekstrak dengan pelarut n-heksan, kloroform dan etil asetat hingga didapatkan FEA daun jambu biji. Identifikasi senyawa flavonoid dilakukan dengan menggunakan KLT. Aktivitas FEA jambu biji konsentrasi 0,05; 0,1; dan 0,2 mg/mL dengan mengamati respon relaksasi isoproterenol. Kurva hubungan konsentrasi isoproterenol terhadap % respon relaksasi trakea dengan atau tanpa penambahan FEA jambu biji dibandingkan. Nilai pD2 isoproterenol diperoleh dari negatif logaritma konsentrasi agonis yang menghasilkan setengah respon relaksasi maksimal. Nilai pD2 isoproterenol dengan atau tanpa penambahan FEA jambu biji dilakukan analisis statistik menggunakan uji One-way Anova. Hasil penelitian menunjukkan FEA daun jambu biji mengandung flavonoid berdasarkan profil KLT. FEA daun jambu biji konsentrasi 0,05 mg/mL, 0,1 mg/mL, dan 0,2 mg/mL dapat meningkatkan respon relaksasi isoproterenol serta dapat memperbesar nilai pD2 isoproterenol dari 5,77±0,33 menjadi 6,28±0,56; 6,31±0,27;dan 6,20±0,36. Dapat disimpulkan FEA daun jambu biji bersifat sebagai agonis terhadap reseptor Adrenergik-β2 walaupun tidak signifikan secara statistik. | Guava (Psidium guajava L.) is known that contains flavonoids quercetin and it has anti-allergic activity so that this plant has potential to be developed as an alternative therapy in allergic asthma. The aim of this study was to define the effectivity of ethyl acetate fraction (FEA) of guava leaves to relaxation response of isoproterenol as β2-adrenergic agonist receptors on the guinea pig-isolated trachea. This study was design by in vitro experimental study used isolated trachea. Guava leaves was macerated with 96% ethanol, then fractionated by n-hexane, chloroform and ethyl acetate solvent to obtained FEA of guava leaves. The compound of flavonoid was identified by TLC. Agonist activity of FEA with concentration of 0.05; 0.1; and 0.2 mg/mL were determine by observed relaxation response of isoproterenol. The curve between isoproterenol logarithm concentration and % relaxation response with or without the addition of FEA guava leaves were compared. The pD2 isoproterenol values were calculated from the negative logarithm of the agonist concentration which cause a half maximal relaxation response. Data of pD2 isoproterenol values with or without the addition of FEA guava leaves were analyzed with One-way Anova test. The results showed that FEA guava leaves contained flavonoid by TLC profile. FEA guava leaves with concentration of 0.05; 0.1; and 0.2 mg/ml could increase the relaxation response of isoproterenol and could increase pD2 isoproterenol values from 5.77 ± 0.33 to 6,28 ± 0.56; 6.31 ± 0.27, and 6.20 ± 0.36 respectively. In conclusion, FEA guava leaves had agonists activity on β2 adrenergic receptor although not statistically significant. | |
| 14338 | 17647 | H1B011029 | Kajian graf dual fuzzy dan sifat-sifatnya | Paper ini membahas graf dual fuzzy dan sifat-sifatnya. Hasil menunjukkan bahwa dual dari graf dual fuzzy adalah graf fuzzy itu sendiri dan dual dari graf fuzzy bipartit fuzzy merupakan graf Euler fuzzy. | This paper discusses about fuzzy dual graph and its properties. The result showed that dual of dual fuzzy graph is the fuzzy graph itself and the dual of fuzzy bipartite planar graph is an Eulerian fuzzy graph. | |
| 14339 | 17685 | B1J012086 | SURVEI NYAMUK Culex spp. SEBAGAI VEKTOR FILARIASIS DI DESA CISAYONG, KECAMATAN CISAYONG, KABUPATEN TASIKMALAYA | Filariasis limfatik merupakan penyakit disebabkan oleh cacing filaria Wuchereria brancofti, Brugia malayi, dan Brugia timori yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening. Cx. quinquefasciatus merupakan vektor filariasis bancrofti di daerah urban. Kecamatan Cisayong endemis filariasis dengan Microfilaria rate >1%. Eliminasi filariasis di Indonesia ditetapkan dua pilar kegiatan yaitu pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP filariasis) di daerah endemis dan pengendalian vektor. Pengendalian vektor dan potensi vektor dalam penularan filariasis dapat diketahui melalui berbagai hal diantaranya dengan mengetahui spesies Culex, infection rate, parity rate dan kepadatan larva Culex.Tujuan penelitian yaitu mengetahui spesies nyamuk Culex, infection rate, parity rate, dan kepadatan larva nyamuk Culex. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei dengan teknik cluster sampling. Kelompok (Cluster) dalam penelitian ini yaitu RT berjumlah 39 RT yang ada di Desa Cisayong. Penangkapan sampel nyamuk dilakukan di 9 kelompok (RT) yang terpilih. Pengambilan sampel dilakukan pada malam hari pukul 18.00-00.00 WIB. Hasil penelitan menujukkan bahwa spesies Culex yang ditangkap di Desa Cisayog diantaranya Cx. quinquefasciatus, Cx. hutchinsoni , Cx. sitien , Cx. vishnui , Cx. pseudovishnui , Cx. tritaeniorinchus dan Cx. gelidus, infection rate 0%, sementara itu, parity rate Cx. quinquefasciatus 66%, Cx. hutchinsoni 17%, Cx. sitien 68%, Cx. vishnui 55%, Cx. pseudovishnui 21%, Cx. tritaeniorinchus 53%, dan Cx. gelidus 54%. Kepadatan larva Culex sp. yaitu 3,38/cidukan. | Lymphatic filariasis is a disease caused by the filarial worm Wuchereria brancofti, Brugia malayi, and Brugia timori that attack lymph and lymph nodes. Cx. quinquefasciatus is a vector of filarial bancroftiin urban area. Subdistrict Cisayong as endemic filariasis area with microfilaria rate in> 1%. Elimination of Filariasis in Indonesia was done in two methods such as filariasis mass drug administration in endemic areas and vectorcontrol. Vector control and potential transmission of filariasis needs some information including infection rate, parity rate and density of Culex larvae. The purpose of research are to observe the spesies of Culex mosquitoes, infection rate, parity rate, and density of Culex mosquito larvae.The method is a survey method using cluster sampling method. The cluster in this research are 39 RT in Cisayong village. Mosquitoes was catched from 9 groups (RT) which is elected. Sampling was conducted in the night at 18:00 to 00:00 pm.The results shows that the spesiesof Culex were catched in Cisayong including Cx. quinquefasciatus, Cx. hutchinsoni, Cx. sitien, Cx. vishnui, Cx. pseudovishnui, Cx. tritaeniorinchus, dan Cx gelidus, infection rate is 0%, while of parity rate Cx. quinquefasciatus 66%, Cx. hutchinsoni 17%, Cx. sitien 68%, Cx. vishnui 55%, Cx. pseudovishnui 21%, Cx. tritaeniorinchus 53%, and Cx. gelidus 54% respectively. The density of Culex sp. larvae is 3,38/dipper. | |
| 14340 | 17653 | G1H012031 | HUBUNGAN DAYA TERIMA MAKANAN, ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA DI BALAI PERLINDUNGAN SOSIAL ASUHAN ANAK (BPSAA) PAGADEN SUBANG | Latar Belakang : Remaja termasuk dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Salah satu faktor yang dapat membantu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang optimal diantaranya kecukupan konsumsi zat gizi yang seimbang dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Daya terima makanan menjadi salah satu pertimbangan seseorang dalam mengkonsumsi makanan. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan daya terima makanan, asupan energi dan protein dengan status gizi pada remaja di Balai Perlindungan Sosial Asuhan Anak (BPSAA) Pagaden Subang. Metodologi Penelitian : Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel penelitian 45 responden dipilih secara simple random sampling. Daya terima makanan diukur dengan uji hedonik, asupan energi dan protein diperoleh dengan menggunakan recall 2x24 jam. Status gizi diukur dengan menggunakan IMT/U. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil : Sebanyak 80% responden berstatus gizi normal, 91,9% responden memiliki daya terima makanan yang baik, 77,8% responden memiliki tingkat konsumsi energi sangat kurang, sebesar 71,1% responden memiliki asupan protein sangat kurang. Hasil uji bivariat menunjukan tidak ada hubungan daya terima makanan (p=0,569), asupan energi (p=0,659), asupan protein (p=1,000). Kesimpulan : Daya terima makanan, asupan energi dan protein tidak berhubungan dengan status gizi. Kata Kunci : Remaja, Daya Terima Makanan, Asupan Energi, Asupan Protein, Status Gizi. | Background : Adolescence included into period of growth and development. One factor that can aid in the growth and development including the adequacy optimal balanced nutrient consumption in the food consumed daily. Acceptance of the food to be one of the considerations a person in consuming. Objective : To examined the association between acceptability of food, energy and protein intake with nutritional status in adolescents at Balai Perlindungan Sosial Asuhan Anak (BPSAA) Pagaden Subang. Methods : Design cross sectional study with a samples included 36 respondents selected by simple random sampling. Acceptability of food were measured by hedonic test, energy and protein intake obtained using the recall 2x24 hours. Nutritional status was obtained from BMI/Age. Bivariat analysis used Chi Square test. Results : 80% of respondents had a normal nutritional status, 91.9% of respondents had good acceptability of food, 77.8% of respondents have a level of energy consumption is very less, 71.1% of respondents have very less protein intake. Bivariate test results showed no relationship acceptability of food (p=0,569), energy intake (p=0,659), protein intake (p=1.000). Conclusion : Acceptability of food, energy and protein intake was not associated with nutritional status. Keywords : Adolescence, Acceptability of Food, Energy Intake, Protein Intake, Nutritional Status. |