Artikelilmiahs
Menampilkan 12.621-12.640 dari 49.574 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 12621 | 5618 | G1A009010 | HUBUNGAN KADAR Pb DARAH DAN POLIMORFISME GENA -ALAD TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA AWAK ANGKUTAN KOTA DI PURWOKERTO | ABSTRAK Latar Belakang: Kejadian hipertensi dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan, diantaranya mutasi gen dan paparan bahan toksik. Mutasi gen antara lain polimorfisme gen -ALAD (delta amino levulinic acid) dan paparan bahan toksik, antara lain keracunan Pb. Polimorfisme gen -ALAD dan paparan Pb meningkatkan kerentanan individu untuk mengalami hipertensi. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar Pb darah dan polimorfisme gena -ALAD terhadap kejadian hipertensi pada awak angkutan kota di Purwokerto. Metode: Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional. Responden 60 orang awak angkutan kota Purwokerto. Pemeriksaan polimorfisme gen -ALAD dilakukan dengan metode PCR-RFLP, sedangkan kadar Pb diukur dengan metode Spektrofotometri menggunakan AAS. Data dianalisis dengan uji Chi-square dan koefisien kontingensi. Hasil: Angka kejadian hipertensi adalah 40%, polimorfisme gen -ALAD adalah 10% dan kadar Pb diatas normal adalah 46,7%. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar Pb dengan kejadian hipertensi dan kekuatan korelatifnya lemah dengan resiko prevalensi 1,655 (C=0,122; X2=0,342; RP=1,655 CI 95%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara polimorfisme gen -ALAD dengan kejadian hipertensi dan kekuatan korelatifnya sangat lemah dengan resiko prevalensi 1,375 (C= 0,045; f= 1,000; RP= 1-375 CI 95%). Kesimpulan: Kejadian hipertensi tidak berhubungan dengan polimorfisme gen -ALAD dan kadar Pb darah. Kata kunci: Polimorfisme Gena -ALAD, Kadar Pb darah dan hipertensi | THE RELATIONSHIP OF BLOOD LEAD LEVELS AND -ALAD GENE POLYMORPHISMS ON THE INCIDENCE OF HYPERTENSION IN PUBLIC TRANSPORTATION CREWS IN PURWOKERTO. ABSTRACT Background: The incidence of hypertension was influenced by genetic and environmental factors, including gene mutations and exposure to toxic materials. An example Gene mutations is -ALAD (delta amino levulinic acid) gene polymorphisms and an example exposure to toxic material, is lead poisoning. -ALAD gene polymorphisms and exposure to Pb increases individual susceptibility of hypertension. Purpose: The aim of this study was to determine the relationship between blood lead levels and -ALAD gene polymorphisms on the incidence of hypertension in public transportation crews in Purwokerto. Methods: The study was conducted with a cross-sectional design. Respondents were 60 of public transport crew in purwokerto. Examination of -ALAD gene polymorphism was conducted using PCR-RFLP method, while lead concentrations were measured by spectrophotometry using AAS method. Data were analyzed with Chi-square test and contingency coefficient. Results: The incidence of hypertension was 40%, -ALAD gene polymorphism was 10% and Pb levels above normal was 46.7%. There was no significant correlation between Pb levels with the incidence of hypertension and the correlative on is week risk prevalence of 1.655 (C = 0.122; X2 = 0.342; RP = 1.655 95% CI). There was no significant correlation between -ALAD gene polymorphisms with incidence of hypertension and the correlation is weak with the risk of prevalence 1.375 (C = 0.045 f = 1.000; RP 95% CI = 1-375). Conclusion: The incidence of hypertension was not associated with -ALAD gene polymorphism and blood lead concentrations. Keywords: Polymorphism Gena -ALAD, blood Pb levels and hypertension | |
| 12622 | 5616 | C1L008035 | THE EFFECT OF INVESTMENT OPPORTUNITY SET, CORPORATE GOVERNANCE AND DIVIDEND ON EARNINGS QUALITY IN FINANCIAL SECTOR COMPANIES LISTED ON IDX | Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh Investment Opportunity Set (IOS), corporate governance (diproksikan dengan komisaris independen, kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusi) dan dividen terhadap kualitas laba. Kualitas laba diproksikan dengan discretionary accruals. Penelitian ini juga menggunakan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang didapat melalui internet dengan mengakses www.idx.co.id. populasi dalam penelitian ini adalah sektor keuangan. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan total sampel 8 perusahaan. Penelitian ini menggunakan empat tahun periode dari tahun 2005 sampai 2012. Hasil dari penelitian ini menujukan Investment Opportunity Set (IOS), kepemilikan institusi dan dividen mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kualitas laba. Sementara itu, komisaris independen dan kepemilikan institutisi tidak mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap kualitas laba. Penelitian ini juga menemukan kepemilikan institusi sebagai variabel yang paling dominan mempengaruhi kualitas laba. | The objective of this research to examine the effect of Investment Opportunity Set (IOS), corporate governance (proxied by independent commissioner, managerial ownership and institutional ownership) and dividend on earnings quality. Discretionary accruals are used as proxy of earnings quality. This research also used firms’ size as control variable. This research uses secondary data that obtained via internet by browsing on the site www.idx.co.id. The population of this research is financial sector. The sampling method used purposive sampling with total sample of 8 companies. This research used four years period from 2005 until 2012. The result shows Investment Opportunity Set (IOS), institutional ownership and dividend have positive significant effect on earnings quality. Meanwhile, Independent commissioner and managerial ownership does not have significant effect on earnings quality. This research also finds institutional ownership is the most dominant variable affecting earnings quality. | |
| 12623 | 5620 | D1E008031 | PENGARUH IMBANGAN RUMPUT LAPANG – KONSENTRAT TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK SECARA IN VITRO | Penelitian bertujuan untuk mengkaji kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik pada pakan imbangan hijauan rumput lapang – konsentrat yang mengandung kulit nanas yang difermentasi dengan Saccharomyces cereviseae. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan dari tanggal 13 Januari 2013 sampai dengan 14 Februari 2013 di Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi yang digunakan adalah pakan yang tersusun dari rumput lapang dan konsentrat dengan perbandingan 30:70; 50:50; 70:30. Cairan rumen sebagai sumber inokulum diambil dari sapi yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH). Metode penelitian yang digunakan adalah metode experimental secara in vitro yang dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji adalah R1 = Imbangan Hijauan Rumput Lapang-Konsentrat 30-70, R2 = Imbangan Hijauan Rumput Lapang-Konsentrat 50-50, dan R3 = Imbangan Hijauan Rumput Lapang-Konsentrat 70-30. Peubah yang diukur meliputi kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik . Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi, bila perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Orthogonal Polynomial. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa imbangan hijauan rumput lapang – konsentrat berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kecernaan bahan organik pakan. Berdasarkan uji orthogonal polynomial perlakuan berpengaruh secara linier (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering dengan persamaan Y = 42,52+0,11 X dan koefisien determinasi (R2) 37,82 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pakan dengan imbangan hijauan rumput lapang : konsentrat sebesar 30:70 menghasilkan rataan kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik tertinggi. | " Effect of ratio of wild Grass - Concentrate on digestibilities of Dry Matter and Organic Matter by In-Vitro". The research aimed to assess the digestibility of dry matter and organic matter in feed of wild grass - concentrate ratio containing fermented pineapple peel with Saccharomyces cereviseae. The research was carried out for 1 month from the date of January 13, 2013 until February 14, 2013 at the Feedstuff Science Laboratory, Faculty of Animal Science, Jendral Soedirman University, Purwokerto. The materials used were feeds that were composed of wild grass and concentrate with a ratio of 30:70; 50:50; and 70:30. Rumen fluid as a source of inoculum was taken from cattle abattoar (slaughterhouse). The research method was experimental by in-vitro methods, that was designed using completely randomized design (CRD). The treatments tested were R1 = wild Grass –Concentrate ratio of 30:70, R2 = willd Grass –Concentrate of 50:50,and R3 = wild Grass – Concentrate of 70:30. The measured variables included digestibilities of Dry Matter and Organic Matter. The data were analyzed using analysis of variance. If the treatments significantly affected the variables being tested, the test was continued with Orthogonal polynomial. The results of analysis of variance showed that the ratio of wild grass - concentrate significantly (P <0.05) affected the digestibility of dry matter, but had no significant effect on organic matter digestibility of feed. Based on orthogonal polynomial test,there was a linear effect (P <0.05) of trertment on the digestibility of dry matter with the equation, Y = 42.52 +0.11 X and the coefficient of determination (R2) of 37.82%. Based on the results of this study,it was concluded that the ratio of wild grass to concentrate at 30:70 produced the highest dry matter digestibility and organic matter digestibility. | |
| 12624 | 5621 | D1E008008 | PRODUKTIVITAS DAN POLA WARNA KAMBING KEJOBONG YANG DIPELIHARA OLEH PETERNAK KELOMPOK DAN PETERNAK INDIVIDU | Tujuan dari penelitian ini adalah Mempelajari Produktivitas yang ada pada Kambing Kejobong yang diPelihara oleh peternak kelompok dengan yang di Pelihara peternak individu, Mengamati Pola Warna yang ada pada Kambing Kejobong yang diPelihara oleh peternak kelompok dengan yang diPelihara peternak individu. Penelitian ini menggunakan metode survei, Variabel yang diukur ialah Jumlah anak sekelahiran (Litter size), Bobot lahir (Birth Weight), Bobot sapih (Weaning Weight), Daya Hidup (Survival Rate) . dan, Pola warna pada kambing kejobong. Teknik penetapan sampel menggunakan metode purposive sampling, Kemudian di lanjutkan dengan menggunakan metode Stratified random sampling yaitu untuk mengambil sampel peternak, strata yang di gunakan adalah tingkat kepemilikan ternak, sampel sebesar 50% dengan cara random. Hasil penelitian menunjukan untuk litter size untuk peternak kelompok dan peternak individu tidak berbeda nyata artinya untuk rata-rata bobot badan peternak kelompok 1,8 sedangkan untuk peternak individu 1,7, hanya terdapat pebedaan 0,139 kg, bobot lahir terdapat perbedaan atau berbeda nyata antara antara peternak kelompok dan peternak individu, nilai rata-rata untuk peternak kelompok mencapai 2,814 kg sedangkan untuk peternak individu hanya mencapai 2,335 kg terdapat selisih 0,479 kg, bobot sapih berbeda nyata antara antara peternakan kelompok dan peternakan individu, nilai rata-rata untuk peternak kelompok mencapai 16,141 kg sedangkan untuk peternak individu 14,080 kg terdapat selisih yang cukup signifikan yaitu 2,061 Kg, Daya Hidup tidak berbeda nyata, pada peternak kelompok memiliki nilai rata-rata 92,00 sedangkan pada peternak individu 76,63 terdapat selisih 12,370, dan untuk pola warna kambing yang di pelihara oleh kelompok peternak dan individu menunjukan bahwa warna hitam lebih banyak dikelompok peternak yaitu mencapai 56,25% sedangkan untuk peternak individu mencapai 43,75%, kemudian warna dominan kedua ditempati warna hitam putih untuk peternak kelompok 42,86 sedangkan untuk individu 57,17 dan warna ketiga yang dominan adalah warna coklat untuk peternak kelompok warna coklat dengan persentase 71,43%. | The purpose of this study was to investigate the Productivity of Kejobong Goats maintained by the Goats Farmer Groups and by the individual, and to View the color Patterns the Goats maintained by the Groups and by individual farmers. This study used a survey method, the measured variables were the number of lambs (litter size), birth weight, weaning weight, Survival Rate, and, the color patterns. The sample determination technique used purposive random sampling method, then proceeded by using stratified random sampling method to take samples of farmers, the strata use was the level of ownership of great the sample crasisled of 50%of the population and it was taken random ly. The results showed that there was no difrences for litter size goat betwen individual farmer and groups of farmers, meant that the average goat’s body weight was 1.8 kg for farmer groups and 1.7 kg for individual farmer; the difference was only 0,139 kg. There was significant differen between the birth weight bewen the goats maintained by the farmer groups and individual farmers; the average value of goat’s birth weight by group of farmers reached 2.814 kg, while for individual farmers, the goa’t birth weight only reached 2.335 kg. It meant there was only 0.479 ounces difference. The goat’s weaning weight was significantly different between those maintained by the farmer groups and by individual farmer; the average value for goat’s weaning weight of the farmer groups reached 16.141 kg whereas for individual breeders was 14.080 kg with significant difference of 2.061 Kg. The survival rate was not significantly different, the farmer groups had an average value for their goats survival rate of 92.00% while individual farmer had average value of 76.63%.difrence of 12.37% For goat’s color pattern, the research showed that then were more black goats available thet when mantained by the farmers groups that reached 56.25%, while for individual farmers, the black pattern reached 43.75%. The second dominant color pattern was white and black, in which the goats that were mainedtaind by the farmers group reached 42.86% while those mainedtaind by individual farmers the white and black color pattern was 57.17%; and the third dominant color was brown in which for farmer groups the percentage of this color pattern was 71.43%. | |
| 12625 | 5622 | B1J008020 | PERKEMBANGAN OOSIT INDUK IKAN NILEM (Osteochilus vittatus Val. 1842) YANG DIBERI HORMON ESTRADIOL-17β DAN PAKAN BERPROTEIN NABATI | Hormon dan pakan berperan penting dalam reproduksi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis hormon estradiol-17 (E2) dan kadar protein nabati dalam pakan yang dapat meningkatkan perkembangan oosit pada induk nilem paska mijah dan mengkaji perkembangan oosit ikan nilem (Osteochilus vittatus Val.1842) melalui pemberian kombinasi hormon E2 dan pakan berprotein nabati. Metode penelitian berupa ekperimental dengan rancangan percobaan RAL (Rancangan Acak Lengkap) pola faktorial. Faktor pertama adalah kadar protein nabati dalam pakan yang terdiri dari 4 taraf yaitu 22,5% (P4), 27,5% (P3), 32,5% (P2), dan 37,5% (P1). Faktor kedua adalah dosis hormon E2 yang terdiri dari 3 taraf yaitu 0 (D0), 126 (D1), dan 210 (D2) g/kg bobot ikan diberikan secara intramuscular pada hari ke 7 pasca mijah. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Perkembangan oosit diamati pada minggu ke 2, 4, 6, dan 8 pasca mijah dan ikan dibedah pada minggu ke 8 pasca mijah guna mengamati indeks gonadosomatik (IGS), indeks hepatosomatik (IHS) dan fekunditas. Perkembangan oosit dan IGS pada induk ikan nilem pasca mijah meningkat dengan pemberian hormon E2 dan pakan berprotein nabati (P<0,05). Kombinasi antara induksi hormon E2 dosis 210 g/kg dan pemberian pakan berprotein nabati 37,5% (P1D2) adalah yang terbaik karena mampu memberikan nilai rataan tertinggi pada proporsi tahapan post-vitelogenik (PV) pada minggu ke 6 dan IGS. Persentase tahapan PV dan nilai IGS meningkat seiring dengan peningkatan dosis hormon E2 (r=0,307 dan r=0.599). Pemberian pakan berprotein nabati menghambat pertambahan diameter oosit (r=-0,286; P=0,001). Sedangkan induksi hormon E2 tidak berpengaruh terhadap diameter oosit terbesar pada induk ikan nilem pasca mijah (P>0,05). Nilai IHS dan fekunditas tidak berbeda pada semua perlakuan (P>0,05). Kata kunci: perkembangan oosit, IGS, IHS, Osteochilus vittatus Val.1842, protein kecambah kedelai. | Hormones and food play crucial roles in fish reproduction. The objectives of this study were to evaluate the effective dose of estradiol-17β and protein (mainly from soy bean sprout meal) contain in feed to promote oocyte development of the post-spawn hard-lipped barb (Osteochilus vittatus Val. 1842). This research was conducted experimentally applying factorial completely randomized design. The first factor was feed protein content consisted of 22.5% (P4), 27.5% (P3), 32.5% (P2), and 37.5% (P1). The second factor was dose of estradiol-17β consisted of 0µg/kg BW (D0), 1260µg/kg BW (D1) and 210µg/kg BW (D2). Three replicates were provided for each treatment. Estradiol-17β was administered intramuscularly on the 7th day post post-spawning. The fish were reared for 8 weeks under laboratory condition and fed as much as 3% of biomass weight. Oocyte development was evaluated on 2nd, 4th, 6th and 8th week. Oocyte samples were aspirated by canula, fixed in neutral buffered formalin and examined under a light microscope to determine their morphological feature and measure their diameter. The gonadosomatic index (GSI), fecundity and hepatosomatic index (HSI) were measured on 8th week. The data of oocyte development, GSI, fecundity and HSI were analyzed using two ways Anova. The results showed that oocyte development and GSI were significantly improved by estradiol-17β in dose dependent manner (p<0.05). The fish fed with 37.5% protein and injected with 210µg/kg BW estradiol-17β (P1D2) produced highest proportion of post-vitellogenic stage oocyte on the 6th week. The proportion of post-vitellogenic oocyte increased inline with the increased of estradiol-17β (r=0.599) and with the GSI (r=0.037). Fecundity and HSI was not affected by the treatments (p>0.05). Keywords: oocyte development, GSI, HSI, Osteochilus vittatus Val. 1842, soy bean sprouts protein. | |
| 12626 | 5623 | A1M009065 | PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN CENGKEH, KULIT BUAH MANGGIS DAN DAUN SIRIH HIJAU TERHADAP KARAKTERISTIK GULA KELAPA KRISTAL | Gula kelapa kristal merupakan diversifikasi dari produk gula kelapa cetak. Sebuah inovasi dilakukan untuk meningkatkan aktivitas antioksidan pada gula kelapa kristal dengan menambahkan ekstrak antioksidan alami yang berasal dari daun cengkeh, kulit buah manggis, serta daun sirih hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan jenis ekstrak daun cengkeh pada jumlah penambahan ekstrak 20 ml/l (E1K1) menghasilkan gula kelapa kristal dengan karakteristik terbaik. Gula kelapa kristal tersebut memiliki kadar abu 1,51 % bk, dan total padatan tak larut 0,55 % bk, dengan sifat sensoris yaitu skor rata-rata rasa getir 2,90 (terasa), skor rata-rata aroma ekstrak 3,33 (agak kuat) dan skor rata-rata kesukaan panelis 2,23 (agak suka). | Granulated coconut sugar is a diversification of solidified coconut sugar. An innovation is done to increase the antioxidant activity in granulated coconut sugar is by adding extracts of natural antioxidants derived from clove leaf, mangosteen rind and betel leaf green. The results showed that the combination treatment of type leaf extracts of clove on the number of additional extract 20 ml/L (E1K1) produced granulated coconut sugar with the best characteristics. The granulated coconut sugar has a ash content of 1,51% db, and total 0,55% insoluble solids db, with the sensory characteristics is the resulting score average of taste bitterly is 2,90 (noticeably), the average score of the smell of extract is 3,33 (rather strong) and the average score of preferences is 2,23 (rather like). | |
| 12627 | 5624 | G1A009130 | HUBUNGAN USIA DAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN OTITIS MEDIA AKUT PADA ANAK DI KLINIK THT RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO | Latar belakang: Otitis Media Akut (OMA) merupakan penyakit yang sering dijumpai pada masa anak-anak. Anak-anak dengan usia yang lebih muda dan status gizi yang kurang akan rentan terhadap OMA. Usia dan status gizi merupakan faktor resiko yang cukup berkaitan dengan terjadinya OMA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan usia dan status gizi dengan kejadian OMA pada anak di Klinik THT RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo periode 2011-2012. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Instalasi Rekam Medis pada status pasien di Klinik THT RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Sampel berjumlah 39 kasus yang memenuhi kriteria dan diperoleh secara consecutive sampling. Sampel dikelompokkan menjadi kasus OMA dan bukan OMA. Usia dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu usia 0-2 tahun, >2 – 7 tahun dan >7 – 14 tahun. Status gizi juga dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu status gizi obese, status gizi baik dan status gizi kurang. Hubungan usia dan status gizi dengan kejadian OMA pada anak dianalisa menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov. Hasil: Kasus OMA terbanyak ditemukan pada kelompok usia >2 – 7 tahun (43.3%) dan kelompok status gizi kurang (56.6%), sedangkan terendah pada kelompok usia 0 – 2 tahun (20%) dan kelompok status gizi obese (3.4%). Analisis hubungan usia dan status gizi dengan kejadian OMA pada anak dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil analisis hubungan usia dengan kejadian OMA memperoleh nilai p = 0.945 dan hasil analisis hubungan status gizi dengan kejadian OMA memperoleh nilai p = 0.028. Kesimpulan: ada hubungan status gizi dengan kejadian OMA pada anak dan tidak ada hubungan usia dengan kejadian OMA pada anak di Klinik THT RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo periode 2011-2012. | Background: Acute Otitis Media (AOM) is a common disease in childhood. Children with younger age and nutritional status are less prone to AOM. Age and nutritional status is a considerable risk factor associated with the occurrence of AOM. The purpose of this study was to determine whether there is a relationship of age and nutritional status with the incidence of AOM in children in the ENT Clinic Hospital Prof. Dr.. Margono Soekarjo period 2011-2012. Methods: This study is an observational analytic study with cross sectional approach. Research performed at the Medical Record on patient status at the ENT Clinic Hospital Prof. Dr.. Margono Soekarjo. Samples are 39 cases that met the criteria and earned consecutive sampling. Samples were grouped into AOM and not AOM. Age grouped into three categories, that is age of 0-2 years, >2-7 years and >7-14 years. Nutritional status also grouped into 3 categories, that is nutritional status obese, good nutritional status and malnutrition status. Relationships of age and nutritional status in children with AOM events were analyzed using the Kolmogorov-Smirnov test statistic. Results: AOM cases were observed in the age group >2-7 years (43.3%) and malnutrition status groups (56.6%), while the lowest in the age group 0-2 years (43.3%) and nutrition status obese (3.4%). Analysis of the relationship of age and nutritional status in children with AOM events performed by Kolmogorov-Smirnov test. Results of analysis of the relationship of age to the incidence of AOM obtain p = 0.945 and analysis results with the nutritional status of relations AOM incident obtain p = 0.028. Conclusion: there is a relationship with the nutritional status and the incidence of AOM in children. there is no relationship between age with the incidence of AOM in Children in ENT Clinic Hospital Prof. Dr.. Margono Soekarjo the period 2011-2012. | |
| 12628 | 5625 | P2AA11044 | UJI VIABILITAS BENIH CARICA MELALUI PENGHILANGAN LAPISAN SARCOTESTA DAN INKUBASI SUHU YANG BERBEDA | Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui pengaruh penghilangan lapisan sarcotesta terhadap viabilitas benih carica dan, (2) menentukan suhu yang optimum untuk mematahkan dormansi benih dan mempertahankan viabilitas benih carica. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi, Universitas Jenderal Soedirman dan Laboratorium Ilmu Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada bulan Agustus 2012-Januari 2013, menggunakan analisis sidik ragam model uji multilokasi dengan rancangan kelompok lengkap teracak terdiri atas 2 faktor. Penghilangan lapisan sarcotesta yang terdiri atas benih tanpa sarcotesta dan bersarcotesta, dan inkubasi suhu yang terdiri atas inkubasi 15ºC, 25ºC, 35ºC, dan 450C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghilangan lapisan sarcotesta mampu mempertahankan viabilitas benih carica yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan daya kecambah sebesar 21,53%, potensi tumbuh maksimum lebih dari 80% pada hari ke-10 dan 20 umur simpan, indeks vigor benih lebih dari 25 pada hari ke-10 dan 20 umur simpan, dan pertumbuhan bibit yang lebih baik dibandingkan benih bersarcotesta. Belum ditemukan suhu optimum untuk mematahkan dormansi benih carica. Kondisi simpan pada suhu 150C selama 10 hari dapat menjadi alternatif mempertahankan viabilitas benih carica karena mampu menghasilkan daya kecambah sebesar 81,25%, potensi tumbuh maksimum 83,38%, bobot kering bibit 0,145 g, dan nilai indeks vigor hipotetik paling tinggi yaitu 1,97. | The objectives of this study were to know (1) effect of removal of sarcotesta layer on carica seed viability and (2) determine the optimum temperature to break seed dormancy breaking and maintane carica seed viability. This study was conducted at the Laboratory of Agronomy, Department of Agronomy, Jenderal Soedirman University and Laboratory of Crop Science, Department of Agriculture, Gadjah Mada University, during August 2012 to January 2013. Analysis of varians with multilocation model in a randomized complete block design was done. Removal of seed sarcotesta and with sarcotesta and incubation temperature viz.150C, 250C, 350C, and 450C wese tested. The results showed that the removal of sarcotesta layer have significant effects on carica seed viability i.e. germination increased about 21.53%, maximum potential of growth more than 80% on 10 and 20 days of storage, seed vigor index more than 25 on 10 and 20 days of storage, and higher seedling growth compared seed with sarcotesta. Uncovered optimum temperature of incubation for breaking carica seed dormancy. Temperature of 150C on 10 days could an alternative to maintain carica seed viability because of high germination of 81.25 %, maximum potential of growth of 83.38%, shoot dry weight of 0.145 g, and the highest of value in hypothetical vigor index of 1,97. | |
| 12629 | 5626 | P2EA11007 | TINGKAT PENGETAHUAN HUKUM HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN BEBAS, LEPAS, dan PIDANA terhadap TINDAK PIDANA KORUPSI ANGGOTA LEGISLATIF DAERAH | Penelitian ini dilakukan untuk menguji betulkah bahwa tingkat pengetahuan hukum hakim yang meliputi peraturan perundang-undangan dan doktrin ilmu hukum berpengaruh dalam menjatuhkan putusan bebas, lepas dari segala dakwaan dan pemidanaan. Kasus korupsi yang diangkat adalah kasus korupsi yang melibatkan anggota legislatif. Teknik penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode yuridis normatif lewat pendekatan kasus dengan analisis data primer berupa wawancara terhadap hakim tindak pidana korupsi serta data sekunder berupa penelaahan putusan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap dan peraturan perundang-undangan serta buku-buku literatur yang digunakan. Dengan melakukan penelitian terhadap peraturan perundang-undangan, buku-buku literatur, putusan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, dan wawancara terhadap informan penelitian ini diharapkan akan diperoleh gambaran tentang pengetahuan hukum hakim dalam menjatuhkan putusan. Dalam Penelitian ini rujukan yang digunakan adalah pengertian putusan bebas, lepas, dan pidana yang dijatuhkan oleh hakim tindak pidana korupsi, kemudian dasar dasar penjatuhan putusan, Ruang lingkup dan Karakteristik Korupsi, dan DPRD sebagai Lembaga Legislatif Daerah. Peranan Pengetahuan Hukum Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas, lepas, dan pidana tersebut tidak terlepas dari pembuktian atas apa yang terjadi di persidangan tindak pidana korupsi. Putusan Bebas, Lepas, Pidana dalam Tindak Pidana Korupsi anggota Legislatif Daerah menjadi menarik karena adanya perbenturan antara kaidah ilmu administrasi dan hkum pidana yang kemudian dapat dijadikan pertimbangan hakim untuk membuktikan adanya tindak pidana korupsi seperti yang didakwakan didepan pengadilan. | This research is conducted to test whether the level of legal knowledge which includes laws and regulations and law doctrine influence the acquittal from indictments and criminations. The corruption cases tested are the ones which involve members of parliament. Research methodology used is normative juridical through case approach with primary data analysis, interviewing the judge of corruption acts and secondary data analysis, reviewing the court verdict which is legally enforceable, laws and regulations, and literary preferences. By researching the law, literary books, court verdicts which is legally binding, and interviewing the informants of this research, it will figure out the legal knowledge of the judge in passing the sentence. The preference used in this research is definition of acquittal and criminal verdicts passed by the judge of corruption acts, and then the basics of sentencing, the scope and characteristics of corruption, and local parliaments as local legislative institution. The role of judge’s legal knowledge in passing acquittal and the criminal verdicts correlates with what happens in the acts of corruption court. The acquittal and criminal verdicts in corruption acts of local parliament’s member become interesting for the existence of clash between principles of administration studies and criminal law studies which are later can be made for judge’s consideration to prove the existence of corruption acts as indicted in the court. | |
| 12630 | 5628 | A1C009023 | KONTRIBUSI PENDAPATAN AGROINDUSTRI GULA KELAPA KRISTAL TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PERAJIN (Kasus di Kelompok Tani “Legen Ardi Raharja” Desa Karanggintung, Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas) | Sejalan dengan kemajuan teknologi dan pola konsumsi masyarakat, dewasa ini produksi gula kelapa tidak hanya terbatas pada gula kelapa cetak saja, tetapi sudah berkembang dalam bentuk gula kelapa kristal (gula semut). Produk gula kelapa kristal ternyata banyak disukai oleh pasar ekspor, oleh karena itu BAPPEDA bekerja sama dengan Bank Indonesia mengadakan program pengklasteran gula kelapa kristal. Kelompok Tani Legen Ardi Raharja di Desa Karanggintung, Kecamatan Kemrajen, Kabupaten Banyumas merupakan pilot project program pengklasteran gula kelapa. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengetahui besarnya biaya produksi dan penerimaan yang diterima perajin, mengetahui pendapatan rumah tangga perajin (pendapatan agroindustri gula kelapa kristal, pendapatan perajin di luar usaha gula kelapa kristal (off season) dan pendapatan perajin di luar sektor pertanian), serta mengetahui besarnya kontribusi agroindustri gula kelapa kristal terhadap pendapatan rumah tangga perajin. Metode Penelitian yang digunakan adalah survei. Pengambilan data dilaksanakan mulai tanggal 6 Maret hingga 4 April 2013, pada anggota Kelompok Tani Legen Ardi Raharja yang telah membuat gula kelapa kristal. Data dianalisis menggunakan analisis biaya produksi, penerimaan, pendapatan, pendapatan rumah tangga perajin dan analisis kontribusi. Berdasarkan penelitian terdapat 31 orang perajin gula kelapa kristal, dengan rata-rata total produksi sebanyak 103,84 kg per bulan. Hasil analisis menunjukkan, bahwa rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp1.102.921,96 dan penerimaan sebesar Rp1.426.077,00. Pendapatan total rumah tangga perajin adalah sebesar Rp614.035,67, pendapatan dari agroindustri gula kelapa kristal adalah sebesar Rp323.074,17 dan pendapatan perajin di luar usaha gula kelapa kristal Rp290.962,17. Besarnya kontribusi pendapatan usaha agroindustri gula kelapa kristal terhadap pendapatan rumah tangga adalah 52,61 persen. | Consistent with the advancement of technology and patterns of society consumption, production of palm sugar today, is not just palm sugar only, but has developed to coconut sugar crystals (sugar ants). The eksport market really like product coconut sugar crystals, so BAPPEDA with Bank Indonesia made the clustering coconut sugar crystals program. Farmer groups Legen Ardi Raharja in Karanggintung Village, Kemrajen district, Banyumas regency is one of the producers of coconut sugar crystals in Banyumas, who include in pilot project of clustering coconut sugar crystals program .The research aims to know the cost of production, and revenue received from agro-industry coconut sugar crystasl, know household income (income from agro-industry coconut sugar crystasl, income outside agroindustry coconut sugar crystals and income from outside agriculture sector )also know the contribution of agro-industry sugar coconut crystals on household income. Method used is a survey. The Interpretation data was started on 6 March until 4 April 2013, to member of farmer group Legen Ardi Raharja who makes coconut sugar crystals. Data were analyzed using analysis of production costs, revenues analysis, income analysis, family income analysis and contribution analysis. Based on the research there were 31 crafters coconut sugar crystals, with an average total production of 103.84 kg per month .The results showed that the average total cost of production incurred in a month time period is Rp1,102,921.96 and receipts obtained is Rp1,426,077.00. Total household income is Rp614,035,67, income from coconut sugar crystals Rp323,074.17, income from outside coconut sugar crystal is Rp290,962.17. The amount revenue of contribution of agroindustry coconut sugar crystals on household income artisans is 52.61 percent. | |
| 12631 | 5629 | H1A009038 | PEMBUATAN DAN KARAKTERISTIK MEMBRAN DARI Sargassum sp. DAN APLIKASINYA UNTUK MENURUNKAN KADAR MERKURI LIMBAH PENAMBANGAN EMAS TRADISIONAL | ABSTRAK Teknologi membran merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar merkuri limbah penambangan emas tradisional di Desa Gumelar. Sampel yang difilter menggunakan membran dari Sargassum sp. dengan modifikasi metode perendaman. Karakteristik membran dari Sargassum sp. berdasarkan nilai fluks air dan dekstran T-500 pada variasi waktu fermentasi 10, 12, dan 14 hari secara berturut-turut adalah 28,38599 ; 12,72475 L/(m2jam), 55,05576 ; 13,12909 L/(m2jam), dan 48,50002 ; 11,90336 L/(m2jam). Nilai rejeksi yang dihasilkan pada variasi waktu fermentasi 10, 12, dan 14 hari secara berturut-turut adalah 57,1821%, 91,0662%, dan 61,3671%. Nilai massa jenis yang dihasilkan pada variasi waktu fermentasi 10, 12, dan 14 hari secara berturut-turut adalah 1,2308 g/cm3, 2,8448 g/cm3, dan 1,9947 g/cm3. Kekuatan tarik yang dihasilkan pada variasi waktu fermentasi 10, 12, dan 14 hari secara berturut-turut adalah 88,8707 MPa, 98,4196 MPa, dan 92,3651 MPa. Membran fermentasi 12 hari merupakan yang paling optimum untuk menurunkan kadar merkuri pada limbah penambangan emas tradisional, dengan penurunan sebesar 63,836%. | ABSTRACT Membrane technology is one of technique that can be used to reduce levels of mercury waste in traditional gold mining Gumelar’s village. Samples were filtered using a membrane of Sargassum sp. with a modification of the method of immersion. Membrane characteristics of Sargassum sp. based on the value of water flux and dextran T-500 on the variations of fermentation time 10, 12, and 14 days in a row is 28.38599; L/(m2hr) 12.72475; 55.05576; 13.12909 L/(m2hr), and 48, 50002; 11.90336 L/(m2hr). Rejection values resulting in variations of fermentation time 10, 12, and 14 days in a row is 57.1821%, 91.0662%, and 61.3671%. The resulting density values on the variation of the fermentation time 10, 12, and 14 days in a row is 1.2308 g/cm3, g/cm3 2.8448 g/cm3, and 1.9947 g/cm3. Tensile strength resulting in variations of fermentation time 10, 12, and 14 days in a row is 88.8707 MPa, 98.4196 MPa, and 92.3651 MPa. Membrane fermentation 12 days is the most optimum to lower mercury levels in traditional gold mining waste, with a decrease of 63.836%. | |
| 12632 | 5619 | F0A009071 | The Application of Drilling Method In Reading Learning Process for 3rd Grade Students of SD-IP Tunas Bangsa, Banjarnegara | Proses pembelajaran keterampilan membaca bahasa Inggris di SD-IP Tunas Bangsa selama ini belum berjalan semestinya. Hal ini dikarenakan siswa belum mampu memahami bacaan dengan benar walaupun dengan kalimat bahasa Inggris sederhana. Oleh karena itu, pengajar perlu menerapkan metode yang efektif untuk meningkatkan kemampuan reading. Salah satu metode yang patut dicoba adalah metode drilling. Metode drilling adalah suatu cara yang baik untuk menanamkan kebiasaan tertentu dengan tujuan untuk menambah kecepatan, ketepatan, dan kesempurnaan dalam melakukan sesuatu dan sebagai cara mengulangi bahan yang telah disajikan, oleh karena itu metode ini digunakan pengajar dalam pembelajaran reading siswa kelas 3 SD-IP Tunas Bangsa, Banjarnegara. Pada penerapan metode ini, pengajar menggunakan beberapa langkah; langkah pertama, pengajar memberi instruksi kepada siswa untuk membaca kata maupun kalimat bersama-sama, misalnya “green school”. Kedua, pengajar mencoba mendengar dan memeriksa kembali apakah ada kesalahan atau tidak dalam pengejaannya. Terakhir, setelah dirasa cukup baik dan selaras, pengajar meminta siswa untuk membacakan satu persatu. Kegiatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang setiap berganti kata atau kalimat. Penggunaan Drilling method dalam pembelajaran membaca siswa berjalan cukup efektif untuk diajarkan pada siswa kelas 3 SD-IP Tunas Bangsa. Dengan metode ini pengajar bisa membuat suasana kelas menjadi lebih menyenangkan dan aktif. Adapun kendala-kendala yang pengajar temukan dalam proses pembelajaran membaca dengan drilling method tersebut antara lain; siswa belum memiliki kamus sendiri-sendiri, kurangnya kepercayaan diri siswa, kurangnya alat peraga dan buku materi ajar, kurangnya pemahaman siswa tentang bahasa Inggris. Dari semua pembahasan yang telah dijelaskan di atas, pengajar dapat menyimpulkan bahwa dengan metode drilling pengajar dapat menciptakan suasana kelas yang ceria dan menyenangkan. Hal ini ditunjukkan dengan antusiasme dan respon yang baik oleh para siswa, dan mereka juga menjadi semangat dalam mengikuti pembelajaran reading yang diajarkan di kelas. Selain itu, pengajar juga berusaha untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka masing-masing agar lebih mandiri dan aktif di dalam kelas, karena hal ini akan sangat berpengaruh dalam pembelajaran bahasa Inggris siswa di masa yang akan datang. | The learning of reading skill in the SD-IP Tunas Bangsa wasn’t work well yet. It is because the students have not been able to understand the texts properly though they are written with a simple sentences. Therefore, the teacher needs an effective method to increase their reading ability. One method is certainly worth to try is drilling method. Drilling method is a good way to infuse certain habit for the purpose of adding to velocity, accuracy, and perfection in doing learning process and as a way of repeating material that has been delivered, so this method is used by the teacher in reading learning for the 3rd grade students of SD-IP Tunas Bangsa, Banjarnegara. In the application of this method, the teacher went used several steps. First, the teacher gave instruction to the students to read the word or sentence together, for example “the green school”. Second, the teacher tried to hear and checked back if there was any fault or omissions in pronouncing the words. Finally, after it was good enough and aligned, the teacher asked the students to recite one by one. The activities were done repeatedly for every new word or sentence. The use of drilling method in reading was effective enough to be taught at the 3rd grade students of SD-IP Tunas Bangsa. By this method, the teacher could make a more likable and active class atmosphere. The obstacles that found by the teacher in the process of reading learning by using drilling method were; the students didn’t own dictionary, the lack of students’ self-confidence, the lack of visual aids and books about reading material, and the lack of students’ understanding in English. From all of the explanation that have been described above, the teacher can conclude that with drilling method, the teacher should create class’ atmosphere to be cheerful and likeable. That thing was showed of enthusiasm and responds of the students, and they were also become passionate in the process of learning reading that was taught in the class. In addition, the teacher also tried to raise students’ self-confidence in order to be more independent and active in the class, because it is very influential for the students in learning English in the future. | |
| 12633 | 5630 | H1A009045 | SINTESIS DAN KARAKTERISASI SELULOSA ASETAT DARI DAGING BUAH PALA (NATA DE MYRISTICA FRAGRANS) | Selulosa asetat (SA) adalah salah satu polimer yang biasa digunakan dalam berbagai industri. Daging buah pala merupakan salah satu sumber selulosa non kayu yang dapat digunakan untuk memproduksi selulosa asetat. Nata de myristica fragrans merupakan selulosa mikrobial hasil fermentasi konsentrat daging buah pala selama 9 hari oleh bakteri Acetobacter xylinum dengan penambahan gula pasir, ammonium sulfat dan asam asetat glasial. Selulosa asetat diproduksi melalui proses perendaman yang terbagi atas empat tahap yaitu aktivasi, asetilasi, hidrolisis, dan pemurnian. Karakterisasi selulosa asetat telah dilakukan dengan menganalisis struktur selulosa asetat, gugus fungsi, menentukan massa molekul relatif, dan kadar asetil. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa selulosa asetat memiliki struktur semi kristalin. Analisis spektroskopi inframerah menunjukkan bahwa puncak spesifik gugus asetil pada 1234,44 cm-1 (C-O) dan 1751,36 cm-1 (C=O karbonil) dengan massa molekul relatif sebesar 6,21 x 104 g/mol dan kadar asetil 38,03%. | Cellulose acetate (CA) is one of polymer which is usually used in various industries. Nutmeg fruit flesh is the one of non wood cellulose source which can be used for producing CA. Nata de myristica fragrans is microbial cellulose which produced from the concentrates of nutmeg fruit flesh fermentation in nine days by Acetobacter xylinum with the addition of sugar, ammonium sulfate and glacial acetic acid. Cellulose acetate was produce by solution process that divides into four steps i.e. activation, acetylation, hydrolysis, and purification. The characterization of cellulose acetate had been conducted with analyzing structure of cellulose acetate, function groups, determining relative molecule mass, and acetyl content. The analysize of XRD showed the cellulose acetate has semi-crystalline structure. The result of infrared spectroscopy analyze showed that specific peak of acetyl group at 1234.44 cm-1 (CO) and and 1751.36 cm-1 (C=O carbonyl) with a relative molecule mass of cellulose acetate was 6.21 x 104 g/mol and the acetyl content 38.03% | |
| 12634 | 5634 | F1A007006 | RELEVANSI SUICIDE EMILE DURKHEIM PADA MASYARAKAT DI KABUPATEN MAJALENGKA | Bunuh diri menurut Emile Durkheim adalah semua kasus kematian yang disebabkan baik secara langsung maupun tidak langung oleh tindakan positif maupun negatif pelakunya, dan pelaku tahu bahwa tindakan ini akan menyebabkan kematiannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui latar belakang pelaku bunuh diri di Majalengka, mengetahui karakter sosial (pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, gender, usia, status ekonomi, agama) pelaku bunuh diri dan mengetahui relevansi teori Emile Durkheim khususnya integrasi dan regulasi dalam masyarakat untuk menjelaskan tentang kasus bunuh diri di Kabupaten Majalengka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk menggambarkan atau mendeskripsikan tentang bagaimana relevansi Suicide Emile Durkheim pada masyarakat di Kabupaten Majalengka. Data yang dikumpulkan terutama berupa kata-kata, kalimat, atau gambar yang memiliki arti lebih dari sekedar angka maupun frekuensi. Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Majalengka. Sasaran penelitian adalah keluarga, teman, dan orang terdekat korban bunuh diri. Informan yang diambil sebanyak 10 orang karena setiap orang mewakili setiap kasus bunuh diri yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui latar belakang pelaku bunuh diri di Majalengka, mengetahui karakter sosial (pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, gender, usia, status ekonomi, agama) pelaku bunuh diri, dan Mengetahui relevansi teori Emile Durkheim khususnya integrasi dan regulasi dalam masyarakat untuk menjelaskan tentang kasus bunuh diri di Kabupaten Majalengka. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa teori suicide Emile Durkheim masih relevan untuk mengkaji masalah bunuh diri yang terjadi di Kabupaten Majalengka. Kategori bunuh diri yang dominan terjadi di Kabupaten Majalengka adalah bunuh diri egoistik. Bunuh diri ini terjadi karena integrasi sosial yang rendah. Penyebab utamanya adalah integrasi masyarakat yang menurun sehingga menyebabkan kepekaan sosial dalam masyarakat rendah. Regulasi dalam tingkat masyarakat yang memudar menjadi salah satu celah dalam mengkontrol masalah sosial bernama bunuh diri. | The relevance of Suicide Emile Durkheim on society in Majalengka is the title of this essay. According to Emile Durkheim, suicide is all cases of death caused directly or indirectly by the positive and negative actions of the subjects or the perpetrators, and they knew that this action would lead them to death. The purpose of this study is to find out the background of the perpetrators of suicide case in Majalengka, to find out the social character of the perpetrators (education, occupation, marital status, gender, age, economic condition, religion), and to find out the relevancies of the theory of Emile Durkheim especially in the integration and regulation of the society, to elaborate about suicides cases in Majalengka. This research uses descriptive qualitative research method, the method of this study, researchers attempt to illustrate or describe how the relevance of Emile Durkheim's suicide on society in Majalengka. The data were collected primarily in the form of words, phrases, or images that have more meaning than just the numbers and frequency. Research sites located in Majalengka. Research targets are family, friends, and the people closest to victims of suicide. Informants were taken as many as 10 people for each person representing each different case of suicide. The results of this study revealed that Emile Durkheim's theory of suicide is still relevant to assessing suicide issue that occurred in Majalengka. Egoistic suicide is the dominan category at Majalengka. The main cause is the degression of the society integration which resulting low sensitivity of the society. Regulation in the society which going faded becomes one of the solutions to control the social problems named suicide. | |
| 12635 | 5633 | F1C009075 | Komunikasi Organisasi Unit Pengelola Kegiatan Program Nasional Pemberdayaaan Masyarakat Mandiri Perdesaaan (UPK PNPM-MPd) di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas | Tidak ada manusia yang tidak berkomunikasi. Begitu juga di dalam organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi yang baik dapat menyebabkan suatu organisasi macet atau berantakan. (Muhammad 2009: 1). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengetahui komunikasi organisasi yang dilakukan oleh UPK PNPM-MPd kecamatan Sumbang dalam menjalankan tugasnya dan hambatan komunikasi yang dihadapi. Teknik pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan informan utama 7 anggota UPK dan 3 informan pendukung yaitu Tim Pengelola Kegiatan, Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Badan Kerjasama Antar Desa Kecamatan Sumbang. Metode analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif. Hasil dari penelitian ini adalah Komunikasi ke atas mencakup kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan, artinya apa yang sedang dikerjakan oleh UPK, seberapa jauh pencapaiannya yang dihasilkan oleh UPK, apa yang masih harus dilakukan, dan masalah apa yang terjadi dan sedang dihadapi oleh UPK. Komunikasi ke bawah UPK kepada jabatan dibawahnya yaitu KPMD dan TPK. Informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan kepada bawahan, diantaranya informasi mengenai bagaimana melakukan pekerjaan. Komunikasi horizontal tujuannya adalah untuk mengkoordinasikan penugasan kerja, mereka harus saling bertemu untuk mengkoordinasikan pembagian tugas serta berbagi informasi mengenai rencana dan kegiatan. Kendala yang dihadapi UPK ada tiga yaitu Hambatan Proses Komunikasi terjadi ketika UPK dalam berkoordinasi menyampaikan informasi tentang PNPM belum bisa dimengerti sepenuhnya oleh KPMD dan TPK, kedua yaitu hambatan perilaku misalnya prasangka yang didasarkan kepada emosi dan sifat egosentris yang masing- masing ada dalam diri TPK dan KPMD maupun BKAD. ketiga yaitu Faktor Personal, faktor ini menekankan pada aspek manusia. Kata kunci: Komunikasi Organisasi, Pemberdayaan Masyarakat, Progam Nasional Pemberdayaan Masyarakat Perdesaan | There is no man who does not communicate. So also in the organization. With the proper communication of an organization to run smoothly and successfully, and vice versa, the lack or absence of good organizational communication can lead to a bad organization or messy (Muhammad 2009: 1). The purpose of this study was to determine the organization know the communication is done by UPK PNPM-MPD sub Contribute in their duties and communication barriers faced. Informant selection techniques using purposive sampling with key informants 7 informants members of UPK and 3 supporting the Project Management Team, Kader Community Empowerment and Inter-Agency Cooperation Contributes Village District. Data analysis method used is interactive model. The results of this study are upward communication include work-related activities, meaning that what is being done by the UPK, how far achievements generated by the UPK, what remains to be done, and the problem of what is happening and being faced by UPK. UPK communication down to the post below is KPMD and TPK. Common information communicated from superiors to subordinates, including information about how to do the job. Horizontal communication goal is to coordinate the assignment of work, they must meet to coordinate the distribution of tasks and share information about plans and activities. UPK constraints faced three obstacles that occur when communication process in coordination UPK PNPM communicate information can not be understood fully by KPMD and TPK, both the behavioral barriers such as prejudice based on emotion and the egocentric nature of each is inside TPK and KPMD and BKAD. The third factor is personal, these factors emphasize the human aspect. Keywords: Organizational Communication, Community Empowerment, National Program Empowering Rural Communities (PNPM-MPd) | |
| 12636 | 5635 | F1D007017 | POLITIK LINGKUNGAN DI ERA OTONOMI DAERAH: PENGELOLAAN KEBUN RAYA KUNINGAN DI DESA PADABEUNGHAR KECAMATAN PASAWAHAN KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT | Penelitian ini membahas mengenai pengelolaan Kebun Raya Kuningan di era otonomi daerah yang menggambarkan dan mendeskripsikan mengenai peran dan upaya kelembagaan daerah pada pengelolaan Kebun Raya Kuningan yang dikelola oleh pemerintah daerah berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran pemerintah daerah dalam memotivasi seluruh stakeholders untuk mewujudkan konservasi belum terwujud dengan baik, karena peran konservasi saat ini belum diyakini akan memberikan nilai tambah meskipun didukung dengan diberlakukannya Peraturan Daerah No. 12 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kebun Raya Kuningan yang diharapkan mampu memberikan Pendapatan Asli Daerah dan untuk menjaga melestarikan lingkungan yang melibatkan peran serta masyarakat sekitar. Perlu adanya kesadaran bahwa dalam politik yang menyangkut lingkungan hidup menjadi tanggung jawab bersama termasuk pada pengelolaan Kebun Raya Kuningan yang harus melibatkan seluruh aktor politik dalam berbagai peran dan kontribusi di era otonomi daerah. | This research discussed about the management of Kuningan Botanical Gardens in the regional outonomy that illustrate and describe the role and efforts of regional institutions in the management of the Kuningan Botanical Gardens administered by local governments based on the principles of sustainable development. These results indicate that the role of local government in motivating all stakeholders to achieve conservation has not materialized properly, because the role of conservation is currently believed to provide value added although supported by the enactment of Local Regulation. 12 Year 2012 on the Implementation of the Kuningan Botanical Gardens is expected to provide local revenue and to keep preserving the environment that involve the participation of local communities. There needs to be awareness that in politics concerning the environment is a shared responsibility, including the management of the Kuningan Botanical Gardens which should involve all political actors in various roles and contributions in the era of regional autonomy. | |
| 12637 | 5636 | H1C009006 | SEGMENTASI UTERUS DENGAN MENGGUNAKAN PERBANDINGAN METODE DETEKSI TEPI PADA CITRA ULTRASONOGRAFI MEDIS (USG) | Citra Ultrasonografi Medis (USG) merupakan salah satu bentuk fisik dampak positif dari adanya perkembangan teknologi dalam bidang kedokteran. Citra tersebut dapat digunakan sebagai diagnostik berbasis teknik pencitraan medis untuk memvisualisasikan otot, tendon, dan organ, maupun anatomi tubuh seperti perkembangan janin dalam rahim seorang ibu hamil. Namun citra yang dihasilkan oleh USG, khususnya citra USG 2 dimensi belum sepenuhnya dapat memberikan informasi secara tepat. Dengan membandingkan beberapa metode Deteksi Tepi, seperti : Canny, Laplacian of Gaussian (LOG), Prewitt, Roberts dan Sobel, didapatkannya bentuk rahim atau uterus yang paling baik yaitu dengan menggunakan metode deteksi tepi operator Sobel dengan nilai ambang batas sebesar 0,03. | Medical Ultrasound Image is one of the physical form from a positive impact of the technological developments in the medical. The image can be used as a diagnostic based the medical imaging technique to visualize muscles, tendons and organs nor anatomy of the body such as the development of the fetus in the uterus of a pregnant woman. However, the image produced by ultrasound, especially 2-dimensional ultrasound images can not provide the correct information enough. By comparing several edge detection methods, such as : Canny, Laplacian of Gaussian (LOG), Prewitt, Roberts and Sobel, acquired the best form of uterus by using Sobel as edge detection method at 0,03. | |
| 12638 | 5637 | B1J008042 | UJI DAYA HASIL EMPAT ISOLAT BIBIT JAMUR KUPING (Auricularia spp.) PADA MEDIUM TANAM DENGAN BAHAN SUPLEMEN BERBEDA | Pengujian bibit jamur kuping merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan supaya dapat ditemukan bibit jamur kuping yang unggul. Suplemen medium merupakan bahan tambahan yang dapat memperkaya unsur hara dalam medium terutama jumlah nitrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh isolat jamur kuping dengan bahan suplemen berbeda dalam meningkatkan produksi bobot basah jamur kuping, juga untuk mengetahui isolat bibit jamur kuping dan suplemen yang terbaik untuk menghasilkan bobot basah jamur kuping tertinggi. Percobaan ini dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan yang dilakukan adalah Bibit Jamur kuping asal Purwokerto, Cianjur, Kaliurang 1 dan Kaliurang 2 pada medium tanam dengan suplemen limbah tanaman kacang tanah, jagung dan tanpa suplemen. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Ragam (ANOVA) kemudian dilanjutkan dengan uji BNJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bibit dengan suplemen pada medium tanam berbeda memberikan pengaruh terhadap bobot basah jamur kuping. Bibit jamur kuping isolat Kaliurang-1dan Cianjur yang ditanam pada medium serbuk gergaji kayu 75% dan limbah tanaman kacang tanah 25% juga bibit jamur kuping isolat Kaliurang-1 dan Cianjur yang ditanam pada medium serbuk gergaji kayu 90% dan jagung giling 10% memiliki tingkatan produksi bobot basah jamur kuping tertinggi. | Auricularia spp. spawn culture test is necessary to get the best spawn culture. Medium Suplementation is additive component that enrich the medium espesially nitrogen amount. This research has been caried out to study the effect of four spawn culture on medium with different suplementation to increase mushroom wet weight production, and to determine the best spawn cultures and suplementation medium on producing the highest wet weight production of Auricularia spp. The study has been carried out experimentally using a Completely Randomized Design. The treatments tested were spawn culture from Purwokerto, Cianjur, Kaliurang 1 and Kaliurang 2, with medium that suplemented by peanut plant waste, corn, and medium without suplementation. The data obtained were analysed using an Analysis of Variance (ANOVA), followed by HSD test. The result showed that spawns culture with different suplementation medium had effect on Auricularia spp. wet weight production. Kaliurang-1 and Cianjur spawn culture with 25 % peanut plant waste suplementation and Kaliurang-1 and Cianjur spawn culture with 10% corn mill suplementation, gave the highest wet weight production of Auricularia spp. | |
| 12639 | 5642 | H1F008047 | GEOLOGI DAN STUDI GEOKIMIA SISTEM PANASBUMI DAERAH WAY UMPU DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BANJIT, KABUPATEN WAY KANAN, PROVINSI LAMPUNG | Daerah penelitian secara geografis berada pada koordinat 436.000-444.000 mT dan 9.454.000-9.472.000 mS pada proyeksi peta Universal Tranverse Mercator (UTM) datum WGS 1984 zona 48 bagian selatan dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Jukuhbatu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Geomorfologi daerah penelitian terdiri atas dua satuan, yaitu Satuan Lereng Atas Remas dan Satuan Lereng Bawah Gunungapi Way Umpu. Pola aliran sungai daerah penelitian adalah pola dendritik dengan tahapan geomorfik dewasa. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari empat satuan batuan tidak resmi. Satuan batuan ini, dari tua ke muda, adalah Satuan Breksi Andesit, Satuan Dasit, Satuan Lava Basalt Terbreksikan, dan Satuan Lava Basalt Struktur geologi yang terdapat di daerah penelitian didapatkan dari analisis pola kelurusan, dan indikasi keberadaan struktur geologi dari kemunculan manifestasi panas bumi dan bentukan struktur kawah dari analisis citra satellit. Manifestasi panas bumi berupa air panas ditemukan di sekitar sungai Way Umpu dengan terdapat enam titik mata air panas. Manifestasi Way Umpu memiliki temperatur permukaan hingga 78°C dengan debit tertinggi 1 L/s. Seluruh manifestasi tersebut memiliki pH sekitar netral (6.45-7.23). Berdasarkan karakteristik mata air panas, diketahui bahwa manifestasi tersebut memiliki tipe air klorida dan berasal dari satu reservoar yang bertemperatur 200-210°C pada kedalaman antara 1.250-1.300 m dan mata air panas Way Umpu merupakan zona aliran ke atas reservoar (upflow). | Study area is geographically located on coordinate 436.000 -444.000 mE and 9.454.000-9.472.000 mS. The area includes Jukuhbatu Village, Banjit Regency, Lampung Province. Geomorphology of the study area is divided into two units, namely Upper slopes Remas and Downslope Way Umpu. Drainage patterns of the study area is dendritic patterns with mature geomorphic stage. Stratigraphy of the study area consists of four unofficial litogical units. These litological units, from old to young, are Andesite Breccia Unit, Dacite Unit, Brecciated Lava Unit, and Lava Basalt Unit. Geological structure of the region, was obtained from the analysis of alignment pattern and indication of the existence geological structure with appearance of geothermal manifestations and the formation of a crater structure analysis of satellite image. Geothermal surface manifestations are hotsprings surface found in around Way Umpu River and have six point hot waters. Way Umpu manifestation has surface temperature up to 78°C with highly flow rate of 1 L/s. Based on the chemical characteristic all manifestations is chloride water type and they are from the same reservoir having temperatures of 200-210°C at the approximate depth of between 1.250-1.300 m and Way Umpu hotspring is located on the upflow zone (vertical flow). | |
| 12640 | 5627 | C1B008050 | Pengaruh Kompensasi, Kepemimpinan Transformasional, Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada PDAM Kabupaten Banyumas | Penelitian ini berjudul "Pengaruh Kompensasi Kepemimpinan Transformasional Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada PDAM Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompensasi, gaya kepemimpinan transformasional dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan dan untuk menganalisis pengaruh hubungan dari ketiga variabel terhadap kinerja karyawan. Hipotesis yang diajukan adalah: 1. Terdapat Pengaruh Positif Kompensasi, Kepemimpinan transformasional, dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada PDAM Kabupaten Banyumas. 2. Variabel Kepemimpinan Transformasional Merupakan Variabel yang Terbesar Pengaruhnya Terhadap Kinerja Karyawan pada PDAM Kabupaten Banyumas. Responden yang diteliti dalam penelitian ini adalah 63 sampel responden yang digunakan untuk penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan analisis regresi menunjukkan bahwa (1) hipotesis pertama yang menyebutkan bahwa terdapat pengaruh positif kompensasi, kepemimpinan transformasional, dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan dapat diterima.(2) hipotesis kedua yang menyebutkan bahwa variabel kepemimpinan transformasional merupakan variabel yang terbesar pengaruhnya terhadap kinerja karyawan, diterima. | This reseach is entitled "evaluate the effect of compensation, transformational leadership, and work environment on employee performance at Regional Water Company (PDAM) Banyumas Regency. The aims of re search are first to find out evaluate the effect of compensation, transformational leadership, and work environment on employee performance and then to find out variable that has greatest effect among the three variables. The proposed hypothesis of research are: 1. Evaluate the positive effect of compensation, transformational leadership, and work environment on employee performance at Regional Water Company (PDAM) Banyumas Regency. 2. Transformational Leadership is the variable that has the most significant on environment on employee performance at Regional Water Company (PDAM) Banyumas Regency. The number of respondents is taken in this study were 63 respondent.proposional cluster sampling used in the termination of the respondent. Based on the result research and data analysis using regresion analysis showed that. (1) first hypothesis that has been mentioned that there are partially influence of compensation, transformational leadership, and work environment on the performance of employees is acceptable (2) second hypothesis that has been mentioned that Transformational Leadership is the variable that has the most significant on environment on employee performance. |