Artikelilmiahs

Menampilkan 7.621-7.640 dari 48.892 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
76218504P2PA10017ANALISIS KUALITAS AIR DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG PEMBUANGAN LIMBAH RUMAH PEMOTONGAN HEWAN (Studi Kasus di Kali Bakal, Kabupaten Banyumas) (An analysis of water quality and people’s behavior about the waste from slaughterhouse (A Case Study in Bakal River, Banyumas Regency))Limbah cair RPH Purwokerto Timur dibuang ke Kali Bakal. Limbah cair yang dibuang di sungai dan tidak diolah secara maksimal terlebih dahulu dan melebihi beban maksimum pencemaran yang dapat diterima sungai, maka dampak yang tidak diinginkan akan timbul. Pembuangan limbah cair yang mempengaruhi kualitas air mempengaruhi perilaku masyarakat.
Penelitian dilakukan dengan metode survai terhadap variabel kualitas air, beban pencemaran air limbah RPH,dan perilaku masyarakat. Variabel kualitas air ditentukan dengan menentukan status mutu air menggunakan metode STORET. Variabel beban pencemaran diukur dengan menghitung BPM, BPA, BPAi, BPMi. Pengukuran perilaku masyarakat dilakukan dengan kuisioner terhadap indikator pengetahuan, sikap dan tindakan yang kemudian dibuat persentase berdasarkan ranking. Pengukuran hubungan antara kualitas air Kali Bakal dan perilaku masyarakat dilakukan menggunakan kuisioner dan melakukan uji korelasi Spearman rank.
Kondisi kualitas air Kali Bakal yang terpapar masukan limbah cair RPH Purwokerto Timur menunjukan penurunan kualitas fisika dan kimia air yang ditunjukkan dengan penurunan kadar DO dan BOD5 yang melebihi baku mutu yang dipersyaratkan pada stasiun III s/d VI. Status mutu air pada stasiun I dan II tercemar sedang (C), stasiun III sampai V mengalami penurunan kondisi status mutu menjadi tercemar berat (D) dan pada stasiun VI mengalami perbaikan status mutu menjadi tercemar sedang (C). Kondisi Beban Pencemaran yang dihasilkan limbah RPH Purwokerto Timur menunjukan hasil tidak memenuhi syarat. Hal ini menguatkan bahwa limbah RPH mempengaruhi penurunan kualitas air Kali Bakal di Stasiun III. Perilaku masyarakat sepanjang Kali Bakal secara umum terlihat dari hasil pengukuran variabel pembentuk perilaku dimana secara umum responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik(81,7%), responden memiliki tingkat sikap yang cukup baik (77,4%), tetapi sebagian besar responden (73,1%) masih memiliki tingkat tindakan yang tidak baik. Tingkat pengetahuan, sikap dan tidakan pada stasiun I dan II lebih baik dari stasiun III sampai VI. Secara umum, kualitas air cenderung kurang berkaitan dengan perilaku masyarakat.
To meet the need for meat in Purwokerto, fulfilled by Purwokerto Timur Slaughterhouse that located precisely at Mersi Village. Liquid waste produced from slaughtering or meat processing in the slaughterhouse is discharged to Bakal River. If it is not properly managed and exceeds the total maximum daily load for river pollutant, so it will lead to undesirable environmental impact. Liquid waste disposal that affects water quality can also affect people’s behavior in using the river. This problem should be analyzed and solved in order to seek sustainable system to provide healthy meat which neither negatively affects the social life nor creates pollution.
The objectives of the research are to 1) determine water quality of Bakal River which has been polluted with waste from Purwokerto Timur slaughterhouse in Banyumas Regency; 2) determine the total maximum daily load of waste from the slaughterhouse to Bakal River in Banyumas Regency; 3) determine people’s behavior concerning the waste disposal from Purwokerto Timur slaughterhouse to Bakal River in Banyumas Regency; and 4) analyze the relationship between water quality of Bakal River and local people’s behavior.
This research used survey method on the variables of water quality, total maximum daily load of waste from the slaugterhouse and local people’s behavior. To check the water quality of Bakal River, purposive sampling for water at six stations was done three times, repeatedly. To check the total maximum load of waste, samples were taken once at the outlet of liquid waste disposal from the slaughterhouse. For people’s behavior variable, this research used random sampling, to 93 people. To determine the water quality status, STORET method was applied on parameters which were used. The parameters were based upon Government Regulation Number 82 Year 2001 which was limited by the parameters for wastewater quality standard from slaughterhouses, namely, physical parameters (water temperature, air temperature, TSS, the depth of river, water velocity, water discharge), chemical parameters (pH, DO, BOD5, COD, oil and grease, NH3) and biological parameter (total coliform). For the variable of total maximum load of waste, it was measured through BPM, BPA, BPAi, BPMi against the parameters of vii
slaughterhouse elemental contaminants in accordance to Central Java Province Local Regulation
Number 5 Year 2012, namely, TSS, BOD5, COD, NH3, and oil and grease. The analysis on people’s behavior was done based on likert scale, questionnaire with the indicators of knowledge, attitude, and action which was then converted to percentage based on ranking. The assessment on the relationship between water quality of Bakal River and people’s behavior was done using questionnaire and Spearman rank correlation test.
Physical, chemical and biological water quality of Bakal River that crossed Purwokerto Wetan, Mersi Villages in Purwokerto Timur District and Berkoh village in Purwokerto Selatan District Banyumas Regency that receiving input of Purwokerto Timur Slaughterhouse liquid wastes, shows the decrease of physical and chemical water quality shown with the decrease of DO rate and BOD rate that exceeds the quality standard that is required at station III to station VI. Status of water quality at stations I and II are medium polluted (C), quality status conditions of station III to V declining become heavily polluted (D) an quality status at station VI improved becomes medium polluted (C). Pollution Load Conditions that generated Purwokerto Timur Slaughterhouse wastes shows that the result do not meet the requirements regulated in Central Java Province Local Regulation number 5 Year 2012 on Wastewater quality standard. This strongly suggest that slaughterhouse waste affecting water quality at station III. People’s behavior along Bakal river generally shown from the results of measurements of variables that forming behavior where respondents generally have a pretty good level of knowledge (81,7%), respondents had a pretty good attitude rate (77,4%), but most of respondents (73,1%) still have a level of action that is not good. The level of knowledge, attitudes an actions on the station I and station II better than III to VI. Generally, water quality tends to be less related to people’s behavior.
76228505P2PA11019PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG TINGKAT CEMARAN PETROLEUM PADA PERAIRAN SUNGAI DONAN CILACAP DAN KAJIAN POTENSI ISOLAT BAKTERI INDIGENOUS PENDEGRADASI PETROLEUMTumpahan petroleum di perairan menjadi masalah karena dapat menimbulkan pencemaran serta berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan karena komponen petroleum bersifat toksik dan karsinogenik. Teknik bioremediasi menggunakan mikroorganisme terutama bakteri indigenous yang menjadi solusi dalam pengendalian pencemaran petroleum. Efektivitas bioremediasi petroleum di lingkungan menggunakan bakteri indigenous dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, jenis dan jumlah bakteri. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang pencemaran petroleum, kadar petroleum pada sedimen, ragam bakteri indigenous di sekitar kawasan perairan Sungai Donan Cilacap. Metode eksperimental digunakan untuk mengetahui efektivitas konsorsia bakteri indigenous dalam mendegradasi petroleum secara in vitro menggunakan rancangan percobaan Split Plot Design dengan empat Main Plot (konsorsium bakteri AB, AC, BC, dan ABC) dan empat Sub Plot waktu inkubasi (0 hari, 7 hari, 14 hari, dan 21 hari) dan dilakukan dengan dua ulangan. Hari ke-0 dijadikan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di sekitar daerah Middle Stream memiliki persepsi yang kurang baik tentang pencemaran petroleum, karena daerah tersebut terbukti merupakan daerah yang paling tercemar. Kemudian, daerah Down Stream memiliki persepsi yang cukup baik, dan daerah Up Stream memiliki persepsi yang baik. Kadar petroleum pada sedimen tertinggi terdapat pada daerah Middle Stream di stasiun III sebesar 2.409±143,42 ppm dan stasiun IV sebesar 2.212±170,84 ppm; diikuti daerah Down Stream di stasiun V sebesar 560,33±31,79 ppm dan stasiun VI sebesar 673,67±22,12 ppm; daerah Up Stream di stasiun I sebesar 481,33±15,28 ppm dan stasiun II sebesar 564,67±28,54 ppm. Sejumlah 20 isolat bakteri indigenous ditemukan pada sedimen di perairan Sungai Donan Cilacap. Sebanyak tiga isolat pendegradasi petroleum terbaik yaitu Bacillus coagulans, Pseudomonas luteola, dan Bacillus licheniformis. Efektivitas masing-masing konsorsium bakteri terlihat dari tingkat degradasi yang terbesar adalah konsorsium bakteri BC (65,63%), dan diikuti oleh ABC (47,87%), AB (45,39%), serta AC (36,06%).Spilled petroleum that spills in the water can be hazardous as it pollutes the environment and endangers human health. Bioremediation to clean up petroleum contaminated sites uses microorganism, especially indigenous bacteria. The effectiveness of bioremediation is greatly influenced by environmental factors, types, and the amount of bacteria. This research used survey method to find out people’s perception towards petroleum contaminated sites, level of petroleum pollutants in the sediment, types of indigenous bacteria at Donan River in Cilacap. Experimental method was used to find out the effectiveness of indigenous bacteria consortia in degrading the petroleum in vitro by using Split Plot Design with four main plots (AB, AC, BC, and ABC bacteria consortium) and four sub plots of incubation period (0 day, 7 days, 14 days, and 21 days), and it was implemented twice. Day-0 is regarded as the control. The findings of the research show that the perception of people who live in Middle Stream area is relatively fair towards petroleum contaminated site since the area proves to be the most polluted area. People who live in Down Stream area have a rather good perception while those in the Up Stream area have good perception. Petroleum level in the sediment in the most polluted Middle Stream area in Station III is 2,409±143.42 ppm and in Station IV of 2,212±170.84 ppm; followed by Down Stream in Station V of 560.33±31.79 ppm and Station VI of 673.67±22.12 ppm; for Up Stream area in Station I is as much as 481.33±15.28 ppm and Station II is of 564.67±28.54 ppm. 20 isolated indigenous bacteria are found in sediment which has been contaminated with petroleum at Donan River in Cilacap. Three best isolated bacteria that degrade petroleum are Bacillus coagulans, Pseudomonas luteola, and Bacillus licheniformis which are found in Middle Stream area. In terms of degradation level, the most effective bacteria consortium is BC bacteria consortium (65.63%), followed by ABC (47.87%), AB (45.39%), and AC (36.06%).
76238370P2CA11020ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI, KETIMPANGAN REGIONAL DAN KONVERGENSI ANTAR KECAMATAN DI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2002-2011Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan ekonomi, ketimpangan regional dan konvergensi antar kecamatan di Kabupaten Banjarnegara tahun 2002 - 2011, adalah penting untuk mengetahui dampak dari proses pembangunan daerah. Ketidakseimbangan pembangunan antar kecamatan menyebabkan kenaikan ketimpangan pendapatan. Alat analisis yang digunakan adalah pertumbuhan ekonomi, Tipologi Klassen, Indeks Williomson, Indeks Entropy Theil dan Konvergensi. Penelitian ini juga menganalisis hubungan antara pertumbuhan dan ketimpangan pendapatan menggunakan analisis korelasi Pearson.This study aims to analyze economic growth , regional inequality and convergence across sub-districts in the district Banjarnegara years 2002 - 2011 , it is important to know the impact of the regional development process. The imbalance development between districts led to the increase in income inequality..The analytical tool used is economic growth , Typology Klassen , Williomson Index , Theil Entropy Index and Convergence. This study also analyzes the relationship between growth and inequality of income of using Pearson correlation analysis.
76248506P2PA11030KAJIAN KANDUNGAN TEMBAGA PADA UDANG PENAEID YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN SEGARA ANAKAN CILACAP DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERSEPSI MASYARAKAT DI SEKITARNYA
Kawasan Segara Anakan Cilacap (SAC) sangat penting dalam mendukung upaya konservasi ekosistem mangrove. Fungsinya yaitu sebagai feeding dan nursery ground dari beberapa komoditas perikanan termasuk udang penaeid. Kegiatan di sekitarnya berkontribusi dalam pencemaran logam berat yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan gangguan kehidupan udang penaeid. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan tembaga pada air, sedimen, dan udang penaeid yang tertangkap di SAC; mengetahui persepsi masyarakat tentang pencemaran tembaga di perairan SAC; serta menganalisis hubungan antara kandungan tembaga pada air, sedimen, dan udang penaeid serta persepsi masyarakat di sekitarnya. Metode penelitian menggunakan survei secara purposive sampling pada enam stasiun dengan tiga kali ulangan selama bulan Februari-April 2013. Sampel diambil pada tiga kawasan, terdiri atas kawasan timur (SA-3-5 dan SA-3-16), kawasan tengah (SA-2-28 dan SA-3-46), dan kawasan barat (SA-2-24 dan SA-1-10). Pengukuran kandungan tembaga menggunakan SSA. Data persepsi masyarakat didapatkan dari wawancara menggunakan kuesioner. Kandungan tembaga pada air berkisar antara 0,003-0,012 mg/l; pada sedimen berkisar antara 4,90-9,39 mg/kg; dan pada udang penaeid berkisar antara 5,29-18,90 mg/kg. Kandungan tembaga pada air, sedimen, dan udang penaeid yang tertangkap masih di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Sebagian besar masyarakat berpersepsi tidak setuju tentang pencemaran logam tembaga di perairan SAC. Skor persepsi tertinggi dijumpai di kawasan tengah (skor 189), kemudian barat (skor 182) dan kawasan timur (skor 174). Kandungan tembaga pada air yang meningkat mengakibatkan peningkatannya pada sedimen (r = 0,185). Demikian pula, kandungan tembaga di sedimen yang meningkat mengakibatkan peningkatannya pada udang (r = 0,112). Karena sifat mobilitas udang dan proses hidrodinamika serta keberadaan clay yang dominan di kawasan tengah menyebabkan akumulasi kandungan tembaga pada udang yang tinggi pada kawasan tengah. Hal tersebut juga mempengaruhi persepsi masyarakat tentang pencemaran tembaga yang tertinggi di kawasan tengah. Persepsi masyarakat dipengaruhi oleh pengamatan setelah melihat kondisi abiotik dan biotik yang terjadi di lingkungan.Segara Anakan Cilacap (SAC) is very important to support conservation of mangrove ecosystem. It functions as feeding and nursery ground of several fishery commodities including penaeid shrimps. However, surrounding activities contribute to the contamination of heavy metals which result in the decrease of water quality as well as disturbance on penaeid shrimps. The research aims are to determine the copper concentration in water, sediments, and caught penaeid shrimps; determine people’s perception on copper contamination in SAC; analyze correlation of the copper concentration in water, sediments and penaeid shrimps along with the surrounding people’s perception. This research employed purposive sampling survey on six stations by three times repetition during February-April 2013. The samples were taken in three areas where comprised eastern areas (SA-3-5 and SA-3-16), middle areas (SA-2-28 and SA-3-46), and western areas (SA-2-24 and SA-1-10). The concentration of copper was measured by AAS. People’s perception were obtained through interview by questionnaire. The concentration of copper in water varies around 0.003-0.012 mg/l; in sediments varies around 4.90-9.39 mg/kg; and in penaeid shrimps varies around 5.29-18.90 mg/kg. The copper concentration in water, sediment and shrimps are still below with threshold. The people’s perception showed their disagreement toward the contamination of copper in SAC. The highest perception score was found in middle areas (score 189), then western areas (score 182) and eastern areas (score 174). The increased copper concentration in water causes its increase on sediments (r = 0.185). Similarly, the increased copper concentration in sediment increase on shrimps (r = 0,112). Due to the mobility of shrimps, the hydrodynamic process, and the dominant clay existence in middle areas, it causes high accumulation of copper concentration in shrimps in middle areas. This condition also affects the people’s perception on the highest copper contamination in middle areas. Their perception is influenced by observation after looking at the biotic and abiotic condition in the environment.
762510375D1F011019SUBTITUSI BUNGKIL KEDELAI DENGAN PROTEIN KONSENTRAT BUNGKIL BIJI JARAK FERMENTASI TERHADAP DAYA IKAT AIR DAN KEEMPUKAN DAGING KELINCIPenelitian dilaksanakan pada tanggal 3 November 2013 sampai 15 Februari 2014. Penelitian dilaksanakan di Stasiun Percobaan, Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, dan Laboratorium Ilmu Bahan Pakan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan protein konsentrat bungkil biji jarak (PK-BBJ) fermentasi dalam pakan terhadap daya ikat air dan keempukan daging kelinci serta mengevaluasi level atau tingkat subtitusi terbaik protein konsentrat bungkil biji jarak (PK-BBJ) fermentasi terhadap bungkil kedelai ditinjau dari daya ikat air dan kempukan daging kelinci. Metode penelitian yang digunakan adalah metode experimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan dengan setiap unit percobaan terdiri dari 2 ekor kelinci. Perlakuan terdiri dari R0= Kontrol/pakan tanpa PK-BBJ fermentasi (substitusi bungkil kedelai 0%); R1= Pakan mengandung 6% PK-BBJ fermentasi (substitusi bungkil kedelai 33,33%); R2= Pakan mengandung 12% PK-BBJ fermentasi (substitusi bungkil kedelai 66,67%); R3= Pakan mengandung 18% PK-BBJ fermentasi (substitusi bungkil kedelai 100%). Peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah daya ikat air (%) dan keempukan daging (mm/g/dt). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan konsentrasi protein konsentrat bungkil biji jarak (PK-BBJ) dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap daya ikat air dan keempukan daging kelinci. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penggunaan protein bungkil biji jarak (PK-BBJ) fermentasi (substitusi bungkil kedelai) sampai level 18% dalam pakan menghasilkan daya ikat air dan keempukan daging kelinci yang samaThe experiment was conducted on November 3, 2013 to February 15, 2014. The research was conducted at the Experimental Station, Laboratory of Livestock Products Technology, and Materials Science Laboratory Animal Feed, Faculty of Animal Husbandry, University of General Sudirman, Purwokerto. This study aimed to evaluate the effect of the use of castor bean meal protein concentrates (PK-BBJ) fermentation of feed against water holding capacity and tenderness of rabbits meats and evaluate the level or degree of the best protein concentrates substitution of castor seed meal (PK-BBJ) fermentation of soybean meal in terms of water holding capacity and tenderness of rabbit meat. The method used is an experimental method using completely randomized design (CRD) with four treatments and 6 replicates with each experimental unit consisted of two rabbits. Treatment consists of R0= Control/feed without PK-BBJ fermentation (soybean meal substitution 0%); R1= feed containing 6% PK-BBJ fermentation (33.33% soybean meal substitution); R2= feed containing 12% PK-BBJ fermentation (66.67% soybean meal substitution); R3= feed containing 18% PK-BBJ fermentation (100 % substitution of soybean meal). The parameters measured in this study are water holding capacity (%) and tenderness of rabbit meat (mm/g/dt). The results showed that the use of the concentration of protein concentrates castor seed meal (PK-BBJ) in feed is not significant (P>0.05) to the water holding capacity and tenderness of rabbit meat. The conclusion from this study is the use of castor bean meal protein (PK-BBJ) fermentation (substitution of soybean meal) to the level of 18% in the diet resulted in water holding capacity and tenderness of meat rabbits is same
76268507P2CC08124PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, MOTIVASI KERJA, DAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU TERHADAP KINERJA GURU SMP NEGERI
DI KABUPATEN BANJARNEGARA
Penelitian ini memiliki latar belakang masalah masih banyaknya guru yang memiliki kinerja kurang optimal. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor kepemimpinan, motivasi, dan kompetensi profesional terhadap kinerja guru SMP negeri di Kabupaten Banjarnegara serta untuk menganalisis variabel yang berpengaruh dominan terhadap kinerja guru SMP negeri di Kabupaten Banjarnegara.
Populasi dalam penelitian ini adalah guru yang terdiri dari PNS dan CPNS pada 57 SMP Negeri di Kabupaten Banjarnegara yaitu sejumlah 1.231 orang, sedangkan sampel ditetapkan sejumlah 102 orang menggunakan disproportional random sampling. Alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kepemimpinan kepala sekolah yang berpengaruh terhadap kinerja guru adalah kepemimpinan dalam hal visi, pengambilan resiko, serta dalam menanamkan harga diri di kalangan bawahan. Faktor kepemimpinan yang lain yaitu dalam hal energi dan keteguhan hati, menantang dan mendorong dan kesetiaan tidak berpengaruh terhadap kinerja guru. Selain itu variabel yang berpengaruh terhadap kinerja guru adalah kompetensi profesional, sedangkan variabel motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik tidak berpengaruh.
The background problem of this research is on the number of teachers who have low performance. Therefore, this study aimed to analyze the influence of leadership, motivation, and professional competence on the performance of junior high school teachers in the district as well as to analyze the variables Banjarnegara a dominant influence on the performance of junior high school teachers in Banjarnegara regency.
The population is made up of teachers and civil servants employess in 57 Junior high Schools in the Banjarnegara regency that some 1231 people, while the sample set at 102 people using disproportional random sampling. The analysis tool employed is multiple linear regression.
The results showed that the leadership of the principal factors that affect the performance of teachers is the leadership in terms of vision, risk taking, and in instilling pride among subordinates. Another factor is the leadership in energy and courage, challenge and encourage and loyalty does not affect the performance of teachers. Besides the variables that affect the performance of the teacher's professional competence, while variable both intrinsic and extrinsic motivation had no effect.
762710376D1E010001PROFIL MANAJEMEN DAN REPRODUKSI KAMBING PERANAKAN ETAWA DI UNIT PELAKSANA TEKNIS DAERAH (UPTD) PERBIBITAN TERNAK UNGGUL MULYOREJO KABUPATEN SEMARANGPenelitian yang berjudul “Profil Manajemen dan Reproduksi Kambing Peranakan Etawa di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perbibitan Ternak Unggul Mulyorejo Kabupaten Semarang” telah dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus sampai 10 September 2014. Materi penelitian adalah catatan manajemen dan reproduksi kambing Peranakan Etawa. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil manajemen dan reproduksi ternak kambing Peranakan Etawa, dan mengetahui hubungan antara kepadatan kandang dengan daya hidup kambing Peranakan Etawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pemeliharaan induk kambing Peranakan Etawa di UPTD Perbibitan Ternak Unggul Mulyorejo Kabupaten Semarang secara umum sudah cukup baik dilihat dari sisi manajemen perkandangan dan kesehatan namun ke butuhan pakan belum mencukupi. Tipe kelahiran tunggal 31,28 %, kembar dua 63,69 %, dan kembar tiga 5,03 %, litter size 1,54 ekor, kidding interval 337,13 hari (11,4 bulan), daya hidup prasapih 77,65 %, umur induk 1477,54 ± 500,35 hari (49,25 bulan). Kesimpulan bahwa manajemen induk kambing Pernakan Etawa di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perbibitan Ternak Unggul Mulyorejo sudah cukup baik dilihat dari manajemen perkandangan dan kesehatan tetapi pada manajemen pakan belum mencukupi kebutuhan. Tipe kelahiran cenderung beranak kembar lebih dari dua, namun kidding interval masih terlalu panjang (11,24 bulan) dan daya hidup prasapih relatif sedang (77,65 %) sehingga diperlukan pemeliharaan yang intensif pada masa prasapih. Kepadatan kandang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tinggi rendahnya mortalitas sebab kepadatan kandang tidak memiliki pengaruh khusus terhadap daya hidup prasapih kambing Peranakan Etawa khususnya di UPTD Perbibitan Ternak Unggul Mulyorejo.The study, entitled " Profile Management and Peranakan Etawa Goat Reproduction in Regional Technical Implementation Unit ( UPTD ) Superior Livestock Breeding Mulyorejo Semarang District " was held on 20 August to 10 September 2014. The research material is records management and reproduction of goats Peranakan Etawa. The research objective was to determine the profile management and reproduction of goats Peranakan Etawa, and determine the relationship between power density cages with live goats Peranakan Etawa. The results showed that the aircraft maintenance management goats Peranakan Etawa in UPTD Superior Livestock Breeding Mulyorejo Semarang district in general is quite good in terms of housing and health management but not sufficient to feed needs. Type of singleton births 31.28 %, 63.69 % twins and triplets were 5.03 %, 1.54 litter size tail, kidding interval of 337.13 days ( 11.4 months ), vitality prasapih 77.65 %, parent age 1477.54 ± 500.35 days ( 49.25 months ). Conclusion that the mother goat management Pernakan Etawa in Regional Technical Implementation Unit ( UPTD ) Superior Livestock Breeding Mulyorejo enough good views of the management of housing and health but in insufficient feed management. Type tend to bore twins born more than two, but kidding interval is too long ( 11.24 months ) and viability prasapih relatively moderate ( 77.65 % ) that required intensive maintenance during the prasapih. Cage density is not the only factor that determines the level of mortality because the density of the cage does not have a particular influence on the survival of goats Peranakan prasapih Etawa especially in UPTD Mulyorejo Superior Livestock Breeding.
762810377H1C008070PERANCANGAN RANGKAIAN ELEKTRIK CHANGE OVER PADA MOTOR CONTROL CENTER COOLING WATER PUMP MENGGUNAKAN AUXSILIARI RELAY BERDASARKAN GERBANG LOGIKA BOLEANDPembangkit tenaga listrik di PT. PJB UP Cirata menggunakan motor-motor bantu sebagai pendukung kerja generator. Motor-motor bantu ini dikendalikan oleh sebuah rimot yang bisa bekerja secara manual, manual auto dan automatis yang disebut dengan Motor Control Center (MCC). MCC memiliki beberapa motor kendali yaitu salah satunya Cooling Water Pump (CWP). CWP memiliki dua motor kendali yang salah satunya stanby untuk memompa air keradiator sebagai pendingin generator. Salah satu pompa Standby ini akan bekerja ketika pompa yang sedang beroperasi mengalami gangguan dan melakukan change over menggunakan flowmeters. Masalah yang sering terjadi pada proses Change over secara mekanis menggunakan flowmeters adalah terjadinya malfungtion atau tidak bekerjanya flowmeters yang bekerja berdasarkan diferensial pressure atau tekanan air pada pipa. Perancangan rangkaian elektrik yang di rancang sebagai pendukung kerja dari sisi elektrik untuk mengunci kerja flowmeter atau meningkatkan kinerjanya. Rangkaian elektrik change over yang dirancang berdasarkan logika bolean yang terdiri dari table kebenaran sebagai logika kerja dan gerbang logika sebagai acuan perancangan. Perancangan rangkaian simulasi terdiri dari alat seperti Magnetic kontaktor, relay kontak, time delay relay, triiper dan lampu indikator mampu memberikan Change over secara elektrik dengan tegangan 1 phasa 220 volt. Rangkaian elektrik change over memberikan waktu delai selama 5 second berdasarkan urutan sequence. Powerhouse in PT. PJB UP Cirata use auxiliary motors as support to labor the generator. These Auxiliary motors controlled by a remote that can work manually, auto manual and automatically that called by the Motor Control Center (MCC). MCC has several control motor, one of thatb is Cooling Water Pump (CWP). CWP has two control motors, one of that standby for pumping water to the radiator as cooling a generator. One of the Standby pump will work when the pump is being operates impaired and do change over using flowmeters. The problem that often occurs Change over mechanically using flowmeters is the malfunction or not operation of the flowmeters which works by differential pressure or water pressure in the pipe. The design of electrical circuit is designed to support the work of the electrical side to lock the flowmeters or improve its performance. Electrical circuits change over designed based logic comprising booleand of the truth table as a working logic and logic gate as a reference design. The design of the circuit simulation consists of tools such as Magnetic contactor, relay contacts, time delay relays, tripper and indicator lights able to provide electrically Change with over voltage 1 phase 220 volts. Electrical circuits change over give the delay time for 5 second in order of sequence.
762910378B1J010144IDENTIFIKASI AKTINOMISETES ASAL TANAH RAWA SEGARA ANAKAN CILACAP DAN KEMAMPUANNYA DALAM PRODUKSI PIGMEN PADA BERBAGAI MEDIUM PERTUMBUHANPewarna sintetis telah banyak digunakan dalam berbagai industri seperti pangan, kosmetik, farmasi, tekstil, dan kertas. Seiring dengan meningkatnya penggunaan pewarna sintetis, semakin banyak pula laporan mengenai dampak negatif yang ditimbulkan. Hal ini mendorong pencarian terhadap pewarna yang berasal dari sumber alami meningkat. Salah satu sumber alami yang berpotensi dalam memproduksi pigmen adalah mikroorganisme, termasuk aktinomisetes. Proses produksi pigmen oleh aktinomisetes dalam skala industri masih sering menemui banyak kendala. Hal ini disebabkan kemampuan aktinomisetes dalam memproduksi pigmen dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pengaruh beberapa faktor tersebut dapat diketahui pada medium pertumbuhan aktinomisetes. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui medium pertumbuhan yang sesuai untuk isolat aktinomisetes tertentu. Penelitian ini menggunakan isolat aktinomisetes yang sebelumnya telah diisolasi dari daerah Segara Anakan Cilacap, yaitu isolat K-4B dan U3-3B. Kedua isolat diuji kemampuan pigmennya dalam medium Starch Casein Nitrate, Yeast Extract Malt Extract (YEME), dan Oatmeal Broth.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui genus aktinomisetes yang berpotensi sebagai sumber pigmen alami, medium pertumbuhan yang paling baik untuk pertumbuhan dan produksi pigmen aktinomisetes, maks pigmen alami yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan tahapan peremajaan isolat, identifikasi genus aktinomisetes (meliputi pengamatan makromorfologi, mikromorfologi, dan uji biokimiawi), produksi pigmen pada tiga medium pertumbuhan, ekstraksi pigmen ekstraseluler dan intraseluler, dan karakterisasi pigmen aktinomisetes dengan metode UV-vis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua isolat mampu memproduksi pigmen intraseluler dan ekstraseluler pada ketiga medium pertumbuhan yang diuji. Medium terbaik untuk pertumbuhan dan produksi pigmen intraseluler isolat K-4B yang merupakan genus Streptomyces adalah SCN. Isolat U3-3B yang merupakan genus Actinomadura memproduksi pigmen intraseluler terbanyak pada medium YEME. Kedua aktinomisetes tersebut juga mampu memproduksi pigmen ekstraseluler terbanyak pada medium oatmeal. Pigmen merah Streptomyces memiliki karakteristik maks pada 523-525 nm, sedangkan pigmen Actinomadura maks 353-452 nm.
Synthetic dyes have been widely used in various industries such as food, cosmetics, pharmaceuticals, textiles, and paper industries. There are more reports of their negative effects as the utilization of synthetic dyes increase. This prompted an increasing in discoveries of dyes which derived from natural sources. One of the potential natural resource in pigments production are microorganisms, include actinomycetes. Pigment production process by actinomycetes on industrial scale mostly encountered many problem due to the ability of actinomycetes in producing pigment influenced by several factors, which can be found in the growth medium. Therefore, it is important to know the appropriate growth medium for certain actinomycetes isolates. This research used actinomycetes isolates that have been isolated from Segara Anakan Cilacap, those were K-4B and U3-3B. Their abilities of pigment production were tested in the Starch Casein Nitrate, Yeast Extract Malt Extract (YEME), dan Oatmeal Broth medium
The purpose of this study was to discovered the genus of actinomycetes as a potential source of natural pigments, the best growth medium for growth and pigment production from actinomycetes, max of natural pigments. This research used descriptive method and several steps such as isolates reculture, identification of actinomycetes genus (included macromorphology-micromorphology observations and biochemical tests), pigment production in three growth medium, extracellular - intracellular pigment extraction and characterization of actinomycetes pigment with UV-vis method.
The results showed that those isolates were capable to produce intracellular pigment and extracellular pigment in three growth mediums tested. The best medium for the growth and production of intracellular pigment isolate K-4B from Streptomyces genus was SCN medium. Isolate U3-3B from Actinomadura genus produced the highest intracellular pigment in YEME medium. Both actinomycetes were also capable of producing the highest extracellular pigment on oatmeal medium. Red pigment from Streptomyces had max characteristic at 523-525 nm, while the max pigment from Actinomadura were at 353-452 nm
763010379B1J010225IDENTIFIKASI AKTINOMISETES ASAL SERASAH MANGROVE SEGARA ANAKAN CILACAP DAN KEMAMPUANNYA DALAM PRODUKSI PIGMEN PADA BERBAGAI
MEDIUM PERTUMBUHAN
Aktinomisetes merupakan salah satu jenis bakteri yang unik dan memiliki karakter yang berbeda dibanding bakteri lain. Bentuk koloninya menyerupai jamur dengan miselia yang bercabang dan termasuk dalam golongan bakteri Gram positif. Aktinomisetes merupakan bakteri yang banyak dikaji potensinya, berkaitan dengan metabolit sekunder yang dihasilkan. Salah satu metabolit sekunder yang dihasilkan aktinomisetes adalah pigmen. Pigmen yang dihasilkan oleh aktinomisetes sudah terbukti berpotensi digunakan sebagai pewarna alami. Kemampuan aktinomisetes dalam menghasilkan pigmen menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan mengetahui medium yang cocok untuk mengoptimalkan produksi pigmen. Produksi pigmen ini dipengaruhi oleh pH, suhu, sumber karbon, dan sumber nitrogen yang ada pada medium pertumbuhan.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan tahapan peremajaan isolat aktinomisetes, identifikasi isolat aktinomisetes potensial (karakter makromorfologi, mikromorfologi, dan uji biokimiawi), produksi pigmen aktinomisetes pada tiga medium yaitu Starch Casein Nitrat (SCN), Yeast Extract Malt Extract (YEME), dan Oatmeal, ektraksi pigmen aktinomisetes baik intraseluler ataupun ekstraseluler, uji stabilitas pigmen dengan berbagai kondisi pH, serta karakterisasi pigmen menggunakan UV-VIS.
Isolat aktinomisetes baik K-2C maupun K-3E yang diduga memiliki potensi menghasilkan pigmen diketahui berasal dari genus Streptomyces. Kedua isolat menghasilkan pigmen intraseluller terbaik pada medium Oatmeal. Sedangkan medium terbaik untuk pigmen ekstraseluller isolat K-2C adalah medium Oatmeal. dan isolat K-3E adalah medium YEME. Ekstrak pigmen yang dihasilkan memiliki panjang gelombang antara 480-535 nm untuk isolat K-2C, dan 350-650 nm untuk isolat K-3E.
Actinomycetes are unique bacteria with different characters from other bacteria. The colony morphology has branched mycelia which is similar to fungi and included in Gram-positive bacteria. Potency of secondary metabollites of Actinomycetes was mostly studied. One of the secondary metabollites is pigment. Pigment produced by Actinomycetes is proved potentially used as natural dye. Actinomycetes capability in producing pigment becomes an interesting thing to be studied. The early step to optimize the production of Actinomycetes pigment is discovering the appropriate medium. Pigment production is influenced by pH, temperature, carbon, and nitrogen resource in growth medium.
This study used descriptive method with several steps included subculture of Actinomycetes isolates, identification of potential actinomycetes isolates (macromorphology and micromarphology characters, and biochemical test), actinomycetes pigment production in three different mediums such as Starch Casein Nitrate (SCN), Yeast Extract Malt Extract (YEME) and Oatmeal, intracellular and extracellular pigment extraction, pigment stability test in various pH conditions, and pigment characterization used UV-VIS.
Actinomycetes isolates (K-2C and K-3E) which suspected potentially produced pigment were discovered into Streptomyces genus. Those isolates produced the best intracellular pigment in Oatmeal medium, while the best medium for extracellular pigment production of K-2C isolate was Oatmeal medium and K-3E isolate was YEME medium. Pigment extract of K-2C isolate had max at 480-535 nm and K-3E isolate at 350-650 nm.
76318508P2PA11034POTENSI JAMUR PENDEGRADASI LIMBAH CAIR BATIK DI PERAIRAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT SEKITARNYA DI DESA SUDAGARAN KECAMATAN BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS
Industri batik di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Limbah cair batik yang dihasilkan mencemari perairan litoral Sungai Serayu. Pencemaran yang terjadi dapat berdampak terhadap lingkungan sosial masyarakat. Pengolahan limbah cair batik perlu dilakukan. Salah satunya yaitu dengan pemanfaatan jamur. Tujuan penelitian adalah mengetahui jamur yang berpotensi mendegradasi limbah cair batik di perairan; mengetahui kualitas fisik kimiawi perairan litoral Sungai Serayu yang terpapar limbah cair batik; mengetahui kualitas fisik kimiawi limbah cair batik di Desa Sudagaran Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas; mengetahui persepsi masyarakat tentang limbah cair batik di Desa Sudagaran Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas; menganalisis hubungan antara sifat fisik kimiawi perairan yang terpapar limbah cair batik, potensi jamur dalam mendegradasi limbah batik, dan persepsi masyarakat tentang limbah cair batik. Pengambilan sampel air untuk mengisolasi jamur dilakukan di outlet pembuangan limbah batik dan di perairan litoral Sungai Serayu dengan pengulangan tiga kali. Pengambilan sampel air Sungai Serayu dilakukan di lima stasiun dan diulang sebanyak tiga kali. Sampling persepsi masyarakat dilakukan secara random sampling, pada masyarakat di Desa Sudagaran Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jamur yang berhasil diisolasi sebanyak sembilan spesies dan dikelompokkan ke dalam enam genera seperti Mucor, Fusarium, Penicillium, Curvularia, Aspergillus, dan Cladosporium. Jamur yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen pendegradasi limbah cair batik adalah Fusarium sp. dan Penicillium sp.1. Limbah cair industri batik (parameter yang melebihi baku mutu berupa kadar BOD5, COD, dan fenol total) dan perairan litoral Sungai Serayu (parameter yang melebihi baku mutu berupa kadar BOD5, COD, krom total, fenol total, NH3, minyak dan lemak, serta H2S) telah tercemar. Persepsi buruk masyarakat tentang limbah cair batik terjadi di sekitar industri batik (68,75%) dan sekitar perairan litoral Sungai Serayu (58,06%). Secara umum, limbah cair industri batik telah tercemar dan menyebabkan perairan litoral Sungai Serayu juga tercemar, sehingga masyarakat berpersepsi buruk. Batik industry in Sudagaran Village, Banyumas District, Banyumas Regency has not yet had its own Installation of Liquid Waste Management (IPAL). Batik liquid waste has always been dumped to Serayu River, and it risks polluting the litoral zone of Serayu River. This pollution may affect the social environment in the neighborhood. Therefore, a good management of batik liquid waste is highly required. One of the techniques is by utilizing fungi. This research aims to find out which fungi which are most potential to degrade batik liquid waste; find out the physical and chemical quality of water in litoral zone of Serayu River which has been contaminated with batik liquid waste in Sudagaran Village, Banyumas District, Banyumas Regency; find out the perception of local residents towards batik liquid water in Sudagaran Village; and analyze the relationship between the physical and chemical characteristics of water which has been contaminated with batik liquid waste and the potency of fungi in degrading batik waste as well as local people’s perception towards the waste.
Water sampling to isolate fungi was done in an outlet through which batik liquid waste was dumped and in litoral zone of Serayu River, and this activity was conducted three times. Water sampling in Serayu River was done in five stations and repeated three times. For people’s perception variable, random sampling technique was conducted, and the respondents were the people who live in Sudagaran Village, Banyumas District, Banyumas Regency.
The findings of the research show that nine species of fungi have successfully been isolated and grouped into six genera such as Mucor, Fusarium, Penicillium, Curvularia, Aspergillus, and Cladosporium. Fungi that have potency to grow as an agent to degrade batik liquid waste are Fusarium sp. and Penicillium sp.1. Liquid waste from batik industry (parameters that have exceeded quality standard are the levels of BOD5, COD, and total fenol) and litoral zone in Serayu River (parameters that have exceeded the quality standard are the levels of BOD5, COD, total chrome, total fenol, NH3, oil and fat, and H2S) has been polluted. People’s negative perception towards batik liquid waste found around the industry is of 68.75% while that in litoral zone of Serayu River is of 58.06%. In short, contaminated liquid waste from batik industry that made water in litoral zone of Serayu River polluted has led topeople’s negative perception.
76328509P2FB09037ASPEK KELEMBAGAAN DAN KOMITMEN POLITIK PELAKSANAAN KELUARGA BERENCANA ERA DESENTRALISASI DI KABUPATEN TEGAL
Di tengah issu desentralisasi dan otonomi daerah, hampir semua sektor kewenangan pemerintah pusat diberikan ke pemerintah daerah, termasuk program KB (Keluarga Berencana) di Kabupaten Tegal. Masalahnya adalah bagaimanakah kelembagaan dan komitmen politik dalam pelaksanaan keluarga berencana era desentralisasi di Kabupaten Tegal. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan menjelaskan kelembagaan KB dan komitmen politik pemerintah daerah dalam pelaksanaan keluarga berencana era desentralisasi di Kabupaten Tegal. Dengan teori kelembagaan dan komitmen politik, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan berlokasi di Kabupaten Tegal, yaitu para stakeholder program KB khususnya di lingkungan BPPKB (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana) dan dinas terkait baik pemerintah maupun non pemerintah. Adapun teknik pengumpulan data yaitu: interview, observasi, dan dokumentasi, serta informan secara bergulir dengan teknik snowball dan purposive.
Hasilnya, dari aspek kelembagaan KB: Secara internal lembaga KB di tingkat Kabupaten Tegal berbentuk badan, yaitu Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB). Di tingkat kecamatan yaitu Unit Pelaksana Teknis Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (UPT PPKB), dan di tingkat desa/kelurahan disebut Institusi Masyarakat Perdesaan (IMP) yang dibina oleh seorang petugas PKB/PLKB dari kecamatan setempat. Antara BPPKB, UPT PPKB, dan IMP (melalui petugas PKB/PLKB), merupakan satu jaringan kerja yang menggerakkan program KB dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa/kelurahan. Sedangkan jaringan kerja eksternal menunjukkan adanya jaringan kerja antara BPPKB dengan organisasi lain di luar BPPKB, baik dari pemerintah maupun non pemerintah. Namun, ditemukan juga adanya tumpang tindih dalam jaringan kerja BPPKB, antara bagan organisasi dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) BPPKB. Rakorcam (rapat koordinasi keluarga berencana tingkat kecamatan) tidak setiap bulan. Rakordes (rapat koordinasi keluarga berencana tingkat desa) sudah tidak ada. TKBK (Tim Keluarga Berencana Keliling) tingkat kecamatan maupun di tingkat desa juga tidak ada lagi
Dari aspek komitmen politik terhadap program KB masih rendah. Program KB belum menjadi program prioritas pembangunan daerah. Rendahnya komitmen politik juga menghasilkan kebijakan yang tidak mendukung pelaksanaan program KB seperti: Peraturan Daerah (Perda) No 9 Tahun 2007 yang menghambat akses pelayanan KB bagi keluarga miskin, minimnya alokasi anggaran, kurangnya dukungan sumber daya manusia, peraturan daerah lainnya yang overlapping, dan kelembagaan KB yang berbaur dengan urusan lain untuk pelaksanaan dan keberlangsungan program KB.

In the midst of decentralization and regional autonomy issues, almost all sectors of the central government's authority granted to local governments, including family planning programs (family planning). Similarly, the implementation of family planning programs in Tegal regency government. Based on qualitative research method, the family planning program is not running optimally due to changes in institutional planning and lack of political commitment from the local government Tegal regency. Family planning programs have not been considered as a matter of urgency. Lack of political commitment to produce policies that do not support the implementation of family planning programs and the impact on the lack of budgetary allocations, lack of human resources support, overlapping regional regulations, and institutions that have not been independent for family planning programs.
76338510P2FB10003ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN MELALUI
PROGRAM E-KTP DI KOTA TEGAL
Upaya implementasi kebijakan administrasi kependudukan melalui Program Strategis Nasional di Bidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil perlu dilakukan studi tentang implementasi kebijakan administrasi kependudukan melalui Program Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi kebijakan administrasi kependudukan melalui program e-KTP dan kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi kebijakan administrasi kependudukan melalui program e-KTP.
Penelitian dilakukan di Kota Tegal, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari informan melalui wawancara, didukung data hasil observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode analisis interaktif, untuk mengetahui fenomena yang terjadi dari sudut pandang informan yang berbeda. Pada tahap akhir dilakukan validitas data untuk menjamin keabsahan data hasil penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan program e-KTP di Kota Tegal yang dipergunakan dalam proses pembuatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) masih kurang memadai dalam menjalankan prosedur pelayanan pembuatan e-KTP, sehingga pelaksanaan program e-KTP mengalami terkendala dalam hal sarana (peralatan) yang kadang mengalami hambatan. Kendala yang dihadapi dibagi menjadi 2 yakni kendala internal dan kendala eksternal. Kendala internal yaitu peralatan/perangkat e-KTP dan infrastruktur seperti jumlah peralatan, ruang pelayanan e-KTP dan ruang tunggu, sedangkan yang menjadi kendala eksternal yaitu karakteristik masyarakat dan alat cetak e-KTP yang masih dilakukan oleh pemerintah pusat.
Population administration policy implementation efforts through the Strategic National Programme in the Field of Population and Civil Registration needs to be done the study on implementation of population administration policies through the Electronic Identity Card Program (e-ID card). This study aims to describe and analyze the implementation of population policy administration through e-ID card program and the obstacles encountered in the implementation of population policy administration through e-ID card program.
The study was conducted in Tegal, used a descriptive qualitative method. Data obtained from informants through interviews, the data supported by observation and documentation. Analysis of the data using interactive analysis methods, to determine the phenomena from the perspective of different informan. In the final stage the validity of the data is done to ensure the validity of research data .
The results showed that the facilities and infrastructure in the implementation of e-ID card program in Tegal are used in the manufacturing process e-ID Card is still inadequate in performing service procedures creation of e-ID card, so that the implementation of e-ID programs undergo constrained in terms of facilities (equipment) is sometimes an obstacle. Constraints faced divided into two aspect internal and external constraints. Internal constraints is equipment and e-ID infrastructure such as the amount of equipment, space and services the e-ID card waiting room, while the external constraints that community characteristics and e-ID card printing equipment that is still carried by the central government.
76348511P2CD11006PENGARUH DUALITAS PERAN DAN KOMPETENSI ANGGOTA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI TERHADAP MANAJEMEN LABA DENGAN KUALITAS AUDIT SEBAGAI VARIABEL PEMODERASIManajemen laba merupakan salah satu bentuk management fraud sebagai akibat adanya asimetri informasi antara prinsipal dan agen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh dualitas peran dan kompetensi anggota dewan komisaris dan direksi terhadap manajemen laba. Manajemen laba diproksi dengan akrual diskresioner, dualitas peran dengan board interlocks, sedangkan kompetensi diproksi dengan kualifikasi gelar pendidikan yaitu gelar pasca sarjana, gelar yang diperoleh dari perguruan tinggi di Indonesia, gelar yang diperoleh dari perguruan tinggi di luar negeri dan gelar yang diperoleh dari bidang ilmu keuangan. Untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan manajemen laba penelitian ini menggunakan laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia diantara tahun 2004 sampai dengan tahun 2012, sedangkan untuk data yang berkaitan dengan dualitas peran dan kompetensi anggota dewan komisaris dan direksi menggunakan laporan tahunan tahun 2012. Pengambilan sampel yang dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling menghasilkan 83 perusahaan sebagai sampel penelitian. Model regresi berganda digunakan untuk menguji hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa variabel gelar pendidikan chief executive officer yang diperoleh dari perguruan tinggi di luar negeri secara signifikan berpengaruh pada manajemen laba dengan arah koefisien negatif dan variabel gelar pendidikan pasca sarjana chief executive officer secara signifikan berpengaruh pada manajemen laba dengan arah koefisien positif. Sedangkan variabel board interlocks, dan variabel gelar pendidikan lain yang disandang anggota dewan komisaris dan direksi terbukti tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Earnings management is a form of management fraud as a result of information asymmetry between the principal with the agent. This study aims to examine and analyze the effect of the duality role and competencies of the board of commissioners and directors members to earnings management. Earnings management is proxied by discretionary accruals, the duality role by board interlocks, while competence are proxied with degrees of qualification namely postgraduate degrees, degrees obtained from state universities in Indonesia, degrees obtained from universities abroad and degrees in financial disciplines. To obtain data related to earnings management this study uses financial statements companies listed in Indonesia Stock Exchange between 2004 to 2012, while for the data relating to the duality role and competence of commissioners and directors using the annual report in 2012. Sampling was conducted using purposive sampling method resulted in 83 companies as the study sample. Multiple regression model was used to test the relationship between the dependent and independent variables.
The results of multiple regression analysis showed that chief executive officer education degrees obtained from universities abroad significantly affect earnings management with a negative coefficient and postgraduate degrees of chief executive officer significantly affect earnings management with positive coefficient. While board interlocks and other education degrees that borne by commissioners and directors found to have no significant effect on earnings management.
76358512P2EA12023PENGURANGAN MASA PENAHANAN DALAM PUTUSAN PIDANA BERSYARAT
(Studi Putusan Pengadilan Negeri Cilacap)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pengurangan masa penahanan dalam putusan pidana bersyarat di Pengadilan Negeri Cilacap dan untuk mengetahui akibat hukum dari putusan pidana bersyarat yang tidak mencantumkan pengurangan masa penahanan;
Metode penelitian dengan metode pendekatan yuridis normatif. Tipe penelitian bersifat Preskripsi. Sumber data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer : Norma atau kaidah dasar yaitu Pembukaan UUD 1945, bahan hukum sekunder : hasil karya dari kalangan hukum, putusan Pengadilan Negeri Cilacap, bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang; Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tesk naratif yang disusun secara sistematis. Bahan Hukum dianalisa secara normatif kualitatif,
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap pokok permasalahan yang diajukan dalam tesis ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Penerapan pengurangan masa penahanan dalam putusan pidana bersyarat di Pengadilan Negeri Cilacap terdapat perbedaan pandangan, pandangan yang satu berpendapat bahwa dalam putusan pidana bersyarat, masa penahanan tidak perlu dikurangkan dari pidana yang dijatuhkan, sedangkan pandangan yang lain berpendapat bahwa masa penahanan harus dikurangkan dari pidana yang dijatuhkan.
Akibat hukum dari putusan pidana bersyarat yang tidak mencantumkan pengurangan masa penahanan, yaitu bahwa putusan tersebut tidak sah dan dapat dibatalkan. Karena ketentuan tentang pengurangan masa penangkapan dan atau penahanan yang diatur dalam Pasal 22 ayat (4) KUHAP adalah ketentuan yang bersifat imperatif.
This study aims to determine the application of the reduction of the period of detention in the criminal decision conditional on the Cilacap District Court and to determine the legal consequences and criminal decisions that do not include reductions conditional period of detention.
Research methods with normative juridical approach. This type of research is Prescription. Secondary data sources consisting of primary legal materials: Norm or basic principles that 1945 opening, secondary law: the work of the law, Cilacap District Court, legal materialis tertiary or material support law. Watchfulness result is presented in the form of tesk barrative that composed systematically. law ingredient is analyzed according to normatif qualitative,
Based on the research and discussion of the subject matter presented in this thesis, it can be concluded as follows:
Restraint time reduction applications in conditional criminal decision at District Court Cilacap found opinion difference, opinion one have a notion that in conditional criminal decision, unnecessary restraint time tapered down. from criminal that is dropped, while other opinion have a notion that restraint time must tapered down. from criminal that is dropped.
Legal consequences from conditional criminal decision doesn't pin up restraint time reduction, that is that decision not valid and annihilable. Because rule about catching time reduction and or restraint that regulated in section 22 verse (4) KUHAP rule has imperative.
76368513B1J009179KEANEKARAGAMAN DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI PAKAN TERNAK DI KECAMATAN BATURRADENPenelitian yang berjudul “Keanekaragaman dan Pemanfaatan Tumbuhan yang Digunakan sebagai Pakan Ternak di Kecamatan Baturraden”, telah dilakukan dari bulan Desember 2013 - Januari 2014. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan pakan ternak dan mengetahui bagian-bagian tumbuhan yang digunakan sebagai pakan ternak di Kecamatan Baturraden. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survai dengan teknik pengambilan sampel secara acak terpilih. Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Baturraden yang diwakili 8 desa, setiap desa dipilih 10 responden. Hasil penelitian diperoleh 29 spesies dari 13 familia. Bagian tumbuhan yang dimakan oleh hewan ternak adalah daun, batang muda, bunga, buah dan kulit buah. Pemanfaatan tumbuhan di Kecamatan Baturraden yaitu sebagai pakan ternak dan obat. Masyarakat memperoleh tumbuhan untuk pakan ternak dengan cara menanam dan mengambil tumbuhan yang tumbuh secara liar serta membeli pakan tambahan berupa dedak padi di pasar.A study entitled the “Diversity and Utilization of Plants Used as Fodder in Baturraden”, had been conducted from December 2013 until January 2014. The purpose of this were to know the diversity of plants used as fodder and to know the parts of plant which used was fodder in Baturraden. The method which used was survey with sampling ramdomly. It was done in Baturraden and was represented by 8 villages with 10 respondents for every village. The results were 29 species from 13 familia. Parts of the plant which were eaten by cattle were leaves, the young stem, flower, fruit and its rind. The benefit of using plants in Baturraden were animal feed and drugs. People obtained plants for fodder by planting and taking plants that grow wild and buying additional food in the form of rice bran at the market.
76378514A1M010049Pengaruh pH dan Suhu pada Pemanasan Nira Kelapa Terhadap Intensitas Browning serta Korelasinya dengan Aktivitas AntioksidanNira kelapa mengandung gula reduksi dan asam amino yang merupakan substrat reaksi Maillard. Reaksi tersebut terjadi selama pemanasan nira kelapa menjadi gula kelapa yang merupakan salah satu penyebab warna coklat pada gula kelapa. Selain menghasilkan pigmen berwarna coklat, produk-produk reaksi Maillard juga memiliki aktivitas antioksidan seperti yang ditemukan pada madu, kopi, kecap, bir, dan sistem model Maillard. Akan tetapi, informasi mengenai keterkaitan antara intensitas browning dengan aktivitas antioksidan gula kelapa masih terbatas. Secara teori reaksi Maillard sangat dipengaruhi oleh pH dan suhu. Oleh karena itu, pH awal nira kelapa dan suhu akhir pemanasan menjadi faktor yang diteliti dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan intensitas browning dan aktivitas antioksidan meningkat seiring dengan peningkatan pH awal nira kelapa maupun suhu akhir pemanasan. Selain itu, terdapat korelasi yang sangat signifikan antara intensitas browning dengan aktivitas antioksidan hasil pemanasan nira kelapa yang ditunjukkan dengan persamaan Y=21,69+42,82X (r=0,94).Coconut neera contains reducing sugars and amino acids, which are substrates of Maillard reaction. The reaction occurs during heating of coconut neera to produce coconut sugar, which is one of brown color causes on coconut sugar. Furthermore, Maillard Reaction Products (MRPs) also have antioxidant activities such as found in honey, coffee, soy sauce, beer, and Maillard model systems. However, currently informations about the relationship between browning intensity and antioxidant activity on coconut sugar still limited. In theory, Maillard reaction is strongly influenced by pH and temperature. Therefore, initial pH of coconut neera and final temperature of its heating become factors that examined in this study. Result of the research showed that browning intensity and antioxidant activity of heated coconut neera’s products increased with the increase in initial pH of coconut neera and final temperature of its heating. The result also showed that there is significant correlation between browning intensity and antioxidant activity. This correlation was shown by the equation of Y=21.69+42.82X (r=0.94).
763810380H1K010054SUMBER SEDIMEN BERDASARKAN KANDUNGAN MINERAL DI SELAT MAKASSAR
Selat Makassar merupakan perairan yang berada diantara dua pulau besar dengan perbedaan khas faktor fisika, biologi, dan geologi. Selain itu, perairan ini dialiri oleh Arlindo yang membawa aliran air dari Samudera Pasifik, sehingga akan menyebarkan sedimen dan diduga sebagian akan terendapkan di Selat Makassar. Proses tektonik diduga juga mempengaruhi karakteristik sedimen di selat tersebut. Oleh sebab itu, diketahui sedimen di Selat Makassar berasal dari berbagai sumber. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui sumber sedimen dominan dan faktor penyebab dominansi sumber sedimen tersebut di Selat Makassar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober 2014 di Laboratorium Geologi Laut P2O-LIPI. Metode pengambilan sampel secara coring pada 20 stasiun yang ditentukan secara acak. Data dianalisis secara deskriptif dengan penentuan jenis sedimen mengacu pada skala Wentworth, dan penamaan sedimen didasarkan pada klasifikasi Shepard serta komposisi sedimen dihitung menggunakan skema estimasi. Hasil penelitian menunjukkan sedimen di Selat Makassar secara umum berasal dari laut. Hal tersebut didasarkan pada persentase komposisi sedimen tertinggi adalah bahan organik laut seperti foraminifera dan radiolaria. Selain itu, jenis mineral dominan yang ditemukan adalah kuarsa, dimana kuarsa merupakan mineral umum yang terbentuk dari pembekuan lava. Sedimen laut ini juga disebarkan oleh arus pada saat angin muson timur. Makassar Strait waters was located between two large islands which have specific differences in physical, biological, and geological factor. Moreover, these waters drained by water mass from the Pacific Ocean called Indonesian Throughflow (ITF, Arlindo), it would be spreaded and be partially deposited the sediment in the Makassar Strait. Tectonic processes occurance also affected sediment characteristic in it strait. Therefore, it was known in the Makassar Strait sediments originated from various sources. This study was carried out to determine the dominant sediment source and causing factors the sediment source dominance in the Makassar Strait. The research was conducted in August – October 2014 in Marine Geology P2O-LIPI Laboratory. The random sampling method was used, performed with core tools at 20 selected sites. Data were analyzed by descriptions which refers to the Wentworth scale determination, sediment naming was based on Shepard classification and sediment composition was calculated with the estimation scheme. The results showed the sediment in the Makassar Strait was generally originated from marine. It was based on the highest sediment composition percentage was marine organic material such as foraminifera and radiolarians. Additionally, the mineral dominant type to be found was quartz, which was a common mineral formed from the freezing lava. Marine sediments was also spreaded by east monsoon currents.
763911250C1A011031ANALISIS PENGARUH THIRD PARTY FUND, CAPITAL ADEQUACY RATIO, NON PERFORMING LOAN DAN RETURN ON ASSETS TERHADAP LOAN TO DEPOSIT RATIO PERIODE 2003 – 2013 (STUDI KASUS PADA 10 BANK UMUM TERBESAR DI INDONESIA)Penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Third Party Fund, Capital Adequacy Ratio, Non Performing Loan dan Return On Assetsterhadap Loan to Deposit Ratio Periode 2003 – 2013 (Studi Kasus Pada 10 Bank Umum Terbesar Di Indonesia)”.Loan to deposit ratio adalah ratio yang menunjukan likuiditas bank dan tingkat kesehatan bank. LDR perbankan di Indonesia dari tahun 2003 sampai dengan 2013 masih dibawah harapan Bank Indonesia dan krisis keuangan global pada tahun 2008 pun menyebabkan LDR perbankan di Indonesia menurun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor - faktor yang mempengaruhi LDR yaitu third party fund, capital adequacy ratio, non performing loan danreturn on assetsserta untuk mengetahui variabel manakah yang paling berpengaruhu terhadap LDR.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Penelitian ini menggunakan 10 bank umum dengan total aset terbesar pada tahun 2013. Periode waktu yang digunakan yaitu dari tahun 2003 sampai dengan 2013.
Dari hasil analisis menggunakan analisis regresi linier berganda, third party fund berpengaruh positif sebesar 0,18 dan signifikan terhadap loan to deposit ratio. Capital adequacy ratioberpengaruh negatif sebesar -0,191. Non performing loan berpengaruh negatif sebesar -0,024 dan signifikan terhadap loan to deposit ratio. Sedangkan return on assets berpengaruh positif sebesar 0,018 namun tidak signifikan terhadap loan to deposit ratio.
Loan to deposit ratio merupakan indikator penting untuk mengatahui likuiditas dan tingkat kesehatan bank. Oleh karna itu, pihak Bank Indonesia dan perbankan di Indonesia harus berupaya meningkatkan LDR agar optimal. Pertumbuhan third party fund dan return on assets serta penurunan capital adequacy ratio dan non performing loan sangat diperlukan dalam memaksimalkan LDR.

Kata kunci :loan to deposit ratio, third party fund, capital adequacy ratio, non performing loan, return on assets
This research, entitled "Analysis of Effect of Third Party Fund, Capital Adequacy Ratio, Non-Performing Loans and Return on Assets against Loan to Deposit Ratio Period 2003 - 2013 (Case Study 10 Largest Commercial Bank Indonesia)". Loan to deposit ratio is a ratio which indicates the liquidity of banks and soundness of banks. LDR in Indonesia from 2003 to 2013 was still below the expectations of Bank Indonesia and the global financial crisis in 2008 also caused LDR in Indonesia decreased. The purpose of this study to analyze factors - factors that affect the LDR are third party funds, capital adequacy ratio, non-performing loans and the return on assets well as to determine which variables are most affect on LDR.
The analysis technique used in this research is multiple linear regression. This research used 10 commercial banks with the largest assets in 2013. The time period from 2003 to 2013.
From result of analysis using multiple linear regression analysis, third party fund has positive 0,180 and significant effect for loan to deposit ratio. Capital adequacy ratio has negative -0,191 and non-performing loans has negative -0,024 and significant effect for loan to deposit ratio. Return on assets has positive effect 0,018 but not significant for loan to deposit ratio
Loan to deposit ratio is an important indicator to know the liquidity and soundness of banks. Bank of Indonesia and commercial bank in Indonesia should be improve the LDR to be optimal. The growth of third party funds and return on assets must be increase and capital adequacy ratio and non-performing loans must be decrease to maximize the LDR.
Keywords : loan to deposit ratio, third party fund, capital adequacy ratio, non performing loan, return on assets
764011351E1A009120PERAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DALAM PENGANGKATAN DUTA BESAR (BERDASARKAN UNDANG – UNDANG DASAR 1945 HASIL AMANDEMEN)Adanya perubahan struktur sistem kelembagaan negara dengan di amandemennya Undang Undang Dasar 1945 serta perubahan dinamika perpolitikan lebih demokratis, maka pengamatan terhadap Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga perwakilan dan sebagai lembaga politik sangatlah penting. Kenyataan yang berkembang menunjukan adanya fenomena baru terhadap peran lembaga perwakilan tersebut. Dalam hal pengangkatan duta besar yang pada masa sebelum amandemen murni hak prerogatif Presiden kini telah berubah dengan munculnya ayat baru dalam ketentuan Pasal 13. Dewan Perwakilan Rakyat kini memiliki kewenangan dalam hal memberikan pertimbangan terkait calon duta besar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Dewan Perwakilan Rakyat dalam pengangkatan Duta Besar pasca amandemen Undang Undang Dasar 1945 serta menjelaskan mekanisme pengangkatan Duta Besar Republik Indonesia. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan berupa data sekunder dan data primer sebagai pendukung. Metode penyajian data dalam penyusunan penelitian ini disajikan dalam bentuk uraian yang disusun secara sistematis, dan analisis data dilakukan secara normatif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan peran Dewan Perwakilan Rakyat dalam pengangkatan Duta Besar menurut Undang-Undang 1945 hasil Amandemen terlihat dalam fungsi pengawasan berupa pemberian pertimbangan kepada Presiden dan Mekanisme pengangkatan Duta Besar Republik Indonesia tertulis dalam Pasal 203 Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib.

Kata Kunci: Peran DPR, Presiden, Pengangkatan Duta Besar, Pertimbangan.

The change in the structure of the institutional system of the country due to the amendment of the 1945 constitution and the change in the dynamics of politics which become more democratic make the observation about the House of Representatives as a representative institution and as a political institution is considered very important. The fact that developed showed the presence of a new phenomenon to the role of the representative bodies. The appointment of ambassadors, which in the period before the amendments is purely the prerogative of the President, has changed with the advent of a new paragraph in the 13th article. Now, The House of Representatives has authority in terms of giving consideration on prospective ambassador.
The purpose of this research is to find out the role of The House of Representatives in the appointment of ambassador based on the 1945 constitution amendment and to explain the mechanism of appointment of the Ambassador of Indonesia. The approach used in this research is normative juridical with descriptive research specification. This research presented in the form of description systematically arranged and the data analysis is done qualitatively normative.
Results from this research indicate that role of The House of Representatives in the appointment of ambassador based on the 1945 constitution amendment which is visible in the oversight function in form of giving consideration to the President and the mechanism of appointment of the Ambassador of the Republic of Indonesia written in Article 203 of Council Regulation Representatives of the Republic of Indonesia Number 1 Year 2014 about rules.

Keyword : role of The House of Representatives, the President, appointment of ambassador, consideration