Artikelilmiahs

Menampilkan 7.701-7.720 dari 48.893 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
77018554F1F008001Hugo Cabret’s Struggle to Survive as a Child in Brian Selznick’s The Invention of Hugo CabretPenelitian berjudul “Hugo Cabret’s Struggle to Survive as a Child in Brian Selznick’s The Invention of Hugo Cabret.” menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan metode kualitatif untuk menemukan perjuangan seorang anak bernama Hugo Cabret untuk bertahan hidup tanpa orang tua/pengasuhnya yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan fokus terhadap kebutuhan serta hak anak-anak, penelitian ini menemukan bahwa Hugo tidak mendapatkan hak-haknya dari pengasuhnya, Claude Cabret. Hal tersebut dibuktikan dengan gagalnya Claude Cabret dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup Hugo seperti kebutuhan dasar untuk hidup, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang dan kebutuhan untuk belajar. Kondisi tersebut membuat Hugo harus memulung makanan sisa, mencuri roti dan susu, mengambil pakaian dari tempat penitipan dan tinggal di stasiun kereta api untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Untuk melindungi dirinya supaya tidak tertangkap karena selama ini ia hidup sebagai gelandangan di stasiun kereta api, Hugo harus berusaha supaya tidak terlihat dari Madame Emile, Monsieur Frick dan Inspektur Stasiun. Selai itu, Hugo berteman dengan Isabelle dan Etienne untuk memenuhi kebutuhannya akan kasih sayang, cinta dan kebersamaan sehingga ia tidak merasakan kesepian. Terakhir, Hugo juga belajar tentang trik-trik sulap dan horology secara otodidak untuk memenuhi kebutuhannya akan belajar.
The research entitled “Hugo Cabret’s Struggle to Survive as a Child in Brian Selznick’s The Invention of Hugo Cabret.” employs psychology of literature approach along with qualitative method to find out the struggle of a child named Hugo Cabret to survive without his parent/caretaker fulfilling his needs. By focusing on the needs and rights of children, the findings show that Hugo does not get his rights fulfilled by his caretaker, Claude Cabret. It is proven by the failure of Claude Cabret to fulfill Hugo’s daily needs as a child such as basic needs, the need of safety, the need of affection and the need of study. This condition leads Hugo to scavenge some leftovers, stealing bread and milk, picking clothes from the lost and found counter and living at a railway station to fulfill his basic need. To protect himself from being caught as he lives alone at the railway station, Hugo has to remain invisible from Madame Emile, Monsieur Frick and the Station Inspector. Meanwhile, Hugo befriends with Isabelle and Etienne to fulfill his emotional need for affection, love and togetherness thus he does not feel lonely anymore. Lastly, Hugo learns about magic tricks and horology autodidactic to fulfill his need of study.
77028558D1E010009EVALUASI PENGGUNAAN LEVEL LARUTAN PERASAN JERUK NIPIS TERHADAP DAYA IKAT AIR, SUSUT MASAK DAN KEEMPUKAN KARKAS BAGIAN DADA AYAM PETELUR AFKIRPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan level larutan perasan jeruk nipis terhadap daya ikat air, susut masak dan keempukan karkas bagian dada ayam petelur afkir. Pengambilan data dilaksanakan mulai tanggal 3 Maret 2014 sampai 10 Maret 2014 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan terdiri dari bahan yaitu karkas bagian dada ayam petelur afkir, aquades, air perasan jeruk nipis dan peralatan yang digunakan yaitu panci, pisau, saringan, talenan, nampan, gelas ukur, tali, kertas milimeterblok, kertas Whatman 41, plat kaca, beban 35 kg, plastik transparan, timbangan, kantong plastik, waterbath dan penetrometer. Metode penelitian secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan (K0, K1, K2 dan K3) dan ulangan sebanyak 5 kali. Data yang diperoleh ditabulasikan dan dianalisis dengan analisis variansi dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur dan uji orthogonal polinomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian level perasan jeruk nipis sampai 15 % berpengaruh nyata (P<0,05) meningkatkan daya ikat air dan pemberian level perasan jeruk nipis sampai 15 % berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap keempukan dan susut masak karkas bagian dada ayam petelur afkir. Kesimpulan dari penelitian ini membuktikan bahwa perendaman karkas bagian dada ayam petelur afkir menggunakan konsentrasi perasan jeruk nipis sampai 15 % meningkatkan daya ikat air sedangkan keempukan dan susut masak karkas bagian dada ayam petelur afkir relatif sama.The purpose of this research was to the evaluation of the usage of calamondin distillation solution on the water cohesion, cooking loss and tenderness of carcass in the rejected chest of laying pullet. The experiment was carried out on from 3 to 10 march 2014 in the Laboratory of Animal Product Technology in the Jenderal Soedirman University Purwokerto. The materials that were used in this research consisted of carcass of the rejected chest of laying pullet, aquadest, distillation water of calamondin and the tools that were used were pan, knife, filter, chopping block, tray, measurementglass, rope, millimeter block, Whatman 41 paper, mirror plat, balance of 35 kg capacity, transparence plastic, weight, plastic pack, waterbath and penetrometer. The method of research was experimental by using Randomized Complete Block Design (RCBD) with 4 treatment (K0, K1, K2 and K3) and 5 repetitions. The data that were obtained were analyzed with the variance analysis and continued with HSD test and orthogonal polynominal. The result of research showed that giving of the distillation level of callamondin until 15 % had the significant influence (P<0,05) on the increases in water cohesion power and giving of distillation level of calamondin until 15 % did not give the significant influence (P>0,05) on the tenderness and cooking loss of carcass in the rejected chest part of the laying pullet. The conclusion from this research is the carcass bath in the rejected chest of the laying pullet by using the concentration of the calamondin distillation until 15% increase the water cohesion power and the tenderness and cooking loss of carcass in the rejected chest of the laying pullet is relatively similar.
77038552B1J009027RESPON NEMATODA TERHADAP PERBEDAAN PROPORSI MATERI ORGANIK TERDEKOMPOSISIKomposisi komunitas nematoda mampu mencerminkan proses ekologi yang terjadi dalam habitat. Analisis respon komunitas nematoda terhadap perbedaan C:N rasio mampu mengindikasikan jalur dekomposisi dan status hara tanah. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh perbedaan proporsi materi organik terdekomposisi terhadap kelimpahan dan komposisi komunitas nematoda. Penelitian dilakukan secara eksperimental, menggunakan metode Baermann Funnel untuk ekstraksi nematoda agar diketahui famili dan jumlah nematoda. Hasil penelitian dianalisis dengan analisis ragam (Anova) dua arah. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan proporsi materi organik berupa C:N serasah berpengaruh terhadap perubahan kelimpahan (p<0.01) dan komposisi komunitas nematoda, serta mempengaruhi struktur jaring-jaring dekomposisi oleh bakteri dan fungi. Perlakuan dengan proporsi 50:50 dari C:N <20 dan >20 media paling baik untuk komunitas nematoda dalam penelitian ini.The composition of nematodes reflects the ecological processes of a habitat. Response of nematode community to C:N ratio differences of organic matter indicates the decomposition channel and nutrient status of the soil. The aims of this study were to determine how C:N of decomposed plant litter with varying proportion affected the abundance of nematodes. The experimental method was used in this research. Family and abundance of nematode were recorded after extracting nematode by Baermann Funnel method. The results were analyzed by two-way. The results showed that different proportion of litter C:N affected the changes of abundance (p < 0.01) and composition of the nematode communities. Treatment with the 50:50 proportion of C:N < 20 and > 20 showed as the most stable medium in this research
77048553G1F010019Evaluasi Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Kabuaten CiamisPemerintah telah menetapkan peraturan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di apotek yaitu Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui skor pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek Kabupaten Ciamis sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan terhadap responden apoteker dan tenaga teknis kefarmasian dengan jumlah sampel sebanyak 47 apotek. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 4 aspek sesuai dengan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, yaitu demografi apotek, aspek pengelolaan sumber daya, pelayanan dan evaluasi mutu pelayanan. Hasil dikategorikan baik apabila persentase skor total 81-100%, cukup apabila persentase skor total 61-80%, dan kurang apabila persentase skor total 20-60%.
Standar pelayanan kefarmasian di apotek telah diterapkan di apotek Kabupaten Ciamis, yaitu dengan skor 78,54% (kategori cukup) untuk aspek pengelolaan sumber daya, skor 66,83% (kategori cukup) untuk aspek pelayanan dan skor 60,46% (kategori kurang) untuk aspek evaluasi mutu pelayanan, serta hanya 4% apoteker yang hadir setiap hari selama jam buka apotek. Secara keseluruhan total skor untuk semua aspek standar pelayanan kefarmasian di apotek Kabupaten Ciamis dapat dikategorikan cukup dengan skor 70,33%.
The government has been set a rule to improve the quality of pharmaceutical services such as Kepmenkes RI No. 1027/MENKES/SK/IX/2004 about pharmaceutical service standard in pharmacy. The aim of this study is to know score the implementation of pharmaceutical service standard in pharmacies at Ciamis Regency in accordance with the Kepmenkes No. 1027/MENKES/SK/IX/2004 about pharmaceutical service standard in Pharmacy.
The method of this research is descriptive with cross-sectional approach. Research conducted on the pharmacists and pharmacist assistans respondens in 15 districts of Ciamis Regency with the number of samples are 47 pharmacies. The data collected by a questionnaire that consists of 4 aspects appropriate with the Pharmaceutical Service Standard in pharmacy, those are pharmacy demographics, aspects of resource management, service and evaluation of service quality. Results are categorized in good if the total percentage score is 81-100 %, enough if the total percentage score is 61-80 %, and less if the percentage of the total score is 20-60 %.
Pharmaceutical service standar in pharmacy has been applied in Ciamis Regency, and the score is 78.54% (enough category) for resource management, 66.83 % score (enough category) for service and 60.46% score (less category) for the evaluation of service quality. Percentage of attendance of pharmacists is 65,2% (enough category). Overall total score for all aspects of pharmaceutical service standard in Ciamis Regency pharmacies can be categorized in enough category by a score of 70.33%.

77058555E1A009171KEWAJIBAN BERBUSANA ISLAMI BAGI UMAT ISLAM PADA PASAL 13 AYAT 1 QANUN NOMOR 11 TAHUN 2002 PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM MENURUT PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIAPersoalan hak asasi manusia memang selalu menarik ketika bersinggungan dengan ketentuan dalam Syariah Islam. Di satu sisi, hak asasi manusia mempunyai karakter masif akan perlindungan hak-hak individu, disisi yang lain ketentuan Syariah Islam berkarakter membebankan kewajiban yang bersifat dogmatis kepada individu. Contoh nyata pemebebanan kewajiban yang bersifat dogmatis adalah ketentuan pasal 13 ayat 1 Qanun Nomor 11 Tahun 2002 yang membebankan kewajiban berbusana Islami bagi umat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam. Persinggungan terjadi karena Nanggroe Aceh Darussalam memberlakukan Syariah Islam, sedangkan konstitusi dan serangkaian aturan hukum HAM yang berlaku di Indonesia telah memuat jaminan hukum akan hak asasi manusia. Termasuk hak atas kebebasan beragama. Adanya ketentuan pasal 13 ayat 1 Qanun Nomor 11 Tahun 2002 ini menjadi amatan Human Rights Watch. Amatan tersebut menghasilkan sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 2010 berjudul Policing Morality Abuses in the Application of Sharia in Aceh, Indonesia setebal 99 halaman tentang khalwat / seclusion dan Islamic dress requirement atau kewajiban berbusana Islami. Human Rights Watch merekomendasikan untuk mencabut atau mengubah pasal 13 ayat 1 yang dirasa oleh Human Rights Watch menciderai hak asasi seorang manusia dalam lapangan hak pribadi atau personal rights. Berangkat dari hal tersebut, tulisan ini menelaah lebih lanjut dan lebih dalam bagaimana kewajiban berbusana Islami bagi umat Islam pada Pasal 13 ayat 1 Qanun Nomor 11 Tahun 2002 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam jika ditinjau menurut perspektif hak asasi manusia. Penelitian ini menyatakan bahwa kewajiban berbusana Islami bagi umat Islam pada Pasal 13 ayat 1 Qanun Nomor 11 Tahun 2002 Provinsi NAD adalah merupakan suatu pembatasan atau restriksi terhadap hak atas kebebasan beragama. Pembatasan atau restriksi ini pula tidak sesuai dengan tujuan pembatasan kebebasan beragama yang diperbolehkan oleh ketentuan hukum HAM yang berlaku di Indonesia. Sehingga ketentuan Pasal 13 ayat 1 Qanun Nomor 11 Tahun 2002 ini melanggar hak asasi manusia terutama dalam hak kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusi dan hukum HAM yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini menyarankan dilakukannya revisi terhadap ketentuan Pasal 13 ayat 1 Qanun Nomor 11 Tahun 2002 ini, dan kepada pemerintah NAD untuk mengedepankan upaya persuasi dan edukasi yang bebas dari paksaan, jika berkehendak untuk membudayakan busana Islami bagi warganya yang beragama Islam.
Human rights issues are always interesting when it intersect with the provisions of the Islamic Sharia. On the one hand, human rights have a massive character of protection of individual rights. On the other hand, provisions of Islamic Sharia imposes a dogmatic characterized duties to individuals. A concrete example of dogmatic obligation is the provision of Article 13 paragraph 1 Qanun 11/2002, which imposes an obligation of Islamic dress for Moslems in Nanggroe Aceh Darussalam. Contrariety occurs because the Nanggroe Aceh Darussalam enforces Sharia law, while the constitution and the set of rules of human rights law in Indonesia have been includes a legal guarantee of human rights. Including the right to freedom of religion.The provisions of Article 13 paragraph 1 Qanun 11/2002 was became Human Rights Watch observations. The observation resulted in a report published in 2010 entitled “Policing Morality Abuses in the Application of Sharia in Aceh, Indonesia” as thick as 99 pages dealing about seclusion and Islamic dress requirements. Human Rights Watch recommends to repeal or amend Article 13 paragraph 1 who considered by the Human Rights Watch violate a human rights in the field of personal rights. Departing from that, this paper examines further and deeper into how the obligation of Islamic dress for Moslems in Article 13, paragraph 1 Qanun 11/2002 NAD if it viewed from the human right’s perspective. This research stated that the obligation of Islamic dress requirement for Moslems in Article 13 paragraph 1 Qanun 11/2002 NAD is a limitation or restriction of the right to freedom of religion. The limitation or restriction itself is also not in accordance with the purpose of limitation religious freedom allowed by the applicable provisions of human rights law in Indonesia. So, that provisions of Article 13 paragraph 1 Qanun 11/2002 violates human rights, especially in the right of religious freedom guaranteed by the constitution and human rights laws applicable in Indonesia. This study suggests a revisions to the provision of Article 13 paragraph 1 Qanun 11/2002, and the NAD government to prioritize the efforts of persuasion and education that is free of coercion, if they desires to cultivate Islamic dress for Moslem citizens.
77068556C1C010004FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGUNGKAPAN TANGGUNG
JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (TJS) PADA LAPORAN TAHUNAN
PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA TAHUN 2012
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGUNGKAPAN TANGGUNG
JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (TJS) PADA LAPORAN TAHUNAN
PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA TAHUN 2012
THE INFLUENCING FACTORS OF
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DISCLOSURE ON
MANUFACTURING COMPANY ANNUAL REPORT LISTED AT THE STOCK EXCHANGE
INDONESIA IN 2012
77078557H1G009044HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN FEKUNDITAS IKAN LUNJAR
(Rasbora argyrotaenia) DI SUNGAI LOGAWA, KABUPATEN
BANYUMAS

Lenght-weight and Fecundity Relationship of Silver rasbora (Rasbora argyrotaennia) in Logawa River, Banyumas
RINGKASAN

Penelitian ini berjudul “Hubungan Panjang Berat dan Fekunditas Ikan Lunjar (Rasbora argyrotaennia) di Sungai Logawa, Kabupaten Banyumas”. Tujuan Penelitian, untuk mengetahui perbedaan fekunditas, hubungan panjang berat ikan Lunjar, serta kondisi lingkungan di hulu dan hilir sungai Logawa. Metode survey diterapkan dengan teknik pengambilan sampel purposive random sampling di 3 titik dengan jarak 250 m/titik di hulu dan hilir sungai Logawa selama 1 bulan. Data fekunditas dianalisis menggunakan One Way ANOVA, Hubungan panjang berat dan fekunditas dengan regresi, dan kondisi lingkungan secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Lunjar yang tertangkap di hulu dan hilir sungai Logawa sebanyak 160 ekor. Nilai rerata fekunditas ikan Lunjar di hulu dan hilir sungai Logawa adalah 406,35±125,23 dan 515±225,09. Hasil analisis fekunditas dengan one way ANOVA adalah 0,36 atau P>0,05 (tidak berbeda nyata). Hubungan panjang dengan berat diekspresikan dengan nilai b di hulu dan hilir sebesar 2,13 dan 0,78. Faktor lingkungan mempengaruhi ukuran tubuh ikan Lunjar. Hal ini ditunjukkan oleh adanya nilai faktor kondisi ikan Lunjar di hulu dan hilir sungai Logawa masing-masing adalah 1,86 dan 2,11.
SUMMARY

The title of this research is "Lenght-weight and Fecundity Relationship of Silver rasbora (Rasbora argyrotaennia) in Logawa River, Banyumas”. The purpose of this research were to determine fecundity, length-weight and fecundity relationship of Silver rasbora, andenvironmental conditions in the upstream and downstream of Logawa river. The sampling method used in this study was purposive random sampling at 3 stations with a distance of 250 m/point in the upstream and downstream of Logawa River. Fecundity data were analyzed using one way ANOVA. Length-weight and fecundity length relationship were analyzed using regression, and environmental conditions was analyzed descriptively.
The results showed that the total number of Silver rasbora caught in the river upstream and downstream Logawa was 160. Average value of fish fecundity of Silver rasbora in upstream and downstream Logawa were 406.35±125.23 and 515±225.09. The result of one way ANOVA of fecundity 0.36 (p>0.05) was not significant. Length-weight relationshipwhich are expressed by b values in the upstream and downstream of Logawa river were 2.13 and 0.78. The condition factor score in upstream and downstream were 1.86 and 2.11, respectively according to condition factor score in upstream and downstream, it is concluded that size and fecundity of Silver rasbora(Rasbora argyrotaenia) is not influenced by the environmental conditions of the Logawa river.
770810386H1A009009Elektrolisis Amonia dengan Elektroda PbO2/PbSalah satu polutan yang menyebabkan pencemaran lingkungan adalah amonia. Metode elektrolisis dipilih untuk menurunkan konsentrasi amonia dengan memanfaatkan elektroda PbO2/Pb dan analisis kadar amonia menggunakan metode indofenol. Potensial eksternal dalam penelitian ini menggunakan adaptor dengan voltase 4 volt dan variasi pH 10, 12, 14, variasi konsentrasi 500, 700 dan 1000 ppm, pengaturan waktu elektrolisis selama 105 menit dengan selang waktu 15 menit. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pH, konsentrasi awal amonia, dan waktu elektrolisis mempengaruhi jumlah amonia yang teroksidasi. Persentase penurunan kadar amonia dapat mencapai hingga 100% pada pH 14, dengan konsentrasi awal amonia 500 ppm dan waktu elektrolisis selama 105 menit.
One of the pollutans that cause environmental is ammonia. Method electrolysis is chosen to lower the consertation of ammonia by using electrodes PbO2/Pb and ammonia levels analysis method using indophenols. External potential in this research using adapter of voltage with 4 volt and variation of pH 10, 12, 14, variations in the concentration of 500, 700 and 100 ppm, the timing of electrolysis for 105 minutes with an interval of 15 minutes. Based on the results of research can be concluded that pH, concentration early ammonia, and the time electrolysis affecting the amount of ammonia being oxidized. Decreases levels of ammonia can reach to 100% at pH 14, early by concentration of the ammonia 500 ppm and time electrolysis during 105 minutes.

77093810B1J008126KAJIAN TOKSISITAS DARI TUBUH BUAH Ganoderma lucidum DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BST)Ganoderma lucidum merupakan jamur poliporus dari kelas Basidiomycetes yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Efek toksik dari G. lucidum diuji dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST) menggunakan larva Artemia salina. Suatu ekstrak bersifat toksik terhadap A. salina apabila mempunyai harga LC50-nya kurang dari 1000 µg/ml. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas tubuh buah G. lucidum menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST) dan menentukan konsentrasi ekstrak tubuh buah G. lucidum yang memiliki efek toksisitas terbaik pada LC50. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu metode ekstraksi bertingkat dan bertahap dengan larutan heksana, etil asetat, dan etanol. Masing-masing larutan dibuat dalam 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, 125 ppm dan diulang sebanyak 3 kali. Penelitian ini menggunakan ekstrak G. lucidum yang diujikan pada A. salina dan uji senyawa metabolit sekunder dari ekstrak G. lucidum yang paling toksik dilakukan dengan analisis fitokimia. Hasil yang didapatkan yaitu ekstrak tubuh buah G.lucidum mampu mematikan larva A.salina karena pada masing-masing metode ekstraksi positif mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid dan terpenoid, namun negatif mengandung flavonoid. LC50 ekstrak tubuh buah G.lucidum yang terkecil adalah ekstrak etil asetat dengan metode bertahap yaitu pada konsentrasi 53,70 ppm dan LC50 tertinggi adalah ekstrak etanol metode bertingkat yaitu pada konsentrasi 501,18 ppm.Ganoderma lucidum is polyporus fungi from Basidiomycetes classis which can be used as traditional medicines. Toxicity test with Brine Shrimp Lethality Test (BST) method use Artemia salina to find out toxic effect from G.lucidum fruiting body. An extract will have toxic effect if the LC50 less than 1000 µg/ml. The aims of this experiment are to know about the toxicity level from G.lucidum with Brine Shrimp Lethality Test (BST) method and conclude the concentration of fruiting body extract from G.lucidum which has maximum toxicity effect in LC50. There are two extraction method that is used in this experiment, first one stage extraction and then multilevel extraction with hexane, ethyl acetate, and ethanol. Each solvent is made in 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, and 125 ppm. This process is repeated for three times. This experiment use G.lucidum extract which is tested to A.salina and secunder compound metabolit test from the most toxic G. lucidum is done with fitokimia analysis. The result indicated that fruiting body extract from G.lucidum can kill A.salina because all extract is positive contains alkaloid and terpenoid but negative contain flavonoid. Fruiting body extract from G.lucidum which has lowest LC50 is ethyl asetat extract with one stage extraction in concentration 53,70 ppm and highest LC50 is ethanol extract with multilevel extraction in concentration 501,18 ppm.
771010397A1L009014APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH AIR KELAPA MUDA PADA TIGA VARIETAS KEDELAI UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL Kedelai (Glicine max L merr) adalah salah satu komoditas pertanian yang mempunyai permintaan yang terus naik setiap tahunnya. Peningkatan produksi kedelai bisa terealisasikan dengan menggunakan varietas unggul dan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT). Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji pengaruh pemberian dosis air kelapa muda pada pertumbuhan dan hasil kedelai, (2) mengetahui respon dan hasil dari masing-masing varietas pada berbagai dosis air kelapa muda, (3) mengetahui varietas yang paling respon terhadap air kelapa muda sebagai zat pengatur tumbuh. Penelitian ini dilaksanakan di rumah plastik Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Desa Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas dengan ketinggian tempat 110 meter diatas permukaan laut, dari bulan Februari 2014 sampai Mei 2014. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 3 kali pengulangan. Perlakuan 2 faktor didalam percobaan ini terdiri dari: yaitu, kedelai varietas Grobogan, Argomuyo dan Burangrang dan pemberian air kelapa muda sebagai Zat Pengatur Tumbuh. Terdapat beberapa dosis perlakuan tidak diberi, 750 cc, 1000 cc, dan 1250 cc per tanaman. Variabel yang diamati antara lain, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, jumlah buku, bobot kering tanaman, jumlah buku subur, jumlah polong, jumlah biji tiap polong, bobot biji tiap tanaman, bobot 1000 biji dan indeks panen. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dosis 1000 cc per tanaman memberikan pengaruh terbaik pada tinggi tanaman, jumlah daun, bobot 1000 biji dan bobot biji tiap tanaman. Varietas Burangrang dan Argomulyo memproduksi komponen pertumbuhan yang lebih baik dari Grobogan, terutama pada jumlah cabang, jumlah buku subur, jumlah buku, dan bobot kering tanaman. Varietas Burangrang mempunyai jumlah polong dan jumlah biji tiap polong lebih tinggi dibandingkan dari kedua varietas lainnya, sedangkan bobot biji tiap tanaman dan bobot 1000 biji Argomulyo menunjukan angka tertinggi rata-rata dari dua varietas lainnya. Soybean (Glavine max (L) merr.) is one of agriculture commodity which have increase in demand in yearly. The enhancement of soybean nationaly production can be done by using high yielding variety and plant growth regulators application. The objective of research were: 1) to study effect of water of young coconut on growth and yield of soybean, 2) to know growth responses and yield of each variety at varied dosage of young coconut water, 3) to know the most responses variety to the application of young coconut water as source of plant growth regulator. Research was carried out in plastic house at Facultry of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Grendeng, North Purwokerto, Banyumas District at 100 meter above sea level, from February 2014 until to May 2014. Research used factorially Pondomised Completely Block Design with three replication. Two factors treated in the experiment, that aare soybean variety which corsist of Grobogan, Argomulyo and Burangrang and application doses of young coconut water as source of plant growth regulators. Consist of no application, 750 cc, 1000 cc and 1250 cc per plant. Variables observed are plant height, branch number, leaf number, node number, shoot and root dry weight, fentile node number, pod number, seed number per pod, seed weight per plant, 1000 seeds weight and harvest indexes. Result of research showed that doses of 1000 cc per plant gave the best effect on plant height, leaf number, 1000 seeds weight and seed weight per plant. Burangrang and Argomulyo variety produced growth component better than Grobogan, especially on number of branches, fertile node, node and plant dry weight. Burangrang variety have pod higher than two ather varieties, while seed weight per plant and 1000 seeds weight of Argomulyo showed mean value higher than the two other varieties.
77118559G1A010029KORELASI DUKUNGAN SOSIAL DAN MEKANISME KOPING DENGAN DERAJAT NYERI PADA PENDERITA OSTEOARTHRITISLatar Belakang: Osteoarthritis (OA) adalah penyakit reumatik kronis yang menjadi penyebab utama rasa nyeri, hilangnya fungsi dan kecacatan sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Nyeri dapat diatasi dengan Dukungan sosial dan mekanisme koping. Dukungan sosial merupakan sumber koping yang mempengaruhi situasi yang dinilai stressful dan menyebabkan orang yang stres mampu mengubah situasi atau mengubah reaksi emosinya terhadap situasi yang ada.

Tujuan: Mengetahui korelasi antara dukungan sosial dan mekanisme koping dengan derajat nyeri pada penderita Osteoarthritis.

Metode: Penelitian menggunakan metode cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2014. Jumlah responden sebanyak 42 responden dengan menggunakan teknik consecutive sampling dan memenuhi kriteria inklusi serta eksklusi pada penderita Osteoarthritis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Data penelitian didapatkan dari hasil pengisian Kuesioner Dukungan Sosial, Kuesioner Mekanisme Koping, dan Kuesioner Visual Analogue Scale (VAS) untuk mengukur derajat nyeri yang dirasakan pasien. Analisis statistik yang digunakan adalah uji Korelasi Pearson dan Teknik Regresi Linier.
Hasil: Tingginya dukungan sosial berhubungan secara signifikan dengan rendahnya derajat nyeri pada penderita osteoarthritis (r = -0,324). Tingginya mekanisme koping berhubungan secara signifikan dengan rendahnya derajat nyeri pada penderita osteoarthritis (r = -0,355). Semakin tinggi dukungan sosial dan mekanisme koping akan menurunkan derajat nyeri penderita osteoarthritis (R =
-0,440).

Kesimpulan: Terdapat korelasi yang signifikan antara dukungan sosial dengan menurunnya derajat nyeri pada penderita osteoarthritis. Terdapat korelasi yang signifikan antara mekanisme koping dengan menurunnya derajat nyeri pada penderita osteoarthritis. Terdapat korelasi ganda yang signifikan antara dukungan sosial dan mekanisme koping dengan menurunnya derajat nyeri pada penderita osteoarthritis.
Background: Osteoarthritis ( OA ) is a chronic rheumatic disease is a major cause of pain, loss of function and disability that in daily activities. Pain can be done with social support and coping mechanism. Social support is a coping resource that affects the situation is considered stressful and that stress causes people able to change the situation or change the emotional reaction to the situation .

Objective: This study aims to determine the correlation between social support and coping mechanisms with the degree of pain in osteoarthritis patients.

Method: The research used Cross-Sectional Method. This research was conducted on May 2014. The number of respondents were 42 respondents with Consecutive Sampling Method and fulfills the inclusion and exclusion criteria in osteoarthritis patients at hospital of Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. The research data was obtained from the results Social Support Questionnaire, Coping Mechanisms Questionnaire, and Visual Analogue Scale (VAS) Questionnaire to measure the degree of pain felt by the patients. Pearson Correlation and Linear Regression technique were used as the statistical analysis.

Result: The high social support was significantly associated with a lower degree of pain in osteoarthritis patients (r = -0.324). The high coping mechanism was significantly associated with a lower degree of pain in osteoarthritis patients (r =
-0.355). The higher social support and coping mechanisms will reduce the degree of osteoarthritis pain (R = -0.440) .

Conclusion: There is a significant correlation between social support with decreasing degree of pain in osteoarthritis patients. There is a significant correlation between coping mechanisms with decreasing degree of pain in osteoarthritis patients. There is a significant multiple correlation between social support and coping mechanisms with decreasing degree of pain in osteoarthritis patients.
77128560H1L010030RANCANG BANGUN APLIKASI RESERVASI HOTEL BERBASIS WEB MENGGUNAKAN YII FRAMEWORK (STUDI KASUS PADA HOTEL UTAMA PURBALINGGA)Hotel adalah suatu bentuk bangunan, perusahaan atau badan usaha akomodasi yang menyediakan pelayanan jasa penginapan, penyedia makanan dan minuman serta fasilitas jasa lainnya dimana semua pelayanan itu diperuntukkan bagi masyarakat umum, baik mereka yang bermalam di hotel tersebut ataupun mereka yang hanya menggunakan fasilitas tertentu yang dimiliki hotel tersebut. Aplikasi yang berbasis desktop memiliki banyak kelemahan dibandingkan aplikasi yang berbasis web. Pembuatan aplikasi tersebut menggunakan beberapa metode diantaranya studi pustaka dan wawancara. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah metode waterfall.Hotel is a building, company or business entity that provides lodging accomodation, food and beverage, and other service facilities which all that service was intended for the general public, whether those who stay overnight or those who only use certain facilities owned by the hotel. Desktop-based applications have many disadvantages compared to web-based applications. The application was built using several methods including literature review and interviews. The system development method which is used is waterfall method.
77138561E1A109045Perlindungan Hak Asasi Manusia Terhadap Anak Korban Trafficking Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang” (Studi di Provinsi DKI Jakarta)Salah satu hambatan yang muncul dalam pelaksanaan penegakan hak asasi manusia adalah perdagangan orang (trafficking). Korban perdagangan orang kebanyakan warga negara yang tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan sumber dayanya secara ekonomi serta pendidikan, mereka dapat dikategorikan kelompok rentan yang termarjinalkan baik secara sosial, budaya dan struktural khususnya anak-anak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan terhadap anak yang menjadi korban trafficking berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Tindak PidanaPerdagangan Orang dan juga untuk mengetahui apakah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melaksanakan mandat dari ketentuan Pasal 58 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang dalam upayanya melindungi anak korban trafficking di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normative dengan menelaaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan di KOMNAS ANAK dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak(P2TP2A) Provinsi DKI Jakarta.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh simpulan bahwa Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang telah mengatur bentuk-bentuk pemenuhan hak korban dari tindak pidana perdagangan orang, tetapitidak dijelaskan kepada siapa bentuk-bentuk pemenuhan hak tersebut diberikan, melainkan hanya diberikan kepada korban/saksi, dalam arti undang-undang ini tidak membedakan antara korban yang dewasa dan korban anak, padahal seperti yang di ketahui yang paling rentan terhadap korban perdagangan manusia adalah anak-anak, terlebih lagi para korban anak banyak mendapatkan perlakuan yang buruk sewaktu menjadi korban perdagangan manusia. Sementara berkaitan dengan mandat dari ketentuan Pasal 58 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang yang di berikan kepada pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membuat kebijakan dalam hal penyediaan sarana dan prasarana, gugustugas dan infrastruktur sebagai upayanya untuk melindungi korban trafficking di wilayah Provinsi DKI Jakarta, yaitu melalui Keputusan Gubernur Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 64 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Cara Kerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 218 Tahun 2010 Tentang Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2011 TentangPerlindungan Perempuan dan Anak dari Tindak Kekerasan.
One of the obstacles that arise in the implementation of the enforcement of human rights is a trade person (trafficking). Victims of trafficking in persons were mostly citizens who do not have the ability to develop its resources economically as well as education, they can be categorized as vulnerable groups marginalized both socially, culturally and structurally in particular children. Victims of trafficking in persons were mostly citizens who do not have the ability to develop its resources economically as well as education, they can be categorized as vulnerable groups marginalized both socially, culturally and structurally in particular as children.
The Research aims to know protection to children who are victims of trafficking activities based on act republic of indonesia number 21 / 2007 on tindk criminal trade people and also determine whether administration presence has developed a mandate from the provision of article 58 act of republic of indonesia number 21 / 2007 on criminal act trade people in order to protect the victims trafficking activities in jakarta.This research use approach juridical normative menelaaah with all laws and regulations being closely jointed with this study.This research held in (komnas children) and central service center on women and children protection (P2TP2A Jakarta).
Based on research, obtained drawing conclusions that law number 21 / 2007 on eradication criminal act trade people have set forms the fulfillment of the rights offering than a felony trade people, but not explained to whom forms fulfillment rights were given, but only given to victims / witnesses in the sense of this law no distinction between the adult and the child, in fact like in know the most vulnerable to victims of human are children; moreover the victims child many get a bad treatment when become victims of human. While related to the mandate of the provision of article 58, paragraph (1) of Act Number 21 / 2007 on the eradication of criminal acts of Trafficking in persons give to local authorities, in this case the Government of DKI Jakarta has made policy in terms of the provision of infrastructure and facilities, the task force and the infrastructure as its efforts to protect victims of trafficking, Is through the government decision governor of Jakarta local provincial number 64 / 2004 about the formation of organization and work procedure of service center for integrated, empowerment of women and children regulation governor number 218/2010 about task force prevention and handling of the criminal act of trade people, regional regulation jakarta number 8/2011 regarding the protection of women and children from acts of violence.
77148562H1L010016Rancang Bangun Sistem Informasi Akademik Berbasis Web Menggunakan Play Framework (Studi Kasus SMP Negeri 1 Taman Pemalang)Sistem informasi akademik berbasis web pada SMP Negeri 1 Taman Pemalang merupakan suatu sistem yang dapat memberikan layanan informasi berupa data akademik yang bertujuan untuk membuat manajemen sistem pendidikan di SMP Negeri 1 Taman lebih efektif dan efisien. Pembuatan sistem ini menggunakan Play Framework versi 1.2.5. Adapun proses-proses yang terdapat dalam sistem ini meliputi pengolahan data siswa, pengolahan data guru, pengolahan data tata usaha, pengolahan nilai siswa sesuai dengan kurikulum 2013 serta pendeteksian kompetensi dasar yang masih di bawah standar menggunakan metode fuzzy database model Tahani.Web based academic information system on 1st Junior High School Taman Pemalang is a system that provide more informations such as academic data that has a purpose to increase and make the educational management system on 1st Junior High School Taman Pemalang more effective and efficient. This system develop using Play Framework 1.2.5. There are many processes in this system such as teacher data processing, student data processing, administration data processing, student mark processing according to 2013 curriculum, and basic competencies detection that still below standard using fuzzy database of Tahani model.
77158564D1E010114Pengaruh Kadar Lemak Susu dan Lama Penggantungan yang Berbeda Terhadap Yield, Kadar Air dan pH pada Concentrated YoghurtPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kadar lemak susu dan lama penggantungan serta interaksi kedua faktor tersebut terhadap yield, kadar air dan pH concentrated yoghurt. Metode penelitian yang digunakan adalah metode experimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) Faktorial 3 x 2. Faktor pertama adalah susu kadar lemak yaitu 1) susu lemak rendah (A1), 2) susu lemak sedang (A2) 3) susu lemak tinggi (A3). Faktor kedua adalah lama penggantungan yaitu 1) lama penggantungan 24 jam (B1), 2) lama penggantungan 48 jam (B2), sehingga ada 6 perlakuan dan 4 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi kedua faktor tidak memberikan pengaruh nyata terhadap yield, kadar air dan pH concentrated yoghurt. Kadar lemak susu berpengaruh sangat nyata terhadap yield dan kadar air concentrated yoghurt. Lama penggantungan yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air concentrated yoghurt. Waktu penggantungan yang lebih lama dapat menurunkan yield, kadar air dan pH concentrated yoghurt. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu interaksi antara kadar lemak susu dengan lama penggantungan yang berbeda tidak mempengaruhi yield, kadar air dan pH concentrated yoghurt. Kadar lemak susu mempengaruhi yield dan kadar air concentrated yoghurt. Lama penggantungan mempengaruhi yield concentrated yoghurt yang dihasilkan.
This research aimed to study the effect of milk fat level and different hanging time and their interaction on yield, moisture content, and pH of concentrated yoghurt. The method used was an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) 3 x 2 factorial. First factor was milk fat level 1) low milk fat (A1), 2) medium milk fat (A2), 3) high milk fat (A3) and second factor was hanging time 1) 24 hours 2) 48 hours, so there were 6 treatments and 4 replications. Data were analyzed by analysis of variance followed by a Significant Difference test (HSD). The results show that the interaction of milk fat levels and hanging time did not give significant effect on yield, moisture content and pH of concentrated yoghurt. Milk fat level has significant effect on yield and moisture content of concentrated yoghurt. Different hanging times resulted in significant effect on moisture content of concentrated yoghurt. Longer hanging time decreased yield, moisture content, and pH of concentrted yoghurt. In conclusion, the interaction of milk fat levels and hanging time didn’t affect yield, moisture content and pH of concentrated yoghurt. Milk fat levels affects yield and moisture contents of concentrated yoghurt. Hanging time affects yield of concentrated yoghurt.

77168567G1F010002Efek Kombinasi Ekstrak Jahe dan Cabe Jawa
terhadap Jumlah Leukosit, Eritrosit, Hemoglobin, Platelet dan Bobot Limpa pada Tikus yang Diinduksi Doksorubisin
Doksorubisin adalah obat antikanker golongan antrasiklin yang memiliki efek samping berupa mielosupresif. Sejumlah tanaman telah dilaporkan dapat digunakan sebagai mieloprotektif seperti jahe (Zingiber officinale) dan (Piper retrofractum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek proteksi kombinasi ekstrak jahe dan cabe jawa terhadap tikus yang diinduksi doksorubisin berdasarkan profil hematologi dan bobot limpa.
Penelitian dilakukan menggunakan 20 hewan uji yang diinduksi doksorubisin serta pemberian kombinasi ekstrak jahe dan cabe jawa (1:1). Tikus jantan galur Wistar dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 1 diberi Na-CMC 1,5%; Kelompok 2 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p pada hari 1,4,7,10,13,16; kelompok 3 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p + ekstrak125 mg/kg BB/hari p.o; kelompok 4 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p + ekstrak 250 mg/kg BB/hari p.o dan kelompok 5 diberi doksorubisin 2,5 mg/kg BB i.p + ekstrak 500 mg/kg BB/hari p.o. Sampel darah seluruh hewan uji diambil pada hari ke-16 dan dikorbankan untuk pengambilan organ limpa. Jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, platelet dan bobot limpa dievaluasi.
Hasil penelitian menunjukkan jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, platelet dan bobot limpa menurun dalam kelompok yang diberi doksorubisin. Kelompok perlakuan mengalami peningkatan jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, platelet dan bobot limpa tetapi tidak signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak jahe dan cabe jawa tidak mampu mempertahankan jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, platelet dan bobot limpa.
Doxorubicinis is an antracycline class of anticancer drugs that have side effects such as myelosuppresive. A number of plants have been reported to be used as myeloprotective such as ginger (Zingiber officinale) and java chili (Piper retrofractum). This study aimed to determine the effect myeloprotective of combination ginger and java chili on doxorubicin-induced rats based on hematology parameters and spleen weights .
The study was conducted on 20 animals that administeried a combination of doxorubicin, ginger and chili java extract (1:1). Wistar male rats were divided into five groups. Group 1 was given 1,5 % CMC-Na, group 2 was given doxorubicin 2,5 mg/kg ip on days 1, 4, 7, 10, 13, 16 doxorubicin group 3 was given 2.5 mg/kg ip+extract 125 mg/kg/day p.o, group 4 was given doxorubicin 2,5 mg/kg i.p+extract 250 mg/kg/day p.o and group 5 was given doxorubicin 2.5 mg/ kg i.p+extract 500 mg/kg/day p.o. Blood samples were taken throughout the test animals at day 16 and sacrificed for spleen. The Number of leukocytes, erythrocytes, hemoglobin, platelet and spleen weight were evaluated.
The results showed that number of leukocytes, erythrocytes, hemoglobin, platelet and spleen weights decreased in the doxorubicin group. The treatment group has increase in the value of leukocytes, erythrocytes, hemoglobin, platelet count and spleen weight but not significant. These results suggest that combination of ginger and java chilli are not able to maintain hematological parameters and spleen weights.
77178568B1J010074
STRUKTUR VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA BERBAGAI UMUR TEGAKAN HUTAN RAKYAT BERBASIS JABON
(Neolamarckia cadamba Roxb.)

Telah dilakukan analisis struktur vegetasi tumbuhan bawah pada hutan rakyat berbasis jabon (Neolamarckia cadamba Roxb.) di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur vegetasi tumbuhan bawah pada hutan rakyat berbasis jabon pada berbagai umur tegakan serta pengaruh umur dan struktur tegakan jabon terhadap komposisi vegetasi tumbuhan bawah. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode kuadrat. Variabel bebas berupa umur tegakan dan struktur tegakan jabon. Variabel tergantung berupa struktur vegetasi tumbuhan bawah. Parameter yang diamati berupa parameter utama meliputi parameter dari variabel bebas terdiri dari tegakan jabon: umur dan tinggi, diameter batang, jumlah dan kerapatan, crown canopy (penutupan tajuk) tegakan. Parameter dari variabel tergantung terdiri atas tumbuhan bawah: indeks keanekaragaman tumbuhan bawah, indeks kesamaan, dan jumlah individu tumbuhan bawah. Parameter pendukung: suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya, pH tanah, dan ketinggian tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan bawah pada hutan rakyat jabon umur ≤ 1 sebanyak 15 spesies dan 6 familia. Hutan rakyat umur > 1-2 tahun sebanyak 12 spesies dan 9 familia. Hutan rakyat umur > 2-3 tahun sebanyak 12 spesies dan 9 familia, Hutan rakyat umur > 3-4 tahun sebanyak 10 spesies dan 9 familia, Hutan rakyat umur > 4-5 tahun sebanyak 7 spesies dan 7 familia. Jenis tumbuhan bawah yang mendominasi pada hutan rakyat jabon umur ≤ 1 tahun adalah Eleusine indica (L.) Gearth. (32,22%), hutan rakyat umur > 1-2 tahun adalah Panicum repens L. (44,25%), hutan rakyat umur > 2-3 tahun adalah Digitaria nuda Schumach. (38,92%), hutan rakyat umur > 3-4 tahun adalah Eupatorium riparium Reg. (31,68%) dan hutan rakyat umur > 4-5 tahun adalah Drymaria cordata (L.) Wild. (53,49%). Indeks keanekaragaman tumbuhan bawah di hutan rakyat umur ≤ 1 tahun relatif lebih besar dibanding hutan rakyat umur > 1-2 tahun, > 2-3 tahun, > 3-4 tahun, dan > 4-5 tahun. Indeks kesamaan komunitas pada hutan rakyat umur ≤ 1-5 tahun adalah tergolong rendah atau berbeda, karena nilai indeks kesamaan komunitasnya kurang dari 30%. Pengaruh umur tegakan dan persentase penutupan tajuk terhadap struktur vegetasi tumbuhan bawah memiliki pola hubungan yang searah atau berpengaruh positif terhadap struktur vegetasi tumbuhan bawah.
Undergrowth vegetation structure analysis has been conducted on jabon
(Neolamarckia cadamba Roxb.) based public forest in Banyumas and Purbalingga regency.
The aim of this study is to know the structure of undergrowth vegetation on jabon based
public forest in various stand’s age including the influence of jabon stand’s age and structure
to the composition of undergrowth vegetation. The method used in this study is survey
method with sampling technique that uses square method. Independent variables used in
this study are jabon stand’s age and structure. Dependent variables are undergrowth
vegetation structure. Observed parameters in this study are main parameters which includes
parameters from independent variables which consisted of jabon stands: age and height,
stem diameter, quantity and density, stand’s canopy closure. Parameters of dependent
variables are consisted of undergrowth: undergrowth index of diversity, index of similarity,
and individual quantity of undergrowth. Proponent parameters: air temperature, air
humidity, light intensity, ground pH, and altitude. The results of this study show that the
undergrowth in a ≤ 1 year jabon public forest is consisted of 15 species and 6 family. > 1-2
year public forest has 12 species and 9 family. > 2-3 year public forest has 12 species and 9
family. > 3-4 year public forest has 10 species and 9 family. > 4-5 year public forest has 7
species and 7 family. The type of undergrowth that dominates ≤ 1 year jabon public forest is
Eleusine indica (L.) Gearth. (32.22%), > 1-2 year public forest is dominated by Panicum repens
L. (44.25%), > 2-3 year public forest is dominated by Digitaria nuda Schumach (38.92%), > 3-
4 year public forest is dominated by Eupatorium riparium Reg. (31.68%), and > 4-5 year public
forest is dominated by Drymaria cordata (L.) Wild. (53.49%). The diversity index in a ≤ 1 year
public forest is biggest than > 1-2 year, > 2-3 year, > 3-4 year, and > 4-5 year. The community
index of similarity in a ≤ 1-5 year public forest is classified as low or different, because the
community’s index of similarity value is less than 30%. The influence of stands age and
percentage of canopy closure toward undergrowth vegetation structure has a unidirectional
or positive relationship pattern.
771810381F1A009049Peran Ibu Pekerja Sektor Informal dalam Mengajarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Sebagai Pencegahan ISPA pada Anak Di Desa Adisana Kecamatan BumiayuTujuan dari penelitian ini mengetahui peran dan strategi ibu dalam membagi waktu dalam proses sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai pencegahan penyakit ispa kepada anak di dalam keluarga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan sasaran utama dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja pada sektor informal dan mempunyai anak usia 6 sampai 12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ibu dalam mengajarkan PHBS pada anak meliputi menjauhkan anak dari penderita ispa, makan makanan bergizi setiap hari, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga sirkulasi udara di rumah, mengajak anak beraktifitas fisik bersama dan tidak merokok di rumah. Kedua, strategi ibu dalam membagi waktu bersama anak terkait sosialisasi PHBS sebagai pencegahan ISPA di Desa Adisana adalah dilakukan pada waktu sebelum bekerja, istirahat kerja, sepulang kerja, dan sambil bekerja.The purpose of this study to know the role and strategy of the mother in the split time in the process of socialization Clean and Healthy Lifestyle (PHBS) as ISPA disease prevention to children in the family. The method used in this research is descriptive qualitative method with the main objectives in this study were women who worked in the informal sector and have children aged 6 to 12 years. The results showed that the role of the mother in teaching PHBs in children include children away from the patient ISPA, eating nutritious meals every day, keeping the environment clean, maintain air circulation in the home, taking children to physical activity together and do not smoke in the house. Second, the strategy of divide time with mothers in child-related socialization as prevention ispa PHBs in the village of Adisana is done at a time before work, work breaks, after work, and while working.
771910984G1D010057HUBUNGAN ANTARA POLA KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN PERILAKU BULLYING REMAJA
PADA SISWA KELAS XI IPS DI SMA X PURWOKERTO
Latar Belakang: Bullying menjadi salah satu perilaku kenakalan remaja yang cukup menarik perhatian belakangan ini. Keluarga memiliki peranan dalam menanamkan nilai positif pada remaja. Kurangnya komunikasi antara remaja dan orang tua bisa menyebabkan berusaha menarik perhatian orang tua dengan berbagai cara, salah satunya dengan melakukan tindakan negatif seperti bullying.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pola komunikasi keluarga dengan perilaku bullying remaja di SMA X Purwokerto.
Metode: Penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 98 responden yang diambil dengan metode total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Kuisoner pola komunikasi mengadopsi dari Marseliana (2011) dan kuisoner perilaku bullying mengadopsi dari Basyirudin (2010). Hasil dianalisis dengan uji chi-square.
Hasil: Gambaran pola komunikasi keluarga terbanyak yaitu fungsional (70,4%) dan gambaran perilaku bullying terbanyak yaitu ringan (45,9%). Hasil analisis menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola komunikasi keluarga dengan perilaku bullying remaja dengan uji chi-square diketahui bahwa nilai p=0,046.
Kesimpulan: Ada hubungan antara pola komunikasi keluarga dengan perilaku bullying remaja.
Background: Bullying is one of disruptive behaviors among adolescent which is likely to draw public’s concern recently. Family plays important role to establish positive value among children. Lack of effective communication in the family might cause children try to attract parent’s attention by doing negative behavior such as bullying.
Objective: To examine the relationship between family’s communication pattern and bullying behavior among students in State Senior High School in Purwokerto.
Method: This is an analytic correlation study with cross-sectional design. A total of 98 students who meet inclusion criteria were participated in this study. Communication pattern questionare was adopted from Marseliana and bullying behavior questionare was adopted from Basyirudin. Data was analyzed using chi-square test.
Result: Majority of student (70,4%) perceived that their family employ functional communication pattern. Almost half of student (45,9%) enggage in mild bullying behavior. Analysis showed a significant correlation between family communication pattern and adolescent bullying behavior (p=0.046).
Conclusion: There is a relationship between family communication patterns with adolescent bullying behavior.
77208563C1J009012THE FACTORS THAT INFLUENCES TO THE INCOME AND PROSPERITY LEVEL FOR THE MERCHANT IN THE BUILDING OF PRATISTHA HARSA PERENG PURWOKERTO

Abstrak
Judul dalam penelitian ini adalah “ faktor faktor yang mempengaruhi pendapatan dan tingkat kesejahteraan pedagang kecil di gedung pratistha harsa pereng purwokerto ”penelitian ini dilakukan karena Pratistha Harsa merupakan satu satunya pasar khusus kuliner tradisional yang masih satu satunya di daerah Banyumas. Pasar Kuliner Pratistha Harsa merupakan sebuah pasar penataan bagi para PKL, maksud dengan di bangunnya pasar kuliner ini maka para PKL akan lebih tertata rapi dalam menggelar dagangannya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor modal, faktor lama usaha , intensitas jam kerja dan tingkat pendidikan mempengaruhi pendapatan pedagang kecil di gedung Pratistha Harsa Purwokerto serta untuk mengetahui tingkat kesejahteraan para pedagang di pusat kuliner Pratistha Harsa Purwokerto. Penelitian ini menggunakan stratified random sampling dan diuji menggunakan asumsi klasik dan uji statistik.
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa Faktor modal, jam kerja, lama usaha berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya jumlah pendapatan yang diterima pedagang di pasar kuliner Pratistha Harsa. Sedangkan faktor tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan pedagang, Diantara faktor modal, jam kerja dan lama usaha yang berpengaruh signifikan terhadap pendapatan pedagang, Dengan tingkat koefisien beta sebesar 0,691 faktor modal merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima pedagang di pasar kuliner Pratistha Harsa. Dan Sebagian besar pedagang di pasar kuliner Pratistha Harsa dinyatakan dalam kondisi sejahtera, dapat dilihat bahwa pendapatan perkapita pedagang di pasar kuliner Pratistha Hasta lebih besar dari tingkat KHL (Kebutuhan hidup layak) yang ditetapkan pemerintah kabupaten Banyumas pada tahun 2014 sebesar Rp 1.000.000,00 sedangkan pendapatan perkapita pedagang di pasar kuliner Pratistha Harsa sebesar Rp 3.814.000,00.
Abstrak
The title in this study is “factors which influence income and prosperity level of vendors in pratistha harsa pereng purwokerto “ This study was conducted Pratistha Harsa is the only traditional culinary market in Banyumas. Pratistha Harsa culinary market is a market specially designed for vendors (PKL) in order to make the vendors to be more managed.
The purpose of study was to determine To know the factors which influence the income level obtained by vendors and To know the vendors’ prosperity level in Pratistha Harsa culinary market Purwokerto. Analytical method for stratified random sampling and assumption classical test and assumption statistical test
The result of research and discussion can be concluded that Capital, work hour, business duration have significant effect on the amount of income received by vendors in Pratistha Harsa culinary market. Meanwhile, the education level do not give significant effect on the vendors’ income.Among the variables of capital, work hour and business duration income, capital is the most influencing variable on the income received by the vendors in Pratistha Harsa culinary market with the coefficient beta of 0,691.AndMost of the vendors in Pratistha Harsa culinary market are prosperous. It can be seen that the income per capita of the vendors is higher than the KHL (the needs for decent living) level determined by government of Banyumas regency in 2014 at Rp 1.000.000,00, Meanwhile the vendors’ income per capita in Pratistha Harsa culinary market is Rp 3.814.000,00.