Artikelilmiahs

Menampilkan 7.141-7.160 dari 48.886 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
71418238D1E010040PENGARUH LEVEL Saccharomyces cereviceae PADA PEMBUATAN TEPUNG PUTIH TELUR SECARA ANAEROB TERHADAP KADAR PROTEIN DAN DAYA LARUTTujuan penelitian adalah mengkaji level Saccharomyces cereviceae yang menghasilkan tepung putih telur dengan kadar protein dan daya larut tertinggi. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 10-28 Februari 2014 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi yang digunakan adalah putih telur ayam niaga petelur sebanyak 600 gr dan Saccharomyces cereviceae 7,2 gr. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diujicobakan terdiri atas T0 = putih telur tanpa Saccharomyces cereviceae, T1 = putih telur + Saccharomyces cereviceae 0.2% dari berat tepung putih telur dan T2 = putih telur + Saccharomyces cereviceae 0.4% dari berat tepung putih telur. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa level Saccharomyces cereviceae tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya larut sedangkan terhadap kadar protein berpengaruh sangat nyata (P<0,05). Berdasarkan uji orthogonal polynomial kadar protein meningkat mengikuti persamaan garis kuadrater Y = 61,974667 + 43,877 X – 167,838 X². Kesimpulan dari penelitian bahwa pemberian level Saccharomyces cereviceae pada pembuatan tepung putih sampai level 0.4% menghasilkan daya larut tepung putih telur yang sama dan pemberian level Saccharomyces cereviceae 0,131% menghasilkan kadar protein tertinggi.The purpose of the research was to investigate the level of Saccharomyces cereviceae in the product of albumen powder protein content and solubility. The research was conducted from February 10th, until 28th 2014 at the Laboratory of Animal Product, Faculty of Animal Science and the Laboratory of the Soil, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. The materials of the research were commercial layers egg 600 gr and Saccharomyces cereviceae 7.2 gr. The research method was experimental using completely randomized design (CRD). The treatments (P>0.05) were T0 = albumen without Saccharomyces cereviceae, T1 = Albumen + Saccharomyces cereviceae as much as 0.2% by albumen weight , T2 = Albumen + Sc 0.4% by albumen weight. The data were analyzed using analysis of variance and to be continued orthogonal polynomial test. The results showed that the level of Saccharomyces cereviceae not significant effect on solubulity albumen powder while the protein content highly significant effect (P<0.05). Based on orthogonal polynomial test the protein content incrase following Y= 61.974667 + 43.877X – 167.838X². The conclusion of the research that the level of Saccharomyces cereviceae in making albumen powder until level 0.4% produce the same solubility of albumen powder and the level of Saccharomyces cereviceae 0.131% produce the highest protein content.
714211984A1M011034Perancangan Dokumen Sistem Penjaminan Mutu Industri Kecil Menengah Jenang Jaket 'ASLI' Mersi Purwokerto.Industri Kecil Menengah (IKM) Jenang jaket ‘ASLI’ merupakan penghasil jenang ketan di Purwokerto dimana posisinya menjadi IKM unggulan. Sistem manajemen mutu diperlukan untuk mendukung usaha kegiatan industri agar layak seperti perusahaan global, yang mampu menembus pasar di berbagai negara dan masyarakat luas. Adanya sistem penjaminan mutu yang baik, konsisten dan berkelanjutan menjadi sebuah tuntutan konsumen terhadap tersedianya produk yang aman dan bermutu. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah perancangan dokumen Sistem Penjaminan Mutu. Adapun tujuan umum penelitian ini, yaitu: 1) Mengetahui tingkat kepentingan dan tingkat persetujuan responden terhadap dokumen Pedoman Mutu; 2) Mengetahui tingkat kepentingan dan tingkat persetujuan responden terhadap dokumen Prosedur Mutu; 3) Mengetahui tingkat kepentingan dan tingkat persetujuan responden terhadap dokumen Dokumen Instruksi Kerja; dan 4) Mengetahui tingkat kepentingan dan tingkat persetujuan responden terhadap dokumen Dokumen Formulir Mutu. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat penerimaan Dokumen SPM meliputi, dokumen Pedoman Mutu pada tingkat kepentingan dan tingkat persetujuan pada golongan pakar/ahli sebanyak 95% dan 86%, untuk golongan instansi terkait 97% dan 86%, pemilik dan karyawan sebanyak 89% dan 83%. Dokumen Prosedur Mutu pada tingkat kepentingan dan tingkat persetujuan sebanyak 97% dan 90% pada golongan pakar/ahli, 93% dan 80% untuk instansi terkait, pemilik & karyawan sebanyak 86% dan 81%. Dokumen Instruksi Kerja pada tingkat kepentingan dan tingkat persetujuan sebanyak 90% dan 93% pada golongan pakar/ahli, 92% dan 91% untuk golongan instansi terkait, karyawan & pemilik sebanyak 89% dan 88%. Dokumen Formulir Mutu pada tingkat kepentingan dan tingkat persetujuan sebanyak 94% pada golongan pakar/ahli, 95% dan 87% untuk golongan instansi terkait, karyawan & pemilik sebanyak 90% dan 85%.Small and Medium Enterprise (SME) of Jenang jaket (ASLI) is one of the producers of jenang ketan in Purwokerto, where it is position became superior SME in producing jenang. Quality management system is required to support the business activities to run as a global company, that is able to compete with markets in many countries and various communities. The existence of a good, consistent and sustainable quality assurance system is demanded by consumers to ensure that the products are safe to be consumed and qualified. The specific purpose of this research was document design of Quality Assurance System. As for the general purpose of this research was to: 1) determine the level of interest and the level of acceptance of respondents on Quality Guide document; 2) determine the level of interest and the level of acceptance of respondents on Quality Procedure document; 3) determine the level of interest and the level of acceptance of respondents on Work Instruction document; and 4) determine the level of interest and the level of acceptance of respondents on Quality Form document. The research result indicated that the level of acceptance of Quality Assurance System document included, Quality Manual document at the level of interest and the level of acceptance of 95% and 86% on group of experts/specialists, 97% and 86% on the group of relevant institutions, 89% and 83% on owner and employees respectively. Quality Procedure document at the level of interest and the level of acceptance was 97% and 90% on the group of experts/specialists, 93% and 80% on relevant institutions, 86% and 81% on owner and employees. Work Instruction document at the level of interest and the level of acceptance was 90% and 93% on the group of experts/specialists, 92% and 91% on the group of relevant institutions, 89% and 88% on owner and employees, respectively. Quality Form document at the level of interest and the level of acceptance was 94% on the group of experts/specialists, 95% and 87% on the group of relevant institutions, 90% and 85% on owner and employees.
714311991F1C011058SELF DISCLOSURE REMAJA PEREMPUAN PELAKU SEKS PRANIKAH DENGAN ORANG TUA DI PURWOKERTO UTARAPenelitian ini berjudul Self Disclosure Remaja Perempuan Pelaku Seks Pranikah Dengan Orang Tua di Purwokerto Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui self disclosure atau pengungkapan diri yang dilakukan oleh remaja perempuan pelaku seks pranikah dengan orang tua khususnya ibu serta bagaimana stigma masyarakat mengenai pelaku seks pranikah dan dampak dari pernikahan dini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan dalam penelitian ini adalah remaja perempuan pelaku seks pranikah yang telah menjalani ikatan pernikahan serta ibu dari masing-masing remaja sebagai informan pendukung. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam, sedangkan teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat self disclosure atau pengungkapan diri yang dilakukan oleh remaja perempuan pelaku seks pranikah dengan ibunya mengenai seksualitas sebelum akhirnya mereka terjebak kasus seks pranikah. Stigma masyarakat terhadap remaja perempuan pelaku seks pranikah ialah negatif. Dampak yang dialami remaja perempuan pelaku seks pranikah yang menikah pada usia dini (16-19 tahun) ialah manajemen konflik yang masih mengedepankan ego ketika menghadapi konflik rumah tangga akibat kondisi mental yang belum matang, selain itu faktor ekonomi merupakan salah satu faktor utama penyebab munculnya konflik dalam rumah tangga.This research entitled Self Disclosure Among Girls with Pre-Marriage Sexual Activity With Their Parents in Purwokerto Utara. Its purpose is to know about self disclosure by girls with pre-marriage activity and their parents, especially their mothers. It also wanto know society stigma regarding pre-marriage sexual activity and the impact of young marriage. It is a qualitative research with phenomenology methods. Informant in this research is teenage girls with pre-marriage sexual activity that already get married along with their mother as supporting informant. Data collection method is being done by in depth interview. Meanwhile informant choosing technique use purposive sampling. This research show that there is no self disclosure among girls with pre-marriage sexual activity with their mothers about sexuality before they do pre-mariage sexual activity. Society stigma about girls with pre-marriage sexual activity is in negative point of view. Impact by girls with pre-marriage sexualactivity that getting married in a young age (16-19 years old) is lacking of conflict management. They uphold their own ego when facing households conflict. It is caused by immature mental condition. Besides, economy also take part as a factor that cause a household conflict.
714411998A1M009076PENGARUH LAMA PENYIMPANAN BUAH JERUK SIAM TERHADAP PERUBAHAN SENSORIS DAN KIMIABuah jeruk merupakan salah satu komoditas hortikultura dengan kadar air yang tinggi. Setelah dipanen jeruk mengalami proses respirasi,tranpirasi, dan pematangan. Proses-proses tersebut menyebabkan mudah rusaknya kandungan gizi, rasa, tekstur, serta warna. Oleh karena itu diperlukan teknologi pascapanen yang tepat khususnya perlakuan penyimpanan setelah pemanenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan buah jeruk dari beberapa daerah pada waktu penyimpanan yang berbeda terhadap kualitas gizi maupun sensori. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor perlakuan, yaitu jenis jeruk; terdiri dari jeruk Barito (J1), jeruk Brastagi (J2), jeruk Jember (J3), jeruk Marcot (J4). Lama waktu penyimpanan yaitu : 0 hari (P0) ,7 hari (P1), serta 14 hari (P2). Variable yang diamati meliputi kadar air, kadar abu, vitamin C, serat kasar, kadar betakaroten, variable sensori meliputi warna kulit, rasa, tekstur, aroma, dan kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Jenis jeruk berpengaruh nyata terhadap vitamin C, serat kasar, serta semua uji sensoris. Lama penyimpanan menurunkan kadar air, vitamin C, serta semua uji sensoris. Sedangan interkasi antara lama penyimpanan dengan jenis jeruk berpengaruh nyata terhadap rasa manis, tekstur dan kesukaan.
Orange is one of horticultural commodities with high water content. After harvest orange still under go respiration, transpiration, and maturation. These processes lead to destruct its nutrientionals content, flavor, texture, and color. Therefore proper postharvest technology need to be applied, especially on storage treatment. This study aimed to determine the affect of storage time and different growth of orange on nutrientional and sensory qualities.
The research carried out with experimental methods, using Randomized Block Design (RBD) with 2 factors, orange consisting of; Barito orange (J1), Brastagi orange (J2), Jember orange (J3 ),and Marcot orange (J4). Storage time of : 0 day (P0), 7 days (P1), and 14 days (P2) . The observed variables include moisture content, ash content, vitamin C content, crude fiber content, beta-carotene levels; variable sensory include color, flavor, texture, aroma, and preferences.
Result of the research showed that orange type significantly affect its vitamin C content, crude fiber content, as well as all the sensory variabel. Storage time significantly affect on moisture content, vitamin C content, as well as all the sensory characteristics. Meanwhile, interaction between storage time and orange type significantly affect on sweetness, texture and preferences.
71458239F1A007053“NGENDEL”
(Studi Kasus Perilaku Menyimpang Pemandu Lagu Karaoke di Banjarnegara)

Ngendel merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang tindakan perselingkuhan antara individu satu dengan individu lain yang bukan pasangan sah. Perilaku ngendel dilakukan oleh beberapa pemandu lagu karaoke, dan orang yang menjadi pasangan selingkuh dari pemandu lagu karaoke biasanya adalah customer tempat karaoke yang dijelaskan dengan istilah endel. Perilaku ngendel merupakan suatu bentuk perilaku menyimpang karena bertentangan dengan norma agama dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang persepsi dan hal-hal apa saja yang memotivasi pemandu lagu karaoke untuk melakukan perilaku menyimpang ngendel serta dampak sosial yang muncul di masyarakat akibat dari perilaku menyimpang pemandu lagu karaoke.
Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menyertakan desain penelitian studi kasus. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling yang digabungkan dengan teknik snowball sampling. Data primer diperoleh dari proses wawancara dengan para informan, sedangkan data sekunder diperoleh dari jurnal, situs internet dan artikel-artikel terkait.
Hasil penelitian menunjukan bahwa informan mempersepsikan perilaku ngendel sebagai perilaku yang menyimpang dari nilai agama dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat, namun dominasi dari motivasi baik motivasi ekonomi maupun motivasi kebutuhan biologis digunakan sebagai dalih oleh pemandu lagu karaoke untuk melakukan pembenaran pada perilaku menyimpang ngendel yang pemandu lagu karaoke lakukan. Dampak perilaku menyimpang ngendel pada pemandu lagu karaoke antara lain; mengalami tindakan pemukulan oleh suami, kehancuran keluarga hingga perceraian.

Kata kunci : Ngendel, Selingkuh, Karaoke, Perilaku Menyimpang

Ngendel is a term used to describe the act of infidelity between one person with another person who is not a legitimate partner .Ngendel behavior is performed by some guides “karaoke songs” , and the person who is the spouse of cheating karaoke song usually guides the customer point of karaoke is which described by the Endel . Ngendel behavior is a form of deviant behavior as contrary to religious norms and social norms prevailing in society. Accordingly, this study aims to examine more deeply about perception and what are the things that motivate guides “karaoke song” to perform Ngendel deviant behavior and social impacts that arise in the community as a result of aberrant behavior guides “karaoke songs” . This study aims to determine the perceptions and motivations guiding the behavior of Ngendel doing “karaoke songs” at “karaoke place” .
The research method used was qualitative research methods including case study research design . The selection of informants use purposive sampling coupled with snowball sampling technique.
The results showed that the informants perceive Ngendel behavior as the act that deviates from the value of religious and social values prevailing in society , however the dominance of economic motivation and the motivation of both the biological needs motivation are used as a pretext by the guides “karaoke songs” to justify the deviant behavior that guides Ngendel to do “karaoke songs”. The deviant behavior of Ngendel, cheating adversely affects the life of the guide track itself , ranging from actions by a husband beating , destruction of families , to end in divorce.

Keywords :Ngendel , Cheating , Karaoke , Deviant Behavior
71467729H1C008011ANALISIS PERBAIKAN SUSUT ENERGI PADA JARINGAN TEGANGAN MENENGAH PADA PEYULANG RAWALO 01 PT. PLN (PERSERO) APJ PURWOKERTODi dalam suatu sistem tenaga listrik terdapat suatu faktor yang dinamakan faktor rugi-rugi atau penyusutan daya. Penyusutan ini dapat ditemui di berbagai tempat pada jaringan tenaga listrik, mulai dari pembangkitan, transmisi, sampai dengan kepada distribusi kepada konsumen. Berdasarkan informasi dari PT. PLN (Persero), sebagian besar susut energi listrik terdapat pada jaringan distribusi. Oleh karena itu susut pada sistem jaringan tersebut perlu diperhitungkan lebih teliti. Penyusutan menjadi pembahasan penting pada saat ini karena terkait dengan dengan kualitas daya yang akan dihantarkan kepada konsumen serta membuka potensi pendapatan bagi Perusahaan Listrik Negara (PLN) karena rugi-rugi yang terjadi di jaringan akan mengurangi potensi penjualan oleh PLN. Dalam tugas akhir ini penulis akan melakukan analisis dan usaha perbaikan susut energi pada salah satu penyulang di wilayah Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) Wangon yaitu penyulang Rawalo 01dengan menggunakan software ETAP 7.0.0. Berdasarkan hasil analisis dan simulasi menggunakan ETAP 7.0.0 dengan melakukan upgrading 1 fasa menjadi 3 fasa dan juga mengganti ukuran kabel saluran, maka terjadi penurunan rugi – rugi daya dari 252 kW menjadi 222 kW. Sedangkan persentase losses dari 5,6 % menjadi 4,98 %. Untuk susut energi terjadi penurunan dari 135395.971 kWh menjadi 119277.403 kWh. Dan besarnya kerugian secara ekonomi juga mengalami penurunan dari Rp. 186.440.252,3 menjadi Rp. 164.244.984,2.In a power system there is a factor called loss of power . This losses can be found in various places on the electric power grid , from generation, transmission , distribution to the consumer . Based on information from PT . PLN ( Persero ) , most of the electrical energy losses occures in the distribution network. Therefore losses in the network system need to be considered more carefully . Depreciation become an important discussion at this point as it relates to the quality of power that will be delivered to consumers as well as opening up the potential revenue for the State Electricity Company ( PLN ) because losses that occur in the network will reduce the potential sales by PLN . In this thesis the author will analyze and repair the energy losses in Rawalo 01 feeder the on region of UPJ Wangon feeder with a simulation using ETAP software 7.0.0 . Based on the analysis and simulation using ETAP 7.0.0 by upgrading 1 phase to 3 phase and also change the size of the cable chanel , result on losses in this power from 252 kW decreased to 222 kW. While the percentage losses decrease from 5.6 % to 4.98 % . In this case the energy losses from 135.395,971 kWh decrease to 119.277,403 kWh, and amount of economic losses also decreased from Rp 186.440.252,3 to Rp 164.244.984,2 .
71478240D1E009258EVALUASI KECUKUPAN PROTEIN DAN ENERGI PAKAN YANG BERBEDA DITINJAU DARI KADAR TRIGLISERIDA DARAH DAN LEMAK HATI ITIK MANILA PERIODE GROWERPenelitian ini berjudul evaluasi kecukupan protein dan energi pakan yang berbeda ditinjau dari kadar trigliserida darah dan lemak hati itik manila.Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan, yaitu R1 : protein 13% + Energi Metabolis 2.300 kcal/kg, R2: protein 15% + Energi Metabolis 2.500 kcal/kg, R3: protein 17% + Energi Metabolis 2.700 kcal/kg, R4: protein 19% + Energi Metabolis 2.900 kcal/kg, R5: protein 21% + Energi Metabolis 3.100 kcal/kg. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan uji lanjut menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ).Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyataterhadap kadar trigliserida darah itik manila dan pada uji lanjut R1 berbeda tidak nyata dengan semua perlakuan sedangkan R5berbeda nyata dengan perlakuan R2, R3 dan R4. Pada lemak hati, hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh.Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi protein dan energi dalampakan semakin tinggi kadar Trigliserida darahnya, akan tetapi lemak hatinya relatif sama pada itik manila periode grower. This reasearch title is evaluation of differences feed protein and energy adequacy toward triglycerides blood level and fatty liver in growing periode manila ducks. Research method was experimental, used completely random design (CRD)with 5 treatment and 5 repetition,R1 : protein 13% + metabolic energy 2.300 kcal/kg, R2: protein 15% + metabolic energy 2.500 kcal/kg, R3: protein 17% + metabolic energy 2.700 kcal/kg, R4: protein 19% + metabolic energy 2.900 kcal/kg, R5: protein 21% + metabolic energy 3.100 kcal/kg. The data was analyzed using Analysis of Variance with a further test of Honestly Significant Difference (BNJ).Research result showed that treatment was significant towards tryglicerides blood level in manila ducks and at further test R1 not significant with all treatment meanwhile R5significant with R2, R3 dan R4. At fatty liver, research result showed that the treatmeant towards fatty liver is not significant.Conclusion of this research was The higher protein and energyin feed the higher blood triglyceride level, however fatty acid relatively same in growing periode manila ducks.
71488241C1J009036IDENTIFIKASI SEKTOR POTENSI DI KABUPATEN WONOSOBOITujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui sektor-sektor basis dan non basis setiap kecamatan di Kabupaten Wonosobo. Menganalisis sektor ekonomi yang potensial setiap kecamatan di Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini menggunakan alat analisis Location quotient (LQ), Model rasio Pertumbuhan (MRP), Overlay.
Berdasarkan hasil analisis Location quotient (LQ) Sektor pertanian menjadi sektor basis di Kec. Wadaslintang, Kepil, Kalibawang, Kaliwiro, leksono, Sukoharjo, Kalikajar, Watumalang, Mojotengah, Garung, Kejajar. Sektor pertambangan, penggalian menjadi sektor basis di Kec. Selomerto, Kertek, Watumalang, Mojotengah, Garung. Sektor industri pengolahan menjadi sektor basis di Kec. Sapuran, Kalikajar, Kertek, Wonosobo. Sektor Listrik, Gas, Air bersih menjadi sektor basis di Kec. Kepil, Kaliwiro, Leksono, Selomerto, Wonosobo, Watumalang, Garung. Sektor Bangunan menjadi sektor basis di Kec. Wadaslintang, Kepil, Kalibawang, Selomerto, Watumalang, Mojotengah, Garung. Sektor Perdagangan, Hotel, Restoran menjadi sektor basis di Kec. Selomerto, Kertek, Wonosobo, Garung. Sektor Angkutan, Komunikasi menjadi sektor basis di Kec. Wadaslintang, Kaliwiro, Leksono, Selomerto, Kertek,Wonosobo, Mojotengah, Kejajar. Sektor Bank, Lembaga Keuangan, Persewaan, Jasa perusahaan menjadi sektor basis di Kec. Wonosobo, Kepil, Garung. Sektor Jasa-jasa menjadi sektor basis di Kec. Kepil, Garung, Kalibawang, Kaliwiro, Wonosobo, Mojotengah, Selomerto, Leksono, Watumalang.
Berdasarkan analisis MRP dan Overlay. Sektor pertanian menjadi sektor potensi dan layak dikembangkan di Kec. Wadaslintang, Kaliwiro, leksono, Sukoharjo, Garung, Watumalang. Sektor pertambangan, penggalian potensial di Kec. Selomerto, Kertek, Mojotengah, Garung. Sektor industri pengolahan potensial di Kec. Kalikajar, Kertek. Sektor Listrik, Gas, Air bersih tidak menjadi sektor potensi di seluruh Kecamatan. Sektor Bangunan menjadi sektor potensi di Kec. Kepil, Selomerto, Mojotengah. Sektor Perdagangan, Hotel, Restoran menjadi sektor potensi di Kec. Selomerto, Kertek, Garung. Sektor Angkutan, Komunikasi potensial di Kec. Wadaslintang, Kaliwiro, Selomerto, Kertek, Wonosobo. Sektor Bank, Lemb. Keu, Persewaan, Jasa perusahaan potensial di Kec. Wonosobo, Garung. Sektor Jasa-jasa menjadi sektor potensi di Kec. Kalikajar, Wonosobo.
Implikasi dari penelitian ini adalah Pemerintah Kabupaten Wonosobo sebaiknya memperhatikan sektor apa saja yang menjadi basis dan non basis di masing-masing kecamatan, agar selanjutnya. Sektor basis diharapkan akan merangsang pertumbuhan sektor non basis sehingga menjadi sektor potensial yang pada akhirnya semua sektor ekonomi bersama-sama meningkatkan pertumbuhan, meningkatkan kesempatan kerja atau menciptakan lapangan kerja baru di masing-masing kecamatan khususnya, dan Kabupaten Wonosobo pada umumnya. Pemerintah memperhatikan sektor pertanian sebagai sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB, namun laju pertumbuhannya lambat. Pemerintah dapat memberikan subsidi bibit unggul untuk dapat meningkatkan hasil panennya, permasalah banyak lahan yang rusak (longsor, kurang subur) pemerintah dapat memberi perhatian melaui penyuluhan dan pembinaan konservasi lahan kepada masyarakat.
Research Purpose to find out the basis and non basis sector in each sub district in Wonosobo Regency, then to find out the potential economic sector in all of the sub districts in Wonosobo Regency. This research use method of Location Quotient, Analysis of Growth Ratio Model (GRM), Overlay analysis.
Based on the calculation of analysis method of Location Quotient Agriculture sector become the basis sector in Wadaslintang, Kepil, Kalibawang, Kaliwiro, leksono, Sukoharjo, Kalikajar, Watumalang, Mojotengah, Garung, Kejajar sub district. Mining and digging sector become the basis sector in Selomerto, Kertek,Watumalang,Mojotengah, Garung sub district. Processing Industry become the basis sector in Sapuran, Kalikajar, Kertek, Wonosobo sub district. Electricity, gas, and clean water sector become the basis sector in Kepil, Kaliwiro, Leksono, Selomerto, Wonosobo, Watumalang, Garung sub district. Building sector become the basis sector in the sub regency of Wadaslintang, Kepil, Kalibawang, Selomerto, Watumalang, Mojotengah, Garung sub district. Trading, Hotel and Restaurant sector become the basis sector in Selomerto, Kertek, Wonosobo, Garung sub district. Transportation and communication sector become the basis sector in Wadaslintang, Kaliwiro, Leksono, Selomerto, Kertek, Wonosobo, Mojotengah, Kejajar sub district. Bank, Financial Agency, Rental and Company Services become the basis sector in Wonosobo, Kepil, Garung sub district. Services sector become the basis sector in Kepil, Garung, Kalibawang, Kaliwiro, Wonosobo, Mojotengah, Selomerto, Leksono, Watumalang sub district.
Based on the calculation of analysis method of Growth Ratio Model and Overlay Agriculture sector become the potential sector and worth to be developed either from the growth and contribution in Wadaslintang, Kaliwiro, Leksono, Sukoharjo, Garung, Watumalang sub district. Mining and digging sector become the potential sector either from the growth and contribution in Selomerto, Kertek, Mojotengah, Garung sub district. Processing industry become a good potential sector either from the growth or contribution in Kalikajar,Kertek sub district. Electricity, gas and clean water become an unpotential sector either from the growth or the contribution in all the sub district. Building sector became the potential sector either from the growth or the contribution in Kepil, Selomerto, Mojotengah sub regency. Trading, Hotel and Restaurant sector become a potential sector either from the growth or contribution in Selomerto, Kertek, Garung sub district. Transportation and communication sector become a potential sector either from the growth or the contribution in Wadaslintang, Kaliwiro,Selomerto, Kertek, Wonosobo sub district. Bank, Financial Agency, Rental and Company services become a potential sector either from the growth or the contribution in Wonosobo, Garung sub district. Services sector became a potential sector either from the growth or the contribution in Kalikajar, Wonosobo sub district.
Implication from this research Wonosobo Regency government should pay attention to the base and non-base sector in each district. Because basis sector is expected to stimulate the growth of the non-basis, so that it becomes a potential sector that ultimately all economic sectors are simultaneously improving their growth, increasing employment or create new jobs in their respective districts in particular, and Wonosobo Regency in general.
Government needs to pay attention to agricultural sector as a sector that contributes most to the GDP, but the growth rate is slow. The government can provide subsidies for seeds can increase crop yields. Government can pay attention on land damaged (landslides, infertile) and to the training and development through land conservation to the public.

Key Word : Potential Sectors, Location Quotient, method of Growth Ratio Model Overlay
71498242C1B010063ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP
TINGKAT RASIO KREDIT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh CAR, NPL, NIM, dan GWM pada tingkat rasio kredit bank khususnya Loan to Deposit Ratio (LDR) pada Bank BPD Indonesia yang sedang mengalami tingkat Rasio Kredit (LDR) yang tidak sehatselama lima tahun belakangan ini. Penelitian ini menggunakan laporan keuangan dari masing-masing Bank BPD, dimana terdapat enam belas Bank BPDyang memenuhi criteria sampel selama tahun 2008-2012.
Teknik analisis yang digunakan analisis regresi berganda dengan data panel dan model yang digunakan Fix Effects. Hipotesis pengujian menggunakan t statistik uji dengan tingkat α dari 5 persen khususnya dan dianalisis dengan regresi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa CAR dan NPL memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rasio kredit dibandingkan dengan NIM dan GWM tidak berpengaruh signifikan terhadap rasio kredit.
This study aims to determine how much influence the CAR, NPL, NIM, and the reserve requirement ratio at the level of bank credit in particular Loan to Deposit Ratio (LDR) at BPD Bank Indonesia is currently experiencing the level of Credit Ratio (LDR) is not healthy for the past five years . This study uses the financial statements of each of the BPD, where there are sixteen BPD samples that meet the criteria for the year 2008-2012.
The technique of analysis used multiple regression analysis with panel data and models used Fix Effects. Hypothesis testing using t test statistics with α level of 5 percent in particular and analyzed by regression. The results showed that the CAR and NPL have a significant effect on credit ratios compared with NIM and reserve requirement ratios no significant effect on credit.
71508243E1A010168PENERAPAN PERATURAN BANK INDONESIA No. 7/7/PBI/2005jo No. 10/10/PBI/2008 TENTANG PENYELESAIAN PENGADUAN NASABAH PADA PT. BNI PERSERO (Tbk) CABANG PURWOKERTOPeraturan Bank Indonesia Nomor: 7/7/PBI/2005 dan diperbaharui atau diubah menjadi Peraturan Bank Indonesia Nomor: 10/10/PBI/2008 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah sebagai bentuk perlindungan nasabah mengenai pengaduan nasabah. Oleh karena itu setiap bank wajib menerapkan PBI tersebut, termasuk PT. Bank Negara Indonesia Persero (tbk) Cabang Purwokerto
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan PBI No. 7/7/PBI/2005 jo No.10/10/PBI/2008 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah pada PT. Bank Negara Indonesia Persero (tbk) Cabang Purwokerto.
Metode penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif menggunakan data sekunder kepustakaan dari berbagai sumber bacaan seperti peraturan perundang-undangan, buku-buku, majalah, dan internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalam skripsi ini dan data primer sebagai data pendukung. Metode penyajian data adalah uraian sistematis dan metode analisis data ialah nomatif kualitatif
Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Purwokerto telah melaksanakan semua kewajiban yang terdapat pada PBI ini, menyelesaikan setiap pengaduan, dan dalam hal pengaduan tertulis membagi dua yaitu pengaduan secara tertulis dan pengaduan melalui media massa, serta membuat SOP atau Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) tersendiri pada ATM. Berkaitan dengan pelaporan ke Bank Indonesia dan sanksi terhadap pelanggaran PBI tersebut dalam Buku Pedoman Penyelesaian pengaduan Nasabah (BPPPN) belum mengikuti pembaharuan pada PBI No 10/10/2008 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah, namun tidak mengurangi terhadap pelaksaannya.
Bank Indonesia Regulation Number : 7/7/PBI/2005 and updated or changed to Bank Indonesia Regulation Number : 10/10/PBI/2008 on Resolving Customer Complaints as a form of customer protection regarding customer complaints . Therefore, each bank is required to apply the Regulation , including PT . Bank Negara Indonesia Persero ( tbk ) Branch Purwokerto
The purpose of this study was to determine how the implementation of PBI . 7/7/PBI/2005 jo No.10/10/PBI/2008 on Resolving Customer Complaints on PT . Bank Negara Indonesia Persero ( tbk ) Branch Purwokerto .
Normative research methods , descriptive literature using secondary data from various sources such as the passage of legislation , books , magazines , and the internet are considered relevant to the issues to be discussed in this thesis author and primary data as supporting data . Method of data presentation is systematic description and method of qualitative data analysis is nomatif
From the research data showed that PT . Bank Negara Indonesia ( Persero ) Tbk . Navan Branch has implemented all obligations contained in this regulation , resolve any complaints , and in the case of a written complaint that divides two written complaints and complaints through the mass media , as well as create or SOP Implementation Guidelines ( Guidelines ) separate the ATM . In connection with reporting to Bank Indonesia and sanctions for violations of the PBI in the Settlement Manual Customer complaints ( BPPPN ) have not been following the renewal of the Regulation No. 10/10/2008 regarding Resolving Customer Complaints , however, does not mitigate against the implementation is .


Keywords : Customer Complaint, PT . Bank Negara Indonesia ( Persero ) Tbk, PBI No. 07/07/2005 Jo PBI No. 10/10/2008
715111561F1G011016Penggunaan Makian dalam Bahasa Sunda di Kecamatan DayeuhluhurBahasa Sunda di Dayeuhluhur digunakan oleh masyarakatnya sebagai sarana untuk berkomunikasi. Tujuan dari komunikasi adalah untuk membina kerja sama yang baik antar masyarakat, namun tidak jarang dalam proses tersebut timbul hal-hal yang tidak mengenakkan perasaan yang dapat memicu emosi tertentu. Pada kondisi seperti ini masyarakat menggunakan bentuk makian sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaannya. Makian merupakan bentuk bahasa baik berupa kata, frase, maupun klausa yang bersifat kasar, dan sebenarnya tidak senonoh dalam suatu masyarakat. Penelitian terhadap fenomena penggunaan makian oleh masyarakat penting untuk dilakukan guna mengetahui bagaimana masyarakat pemakai bahasa menggunakan bahasa sebagai alat ekspresi perasaan atau pemikirannya terhadap situasi tertentu di lingkungannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan kategori makian dalam bahasa Sunda di Kecamatan Dayeuhluhur serta untuk mengetahui fungsi dari penggunaan makian tersebut. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan dua metode pengumpulan data, yaitu metode simak, dengan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan simak libat cakap, simak bebas libat cakap, catat, rekam, serta metode introspeksi. Untuk analisis data digunakan metode padan dengan teknik dasar pilah unsur penentu dan teknik lanjutan hubung banding membedakan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga bentuk makian dalam bahasa Sunda di Kecamatan Dayeuhluhur, yaitu makian berbentuk kata, frase, dan klausa, serta terdapat tujuh kategori makian, yaitu kategori nomina, adjektiva, verba, kata keadaan, frase adjektival, klausa adjektival, dan klausa keadaan. Dilihat dari segi fungsi makian dalam bahasa Sunda di Kecamatan Dayeuhluhur, terdapat delapan fungsi penggunaan makian yaitu untuk mengungkapkan rasa kecewa, untuk mengungkapkan rasa kesal, untuk mengungkapkan rasa marah, untuk mengutuk, untuk mengejek, untuk mengungkapkan penghinaan, untuk menunjukkan keakraban, dan untuk mengungkapkan pujian.In Dayeuhluhur, people use Sundanese as a means of communication. Communication aims to result in a good cooperation between them. However, during the process, it commonly leads to uncomfortable feelings that trigger some particular emotional conditions. In these conditions, people use some invective forms to express their feelings. Invective is a form of language (words, phrases, or clauses) which is in fact abusive and obscene in society. Research on the use of invective is important to be conducted to know the phenomena on how people use language as a means to express their feelings or thoughts to certain situations in their environment. The purposes of this study were to figure out forms and categories of Sundanese invective and then to determine their functions in Dayeuhluhur sub-district. The type of this research is a descriptive qualitative. This study used two methods of data collection: attentive listening which refers to basic technique of tapping and advance techniques of attentive listening while talking, free listening while talking, note taking, recording, and introspection method. The data analysis was conducted by using a method of matching with the basic technique of classification on particular elements and the advance technique of correlative-comparative differentiation. The results showed that in Dayeuhluhur sub-district there were three forms of Sundanese invective: in the form of words, phrases, and clauses; seven categories: category of nouns, adjectives, verbs, adverbs, adjective phrases, adjective clauses, and adverb clauses; and eight functions: to express disappointment, vexation, anger, condemnation, mockery, humiliation, intimacy, and compliment.
71528244C1B010117PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DAN KEPRIBADIAN
SEBAGAI PREDIKTOR KOMPONEN KOMITMEN ORGANISASI
(Studi pada Karyawan PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap)
Penelitian ini merupakan penelitian survei pada karyawan dari Holcim
Indonesia Cilacap Plant. Penelitian ini mengambil judul: “Perceived
Organizational Support dan Kepribadian Sebagai Prediktor Komponen Komitmen
Organisasi (Studi pada Karyawan Holcim Indonesia Cilacap Plant)”. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Perceived Organizational
Support dan Kepribadian (karakteristik kepribadian Tipe A dan Tipe B) terhadap
Komponen Komitmen Organisasi (afektif, normatif, dan kontinyu/berkelanjutan).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Holcim Indonesia Cilacap
Plant sebanyak 557 orang. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini
adalah 165 responden. Accidental sampling method digunakan dalam penentuan
responden. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan
SEM (Structural Equation Modelling) menunjukkan bahwa: (1) Perceived
Organizational Support berpengaruh positif terhadap komitmen afektif, (2)
Perceived Organizational Support berpengaruh positif terhadap komitmen
normatif, (3) Perceived Organizational Support tidak berpengaruh negatif
terhadap komitmen berkelanjutan, (4) Kepribadian Tipe A tidak mempunyai
pengaruh terhadap komitmen afektif, normatif dan berkelanjutan, (5) Kepribadian
Tipe B mempunyai pengaruh terhadap komitmen afektif dan normatif, dan tidak
mempunyai pengaruh terhadap komitmen berkelanjutan.
Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu pihak Holcim Indonesia Cilacap
Plant hendaknya terus mempertahankan atau mengembangkan berbagai dukungan kepada karyawannya agar karyawan semakin melekatkan keanggotaannya pada
perusahaan. Selain dukungan materiil, sebaiknya disertai dengan dukungan moril
seperti memberikan kepercayaan kepada karyawan dalam bekerja. Selain itu para
pemimpin Holcim Indonesia Cilacap Plant diharapkan untuk bersikap fleksibel,
rendah hati, dan bersedia menerima masukan maupun kritik terhadap strategi
perusahaan dari semua tingkatan karyawan. Hal-hal tersebut membuat karyawan
merasa dibutuhkan dan dihargai oleh perusahaan serta dapat memotivasi
karyawan untuk lebih mengabdikan diri kepada perusahaan. Pihak Holcim
Indonesia Cilacap Plant dalam hal ini HRBP Department diharapkan dapat
menempatkan karyawan dengan baik sesuai jobdesk. Dimana kepribadian tipe A
lebih cocok untuk departemen yang membutuhkan kerja cepat, sigap, dan tepat
(Fire, Quarry, Accounting, dan Production dept.) atau tipe B lebih cocok untuk
departemen yang aktivitasnya lebih teratur dan ringan, bagian administrasi atau
bukan di lapangan (HRBP, OHS, Comrel, HA, EVE dept.) agar karyawan dapat
merasa nyaman dengan pekerjaan dan perusahaannya. Hal tersebut yang
diharapkan dapat meningkatkan komitmen karyawan terhadap pekerjaan dan
perusahaan.
This study is a survey of the employees of Holcim Indonesia Cilacap Plant.
This study takes the title: “Perceived Organizational Support and Personality as
Predictors of Organizational Commitment Components (Study on Holcim
Indonesia Cilacap Plant)”. The purpose of this study was to determine the effect
of Perceived Organizational Support and Personality (personality characteristics
of Type A and Type B) on three components of Organizational Commitment
(affective, normative, and continuous). The population in this study were all
employees of Holcim Indonesia Cilacap Plant as many as 557 people. The
number of respondents who were taken in this study was 165 respondents.
Accidental sampling method used in the determination of the respondent. Based
on the research and analysis of data by using SEM (Structural Equation
Modeling) show that: (1) Perceived Organizational Support positive effect on
affective commitment, (2) Perceived Organizational Support positive effect on
normative commitment, (3) Perceived Organizational Support no negative effect
the continuous commitment, (4) Type A personality does not have an influence on
affective commitment, normative and continuous, (5) Personality Type B has an
influence on affective and normative commitment, and has no effect on continuous
commitment.
The implications of the above conclusion, Holcim Indonesia Cilacap Plant
should continue to maintain or develop a range of support to its employees so that
employees at the company’s membership is increasingly embedding. In addition to material support, should be accompanied with moral support as giving
credence to the employees in the work. Besides the leaders of the Holcim
Indonesia Cilacap Plant is expected to be flexible, humble, and willing to accept
feedback and criticism of corporate strategy of all levels of employees. These
things make employees feel needed and valued by the company and can motivate
employees to be more devoted to the company. Holcim Indonesia Cilacap Plant
HRBP Department in this regard is expected to place employees with appropriate
jobdesk well. Where the type A personality is more suited for departments that
need work fast, swift, and precise (Fire, Quarry, Accounting, and Production
dept.) Or type B is more suitable for departments whose activities are more
regular and lighter, not the administration or in the field ( HRBP, OHS, Comrel,
HA, EVE dept.) so that employees can feel comfortable with the job and the
company. It is expected to increase the commitment of employees to the job and
the company.
715310262P2FB10016RESTRUKTURISASI ORGANISASI PERANGKAT DAERAH BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 41 TAHUN 2007 DI KABUPATEN BANYUMAS (STUDI PADA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA)
Pelaksanaan otonomi daerah mengharapkan bahwa setiap kabupaten/kota tidak tergantung pada pemerintah pusat, tetapi daerah dapat hidup mandiri. Kemandirian suatu daerah tidaklah mudah, namun satu hal yang perlu dipikirkan ialah bagaimana daerah itu menyusun organisasi perangkat daerah yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan daerah sehingga dapat tercipta struktur yang efektif dan efisien, dimana struktur tersebut diharapkan dapat menampung cakupan kerja yang luas serta beban kerja yang tinggi. Ternyata cukup banyak daerah yang mengalami kesulitan dalam mengelola daerahnya sendiri sehingga pelaksanaannya tidak berjalan secara efektif dan efisien. Menghadapi kenyataan ini maka penelitian tentang Restrukturisasi Organisasi Perangkat Daerah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 di Kabupaten Banyumas (Studi Pada Satuan Polisi Pamong Praja) menjadi lebih menarik dan menantang untuk dilakukan. Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk melihat apakah di Satpol PP terjadi perubahan struktur, orang/personal, tata kerja dan peralatan kerja.
Penelitian ini mengacu pada teori birokrasi, dimana birokrasi memiliki sejumlah makna, diantaranya adalah pemerintahan yang dijalankan oleh suatu biro yang biasanya disebut dengan officialism, badan eksekutif pemerintah (the executive organs of government); dan keseluruhan pejabat publik (public officials), baik itu pejabat tingkat tinggi ataupun rendah. Namun karakteritik umum yang melekat pada birokrasi dari ketiga makna tersebut adalah keberadaannya sebagai suatu lembaga pemerintah. Makna birokrasi sebagai lembaga pemerintah muncul karena lembaga pemerintah pada umumnya selalu berbentuk birokrasi. Skala organisasi pemerintah yang besar dan luas cakupannya mendorong mereka untuk memiliki birokrasi yang memiliki karakteristik sebagai birokrasi Weberian. Birokrasi menurut Weber adalah organisasi yang dapat digunakan sebagai pendekatan efektif untuk mengontrol pekerjaan manusia, sehingga dapat mencapai sasarannya, karena organisasi birokrasi punya struktur yang jelas tentang kekuasaan dan orang yang mempunyai kekuasaan mempunyai pengaruh sehingga dapat memberi perintah untuk mendistribusikan tugas kepada orang lain.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dalam memilih dan menentukan informan maka peneliti mengacu pada teknik purposive, di mana peneliti memilih informan yang dianggap tahu (key informant). Penelitian difokuskan pada empat aspek yaitu terkait perubahan struktur, perubahan tatakerja, perubahan orang dan perubahan peralatan kerja. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa kualitatif deskriptif dengan model interaktif.
Hasil penelitian diketahui bahwa restrukturisasi Satpol PP Kabupaten Banyumas dilakukan dengan fokus pada empat aspek. Pertama, merubah struktur ternyata ada perubahan yaitu walaupun Kasat sebagai pemimpin tertinggi yakni sebagai pemegang komando dan pengendali utama dalam instansi, ternyata dalam melaksanakan perintah dapat menghormati dan menghargai bawahan sebagai pelaksana langsung. Dalam hal ini rentang kontrol dilakukan oleh atasan langsung ke pelaksana dengan perlakuan yang lebih manusiawi, sehingga bawahan dalam mengerjakan tugas merasa lebih nyaman dan tidak meresa dalam tekanan. Kondisi ini yang membuat atmosfir di Satpol PP menjadi lebih dinamis.
Perubahan kedua, terkait dengan merubah tatakerja yang dilakukan melalui penertiban pelaksanaan tugas dengan mendasarkan pada SOP yang berlaku. Namun demikian masih ada beberapa kelemahan pelaksanaan tata kerja terutama pelanggaran disiplin pegawai yaitu keterlambatan pada saat apel pagi. Perubahan ketiga terkait dengan merubah orang, yaitu dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan SDM di Satpol PP Kabupaten Banyumas. Sampai saat ini Satpol PP masih kekurangan personil, baik dari kuantitas maupun kualitas. Diklat yang diikuti oleh pegawaipun masih terbatas dan tidak mampu dilakukan secara rutin oleh pegawai teknis. Perubahan keempat terkait dengan merubah peralatan kerja, yaitu kondisi yang ada saat ini masih kekurangan peralatan kerja sehingga memerlukan perubaan atau pengadaan alat kerja. Alat kerja yang dimaksud lebih bersifat teknis guna mendukung operasional keseharian tugas Satpol PP, baik peralatan individu maupun operasional seperti : baju lapangan lengkap dan kendaraan roda dua maupun roda empat.
With a broad scope of work and high workload, coupled with the risk of work, it is expected that municipal police have effective and efficient organizational structure. Although the scope of work only focused on three areas and two sections in each field, this was due to better adjust the region's ability to prepare a budget and personnel. The study reveal that the Banyumas municipal police restructuring done with a focus on four aspects. First, change the structure, not many changes were still adopting the previous structure with chaired by Kasat, and oversees the Secretariat as well as the three areas. Work system centered on Kasat by giving delegates to each head of corresponding duties respectively. Range of direct control by the leaders directly to the executive, which will eventually arrive at Kasat. The second change, associated with changing the work procedure is done through the control execution of tasks based on the applicable SOP. However, there were some shortcomings of work procedures especially violations discipline that delay during morning assembly. The third change associated with the change, namely by taking into account the conditions and needs of human resources in Banyumas municipal police. Until now still lacks municipal police personnel, both of quantity and quality. Training followed by personnel still limited and not able to be done routinely by technical employees. The fourth change related to change of work equipment, i.e. the conditions that exist today still lack equipment that requires changes in work or procurement of working tools. Work tool was more of a technical nature in order to support the daily operations municipal police duties, both individual and operational equipment such as vehicles and other.
715410263G1D010042Hubungan antara Persepsi Mahasiswa tentang Kualitas Fasilitator dengan Partisipasi Mahasiswa dalam Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di Jurusan KeperawatanLatar belakang: Problem Based Learning (PBL) merupakan metode pembelajaran dalam pola Student Centered Learning (SCL). PBL dibangun atas empat prinsip pembelajaran, pembelajaran konstruktif, mandiri, kontekstual dan kolaboratif. Mahasiswa dalam kegiatan PBL diharapkan berpartisipasi aktif untuk mencapai keempat prinsip tersebut. Fasilitator sebagai elemen penting dalam PBL memiliki peran menstimulasi mahasiswa untuk melaksanakan pembelajaran.
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara persepsi mahasiswa terhadap kualitas fasilitator dengan partisipasi mahasiswa di Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman dalam metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Metode Penelitian: Jenis penelitian adalah kuantitatif non-eksperimental dengan desain analitik korelasi dan menggunakan pendekatan Cross sectional. Pengambilan sampel dengan cara total sampling dengan responden 160 mahasiswa. Penilaian kualitas fasilitator menggunakan kuesioner penilaian kinerja fasilitator yang dimodifikasi dari Dolmans et al. Sementara itu, penilaian partisipasi mahasiswa menggunkan kuisioner yang diambil dari indikator-indikator penilaian pelaksanaan PBL yang dibuat oleh Romauli et al. Analisa data univariat dan bivariat. Analisa bivariat menggunakan Spearman Rank.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian univariat mayoritas mahasiswa mempersepsikan kualitas fasilitator berada pada kategori sedang dengan 127 responden (79,4%) begitu juga untuk partisipasi mahasiswa mayoritas mahasiswa berada pada kategori sedang dengan 120 responden (75,0%). Sementara itu, hasil penelitian menggunakan Spearman Rank menunjukan koefisien korelasi (r = 0,379) dan nilai signifikansi p = 0,000. Hasil tersebut menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara kualitas fasilitator dengan partisipasi mahasiswa.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kualitas fasilitator dengan partisipasi mahasiswa dalam PBL.
Background: Problem-Based Learning (PBL) is one of the learning methods in Student-Centered Learning activity. This learning method is constructed on four teaching principles, which are constructive, independent, contextual, and collaborative learnings. In PBL activity, students should actively participate to attain these four principles; and facilitators, as the important element of PBL, should encourage the students during the PBL activity.
Purpose: To examine the correlation between student’s perception of facilitators’ quality and participation in problem-based learning
Method: This is a non-experimental quantitative research using correlational design and cross sectional approach. A total of 160 students were participated in the study. The quality of the facilitators’ stimulation is evaluated using facilitators’ performance questionnaire which is modified from of Dolmans et al and the students’ participation is evaluated using questionnaire adapted from assessment indicators of PBL implementation by Romauli et al. The data was analysed using univariat and bivariat (Spearman Rank) statistical method.
Result: Majority of student (79.4%) perceived that facilitators had a moderate quality of stimulation. Majority of student (75%) were on moderate level of participation in PBL. Spearman Rank test demonstrate a significant correlation correlation between facilitator’s quality and students’ participation (r=0,379; p=0,000).
Conclusion: Between the Students perception of facilitators’ quality correlated to students’ participation in PBL.
715510948C1B011016REAKSI PASAR MODAL TERHADAP PERISTIWA PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DI INDONESIA
(STUDI PADA SAHAM YANG TERDAFTAR DALAM INDEX LQ-45)
Penelitian ini berjudul "Reaksi Pasar Modal terhadap Pemilu Presiden Indonesia pada tahun 2014". Dalam penelitian ini, objek yang dianalisis adalah saham perusahaan yang terdaftar di indeks LQ-45, dan dianalisis dengan menggunakan metode event study. Variabel yang digunakan untuk mengukur reaksi pasar modal adalah rata-rata Abnormal Return (AAR) dan rata-rata Trading Volume Activity (ATVA). Kemudian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan reaksi investor terhadap hasil yang diumumkan oleh Quick Count dan Komisi Pemilihan Umum. Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah One Sample T-Test dan Paired Sample T-Test dengan asumsi normalitas. Dari One Sample T-Test, diketahui bahwa terdapat AAR yang signifikan di sekitar tanggal pengumuman Quick Count maupun Komisi Pemilihan Umum. Di sisi lain, dalam paired sample T-Test, terdapat perbedaan AAR dan ATVA antara sebelum dan sesudah pengumuman Quick Count, sedangkan tidak terdapat perbedaan AAR dan ATVA antara sebelum dan sesudah pengumuman dari Komisi Pemilihan Umum.This research is entitled “ The Reaction of Stock Market toward the Indonesian Presidential Election in 2014”. In this research, the objects analyzed were the stocks of companies listed in Index LQ-45, and they were analyzed by using the event study method. The variables which were used to measure the reaction of the stock market were Average Abnormal Return (AAR) and Average Trading Volume Activity (ATVA). Then, the aim of this study is to compare the reactions of investors to the results announced by Quick Count and General Elections Commission. In this research, the techniques of data analysis used were One Sample T-Test and paired Sample T-Test with a normality assumption. From the One Sample T-Test, it is known that there is a significance of AAR happened around the announcement dates of both Quick Count and General Elections Commission. In other hand, in Paired sample T-Test, there are differences of AAR and ATVA both before and after the announcement of Quick Count, and there is no difference of AAR and ATVA before and after the announcement coming from General Elections Commission.
715611240D1E011025RESPON LEUKOSIT DAN EOSINOFIL PADA KELINCI SETELAH UJI TANTANG Eimeria stiedaiPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah leukosit dan eosinofil pada kelinci yang di infeksi dengan berbagai dosis dan di uji tantang Eimeria stiedai serta mengetahui pengaruh dosis infeksi terhadap jumlah leukosit dan eosinofil pada kelinci setelah uji tantang Eimeria stiedai. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang di uji coba yaitu D0 : Infeksi 0 (kontrol infeksi dan tanpa uji tantang), D1 : Infeksi 101 dengan uji tantang 103, D2 : infeksi 102 dengan uji tantang 103, D3 : infeksi 103 dengan uji tantang 103, D4 : infeksi 0 (kontrol infeksi dengan uji tantang 103). Data di analisis menggunakan analisis variansi dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) jika hasil berpengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ada pengaruh terhadap peningkatan jumlah leukosit dan eosinofil tetapi tidak nyata (P>0,05). Nilai rataan menunjukkan bahwa perlakuan D0, D1, D2, D3 dan D4, terjadi peningkatan dan penurunan leukosit dan eosinofil tetapi masih dalam kisaran normal atau berpengaruh tetapi tidak nyata (P>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Jumlah leukosit dan eosinofil pada berbagai dosis infeksi setelah uji tantang menunjukkan tidak ada pengaruh peningkatan jumlah leukosit dan eosinofil yang signifikan dan berpengaruh terhadap kemampuan tubuh kelinci mempertahankan jumlah leukosit dan eosinofil dalam jumlah normal.The purpose of this study was to know the number of leukocytes and eosinophils in rabbits after infected with various doses of Eimeria stiedai challenge test and determined the effect on the infectious doses leukocyte and eosinophil count in rabbits after Eimeria stiedai challenge test. The method used was experiment using completely random design (CRD) with five treatments, five repitition. The treatments tested consisted of D0: Infection 0 (control of infection without challenge test), D1: 101 Infection with 103 challenge test, D2: 102 infections with 103 challenge test, D3: 103 infections with the challenge test 103, D4: control of infection with 103 challenge test. The result were analyzed used analysis of variance followed by test Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that treatment was not significant on leukocytes and eosinophils (P>0.05). The average value indicates that the treatment D0, D1, D2, D3, D4 (P>0.05), the treatment given did not increase the number of leukocytes and eosinophils, the number of leukocytes and eosinophils are still within the normal range. The conclusion of this study was the number of leukocytes and eosinophils after challenge test range in normal amounts.
71578245C1A010120FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PREFERENSI KUNJUNGAN WISATAWAN DI PANCURAN TÉLU WANAWISATA BATURRADEN KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Preferensi
Kunjungan Wisatawan di Pancuran Télu Wanawisata Baturraden Kabupaten
Banyumas”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang
memengaruhi preferensi kunjungan wisatawan di Pancuran Télu Wanawisata
Baturraden. Populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung Pancuran Télu
Wanawisata Baturraden. Sampel yang diambil berjumlah 100 orang responden dan
ditentukan dengan teknik Accidental Sampling. Variabel yang diteliti yaitu biaya
wisata (X1), pendapatan (X2), jarak (X3), umur (X4), pengalaman berkunjung (X5),
sarana prasarana (X6), dan kebersihan (X7). Alat analisis yang digunakan di dalam
penelitian ini adalah regresi linier berganda. Uji asumsi klasik menggunakan uji
normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi disesuaikan
(adjusted R-Square) sebesar 0,660, Artinya bahwa biaya wisata, pendapatan, jarak,
umur, pengalaman berkunjung, sarana prasarana, dan kebersihan dari model regresi
dalam penelitian ini mampu menjelaskan variabel dependen yaitu preferensi
kunjungan sebesar 66,0 persen, sedangkan sisanya 33,0 persen dijelaskan oleh
variabel lain yang tidak diteliti. Berdasarkan hasil Uji F diketahui secara bersamasama
variabel biaya wisata, pendapatan, jarak, umur, pengalaman berkunjung, sarana
prasarana, dan kebersihan berpengaruh terhadap preferensi kunjungan wisatawan di
Wanawisata Baturraden Objek Wisata Pancuran Télu. Secara parsial dengan
menggunakan Uji t variabel biaya wisata, pendapatan, pengalaman berkunjung,
sarana prasarana, dan kebersihan berpengaruh signifikan terhadap preferensi
kunjungan wisatawan di Wanawisata Baturraden Objek Wisata Pancuran Télu,
sedangkan jarak dan umur tidak memiliki pengaruh yang signifikan.
This research is titled “Factors that affecting the tourist preference to visit Télu Waterfall, Baturraden Natural Tourism, Banyumas Regency”. The objectives of this research is to analyze the factors that affecting the tourist preference to visit Télu Waterfall, Baturraden Natural Tourism, Banyumas Regency. The population of this research are the Télu Waterfall visitors, Baturraden Natural Tourism. This research took a sample of 100 respondents and determined by Accidental Sampling. Research variabel are tourism cost (X1), income (X2), distance (X3), age (X4), experience of previous visit (X5), infrastructure (X6), and cleanliness (X7). Data analysis method that utilized is multiple linear regression. Classical assumption test used normally test, multicollinearity test, autocorrelation test, and heteroscedasticity test.
Research result shows that adjusted R-Square value is 0.660. It means that 66.0 percent of the tourist preference (Y) can be explained by tourism cost (X1), income (X2), distance (X3), age (X4), experience of previous visit (X5), infrastructure (X6), and cleanliness (X7), and the others 33.0 percent can be explained by another variable that not include in this research. F test shows that tourism cost (X1), income (X2), distance (X3), age (X4), experience of previous visit (X5), infrastructure (X6), and cleanliness (X7) simultaniously have significant effect to tourist preference to visit Télu Waterfall, Baturraden Natural Tourism. Partially used t test, tourism cost, income, experience of previous visit, infrastructure, and cleanliness have significant effect to tourist preference to visit Télu Waterfall, Baturraden Natural Tourism. Whereas, distance and age do not have a significant effect to tourist preference to visit Télu Waterfall, Baturraden Natural Tourism.
71588246F1B010001KINERJA ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PEREMPUAN KABUPATEN BANYUMAS PERIODE 2009-2014Rendahnya keterwakilan perempuan dapat dilihat dari sedikitnya perempuan yang menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyumas. Melihat kondisi tersebut, maka penelitian ini mengkaji tentang kinerja anggota dewan perempuan di Kabupaten Banyumas dalam melaksanakan fungsi badan perwakilan ditinjau dari indikator masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat dan dampak, serta kendala yang dihadapi dalam menjalankan tugas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan model analisis interaktif. Teknik pengambilan informan menggunakan pusposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang telah dilakukan, peran perempuan dalam pengambilan keputusan dan kedudukannya dalam lembaga legislatif meskipun secara kuantitas bertambah, namun secara kualitas tidak banyak memberikan kontribusi nyata terhadap kondisi ketertindasan dan posisi marginal perempuan yang diwakilinya. Hal tersebut terjadi karena faktor kendala internal dan eksternal. Kendala internal yakni perempuan masih dijadikan pelengkap dari persyaratan konstitusi. Kemudian kendala eksternal yang dihadapi yakni beban mendasar yang dihadapi perempuan saat ini yakni tekanan struktural partai yang begitu membelit dihadapi kaum perempuan, serta kurangnya penekanan dari eksekutif untuk meningkatkan kinerja legislatif dalam upayanya turut serta mengatasi permasalahan perempuan di Banyumas.The low representation of women can be seen from a few number of women who are the member of Local House of Representative in Banyumas Regency. Seeing the condition, this research will focus on the performance of women as member of parliament in Banyumas Regency in carrying out the functions of representative of input, process, output, outcomes, benefit and impact indicator, as well as what the obstacles they face in carrying out the duty. This research used descriptive qualitative research method with interactive analysis model. informants retrieval technique used purposive sampling. Based on the field research that has been done, the role of women in decision-making and their position in legislature eventhough the quantity increase, but qualitatively they didn’t contribute significantly to the condition of oppressed and the marginalized position of women that they represent. This condition occurred because the internal and external constraints. The internal constraint in the process of women as member of Local House of Representative is women is still used as a complement to the requirements of the constitution. While the external constraint that is faced by them is fundamental burden in the form of party structural pressures, as well as the lack emphasis from The Executive to improve the performance of Legislature in its efforts to overcome the problem of women participation in Banyumas.
71598247C1C010060PENGARUH KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, PEMAHAMAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAH, DAN PENGENDALIAN INTERNAL TERHADAP KETERANDALAN PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
(Studi Empiris pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Purbalingga)
Penelitian ini merupakan studi empiris pada Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, pemahaman standar akuntansi pemerintah dan pengendalian internal terhadap keterandalan pelaporan keuangan pemerintah daerah. Sampel dalam penelitian ini adalah 38 SKPD dengan menggunakan purposive sampling. Metode pengumpulan data adalah dengan penyebaran kuisioner. Data yang diolah menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukan bahwa pemanfaatan teknologi informasi, pemahaman standar akuntansi pemerintah daerah, dan pengendalian internal berpengaruh terhadap keterandalan pelaporan keuangan pemerintah daerah, sedangkan kualitas sumber daya manusia tidak berpengaruh terhadap keterandalan pelaporan keuangan daerah.This research is an empirical study in Purbalingga Regency. This study aims to examine the effect of human resources, utilization of information technology, understanding SAP, and internal control to reability financial reporting. The number of this research sample is 38 samples by using purposive sampling. Data collection method used was questionnaire. Data obtained were processed using the technique of multiple regression analyze. The result of this research is showed that utilization of information technology, understanding SAP, and internal control is have significantly influence to reability of goverment financial reporting. A while quality of human resources is not have significantly influence to reability of goverment financial reporting.
71608248E1A109050PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PENGGELAPAN DALAM JABATAN
(Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Nomor : 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel.)
PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PENGGELAPAN DALAM JABATAN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Nomor : 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel.)
Latar belakang penulisan skripsi ini adalah penulis tertarik untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam membuktikan telah terjadi tindak pidana penggelapan dalam jabatan terhadap terdakwa dalam Putusan Nomor : 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel., Dari latar belakang masalah tersebut maka penulis merumuskan permasalahan : bagaimanakah pertimbangan hukum hakim dalam membuktikan telah terjadi tindak pidana penggelapan dalam jabatan dalam Putusan Nomor : 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel.? Serta alat bukti apa saja yang diperiksa oleh hakim dalam Putusan Nomor : 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel.?Tujuan penulisan skripsi ini, untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam membuktikan telah terjadi tindak pidana penggelapan dalam jabatan dalam Putusan Nomor : 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel. dan untuk mengetahui akibat hukum penjatuhan pidana terhadap terdakwa dalam Putusan Nomor : 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta kajian pustaka, maka dapat di simpulkan bahwa pertimbangan hukum hakim mendasarkan pada sekurang-kurangnya dua alat bukti. Dua alat bukti tersebut, berupa :
1) Alat bukti surat yakni : 1 (satu) lembar invoice I 01996 KLOTS; 1 (satu) lembar Sales Order KLOTS No. 01128 dengan total pembelian sebesar Rp. 9.645.000,- (sembilan jutaenam ratus empat puluh lima ribu rupiah); 1 (satu) lembar surat jalan KLOTS tertanggal 17 Januar i 2008; dan 2 (dua) lembar pembayaran kartu kredit VISA No. 43885760204136991 sebesar Rp. 4.000.000,- ;/.,
2) Alat bukti berupa keterangan terdakwa yang mengakui telah memakai uang perusahaan sebesar Rp.5.645.000,- (lima juta enam ratus empat puluh lima ribu rupiah) dari saksi Purnomo, dan tanpa sepengetahuan dari saksi Claudia Triariani Halim selaku pemilik PT. Prima Karya Cipta (KLOTS).Maka hakim berkeyakinan bahwa terdakwa (SELVIANA alias SEVI) terbukti bersalah melakukan Tindak Pidana Penggelapan Dalam Jabatan, memenuhi Pasal 374 KUHP dan dijatuhi dengan pidana selama 6 bulan penjara dengan masa percobaan selama 10 bulan. Alat bukti dalam Putusan Nomor : 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel., telah memenuhi syarat formal dan material sehingga alat bukti yang diajukan dan diperiksi oleh majelis hakim adalah sah, yakni beberapa alat bukti sesuai dengan Pasal 184 KUHAP berupa alat-alat bukti berupa keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa.

PROOF OF CRIME EMBEZZLEMENT IN POSITION
(Judicial Review Of Decision Number: 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel.)
The background of this thesis is a authors interested in knowing the legal reasoning of judges in proving the crime of embezzlement has occurred in the office of the defendant in Decision Number: 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel., From the background of the problem, the authors formulate the problem: how legal reasoning of judges in proving the crime of embezzlement has occurred in positions in Decision Number: 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel.? As well as any evidence examined by the judge in Decision Number: 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel.?
The purpose of this thesis, to determine the legal reasoning of judges in proving the crime of embezzlement has occurred in positions in Decision Number: 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel. and to know the result of the imposition of the criminal law against the defendant in Decision Number: 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel.
Based on the results of research and discussion and literature review, it can be concluded that the legal reasoning of judges based on at least two items of evidence. Two such evidence, in the form of:
1) Tool evidence letter namely: 1 (one) 01 996 invoices I KLOTS; 1 (one) Sales Order No. KLOTS. 01128 for a total purchase as big as Rp. 9.645 million, - (Nine million six hundred four twenty-five thousand rupiah); 1 (one) sheet letter KLOTS street dated January 17, 2008, and 2 (two) pieces payment card No VISA. 43885760204136991 of Rp. 4.000.000,-
2) Tool evidence form information defendant which recognizes already wear money company by Rp.5.645.000, - (five million six hundred four twenty-five thousand rupiah) of witness Purnomo, and without knowledge of Claudia witness Triariani Halim as owner of PT. Prima Karya Cipta (KLOTS).
Then the judge believes that the defendant (Selviana aka SEVI) found guilty of Embezzlement Crime In Position, comply with Article 374 of the Penal Code and sentenced to punishment with imprisonment for 6 months probation for 10 months.
Evidence in Decision Number: 499/Pid.B/2009/PN.Jkt.Sel., Has qualified so formal and material evidence submitted and examined by a panel of judges is valid, ie, some evidence in accordance with Section 184 Criminal Procedure Code in the form evidence such as witness testimony, letters and testimony of the defendant.

Keywords: Proof, Crime, Embezzlement in Position