Artikelilmiahs
Menampilkan 7.101-7.120 dari 48.886 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 7101 | 8224 | F1C007044 | FUNGSI MACAPATAN SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI TRADISIONAL DI DESA SOMAKATON KECAMATAN SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMAS | Kegiatan macapatan yang sampai sekarang ini masih “hidup” dalam masyarakat Jawa, merupakan salah satu indikasi bahwa macapatan tetap menjadi kebutuhan anggota masyarakat. Keberadaan macapatan merupakan media komunikasi bagi masyarakat pendukungnya agar dapat saling berinteraksi dan menambah wawasan mengenai kebudayaan Jawa, sehingga dapat dikatakan bahwa macapatan termasuk di dalam suatu ritual sosial yang pada dasarnya berfungsi untuk memelihara keutuhan suatu komunikasi dan merupakan suatu bentuk ekspresi budaya. Pada Era Globalisasi informasi seperti sekarang ini, kegiatan macapatan tetap memiliki fungsi-fungsi yang tidak dapat digantikan oleh keberadaan media massa baik cetak, elektronik, maupun teknologi informasi lainnya. Penelitian ini mencoba melihat Bagaimana fungsi macapatan sebagai media komunikasi tradisional bagi masyarakat Banyumas, khususnya di Desa Somakaton Kecamatan Somagede Banyumas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi macapatan sebagai media komunikasi tradisional bagi masyarakat Banyumas, khususnya di Desa Somakaton Kecamatan Somagede Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah anggota paguyuban macapatan, yang terdiri dari dua paguyuban yaitu Paguyuban Macapatan Pusporinonce yang memiliki anggota sebanyak 10 orang dan Paguyuban Macapatan Baitussallam yang memiliki anggota sebanyak 20 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam, dokumentasi, dan observasi. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih informan. Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan informan utama dan informan pendukung. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif dengan model interaktif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa keberadaan tembang-tembang macapat dengan tradisi macapatannya merupakan suatu bentuk kesenian tradisional yang sudah lama hidup dan berkembang di dalam komunitas masyarakat Jawa. Keberadaan pagelaran macapatan sebagai salah satu unsur kebudayaan Jawa dan media komunikasi di kalangan masyarakat Jawa tidak dapat dipisahkan dari manfaatnya di dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Adapun fungsi pagelaran macapatan sebagai sebuah media komunikasi tradisional meliputi, pagelaran macapatan sebagai media pendidikan, pagelaran macapatan sebagai media penerangan, pagelaran macapatan sebagai media hiburan, pagelaran macapatan sebagai media sosial dan pagelaran macapatan sebagai media sosialisasi. | Macapatan activities appear in the Java community until now, this is an indication that macapatan remains a need for members of society. The existence of macapatan as medium of communication for community supporters to interact with each other and expression Javanese culture so it can be said that macapatan included in a social ritual that basically serves to maintain the integrity of a communication and cultural expression. In globalization era of information today, macapatan is still an activity that cannot be replaced by the presence of mass medium print, electronic, or other information technology. This study tried to see how macapatan work as traditional communication for Banyumas people. , especially in Somagede Village, Somakaton, Banyumas. The purpose of this study is to determine the function of macapatan as traditional communications medium for Banyumas society and Somagede Village, Somakaton, Banyumas particularly. The method that uses in this research is descriptive qualitative method. The object of this study are the members of the association macapatan, which consists of two associations there are the Association Macapatan Pusporinonce which has 10 members and the Society Macapatan Baitussallam which has 20 members. Data collection techniques that use are in-depth interviews, documentation and observation. This study used purposive sampling to select informants. In this study, the writer will use the key informants and informant supporters. Data analysis method that use is descriptive qualitative analysis with interactive models. According to the research conclude that macapatan is a traditional art that has long lived and grown in the Java community. The existence macapatan performances as one of the elements of Javanese culture and communication among the Java community can’t be separated from society needs. macapatan have a function as a traditional communication medium includes, macapatan as medium of education, macapatan as medium of lighting, macapatan as medium of entertainment, macapatan as social medium and performances macapatan as a medium of socialization. | |
| 7102 | 7684 | E1A110043 | Tinjauan Yuridis Terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan Ditinjau dari Perspektif Hak Asasi Manusia | Pasca Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan PP No. 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, pro dan kontra kembali mewarnai panggung hukum dan politik Indonesia. PP yang ditandatangani pada tanggal 12 November 2012 kemudian dikuatkan dengan surat edaran Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin tanggal 12 Juli 2013 ini, berisi pengetatan pemberian hak remisi, asimilasi, dan pembebasan bersyarat bagi narapidana (Napi) tindak pidana terorisme, narkotika dan prekusor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya (kejahatan luar biasa). Bagi pihak yang pro, PP ini merupakan langkah progresif hukum untuk menanggulangi kejahatan kategori luar biasa tersebut. Berbeda bagi mereka yang kontra dengan PP ini, mereka berpendirian bahwa PP tersebut bertentangan dengan UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang menjadi landasan pembentukan PP tersebut, UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Ketertarikan peeliti tertuju pada bagaimanakah ‘syarat dan tata cara pelaksanaan hak warga binaan pemasyarakatan’ berdasarkan PP No. 99 Tahun 2012 ditinjau dari perspektif hak asasi manusia. Pengaturan mengenai perlindungan hak asasi manusia di Indonesia terutama terangkum di dalam Pancasila, UUD 1945, UU No. 39 Tahun 1999, dan Universal Declaration of Human Rights. Di dalam Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa pelaksanaan hak dan kebebasan setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditentukan oleh undang-undang. Apabila kita kembalikan pada undang-undang yang mengatur tentang pemasyarakatan, yaitu UU No. 12 Tahun 1995, di dalam Pasal 14 ayat (1) huruf i, j dan k dinyatakan bahwa narapidana berhak mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi), asimilasi, dan pembebasan bersyarat. Kemudian penjelasan huruf i dan j undang-undang tersebut menyatakan bahwa hak diberikan setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Pada ayat (2)nya menyatakan ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan hak-hak tersebut diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Artinya bahwa undang-undang telah memberikan kewenangan dan memberikan penafsiran terbuka bagi lembaga eksekutif untuk mengatur mengenai syarat dan tata caranya melalui peraturan pemerintah. Di dalam PP No. 99 Tahun 2012 tersebut pun berupaya bagaimana agar dalam pemberian hak remisi, asimilasi, dan pembebasan bersyarat tetap berpihak pada rakyat tanpa mengabaikan narapidana yang bersangkutan. Syarat pembentukan peraturan perundang-undangan harus mengacu pada landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis. Landasan filosofis dan sosiologis pembentukan UU No.12 Tahun 1995 menghendaki penerapan sistem pemenjaraan beralih ke sistem pemasyarakatan, dengan harapan warga binaan pemasyarakatan menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Artinya bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada akhirnya dapat tercapai persamaan perlakuan dan pelayanan yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Jadi, kebutuhan perlindungan hak asasi manusia bagi narapidana terakomodir dalam PP No. 99 Tahun 2012. Karena hakekatnya PP tersebut masih memberikan hak bagi Narapidana kategori khusus tersebut untuk mendapatkan hak remisi, asimilasi, dan pembebasan bersyarat. Namun demi tegaknya hukum dan membantu mengungkapkan kejahatan yang penanganannya lebih sulit dari jenis kejahatan yang lainnya maka penambahan persyaratan tersebut terutama adanya justice collaborator diharapkan akan lebih mudah membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya. Adapun penambahan persyaratan tersebut pun dimaksudkan untuk memastikan bahwa putusan pengadilan dilaksanakan oleh Narapidana. Inilah yang disebut sebagai kebijakan atau politik hukum pidana (kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana). | Since President Susilo Bambang Yudhoyono issued Government Act No. 22 of 2012 (PP No. 22 Tahun 2012) on Second Amendment of Government Act No. 32 of 1999 on Conditions and Procedures of Inmates’ Rights Implementations, there have been numerous pros and cons popped on Indonesia’s political scene. The Act that was signed in 12nd of November 2012 further backed up by a Letter of Memorandum from Minister of Law and Human Rights Mr. Amir Syamsudin dated July 12 2013 that tighten granting of remissions, assimilations and paroles of convicts of terrorism, narcotics and illegal drugs distribution, corruption, national security felony, human rights violations and other international/organized crimes. To the supporting parties this act is viewed as a progressive step in law enforcement to combat these extraordinary crimes. To the opposing parties however, the act is viewed to have contradicted with Statute No. 12 of 1995 on Corrective Services (which was the basis of the act itself), Statute No. 39 of 1999 on Human Rights and Statute No. 12 of 2011 about Formulation of Government Acts and Regulations. The interest of the researcher is mainly focused on “implementation of rights of inmates” according to Government Act No. 99 of 2012 with human rights perspective. Law on human rights protection in Indonesia is abridged in Pancasila, 1945 Constitution, Statute No. 39 of 1999 and Universal Declaration of Human Rights. In article 28J point (2) of 1945 Constitution it is explicitly stated that the observance of civil rights and freedom should abide with boundaries defined by laws. If we observe the act on Corrective Services that is Statute No. 12 of 1995, especially in article 14 point(1) letter I, J and K, it is stated that a convict has rights to be granted remission, assimilation and parole. Further on letter I and j of the article it is stated that the rights should be granted when conditions are met by the convict. On point(2) of the article it is stated that the implementation on the rights is further regulated under Government Act. From this excerpt it is understood that the Statute mandates authority to the government to further regulate the way of how the implementations will be carried out. Government Act no 99 of 2012 regulates how to implement the rights of inmates without hurting the sense of justice of the people. Furthermore, formulation of laws and regulations must be based on philosophical, juridical and sociological groundwork. Philosophical and sociological grounds of Government Act No. 12 of 1995 delineates a change of perspective on system from prison cells to correctional facilities, with the hope that inmates will recognize their mistakes, correct them and return to the inmates’ community as functional , good and responsible members of society. Therefore, the issuance of this government act can be viewed as a way of fulfilling public need. By implementing the act it is hoped that the sense of justice of the people can be addressed. In conclusion, human rights protection of inmates is fulfilled by Government Act No. 99 of 2012. It is because, in essence, the basic rights of inmates to get remission, assimilation and parole are still accommodated in it. However by adding “Justice Collaborator” as extra condition in getting those rights, the act also satisfies its function as a tool to prevent and uncover special crimes which are naturally hard to do. Inclusion of this extra condition is meant for the inmates to see through their correctional programs. This is another example of policy on correctional law (crimes eradication trough correctional law policies). | |
| 7103 | 10251 | G1B010042 | ANALISIS KADAR NATRIUM NITRIT PADA SOSIS YANG DIJUAL DI PASAR TANJUNG DAN PASAR GEDE DI KABUPATEN CILACAP | Natrium Nitrit merupakan Bahan Tambahan Pangan yang digunakan untuk mengawetkan produk olahan daging serta sebagai pembentuk faktor sensori yaitu warna, aroma dan cita rasa contohnya pada sosis. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet, membatasi penggunaan Natrium Nitrit pada olahan daging sebanyak 30 mg/kg. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar Natrium Nitrit yang terkandung dalam sosis yang di jual di Pasar Tanjung dan Pasar Gede di Kabupaten Cilacap. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dengan Purposive Sampling yaitu sebanyak 10 sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah sosis ayam dan sosis sapi yang dijual di Pasar Tanjung dan Pasar Gede di Kabupaten Cilacap. Analisis kadar Natrium Nitrit secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan Uji Griees dan Spektrofotometer UV-Vis. Hasi penelitian menunjukan 7 dari 10 sampel mengandung kadar Natrium Nitrit diatas ambang batas yang ditentukan. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak sosis di pasaran yang mengandung kadar Natrium Nitrit yang melebihi ambang batas. Oleh karena itu masyarakat sebaiknya lebih berhati-hati dalam membeli sosis serta membatasi konsumsi sosis yang mempunyai kandungan Natrium Nitrit didalam komposisinya. | Sodium Nitrite is one of food additive that used on processed meat product to maintain the longer lifespan and also form an sensory factor like color, scent, and flavor. According to Head National Agency of Drug and Food Control Regulation in Republic Indonesia No. 36/2013 about the maximum limit of Food Additive Preservatives, the levels of Sodium Nitrite on meats product are limitation on 30 mg/kg. The aim of this research is to know the level of Sodium Nitrite which contained in sausages that is sold in Tanjung Market and Gede Market in Cilacap Regency. This is a descriptive research with quantitative method. The sampling method that is used Purposive sampling about 10 samples. The samples in this research were chicken sausages and beef sausages which are sold in Tanjung Market and Gede Market, in Cilacap Regency. Sodium Nitrite level is analyzed by two method, the first is qualitative (Griees test) and the second is quantitative (UV-Vis Spectrophotometer). The result show that 7 samples contain Sodium Nitrite levels more than the standard. The results of this research show that there is a lot of sausages on the market that contain Sodium Nitrite levels more than the standard. Therefore, peoples should be more careful in buying sausages and limiting consumption of sausages that have Sodium Nitrite content in the composition. | |
| 7104 | 10254 | G1B010092 | HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DAN KEBERADAAN PEROKOK DENGAN KEJADIAN ISPA NON PNEUMONIA PADA BALITA (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Gandrungmangu I Kabupaten Cilacap) | Kondisi fisik rumah dan keberadaan perokok diduga berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita. Cakupan rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas Gandrungmangu 1 tahun 2013 sebesar 65,90% dan masih terdapat 36,40% perokok. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dan keberadaan perokok dengan kejadian ISPA Non Pneumonia pada balita. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Gandrungmangu I dengan jumlah sampel adalah 86 balita yang terdiri dari 43 balita sebagai kasus dan 43sebagai balita kontrol. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan case-control. Teknik pengambilan sampel kasus menggunakan teknik insidental sampling dan sampel kontrol menggunakan simple random sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat lima variabel independen yang berhubungan dengan kejadian ISPA Non Pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Gandrungmangu 1 yaitu kepadatan hunian kamar dengan nilai (p=0,04,OR=2,87;95%CI) tingkat kelembaban dengan nilai (p=0,02,OR=2,97;95%CI), luas ventilasi kamar dengan nilai (p=0,04, OR=2,77;95%CI), pencahayaan kamar dengan nilai (p=0,03, OR=2,87;95%CI) dan keberadaan perokok dengan nilai (p=0,04, OR=3,30;95%CI), sedangkan variabel yang tidak berhubungan yaitu jenis dinding dengan nilai (p=0,21), jenis lantai rumah dengan nilai (p=1,00), dan jenis bahan bakar dengan nilai (p=0,48). Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya ISPA pada balita adalah dengan mengetahui pentingnya kepadatan hunian kamar yang sesuai dengan syarat kesehatan, tingkat kelembaban kamar, luas ventilasi kamar, pencahayaan kamar dan keberadaan perokok di dalam rumah. | The house physical condition and smokers existence are predictably related to the acute respiratory infection on child. The target of healthy house in Puskesmas Gandrungmangu I at 2013 is about 65.90% and there are still 36.40% smokers. The purpose of this study is to determine the relationship between house physical condition and smokers existence toward NON-Pneumonia acute respiratory infection on child. This study is conducted in the Puskesmas Gandrungmangu 1 with 86 samples of childs which consist of 43 as cases and 43 as controls child. This research is was quantitative study with case-control approach. The case samples used incidental sampling technique and the control samples used simple random sampling. The results show that there were five independent variables that related to the Non Pneumonia acute respiratory infection on child in Puskesmas Gandrungmangu 1 area; the density room (p = 0.04, OR = 2.87, 95% CI) the humidity level (p = 0.02, OR = 2.97, 95% CI), ventilation room (p = 0.04, OR = 2.77, 95% CI), lighting (p = 0, 03, OR = 2.87, 95% CI) and smokers existence (p = 0.04, OR = 3.30, 95% CI), meanwhile, the unrelated variables are the type of walls (p = 0.21), type of house floors (p = 1.00), and the type of fuels (p = 0.48). The preventive actions to prevent this condition wits knowing the importance of the density of occupancy in accordance with the requirements of health, level of room humidity, ventilation of rooms, room lighting and the presence of smokers in the house. | |
| 7105 | 10255 | G1B010091 | Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pemberian MP-ASI pada Balita Umur 6-24 Bulan di Kelurahan Argasunya Kota Cirebon. | Gizi kurang dapat dicegah dengan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada balita. Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan balita yang dimulai dari usia 6 bulan sampai dengan usia 24 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemberian MP-ASI pada balita umur 6-24 bulan di Kelurahan Argasunya Kota Cirebon. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 85 orang ibu yang memiliki balita umur 6-24 bulan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat (chi square) dan multivariat (regresi logistik). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan ibu (p=0,001), pekerjaan ibu (p= 0,001), paparan informasi (p=0,001),dan dukungan keluarga (p=0,000). Pendidikan (p=0,292), sikap (p=0,838), dan pendapatan keluarga (p=0,105) tidak berhubungan dengan perilaku pemberian MP-ASI pada balita umur 6-24 bulan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa dukungan keluarga (p=0,000) mempengaruhi perilaku pemberian MP-ASI pada balita umur 6-24 bulan. Sedangkan pengetahuan (p=0,067), pekerjaan (p=0,082), paparan informasi (p=0,987), dan pendapatan keluarga (0,749) tidak mempengaruhi perilaku pemberian MP-ASI pada balita umur 6-24 bulan. Perlu adanya peningkatan peran aktif kader, peran petugas kesehatan, dan dukungan keluarga (suami, mertua, saudara) mengenai pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang sesuai tahapan usia balita, untuk meningkatkan kesadaran merawat anak lebih baik. | Less nutrition can be prevented by giving complementary foods (MP-ASI) for infants. Complementary foods are useful for the growth and development of infants starting from 6 months to 24 months of age. The purpose of this research is to know the factors that influence the behavior of complementary foods in infants aged 6-24 months in the Argasunya Village Cirebon. This research is a cross sectional analytic approach. The total sample of 85 mothers who have children aged 6-24 months. The data analysis was performed using univariate, bivariate (chi-square) and multivariate (logistic regression). The results of bivariate analysis showed a relation between maternal knowledge (p = 0.001), mother's occupation (p = 0.001), exposure information (p = 0.001), and family support (p = 0.000). Education (p = 0.292), attitude (p = 0.838), and family income (p = 0.105) was not associated with the giving complementary foods behavior in infants aged 6-24 months. Multivariate analysis showed that family support (p = 0.000) affect the behavior of the giving complementary foods in infants aged 6-24 months. While knowledge (p = 0.067), occupation (p = 0.082), exposure information (p = 0.987) and family income (0.749) do not affect the behavior of the giving complementary foods in infants aged 6-24 months. It needs cadres’ active role improvement, the role of health workers, and support from family (husband, in-laws, and siblings) regarding complementary foods corresponding stages of toddler age, to raise awareness of child care for the better. | |
| 7106 | 8225 | D1F011006 | PENGGUNAAN TEPUNG BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L) DALAM RANSUM AYAM ARAB TERHADAP BOBOT TELUR DAN INDEKS TELUR | Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan tepung bunga rosella terhadap bobot telur dan indeks telur ayam Arab. Penelitian dilaksanakan mulai 2 Agustus - 30 September 2013 di Kelompok Ternak Wanita Karya, Desa Karanggude, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Materi penelitian yang digunakan adalah ayam Arab betina umur 8 bulan sebanyak 60 ekor. Peralatan yang digunakan antara lain: kandang baterai, timbangan analitik kapasitas 200 g, sendok, blender, jangka sorong, alat tulis, kandang baterai sejumlah 60 unit. Pakan yang digunakan terdiri dari jagung, dedak, tepung bunga rosella dan konsentrat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data dianalisis variansi untuk mengetahui pengaruh antar perlakuan. Jumlah perlakuan empat dengan ulangan lima kali dan setiap ulangan terdiri dari tiga ekor ayam Arab. Perlakuan yang diberikan yaitu: R0 = Tanpa tepung bunga rosella, R1 = Penggunaan tepung bunga rosella 2%, R2 = Penggunaan tepung bunga rosella 4%, R3 = Penggunaan tepung bunga rosella 6%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung bunga rosella memberikan pengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap bobot telur dan indeks telur ayam Arab yang dihasilkan. Rataan bobot telur sebesar R0 = 44,09 ± 1,32 g, R1 = 43,49 ± 1,96 g, R2= 42,87 ± 4,39 g, R3 = 40,31 ± 5,90 g. Rataan indeks telur sebesar R0 = 75,15 ± 1,51 %, R1 = 74,03 ± 3,14 %, R2 = 71,13 ± 6,14 %, R3 = 66,93 ± 9,91 %. Hasil penelitian dapat disimpulkan penggunaan tepung bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L) level 0%, 2%, 4%, dan 6% dalam ransum ayam Arab menghasilkan bobot telur dan indeks telur yang relatif sama. | The aim of this research is to evaluate the influence of the use of flour egg weights of rosella flowers and index of Arabian hens eggs. Research was begun 2nd august–1st October, 2013 in a group of cattle Wanita Karya, karanggude village, karanglewas sub-district, banyumas regency. Research materials that used were 60 Arabians hens at age of eight months. The equipment used were: a cage batteries, the scales analytic the capacity of 200 g, a spoon, a blender, a period of mizzen, stationery, a cage battery a number of 60 units. The cage provided with a feed and a drink. The feed that used is consisting of maize, bran, flour flowers rosella and concentrate. The study was conducted using experimental in vivo and using completely randomized design (CRD). Treatments which tested were using no rosella (R0), using rosella powder 2% (R1), using Rosella powder 4% (R2), and using Rosella powder 6% (R3). The results showed that the addition of rosella flowers flour gives no real influence on the weight of the eggs and index Arabian hens eggs generated (P>0.05). Equivalent weight of an egg of R0 = 44,09 ± 1,32 g, R1 = 43,49 ± 1,96 g, R2 = 42,87 ± 4,39 g, R3 = 40,31 ± 5,90 g. Equivalent egg index of R0 = 75,15 ± 1,51%, R1 = 74,03 ± 3,14%, R2 = 71,13 ± 6,14%, R3 = 66,93 ± 9,91%. Each treatment was repeated five times and each repetition was consisted of three hens. The variables of measure were Weight of hens and Eggs Index of Arabian eggs. The analyze of data using analysis of variance. The results of variance analysis showed that the use of rosella powder did not affect significantly (P>0.05) on eggs weight and eggs index of Arabian hens eggs. The conclusion of this research is the use of Rosella powder with levels 0%, 2%, 4% and 6% as Arabian hens feed have no effect on weight and index of hens. | |
| 7107 | 10250 | B1J009004 | INVENTARISASI JAMUR PELAPUK PUTIH DARI MATERIAL LIGNOSELULOSIK DI WILAYAH HUTAN RPH MANDIRANCAN BKPH KEBASEN PERUM PERHUTANI KPH BANYUMAS TIMUR | Jamur adalah salah satu jenis komponen hayati yang terdapat di hutan tropis Indonesia yang telah terungkap beberapa potensi dan manfaatnya. Jamur pelapuk putih merupakan jamur dari kelas Basidiomycetes yang mampu mendegradasi lignin dari kayu secara selektif dan cepat dibandingkan mikroorganisme lain. Jamur pelapuk putih dapat digunakan sebagai agen biologi yang ramah lingkungan. Wilayah hutan RPH Mandirancan memiliki kondisi tanah lembab dan terdapat berbagai jenis pohon berkayu yang kaya akan komponen lignoselulosa. Hal ini memungkinkan adanya keberadaan jamur pelapuk putih. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jamur pelapuk putih yang diperoleh dari hutan produksi RPH Mandirancan dan mengetahui genus jamur pelapuk putih dari hutan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survai dengan teknik pengambilan sampel secara acak terpilih (Purposive Random Sampling). Berdasarkan hasil penelitian 26 isolat jamur berhasil diisolasi, 21 isolat jamur menunjukkan hasil positif pada uji Bavendamm dan 5 isolat jamur menunjukkan hasil negatif. Hasil identifikasi jamur diperoleh 14 genus jamur, yaitu genus Pythium, Periconia, Marasmius, Auricularia, Articulospora, Phoma, Cookeina, Rigidoporus, Humicola, Botryotrichum, Hypholoma, Mucor, Phythopthora, dan Chaetomium. Koleksi jamur mikroskopis menggunakan larutan FAA (Formaldehyde Aceticacid Alcohol) di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. | The fungus is one type of biological components contained in the tropical forests of Indonesia which has revealed several potential and benefits. White rot fungi is a fungus of the class Basidiomycetes capable of degrade lignin of wood in as electively and rapidly than other microorganisms. White rot fungi can be used an agent of biology sustainable. RPH Mandirancan forest areas have moist soil conditions and there are many various types of trees rich in woody lignocellulosic components. This research aims to inventory white rot fungi and found out white rot fungus genus obtained from RPH Mandirancan. Methods used in research is a method of sample survey with purposive random sampling. Based on the research results of 26 isolates of fungal isolated, 21 isolates fungi showed positive results on test of Bavendamm and 5 isolates fungus showed negative results. Results of identification of fungi obtained 14 fungal genera, namely Humicola, Botryotrichum, Periconia, Pythium, Articulospora, Phoma, Chaetomium, Marasmius, Auricularia, Hypholoma, Phytophthora, Cookeina, Mucor, and Rigidoporus. Collection of microscopic fungi using a solution of FAA (Formaldehyde Acetic acid-Alcohol) in the Laboratory of Mycology and Phytopathology, Faculty of Biology The University of General Sudirman | |
| 7108 | 9628 | A1M010078 | PERUBAHAN KUALITAS GULA KELAPA CAIR PADA BERBAGAI VARIASI KEMASAN SELAMA PENYIMPANAN | Gula kelapa cair rentan mengalami kerusakan yang disebabkan oleh mikrobia, sehingga perlu adanya pengemasan yang baik untuk melindungi gula kelapa cair sehingga bisa disimpan lebih lama dan di distirbusikan sampai ke konsumen dengan kualitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh variasi kemasan terhadap perubahan sifat fisikokimia dan organoleptik gula kelapa cair selama penyimpanan; 2) mengetahui variasi kemasan dan lama penyimpanan yang masih menghasilkan gula kelapa cair dengan syarat fisikokimia dan organoleptik yang baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis kemasan berpengaruh terhadap kadar air, dan brix. Gula kelapa cair yang dikemas menggunakan polipropilen, polipropilen + polietilen, polipropilen + karton, dan polipropilen + polietilen + karton menghasilkan kualitas gula kelapa cair yang cukup baik dibandingkan gula kelapa cair yang tidak dikemas. Selama penyimpanan kadar air meningkat dan derajat brix menurun. Gula kelapa cair yang dikemas dengan polipropilen, polipropilen + polietilen, polipropilen + karton, dan polipropilen + polietilen + karton memiliki kualitas yang masih baik sampai dengan 4 bulan, sedangkan gula kelapa cair tidak dikemas setelah 2 bulan sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Jenis kemasan yang tepat menghasilkan gula kelapa cair terbaik dilihat dari kadar air, segi kepraktisan, dan ekonomis maka direkomendasikan gula yang dikemas plastik polipropilen (K2) ketebalan 0,05 mm | Liquid Coconut sugar is vulnerable to damage caused by microbes, thus the good pacakaging is needed to protect liquid coconutsugar so it can be stored longer and distributed to the consumer in good quality. This study aimed to 1) determine the effect of variations in the packaging on physicochemical and organoleptic of liquid coconutsugar during storage; 2) understand various packaging and storage time which still retain a fine physicochemical and organoleptic characteristics on liquid coconutsugar. Results showed that the type of packaging affect the moisture content, pH, and degress brix. liquid coconutsugar which was packaged using polypropylene, polypropylene + polyethylene, polypropylene + carton, polyethylene and polypropylene + carton produced a fine liquid coconutsugar sugar which was better than one that was unpackaged. During storage, moisture content increased while the brix decreased. Liquid coconutsugar which was packaged by polypropylene, polypropylene + polyethylene, polypropylene + carton, polyethylene and polypropylene + carton held a fine quality for up to 4 months, while the liquid coconutsugar which had been unpackaged for 2 months was unfit for consumption. Right type of packaging produced best liquid coconutsugar in the perspective of moisture content, practicality, and economy, so it is recommended that the sugar is packed with plastic polypropylene (K2) thickness of 0.05 mm. | |
| 7109 | 10252 | G1B010073 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PENGGUNAAN JAMBAN SEHAT DI DESA SESEPAN KECAMATAN BALAPULANG KABUPATEN TEGAL | Pembuangan tinja yang sembarangan merupakan bentuk nyata dari rendahnya penggunaan jamban, sehingga berakibat pada pencemaran lingkungan. Penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain tipus, disentri, kolera, kecacingan, schistosomiasis, dan sebagainya. Data cakupan penggunaan jamban di Kabupaten Tegal tahun 2013 mencapai 57,39% dan untuk di Desa Sesepan cakupan penggunaan jamban mencapai 50,05%. Angka ini masih dibawah target indikator kesehatan yaitu 70% keluarga harus menggunakan jamban. Tujuan penelitian adalah mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan jamban sehat di Desa Sesepan Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 789 KK, sampel yang digunakan sebanyak 61 kepala keluarga atau istri. Teknik sampling yang digunakan Simple Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan jamban sehat adalah pengetahuan (p = 0,000), sikap (p = 0,017), kondisi jamban (p = 0,000), peran petugas kesehatan (p = 0,002) sedangkan peran tokoh masyarakat tidak berhubungan dengan perilaku penggunaan jamban sehat. Berdasarkan hasil penelitian disarankan supaya diadakan penyuluhan yang lebih intensif dan lebih merata dikalangan masyarakat, agar masyarakat mempunyai tindakan yang baik terhadap penggunaan jamban sehat. | A careless disposal of feces is an actual view that is caused by the lower use of latrines in which resulting on environment pollution. There are some diseases that is caused by human feces, such as, typhoid, dysentery, cholera, intestinal worms, schistosomiasis, etc. Data frequency on the use of latrines in Tegal regency in 2013 is 57,39% meanwhile in Sesepan vilage, the frequency of the use of latrines is 50,05%. This value is still under the standard indicator of healthy that is 70% of families should use latrines. The purpose of the study was to determine the factors related to health behaviors on the use of latrines in the Sesepan village subdistrict Balapulang Tegal regency. This was an analytic study in which cross sectional is used as the approach. The population of the study was 789 families in which the sample is 61 husbands or wifes. This study used simple random sampling. The result of the study shows factors that were related to the health behavior on the use of latrines were knowledge (p =0,000), attitude (p =0,017), latrines condition (p =0,000), the role of health workers (p =0.002), while the role of public figures do not relate to the health behavior on the use of latrines. That is why, An intensive education to the society is needed to make them realize and start to use the latrines in a right way to build a healthy life. | |
| 7110 | 10253 | B1J010095 | DAYA SERAP KARBONDIOKSIDA PADA BERBAGAI UMUR TEGAKAN MAHONI (Swietenia mahagoni Jacq.) DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IX (PERSERO) KRUMPUT BANYUMAS | Faktor penyebab terjadinya pemanasan global salah satunya adalah tingginya emisi gas rumah kaca di atmosfer. Jenis gas rumah kaca yang paling dominan adalah CO2. Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan konsentrasi CO2 secara langsung di atmosfer adalah dengan meningkatkan keanekaragaman dan struktur hutan melalui penanaman beraneka ragam pepohonan. Meningkatnya komposisi dan struktur vegetasi hutan terutama tegakan pepohonan, maka hutan berperan penting dalam menjaga keseimbangan atmosfer udara melalui penyerapan CO2 dari atmosfer. Semakin cepat pertumbuhan suatu pohon maka semakin besar potensinya dalam menyerap dan menimbun CO2 dalam biomassanya. Salah satu jenis pohon yang memiliki potensi besar menyerap CO2 atmosfer adalah mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.). Atas dasar hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya serap mahoni terhadap CO2 serta untuk mengetahui umur tegakan mahoni yang optimal dalam menyerap CO2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah umur tegakan mahoni dan variabel tergantung berupa daya serap karbondioksida (CO2). Parameter yang diamati terdiri atas jumlah daun per pohon, luas permukaan daun, dan kandungan CO2 pada daun. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Varian (ANNOVA) denagn tingkat kepercayaan 99% atau dan 95% kemudian dilakukan uji lanjut Duncan untuk mengetahui hubungan antara umur tegakan hutan rakyat mahoni dengan daya serap karbondioksida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur mahoni 1-5 tahun memiliki hubungan secara liniear sesuai dengan pertambahan umur tegakannya, sehingga kelompok umur tegakan mahoni 1–5 tahun belum dapat ditentukan umur optimum dalam menyerap karbondioksida. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara daya serap karbondioksida dengan umur tanaman mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), dan belum diketahui umur tanaman mahoni yang optimal dalam menyerap karbondioksida. Kata kunci : pemanasan global, daya serap karbondioksida, mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), umur tegakan. | One of the causes of global warming is the heighest level of greenhouse gas emissions in the atmosphere. The most dominan of greenhouse type is CO2. The efforts which can be done for decrase the concentration of CO2 in the atmosphere directly is increase the diversity and forest structure through plant any kind of trees.With increasing the compotition and forest vegetation structure, especially the tree stand, there fore the forests play an important role in maintaining the balance of air atmosphere by absorbsing CO2 from the atmosphere. The faster growth of a tree so the greater potential to absorband accumulate CO2 in biomass. One type oftrees that have great potential to absorb CO2 from atmosphere is mahogany (Swietenia mahogany Jacq.). Based on the explanasion before so the of this research was to determine the CO2 absorpsion mahoni and the age of mahoni to determine the most optimal in absorbsing CO2. The method of this research is survey method with sampling technique, it’s called stratified random sampling. The independent variables of this research is the age of mahogany stands and a dependent variable absorption of carbondioxide (CO2). The parameters which are observed consist of the number of leaves per plant, leaves surface area, and the contain of CO2 on the leaves. Then, the data is analysed by using analysis variant (Anova) with the level of accuratnees 99% or and 95%. Next, it is done by the next test of Duncan to know the relation between the age of mahoni stands with the absorpsion carbondioxide. Result of the study indicates that age mahoni 1-5 years has relation in liniear as according to increase of its, so that group the age of mahoni stand 1-5 years is not able yet to determined optimum age in permeating carbondioxide. The conclusion on this research there is the relation between absorpsion carbondioxide with the age of mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) stands, and it has not been known the optimal age of mahoni stands in absorpsion carbondioxide. Keywords: global warming, carbondioxide absorpsion, mahoni (Swietenia mahogany Jacq.), stand age. | |
| 7111 | 8226 | E1A110034 | PERLAWANAN PIHAK KETIGA TERHADAP SITA JAMINAN (STUDY PUTUSAN PENGADILAN NEGERI PURWOKERTO NOMOR : 27/PDT.Plw/2008/PN.PWT) | Perlawanan pihak ketiga terhadap sita jaminan merupakan upaya hukum yang dapat ditempuh oleh pihak ketiga dengan dalil bahwa terdapat barang milik pihak ketiga tersebut yang ikut tersita karena adanya sita jaminan oleh pengadilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan hukum perlawanan pihak ketiga terhadap sita jaminan dalam Putusan Nomor : 27/PDT.Plw/2008/PN.Pwt dan akibat hukum yang ditimbulkan dari Putusan Nomor 27/PDT.Plw/2008/PN.Pwt. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa perlawanan pihak ketiga terhadap sita jaminan hanya dapat diajukan selama pokok perkara yang dilawan belum mempunyai kekuatan hukum tetap dan sita jaminan belum dinyatakan sah dan berharga. Majelis Hakim tidak memperhatikan ketentuan tersebut. Terdapat cacat formil dalam gugatan perlawanan tersebut yang seharusnya diputus NO (Neit ontvantkelijk verklaard/tidak dapat diterima). Majelis Hakim dalam Putusan tersebut tetap memutus dalam pokok perkara. Berkenaan dengan syarat materiil dalam gugatan perlawanan ini, yang menjadi dalil gugatan perlawanan ini adalah berdasarkan hak milik, namun dalam pembuktian Pelawan tidak dapat membuktikan bahwa yang menjadi obyek sengketa adalah milik Pelawan, Majelis menyatakan Pelawan adalah Pelawan tidak beretikad baik. Dengan ditolaknya perlawanan pihak ketiga tersebut, maka akibat hukumnya sita jaminan dalam perkara sebelumnya berubah menjadi sita eksekutorial. Majelis Hakim diharapkan memperhatikan jangka waktu perlawanan pihak ketiga tersebut dan dalam melaksanakan tugasnya Hakim wajib mengetahui ketentuan hukum formil, oleh karena itu Hakim harus benar-benar memahami prosedur beracara yang ada didalam PerUndang-Undangan maupun Yurisprudensi. | Resistance the third party to sequestration is a legal remedy by third party with the proposition that there is a property of such third party who participate consumed due to sequestration by the court. The purpose of this research was to determinate the applying law of third party resistance to sequestration in Decision No : 27/PDT.Plw/2008/PN.Pwt and legal consequences arising from the Decision No : 27/PDT.Plw/2008/PN.Pwt. Based on the result of research and discussion concluded that resistance by third party to sequestration only be submitted for the decision which resisted not have permanent legal force and sequestration has not been declared valid and valuable, the judges do not pay attention to these provisions. There is legal defect in the lawsuit resistance which should cut NO (Neit ontvantkelijk verklaard/not acceptable). The judges in this decision still decide the merits of the case. With regard to the substantive terms of the resistance is based on property right, but in the proof opponent can not prove that the object of the dispute is owned by opponent, the judges declared that opponent is bad faith opponent. With the rejection of such third party opposition the legal consequences for sequestration in the previous case turned into seized executorial. The judges are expected to observe a period of resistance the third parties and in carrying out its duties the judge must know the formal legal requirements, the judge should understand the judicial procedure in legislation and Jurisprudence. | |
| 7112 | 10256 | G1B010001 | Analisis Kandungan Besi Pada Air Sumur Gali Di Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen Tahun 2014 | Air sumur merupakan sumber air yang sangat vital bagi penduduk Indonesia terutama di daerah pedesaan. Air sumur dibuat dengan menggali tanah secara manual dengan kedalaman berbeda-beda menurut jenis tanah dan letak sumber air yaitu dapat berkisar antara 5-20 meter atau lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya besi (Fe) serta untuk mengetahui kadar besi (Fe) yang ada dalam air sumur gali di daerah Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen. Uji yang digunakan untuk mengetahui kadar besi adalah Spektrofotometri Serapan Atom. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang mempunyai sumur gali sebanyak 4837 sumur. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling sebanyak 101 sumur. Analisis data berupa penyajian data dalam bentuk tabel/diagram lalu membandingkan dengan standar baku air bersih. Kandungan besi pada air sumur gali berkisar antara 0,060 mg/l yang terletak di Desa Plarangan RT 03 RW 04 sampai 1,265 mg/l yang terletak di Desa Jatiluhur RT 04 RW 03. Pemetaan kandungan besi (Fe) pada air sumur gali untuk warna biru menunjukkan kandungan besi (Fe) < 1,0 mg/l sebanyak 92 sumur gali (91,08%) dan warna merah menunjukkan kandungan besi (Fe) > 1,0 mg/l sebanyak 9 sumur gali (8,91%). Kadar besi yang memenuhi syarat air bersih menurut Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 sebanyak 92 sumur gali (91,08%) dan yang tidak memenuhi standar sebanyak 9 sumur gali (8,91%). Nilai kadar besi (Fe) yang melebihi standar kualitas air besih disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan untuk menurunkan kadar besi (Fe) pada air sumur. | Well water is a vital water source for Indonesian inhabitant especially at rural area. Well water is made by digging the ground manually with diference depth according to the kind of land and the site of water source i.e. about 5-20 meters or more. The experiment was aimed to fnd out whether there was iron in well water and the content of iron at Karanganyar, Kebumen. The tes used to find out iron content was Atomic Absorption Spectrophotometer. Type of research is descriptive quantitative with cross sectional approach. Population in this research is all households who have well as many as 4837. It is done in Simple Random Sampling with a total 101 well. Data analysis using presentation data in a table/diagram and than comparing with the cleaning water standard. Iron content in water well ranged from 0,060 mg/l in Plarangan village RT 03 RW 04 until 1,265 mg/l in Jatiluhur village RT 04 RW 03. Mapping on Fe content in water well for the blue colour indicates Fe content < 1,0 mg/l of 92 wells (91,08%) and red colour indicates Fe content > 1,0 mg/l 9 wells (8,91%). The content of iron (Fe) are eligible clening water according to Permenkes Deeree No. 416/MENKES/PER/IX/ 1990 as many as 92 wells and don’t eligible as many as 9 wells (8,91%). Content values that exceed drinking water quality standards are suggested to conduct further research to reduce the iron content in water wells. | |
| 7113 | 7693 | C1C008101 | PENGARUH EFEKTIVITAS PENERAPAN AUDIT BERBANTUAN KOMPUTER DAN VARIABEL ANTESEDEN PADA KINERJA AUDITOR (Studi Pada Auditor KAP Big Four Indonesia) | Penelitian ini merupakan penelitian studi empiris pada Kantor Akuntan Publik (KAP) Big Four di Indonesia. Penelitian ini mengambil judul “ PENGARUH EFEKTIVITAS PENERAPAN AUDIT BERBANTUAN KOMPUTER DAN VARIABEL ANTESENDEN PADA KINERJA AUDITOR(Studi Empiris pada KAP Big Four Indonesia) ”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh efektivitas Audit berbantuan komputerterhadap kinerja auditor. Selain itu, penelitian ini juga menguji pengaruh variabel anteseden (pelatihan, pengetahuan teknologi informasi, dan pengalaman) terhadap variabel efektivitas Audit berbantuan komputer . Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan auditor yang bekerja di KAP Big Four. Jumlah Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah95auditor. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan regresi berganda menunjukan bahwa : (1) efektivitas penerapanAudit berbantuan komputerberpengaruh signifikan kinerja auditor , (2) pelatihan tidak berpengaruh signifikan efektivitas penarapan Audit berbantuan komputer, (3) pengetahuan teknologi informasi berpengaruh signifikan efektivitas efektivitas penarapan Audit berbantuan komputer, (4) pengalaman berpengaruh signifikan efektivitas penerapan Audit berbantuan komputer. Implikasi dari penelitian ini yaitu : (1)Sebagai upaya meningkatkan efektivitas penerapan Audit berbantuan komputer, pihak KAP big four perlu memperhatikan pengetahuan teknologi informasi dan pengalaman audit menggunakan teknologi . Upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan mensyaratkan kecapakan tertentu dalam hal teknologi informasi pada saat perekrutan karyawan baru ; (2) Sebagai upaya meningkatkan kinerja auditor yang bekerja di KAP big four , KAP perlu memperhatikan efektivitas penarapan Audit berbantuan komputer. | This research is an empirical study at Big Four Audit Firm auditor entitled “Effectiveness of computerized audit assisted technique and Supporting Factors Influence on Auditor Performance. The purpose of this research is to understand computerized audit assisted technique effectiveness influencing auditor performance. beside that, this research also examines the supporting factors of computerized audit assisted technique (training, IT knowledge, and experience using IT) on computerized audit assisted technique effectiveness. The population of auditor is 2000, thus the sample is 95 auditors generated by using Slovin formula. Based on the result and data analysis by using multiple regression, it shows that: (1) computerized audit assisted technique effectiveness influences significantly on auditor performance; (2) training doesn’t influence on computerized audit assisted technique effectiveness implementation; (3) IT knowledge influences significantly on computerized audit assisted technique effectiveness implementation; (4) experience influences significantly computerized audit assisted technique effectiveness implementation. The implication of this research are: (1) in order to improve the effectiveness of computerized audit assisted technique implementation, audit firm should put more attention on auditor IT knowledge and experience. It can be done by putting them on recruitment qualification; (2) in order to improve auditor performance, audit firm should improve effectiveness of computerized audit assisted technique implementation. | |
| 7114 | 10947 | C1B008051 | RAMALAN PENJUALAN DAN ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PADA PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA IKAN GURAMI BERBASIS KAWASAN PERCONTOHAN MINAPOLITAN KABUPATEN BANYUMAS (Studi Pada Pokdakan Ulam Sari Desa Kalikidang, Sokaraja) | Penelitian ini merupakan studi empiris pada budidaya pengembangan ikan gurami di KawasanMinapolitan di Banyumas. Penelitian ini mengambil judul: “Ramalan Penjualan dan Analisis Kelayakan Finansial pada Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Gurami Berbasis Kawasan Percontohan Minapolitan Kabupaten Banyumas (Studi pada Pokdakan Ulam Sari Sokaraja, Banyumas)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi perikanan budidaya gurami, kesesuaian pengembangan terhadap peningkatan pendapatan, meramalkan penjualan pada 2015 – 2020 dan menganalisis kelayakan finansial budidaya ikan gurami Pokdakan Ulam Sari Sokaraja dilihat dari NPV, IRR dan B/ C ratio. Lokasi penelitian ini di Pokdakan Ulam Sari, Desa Kalikidang Sokaraja. Model penelitian yang digunakan adalah peramalan penjualan dengan metode regresi linier, regresi kuadrat, siklus, double moving average, double exponential smoothing serta analisis kelayakan finansial dengan kriteria NPV, IRR dan B/ C ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peramalan dipilih dengan menggunakan metode Regresi Linier yang memiliki nilai Mean Square Error (MSE) terkecil. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan usaha layak dilaksanakan. Dan analisis sensitivitas menggunakan sepuluh skenario,empat skenario menunjukkan bahwa usaha tidak layak karena menghasilkan nilai yang negatif. | This is an empirical study of gurami farming in Banyumas Minapolitan Region. This research entitled: ‘Sales Forecasting and Financial Feasibility of Gurami Farming Based Minapolitan Region in Banyumas Regency (Study in Pokdakan Ulam Sari Sokaraja, Banyumas)’. The purpose of this research are identifying the problems of gurami farming in Pokdakan Ulam Sari, sales forecasting in 2015 until 2020, analyzing feasibility of Gurami farming based on NPV, IRR and Net B/ C and analyzing sensitivity of gurami farming towards cost, production price and total production changes.The location in this research is PokdakanUlam Sari, Kalikidang Village, Banyumas Regency. Five methods of sales forecasting and financial feasibility criteria with NPV, IRR and B/ C Ratio were used as a research model to analyze the empirical result. The results indicate that at the interest rate of 18%, gurami farming is eligible to be developed with NPV Rp 95.976.859,00, IRR 37% and Net B/ C 1,36. Meanwhile, sensitivity analyze shows from ten scenario, four of them are not eligible. Because the result of financial feasibility are negatif and under the interest rate. | |
| 7115 | 11345 | C1A011059 | STRATEGI NAFKAH (LIVELIHOOD STRATEGY) KELUARGA NELAYAN DI DESA ARGOPENI KECAMATAN AYAH KABUPATEN KEBUMEN | Penelitian ini berjudul “Strategi Nafkah (Livelihood Strategy) Keluarga Nelayan di Desa Argopeni Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen”. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui strategi nafkah yang dilakukan nelayan untuk memperoleh pendapatan rumah tangga keluarganya, dan mengetahui perbedaan pendapatan antara nelayan yang hanya melaut dengan nelayan yang melakukan strategi nafkah. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Penelitian ini menggunakan data primer dengan 83 responden. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabulasi dan uji t (t-test). Berdasarkan hasil penelitian didapat (1) strategi nafkah yang dilakukan nelayan di Desa Argopeni adalah dengan melibatkan peran istri, diversifikasi pekerjaan, menabung dan pemanfaatan jaringan sosial. (2) Pendapatan nelayan yang hanya melaut dengan nelayan yang melakukan strategi nafkah signifikan berbeda. Pendapatan nelayan dari melakukan strategi nafkah lebih menguntungkan dibandingkan nelayan yang tidak melakukan strategi nafkah. Rata-rata pendapatan nelayan yang hanya melaut sebesar Rp16.657.673,00 sedangkan nelayan yang melaut dan melakukan strategi nafkah sebesar Rp20.044.826,00 atau naik sebesar 20,33 persen. Implikasi penelitian ini adalah perlu adanya peran kelompok nelayan dalam memberikan pembinaan, pelatihan dan fasilitas-fasilitas pendukung bagi masyarakat nelayan yang memiliki mayoritas pendidikan rendah agar apa yang menjadi pilihan dari strategi nafkah mereka dapat terus bertahan guna untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan nelayan di Desa Argopeni. Nelayan di Desa Argopeni hendaknya mempertimbangkan untuk melakukan strategi nafkah karena dengan melakukan strategi nafkah akan memberi keuntungan lebih kepada nelayan daripada hanya mengandalkan penghasilan dari hasil melaut saja. Selain itu pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan juga sebaiknya melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat nelayan agar dapat lebih kreatif dalam mencari atau menciptakan pekerjaan baru saat musim paceklik atau musim sepi ikan datang. | This research’s title is “Livelihood Strategy of Fishermen’s Family in Argopeni Village Ayah District, Kebumen”. The purposes of this study are to find out the fishermen’s livelihood strategies to obtain their families household income, and to know the income’s difference among fishermen who only catch fish with fishermen who make a livelihood strategy. This type of research is quantitative descriptive survey method. This research uses primary data with 83 respondents. The analytical tools that used in this research are tabulated and t test (t-test). Based on the results of the research obtained (1) livelihood strategies which is conducted by fishermen in Argopeni Village is by involving the role of wife, obtaining job diversification, saving, and utilizing of social networks. (2) fishermen’s income who only catch fish compared to fishermen who make a livelihood strategy have significant differences. Income of fishermen who make a livelihood strategy is more profitable rather than fishermen who didn’t make a livelihood strategy. The average income of fishermen who catch fish is only Rp16.657.673,00 whereas the fishermen who sail and make a livelihood strategies is Rp20.044.826,00 or increase with the number 20.33 percent. For the implication, this research needs the role of fishermen’s group in providing guidance, training and supporting facilities for fishing communities who have the majority of low education so what has become their choices of livelihood strategies could continue to survive to improve the welfare and progress of the fishermen in Argopeni Village. Fishermen in Argopeni Village should consider to implement livelihood’s strategy because by doing a livelihood strategy will give more benefits to fisherman rather than just relying on the income just from fishing. In addition, the government through the Department of Fisheries and Marine Resources should provide socialization and education to fisherman’s communities to be more creative in finding or creating new jobs when the famine season or rare fish season come. | |
| 7116 | 11346 | F1C011062 | HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN GROUP CHAT DI INSTANT MESSAGING LINE DENGAN KOHESIVITAS ANTAR ANGGOTA KELOMPOK | Group chat merupakan salah satu fitur yang ada di aplikasi LINE Messenger. Group chat menjadi media yang membuat anggota-anggota kelompok melakukan komunikasi yang lebih intens. Intensitas menggunakan group chat LINE dapat membuat hubungan makin dekat yang merupakan ciri dari kohesivitas. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori CMC (Computer Mediated Communication). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan intensitas penggunaan group chat di instant messaging LINE dengan kohesivitas antaranggota kelompok pada mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman Angkatan 2011-2013. Penelitian ini berjenis kuantitatif dan menggunakan metode survey. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman yang berjumlah 72 orang. Analisis data menggunakan korelasi uji korelasi Pearson’s Product Moments dan uji t untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman berada pada kategori sedang untuk intensitas penggunaan group chat di instant messaging LINE yaitu sebesar 51% dan kohesivitas juga berada pada kategori sedang sebesar 58%. Terdapat hubungan yang lemah dan signifikan dari hubungan antara variabel intensitas penggunaan group chat di instant messaging LINE dengan variabel kohesivitas antaranggota kelompok. Hal ini dibuktikan dengan nilai r sebesar 0,203 dan hasil uji t sebesar 1,755 yang lebih besar dari t tabel (1,666). Dengan demikian Ha yang menyatakan terdapat hubungan signifikan antara penggunaan group chat di instant messaging LINE dengan kohesivitas antaranggota kelompok, diterima. | Group chat is one of the features in LINE Messenger application. Group chat facilitates group members to increase communication intensity. Intensity of using group chat can create closer ties which is characteristic of cohesiveness. This research use CMC theory (Computer Mediated Communication). The aim of this research is to investigate the relationship between the intensity of using group chat in instant messaging LINE with cohesiveness among members of the group at the Department of Communication students Jenderal Soedirman University from 2011 to 2013. This research was quantitative and survey method. The sample in this research is the students of Communication Science Jenderal Soedirman University totaling 72 people. Data analysis uses Pearson’s Product Moments Correlation’s test and t test to test the hypothesis. The results shows the students of Communication Science Jenderal Soedirman University in middle category to the intensity of use in instant messaging group chat LINE that is equal to 51% and cohesiveness also in middle category by 58%. There is a weak but significant relationship of the relationship between the variable intensity of use in instant messaging group chat LINE with variable cohesiveness among members of the group. This is evidenced by the r value of 0.203 and test results of 1,755 t greater than t table (1.666). Thus Ha stating there is a significant association between the uses of instant messaging group chat in LINE with cohesiveness among members of the group, accepted. | |
| 7117 | 7717 | G1G009022 | PENGARUH APLIKASI FREEZE-DRIED AMNIOTIC MEMBRANE (AM 1/2) TERHADAP JUMLAH PEMBULUH DARAH KAPILER PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA GINGIVA (Kajian In Vivo pada Tikus Sprague Dawley) | Gingiva sering mengalami pelukaan baik karena trauma, penyakit periodontal, tindakan pasca pencabutan maupun tindakan bedah dengan perlukaan. Saat ini banyak cara dan bahan penyembuhan luka, salah satunya yaitu menggunakan freeze-dried amniotic membran (am1/2). Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh aplikasi freeze-dried amniotic membran (am1/2) terhadap jumlah pembuluh darah kapiler pada proses penyembuhan luka gingiva. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris. Penelitian ini menggunakan sampel tikus putih jantan Sprague Dawley, berumur 2-3 bulan, berat badan 100-200 gram sebanyak 36 ekor yang dibagi secara acak menjadi 6 kelompok, yaitu: 3 kelompok perlakuan yang diberi freeze-dried amniotic membran (am1/2) dan kelompok kontrol negatif yang diberi aquades. Masing-masing terdiri atas 6 ekor tikus berdasarkan periode dekapitasi yaitu hari ke-3, 5 dan 7. Pada semua kelompok tikus dibuat perlukaan pada gingiva labial rahang bawah, di antara gigi insisif kanan dan kiri dengan menggunakan punch biopsy berdiameter 3 mm. Pada daerah luka, setiap kelompok diaplikasikan agen terapeutik. Pada hari ke-3, ke-5, dan ke-7 dilakukan dekapitasi sesuai dengan kelompoknya. Jaringan luka dibuat preparat histologis kemudian dilakukan pengamatan gambaran histologis. Hasil dari uji ANOVA satu arah (p<0,05) dan LSD (p<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah terbukti bahwa aplikasi freeze-dried amniotic membran (am1/2) berpengaruh terhadap jumlah pembuluh darah kapiler pada proses penyembuhan luka gingiva tikus putih Sprague Dawley. | Gingival are often experienced lesion due to trauma, periodontal diseases, post revocation action with injury or surgery. Today many ways and wound healing materials, one which using a freeze-dried amniotic membrane (am1/2). The aim of this study was to investigate the effect of freeze-dried amniotic membrane (am1/2) to the number of capillary blood vessels in the gingival wound healing process. The method used is an experimental laboratory methods. This study used 36 male Sprague Dawley rats, 2-3 mount age, body weight 150-200 gram were divided randomly into 6 groups, the treatment group was given freeze-dried amniotic membrane (am1/2) and the negative control group was given distilled water. Each groups consist of 6 rats by decapitation period of 3rd, 5th, and 7th. All rats were wounded on the mandibular labial gingiva, between right and left incisor teeth using punch biopsy (Ø 3 mm). In the area, each the therapeutic agents was applied punch biopsy. The rats were decapited in the day 3rd, 5th, and 7th after. Histological preparation were made scar tissue then performed histological observation. Result from one way ANOVA (p<0,05) and LSD (p<0,05). The conclusion of this study in proven that the application of freeze-dried amniotic membrane (am1/2) effect to the number of capillary blood vessels the gingival wound healing process of white Sprague Dawley rats. | |
| 7118 | 8228 | D1E010038 | PENGARUH LEVEL Saccharomyces cereviceae PADA PEMBUATAN TEPUNG PUTIH TELUR TERHADAP DAYA BUIH DAN STABILITAS BUIH | Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh level Saccharomyces cereviceae pada pembuatan tepung putih telur terhadap daya buih dan stabilitas buih. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 25 Februari sampai dengan 13 Maret 2014 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan adalah 2 kg putih telur ayam niaga petelur, 1,8 g Saccharomyces cereviceae, dan 720 ml aquades. Variabel yang diukur adalah daya buih dan stabilitas buih. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan (T0 : putih telur tanpa Saccharomyces cereviceae; T1 : putih telur + Saccharomyces cereviceae 0.2% dari berat putih telur; dan T2 : putih telur + Saccharomyces cereviceae 0.4% dari berat putih telur) dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh level Saccharomyces cereviceae berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap daya buih dan stabilitas buih tepung putih telur. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penambahan level Saccharomyces cereviceae sampai 0,4% pada pembuatan tepung putih telur menghasilkan daya buih dan stabilitas buih tepung putih telur yang sama. | The aimed of the research to investtigate the effects level of Saccharomyces cereviceae in the making of egg white flour on foaming ability and foam stability. The research were conducted from February 25th until March 13th, 2014 at the Laboratory of Animal Products Technology, Faculty of Animal Science Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The research materials were 2 kg egg white of commercial laying chicken eggs, 1.8 g of Saccharomyces cereviceae, and 720 ml of distilled water. Variables measured foaming ability and foam stability. The method used was an experimental method using a Completely Randomized Design with 3 treatments (T0 : egg white without Saccharomyces cereviceae; T1 : egg white added Saccharomyces cereviceae as much as 0.2% by egg white weight; and T2 : egg white added Saccharomyces cereviceae as much as 0.4% by egg white weight) and each treatment was repeated as much as 6 times. The data were analyzed by analysis of variance. The results showed that the effect of the level of Saccharomy cescereviceae was not significant effect (P>0.05) on foaming ability and foam stability of egg white flour. The conclusions of this research that, adding of Saccharomyces cereviceae until 0.4% in making of egg white flour produces the similar foaming ability and foam stability of egg white flour. | |
| 7119 | 10257 | B1J010149 | STUDI KERAGAMAN SERANGGA POLINATOR PADA TANAMAN KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus) DAN PARE (Momordica charantia L.) DI LAHAN PERTANAMAN HUTAN KONSERVASI GUNUNG TUGEL BANYUMAS | Serangga penyerbuk merupakan kelompok serangga yang berperan dalam proses penyerbukan tanaman. Keanekaragaman serangga penyerbuk berkaitan dengan banyaknya bunga yang dihasilkan oleh tumbuhan. “Studi keragaman serangga polinator pada tanaman Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) dan Pare (Momordica charantia L.) di Lahan Pertanaman Hutan Konservasi Gunung Tugel Banyumas” telah dilaksanakan di Desa Kedungrandu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keragaman serangga penyerbuk serta jenis tanaman berbunga yang paling banyak dikunjungi serangga penyerbuk. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Pengambilan sampel serangga penyerbuk dilakukan sepanjang transek garis (line transect) pada pertanaman Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) dan Pare (Momordica charantia L.). Keanekaragaman serangga penyerbuk dianalisis dengan menggunakan Indeks Shannon-Winner, Indeks Shannon-Evenness dan indeks Jaccard. Hasil penelitian menunjukkan keragaman jenis tanaman berbunga mempengaruhi jumlah spesies dan kelimpahan serangga penyerbuk untuk berkunjung dan tanaman berbunga yang memiliki warna bunga yang cerah lebih menarik serangga untuk datang berkunjung. | Pollinator insect is a group of insect that play role in plant pollination process. Diversity of pollinator insect depend on quantities of flower that produced by plant. “Study of The diversity of pollinator insect on Winged bean (Psophocarpus tetragonolobus) and Bitter Gourd (Momordica charantia L.) plants on plantation area of Gunung Tugel Banyumas conservation forest” has been held in Kedungradu village. This study was conducted to determine the diversity of pollinator insect and species of flowering plant that visited the most by pollinator insect. This study used survey method with purposive random sampling technique. Samplings were done alongside line transect on Winged Bean (Psophocarpus tetragonolobus) and Bitter Gourd (Momordica charantia L.) plantation. The diversity of insect pollinator analized using Shannon-winner and Shannon-evenness index. The result showed that diversity of flowering plants affects the number of pollinator insect species and it’s abundance and flowering plant that have bright-color flower is more attractive to insect to visits. | |
| 7120 | 10258 | G1B010040 | FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SICK BUILDING SYNDROME (SBS) PADA PEGAWAI KANTOR PUSAT PERUSAHAAN ALAT BERAT PT X DI CIKARANG | Pembangunan gedung-gedung lebih kearah vertikal dan mengedepankan ventilasi buatan. Faktor kualitas udara didalam ruangan dengan ventilasi buatan bisa memicu berbagai macam masalah kesehatan. Salah satunya adalah Sick Building Syndrome. Menjadi penting untuk diperhatikan karena bisa menurunkan produktivitas kerja bahkan menimbulkan angka absensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubugan dengan kejadian Sick Building Syndrome (SBS) pada pegawai di kantor pusat perusahaan alat berat PT X di Cikarang, yang terdiri dari variabel temperatur, kelembaban, kecepatan aliran udara, pencahayaan, kandungan NO2, SO2, CO, debu dan mikroorganisme diudara, jenis kelamin, perilaku merokok, dan beban psikologis. Dengan menggunakan desain penelitian potong lintang yang dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2014. Responden penelitian berjumlah 67 responden karyawan PT. X dan hasil diolah dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian pada α=5% menunjukkan, tidak ada hubungan secara signifikan dari variabel yang diteliti dengan kejadian SBS di PT X. Pengelola gedung disarankan untuk menambahkan ventilasi guna sirkulasi udara, juga perawatan penyejuk ruangan dan lampu selalu dalam kondisi yang optimal | Building construction is moving toward vertical and putting artificial ventilation in the first place. Factor such as air quality in a room with artificial ventilation could lead to various kinds of health problems. One of them is Sick Building Syndrome. It is important to be noted because it could decrease the productivity of the employees and increase the absent number. The research was aimed to determine the factors-related incidence of Sick Building Syndrome (SBS) on employees at main office of heavy equipment manufacture PT X in Cikarang, which consists of temperature, humidity, air velocity, lighting, content of NO2, SO2, CO, dust and microorganisms in the air, sex, smoking behavior, and the psychological load as variabels, and this research used cross sectional study design conducted in June-August 2014. This study used 67 respondent that work in Main Office and was analyzed by regression logistic. The result on α=5% showed no significant association between the variabels were studied with the incidence of SBS in PT X. The building management is suggested to add ventilation for air circulation, as well as air conditioning and lighting treatments are needed to be always in optimal condition. |