Artikelilmiahs
Menampilkan 51.921-51.940 dari 52.028 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51921 | 55327 | F1A022104 | POLA KEHIDUPAN TOLERANSI : ANALISIS KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT DESA CISANTANA, KABUPATEN KUNINGAN | Meskipun pluralitas agama di Indonesia seringkali menjadi sumber konflik, Desa Cisantana di Kabupaten Kuningan menunjukkan model keharmonisan antara komunitas Muslim, Katolik, dan penganut Sunda Wiwitan. Penelitian ini mengkaji pola kehidupan toleran tersebut bukan sebagai kondisi alamiah, melainkan sebagai sebuah realitas yang dikonstruksi secara sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi praktik-praktik toleransi beserta faktor pendukungnya, serta menganalisis pola tersebut menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Data dianalisis melalui kerangka teoretis Berger dan Luckmann yang mencakup tiga momen dialektis: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Praktik toleransi diwujudkan secara aktif melalui perilaku masyarakat Desa Cisantana berupa sikap saling menghargai dan menghormati, gotong royong, partisipasi lintas iman dalam perayaan hari besar keagamaan, serta keterlibatan bersama dalam upacara adat Seren Taun. Praktik-praktik ini diperkuat oleh kearifan lokal Sunda silih asah, silih asih, silih asuh, serta peran aktif tokoh masyarakat, institusi keagamaan, dan lembaga pendidikan. Analisis menunjukkan bahwa tindakan-tindakan konkret ini (eksternalisasi) telah terlembaga menjadi norma sosial yang diterima bersama (objektivasi), yang kemudian diserap oleh individu melalui sosialisasi sebagai bagian dari kesadaran mereka (internalisasi). Disimpulkan bahwa toleransi di Desa Cisantana adalah realitas sosial dinamis yang secara aktif diciptakan, dipelihara, dan diwariskan dari generasi ke generasi. | Although religious plurality in Indonesia is often a source of conflict, Cisantana Village in Kuningan Regency demonstrates a model of harmony among its Muslim, Catholic, and Sunda Wiwitan communities. This study examines this pattern of tolerant life not as a natural condition, but as a socially constructed reality. The purpose of this research is to identify the practices of tolerance and their supporting factors, and to analyze this pattern using the social construction theory of Peter L. Berger and Thomas Luckmann. This research employs a descriptive qualitative method with a literature review approach. Data were analyzed through Berger and Luckmann's theoretical framework, which includes three dialectical moments: externalization, objectivation, and internalization. The results show that the practice of tolerance is actively manifested through the behaviors of the Cisantana Village community, such as mutual respect, gotong royong (mutual cooperation), interfaith participation in major religious celebrations, and joint involvement in the Seren Taun traditional ceremony. These practices are reinforced by the Sundanese local wisdom of silih asah, silih asih, silih asuh, as well as the active roles of community leaders, religious institutions, and educational institutions. The analysis indicates that these concrete actions (externalization) become institutionalized as mutually accepted social norms (objectivation), which are subsequently absorbed by individuals through socialization as part of their consciousness (internalization). It is concluded that tolerance in Cisantana Village is a dynamic social reality that is actively created, maintained, and passed down from generation to generation. | |
| 51922 | 55469 | H1E022018 | Pengaruh Jenis Jalan, Tingkat Lalu Lintas, Serta Durasi Distraksi Ketika Berkendara Terhadap Potensi Kecelakaan Lalu Lintas dengan Driving Simulator dan Factorial Design | Distraksi penggunaan telepon seluler saat berkendara merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan perhatian pengemudi dan meningkatkan risiko kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh durasi distraksi, jenis jalan, dan tingkat lalu lintas terhadap tingkat risiko berkendara serta mengidentifikasi perubahan pola hubungan antara durasi distraksi dan risiko berkendara. Penelitian dilakukan menggunakan driving simulator dengan rancangan full factorial yang melibatkan jenis jalan 2 dan 4 lajur, tingkat lalu lintas rendah, sedang, dan tinggi, serta durasi distraksi 0, 2, 4, 6, 8, dan 10 detik. Tingkat risiko berkendara dikategorikan menjadi empat tingkat, yaitu aman, risiko terjadi kecelakaan, kecelakaan ringan, dan kecelakaan berat. Data dianalisis menggunakan ANOVA untuk mengetahui pengaruh faktor dan interaksinya, serta piecewise regression untuk mengidentifikasi titik perubahan hubungan antara durasi distraksi dan tingkat risiko. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa durasi distraksi dan tingkat lalu lintas berpengaruh signifikan terhadap tingkat risiko berkendara, sedangkan jenis jalan tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Durasi distraksi menjadi faktor yang paling dominan, sementara tidak ditemukan interaksi yang signifikan antar faktor. Analisis piecewise regression menghasilkan estimasi titik perubahan pada sekitar 3,08 detik, dengan kecenderungan peningkatan risiko yang lebih besar setelah titik tersebut. Namun, hasil Davies’ Test tidak menunjukkan perubahan slope yang signifikan (p = 0,3847), sehingga 3,08 detik belum dapat ditetapkan sebagai batas kritis atau batas aman. Hasil penelitian dapat menjadi dasar pengembangan intervensi keselamatan berkendara dan konsep driver monitoring system (DMS). | Cell phone distraction while driving is one of the factors that can reduce driver attention and increase accident risk. This study aims to analyze the effects of distraction duration, road type, and traffic level on driving risk and to identify changes in the relationship between distraction duration and driving risk. The study was conducted using a driving simulator with a full factorial design involving two- and four-lane roads, low, moderate, and high traffic levels, and distraction durations of 0, 2, 4, 6, 8, and 10 seconds. Driving risk was categorized into four levels: safe, accident risk, minor accident, and major accident. The data were analyzed using ANOVA to determine the effects of the experimental factors and their interactions, and piecewise regression to identify a potential change point in the relationship between distraction duration and driving risk. The ANOVA results showed that distraction duration and traffic level significantly affected driving risk, while road type did not have a significant effect. Distraction duration was the most dominant factor, while no significant interactions were found among the experimental factors. Piecewise regression estimated a change point at approximately 3.08 seconds, with a tendency for greater risk increases after this point. However, the Davies’ Test did not indicate a significant change in slope (*p* = 0.3847); therefore, 3.08 seconds cannot be established as a critical or safe threshold. The findings may support the development of driving safety interventions and Driver Monitoring Systems (DMS). | |
| 51923 | 41468 | F1D019004 | PENGARUH TERPAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN BANYUMAS DAN UJI EKSPERIMENTAL TERHADAP LITERASI POLITIK FOLLOWERS MENJELANG PEMILIHAN UMUM 2024 | Artikel ini menggunakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh terpaan media sosial Instagram Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas terhadap literasi politik followers menjelang Pemilihan Umum 2024. Terdapat penelitian pendukung menggunakan teknik eksperimental dengan membandingkan kelas eksperimen dan kelas kontrol followers, diperoleh hasil bahwa sesuatu yang diberikan perlakuan khusus akan lebih tinggi tingkat literasinya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui kuesioner yang ditentukan dengan random sampling sejumlah 100 responden followers Instagram. Teori yang dijadikan landasan dalam penelitian ini adalah teori S-O-R. Dalam membuktikan dn menganalisis tersebut maka digunakan uji validitas dan reabilitas, uji regresi ordinal, dan uji korelasi rank spearman. Hasil pengujian menggunakan regresi ordinal menunjukan variabel X mempengaruhi sebesar 34,4% variabel Y. Pada uji korelasi rank spearman koefisien korelasi sebesar 0,684 yang artinya kedua variabel memiliki hubungan yang kuat. Dengan demikian dapat dimaknai adanya terpaan media sosial Instagram KPU Banyumas mempengaruhi literasi politik followers menjelang Pemilihan Umum 2024 dan berdasarkan hipotesis yang telah dibuat maka Ha diterima dan Ho ditolak. | This article uses quantitative research which aims to determine the effect of Instagram social media exposure from the Banyumas District General Election Commission on political literacy of followers ahead of the 2024 General Election. There is supporting research using experimental techniques by comparing the experimental class and the control class of followers, the result is that if something is given treatment specifically, the literacy rate will be higher. The data collection technique in this study was through a questionnaire determined by random sampling of 100 Instagram followers respondents. The theory used as the basis for this research is the S-O-R theory. In proving and analyzing this, validity and reliability tests, ordinal regression tests, and Spearman's rank correlation tests are used. The test results using ordinal regression showed that the X variable influenced 34.4% of the Y variable. In the Spearman rank correlation test, the correlation coefficient was 0.684, which means that the two variables have a strong relationship. Thus it can be interpreted that exposure to the Banyumas KPU Instagram social media has affected the political literacy of followers ahead of the 2024 General Election and based on the hypothesis that has been made, Ha is accepted and Ho is rejected. | |
| 51924 | 33704 | E1A017158 | PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN APARTEMEN BERDASARKAN UNDANG – UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN ( Studi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 485/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Sel ) | Apartemen merupakan suatu inovasi dalam penyediaan hunian tempat tinggal bagi masyarakat. Pembangunan apartemen di Indonesia didasarkan pada Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun. Pembangunan apartemen dalam praktiknya menimbulkan banyaknya pelaku usaha yang ikut memproduksi apartemen dengan berbagai fasilitas – fasilitas penunjang yang berbeda – beda sebagai daya tarik bagi para calon konsumennya. Hubungan antara konsumen dan pelaku usaha apartemen didasarkan pada Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari studi kepustakaan berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan metode analisis data secara normatif kualitatif. Hasil penelitian dapat disimpulkan, Majelis Hakim yang memeriksa perkara pada Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 485/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Sel telah memberikan perlindungan konsumen bagi konsumen apartemen dengan mengabulkan sebagian gugatan dari konsumen dan menjatuhkan amar putusan dengan membatalkan surat – surat pesanan unit apartemen dan mewajibkan ganti rugi dari pelaku usaha kepada konsumen, hal ini sesuai dengan yang diatur dalam Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. | Apartments are an innovation in providing residential housing for the community. Apartment's development in Indonesia is based on Law Number 20 of 2011 concerning Apartment. The constructions of apartments in practice raises the number of businessmen who participate in producing apartments with various different supporting facilities as an attraction for potential consumers. The relationship between consumers and apartment businessmen is based on Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection. The research method used in this study uses a normative juridicial approach with descriptive research specifiations. Sources of data used are secondary data obtained from literature studies in the form of primary, secondary, and tertiary legal materials. The collected data is processed and analyzed using the qualitative normative data analysis method. The results of the study can be concluded, the Panel of Judges who examined the case on the South Jakarta District Court Decision Number 485/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Sel has provided consumer protection for apartment consumers by granting some of the claims of consumers and dropping the verdict by canceling the order letter's of apartments units and businessman must to give compensation to consumers, this is in accordance with what is regulated in Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection. | |
| 51925 | 5388 | G1A009087 | PENGARUH PEMBERIAN KAFEIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus Norvergicus) YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCL4) | PENGARUH PEMBERIAN KAFEIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCL4) ABSTRAK LatarBelakang:Prevalensi penyakit hati yang terus meningkat menjadi salah satu masalah kesehatan di dunia CCl4 adalah bahan kimia hepatotoksik yang dapat merusak membrane sel bahkan kematian sel hepar. Kafein dengan kandungan antioksidan Clorogenik acid diduga dapat berguna untuk terapi penyakit hati. Tujuan:Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh pemberian kafein terhadap perubahan histopatologi hati tikus putih (Rattus norvegicus) Jantan yang diinduksi karbon tetraklorida (CCL4). Metode:Penelitian ini menggunakan 18 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dengan galur Spargue Dawley berusia 3 sampai 4 bulan dengan berat 250-275 g. Tikus dibagi tiga kelompok yaitu: kelompok control negative tanpa induksi (CCL4), control positif dengan induksi (CCL4), dan kelompok perlakuan dengan induksi (CCL4) dan sonde kafein dosis 5,4 mg/200grBB tikus/hari. Perlakuan selama 56 hari. Pemeriksaan histopatology dengan skor Manja Roenigk. Analisis data yang digunakan adalah Kruskal Wallis dan uji Post Hoc dengan Mann Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% (P<0,05). Hasil:Gambaran histopatologi dinilai dari perubahan sel normal menjadi degenerasi parenkimatosa, hidropik, dannekrosis. Analisis Kruskal Wallis kerusakan hepatosit P=0,002, perubahan gambaran histopatologi P=0,003, dan Keparahan nekrosis P=0,001 menunjukan hasil yang signifikan terhadap efek pemberian kafein terhadap perbaikan gambaran histopatologi hepar. Uji Post Hoc Mann Whitney didapat perbedaan bermakna pada K(-) - K(+) P=0,002, K(+) - Perlakuan P=0,002, dan K(+)-Perlakuan P=0,041. Kesimpulan:Pemberian kafein berpengaruh pada perbaikan gambaran histopatologi hati tikus putih (Rattus norvegicus) jantan yang diinduksi karbon tetraklorida (CCL4). Kata kunci: Kafein, Clorogenic acid, karbon tetraklorida, skor Manja Roenigk. | ABSTRACT Backround:The prevalence of heart disease continues to increase to one health problem in the world. CCl4 is hepatotoxic chemical, is able to cause damage the cell membrane and death of liver cells. Caffeine content of antioxidant Clorogenik acid could be expected to be useful for the treatment of liver disease. Objection:The aim of this study was to prove the effect of caffeine to liver histopatology male rat (Rattus norvegicus)-induced by carbon tetracloride (CCL4). Metod:This study used eighteen rats (Spargue dawley) aged three to four months, 250-350 g weight, and divided into three groups, six each. There were negative control group without-induced CCL4; positive control groups with CCL4; and groups with caffein in dose5,4 mg/200 g BW day for 56 days. Histopatology examination used Manja Roenigk scoring System. The result test was analyzed by Kruskal Wallis with Mann Whitney as post hoc. Result: Preview histopathology assessed from changes normal cells into parenkimatosa degeneration, hydropic, and necrosis. Analysis of hepatocyte damage Kruskal Wallis P = 0.002, changes in histopathology image P = 0.003 and P = 0.001 Severity necrosis showed significant results on the effects of caffeine administration on hepatic histopathology image improvement. Post hoc Mann Whitney test obtained significant differences in K (-)-K (+) P = 0.002, K (+)-Treatment P = 0.002, and K (+)-Treatment P = 0.041. Conclution:Giving an overview of caffeine effect on histopathological changes in the liver of white male rat (Rattus norvegicus) induced carbon tetrachloride (CCl4). Key words: Caffeine, Clorogenic acid, karbon tetracloride, and Manja Roenick score. | |
| 51926 | 13906 | H1D011040 | ANALISIS KINERJA PERSIMPANGAN JALAN TIDAK BERSINYAL DI SIMPANG TIGA MT. HARYONO KOTA BALIKPAPAN DENGAN METODE PKJI2014 | Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, terkadang berbagai masalah dihadapi, salah satunya terjadi di daerah sekitar simpang. Simpang sebagai penunjang prasarana transportasi yang utamanya bertujuan meningkatkan mobilitas dan mengurangi kemacetan, faktanya menjadi penyebab kemacetan dan salah satunya terjadi di Kota Balikpapan. Salah satu simpang yang menjadi perhatian adalah simpang di MT. Haryono, Jl. Soekarno - Hatta Simpang Km. 4,5 terletak di Kelurahan Graha Indah Kecamatan Balikpapan Utara merupakan suatu area yang memiliki volume lalu lintas tinggi karena merupakan gerbang arus lalu lintas dari dan menuju Kota Balikpapan dan merupakan penghubung antar zona pemukiman, zona kegiatan perekonomian (perdagangan, jasa, dan industri), dan zona pendidikan sehingga pada jam-jam sibuk (peak hour) sering terjadi antrian, tundaan, dan kemacetan. Hasil analisis dengan metode PKJI 2014, menunjukkan bahwa jam puncak terjadi pada hari Senin, 27 Juli 2015 pukul 16.00-17.00 WITA dengan volume lalu lintas sebesar 3200 smp/jam, kapasitas (C) sebesar 2477 skr/jam, derajat kejenuhan (DJ) sebesar 1,308, tundaan simpang (TL) sebesar 151 det/skr, peluang antrian (PA) sebesar 71-146% dan tingkat pelayanan F. Derajat kejenuhan masih belum memenuhi nilai yang ditetapkan PKJI 2014, yaitu lebih dari 0,85. Maka perlu dilakukan perubahan untuk peningkatan kinerja. Berdasarkan hasil simulasi alternatif peningkatan kinerja, solusi yang terbaik pada tahun 2015 adalah perubahan menjadi simpang APILL dengan kondisi geometrik eksisting. Untuk solusi terbaik pada tahun 2020 adalah alternatif perubahan menjadi simpang APILL dengan penambahan lebar pendekat. | Transportation is used for human mobility in daily activity. However, sometimes problem are faced, for example it happened arround intersection. Intersection as the support of transportation infrastructure are primarily aimed for increasing mobility and reduce traffic, the fact is the cause of traffic and one of which is happens in the City of Balikpapan. One of intersection in concern is the intersection at MT. Haryono, Soekarno-Hatta Street in KM 4,5, is located in the North Graha Indah Village that is the area that has a high traffic volume as the gateway for traffic flow to Balikpapan and connecting between residential zone, economical zone, and educational zone so that at peak hour, frequently causing queues, delays and congestion. The result of the analysis of PKJI 2014 method, showed that the peak hours is occurred on Monday, July 27th, 2015, at 16.00-17.00 PM with a traffic volume 3200skr/hour, capacity (C) 2477 skr/hour, degree of saturation (DJ) 1.308, intersection delay (T) 151 sec/skr, chances of queue (PA) 71 – 146% and level of services F. The degree of saturation is below the value from PKJI 2014 method. So that it is need to be changed to improve the performance. Based from the result of analysis alternate simulation result for improving intersection performance, the best solution in 2015 was a change to intersection with signal with existing geometric conditions. Meanwhile, the best solution in 2020 was a change to intersection with signal with the additons of wide of the road. | |
| 51927 | 18923 | H1A013029 | UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL DAUN MANGGA ARUMANIS (Mangifera indica L.) TERHADAP Staphylococcus aureus | ABSTRAK : Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri patogen yang dapat menyebabkan infeksi pernafasan dan pencernaan. Salah satu senyawa aktif dari tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri adalah ekstrak daun mangga arumanis (Mangifera indica L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol daun mangga arumanis terhadap S. aureus, penentuan konsentrasi hambat tumbuh minimum (KHTM). Penentuan aktivitas dan KHTM dilakukan dengan metode cup plate technique atau difusi sumuran. KHTM ekstrak metanol daun mangga terhadap S. aureus yaitu pada konsentrasi 5 ppm dengan zona hambat sebesar 2,46 mm. | ABSTRACT : Staphylococcus aureus is one of the patogenic bacterial cause respiratory dan digestion infection. Mango leaf extract (Mangifera indica L.) is potential extract as antibacterial agent. This research want to know the activity of mango leaf extract to S. aureus, determine the minimum inhibitory concentration. Minimum inhibitory concentration determined by cup plate technique method. Minimum inhibitory concentration mango leaf extract to S. aureus is known at 5 ppm with 2.46 mm inhibition zone. | |
| 51928 | 51806 | I2A024015 | ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN INTEGRASI LAYANAN PRIMER (ILP) DI KABUPATEN PURBALINGGA | Latar Belakang: Integrasi pelayanan kesehatan primer adalah pelayanan kesehatan terpadu, komprehensif, mudah diakses, dan terjangkau bagi masyarakat. Pelayanan ini bertujuan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer diimplementasikan di seluruh Indonesia dan data dari tahun 2024 menunjukkan bahwa Kabupaten Purbalingga belum mengimplementasikannya secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan studi lebih lanjut mengenai implementasi kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana implementasi kebijakan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer di Kabupaten Purbalingga telah dilakukan. Metode: Subjek penelitian adalah 22 Puskesmas di Kabupaten Purbalingga. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Prosedur pengambilan sampel: Survei lapangan untuk mengidentifikasi terkait ILP. Melakukan survei terhadap Puskesmas di Kabupaten Purbalingga mengenai implementasi ILP. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan staf Puskesmas dan observasi langsung terhadap implementasi ILP di Puskesmas Kabupaten Purbalingga. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil: Komponen masukan terdiri dari ketersediaan struktur organisasi, ketersediaan infrastruktur dan peralatan kesehatan, ketersediaan sumber daya manusia, perencanaan pendekatan klaster, ketersediaan ruang klaster. Komponen proses terdiri dari layanan siklus hidup, pemberdayaan masyarakat, pengembangan jaringan di wilayah kerja, pemantauan wilayah setempat, skrining kesehatan untuk setiap klaster, pendidikan kesehatan untuk setiap klaster. Komponen keluaran terdiri dari pelaporan jaringan di wilayah kerja dan pelaporan Puskesmas yang menerapkan Rekam Medis Elektronik (EMDR). Kesimpulan: Dari penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Purbalingga sedang berlangsung, meskipun masih terdapat keterbatasan, seperti sumber daya manusia, infrastruktur, kegiatan pemantauan wilayah setempat (PWS), dan pelaporan jaringan di wilayah kerja. Diharapkan dapat ditemukan solusi untuk semua keterbatasan tersebut di masa mendatang, sehingga implementasi kebijakan pelayanan kesehatan primer berjalan lancar dan memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat. Kata kunci: Analisis, Implementasi, Kebijakan, Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer | Background: Primary service integration is an integrated, comprehensive, accessible, and accessible health service for the community. This service serves to achieve the Sustainable Development Goals (SDGs) and improve degree public health. The primary service integration policy is implemented throughout Indonesia and data from 2024 shows that Purbalingga Regency has not implemented all of it. Therefore, further studies are needed in the implementation of primary service integration policies. The purpose of this study was to find out how far the implementation of the Primary Service Integration policy in Purbalingga Regency has been. Methods: The research subjects were all 22 community health centers (Puskesmas) in Purbalingga Regency. The sampling technique used was cluster random sampling. Sampling procedure: Field survey to identify related ILP. Conducting a survey of Community Health Centers in Purbalingga Regency regarding the implementation of ILP. Data collection through interviews and observations. Data collection was conducted through interviews with community health center staff and direct observation of the implementation of the ILP at the Purbalingga Regency community health center. Data analysis using descriptive statistics.The collected data were then analyzed using descriptive statistics. Results: The input component consists of the availability of organizational structure, availability of infrastructure and health equipment, availability of human resources, cluster approach planning, availability of cluster rooms. The process component consists of life cycle services, community empowerment, network development in the work area, local area monitoring, health screening for each cluster, health education for each cluster. The output component consists of network reporting in the work area and reporting of Community Health Centers implementing Electronic Medical Records (EMDR). Conclusion: From the above study, it can be concluded that the implementation of the primary care integration policy in Purbalingga Regency is ongoing, although limitations remain, such as human resources, infrastructure, local area monitoring (PWS) activities, and network reporting in the work area. It is hoped that solutions can be found for all of these limitations in the future, so that the implementation of the primary care policy runs smoothly and provides significant benefits to the community. Keywords: Analysis, Implementation, Policy, Primary Care Integration | |
| 51929 | 6899 | F1A007054 | KONFLIK PROSES PENATAAN ULANG PASAR WAGE DI PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan memberikan penjelasan tentang persepsi pedagang tentang proses penataan Pasar Wage dan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya konflik dalam proses penataan Pasar Wage. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sasaran utama dalam penelitian ini yaitu para pedagang Pasar Wage antara lain pedagang yang tidak memiliki kios, pedagang berkios, dan pedagang yang berada di pinggiran Pasar Wage. Sedangkan sasaran pendukung dalam penelitian ini yaitu pihak-pihak yang mempunyai kaitan erat dengan permasalahan yang akan diteliti oleh peneliti. Pihak-pihak tersebut antara lain yaitu pembeli dan pengunjung pasar, dan anggota Satpol PP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pedagang yang pro terhadap pemerintah adalah mereka pedagang besar yang memiliki langganan. Sehingga meskipun tempat relokasi kurang nyaman, namun tidak sepi pembeli. Sedangkan pedagang yang kontra terhadap kebijakan pemerintah adalah mereka yang merasa dirugikan yaitu pedagang yang ada di lantai dasar pasar, menurut mereka, apabila lokasi pedagang dipindah, maka mereka akan kehilangan pelanggan. Saran yang diajukan adalah : Perlu dilakukan kajian ulang baik permasalahan makro maupun mikro oleh Pemerintah kabupaten. Pemerintah hendaknya konsisten dalam menegakkan peraturan yang telah dibuat, khususnya tentang penataan Pasar Wage. Para Pedagang para pedagang juga harus ikut menaati peraturan yang telah dibuat oleh Pemerintah, sembari tetap mempertahankan strategi untuk meningkatkan jumlah pembeli maupun omset penjualan, agar tercipta suasana pasar yang bersih dan teratur. | This study aims to provide an explanation of the perception of traders on the Market Wage structuring process and to know what are the factors that cause conflicts in the process of structuring the Market Wage. The method used in this research is descriptive qualitative. The main objectives of this research are market traders Wage among other traders who do not have a stall, berkios merchants, traders who are in the outskirts of Market Wage. While the goal of this research is supporting parties that have close links with the issues to be studied by researchers. These parties include the buyer's market and visitors, and members of the municipal police. The results showed that the perception of the government's pro merchant wholesalers are those who have a subscription. So although the relocation less comfortable, but not deserted buyers. While traders are counter to government policy are those who feel aggrieved that existing traders on the ground floor of the market, according to them, if the merchant's location was moved, then they will lose customers. The suggestions are: Need to be a review of both macro and micro issues by the district government. Government should be consistent in enforcing the rules that have been made, particularly on structuring Market Wage. The traders Traders should also follow obeying rules that have been made by the Government, while maintaining a strategy to increase the number of buyers and sales turnover, in order to create a market environment clean and orderly | |
| 51930 | 55474 | G4A024003 | PENGARUH PREKONDISI TRIMETAZIDIN TERHADAP SEKRESI HGF PADA SEKRETOM SEL PUNCA MESENKIMAL | Latar Belakang: Sel Punca Mesenkimal (SPM) merupakan sel punca yang berasal dari jaringan dewasa yang bersifat multipotent yang saat ini mulai dikembangkan sebagai cell-free therapy dengan memanfaatkan sekretom SPM. Komponen penting dalam sekretom salah satunya adalah faktor pertumbuhan. Hepatocyte Growth Factor (HGF) merupakan salah satu faktor pertumbuhan yang dapat dimodulasi dengan prekondisi menggunakan agen farmakologi salah satunya dapat menggunakan trimetazidin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh prekondisi TMZ terhadap kadar sekresi HGF pada sekretom SPM. Metode: Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan post-test only with control group. Sel punca mesenkimal dari umbilical cord dikultur berdasarkan 4 kelompok perlakuan (tanpa prekondisi, TMZ 5 μM, TMZ 10 μM, TMZ 20 μM) dengan kultur selama 24 jam. Kadar HGF diukur dengan metode ELISA. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Kruskall-Wallis. Hasil: HGF ditemukan pada setiap kelompok perlakuan dengan prekondisi TMZ selama 24 jam pada konsentrasi yang berbeda dengan kadar HGF tertinggi pada prekondisi TMZ 5μM (1092,19 ng/L). Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat pengaruh signfikan antara kelompok perlakuan dengan prekondisi TMZ terhadap sekresi HGF pada sekretom SPM (p<0,05). Kesimpulan: Prekondisi trimetazidin memiliki pengaruh signifikan antar kelompok perlakuan terhadap sekresi HGF pada sekretom sel punca mesenkimal. | Background: Mesenchymal Stem Cells (MSC) are stem cells that origin from adult tissue that are multipotent and are currently being developed as cell-free therapy by utilizing the secretome. One of the important components in the secretome is growth factors. Hepatocyte Growth Factor (HGF) is a growth factor that can be modulated by preconditioning using pharmacological agents, one of which can be trimetazidine. The aim of this study was to determine the effect of TMZ preconditioning on HGF secretion levels in the MSC secretome. Method: This study used a true experimental method with post-test only with control group design. MSC from umbilical cord were cultured based on 4 treatment groups (no preconditioning, TMZ 5 μM, TMZ 10 μM, TMZ 20 μM) for 24 hours. HGF levels measured using ELISA method. Statistical analysis used the Kruskall-Wallis test. Result: HGF was found in each treatment group with TMZ preconditioning for 24 hours at different concentrations with the highest HGF levels in 5μM TMZ preconditioning (1092.19 ng/L). The results of statistical analysis showed that there was a significant influence between TMZ preconditioning and HGF secretion in the MSC secretome (p<0.05). Conclusion: Trimetazidine preconditioning had a significant effect on HGF secretion in the secretome of mesenchymal stem cells. | |
| 51931 | 55470 | A1D022198 | Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis Melo L.) Pada Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique dengan Aplikasi Giberelin | Penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) pada suatu tanaman mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui pemanjangan dan pembelahan sel dalam mendukung percepatan perkecambahan, pertumbuhan batang, perluasan daun, hingga peningkatan bobot buah dan kemanisan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saat aplikasi terbaik dan konsentrasi giberelin optimal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon, serta mengetahui adanya interaksi antara saat aplikasi dan konsentrasi giberelin terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Penelitian ini dilakukan di screenhouse Desa Pasir Kulon, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dengan dua faktor perlakuan. Petak utama yaitu saat aplikasi (fase vegetatif dan fase generatif) dan anak petak yaitu konsentrasi giberelin (0 ppm, 50 ppm, 100 ppm dan 150 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap jumlah daun (24 HST, 31 HST, 38 HST) dan umur berbunga tanaman melon baik bunga jantan maupun bunga betina. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan saat aplikasi dan konsentrasi giberelin pada jumlah daun maupun umur berbunga. | The application of gibberellin, a plant growth regulator (PGR), promotes plant growth through cell elongation and division, thereby supporting faster germination, stem growth, leaf expansion, an increases in fruit weight and sweetness. This study aimed to determine the optimal application timing and gibberellin concentration for improving the growth and yield of melon plants, as well as to investigate the interaction between application time an gibberellin concentration on melon growth and yield. The study was conducted in a screen house in Pasir Kulon Village, West Purwokerto District, Banyumas Regency, Indonesia. The experiment was arranged using a split-plot design with two treatment factors. The main plot factor was application time, consisting of vegetative and generative phases, while subplot factor was gibberellin concentration, consisting of 0, 50, 100, and 150 ppm. The results showed that application time and gibberellin concentration did not significantly affect the number of leaves at 24, 31, and 38 days after planting (DAP) or the flowering time of male and female flowers in melon plants. Furthermore, no significant interaction was observed between application time and gibberellin concentration in terms of leaf number or flowering time. | |
| 51932 | 7678 | F1B007010 | IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DALAM PELAYANAN E-KTP DI KECAMATAN INDRAMAYU KABUPATEN INDRAMAYU | Kemajuan teknologi di Indonesia khususnya di bidang teknologi informasi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini karena semakin pentingnya informasi dan pengolahan data di dalam aspek kehidupan manusia. Perkembangan teknologi informasi, dalam hal ini komputer dapat menunjang pengambilan keputusan di dalam organisasi-organisasi modern yang memungkinkan suatu pekerjaan di dalam organisasi modern dapat diselesaikan secara tepat, akurat, dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dalam pelayanan e-KTP, yang dilaksanakan oleh Kecamatan Indramayu Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif Deskriptif, pengambilan Informan menggunakan teknik purposive sampling di mana teknik pemilihan informan ini berdasarkan pertimbangan (mereka adalah yang menerima dan merasakan pelayanan e-KTP). Penelitian ini menggunakan model Implementasi G. C. Edward III berpandangan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat aspek yakni Communication, Resources, Disposition, Bureaucratic Structure. Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan program e-KTP yang telah dilakukan oleh Kecamatan Indramayu itu mengikuti proses perencanaan yang diberikan oleh pemerintah dengan cara mensosialisasikan program tersebut kepada seluruh warga masyarakat di Indramayu khususnya di Kecamatan Indramayu. Kecamatan Indramayu mampu mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya baik itu kinerjanya, kelengkapan sarana dan prasarana, serta dukungan dari pihak luar. Pelayanan dalam program e-KTP di Kecamatan Indramayu dapat dikatakan kurang memuaskan dalam pelayanan e-KTP yang diberikan oleh Kecamatan Indrmayu kepada masyarakat, adapun kendalanya yaitu antrian yang panjang sehingga memakan waktu yang cukup lama dalam pembuatan e-KTP, kemudian masyarakat mengeluh rumitnya pembuatan e-KTP. Dengan adanya keputusan dari Mentri Dalam Negeri (MENDAGRI) bahwa adanya program e-KTP di Indonesia sangat efektif untuk mencegah adanya identitas ganda. | Development of technology in Indonesia, especially the sector of information, develop rapidily. This because of the most important of information and data processing in the aspect of human life. The information technology development, in this case computer, is able to support in decision making in modern organizations in finishing job exactly, accurately and efficiently. The purpose of this research are to know and to describe the implementation of Information System Of Civil Administration in e-KTP service which is hold in Subdistrict of Indramayu, Indramayu Regency. This research uses qualitative method. In addition, the purposive sampling technique is used to select the informan based the consideration (They are whom receive and use the service of electronic ID). This research uses implementation model G. C. Edward III, who thinks that the success of implementation policy is influenced by four variables including Communication, Resources, Disposition, and Bureaucratic Structure. Based on the result of the research, realization program of e-KTP which was done by Subdistric of Indramayu follows the planning process given by the government of Indonesia through socialize that program to the whole of society in Indramayu especially in Subdistrict of Indramayu. The Subdistrict agencies can optimize their capability they have including their performance, the completeness the facilities and infrastructures as well as external support. The services of e-KTP program can be said is not satistying given by district employee. The problems were long queue, so it takes too many times in making e-KTP. Then, the citizen is complaining the difficulties in making it. This relates to the decision of the Interior Minister (MENDAGRI) that the availability of e-KTP program in Indonesia is very effective to prevent the double identity. | |
| 51933 | 25441 | G1B012003 | FENOMENA GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA USIA SUBUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAMIS | FENOMENA GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA USIA SUBUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ( RSUD) CIAMIS Rica Cahyani, Bambang Hariyadi, Heryanto Latar Belakang :. Fenomena fisiologis normal pada remaja wanita yaitu menstruasi. Kualitas hidup seperti konsumsi makanan cepat saji, kurang aktivitas fisik dan melewatkan sarapan pagi dapat mempengaruhi gangguan menstruasi. Fungsi organ menstruasi juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan makan. Stres atau emosional dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen, kelenjar pituitari dan ovarium. akibatnya, ketidakseimbangan estrogen dan progesterone yang menyebabkan perubahan dalam siklus menstruasi dan keteraturan pada menstruasi Metode : Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam kepada 5 subyek penelitian dan 1 informan yaitu bidan hasil wawancara di cross check wawancara bidan selaku petugas yang ada menangani pasien gangguan menstruasi. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menyatakan bahwa fenomena gangguan menstruasi yang terjadi pada wanita usia subur adalah pada gangguan siklus menstruasi, dismenore yang berkaitan dengan keadaan psikis atau stress, usia menarke, aktifitas sehari - hari, perubahan pada asupan makanan ketika menstruasi. Kesimpulan : Keadaan psikis atau stress, usia menarke, aktifitas fisik / olahraga dapat menganggu terhadap terjadinya gangguan menstruasi terutama pada siklus menstruasi yang tidak teratur. Kata Kunci : Fenomena gangguan menstruasi, Siklus menstruasi, Wanita usia subur | PHENOMENON OF MENSTRUAL CYCLE DISORDERS IN LUSH AGE WOMEN IN CIAMIS REGIONAL GENERAL HOSPITAL Rica Cahyani. Bambang Hariyadi, Heryanto Background : Normal physiological phenomena in young women, namely menstruation. Quality of life such as consumption of fast food, lack of physical activity and skipping breakfast can affect menstrual disorders. The function of menstrual organs can also be affected by eating habits. Stress or emotional disturbance can balance the hormones estrogen, pituitary gland and ovaries. consequently, the imbalance of estrogen and progesterone causes changes in the menstrual cycle and regularity in menstruation Method : The design of this study is descriptive qualitative with data collection techniques with in-depth interviews with 5 research subjects and 1 informant, namely midwives interviewed on cross check interviews of midwives as existing officers dealing with patients with menstrual disorders. Result : The results of the study state that the phenomenon of menstrual disorders that occur in adolescents is the disruption of the menstrual cycle, dysmenorrhea associated with psychological conditions or stress, age menarche, daily activities, changes in food intake during menstruation. Conclusion : Psychological states or stress, age of menarche, physical activity / exercise can interfere with the occurrence of menstrual disorders, especially during irregular menstrual cycles. Keyword : Phenomenon of Menstrual Disorders, Menstrual Cycles, Women of Childbearing Age | |
| 51934 | 51502 | C1G022018 | PENGARUH KUALITAS INSTITUSI TERHADAP FDI DI ASEAN PASCA KRISIS | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas institusi terhadap arus Foreign Direct Investment (FDI) di negara-negara ASEAN pasca Krisis Keuangan Asia 1997–1998. Krisis tersebut tidak hanya menimbulkan kontraksi ekonomi yang signifikan, tetapi juga mengungkap kelemahan tata kelola, termasuk rendahnya efektivitas pemerintah, lemahnya supremasi hukum, serta tingginya tingkat korupsi. Penelitian ini menggunakan enam indikator Worldwide Governance Indicators (WGI), yaitu Voice and Accountability, Political Stability and Absence of Violence/Terrorism, Government Effectiveness, Regulatory Quality, Rule of Law, dan Control of Corruption sebagai variabel independen. Data panel sepuluh negara ASEAN periode 1998–2023 dianalisis menggunakan metode Fixed Effects Model (FEM) dan Feasible Generalized Least Squares (FGLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Political Stability, Regulatory Quality, dan Control of Corruption berpengaruh positif dan signifikan terhadap FDI inflows. Sebaliknya, Voice and Accountability serta Government Effectiveness berpengaruh negatif signifikan terhadap FDI. Sementara itu, Rule of Law tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial. Secara simultan, seluruh indikator WGI berpengaruh signifikan terhadap FDI inflows. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas institusi berperan penting dalam menarik investasi asing, namun efek masing-masing dimensi tata kelola berbeda-beda di kawasan ASEAN. | This study aims to examine the impact of institutional quality on Foreign Direct Investment (FDI) inflows in ASEAN countries following the 1997–1998 Asian Financial Crisis. The crisis not only caused severe economic contraction but also exposed weaknesses in governance, including ineffective public administration, weak rule of law, and high levels of corruption. This research employs six dimensions of the Worldwide Governance Indicators (WGI): Voice and Accountability, Political Stability and Absence of Violence/Terrorism, Government Effectiveness, Regulatory Quality, Rule of Law, and Control of Corruption as independent variables. Panel data from ten ASEAN countries over the period 1998–2023 are analyzed using the Fixed Effects Model (FEM) and Feasible Generalized Least Squares (FGLS). The findings indicate that Political Stability, Regulatory Quality, and Control of Corruption have a positive and significant effect on FDI inflows. In contrast, Voice and Accountability and Government Effectiveness show a significant negative effect on FDI. Meanwhile, Rule of Law does not exhibit a statistically significant partial effect. Simultaneously, all WGI indicators significantly influence FDI inflows. These results suggest that institutional quality plays a crucial role in attracting foreign investment, although the impact of each governance dimension varies across ASEAN countries. | |
| 51935 | 4864 | E1A008134 | PERJANJIAN KERJASAMA KOTA KEMBAR (SISTER CITY) (Studi Terhadap Kerjasama Sister City Antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Dengan Pemerintah Kota Rotterdam) | Kerjasama kota kembar (sister city) merupakan salah satu bentuk hubungan luar negeri yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Rotterdam telah lama menjalin kerjasama ini sejak tahun 1986 dengan berbagai macam bidang kerjasama, salah satunya adalah bidang Water Management. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan, mekanisme dan penerapan kerjasama kota kembar antara Jakarta dengan Rotterdam di bidang Water Management. Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis normatif. Sumber data yang diperoleh adalah data sekunder. Data ini disajikan secara sistematis serta dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Pengaturan kerjasama kota kembar terdapat dalam Undang-Undang No 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, Undang-Undang No 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Hubungan kerjasama kota kembar lebih eksplisit diatur dalam Permenlu No 9 Tahun 2006 tentang Panduan Umum Tata Cara dan Hubungan Kerjasama Luar Negeri Oleh Pemerintah Daerah serta Permendagri No 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Daerah Dengan Pihak Luar Negeri. Kerjasama kota kembar antara Jakarta dan Rotterdam di bidang Water Management diterapkan dalam dua proyek penanganan banjir Jakarta yaitu Long Term Dredging Plan dan Development of Coastal Defence Strategy for DKI Jakarta yang mana kedua proyek ini terkait dengan proyek Pemerintah Pusat | Sister city is one of international relation that can be done by Local Government. Governor of Jakarta and Mayor city of Rotterdam have established sister city relation since 1986 in many kinds of field, one of them is Water Management. This research is aimed in order to know arrangement, mechanism and implementation of sister ciy relation between Jakarta and Rotterdam in the field of Water Management. The approach method in this research is normative justice, with conceptual approach and case approach. The source of data is taken from secunder data. This data is served systematically and is analized with qualitative normative method. Sister city’s arrangement existed among Law number 37 year 1999 on International Relation , Law number 24 year 2000 on International Agreement and Law number 32 year 2004 on Regional Government. Sister city is arranged explicitly in Rule of Ministry of Foreign Affair number 9 year 2006 on The General Method of International Law for Local Government and also Rule of Ministry of Domestic Affair number 3 year 2008 on The Method of cooperation between Local Government with International Parties. Sister city relation between Jakarta and Rotterdam in the field of Water Management is implemented on Jakarta’s flood handling projects. They are Long Term Dredging Plan dan Development of Coastal Defence Strategy for DKI Jakarta which are connected with Central Government’s projects. | |
| 51936 | 43752 | I1A019036 | Evaluasi Program Kampung Iklim dengan Metode Evaluasi Context, Input, Process, Product di Desa Rempoah Kabupaten Banyumas | Latar Belakang: Program Kampung Iklim (ProKlim) merupakan upaya adaptasi dan mitigasi yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengajak partisipasi masyarakat dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan memperkuat ketahanan Iklim. Salah satu Desa yang turut serta dalam program ProKlim adalah Desa Rempoah di Kabupaten Banyumas, yang berhasil meraih penghargaan ProKlim Utama tahun 2022. Evaluasi ProKlim di Desa Rempoah bertujuan untuk meningkatkan efektivitas program tersebut di wilayah tersebut, serta mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki guna mengoptimalkan dampak positifnya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Total subjek penelitian yang diwawancarai adalah sebanyak 1 informan kunci, 6 informan utama, dan 3 informan pendukung. Sumber data diambil melalui wawancara mendalam serta dokumen-dokumen yang terkait dengan pelaksanaan ProKlim di Desa Rempoah. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan model interaktif dan dilakukan dengan bantuan software NVivo. Hasil Penelitian: Pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim) di Desa Rempoah telah menjadi bagian penting dari inisiatif masyarakat setempat terkait berbagai masalah seperti darurat sampah, ketersediaan air bersih, dan ketahanan pangan sebelum ProKlim diperkenalkan. Dana desa dan dukungan sponsor seperti PT Astra International menjadi sumber utama pendanaan untuk infrastruktur ProKlim, dengan kepengurusan ProKlim memainkan peran kunci dalam pengumpulan data dan meningkatkan dukungan masyarakat. Proses implementasi ProKlim di Desa Rempoah telah mengikuti pedoman yang ditetapkan, meskipun ada kendala terkait keterbatasan waktu dari pengurus ProKlim. Meskipun belum dipastikan adanya penurunan emisi GRK, masyarakat Desa Rempoah telah terlibat aktif dalam ProKlim melalui kegiatan seperti Kelompok Wanita Tani (KWT), pengelolaan sampah, dan Posyandu. Simpulan: Komponen yang belum sesuai dengan pedoman ataupun belum berjalan dengan baik yaitu komunikasi dan koordinasi dengan pihak DLH Kabupaten Banyumas selaku penanggungjawab ProKlim di Kabupaten Banyumas, koordinasi antar pengurus yang jarang dilakukan, serta pemantauan dan evaluasi yang tidak maksimal. | Background: The Climate Village Program (ProKlim) is an adaptation and mitigation effort initiated by the Indonesian Government to encourage community participation in reducing Greenhouse Gas (GHG) emissions and strengthening climate resilience. One of the villages participating in the ProKlim program is Rempoah Village in Banyumas District, which successfully received the main ProKlim award in 2022. The evaluation of ProKlim in Rempoah Village aims to enhance the effectiveness of the program in the area and identify aspects that need improvement to optimize its positive impact. Method: This study adopts a qualitative research approach through a case study methodology. The total number of research subjects interviewed consists of 1 key informant, 6 primary informants, and 3 supporting informants. Data sources are gathered through in-depth interviews and documents related to the implementation of ProKlim in Rempoah Village. Data analysis employs an interactive model technique and is facilitated by NVivo software. Research Findings: The implementation of the Climate Village Program (ProKlim) in Rempoah Village has become an integral part of the local community's initiatives addressing various issues such as waste emergencies, clean water availability, and food security prior to the introduction of ProKlim. Village funds and sponsor support from companies like PT Astra International serve as the primary sources of funding for ProKlim infrastructure, with ProKlim management playing a key role in data collection and enhancing community support. The implementation process of ProKlim in Rempoah Village has adhered to established guidelines, although there have been challenges related to time constraints faced by ProKlim administrators. While a reduction in GHG emissions has not yet been confirmed, the Rempoah Village community has actively engaged in ProKlim through activities such as Women Farmer Groups (KWT), waste management, and integrated health services (Posyandu). Conclusion: Components that do not comply with the guidelines or are not functioning effectively include communication and coordination with the Banyumas District Environmental Agency (DLH) as the responsible party for ProKlim in Banyumas District, infrequent coordination among administrators, and suboptimal monitoring and evaluation. | |
| 51937 | 42411 | E1A019095 | PERBANDINGAN PENGATURAN PIDANA MATI DI INDONESIA DAN JEPANG | Pidana mati merupakan suatu jenis pidana yang masih diberlakukan di beberapa negara termasuk Indonesia dan Jepang, namun demikian terdapat persamaan dan perbedaan pada pengaturan pidana mati di masing-masing negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan perbandingan pengaturan pidana mati dalam hukum positif Indonesia dan Jepang. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan historis, dan pendekatan komparatif dengan spesifikasi penelitian yang bersifat deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan dengan metode kepustakaan dan diolah menggunakan metode reduksi, display data, dan klasifikasi data yang disajikan dalam bentuk teks naratif dan tabel. Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan pidana mati di Indonesia diatur dalam KUHP 1946, KUHP 2023, dan beberapa undang-undang di luar KUHP yang mengatur pidana mati, sedangkan Jepang mengatur pidana mati dalam Japan Penal Code, Japan Code of Criminal Procedure, dan beberapa undang-undang lain di luar pengaturan tersebut seperti Juveniles Act dan lain-lain. Hasil penelitian ini juga menunjukkan terdapat persamaan dan perbedaan pengaturan pidana mati di Indonesia dan Jepang. Persamaannya terdapat pada klasifikasi pidana mati, tidak berlakunya pidana mati bagi anak, beberapa mekanisme pelaksanaan pidana mati, dan beberapa pengaturan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati. Perbedaannya terdapat pada prosedur pelaksanaan pidana mati dan masa tunggu pelaksanaan pidana mati, serta beberapa tindak pidana yang diancam dengan pidana mati. Pengaturan pidana mati di Indonesia lebih beragam, namun pengaturan pelaksanaan pidana mati di Jepang lebih memberikan kepastian hukum. | Death penalty is a type of criminal punishment that is still enforced in several countries including Indonesia and Japan, however there are similarities and differences in the regulations of the death penalty in each country. This research aims to determine the evolution and the comparison on the regulations of death penalty in positive law in Indonesia and Japan. The research method used is normative juridical with statutory approach, historical approach, and comparative approach with descriptive analytical research specifications. The data used is secondary data collected by literature method and processed using the method of reduction data, data display, and data classification presented in the form of narrative text and tables. The analysis on this research is done by normative qualitative method. The research results shows that the regulation of death penalty in Indonesia is regulated in the KUHP 1946, KUHP 2023, and several laws outside KUHP which regulate the death penalty, while Japan regulates the death penalty in the Japan Penal Code, Japan Code of Criminal Procedure, and several criminal laws outside those regulations such as Juveniles Act and others. This research result also shows that there are similarities and differences on the regulations of the death penalty in Indonesia and Japan. The similarities including the classification of death penalty, the non-applicable death penalty on children and some mechanism of death penalty implementation, and several regulations on criminal acts punishable by death penalty. The differences are in the procedures for the death penalty implementations, the waiting period of death penalty executions, several criminal acts that are punishable by death penalty. The regulation of the death penalty in Indonesia is more diverse, but the regulation of the implementation of death penalty in Japan provides more legal certainty. | |
| 51938 | 47521 | I1B021075 | GAMBARAN MANAJEMEN WAKTU PADA MAHASISWA S1 KEPERAWATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Latar Belakang: Manajemen waktu merupakan keterampilan penting yang memengaruhi keberhasilan akademik dan kesejahteraan mahasiswa, terutama mahasiswa keperawatan yang menghadapi beban studi kompleks, seperti pembelajaran teori, praktikum laboratorium, ujian, dan praktik klinik. Ketidakmampuan dalam mengelola waktu secara efektif dapat menyebabkan dampak negatif seperti prokrastinasi akademik, stres, dan penurunan motivasi belajar. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran manajemen waktu mahasiswa S1 Keperawatan di Unsoed. Metodologi: Penelitian deskriptif kuantitatif dan korelasi analitik dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 268 mahasiswa S1 Keperawatan Unsoed dengan menggunakan stratified random sampling. Data diperoleh melalui pengisian kuesioner Time Management Questionnaire (TMQ) berbentuk google form kemudian diolah menggunakan analisis univariat. Hasil Penelitian: Responden penelitian ini berusia minimum 18 tahun dan maksimum 24 tahun, berjenis kelamin perempuan, dan responden terbanyak berasal dari angkatan 2023 dan 2024. Responden dengan tingkat manajemen waktu sedang sebanyak 177 mahasiswa (66%), tingkat rendah sebanyak 48 mahasiswa (17,9%), dan tingkat tinggi sebanyak 43 mahasiswa (16%). Berdasarkan karakteristik mahasiswa, mayoritas berada pada tingkat manajemen waktu tingkat sedang. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan sebagian besar mahasiswa keperawatan memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengelola waktu mereka, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal konsistensi perencanaan dan penetapan prioritas kegiatan. Kata kunci: Manajemen waktu, Mahasiswa keperawatan | Background: Time management is an important skill that affects students' academic success and well-being, especially nursing students who face a complex study loads such as theoretical learning, laboratory practicum, examinations, and clinical practice. The inability to manage time effectively can lead to negative outcomes such as academic procrastination, stress, and decreased motivation to learn. The purpose of this study was to determine the description of time management among undergraduate nursing students at Unsoed. Methodology: Quantitative descriptive research and analytic correlation with a cross-sectional approach involving 268 undergraduate nursing students at Unsoed using stratified random sampling. Data were obtained by completing the Time Management Questionnaire (TMQ) questionnaire in a Google form and then processed using univariate analysis and bivariate analysis, namely the Chi-Square test. Results: The respondents in this study had a minimum age of 18 years and a maximum age of 24 years, female, and most of the respondents were from the classes of 2023 and 2024. Respondents of this study had moderate level of time management in as many 177 students (66%), low-level of time management in as many as 48 students (17,9%), and high-level of time manageemnt in as many as 43 students (16%). Based on the characteristics of the respondents, moderate levels of time management. Conclusions: This study shows that most nursing students have a fairly good ability to manage their time, although there is still room for improvement, especially in terms of consistency in planning and prioritizing activities. Keywords: Time Management, Nursing Students | |
| 51939 | 46851 | H1A021085 | FORECASTING LUASAN KEBAKARAN HUTAN UNTUK OPTIMALISASI BIAYA PRODUKSI | Fluktuasi kebakaran hutan yang bergantung kepada faktor alam dan aktivitas manusia memberikan dampak yang buruk. Faktor utama yang mempengaruhi kebakaran hutan meliputi kondisi iklim seperti suhu udara, curah hujan, dan kelembapan. Musim kemarau juga meningkatkan terjadinya kebakaran hutan dikarenakan penyimpangan iklim atau kemarau panjang merupakan faktor yang mendukung terjadinya kebakaran hutan. Peramalan yang akurat tentang potensi kebakaran hutan sangat penting dilakukan. Pemanfaatan data historis kasus kebakaran hutan dan variabel pendukung lainnya, dapat dilakukan analisis statistik untuk memprediksi luas kebakaran hutan dimasa depan melalui metode machine learning. Penelitian ini diselesaikan menggunakan random forest regressor (RFR), sebuah metode berbasis pohon keputusan yang memungkinkan penanganan data yang bervariasi dan meminimalkan risiko overfitting. Model hasil forecasting yang dibangun dengan RFR mampu memprediksi dengan nilai MAPE sebesar 18%. Hasil prediksi ini digunakan untuk membangun model biaya produksi dengan fungsi tujuan meminimasi biaya produksi. Melalui uji skenario yang dilakukan, komponen biaya produksi dapat lebih optimal dan disesuaikan dengan jenis tanah terjadinya kebakaran, sehingga biaya produksi mengalami penurunan sebesar Rp 511.959.092 atau sebesar 1.85%. | The fluctuations in forest fires, influenced by both natural factors and human activities, have detrimental impacts. The main factors contributing to forest fires include climatic variables such as air temperature, rainfall, and humidity. The dry season also further heightens the occurrence of forest fires, as climate anomalies or prolonged droughts significantly increase the likelihood of such events. Accurate forecasting of potential forest fires is crucial. By utilizing historical forest fire data and other supporting variables, statistical analysis can be conducted to predict the future extent of fires using machine learning methods. This research employed the Random Forest Regressor (RFR), a decision-tree-based method that handles diverse data and minimizes the risk of overfitting. The forecasting model built with the RFR achieved a Mean Absolute Percentage Error (MAPE) value of 18%. These prediction results were then used to construct a production cost model with the objective of minimizing production costs. Through scenario testing, the production cost components can be more optimized and adjusted to the type of land where the fire occured, resulting in a cost reduction of Rp 511.959.092 or 1.85%. | |
| 51940 | 16604 | G1A011095 | HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGETAHUAN KELUARGA PASIEN TENTANG INFORMED CONSENT PADA RUANG NIFAS RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGETAHUAN KELUARGA PASIEN TENTANG INFORMED CONSENT PADA RUANG NIFAS RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO ABSTRAK Latar belakang: Informed consent adalah suatu kesepakatan atau persetujuan pasien atas tindakan yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi mengenai segala manfaat dan risiko yang mungkin terjadi. Tujuan dari pemberian informasi tersebut adalah untuk memberikan pemahaman (persamaan persepsi) pasien dan dokter terhadap prosedur tindakan yang akan dilakukan. Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent. Metode: Penelitian ini menggunakan studi analitik observational dengan pendekatan potong lintang. Responden penelitian ini adalah keluarga pasien yang dirawat di RSUD Margono Soekarjo setelah menandatangani informed consent. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah keluarga pasien yang tidak bisa menggunakan bahasa indonesia, pasien dengan gangguan kejiwaan. Analisis bivariabel menggunakan uji nonparametric spearman. Hasil: Keseluruhan responden yang mengikuti penelitian ini berjumlah 42 responden. Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent (r = 0,5929 dan p = <0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna dengan korelasi sedang antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent | RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY EDUCATION LEVEL WITH KNOWLEDGE OF PATIENT INFORMED CONSENT AT THE POSTPARTUM ROOM MARGONO HOSPITAL SOEKARJO PURWOKERTO ABSTRAK Background: Informed consent is an agreement or consent of the patient on measures to be taken against his/her doctor after obtaining information on all the benefits and possible risks that will be happen. The purpose of the provision of such information is to provide an understanding (perception) patients and doctors with procedures for actions to be taken. Purpose : Knowing whether there is a relationship between level of education and knowledge of the patient's family about informed consent. Methode : This study uses an observational analytic study with cross sectional approach. Respondents are families of patients which treated in Margono Hospital Soekarjo after signing an informed consent. Exclusion criteria in this study were the families of patients who can not use Indonesia language, patients with psychiatric disorders. Bivariable analysis using Spearman nonparametric test.. Result : Overall respondents who join this research were 42 respondents. The results showed that there was a significant relationship between the level of education and knowledge about the patient's family informed consent (r = 0.5929 and p = <0.001). Conclusion : There is a significant association with moderate correlation between level of education and knowledge of the patient's family about informed consent. |