Home
Login.
Artikelilmiahs
43752
Update
SELRI AMELIA 'ILMI
NIM
Judul Artikel
Evaluasi Program Kampung Iklim dengan Metode Evaluasi Context, Input, Process, Product di Desa Rempoah Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang: Program Kampung Iklim (ProKlim) merupakan upaya adaptasi dan mitigasi yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengajak partisipasi masyarakat dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan memperkuat ketahanan Iklim. Salah satu Desa yang turut serta dalam program ProKlim adalah Desa Rempoah di Kabupaten Banyumas, yang berhasil meraih penghargaan ProKlim Utama tahun 2022. Evaluasi ProKlim di Desa Rempoah bertujuan untuk meningkatkan efektivitas program tersebut di wilayah tersebut, serta mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki guna mengoptimalkan dampak positifnya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Total subjek penelitian yang diwawancarai adalah sebanyak 1 informan kunci, 6 informan utama, dan 3 informan pendukung. Sumber data diambil melalui wawancara mendalam serta dokumen-dokumen yang terkait dengan pelaksanaan ProKlim di Desa Rempoah. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan model interaktif dan dilakukan dengan bantuan software NVivo. Hasil Penelitian: Pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim) di Desa Rempoah telah menjadi bagian penting dari inisiatif masyarakat setempat terkait berbagai masalah seperti darurat sampah, ketersediaan air bersih, dan ketahanan pangan sebelum ProKlim diperkenalkan. Dana desa dan dukungan sponsor seperti PT Astra International menjadi sumber utama pendanaan untuk infrastruktur ProKlim, dengan kepengurusan ProKlim memainkan peran kunci dalam pengumpulan data dan meningkatkan dukungan masyarakat. Proses implementasi ProKlim di Desa Rempoah telah mengikuti pedoman yang ditetapkan, meskipun ada kendala terkait keterbatasan waktu dari pengurus ProKlim. Meskipun belum dipastikan adanya penurunan emisi GRK, masyarakat Desa Rempoah telah terlibat aktif dalam ProKlim melalui kegiatan seperti Kelompok Wanita Tani (KWT), pengelolaan sampah, dan Posyandu. Simpulan: Komponen yang belum sesuai dengan pedoman ataupun belum berjalan dengan baik yaitu komunikasi dan koordinasi dengan pihak DLH Kabupaten Banyumas selaku penanggungjawab ProKlim di Kabupaten Banyumas, koordinasi antar pengurus yang jarang dilakukan, serta pemantauan dan evaluasi yang tidak maksimal.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background: The Climate Village Program (ProKlim) is an adaptation and mitigation effort initiated by the Indonesian Government to encourage community participation in reducing Greenhouse Gas (GHG) emissions and strengthening climate resilience. One of the villages participating in the ProKlim program is Rempoah Village in Banyumas District, which successfully received the main ProKlim award in 2022. The evaluation of ProKlim in Rempoah Village aims to enhance the effectiveness of the program in the area and identify aspects that need improvement to optimize its positive impact. Method: This study adopts a qualitative research approach through a case study methodology. The total number of research subjects interviewed consists of 1 key informant, 6 primary informants, and 3 supporting informants. Data sources are gathered through in-depth interviews and documents related to the implementation of ProKlim in Rempoah Village. Data analysis employs an interactive model technique and is facilitated by NVivo software. Research Findings: The implementation of the Climate Village Program (ProKlim) in Rempoah Village has become an integral part of the local community's initiatives addressing various issues such as waste emergencies, clean water availability, and food security prior to the introduction of ProKlim. Village funds and sponsor support from companies like PT Astra International serve as the primary sources of funding for ProKlim infrastructure, with ProKlim management playing a key role in data collection and enhancing community support. The implementation process of ProKlim in Rempoah Village has adhered to established guidelines, although there have been challenges related to time constraints faced by ProKlim administrators. While a reduction in GHG emissions has not yet been confirmed, the Rempoah Village community has actively engaged in ProKlim through activities such as Women Farmer Groups (KWT), waste management, and integrated health services (Posyandu). Conclusion: Components that do not comply with the guidelines or are not functioning effectively include communication and coordination with the Banyumas District Environmental Agency (DLH) as the responsible party for ProKlim in Banyumas District, infrequent coordination among administrators, and suboptimal monitoring and evaluation.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save