Artikelilmiahs

Menampilkan 51.961-51.980 dari 52.028 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5196135682E1A017217TANGGUNG JAWAB YAYASAN SMA TARUNA INDONESIA ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM KEGIATAN MASA PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH/MPLS (Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Negeri Palembang Nomor 183/Pdt.G/2019/PN/Plg.)Yayasan pendidikan sangat dibutuhkan dalam terjadinya suatu proses pendidikan, namun terkadang yayasan dapat melakuan perbuatan melawan hukum yang mana mengakibatkan kerugian pada salah satu pihak. Penelitian ini menganalisis tentang kasus Yayasan SMA Taruna Indonesia Palembang yang melakukan suatu kelalaian atas kewajibannya mengawasi jalannya kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah. Karena perbuatan tersebut, maka yayasan diwajibkan untuk bertanggungjawab.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tanggung jawab yayasan atas perbuatan melawan hukum dan menganalisis pertimbangan Majelis Hakim dalam mengabulkan tuntutan ganti rugi immateriil oleh para Penggugat. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analisis, menggunakan data sekunder, pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan, data yang didapatkan disajikan dalam bentuk teks naratif dan analisis data normatif kualitatif.
Hasil penelitian pertama, Yayasan SMA Taruna Indonesia telah melakukan perbuatan melawan hukum berupa kelalaian, dan Majelis Hakim memutuskan bahwa tanggung jawabnya yang berupa ganti kerugian materiil dan immateriil dilakukan sepenuhnya oleh pengurus yayasan tersebut. Kedua, dalam mengabulkan ganti rugi immateril, Majelis Hakim dalam melakukan penilaiannya dilakukan secara objektif dan berdasarkan nilai-nilai kepatutan.
Educational Foundation are very necessary in the occurrence of an educational process, but sometimes the foundation can commit acts against the law which result in loss of one party. This study analyzing about SMA Taruna Indonesia foundation that neglected its obligation to monitor the activities of School Orientation Period. Because of the acts, the foundation is obliged to take responsibility.
The purpose of this study was to analyze how the foundation is liable for the acts, and then to analyze about the Judiciary’s considerations in granting immaterial damages by the Plaintiffs. This study uses a normative juridical approach with descriptive-analysis research spesifications, using secondary data, data collection by literature study, and the collected data presented in the form of narrative text and qualitative-normative data analysis.
The results of the first research, that the foundation in the responsibility for the act against the law to be done is fully by the management of the foundation, which is related to the material and also immaterial loss due to its actions. Then the second, in granting of the Judge in their judgement is done subjectively and based on the value of propriety.
5196255473I4B025078Studi Kasus Pengaruh Terapi Akupresur terhadap Nyeri Prosedural Selama Pelepasan Chest Tube pada Pasien Post TorakotomiLatar Belakang: Torakotomi merupakan tindakan bedah toraks yang umumnya disertai pemasangan chest tube. Pelepasan chest tube (Chest Tube Removal/CTR) sering menimbulkan nyeri prosedural akibat retraksi jaringan yang mengalami adhesi serta stimulasi langsung pada saraf interkostal, kulit, otot, dan pleura di sekitar area pemasangan. Akupresur merupakan intervensi nonfarmakologis yang berpotensi membantu menurunkan nyeri tersebut melalui stimulasi mekanisme gate control serta pelepasan zat endogen seperti endorfin dan serotonin.
Metode: Studi kasus ini merupakan analisis berbasis Evidence Based Nursing dengan pendekatan deskriptif, melibatkan tiga pasien pascatorakotomi yang terpasang chest tube di Ruang Teratai RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo pada Agustus–September 2026. Akupresur diberikan satu kali pada titik LI4 (Hegu), LI11 (Quchi), dan HT7 (Shenmen) secara bilateral, masing-masing selama 2 menit (total 12 menit), sebelum tindakan CTR dilakukan. Intensitas nyeri (VAS) dan parameter hemodinamik (tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi napas, suhu, dan saturasi oksigen) diukur secara bersamaan pada tiga waktu yang sama: sebelum akupresur (T0), segera setelah CTR (T1), dan 15 menit setelah CTR (T2).
Hasil Penelitian: Ketiga pasien menunjukkan penurunan skor VAS yang konsisten dari T0 ke T2. Tekanan darah dan frekuensi nadi meningkat segera setelah CTR (T1), kemudian menurun kembali mendekati nilai awal pada T2, sedangkan frekuensi napas dan saturasi oksigen relatif stabil pada seluruh waktu pengukuran.
Kesimpulan: Akupresur pada titik LI4, LI11, dan HT7 yang diberikan sebelum CTR berpotensi membantu menurunkan intensitas nyeri prosedural, meskipun tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap parameter hemodinamik pasien.
Background: Thoracotomy is a thoracic surgical procedure typically accompanied by chest tube insertion. Chest tube removal (CTR) often induces procedural pain due to traction on adherent tissue and direct stimulation of intercostal nerves, skin, muscle, and pleura surrounding the insertion site. Acupressure is a nonpharmacological intervention hypothesized to reduce this pain by activating the gate-control mechanism and stimulating the release of endogenous substances such as endorphins and serotonin.
Methods: This descriptive case study, grounded in an evidence-based nursing approach, involved three post-thoracotomy patients with an indwelling chest tube at Teratai Ward, Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, between August and September 2026. Acupressure was administered once, bilaterally, at LI4 (Hegu), LI11 (Quchi), and HT7 (Shenmen), for 2 minutes per point (12 minutes total), prior to CTR. Pain intensity (VAS) and hemodynamic parameters (blood pressure, heart rate, respiratory rate, and oxygen saturation) were measured concurrently at the same three time points: before acupressure (T0), immediately after CTR (T1), and 15 minutes after CTR (T2).
Results: All three patients showed a consistent decline in VAS scores from T0 to T2. Blood pressure and heart rate increased immediately after CTR (T1) before returning toward baseline at T2, while respiratory rate and oxygen saturation remained relatively stable throughout.
Conclusion: Acupressure at LI4, LI11, and HT7, administered before CTR, may help reduce procedural pain intensity, although it did not produce a meaningful effect on hemodynamic parameters.
5196341916C1A019001ANALISIS PENGARUH UPAH MINIMUM, KESEMPATAN KERJA, DAN PDRB TERHADAP MIGRASI MASUK RISEN DI PULAU JAWA DAN SUMATERA PERIODE 2005-2020Fakta bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar namun persebarannya tidak merata menjadi salah satu perhatian terkait jumlah penduduk Indonesia. Migrasi merupakan salah satu dari tiga indeks dinamika penduduk, selain kelahiran (fertilitas) dan kematian (mortalitas). Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera menjadi daerah tujuan utama bagi para migran risen dan pada saat yang sama kedua pulau ini menjadi pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Kondisi ini dapat memmperlebar kesenjangan distribusi penduduk antardaerah di Indonesia. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis menganalisis pengaruh upah minimum provinsi, tingkat kesempatan kerja dan PDRB terhadap migrasi masuk risen di Pulau Jawa dan Sumatera periode 2005-2020 serta mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap migrasi masuk risen di Pulau Jawa dan Sumatera periode 2005-2020. Penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel dengan metode terpilih Fixed Effect Model untuk mencapai tujuan penelitian. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh upah minimum provinsi, tingkat kesempatan kerja dan PDRB secara bersama-sama berpengaruh terhadap migrasi masuk risen di Pulau Jawa dan Sumatera. Kemudian Secara parsial upah minimum provinsi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap migrasi masuk risen di Pulau Jawa dan Sumatera, tingkat kesempatan kerja tidak berpengaruh terhadap migrasi masuk risen di Pulau Jawa dan Sumatera, dan PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap migrasi masuk risen di Pulau Jawa dan Sumatera. Selanjutnya variabel yang paling berpengaruh terhadap migrasi masuk risen di Pulau Jawa dan Sumatera adalah PDRB. Implikasi penelitian ini adalah pemerintah perlu memperhatikan kebijakan untuk mengupayakan provinsi-provinsi di luar pulau Jawa dan Sumatera sebagai daerah tujuan utama para migran, sehingga persebaran migrasi tidak terkonsentrasi hanya di Pulau Jawa dan Sumatera saja.The fact that Indonesia has a large population but its distribution is uneven is one of the concerns related to Indonesia's population. Migration is one of the three indices of population dynamics, in addition to birth (fertility) and death (mortality). Based on the results of the 2020 Population Census, provinces in Java and Sumatra are the main destination areas for upward migrants and at the same time these two islands have the highest population density in Indonesia. This condition can widen the gap in population distribution between regions in Indonesia. The purpose of this study is to analyze the effect of provincial minimum wages, the level of employment opportunities and GRDP on upward migration in Java and Sumatra for the 2005-2020 period and to determine the variables that have the most influence on upward migration in Java and Sumatra for the 2005-2020 period. This study uses panel data regression analysis with the Fixed Effect Model selected method to achieve the research objectives. Based on the results of the analysis, it is obtained that the provincial minimum wage, the level of employment opportunities and GRDP jointly affect the in-migration of risen in Java and Sumatra. Partially, the provincial minimum wage has a negative and significant effect on in-migration in Java and Sumatra, the level of employment opportunities has no effect on in-migration in Java and Sumatra, and GRDP has a positive and significant effect on in-migration in Java and Sumatra. Furthermore, the variable that has the most influence on in-migration in Java and Sumatera is GRDP. The implication of this research is that the government needs to pay attention to policies to strive for provinces outside Java and Sumatra as the main destination areas for migrants, so that the distribution of migration is not concentrated only in Java and Sumatra.
5196430136L1C016062PERUBAHAN LUASAN LAGUNA DAN MANGROVE
MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT PANKROMATIK
MULTITEMPORAL DI SEGARA ANAKAN, CILACAP
Penelitian ini berjudul “Perubahan Luasan Laguna Dan Mangrove
Menggunakan Citra Landsat Pankromatik Multitemporal Di Segara Anakan, Cilacap”. Segara Anakan merupakan daerah estuari yang luas dan memiliki karakteristik lingkungan yang spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luas laguna dan mangrove Segara Anakan serta analisis spasio-temporal luas laguna dan mangrove menggunakan citra satelit Landsat 8 di Segara Anakan, Cilacap tahun 1994, 2001, 2008, 2013, 2015 dan 2020. Metode yang digunakan adalah metode perbandingan kanal dan maximumlikelihood. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa luas laguna Segara Anakan Cilacap, selama 1994-2020 terjadi penyusutan luas laguna sebesar 1.070 ha. Luas mangrove di Segara Anakan bagian barat terjadi penyusutan luas mangrove dari
tahun 1994-2020 sebesar 874 ha. Penyusutan luas laguna dan mangrove disebabkan oleh sedimentasi berasal dari aliran sungai Citanduy, sungai Cibereum dan sungai Cikonde serta sungai-sungai kecil disekitar Segara Anakan diperparah oleh konversi lahan mangrove menjadi tambak, pemukiman, industri, persawahan dan pemanfaatan kayu pohon mangrove itu sendiri oleh masyarakat sekitar untuk bahan baku bangunan, perabotan dan kayu bakar.
This research is entitled "The Change of Laguna and Mangrove Area using Landsat Panchromatic Multitemporal Imagery in Segara Anakan, Cilacap". Segara Anakan is a large estuary area with specific environment characteristic. The purpose of study was to know the change of lagoon and mangrove area in Segara Anakan and also to know the spatio-temporal analysis by using Landsat
8 Imagery in Segara Anakan, Cilacap year 1994, 2001, 2008, 2013, 2015, and 2020. Canal comparison and maximumlikelihood method was used in this study. The result showed that the lagoon area of Segara Anakan Cilacap, in 1994-2020 was decreasing for 1.070 Ha. The mangrove area in Western Segara Anakan in 1994- 020 was decreasing for 874 Ha. The reduction of lagoon and mangrove area
occured due to the river flow from Citanduy, Cibereum, Cikonde, and the other small rives surrounding Segara Anakan was converted from mangrove area to fishpond, settlement, industry, crops, and the use of mangrove wood for building material, furniture, and firewood by the people.
5196543547I1A020023ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENULARAN TUBERKULOSIS PADA KELUARGA PENDERITA DI KELURAHAN KOBER
DAN KELURAHAN REJASARI
Latar Belakang: Perilaku pencegahan tuberkulosis pada keluarga penderita perlu dilakukan untuk menurunkan angka penularan penyakit tuberkulosis terhadap orang-orang di lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor–faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan Tuberkulosis pada keluarga penderita di Kelurahan Kober dan Kelurahan Rejasari.
Metode: Desain penelitian ini adalah kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah keluarga penderita tuberkulosis di Kelurahan Kober dan Kelurahan Rejasari sebanyak 36 responden yang didapat dengan teknik total sampling. Variabel independen pada penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, persepsi manfaat, akses media sosial, dan paparan informasi. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku pencegahan penularan tuberkulosis pada keluarga penderita.
Hasil Penelitian: Hasil analisis univariat menunjukkan sebanyak 56,8% responden berpengetahuan baik, 80,6% responden memiliki sikap baik, 55,6% responden memiliki persepsi manfaat tidak baik, 58,3% responden mengakses media sosial, dan 58,3% responden terpapar informasi. Hasil analisis bivariat diketahui bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, persepsi manfaat, akses media sosial, dan paparan informasi dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis.
Kesimpulan: Tidak ada satu pun variabel yang berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis, walaupun tidak ada variabel yang signifikan berhubungan tetapi masih ada perilaku pencegahan yang kurang baik, terutama pada variabel persepsi manfaat, akses media sosial, dan paparan informasi.
Background: Tuberculosis prevention behavior in families of sufferers needs to be carried out to reduce the rate of transmission of tuberculosis to people in the surrounding environment. This study aims to determine the factors related to behavior to prevent the transmission of Tuberculosis in families of sufferers in Kober Village and Rejasari Village.
Methods: The design of this research is quantitative analytical observational with a cross sectional approach. The sample in this study was families of tuberculosis sufferers in Kober Village and Rejasari Village, totaling 36 respondents obtained using a total sampling technique. The independent variables in this research are age, gender, education, employment, income, knowledge, attitudes, perceived benefits, social media access, and exposure to information. The dependent variable in this study is behavior to prevent transmission of tuberculosis in the sufferer's family.
Results: The results of univariate analysis showed that 56.8% of respondents had good knowledge, 80.6% of respondents had good attitudes, 55.6% of respondents had poor perception of benefits, 58.3% of respondents accessed social media, and 58.3% respondents are exposed to information. The results of the bivariate analysis showed that there was no significant relationship between age, gender, education, employment, income, knowledge, attitudes, perceived benefits, access to social media, and exposure to information and behavior to prevent tuberculosis transmission.
Conclusion: There is not a single variable that is related to behavior to prevent the transmission of tuberculosis, although there are no variables that are significantly related, there is still poor prevention behavior, especially in the variables of perceived benefits, access to social media, and exposure to information.
5196648538A1C021045ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PADI KETAN LUSINAS BERBASIS AHP-SIG PADA DAERAH RAWAN BANJIR DAN KEKERINGANAnalisis kesesuaian lahan merupakan informasi mengenai sebaran potensi lahan untuk budidaya tanaman padi ketan lusinas pada Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, dan Kebumen. Peta kesesuaian lahan merupakan peta yang dapat digunakan untuk membuat perencanaan pertanian terutama budidaya padi ketan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat peta sebaran kesesuaian lahan padi ketan menggunakan Analytical Hierachy Process untuk mengetahui parameter yang paling berpengaruh dalam peta sebaran kesesuaian lahan padi ketan.
Penelitian ini dilakukan menggunakan aplikasi QGIS dengan beberapa tools dan plug in tambahan untuk membuat peta sebaran kesesuaian lahan aplikasi Ms. Excel untuk pengolahan data. Terdapat delapan parameter yang digunakan untuk menentukan peta sebaran kesesuaian lahan padi ketan lusinas, yaitu peta organic carbon (OC), peta cation exchange capacity (CEC), peta power hydrogen (pH), dan peta coarse fragment (CF) yang didapatkan dari website ISRIC.go.id. Kemudian peta slope dan peta drainage condition (DC) yang berasal dari peta turunan Digital Elevation Model. Peta rainfall dan peta temperature yang didapatkan dari website WorldClim.go.id. Analisis data dilakukan dengan menggunakan hasil pengisian kuisioner oleh para ahli yang disebut dengan expert judgment. Hasil data kuisioner kemudian dilakukan konsistensi untuk menentukan bobot masing-masing parameter. Hasil bobot masing-masing parameter digunakan untuk menentukan value setiap klasifikasi pada semua parameter. Nilai value ini yang akan digunakan untuk melakukan proses overlay menggunakan tools raster calculator. Output yang dihasilkan yaitu peta sebaran kesesuaian lahan padi ketan lusinas yang memiliki value masing-masing dari delapan parameter.
Peta sebaran kesesuaian lahan padi ketan dibuat dalam resolusi 1000m x 1000m. Kelas kesesuaian lahan padi ketan lusinas yang sesuai berada di Kabupaten Banjarnegara dan Pubalingga. Sedangkan Kabupaten Kebumen didominasi oleh lahan yang tidak sesuai untuk ditanami padi ketan lusinas.
Land Suitability Analysis is an information regarding the distribution of land potential for the cultivation of lusinas glutinous rice in the regencies of Banjarnegara, Purbalingga, and Kebumen. A land suitability map is a tool that can be used for agricultural planning, especially for glutinous rice cultivation. This study aims to create a distribution map of glutinous rice land suitability using the Analytical Hierarchy Process (AHP) to identify the most influential parameters in the distribution map of glutinous rice land suitability.
The research was conducted using the QGIS application with several additional tools and plug-ins to generate the land suitability distribution map, and Microsoft Excel for data processing. Eight parameters were used to determine the land suitability map for lusinas glutinous rice: the organic carbon (OC) map, cation exchange capacity (CEC) map, pH map, and coarse fragment (CF) map obtained from the ISRIC.go.id website; the slope map and drainage condition (DC) map derived from the Digital Elevation Model (DEM); and the rainfall map and temperature map obtained from the WorldClim.go.id website. Data analysis was conducted using expert judgment through questionnaires completed by experts. The consistency of the questionnaire data was then evaluated to determine the weight of each parameter. These weights were used to assign values to each classification within all parameters. These values were used in the overlay process using the Raster Calculator tool. The output produced is a land suitability distribution map for lusinas glutinous rice, which includes the individual values of the eight parameters.
The glutinous rice land suitability map was created at a resolution of 1000m x 1000m. Suitable land classes for lusinas glutinous rice are found in Banjarnegara and Purbalingga Regencies, while Kebumen Regency is predominantly unsuitable for lusinas glutinous rice cultivation.
5196739833I1A019088ANALISIS SPASIAL KEJADIAN COVID-19 DI KECAMATAN KOTA KABUPATEN KUDUS PERIODE JANUARI – APRIL
TAHUN 2021
Latar Belakang : Kasus COVID-19 menjadi kasus penyakit menular yang mendapat perhatian sejak tahun 2019 karena peningkatan kasus yang tajam dan terjadi hampir di seluruh dunia, salah satunya di Kabupaten Kudus. Kabupaten Kudus menjadi salah satu daerah yang memiliki jumlah kasus COVID-19 terbanyak dan meningkat secara cepat pada Tahun 2021 sehingga diperlukan kegiatan pencegahan dan penanggulangan yang tepat. Analisis spasial dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seperti COVID-19 yang berhubungan dengan aspek lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran dan pengelompokan kejadian COVID-19 berdasarkan analisis spasial di Kecamatan Kota Kabupaten Kudus Periode Januari hingga April Tahun 2021.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian metode observasional dengan desain studi kasus. Subjek penelitian adalah individu yang terkonfirmasi COVID-19 pada rentang waktu Januari hingga April Tahun 2021 di Kecamatan Kota Kudus sebanyak 257 orang. Penggunaan data yaitu data primer dengan mengambil titik koordinat rumah sampel penelitian menggunakan GPS dan wawancara serta data sekunder. Analisis yang digunakan yaitu univariat dengan SPSS, analisis overlay dan buffer menggunakan ArcGIS dan analisis clustering menggunakan SaTScan.
Hasil Penelitian: Kejadian COVID-19 di Kecamatan Kota Kudus periode Januari hingga April Tahun 2021 tersebar di seluruh kelurahan yang ada di Kecamatan Kota Kudus. Kelurahan dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi yaitu Mlati Norowito (8,2%). Responden didominasi oleh rentang umur 45-54 (19,1%), berjenis kelamin perempuan (54,9%), tidak bekerja (47,9%), tertular dari teman/tetangga (54,4%), tidak memiliki riwayat penyakit komorbid (59,1%), sudah melakukan vaksin hingga dosis 2 (71,6%). Analisis spasial menunjukkan kecenderungan kasus di wilayah dengan kepadatan penduduk 8001-12.000 jiwa/km2 (51,7%), wilayah dengan jumlah penerima bantuan sosial 801-1200 jiwa (36,6%), tempat tinggal dengan jarak kurang dari 250 meter dari fasyankes dan kurang dari 250 meter dari fasilitas umum, serta terdapat 4 cluster kejadian COVID-19.
Kesimpulan: Dinas Kesehatan perlu melakukan pencegahan dan penanggulangan peningkatan penyakit menular seperti COVID-19 dengan memperhatikan aspek lingkungan seperti sebaran fasyankes, sebaran fasilitas umum yang dapat menjadi tempat penularan yang cepat, kepadatan penduduk, dan jumlah penduduk yang perlu bantuan sosial.
Background: The COVID-19 case has become an infectious disease case that has received attention since 2019 because of a sharp increase in cases occurring almost all over the world, one of which is in Kudus Regency. Kudus Regency is one of the areas that has the most number of COVID-19 cases and is increase rapidly in 2021, so proper prevention and management activities are needed. Spatial analysis can be utilized in the prevention and control of infectious diseases such as COVID-19 which are related to environmental aspects. This study aims to determine the distribution and grouping of COVID-19 events based on spatial analysis in the City District of Kudus Regency from January to April 2021.
Method: This research is an observational research method with a case study design. The research subjects were individuals who were confirmed to have COVID-19 in the period from January to April 2021 in Kota Kudus District, totaling 257 people. The use of data is primary data by taking the coordinates of the research sample houses using GPS and interviews as well as secondary data. The analysis used is univariate with SPSS, overlay and buffer analysis using ArcGIS and clustering analysis using SaTScan.
Result: The incidence of COVID-19 in Kota Kudus District from January to April 2021 was spread across all sub-districts in Kota Kudus District. The sub-district with the highest number of COVID-19 cases was Mlati Norowito (8.2%). Respondents were dominated by the age range 45-54 (19.1%), female (54.9%), not working (47.9%), infected from friends/neighbors (54.4%), had no history of disease comorbid (59.1%), have done the vaccine up to dose 2 (71.6%). Spatial analysis shows a trend of cases in areas with a population density of 8001-12,000 people/km2 (51.7%), areas with a total number of recipients of social assistance 801-1200 people (36.6%), residences with a distance less than 250 meters from health facilities and less than 250 meters from public facilities, and there are 4 clusters of COVID-19 events.
Conclusion: The Health Office needs to prevent and deal with outbreaks of infectious diseases such as COVID-19 by paying attention to environmental aspects such as the distribution of health facilities, the distribution of public facilities that can become places of rapid transmission, population density, and the number of people who need social assistance.
5196828149I4B018060APLIKASI KOMBINASI HIDROTERAPI RENDAM KAKI AIR HANGAT DAN AKUPRESUR PADA TITIK BAIHUI (GV 20) TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA
HIPERTENSI PRIMER
ABSTRAK

APLIKASI KOMBINASI HIDROTERAPI RENDAM KAKI AIR HANGAT DAN AKUPRESUR PADA TITIK BAIHUI (GV 20) TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA
HIPERTENSI PRIMER
Muhammad Nur Akmal Hidayat, Endang Triyanto, Beta Sugiarso


Latar Belakang: Prevalensi penderita hipertensi semakin meningkat. Hipertensi dikenal juga sebagai silent killer karena menjadi faktor risiko utama mengarah ke penyakit kardiovaskuler. Penatalaksanaan hipertensi primer dapat dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis sebagai pelengkapnya. Terapi non farmakologis harus diberikan kepada semua klien hipertensi primer dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor risiko serta penyakit penyerta lainnya. Salah satu terapi non farmakologis yang bisa diaplikasikan pada penderita hipertensi adalah terapi komplementer. Tujuan dari implementasi terapi ini adalah untuk mengetahui gambaran terkait aplikasi kombinasi hidroterapi rendam kaki air hangat dan akupresur pada titik Baihui (GV 20) terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi primer dalam upaya meningkatkan kemampuan memberikan asuhan keperawatan pada individu dengan hipertensi primer.

Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode pendekatan pre eksperimental dan pretest dan posttest design. Pengambilan sampel dilakukan door to door pada penderita hipertensi yang sudah masuk dalam kriteria inklusi sebanyak 3 orang responden. Selama tiga hari, ketiga klien diberikan kombinasi hidroterapi rendam kaki air hangat selama 15 menit dan akupresur pada titik Baihui (GV 20) sebanyak 40 pijatan. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan sphygmomanometer digital. Data kemudian di analisis menggunakan hasil rata-rata nilai tekanan darah pre dan post terapi tiap responden.

Hasil Penelitian: Hasil aplikasi terapi kombinasi ini menunjukan bahwa responden terbanyak berjenis kelamin perempuan (66,7%) dan semuanya berusia > 18 sampai dengan ≤ 60 tahun. Setelah diberikan terapi kombinasi selama 3 hari, semua responden mengalami penurunan tekanan darah.

Kesimpulan: Aplikasi kombinasi hidroterapi rendam kaki air hangat dan akupresur pada titik Baihui (GV 20) dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi primer.

Kata kunci: Akupresur, Hipertensi primer, Rendam kaki air hangat
ABSTRACT

COMBINATION APPLICATION OF HYDROTHERAPY SOAKING WARM WATER FEET AND ACUPRESSURE AT THE BAIHUI POINT (GV 20) TOWARDS REDUCTION OF BLOOD PRESSURE
IN PATIENTS PRIMARY HYPERTENSION
Muhammad Nur Akmal Hidayat, Endang Triyanto, Beta Sugiarso


Background: The prevalence of hypertension sufferers is increasing. Hypertension is also known as a silent killer because it is a major risk factor leading to cardiovascular disease. Management of primary hypertension can be done pharmacologically and non-pharmacologically as a complement. Non-pharmacological therapy must be given to all primary hypertension clients with the aim of lowering blood pressure and controlling risk factors and other comorbidities. One non-pharmacological therapy that can be applied to patients with hypertension is complementary therapy. The aim of the implementation of this therapy is to find out the picture related to the application of a combination of hydrotherapy soaking warm water feet and acupressure at the Baihui point (GV 20) to decrease blood pressure in primary hypertension sufferers in an effort to improve the ability to provide nursing care to individuals with primary hypertension.

Methodology: This research is a quantitative study using pre-experimental and pretest and posttest design approaches. Sampling was conducted door to door on hypertension patients who were included in the inclusion criteria of 3 respondents. For three days, the three clients were given a combination of hydrotherapy soak feet of warm water for 15 minutes and acupressure at the Baihui point (GV 20) of 40 massages. Data collection uses observation sheets and digital sphygmomanometers. Data were then analyzed using the results of the average blood pressure values pre and post therapy for each respondent.

Results: The results of this combination therapy application showed that the majority of respondents were female (66.7%) and all were aged > 18 to ≤ 60 years. After being given combination therapy for 3 days, all respondents experienced a decrease in blood pressure.

Conclusion: The application of a combination of hydrotherapy soak feet warm water and acupressure at the Baihui point (GV 20) can reduce blood pressure in patients with primary hypertension.

Keywords: Acupressure, Primary hypertension, Soak feet in warm water

5196939163I1C018096FORMULASI SEDIAAN HAIR TONIC EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L.) DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI PADA Staphylococcus aureusHair tonic ekstrak etanol daun kemangi (Ocimum basilicum L.) merupakan alternatif yang dapat digunakan sebagai kosmetik antiketombe. Ekstrak etanol daun kemangi memiliki kandungan flavonoid, tanin, saponin dan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula terbaik sediaan hair tonic yang memiliki sifat fisik dan stabilitas fisik serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian eksperimental ini meliputi pembuatan sediaan hair tonic, pengujian sifat fisik dan aktivitas antibakteri. Hair tonic diformulasikan dengan 4 variasi konsentrasi yang berbeda yang mengandung 0,5% (formula I); 1% (formula II); dan 1,5% (formula III). Pengamatan organoleptik, homogenitas, pH, viskositas dianalisis secara deskriptif. Sedangkan aktivitas antibakteri dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua formula sediaan hair tonic ekstrak etanol daun kemangi (O. basilicum L.) memenuhi persyaratan sifat fisik. Sediaan hair tonic ekstrak etanol daun kemangi (O. basilicum L.) dengan konsentrasi 0,5% (formula I); 1% (formula II); dan 1,5% (formula III) memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus. Sediaan hair tonic yang paling stabil yaitu formula III dengan konsentrasi ekstrak etanol daun kemangi 1,5%, karena memiliki sifat fisik yang paling baik diantara formula lain dan memiliki aktivitas antibakteri dengan zona hambat sebesar 12,8 mm dengan kategori kuat.Hair tonic ethanol extract of basil leaves (Ocimum basilicum L.) is an alternative that can be used as an anti-dandruff cosmetic. The ethanol extract of basil leaves contains flavonoids, tannins, saponins and essential oils. This study aims to obtain the best formula for hair tonic preparation which has physical properties and physical stability and has antibacterial activity against Staphylococcus aureus. This experimental research involved making hair tonic preparations, testing their physical properties and antibacterial activity. Hair tonic is formulated with 4 different concentration variations containing 0.5% (formula I); 1% (formula II); and 1.5% (formula III). Organoleptic observations, homogeneity, pH, viscosity were analyzed descriptively. While the antibacterial activity was analyzed using the Kruskal Wallis test. The results showed that all hair tonic formulations of ethanol extract of basil leaves (O. basilicum L.) met the requirements for physical properties. Preparation of hair tonic ethanol extract of basil leaves (O. basilicum L.) with a concentration of 0.5% (formula I); 1% (formula II); and 1.5% (formula III) has antibacterial activity against S. aureus. The most stable hair tonic preparation is formula III with a concentration of 1.5% basil leaf ethanol extract, because it has the best physical properties among other formulas and has antibacterial activity with an inhibition zone of 12.8 mm in the strong category.
5197055478G4A024002HUBUNGAN PROSEDUR ENHANCED RECOVERY AFTER CAESAREA SURGERY (ERACS) TERHADAP KEJADIAN MUAL MUNTAH PASCA OPERASI SECTIO CAESAREA DI RSUD AJIBARANGLatar belakang: Persalinan seksio sesarea dengan anestesi spinal tanpa penanganan yang baik dapat menyebabkan efek samping berupa PONV pada30% pasien khususnya pada 6 jam pertama. Metode ERACS dikembangkan untuk mengurangi keluhan pasien dan mengurangi efek samping yang dihasilkan dari penggunaan anestesi konvensional khususnya PONV.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan ERACS dalam mengurangi kejadian mual dan muntah pasca operasi. Metodologi: Penelitian menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cohort. Penelitian dilakukan di RSUD Ajibarang. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling sebanyak 200 sampel. Data yang diambil berupa data sekunder melalui rekam medis pasien. Hasil: PONV lebih banyak terjadi pada penggunaan anestesi konvensional (13%). Hasil uji asosiasi chi-square didapatkan nilai 0,003 atau P < 0,05 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara teknik anestesi ERACS dengan PONV. Kejadian PONV berisiko 6,5 kali lebih besar pada penggunaan teknik anestesi konvensional.
Kesimpulan: Penggunaan metode anestesi ERACS dapat menurunkan kejadian mual dan muntah pasca operasi dibandingkan penggunaan metode anestesi konvensional.
Background: Cesarean section delivery with spinal anesthesia without proper management can cause side effects in the form of PONV in 30% of patients, especially in the first 6 hours. The ERACS method was developed to reduce patient complaints and minimize the side effects resulting from the use of conventional anesthesia, particularly PONV. Objective: The aim of this study was to determine the relationship between the implementation of ERACS in reducing the incidence of postoperative nausea and vomiting.
Methodology: This was a cohort study. The research was conducted at RSUD Ajibarang. Samples were taken using purposive sampling technique with a total of 200 samples. Data were collected in the form of secondary data through patients's medical records.
Results: PONV occurred more frequently with the use of conventional anesthesia (13%). The statistical test result obtained a value of 0.003 or P <0.05, indicating a significant relationship between the ERACS anesthesia technique and PONV. The incidence of PONV is 6,5 times greater with the use of conventional anesthesia technique.
Conclusion: The use of ERACS method can reduce the incidence of postoperative nausea and vomiting compared to the use of conventional anesthesia methods.
5197138174I1A016026Literature Review Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit di IndonesiaLITERATURE REVIEW PENGARUH MUTU PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT DI INDONESIA
Nadya D. Sitanggang1, Budi Aji2, Aisyah Apriliciciliana A3

Latar belakang: Pelayanan kesehatan adalah hal yang sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang sehat. Pelayanan yang bermutu merupakan salah satu syarat pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien dapat tercapai jika mutu pelayanan suatu instansi itu baik. Mutu pelayanan kesehatan menjadi ukuran kepuasan pasien dilihat dari dimensi tangiables reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mutu pelayanan kesehatan terhadap kepuasan pasien rawat inap rumah sakit yang berada di Indonesia.
Metodologi: Desai penelitian yang digunakan adalah literatur review. Database yang digunakan adalah google scholar dan Garuda dengan menggunakan kata kunci dan kriteria inklusi waktu penerbitan 2016–2021, fulltext, rumah sakit yang berada di Indonesia, berkaitan dengan topik, dan berbahasa Indonesia atau bahasa inggris. Sumber data yang digunakan merupakan sumber data sekunder.
Hasil penelitian: berdasarkan 9 artikel yang dilakukan literatur pada dimensi Bukti Fisik terdapat delapan dari sembilan artikel yang menyatakan terdapat hubungan, pada dimensi Kehandalan semua artikel menyatakan terdapat hubungan, pada dimensi Ketanggapan delapan dari sembilan artikel yang menyatakan terdapat hubungan, pada dimensi Jaminan delapan dari sembilan artikel yang menyatakan terdapat hubungan, dan pada dimensi empathy semua artikel menyatakan terdapat hubungan.
Kesimpulan: terdapat hubungan antara dimensi tangiables reliability, responsiveness, assurance, dan empathy dengan kepuasan pasien rawat inap rumah sakit.

1Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKes Universitas Jendral Soedirman
2Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKes Universitas Jendral Soedirman
LITERATURE REVIEW OF THE EFFECT QUALITY OF HEALTH SERVICES ON PATIENT SATISFACTION INPATIENT HOSPITALS IN INDONESIA
Nadya D. Sitanggang1, Budi Aji2, Aisyah Apriliciciliana A3

Background: Health services are very important to create a healthy society. Quality service is one of the requirements of health services. Patient satisfaction can be achieved if the service quality of an institution is good.quality of health services is a measure of patient satisfaction seen from the dimensions of tangibles reliability, responsiveness, assurance, and empathy. This study aims to determine the effect of the quality of health services on the satisfaction of inpatients at the hospitals in Indonesia.
Methodology: The research design used was a literature review. The databases used are Google Scholar and Garuda with using keywords and inclusion criteria at the time of publication 2016–2021, full text, hospitals located in Indonesia, related to the topic, and in Indonesian or English. The data source used is a secondary data source.
Result: based on 9 articles carried out by the literature on the tangibles dimension, eight out of nine articles stated that there was a relationship, on the Reliability dimension all articles stated that there was a relationship, on the Responsiveness dimension eight of nine articles stated that there was a relationship, on the Assurance dimension eight out of nine. articles that state that there is a relationship, and on the empathy all articles state that there is a relationship.
Conclusion: there is a relationship between the dimensions of tangiables reliability, responsiveness, assurance, and empathy with hospital inpatient satisfaction.

1Pulic Health Departemen Faculty of Health Science, Jendral Soedirman University
2Pulic Health Departemen Faculty of Health Science, Jendral Soedirman University
5197254091E1A022020PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVENTOR ATAS SENGKETA PENGALIHAN HAK PATEN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG PATEN
(Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 283 K/Pdt.Sus-HKI/2025)
Pengalihan hak paten merupakan mekanisme hukum yang mengakibatkan beralihnya hak ekonomi atas suatu invensi dari inventor kepada pihak lain. Pada praktiknya, pengalihan hak paten dapat menimbulkan sengketa apabila keabsahan dasar hukum pengalihannya dipersoalkan. Salah satu contoh kasus terdapat dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 283 K/Pdt.Sus-HKI/2025 mengenai sengketa pengalihan hak paten atas invensi Perbaikan Konstruksi Sarang Laba-Laba, yang diajukan oleh ahli waris inventor karena mendalilkan bahwa pengalihan hak paten tidak didasarkan pada perjanjian pengalihan hak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten, melainkan hanya berdasarkan surat kuasa pendaftaran paten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum terhadap inventor serta akibat hukum pengalihan hak paten berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten.
Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus yang dianalisis secara deskriptif analitis. Sumber data dalam penelitian berupa data sekunder dan metode penyajian data berupa studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Putusan Mahkamah Agung Nomor 283 K/Pdt.Sus-HKI/2025 memberikan perlindungan hukum represif yang diwujudkan melalui penyelesaian sengketa pengalihan hak paten oleh Mahkamah Agung yang menegaskan keabsahan pengalihan hak atas invensi Perbaikan Konstruksi Sarang Laba-Laba berdasarkan dokumen pengalihan hak, pencatatan pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), serta pelaksanaan pembayaran royalti kepada inventor. Akibat hukum yang timbul meliputi tetap sahnya status PT Katama Surya Bumi sebagai pemegang paten, beralihnya hak ekonomi atas invensi kepada pemegang paten, lahirnya hubungan hukum antara inventor dan pemegang paten, serta berakhirnya hak eksklusif setelah masa perlindungan paten berakhir pada 28 Januari 2024 sehingga invensi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tanpa menghilangkan pengakuan terhadap hak moral para inventor. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan hukum paten, khususnya mengenai perlindungan hukum terhadap inventor dan akibat hukum pengalihan hak paten di Indonesia.
The transfer of patent rights is a legal mechanism through which the economic rights over an invention are transferred from the inventor to another party. In practice, disputes may arise when the legal validity of such a transfer is challenged. One such dispute is reflected in the Supreme Court Decision Number 283 K/Pdt.Sus-HKI/2025 concerning the transfer of patent rights over the Perbaikan Konstruksi Sarang Laba-Laba invention. The case was initiated by the inventor’s heir, who argued that the transfer of patent rights was not based on a patent assignment agreement as required under Law Number 13 of 2016 on Patents, but merely on a power of attorney for patent registration. This study aims to analyze the legal protection afforded to inventors and the legal consequences of patent rights transfers under Law Number 13 of 2016 on Patents.
This research employed a normative juridical method using statutory, conceptual, and case approaches with descriptive-analytical methods. The study relied on secondary legal materials collected through library research.
The results of the study indicate that Supreme Court Decision Number 283 K/Pdt.Sus-HKI/2025 provides repressive legal protection through the judicial settlement of the patent rights transfer dispute, affirming the validity of the transfer of rights over the Perbaikan Konstruksi Sarang Laba-Laba (PKSLL) invention based on the deed of assignment, its registration with the Directorate General of Intellectual Property (DGIP), and the implementation of royalty payments to the inventors. The legal consequences arising from the decision include the continued validity of PT Katama Surya Bumi's status as the lawful patent holder, the transfer of the invention's economic rights to the patent holder, the establishment of a legal relationship between the inventors and the patent holder, and the expiration of the exclusive patent rights upon the end of the twenty-year patent protection period on 28 January 2024, after which the invention entered the public domain and may be utilized by the public without prejudice to the recognition of the inventors' moral rights. This research is expected to contribute to the development of patent law, particularly with respect to the legal protection of inventors and the legal consequences of patent rights transfers in Indonesia


5197351322G1B021046Hubungan Pola Konsumsi Makanan Kariogenik dan Kebiasaan Menggosok Gigi dengan Karies Gigi Anak SD Usia 9-12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan Latar belakang. Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering dialami oleh anak usia sekolah. Faktor perilaku seperti pola konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi memiliki peran penting dalam terbentuknya karies. Tujuan. Mengetahui hubungan antara pola konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar usia 9–12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan. Metode. Jenis penelitian metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian merupakan anak usia 9-12 tahun di SD Kecamatan Purwokerto Selatan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan pemeriksaan karies menggunakan indeks dmft/DMFT. Analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola konsumsi makanan kariogenik dengan karies gigi (p<0,05) dengan coefficient correlation (cc) 0,415 dan -0,612 dan terdapat hubungan antara kebiasaan menggosok gigi dengan karies gigi (p<0,05) dengan coefficient correlation (cc) -0,242 dan -0,441. Simpulan. Terdapat hubungan antara pola konsumsi makanan kariogenik dengan karies gigi, semakin tinggi konsumsi makanan kariogenik semakin tinggi pula karies gigi dan terdapat hubungan antara kebiasaan menggosok gigi dengan karies gigi, semakin buruk kebiasaan menggosok gigi, semakin tinggi karies gigi pada anak SD usia 9-12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan. Background. Dental caries is one of the most common oral health problems experienced by school-aged children. Behavioral factors such as cariogenic food consumption patterns and toothbrushing habits play an important role in the formation of caries. Purpose. To determine the relationship between cariogenic food consumption patterns and tooth brushing habits with the incidence of dental caries in elementary school children aged 9–12 years in South Purwokerto District. Methods. The type of research was analytical observational method with a cross-sectional approach. The study sample consisted of children aged 9–12 years in elementary schools in South Purwokerto District using simple random sampling. The research instruments used were the Food Frequency Questionnaire (FFQ) and caries examination using the dmft/DMFT index. Data analysis was performed using the Spearman's rank correlation test. Result. The results showed that there was a relationship between cariogenic food consumption patterns and dental caries (p<0.05) with a correlation coefficient (cc) of 0,415 dan -0,612, and there was a relationship between tooth brushing habits and dental caries (p<0.05) with a correlation coefficient (cc) of -0.242 and -0.441. Conclusion. There is a relationship between cariogenic food consumption patterns and dental caries; the higher the consumption of cariogenic foods, the higher the incidence of dental caries. There is also a relationship between toothbrushing habits and dental caries; the poorer the toothbrushing habits, the higher the incidence of dental caries.
5197418703C1B013020ANALISIS PENGARUH KEPUASAN KERJA, KOMITMEN ORGANISASI, BUDAYA ORGANISASI, JOB INSECURITY TERHADAP TURNOVER INTENTION
(Studi Pada Karyawan PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh kepuasan kerja, komitmen organisasi, budaya organisasi, job insecurity terhadap turnover intention pada karyawan PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan disebarkan pada 77 karyawan PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya. Analisis data pada penelitian ini menggunakan aplikasi spss versi 22. Cara untuk mengambil sampel digunakan dengan stratified random sampling dan teknik pengujian data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik dan regresi linier berganda, untuk menguji dan membuktikan hipotesis penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh negatif terhadap turnover intention, komitmen organisasi berpengaruh negatif terhadap turnover intention, budaya organisasi berpengaruhi negatif terhadap turnover intention dan job insecurity berpengaruh positif terhadap turnover intentiton. Purpose of this research is to analyze and test the influence of work satisfaction, organization commitment, organizational culture, job insecurity toward turnover intention on the labor of PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya. The data collected use questionnaire and spread to the 77 labor PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya. The data was analyzed by SPSS version 22. The method of collecting sample use stratified random sampling and the method to test the data that used on this research are validity test, reliability test, assumption classic test and multiple linear regression to test and prove hypothesis of this research. The result show work satisfaction have negative influence toward turnover intention, organizational commitment have negative influence toward turnover intention, organizational culture have negative influence toward turnover intention, and job insecurity have positive influence toward turnover intention.
5197555480G4A024036IDENTIFIKASI GEN RESISTENSI ANTIBIOTIK YANG TERKAIT DENGAN PAPARAN RESIDU ANTIBIOTIK PADA SUNGAI BANJARAN KABUPATEN BANYUMAS DENGAN ANALISIS METAGENOMIK
Latar belakang: Penggunaan antibiotik di sektor kesehatan dan agraris dapat menghasilkan limbah residu antibiotik yang mencemari lingkungan sungai. Residu antibiotik pada lingkungan dapat menyebabkan timbulnya gen resistensi antibiotik akibat terjadinya antibiotic-induced mutagenesis pada bakteri. Tujuan: Mengidentifikasi gen resistensi antibiotik yang terkait dengan paparan residu
antibiotik pada air yang mengalir di bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Banjaran. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian in silico dengan pendekatan komputasional dengan sampel air dari Sungai Banjaran yang diambil pada bagian hulu, tengah, dan hilir. Sampel air akan dilakukan ekstraksi DNA menggunakan kit Quick-DNA™ MagBead Plus Kit untuk memperoleh DNA murni. Hasil ekstraksi DNA kemudian disekuensing menggunakan shotgun metagenomic sequencing untuk mendapatkan sekuens DNA. Sekuens DNA selanjutnya dianalisis menggunakan Bacterial and Viral Bioinformatics Resource Center 3.33.16 yang di didalamnya terdapat algoritma Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) untuk mengidentifikasi gen resistensi antibiotik. Hasil: Hasil analisis pada bagian hulu ditemukan 101 gen resistensi dengan 76 gen resistensi intrinsik, 22 gen melalui Horizontal Gene Transfer (HGT), dan 3 gen hasil mutasi. Sampel dari bagian tengah teridentifikasi 83 gen resistensi dengan 38 gen intrinsik, 35 gen melalui HGT, 4 gen mutasi, serta 6 gen yang terkait dengan paparan residu antibiotik. Sampel dari bagian hilir ditemukan 40 gen resistensi dengan 19 gen intrinsik, 18 gen HGT, 2 gen mutasi, dan 1 gen yang terkait dengan paparan residu antibiotik. Kesimpulan: Terdapat 6 gen yang terkait dengan paparan residu antibiotik phosphonic, kloramfenikol, dan fluorokuinolon pada sampel air dari bagian tengah sungai, serta 1 gen yang terkait dengan paparan residu antibiotik tetrasiklin pada sampel dari bagian hilir sungai.
Background: The excessive use of antibiotics in the health and agricultural sectors can produce antibiotic residue waste that pollutes river environments. Antibiotic residues in the environment can lead to the emergence of antibiotic resistance genes through antibiotic-induced mutagenesis in bacteria. Objective: Identifying antibiotic resistance genes associated with exposure to antibiotic residues in the upstream, middle, and downstream parts of the Banjaran River. Methods: This research is an in silico study using a computational approach with water samples from the Banjaran River, taken from the upstream, middle, and downstream parts. DNA extraction was carried out using the Quick-DNA™ MagBead Plus Kit, followed by sequencing with shotgun metagenomic sequencing. Bioinformatics
analysis was conducted using the Bacterial and Viral Bioinformatics Resource Center 3.33.16. The identification of antibiotic resistance genes was performed using the Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) algorithm. Results: The upstream analysis identified 101 resistance genes, including 76 intrinsic resistance genes, 22 genes acquired through Horizontal Gene Transfer (HGT), and 3 genes resulting from mutations. Samples from the middle section revealed 83 resistance genes, comprising 38 intrinsic genes, 35 genes acquired through HGT, 4 mutation genes, and 6 genes related to exposure to antibiotic residues. Samples from the downstream section identified 40 resistance genes, consisting of 19 intrinsic genes, 18 HGT genes, 2 mutation genes, and 1 gene associated with exposure to antibiotic residues. Conclusion: There were six genes associated with exposure to residues of phosphonic antibiotics, chloramphenicol, and fluoroquinolones in water samples from the middle part of the river, and one gene associated with exposure to residues of tetracycline antibiotics in samples from the downstream of the river.
5197655479G4A024037PENGARUH PREKONDISI LIPOPOLISAKARIDA TERHADAP SEKRESI HEPATOCYTE GROWTH FACTOR PADA SEKRETOM SEL PUNCA MESENKIMALLatar Belakang– Sel Punca Mesenkimal (SPM) memiliki kemampuan dalam mensekresi molekul bioaktif yang disebut sekretom. Molekul bioaktif tersebut salah satunya adalah HGF yang memiliki peran penting dalam perbaikan jaringan. Sekretom SPM dapat dimodifikasi oleh berbagai stimuli salah satunya senyawa biokimiawi. LPS merupakan salah satu senyawa biokimiawi utama yang memicu inflamasi. Variasi dosis LPS yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh induksi LPS terhadap sekresi HGF pada sekretom SPM. Metode– Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan desain post-test only with control group. Sampel SPM dibagi ke dalam 4 kelompok penelitian, terdiri atas satu kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan (HGF = 0,5; 1; 2 ng/ml) dimana induksi LPS diberikan pada SPM selama 24 jam. Kadar HGF diukur dengan metode ELISA. Analisis data dilakukan menggunakan uji One-way ANOVA. Hasil– Tidak terdapat pengaruh signifikan antar kelompok (p = 0,225). Rerata kadar HGF pada setiap kelompok, yakni: kelompok II = 1068,61 ± 89,71 ng/L; kelompok III = 1091,30 ± 40,12 ng/L; kelompok IV = 1122,42 ± 43,33 ng/L; dan kelompok I = 1151,31 ± 99,30 ng/L Simpulan– Induksi LPS tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar HGF sekretom SPM.Background– Mesenchymal Stem Cell (MSC) has the ability to secrete bioactive molecules called secretome. One of the secretome is HGF which has important roles in tissue repair and regeneration. MSC’s Secretome can be modified in various way by using stimuli, LPS is one of them. LPS is one of biochemical stimuli that could trigger inflammation. LPS dosage varied to discover the effect of LPS precondition to HGF rate in MSC’s secretome. Method– This research employs a true experimental method with a post-test only design with a control group. The SPM samples are divided into four research groups, consisting of one control group and three treatment groups (HGF = 0.5, 1, 2 ng/ml), where LPS induction is administered to the SPM for 24 hours. The HGF levels are measured using the ELISA method. Data analysis is conducted using a One-way ANOVA test. Result– There is no significant influence among the groups (p = 0.225). The mean HGF levels in each group are as follows: Group II = 1068.61 ± 89.71 ng/L; Group III = 1091.30 ± 40.12 ng/L; Group IV = 1122.42 ± 43.33 ng/L; and Group I = 1151.31 ± 99.30 ng/L. Conclusion– LPS precondition does not have a significant effect on the HGF secretion levels of MSC.
5197755481A2B024006OPTIMASI FORMULA, KARAKTERISASI DAN PENETAPAN UMUR SIMPAN BERAS ANALOG MOCAF DENGAN PENAMBAHAN KONJAK GLUKOMANAN DAN SUSU SKIMKetergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras sebagai sumber karbohidrat utama masih tinggi, sementara produksi nasional belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan sehingga diperlukan upaya diversifikasi pangan. Beras analog berbasis MOCAF (Modified Cassava Flour) berpotensi dikembangkan karena ketersediaan singkong yang melimpah di Indonesia. Namun, penggunaan MOCAF masih memiliki keterbatasan pada karakteristik tekstur dan penerimaan sensori sehingga diperlukan formulasi yang tepat melalui penambahan konjak glukomanan dan susu skim. Penelitian ini bertujuan menetapkan formula optimum beras analog berbasis MOCAF, menganalisis pengaruh proporsi konjak glukomanan dan susu skim terhadap sifat sensori, mengevaluasi stabilitas mutu selama penyimpanan, serta menentukan umur simpan produk optimum. Optimasi dilakukan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan rancangan Central Composite Design (CCD). Formula optimum selanjutnya dikarakterisasi secara fisikokimia dan sensori, serta diuji stabilitasnya menggunakan metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) berbasis model Arrhenius pada suhu 35°C, 45°C, dan 55°C dengan kemasan polyethylene dan embossed vacum bag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konjak glukomanan berperan dalam pembentukan tekstur beras analog MOCAF, sedangkan susu skim berpengaruh dalam membentuk aroma dan rasa. Formula optimum diperoleh pada kombinasi konjak glukomanan sebesar 3,797 % dan susu skim sebesar 10,5%. Berdasarkan parameter mutu kritis umur simpan yaitu kadar air, FFA, cookibg loss, WAI, kepulenan, bentuk butiran nasi, kelengketan, aroma, rasa, dan keseluruhan, didapatkan umur simpan beras analog pada kemasan vakum yang ditentukan berdasarkan kadar air diperkirakan 7 bulan 18 hari, sedangkan pada kemasan PE diperkirakan 4 bulan 28 hari pada suhu penyimpanan 30°C.The dependence of Indonesian society on rice as the primary carbohydrate source remains high, while national production has not fully met the increasing demand. This condition highlights the need for food diversification through the development of alternative staple foods. Analog rice based on MOCAF (Modified Cassava Flour) is a promising product due to the abundant availability of cassava in Indonesia. However, the use of MOCAF still presents limitations in terms of texture characteristics and sensory acceptability. Therefore, an appropriate formulation is required through the addition of konjac glucomannan and skim milk.
This study aimed to determine the optimum formulation of MOCAF-based analog rice, analyze the effect of konjac glucomannan and skim milk proportions on sensory properties, evaluate quality stability during storage, and estimate the shelf life of the optimum product. Optimization was carried out using Response Surface Methodology (RSM) with a Central Composite Design (CCD). The optimum formulation was subsequently characterized for its physicochemical and sensory properties and evaluated for storage stability using the Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) method based on the Arrhenius model at temperatures of 35°C, 45°C, and 55°C using Polyethylene and embossed vacuum bag packaging. The results showed that konjac glucomannan played a significant role in forming the texture of MOCAF-based analog rice, while skim milk contributed to the development of aroma and taste. The optimum formulation was obtained at 3.797% konjac glucomannan and 10.5% skim milk. Based on the critical quality parameters used for shelf-life determination, namely moisture content, free fatty acids (FFA), cooking loss, Water Absorption Index (WAI), softness, shape integrity, stickiness, aroma, taste, and overall acceptability. The shelf life of the analog rice packaged in an embossed vacuum bag, as determined by moisture content, was estimated to be approximately 7 months and 18 days, while the shelf life of the product packaged in polyethylene (PE) was estimated to be approximately 4 months and 28 days at a storage temperature of 30°C.
5197837634E1A018120IZIN POLIGAMI KARENA ISTRI TIDAK DAPAT
MENJALANKAN KEWAJIBAN SEBAGAI ISTRI
(Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Agama Yogyakarta
Nomor 506/pdt.G/2020/PA.YK)
Fenomena poligami bukan sesuatu yang baru di kehidupan terutama dalam
suatu lingkungan masyarakat, terutama masyarakat muslim di Indonesia. Walaupun
bukan hal baru tetapi dalam tidak mengenal dan tidak ada istilah poligami, maka
dalam praktiknya, awalnya seorang pria kawin dengan seorang wanita seperti
layaknya perkawinan monogami. Dalam perkara izin poligami ini Pemohon
mengajukan permohonan menikah lagi karena Termohon tidak menjalankan
kewajibannya sebagai seorang isteri.
Rumusan masalahnya adalah bagaimana dasar pertimbangan keputusan
hukum hakim dalam memutus perkara izin poligami putusan Pengadilan Agama
Yogyakarta Nomor 506/pdt.G/2020/PA.YK ditinjau dari hukum yang berlaku di
indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian yuridis normatif yang kemudian
dianalisis secara normatif kualitatif dengan data sekunder yang diproses melalui
studi kepustakaan. Hasil penelitian disajikan secara naratif deskriptif guna
memperoleh penjelasan dari masalah tersebut.
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hakim berwewenang dalam
memutus perkara perizinan poligami pada putusan Pengadilan Agama Yogyakarta
Nomor 506/pdt.G/2020/PA.YK, berdasarkan Pasal 49 Undang-Undang No.3
Tahun 2006 jo Undang-Undang No. 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan Agama.
Hakim dalam memutus perkara ini mendasar pada Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo Pasal 40 dan 41 Peraturan Pemerintah
Nomor 7 Tahun 1975 dan Pasal 55 dan Pasal 58 Kompilasi Hukum Islam. Penulis
berpendapat bahwa Hakim dapat menambahkan Pasal 9 Undang-Undang No. 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan dimana seorang yang masih terikat perkawinan
dengan orang lain tidak dapat kawin lagi. Ketika seorang tersebut ingin menikah
lagi disaat masih terikat dalam suatu perkawinan maka diharuskan mengikuti apa
yang terdapat dalam Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan. Selanjutnya menambahkan Pasal 57 Kompilasi Hukum
Islam tentang syarat alternatif berpoligami.
The phenomenon of polygamy is not something new in life, especially in a
community environment, especially Muslim communities in Indonesia. Although it
is not new but in the law does not recognize and there is no term polygamy, so in
practice, initially a man marries a woman as befits a monogamous marriage. In
this case of polygamy permit the Petitioner applied for remarriage because the
Respondent did not perform his obligations as a wife.
The formulation of the problem is how the basis for considering the judge's
legal decision in deciding the polygamy permit case of the Yogyakarta Religious
Court decision Number 506/pdt.G/2020/PA.YK is reviewed from the applicable law
in Indonesia. This research uses normative juridical research which is then
analyzed normatively qualitatively with secondary data processed through
literature studies. The results of the study are presented in a descriptive narrative
manner in order to obtain an explanation of the problem.
The results of the study can be concluded that the judge has the authority
to decide polygamy licensing cases in the decision of the Yogyakarta Religious
Court Number 506/pdt.G/2020/PA.YK, based on Article 49 of Law No.3 of 2006
and Law No. 50 of 2009 concerning Religious Justice. The judge in deciding this
case is based on Article 3, Article 4 and Article 5 of Law Number 1 of 1974 jo
Articles 40 and 41 of Government Regulation Number 7 of 1975 and Article 55 and
Article 58 of the Compilation of Islamic Law. The author argues that the Judge can
add Article 9 of Law No. 1 of 1974 on Marriage where a person who is still bound
by marriage with another person cannot remarry. When a person wants to remarry
while still bound in a marriage, he is required to follow what is contained in Article
3 paragraph (2) and Article 4 of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage. It
further added Article 57 of the Compilation of Islamic Law on alternative
conditions for polygamy.
5197911458E1A111092GANTI RUGI IMMATERIIL AKIBAT PERBUATAN MELAWAN HUKUM KARENA PENCEMARAN NAMA BAIK (Tinjauan Yuridis Putusan Mahkamah Agung No.483 K/Pdt/2010)
ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “GANTI RUGI IMMATERIIL AKIBAT PERBUATAN MELAWAN HUKUM KARENA PENCEMARAN NAMA BAIK (Tinjauan Yuridis Putusan Mahkamah Agung No. 483 K/Pdt/2010)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hukum Hakim dalam menerapkan unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum dan dalam menentukan besarnya ganti rugi immateriil akibat Perbuatan Melawan Hukum karena pencemaran nama baik dalam Putusan Mahkamah Agung No. 483 K/Pdt/2010. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan hukum secara normatif, dengan metode analisis data secara kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa perbuatan Tergugat berupa pencemaran nama baik terhadap Penggugat dalam 5 media cetak dan surat merupakan perbuatan melawan hukum karena memenuhi unsur-unsur perbuatan melawan hukum yaitu melanggar hak subyektif orang lain berupa kehormatan dan nama baik, bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, serta bertentangan dengan kepatutan. Mahkamah Agung dalam mengabulkan tuntutan Penggugat atas kerugian immateriil berpedoman pada Pasal 1372 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dengan mempertimbangkan kedudukan Penggugat.
This research title is “Immaterial Compensation of Act against the Law due to Defamation (Juridical View of Supreme Court No. 48 K/Pdt/2010)”. The research purpose is finding out the justice consideration in applied the elements of Act against the Law and determining the amount of immaterial compensation due to Act against the Law because of defamation in Supreme Court Decision No. 48 K/Pdt/2010. The research method is normative justice approach and qualitative data analysing method.
Based on the research result is concluded that the Defendant action in the form of defamation toward the Claimant in 5 printed media and mail is an Act against the Law because of fulfilling the elements of Act against the Law which are violating of subjective right in the form of honor and reputation, contradicting with the justice obligation of Defendant and conflicting in decency. Supreme Court grants the Claimant claim for immaterial lost based on article 1372 paragraph (2), Book Civil Law by considering the position of Claimant.
5198034101C1A017074Analisis Keikutsertaan Pedagang Toko Kelontong dalam Sampoerna Retail Community (SRC) di Kecamatan Purwokerto TimurPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan pada toko kelontong mitra usaha Sampoerna Retail Community (SRC). Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan omzet toko kelontong sebelum dan sesudah bergabung dengan SRC.
Lokasi penelitian yang dipilih yaitu Kecamatan Purwokerto Timur berdasarkan purposive area. Populasi dalam penelitian sebanyak 71 toko kelontong dan jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 42 toko kelontong berdasarkan perhitungan rumus Taro Yamane. Analisis data yang digunakan adalah uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dengan software SPSS untuk menguji asumsi normalitas data, selanjutnya menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank untuk menganalisis signifikansi perbedaan antar dua data berpasangan berskala ordinal yang tidak terdistibusi normal.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat kenaikan omzet pada toko kelontong sesudah bergabung dengan SRC di Kecamatan Purwokerto Timur. Rata - rata omzet penjualan toko kelontong sebelum bergabung dengan SRC yaitu sebesar Rp1.179.761,00 dan rata – rata omzet penjualan sesudah bergabung dengan SRC yaitu sebesar Rp1.916.666,00 dengan persentase kenaikan omzet sebesar 62 persen. Pertimbangan ikutserta dengan SRC antara lain untuk mendapatkan pendampingan usaha, untuk mendapatkan relasi sesama pemilik toko kelontong, keinginan untuk maju dan berkembang, untuk memberikan acuan bahwa tujuan toko kelontong yang mereka miliki adalah untuk menjadi toko kelontong yang dapat bersaing dengan toko modern.
Penelitian ini menunjukkan bahwa SRC memberikan implikasi positif bagi toko kelontong. Pendampingan usaha yang diberikan pihak SRC dapat digunakan sebagai bantuan dalam menjalankan usaha toko kelontong sehingga para pedagang toko kelontong yang bergabung dengan SRC tahu hal-hal yang perlu dilakukan untuk memajukan toko kelontongnya untuk bersaing dengan toko modern. Para pedagang toko kelontong hendaknya lebih memanfaatkan program yang ada dalam kemitraan SRC secara maksimal karena program tersebut dapat mendorong toko kelontong untuk memperoleh omzet dari hasil penjualan barang toko kelontong semakin besar lagi.
This research is a quantitative study conducted at a grocery store business partner Sampoerna Retail Community (SRC). The aim of the study was to compare grocery store turnover before and after joining SRC.
The research location chosen is East Purwokerto District based on a purposive area. The population in the study was 71 grocery stores and the number of respondents taken in this study were 42 grocery stores based on the Taro Yamane formula calculation. Analysis of the data used is the Kolmogorov-Smirnov normality test with SPSS software to test the assumption of normality of the data, then use the Wilcoxon Signed Rank test to analyze the significance of the difference between two paired data on an ordinal scale that is not normally distributed.
Based on the results of the study, it was concluded that there was an increase in turnover at the grocery store after joining SRC in East Purwokerto District. The average sales turnover of grocery stores before joining SRC was IDR 1,179,761.00 and the average sales turnover after joining SRC was IDR 1,916,666.00 with a 62 percent increase in turnover. Considerations for participating with SRC, among others, to get business assistance, to gain relationships with fellow grocery store owners, the desire to progress and develop, to provide a reference that the purpose of their grocery store is to become a grocery store that can compete with modern stores.
This study shows that SRC has positive implications for grocery stores. The business assistance provided by SRC can be used as assistance in running a grocery store business so that grocery store traders who join SRC know what to do to advance their grocery stores to compete with modern stores. Grocery store traders should take full advantage of the existing program in the SRC partnership because the program can encourage grocery stores to earn even greater turnover from the sale of grocery store goods.