Artikelilmiahs

Menampilkan 51.861-51.866 dari 51.866 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5186155280J0B022028PEMBUATAN VIDEO PROMOSI WISATA KULINER BERBAHASA MANDARIN DI DINAS PARIWISATA KOTA YOGYAKARTALaporan proposal praktik kerja ini berjudul “Pembuatan Video Promosi Wisata Kuliner Berbahasa Mandarin Di Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta”. Kegiatan praktik kerja ini dilaksanakan di Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, pada bulan Oktober 2024 hingga Maret 2025. Latar belakang dilakukannya praktik kerja ini adalah terbatasnya video promosi wisata kuliner berbahasa Mandarin yang di kelola oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Wisata kuliner yang dikelola seperti Gudeg Wijilan Bu Lies 2, Bakmi Jowo, Rica-rica Bangsat dan Roti bakar beverly hills. Penulis membuat video promosi terkait Wisata Kuliner di Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dalam bahasa Mandarin, yang bertujuan menghasilkan video promosi tentang Wisata Kuliner berbahasa Mandarin di Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Dengan semakin meningkatnya minat wisatawan penutur bahasa Mandarin terhadap wisata kuliner di Jogja, maka menjadi kesempatan bagi wisata kuliner untuk meningkatkan promosi. Dalam pembuatan video ini penulis menggunakan metode pengumpulan data adalah metode observasi, studi pusaka, jelajah internet dan dokumentasi. Video yang dihasilkan disertai dengan voice over bahasa mandarin dan subtitle Dengan adanya video wisata kuliner sebagai media promosi ini maka wisatawan penutur bahasa mandarin dapat mengetahui dengan jelas adanya wisata kuliner di Jogja. Wisata Kuliner ini dapat memberikan adalah untuk meningkatkan daya tarik sehingga menarik lebih banyak wisatawan asing khususnya wisatawan penutur bahasa Mandarin.This practical work proposal report is entitled *“The Production of a Mandarin-Language Promotional Video for Culinary Tourism at the Yogyakarta City Tourism Office.”* This practical work was carried out at the Yogyakarta City Tourism Office from October 2024 to March 2025. The background of this practical work is the limited number of Mandarin-language promotional videos for culinary tourism managed by the Yogyakarta City Tourism Office. The culinary tourism destinations promoted include Gudeg Wijilan Bu Lies 2, Javanese Noodles (Bakmi Jowo), Rica-rica Bangsat, and Beverly Hills Toast.

The author produced a promotional video about culinary tourism managed by the Yogyakarta City Tourism Office in Mandarin, with the aim of producing a Mandarin-language promotional video introducing culinary tourism in Yogyakarta. As interest among Mandarin-speaking tourists in culinary tourism in Yogyakarta continues to increase, this presents an opportunity for culinary tourism businesses to enhance their promotional activities.

In producing this video, the author used several data collection methods, namely observation, literature study, internet exploration, and documentation. The resulting video is accompanied by a Mandarin voice-over and subtitles. As a promotional medium, this culinary tourism video is expected to provide Mandarin-speaking tourists with clear information about culinary tourism destinations in Yogyakarta. Culinary tourism can increase the attractiveness of Yogyakarta and attract more foreign tourists, particularly Mandarin-speaking tourists.
5186254736A1D022146Distribusi Unsur Hara Fosfor dan Serapannya pada Tanaman Padi Sawah di Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara (Wilayah DAS Serayu Tengah)Tanaman padi (Oryza sativa L.) di Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, merupakan komoditas utama yang sangat bergantung pada sistem irigasi DAS Serayu Tengah, namun informasi mengenai distribusi unsur hara fosfor (P) yang spesifik lokasi di wilayah ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi hara fosfor, sifat kimia tanah beserta korelasi antarvariabel pengamatan, serta menyusun rekomendasi dosis pemupukan fosfor spesifik lokasi. Metode survei deskriptif semi-detail (skala 1:50.000) diterapkan pada lahan sawah irigasi varietas Inpari 32 menggunakan purposive random sampling berdasarkan Satuan Lahan Homogen (SLH) hasil overlay peta penggunaan lahan, jenis tanah, dan kelerengan, sehingga diperoleh 16 titik sampel pada 4 SLH. Parameter yang diamati meliputi sifat kimia tanah dan serapan P tanaman (metode destruksi basah), dengan hasil laboratorium menunjukkan P-tersedia tanah berstatus rendah hingga sedang (2–37 ppm P2O5, didominasi harkat rendah pada lapisan olah). Uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif sangat kuat antara pH H2O dan pH KCl (r = 0,963 pada kedalaman 0–25 cm; r = 0,931 pada 25–50 cm), serta korelasi negatif sangat kuat antara pH KCl dan potensial redoks pada kedalaman 25–50 cm (r = -0,889). P-tersedia tanah tidak berkorelasi signifikan terhadap serapan P daun maupun malai, sedangkan serapan P tanaman utuh berkorelasi positif sangat kuat dan signifikan terhadap hasil tanaman (r = 0,870; p < 0,01). Rekomendasi pemupukan fosfor spesifik lokasi rata-rata sebesar 25,66 kg P2O5 ha-1, setara dengan 71,28 kg SP-36 ha-1, 55,79 kg TSP ha-1, atau 171,08 kg Phonska ha-1.Rice (Oryza sativa L.) in Rakit Subdistrict, Banjarnegara Regency, is a major commodity highly dependent on the irrigation system of the Central Serayu River Basin, yet site-specific information on the distribution of phosphorus (P) nutrients in this region remains limited. This study aimed to determine the distribution of phosphorus, soil chemical properties and correlations among observed variables, and to formulate site-specific phosphorus fertilization recommendations. A semi-detailed descriptive survey method (1:50,000 scale) was applied to irrigated rice fields planted with the Inpari 32 variety using purposive random sampling based on Homogeneous Land Units (SLH) derived from an overlay of land-use, soil-type, and slope maps, yielding 16 sample points across 4 SLH. Observed parameters included soil chemical properties and plant P uptake (wet-destruction method), with laboratory results showing that available soil P ranged from low to moderate (2–37 ppm P2O5, dominated by the low class in the topsoil). Pearson correlation analysis revealed a very strong positive relationship between H2O pH and KCl pH (r = 0.963 at 0–25 cm; r = 0.931 at 25–50 cm) and a very strong negative correlation between KCl pH and redox potential at 25–50 cm (r = -0.889). Available soil P was not significantly correlated with leaf or grain P uptake, whereas whole-plant P uptake showed a very strong and significant positive correlation with crop yield (r = 0.870; p < 0.01). The average site-specific phosphorus fertilization recommendation was 25.66 kg P2O5 ha-1, equivalent to 71.28 kg SP-36 ha-1, 55.79 kg TSP ha-1, or 171.08 kg Phonska ha-1.
5186355285A1G022019Kelayakan Finansial UMKM Keripik Tempe Bu Damilah di Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten BanyumasKeripik tempe merupakan produk olahan berbahan baku tempe mendoan yang diproses melalui penambahan bumbu, dan penggorengan sebanyak 2 kali sehingga memiliki karakteristik renyah dan gurih. Pengembangan keripik tempe merupakan upaya diversifikasi untuk memberikan nilai tambah komoditas kedelai serta memperpanjang daya simpan produk. Salah satu usaha skala mikro yang memproduksi keripik tempe adalah UMKM Keripik Tempe Bu Damilah di Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, namun keberlangsungan usaha yang telah berdiri sejak 1968 ini belum sepenuhnya didukung oleh manajemen keuangan yang terstruktur. Pengeluaran rumah tangga yang masih bercampur dengan arus kas operasional usaha serta ketiadaan pencatatan biaya dapat menyebabkan pelaku usaha kesulitan mengetahui margin keuntungan riil dan efisiensi produksi. Perhitungan kelayakan finansial secara rinci diharapkan membantu manajemen usaha dalam evaluasi kinerja dan perencanaan strategi bisnis yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besarnya biaya, penerimaan, dan keuntungan, serta menganalisis kelayakan finansial di UMKM Keripik Tempe Bu Damilah.
Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus dan menggunakan pendekatan kuantitatif dan deskriptif. Analisi Kelayakan Finansial dihhitung mengunakkan indikator: Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) serta Break Even Point (BEP) yang meliputi BEP Penerimaan, BEP Unit Produksi, dan BEP Harga. Metode ini dipilih karena dapat menjelaskan tingkat efisiensi penggunaan biaya operasional jangka pendek serta memetakan titik impas agar usaha terhindar dari kerugian. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan pengisian kuesioner kepada key person (informan) yakni seseorang yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah pemilik (Bapak Warsito) dari UMKM Keripik Tempe Bu Damilah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya operasional yang dikeluarkan perusahaan adalah sebesar Rp9.099.525 per bulan dengan total penerimaan mencapai Rp18.125.000 per bulan, sehingga menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp9.025.475. Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) yang dihasilkan adalah sebesar 1,992 yang mengindikasikan bahwa setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan memberikan penerimaan sebesar Rp0,992. Break Even Point (BEP) Penerimaan sebesar Rp3.253.913, sedangkan penerimaan yang didapatkan mencapai Rp 18.125.000. BEP Unit Produksi ditetapkan pada saat persediaan mencapai 130 kemasan, sedangkan realisasi usahanya mencapai 725 kemasan sehingga produksi jauh melampaui batas titik impas. BEP Harga berada pada angka Rp12.551 per kemasan, lebih rendah dibandingkan harga jual aktual yaitu Rp25.000 per kemasan. Keseluruhan hasil perhitungan dan angka tersebut menunjukkan bahwa UMKM Keripik Tempe Bu Damilah beroperasi jauh di atas ambang batas titik impas, sehingga dinyatakan efisien, menguntungkan, dan sangat layak secara finansial untuk dijalankan.
Tempeh chips are processed products made from mendoan tempeh, prepared by adding seasonings and deep-frying twice to achieve a crispy and savory characteristic. The development of tempeh chips is a diversification effort to provide added value to the soybean commodity and extend the product's shelf life. One of the micro-scale enterprises producing tempeh chips is the Bu Damilah Tempeh Chips MSME (Micro, Small, and Medium Enterprise) in South Purwokerto District, Banyumas Regency. However, the sustainability of this business, which was established in 1968, is not yet fully supported by structured financial management. Household expenses that are still mixed with the business's operational cash flow, as well as the absence of cost recording, can cause business owners to have difficulty determining real profit margins and production efficiency. A detailed financial feasibility calculation is expected to assist the business management in evaluating performance and planning better business strategies. This research aims to calculate the total costs, revenue, and profit, as well as to analyze the financial feasibility of the Bu Damilah Tempeh Chips MSME.
The research was conducted using a case study method with a quantitative and descriptive approach. Financial Feasibility Analysis was calculated using indicators: Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) and Break Even Point (BEP), which includes Revenue BEP, Production Unit BEP, and Price BEP. This method was selected because it can explain the efficiency level of short-term operational cost utilization and map out the break-even point to prevent the business from suffering losses. Data collection was carried out through interviews, observation, and questionnaires distributed to a key person (informant); the respondent in this research is the owner (Mr. Warsito) of the Bu Damilah Tempeh Chips MSME.
The research results indicate that the total operational cost incurred by the enterprise is Rp9,099,525 per month, with total revenue reaching Rp18,125,000 per month, thereby generating a net profit of Rp9,025,475. The resulting Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) is 1.992, which indicates that every Rp1.00 of cost incurred yields a return of Rp0.992. The Revenue Break Even Point (BEP) is Rp3,253,913, while the actual revenue obtained reached Rp18,125,000. The Production Unit BEP is met at 130 packages, whereas the actual business realization achieved 725 packages, meaning the production far exceeds the break-even threshold. The Price BEP is at Rp12,551 per package, which is lower than the actual selling price of Rp25,000 per package. The overall calculation results and figures demonstrate that the Bu Damilah Tempeh Chips MSME operates well above the break-even threshold, and is therefore declared efficient, profitable, and highly financially feasible to run.
5186455281K1A022029Potensi Antibakteri Peptida Bioaktif dari Kacang Tunggak (Vigna unguiculata L. Walp) Hasil Hidrolisis Enzimatis dengan Tripsin Penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian, sedangkan penggunaan antibiotik sebagai obat dapat berisiko memicu resistensi bakteri. Peptida antibakteri (AMPs) merupakan alternatif antibiotik alami yang lebih aman dan memiliki mekanisme kerja berbeda. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri peptida hasil hidrolisis enzimatis kacang tunggak (Vigna unguiculata L. Walp.) menggunakan enzim tripsin serta mengidentifikasi urutan asam amino pada fraksi paling aktif. Peptida dipisahkan dengan kolom SPE-PEP, diuji aktivitas antibakterinya, kemudian fraksi terbaik dianalisis menggunakan LC-HRMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat hidrolisis menggunakan tripsin sebesar 86%. Uji antibakteri menunjukkan bahwa fraksi 75
memiliki aktivitas tertinggi terhadap S. aureus sebesar 2,10 mm dan fraksi 100 terhadap E. coli sebesar 1,79. Fraksi dengan aktivitas tertinggi mengandung 21 sekuens, diantaranya yaitu QQDEESQQEGVIVQLKR, NILEASFGSDYKEINR, MSSYIDSAFR, GQSNPFYFNSDR, EINRVLFGEGQQQQGEESQEEGVIVELKR, EGALLLPHYNSEAMVMLVVNEGEANAELVGVR, GVPYWIFNTGDEALATVTLLDTSSEDNQLDQSPR, ELNIFLDYVDINKGGLLLPHYNSK, NISEYPSVELVMEKPNGPVWR, NGLQMPSYSPYSQMIIAIQGK, KALSSSQNEPLNLR, KQTESYFVNAQPQQK, DASTGLHWTNLLKR, SGSPIYSNTLGR, AMVMLVMNR, QFSQGHVLLIPR, LAIPVNNPHK, NLNSQSFPALK, SSTQLQNLR, TKQIQNLENYRVVEFK, dan NPFYFSSNR.
Infectious diseases remain one of the leading causes of high mortality, while the use of antibiotics as treatment carries the risk of promoting bacterial resistance.
Antimicrobial peptides (AMPs) are a promising natural alternative to conventional antibiotics because they are considered safer and possess a different mechanism of action. This study aimed to evaluate the antibacterial
activity of peptides produced through the enzymatic hydrolysis of cowpea (Vigna unguiculata L. Walp.) using trypsin and to identify the amino acid sequences present in the most active peptide fraction. The peptides were separated using an SPE-PEP column, their antibacterial activity was evaluated, and the most active fraction was subsequently analyzed by LC-HRMS. The results showed that the degree of hydrolysis achieved using trypsin was 86%. Antibacterial assays demonstrated that fraction 75 exhibited the highest activity against S. aureus, with an inhibition zone of 2.10 mm, whereas fraction 100showed the highest activity against E. coli, with an inhibition zone of 1.79 mm. The fraction with the highest antibacterial activity contained 21 peptide sequences, were identified as: QQDEESQQEGVIVQLKR, NILEASFGSDYKEINR, MSSYIDSAFR, GQSNPFYFNSDR, EINRVLFGEGQQQQGEESQEEGVIVELKR, EGALLLPHYNSEAMVMLVVNEGEANAELVGVR, GVPYWIFNTGDEALATVTLLDTSSEDNQLDQSPR, ELNIFLDYVDINKGGLLLPHYNSK, NISEYPSVELVMEKPNGPVWR, NGLQMPSYSPYSQMIIAIQGK, KALSSSQNEPLNLR, KQTESYFVNAQPQQK, DASTGLHWTNLLKR, SGSPIYSNTLGR, AMVMLVMNR, QFSQGHVLLIPR, LAIPVNNPHK, NLNSQSFPALK, SSTQLQNLR, TKQIQNLENYRVVEFK, and NPFYFSSNR.
5186555282C0D023021IMPLEMENTING MARKETING COMMUNICATION STRATEGIES FOR INDONESIA’S ECONOMIC DIPLOMACY IN SUB-SAHARAN AFRICA
Artikel ini mengeksplorasi implementasi strategi komunikasi pemasaran dalam memperkuat upaya diplomasi ekonomi Indonesia di Sub-Sahara Afrika, berdasarkan magang selama tiga bulan di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), khususnya di Direktorat Afrika. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi pengelolaan informasi yang tidak efisien, data perdagangan bilateral yang ketinggalan zaman, dan koordinasi stakeholder yang terbatas dalam konteks globalisasi di mana Sub-Sahara Afrika menawarkan potensi ekonomi signifikan seperti pertumbuhan populasi yang cepat, sumber daya alam yang melimpah, dan tren ekonomi positif. Metode magang melibatkan pemantauan media harian menggunakan berbagai sumber online, pembaruan data perdagangan analitis dengan alat spreadsheet dan basis data, penyusunan naskah akademik komprehensif yang membenarkan misi diplomatik baru, serta partisipasi aktif dalam pertemuan koordinasi tingkat tinggi seperti diskusi BRICS dan persiapan kunjungan negara. Hasil utama mencakup peningkatan kesadaran situasional melalui ringkasan media yang dikurasi dan disebarkan secara internal, peningkatan akurasi data perdagangan untuk komoditas seperti minyak sawit yang mengungkap tren peningkatan dalam pertukaran bilateral, serta mobilisasi sukses stakeholder pemerintah dan swasta untuk acara bisnis, yang pada akhirnya memperkuat hubungan diplomatik. Pengalaman praktis ini secara efektif menjembatani konsep teori dari mata kuliah bisnis internasional—seperti komunikasi bisnis, perilaku konsumen, dan akuntansi keuangan—dengan aplikasi dunia nyata dalam diplomasi ekonomi, menekankan peran penting komunikasi pemasaran terintegrasi dalam nation branding, promosi perdagangan, dan fasilitas investasi. Temuan ini menyoroti peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar non-tradisionalnya di Afrika sambil mengatasi celah seperti platform digital yang kurang dimanfaatkan dan kebutuhan kerangka evaluasi yang kuat.This article explores the implementation of marketing communication strategies in bolstering Indonesia's economic diplomacy efforts in Sub-Saharan Africa, drawing from a three-month internship at the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia (Kemlu RI), specifically within the Directorate of Africa. The primary challenges identified include inefficient information management, outdated bilateral trade data, and limited stakeholder coordination in a globalized context where Sub-Saharan Africa presents significant economic potentials such as rapid population growth, abundant natural resources, and positive economic trends. The internship methods involved daily media monitoring using diverse online sources, analytical trade data updates with spreadsheet tools and databases, preparation of comprehensive academic papers justifying new diplomatic missions, and active participation in high-level coordination meetings like BRICS discussions and state visit preparations. Key results encompassed enhanced situational awareness through curated media summaries disseminated internally, improved accuracy in trade data for commodities like palm oil which revealed upward trends in bilateral exchanges, and successful mobilization of government and private sector stakeholders for business events, ultimately strengthening diplomatic ties. This practical experience effectively bridges theoretical concepts from international business coursework—such as business communication, consumer behavior, and financial accounting—with real-world applications in economic diplomacy, underscoring the pivotal role of integrated marketing communication in nation branding, trade promotion, and investment facilitation. The findings highlight opportunities for Indonesia to expand its non-traditional markets in Africa while addressing gaps like underutilized digital platforms and the need for robust evaluation frameworks.
5186655284D3A022009Beetroot as a Source of Antioxidants and Natural Colouring in Fresh Cheese Making from Cow’s MilkBit memiliki potensi sebagai bahan tambahan dalam pembuatan keju. Bit mengandung betalain yang dapat digunakan sebagai pewarna alami dan memiliki sifat antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik keju segar dengan penambahan ekstrak bit. Perlakuan dalam penelitian ini adalah pembuatan keju dengan penambahan ekstrak bit (1%, 2%, 3%, dan 4%). Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan pada rendemen, pH, kadar air, total padatan, serta sifat *gumminess* (kekenyalan) dan *chewiness* (daya kunyah) keju. Ekstrak bit dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan mengubah warna keju. Nilai L, b*, *chroma*, dan indeks keputihan (*whiteness index*) mengalami penurunan, sedangkan nilai a* dan *hue* meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak bit yang ditambahkan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak bit yang ditambahkan, semakin intens warna keju yang dihasilkan. Dapat disimpulkan bahwa penambahan ekstrak bit dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan mengubah warna keju, dimulai dari konsentrasi 1%.Beetroot has potential as an additional ingredient in cheese making. Beetroot contains betalain which can be used as a natural colourant and has antioxidant properties. The objective of this research was to investigate the characteristics of fresh cheese with the addition of beetroot extract. The treatment in this study was cheese making with the addition of beetroot extract (1%, 2%, 3%, and 4%). The results showed no difference in yield, pH, moisture content, total solids, gumminess and chewiness of cheese. Beetroot extract can increase antioxidant activity, and can change the colour of cheese. L, b*, chroma, and whiteness index values decreased, while a* and hue values increased as the level of beetroot extract added increased. This indicates that the higher the level of beetroot extract added, the more intense the cheese colour will be. It can be concluded that the addition of beetroot extract can increase the antioxidant activity and change the colour of cheese starting from 1% level.