Artikelilmiahs
Menampilkan 51.941-51.960 dari 52.028 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51941 | 46330 | A1C020031 | ANALISIS REGRESI EVAPOTRANSPIRASI DAN PEMBUKAAN STOMATA PADA TANAMAN BAYAM MERAH DENGAN SISTEM PENANAMAN FONi (Fertigasi Otomatis Nirdaya) | Sumber daya air dan lahan pertanian adalah dua hal yang sangat penting dalam sektor pertanian. Salah satu sistem fertigasi yang dapat diterapkan yaitu sistem FONi (Fertigasi Otomatis Nirdaya) yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air. Hal tersebut penting untuk diperhatikan karena air berperan penting dalam fotosintesis pada tambuhan. Air yang digunakan dalam fotosintesis akan mengatur pembukaan dan penutupan stomata. Pembukaan stomata merupakan pori kecil di permukaan daun berperan penting dalam fotosintesis dan transpirasi. Pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara pembukaan stomata dan evapotranspirasi dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan air dalam pertanian. Oleh sebab itu, perlu dilakukannya analisis regresi untuk mengatahui hubungan anatara evapotranspirasi dan pembukaan stomatanya. Pada penelitian ini dilakukan 3 kali pengambilan sampel pembukaan stomata dan pengukuran evapotranspirasi di setiap jamnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Menghitung nilai evapotranspirasi dengan memanfaatkan persamaan Penman-Monteith, 2) Menganalisis hubungan antara evapotranspirasi berdasarkan persamaan Penman-Monteith dan pembukaan stomata pada tanaman yang dibudidayakan dengan metode FONi (fertigasi otomatis nirdaya). Prosedur penelitian yang dilakukan yaitu melakukan perencanaan dan persiapan, pengambilan data, dan pengolahan data. Variabel yang digunakan untuk menghitung evapotranspirasi (ET) meliputi radiasi matahari (Rs), suhu udara (T), kelembapan udara (RH), kecepatan angin (U), tekanan uap jenuh (es), dan tekanan uap aktual (ea). Sedangkan variabel untuk analisis regresi terdiri atas pembukaan stomata (Gs) dan evapotranspirasi (ET). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis regresi yang dilakukan tidak selalu berkorelasi positif, hal tersebut terjadi karena pembukaan stomata pada tanaman perlu penyesuaian dengan kebutuhan tanaman saat fotosintesis bukan hanya kondisi cuacanya saja. Sedangkan evapotranspirasi yang dihitung hanya bergantung pada kondisi cuaca saja. | Water resources and agricultural land are two very important things in the agricultural sector. One of the fertigation systems that can be applied is the FONi (Automatic Fertigation Without Power) system which can increase the efficiency of water use. This is important to note because water plays an important role in photosynthesis in plants. The water used in photosynthesis will regulate the opening and closing of stomata. Stomata opening is a small pore on the surface of the leaf that plays an important role in photosynthesis and transpiration. A better understanding of the relationship between stomata opening and evapotranspiration can help improve the efficiency of water use in agriculture. Therefore, it is necessary to conduct a regression analysis to determine the relationship between evapotranspiration and stomata opening. In this study, 3 times of stomata opening sampling and evapotranspiration measurements were carried out every hour. The objectives of this study were 1) To calculate the evapotranspiration value by utilizing the Penman-Monteith equation, 2) To analyze the relationship between evapotranspiration based on the Penman-Monteith equation and stomatal opening in plants cultivated using the FONi method (powerless automatic fertigation). The research procedures carried out were planning and preparation, data collection, and data processing. The variables used to calculate evapotranspiration (ET) include solar radiation (Rs), air temperature (T), air humidity (RH), wind speed (U), saturated vapor pressure (es), and actual vapor pressure (ea). While the variables for the regression analysis consisted of stomatal opening (Gs) and evapotranspiration (ET). The results of the study showed that the regression analysis carried out was not always positively correlated, this happened because the opening of stomata in plants needed to be adjusted to the needs of the plants during photosynthesis, not just the weather conditions. While the calculated evapotranspiration only depends on weather conditions. | |
| 51942 | 11008 | C1A009052 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PENGRAJIN ATBM DI DESA PAKUMBULAN KECAMATAN BUARAN KABUPATEN PEKALONGAN | Penelitian ini merupakan penelitian survey pada pengrajin ATBM di Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pendapatan pengrajin, untuk mengetahui faktor manakah yang paling berpengaruh terhadap pendapatan pengrajin, dan untuk mengetahui KHL pengrajin.Penelitian survey ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Sampel penelitian ini adalah pengrajin ATBM di Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan yang diambil sebagai responden penelitian dengan jumlah responden sebanyak 70 orang. Dalam penelitian ini, data dianalisis dengan menggunakan tabulasi dan KHL yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Pekalongan pada bulan Juni 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) semakin tinggi tingkat pendidikan maka produk yang dihasilkan semakin banyak (2) semakin lama jam kerja yang digunakan pengrajin untuk bekerja maka produk yang dihasilkan akan semakin banyak (3) semakin tua umur pengrajin maka produk yang dihasilkan akan semakin banyak (4) pendapatan yang diterima pengrajin perempuan lebih banyak daripada pengrajin laki-laki (5) semakin banyak jumlah produksi, maka pendapatan pengrajin juga semakin besar (6) meskipun jumlah tanggungan keluarga banyak namun tidak dapat menambah jam kerja (7) meskipun jumlah tanggungan keluarga banyak namun tidak dapat menambah jumlah produksi (8) dilihat dari segi pendapatan yang diterima pengrajin, pendapatan yang diterima pengrajin perempuan sudah dapat memenuhi standar KHL (9) pendapatan pengrajin laki-laki belum memenuhi standar KHL (10) secara keseluruhan pendapatan pengrajin sudah memenuhi KHL. | This research is motivated by the production and sale of handloom craft used to meet the daily needs by the craftsmen. Purpose of this study was to determine which factors most influence the craftsmen, the most influential factor for craftsmen, and artisans welfare level. The method used in this research is descriptive questionnaire as a data collection tool, while the analysis tool used is the average tabulation. This research is simple purposive sampling with a sample size of 70 people in the village craftsmen Pakumbulan Buaran District of Pekalongan. The results showed that education, age, hours worked, number of production affects income artisans, whereas gender, family responsibility does not affect income artisans and craftsmen already prosperous income. | |
| 51943 | 55471 | D1A022028 | PENGARUH TINGKAT KEPADATAN KANDANG TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN SAPI BRAHMAN CROSS BULL DI PT BAQARA MUDA PERKASA | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kepadatan kandang terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi Brahman Cross tipe bull pada sistem feedlot di PT Baqara Muda Perkasa. Penelitian menggunakan tiga tingkat kepadatan kandang, yaitu P1 sebesar 1,92 m²/ekor, P2 sebesar 2,18 m²/ekor, dan P3 sebesar 2,33 m²/ekor. Setiap perlakuan terdiri atas enam pen sebagai ulangan, dengan total 990 ekor sapi. P1 terdiri atas 300 ekor, P2 330 ekor, dan P3 360 ekor. Pengamatan dilakukan selama 90 hari. Parameter yang dianalisis meliputi bobot badan awal, bobot badan akhir, pertambahan bobot badan selama 90 hari, dan PBBH. Data PBBH pada tingkat pen dianalisis menggunakan analisis variansi berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL), kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil menunjukkan bahwa tingkat kepadatan kandang berpengaruh sangat nyata terhadap PBBH (P<0,01). Rataan PBBH P1, P2, dan P3 berturut turut sebesar 1,52±, 1,64±, dan 1,76± kg/ekor/hari. Uji BNT 1% menunjukkan bahwa ketiga perlakuan berbeda sangat nyata satu sama lain. PBBH tertinggi diperoleh pada P3 sebesar 1,76± kg/ekor/hari dan terendah pada P1 sebesar 1,52± kg/ekor/hari. | This study aimed to determine the effect of stocking density on the daily weight gain (DWG) of Brahman Cross bull cattle in a feedlot system at PT Baqara Muda Perkasa. Three stocking densities were evaluated: P1 at 1.92 m²/head, P2 at 2.18 m²/head, and P3 at 2.33 m²/head. Each treatment consisted of six pens as replications, with a total of 990 cattle: 300 in P1, 330 in P2, and 360 in P3. The observation period was 90 days. The analyzed parameters included initial body weight, final body weight, body weight gain over 90 days, and DWG. Pen-level DWG data were analyzed using analysis of variance based on a Completely Randomized Design, followed by the Least Significant Difference test. The results showed that stocking density had a highly significant effect on DWG (P<0.01). Mean DWG for P1, P2, and P3 was 1.52±, 1.64±, and 1.76± kg/head/day, respectively. The 1% LSD test showed that all treatments differed highly significantly. The highest DWG was obtained in P3 (1.76± kg/head/day), while the lowest was obtained in P1 (1.52± kg/head/day). | |
| 51944 | 29772 | C1L016007 | PENGARUH KECERDASAN INTELEKTUAL (IQ) KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DAN LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA N 3 PURWOKERTO | Indikator keberhasilan suatu proses pendidikan salah satunya prestasi belajar peserta didik. Prestasi belajar dipengaruhi beberapa faktor baik faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar adalah kecerdasan intelektual (IQ), sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar adalah kompetensi profesional guru dan lingkungan keluarga. Penelitian ini membahas tentang pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) kompetensi profesional guru dan lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) terhadap perstasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto; 2) Menganalisis pengaruh kompetensi profesional guru terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto; 3) Menganalisis pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian survei eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas X yang mengambil mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto yang berjumlah 240 siswa dengan sampel 150 siswa yang dihitung menggunakan teknik simple random sampling. Intrumen penelitian ini berupa kuesioner dan hasil tes IQ, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah uji t, uji F, uji koefisien determinasi, uji regresi linear berganda dan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, kecerdasan intelektual (IQ), kompetensi profesional guru, dan lingkungan keluarga berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto. Hal ini dibuktikan dengan F hitung > F tabel atau 12.262>2.67 dan nilai signifikansi < ɑ atau 0.000 < 0.05. Koefisien determinasi (R^2) sebesar 0.201 yang artinya 20,1% prestasi belajar dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual (IQ), kompetensi profesional guru, dan lingkungan keluarga. Sisanya 79,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. | Indicator indicators of an educational process, one of which is the learning achievement of students. Learning achievement as well as several factors both internal and external factors. One of the internal factors that affect learning achievement is intellectual intelligence (IQ), while external factors that affect learning achievement are the professional competence of teachers and the family environment. This study discusses intellectual intelligence (IQ), professional competence of teachers and the family environment on student achievement in class X economic subjects at SMA N 3 Purwokerto. This study aims to 1) analyze intellectual intelligence (IQ) on the learning perspective of class X students in economics at SMA N 3 Purwokerto; 2) Analyzing the effect of teacher competence on student achievement in class X economic subjects at SMA N 3 Purwokerto; 3) Analyzing the influence of the family environment on the learning achievement of class X students in economics at SMA N 3 Purwokerto. This research is an explanatory survey research with a quantitative approach. The study population was all students of class X who took economic subjects at SMA N 3 Purwokerto which could accommodate 240 students with a sample of 150 students who were calculated using simple random sampling technique. The research instruments were questionnaires and IQ test results, while the data analysis techniques used were t test, F test, determination coefficient test, multiple linear regression test and classical assumption test. The results of this study indicate that intellectual intelligence (IQ), teacher professional competence, and the family environment have a positive effect on student achievement in class X economic subjects at SMA N 3 Purwokerto. This is evidenced by F count> F table or 12,262> 2.67 and a significance value <ɑ or 0.000 <0.05. The coefficient of determination (R ^ 2) is 0.201, which means 20.1% of the learning achievement of intellectual intelligence (IQ), the professional competence of teachers, and the family environment. The remaining 79.9% are innovated by other factors which are not true in this study. | |
| 51945 | 41464 | B1A019021 | Variasi Morfologi Pepaya (Carica papaya L.) yang Tumbuh di Purbalingga | Pepaya merupakan salah satu jenis tanaman buah yang daerah persebarannya berada di daerah tropis. Pepaya memiliki daun dengan susunan tulang daun menjari dan memiliki tangkai panjang yang berongga di bagian tengah. Setiap kultivar pepaya memperlihatkan variasi karakter morfologi. Pepaya banyak ditemukan tumbuh di wilayah Purbalingga, tetapi untuk jenis kultivarnya belum ada yang meneliti, oleh sebab itu perlu diteliti untuk menambah informasi ilmiah tentang pepaya yang tumbuh di Purbalingga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kultivar pepaya dan variasi karakter morfologi kultivar pepaya yang tumbuh di Purbalingga. Penelitian dilakukan selama dua bulan dari bulan Januari-Februari 2023 dengan menggunakan metode survei, serta pengambilan sampel secara purposive sampling di Kabupaten Purbalingga. Variabel bebas berupa kultivar tanaman pepaya. Variabel terikat berupa karakteristik variasi morfologi tanaman pepaya. Parameter yang diamati adalah karakter morfologi tanaman (batang, daun, bunga, buah, dan biji) kemudian, data pengamatan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 kultivar pepaya yang ditemukan tumbuh di Purbalingga meliputi C. papaya ‘California’, C. papaya ‘Sayur’, C. papaya ‘Hawai’, C. papaya ‘Tanpa biji’, C. papaya ‘Bangkok’, C. papaya ‘Wulung’, C. papaya ‘Jingga’, C. papaya ‘Gading’, C. papaya ‘Geyang’ dan C. papaya ‘Kuning’. Kultivar pepaya yang ditemukan di Purbalingga memiliki variasi pada, tinggi tanaman, diameter batang, permukaan batang, warna batang, panjang dan lebar daun, panjang tangkai daun, warna tangkai daun, jumlah tulang daun, warna kulit buah, tipe hermaprodit, bentuk buah, bentuk pangkal buah, bentuk rongga buah, panjang buah, diameter buah, ketebalan daging buah, warna biji, dan jumlah biji dalam satu buah. | Papaya is a type of fruit plant whose distribution area is in the tropics. Papaya has leaves with an arrangement of fingered leaf bones and has a long stalk that is hollow in the middle. Each papaya cultivar shows variations in morphological characteristics. Many papayas are found growing in the Purbalingga region, but for the type of cultivar no one has examined, therefore it needs to be studied to add scientific information about papaya growing in Purbalingga. This study aims to determine papaya cultivars and variations in morphological characteristics of papaya cultivars growing in Purbalingga. The research was conducted for two months from January-February 2023 using the survey method, and purposive sampling in Purbalingga Regency. The independent variable was papaya cultivar. The dependent variable is the morphological variation characteristics of papaya plants. The parameters observed were plant morphological characters (stems, leaves, flowers, fruits, and seeds) then, the observation data were analyzed descriptively. The results showed there were 10 papaya cultivars found growing in Purbalingga including C. papaya 'California', C. papaya 'Sayur', C. papaya 'Hawai', C. papaya 'Tanpa Biji', C. papaya 'Bangkok', C. papaya 'Wulung', C. papaya 'Jingga', C. papaya 'Gading', C. papaya 'Geyang' and C. papaya 'Kuning'. Papaya cultivars found in Purbalingga have variations in plant height, stem diameter, stem surface, stem color, leaf length and width, petiole length, petiole color, number of leaf bones, fruit skin color, hermaphrodite type, fruit shape, fruit base shape, fruit cavity shape, fruit length, fruit diameter, fruit flesh thickness, seed color, and number of seeds in one fruit. | |
| 51946 | 55472 | L1C022040 | Keterkaitan Variabilitas Suhu Permukaan Laut, Angin, dan Kelembapan dengan Curah Hujan Kemarau Basah di Perairan Barat Sumatra | Fenomena kemarau basah merupakan kondisi ketika curah hujan berada di atas normal klimatologis pada periode yang seharusnya musim kemarau. Perairan barat Sumatra dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi laut dan dinamika atmosfer. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola variabilitas spasio-temporal curah hujan, suhu permukaan laut (SPL), angin, dan kelembapan serta keterkaitannya dengan curah hujan pada periode kemarau basah di perairan barat Sumatra tahun 1996–2025. Penelitian menggunakan data bulanan ERA5 Reanalysis v5 dengan resolusi spasial 0,25° × 0,25°, meliputi curah hujan, SPL, angin pada level 850 hPa, dan kelembapan relatif pada level 850 hPa. Identifikasi kemarau basah dilakukan berdasarkan kriteria sifat hujan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, yaitu curah hujan kategori atas normal (>115% klimatologi) pada Juni–Juli–Agustus (JJA). Analisis variabilitas dilakukan menggunakan anomali dan Empirical Orthogonal Function (EOF), sedangkan keterkaitan antarvariabel dianalisis menggunakan korelasi spasial Spearman pada setiap grid berdasarkan nilai anomali masing-masing variabel pada tahun-tahun yang mengalami kemarau basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemarau basah terjadi pada tahun 1996, 1998, 2010, 2021, dan 2022. Variabilitas curah hujan, SPL, dan kelembapan lebih kuat di bagian selatan, sedangkan angin menunjukkan pola dipol antara wilayah utara dan selatan. Pada tahun kemarau basah, kelembapan menunjukkan korelasi positif paling kuat dengan curah hujan (0,51–0,89). SPL berkorelasi negatif sedang di perairan barat Sumatra (−0,52–−0,59), sedangkan hubungan angin dengan curah hujan di wilayah perairan umumnya lemah atau tidak signifikan. Hasil menunjukkan bahwa kondisi atmosfer lembap merupakan variabel yang menunjukkan keterkaitan paling konsisten. | Wet dry season refers to a condition in which rainfall exceeds its climatological normal during what is typically the dry season. The waters west of Sumatra are shaped by interactions between oceanic conditions and atmospheric dynamics. This study analyzes the spatio-temporal variability of rainfall, sea surface temperature (SST), wind, and humidity, and their relationships with rainfall during wet dry seasons in the waters west of Sumatra from 1996 to 2025. Monthly ERA5 reanalysis v5 data at 0.25° × 0.25° resolution were used, covering rainfall, SST, 850 hPa wind, and 850 hPa relative humidity. Wet dry seasons were identified using the rainfall classification of the Indonesian Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics, defined as above-normal rainfall (>115% of climatology) in June–July–August (JJA). Variability was examined through anomalies and Empirical Orthogonal Function analysis, while relationships among variables were assessed using grid-based Spearman spatial correlation applied to the anomaly values of each variable during wet dry years. Wet dry seasons were found in 1996, 1998, 2010, 2021, and 2022. Rainfall, SST, and humidity varied more strongly in the southern area, whereas wind exhibited a dipole pattern between the northern and southern regions. During wet dry years, humidity showed the strongest positive correlation with rainfall (0,51–0,89). SST displayed a moderate negative correlation with rainfall in the waters west of Sumatra (−0,59 to −0,52), while the relationship between wind and rainfall was generally weak or not significant. Overall, humid atmospheric conditions emerged as the variable with the most consistent relationship with rainfall. | |
| 51947 | 55475 | E1A022229 | PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK MEREK TERKENAL “HANKE” BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS (Studi Putusan Nomor 2/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst ) | Penelitian dilatarbelakangi sengketa pendaftaran merek terkenal "HANKE" antara Junxiong Deng sebagai Penggugat melawan PT HANKE Trading Indonesia selaku Tergugat. Penggugat mengajukan gugatan pembatalan merek Tergugat pada kelas 18 karena dinilai memiliki persamaan pada pokoknya dan diajukan dengan iktikad tidak baik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perlindungan hukum bagi pemegang hak merek terkenal serta menganalisis akibat hukum pembatalan merek berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis dalam Putusan Nomor 2/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Data bersumber dari studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif untuk disajikan secara deskriptif analitis. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa perlindungan preventif pendaftaran merek belum optimal sehingga Penggugat menempuh upaya perlindungan represif. Majelis Hakim menyatakan bahwa merek Tergugat terbukti memiliki persamaan pada pokoknya secara visual, fonetik, dan konseptual dengan merek terkenal "HANKE" milik Penggugat serta didaftarkan dengan iktikad tidak baik guna membonceng reputasi. Penggugat diakui secara yudisial sebagai pemegang merek terkenal. Merek milik Tergugat dibatalkan sehingga hak eksklusifnya hilang dan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual diperintahkan mencoret merek tersebut dari Daftar Umum Merek. | This study was prompted by a dispute over the registration of the well-known trademark “HANKE” between Junxiong Deng, as the Plaintiff, and PT HANKE Trading Indonesia, as the Defendant. The Plaintiff filed a petition to cancel the Defendant’s trademark in Class 18 on the grounds that it was substantially similar and had been filed in bad faith. The objective of this study is to examine the legal protection afforded to holders of well-known trademarks and to analyze the legal consequences of trademark cancellation under Law No. 20 of 2016 on Trademarks and Geographical Indications, as reflected in Judgment No. 2/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst. This study employs a normative legal method through legislative, conceptual, and case-based approaches. Data were sourced from a literature review and analyzed qualitatively to be presented in a descriptive-analytical manner. Based on the findings of the investigation and deliberations, it was concluded that preventive protection through trademark registration had not been optimal, leading the Plaintiff to pursue repressive protection measures. The Panel of Judges ruled that the Defendant’s trademark was proven to be substantially similar visually, phonetically, and conceptually to the Plaintiff’s well-known “HANKE” trademark and had been registered in bad faith to free-ride on its reputation. The Plaintiff was judicially recognized as the owner of the well-known trademark. The Defendant’s trademark was invalidated, thereby forfeiting its exclusive rights, and the Indonesian Directorate General of Intellectual Property was ordered to remove the trademark from the General Trademark Register. | |
| 51948 | 46717 | I1D020068 | HUBUNGAN ANTARA ASUPAN PROTEIN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN MASSA OTOT MAHASISWA PENDIDIKAN JASMANI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani mempunyai potensi untuk menjadi seorang atlet pada cabang olahraga tertentu. Seorang atlet yang memiliki kebiasaan berolahraga akan mengalami peningkatan massa otot yang lebih besar. Asupan protein dan aktivitas fisik yang teratur menjadi dua faktor utama yang mempengaruhi pembentukan massa otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan protein dan aktivitas fisik dengan massa otot Mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilakukan secara cross sectional pada 49 responden. Sampel diambil secara total sampling. Pengambilan asupan protein dilakukan menggunakan wawancara food recall 2x24 jam, aktivitas fisik menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF) dan massa otot menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Analisis data dilakukan dengan uji statistik Likelihood Ratio. Sebagian besar asupan protein responden termasuk kurang sebesar 77,6%, aktivitas fisik responden termasuk kategori rendah sebesar 42,9% dan massa otot responden termasuk kategori tinggi sebesar 34,7%. Tidak terdapat hubungan antara asupan protein dengan massa otot (p=0,610). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan massa otot (p=0,317). Tidak terdapat hubungan antara asupan protein dan aktivitas fisik dengan massa otot (p>0,05). | Students majoring in Physical Education have the potential to become an athlete in certain sports. An athlete who has a habit of exercising will experience a greatar increase in muscle mass. Protein intake and regular physical activity are the two main factors that influence the formation of muscle mass. This study aims to determine the relationship between protein intake and physical activity with muscle mass of Physical Education Students of Jenderal Soedirman University. The study was conducted cross sectionally on 49 respondents The samples was taken by total sampling. Protein intake was taken using a 2x24 hour food recall interview, physical activity using the International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF) questionnaire and muscle mass using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Data analysis was analyzed using the Likelihood Ratio statistical test. Most of respondents protein intake was poor at 77,6%, physical activity was low at 42,9% and muscle mass was high at 34,7%. There is no correlation between protein intake and muscle mass (p=0,610). There is no correlation between physical activity and muscle mass (p=0,317). There was no correlation between protein intake and physical activity with muscle mass (p>0,05). | |
| 51949 | 6600 | F1F007041 | LINGUISTIC CONVERGENCE AND DIVERGENCE DEPICTED IN CONVERSATIONS OF MATT BUCKNER AND GREEN STREET ELITE’S MEMBERS IN LEXI ALEXANDER’S GREEN STREET HOOLIGANS MOVIE | Penelitian ini bertujuan untuk meneliti konvergensi dan divergensi bahasa yang dimunculkan oleh karakter utama dalam film Green Street Hooligans karya Lexi Alexander. Penelitian ini juga memaparkan situasi yang menyebabkan konvergensi dan divergensi bahasa tersebut. Karakter utama yang diteliti dalam penelitian ini adalah Matt Buckner dan anggota dari Green Street Elite yang merupakan basis supporter bola fanatik tim West Ham United. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang berupa film karya Lexi Alexander berjudul Green Street Hooligans dan naskah film tersebut. Data utama dari penelitian ini kemudian dianalisis melalui teori Howard Giles tentang akomodasi bahasa. Peneliti pertama-tama menentukan objek yang akan dianalisis, kemudian mendapatkan data-data berupa ujaran dari karakter utama. Data-data inilah yang kemudian diklasifikasikan menjadi dua, konvergensi bahasa dan divergensi bahasa. Selanjutnya adalah menggambarkan konteks dimana dan kapan ujaran-ujaran tersebut muncul untuk menentukan situasi terjadinya konvergensi dan divergensi bahasa dalam film tersebut. Lalu menganalisis data-data tersebut. Dari hasil analisis, ada tiga situasi yang menyebabkan terjadinya konvergensi divergensi bahasa. Situasi-situasi tersebut adalah situasi yang tidak menimbulkan perubahan sosial bagi pembicara dan lawan bicaranya, kemudian situasi yang menimbulkan perubahan sosial yang lebih baik bagi kelompok dominan, dan situasi yang menimbulkan perubahan sosial yang lebih baik bagi kelompok bawahan. Maka, konvergensi dan divergensi bahasa dapat terjadi bergantung pada situasi dan kondisi si pembicara dan lawan bicaranya, serta tujuan mereka dalam melakukan konvergensi dan divergensi bahasa. | This research is aimed to analyze linguistic convergence and divergence that are emerged by the main characters of Lexi Alexander’s Green Street Hooligans movie. This research also explains the situation that causes both linguistic convergence and divergence. The main characters are Matt Buckner and the Green Street Elite’s members which is the fan base of West Ham United hooligans. Descriptive qualitative method is used to analyze the data which are the movie by Lexi Alexander entitled Green Street Hooligans and the script of the movie. The primary data of this research is analyzed through the accommodation theory by Howard Giles. The researcher first determines the object and then obtains the data which are the utterances of the main characters. Those data are classified into two, namely linguistic convergence and divergence. The researcher, next, draws the context when those utterances appear to determine the situation when linguistic convergence and divergence happen in the movie. Then, the researcher analyzes the data. From the analysis, there are three situations that cause linguistic convergence and divergence. Those situations are accommodative situations for no possibility of social change, accommodative situations for possibility of social change that is good for the dominant group, and accommodative situation for possibility of social change which is good for the subordinate group. Thus, linguistic convergence and linguistic divergence happen in certain condition and situation depend on the goal of doing linguistic convergence or divergence. | |
| 51950 | 38374 | C1A018094 | Determinan Perilaku Konsumtif Belanja Online pada Mahasiswa di Purwokerto (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman) | Dengan teknologi yang semakin maju menghadirkan online shopping yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti gaya hidup yang tinggi dan kontrol diri yang rendah membuat fenomena hidup konsumtif atau perilaku konsumtif di kalangan milenial seperti mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh literasi keuangan, uang saku, gaya hidup, kontrol diri dan jenis kelamin terhadap perilaku konsumtif belanja online pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan sampel yang berjumlah 100 orang mahasiswa yang diambil secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan kemudian disebarkan kepada responden. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Penelitian ini berlokasi di Universitas Jenderal Soedirman. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan peneliti memperoleh hasil literasi keuangan dan kontrol diri berpengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap perilaku konsumtif belanja online pada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Uang saku dan gaya hidup memberikan pengaruh signifikan dengan arah positif terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman dalam berbelanja online. Kemudian, perilaku konsumtif belanja online pada mahasiswa perempuan di Universitas Jenderal Soedirman lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pembaharuan yang dilakukan dari penelitian terdahulu pada penelitian ini yaitu menambahkan variabel jenis kelamin sebagai variabel independen dan melakukan penelitian yang berlokasi di Purwokerto yaitu di Universitas Jenderal Soedirman. Implikasi dari penelitian yang telah dilakukan adalah agar dapat mengendalikan perilaku konsumtif dalam berbelanja online sebaiknya mahasiswa dapat mengelola uangnya dengan baik, membuat catatan pengeluaran, membuat skala prioritas, mengontrol pengeluaran yang kurang dibutuhkan, tidak menggunakan seluruh uang yang dimiliki untuk konsumsi dan tidak memiliki gaya hidup yang berlebihan. | With increasingly advanced technology, presenting online shopping which is influenced by various factors such as high lifestyles and low self-control, it makes the phenomenon of consumptive life or consumptive behavior among millennials such as students. The purpose of this study was to find out how financial literacy, pocket money, lifestyle, self-control and gender influence the consumptive behavior of online shopping among college students. This study used a sample of 100 students who were taken by purposive sampling. Data was collected using a questionnaire and then distributed to respondents. The analysis technique used in this study is multiple regression analysis. This research is located at Jenderal Soedirman University. Based on the results of the analysis conducted by the researchers, the results of financial literacy and self-control have a significant negative effect on online shopping consumptive behavior among students at Jenderal Soedirman University. Pocket money and lifestyle have a significant influence in a positive direction on the consumptive behavior of Jenderal Soedirman University students in shopping online. Then, the consumptive behavior of online shopping among female students at Jenderal Soedirman University is higher than that of males. The update was carried out from previous research in this study, namely adding the gender variable as an independent variable and conducting research located in Purwokerto, namely at Jenderal Soedirman University. The implication of the research that has been done is that in order to be able to control consumptive behavior in online shopping, students should be able to manage their money well, make spending records, make priority scales, control expenses that are not needed, do not use all the money they have for consumption and do not have a sedentary lifestyle. excessive. | |
| 51951 | 48393 | C1L021021 | PENGARUH KEJENUHAN, PENGGUNAAN GADGET, DAN LINGKUNGAN SEKOLAH TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA KELAS XI EKONOMI SMA NEGERI 3 PURWOKERTO | Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri 3 Purwokerto dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh kejenuhan belajar, penggunaan gadget, dan lingkungan belajar di sekolah, terhadap konsentrasi belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI SMA Negeri 3 Purwokerto. Kejenuhan belajar, penggunaan gadget, dan lingkungan belajar yang kurang mendukung, dianggap sebagai faktor utama yang memengaruhi daya konsentrasi siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas.Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 3 Purwokerto tahun ajaran 2024/2025 yang mendapatkan mata pelajaran ekonomi dengan jumlah 252 siswa. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sejumlah 155 siswa dengan teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kejenuhan belajar memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap konsentrasi belajar siswa, (2) penggunaan gadget berpengaruh negatif dan signifikan terhadap konsentrasi belajar, dan (3) lingkungan belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsentrasi belajar. Temuan ini menunjukkan bahwa konsentrasi siswa dipengaruhi oleh adanya faktor internal maupun eksternal. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya pengelolaan kejenuhan, penggunaan gadget yang bijak, dan penciptaan lingkungan belajar yang kondusif untuk meningkatkan konsentrasi siswa. Siswa perlu mengatur waktu belajar, beristirahat saat lelah, dan memilih metode belajar yang sesuai. Guru diharapkan menghadirkan pembelajaran variatif dan interaktif, serta membimbing penggunaan gadget hanya untuk tujuan belajar. Sekolah perlu menyediakan fasilitas pendukung, mengatur regulasi gadget, dan menciptakan suasana belajar yang nyaman serta menyenangkan agar konsentrasi siswa tetap terjaga. | This study is a quantitative research conducted on 11th-grade students of SMA Negeri 3 Purwokerto, aiming to analyze the influence of learning boredom, gadget use, and the school learning environment on students' concentration in Economics subjects. Learning boredom, excessive gadget use, and an unsupportive learning environment are considered the main factors affecting students' ability to concentrate during classroom learning. The population in this study consisted of all 11th-grade students of SMA Negeri 3 Purwokerto in the 2024/2025 academic year who took Economics, totaling 252 students. The sample size was 155 students, selected using proportionate random sampling. The results showed that (1) learning boredom had a negative and significant effect on students’ learning concentration, (2) gadget use also had a negative and significant effect on concentration, and (3) the learning environment had a positive and significant effect on concentration. These findings indicate that students’ concentration is influenced by both internal and external factors. The implications of this research emphasize the importance of managing learning boredom, using gadgets wisely, and creating a conducive learning environment to improve students’ concentration. Students need to manage their study time properly, take breaks when feeling fatigued, and adopt learning methods that suit their styles. Teachers are expected to implement varied and interactive teaching methods and guide students to use gadgets only for educational purposes. Schools should provide adequate facilities, regulate gadget use, and foster a comfortable and engaging classroom environment to help maintain student concentration. | |
| 51952 | 17857 | I1F015066 | HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN STRES KERJA PADA PERAWAT TENAGA KONTRAK DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA | ABSTRAK Latar belakang: Stres kerja merupakan kondisi dimana individu berada dalam situasi penuh tekanan. Stres kerja yang dialami oleh perawat dipengaruhi oleh efikasi diri. Seseorang yang memiliki efikasi diri yang baik cenderung tidak mengalami stres kerja karena memiliki keyakinan diri akan berhasil mencapai tujuan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan stres kerja pada perawat tenaga kontrak di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Metode: Desain penelitian adalah kuantitatif korelatif dengan desain cross sectional. Penelitian menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden 69 orang. Pengumpulan data dengan kuisioner dan uji statistik menggunakan uji Spearman. Hasil Penelitian: Hasil uji Spearman di dapatkan hasil p=0,001 (p<0,05) artinya ada hubungan yang bermakna antara efikasi diri dengan stres kerja dengan nilai r = – 0,378. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara efikasi diri dengan stres kerja, hubungan bersifat negatif dengan kekuatan hubungan lemah. Semakin tinggi efikasi diri maka semakin rendah stres kerja. | ABSTRACT Background : Work stress is a condition in which individuals are in stressful situation. Work stress experiencedby nurses is influenced by self-efficacy. Someone who has a good self-efficacy tend to not experience the stress of work because it has confidence will succeed in achieving the goal. Objective : This study purposed to determine correlation between self-efficacy on contract employees nurse in dr. R. GoetengTaroenadibrataPurbalingga General Hospital. Methods : The study design was quantitative correlative with cross sectional design. Research used total sampling technique with the numbers of respondents 69 people. Collecting data used questionnaires and the statistical test used Spearman test. Result : The result of Spearman test was p value = 0,001 (p < 0,005), it was mean there is a significant correlation between self-efficacy with work stress, with r value = -0,378. Conclution : There was correlation between self-efficacy and work stress, negative correlation with the strength of weak ties. The higher self-efficacy it will decrease work stress. Keywords: nurse, self-efficacy, work stress. | |
| 51953 | 55477 | A1D022244 | PENAMPILAN KARAKTER AGRONOMI PADA POPULASI F2 HASIL PERSILANGAN PADI ROJOLELE X INPARI-32 DAN KORELASINYA DENGAN HASIL | Varietas Rojolele memiliki kualitas beras dan aroma yang khas, sedangkan Inpari-32 unggul dalam produktivitas, umur genjah, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter agronomis, mengidentifikasi karakter sebagai dasar seleksi, dan menganalisis hubungannya dengan hasil pada populasi F2 hasil persilangan Rojolele X Inpari-32. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) teraugmentasi dengan 35 genotipe F2 dan empat varietas pembanding. Data dianalisis menggunakan ANOVA, uji LSI 5%, dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enam karakter agronomis berbeda nyata, sedangkan empat karakter lainnya tidak berbeda nyata. Sebanyak 12 genotipe F₂ terpilih sebagai genotipe potensial karena memiliki kombinasi daya hasil tinggi, umur genjah, dan aroma, sedangkan analisis korelasi dan analisis lintas menunjukkan bahwa jumlah anakan produktif dan persentase gabah isi merupakan karakter yang berhubungan erat serta berpengaruh langsung terhadap bobot gabah per rumpun. | The Rojolele variety has distinctive rice quality and aroma, while Inpari-32 excels in productivity, early maturity, and resistance to pests and diseases. This study aimed to evaluate agronomic traits, identify traits as a basis for selection, and analyze their relationship with yield in the F2 population resulting from the Rojolele X Inpari-32 cross. The study used a randomized block design (RBD) augmented with 35 F2 genotypes and four comparison varietiesThe data were analyzed using ANOVA, the 5% LSI test, and correlation analysis. The results showed that six agronomic traits differed significantly, while the other four traits did not differ significantly. A total of 12 F₂ genotypes were selected as potential genotypes because they possessed a combination of high yield potential, early maturity, and aroma, Meanwhile, correlation and cross-analysis showed that the number of productive tillers and the percentage of filled grains are closely related traits that have a direct effect on grain weight per clump. | |
| 51954 | 11950 | D1E011072 | Penggunaan Fermeherbafit dalam Ransum Ayam Broiler (Gallus sp) terhadap Susut Masak dan Kadar Air Daging | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Fermeherbafit dalam ransum ayam broiler terhadap susut masak dan kadar air daging. Materi yang digunakan adalah ayam broiler betina umur 1 hari (DOC) sebanyak 80 ekor yang dipelihara sampai umur 35 hari. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdirii atas P0= 0 % Fermeherafit, P1= 2 % Fermeherbafit, P2= 4 % Fermeherbafit, P3= 6 % Fermeherbafit. Data dianalisis dengan sidik ragam dilanjutkan uji Beda Nyata Jujur. Hasil analisis menunjukan bahwa penggunaan Fermeherbafit berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap susut masak daging dan kadar air daging dada sedangkan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar air daging paha dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap daya ikat air daging. Rataan susut masak daging dada P0, P1, P2, P3 masing-masing 27,70 ± 2,30; 30,29 ± 2,70; 31,19 ± 2,74; 28,59 ± 1,13 (persen) dan rataan susut masak daging paha P0, P1, P2, P3 masing-masing 36,55 ± 3,65; 38,58 ± 4,49; 36,19 ± 1,15; 38,16 ± 2,67 (persen) sedangkan rataan kadar air daging dada P0, P1, P2 P3 masing-masing 74,58 ± 0,68; 74,08 ± 1,66; 74,71 ± 2,19; 74,39 ± 0,86 (persen). Rataan kadar air daging paha P0, P1, P2, P3 yaitu 77,75 ± 0,83; 77,67 ± 0,22; 78,46 ± 0,72; 77,18 ± 0,63 (persen). Kesimpulan dari penelitian adalah penggunaan Fermeherbafit dalam ransum ayam broiler mampu meningkatkan kadar air daging paha dan daya ikat air daging sedangkan kadar air daging dada dan susut masak relatif sama. Kata kunci : ayam broiler, Fermeherbafit, susut masak, dan kadar air daging. | The aimed of research to determine the use effect of Fermeherbafit in broiler chicken on cooking losses and water content of broiler meat. The materials were used 80 female broiler chickens aged 1 day (DOC) which keeped until 35 days. The experiments were conducted using completely randomized design (CRD) with four treatment, each treatment is repeated five times. The treatments of this research were P0 = 0% Fermeherbafit, P1 = 2% Fermeherbafit, P2 =4% Fermeherbafit, P3 = 6% Fermeherbafit. The results of analysis variance showed that the use Fermeherbafit non-significant effect (P>0,05) on cooking losses and water content of breast meat while the water content of thigh meat are significant effect (P<0,05) but, highly significant effect (P<0,01) on water holding capacity. The average cooking losses of breast and thigh meat P0, P1, P2, P3 each 27,70 ± 2,30; 30,29 ± 2,70; 31,19 ± 2,74; 28,59 ± 1,13 (percent) and 36,55 ± 3,65; 38,58 ± 4,49; 36,19 ± 1,15; 38,16 ± 2,67 (percent), while the average water content of breast meat P0, P1, P2, P3 each 74,58 ± 0,68; 74,08 ± 1,66; 74,71 ± 2,19; 74,39 ± 0,86 (percent). The average water content of thigh meat P0, P1, P2, P3 respectively 77,75 ± 0,83; 77,67 ± 0,22; 78,46 ± 0,72; 77,18 ± 0,63 (percent). The conclusion was that the use of Fermeherbafit in the ration of broiler can increas water content of thigh meat and water holding capacity, while water content of breast meat and cooking looses were relatively similar. Keywords: broilers, Fermeherbafit, cooking losses, and water content of broiler meat. | |
| 51955 | 55476 | J1B019027 | Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dan Implikatur Percakapan dalam Segmen Debat Ucapan Budi Arie pada Kanal YouTube KOMPASTV | Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelanggaran prinsip kerja sama dan implikatur percakapan dalam segmen “Debat Panas Ucapan Budi Arie” di kanal YouTube KOMPASTV. Penelitian menggunakan pendekatan pragmatik dengan metode deskriptif kualitatif. Data dianalisis berberdasarkan empat maksim Grice, yaitu kuantitas, kualitas, pelaksanaan, dan relevansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran keempat maksim tersebut menghasilkan implikatur berupa keraguan, pengalihan maksud, dugaan, penilaian, serta penyampaian informasi politik secara tidak langsung. Konteks percakapan menjadi faktor penting dalam memahami makna tersirat. | This study aims to describe the violations of the cooperative principle and conversational implicatures found in the segment “Debat Panas Ucapan Budi Arie” on the KOMPASTV YouTube channel. The study employs a pragmatic approach using a descriptive qualitative method. The data were analyzed based on Grice’s four conversational maxims: quantity, quality, manner, and relevance. The results show that violations of these four maxims generate implicatures in the forms of doubt, shifts in intended meaning, assumptions, judgments, and the indirect delivery of political information. The conversational context plays an important role in understanding the implied meanings conveyed through the utterances. | |
| 51956 | 37309 | B1A016024 | Struktur Vegetasi Penyusun Lahan Pekarangan di Lereng Selatan Gunung Slamet Kabupaten Banyumas. | Pekarangan merupakan salah bentuk agroforestri yang memiliki ciri-ciri yang khas yang relatif berbeda dibanding dengan ekosistem lainnya. Perkembangan komposisi dan struktur vegetasi ekosistem pekarangan secara alami dipengaruhi oleh arah lereng, ketinggian tempat, dan faktor-faktor lingkungan alami lainnya. Di samping faktor lingkungan, ekosistem pekarangan dipengaruhi pula oleh pemilik lahannya. Kondisi sosial, budaya, dan ekonomi pemilik lahan pekarangan sangat menentukan struktur dan komposisi ekosistem lahan pekarangan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa struktur dan komposisi vegetasi suatu ekosistem pekarangan akan berbeda antar ekosistem pekarangan yang berada di suatu wilayah lingkungan dan kepemilikan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur vegetasi penyusun lahan pekarangan di Lereng Selatan Gunung Slamet Kabupaten Banyumas, serta mengetahui pengaruh ketinggian tempat dan faktor lingkungan lainnya terhadap struktur vegetasi penyusun lahan pekarangan di Lereng Selatan Gunung Slamet. Penelitian dilakukan pada lahan pekarangan di desa-desa yang termasuk wilayah Lereng Selatan Gunung Slamet Kabupaten Banyumas mulai dari ketinggian <250 mdpl (Kelurahan Pabuaran dan Desa Kebumen), ketinggian 250-500 mdpl (Desa Karanggintung dan Desa Kemutug Kidul), dan ketinggian >500 mdpl (Desa Limpakuwus dan Desa Kemutug Lor). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Pengambilan sampel menggunakan kuadrat. Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas meliputi ketinggian tempat, intensitas cahaya, kelembapan udara, temperatur, dan pH tanah, sedangkan variabel terikat meliputi jumlah individu, jumlah jenis vegetasi, dan diameter pohon penyusun lahan pekarangan. Data yang diperoleh dihitung menggunakan Indeks Keanekaragaman jenis Shannon Wiener (H’), Indeks Nilai Penting (INP), dan Indeks Kesamaan Komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaan Shannon Wiener (H’) vegetasi penyusun lahan pekarangan menurun sejalan dengan semakin tingginya tempat di atas permukaan laut. Jumlah jenis vegetasi pada ketinggian tempat <250 mdpl ditemukan 29 jenis dengan indeks keanekaragaman 3,19 dan didominasi oleh Tectona grandis (28,05%). Di lokasi penelitian dengan ketinggian tempat >250 – 500 mdpl jumlah jenis vegetasi yang ditemukan sebanyak 29 jenis dengan indek keanekaragaman sebesar 3,18 dan didominasi oleh Artocarpus heterophyllus (31,19%), sedangkan jumlah jenis vegetasi di lokasi penelitian pada ketinggian >500 mdpl sebanyak 24 jenis dengan jenis yang dominan yaitu Durio zibethinus (31,58%) dan indeks keanekaragaman sebesar 3,12. | Yard is a form of agroforestry that has characteristics that are relatifly different from other ecosystems. The development of the composition and tree structure of a park ecosystem is naturally influenced by the direction of the slope, altitude, and other natural environmental factors. In addition to environmental factors, park ecosystems are also influenced by land owners. The social, cultural, and economic conditions of the owner of the yard will determine the structure and composition of the yard ecosystem. Thus, it can be said that the structure and composition of trees in a garden ecosystem will be different between the garden ecosystem in a different environment and ownership. This aims of this study were to determine the structure of the trees that make up the yard on the South Slope of Mount Slamet, Banyumas Regency, and to determine the effect of altitude and other environmental factors on the structure of the trees that make up the yard on the South Slope of Mount Slamet. The research was conducted in house yards in villages included in the South Slope area of Mount Slamet, Banyumas Regency starting from an altitude of <250 m above sea level (Pabuaran Village and Kebumen Village), an altitude of 250-500 m above sea level. (Karanggintung Village and Kemutug Kidul Village), and an altitude of >500 m above sea level (Limpakuwus Village and Kemutug Lor Village). The method used in this research is a survey method. Sampling using a square. Research variables consist of independent variables and dependent variables. The independent variables include altitude, light intensity, air humidity, temperature, and soil pH, while the dependent variable includes the number of individuals, the number of tree species, and the diameter of the trees that make up the yard. The data obtained were calculated using the Shannon Wiener Diversity Index (H'), Importance Value Index (IVI), and the Community Similarity Index. The results of this study showed that the Shannon Wiener (H') diversity index of the trees making up the yard decreased with increasing altitude above sea level. The number of tree species at an altitude of <250 masl found 29 species with a diversity index of 3.19 and dominated by Tectona grandis (28.05%). At the research location with an altitude of >250-500 m above sea level the number of tree species found was 29 species with a diversity index of 3.18 and dominated by Artocarpus heterophyllus (31.19%), while the number of tree species in the study site was at an altitude of >500 m as many as 24 species above sea level with the dominant species Durio zibethinus (31.58%) and the diversity index of 3.12. | |
| 51957 | 51371 | I1B022109 | HUBUNGAN PENGGUNAAN CHATBOT ARTIFICIAL INTELLIGENCE DENGAN TINGKAT STRES AKADEMIK MAHASISWA KEPERAWATAN UNSOED | Latar Belakang: Penggunaan chatbot Artificial Intelligence merupakan salah satu mekanisme koping yang bisa dijadikan sebagai alternatif solusi saat menghadapi stresor. Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan ChatGPT maka tingkat stres semakin rendah. Penelitian lain menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan ChatGPT, maka tingkat stres juga semakin tinggi, sehingga terdapat kesenjangan dan perlu penelitian lebih lanjut. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara penggunaan chatbot AI dengan tingkat stres akademik pada mahasiswa keperawatan Unsoed. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif cross-sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 238 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling. Analisis data yang digunakan adalah uji Spearman. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki tingkat penggunaan chatbot sedang sebanyak 158 (66,4%) dan stres akademik tingkat sedang sebanyak 176 (73,9%). Hasil uji Spearman diperoleh nilai p=0,001 (p value < 0,05) dan nilai r=-0,209, sehingga terdapat hubungan signifikan dengan arah negatif yang lemah antara penggunaan chatbot Artificial Intelligence dengan tingkat stres akademik pada mahasiswa keperawatan Unsoed. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan dengan arah negatif yang lemah, artinya semakin tinggi penggunaan chatbot Artificial Intelligence maka tingkat stres akademik pada mahasiswa keperawatan Unsoed semakin rendah, namun dengan efek yang lemah. | Background: The use of Artificial Intelligence chatbots is one coping mechanism that can be used as an alternative solution when facing stressors. There is research showing that the higher the use of ChatGPT, the lower the stress level. Meanwhile, other studies show that the higher the use of ChatGPT, the higher the stress level, so there is a gap and further research is needed. The purpose of this study is to analyze the relationship between the use of AI chatbots and academic stress levels in nursing students at Unsoed. Methodology: This study used a quantitative cross-sectional research design. The sample in this study consisted of 238 respondents using proportionate stratified random sampling. The data analysis used was the Spearman test. Research Results: Most respondents had a moderate level of chatbot usage, numbering 158 (66.4%), and moderate academic stress, numbering 176 (73.9%). The Spearman test yielded a p-value of 0.001 (p-value < 0.05) and an r-value of -0.209, indicating a weak negative significant relationship between the use of Artificial Intelligence chatbots and the level of academic stress among nursing students at Unsoed. Conclusion: There is a significant relationship with a weak negative direction, meaning that the higher the use of Artificial Intelligence chatbots, the lower the academic stress levels among Unsoed nursing students, but with a weak effect. | |
| 51958 | 42175 | K1C019002 | PEMODELAN INVERSI 3 DIMENSI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN KAWASAN PANASBUMI DIENG BERDASARKAN DATA ANOMALI GRAVITASI CITRA SATELIT | Data gravitasi citra satelit GGMplus digunakan untuk mengetahui pola sebaran anomali dan struktur bawah permukaan sumber panasbumi, terutama untuk daerah yang sulit dijangkau seperti Dieng. Pemodelan penelitian ini dilakukan secara 3D berdasarkan data anomali gravitasi residual. Tahapan penelitian yang telah dilakukan meliputi pengaksesan data, koreksi bougeur dan koreksi terrain, reduksi data ke bidang datar, pemisahan data anomali regional dan residual, pemodelan inversi, dan interpretasi. Data anomali gravitasi yang telah diakses adalah data GGMplus dengan batas koordinat geografis 109,8° – 110,3° BT dan 7,12° - 7,28° LS. Setelah pengaksesan data, koreksi bougeur dan terrain diterapkan, sehingga diperoleh data anomali bouguer lengkap (ABL) dengan nilai -56,6 – 65,7 mGal. Data ABL diolah sesuai tahapan penelitian hingga diperoleh data anomali residual yang berkisar -73.59 – 47.60 mGal. Data anomali ini terdistribusi pada ketinggian rata rata topografi daerah penelitian, yaitu 1392,35 m. Pola anomali gravitasi yang dihasilkan terbagi menjadi 3 pola, pola anomali tinggi yang bernilai lebih dari 3,00 mGal berwarna biru, pola anomali sedang yang berkisar -23,60 – 3,00 mGal berwarna coklat muda hingga putih dan pola anomali rendah yang berkisar -73,59 – -23,60 mGal berwarna hijau muda hingga coklat muda. Pemodelan inversi 3D terhadap data anomali residual dilakukan, hingga diperoleh model anomali bawah permukaan dengan densitas berkisar 1,0 – 4,6 g/cm3. Hasil interpretasi menunjukan bahwa daerah penelitian memiliki batuan yang bervariasi Sumber panasbumi daerah penelitian dengan densitas 1,00 –1,90 gr/cm3 berupa batuan cair atau magma, lapisan reservoir panasbumi daerah Dieng terdiri dari beberapa jenis batuan. | GGMplus gravity satellite data is used to determine anomalies distribution pattern subsurface structures geothermal sources, especially for hard to reach areas such as Dieng. The modeling in this study was carreid out in 3D based on residual gravity anomaly data. The research stages that have been carried out include data access, bougeur correction and terrain correction, data reduction to a horizontal surface, separation regional and residual anomalies data, inversion modeling and interpretation. The gravitational anomaly data that has been accessed is the GGMplus data with geographic coordinate boundaries of 109.8° – 110.3° East Longitude and 7.12° - 7.28° South Latitude. After data access, bougeur and corrections are applied, complete Bouguer anomaly data (ABL) was obtained with a value of -56.6 – 65.7 mGal. The ABL data was processed according to the research stages resulting in residual anomalies data ranging from -73.59 – 47.60 mGal. This anomalies data is distributed at the average height of the topography, which is 1392.35m. The resulting gravity anomaly pattern is divided into 3 patterns, the high anomaly pattern with a value of more than 3.00 mGal is blue, the medium anomaly pattern is in the range -23.60 – 3.00 mGal is light brown to white and the low anomaly pattern is in the range - 73.59 – -23.60 mGal light green to light brown. 3D inversion modeling of the residual anomaly data was carried out, to obtain a subsurface anomaly model with a density ranging from 1.0 – 4.6 g/cm3. The interpretation results show that the research area has a variety of rocks. The geothermal source in the research area with a density of 1.00 – 1.90 gr/cm3 is in the form of liquid rock or magma. The geothermal reservoir in the Dieng area consists of several types of rock. | |
| 51959 | 19171 | E1A012249 | KONSTITUSIONALITAS PELAKSANAAN EKSEKUTIF REVIEW DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA | Penelitian ini mengkaji hubungan pengawasan produk hukum daerah antara pemerintah dan pemerintah daerah dalam negara kesatuan Republik Indonesia, dengan fokus utama pada pengkajian konsistensi dan kesesuaian UU Pemerintahan Daerah dan UU Pajak dan Retribusi Daerah dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam pengawasan produk hukum daerah. Tulisan ini menilai konstitusionalitas landasan pengaturan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dengan sudut pandang konstitusionalitas dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan. Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menjadi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah semakin menegaskan hubungan yang sentralistik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Salah satu dampak yang signifikan dari perubahan itu terletak pada kewenangan pengawasan pemerintah pusat terhadap peraturan daerah yang dibentuk oleh pemerintah daerah. Kondisi itu semakin memperkuat posisi pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Di satu sisi, hal tersebut mempertegas konsep negara kesatuan, tetapi di sisi lain semakin membatasi kewenangan pemerintah daerah dalam melaksanakan otonomi daerah. Keduanya merupakan amanat dari Undang-Undang Dasar 1945. Kewenangan pengawasan juga berdampak kepada kewenangan pembatalan peraturan daerah oleh pemerintah pusat. Hal itu tidak bisa sekedar dilihat dari aspek hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga berkaitan dengan perspektif perundang-undangan. | This study examines the relationship of supervision of local legal products between the government and regional governments within the unitary state of the Republic of Indonesia, with a primary focus on the assessment of the consistency and conformity of the Regional Government Law and the Law on Regional Taxes and Levies with the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia in the supervision of local legal products. This paper assesses the constitutionality of regulatory basis in Law Number 23 Year 2014 on Regional Government with the viewpoint of constitutionality and decentralization within the framework of the Unitary State. The amendment of Law Number 32 Year 2004 to Law Number 23 Year 2014 on Regional Government further emphasized the centralized relationship between the central government and local government. One significant impact of the change lies in the authority of central government oversight of local regulations established by local governments. The condition further strengthens the central government's position on local government. On the one hand, it reinforces the concept of a unitary state, but on the other hand further limits the authority of local governments in implementing regional autonomy. Both are mandated by the 1945 Constitution. The authority of oversight also has an impact on the authority of the cancellation of regional regulations by the central government. It can not simply be seen from the aspect of the relationship between central and local government, but also related to the perspective of legislation. | |
| 51960 | 47190 | I1A019047 | Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kelengkapan Pengobatan TPT pada Tuberkulosis Laten Usia Dewasa di Kota Tangerang | Tuberkulosis (TB) laten merupakan fase dorman infeksi Mycobacterium tuberculosis (MTB) yang dapat berkembang menjadi TB aktif jika tidak ditangani. Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) menjadi strategi penting untuk mencegah aktivasi TB laten. Namun, tingkat kepatuhan pengobatan TPT di Indonesia, termasuk di Kota Tangerang, belum maksimal. Data menunjukkan kurang dari 50% penerima TPT di Kota Tangerang menyelesaikan pengobatan pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kelengkapan pengobatan TPT pada penderita TB laten usia dewasa di Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan studi cross sectional yang dilakukan pada Februari-Maret 2024. Populasi penelitian adalah penerima TPT Januari-Mei 2023 di Kota Tangerang yang tercatat di Laporan TB.15 SITB, dengan sampel 94 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik). Hasil analisis menunjukkan efek samping TPT adalah faktor yang paling memengaruhi kelengkapan pengobatan TPT pada ILTB (p-value: 0,023) (OR: 32,641). Variabel lain seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, persepsi manfaat, persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi hambatan, dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan, dan akses fasilitas kesehatan tidak memengaruhi kelengkapan pengobatan (p-value: 0,05). Penderita TB laten yang tidak mengalami efek samping selama menjalani TPT lebih mungkin untuk menyelesaikan TPT dibandingkan penderita TB laten yang mengalami efek samping. | Latent Tuberculosis is a dormant phase of Mycobacterium tuberculosis (MTB) infection that can progress to active TB if untreated. Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) is crucial for preventing latent TB activation and supporting global TB elimination. However, TPT adherence in Indonesia, including in Tangerang City, remains suboptimal, with data showing that less than 50% of TPT recipients in Tangerang completed their treatment in 2022. This study aims to analyze factors influencing TPT completion among adults with latent TB in Tangerang City. This research utilizes a cross-sectional design, conducted in Tangerang City from February to March 2024. The population includes TPT recipients in Tangerang City recorded in the TB.15 SITB from January to May 2023, with 94 participants. Data are collected using a validated and reliable questionnaire and analyzed using univariate, bivariate (chi-square), and multivariate (logistic regression). Results show that TPT side effects are the most significant factor affecting the completion of TPT in latent TB patients (p-value: 0.023) (OR: 32.641). Factors such as age, gender, education, employment status, income, knowledge, perceived benefits, perceived vulnerability, perceived severity, perceived barriers, family support, healthcare worker support, and access to healthcare facilities do not influence treatment completion (p-value > 0.05). Patients who do not experience side effects are more likely to complete their TPT compared to those who do. |