Artikelilmiahs

Menampilkan 50.601-50.618 dari 50.618 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5060154003A1G022003SIKAP PETANI PADA RISIKO PRODUKSI DALAM USAHATANI BENGKUANG DI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS
Bengkuang menjadi komoditas yang banyak dibudidayakan oleh petani di Desa Linggasari dan Desa Purbadana, Kecamatan Kembaran. Ketika petani melakukan budidaya bengkuang tentu terdapat risiko produksi yang memengaruhi hasil produksi bengkuang. Risiko produksi merupakan ketidakpastian tentang hasil yang akan dicapai selama proses produksi. Adanya risiko produksi ini akan membentuk sikap petani, yang dimana nantinya sikap petani akan terbagi menjadi 3 yaitu menerima risiko, netral terhadap risiko, dan menghindari risiko. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui tingkat risiko, 2) mengetahui sikap petani pada risiko produksi, dan 3) mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi sikap petani pada risiko produksi bengkuang di Desa Linggasari dan Desa Purbadana, Kecamatan Kembaran.
Penelitian dilaksanakan di Desa Linggasari dan Desa Purbadana, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan dari bulan September 2024 sampai Desember 2024. Survei pendahuluan dilakukan untuk mencari dan mengidentifikasi jumlah petani bengkuang dan kondisi lingkungan di daerah penelitian. Metode pengambilan sampel yaitu dengan non probability sampling dengan teknik sampling jenuh yang didapatkan jumlah responden sebanyak 90 petani bengkuang. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sikap petani pada risiko produksi, hasil produksi, luas lahan, jumlah benih bengkuang, jumlah pupuk, jumlah pestisida, jumlah tenaga kerja, harga output, harga input, umur petani, jumlah tanggungan keluarga, Pendidikan, pengalaman berusahtani, dan pendapatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko produksi bengkuang di Desa Linggasari dan Desa Purbadana termasuk dalam kategori rendah. Sikap petani bengkuang dalam menghadapi risiko produksi yaitu didominasi oleh petani yang menghindari risiko (Risk Averter). Sikap petani pada risiko produksi dipengaruhi oleh jumlah tanggungan keluarga dan pendidikan.
Jicama is a widely cultivated commodity among farmers in Linggasari and Purbadana Villages, Kembaran District. Jicama farming entails production risks that affect the final yield. Production risk refers to the uncertainty regarding the output achieved during the production process. The presence of such risk shapes farmers' attitudes, which generally fall into three categories: risk-accepting, risk-neutral, and risk-averse. This study aims to: 1) determine the level of risk; 2) identify farmers' attitudes toward production risk; and 3) analyze the factors influencing these attitudes regarding jicama production risk in Linggasari and Purbadana Villages, Kembaran District.
The research was conducted in Linggasari and Purbadana Villages, Kembaran District, Banyumas Regency, spanning the period from September 2024 to Desember 2024. A preliminary survey was carried out to identify the number of jicama farmers and the environmental conditions in the study area. A non-probability sampling method specifically the census sampling technique was employed, resulting in a total of 90 jicama farmer respondents. The variables analyzed in this study included farmers' attitudes toward production risk, production yield, land area, quantity of jicama seeds, fertilizer usage, pesticide usage, labor input, output prices, input prices, farmer age, number of family dependents, education level, farming experience, and income.
Research results indicate that the level of production risk for jicama in Linggasari and Purbadana villages falls into the low category. Regarding their attitude toward production risk, the majority of jicama farmers are risk-averse. Farmers attitudes toward production risk are influenced by the number of family dependents and their level of education.
5060254004L1C022070Analisis Karakteristik Angin dan Significant Wave Height (SWH) di Selat Malaka pada Kejadian Siklon Tropis SenyarSelat Malaka merupakan jalur pelayaran internasional strategis yang sangat rentan terhadap gelombang ekstrem akibat karakteristik topografinya yang sempit dan dangkal, terutama saat dilanda cuaca buruk seperti Siklon Tropis Senyar (25–28 November 2025). Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik dinamika angin permukaan dan respons Significant Wave Height (SWH) di perairan tersebut selama periode badai. Pemodelan numerik gelombang dilakukan menggunakan model Simulating Waves Nearshore (SWAN) dengan masukan data angin reanalisis ERA5 dan batimetri GEBCO. Evaluasi kinerja model dilakukan menggunakan Diagram Taylor terhadap data satelit CCMP dan CMEMS, sedangkan hubungan spasio-temporal dikaji melalui metode Cross-Correlation Function (CCF). Hasil penelitian menunjukkan siklon memicu sirkulasi siklonik dengan kecepatan angin maksimum 17,39 m/s dan lonjakan wind stress hingga 0,71 N/m². Model SWAN mampu merepresentasikan dinamika gelombang selat (R>0,90), meskipun terdapat sedikit underestimation pada puncak badai akibat batasan resolusi data reanalisis. Peningkatan SWH merespons lonjakan wind stress secara signifikan dengan jeda waktu (time lag) propagasi energi selama 1–2 jam. Respons tercepat terjadi di perairan tengah (1 jam), sedangkan perairan dangkal di utara dan selatan mengalami jeda 2 jam yang disertai proses atenuasi energi akibat pergesekan dasar laut.The Malacca Strait is highly vulnerable to extreme waves due to its narrow and shallow topography, particularly during severe weather like Tropical Cyclone Senyar (November 25–28, 2025). This study analyzed surface wind dynamics and Significant Wave Height (SWH) responses in these waters during the storm. Numerical wave modeling was conducted using the Simulating Waves Nearshore (SWAN) model with ERA5 reanalysis winds and GEBCO bathymetry. Model performance was evaluated using Taylor Diagrams against CCMP and CMEMS satellite data, while spatio-temporal relationships were examined via the Cross-Correlation Function (CCF). Results showed the cyclone triggered a cyclonic circulation with a maximum wind speed of 17.39 m/s and a wind stress surge of 0.71 N/m². The SWAN model successfully represented the strait's wave dynamics (R>0.90), despite a slight underestimation at the storm peak due to reanalysis data resolution limits. SWH responded significantly to wind stress surges with a 1–2 hour energy propagation time lag. The fastest response occurred in the central waters (1 hour), whereas shallow northern and southern waters experienced a 2-hour lag accompanied by energy attenuation from bottom friction.
5060354013G1A019048PENGARUH SLOW DEEP BREATHING EXERCISE METODE BHRAMARI PRANAYAMA TERHADAP UJI FUNGSI PARU
(Studi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman)
Latar Belakang: Kapasitas fungsi paru merupakan indikator kesehatan fundamental yang erat kaitannya dengan kualitas hidup. Mahasiswa kedokteran rentan mengalami gaya hidup sedenter akibat padatnya jadwal akademik, yang berpotensi menurunkan kapasitas fungsi paru. Slow Deep Breathing Exercise (SDBE) metode Bhramari Pranayama merupakan teknik pernapasan lambat dan dalam dengan komponen humming yang dapat meningkatkan aktivitas parasimpatik dan mengoptimalkan mekanika ventilasi paru.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Slow Deep Breathing Exercise metode Bhramari Pranayama terhadap uji fungsi paru pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman.
Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan data sekunder terhadap 40 subjek yang terbagi menjadi 22 orang kelompok intervensi dan 18 orang kelompok kontrol. Pengukuran fungsi paru dilakukan menggunakan spirometri untuk menilai Forced Vital Capacity (FVC) dan Forced Expiratory Volume in 1 second (FEV1) sebelum dan sesudah intervensi selama 22 hari.
Hasil: Terdapat perbedaan bermakna pada nilai Forced Vital Capacity antara kelompok intervensi dan kontrol, dengan kelompok intervensi mengalami peningkatan rerata Forced Vital Capacity sebesar 0,05 ± 0,13 liter. Nilai Forced Expiratory Volume in 1 second tidak menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik.
Kesimpulan: Slow Deep Breathing Exercise metode Bhramari Pranayama terbukti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan Forced Vital Capacity dan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif intervensi non-farmakologis yang aman untuk mendukung kesehatan fungsi paru mahasiswa kedokteran.
Kata kunci: Bhramari Pranayama, fungsi paru, mahasiswa kedokteran, Slow Deep Breathing Exercise, spirometri
Background: Pulmonary function capacity was a fundamental health indicator closely associated with quality of life. Medical students were vulnerable to a sedentary lifestyle due to intensive academic demands, which potentially reduced pulmonary function capacity. Slow Deep Breathing Exercise using the Bhramari Pranayama method was a slow and deep breathing technique with a humming component that was studied to enhance parasympathetic activity and optimize pulmonary ventilation mechanics.
Objective: This study aimed to determine the effect of Slow Deep Breathing Exercise using the Bhramari Pranayama method on pulmonary function tests among medical students of Universitas Jenderal Soedirman.
Methods: A retrospective cohort design was employed involving 40 subjects divided into 22 in the intervention group and 18 in the control group. Pulmonary function was measured using spirometry to assess Forced Vital Capacity and Forced Expiratory Volume in 1 second before and after a 22-day intervention period.
Results: There is a statistically significant difference in Forced Vital Capacity between the intervention and control groups, with the intervention group showing a mean increase of 0.05 ± 0.13 liters. Forced Expiratory Volume in 1 second shows no statistically significant difference between groups.
Conclusion: Slow Deep Breathing Exercise using the Bhramari Pranayama method is effective in significantly improving Forced Vital Capacity and can be considered a safe alternative non-pharmacological intervention to support pulmonary health among medical students.
Keywords: Bhramari Pranayama, medical students, pulmonary function, Slow Deep Breathing Exercise, spirometry
5060453796B1A022098Efek Paparan Potasium Dikromat terhadap Pertumbuhan dan Survival Rate Sel-sel Cerebellar Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) dalam Kondisi In Vitro
Potasium dikromat merupakan oksidan kuat yang banyak digunakan dalam berbagai industri. Limbah potasium dikromat masuk ke perairan dan menjadi kontaminan bagi lingkungan perairan sehingga keberadaannya dapat mempengaruhi kondisi organisme akuatik termasuk ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi potasium dikromat terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel cerebellar ikan nilem serta mengetahui pada konsentrasi berapakah potasium dikromat dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan sel cerebellar.
Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok, variasi konsentrasi potasium dikromat dalam medium kultur digunakan sebagai perlakuan dan jenis kelamin ikan sebagai kelompok. Konsentrasi potasium dikromat yang diuji adalah 0 (kontrol); 0,125; 0,2; 0,375; dan 0,5 ppm. Pada setiap perlakuan disediakan 5 ulangan. Perlakuan potasium dikromat diberikan kepada sel-sel hasil outgrowth dari kultur fragmen cerebellum ikan nilem. Variabel terikat meliputi pertumbuhan sel dengan parameter densitas sel, Population Doubling Time (PDT), Population Doubling Level (PDL), dan kurva pertumbuhan; dan survival rate sel dengan parameter viabilitas sel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sel-sel cerebellar Osteochilus vittatus yang dikultur menggunakan metode eksplan pada medium DMEM low glucose yang disuplementasi FBS 10%, antibiotik 5%, dan L-glutamin 5% berhasil melakukan proliferasi. Sel hasil outgrowth mencapai konfluensi sekitar 80% pada hari keempat dengan densitas berkisar 1,44×10⁶–2,51×10⁶ sel/mL dan viabilitas di atas 98%. Kurva pertumbuhan menunjukkan peningkatan densitas sel secara konsisten hingga memasuki fase eksponensial. Pertumbuhan sel cerebellar pada jantan dan betina menunjukkan pola proliferasi yang relatif sama, dengan nilai Population Doubling Time (PDT) untuk jantan yaitu 42 jam 58 menit sedangkan pada betina 30 jam 46 menit dan nilai Population Doubling Level (PDL) yang meningkat bertahap dari hari ke-1 hingga hari ke-4, menunjukkan kemampuan proliferasi sel yang tinggi selama periode kultur. Paparan potasium dikromat menyebabkan penurunan pertumbuhan sel secara signifikan yang ditandai dengan menurunnya densitas sel seiring meningkatnya konsentrasi perlakuan dibandingkan kultur kontrol. Konsentrasi potasium dikromat >0,25 ppm mulai memberikan pengaruh nyata terhadap proliferasi sel cerebellar, terutama pada konsentrasi 0,375 ppm dan 0,5 ppm yang menunjukkan penurunan densitas sel dibandingkan kontrol. Selain itu, paparan potasium dikromat konsentrasi >0,25 ppm juga berpengaruh nyata untuk menurunkan viabilitas sel cerebellar sehingga menunjukkan sifat toksik potasium dikromat terhadap sel.
Potassium dichromate is widely used in industries. It ends up in the water, leading to contamination in the aquatic environment. This can be potentially harmful to the aquatic organisms, including fish. A study aimed to evaluate the effects of various concentrations of potassium dichromate on the growth and survival of cerebellar cells of Nilem fish, as well as to determine the concentration at which potassium dichromate affects cerebellar cell growth and viability.
The study was conducted experimentally using a randomized block design, with variations in the concentration of potassium dichromate in the culture medium serving as the treatment and the sex of the fish as the blocks. The potassium dichromate concentrations tested were 0 (control); 0.125; 0.25; 0.375; and 0.5 ppm. Each treatment included 5 replicates. The potassium dichromate treatments were applied to the outgrown cells from the cultured cerebellar fragments of the Nilem fish. Dependent variables included cell growth, measured by cell density, Population Doubling Time (PDT), Population Doubling Level (PDL), and growth curves; and cell survival rate, measured by cell viability.
The results of the study showed that cerebellar cells from Osteochilus vittatus cultured using the explant method in DMEM low glucose supplemented with 10% FBS, 5% antibiotics, and 5% L-glutamine successfully proliferated. The outgrowth cells reached approximately 80% confluence on the fourth day with a density ranging from 1.44×10⁶–2.51×10⁶ cells/mL and viability above 98%. The growth curve showed a consistent increase in cell density until entering the exponential phase. The growth of cerebellar cells from both male and female fish exhibited a relatively similar proliferation pattern, with a Population Doubling Time (PDT) of 42 hours 58 minutes in males and 30 hours 46 minutes in females. In addition, the Population Doubling Level (PDL) increased progressively from day 1 to day 4, indicating a high proliferative capacity of the cells throughout the culture period. Potassium dichromate exposure caused a significant decrease in cell growth, characterized by a decrease in cell density as the treatment concentration increased compared to the untreated culture. Potassium dichromate at a concentration of >0.25 ppm began to have a significant effect on cerebellar cell proliferation, particularly at the concentrations of 0.375 ppm and 0.5 ppm, which showed a decrease in cell density compared to the control. Additionally, exposure to potassium dichromate at a concentration of >0,25 ppm also significantly reduced cerebellar cell viability, thereby demonstrating the toxic nature of potassium dichromate toward cerebellar cells
5060554005J1A022074AN ANALYSIS OF DORIAN GRAY’S POLITENESS STRATEGIES TOWARDS SIBYL VANE IN OSCAR WILDE’S THE PICTURE OF DORIAN GRAY (1890)Penelitian.ini menganalisis strategi kesopanan yang digunakan oleh Dorian Gray dalam tuturannya mengenai Sibyl Vane kepada karakter lain dan dalam tuturannya secara langsung kepada Sibyl dalam novel The Picture of Dorian Gray (1890) karya Oscar Wilde. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan jenis-jenis strategi kesantunan dan mengidentifikasi fungsinya berdasarkan teori Brown dan Levinson (1987). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan anlisis dokumen karena data diperoleh dari karya sastra. Hasil penelitian menunjukan 82 unit analisis mengandung tiga jenis strategi kesantunan, yaitu kesantunan positif sebanyak 51 data (62,2%), bald on record sebanyak 30 data (36,6%), kesantunan negatif sebanyak 1 data (1,2%). Kesantunan positif merupakan strategi yang paling dominan dan terutama digunakan Ketika Dorian membicarakan Sibyl secara positif kepada Lord Henry dan Basil serta berusaha memperoleh persetujuan mereka. Karena setiap fungsi sesuai dengan jenis strategi kesantunan, ditemukan pula tiga fungsi. Fungsi memuaskan muka positif pendengar berkaitan dengan kesantunan positif; fungsi kejelasan dan efisiensi berkaitan dengan bald on record; sedangkan fungsi memuaskan muka negatif pendengar berkaitan dengan kesantunan negatif. Kesimpulannya, pilihan strategi yang digunakan Dorian mencerminakan kondisi emosionalnya, siapa pendengarnya, dan tujuan komunikasinya.This research analyses the politeness strategies used by Dorian Gray in his utterances about Sibyl Vane to other characters and in his utterances directly to her in Oscar Wilde’s The Picture of Dorian Gray (1890). The purpose of this research is to classify the types of politeness strategies and to identify their functions based on Brown and Levinson’s (1987) theory. This research uses a qualitative method with document analysis because the data were collected from a literary text. The results show that 82 units of analysis contain three types of politeness strategies: positive politeness (51 occurrences, 62.2%), bald-on-record (30 occurrences, 36.6%), and negative politeness (1 occurrence, 1.2%). Positive politeness is the most dominant strategy, mainly used when Dorian talks positively about Sibyl to Lord Henry and Basil and seeks their agreement. Since each function corresponds to a particular type of politeness strategy, three functions were also identified. Satisfying the listener’s positive face corresponds to positive politeness; clarity and efficiency correspond to bald on record; and satisfying the listener’s negative face corresponds to negative politeness. In conclusion, Dorian’s strategy choices reflect his emotional condition, listener, and communicative purpose.
5060653974A1F022052Pengaruh Aplikasi Active Coating dan Wrapping Terhadap Kualitas Buah Anggur Varietas Ninel Selama PenyimpananProduksi buah anggur di Indonesia meningkat dari 134.055 ton pada tahun 2023
menjadi 185.90.8,22 ton pada tahun 2024. Tingginya tingkat produksi buah anggur
diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Namun, anggur memiliki
karakteristik kulit buah yang tipis, tekstur yang lembut, dan memiliki kandungan air yang
tinggi sehingga rentan mengalami penurunan kualitas, akibat kehilangan air, serta
perubahan fisiologis selama penyimpanan dan transportasi. Edible coating dan edible film
menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan kualitas buah anggur selama
penyimpanan. Hal tersebut dikarenakan keduanya mampu mengurangi laju respirasi dan
kehilangan air, sehingga mampu mempertahankan tekstur, memperpanjang umur simpan,
serta meningkatkan visual pada buah. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan
untuk mengkaji pengaruh aplikasi active coating dan wrapping terhadap kualitas fisik dan
kimia, serta umur simpan buah anggur varietas ninel.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian dan Laboratorium
II Teknologi Hasil Ternak, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Rancangan
penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 2 faktor yaitu metode coating dan hari penyimpanan. Variabel pengukuran yang
dilakukan dalam penelitian ini meliputi sifat fisik (susut bobot, decay rate, tekstur, dan
warna), sifat kimia (TPT, TAT, Vit C, dan kadar air), serta umur simpan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan coating dan wrapping mampu
mempertahankan kualitas fisik lebih baik dibandingkan kontrol, seperti menekan susut
bobot, decay rate, dan mempertahankan tekstur. Namun, coating dan wrapping
menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata terhadap perubahan warna anggur.
Sementara itu, coating dan wrapping juga mampu mempertahankan sifat kimia seperti
menekan kadar air dan total padatan terlarut. Di sisi lain, vitamin C dan total asam
tertitrasi menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata pada semua perlakuan. Umur
simpan yang dihasilkan kontrol lebih rendah yaitu sebesar 8,59 hari dibandingkan coating
dan wrapping dalam rentang 15,18-17,28 hari.
Grape production in Indonesia increased from 134,055 tons in 2023 to 185,908.22
tons in 2024. The high level of grape production is expected to meet consumer demand.
However, grapes have thin skin, soft texture, and high moisture content, making them
susceptible to quality deterioration due to water loss and physiological changes during
storage and transportation. Edible coatings and edible films are considered promising
approaches to maintain grape quality during storage, as they can reduce respiration rate
and moisture loss, thereby preserving texture, extending shelf life, and improving the
visual appearance of the fruit. Based on these considerations, this study aimed to evaluate
the effect of active coating and wrapping applications on the physical and chemical
quality, as well as the shelf life, of ninel grape variety.
This research was conducted at the Agricultural Technology Laboratory and
Laboratory II of Animal Product Technology, Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto. The experiment employed a Completely Randomized Design (CRD) with two
factors, namely coating method and storage period. The observed variables included
physical properties (weight loss, decay rate, texture, and color), chemical properties
(total soluble solids, titratable acidity, vitamin C, and moisture content), and shelf life
The results showed that coating and wrapping treatments were more effective than
the control in maintaining the physical quality of grapes by reducing weight loss and
decay rate and preserving texture. However, no significant differences in color changes
were observed among the treatments. In addition, coating and wrapping treatments were
able to maintain chemical quality by suppressing changes in moisture content and total
soluble solids. On the other hand, vitamin C content and titratable acidity were not
significantly affected by the treatments. The shelf life of grapes under the control
treatment was 8.59 days, whereas coating and wrapping treatments extended shelf life to
15.18–17.28 days.
5060754006H1D022088Web-Based Decision Support System For Detecting The Risk Of Non
Communicable Diseases Based On Lifestyle Using The Fuzzy Ahp Method
Abstrak—Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian yang sangat dipengaruhi oleh faktor pola hidup, meliputi pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) berbasis website untuk mendeteksi tingkat risiko Diabetes Melitus, Hipertensi, Penyakit Jantung Koroner, dan Stroke menggunakan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Fuzzy AHP). Bobot prioritas setiap kriteria diperoleh melalui pengujian Consistency Ratio (CR), kemudian dilanjutkan dengan proses fuzzifikasi, geometric mean, fuzzy synthetic value, defuzzifikasi, dan normalisasi. Bobot tersebut selanjutnya diintegrasikan dengan jawaban pengguna menggunakan metode Weighted Sum untuk menghasilkan persentase risiko, mengklasifikasikan tingkat risiko ke dalam kategori Sehat, Rendah, Sedang, dan Tinggi, serta mengidentifikasi penyakit dengan tingkat risiko tertinggi. Sistem dikembangkan menggunakan framework Laravel dengan basis data MySQL dan dievaluasi melalui Black Box Testing menggunakan pendekatan Boundary Value Analysis (BVA) dan Equivalence Partitioning (EP). Hasil pengujian menunjukkan tingkat akurasi sebesar 100% (60 dari 60 test case valid), yang menunjukkan bahwa sistem berhasil mendeteksi tingkat risiko Penyakit Tidak Menular berdasarkan pola hidup pengguna serta menghasilkan keluaran yang konsisten dengan perhitungan manual.

Non-Communicable Diseases (NCDs) are the leading cause of death and are strongly influenced by lifestyle factors,
including dietary habits, physical activity, smoking habits, and alcohol consumption. This study aims to design and
develop a web-based Decision Support System (DSS) to detect the risk levels of Diabetes Mellitus, Hypertension,
Coronary Heart Disease, and Stroke using the Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Fuzzy AHP) method. The priority
weights of each criterion were obtained through the Consistency Ratio (CR) test, followed by the processes of
fuzzification, geometric mean, fuzzy synthetic value, defuzzification, and normalization. These weights were then
integrated with user responses using the Weighted Sum method to generate risk percentages, classify risk levels into
Healthy, Low, Moderate, and High, and identify the disease with the highest risk level. The system was developed
using the Laravel framework with a MySQL database and evaluated through Black Box Testing using the Boundary
Value Analysis (BVA) and Equivalence Partitioning (EP) approaches. The testing results showed 100% accuracy (60
out of 60 valid test cases), indicating that the system successfully detects the risk levels of Non-Communicable
Diseases based on users' lifestyles and produces results consistent with manual calculations.
5060853610C1C021104PENGARUH LITERASI KEUANGAN, PENGETAHUAN KEUANGAN, GAYA HIDUP DAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU PENGELOLAAN KEUANGAN PADA MAHASISWA PENGGUNA E-COMMERCE SHOPEEPenelitian ini merupakan penelitian mengenai perilaku pengelolaan keuangan pada mahasiswa pengguna e-commerce Shopee. Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Literasi Keuangan, Pengetahuan Keuangan, Gaya Hidup dan Teman Sebaya terhadap Perilaku Pengelolaan Keuangan Pada Mahasiswa Pengguna e-commerce Shopee”. Penelitian ini di latar belakangi dengan adanya kemudahan berbelanja secara online menggunakan shopee yang memudahkan para pembeli melakukan transaksi dengan di rumah saja. Kemudian rendahnya literasi keuangan mahasiswa menjadikan masalah karena dapat menyebabkan buruknya perilaku pengelolaan keuangan, ditambah dengan faktor pengetahuan keuangan serta gaya hidup dan teman sebaya. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengaruh literasi keuangan, pengetahuan keuangan, gaya hidup, dan teman sebaya terhadap perilaku pengelolaan keuangan pada mahasiswa pengguna e-commerce shopee. (paraphase kata penelitian).
Theory Planned Behavior (TPB) yang dikemukakan oleh Azjen (1991) menjadi teori dalam penelitian ini. Menurut Azjen (1991) terdapat tiga faktor yang mendukung teori ini, yaitu faktor sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku. Teori ini menjadi dasar pembentukan hipotesis penelitian dimana semakin besar tingkat literasi keuangan dan pengetahuan keuangan akan sejalan dengan semakin baiknya perilaku pengelolaan keuangan pada mahasiswa pengguna e-commerce shopee. Kemudian semakin tinggi gaya hidup dan pengaruh teman, maka semakin buruk perilaku pengelolaan keuangan pada mahasiswa pengguna e-commerce shopee.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yang diperoleh dari penyebaran kuesioner. Metode yang digunakan dalam pemilihan sampel penelitian yaitu random sampling. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 385 mahasiswa/i dari 5 Universitas tahun angkatan 2021-2024 yang menjadi populasi penelitian ini. Jumlah sampel pada penelitian ini ditentukan dengan rumus chocran karena jumlah populasi yang tidak diketahui pastinya yang akan digunakan pada penelitian ini. Metode pengukuran variabel menggunakan skala likert. Metode anaslisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu uji statistik deskriptif, uji kualitas data (uji validitas dan reliabilitas), uji asumsi klasik, analisis linier berganda, dan uji ketetapan model dan hipotesis.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan (SPSS) Stastistical Package for the Social Sciences memberikan bukti bahwa: (1) literasi keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan, (2) pengetahuan keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan, (3) gaya hidup berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan, (4) teman sebaya berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan.
Implikasi dari hasil penelitian menunjukan bahwa literasi keuangan dan pengetahuan keuangan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa. Kemudian gaya hidup yang cenderung konsumtif memiliki potensi untuk menurunkan kualitas pengelolaan keuangan. Namun, sifatnya yang tidak signifikan mahasiswa tetap mampu mengendalikan keputusan keuangan mereka dengan baik dan teman sebaya berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan yang mengindikasikan bahwa Meskipun interaksi dengan teman sebaya secara teoritis mengarah pada hal positif seperti dukungan untuk berhemat, namun pengaruh sosial tersebut terbukti lemah dan tidak menjadi faktor dominan dalam memengaruhi perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa. Keterbatasan penelitian ini ada pada susahnya penyebaran data yang dilakukan pada saat libur kuliah, kemudian susahnya responden yang mau bersedia mengisi kuesioner yang dibagikan.
This study examines the financial management behavior of students who use Shopee e-commerce. The title of this study is “The Influence of Financial Literacy, Financial Knowledge, Lifestyle, and Peers on the Financial Management Behavior of Students Who Use Shopee E-commerce.” This research is motivated by the ease of online shopping using Shopee, which allows buyers to make transactions from home. Furthermore, the low level of financial literacy among students is problematic because it can lead to poor financial management behavior, compounded by factors such as financial knowledge, lifestyle, and peer influence. The purpose of this study is to analyze the influence of financial literacy, financial knowledge, lifestyle, and peer influence on the financial management behavior of students who use Shopee e-commerce.
The Theory of Planned Behavior (TPB) proposed by Ajzen (1991) is the theory used in this study. According to Azjen (1991), there are three factors that support this theory, namely attitude toward behavior, subjective norms, and perceived behavioral control. This theory forms the basis for the research hypothesis, which states that the higher the level of financial literacy and financial knowledge, the better the financial management behavior of students who use Shopee e-commerce. Furthermore, the higher the lifestyle and peer influence, the worse the financial management behavior of students who use Shopee e-commerce.
This study uses a quantitative approach with a survey method. The type of data used in this study is primary data obtained from the distribution of questionnaires. The method used in selecting the research sample is random sampling. The sample used in this study consisted of 385 students from 5 universities from the 2021-2024 batches, which constituted the population of this study. The sample size in this study was determined using the Chocran formula because the exact population size to be used in this study was unknown. The variable measurement method used a Likert scale. The data analysis methods used in this study were descriptive statistical tests, data quality tests (validity and reliability tests), classical assumption tests, multiple linear analysis, and model and hypothesis testing.
Based on the results of research and data analysis using the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS), evidence shows that: (1) financial literacy has a significant positive effect on financial management behavior, (2) financial knowledge has a significant positive effect on financial management behavior, (3) lifestyle has no effect on financial management behavior, (4) peers have no effect on financial management behavior.
5060953971E1A022202IMPLEMENTASI DIVERSI DALAM PENYELESAIAN PERKARA PIDANA ANAK PELAKU TINDAK PIDANA PENCURIAN (Studi Penetapan No.1/Pid.Sus-Anak/2021/PN Pwt)
Anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki hak untuk memperoleh perlindungan hukum yang menempatkan kepentingan terbaik bagi dirinya sebagai prioritas utama. Meningkatnya kasus tindak pidana yang melibatkan anak di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan perlunya penanganan yang berbeda dibandingkan pelaku dewasa, yaitu dengan mengedepankan pendekatan pemulihan dan pembinaan daripada sekadar pemberian sanksi pidana. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur mekanisme diversi sebagai upaya penyelesaian perkara di luar peradilan formal dengan pendekatan keadilan restoratif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan diversi dalam perkara pencurian oleh anak serta menilai efektivitasnya berdasarkan Penetapan Nomor 1/Pid.Sus-Anak/2021/PN Pwt. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan studi kasus, menggunakan bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan diversi telah berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan kesepakatan damai antara pelaku dan korban. Efektivitas tersebut dianalisis menggunakan teori Soerjono Soekanto yang mencakup faktor hukum, penegak hukum, sarana, masyarakat, dan kebudayaan. Diversi terbukti mampu memberikan perlindungan terhadap hak anak, menghindarkan dampak negatif peradilan, serta mendukung reintegrasi sosial secara lebih manusiawi. Namun demikian, masih diperlukan upaya perbaikan terutama dalam pemulihan kerugian korban dan peningkatan pemahaman masyarakat. Dengan demikian, diversi tidak hanya menjadi alternatif penyelesaian perkara, tetapi juga sarana pembinaan berkelanjutan bagi anak agar dapat berkembang secara optimal dan terhindar dari pengulangan tindak pidana di masa mendatang serta mampu memperkuat peran keluarga dan lingkungan sosial dalam mendukung proses pembinaan anak secara konsisten dan berkelanjutan sehingga tujuan keadilan restoratif dapat tercapai secara lebih menyeluruh bagi semua pihak yang terlibat dalam perkara tersebut secara lebih adil.As the nation’s future generation, children have the right to legal protection that prioritizes their best interests. The rising number of criminal cases involving children across various regions of Indonesia underscores the need for an approach different from that used for adult offenders, one that emphasizes rehabilitation and guidance rather than merely imposing criminal sanctions. Law No. 11 of 2012 on the Juvenile Criminal Justice System regulates the mechanism of diversion to resolve cases outside the formal court system using a restorative justice approach. This study aims to analyze the application of diversion in theft cases involving children and assess its effectiveness based on Decision No. 1/Pid.Sus-Anak/2021/PN Pwt. The method used is a normative legal analysis employing a legislative and case study approach, utilizing primary and secondary legal sources of information. The research results indicate that the implementation of diversion has proceeded in accordance with regulations and has resulted in a peace agreement between the perpetriser and the victim. This effectiveness was analyzed using Soerjono Soekanto’s theory, which encompasses legal factors, law enforcement, resources, society and culture. Diversion has proven capable of protecting children’s rights, mitigating the negative impacts of the judicial process, and supporting social reintegration in a more humane way. However, further improvements are still needed, particularly regarding the restitution of victims losses and enhancing public understanding of the issue. Thus, diversion is not only an alternative for resolving cases but also a means of continuous guidance for children to develop optimally and avoid future criminal recidivism while strengthening the role of families and the social environment in consistently and sustainably supporting the child’s rehabilitation process. This ensures that the goals of restorative justice are achieved more comprehensively and fairly for all parties involved.
5061054007L1C022045Status Reproduksi Pocillopora verrucosa (Scleractinia) di Perairan Karangkandri, CilacapEkosistem terumbu karang di perairan yang berdekatan dengan area industri seringkali menghadapi tekanan lingkungan yang kompleks, terutama terkait tingginya tingkat sedimentasi dan polusi termal yang dapat memengaruhi fisiologi karang. Penelitian ini mengkaji kondisi histologi karang Pocillopora verrucosa di perairan Karangkandri, Cilacap, yang secara geografis terpapar oleh aktivitas antropogenik dan beban sedimen yang dinamis. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi status perkembangan gonad, sistem seksualitas, dan prediksi waktu pemijahan pada perairan Karangkandri, Cilacap. Sampel karang diambil pada Januari 2026 menggunakan metode purposive sampling, yang kemudian diproses melalui tahapan fiksasi, dekalsifikasi, dehidrasi, clearing, embedding, sectioning, mounting dan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE). Diperoleh 16 preparat (3 repetisi irisan) dari 8 cabang yang di ambil dari 4 koloni dari 2 stasiun. Hasil analisis mikroskopis menunjukkan bahwa jaringan P. verrucosa masih memiliki struktur dasar yang lengkap, meliputi lapisan epidermis, mesoglea, dan gastrodermis. Zooxanthellae ditemukan melimpah pada lapisan gastrodermis, mengindikasikan aktivitas simbiosis yang masih berjalan. Namun, pada seluruh preparat yang diamati, tidak ditemukan adanya struktur gonad. Tidak adanya gonad pada periode pengamatan diduga berkaitan dengan fase istirahat. Secara umum, meskipun struktur jaringan tetap terjaga, P. verrucosa di perairan Karangkandri berada dalam kondisi fase istirahat tanpa adanya aktivitas gametogenesis pada saat pengambilan sampel.Coral reef ecosystems in waters adjacent to industrial areas often face complex environmental pressures, particularly related to high levels of sedimentation and thermal pollution that can affect coral physiology. This study examines the histological condition of the coral Pocillopora verrucosa in the waters of Karangkandri, Cilacap, which is geographically exposed to anthropogenic activities and dynamic sediment loads. The purpose of this study was to identify gonad development status, sexuality system, and predicted spawning time in Karangkandri waters, Cilacap. Coral samples were collected in January 2026 using a purposive sampling method, which were then processed through the stages of fixation, decalcification, dehydration, clearing, embedding, sectioning, mounting, and Hematoxylin-Eosin (HE) staining. A total of 16 preparations (3 slice repetitions) were obtained from 8 branches taken from 4 colonies across 2 stations. Microscopic analysis results showed that the tissue of P. verrucosa still possessed a complete basic structure, including the epidermis, mesoglea, and gastrodermis layers. Zooxanthellae were found in abundance in the gastrodermis layer, indicating ongoing symbiotic activity. However, across all observed preparations, no gonadal structures were found. The absence of gonads during the observation period is suspected to be related to a resting phase. In general, although the tissue structure remains preserved, P. verrucosa in Karangkandri waters was in a resting phase condition without any gametogenesis activity at the time of sampling.
5061154011A1C022016Analisis Preferensi Konsumen Menggunakan Metode Conjoint Analysis pada Kopi Starbucks di Kabupaten Banyumas Budaya konsumsi kopi modern di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat, termasuk di wilayah non metropolitan seperti Kabupaten Banyumas. Kehadiran coffee shop internasional seperti Starbucks tidak hanya mengubah pola konsumsi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup modern, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik konsumen Starbucks di Banyumas, mengetahui tingkat kepentingan setiap atribut dalam membentuk preferensi konsumen menggunakan conjoint analysis, serta mengetahui kombinasi level atribut yang paling disukai oleh konsumen.
Penelitian dilakukan di wilayah Banyumas selama November 2025 hingga Februari 2026 menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan conjoint analysis. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dan accidental sampling terhadap 100 responden yang memenuhi kriteria, yaitu berusia minimal 17 tahun, pernah membeli produk Starbucks minimal tiga kali, serta berdomisili di Banyumas. Data dikumpulkan melalui kuesioner secara offline dan online. Atribut yang dianalisis meliputi rasa, aroma, harga, asal kopi, roasting, varian, kandungan gula, kemasan, pelayanan, penyajian, dan fasilitas. Kombinasi atribut disusun menggunakan fractional factorial design sehingga diperoleh 27 stimulus yang dinilai responden menggunakan rating scale.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen kopi Starbucks di Banyumas menyukai pelayanan memuaskan, kandungan gula sedikit, rasa seimbang, harga >Rp30.000, penyajian cold, fasilitas lengkap, varian milkbased, kemasan small, roasting medium, aroma kuat dan asal kopi Indonesia. Berdasarkan hasil conjoint analysis, atribut dengan tingkat kepentingan tertinggi adalah pelayanan, kemudian diikuti oleh kandungan gula, rasa, harga, penyajian, fasilitas, varian, kemasan, roasting, aroma, dan asal kopi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa preferensi konsumen Starbucks di Banyumas tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas produk kopi, tetapi juga oleh pengalaman konsumsi secara keseluruhan, seperti suasana tempat, pelayanan, dan citra merek. Kehadiran Starbucks di Banyumas mencerminkan perubahan budaya konsumsi kopi dari tradisional menuju gaya hidup modern yang dipengaruhi globalisasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Starbucks dan pelaku usaha kopi lainnya dalam menyusun strategi pemasaran, pengembangan produk, serta peningkatan kualitas layanan sesuai preferensi konsumen di wilayah non metropolitan.
Modern coffee consumption culture in Indonesia is experiencing rapid development, including in non metropolitan areas such as Banyumas Regency. The presence of international coffee shops like Starbucks has not only changed people's consumption patterns but has also become part of the modern lifestyle, especially among students and the younger generation. This study aims to determine the characteristics of Starbucks consumers in Banyumas, to determine the importance level of each attribute in shaping consumer preferences using conjoint analysis, as well as to identify the combination of attribute levels most preferred by consumers.
This study was conducted in the Banyumas region from November 2025 to February 2026 using a descriptive quantitative method with a conjoint analysis approach. Sampling was conducted using a purposive sampling technique and accidental sampling with 100 respondents who met the following criteria: at least 17 years old, having purchased Starbucks products at least three times and residing in Banyumas. Data were collected through offline and online questionnaires. The attributes analyzed included taste, aroma, price, coffee origin, roasting, variants, sugar content, packaging, service, presentation, and amenities. The combination of attributes was arranged using a fractional factorial design, resulting in 27 stimuli, which were rated by respondents using a rating scale.
The results of the study indicate that Starbucks coffee consumers in Banyumas prefer satisfactory service, low sugar content, balanced taste, price >Rp30,000, cold serving, complete facilities, milk based variants, small packaging, medium roasting, strong aroma, and Indonesian coffee origin. Based on the results of the conjoint analysis, the attribute with the highest level of importance is service, followed by sugar content, taste, price, serving, facilities, variants, packaging, roasting, aroma, and coffee origin. This study concludes that Starbucks consumer preferences in Banyumas are not only influenced by the quality of coffee products, but also by the overall consumption experience, such as the atmosphere of the place, service, and brand image. The presence of Starbucks in Banyumas reflects the change in coffee consumption culture from a traditional to a modern lifestyle influenced by globalization. The results of this study are expected to be a consideration for Starbucks and other coffee business actors in developing marketing strategies, product development, and improving service quality according to consumer preferences in non-metropolitan areas.
5061253997A1A021082FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MINAT TERHADAP PEKERJAAN DI SEKTOR PERTANIAN PADA SISWA-SISWI SMKN 1 KALIBAGOR DI KABUPATEN BANYUMASSektor pertanian masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja yang cukup besar di Indonesia, namun sektor pertanian belum sepenuhnya mampu menarik minat tenaga kerja, khususnya generasi muda, untuk berkarier secara konsisten di bidang pertanian, sehingga diperlukan analisis mengenai faktor-faktor yang memengaruhi minat terhadap pekerjaan di sektor pertanian pada siswa SMKN 1 kalibagor. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui minat terhadap pekerjaan di sektor pertanian pada siswa-siswi SMK Pertanian di Kabupaten Banyumas, (2) mengetahui pengaruh motivasi terhadap minat bekerja di sektor pertanian (3) mengetahui pengaruh persepsi siswa-siswi terhadap minat bekerja di sektor pertanian (4) mengetahui pengaruh pengalaman pribadi dalam bertani terhadap minat bekerja di sektor pertanian (5) mengetahui pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat bekerja di sektor pertanian.
Penelitian ini dilaksanakan di SMKN 1 Kalibagor Kabupaten Banyumas pada bulan November-Desember 2025. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk pengumpulan data, objek penelitian adalah minat siswa-siswi terhadap pekerjaan di sektor pertanian. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, penentuan jumlah sampel menggunakan tabel Krejcie and Morgan dengan jumlah sampel 144 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner Google Form, wawancara langsung, dan dokumentasi dengan pengukuran skala Likert empat tingkat. Analisis data menggunakan Pearson Correlation dengan bantuan software SPSS dan Structural Equation Modeling - Partial Least Square (SEM-PLS) dengan software SmartPLS 4 untuk menguji hubungan antar variabel eksogen (motivasi, persepsi, pengalaman bertani, pengaruh lingkungan keluarga) dengan variabel endogen (minat terhadap pekerjaan di sektor pertanian).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat siswa-siswi SMKN 1 Kalibagor terhadap sektor pertanian di Kabupaten Banyumas termasuk kategori tinggi dengan presentase 56.95%. Variabel motivasi (X1), persepsi (X2), dan lingkungan keluarga (X4) berpengaruh signifikan terhadap variabel minat terhadap sektor pertanian (Y), sedangkan variabel pengalaman (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel minat (Y). Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat tiga variabel yang berpengaruh signifikan terhadap minat siswa-siswi SMKN 1 Kalibagor pada sektor pertanian di Kabupaten Banyumas, yaitu variabel motivasi dapat mendorong siswa untuk melihat peluang dan manfaat yang ditawarkan sektor pertanian, sementara persepsi yang positif akan membentuk pandangan yang baik terhadap prospek sektor tersebut, serta semakin besar dukungan yang diberikan oleh keluarga, maka semakin tinggi minat mereka untuk terlibat atau berkarier di bidang pertanian.
The agricultural sector is still one of the largest employers of labor in Indonesia, but the agricultural sector has not been fully able to attract the interest of the workforce, especially the younger generation, to have a consistent career in agriculture, so an analysis of the factors that affect interest in work in the agricultural sector in SMKN 1 Kalibagor students is needed. This study aims to (1) find out the interest in work in the agricultural sector among students of the Agricultural Vocational School in Banyumas Regency, (2) find out the influence of motivation on interest in working in the agricultural sector (3) find out the influence of students' perception on interest in working in the agricultural sector (4) find out the influence of personal experience in farming on interest in working in the agricultural sector (5) find out the influence of the family environment on interest in working in the agricultural sector.
This research was carried out at SMKN 1 Kalibagor, Banyumas Regency in November-December 2025. This study uses a survey method for data collection, the object of the research is the interest of students in work in the agricultural sector The sampling method uses the purposive sampling technique, determining the number of samples using the Krejcie and Morgan table with a sample of 144 people. Data collection was conducted through Google Form questionnaires, live interviews, and documentation with five-level Likert scale measurements. Data analysis used Pearson Correlation with software SPSS and Structural Equation Modeling - Partial Least Square (SEM-PLS) with SmartPLS 4 software to test the relationship between exogenous variables (motivation, perception, farming experience, influence of the family environment) and endogenous variables (interest in work in the agricultural sector).
The results of the study show that the interest of SMKN 1 Kalibagor students in the agricultural sector in Banyumas Regency is in the high category with a percentage of 56.95%. The variables of motivation (X1), perception (X2), and family environment (X4) had a significant effect on the variables of interest in the agricultural sector (Y), while the experience variable (X3) had no significant effect on the variables of interest (Y). This shows that there are three variables that have a significant effect on the interest of SMKN 1 Kalibagor students in the agricultural sector in Banyumas Regency, namely motivational variables can encourage students to see the opportunities and benefits offered by the agricultural sector, while a positive perception will form a good view of the prospects of the sector, as well as the greater the support provided by the family, So the higher their interest in getting involved or having a career in agriculture.
5061354016H1D022040IMPLEMENTASI DAN ANALISIS PERFORMA LIBRARY LEAFLET, OPENLAYERS, DAN MAPBOX GL JS PADA SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERSEBARAN KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN KABUPATEN BANYUMAS BERBASIS WEBSITESistem Informasi Geografis (SIG) berbasis website memerlukan pemilihan library pemetaan yang tepat untuk menghasilkan performa dan visualisasi yang optimal. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan serta menganalisis performa library Leaflet, OpenLayers, dan Mapbox GL JS pada Sistem Informasi Geografis Persebaran Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kabupaten Banyumas berbasis website. Pengembangan sistem menggunakan metode Waterfall, sedangkan analisis performa dilakukan berdasarkan waktu pemuatan (loading time), penggunaan memori (memory usage), dan efisiensi resource menggunakan Google Lighthouse dan Chrome DevTools. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Leaflet memiliki performa terbaik pada seluruh parameter pengujian, OpenLayers menunjukkan performa yang mendekati Leaflet, sedangkan Mapbox GL JS memiliki penggunaan memori dan resource yang lebih tinggi, tetapi menawarkan visualisasi berbasis WebGL yang lebih baik. Berdasarkan hasil tersebut, Leaflet menjadi library yang paling optimal untuk implementasi Sistem Informasi Geografis Persebaran Kelompok Pembudidaya Ikan Kabupaten Banyumas berbasis website.A web-based Geographic Information System (GIS) requires an appropriate web mapping library to achieve optimal performance and visualisation. This study aims to implement and analyse the performance of the Leaflet, OpenLayers, and Mapbox GL JS libraries in a web-based Geographic Information System for the distribution of Fish Farmer Groups (Pokdakan) in Banyumas Regency. The system was developed using the Waterfall method, while the performance analysis was conducted based on loading time, memory usage, and resource efficiency using Google Lighthouse and Chrome DevTools. The results show that Leaflet achieved the best performance across all evaluation parameters, OpenLayers demonstrated performance comparable to Leaflet, whereas Mapbox GL JS required higher memory and resource usage but offered superior WebGL-based map visualisation. Based on these findings, Leaflet is the most suitable library for implementing a web-based Geographic Information System for the distribution of Fish Farmer Groups in Banyumas Regency
5061454017J0A023066Translating “MCM 2.0 General Terms and Conditions” in Registration Form of Mandiri Cash Management
2.0 Application from Indonesian into English
Laporan Praktik Kerja Lapangan ini berfokus pada penerjemahan “Syarat dan Ketentuan Umum MCM 2.0” dalam Formulir Pendaftaran Aplikasi Mandiri Cash Management 2.0 dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris di Bank Mandiri KC Purwokerto. Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk mengimplementasikan kegiatan magang di Bank Mandiri KC Purwokerto, untuk menerjemahkan dokumen “Syarat dan Ketentuan Umum” MCM 2.0, untuk menjelaskan proses, teknik, rintangan dan solusi dalam menerjemahkan dokumen tersebut.
Proses penerjemahan dilakukan menggunakan tiga tahapan menurut Nida dan Taber, yaitu: Analisis (Analysis), Pengalihan (Transfer), dan Restrukturisasi (Restructuring). Karena sifat dokumen sumber yang kental dengan aspek bisnis, hukum, dan administratif, pendekatan penerjemahan sangat mengutamakan keakuratan hukum dibandingkan adaptasi budaya untuk memastikan validitas administratif dokumen tetap terjaga.
Empat belas teknik penerjemahan dari Molina dan Albir diterapkan dalam menerjemahkan dokumen pada laporan ini. Kesepadanan Lazim (Established Equivalence) merupakan teknik yang paling dominan digunakan guna memastikan terminologi hukum dan perbankan memiliki padanan standar yang diakui secara internasional. Beberapa teknik lain yang juga digunakan meliputi peminjaman (borrowing), terjemahan harfiah (literal translation), transposisi (transposition), amplifikasi (amplification), dan reduksi (reduction).
Kendala utama yang dihadapi selama proses penerjemahan adalah ketidakpahaman terhadap jargon khusus perbankan dan sulitnya menerjemahkan akronim institusi Indonesia yang sangat terikat budaya, seperti Bukti Penerimaan Negara (BPN). Tantangan ini berhasil diselesaikan melalui studi literatur mandiri, konsultasi secara mendalam dengan pembimbing, serta penambahan anotasi kontekstual untuk memastikan informasi tersebut dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca global.
This job training report focuses on translating the “General Terms and Conditions of MCM 2.0” in Registration Form of Mandiri Cash Management 2.0 Application from Indonesian into English at Bank Mandiri KC Purwokerto. The purposes of this report were to explain the job training implementation, to translate the “General Terms and Conditions” of MCM 2.0, to explain the translation process and techniques, and to explain the obstacles and solution.
The translation process was conducted using Nida and Taber’s three stages: Analysis, Transfer, and Restructuring. Due to the legal, business, and administrative nature of the source document, the translation approach heavily prioritized legal accuracy over cultural adaptation to ensure the preservation of the document’s administrative validity.
Fourteen translation techniques proposed by Molina and Albir were applied in translating the document. Established Equivalence was the most dominant technique, functioning to ensure that specific legal and banking terminology possesses standard, internationally recognized equivalents. Other applied techniques include borrowing, literal translation, transposition, amplification, and reduction.
The primary obstacles encountered during the translation process involved unfamiliarity with specialized banking jargon and the difficulty of translating culture-specific Indonesian institutional acronyms, such as Bukti Penerimaan Negara (BPN). These challenges were successfully resolved by conducting independent literature study, consulting with the supervisor, and providing contextual annotations to ensure complete clarity for a global audience.
5061554022C1I020023Intention to Use of e-Faktur from Pengusaha Kena Pajak (PKP) with Unified Theory Acceptance and Use of Technology (UTAUT) at Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Purwokerto.ABSTRAKSI
Penelitian ini mengambil judul: MINAT PEGGUNAAN E-FAKTUR DARI
PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP) DENGAN UNIFIED THEORY OF
ACCEPTANCE DAN USE OF TECHNOLOGY (UTAUT) DI KANTOR
PELAYANAN PAJAK (KPP) PRATAMA PURWOKERTO. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh ekspektasi kinerja, ekspektasi upaya, pengaruh
sosial, dan kondisi yang memfasilitasi terhadap niat berperilaku yang dimoderasi
dengan usia perusahaan.
Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode pengumpulan data dari
sejumlah responden dan menggunakan instrumen kuesioner yang terstandar.
Dengan resonansi PKP yang terdaftar di KPP Purwokerto. Jumlah responden yang
diambil dalam penelitian ini sebanyak 101 responden dengan metode purposive
sampling dalam menentukan responden.
Berdasarkan hasil penelitian ini dan analisis data menggunakan metode
UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Technology), ditunjukkan sebagai
berikut. Pertama, Ekspektasi Kinerja berpengaruh positif terhadap niat dalam
menggunakan e-Faktur. Kedua, Ekspektasi Upaya berpengaruh positif terhadap niat
dalam menggunakan e- Faktur. Ketiga, Pengaruh Sosial tidak berpengaruh negatif
terhadap niat dalam e- Faktur. Keempat, Kondisi Memfasilitasi berpengaruh positif
terhadap niat dalam e- Faktur. Kelima, Usia Perusahaan berpengaruh positif
terhadap niat dalam e- Faktur.
Implikasi dari simpulan di atas memiliki dua implikasi. Pertama, secara
teoritis, hasil penelitian ini akan menambah referensi literatur bagi Universitas
Jenderal Soedirman tentang Ekspektasi Kinerja, Ekspektasi Upaya, Pengaruh
Sosial, Kondisi Memfasilitasi dan Usia Perusahaan terhadap niat dalam
penggunaan e-faktur. Kedua, secara praktis yang terbagi menjadi 2 hal. Pertama,
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan informasi penting terkait adopsi
teknologi perpajakan dalam pengambilan keputusan di Indonesia, khususnya dalam
penggunaan e-Faktur oleh PKP pajak di Purwokerto. Kedua, untuk meningkatkan
minat penggunaan e- Faktur, Pemerintah dan otoritas pajak dapat meningkatkan
program sosialisasi dan pelatihan mengenai manfaat dan kemudahan penggunaan
e- Faktur. Akses internet yang stabil dan kompatibilitas yang lebih baik akan
memudahkan pengguna dalam mengadopsi e- Faktur. Penelitian ini dapat
diaplikasikan pada aplikasi terbaru di tahun 2025 yaitu CORETAX.
SUMMARY
This research takes the title: INTENTION TO USE E-FAKTUR FROM
PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP) WITH UNIFIED THEORY OF
ACCEPTANCE AND SE OF TECHNOLOGY (UTAUT) AT KANTOR
PELAYANAN PAJAK (KPP) PRATAMA PURWOKERTO. The purpose of this
study is to determine the influence of performance expectancy, effort expectancy,
social influence, and facilitating conditions on behavioral intention moderated with
the age of the Company.
This research is research with a data collection method from a number of
respondents and using standardized questionnaire instruments. With the resonance
of PKP registered with KPP Purwokerto. The number of respondents taken in this
research was 101 respondents with a purposive sampling method in determining
respondents.
Based on the results of this study and data analysis using the UTAUT
(Unified Theory of Acceptance and Technology) method, it is shown as follows.
First, Performance Expectancy has a positive effect on intention in using e-Faktur
Second, Effort Expectancy has a positive effect on intention in using e- Faktur.
Third, Social Influence has no negative effect on intention in e- Faktur. Fourth,
Facilitating Condition has a positive effect on intention in e- Faktur. Fifth, Company
age has a positive effect on intention in e- Faktur.
The implications of the above conclusion have two implications. First,
theoretically, the results of this research will add to the literature reference for
Jenderal Soedirman University about Performance Expectancy, Effort Expectancy,
Social Influence, Facilitating Conditions and the Company's age to intention in the
use of e- Faktur. Second, practically which is divided into 2 things. First, The results
of this research can be an important information input related to adoption decisionmaking taxation technology in Indonesia, especially in the use of e- Faktur by tax
PKPs in Purwokerto. Second, to increase interest in the use of e- Faktur, the
Government and tax authorities can increase socialization and training programs
regarding the benefits and ease of use of e- Faktur. Such as stable internet access and
increased compatibility, it will make it easier for users to adopt e- Faktur. This
research can be applied to the latest application in 2025, namely CORETAX.
Keywords: Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT),
Pengusaha kena pajak(PKP).
5061654023D3A022006Risk management analysis of beef cattle agribusiness to mitigate foot-and-mouth disease outbreak: A case study in Banyumas, Indonesia Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terus menjadi ancaman signifikan bagi usaha peternakan sapi potong rakyat di negara-negara berkembang; namun, penerapan prinsip-prinsip manajemen risiko dalam pencegahan PMK di tingkat peternakan masih belum banyak diteliti. Penelitian ini mengkaji kemampuan manajemen risiko pada agribisnis sapi potong di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, melalui empat dimensi: identifikasi risiko, evaluasi risiko, mitigasi risiko, dan kemampuan adaptif, dengan menggunakan data survei dari 29 peternak yang terdampak wabah PMK tahun 2022. Metode *purposive sampling* diterapkan untuk mencerminkan keragaman praktik usaha peternakan sapi potong rakyat. Peternak yang terlibat dalam aspek manajemen, pemeliharaan, hingga pemasaran dipilih untuk merepresentasikan keragaman praktik, pengalaman, dan sistem manajemen di kalangan peternak rakyat. Data menunjukkan bahwa peternak tidak melakukan vaksinasi sebelum wabah terjadi dan menggunakan pengobatan herbal sebagai respons utama terhadap infeksi. Sekitar dua pertiga peternak melaporkan adanya 1 hingga 2 ekor sapi yang terinfeksi per peternakan, dengan durasi penyakit berkisar antara 15 hingga 21 hari. Meskipun peternak mampu mengenali gejala awal, respons yang mereka ambil kurang tepat, yakni dengan menjual sapi yang terinfeksi, sehingga memperparah penyebaran penyakit di sepanjang rantai pasar. Tren ini mengindikasikan bahwa kerentanan usaha peternakan sapi potong lebih banyak disebabkan oleh kelemahan sistemik dalam integrasi manajemen risiko dibandingkan semata-mata oleh faktor biologis. Penelitian ini merupakan salah satu yang pertama mengintegrasikan perilaku adaptif peternak ke dalam kerangka kerja manajemen risiko yang terstruktur, serta memberikan wawasan yang relevan bagi kebijakan untuk memperkuat pengendalian PMK yang berkelanjutan dalam konteks peternakan rakyat dengan keterbatasan sumber daya.Foot-and-Mouth Disease (FMD) continues to pose a significant threat to smallholder beef cattle agriculture in developing nations, however the incorporation of risk management principles into farmlevel FMD prevention remains understudied. This study examined the risk management capabilities of beef cattle agribusiness in Banyumas Regency, Central Java, Indonesia, across four dimensions: risk identification, risk evaluation, risk mitigation, and adaptive ability, utilizing survey data from 29 farmers affected during 2022 FMD outbreak. The purposive sampling was applied to reflect the diverse business practices of smallholder beef cattle. Farmers experiencing management and maintenance involvement in marketing samples were chosen to reflect the diversity of practices, experiences, and management systems among smallholder farmers. The data indicated that farmers did not vaccinate cattle before the outbreak and utilized herbal treatment as the primary response to infection. Around two-thirds of the farmers reported 1 to 2 cattle infected per farm, while the disease lasted for 15 to 21 days. While farmers were able to recognize early symptoms, their response was poorly managed by selling the infected cattle, which amplified the spread of disease across the market chain. This trend suggests that the susceptibility of beef cattle agriculture was largely due to systemic deficiencies in risk management integration rather than solely biological causes. This research is among the first to integrate farmers adaptive behaviors into a structured risk management framework providing policy-relevant insights for bolstering sustainable FMD control in resource-limited smallholder contexts.
5061754024E1B022026THE APPLICATION OF IDEALISTIC CONCURCUS IN THE CRIME OF MURDER BY A HUSBAND AGAINST HIS WIFE (District Court Decision Number 89/Pid.B/2025/PN Srh) Concursus adalah keadaan ketika seseorang melakukan lebih dari satu tindak pidana atau satu perbuatan yang memenuhi lebih dari satu ketentuan pidana, sehingga diperlukan pengaturan untuk menentukan penerapan dan penjatuhan pidananya. Penelitian ini bertujuan: Untuk mengetahui penerapan concurcus idealis dalam peristiwa pidana pembunuhan oleh suami terhadap isterinya pada Putusan Pengadilan Negeri Sei Rampah Nomor 89/Pid.B/2025/PN Srh. Kedua Untuk mengetahui penerapan concurcus idealis dalam peristiwa pidana pembunuhan oleh suami terhadap isterinya pada Putusan Pengadilan Negeri Sei Rampah Nomor 89/Pid.B/2025/PN Srh, apa sudah tepat. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif, bersifat preskriptif, dengan data sekunder yang dikumpulkan melalui studi kepustakaan, disajikan dalam bentuk uraian dan dianalisis secara normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Penelitian ini membahas penerapan concursus idealis dalam Putusan Pengadilan Negeri Sei Rampah Nomor 89/Pid.B/2025/PN Srh terkait tindak pidana pembunuhan oleh suami terhadap istrinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbuatan Terdakwa menimbulkan satu rangkaian akibat berupa kematian korban Lisa Putri dan luka berat pada Saksi Suyati, sehingga secara teoritis memenuhi Pasal 340 KUHP dan Pasal 351 ayat (2) KUHP serta konsep concursus idealis sebagaimana Pasal 63 ayat (1) KUHP. Namun, dalam praktiknya Penuntut Umum menggunakan dakwaan kumulatif dan Majelis Hakim menyatakan Terdakwa terbukti melanggar kedua pasal tersebut tanpa menegaskan penerapan asas absorpsi. Di sisi lain, berdasarkan fakta adanya serangkaian tindakan dengan alat dan korban yang berbeda, konstruksi yang lebih tepat adalah concursus realis sebagaimana Pasal 65 KUHP. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara konstruksi teoritis dan penerapan dalam putusan terkait konsep concursus dalam perkara tersebut.Concursus refers to a situation in which a person commits more than one criminal act or a single act that fulfills more than one criminal provision, thereby requiring legal rules to determine the application and imposition of punishment. This study aims: first, to examine the application of concursus idealis in the criminal act of murder committed by a husband against his wife in the Decision of the Sei Rampah District Court Number 89/Pid.B/2025/PN Srh; and second, to determine whether the application of concursus idealis in the case is appropriate. This research uses a normative juridical approach, is descriptive-prescriptive in nature, and relies on secondary data collected through literature study, presented in descriptive form and analyzed using qualitative normative analysis. The results of the study show that the Defendant’s actions resulted in a single series of consequences, namely the death of the victim Lisa Putri and serious injury to the witness Suyati, which theoretically fulfills Article 340 of the Indonesian Criminal Code and Article 351 paragraph (2) of the Criminal Code, as well as the concept of concursus idealis under Article 63 paragraph (1) of the Criminal Code. However, in practice, the Public Prosecutor applied cumulative charges and the Panel of Judges found the Defendant guilty of violating both provisions without explicitly applying the principle of absorption. On the other hand, based on the facts indicating a series of separate actions involving different instruments and victims, the more appropriate legal construction is concursus realis under Article 65 of the Criminal Code. Thus, there is a discrepancy between the theoretical construction and its application in the court decision regarding the concept of concursus in this case.
5061854027A1F022003PENDUGAAN UMUR SIMPAN SNACK GRUBI DENGAN BERBAGAI JENIS KEMASAN MENGGUNAKAN METODE PENDEKATAN KADAR AIR KRITISGrubi merupakan pangan tradisional berbahan dasar ubi jalar yang digoreng dan dicampur dengan gula merah sehingga memiliki tekstur renyah dan rasa manis. Grubi termasuk pangan kering yang mudah mengalami penurunan mutu selama penyimpanan akibat penyerapan uap air dan oksidasi lemak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan yang berbeda terhadap kadar asam lemak bebas dan mengetahui umur simpan snack grubi yang dikemas menggunakan kemasan polipropilen, composite can, dan aluminium foil pada suhu ruang.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan November 2025 sampai Februari 2026. Metode yang digunakan yaitu Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) dengan persamaan Bell dan Labuza. Jenis kemasan yang digunakan meliputi standing pouch polipropilen (PP), aluminium foil standing pouch, dan composite can. Parameter yang diamati meliputi kadar FFA (Free Fatty Acid), kadar air awal, kadar air kritis, kadar air kesetimbangan, kurva isotermis sorpsi air, permeabilitas kemasan, dan pendugaan umur simpan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar FFA meningkat selama penyimpanan pada semua jenis kemasan, namun peningkatan paling rendah terjadi pada kemasan aluminium foil. Kadar air awal grubi sebesar 0,025 gr H₂O/gr padatan, kadar air kritis sebesar 0,078 gr H₂O/gr padatan, dan kadar air kesetimbangan sebesar 0,269 gr H₂O/gr padatan. Nilai slope kurva isotermis sorpsi air diperoleh sebesar 0,0382 dengan nilai R² sebesar 0,9819. Hasil uji permeabilitas menunjukkan bahwa kemasan polipropilen memiliki permeabilitas uap air tertinggi dibandingkan dengan aluminium foil dan composite can. Hasil pendugaan umur simpan menunjukkan bahwa kemasan polipropilen memiliki umur simpan sekitar 176 hari (5 bulan), composite can sekitar 192 hari (6,4 bulan), dan aluminium foil sekitar 255 hari (8,5 bulan) di suhu ruang sekitar 32°C.
Grubi is a traditional food made from sweet potatoes that are fried and mixed with palm sugar, resulting in a crunchy texture and sweet taste. Grubi is a dry food that is prone to quality deterioration during storage due to moisture absorption and fat oxidation. This study aims to determine the shelf life of grubi snack using the critical moisture content approach, investigate the effect of different types of packaging on shelf life, and identify the best packaging for maintaining product quality.
The research was conducted at the Food Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from November 2025 to February 2026. The method used was Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) with Bell and Labuza equations. The packaging types used included polypropylene (PP) standing pouch, aluminum foil standing pouch, and composite can. The observed parameters included FFA (Free Fatty Acid) content, initial moisture content, critical moisture content, equilibrium moisture content, water sorption isotherm curve, packaging permeability, and shelf life estimation.
The results of the study showed that FFA levels increased during storage in all types of packaging, although the lowest increase occurred in aluminium foil packaging. The initial moisture content was 0.025 gr H₂O/gr solid, the critical moisture content was 0.078 gr H₂O/gr solid, and the equilibrium moisture content was 0.269 gr H₂O/gr solid. The slope of the water sorption isotherm curve was found to be 0.0382, with an R² value of 0.9819. Permeability test results showed that polypropylene packaging had the highest water vapour permeability compared with aluminium foil and composite cans. The estimated shelf-life results indicate that the polypropylene packaging has a shelf life of approximately 176 days (5 months), the composite can approximately 192 days (6.4 months), and the aluminium foil approximately 255 days (8.5 months) at a room temperature of around 32°C.