Home
Login.
Artikelilmiahs
51281
Update
MUHAMMAD ASY SYIF MUBAROK
NIM
Judul Artikel
Rekognisi Axel Honneth dalam Sosiologi Kritis
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Teori rekognisi yang dikembangkan Axel Honneth menawarkan arah baru bagi Teori Kritis dengan mengganti pijakan analitisnya dari rasionalitas instrumental dan model komunikatif menuju paradigma pengakuan. Berangkat dari kritik imanen terhadap generasi sebelumnya, Honneth menegaskan bahwa potensi emansipatoris justru berakar pada pengalaman moral yang sering kali berlangsung pra-linguistik. Melalui pembacaan naturalistik atas Hegel dan sintesis dengan psikologi sosial Mead, ia merumuskan tiga ranah pengakuan, cinta, hak, dan solidaritas, yang masing-masing menopang pembentukan relasi-diri praktis, yakni kepercayaan diri dasar, rasa hormat diri, dan harga diri. Dinamika sosial dipahami bergerak melalui pengalaman ketiadaan penghormatan yang melukai integritas personal dan memicu perlawanan moral. Untuk mengungkap struktur moral konflik sosial tersebut, Honneth mengembangkan pendekatan berlapis yang memadukan rekonstruksi materialis, fenomenologi-empiris, dan pembacaan historis-kritis. Secara normatif, teori ini mengarah pada konsepsi formal mengenai kehidupan etis yang menuntut tatanan sosial berbasis kondisi-kondisi intersubjektif bagi realisasi diri. Dengan demikian, proyek Honneth memperluas horizon Teori Kritis dengan menautkannya pada pengalaman konkret ketidakadilan dan pada kapasitas transformatif yang lahir dari perjuangan untuk pengakuan.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Axel Honneth’s theory of recognition offers a renewed orientation for Critical Theory by shifting its analytical foundation away from instrumental rationality and communicative models toward a recognition-centered paradigm. Drawing on immanent critiques of the predecessors, Honneth argues that emancipatory potential is rooted in moral experiences that often operate at a pre-linguistic level. Through a naturalistic reinterpretation of the Hegel in dialogue with Mead’s social psychology, he formulates three spheres of recognition, love, rights, and solidarity, each of which underpins practical self-relations, that is basic self-confidence, self-respect, and self-esteem. Social dynamics are understood to be propelled by experiences of disrespect that injure personal integrity and provoke moral resistance. To uncover the moral grammar of such conflicts, Honneth develops a multilayered methodological approach that combines materialist reconstruction, phenomenological-empirical inquiry, and historical-critical interpretation. Normatively, the theory converges on a formal conception of ethical life, one that demands social arrangements capable of securing intersubjective conditions for self-realization. In this way, Honneth’s project broadens the horizon of Critical Theory by grounding it in concrete experiences of injustice and in the transformative potential inherent in struggles for recognition.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save