Home
Login.
Artikelilmiahs
50764
Update
MUKHAMAD RIKO AZULFA
NIM
Judul Artikel
Perbandingan Performa Produksi Ayam Petelur Strain Lohmann Brown pada Sistem Pemeliharaan dengan Ketinggian Lokasi Berbeda
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa produksi ayam petelur strain Lohmann Brown pada dua lokasi budidaya dengan kondisi lingkungan yang berbeda, yaitu Kandang X di dataran tinggi (±620 mdpl) dan Kandang Y di dataran rendah (±145 mdpl). Pengamatan dilakukan pada fase produksi umur 25–35 minggu dengan menilai indikator kinerja Hen Day Production (HDP), Feed Conversion Ratio (FCR), dan mortalitas untuk menggambarkan tingkat produktivitas, efisiensi pemanfaatan pakan, dan kondisi kesehatan flock. Data diperoleh melalui pencatatan produksi harian dan observasi langsung sistem pemeliharaan, kemudian dianalisis menggunakan uji t dua sampel independen (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kandang X memiliki HDP lebih tinggi (94,67 ± 1,88) dan FCR lebih efisien (2,06 ± 0,07) dibandingkan Kandang Y (90,67 ± 0,90 dan 2,37 ± 0,45), dengan perbedaan signifikan (p < 0,01). Sementara itu, tingkat mortalitas antara kedua peternakan relatif rendah dan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata secara statistik (p = 0,054), menunjukkan bahwa perbedaan performa produksi bukan disebabkan oleh gangguan kesehatan, tetapi terutama oleh kondisi lingkungan termal. Dengan demikian, ketinggian lokasi dan suhu lingkungan berperan penting dalam menentukan efisiensi produksi ayam petelur.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study aims to compare the production performance of Lohmann Brown laying hens at two farming locations with different environmental conditions, namely Kandang X in the highlands (±620 metres above sea level) and Kandang Y in the lowlands (±145 metres above sea level). Observations were made during the 25–35 week production phase by assessing the performance indicators of Hen Day Production (HDP), Feed Conversion Ratio (FCR), and mortality to describe the level of productivity, feed utilisation efficiency, and flock health. Data were obtained through daily production records and direct observation of the maintenance system, then analysed using an independent two-sample t-test (α = 0.05). The results showed that Kandang X had a higher HDP (94.67 ± 1.88) and a more efficient FCR (2.06 ± 0.07) than Kandang Y (90.67 ± 0.90 and 2.37 ± 0.45), with a significant difference (p < 0.01). Meanwhile, the mortality rate between the two farms was relatively low and did not show a statistically significant difference (p = 0.054), indicating that the difference in production performance was not caused by health problems, but mainly by thermal environmental conditions. Thus, location altitude and environmental temperature play an important role in determining the production efficiency of laying hens.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save