Artikelilmiahs

Menampilkan 47.181-47.200 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4718150576A1F020083Karakteristik Sifat Fisik dan Kimia Ekstrak Anato Biji Buah Kesumba (Bixa orellana) pada Variasi Pengatur Keasaman dan Lama MaserasiEkstrak anato adalah pewarna alami berwarna oranye hingga merah yang diperoleh dari ekstraksi biji dari buah kesumba (Bixa orellana) dengan pigmen utama berupa bixin dan norbixin. Pigmen khas ini terkandung pada lapisan luar biji kesumba sehingga diperlukan proses ekstraksi salah satunya maserasi. Faktor yang berpengaruh pada ekstraksi diantaranya jenis pelarut, pH pelarut, dan lama maserasi. Jenis pelarut menentukan seberapa banyak pigmen yang terekstraksi sesuai dengan kepolarannya. Aquades sebagai pelarut yang sangat polar diharapkan mampu mengekstraksi bixin yang nonpolar melalui pengaturan pH yang diduga mampu menurunkan konstanta dielektrik dan kepolarannya. Pelarut aquades yang diatur kebasaan menjadi pH 9 dengan Na2CO3, K2CO3, dan MgCO3 belum dilakukan pada ekstrak anato. Lama maserasi menentukan seberapa lama pelarut kontak dengan zat terlarut, tetapi pada ekstraksi ini memiliki keterbatasan lama maserasi karena diduga dapat mendegradasi bixin sehingga maserasi dilakukan selama 5 menit; 7,5 menit; dan 10 menit. Interaksi antara jenis pengatur keasaman tersebut dengan lama maserasi belum dilakukan.
Penelitian dilakukan dengan memasukkan biji dari buah kesumba pada aquades yang telah diatur pH menjadi 9 menggunakan bahan tambahan pangan Na2CO3, K2CO3, dan MgCO3 dalam bentuk larutan pH 10. Dilakukan maserasi pada suhu 80℃ dan 2000 rpm serta disaring dengan kertas saring sehingga diperoleh ekstrak anato tanpa biji. Dilakukan pengujian sifat fisik meliputi warna, kekeruhan, dan total padatan, serta sifat kimia dari ekstrak anato yang terdiri dari pH, total bixin, total norbixin, total asam, kadar gula reduksi, dan kadar protein terlarut. Data dianalisis statistik ragam dengan tingkat ketelitian 95% dan dilakukan uji lanjut beda nyata terkecil (LSD).
Angka kemerahan tertinggi diperoleh dari perlakuan Na2CO3 (38,22) dan lama maserasi 10 menit (37,15). Kadar bixin tertinggi diperoleh dari perlakuan Na2CO3 (0,49%) dan interaksi Na2CO3 pada maserasi selama 5 menit (0,60%). Kadar norbixin tertinggi diperoleh dari perlakuan Na2CO3 (0,68%) dan lama maserasi 10 menit (0,71%). Kadar gula reduksi tertinggi diperoleh pada perlakuan Na2CO3 (1,13%), lama maserasi 10 menit (1,23%), dan interaksi Na2CO3 pada maserasi selama 10 menit (1,66%). Kadar protein terlarut tertinggi diperoleh dari perlakuan interaksi MgCO3 pada maserasi selama 7,5 menit (4,07%).
Annatto extract is a natural colorant, ranging from orange to red, obtained by extracting seeds from the Bixa orellana fruit. Its primary pigments are bixin and norbixin and concentrated in the outer layer of annatto seeds, so an extraction process is needed to isolate these pigments, such as maceration. Several key factors in extractions are type of solvent, solvent pH, and extraction time. The solvent type determines the quantity of pigment extracted, corresponding to its polarity. As a highly polar solvent, distilled water (aquades) is expected to extract nonpolar bixin as a main pigment through pH adjustment, which is hypothesized to reduce the dielectric constant and overall polarity of the solvent system. The use of Na₂CO₃, K₂CO₃, and MgCO₃ as aquades adjusted to an alkaline pH of 9 has not yet been thoroughly investigated for annatto extraction. Maceration time dictates the duration of contact between the solvent and the solute; however, this extraction method has limitations regarding maceration duration due to the suspected degradation of bixin. Therefore, maceration was performed for 5 minutes, 7.5 minutes, and 10 minutes. The interaction between these types of alkalinity regulators and extraction time has not been previously studied.
This study involved immersing anatto seeds in distilled water whose pH was adjusted to 9 using food-grade alkaline agents—specifically, Na₂CO₃, K₂CO₃, and MgCO₃—each prepared as a pH 10 solution. Maceration was conducted at 80°C with continuous stirring at 2000 rpm at extraction time, followed by filtration through filter paper to obtain the extract without seed. Extracts were analyzed for physical properties, including color, turbidity, and total solids, as well as chemical properties such as pH value, total bixin, total norbixin, total acidity, reducing sugar content, and soluble protein content. Data were statistically analyzed using analysis of variance (ANOVA) at a 95% confidence level, followed by post hoc testing using the Least Significant Difference (LSD) method at the same significance level.
The highest redness value was obtained from the Na₂CO₃ treatment (38.22) and a maceration time of 10 minutes (37.15). The highest bixin content was found in the Na₂CO₃ treatment (0.49%) and in the interaction of Na₂CO₃ with a maceration time of 5 minutes (0.60%). The highest norbixin content was obtained from the Na₂CO₃ treatment (0.68%) and a maceration time of 10 minutes (0.71%). The highest reducing sugar content was obtained in the Na₂CO₃ treatment (1.13%), at a maceration time of 10 minutes (1.23%), and in the interaction of Na₂CO₃ with a maceration time of 10 minutes (1.66%). The highest soluble protein content was observed in the interaction of MgCO₃ with a maceration time of 7.5 minutes (4.07%).
4718250577F1C021035Manajemen Komunikasi Krisis Universitas Jenderal Soedirman: Studi Kasus Pada Aksi Unjuk Rasa Kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) 2024Fenomena aksi unjuk rasa mahasiswa sebagai respon terhadap kebijakan kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang masih menjadi polemik hingga kini, berpotensi memicu krisis institusional di lingkungan perguruan tinggi. Kondisi ini menuntut institusi untuk mampu memahami, mengelola, dan mengantisipasi situasi melalui manajemen komunikasi krisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen komunikasi krisis yang dilakukan oleh Universitas Jenderal Soedirman dalam mengelola aksi unjuk rasa kenaikan UKT tahun 2024 pada fase pre-crisis, in-crisis, dan post-crisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dan kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) oleh W.T. Coombs dan S.J. Holladay. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi terhadap tiga informan yang merupakan aktor-aktor terlibat dalam aktivitas manajemen krisis pada aksi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase pre-crisis, universitas telah mengidentifikasi tanda-tanda potensi krisis, menyusun langkah persiapan, serta melakukan upaya antisipasi potensi krisis. Pada fase in-crisis, universitas menerapkan tiga strategi respon krisis untuk mengelola dan meredam eskalasi krisis, yaitu penyampaian informasi berbasis data akurat, klarifikasi, dan audiensi. Pada fase post-crisis, universitas melakukan strategi respon publikasi pemberitaan positif dalam memulihkan citra. Penelitian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai penerapan manajemen komunikasi krisis pada aksi unjuk rasa kenaikan UKT serta menjadi acuan bagi institusi perguruan tinggi lain dalam menghadapi situasi serupa.The phenomenon of student protest in response to the tuition fee (UKT) increase, which remains a public controversy to this day, has the potential to trigger institutional crises within higher education. Such conditions require institutions to understand, manage, and anticipate situations through crisis communication management. This study aims to analyze the crisis communication management implemented by Jenderal Soedirman University in handling the 2024 UKT protest during the pre-crisis, in-crisis, and post-crisis phases. The research employed a qualitative case study approach using the Situational Crisis Communication Theory (SCCT) by W.T. Coombs and S.J. Holladay. Data were collected through in-depth interviews and document analysis with three informants directly involved in crisis management process. The findings reveal that in the pre-crisis phase, the university has identified potential crisis signals, prepared anticipatory measures, and undertaken effort to prevent crises. In the in-crisis phase, the university implemented three crisis response strategies; the delivery of accurate data based information, clarification, and audience engagement. In the post-crisis phase, the university applied a response strategy of publishing positive news coverage to restore its image. This study provides a comprehensive overview of crisis communication management in the context of the UKT protest and serves as a reference for other higher education institutions in addressing similar situations.
4718350578A1F021014Potensi Ekstrak Annatto sebagai Pewarna dan Antiyeast yang Dihasilkan dengan Variasi pH Pelarut melalui Maserasi-Microwave Assisted ExtractionKesumba (Bixa orellana L.) diketahui memiliki komposisi bagian biji yang terdiri dari lapisan terluar dimana pigmen berada, kulit biji dan biji terdalam. Zat warna utama dari biji kesumba adalah karotenoid bixin dan norbixin. Kesumba menjadi salah satu tumbuhan yang memiliki berbagai kandungan senyawa kimia yaitu tanin, saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri. Biji kesumba yang diekstrak menghasilkan ekstrak annatto yang dapat berpotensi sebagai pewara alami dan antiyeast. Hasil ekstraksi biji kesumba dipengaruhi oleh pelarut, dan pH pelarut, serta metode ekstraksi yang digunakan. Maserasi dan Microwave Assisted Extraction (MAE) merupakan metode ekstraksi yang banyak digunakan pada senyawa yang termolabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak annatto sebagai pewarna dan antiyeast yang dihasilkan dengan variasi pH pelarut melalui maserasi-MAE, serta mengetahui perlakuan terbaik ekstrak annatto sebagai pewarna dan antiyeast.
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian non-faktorial, dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor yang digunakan dalam penelitian ini adalah variasi pH pelarut yang terdiri dari pH 2, pH 3, pH 4, pH 5, pH 6, pH 7, pH 8, pH 9, dan pH 10. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis One Way ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%. Apabila hasil analisis yang diperoleh menunjukan pengaruh yang signifikan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pH pelarut menghasilkan intensitas warna yang berbeda, dan pada pengujian antiyeast bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan maka daya hambat antiyeastnya semakin besar. Perlakuan pH 4 sebagai perlakuan terbaik, dengan intensitas warna nilai L 36,93; nilai a* 14,21; nilai b* 15,43; dan aktivitas antiyeast dengan pengujian difusi cakram menghasilkan zona hambat 6,11 mm, MIC ekstrak annatto yang dapat menghambat C. albicans adalah pada konsentrasi 5% dengan nilai ΔOD 0,154; dengan jumlah koloni (TPC) 7,21 log CFU/mL.
Kesumba (Bixa orellana L.) are known to have a composition of seed parts consisting of the outermost layer where the pigments are located, the seed coat and the innermost seed. The main color substances of kesumba seeds are bixin and norbixin carotenoids. Kesumba is one of the plants that contain various chemical compounds, namely tannins, saponins, flavonoids, polyphenols and essential oils. Extracted kesumba seeds produce annatto extract which can have potential as a natural colorant and antiyeast. The extraction results of kesumba seeds are influenced by the solvent, pH of the solvent, and the extraction method used. Maceration and Microwave Assisted Extraction (MAE) are extraction methods that are widely used for thermolabile compounds. This study aims to determine the potential of annatto extract as a dye and antiyeast produced with variations in solvent pH through maceration-MAE, and to determine the best treatment of annatto extract as a dye and antiyeast.
The research conducted was a non-factorial study, with a Randomized Group Design (RAK). The factor used in this study was the pH variation of the solvent consisting of pH 2, pH 3, pH 4, pH 5, pH 6, pH 7, pH 8, pH 9, and pH 10. The data obtained were then analyzed using One Way ANOVA analysis with a confidence level of 95%. If the results of the analysis obtained show a significant effect, it is continued with the Duncan Multiple Range Test (DMRT) test with a confidence level of 95%.
The results showed that the pH of the sailor produced different color intensities, and in the antiyeast test that the higher the concentration of extracts used, the greater the antiyeast inhibition. Treatment of pH 4 as the best treatment, with color intensity L value 36.93; a* value 14.21; b* value 15.43; and antiyeast activity with disc diffusion testing produces an inhibition zone of 6,11 mm, the MIC of annatto extract that can inhibit Candida albicans is at a concentration of 5% with a ΔOD value of 0.154; with a colony count (TPC) of 7.21 log CFU/mL.
4718449940K1B021065Analisis Faktor-Faktor Signifikan yang Mempengaruhi Diabetes Melitus Menggunakan Forward Selection dan Best Subset Selection pada Regresi Logistik BinerKecamatan Jatilawang menempati urutan keempat kasus diabetes melitus tertinggi di Kabupaten Banyumas sejak 2021. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor signifikan dan membangun model regresi logistik biner kejadian diabetes melitus. Data berasal dari riwayat pemeriksaan peserta program pengelolaan penyakit kronis di Puskesmas Jatilawang, dengan variabel prediktor: jenis kelamin, usia, hipertensi, indeks massa tubuh, dan aktivitas fisik. Pemilihan variabel terbaik menggunakan forward selection dan best subset selection, yang keduanya menghasilkan model sama, yaitu aktivitas fisik sebagai prediktor signifikan. Odds ratio 0,4117647 menunjukkan aktivitas fisik rendah menurunkan risiko diabetes melitus sebesar 58,83% dibanding aktivitas fisik tinggi. Model memiliki akurasi 77,23%, sensitivitas 100%, spesifisitas 77,23%, dan AUC 0,6003, sehingga layak digunakan meski kemampuan klasifikasinya belum optimal.Jatilawang subdistrict ranks fourth in the highest cases of diabetes mellitus in Banyumas regency since 2021. This study aims to identify significant factors and develop a binary logistic regression model for diabetes mellitus incidence. Data are sourced from the medical examination history of participants in the chronic disease management program at Jatilawang health center, with predictor variables: gender, age, hypertension, body mass index, and physical activity. The best variables were selected using forward selection and best subset selection, both of which produced the same model, with physical activity as a significant predictor. An odds ratio of 0.4117647 indicates that low physical activity reduces the risk of diabetes mellitus by 58.83% compared to high physical activity. The model has an accuracy of 77.23%, sensitivity of 100%, specificity of 77.23%, and AUC of 0.6003, thus it is suitable for use despite its classification ability not being optimal.
4718550579A1F021008Variasi Waktu Ekstraksi Biji Kesumba dengan Kombinasi Maserasi - Microwave Assisted Extraction sebagai Pewarna serta Antimikroba Candida albicans Kesumba (Bixa orellana L.) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam famili Bixaceae. Biji kesumba memiliki bentuk bulat, berukuran kecil, dan berwarna merah. Komponen utama dari biji kesumba adalah bixin dan norbixin. Bixin dan norbixin termasuk ke dalam golongan karotenoid yang memiliki rentang warna antara kuning dan merah. Selaput biji kesumba memiliki pigmen merah yang disebut annatto. Ekstrak annatto dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk produk pangan, tekstil, serta kosmetik. Ekstrak annatto selain dapat digunakan sebagai pewarna alami juga berpotensi sebagai antimikroba. Aktivitas antimikroba dari ekstrak annatto dihasilkan karena adanya senyawa bioaktif berupa saponin,
senyawa fenolik, terpenoid, tokotrienol, flavonoid, dan alkaloid. Penelitian ini
dilakukan dengan kombinasi metode ekstraksi maserasi dan MAE serta variasi
waktu ekstraksi MAE menggunakan pelarut akuades pH 4. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu ekstraksi biji kesumba dengan kombinasi ekstraksi maserasi dan MAE terhadap warna serta antimikroba,
mengetahui perlakuan terbaik variasi waktu ekstraksi biji kesumba dengan
kombinasi ekstraksi maserasi dan MAE sebagai pewarna serta antimikroba dalam
menghambat C. albicans.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak
Kelompok (RAK) non-faktorial yang terdiri dari 9 perlakuan dan 3 kali ulangan
dengan variasi waktu ekstraksi yang terdiri dari 1 menit (T1), 1,5 menit (T2), 2
menit (T3), 2,5 menit (T4), 3 menit (T5), 3,5 menit (T6), 4 menit (T7), 4,5 menit
(T8), dan 5 menit (T9). Ekstrak annatto yang dihasilkan dilakukan pengukuran
warna L, a, dan b menggunakan color reader serta dilakukan pengujian aktivitas
antimikroba dengan metode difusi, Minimal inhibititory Concentration (MIC), dan
Total Plate Count (TPC).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu ekstraksi, maka
tingkat kemerahan semakin meningkat dan aktivitas antimikroba semakin menurun. Perlakuan terbaik ekstrak annatto terdapat pada perlakuan waktu ekstraksi 2 menit (T3). Perlakuan ini menghasilkan zona hambat sebesar 6,05 mm yang tergolong pada penghambatan sedang, konsentrasi minimum penghambatan C. albicans pada konsentrasi 5% dengan nilai ΔOD sebesar 0,114 dan jumlah koloni sebesar 7,14 log CFU/mL. Perlakuan T3 juga menghasilkan tingkat kecerahan (L) sebesar 36,42, tingkat kemerahan (a) sebesar 16,28, dan tingkat kekuningan (b) sebesar 13,58.
Kesumba (Bixa orellana L.) is a plant belonging to the Bixaceae family.
Kesumba seeds are round, small in size, and red in color. The main components of
kesumba seeds are bixin and norbixin. Bixin and norbixin belong to the carotenoid
group, which has a color range between yellow and red. The seed coat of kesumba
contains a red pigment called annatto. Annatto extract is used as a natural dye for
food products, textiles, and cosmetics. In addition to being used as a natural dye,
annatto extract also has potential as an antimicrobial agent. The antimicrobial
activity of annatto extract is due to the presence of bioactive compounds such as
saponins, phenolic compounds, terpenoids, tocotrienols, flavonoids, and alkaloids.
This study was conducted using a combination of maceration and MAE extraction
methods, with variations in MAE extraction time using distilled water at pH 4 as
the solvent. The objectives of this study were to determine the effect of varying
extraction times of kesumba seeds using a combination of maceration and MAE
extraction on color and antimicrobial activity, and to identify the optimal treatment
for varying extraction times of kesumba seeds using a combination of maceration
and MAE extraction as a colorant and antimicrobial agent in inhibiting C. albicans.
This study employed an experimental method using a non-factorial
Randomized Block Design (RBD) consisting of 9 treatments and 3 replications with
extraction time variations of 1 minute (T1), 1.5 minutes (T2), 2 minutes (T3), 2.5
minutes (T4), 3 minutes (T5), 3.5 minutes (T6), 4 minutes (T7), 4.5 minutes (T8),
and 5 minutes (T9). The resulting annatto extract was measured for L, a, and b
color values using a color reader, and its antimicrobial activity was tested using
the diffusion method, Minimum Inhibitory Concentration (MIC), and Total Plate
Count (TPC).
The results showed that the longer the extraction time, the higher the
redness level and the lower antimicrobial activity. The best treatment for annatto
extract was found in the 2 minute extraction time treatment (T3). This treatment
produced an inhibition zone of 6.05 mm, classified as strong inhibition, a minimum
inhibitory concentration (MIC) of C. albicans at 5% concentration with a ΔOD
value of 0.114 and colony count of 7.14 log CFU/mL. The treatment T3 also
produced a lightness (L) value of 36.42, a redness (a) value of 16.28, and a
yellowness (b) value of 13.58.
4718650582A1F021024Optimasi Formula Flakes Berbasis Tepung Sorgum Termodifikasi dengan Penambahan Tepung Kelapa Menggunakan Metode Mixture D-OptimalSarapan sering terabaikan karena keterbatasan waktu, sehingga diperlukan produk sarapan praktis dan bergizi seperti flakes. Sorgum berpotensi sebagai bahan baku, namun keterbatasannya memengaruhi mutu fisikokimia dan sensoris sehingga perlu dilakukan modifikasi pati. Penambahan tepung kelapa sebagai sumber serat berperan dalam meningkatkan kerenyahan, mutu sensorik, dan nilai gizi. Proporsi tepat antara tepung sorgum termodifikasi dan tepung kelapa menghasilkan karakteristik flakes renyah, daya rehidrasi seimbang, dan ketahanan renyah lebih optimal. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi proporsi tepung sorgum termodifikasi dan tepung kelapa dalam formulasi flakes serta mengevaluasi karakteristik fisikokimia dan sensorisnya. Metode penelitian ini meliputi pembuatan tepung sorgum termodifikasi untuk dianalisis sifat fisikokimia dan profil amilografinya, serta menentukan formula optimum proporsi tepung sorgum termodifikasi (40-50%) dan tepung kelapa (5-15%) menggunakan mixture design model D-Optimal berdasarkan respon hardness, daya rehidrasi, dan ketahanan renyah dalam susu. Formula optimum diperoleh pada proporsi 50% tepung sorgum termodifikasi dan 5% tepung kelapa dengan nilai desirability 0,929, menghasilkan flakes dengan hardness 705,67 gf, daya rehidrasi 40,08%, waktu ketahanan renyah 7,10 menit, kadar air 5,11%, kadar abu 2,10%, kadar lemak 6,40%, kadar protein total 3,36%, kadar karbohidrat 86,25%, serat pangan 9,28% dan total energi 3,30 kkal/g. Flakes berwarna kuning kecoklatan, renyah, rasa tidak khas sorgum, aroma tidak khas kelapa, mouthfeel berpasir, serta tingkat kesukaan keseluruhan lebih tinggi dari produk komersial. Flakes berbasis tepung sorgum termodifikasi dengan penambahan tepung kelapa menunjukkan karakteristik fisikokimia dan sensoris yang kompetitif, menjadikannya potensial sebagai alternatif sereal sarapan bergizi.Breakfast is often neglected due to time constraints, so practical and nutritious breakfast products such as flakes are needed. Sorghum has potential as a raw material, but its limitations affect its physicochemical and sensory quality, so starch modification is necessary. The addition of coconut flour as a source of fiber plays a role in improving crispness, sensory quality, and nutritional value. The right proportion between modified sorghum flour and coconut flour produces crispy flakes, balanced rehydration, and optimal crispness retention. This study aimed to optimize the proportion of modified sorghum flour and coconut flour in flakes formulation and to evaluate their physicochemical and sensory properties. Modified sorghum flour was produced and analyzed for physicochemical characteristics and amylographic profile. D-Optimal mixture design was applied to determine the optimum proportion of modified sorghum flour (40–50%) and coconut flour (5–15%), with responses including hardness, rehydration capacity, and crispness retention in milk. The optimum formula was obtained at 50% modified sorghum flour and 5% coconut flour with a desirability value of 0.929. This formulation produced flakes with hardness of 705.67 gf, rehydration capacity of 40.08%, and crispness retention of 7.10 minutes. Proximate analysis showed moisture 5.11%, ash 2.10%, fat 6.40%, protein 3.36%, carbohydrate 86.25%, dietary fiber 9.28%, and total energy 3.30 kcal/g. The flakes are brownish-yellow in color, crispy, with no distinctive sorghum taste, no distinctive coconut aroma, a sandy mouthfeel, and an overall preference rating higher than commercial products. Flakes based on modified sorghum flour with added coconut flour exhibit competitive physicochemical and sensory characteristics, making them a potential alternative to nutritious breakfast cereals.
4718750583F1C021071EFEKTIVITAS STRATEGI PEMASARAN WORD OF MOUTH DALAM MENINGKATKAN BRAND IMAGE POSITIF ALAS HOUSE
Penelitian ini berjudul “Efektivitas Strategi Pemasaran Word of Mouth (WOM) dalam Meningkatkan Brand Image Positif Alas House” yang bertujuan untuk menjelaskan efektivitas WOM dalam memperkuat brand image positif serta mengukur kontribusinya melalui komunikasi langsung maupun ulasan digital (e-WOM). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei dan paradigma positivisme. Data diperoleh dari kuesioner yang disebarkan kepada pelanggan Alas House yang menerima informasi melalui WOM, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Instrumen penelitian dinyatakan valid dan reliabel berdasarkan uji korelasi Pearson. Hasil analisis menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal sehingga digunakan uji non-parametrik. Terdapat hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara WOM dan brand image positif, di mana dimensi WOM terbukti berpengaruh nyata dalam membentuk citra merek. Temuan ini mendukung teori Stimulus-Organism-Response (SOR). Penelitian menyimpulkan bahwa strategi WOM, baik langsung maupun digital, efektif dalam meningkatkan brand image positif Alas House sehingga perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan variabel demografis atau menggunakan metode campuran agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.This study entitled “The Effectiveness of Word of Mouth (WOM) Marketing Strategy in Enhancing Positive Brand Image of Alas House” aims to explain the effectiveness of WOM in strengthening brand image and to measure its contribution through direct communication and digital reviews (e-WOM). The research applied a quantitative method with a survey approach and positivism paradigm. Data were collected through questionnaires distributed to Alas House customers who received information through WOM, either directly or via social media. The research instrument was proven valid and reliable using Pearson correlation analysis. The results indicate that the data were not normally distributed, thus non-parametric tests were applied. A very strong and significant relationship was found between WOM and positive brand image, with WOM dimensions significantly influencing the formation of brand image. These findings confirm the relevance of the Stimulus-Organism-Response (SOR) theory. The study concludes that WOM strategies, both direct and digital, are effective in enhancing Alas House’s positive brand image and therefore should be continuously developed. Future studies are recommended to include demographic variables or adopt a mixed-methods approach to obtain a more comprehensive understanding of consumer perceptions
4718850580A1A021034Persepsi Perajin Gula Semut terhadap Pelaksanaan Kemitraan dengan CV Agro Berdikari di Kabupaten KebumenKemitraan merupakan kerja sama yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar. Gula semut merupakan gula kelapa berbentuk serbuk halus yang diproduksi dari nira kelapa. Salah satu perusahaan di Kabupaten Kebumen yang menjalin kemitraan dengan perajin gula semut adalah CV Agro Berdikari. Adanya kendala seperti kurang meratanya dukungan sarana dan prasarana, perajin yang menjual hasil produksinya ke perusahaan lain, dan munculnya perusahaan yang menawarkan kemitraan sejenis, mengindikasikan adanya perbedaan persepsi diantara perajin yang bermitra dengan CV Agro Berdikari, sehingga diperlukan analisis mengenai persepsi perajin terhadap pelaksanaan kemitraan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui karakteristik perajin gula semut yang bekerja sama dengan CV Agro Berdikari, (2) mengetahui pola kemitraan yang terjalin antara perajin gula semut dengan CV Agro Berdikari, (3) mengetahui tingkat persepsi perajin gula semut terhadap pelaksanaan kemitraan dengan CV Agro Berdikari, dan (4) mengetahui hubungan karakteristik perajin dengan persepsi perajin gula semut terhadap pelaksanaan kemitraan.
Penelitian ini dilaksanakan di 6 (enam) desa di Kabupaten Kebumen, yaitu Desa Giyanti, Desa Sampang, Desa Wonoharjo, Desa Pakuran, Desa Kalipoh, dan Desa Wanadadi pada bulan Maret – Mei 2025. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode survei dengan sampel sebanyak 54 orang. Metode pengambilan sampel secara proportional simple random sampling. Analisis deskriptif dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik perajin dan pola kemitraan yang terjalin antara perajin dengan CV Agro Berdikari. Uji proporsi dilakukan untuk mengetahui proporsi tingkat persepsi perajin terhadap pelaksanaan kemitraan yang memiliki persepsi baik. Uji korelasi rank spearman dilakukan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik perajin gula semut dengan persepsi perajin terhadap pelaksanaan kemitraan dengan CV Agro Berdikari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar umur perajin gula semut termasuk dalam umur produktif (92,6%), luas lahan perajin paling banyak sebesar 1.000 – 2.000 m2, jumlah kepemilikan pohon mayoritas kurang dari 27 pohon, tingkat pendidikan paling banyak adalah tamat SD/sederajat, pengalaman perajin gula sebagian selama 11-20 tahun, pendapatan perajin dalam sebulan sebagian besar lebih dari Rp3.000.000,00, sebagian besar perajin memiliki jumlah tanggungan keluarga sebanyak 3 orang, dan lama menjadi anggota kemitraan sebagian besar lebih dari 9 tahun. Pola kemitraan yang terjalin antara perajin gula semut dengan CV Agro Berdikari adalah pola kemitraan inti plasma. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen perajin memiliki persepsi yang baik terhadap pelaksanaan kemitraan. Tingkat persepsi perajin gula pada indikator penyerapan terhadap rangsang dan indikator pengertian atau pemahaman termasuk dalam kategori baik, sedangkan indikator penilaian atau evaluasi termasuk dalam kategori sangat baik. Karakteristik perajin yang berhubungan secara signifikan dengan persepsi, yaitu jumlah tanggungan keluarga, sedangkan umur, luas lahan, jumlah kepemilikan pohon, tingkat pendidikan, pengalaman, pendapatan, dan lama menjadi anggota kemitraan tidak berhubungan.
Partnership is a collaboration that involves Micro, Small and Medium Enterprises and Large Enterprises. Palm sugar is a fine powdered coconut sugar produced from coconut sap. One of the companies in Kebumen Regency that has established a partnership with palm sugar crafters is CV Agro Berdikari. There are obstacles such as uneven support for facilities and infrastructure, crafters who sell their products to other companies, and the emergence of companies offering similar partnerships, these indicate that there are different perceptions among crafters who partner with CV Agro Berdikari, so an analysis of crafters’ perceptions of the implementation of the partnership is needed. This study aims to (1) determine the characteristics of palm sugar crafters who work with CV Agro Berdikari, (2) determine the partnership pattern between palm sugar crafters and CV Agro Berdikari, (3) determine the level of perception of palm sugar crafters towards the implementation of the partnership with CV Agro Berdikari, and (4) determine the relationship between crafter characteristics and the perception of palm sugar crafters towards the implementation of the partnership.
This research was conducted in 6 (six) villages in Kebumen Regency, namely Giyanti Village, Sampang Village, Wonoharjo Village, Pakuran Village, Kalipoh Village, and Wanadadi Village, in March-May 2025. This research was conducted using a survey method with a sample of 54 people. The sampling method was proportional simple random sampling. Descriptive analysis was conducted to describe the characteristics of crafters and the partnership pattern between crafters and CV Agro Berdikari. The proportion test was conducted to determine the proportion of the level of perception of crafters towards the implementation of partnerships that had good perceptions. The Spearman rank correlation test was conducted to determine the relationship between the characteristics of palm sugar crafters and their perceptions of the partnership with CV Agro Berdikari.
The results showed that most of the palm sugar crafters were of productive age (92.6%), most of the crafters' land area was 1,000-2,000 m2, the majority of tree ownership is less than 27 coconut trees, most of the crafters' education level was elementary school graduates, most of the crafters' experience was 11-20 years, most of the crafters' income in a month was more than Rp3,000,000, most of the crafters had a total of 3 family dependents, and most of them had been members of the partnership for more than 9 years. The pattern of partnership between the palm sugar crafters and CV Agro Berdikari is the core plasma partnership pattern. The calculation results show that more than 50 percent of crafters have a good perception of the implementation of the partnership. Sugar crafters perception levels regarding the indicators of absorption of stimuli and understanding are categorized as good, while their perception of the assessment or evaluation indicator is categorized as very good. The characteristics of sugar crafters that are significantly related to perceptions are the number of family dependents, while age, land size, number of tree ownership, education level, experience, income, and length of time as a member of the partnership are not related.
4718950581H1D019062INTEGRASI SISTEM INFORMASI TERHADAP VOLATILITAS HARGA SAHAM KOMPOSIT STANDAR AND POOR 500 MENGGUNAKAN METODE RANDOM FOREST DAN METODE VISUALISASI DATAPenelitian ini mengembangkan integrasi sistem informasi untuk analisis volatilitas harga saham komposit Standard and Poor 500 (S&P 500) menggunakan metode Random Forest dan visualisasi data dengan memanfaatkan data dari Yahoo Finance. Metode Random Forest digunakan untuk mengklasifikasikan volatilitas secara otomatis ke dalam tiga kategori, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Sistem ini diintegrasikan dengan Sistem Informasi untuk memvisualisasikan data. Proses pengembangan mengikuti metodologi Data Driven Development (DDD). Hasil akhir mencakup visualisasi data seperti grafik interaktif, berita dan tabel, yang memberikan gambaran intuitif mengenai volatilitas harga saham S&P 500. Integrasi Sistem Informasi untuk volatilitas S&P 500 diharapkan dapat mempermudah serta meningkatkan pemahaman mengenai volatilitas saham tersebut secara lebih intuitif.This study develops an integration of Information System on the volatility of Standard and Poor 500 composite stock prices using Random Forest and Data Visualization using data from Yahoo Finance. The Random Forest algorithm is used to automatically classify volatility to 3 categories, low, medium and high. The system is integrated with Information system to visualize the data. The development process follows Data Driven Development (DDD) methodology. The final output includes data visualization such as interactive charts, news and tables, providing an intuitive overview of Standard and Poor 500 stock prices volatility. The integration of Information System for Standard and Poor 500 volatility is expected to make the understanding of Standard and Poor 500 volatility easier and more intuitive.
4719048749G1A020063HUBUNGAN JENIS PESTISIDA DENGAN FUNGSI HEPAR PETANI DI DESA SIKAPATABSTRAK

Latar belakang: Kegiatan bertani merupakan salah satu mata pencaharian utama di Kabupaten Banyumas. Pestisida seringkali digunakan untuk membasmi hama yang merugikan hasil pertanian, namun penggunaannya yang tidak sesuai aturan dapat berdampak buruk bagi organ tubuh, salah satunya hati.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara jenis pestisida berdasarkan fungsi pemakaiannya terhadap fungsi hepar petani di Desa Sikapat.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Populasi penelitian ini adalah petani yang menggunakan pestisida di Desa Sikapat, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas bulan Maret hingga Oktober tahun 2023. Petani yang bersedia mengikuti penelitian dan hadir saat pengambilan data berlangsung diinklusikan sebagai subjek penelitian dengan metode purposive sampling. Pengukuran fungsi hepar dilakukan dengan pemeriksaan AST dan ALT sementara data penggunaan pestisida diperoleh menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Kolmogorov-smirnov untuk data kategorik dan uji One-way ANOVA untuk data kontinyu pada taraf signifikansi 0,05.
Hasil: Uji Kolmogorov Smirnov tidak menunjukkan hubungan signifikan antara jenis pestisida dengan peningkatan AST dan ALT, nilai-p sebesar 0,259. Rata-rata kadar ALT tertinggi dilaporkan pada penggunaan pestisida kombinasi (26,2 ± 12,9 U/L), diikuti oleh insektisida (21,4 ± 2,5 U/L), herbisida (19,4 ± 5,2 U/L), dan fungisida (15,1 ± 1,1 U/L). Nilai-p uji One-way Anova sebesar 0,072. Rata-rata kadar AST tertinggi dilaporkan pada penggunaan pestisida kombinasi (24,2 ± 5,3 U/L), diikuti oleh fungisida (21,8 ± 1,2 U/L), insektisida (21,7 ± 3,9 U/L), dan herbisida (20,8 ± 2,6 U/L). Nilai-p uji One-way Anova sebesar 0,157
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara penggunaan jenis pestisida terhadap fungsi hepar petani di Desa Sikapat.


Kata kunci: ALT, AST, fungsi hepar, pestisida, petani

ABSTRACT

Background: Farming activities were one of the main occupations in Banyumas Regency. Pesticides were often used to exterminate pests that harmed agricultural yields, but their improper use could adversely affect body organs, including the liver.
Objective: To determine the relationship between types of pesticides based on their usage function and liver function in farmers in Sikapat Village.
Methods: The research was an analytical observational study with a cross-sectional design. The study population consisted of farmers who use pesticides in Sikapat Village, Sumbang District, Banyumas Regency from March to October 2023. Farmers willing to participate in the study and present during the data collection were included as research subjects using purposive sampling. Liver function was measured by examining AST and ALT, while pesticide usage data were obtained using a questionnaire. Data analysis was performed using the Kolmogorov-Smirnov test for categorical data and the One-way ANOVA test for continuous data at a significance level of 0.05.
Results: Kolmogorov-Smirnov test did not show a significant relationship between the type of pesticide and the increase in AST and ALT, with a p-value of 0.259. The highest average ALT levels were reported with the use of combination pesticides (26.2 ± 12.9 U/L), followed by insecticides (21.4 ± 2.5 U/L), herbicides (19.4 ± 5.2 U/L), and fungicides (15.1 ± 1.1 U/L). The p-value of the One-way ANOVA test was 0.072. The highest average AST levels were reported with the use of combination pesticides (24.2 ± 5.3 U/L), followed by fungicides (21.8 ± 1.2 U/L), insecticides (21.7 ± 3.9 U/L), and herbicides (20.8 ± 2.6 U/L). The p-value of the One-way ANOVA test was 0.157.
Conclusion: There was no relationship between the use of pesticide types and liver function in farmers in Sikapat Village.


Keywords: ALT, AST, farmers, liver function, pesticide

4719150584F1C021069PENGARUH PENGGUNAAN FITUR ‘FIND MY iPHONE’ TERHADAP KEPERCAYAAN PASANGAN DALAM HUBUNGAN LONG DISTANCE RELATIONSHIP (LDR)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan fitur Find My iPhone terhadap tingkat kepercayaan pasangan dalam hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship/LDR). Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya penggunaan teknologi pelacakan lokasi sebagai upaya menjaga komunikasi, keterhubungan, serta kepercayaan dalam hubungan LDR. Teori yang digunakan adalah Social Presence Theory yang menjelaskan bahwa media komunikasi mampu menghadirkan perasaan kehadiran dan kedekatan emosional meskipun terpisahkan jarak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data primer diperoleh melalui kuesioner berbasis skala likert yang disebarkan kepada 68 responden yang sedang atau pernah menjalani hubungan LDR di wilayah Jawa Tengah dan menggunakan fitur Find My iPhone. Hasil analisis deskriptif menunjukkan skor rata-rata yang tinggi pada variabel penggunaan fitur Find My iPhone (mean = 45,19) dan variabel kepercayaan pasangan (mean = 41,24). Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan valid dan reliabel. Uji regresi linier sederhana menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan antara frekuensi penggunaan fitur Find My iPhone (X) terhadap tingkat kepercayaan pasangan (Y) yang diperkuat oleh hasil uji t dan uji F. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan fitur Find My iPhone dapat memperkuat rasa percaya dalam hubungan LDR melalui peningkatan kualitas media, interaktivitas, karakteristik sosial, serta kehadiran emosional pasanganThis study aims to examine the influence of the Find My iPhone feature on trust levels in long-distance relationships (LDR). The research is motivated by the growing of people using the location-tracking technology as a tool to maintain communication, connectedness, and trust in LDRs. The theoretical framework used is the Social Presence Theory, which posits that communication media can create a sense of presence and emotional closeness despite physical distance. This research employed a quantitative descriptive method. Primary data were collected through a Likert-scale questionnaire distributed to 68 respondents living in Central Java who are currently or have previously been in an LDR and use the Find My iPhone feature. Descriptive analysis revealed high mean scores on both the use of Find My iPhone (mean = 45.19) and trust levels (mean = 41.24). The validity and reliability tests confirmed that the instrument was valid and reliable. Simple linear regression analysis showed a significant positive effect of the frequency of using Find My iPhone (X) on trust levels (Y), supported by t-test and F-test results. Therefore, this study concludes that the use of Find My iPhone strengthens trust in LDRs by enhancing media quality, interactivity, social characteristics, and emotional presence
4719250586J1B021016Makna Kultural Tradisi Bada Mulud di Komunitas Adat Bonokeling (Kajian Etnolinguistik)Tradisi Bada Mulud merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh Komunitas Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna leksikal dan makna kultural Tradisi Bada Mulud di Komunitas Adat Bonokeling. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini berupa tuturan. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan simak bebas libat cakap. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode cakap dengan teknik dasar pancing dan teknik lanjutan cakap bertemu muka. Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan metode padan ekstralingual. Metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi bada mulud merupakan tradisi rutinan yang dilaksanakan setiap bulan maulid oleh anak-putu Eyang Bonokeling. Terdapat makna leksikal dan makna kultural pada prosesi dan perlengkapan Tradisi Bada Mulud di Komunitas Adat Bonokeling. Makna kultural pada penelitian ini merupakan makna tersirat dan diperoleh berdasarkan kondisi sosial budaya masyarakat
adat Bonokeling.
The Bada Mulud tradition is a tradition carried out by the Bonokeling Indigenous Community in Pekuncen Village, Jatilawang District, Banyumas Regency. This study aims to describe the lexical and cultural meanings of the Bada Mulud tradition in the Bonokeling Indigenous Community. This study uses a qualitative descriptive method. The data in this study consists of spoken language. The data collection method used in this study is observation with basic recording techniques and advanced free observation techniques. In addition, this study also uses interviews with basic prompting techniques and advanced face-to-face interview techniques. The data analysis method used in this study is extralinguistic comparison. The method of presenting the analysis results is informal. The results of this study indicate that the Bada Mulud tradition is a routine tradition carried out every Maulid month by the grandchildren of Eyang Bonokeling. There are lexical meanings and cultural meanings in the procession and equipment of the Bada Mulud Tradition in the Bonokeling Indigenous Community. The cultural meanings in this study are implied meanings and are obtained based on the socio-cultural conditions of the Bonokeling indigenous community.
4719350588J1E021029A COMPARATIVE STUDY BETWEEN GENDERS AND THEIR FINAL SCORES IN MORPHOLOGY SUBJECTPenelitian ini disebabkan karena sebagian besar teori menyebutkan bahwa perempuan lebih unggul daripada laki-laki dalam bidang bahasa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai akhir mahasiswa laki-laki dan perempuan, (2) mengetahui faktor-faktor apa saja yang mungkin membedakan pembelajaran mahasiswa, dan (3) mengetahui bagaimana persepsi mahasiswa terhadap penerapan pembelajaran berbasis proyek pada mata kuliah morfologi. Pendekatan kuantitatif dengan studi komparatif digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini melibatkan 40 mahasiswa untuk perbandingan nilai akhir dan 32 mahasiswa untuk pengisian kuesioner dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2023. Instrumen penelitian yang digunakan adalah dokumentasi dan kuesioner. Peneliti menggunakan impaired t-test dan deskriptif statistik untuk menganalisis pertanyaan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,482, yang lebih besar dari α (0,05), sehingga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada rata-rata nilai, dan hipotesis nol diterima. Selanjutnya, hasil kuesioner menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mungkin membedakan mahasiswa dalam belajar, seperti motivasi, kepercayaan diri, harapan orang tua, dan metode pengajaran bahasa Inggris yang diterapkan oleh dosen. Selain itu, persepsi keseluruhan mahasiswa terhadap penerapan pembelajaran berbasis proyek adalah positif.The research was initiated because most theories suggest that females are superior to males in language-related fields. Therefore, the aims of the research are: (1) to determine whether males and females differ significantly in their final scores, (2) to know what factors possibly differentiate students’ learning, and (3) to know how students’ perception towards the implementation of project-based learning in the morphology subject. A quantitative approach and comparative research design were used in this study. This research involved 40 students for comparing the final scores and 32 students for the questionnaire from the undergraduate students of the English education study program class of 2023. The research instrument used was documentation and a questionnaire. The researcher used an impaired t-test and descriptive statistics to analyze the research questions. The results showed the significance value of 0.482, which is bigger than α of 0.05, indicating that there was no significant difference in their mean, and the null hypothesis is accepted. Furthermore, the results of the questionnaire showed that some factors might differentiate students in learning, such as motivation, confidence, parents’ expectations, and the English teaching method applied by the lecturer. Also, the overall perception of students toward the implementation of project-based learning was positive.
4719450589H1B020052Analisis Sebaran Banjir Rob di Kota Pekalongan Menggunakan Software Delft - 3DKota Pekalongan merupakan salah satu daerah di pesisir pantai utara Jawa, yang sering
mengalami banjir rob. Banjir rob diakibatkan oleh pasang air laut, kenaikan muka air laut, dan
penurunan muka tanah. Banjir rob yang terjadi pada bulan Mei 2022 ini menjadi latar belakang utama
dilakukannya penelitian, dengan tujuan untuk menganalisis perbandingan hasil antara software dengan
kondisi aktual di lapangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan coupling
antara model flow dan wave dengan menggunakan perangkat lunak Delft – 3D. Data yang digunakan
berupa data pasang surut dan data batimetri. Hasil dari pemodelan kemudian divalidasi menggunakan
informasi dari berbagai portal berita yang ada di media internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
inundasi atau kedalaman banjir rob terletak di antara 0 hingga 5 meter dalam bentuk indikator warna,
tidak spesifik terlihat kedalaman genangan pada setiap jamnya. Dalam hal ini menunjukkan bahwa
software Delft – 3D kurang tepat untuk analisis inundasi atau kedalaman banjir rob yang kurang dari
satu meter dan lebih cocok dalam mengidentifikasi area yang terdampak banjir rob serta pengaruh
pasang surut terhadap fenomena banjir tersebut.
Pekalongan City is one of the areas on the north coast of Java, which often experiences coastal
flood. Coastal flooding is caused by high tides, sea level rise, and land subsidence. The flood that
occurred in May 2022 became the main background for the study, with the aim of analyzing the
comparison of results between software and actual conditions in the field. The method used in this study
is coupling modeling between flow and wave models using Delft – 3D software. The data used were
tidal data and bathymetric data. The results of the modeling were then validated using information from
various news portals on the internet. The results of the study show that the inundation or depth of the
coastal flood is located between 0 to 5 meters in the form of color indicators, it is not specific to see the
depth of inundation at every hour. In this case, it shows that Delft – 3D software is not suitable for flood
analysis or the depth of coastal floods that is less than one meter and is more suitable for identifying
areas affected by coastal floods and the influence of tides on the flood phenomenon.
4719550590J1C021023Konstruksi Sosial Keluarga Alternatif di Jepang: Studi Atas Pandangan Masyarakat Jepang di Kota AmakusaKonsep keluarga alternatif di Jepang berkembang seiring dengan perubahan aspek sosial, ekonomi, dan nilai budaya masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pandangan dan penerimaan masyarakat Jepang terhadap konsep keluarga alternatif, khususnya di kota Amakusa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam kepada sepuluh narasumber yang terdiri dari tiga laki-laki dan tujuh perempuan dengan latar belakang sosial yang beragam. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori konstruksi sosial oleh Berger dan Luckmann yang menekankan tiga proses utama dalam pembentukan realitas sosial, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil menunjukkan bahwa meskipun adanya pengaruh kuat dari sistem keluarga tradisional, sebagian masyarakat mulai menerima bentuk keluarga alternatif seperti keluarga kolektif, keluarga pilihan, dan keluarga bebas. Keluarga alternatif kini tidak lagi dilihat sebagai penyimpangan, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi sosial kontemporer.

The concept of alternative families in Japan has developed in line with changes in the social, economic, and cultural values of local communities. This study aims to explore how Japanese society perceives and accepts the concept of alternative families, particularly in the city of Amakusa. The research employs a descriptive qualitative approach through in-depth interviews with ten informants consisting of three men and seven women from diverse social backgrounds. Data analysis is carried out by applying Berger and Luckmann’s theory of social construction, which emphasizes three main processes in the formation of social reality: externalization, objectivation, and internalization. The findings reveal that despite the strong influence of the traditional family system, some members of society have begun to accept alternative family forms such as collective families, chosen families, and free families. Alternative families are no longer seen as a deviation but rather as a form of adaptation to contemporary social conditions.

4719647289K1C019054IDENTIFIKASI POTENSI BATU BASALT MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER DI KECAMATAN KEBASEN KABUPATEN BANYUMASMetode geolistrik adalah salah satu metode yang mempelajari sifat aliran Listrik di bawah permukaan. Metode yang digunakan yaitu metode geolistrik konfigurasi Schlumberger untuk mengidentifikasi potensi batu basalt di Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas. Metode geolistrik konfigurasi Schlumberger merupakan metode digunakan untuk menentukan nilai resistivitas dan nilai ketebalan batuan bawah permukaan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan jenis batuan bawah permukaan dan menentukan potensi Batu Basalt di Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Jumlah titik sounding yang digunakan sebanyak 6 titik sounding dengan panjang masing-masing lintasan yaitu 150 m. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel untuk mencari nilai K dan resistivitas semu, selanjutnya diolah menggunakan Software Progress untuk mencari nilai resistivitas yang sebenarnya, setelah itu dilakukan pemodelan 3D menggunakan Software Rockwork untuk mengetahui Volume batu basalt. Hasil yang didapatkan yaitu lapisan pertama memiliki nilai resistivitas sebesar 145,16 – 158,30 ohm.m diidentifikasikan sebagai lapisan tanah penutup atau top soil, Lapisan kedua yaitu lapisan lempung dengan nilai rentang resistivitas sebesar 52,22 – 75,47 ohm.m, lapisan ketiga memiliki nilai rentang resistivitas 318,18 – 465,10 ohm.m diinterpretasikan sebagai batu basalt, lapisan keempat memiliki nilai resistivitas 42,22 – 55,88 ohm.m diinterpretasikan sebagai batu pasir. Volume batu basalt pada daerah penelitian sebesar 27.620.000 m^3.The geoelectric method is a method that studies the nature of electric flow beneath the surface. The method used is the Schlumberger configuration geoelectric method to identify the potential of basalt rock in Kebasen District, Banyumas Regency. The Schlumberger configuration geoelectric method is a method used to determine resistivity values and thickness values of subsurface rocks. The aim of this research is to identify the subsurface rock structure and volume of basalt rock in the research area. The number of sounding points used was 6 sounding points with a length of each track of 150 m. Data processing was carried out using Microsoft Excel to find the K value and apparent resistivity, then processed using Progress Software to find the actual resistivity value, after that 3D modeling was carried out using Rockwork Software to find out the volume of basalt rock. The results obtained are that the first layer has a resistivity value of 145,16 – 158,30 Ωm identified as the cover soil layer or top soil, the second layer is the clay layer with a resistivity value of 52,22 – 75,47 ohm.m, the third layer has a value The resistivity range of 318,18 – 465,10 ohm.m is interpreted as basalt, the fourth layer has a resistivity value of 42,22 – 55,88 ohm.m which is interpreted as sandstone. The volume of basalt rock in the study area is 27.620.000 m^3.
4719750664J1B019044Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Kolom Komentar Akun X Ganjar PranowoBahasa memegang peran penting dalam komunikasi sebagai sarana penyampaian pesan antarindividu. Dalam konteks sosial, penggunaan bahasa tidak hanya menekankan aspek gramatikal, tetapi juga harus sesuai dengan norma kesantunan. Kesantunan berbahasa adalah perilaku berbahasa yang meminimalisir ekpresi tidak sopan dan memaksimalkan ekspresi kesopanan. Hal yang tidak sesuai dengan kesantunan berbahasa disebut sebagai pelanggaran kesantunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa serta menjelaskan faktor-faktor penyebabnya dalam kolom komentar akun X (sebelumnya Twitter) milik Ganjar Pranowo. Metode deskriptif-kualitatif digunakan untuk melakukan penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak bebas libat cakap dilanjutkan dengan teknik catat dan rekam. Teori Leech digunakan sebagai pendekatan untuk menganalisis pelanggaran kesantunan berbahasa. Hasil penelitian ini menujukan bahwa ada enam prinsip yang dilanggar yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatikan. Faktor yang menyebabkan pelanggaran yaitu menyinggung perasaan pihak lain, marah yang berlebihan, proteksi terhadap pendapat, menuduh pihak lain, dan memojokkan pihak lain. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran berbahasa yang santun serta memperkaya khazanah studi pragmatik dalam konteks digital.Language plays an important role in communication as a means of conveying messages between individuals. In a social context, the use of language not only emphasises grammatical aspects but must also conform to norms of politeness. Polite language use is language behaviour that minimises impolite expressions and maximises polite expressions. Behaviour that does not conform to linguistic politeness is referred to as a breach of politeness. This study aims to identify forms of breaches of linguistic politeness principles and explain their causal factors in the comment section of Ganjar Pranowo's X account (formerly Twitter). A descriptive-qualitative method was used to conduct this research. Data collection was conducted using the free-flowing conversation method, followed by note-taking and recording techniques. Leech's theory was used as an approach to analyse violations of linguistic politeness. The results of this study indicate that six principles were violated: the maxim of wisdom, the maxim of generosity, the maxim of respect, the maxim of simplicity, the maxim of agreement, and the maxim of sympathy. The factors causing the violations were offending others' feelings, excessive anger, protecting one's opinion, accusing others, and cornering others. This study is expected to contribute to increasing awareness of polite language and enriching the study of pragmatics in the digital context.
4719850591L1B021041Uji Kimia Pakan Ikan Dengan Subsitusi Tepung Daun Ubi Jalar (Ipomoea batatas) TerfermentasiPakan dengan subsitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi menunjukkan kandungan nutrisi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan nutrisi pakan yang mengandung substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi. Metode yang digunakan meliputi uji kimia dengan analisis proksimat yang mencakup empat perlakuan: kontrol dan tiga tingkatan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi (25%, 50%, dan 75%) dengan tiga ulangan. Sampel sebanyak 30 gr/perlakuan diuji kandungan protein, lemak, kadar air, serat kasar, abu, dan karbohidrat untuk uji kimia. Hasil menunjukkan bahwa pakan dengan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi memiliki kandungan nutrisi yang bervariasi, dengan kadar protein (25,5–41,46%), lemak (3,36–5,91%), kadar air (5,25–7,82%), serat kasar (8,115–11,48%), kadar abu (6,39–7,91%), dan karbohidrat (38,125–52,065%). Pakan dengan substitusi 25% tepung daun ubi jalar (P2) menunjukkan kandungan nutrisi terbaik, hampir serupa dengan perlakuan kontrol (P1). The feed with substituted fermented sweet potato leaf flour exhibited varying nutritional content quality of the feed. This study aimed to evaluate the nutritional content and physical quality of feed containing fermented sweet potato leaf flour substitution. The methods used included chemical analysis through proximate analysis involving four treatments: control and three levels of fermented sweet potato leaf flour substitution (25%, 50%, and 75%) with three replications. A sample of 30 grams per treatment was analyzed for protein, fat, moisture, crude fiber, ash, and carbohydrate content for to determine the chemical composition. The results showed that feed with fermented sweet potato leaf flour substitution had varying nutritional contents, with protein levels ranging from 25.5% to 41.46%, fat from 3.36% to 5.91%, moisture from 5.25% to 7.82%, crude fiber from 8.115% to 11.48%, ash from 6.39% to 7.91%, and carbohydrates from 38.125% to 52.065%. The feed with 25% substitution (P2) had the best nutritional content, being almost identical to that of the control treatment (P1).
4719950592E1A021158Penanggulangan Maraknya Mengemis Online Di Sosial Media Berdasarkan Perspektif Politik KriminalTeknologi yang semakin berkembang pesat telah menimbulkan fenomena kejahatan
baru yaitu mengemis online di sosial media. Perbuatan mengemis online dianggap
tidak sesuai dengan nilai moral dan norma serta dapat mengganggu ketertiban umum.
Penelitian ini berfokus menganalisis fenomena mengemis online serta upaya
penanggulangannya melalui kebijakan politik kriminal yaitu kebijakan penal dan
kebijakan non penal. Metode penelitian yang digunakan adalah sosiolegal dengan
memanfaatkan pendekatan sosiologi hukum. Data diperoleh dari data primer seperti
hasil wawancara dan observasi seta data sekunder seperti peraturan perundangundangan, doktrin hukum, serta literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan
belum ada regulasi hukum yang mengatur secara tegas dan jelas mengenai mengemis
online sehingga lembaga pembentuk peraturan perundang-undangan serta pemerintah
pusat dan pemerintah daerah harus membuat peraturan perundang-undangan dari
tingkat pusat hingga daerah untuk mengatur mengemis online. Mengemis online
dikonstruksikan sama dengan tindak pidana mengemis sebagaimana dalam KUHP
sehingga mengemis online perlu dikriminalisasikan. Penanggulangan mengemis online
dapat dilakukan dengan kebijakan penal menggunakan sarana hukum pidana sebagai
tindakan represif dan dengan kebijakan non penal tanpa menggunakan hukum pidana
dan berfokus pada tindakan preventif atau pencegahan seperti rehabilitasi sosial.
The rapid advancement of technology has led to the emergence of a new form of crime,
namely online begging on social media. This act is considered inconsistent with moral
values and social norms and has the potential to disrupt public order. This research
focuses on analyzing the phenomenon of online begging and its countermeasures
through criminal policy, which includes both penal and non-penal approaches. The
research method employed is socio-legal, utilizing a sociological approach to law.
Data were obtained from primary sources, such as interviews and observations, as well
as secondary sources, including legislation, legal doctrines, and relevant literature.
The findings indicate that there is currently no clear and specific legal regulation
governing online begging, thus requiring legislative bodies, the central government,
and local governments to formulate comprehensive regulations at both national and
regional levels. Online begging is constructed as equivalent to conventional begging
as regulated in the Indonesian Penal Code (KUHP), thereby necessitating its
criminalization. The countermeasures for online begging can be implemented through
penal policies by using criminal law as a repressive measure and through non-penal
policies without applying criminal law, focusing instead on preventive actions such as
social rehabilitation.
4720048978A1A021026Tingkat Kepuasan Pengunjung pada Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus di Desa Limpakuwus Kecamatan Sumbang Kabupaten BanyumasPariwisata merupakan sektor yang berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah dan berpeluang dalam pembangunan nasional. Salah satu subsektor pariwisata yang berkontribusi dalam konservasi lingkungan dan pelestarian alam dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi adalah subsektor ekowisata. Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus merupakan objek wisata alam berbasis ekowisata yang terletak di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Kurun waktu dua tahun terakhir Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus mengalami penurunan jumlah pengunjung, oleh karena itu diperlukan adanya identifikasi terkait tingkat kepuasan pengunjung pada Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimana karaktersitik pengunjung objek wisata, 2) bagaimana tingkat kepuasan pengunjung objek wisata, dan 3) apa saja atribut yang perlu untuk ditingkatkan dan dipertahankan oleh objek wisata. Sedangkan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) karakteristik pengunjung objek wisata, 2) tingkat kepuasan pengunjung, dan 3) atribut yang perlu ditingkatkan dan dipertahankan.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian studi kasus melalui pendekatan mix-method. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari sampai Maret 2025, dengan objek penelitian adalah pengunjung Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 120 responden. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik Accidental Sampling. Pengumpulan data penelitian melalui metode wawancara, kuesioner, observasi dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, Customer Satisfaction Index (CSI), dan Importance Performance Analysis (IPA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Karakteristik pengunjung di Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus mayoritas berjenis kelamin perempuan dengan rentang usia 17-25 tahun, rata-rata pengunjung memiliki tingkat pendapatan direntang Rp 2.338.643 – Rp 4.676.820, sebagian besar pengunjung berasal dari luar daerah Purwokerto, dan mayoritas berkunjung sebanyak 1 kali dengan kelompok kunjungan dengan teman, pengunjung mengetahui Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus melalui media sosial, seperti platform tiktok dan Instagram, sebanyak 78 persen pengunjung memiliki minat kunjung kembali ke Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus. (2) Tingkat kepuasan pengunjung Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus memperoleh nilai sebesar 76,17 persen yang menunjukkan secara keseluruhan pengunjung merasa puas terhadap fasilitas objek wisata. (3) Atribut yang menjadi prioritas utama untuk perbaikan dan bahan evaluasi Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus adalah kemudahan akses, kondisi jalan, ketersediaan papan penunjuk dan rambu, keragaman wahana, kondisi dan keamanan wahana serta jarak antar wahana.
Tourism is a sector that plays an important role in regional economic growth and has the potential to contribute to national development. The ecotourism subsector is one of the tourism subsectors that contributes to environmental conservation and nature preservation by involving local communities to achieve economic well-being. The Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction is an eco-tourism-based natural tourism object in Limpakuwus Village, Sumbang Sub-district, Banyumas Regency. Over the past two years, the Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction has experienced a decline in visitor numbers, necessitating an assessment of visitor satisfaction levels at the Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction. The research questions in this study are: 1) what are the characteristics of visitors to the tourist attraction, 2) what is the level of visitor satisfaction at the tourist attraction, and 3) what attributes need to be improved and maintained by the tourist attraction. The objectives of this study are to determine: 1) the characteristics of visitors to the tourist attraction, 2) the level of visitor satisfaction, and 3) the attributes that need to be improved and maintained.
The research method used in this research is the case study method through a mixed methode approach.This research was conducted from February to March 2025, with the object of research being visitors to the Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction. The sample used in the study was 120 respondents. Research sampling using the accidental sampling technique. Collecting research data through interviews, questionnaires, observation, and literature study methods. Data analysis used is descriptive analysis, Customer Satisfaction Index (CSI), and Importance Performance Analysis (IPA).
The results showed that: (1) The characteristics of visitors at the Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction are mostly female with an age range of 17-25 years, the average visitor has an income level in the range of Rp 2,338,643 - Rp 4,676,820, most visitors come from outside the Purwokerto area, and the majority visit once with a group of friends, visitors know the Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction through social media, such as the tiktok and Instagram platforms, as many as 78 percent of visitors have an interest in returning to the Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction. (2) The level of visitor satisfaction of the Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction obtained a value of 76.17 percent, which shows that overall visitors are satisfied with the tourist attraction facilities. (3) Attributes that are the top priority for improvement and evaluation of Limpakuwus Pine Forest Tourism Attraction are ease of access, road conditions, availability of signposts and signs, diversity of rides, condition and safety of rides, and distance between rides.