Artikelilmiahs
Menampilkan 47.081-47.100 dari 48.726 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47081 | 50477 | E1B018018 | Legal Protection of Wildlife According to International Law (Study Case of The Giant Guitarfish and Wedgefish Rarity in Indonesia) | Kelangkaan ikan pari kekeh dan pari kikir di Indonesia sejak tahun 1980 dapat dikaitkan dengan beberapa faktor utama yang berhubungan dengan aktivitas manusia dan perubahan lingkungan. Salah satu faktor utama adalah penangkapan ikan secara berlebihan yang disebabkan oleh permintaan tinggi akan daging ikan pari untuk konsumsi manusia, serta sebagai objek perdagangan internasional dalam industri akuarium dan obat-obatan tradisional. Penelitian ini mengkaji tentang pengaturan satwa liar menurut hukum internasional serta perlindungan hukum terhadap punahnya ikan Pari Kekeh dan Pari Kikir di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif yang menggunakan pendekatan dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Spesifikasi penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis, sumber data sekunder dengan metode penyajian melalui uraian yang sistematis dan logis kemudian dianalisis menggunakan metode analisis data yuridis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan instrument yang mengatur satwa liar dalam hukum internasional adalah Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) 1973 khususnya pada Artikel II, Artikel IV, dan Artikel VIII, Convention on Biological Diversity (CBD) 1992 khususnya Artikel 6 dan Artikel 10, dan Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) 1979 khususnya Artikel II, Artikel IV, dan Artikel V. Upaya perlindungan hukum pari kekeh dan pari kikir di Indonesia yang telah dilakukan mencakup penetapan kawasan konservasi laut yaitu taman nasional laut seperti Taman Nasional Wakatobi dan Raja Ampat yang mencakup terumbu karang, padang lamun, dan mangrove sebagai habitat penting ikan pari, patroli pengawasan untuk mencegah penangkapan ikan ilegal, restorasi ekosistem pesisir, dan kerjasama dengan Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs) terkait pelaporan tangkapan spesies yang dilindungi, termasuk ikan pari. | The rarity of giant guitarfish and wedgefish in Indonesia can be attributed to several main factors related to human activities and environmental changes. One of the main factors is overfishing caused by the high demand for stingray meat for human consumption, as well as as an object of international trade in the aquarium industry and traditional medicine. Uncontrolled fishing practices and the use of fishing gear that damages the habitat, such as trawl nets and insensitive fishing, weaken the condition of the stingray population. This study examines the regulation of wildlife under international law and the legal protection concerning the extinction of giant guitarfish and wedgefish in Indonesia. It employs a normative legal research method with a statutory approach and a case approach. The research is characterized by a descriptive-analytical method, utilizing secondary data sources. This research are systematically and logically presented and analyzed using a qualitative juridical analysis method. The study reveals that the key international legal instruments governing wildlife include the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) 1973, particularly Articles II, IV, and VIII; the Convention on Biological Diversity (CBD) 1992, specifically Articles 6 and 10; and the Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS)1979, notably Articles II, IV, and V. Regarding legal protection against the extinction of giant guitarfish and wedgefish in Indonesia, various conservation efforts have been undertaken. These measures include the designation of marine conservation areas, such as Wakatobi National Park and Raja Ampat National Park, which encompass coral reefs, seagrass beds, and mangrove forests as critical habitats for these species. Additional efforts involve surveillance patrols to prevent illegal fishing, coastal ecosystem restoration, and collaboration with Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs) to report the capture of protected species, including giant guitarfish and wedefish. | |
| 47082 | 50471 | C2C021056 | The mediating role of trust, brand image, and brand awareness of the effect of social media marketing on purchase intention | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemasaran media sosial terhadap minat beli pengguna layanan shopeefood di Purwokerto dengan kepercayaan, citra merek dan kesadaran merek sebagai variabel mediasi. Alat analisis pada penelitian menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan perangkat lunak SmartPLS. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuesioner tertutup melalui google form kepada 160 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel social media marketing, kepercayaan, dan citra merek berpengaruh positif terhadap minat beli sedangkan kesadaran merek tidak berpengaruh terhadap minat beli. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa kepercayaan dan citra merek berperan dalam memediasi hubungan antara pemasaran media sosial dan minat beli. Sedangkan, variabel kesadaran merek tidak berperan dalam memediasi hubungan antara pemasaran media sosial dan minat beli. | This study aims to determine how the influence of social media marketing on the purchase intention of shopeefood service users in Purwokerto with trust, brand image and brand awareness as mediating variables. The analytical tool in this study uses the Partial Least Square (PLS) approach using SmartPLS software. Sampling using purposive sampling technique. The data collection method in this study was using a closed questionnaire via google form to 160 respondents. The results of this study indicate that the variables of social media marketing, trust, and brand image have a positive effect on purchase intention while brand awareness has no effect on buying interest. The results of this study also found that trust and brand image play a role in mediating the relationship between social media marketing and purchase intention. Meanwhile, the brand awareness variable does not play a role in mediating the relationship between social media marketing and purchase intention. | |
| 47083 | 50478 | E1A021174 | PEMBUKTIAN TERHADAP ANAK PELAKU PERANTARA JUAL BELI NARKOTIKA MELALUI UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK (Studi Putusan No. 26/Pid.Sus.Anak/2022/PN.Mtr) | Penyalahgunaan narkotika marak terjadi pada generasi penerus bangsa. Tantangan untuk mengatasi dan mengedukasi Anak kian meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pembuktian terhadap anak sebagai perantara jual beli narkotika berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, serta pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Nomor 26/Pid.Sus.Anak/2022/PN.Mtr. Jenis penelitian yang dipakai adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan kasus, perundang-undangan, dan putusan pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuktian dilakukan dengan sistem pembuktian negatif menurut KUHAP, namun disesuaikan dengan prinsip perlindungan anak dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Alat bukti yang diajukan meliputi keterangan saksi, keterangan terdakwa, barang bukti, dan petunjuk, yang secara keseluruhan membuktikan unsur tindak pidana perantara jual beli narkotika jenis sabu. Hakim mempertimbangkan faktor meringankan seperti usia terdakwa yang masih anak, sikap kooperatif, dan tidak adanya catatan kriminal sebelumnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, hakim menjatuhkan pidana pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) demi kepentingan terbaik bagi anak. | Drug abuse is rampant among the nation's next generation. The challenge to overcome and educate children is increasing. This study aims to understand the process of proving children as intermediaries in the sale and purchase of narcotics based on the provisions of Law Number 11 of 2012 concerning the Child Criminal Justice System, as well as the legal considerations of judges in Decision Number 26/Pid.Sus.Anak/2022/PN.Mtr. The type of research used is normative juridical with a case approach method, legislation, and court decisions. The results showed that the evidentiary process was carried out with a negative evidentiary system according to the Criminal Procedure Code, but adjusted to the principles of child protection in Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System. The evidence presented included witness testimony, defendant's testimony, evidence, and clues, which overall proved the elements of the crime of intermediary in the sale and purchase of methamphetamine. The judge considered mitigating factors such as the defendant's young age, cooperative attitude, and no previous criminal record. Based on these considerations, the judge imposed a sentence of guidance in the Special Development Institute for Children (LPKA) for the best interest of the child. | |
| 47084 | 50480 | I1C020041 | ANALISIS PERSPEKTIF MAHASISWA PROGRAM SARJANA FARMASI DALAM MENGHADAPI UJIAN DENGAN PENDEKATAN METODE OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) | Objective Structured Clinical Examination (OSCE) merupakan metode evaluasi praktikum untuk menilai keterampilan mahasiswa. Perspektif mahasiswa terhadap OSCE penting untuk mengevaluasi kualitas pelaksanaan OSCE di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat perspektif mahasiswa sarjana farmasi dalam menghadapi ujian praktikum menggunakan pendekatan metode OSCE. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik total sampling pada mahasiswa farmasi Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2021 untuk melihat hubungan antara tingkat persepktif dan kesiapan mahasiswa dengan nilai ujian praktikum OSCE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perspektif mahasiswa program sarjana farmasi memperoleh skor sebesar 67,5% (perspektif baik), sedangkan tingkat kesiapan memperoleh total skor 60,42% (kesiapan sedang). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat perspektif mahasiswa sarjana farmasi dengan nilai ujian praktikum metode OSCE (p=0,358) maupun tingkat kesiapan dengan nilai ujian praktikum (p=0,855). Kesimpulannya, mahasiswa program sarjana farmasi Universitas Jenderal Soedirman memiliki tingkat perspektif yang tinggi dan tingkat kesiapan yang sedang dalam menghadapi ujian prakitkum metode OSCE. Tidak ditemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat perspektif mahasiswa serta tingkat kesiapan dengan nilai ujian prakitkum. Nilai ujian dipengaruhi oleh faktor internal seperti kondisi psikologis, kecerdasan, bakat dan motivasi; serta faktor eksternal mencakup pengaruh lingkungan sosial. | The Objective Structured Clinical Examination (OSCE) is an evaluation method used in practicum to assess students’ skills. Students’ perspectives on OSCE are important indicators to evaluate the quality of its implementation in undergraduate university. This study aims to determine the perspectives of pharmacy undergraduate students in facing OSCE-based practicum examinations. This study utilized a cross-sectional design with total sampling of undergraduate pharmacy students at Jenderal Soedirman University, class of 2021, to examine the relationship between student’ perspectives, readiness and OSCE-based practicum examination scores. The results showed that the students’ perspective level reached 67,5% (categorized as good), while the readiness level scored 60,42% (moderate readiness). Statistical tests showed no significant relationship between students’ perspectives and OSCE-based practicum examination scores p=0,358, nor between readiness and OSCE-based practicum examination scores p=0,855. In conclusion, the students’ perspective level reached 67,5% (categorized as good), while the readiness level scored 60,42% (moderate readiness). Statistical tests showed no significant relationship between students’ perspectives and OSCE-based practicum examination scores (p=0,358), nor between readiness and OSCE-based practicum examination scores (p=0,855). | |
| 47085 | 50481 | C1C018113 | PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PEMERINTAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI | Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan dampaknya pada Pertumbuhan Ekonomi (PE). Dalam penelitian ini, melakukan analisis yang didasarkan pada hasil capaian nilai SPIP terhadap nilai total PAD dan PDRB pada PE, dalam sampel meyeluruh atau sensus dari keseluruhan jumlah populasi yaitu 29 Kabupaten dan 6 Kota di provinsi Jawa Tengah dan metode yang digunakan adalah kuantitatif. Hasil dari analisis menggunakan aplikasi stata menunjukan bahwa SPIP memiliki pengaruh yang positif terhadap PAD dan PE, begitupun dengan PAD yang berpengaruh positif terhadap PE, dan memoderasi secara parsial. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya penerapan SPIP yang baik untuk meningkatkan pengelolaan pada PAD dan PE secara efektif dan efisien. | This study was conducted to determine the effect of the implementation of the Government Internal Control System (SPIP) in increasing Regional Original Revenue (PAD) and its impact on Economic Growth (PE). In this study, conducting an analysis based on the results of the achievement of SPIP values on the total value of PAD and GRDP in PE, in a sample of the entire population, namely 29 districts and 6 cities in Central Java province and the method used is quantitative. The results of the analysis using the Stata application show that SPIP has a positive effect on PAD and PE, as well as PAD which has a positive effect on PE, and moderates partially. The implication of this research is the need for good SPIP implementation to improve management of PAD and PE effectively and efficiently. | |
| 47086 | 50482 | I2A023014 | EVALUASI IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT (SIMRS) DENGAN METODE HOT-FIT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS | Latar Belakang: Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan strategi penting dalam meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan kesehatan. Namun, keberhasilan implementasi sistem tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia dan dukungan organisasi. Oleh karena itu, diperlukan analisis menyeluruh berdasarkan pendekatan HOT-FIT (Human, Organization, Technology, dan Net Benefit) untuk mengidentifikasi faktor dominan dalam pencapaian manfaat sistem. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain eksplanatori sekuensial. Tahap kuantitatif melibatkan 182 tenaga kesehatan di RSUD Banyumas yang dipilih menggunakan total sampling. Analisis kuantitatif dilakukan dengan uji korelasi Spearman dan regresi logistik untuk melihat hubungan dan pengaruh aspek HOT-FIT terhadap Net Benefit. Tahap kualitatif berupa wawancara mendalam dengan 10 informan kunci dan dianalisis menggunakan teknik content analysis untuk memperkuat temuan kuantitatif. Hasil: Mayoritas responden merupakan tenaga kesehatan berpendidikan sarjana atau diploma, berjenis kelamin perempuan, dan memiliki masa kerja lebih dari satu tahun. Sebagian besar responden menilai implementasi SIMRS baik pada aspek Human (94,7%), Organization (98,4%), Technology (98,9%), dan Net Benefit (98,4%). Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara Human (r=0,348; p<0,001), Organization (r=0,322; p<0,001), dan Technology (r=0,401; p<0,001) dengan Net Benefit. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa hanya aspek Human yang berpengaruh signifikan terhadap Net Benefit (OR=26,959; p=0,020). Hasil eksplorasi kualitatif menegaskan bahwa keberhasilan implementasi SIMRS dipengaruhi oleh kemauan belajar, kemampuan adaptasi, dan komunikasi efektif pengguna dengan tim IT, sementara dukungan organisasi dan kesiapan teknologi berperan sebagai faktor pendukung. Kesimpulan: Aspek Human merupakan faktor paling dominan dalam pencapaian Net Benefit implementasi SIMRS di RSUD Banyumas. Penguatan kapasitas SDM melalui pelatihan berkelanjutan, peningkatan literasi digital, dan dukungan motivasional dari manajemen perlu menjadi prioritas guna mengoptimalkan keberhasilan dan keberlanjutan implementasi SIMRS. Kata Kunci: SIMRS, HOT-FIT, Human, Net Benefit, Sistem Informasi, RSUD Banyumas | Background: The implementation of the Hospital Management Information System (HMIS) is a key strategy to improve the quality and efficiency of healthcare services. However, system success is influenced not only by technology but also by the readiness of human resources and organisational support. Therefore, a comprehensive analysis using the HOT-FIT (Human, Organisation, Technology, and Net Benefit) framework is required to identify the dominant factors in achieving system benefits. Methods: This study applied a mixed-methods approach with a sequential explanatory design. The quantitative phase involved 182 healthcare workers at Banyumas Regional Hospital, selected through total sampling. Spearman’s correlation and logistic regression analyses were employed to examine the relationship and influence of HOT-FIT aspects on Net Benefit. The qualitative phase consisted of in-depth interviews with 10 key informants, analysed using content analysis to complement quantitative findings. Results: The majority of respondents were female healthcare professionals with a diploma or bachelor’s degree and more than one year of work experience. Most respondents rated the HMIS implementation positively in the aspects of Human (94.7%), Organisation (98.4%), Technology (98.9%), and Net Benefit (98.4%). Correlation analysis revealed significant positive associations between Human (r = 0.348; p < 0.001), Organisation (r = 0.322; p < 0.001), and Technology (r = 0.401; p < 0.001) with Net Benefit. Logistic regression analysis indicated that only the Human aspect had a significant effect on Net Benefit (OR = 26.959; p = 0.020). Qualitative exploration highlighted that successful implementation was driven by willingness to learn, adaptability, and effective communication between users and the IT team, while organisational support and technological readiness acted as enabling factors. Conclusion: The Human aspect is the most dominant factor in achieving Net Benefit in HMIS implementation at Banyumas Regional Hospital. Strengthening human resource capacity through continuous training, digital literacy improvement, and motivational support from management should be prioritised to optimise the success and sustainability of HMIS implementation. Keywords: HMIS, HOT-FIT, Human, Net Benefit, Information System, Banyumas Regional Hospital | |
| 47087 | 50483 | C1A021010 | THE NEXT INTERNET PPROJECT: USAHA DALAM BIDANG JARINGAN INTERNET DAN KAMERA PENGAWAS CCTV | The Next Internet Project merupakan usaha di bidang Internet dan Kamera Pengawas CCTV yang sudah dibangun sejak tahun 2024. Latar belakang berdirinya usaha ini yaitu keinginan penulis dan juga melihat peluang pasar yang sangat tinggi terhadap permintaan penyedia Internet di suatu Pedesaan melihat zaman sekarang ini masuk era Digital. The Next Internet Project bergerak dibidang jasa penyedia layanan internet, jasa pemasangan CCTV, dan jasa perapian instalasi jaringan (kantor,kos-kosan,dll). Usaha ini yang dijalankan oleh penulis mengalami masalah diawal dalam berjalannya usaha salah satunya dikarenakan penulis kekurangan modal dan disisi lain waktu si penulis. Permasalahan yang dihadapi penulis terkait waktu dikarenakan penulis masih bersamaan menjalankan waktu perkuliahan dan bekerja disuatu perusahaan untuk mencukupi modal yang dibutuhkan. Dengan berjalannya waktu usaha ini akhirnya bisa terlaksana dan terus berkembang. Penulis menjalankan usaha ini dengan penuh perjuangan secara pribadi sampai sekarang. Usaha The Next Internet Project menggunakan model pemasaran melalui sosialisasi langsung didaerah tersebut seperti mengadakan pertemuan didesa dan diberbagai RT/RW dibawahnya. Selain itu pemasaran yang dijalankan oleh usaha ini dari mulut ke mulut masyarakat yang sudah menggunakan layanan yang sudah kami berikan. The Next Internet Project memiliki target pasar utamanya didaerah pedesaan yang masih minim dengan adanya jasa layanan Internet. Disisi lain usaha ini juga ingin memiliki manfaat yang lebih untuk didaerah pedesaan tersebut seperti : Internet Wifi pos ronda gratis, penerangan lampu jalan, CCTV keamanan desa, dan berkontribusi perayaan HUT RI. Tujuan kegiatan wirausaha ini yaitu mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang diterima selama perkuliahan dan secara mandiri kedunia kerja. Penerapan softskill dan hardskill yang telah didapatkan penulis untuk menjalankan wirausaha, dan juga mendapatkan omset usaha yang optimal. Usaha ini telah berjalan kurang lebih 1,5 tahun sudah mampu mencapai omset yang optimal dengan pengembalian modal awal secara keseluruhan dan peningkatan omset dari waktu ke waktu. Penulis juga terus berkembang dalam usaha ini dan mendapatkan freelance diperusahaan lain. | The Next Internet Project is a business in the field of Internet and Telecommunications that has been established since 2024. The background to the establishment of this business is the author’s desire and also seeing a very high market opportunity for the demand for Internet providers in a rural area considering that today’s era has entered the Digital era. The Next Internet Project is engaged in the field of internet service providers, CCTV installation services, and network installation services (officer,boarding house,etc.). This business run by the author experienced problems at the beginning of the business, one of which was because the author lacked capital andd on the other hand the author’s time. The problems faced by the author related to time because the author was still simultaneously running college and working at a company to meet the capital needed. Over time, this business was finally able to be implemented and continued to grow. The author runs this business with great struggle personally until now. The Next Internet Project business uses a marketing model,namely through direct socialization in the area, such as holding meetings in the village and in various RT/RW below it. In addition, the marketing carried out by this business is by word of mouth from the community who have used the services we have provided. The Next Internet Project has its main target market in rural areas that still lack internet services. On the other hand, this business also want to have more benefits for rural areas such as: free Wifi Internet, security posts, street lighting, village security CCTV, and contributing to the celebration of the Republic of Indonesia’s Independence Day. The purpose of this entrepreneurial activity is to implement the knowledge received during lectures and independently into the world of work. The application of soft skills and hard skills that the author has obtained to run a business, and also to get optimal business turnover. This business has been running for approximately 1,5 years and has been able to achieve optimal turnover with a return on initial capital as a whole and an increase in turnover from time to time. The author also continues to grow in this business and gets freelance work from other companies. | |
| 47088 | 50439 | J0A020053 | Designing a Requirement Brochure in English for Cilacap Immigration Office | Laporan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan praktik kerja magang yang dilaksanakan pada tanggal 3 April 2023 - 3 Mei 2023. Laporan tugas akhir ini memaparkan proses dan hasil pembuatan brosur persyaratan dalam bahasa Inggris untuk Kantor Imigrasi Kelas II TPI Cilacap. Tujuan utama dari proyek ini adalah menghasilkan brosur yang informatif, mudah dipahami, dan dirancang secara profesional guna membantu warga negara asing memahami prosedur keimigrasian serta persyaratan dokumen, termasuk Izin Tinggal Kunjungan (ITK), Izin Tinggal Terbatas (ITAS), Izin Tinggal Tetap (ITAP), Exit Permit Only (EPO), dan Exit Re-entry Permit (ERP). Brosur ini dikembangkan berdasarkan pendekatan English for Specific Purposes (ESP), dengan menggunakan metode terstruktur yang mencakup observasi, wawancara dengan staf imigrasi, serta analisis dokumen. Laporan ini menjelaskan secara rinci setiap tahapan dalam proses pembuatan brosur, mulai dari praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi termasuk penulisan konten, strategi desain menggunakan Canva, serta publikasi dalam bentuk cetak. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan waktu akibat hari libur nasional dan kebutuhan untuk membagi waktu antara kegiatan magang dengan penyelesaian proyek. Kendala tersebut diatasi melalui manajemen waktu yang baik serta komitmen pribadi untuk menyelesaikan pekerjaan di luar jam kantor. Produk akhir yang dihasilkan diharapkan dapat memaksimalkan dan meningkatkan kualitas pelayanan di Kantor Imigrasi dan membantu warga negara asing dalam memahami prosedur administrasi secara mandiri dan jelas. Secara keseluruhan, proyek ini menunjukkan bahwa komunikasi bahasa dan visual memiliki peran penting dalam pelayanan publik, serta memberikan kontribusi nyata baik bagi instansi maupun bagi pengembangan keterampilan dan pengetahuan penulis. | This report is prepared based on the internship job training carried out on April 3, 2023 - May 3, 2023.This final project report presents the process and outcomes of creating a requirement brochure in English for the Cilacap Immigration Office. The primary goal was to develop an informative, accessible, and professionally designed brochure that assists foreign nationals in understanding immigration procedures and document requirements, including Visit Stay Permits (ITK), Limited Stay Permits (ITAS), Permanent Stay Permits (ITAP), Exit Permit Only (EPO), and Exit Re-entry Permit (ERP). Grounded in the framework of English for Specific Purposes (ESP), the brochure was developed through a structured methodology including observation, interviews with immigration staff, and documentation analysis. The report details each phase of brochure development; pre-production, production, and post-production, covering content writing, design strategy using Canva, and the publication printed versions. The final product is expected to maximize and enhances the immigration office’s service quality and helps ensure that foreign nationals can navigate administrative procedures clearly and independently. Ultimately, this project demonstrates how language and visual communication play a critical role in public service, and it contributes practically to both the institution and the author’s knowledge and skill. Challenges faced included time limitations due to national holidays and balancing internship responsibilities with project development. These were overcome through effective time management and additional personal effort outside working hours. | |
| 47089 | 50484 | I1E018045 | KONTRIBUSI POWER OTOT TUNGKAI, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KOORDINASI MATA TANGAN TERHADAP KETEPATAN SMASH PESERTA EKSTRAKURIKULER BOLAVOLI | ABSTRAK Latar Belakang : Olahraga bolavoli memiliki beberapa teknik pukulan, salah satunya yaitu smash yang membutuhkan beberapa komponen fisik sebagai penunjang keberhasilan melakukan pukulan smash. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi antara power otot tungkai, kekuatan otot lengan, dan koordinasi mata tangan terhadap ketepatan smash bolavoli. Metodologi : Penelitian ini merupakan penelitian korelasional, bertujuan untuk mencari hubungan dan kontribusi antara variabel bebas power otot tungkai, kekuatan otot lengan, dan koordinasi mata tangan terhadap variabel terikat ketepatan smash. Sampel pada penelitian ini berjumlah 12 peserta ekstrakurikuler bolavoli SMA N 3 Purwokerto. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi product moment Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai koefisien korelasi hubungan power otot tungkai dengan ketepatan smash sebesar 0,583. Koefisien korelasi kekuatan otot lengan dengan ketepatan smash sebesar 0,635. Koefisien korelasi koordinasi mata tangan dengan ketepatan smash sebesar 0,597. Sedangkan hasil dari f hitung > f tabel (14,114 > 4,04) dengan nilai probabilitas sebesar 0,000. Kesimpulan: Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan dan kontribusi yang signifikan antara power otot tungkai, kekuatan otot lengan, dan koordinasi mata tangan dengan ketepatan smash bolavoli. Kata Kunci: Bolavoli, komponen fisik, smash | ABSTRACT Background: Volleyball has several hit techniques; one of them is smash which requires several physical components as a support for the success of making a smash. This study was to determine the correlation between leg muscle power, arm muscle strength and hand eye coordination on volleyball smashes. Methodology: This study was a correlational study and the purpose was to find out the correlation and contribution between the independent variable of leg muscle power, arm muscle strength and hand eye coordination to the dependent variable smash accuracy. This study had 12 of extracurricular participant volleyball SMA N 3 Purwokerto. The researcher used product moment correlation test to analyze the data. Result: Based on the data analysis, the correlation coefficient value between the leg muscle power and the accuracy of the smash was 0.583, the correlation coefficient between arm muscle strength and smash accuracy was 0.635, meanwhile between the hand eye coordination and smash accuracy was 0.597. The result of f > table f (14,114 > 4,04) with a probability value of 0,000. Conclusion: The result of the data analysis indicated that there was a significant correlation among leg muscle power, arm muscle strength, and hand eye coordination with the accuracy of volleyball smashes. Keywords: volleyball, physical component, smash | |
| 47090 | 50485 | J1D021058 | Penggunaan Ragam Bahasa Slang pada Kolom Komentar TikTok Siswa SMP Negeri 9 Purwokerto (Kajian Sosiolinguistik) | Bahasa merupakan alat komunikasi utama dalam kehidupan manusia yang terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan dinamika sosial masyarakat. Salah satu bentuk variasi bahasa yang mencerminkan dinamika tersebut adalah bahasa slang, yaitu ragam bahasa informal yang umumnya digunakan oleh kelompok sosial tertentu, terutama oleh kalangan pelajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk bahasa slang pada pelajar di media sosial TikTok meliputi singkatan, bentuk yang dipendekkan, salah ucap yang lucu, dan interjeksi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis fungsi bahasa slang dalam kolom komentar pelajar di media sosial TikTok meliputi emotif, referensial, konotatif, dan fatik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitiatif dengan menggunakan metode analisis isi. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik dasar berupa; bebas libat cakap dan teknik lanjutan berupa catat kemudian menggunakan teknik dokumentasi. Data dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis interaktif Miles and Huberman. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan ragam bahasa slang pada kolom komentar TikTok siswa SMP Negeri 9 Purwokerto tidak hanya mencerminkan dinamika bahasa remaja, tetapi juga menunjukkan peran penting media sosial dalam membentuk gaya berbahasa generasi muda. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan lebih lanjut dengan memperluas objek kajian, misalnya mencakup siswa dari sekolah yang berbeda, platform media sosial yang lain, atau membandingkan antarjenjang pendidikan. | Language is the primary means of communication in human life, which continues to evolve in line with the progression of time and the social dynamics of society. One form of language variation that reflects these dynamics is slang, an informal language variety typically used by specific social groups, particularly students. This study aims to identify slang language forms among students on the TikTok social media platform, including abbreviations, shortened forms, humorous mispronunciations, and interjections. Additionally, this study seeks to analyze the functions of slang language in students' comments on TikTok, including emotive, referential, connotative, and phatic functions. This is a qualitative descriptive study using content analysis. Data were collected through observation using basic techniques such as free conversation and advanced techniques such as note-taking, followed by documentation. The data in this study were analyzed using Miles and Huberman's interactive analysis. The results of this study can be concluded that the use of slang language in the TikTok comment sections of students at SMP Negeri 9 Purwokerto not only reflects the dynamics of adolescent language but also highlights the important role of social media in shaping the language style of the younger generation. The results of this study are expected to be further developed by expanding the scope of the study, for example, to include students from different schools, other social media platforms, or comparisons between educational levels. | |
| 47091 | 50490 | E2A023009 | PENETAPAN STATUS PERAMPASAN BARANG BUKTI NARKOTIKA DALAM TINDAK PIDANA NARKOTIKA | Pengaturan mengenai status perampasan terhadap barang bukti yang disita dalam tindak pidana narkotika telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika pada ketentuan Pasal 101 ayat (1) dan Pasal 136 yang menyatakan bahwa Narkotika, Prekursor Narkotika, dan alat atau barang yang digunakan di dalam tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika atau yang menyangkut Narkotika dan Prekursor Narkotika serta hasilnya dinyatakan “dirampas untuk negara”. Pada praktiknya hakim tidak menerapkan ketentuan dalam Undang-Undang Narkotika tersebut dan tidak sedikit hakim yang menetapkan status perampasan terhadap barang bukti pada tindak pidana narkotika agar “dirampas untuk dimusnahkan”. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penentuan status barang bukti yang disita dalam tindak pidana narkotika serta menganalisis tepat tidaknya terhadap barang bukti yang disita dalam tindak pidana narkotika hakim menetapkan dirampas untuk dimusnahkan. Jenis penelitian dan metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Yuridis Empiris. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari wawancara dengan narasumber dan data sekunder yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan, literatur, serta putusan pengadilan yang relevan. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa penentuan status barang bukti yang disita dalam tindak pidana narkotika berdasarkan teori kebebasan hakim dan penafsiran hukum sistematis hakim dapat mendasarkan pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana maupun Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika karena dualisme pengaturan tersebut saling terkait dan saling melengkapi satu sama lain untuk tercapainya suatu putusan yang adil dan bermanfaat. Penetapan status perampasan oleh hakim terhadap barang bukti yang disita dalam tindak pidana narkotika agar dirampas untuk dimusnahkan berdasarkan teori kebebasan hakim dan teori tujuan hukum adalah penetapan yang tepat apabila barang bukti dalam tindak pidana narkotika tersebut jumlahnya sedikit. Namun Apabila barang bukti dalam tindak pidana narkotika jumlahnya banyak dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan negara maka lebih tepat ditetapkan dirampas untuk negara. | The provisions regarding the status of confiscation of evidence confiscated in narcotics crimes have been specifically regulated in Law Number 35 of 2009 concerning Narcotics in the provisions of Article 101 paragraph (1) and Article 136 which state that Narcotics, Narcotics Precursors, and tools or goods used in Narcotics and Narcotics Precursor crimes or those related to Narcotics and Narcotics Precursors and the results are declared "confiscated for the state". In practice, judges do not apply the provisions in the Narcotics Law and not a few judges determine the status of confiscation of evidence in narcotics crimes to be "confiscated for destruction". The purpose of this study is to analyze the determination of the status of evidence confiscated in narcotics crimes and to analyze the appropriateness of the judge's determination of confiscated evidence in narcotics crimes to be confiscated for destruction. The type of research and approach method used in this study is Empirical Jurisprudence. The data sources used are primary data obtained from interviews with informants and secondary data obtained from laws and regulations, literature, legal doctrine, and relevant court decisions. The results of this study explain that the determination of the status of confiscated evidence in narcotics crimes based on the theory of judicial independence and the judge's systematic legal interpretation can be based on the Criminal Procedure Code and Law No. 35 of 2009 concerning Narcotics because the dualism of these regulations is interrelated and complements each other to achieve a fair and beneficial decision. The determination of the confiscation status by the judge of the confiscated evidence in narcotics crimes to be confiscated for destruction based on the theory of judicial independence and the theory of legal objectives is an appropriate determination if the evidence in the narcotics crime is small in number. However, if the evidence in the narcotics crime is large in number and can be used for the benefit of the state, it is more appropriate to determine it is confiscated for the state. | |
| 47092 | 50491 | I1D021078 | Perbedaan Tingkat Kecukupan Energi dan Protein Anak, serta Kualitas Diet Ibu pada Anak Usia 6 - 23 Bulan Stunting dan Non-Stunting di Kabupaten Banyumas | Latar Belakang: Salah satu permasalahan gizi pada masa 1000 HPK adalah stunting yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Stunting dapat terjadi karena faktor langsung dari asupan gizi dan faktor tidak langsung dari kualitas diet ibu yang dapat memengaruhi kualitas ASI yang dihasilkan. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecukupan energi dan protein anak, serta kualitas diet ibu pada anak usia 6 – 23 bulan stunting dan non-stunting di Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian dilakukan menggunakan desain studi case control dengan masing-masing 36 sampel tiap kelompok stunting dan non-stunting usia 6 – 23 bulan di Desa Sumbang, Banteran, dan Karangtengah. Responden dipilih berdasarkan teknik purposive sampling dan matching usia + 2 bulan dan lokasi desa. Instrumen dalam penelitian ini adalah formulir SQ-FFQ untuk mendapatkan data asupan makan ibu dan anak, serta standar skoring HEI-2015 untuk menilai kualitas diet ibu. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji Independent t-test dan Mann-Whitney. Hasil Penelitian: Hasil uji menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecukupan energi dan protein pada anak usia 6 – 23 bulan stunting dan non-stunting di Kabupaten Banyumas (p-value <0,001) dengan persentase tingkat kecukupan energi dan protein lebih tinggi pada kelompok non-stunting. Namun, tidak terdapat perbedaan pada kualitas diet ibu dengan anak stunting dan non-stunting di Kabupaten Banyumas (p-value = 0,254). Kesimpulan: Terdapat perbedaan tingkat kecukupan energi dan protein anak, tetapi tidak terdapat perbedaan kualitas diet ibu pada anak usia 6 – 23 bulan stunting dan non-stunting di Kabupaten Banyumas | Background: Stunting is a one of the common nutrition problems encountered during the first 1000 days of life, which hinders child growth and development. It may result from direct factors such as nutrition intake, as well as indirect factors such as maternal diet quality that can affect breast milk composition. This study aims to determine the differences in energy and protein adequacy levels in children and maternal diet quality in stunting and non-stunting children aged 6 – 23 months in Banyumas Regency. Methods: This case-control study involved 36 samples in each group of stunting and non-stunting children aged 6 – 23 months in Sumbang, Banteran, and Karangtengah Villages. Respondents were selected through purposive sampling with age (+2 months) and village matching. Dietary intake was assessed using the SQ-FFQ and maternal diet quality using the HEI-2015. Bivariate analysis was performed using the Independent t-test and Mann-Whitney test. Result: The result showed significant differences in the energy and protein adequacy levels between stunting and non-stunting children aged 6 – 23 months in Banyumas Regency (p-value <0,001) with higher energy and protein adequacy levels in the non-stunting group. However, there was no significant difference in the diet quality of mothers with stunting and non-stunting children aged 6 – 23 months in Banyumas Regency (p-value = 0,254). Conclusion: There were significant differences in the energy and protein adequacy levels in children, but no significant difference in the maternal diet quality between stunting and non-stunting children aged 6 – 23 months in Banyumas Regency. | |
| 47093 | 49758 | B1B021013 | Molecular Detection of Influenza Virus and Risk Factors for Acute Respiratory Infection Among Children in Batur District, Banjarnegara Regency | Acute Respiratory Infection (ARI) is a type of acute disease that can affect one or more respiratory tract segments. One of the main causes of ARI in children is the influenza virus, which still remains a global public health burden. Within the Orthomyxoviridae family, influenza is classified as an enveloped, negative-sense, single-stranded RNA (ssRNA) virus that causes significant morbidity and mortality. The influence of molecular surveillance is still limited, especially in highland areas like Banjarnegara's Batur District. This study employed RT-PCR to detect influenza virus in pediatric ARI cases in order to determine the incidence of influenza virus and investigate related epidemiological risk factors. Purposive sampling was used in a cross-sectional survey design. Between December 2023 and June 2024, 70 nasopharyngeal (NP) swab specimens were taken from children with ARI who were ages 0–12 at Puskesmas Batur I and II. The Zymo Direct-Zol RNA Miniprep kit was used for RNA extraction, and cDNA synthesis came next. A 243 bp amplicon was produced by RT-PCR directed against the influenza matrix (M) gene, and the results were verified by electrophoresis on a 1.5% agarose gel. Structured questionnaires were used to collect epidemiological data, such as age, sex, vaccination status, cigarette smoke exposure, and previous ARI cases in the home or neighborhood. The findings revealed a moderate prevalence of influenza virus, with 21 out of 70 samples (30%) testing positive. ISPA_D_024, ISPA_D_026, ISPA_D_029, ISPA_D_031, ISPA_D_039, ISPA_D_041, ISPA_D_045, ISPA_D_048, ISPA_D_049, ISPA_D_050, ISPA_D_051, ISPA_D_052, ISPA_D_060, ISPA_D_061, ISPA_D_062, ISPA_D_064, ISPA_D_065, ISPA_D_066, ISPA_D_067, ISPA_D_067, ISPA_D_068, and ISPA_D_069 were among the samples that were found to be positive. Increased infection rates were strongly associated with incomplete vaccination, exposure to home cigarette smoke, and a history of ARI in the surrounding environment. This study emphasizes the accuracy of RT-PCR for influenza identification as well as the importance of preventive measures including vaccination, improved environmental hygiene, and parental education. | Acute Respiratory Infection (ARI) is a type of acute disease that can affect one or more respiratory tract segments. One of the main causes of ARI in children is the influenza virus, which still remains a global public health burden. Within the Orthomyxoviridae family, influenza is classified as an enveloped, negative-sense, single-stranded RNA (ssRNA) virus that causes significant morbidity and mortality. The influence of molecular surveillance is still limited, especially in highland areas like Banjarnegara's Batur District. This study employed RT-PCR to detect influenza virus in pediatric ARI cases in order to determine the incidence of influenza virus and investigate related epidemiological risk factors. Purposive sampling was used in a cross-sectional survey design. Between December 2023 and June 2024, 70 nasopharyngeal (NP) swab specimens were taken from children with ARI who were ages 0–12 at Puskesmas Batur I and II. The Zymo Direct-Zol RNA Miniprep kit was used for RNA extraction, and cDNA synthesis came next. A 243 bp amplicon was produced by RT-PCR directed against the influenza matrix (M) gene, and the results were verified by electrophoresis on a 1.5% agarose gel. Structured questionnaires were used to collect epidemiological data, such as age, sex, vaccination status, cigarette smoke exposure, and previous ARI cases in the home or neighborhood. The findings revealed a moderate prevalence of influenza virus, with 21 out of 70 samples (30%) testing positive. ISPA_D_024, ISPA_D_026, ISPA_D_029, ISPA_D_031, ISPA_D_039, ISPA_D_041, ISPA_D_045, ISPA_D_048, ISPA_D_049, ISPA_D_050, ISPA_D_051, ISPA_D_052, ISPA_D_060, ISPA_D_061, ISPA_D_062, ISPA_D_064, ISPA_D_065, ISPA_D_066, ISPA_D_067, ISPA_D_067, ISPA_D_068, and ISPA_D_069 were among the samples that were found to be positive. Increased infection rates were strongly associated with incomplete vaccination, exposure to home cigarette smoke, and a history of ARI in the surrounding environment. This study emphasizes the accuracy of RT-PCR for influenza identification as well as the importance of preventive measures including vaccination, improved environmental hygiene, and parental education. | |
| 47094 | 50486 | I1A018061 | EVALUASI KUALITAS AIR MINUM DAN AIR BERSIH RUMAH TANGGA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEBOROKRAPYAK | Tingginya prevalensi penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare, berkaitan dengan rendahnya pencapaian pilar ketiga STBM, yaitu pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengelolaan air minum rumah tangga dan air bersih rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas Seborokrapyak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder. Teknik pengambilan sampel penelitian adalah purposive sampling. Besar sampel sebanyak 15 sampel rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 sampel rumah tangga yang menjalani pemeriksaan fisik, rata-rata suhu (29,98), rata-rata TDS air (418,13 mg/L). Sebanyak 2 sampel (13,33%) memenuhi standar mikrobiologi. Analisis kimia yang tidak memenuhi standar adalah pH terendah 5,2 dan tertinggi 8,6; kadar Besi (Fe) rata-rata 0,035; kadar Mn rata-rata 0,1545 dan kadar kromium (Cr) rata-rata 0,2. Masih terdapat parameter fisik yaitu suhu, warna, bau, dan TDS; parameter kimia yaitu Cr, Fe, dan Mn; serta parameter mikrobiologi yang belum memenuhi baku mutu. Edukasi publik, advokasi, dan upaya bersama lintas sektor diperlukan dalam mengelola sumber air minum rumah tangga agar aman dikonsumsi. | The high prevalence of waterborne diseases, such as diarrhea, is related to the low achievement of the third pillar of STBM, namely household drinking water and food management. The purpose of this study was to determine the results of household drinking water and household clean water in the working area of Seborokrapyak Primary Health Center. This study used a descriptive quantitative method with secondary data. The research sampling technique was purposive sampling. The sample size was 15 samples of households. The results of the study showed that from 15 household samples that underwent physical examination, the average temperature (29.98), the average water TDS (418.13mg/L). As many as 2 samples (13.33%) met the microbiological standard. Chemical analysis that did not meet the standard was pH with the lowest 5.2 and the highest 8.6; Iron (Fe) level averaged 0.035; Mn level averaged 0.1545 and chromium (Cr) level averaged 0.2. There were still physical parameters namely temperature, color, odor and TDS; chemical parameters namely Cr, Fe, and Mn; as well as microbiological parameters that did not meet the quality standard. Public education, advocacy, and joint efforts across sectors are needed in managing household drinking water sources so that they are safe for consumption. | |
| 47095 | 50487 | I1D021038 | HUBUNGAN PERSEN LEMAK TUBUH DAN TINGKAT STRES DENGAN TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA UNSOED | Latar Belakang : Prevalensi hipertensi pada kelompok umur 18-24 tahun di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 10,7 %. Persen lemak tubuh dan tingkat stres berpotensi memengaruhi tekanan darah, terutama pada mahasiswa yang memiliki gaya hidup tidak sehat dan beban akademik tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan persen lemak tubuh dan tingkat stres dengan tekanan darah pada mahasiswa Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional terhadap sejumlah mahasiswa usia 19-23 tahun yang dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling dan diperoleh total responden sebanyak 96 responden. Tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital dan persen lemak tubuh diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner PSS-10. Hasil diuji menggunakan uji Likelihood Ratio. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan apabila nilai signifikansi (p) < 0,05, sedangkan tidak terdapat hubungan apabila nilai signifikansi (p) ≥ 5. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 69,8 % mahasiswa memiliki tekanan darah normal, sebanyak 21,9 % mahasiswa mengalami pre hipertensi, sebanyak 5,2 % mahasiswa mengalami hipertensi tingkat I, dan 3,1 % mahasiswa mengalami hipertensi tingkat II. Terdapat hubungan antara persen lemak tubuh dengan tekanan darah (p = 0,004), tetapi tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan tekanan darah (p = 0,510). Kesimpulan : Terdapat hubungan antara persen lemak tubuh dengan tekanan darah, tetapi tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan tekanan darah. | Background : The prevalence of hypertension among 18-24 age group In Indonesia in 2023 was 10,7 %. Body fat percentage and stress level may potentially influence blood pressure, especially among university students who often have unhealty lifestyles and high academic demands. This study aims to analyze the association between body fat percentage and stress level with blood pressure among university students. Methods : This study used a quantitative design with a cross sectional approach involving a number of university students aged 19-23 years selected using proportionate stratified random sampling, resulting in a total of 96 respondents. Blod pressure was measured usiang a blood pressure monitor digital and body fat persentage was measured using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Stress levels were assessed using the PSS-10 questionnaire.The results were analyzed using the Likelihood Ratio test. The results of the study indicate a relationship when the significance value (p) < 0,05, while no reationship is found when the significance value (p) ≥ 0,05. Results : The results showed that 69,8 %students had normal blood pressure, 21,9 % students had prehypertension, 5,2 % students had stage I hypertension, and 3,1 % students had stage II hypertension. There was an association between body fat percentage and blood pressure (p = 0,004) but no association was found between stress level and blood pressure (p = 0,510). Conclusion : There was a relationship between body fat percentage and blood pressure, but no relationship was found between stress level and blood pressure among students of Jenderal Soedirman University. | |
| 47096 | 50488 | I1D021066 | HUBUNGAN KONSUMSI JAJANAN FAST FOOD BALITA DAN POLA ASUH IBU TERHADAP STATUS GIZI BALITA | Latar Belakang: Masa balita merupakan masa yang sangat rawan terhadap masalah gizi. Pada balita sering sekali terjadi kebiasaan makan yang buruk seperti banyaknya konsumsi fast food. Pola asuh ibu sangat berpengaruh terhadap pola konsumsi balita yang dapat berpengaruh pada status gizi balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsumsi jajanan fast food balita dan pola asuh ibu terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 61 balita usia 2-5 tahun yang berasal dari 6 kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Selatan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Variabel status gizi diukur berdasarkan z-score pada indikator BB/TB, variabel konsumsi jajanan fast food diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), dan variabel pola asuh ibu diukur menggunakan Parenting Style Questionnaire (PSQ). Analisis data menggunakan uji fisher exact. Hasil Penelitian: Hasil penelitian didapatkan mayoritas (73,8%) balita memiliki status gizi baik, 55,7% balita tergolong jarang mengonsumsi jajanan fast food, dan 98,4% responden dengan pola asuh otoritatif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi jajanan fast food balita (p = 0,039) dengan status gizi, namun tidak terdapat hubungan antara pola asuh ibu (p = 0,115) dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara konsumsi jajanan fast food balita dengan status gizi, namun tidak terdapat hubungan antara pola asuh ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan. Kata kunci: Balita, status gizi, konsumsi jajanan fast food, pola asuh. | Background: Toddlerhood is a period that is very vulnerable to nutritional problems. Poor eating habits, such as excessive fast food consumption, are common among toddlers. Mother's parenting patterns have a big influence on toddler's consumption patterns which can affect the toddler's nutritional status. The purpose of this study was to determine the relationship between toddler fast food snack consumption and maternal parenting patterns on the nutritional status of toddlers in the working area of the South Purwokerto Community Health Center. Methodology: This was an observational analytical study with a cross-sectional approach. The number of samples was 61 toddlers aged 2-5 years old from six urban village within the South Purwokerto Community Health Center using a purposive sampling technique. Nutritional status variables were measured based for the z-score for the weight/height indicator, fast food snack consumption variables were measured using the Food Frequency Questionnaire (FFQ), and maternal parenting variables were measured using the Parenting Style Questionnaire (PSQ). Data analysis used the fisher exact test. Results: The results of the study found that the majority (73.8%) of toddlers had good nutritional status, 55.7% of toddlers were classified as rarely consuming fast food snacks, and 98.4% of respondents had an authoritative parenting style. The results also showed a relationship between toddler fast food snack consumption (p = 0,039liek) and nutritional status, but there was no relationship between maternal parenting patterns (p = 0,115) and nutritional status of toddlers in the South Purwokerto Community Health Center work area. Conclusion: There is a relationship between toddler fast food consumption and nutritional status, but there is no relationship between maternal parenting patterns and nutritional status of toddlers in the South Purwokerto Community Health Center work area. Keywords: Toddlers, nutritional status, fast food snack consumption, parenting patterns. | |
| 47097 | 49743 | J0A020035 | TRANSLATING A SHORT MOVIE ‘CYBER BULLYING’ BY RUBYMERA PICTURES FROM INDONESIAN INTO ENGLISH | Laporan ini berjudul Penerjemahan Film Pendek Berjudul “Cyber Bullying” dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Laporan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan praktik kerja magang yang dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2024 - 22 Januari 2025. Tujuan utama dari kerja magang ini adalah untuk menerjemahkan film pendek berjudul “Cyber Bullying” yang diproduksi oleh Rubymera dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Terdapat tiga metode yang digunakan dalam penulisan laporan tugas akhir ini, yaitu observasi, studi literatur, dan praktik langsung. dalam proses penerjemahan ini juga terdiri dari beberapa tahap utama yang pertama Analisis Teks Sumber, Memahami esensi dan struktur teks sumber melalui membacaan secara menyeluruh agar lebih jelas. kedua Penyusunan dalam Bahasa Sasaran, Menyampaikan pesan ke dalam bahasa sasaran dengan pemilihan kata dan struktur kalimat yang tepat, tanpa mengubah makna asli. ketiga Penyuntingan, Memeriksa hasil terjemahan untuk memperbaiki kesalahan pengetikan, ejaan, dan aspek mekanis lainnya agar mudah dipahami. Selama praktik kerja, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, antara lain penggunaan tata bahasa gaul yang mempengaruhi hasil terjemahan menjadi kurang sesuai. Beberapa solusi untuk mengatasi masalah yang ditemukan adalah dengan melakukan pencarian menggunakan kamus online dan offline, serta dengan bantuan dosen pembimbing dengan merekomendasikan kata atau kalimat yang sesuai. dan kendala terakhir adalah hasil terjemahan yang diedit dan dimasukkan ke dalam film, dalam mengatasi hal tersebut penulis menggunakan aplikasi yang bernama capcut. | The report is translating a short movie entitled ”Cyber Bullying“ from Indonesian to English. This Final Project Report is prepared based on the independent job training carried out on August 28, 2024 - January 22, 2025. The main objective of this job training is to translate a short film entitled “Cyber Bullying” produced by Rubymera from Indonesia into English. There are three methods used to write the final project, namely observation, literature study, and hands-on practice. The translation process also consists of several main stages. The first step is, explore the source, understanding the essence and structure of the source text through thorough reading for clarity. Second step is, concluding the message in the target language, conveying the message into the target language with the right choice of words and sentence structure without changing the original meaning. Third step is, editing, checking the translation to correct errors in typing, spelling, and other mechanical aspects for easy understanding. During the job training, there were several obstacles, including finding equivalent translations as well as some vocabulary that was difficult to translate, and the tendency to use slang grammar, which affected the translation results to be less suitable. Some solutions to overcome the problems found are by searching using online and offline dictionaries, and with the help of the supervisor by recommending words or sentences that are suitable for translation. And the last obstacle is that the translation results are edited and included in the movie, in overcoming this problem the author uses an application called capcut. | |
| 47098 | 50493 | I1E021047 | Hubungan antara Kualitas Tidur dengan Daya Tahan Kardio Atlet Pencak Silat Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Mandiraja Kabupaten Banjarnegara | Latar belakang: Salah satu faktor yang sering kali diabaikan namun memiliki pengaruh besar terhadap kebugaran dan daya tahan atlet adalah kualitas tidur. Kualitas tidur yang baik memengaruhi daya tahan kardio melalui perbaikan fungsi metabolisme, kinerja sistem kardiovaskular, dan kesiapan fisik. Metode: Penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain korelasional. Pendekatan menggunakan cross sectional, dimana pengambilan data penelitian peneliti hanya satu kali pengambilan data. Sampel dalam penelitian sebanyak 20 responden dengan teknik total sampling. Instrumen kualitas tidur atlet, digunakan instrumen tes berupa kuisioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) Sedangkan daya tahan kardio menggunakan instrumen Multistage Fitness Test (MFT). Uji yang digunakan adalah uji deskripsi, normalitas dan uji korelasi pearson. Hasil Penelitian: Uji spearman rank didapatkan p value sebesar 0,567 (>0,05) artinya tidak ada hubungan antara kualitas tidur dengan daya tahan kardio atlet pencak silat. Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara kualitas tidur dengan daya tahan kardio atlet pencak silat di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Mandiraja Kabupaten Banjarnegara | Background: One often overlooked factor that significantly impacts an athlete's fitness and endurance is sleep quality. Good sleep quality impacts cardio endurance by improving metabolic function, cardiovascular performance, and physical readiness. Methods: The research used a quantitative correlational design. The approach used was cross-sectional, where the researcher only collected data once. The sample size was 20 respondents using a total sampling technique. The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure athletes' sleep quality, while the Multistage Fitness Test (MFT) was used to measure cardio endurance. The descriptive test, normality test, and Pearson correlation test were used to measure normality. Research Results: The Spearman rank test yielded a p-value of 0.567 (>0.05), indicating no relationship between sleep quality and the cardio endurance of pencak silat athletes. Conclusion: There is no relationship between sleep quality and the cardio endurance of pencak silat athletes at State Junior High School 3 Mandiraja, Banjarnegara Regency. | |
| 47099 | 50494 | I1A018097 | Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Perilaku Pencegahan Hipertensi pada Usia Produktif di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng | Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang dikenal juga dengan penyakit kronis, penyakit non-infeksi dan penyakit degeneratif yang tidak dapat menular dari orang ke orang melalui bentuk apapun. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan paling banyak dialami oleh masyarakat. Hipertensi juga dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit lainnya, diantaranya penyakit jantung, stroke, diabetes serta gagal ginjal. Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap terkait perilaku pencegahan hipertensi pada usia produktif di Desa Beji, Kecamatan Kedungbanteng. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Cross-Sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 107 responden. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data berupa univariat dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa terdapat pengetahuan baik 57 (53,39%), sikap baik 62 (57,9%), perilaku pencegahan hipertensi baik 70 (65,4%). Variabel yang berhubungan adalah pengetahuan (p value = 0.000) dan sikap (p value = 0,000). Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan hipertensi pada usia produktif dan hubungan sikap dengan perilaku pencegahan hipertensi pada usia produktif. | Non-communicable diseases (NCDs) are also known as chronic, non-infectious, and degenerative diseases that cannot be transmitted from person to person in any form. Hypertension is one of the most common and prevalent cardiovascular diseases. Hypertension can also trigger other diseases, including heart disease, stroke, diabetes, and kidney failure. To determine the relationship between the level of knowledge and attitudes related to hypertension prevention behavior in productive age in Beji Village, Kedungbanteng District. This research employed a quantitative method with a cross-sectional approach. The sample consisted of 107 respondents. Simple random sampling was used. Data collection was conducted through interviews using a questionnaire. Data analysis involved univariate and bivariate methods. The results showed that 57 (53.39%) had good knowledge, 62 (57.9%) had good attitudes, and 70 (65.4%) had good hypertension prevention behavior. The related variables were knowledge (p value = 0.000) and attitude (p value = 0.000). : There is a relationship between knowledge and behavior to prevent hypertension in productive age and a relationship between attitudes and behavior to prevent hypertension in productive age. | |
| 47100 | 50496 | I1I020004 | HUBUNGAN PENGETAHUAN PEMBERIAN MAKAN BAYI DAN ANAK (PMBA) SERTA POLA PEMBERIAN MAKAN DENGAN KEJADIAN UNDERWEIGHT PADA ANAK USIA 12-24 BULAN (Studi di Puskesmas Jatitujuh Kabupaten Majalengka) | Pendahuluan: Kejadian underweight merupakan masalah gizi multidimensi yang dipengaruhi oleh beragam faktor, faktor langsung meliputi asupan gizi yang kurang dan penyakit infeksi. Faktor tidak langsung status sosial ekonomi, pola asuh, riwayat pemberian asi eksklusif dan kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan pemberian makan bayi dan anak serta pola pemberian makan dengan kejadian underweight pada anak usia 12-24 bulan di Puskesmas Jatitujuh. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel 173 ibu di Puskesmas jatitujuh. Responden dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data menggunakan kuesioner pengetahuan pemberian makan bayi dan anak, Child Feeding Questionnaire (CFQ), pengukuran berat anak menggunakan timbangan. Analisis univariat dilakukan secara deskriptif dan analisis bivariat menggunakan Uji Fisher exact. Hasil: Ibu dengan anak usia 12-24 bulan memiliki pengetahuan pemberian makan bayi dan anak yang baik (86,5%) dan pemberian makan yang tepat (85%). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan pemberian makan bayi dan anak (p=0,000) serta pola pemberian makan (p=0,000) berhubungan signifikan dengan kejadian underweight pada anak usia 12-24 bulan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan pemberian makan bayi dan anak serta pola pemberian makan dengan kejadian underweight pada anak usia 12-24 bulan. | Background: Underweight prevalence is a multidimensional nutritional problem influenced by various factors. Direct factors include inadequate nutritional intake and infectious diseases, while indirect factors encompass socioeconomic status, caregiving practices, history of exclusive breastfeeding, and environmental conditions. This study aims to examine the association between knowledge of infant and young child feeding and feeding practices with the incidence of underweight among children aged 12–24 months in the working area of Jatitujuh Public Health Center. Methodology: A cross-sectional study was conducted among 173 mothers attending the Jatitujuh Community Health Center. Participants were selected through purposive sampling based on predefined inclusion and exclusion criteria. Data collection involved a structured questionnaire on infant and young child feeding (IYCF) knowledge, the Child Feeding Questionnaire (CFQ), and child weight measurement using a calibrated weighing scale. Descriptive statistics were applied for univariate analysis, and Fisher’s exact test was used for bivariate analysis. Result: Mothers with children aged 12–24 months had good knowledge of infant and young child feeding (86.5%) and appropriate feeding practices (85%). The analysis revealed that knowledge of infant and young child feeding (p = 0.000) and feeding practices (p = 0.000) were significantly associated with the incidence of underweight among children aged 12–24 months. Univariate analysis was conducted descriptively, and bivariate analysis was performed using Fisher’s exact test. Conclusion: There was a significant association between mothers’ knowledge of infant and young child feeding, feeding practices, and the incidence of underweight among children aged 12–24 months. |