Artikelilmiahs

Menampilkan 45.081-45.100 dari 48.758 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4508148453A1D021131PEMANFAATAN BIOPESTISIDA NANOEMULSI DARI EKSTRAK KENCUR DAN LIMBAH CAIR NILAM UNTUK MENGENDALIKAN HAWAR DAUN BAKTERIPenyakit hawar daun bakteri (HDB) disebabkan oleh patogen Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Alternatif pengendalian pengganti pestisida kimia untuk mengendalikan HDB yaitu dengan menggunakan ekstrak tanaman. Kencur (Kaempferia galanga) memiliki senyawa anti bakterial yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Biopestisida dihadapkan dengan kelemahan berupa senyawa bioaktif dalam ekstrak biopestisida yang mudah rusak oleh lingkungan. Hal tersebut dapat diatasi dengan penerapan nanoemulsi dalam pembuatan biopestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi ekstrak tanaman kencur dan limbah minyak nilam sebagai bahan baku biopestisida cair berbasis nanoemulsi, mengetahui komposisi biopestisida berbasis nanoemulsi terbaik yang dapat dikembangkan untuk menekan perkembangan HDB, dan mengetahui pengaruh biopestisida nanoemulsi terbaik terhadap pertumbuhan tanaman padi. Variabel yang diamati yaitu komponen patosistem berupa masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi, AUDPC, serta komponen agronomi berupa tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, kehijauan daun, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, bobot basah akar, bobot kering akar. Data dianalisis dengan ANOVA pada taraf 95%, hasil yang menunjukkan pengaruh nyata, dilanjutkan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi biopestisida nanoemulsi Formula 1 dapat digunakan sebagai bahan baku biopestisida berbasis nanoemulsi, dilihat dari hasil uji homogenitas, uji pH, uji stabilitas, uji ukuran partikel, dan uji daya hambat formula biopestisida nanoemulsi terhadap Xoo secara in vitro. Biopestisida nanoemulsi Formula 1 dapat dikembangkan untuk menekan penyakit HDB dilihat dari variabel masa inkubasi, intensitas penyakit, & AUDPC. Biopestisida Nanoemulsi Formula 1 Perlakuan K4 memiliki kemampuan meningkatkan pertumbuhan berdasarkan variabel bobot basah tanaman, bobot basah tajuk, & bobot basah akar.Bacterial leaf blight (BLB) is caused by the pathogen Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). An alternative control method to replace chemical pesticides for managing HDB is by using plant extracts.Kencur (Kaempferia galanga) has antibacterial compounds that can inhibit bacterial growth.Biopesticides face a weakness in the form of bioactive compounds in biopesticide extracts that are easily degraded by the environment.This can be addressed by applying nanoemulsion in the production of biopesticides.This research aims to determine the combination of kencur plant extract and patchouli oil waste as raw materials for nanoemulsion-based liquid biopesticides, to identify the best composition of nanoemulsion-based biopesticides that can be developed to suppress the development of HDB, and to examine the effect of the best nanoemulsion biopesticides on rice plant growth.The observed variables include pathosystem components such as incubation period, disease intensity, infection rate, AUDPC, as well as agronomic components such as plant height, number of leaves, number of tillers, leaf greenness, fresh weight of the plant, dry weight of the plant, fresh weight of the canopy, dry weight of the canopy, fresh weight of the roots, and dry weight of the roots.Data were analyzed using ANOVA at a 95% significance level, and results showing significant effects were followed by DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) at a 5% error level.The research results indicate that the combination of nanoemulsion biopesticide Formula 1 can be used as a raw material for nanoemulsion-based biopesticides, as seen from the results of the homogeneity test, pH test, stability test, particle size test, and the inhibitory power test of the nanoemulsion biopesticide formula against Xoo in vitro.Nanoemulsion biopesticide Formula 1 can be developed to suppress HDB disease as seen from the variables of incubation period, disease intensity, and AUDPC.Nanoemulsion Biopesticide Formula 1 K4 Treatment has the ability to enhance growth based on the variables of fresh weight of the plant, fresh weight of the canopy, and fresh weight of the roots.
4508248454A1D021066Pengaruh Aplikasi Insektisida Pada Budidaya Mina Padi Terhadap Biodiversitas Hama dan Musuh Alaminya di Desa Bentarsari Kecamatan Salem Kabupaten BrebesLahan adalah komponen esensial dalam sektor pertanian, namunn dengan fokus pembangunan ekonomi yang bergeser ke sektor non-pertanian membuat lahan pertanian semakin menyusut. Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk menangani masalah tersebut adalah intensifikasi pertanian, seperti dengan mengimplementasikan budidaya mina padi. Dalam ekosistem mina padi, pengendalian hama tanaman padi dilakukan dengan metode ramah lingkungan termasuk penggunaan insektisida nabati yang dapat melindungi padi dari hama serta tidak mencemari lingkungan perairan. Penggunaan insektisida harus dilakukan secara tepat agar tidak berdampak negatif terhadap ikan yang dibudidayakan dan musuh alami yang berguna bagi tanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budidaya padi secara konvensional dan mina padi serta aplikasi insektisida terhadap serangan hama padi, musuh alami padi, hasil panen padi, dan persentase serta hasil panen ikan.
Penelitian ini dilaksanakan di lahan sawah Desa Bentarsari, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes dan Laboratorium Perlindungan Tanaman Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Juni hingga Desember 2024. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan di antaranya budidaya padi sawah konvensional (P1), mina padi tanpa insektisida (P2), mina padi dengan aplikasi insektisida sintetis (P3), dan mina padi dengan aplikasi insektisida nabati (P4). Varietas padi yang digunakan adalah IR-64 dan jenis ikan yang digunakan adalah ikan mas (Cyprinus carpio).Variabel yang diamati adalah intensitas serangan hama padi, jenis dan populasi musuh alami padi, persentase kematian dan hasil panen ikan, serta hasil panen padi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F pada taraf kesalahan 5% dan apabila berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberagaman hama dengan intensitas serangan ringan hingga sedang, didominasi Spodoptera sp., Oxya sp., dan Pomacea canaliculata, serta Atherigona sp. yang tertangkap dalam jumlah tinggi pada perangkap kuning. Jenis dan jumlah musuh alami yang paling banyak ditemukan terdapat pada perlakuan budidaya sawah konvensional (P1) dengan total 19 spesies. Sementara keanekaragaman morfospesies sedang-rendah, dominansi sedang-tinggi, kemerataan rendah-sedang-tinggi, dan kesamaan rendah-sedang-tinggi-sangat tinggi. Perlakuan mina padi meningkatkan hasil panen ikan dengan tingkat kelangsungan hidup tinggi dan kenaikan bobot 124–150% dari bobot awal, hasil panen tertinggi dicapai pada perlakuan mina padi tanpa insektisida. Perlakuan mina padi dengan insektisida nabati meningkatkan hasil panen sebesar 14%, dengan bobot basah 64,81 kg dan bobot kering 55,93 kg, tertinggi di antara semua perlakuan.

Land is an essential component in the agricultural sector, but with the focus of economic development shifting to the non-agricultural sector, agricultural land is shrinking. One solution that can be applied to deal with the problem is agricultural intensification, such as by implementing rice mina cultivation. In the rice mina ec osystem, pest control of rice plants is carried out with environmentally friendly methods including the use of vegetable insecticides that can protect rice from pests and do not pollute the aquatic environment. The use of insecticides must be done properly so as not to have a negative impact on cultured fish and natural enemies that are useful for rice plants. This study aims to determine the influence of conventional rice cultivation and rice-fish farming and the application of insecticides to rice pest attacks, natural enemies of rice, rice yields, and the percentage and yield of fish.
This research was conducted in paddy fields of Bentarsari Village, Salem District, Brebes Regency and Plant Protection Laboratory of Jenderal Soedirman University from June to December 2024. The design used was Randomized Complete Block Design (RCBD) with 4 treatments including conventional paddy rice cultivation (P1), rice mina without insecticide (P2), rice mina with synthetic insecticide application (P3), and rice mina with vegetable insecticide application (P4). The rice variety used was IR-64 and the type of fish used was carp (Cyprinus carpio). The variables observed were the intensity of rice pest attack, the type and population of natural enemies of rice, the percentage of fish mortality and yield, and rice yield. The data obtained were analyzed using the F test at the 5% error level and if significantly different then continued with the BNT test at the 5% level. The results showed that the rice mina treatment with vegetable insecticides was able to provide more rice yields compared to other treatments as well as fish yields when viewed from the types of pests that attacked and the diversity of natural enemies found.
The results of this study show that the diversity of pests with light to moderate attack intensity, dominated by Spodoptera sp., Oxya sp., and Pomacea canaliculata, as well as Atherigona sp. caught in high numbers on yellow traps. The most common types and number of natural enemies are found in conventional rice field cultivation treatment (P1) with a total of 19 species. While the morphospecies diversity is moderate-low, medium-high dominance, low-medium-high evenness, and low-medium-high-similarity are very high. Rice-fish farming treatment increases fish yields with a high survival rate and a 124–150% increase in weight from the initial weight, the highest yield is achieved in rice-fish farming treatment without insecticides. Treatment of rice-fish farming with vegetable insecticides increased yield by 14%, with a wet weight of 64.81 kg and a dry weight of 55.93 kg, the highest among all treatments.
4508348455A1D021014EFEKTIVITAS JAMUR ENTOMOPATOGEN Fusarium oxysporum YANG DIPERBANYAK PADA BEBERAPA MEDIA PADAT TERHADAP ULAT GRAYAK Spodoptera frugiperda DI LABORATORIUM
Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas pangan penting kedua setelah padi yang memiliki peran strategis dalam ketahanan pangan nasional. Namun, produktivitas jagung di Indonesia masih terhambat oleh serangan hama, salah satunya Spodoptera frugiperda. Hama ini bersifat invasif dan dilaporkan pertama kali di Indonesia pada tahun 2019. Pengendalian kimia yang selama ini digunakan memiliki dampak negatif seperti resistensi hama dan pencemaran lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian ramah lingkungan adalah pemanfaatan jamur entomopatogen Fusarium oxysporum. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas F. oxysporum yang diperbanyak pada beberapa jenis media padat terhadap mortalitas S. frugiperda di laboratorium. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan empat perlakuan media padat, yaitu PDA (kontrol), beras, jagung pecah, dan tepung beras, masing-masing dengan enam ulangan. Variabel yang diamati meliputi diameter koloni, kerapatan konidia, mortalitas larva, waktu kematian 50% (WK₅₀), dan kemampuan makan larva. Hasil menunjukkan bahwa media PDA menghasilkan pertumbuhan koloni dan kerapatan konidia tertinggi. Media jagung pecah menunjukkan efektivitas tertinggi terhadap mortalitas (78,33%) dan waktu WK₅₀ tercepat (5,167 hari). Media tepung beras paling efektif dalam menekan kemampuan makan larva. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis media perbanyakan berpengaruh terhadap efektivitas F. oxysporum dalam mengendalikan S. frugiperda. Oleh karena itu, pemanfaatan F. oxysporum yang diperbanyak pada media tepat dapat menjadi alternatif pengendalian hayati yang efisien dan berkelanjutan.
Maize (Zea mays L.) is the second most important food commodity after rice and plays a strategic role in national food security. However, maize productivity in Indonesia is still hampered by pest attacks, one of which is Spodoptera frugiperda. This pest is invasive and was first reported in Indonesia in 2019. Chemical control that has been used has negative impacts such as pest resistance and environmental pollution. One alternative environmentally friendly control is the use of the entomopathogenic fungus Fusarium oxysporum. This study aims to test the effectiveness of F. oxysporum propagated on several types of solid media on S. frugiperda mortality in the laboratory. The research was conducted using a non-factorial Randomized Group Design (RAK) with four solid media treatments, namely PDA (control), rice, cracked corn, and rice flour, each with six replicates. Variables observed included colony diameter, conidia density, larval mortality, time to 50% mortality (WK₅₀), and larval feeding ability. Results showed that PDA media produced the highest colony growth and conidia density. Broken corn media showed the highest effectiveness on mortality (78.33%) and the fastest WK₅₀ time (5.167 days). Rice flour media was most effective in suppressing larval feeding ability. The results of this study indicate that the type of propagation media affects the effectiveness of F. oxysporum in controlling larval feeding.
4508449058I1C021022ANALISIS SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DENGAN PENDEKATAN KEMOMETRIK UNTUK MENGKLASIFIKASIKAN BEBERAPA JAMU DENGAN KHASIAT YANG BERBEDAJamu merupakan sediaan tradisional berbasis tanaman obat dengan klaim khasiat terapeutik tertentu. Meskipun berbeda tujuan penggunaan, sebagian besar jamu mengandung senyawa kimia serupa seperti flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan fenolik, yang dapat menghasilkan spektrum UV-Vis yang tumpang tindih dan menyulitkan klasifikasi berdasarkan khasiat. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan jamu berdasarkan profil spektrum UV-Vis menggunakan pendekatan kemometrik. Sampel dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 200–800 nm dalam pelarut etanol. Data spektrum pada rentang 300–550 nm kemudian dianalisis menggunakan metode kemometrik, meliputi PCA, PLS-DA, dan HCA. Seluruh sampel menunjukkan aroma herbal yang seragam serta variasi warna antar merek dan kelompok khasiat. Hasil menunjukkan bahwa rentang spektrum tersebut menjelaskan lebih dari 90% variasi data, dengan seluruh sampel peningkat stamina terkelompok dalam satu sub-cluster. Meskipun demikian, kombinasi UV-Vis dan kemometrik belum sepenuhnya optimal untuk klasifikasi jamu berdasarkan khasiat secara tegas.Jamu is a traditional preparation composed of medicinal plants with specific therapeutic claims. Although formulated for different purposes, most jamu products contain similar classes of chemical compounds, such as flavonoids, terpenoids, alkaloids, and phenolics, which may produce overlapping UV-Vis spectra and complicate classification based on therapeutic function. This study aims to classify jamu based on their UV-Vis spectral profiles using a chemometric approach. Samples were analyzed using UV-Visible spectrophotometry in ethanol solvent across a wavelength range of 200–800 nm. Spectral data within the 300–550 nm range were then analyzed using chemometric methods, including PCA, PLS-DA, and HCA. All samples exhibited a consistent intense herbal aroma, with variations in color observed among brands and therapeutic groups. The selected spectral range accounted for more than 90% of the data variation, with all stamina-enhancing samples clustered within the same sub-cluster. Nevertheless, the combination of UV-Vis spectroscopy and chemometric analysis was not fully optimal for clearly classifying jamu based on their claimed therapeutic effects.
4508548457B1A020002PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR HISTOLOGIS INTESTINUM PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIPELIHARA DALAM GREEN WATER SYSTEMIkan nila (Oreochromis niloticus) merupakan komoditas akuakultur bernilai ekonomis tinggi, namun keberhasilan budidayanya masih terkendala oleh pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih yang dipengaruhi kualitas pakan. Green Water System (GWS) merupakan salah satu solusi alternatif yang menyediakan pakan alami seperti mikroalga dan zooplankton, yang kaya akan protein dan lemak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh GWS terhadap pertumbuhan dan struktur histologis intestinum benih ikan nila. Penelitian dilakukan selama 10 bulan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan, yaitu tanpa GWS (K), GWS dengan Nannochloropsis sp. (P1), GWS dengan Spirulina sp. (P2), dan GWS campuran Nannochloropsis sp. dan Spirulina sp. (P3). Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, kelangsungan hidup, serta luas permukaan vili intestinum bagian foregut dan midgut. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif, sedangkan uji statistik menggunakan ANOVA dan Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan P3 (campuran Nannochloropsis sp. dan Spirulina sp.) memberikan hasil terbaik dengan pertambahan berat 1,21±0,26 g, panjang 14,90±3,25 mm, laju pertumbuhan relatif 7,51±0,37 %, kelangsungan hidup 76,40±8,05%, serta luas vili foregut 80,45±39,74 µm² dan midgut 224,81±137,39 µm². Kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran optimal untuk budidaya ikan nila. Berdasarkan hasil tersebut, penggunaan GWS, khususnya campuran Nannochloropsis sp. dan Spirulina sp. dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi penyerapan nutrisi melalui perbaikan struktur histologis intestinum.Tilapia (Oreochromis niloticus) is a highly valuable aquaculture commodity, however, its cultivation success is still hindered by the growth and survival rate of fry, which are influenced by feed quality. The Green Water System (GWS) is an alternative solution that provides natural feed sources such as microalgae and zooplankton, which are rich in protein and lipids. This study aims to evaluate the effect of GWS on the growth and intestinal histological structure of tilapia fry. The study was conducted over 10 months using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and five replications: without GWS (Control), GWS with Nannochloropsis sp. (P1), GWS with Spirulina sp. (P2), and GWS with a mixture of Nannochloropsis sp. and Spirulina sp. (P3). Observed parameters included growth, survival rate, and villi surface area of the foregut and midgut sections of the intestine. Data were analyzed quantitatively using descriptive statistics, ANOVA, and Kruskal-Wallis tests, followed by a 5% Least Significant Difference (LSD) test. The results showed that treatment P3 (a mixture of Nannochloropsis sp. and Spirulina sp.) yielded the best outcomes, with a weight gain of 1.21±0.26 g, length increase of 14.90±3.25 mm, relative growth rate of 7.51±0.37%, survival rate of 76.40±8.05%, and villi surface area of 80.45±39.74 µm² in the foregut and 224.81±137.39 µm² in the midgut. Water quality remained within optimal ranges for tilapia culture throughout the study. Based on these results, the application of GWS especially the combination of Nannochloropsis sp. and Spirulina sp. can enhance growth and nutrient absorption efficiency through improvements in the intestinal histological structure.
4508648458F2A023002PENERAPAN CORE VALUE “BerAKHLAK” ASN PADA PELAYANAN PUBLIK DI KELURAHAN KENTENGAbstrak
Pelayanan publik adalah satu fungsi utama Aparatur Sipil Negara (ASN), pelayanan publik mencakup berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat sesuai dengan regulasi yang berlaku. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik memberikan landasan hukum yang penting dalam penyelenggaraan pelayanan publik di Indonesia, serta mengatur berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan publik, hak, kewajiban, dan larangan bagi pelaksana pelayanan publik. Core value BerAKHLAK ini menjadi titik tonggak penguatan budaya kerja ASN, yang tidak hanya diterapkan pada ASN tingkat pusat namun juga pada tingkat daerah, tak terkecuali pada pemerintahan kelurahan sebagai pemerintahan terendah yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung adalah peribahasa yang dikenal luas oleh Masyarakat Indonesia mengandung arti bahwa seseorang sudah sepatutnya mengikuti atau menghormati adat istiadat setempat, menghargai dan memperhatikan lingkungan serta menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar. Di Indonesia masih terdapat Kelurahan yang bercorak desa, dimana kelurahan bercorak desa memiliki karakteristik unik, penulis meneliti bagaimana penerapan core value ASN BerAKHLAK pada pelayanan Publik di Kelurahan yang masih bercorak desa dengan metode penelitian kualitatif, dengan hasil core value ASN BerAKHLAK telah diterapkan dengan baik walaupun masih ada beberapa kendala
Kata kunci: pelayanan publik, core value, etika
Abstract

Public service stands as a primary function of the Civil Service Apparatus (ASN), encompassing various activities aimed at meeting the needs of the community in accordance with prevailing regulations. Law Number 25 of 2009 concerning Public Services provides a crucial legal foundation for the administration of public services in Indonesia, regulating various aspects related to public service, including rights, duties, and prohibitions for public service implementers. The core value of BerAKHLAK serves as a pivotal point in strengthening the work culture of ASN, applicable not only at the central level but also at the local level, including in subdistrict governments that directly interact with the community.The proverb "where the earth is treaded, there the sky is upheld" is widely known in Indonesian society, signifying that individuals should appropriately follow or respect local customs, appreciate and consider the environment, and maintain good relationships with those around them. In Indonesia, there are still subdistricts with a rural character, each possessing unique characteristics. This study investigates the application of the BerAKHLAK core values in public services at subdistricts with a rural orientation using qualitative research methods. The findings reveal that the BerAKHLAK core values have been well implemented, although some challenges persist.

Keywords: public service, core values, ethics
4508748456F2A023008Efforts to Realize Good Governance through Collaborative Governance in
Sambirata Village, Cilongok District, Banyumas Regency in the Development of
Cardamom Cultivation
ABSTRAK
Pelaksanaan kerjasama sangat berpengaruh dalam kemajuan suatu desa untuk menciptakan Good Governance. Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, menerapkan asas-asas good governance untuk pengembangan dan peningkatan kemajuan desa dengan memanfaatkan potensi yang ada yaitu kapulaga. Kerjasama telah dilakukan antara Pemerintah Desa Sambirata dengan PT. Sidomuncul pada tahun 2019 – 2021. Kerjasama ini telah memberikan dampak yang cukup signifikan bagi Desa Sambirata. Pada awalnya Badan Usaha Milik Desa belum mampu berperan sebagai lembaga ekonomi dalam hal permodalan dan pemasaran. Selain itu, belum mampu menjalin kerjasama dengan instansi lain untuk membantu meningkatkan jual beli kapulaga. Kini, secara bertahap mulai masuk dan menjalin kerjasama untuk memperluas pemasaran. Namun dalam hal ini masih belum sepenuhnya berkembang. Masih banyak yang belum dikembangkan secara optimal, salah satunya adalah pemberdayaan wanita tani dan juga residual value yang masih tersisa. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menggambarkan wacana tentang bagaimana mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui tata kelola kolaboratif di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, dan pengembangan budidaya kapulaga. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Fokus penelitian ini adalah pada upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui tata kelola kolaboratif di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, dan pengembangan budidaya kapulaga.
Kata kunci : Good Governance, tata kelola kolaboratif, Desa Sambirata, pengembangan kapulaga, kerjasama pemerintah dan swasta, pemberdayaan wanita tani, pemasaran hasil pertanian, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pembangunan desa, Kecamatan Cilongok.
A B S T R A C T
The implementation of cooperation is very influential in the progress of a
village to create Good Governance. Sambirata Village, Cilongok District,
Banyumas Regency, applies the principles of good governance for the
development and improvement of village progress by utilizing the existing
potential, namely cardamom. Cooperation has been carried out between the
Sambirata Village Government and PT. Sidomuncul in 2019 – 2021. This
collaboration has had a significant impact on Sambirata Village. Initially,
Village-Owned Business Entities were not able to act as economic
institutions in terms of capital and marketing. Apart from that, they were
not able to collaborate with other agencies to help increase the buying and
selling of cardamom. Now, they are starting to gradually enter and
collaborate to expand marketing. However, in this case, it is still not fully
developed. There is still much that has not been developed optimally, one of
which is the empowerment of women farmers and also the residual value
that is still left. This research aims to explain and illustrate the discourse on
how to realize good governance through collaborative governance in
Sambirata Village, Cilongok District, Banyumas Regency, and the
development of cardamom cultivation. The method used is qualitative
descriptive. The focus of this research is on efforts to realize good governance
through collaborative governance in Sambirata Village, Cilongok District,
Banyumas Regency, and the development of cardamom cultivation.
4508848459L1A021081ANALISIS HUBUNGAN PERUBAHAN EKOSISTEM MANGROVE TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DI KAWASAN MANGROVE DESA KUTAWARU SEGARA ANAKAN, CILACAPPenelitian ini berjudul “Analisis Hubungan Perubahan Ekosistem Mangrove
Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Di Kawasan Mangrove Desa
Kutawaru Segara Anakan, Cilacap”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan perubahan ekosistem mangrove yang terjadi di Segara Anakan terhadap
kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir di Kawasan Mangrove Desa Kutawaru
Segara Anakan, Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei
dengan pendekatan penelitian kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dilakukan
dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu terhadap 44
responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden merasakan
adanya perubahan ekosistem mangrove yaitu sebanyak 33 responden, mayoritas
responden mengalami dampak pada kondisi sosial ekonominya akibat perubahan
ekosistem mangrove yaitu sebanyak 35 responden dan berdasarkn hasil analisis
statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara perubahan
ekosistem mangrove terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir di Kawasan
Mangrove Desa Kutowaru, Segara Anakan, Cilacap.
This study is entitled "Analysis of the Relationship between Changes in the Mangrove
Ecosystem and the Socio-Economic Conditions of Coastal Communities in the
Mangrove Area of Kutawaru Segara Anakan Village, Cilacap". The purpose of this
study was to determine the relationship between changes in the mangrove ecosystem
that occurred in Segara Anakan and the socio-economic conditions of coastal
communities in the Mangrove Area of Kutawaru Segara Anakan Village, Cilacap. The
research method used was a survey method with a quantitative research approach.
Sampling was carried out using a purposive sampling technique based on certain
criteria for 44 respondents. The results of the study showed that the majority of
respondents felt that there were changes in the mangrove ecosystem, namely 33
respondents, the majority of respondents experienced an impact on their socioeconomic conditions due to changes in the mangrove ecosystem, namely 35
respondents and based on the results of statistical analysis showed that there was a
significant relationship between changes in the mangrove ecosystem and the socioeconomic conditions of coastal communities in the Mangrove Area of Kutowaru
Village, Segara Anakan, Cilacap.
4508948460K1C021037ANALISIS LAJU DOSIS DAN WAKTU IRADIASI BORON NEUTRON CAPTURE THERAPY (BNCT) PADA TERAPI KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN PROGRAM (PHITS)Terapi radiasi untuk pengobatan kanker mengedepankan prinsip pemberian dosis radiasi semaksimal mungkin pada jaringan kanker dan dosis seminimal mungkin pada jaringan sehat di sekitarnya. Salah satu teknik terapi yang bersifat selektif dan sedang dikembangkan adalah Boron Neutron Capture Therapy (BNCT). Boron Neutron Capture Therapy (BNCT) memanfaatkan reaksi antara isotop-10 dan neutron termal untuk menghasilkan partikel berenergi tinggi yang dapat menghancurkan sel kanker. Pengobatan BNCT perlu mempertimbangkan dosis radiasi dan waktu iradiasi agar berjalan efektif dan aman. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh konsentrasi boron terhadap laju dosis radiasi pada terapi BNCT untuk kanker payudara, menentukan waktu iradiasi pada terapi BNCT kanker payudara, dan menentukan dosis radiasi untuk jaringan sehat disekitar kanker payudara. Metode yang digunakan adalah simulasi menggunakan program Particle and Heavy Ion Transport code System (PHITS). Sumber neutron yang digunakan berasal dari siklotron 30 MeV dengan desain Beam Shapping Assembly (BSA). Variasi konsentrasi boron yang digunakan adalah 20 µg/g, 60 µg/g, 100 µg/g, dan 150 µg/g. Hasil penelitian menunjukkan laju dosis total tertinggi berada pada bagian inti kanker (GTV) yaitu sebesar 2,74E-02 Gy/s dengan konsentrasi boron 150 μg/g. Waktu iradiasi tersingkat dan paling efektif diperoleh dengan menggunakan konsentrasi boron 150 μg/g yaitu 30 menit 36 detik. Dosis serap yang diterima jaringan sehat disekitar kanker masih tergolong aman karena dibawah ambang batas dosis yang ditentukan yaitu 12 Gy. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi boron dapat meningkatkan efektivitas terapi BNCT, sehingga berpotensi menjadi pendekatan yang lebih selektif dan aman dalam pengobatan kanker payudara.Radiation therapy for cancer treatment emphasizes the principle of delivering the maximum possible radiation dose to cancerous tissue while minimizing the dose to surrounding healthy tissue. One selective therapeutic technique currently being developed is Boron Neutron Capture Therapy (BNCT). BNCT utilizes the reaction between boron-10 isotopes and thermal neutrons to produce high-energy particles capable of destroying cancer cells. Effective and safe BNCT treatment requires careful consideration of radiation dose and irradiation time. This study aims to determine the effect of boron concentration on the radiation dose rate in BNCT for breast cancer, to establish the appropriate irradiation time, and to assess the radiation dose received by healthy tissue surrounding the cancerous area. The method used is simulation with the Particle and Heavy Ion Transport code System (PHITS). The neutron source was a 30 MeV cyclotron equipped with a Beam Shaping Assembly (BSA). Boron concentrations used in this study were 20 µg/g, 60 µg/g, 100 µg/g, and 150 µg/g. The results show that the highest total dose rate occurred in the gross tumor volume (GTV), reaching 2.74E-02 Gy/s at a boron concentration of 150 μg/g. The shortest and most effective irradiation time was also achieved at this concentration, requiring only 30 minutes and 36 seconds. The absorbed dose in the surrounding healthy tissue remained within the safe threshold, which is below 12 Gy. These findings indicate that increasing boron concentration enhances the effectiveness of BNCT, making it a promising, selective, and safer approach for breast cancer treatment.
4509048461A1C021086Analisis Kualitas Petasol Hasil Proses Pirolisis Sampah Plastik Menggunakan Perbedaan Variasi Suhu (Studi Kasus di Bank Sampah Banjarnegara)Permasalahan limbah plastik yang terus meningkat mendorong pengembangan solusi alternatif ramah lingkungan, salah satunya melalui konversi limbah plastik menjadi bahan bakar cair menggunakan metode pirolisis cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi suhu terhadap karakteristik biosolar dari limbah plastik jenis PP, LDPE, dan HDPE. Proses pirolisis dilakukan menggunakan reaktor Fast Pyrolysis 5.0 pada suhu 300°C, 350°C, dan 400°C, dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Produk cair hasil pirolisis diambil sebanyak 1 liter untuk dilakukan pemurnian menggunakan campuran tanah liat, garam kasar, etanol, dan soda api. Proses pemurnian dilakukan setelah pirolisis selesai. Parameter yang diamati mencakup viskositas, densitas, titik nyala, dan angka setana pada biosolar sebelum dan sesudah pemurnian. Hasil menunjukkan bahwa suhu pirolisis berpengaruh terhadap kualitas biosolar, dengan peningkatan suhu cenderung menurunkan viskositas serta meningkatkan angka setana. Nilai densitas dan titik nyala juga menunjukkan perubahan seiring variasi suhu. Meskipun hasil pengulangan relatif konstan, pemurnian memberikan perbedaan signifikan, khususnya pada kejernihan dan kestabilan karakteristik fisika biosolar. Biosolar hasil pemurnian menunjukkan nilai viskositas dan densitas yang lebih mendekati standar bahan bakar komersial. Katalis pemurni yang ditambahkan setelah pirolisis membantu mengurangi senyawa pengotor dalam bio-oil. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi antara variasi suhu pirolisis dan pemurnian pasca-produksi berkontribusi terhadap peningkatan mutu biosolar dari limbah plastik.The growing volume of plastic waste drives the development of environmentally friendly solutions, one of which is converting plastic waste into liquid fuel via fast pyrolysis. This study aims to examine the effect of temperature variation on the characteristics of biosolar derived from PP, LDPE, and HDPE plastic waste. The pyrolysis process was carried out using a Fast Pyrolysis 5.0 reactor at temperatures of 300°C, 350°C, and 400°C, with each treatment repeated three times. One liter of the resulting bio-oil was subjected to a purification process using a mixture of clay, coarse salt, ethanol, and caustic soda. Purification was conducted after pyrolysis had been completed. Observed parameters included viscosity, density, flash point, and cetane number of biosolar, both before and after purification. The results showed that pyrolysis temperature affected the quality of biosolar, with higher temperatures generally reducing viscosity and increasing cetane number. Density and flash point values also varied with temperature changes. Although repeated trials produced relatively consistent outcomes, the purification process led to significant improvements, particularly in clarity and physical stability. The purified biosolar exhibited viscosity and density values closer to those of commercial fuel standards. The post-pyrolysis purification catalyst also helped reduce impurities in the raw bio-oil. This study indicates that the combination of temperature variation in pyrolysis and post-treatment purification contributes to enhancing the quality of biosolar produced from plastic waste.
4509148462L1A021045DAMPAK EKTOPARASIT TERHADAP PROFIL MORFOMETRI KERANG HOTATE DI TELUK FUNKA, HOKKAIDO, JEPANGKerang hotate (Mizuhopecten yessoensis) merupakan salah satu spesies kerang yang hidup di perairan bersuhu dingin dengan produksi terbesar di wilayah Jepang. Namun, keberlangsungan budidaya ini terancam oleh berbagai faktor, termasuk infeksi ektoparasit yang dapat mempengaruhi profil morfometri kerang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak ektoparasit terhadap morfometri kerang hotate di Teluk Funka, Hokkaido, serta menginventarisasi jenis ektoparasit yang ditemukan. Sampel sebanyak 25 individu kerang hotate diambil dengan menggunakan teknik random sampling dan dilakukan pengukuran morfometri menggunakan software Image-J. Infestasi ektoparasit dikelompokkan menjadi empat kategori: bebas, rendah, sedang dan tinggi. Analisis dilakukan menggunakan One-Way ANOVA dan uji lanjutan Fisher’s Pairwise Comparison (P<0,05), serta analisis klaster hirarki berdasarkan indeks kemiripan Bray-curtis divisualisasikan dalam dendrogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua jenis ektoparasit, yaitu Polydora sp. dan Barnacles sp., dengan dominasi Polydora sp. yang ditemukan pada 17 individu. Beberapa jarak morfometrik seperti AD, AE, BD, dan CE menunjukkan perbedaan signifikan antar kategori infestasi. Dendrogram menunjukkan bahwa kategori ‘bebas’, ‘rendah’, dan ‘sedang’ memiliki kemiripan morfometrik tinggi (0,987), sedangkan kategori ‘tinggi’ menunjukkan kemiripan yang lebih rendah (0,96).The hotate clam (Mizuhopecten yessoensis) is one of the clam species that lives in cold-temperature waters with the largest production in the Japanese region. However, the sustainability of this aquaculture is threatened by various factors, including ectoparasite infections that can affect the morphometric profile of the scallop. This study aimed to analyze the impact of ectoparasites on the morphometry of hotate clams in Funka Bay, Hokkaido, and to inventory the types of ectoparasites found. Samples of 25 individual hotate mussels were taken using random sampling techniques and morphometric measurements were taken using Image-J software. Ectoparasite infestation was categorized into four categories: free, low, medium and high. Analysis was conducted using One-Way ANOVA and Fisher's Pairwise Comparison follow-up test (P<0.05), as well as hierarchical cluster analysis based on the Bray-curtis similarity index visualized in a dendrogram. The results showed that there were two types of ectoparasites, namely Polydora sp. and Barnacles sp., with the dominance of Polydora sp. which was found in 17 individuals. Some morphometric distances such as AD, AE, BD, and CE showed significant differences between infestation categories. The dendrogram showed that the 'free', 'low', and 'medium' categories had high morphometric similarity (0.987), while the 'high' category showed lower similarity (0.96).
4509248463K1C021068Analisis Percepatan Tanah Maksimum Menggunakan Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA) untuk Pemetaan Risika Gempabumi di Kecamatan Piyungan Kabupaten BantulKecamatan Piyungan memiliki potensi gempabumi akibat aktivitas Sesar Opak, yang terbukti dari kejadian gempabumi 27 Mei 2006 dengan magnitudo 6,3 Mw yang menyebabkan kerusakan besar. Oleh karena itu, analisis risiko gempabumi diperlukan untuk mitigasi risiko gempabumi di wilayah ini. Penelitian ini menganalisis percepatan tanah maksimum menggunakan metode DSHA (Deterministic Seismic Hazard Analysis) guna memetakan risiko gempabumi di Kecamatan Piyungan. Analisis dilakukan dengan menentukan nilai PGA pada batuan dasar dan permukaan menggunakan persamaan Ground Motion Prediction Equations (GMPE) Choiu-Young 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PGA pada batuan dasar berada dalam rentang 0,41 - 0,51 g, sedangkan nilai PGA permukaan berada dalam rentang 0,45 - 0,64 g. Wilayah dengan nilai PGA tertinggi berada di Desa Sitimulyo dan bagian utara Desa Srimulyo. Data Vs30 yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari United States Geological Survey (USGS). Berdasarkan nilai PGA yang diperoleh, Kecamatan Piyungan, khususnya Desa Srimulyo dan Sitimulyo tergolong dalam zona dengan tingkat riisko gempabumi sedang. Nilai percepatan maksimum mencapai 12,61 gal yang setara dengan skala MI V, yang menggambarkan guncangan dirasakan hamper semua orang dan menyebabkan beberapa benda bergoyang. Penelitian ini dapat menjadi referensi dalam perencanaan tata ruang, pengembangan infrastruktur tahan gempabumi serta upaya mitigasi bencana untuk mengurangi risiko gempabumi di Kecamatan Piyungan.Piyungan District has earthquake potential due to the activity of the Opak Fault, as evidenced by the earthquake on May 27, 2006, with a magnitude of 6.3 Mw, which caused significant damage. Therefore, an earthquake risk analysis is necessary for disaster mitigation in this area. This study analyzes the maximum ground acceleration (PGA) using the Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA) method to map earthquake risk in Piyungan District. The analysis determines the PGA values at both bedrock and surface levels using the Choiu-Young 2014 Ground Motion Prediction Equations (GMPE). The results indicate that the bedrock PGA values range from 0.41 to 0.51 g, while the surface PGA values range from 0.45 to 0.64 g. The highest PGA values are found in Sitimulyo Village and the northern part of Srimulyo Village. The Vs30 data used in this study were obtained from the United States Geological Survey (USGS). Based on the obtained PGA values, Piyungan District, particularly Srimulyo and Sitimulyo Villages, falls into a moderate seismic risk zone, with a maximum ground acceleration reaching 12.61 gal, which corresponds to MMI scale V—where shaking is felt by nearly everyone and some objects may move. This study can serve as a reference for spatial planning, the development of earthquake-resistant infrastructure, and disaster mitigation efforts to reduce earthquake risks in Piyungan District.
4509348464L1A021013Analisis Kebijakan Konservasi Mangrove Segara Anakan Timur: Peluang dan Tantangan di Cilacap, Jawa TengahPenelitian ini berjudul Analisis Kebijakan Konservasi Mangrove Segara Anakan Timur: Peluang dan Tantangan di Cilacap, Jawa Tengah. Ekosistem hutan mangrove adalah formasi vegetasi yang bisa ditemukan di kawasan perairan pasang surut dan kepulauan kecil, sekaligus menyimpan potensi sebagai kekayaan sumber daya alami. Tujuan penelitian yaitu mengetahui persepsi masyarakat lokal terhadap kebijakan konservasi mangrove di Segara Anakan Timur, mengidentifikasi peluang dan tantangan yang muncul dari kebijakan konservasi mangrove di Segara Anakan Timur, menganalisis kebijakan yang telah diterapkan dalam konservasi mangrove di Segara Anakan Timur dan mengetahui
dampak kebijakan konservasi mangrove terhadap ekosistem dan kehidupan sosial-ekonomi
masyarakat di Segara Anakan Timur. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian mengatakan bahwa, masyarakat yang berada dekat dengan ekosistem mangrove, mengetahui bagaimana kondisi hutan mangrove di Segara Anakan Timur. Hutan mangrove yang berada di Segara Anakan Timur memberikan dampak yang sangat penting bagi masyarakat sekitar nya. Berdasarkan hasil analisis SWOT terhadap kebijakan konservasi ekosistem mangrove Segara Anakan Timur, menunjukkan posisi di kuadran II (kanan bawah). Kebijakan yang diterapkan pada konservasi mangrove Segara Anakan Timur yaitu kegiatan seperti penanaman mangrove dan edukasi. Analisis data menunjukkan bahwa kebijakan konservasi mangrove di Segara Anakan Timur
menghasilkan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat, dampak tersebut berupa aspek positif dan negatif.
This research is entitled Analysis of Mangrove Conservation Policy of East Segara Anakan:
Opportunities and Challenges in Cilacap, Central Java. Mangrove forest ecosystems are
vegetation formations that can be found in tidal waters around and small islands, as well as
holding potential as a wealth of natural resources. The objectives of the study were to
determine the perceptions of local communities towards mangrove conservation policies in
East Segara Anakan, identify opportunities and challenges arising from mangrove
conservation policies in East Segara Anakan, analyze policies that have been implemented in mangrove conservation in East Segara Anakan and determine the impact of mangrove
conservation policies on ecosystems and socio-economic life of communities in East Segara Anakan. The research method used is a qualitative descriptive approach. The results of the study said that, people who are close to the mangrove ecosystem, know how the condition of mangrove forests in East Segara Anakan. Mangrove forests in East Segara Anakan have a very important impact on the surrounding community. Based on the results of the SWOT analysis of the Eastern Segara Anakan mangrove ecosystem conservation policy, showing a position in quadrant II (lower right). Policies applied to mangrove conservation in East Segara Anakan are activities such as mangrove planting and education. Data analysis shows that mangrove conservation policies in East Segara Anakan produce significant impacts on the community, these impacts are in the form of positive and negative aspects.
4509448465B1A021127Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Termofilik Penghasil Amilase Termostabil dari Pancuran Pitu, Baturraden, Jawa TengahAmilase merupakan salah satu enzim yang paling banyak digunakan di berbagai bidang industri, menyumbang 25–30% dari kebutuhan pasar enzim global. Namun, sebagian besar enzim mengalami denaturasi pada suhu tinggi, sehingga industri memerlukan enzim yang bersifat termostabil. Salah satu sumber potensial untuk mendapatkan enzim termostabil adalah dari bakteri termofilik yang hidup di lingkungan ekstrem seperti sumber air panas. Pancuran Pitu, Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, merupakan salah satu lokasi yang belum banyak dieksplorasi sebagai habitat bakteri termofilik penghasil amilase termostabil. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengisolasi bakteri termofilik penghasil amilase termostabil dari Pancuran Pitu, mengetahui aktivitas amilolitik dari bakteri termofilik penghasil amilase termostabil pada berbagai suhu, dan mengidentifikasi bakteri termofilik penghasil amilase termostabil berdasarkan karakter fenotipik dan genotipik.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan survei dan eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dua faktor, yaitu jenis isolat dan suhu inkubasi, dengan tiga kali ulangan. Parameter utama yang diamati adalah indeks amilolitik, sedangkan parameter pendukung berupa identitas isolat bakteri berdasarkan karakter fenotipik dan genotipik. Data hasil eksperimen dianalisis menggunakan uji ANOVA pada tingkat signifikansi 95%, dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT).
Sebanyak delapan isolat bakteri termofilik berhasil diperoleh dan enam isolat diantaranya menunjukkan aktivitas amilolitik. Dua isolat terpilih, A2P61 dan B2P51, menunjukkan indeks amilolitik tertinggi sebesar 2,059 dan 1,228 dan stabil pada kisaran suhu 45-60°C, dengan aktivitas enzim amilase optimum pada suhu 55°C. Identifikasi fenotipik menunjukkan kedua isolat merupakan bakteri Gram positif, berbentuk basil, motil, serta mampu tumbuh pada suhu tinggi sekitar 50-60°C dan pH netral hingga basa. Hasil analisis sekuen gen 16S rRNA menunjukkan bahwa isolat A2P61 termasuk dalam spesies Bacillus licheniformis, sedangkan isolat B2P51 termasuk ke dalam spesies Bacillus sp. Penelitian ini membuktikan bahwa Pancuran Pitu merupakan habitat potensial bagi bakteri termofilik penghasil amilase termostabil yang berpotensi untuk aplikasi di bidang industri.
Amylase is one of the most widely used enzymes in various industrial sectors, contributing for 25–30% of the global enzyme market. However, most enzymes are denaturated at high temperatures, making thermostable enzymes are required in industrial processes. Thermophilic bacteria from extreme environments such as hot springs are potential sources of thermostable enzymes. Pancuran Pitu, located in Baturraden, Central Java, is a hot spring that has not been widely explored as a habitat for thermophilic, amylase-producing bacteria. This research aims to isolate thermostable amylase-producing thermophilic bacteria from Pancuran Pitu, evaluate the amylolytic activity of the bacteria at different temperatures, and identify the bacteria based on phenotypic and genotypic characteristics.
This study employed both survey and experimental approaches using a factorial completely randomized design (CRD) with two factors i.e. bacterial isolate and incubation temperature, with three replications. The main parameter observed was the amylolytic index, while supporting parameters included bacterial isolate identity according to phenotypic and genotypic characters. Experimental data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 95% significance level, followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT).
A total of eight thermophilic bacterial isolates were successfully obtained, six bacterial isolates exhibited amylolytic activity. Two selected isolates, A2P61 and B2P51, demonstrated the highest amylolytic indices i.e. 2,059; 1,228 respectively. The amylolytic activity was stable at 45 until 60°C, with optimal amylase activity at 55°C. Phenotypic characterization revealed that both isolates are Gram-positive, rod-shaped, motile bacteria capable of growing at high temperatures (50-60°C) and at neutral to alkaline pH. 16S rRNA gene sequence analysis resulted that isolate A2P61 as Bacillus licheniformis, while isolate B2P51 was classified within the Bacillus genus. These findings demonstrate that Pancuran Pitu is a potential habitat for thermophilic, thermostable amylase-producing bacteria with promising industrial applications.
4509548466I1A021061Analisis Faktor-Faktor Individu yang Berpengaruh Terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Driver Ojek Online Grab-Bike di PurwokertoLatar Belakang: Musculoskeletal disorders (MSDs) merupakan timbulnya gangguan pada otot, tendon, tulang, sendi, tulang rawan, saraf serta struktur lainnya yang menyokong tungkai, leher, dan punggung menyebabkan adanya keluhan meliputi rasa sakit, nyeri, mati rasa, kesemutan, bengkak, rasa kaku, rasa terbakar, gemetar, hingga gangguan tidur. Salah satu faktor penyebab MSDs yang
cukup serius pada pekerja adalah faktor individu. Sistem pembagian akun prioritas, akun normal, dan akun tidak prioritas pada aplikasi Grab mendorong driver untuk bekerja lebih lama dalam satu hari, yang berpotensi mengurangi waktu istirahat, menghambat aktivitas olahraga, serta memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor individu apa saja yang berpengaruh terhadap keluhan musculoskeletal disorders pada driver ojek online Grab-Bike di Purwokerto. Metodologi: Penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik accidental sampling pada populasi yang berjumlah 330 orang dan diambil sampel
berjumlah 77 orang. Instrumen penelitian berupa Nordic Body Map (NBM). Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dengan chi-square dan korelasi spearman, serta multivariat dengan uji regresi logistik berganda.
Hasil Penelitian: Variabel yang berpengaruh adalah usia (p=0,042) dan masa kerja (p=0,026). Variabel yang tidak berpengaruh adalah IMT (p=0,182), kebiasaan merokok (p=0,895), kebiasaan olahraga (p=0,863), dan riwayat penyakit musculoskeletal (p=0,529). Kesimpulan: Variabel yang paling berpengaruh adalah masa kerja. Saran: Para driver khususnya yang memiliki masa kerja lama dapat mengurangi durasi kerja dan lebih memeriksakan kesehatan secara rutin.
Background: Musculoskeletal disorders (MSDs) refer to disorders affecting muscles, tendons, bones, joints, cartilage, nerves, and other structures supporting the limbs, neck, and back. These disorders cause complaints such as pain, numbness, tingling, swelling, stiffness, burning sensation, tremors, and sleep disturbances. Individual factors are significant contributors to MSDs among workers. The priority account system in the Grab application, which classifies accounts into priority, normal, and non-priority categories, encourages drivers to work longer hours per day, potentially reducing rest time, hindering exercise activities, and impacting overall health. This study aims to identify individual factors influencing musculoskeletal disorders complaints among Grab-Bike online motorcycle drivers in Purwokerto. Methods: This research utilized a cross-sectional study design. The sampling technique used was accidental sampling, drawn from a population of 330 drivers, with a total sample size of 77 participants. The research instrument used was the Nordic Body Map (NBM). Data analysis used univariate analysis, bivariate analysis using chi-square and Spearman's correlation tests, and multivariate analysis using multiple logistic regression.
Results: The factors influencing MSD complaints were age (p = 0.042) and work tenure (p = 0.026). Factors not influencing MSD complaints included BMI (p = 0.182), smoking habits (p = 0.895), exercise habits (p = 0.863), and history of musculoskeletal disorders (p = 0.529). Conclusion: Work tenure was the most influential factor. Recommendation: Drivers, especially those with longer work periods, are advised to reduce their working hours and prioritize regular health check-ups.
4509648467G1B021014EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK DAUN NANGKA (Artocarpus heterophyllus) TERHADAP JUMLAH ANGIOGENESIS PADA PROSES PENYEMBUHAN ULKUS
TRAUMATIKUS MUKOSA LABIAL INFERIOR
(Studi In Vivo pada Tikus Wistar)
Latar belakang. Ulkus traumatikus adalah luka rongga mulut yang ditandai dengan hilangnya ketebalan jaringan epitel akibat trauma. Angiogenesis atau pembentukan pembuluh darah baru merupakan salah satu parameter penyembuhan luka yang sangat penting. Proses angiogenesis berkontribusi terhadap suplai oksigen dan nutrisi pada jaringan yang luka. Daun nangka (Artocarpus heterophyllus) sebagai bahan alternatif mengandung senyawa fitokimia flavonoid, saponin, dan tanin yang membantu meningkatkan angiogenesis dalam penyembuhan luka. Tujuan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh gel ekstrak daun nangka konsentrasi 5%, 10%, dan 15% terhadap jumlah pembentukan angiogenesis pada proses penyembuhan ulkus traumatikus di hari ke-7. Metode. Jenis penelitian ini adalah true experimental laboratories in vivo dengan posttest-only control group design. Sampel yang digunakan sebanyak 25 ekor tikus Wistar jantan. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari kelompok perlakuan gel ekstrak daun nangka konsentrasi 5% (P1), 10% (P2), dan 15% (P3), kelompok kontrol positif gel asam hialuronat® (KP), dan kelompok kontrol negatif gel tanpa ekstrak (KN). Proses pengamatan dilakukan pada hari ke-7. Pengamatan jumlah angiogenesis dilakukan oleh dua pengamat pada preparat histopatologi anatomi ulkus traumatikus mukosa labial inferior dengan pewarnaan HE dan perbesaran 400x pada 5 lapang pandang. Data jumlah angiogenesis dilakukan analisis menggunakan One-way Anova dan uji Post-hoc LSD. Hasil. Data jumlah angiogenesis memiliki perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara kelompok perlakuan (P1, P2, P3) dengan kelompok KN pada hari ke-7. Kelompok P3 menunjukkan hasil tidak berbeda signifikan (p≥0,05) dengan kelompok KP. Simpulan. Gel ekstrak daun nangka konsentrasi 15% (P3) memiliki efektivitas paling baik dalam meningkatkan jumlah angiogenesis pada hari ke-7.Background. Traumatic ulcers are oral cavity wounds characterized by loss of epithelial tissue thickness due to trauma. Angiogenesis or the formation of new blood vessels is one of the most important parameters of wound healing. Angiogenesis process contributes to the supply of oxygen and nutrients to injured tissue. Jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus) as an alternative ingredient contain phytochemical compounds flavonoids, saponins, and tannins that help increase angiogenesis in wound healing. Purpose. The study aims to determine the effect of jackfruit leaf extract gel with concentrations of 5%, 10%, and 15% on the amount of angiogenesis formation in the healing process of traumatic ulcers on the 7th day. Method. This type of research is true experimental laboratories in vivo with a posttest-only control group design. The sample used was 25 male Wistar rats. The samples were divided into 5 groups consisting of jackfruit leaf extract gel treatment groups with concentrations of 5% (P1), 10% (P2), and 15% (P3), positive control group of hyaluronic acid gel® (KP), and negative control group of gel without extract (KN). The observation process was carried out on the 7th day. Observation of the amount of angiogenesis was carried out by two observers on histopathological anatomy preparations of traumatic ulcer of the inferior labial mucosa with HE staining and 400x magnification in 5 fields of view. Data on the amount of angiogenesis were analyzed using One-way Anova and Post-hoc LSD test. Results. The data on the amount of angiogenesis had a significant difference (p<0.05) between the treatment groups (P1, P2, P3) and the KN group on the 7th day. The P3 group showed results that were not significantly different (p≥0.05) from the KP group. Conclusion. Jackfruit leaf extract gel with a concentration of 15% (P3) had the best effectiveness in increasing the amount of angiogenesis on the 7th day.
4509748468B1A021006Keanekaragaman Morfologi Tanaman Hias Caladium Di PurwokertoCaladium atau keladi merupakan genus dari Famili Araceae yang populer sebagai tanaman hias karena keindahan dan variasi corak serta warna daunnya yang khas berbentuk jantung (cordate). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan hubungan kemiripan anggota Caladium yang digunakan sebagai tanaman hias di wilayah Purwokerto. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik purposive sampling pada empat kecamatan, dengan variabel yang diamati meliputi karakter morfologi akar, batang, daun, dan bunga. Analisis hubungan kemiripan dilakukan menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) melalui perangkat lunak MEGA 11. Hasil penelitian menemukan 11 jenis Caladium hibrida yang umum dibudidayakan, yaitu C. ‘Red Flash’, C. ‘Candidum’, C. ‘Red Splash’, C. ‘Manamgphim’, C. ‘tricolor’, C. ‘Frieda Hemple’, C. ‘Changwat Anokromi Yuthaya’, C. ‘Hibrida Thailand’, C. ‘Pink Symphony’, C. ‘Gingerland’, dan C. ‘Polka Green’. Analisis UPGMA menunjukkan tiga kelompok kemiripan, di mana kelompok pertama terdiri dari sembilan jenis Caladium, kelompok kedua terdiri dari C. ‘Polka Green’, dan kelompok ketiga terdiri dari C. ‘Hibrida Thailand’. Hubungan kemiripan terdekat ditemukan antara C. ‘Red Flash’ dan C. ‘Red Splash’ (indeks dissimilaritas 0,232), sedangkan hubungan terjauh antara C. ‘Hibrida Thailand’ dan C. ‘Polka Green’ (indeks dissimilaritas 1,512). Penelitian ini menunjukkan tingginya keanekaragaman Caladium hias di Purwokerto serta variasi hubungan kemiripan morfologi antar anggotanya.Caladium or keladi is a genus of the Araceae family that is popular as an ornamental plant because of the beauty and variety of patterns and colors of its distinctive heart-shaped leaves (cordate). This study aims to determine the diversity and similarity of Caladium members used as ornamental plants in the Purwokerto area. The method used is a survey with a purposive sampling technique in four sub-districts, with the observed variables including morphological characters of roots, stems, leaves, and flowers. Similarity relationship analysis was conducted using the UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) method through MEGA 11 software. The results of the study found 11 types of Caladium hybrids that are commonly cultivated, namely C. 'Red Flash', C. 'Candidum', C. 'Red Splash', C. 'Manamgphim', C. 'tricolor', C. 'Frieda Hemple', C. 'Changwat Anokromi Yuthaya', C. 'Thailand Hybrid', C. 'Pink Symphony', C. 'Gingerland', and C. 'Polka Green'. UPGMA analysis showed three similarity groups, where the first group consisted of nine types of Caladium, the second group consisted of C. 'Polka Green', and the third group consisted of C. 'Thailand Hybrid'. The closest similarity relationship was found between C. ‘Red Flash’ and C. ‘Red Splash’ (dissimilarity index 0.232), while the furthest relationship was between C. ‘Thailand Hybrid’ and C. ‘Polka Green’ (dissimilarity index 1.512). This study shows the high diversity of ornamental Caladium in Purwokerto and the variation of morphological similarity relationships between its members.
4509848469F1F021042Analisis Disfungsi PBB dalam Penanganan Kasus Krisis Humaniter Suriah Tahun 2020-2023Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai aktor utama dalam usaha penciptaan perdamaian di dunia mengalami disfungsi pada penanganan kasus krisis humaniter Suriah. Penelitian ini menganalisis tentang disfungsi yang terjadi pada PBB dalam penanganan krisis humaniter Suriah melalui teori disfungsi organisasi internasional dari Barnett dan Finnemore. Studi kualitatif ini mengidentifikasi bahwa kegagalan PBB bukan disebabkan oleh ketiadaan mandat, tetapi oleh hambatan internal berupa prosedur administratif yang kaku, normalisasi veto sebagai kelaziman politik, pendekatan teknokratis yang seragam, serta konflik nilai antar badan dalam sistem PBB. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dominasi budaya birokratis dalam tubuh PBB telah menghambat respons yang cepat, adil, dan adaptif terhadap krisis Suriah. Reformasi kelembagaan dan pendekatan yang lebih kontekstual menjadi penting agar PBB dapat menjalankan mandat di masa yang akan datang.The United Nations (UN) as the main actor in peacemaking efforts in the world experienced dysfunction in the handling of the Syrian humanitarian crisis case. This study analyzes the dysfunction of the UN in handling the Syrian humanitarian crisis through Barnett and Finnemore's theory of international organizational dysfunction. This qualitative study identifies that the failure of the UN is not caused by the absence of a mandate, but by internal obstacles in the form of rigid administrative procedures, normalization of veto as a political prevalence, uniform technocratic approach, and conflict of values between agencies in the UN system. This research concludes that the dominance of a bureaucratic culture within the UN has hindered a swift, fair and adaptive response to the Syrian crisis. Institutional reform and a more contextualized approach are essential for the UN to effectively carry out its humanitarian mandate in the future.
4509948470L1A021047Kondisi Biofisik dan Kelayakan Usaha Silvofishery di Segara Anakan, CilacapSilvofishery merupakan bentuk pemanfaatan kawasan mangrove menjadi budidaya perikanan ramah lingkungan yang dapat mewujudkan efisiensi pemanfaatan lahan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Pembudidaya pesisir Segara Anakan menerapkan budidaya silvofishery sebagai penghasilan tambahan. Seiring perkembangan memungkinkan adanya perubahan dalam kondisi lingkungan maupun ekonomi petani tambak silvofishery di Segara Anakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi biofisik berupa kualitas air dan kerapatan mangrove, serta kondisi kelayakan usaha silvofishery di Segara Anakan, Cilacap. Pengumpulan data kondisi biofisik dilakukan dengan pengamatan dan pengukuran langsung (insitu), sedangkan data kelayakan usaha dilakukan dengan wawancara. Berdasarkan kondisi biofisik, jenis mangrove yang didapat meliputi Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Bruguiera gymnorrhiza. Nilai kerapatan mangrove pada tingkat pohon berkisar 600-1.400 ind/ha dengan kriteria jarang hingga sangat padat. Parameter kualitas air yang didapat meliputi nilai kecerahan berkisar 30-60 cm, suhu berkisar 30–32 ºC, salinitas berkisar 15–20 ppt, dan pH berkisar 6,28–6,82. Kondisi kelayakan usaha menunjukkan bahwa usaha silvofishery di Segara Anakan layak untuk dijalankan dan dikembangkan berdasarkan R/C Ratio yang didapatkan berkisar 1,59-3,21 > 1 (layak), nilai NPV bernilai positif (NPV>0) berkisar 3.446.600–25.867.600 (layak), nilai IRR berkisar 8,33-16,44% > 6 % (layak), dan nilai PP yang diperoleh berkisar 0,67-2,81 tahun. Silvofishery is a utilization of mangrove areas into environmentally friendly aquaculture that
can realize land use efficiency and increase community income. Segara Anakan coastal pond farmers apply silvofishery cultivation as an additional income. As development allows changes in the environmental and economic conditions of Silvofishery pond farmers in Segara Anakan. The purpose of this study was to determine the biophysical conditions in the form of water quality and mangrove density, as the feasibility of silvofishery business in Segara Anakan, Cilacap. Data collection on biophysical conditions was collected by direct observation and measurement (insitu), while data on business feasibility was collected by interview. Based on biophysical conditions, mangrove species included Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, and Bruguiera gymnorrhiza. Mangrove density values at the tree level ranged from 600-1.400 ind/ha with rarely to very dense criteria. Water quality parameters obtained include brightness values of 30-60 cm, temperature of 30-32 ºC, salinity of 15-20 ppt, and pH of 6,28-6,82. Business feasibility conditions show that the silvofishery business in Segara Anakan is feasible to run and develop based on the R / C Ratio value is 1,59-3,21 > 1 (feasible), the NPV value is positive (NPV> 0), namely Rp3.446.600-25.867.600 (feasible), the IRR value is 8,33-16,44% > 6% (feasible), and the PP value is 0,67–2,81 years.
4510048471A1D021084PENGENDALIAN PENYAKIT HAWAR DAUN DENGAN BAKTERI ENDOFIT AKAR PADI Bacillus subtilis NPA6 dan PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN BAWANG MERAHPenyakit hawar daun bakteri yang disebabkan oleh Xanthomonas axonopodis pv. allii merupakan penyakit penting pada tanaman bawang merah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian penyakit hawar daun pada bawang merah dengan formula cair Bacillus subtilis NPA6 dan mengetahui aplikasi formula cair B. subtilis NPA6 terhadap pertumbuhan bawang merah. Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dan lahan di Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas dengan ketinggian tempat 117 mdpl. Penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Mei sampai September 2024. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan empat perlakuan yaitu kontrol (P0), formula cair air cucian beras (P1), formula cair air kelapa (P2) dan bakterisida (P3) dan diulang sebanyak enam kali. Variabel yang diamati meliputi masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi, AUDPC, tinggi tanaman, jumah daun dan laju pertumbuhan tanaman. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa aplikasi B. subtilis NPA6 mampu menekan intensitas penyakit hawar daun bakteri dan laju infeksi serta serta memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman, yang ditunjukkan dengan tinggi tanaman mencapai 35,20 cm dan jumlah daun sebanyak 16,66 helai.Bacterial leaf blight disease caused by Xanthomonas axonopodis pv. allii is an important disease in shallot plants in Indonesia. This study aims to determine the control of leaf blight disease in shallots with the Bacillus subtilis NPA6 liquid formula and to determine the application of the B. subtilis NPA6 liquid formula to the growth of shallots. The study was conducted at the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University and land in Linggasari Village, Kembaran District, Banyumas Regency with an altitude of 117 meters above sea level. The study was conducted from May to September 2024. This study was conducted using an experimental method using a completely randomized block design (RAKL) with four treatments, namely control (P0), rice washing water liquid formula (P1), coconut water liquid formula (P2) and bactericide (P3) and repeated six times. The variables observed included incubation period, disease intensity, infection rate, AUDPC, plant height, number of leaves and plant growth rate. The ANOVA results showed that the application of B. subtilis NPA6 was able to suppress the intensity of bacterial leaf blight disease and the rate of infection and had a positive impact on plant growth, as indicated by the plant height reaching 35.20 cm and the number of leaves as many as 16.66 strands.