Artikelilmiahs
Menampilkan 45.061-45.080 dari 48.758 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 45061 | 48436 | A1D021032 | Microclimate Correlation with Coffee Leaf Rust Severity in Dieng Mountains, Indonesia | Perubahan iklim global memperburuk risiko hama dan penyakit di perkebunan Coffea arabica, termasuk penyakit karat daun kopi (Hemileia vastatrix), yang menyebabkan kehilangan hasil panen sebesar 25% di Indonesia. Studi ini meneliti efek iklim mikro terhadap tingkat keparahan penyakit karat di Kalibening, Banjarnegara (Juli-Agustus 2024), dengan menggabungkan analisis jalur dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan angin merupakan faktor utama penyebab perkembangan karat daun, sedangkan suhu dan kelembaban menunjukkan dampak yang minimal. Berkurangnya pengaruh suhu/kelembaban disebabkan oleh tanaman naungan dalam sistem agroforestri, yang mengganggu aliran angin, menciptakan turbulensi yang memerangkap urediniospora yang terbawa udara dan membatasi penyebarannya. Selain itu, vegetasi naungan memoderasi suhu lokal dan meningkatkan kelembaban. Temuan ini menekankan dinamika angin sebagai faktor penting dalam epidemiologi penyakit karat daun kopi, dengan pohon naungan yang berperan sebagai penyangga iklim mikro setempat. | Global climate change exacerbates pest and disease risks in Coffea arabica plantation, including coffee leaf rust (Hemileia vastatrix), linked to 25% yield losses in Indonesia. This study examined microclimate effects on rust severity in Kalibening, Banjarnegara (July–August 2024), combining path analysis and multiple linear regression. Results identified wind speed as the primary driver of rust proliferation, while temperature and humidity showed minimal impact. The reduced effect of temperature/humidity is attributed to shade plants in the agroforestry system, which disrupt wind flow, creating turbulence that traps airborne urediniospores and limits their dispersal. Additionally, shade vegetation moderated local temperatures and increased humidity. These findings emphasize wind dynamics as a critical factor in coffee leaf rust epidemiology, with shade trees acting as a bioclimatic buffer. | |
| 45062 | 48413 | E1A021114 | ANALISIS YURIDIS WANPRESTASI TERHADAP PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM SECARA LISAN (Studi Kasus Putusan 339/Pdt.G/2023/PN Sda) | Perjanjian pinjam meminjam uang secara lisan terjadi antara Gunawan (Penggugat) dan H. Iswandi (Tergugat). Tergugat meminjam uang sebesar Rp823.000.000 dengan dikenakan bunga 5% per bulannya. Hingga waktu yang disepakati Tergugat tetap tidak memenuhi prestasinya walaupun telah dilakukan berbagai upaya bahkan somasi oleh Penggugat. Penggugat mengajukan gugatan atas kejadian tersebut. Pertimbangan hukum hakim tidak merinci unsur-unsur yang dilanggar dalam menetapkan wanprestasi Tergugat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim terkait unsur-unsur wanprestasi dan menganalisis akibat hukum dari wanprestasi dalam perjanjian pinjam meminjam para pihak. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan kasus, perundang-undangan, dan konseptual. Penelitian bersifat deskriptif normatif, dengan data sekunder dari studi kepustakaan. Data diolah melalui reduksi dan display, disajikan dalam teks naratif, serta dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan keputusan Majelis Hakim untuk menetapkan Tergugat wanprestasi telah tepat meskipun tidak merinci unsur-unsur wanprestasi yang berupa perjanjian lisan yang sah, Tergugat tidak melaksanakan prestasi dengan terlambat berprestasi, dan adanya unsur salah dalam diri dengan sengaja tidak memenuhi prestasi. Tergugat dikenakan akibat hukum berupa pemenuhan prestasi dengan mengembalikan hutang pokok sebesar Rp823.000.000 disertai ganti rugi berupa bunga moratoir sebesar Rp592.560.000 dan bunga kompensatoir sebesar Rp123.450.000. Tergugat juga harus membayar biaya perkara sebesar Rp390.000. | An oral money lending agreement took place between Gunawan (Plaintiff) and H. Iswandi (Defendant), in which the Defendant borrowed Rp823,000,000 with 5% monthly interest. The Defendant failed to fulfill the repayment obligation by the agreed deadline, despite various efforts and formal summonses from the Plaintiff. The Plaintiff subsequently filed a lawsuit. However, the judge’s legal considerations did not explicitly outline the elements of default. This study aims to examine the court’s legal reasoning concerning the elements of default and the legal consequences arising from the breach of the loan agreement. The research employs a normative juridical method using case, statutory, and conceptual approaches. It is descriptive-normative in nature, based on secondary data obtained through literature review. The data were processed through reduction and display, presented narratively, and analyzed qualitatively. The results indicate that the court’s decision to declare the Defendant in default was appropriate, although it lacked detailed elaboration of the required elements: a valid oral agreement, delayed performance, and intentional fault. As a legal consequence, the Defendant must repay the principal debt of Rp823,000,000, along with moratory interest of Rp592,560,000, compensatory interest of Rp123,450,000, and court costs of Rp390,000. | |
| 45063 | 48433 | E1A020220 | PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG POLIS ASURANSI ATAS SENGKETA KLAIM ASURANSI JIWA PT AXA FINANCIAL INDONESIA | Sengketa yang sering terjadi dalam perjanjian asuransi adalah masalah pembayaran klaim asuransi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dasar penolakan klaim asuransi jiwa serta perlindungan hukum bagi pemegang polis pada Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 269/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL. Jenis penelitian hukum yang digunakan adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan undang-undang, metode pendekatan konseptual, dan metode pendekatan kasus. Spesifikasi penelitian menggunakan preskriptif. Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Pengumpulan data menggunakan metode kepustakaan. Penyajian data disajikan secara naratif. yang disusun secara sistematis, logis, dan rasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penolakan klaim oleh PT AXA Financial Indonesia dalam Putusan Nomor 269/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL menunjukkan pelanggaran Pasal 1320 dan Pasal 1338 KUHPerdata. Dibuktikan dengan ketidakjujuran dalam SPAJ tidak dapat dibuktikan secara hukum dan bertentangan dengan prinsip itikad baik, dan tergugat dinyatakan wanprestasi karena gagal melaksanakan kewajiban kontraktualnya, yang menyebabkan kerugian besar bagi Penggugat. Perlindungan hukum terhadap pemegang polis telah sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku di Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan dan juga Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian, POJK Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, dan UUPK. Putusan pengadilan yang memberikan perlindungan kepada pemegang polis yaitu penggugat dalam bentuk perlindungan hukum preventif dan represif. | Dispute that often occurs in insurance agreements are insurance claims payment issues. The research aims to determine the basis for rejection of life insurance claims and legal protection for policy holders in the South Jakarta District Court Decision Number 269/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL. The type of legal research used is normative juridical with a statutory approach method, conceptual approach method, and case approach method. Research specifications use prescriptive. The type and source of data used is secondary data. Data collection uses library methods. Data presentation is presented narratively. which are arranged systematically, logically and rationally. The research results show that the rejection of the claim by PT AXA Financial Indonesia in Decision Number 269/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL indicates a violation of Article 1320 and Article 1338 of the Civil Code. It was proven that dishonesty in SPAJ could not be proven legally and was contrary to the principle of good faith, and the defendant was declared in default because he failed to carry out his contractual obligations, which caused major losses for the Plaintiff. Legal protection for policy holders is in accordance with applicable laws and regulations in Indonesia, namely Law Number 21 of 2011 concerning the Financial Services Authority and also Law Number 40 of 2014 concerning Insurance, POJK Number 1/POJK.07/2013 concerning Consumer Protection in the Financial Services Sector, and UUPK. Court decisions that provide protection to policy holders, namely plaintiffs, in the form of preventive and repressive legal protection. | |
| 45064 | 48435 | L1C020030 | Analisis Kandungan Seng (Zn) pada Oyster (Crassostrea Sp.) dengan Ukuran Berbeda di Perairan Laguna Segara Anakan Bagian Timur | Oyster merupakan moluska bivalvia yang dikenal sebagai sumber pangan laut yang bernilai ekonomis tinggi karena mengandung protein, polisakarida aktif, taurin, vitamin, rendah lemak, serta mineral, salah satunya yaitu seng (Zn). Oyster merupakan salah satu organisme yang dapat mengakumulasi Zn dengan konsentrasi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi kandungan mineral Zn dalam oyster, mengetahui hubungan berbeda dengan kandungan Zn, serta mengetahui hubungan parameter fisika-kimia perairan dengan kandungan Zn. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan analisis laboratorium, dengan analisis data menggunakan Korelasi Spearman dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi kandungan Zn pada oyster berukuran 3–4 cm berkisar antara 131, 64-460, 68 ppm, dan >4 cm berkisar antara 121, 10-170, 72 ppm. Hubungan yang sangat kuat antara ukuran oyster (3–4 cm dan >4 cm) dengan konsentrasi kandungan seng (Zn), dengan nilai korelasi masing-masing 0,725 dan 0,956. Parameter yang memiliki hubungan sangat kuat dengan kandungan mineral Zn pada oyster berukuran 3–4 cm adalah suhu, pH, salinitas, kecerahan, dan DO. Sedangkan kandungan mineral Zn pada oyster ukuran >4 cm dipengaruhi oleh parameter kedalaman. | Oyster is a bivalve mollusk known as a source of seafood with high economic value because it contains protein, active polysaccharides, taurine, vitamins, low fat, and minerals, one of which is zinc (Zn). Oyster is one of the organisms that can accumulate Zn with high concentrations. This study aims to analyze the concentration of Zn mineral content in oysters, determine the relationship of size 3-4 cm and >4 cm with Zn content, and determine the relationship of physico-chemical parameters of waters with Zn content. The methods used in this study are survey methods and laboratory analysis, with data analysis using Spearman Correlation and Principal Component Analysis (PCA). The results showed that the concentration of Zn content in oysters measuring 3-4 cm ranged from 131, 64-460, 68 ppm, and >4 cm ranged from 121, 10-170, 72 ppm. Very strong relationship between oyster size (3-4 cm and >4 cm) with the concentration of zinc (Zn), with a correlation value of 0.725 and 0.956 respectively. Parameters that have a very strong relationship with the mineral content of Zn in oysters measuring 3-4 cm are temperature, pH, salinity, brightness, and DO. While the content of Zn minerals in oysters >4 cm in size is influenced by the depth parameter. | |
| 45065 | 48437 | E1A021203 | ANALISIS PERBUATAN MELAWAN HUKUM ATAS KELALAIAN TERHADAP HILANGNYA OBJEK SEWA (Studi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara No. 309/PDT.G/2023/PN.Jkt Ut) | Perjanjian sewa menyewa merupakan suatu perjanjian yang dilakukan pemberi sewa dengan penyewa untuk dapat memanfaatkan obyek sewa sesuai kepentingan dalam kurun waktu tertentu. Namun, ada kalanya penyewa menimbulkan kerugian terhadap pemberi sewa akibat kelalaian yang dilakukannya seperti dalam Putusan Nomor 309/Pdt.G/2023/PN.Jkt.Ut. Dalam kasus ini Para Tergugat melakukan perbuatan melawan hukum dengan menghilangkan salah satu unit kendaraan sewa milik Penggugat. Akibat perbuatan tersebut Penggugat mengalami kerugian materiil dan immateriil yang kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengkualifisir unsur Perbuatan Melawan Hukum Para Tergugat serta pertimbangan hukum Hakim dalam mengabulkan gugatan ganti rugi yang diajukan Penggugat. Tipe penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan Pendekatan perundang-undangan, konseptual dan kasus, serta spesifikasi penelitian prespektif analis dengan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan Majelis Hakim dalam pertimbangannya menyatakan Para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum yang melanggar hak orang lain berupa hak kebendaanya. Penulis berpendapat perbuatan melawan hukum yang dilakukan tidak hanya melanggar hak orang lain namun juga melanggar kewajiban hukum yang diatur dalam Pasal 1560 ayat (2) dan Pasal 1562 jo Pasal 1563 KUHPerdata. Selanjutnya mengenai gugatan ganti rugi berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata Majelis hakim mengabulkan gugatan kerugian materiil sebesar 285.078.926, sedangkan kerugian materiil sebesar Rp. 500.000.000 tidak dikabulkan Hakim sebab Penggugat tidak dapat menjelaskan secara rinci bagaimana penghitungan kerugian immateriil tersebut. | A lease agreement is an agreement made by the lessor and the lessee to be able to utilize the leased object according to their interests within a certain period of time. However, sometimes the lessee causes losses to the lessor due to negligence as in Decision Number 309/Pdt.G/2023/PN.Jkt.Ut. In this case, the Defendants committed an unlawful act by removing one of the Plaintiff's rental vehicles. As a result of this act, the Plaintiff suffered material and immaterial losses and then filed a lawsuit with the Court. This study aims to analyze the judge's legal considerations in qualifying the elements of the Defendants' Unlawful Acts and the Judge's legal considerations in granting the Plaintiff's claim for compensation. The type of research used is normative juridical with a statutory, conceptual and case approach, as well as analytical perspective research specifications with secondary data. The results of the study show that the Panel of Judges in its considerations stated that the Defendants had committed an unlawful act that violated the rights of others in the form of their property rights. The author is of the opinion that the unlawful act committed not only violates the rights of others but also violates the legal obligations stipulated in Article 1560 paragraph (2) and Article 1562 in conjunction with Article 1563 of the Civil Code. Furthermore, regarding the claim for compensation based on Article 1365 of the Civil Code, the panel of judges granted the claim for material losses of 285,078,926, while the material loss of Rp. 500,000,000 was not granted by the Judge because the Plaintiff could not explain in detail how to calculate the immaterial losses. | |
| 45066 | 48438 | L1C020068 | Pemodelan Arus Permukaan Laut Selama Fase ENSO (El Nino Southern Oscillation) di Laut Flores | Laut Flores dipengaruhi oleh interaksi angin muson dan fenomena ENSO, yang menyebabkan variabilitas pada pola arus permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji akurasi model numerik dalam merepresentasikan arus permukaan laut di Laut Flores serta menganalisis pola arus yang terbentuk selama berbagai fase ENSO, yaitu El Niño, La Niña, dan kondisi netral, berdasarkan hasil pemodelan. Metode yang digunakan adalah pemodelan numerik dengan resolusi grid 0,015 derajat. Setiap fase ENSO dikategorikan berdasarkan nilai indeks Niño 3.4 dengan pemilihan bulan yang mewakili musim barat, peralihan pertama, musim timur, dan peralihan kedua dalam periode waktu 2015 sampai 2016. Hasil validasi model menghasilkan nilai RMSE yang relatif rendah, serta menunjukkan kemampuan model untuk merepresentasikan dinamika arus permukaan di Laut Flores dengan cukup baik. RMSE yang tercatat selama fase El Niño, netral, dan La Niña menunjukkan kesesuaian yang baik antara model dan data observasi, dengan akurasi yang lebih tinggi pada kondisi netral dan fase La Niña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bulan Desember 2015, yang mewakili Musim Barat dan terjadi ketika fase El Niño, arus permukaan di Laut Flores cenderung lebih rendah di bandingkan Musim Timur dan Peralihan II, dengan arah dominan ke timur. Pada Maret 2016 (Musim Peralihan I), ketika El Niño masih berlangsung, arus tetap mengarah ke timur dengan kecepatan yang sedikit lebih rendah dibandingkan Musim Barat. Pada bulan Juni 2016 (Musim Timur) ketika fase Netral, arus permukaan lebih tinggi dari musim lainnya dan bergerak ke arah barat mengikuti pengaruh angin muson timur. Pada Oktober 2016 (Musim Peralihan II) ketika fase La Niña berlangsung, arus kembali mengarah ke timur dengan kecepatan lebih rendah dibandingkan Musim Timur tetapi lebih tinggi dari Musim Barat dan Peralihan I. Arus permukaan di Laut Flores menunjukkan kecepatan tertinggi pada Musim Timur ketika fase Netral, dan cenderung lebih rendah ketika fase El Niño maupun La Niña, dengan arah arus bervariasi mengikuti musim. | The Flores Sea was influenced by the interaction of monsoon winds and the ENSO phenomenon, which caused variability in surface current patterns. This study aimed to test the accuracy of a numerical model in representing surface currents in the Flores Sea as well as analyze the current patterns formed during various ENSO phases, namely El Niño, La Niña, and neutral conditions, based on modeling results. The method used was numerical modeling with a grid resolution of 0.015 degrees. Each ENSO phase was categorized based on the Niño 3.4 index values with selected months representing the western monsoon, the first transitional season, the eastern monsoon, and the second transitional season during the period from 2015 to 2016. The model validation results produced relatively low RMSE values and demonstrated the model’s ability to represent the surface current dynamics in the Flores Sea quite well. RMSE values recorded during the El Niño, neutral, and La Niña phases showed good agreement between the model and observational data, with higher accuracy during neutral conditions and the La Niña phase. The results showed that in December 2015, which represented the western monsoon and occurred during the El Niño phase, surface currents in the Flores Sea tended to be lower compared to the eastern monsoon and the second transitional season, with a dominant eastward direction. In March 2016 (the first transitional season), while El Niño was still ongoing, currents remained directed eastward with speeds slightly lower than during the western monsoon. In June 2016 (eastern monsoon), during the neutral phase, surface currents were higher than in other seasons and moved westward following the influence of the east monsoon winds. In October 2016 (the second transitional season), during the La Niña phase, currents again moved eastward with speeds lower than in the eastern monsoon but higher than during the western monsoon and the first transitional season. Surface currents in the Flores Sea showed the highest speeds during the eastern monsoon under neutral conditions, and tended to be lower during both the El Niño and La Niña phases, with current directions varying according to the season. | |
| 45067 | 48439 | G1A021086 | PENGARUH INTENSITAS LATIHAN AEROBIK TERHADAP ESTIMATED GLOMERULAR FILTRATION RATE (EGFR) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MODEL OBESITAS | Latar Belakang : Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Obesitas dapat menyebabkan terjadinya hiperfiltrasi pada ginjal yang berujung pada penurunan fungsi ginjal. Latihan fisik aerobik berbagai intensitas diduga dapat memperbaiki fungsi ginjal pada penderita obesitas. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh intensitas latihan fisik terhadap Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) pada tikus putih (Rattus norvegicus) model obesitas. Metode : Penelitian ini menggunakan true experimental dengan desain penelitian Pretest-Posttest Control Group Design. Desain ini melibatkan 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar jantan yang terbagi dalam 5 kelompok dimana K1 merupakan kontrol negatif, K2 tikus obesitas tanpa perlakuan, sedangkan P1, P2, dan P3 tikus obesitas yang diberikan latihan fisik aerobik intensitas ringan, sedang, dan berat selama 4 minggu. Obesitas diinduksi dengan pakan tinggi lemak diberikan selama 4 minggu. Latihan fisik aerobik dilakukan selama 30 menit dalam 5 hari per minggu. Pengukuran eGFR menggunakan biomarker cystatin C yang didapatkan dari sampel darah yang diambil sebelum dan setelah perlakuan. Analisis data menggunakan uji Paired T-Test dan uji Oneway ANOVA yang diikuti dengan uji post-hoc Games Howell. Hasil : Hasil Paired T-Test memperlihatkan tidak ada perubahan yang signifikan dengan nilai p > 0,05. Pada pengujian Oneway ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan antar 5 kelompok tikus (p = 0,001). Namun, pada uji post hoc tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan. Kesimpulan : Intensitas latihan fisik aerobik tidak berpengaruh terhadap eGFR tikus putih (Rattus norvegicus) model obesitas | Background : Obesity is one of the health problems in Indonesia. Obesity can cause hyperfiltration in the kidneys which leads to decreased kidney function. Aerobic physical exercise in various intensities is expected to improve kidney function in obese patients. Objective : To determine the effect of intensities aerobic exercise on Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) in white obese rats (Rattus norvegicus) with obesity model. Method : This study used true experimental with Pretest-Posttest Control Group Design. This design involves 30 white rats (Rattus norvegicus) male Wistar strain which are divided into 5 groups where K1 is a negative control, K2 obese rats without intervention, while P1, P2, and P3 obese rats which are given aerobic physical exercise of low, intermediate, and high intensity for 4 weeks. Obesity was induced with high-fat diet for 4 weeks. Aerobic physical exercise is performed for 30 minutes on 5 days per week. EGFR was measured using the biomarker cystatin C obtained from blood samples taken before and after intervention. Data were analysed using Paired T-Test and Oneway ANOVA followed by post-hoc Games Howell test. Results : Paired T-Test results showed no significant changes with a p value > 0.05. Oneway ANOVA test showed significant differences between the 5 groups of rats (p = 0.001). However, the post hoc test showed no significant difference between the control and intervention groups. Conclusion : Aerobic exercise intensity has no significant effect on eGFR of white obese rats (Rattus norvegicus). | |
| 45068 | 48440 | A1D021022 | Identifikasi dan Uji Potensi Empat Isolat Bakteri Rizosfer terhadap Xanthomonas oryzae pv. oryzae Secara In Vitro | Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama yang produktivitasnya harus ditingkatkan agar hasil produksi nasional padi juga meningkat. Penyakit hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh bakteri patogen Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), adalah penyakit serius secara ekonomi karena dapat menyebabkan kehilangan hasil yang bervariasi mulai 20%-50%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menguji potensi bakteri rizosfer T6, T7, T10 dan T12 yang dieksplorasi dari rizosfer padi terhadap Xoo secara in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kuantitatif dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisis data diperoleh dari hasil pengujian in vitro menggunakan sidik ragam ANOVA dan apabila berpengaruh nyata yang semakin besar antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi bakteri rizosfer dan menguji kemampuan bakteri rizosfer dalam menghambat pertumbuhan Xoo secara in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri rizosfer yang diidentifikasi merupakan Bacillus sp. Perlakuan bakteri rizosfer T6, T7, T10 dan T12 berbeda nyata dan berpotensi untuk menekan Xoo penyebab penyakit hawar daun bakteri dibandingkan dengan kontrol dan isolat yang paling berpotensi untuk menekan Xoo yaitu T6, T7 dan T12 dikarenakan ketiga isolat tersebut menghasilkan zona hambatan (zona bening) paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. | Rice (Oryza sativa L.) is a major food commodity whose productivity must be increased so that national rice production also increases. Bacterial leaf blight (BLB) disease, caused by the pathogenic bacteria Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), is a serious economic disease because it can cause yield losses ranging from 20% to 50%. This study aims to identify and test the potential of rhizosphere bacteria T6, T7, T10, and T12 explored from the rice rhizosphere against Xoo in vitro. This study is a descriptive-quantitative study with a Completely Randomized Design (CRD). Data analysis was obtained from the results of in vitro testing using ANOVA analysis of variance, and if there is a significant effect that is increasingly greater between treatments, then continued with the smallest significant difference test (LSD). The study was conducted by identifying rhizosphere bacteria and testing the ability of rhizosphere bacteria in inhibiting the growth of Xoo in vitro. The results showed that the identified rhizosphere bacteria were Bacillus sp. Treatments of rhizosphere bacteria T6, T7, T10, and T12 were significantly different and had the potential to suppress Xoo, which causes bacterial leaf blight disease, compared to the control, and the isolates with the greatest potential to suppress Xoo were T6, T7, and T12 because these three isolates produced the highest inhibition zone (clear zone) compared to other treatments. | |
| 45069 | 48441 | A1D021030 | Biosintesis Nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan Potensial sebagai Agens Pengendali Hayati Penyakit Moler Bawang Merah | Penyakit moler pada bawang merah disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae. menyerang bagian dasar dari umbi lapis bawang merah dengan menimbulkan gejala berupa daun bawang menguning dan terpelintir layu (moler) serta tanaman mudah dicabut. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan teknologi nano yaitu nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Membuat dan mencirikan biopestisida formula nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan, 2) Mengetahui potensi nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan dalam mengendalikan penyakit moler pada bawang merah, 3) Mengetahui respon ketahanan tanaman bawang merah setelah aplikasi formula nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dan di Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas dengan ketinggian tempat 117 mdpl. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2024 sampai dengan Agustus 2024. Tahap awal pada penelitian ini yaitu tahap persiapan isolat Bacillus sp. BM2, kemudian dilanjutkan dengan tahap pembuatan nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan, tahap penanaman bawang merah, tahap perlakuan, tahap pengamatan patosistem, tahap pengamatan serta evaluasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri atas 5 perlakuan, yakni P0 = kontrol, P1 = nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan, P2 = Bacillus sp. BM2 formula cair, P3 = formula cair kitosan, dan P4 = fungisida. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali, sehingga terdapat 25 petak perlakuan. Variabel yang diamati adalah karakterisasi nanosuspensi, masa inkubasi, deteksi inokulum di lahan (isolasi), insidensi penyakit, intensitas penyakit, laju infeksi, efektivitas pengendalian, AUDPC, dan komponen ketahanan baik secara struktural maupun biokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan yang telah dibuat memiliki karakteristik warna yang bening, tidak berbau, sedikit kental, tidak ditemukan adanya endapan, dan memiliki ukuran partikel sebesar 334,6 nm. Aplikasi nanosuspensi Bacillus sp. BM2-kitosan mampu mengendalikan penyakit moler dengan efektivitas sebesar 25,68%. Aplikasi nanosuspensi mampu menunjukkan respon ketahanan tanaman bawang merah terhadap penyakit moler pada variabel ketahanan struktural. | The moler disease of shallots is caused by Fusarium oxysporum f.sp. cepae. It attacks the base of the shallot bulbs, causing symptoms such as yellowing and wilting (moler) of the shallot leaves, and the plants are easily uprooted. Disease control can be carried out using nano technology, specifically Bacillus sp. BM2-chitosan nanosuspension. This research aims to 1) Create and characterize the biopesticide formula of Bacillus sp. BM2-chitosan nanosuspension, 2) Determine the potential of Bacillus sp. BM2-chitosan nanosuspension in controlling moler disease of shallots, 3) Assess the resistance response of shallot plants after the application of Bacillus sp. BM2-chitosan nanosuspension formula. BM2-kitosan nanosuspension formula. The research was conducted from May 2024 to August 2024 at Universitas Jenderal Soedirman and Linggasari Village, Banyumas Regency. The initial stage of this research is started by preparation the culture of Bacillus sp. BM2, followed by the creating Bacillus sp. BM2-chitosan nanosuspension, planting the shallots, shallots treatment with the nanosuspensions, observation of pathosystem, and the last is observation and evaluation. This research was conducted using a randomized block design (RBD) consisting of 5 treatments, namely P0 (control), P1 (Bacillus sp. BM2-chitosan nanosuspension), P2 (Bacillus sp. BM2 liquid formula), P3 (chitosan liquid formula), and P4 (fungicide). Each treatment was repeated 5 times, resulting in 25 treatment plots. The observed variables are nanosuspension characterization, incubation period, inoculum detection in the field, disease incidence, disease intensity, infection rate, control effectiveness, AUDPC, and resistance components both structurally and biochemically. The research results show that the Bacillus sp. BM2-chitosan nanosuspension that has been formulated has the bright color appearance, odorless, slightly viscous, with no sediment found, and has a particle size of 334.6 nm. It was controlling moler disease with 25.68% affectiveness. The application also enhanced resistance against the diseasse, particularly in terms of structural resistance. | |
| 45070 | 48442 | E1A021115 | PENANGGUHAN PENAHANAN OLEH PENUNTUT UMUM TERHADAP TERSANGKA YANG BARU MELAHIRKAN (Studi Kasus di Kejaksaan Negeri Purwokerto) | Penangguhan penahanan diatur pada Pasal 31 KUHAP, namun pasal tersebut belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan pelaksanaan penangguhan penahanan dan dasar hukum yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan penangguhan penahanan. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan dasar hukum yang digunakan dalam pelaksanaan penangguhan penahanan pada tiap instansi penegak hukum. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini akan mengkaji mengenai penangguhan penahanan yang diberikan kepada tersangka yang baru melahirkan pada tahap penuntutan di Kejaksaan Negeri Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pelaksanaan penangguhan penahanan oleh penuntut umum terhadap tersangka yang baru melahirkan di Kejaksaan Negeri Purwokerto dan faktor penghambat dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan informan dan data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan. Data kemudian dianalisis dengan metode kualitatif dan disajikan dalam bentuk teks naratif yang sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kejaksaan Negeri Purwokerto berpedoman pada Buku Pedoman Penanganan Perkara Tindak Pidana Umum dalam memberikan penangguhan penahanan kepada tersangka. Selain itu, prosedur pelaksanaan penangguhan penahanan oleh penuntut umum terhadap tersangka yang baru melahirkan di Kejaksaan Negeri Purwokerto mengalami hambatan pada faktor substansi hukum karena masih belum terdapat regulasi yang mengatur secara spesifik mengenai kriteria pertimbangan yang dapat digunakan dalam memberikan penangguhan penahanan dan hambatan pada faktor kultur hukum akibat adanya miskonsepsi masyarakat terhadap ketentuan dalam memberikan jaminan penangguhan penahanan. | Suspension of detention is regulated in Article 31 of KUHAP, but the article does not provide further explanation regarding the provisions for the implementation of suspension of detention and the legal basis that can be used as a consideration in granting suspension of detention. This has led to differences in the legal basis used in the implementation of suspension of detention in each law enforcement institution. Based on these problems, this study will examine the suspension of detention given to suspects who have just given birth at the prosecution stage at the Purwokerto District Attorney's Office. This study aims to determine the procedure for implementing the suspension of detention by the public prosecutor against suspects who have just given birth at the Purwokerto District Attorney's Office and the inhibiting factors in its implementation. The research method used is juridical sociological with descriptive research specifications. The data used in this study consisted of primary data obtained through interviews with informants and secondary data obtained through literature studies. The data was then analyzed using qualitative methods and presented in the form of systematic narrative text. The results showed that the Purwokerto District Attorney's Office is using the Guidelines for Handling General Crimes Cases in implementing the suspension of detention procedure. However, the procedure for implementing suspension of detention by the public prosecutor against suspects who have just given birth at the Purwokerto District Attorney's Office is experiencing obstacles in legal substance factors because there are still no regulations that specifically regulate the criteria for consideration that can be used in granting suspension of detention and obstacles in legal culture factors due to public misconceptions about the provisions in providing bails of suspension of detention. | |
| 45071 | 48443 | I1E021013 | Pemanfaatan Objek Wisata Curug Telu sebagai Prasara Aktivitas Luar Kelas | PEMANFAATAN OBJEK WISATA CURUG TELU SEBAGAI PRASARANA AKTIVITAS LUAR KELAS Azka Faozan Al Falah, Indra Jati Kusuma, Arfin Deri Listiandi Latar Belakang : Aktivitas luar kelas merupakan metode pembelajaran yang menekankan pengalaman langsung di alam untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan hidup siswa. Pemanfaatan tempat-tempat wisata alam sebagai prasarana pembelajaran memberikan alternatif yang kontekstual dan menyenangkan dibandingkan pembelajaran konvensional di dalam kelas. Curug Telu, dengan potensi alamnya yang mendukung kegiatan edukatif seperti outbound, observasi lingkungan, dan canyoning, menjadi contoh lokasi efektif untuk mengintegrasikan pengalaman nyata ke dalam proses pembelajaran. Metodologi : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan terdiri dari pengelola objek wisata curug telu, Guru PJOK dan siswa. Hasil Pembahasan : Hasil wawancara menunjukkan bahwa Curug Telu memiliki potensi besar sebagai lokasi kegiatan edukatif dan fisik, seperti outbound, hiking, camping, canyoning, observasi alam, dan pembelajaran tematik, berkat keindahan alamnya yang masih alami, aksesibilitas yang relatif mudah, serta dukungan pemandu bersertifikasi. Namun, fasilitas penunjang seperti toilet, mushola, dan area berkumpul masih terbatas karena status lahan yang sebagian besar merupakan tanah pribadi. Kesimpulan : Penelitian ini menyimpulkan bahwa objek wisata Curug Telu memiliki infrastruktur dan fasilitas dasar yang cukup mendukung sebagai prasarana aktivitas luar kelas, meskipun masih perlu pengembangan. Keindahan alam, tiga air terjun, dan kelayakan lokasi menjadikan Curug Telu berpotensi untuk kegiatan edukatif seperti outbound, hiking, camping, canyoning, dan observasi alam. Tantangan meliputi keterbatasan lahan dan promosi. Guru dan siswa menilai lokasi ini efektif untuk melaksanakan aktivitas luar kelas. Rekomendasi meliputi peningkatan fasilitas, penguatan sistem keamanan, serta promosi melalui media sosial dan kerja sama dengan sekolah. | UTILIZATION OF CURUG TELU TOURIST OBJECT AS OUT OF CLASS ACTIVITY INFRASTRUCTURE Azka Faozan Al Falah, Indra Jati Kusuma, Arfin Deri Listiandi Background: Outdoor activities are a learning method that emphasizes direct experience in nature to improve students' understanding and life skills. Utilization of natural tourist attractions as infrastructure provides an alternative contextual and enjoyable learning compared to conventional learning in the classroom. Curug Telu, with its natural potential that supports educational activities such as outbound, environmental observation, and canyoning, is an example of an effective location to integrate real experiences into the learning process. Methodology: This study uses a qualitative descriptive method with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. Informants consist of the manager of the Curug Telu tourist attraction, PJOK teachers and students. Discussion Results: The interview results show that Curug Telu has great potential as a location for educational and physical activities, such as outbound, hiking, camping, canyoning, nature observation, and thematic learning, thanks to its natural beauty, relatively easy accessibility, and the support of certified guides. However, supporting facilities such as toilets, prayer rooms, and gathering areas are still limited due to the status of the land, which is mostly private land.. Conclusion: This study concludes that the Curug Telu tourist attraction has sufficient infrastructure and basic facilities to support outdoor activities, although it still needs development. The natural beauty, three waterfalls, and the suitability of the location make Curug Telu potential for educational activities such as outbound, hiking, camping, canyoning, and nature observation. Challenges include limited land and promotion. Teachers and students consider this location effective for carrying out outdoor activities. Recommendations include improving facilities, strengthening the security system, and promotion through social media and cooperation with schools. | |
| 45072 | 48444 | A1D021051 | POTENSI EKSTRAK BUAH MENGKUDU SEBAGAI PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA KEONG MAS PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L.) VARIETAS INPARI 42 | Keong mas (Pomacea canaliculata L.) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi. Pengendalian terhadap hama ini kebanyakan menggunakan cara mekanis dan pestisida kimia, namun demikian hasilnya kurang memuaskan dan dapat berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif lain yang efektif tetapi ramah lingkungan dengan menggunakan pestisida nabati. Salah satu pestisida nabati adalah buah mengkudu. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui potensi ekstrak buah mengkudu terhadap mortalitas keong mas, 2) mengetahui konsentrasi ekstrak buah mengkudu yang efektif untuk mengendalikan keong mas, 3) mengetahui kemampuan ekstrak buah mengkudu dalam menekan intensitas serangan keong mas pada tanaman padi, 4) mengetahui apakah pengaplikasian ekstrak buah mengkudu dapat menyebabkan fitotoksik terhadap tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus 2024 sampai Desember 2024. Penelitian dilakukan melalui empat tahap pengujian, antara lain uji pendahuluan, uji efektivitas konsentrasi ekstrak buah mengkudu terhadap mortalitas keong mas, uji pengaruh ekstrak buah mengkudu terhadap intensitas serangan keong mas, dan uji fitotoksisitas pemberian ekstrak buah mengkudu terhadap tanaman padi. Variabel yang diamati yaitu mortalitas keong mas, intensitas kerusakan tanaman padi, dan fitotoksisitas ekstrak buah mengkudu terhadap tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah mengkudu berpotensi digunakan untuk bahan pestisida nabati karena dapat menyebabkan mortalitas keong mas. Konsentrasi efektif yang dapat mengendalikan keong mas yaitu 12,049%, menyebabkan mortalitas keong mas sebesar 75%, ekstrak buah mengkudu konsentrasi 12,049% mampu menekan serangan keong mas mencapai 94,64% dan hasilnya lebih baik dibandingkan dengan moluskisida kimia, sedangkan berdasarkan uji fitotoksisitas, ekstrak buah mengkudu tidak menyebabkan fitotoksisitas pada tanaman padi, sehingga aman jika diaplikasikan ke tanaman. | Golden apple snail (Pomacea canaliculata L.) is one of the main pests of rice. Control of this pest mostly uses mechanical methods and chemical pesticides, however the results are less than satisfactory and can have a negative impact on the environment. Therefore, it is necessary to find other alternatives that are effective but environmentally friendly by using botanical pesticides. One of the plant based pesticides is noni fruit. Research was aimed 1) determine the potency of noni fruit extract on golden apple snail mortality, 2) determine the effective concentration of noni fruit extract to control golden apple snails, 3) determine the ability of noni fruit extract to suppress the intensity of golden apple snail attacks on rice, 4) determine whether the application of noni fruit extract can cause phytotoxicity to rice plants. The research was conducted at the greenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The research was conducted from August 2024 to December 2024. The research was conducted through four stages, including preliminary testing, the effectiveness of noni fruit extract concentration on golden apple snail mortality, the effect of noni fruit extract on the intensity of golden apple snail attacks, and phytotoxicity testing of noni fruit extract administration on rice plants. The variables observed were golden apple snail mortality, intensity of rice plant damage, and phytotoxicity of noni fruit extract on rice plants. Results showed that noni fruit extract has the potency to be used as a botanical pesticide because it can cause mortality of golden apple snails. The effective concentration that can control golden apple snails is 12.049%, causing mortality of golden apple snails by 75%, noni fruit extract with a concentration of 12.049% can suppress golden apple snail attacks by 94.64% and the results are better than chemical molluscicides, while based on phytotoxicity tests, noni fruit extract does not cause phytotoxicity in rice plants, so it is safe if applied to rice plants. | |
| 45073 | 48445 | A1D021060 | POTENSI BUAH MAJA (Aegle marmelos) SEBAGAI MOLUSKISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA KEONG MAS (Pomacea canaliculata) PADA TANAMAN PADI | Keong mas (Pomacea canaliculata) merupakan hama utama pada tanaman padi. Pengendalian yang umum dilakukan meliputi secara mekanik, kimia, kultur teknik hingga biologis. Namun, hasilnya belum memuaskan. Oleh karena itu diperlukan alternatif lain yang efektif dan ramah lingkungan dengan menggunakan moluskisida nabati buah maja (Aegle marmelos). Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh ekstrak buah maja terhadap mortalitas hama keong mas, untuk mengetahui konsentrasi efektif efektif ekstrak buah maja terhadap mortalitas hama keong mas, untuk mengetahui ekstrak buah maja yang mampu menekan intensitas serangan hama keong mas terhadap tanaman padi, untuk mengetahui pengaruh fitotoksisitas ekstrak buah maja terhadap tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Oktober hingga Desember 2024. Penelitian ini terdiri dari empat uji, yaitu uji pendahuluan, uji pengaruh konsentrasi ekstrak buah maja terhadap mortalitas keong mas, uji pengaruh ekstrak buah maja terhadap intensitas serangan keong mas pada tanaman padi, dan uji fitotoksisitas pemberian ekstrak buah maja pada tanaman padi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Variabel yang diamati yaitu mortalitas keong mas, intensitas kerusakan padi, dan fitotoksisitas ekstrak buah maja terhadap tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak buah maja mampu menyebabkan mortalitas keong mas sehingga berpotensi dijadikan sebagai moluskisida nabati. Konsentrasi efektif ekstrak buah maja untuk mengendalikan keong mas adalah 6,62% karena mampu menyebabkan mortalitas hingga 75%. Ekstrak buah maja konsentrasi 6,62% mampu menekan 78,85% intensitas serangan keong mas yang lebih baik dibandingkan moluskisida kimia sintetik. Aplikasi ekstrak buah maja pada tanaman konsentrasi 6,62% dan 8,30% tidak menyebabkan fitotoksisitas sedangkan konsentrasi 10,10% dan 13,30% menyebabkan fitotoksisitas pada tanaman padi. | Gold snail (Pomacea canaliculata) is a major pest of rice plants. Common controls include mechanical, chemical, cultural techniques and biological. However, the results have not been satisfactory. Therefore, another effective and environmentally friendly alternative is needed by using maja fruit (Aegle marmelos) vegetable molluscicide. This study aims to determine the effect of maja fruit extract on the mortality of gold snail pests, to determine the effective concentration of effective maja fruit extract on gold snail pest mortality, to determine the extract of maja fruit that is able to suppress the intensity of gold snail pest attack on rice plants, to determine the effect of phytotoxicity of maja fruit extract on rice plants. This research was conducted in the greenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from October to December 2024. This study consisted of four tests, namely the preliminary test, the test of the effect of maja fruit extract concentration on the mortality of carp snails, the test of the effect of maja fruit extract on the intensity of carp snail attack on rice plants, and the phytotoxicity test of maja fruit extract application on rice plants. The experimental design used was Randomized Group Design (RAK). The variables observed were the mortality of carp snails, the intensity of rice damage, and the phytotoxicity of maja fruit extract on rice plants. The results showed that maja fruit extract was able to cause carp mortality so that it has the potential to be used as a vegetable molluscicide. The effective concentration of maja fruit extract to control carp snails is 6.62% because it is able to cause mortality up to 75%. Maja fruit extract with a concentration of 6.62% was able to suppress 78.85% of the intensity of golden apple snail attacks, which was better than synthetic chemical molluscicides. Application of maja fruit extract on plants at concentrations of 6.62% and 8.30% did not cause phytotoxicity while concentrations of 10.10% and 13.30% caused phytotoxicity in rice plants. | |
| 45074 | 48447 | A1D021177 | Karakteristik, Uji Patogenisitas, dan Identifikasi Molekuler Patogen Hawar Daun Bakteri pada Padi | Padi merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang cukup strategis untuk mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional. Xoo merupakan bakteri penyebab penyakit hawar daun bakteri (HDB) yang menjadi penghambat dalam menghasilkan padi di Indonesia dan mengakibatkan kegagalan hasil panen sebesar 35,8%. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengkarakterisasi morfologi, biokimia dan fisiologi patogen HDB pada padi, (2) menguji patogenisitas patogen HDB pada padi, (3) mengidentifikasi patogen HDB pada padi secara molekuler. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Univeristas Jenderal Soedirman dan Laboratorium Pengujian PT. Genetika Science Indonesia, Tangerang, Banten. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isolat patogen HDB memiliki karakteristik morfologi berbentuk bulat, berukuran 1-2 mm, bertepi rata, berwarna kuning, dan permukaannya licin. Karakteristik biokimia dan fisiologi patogen HDB memiliki reaksi gram negatif, katalase positif, oksidase negatif, bersifat oksidatif/fermentatif, tidak mampu tumbuh pada 0,1% TZC, mampu tumbuh pada medium YDC, mampu menghidrolisis pati, dan mampu tumbuh pada suhu 350C. Gejala pada daun padi hasil uji patogenisitas yang dilakukan sesuai dengan gejala penyakit HDB yang disebabkan oleh bakteri Xoo. Hasil uji molekuler patogen hawar daun bakteri pada padi secara molekuler menunjukkan bahwa percentage identity pada isolat bakteri menunjukkan angka 92,21% dengan bakteri X. oryzae pv. oryzae. Pohon filogenik pada menunjukkan bahwa bakteri Xoo menjadi nilai kemiripan tertinggi dengan bakteri yang diuji. | Rice is one of the strategic food crop commodities to support the realization of national food security. Xoo is a bacterium that causes bacterial leaf blight (BLB) disease which is an obstacle in producing rice in Indonesia and causes 35.8% yield failure. The objectives of this study were (1) to characterize the morphology, biochemistry and physiology of BLB pathogens in rice, (2) to test the pathogenicity of BLB pathogens in rice, (3) to identify BLB pathogens in rice molecularly. This research was conducted at the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University and the Testing Laboratory of PT. Genetics Science Indonesia, Tangerang, Banten. The method used was descriptive qualitative method. The results showed that BLB pathogen isolates had morphological characteristics of round shape, 1-2 mm in size, flat-edged, yellow in color, and smooth surface. Biochemical and physiological characteristics of BLB pathogens have gram-negative reactions, positive catalase, negative oxidase, oxidative/fermentative, unable to grow on 0.1% TZC, able to grow on YDC medium, able to hydrolyze starch, and able to grow at 350C. Symptoms on rice leaves from pathogenicity tests carried out are in accordance with the symptoms of BLB disease caused by Xoo bacteria. The results of molecular testing of bacterial leaf blight pathogens in rice molecularly showed that the percentage identity of bacterial isolates showed 92.21% with X. oryzae pv. oryzae bacteria. The phylogenic tree shows that Xoo bacteria are the highest similarity value with the tested bacteria. | |
| 45075 | 48448 | D1A018170 | PENAKSIRAN HERITABILITAS PRODUKSI SUSU SAPI PERAH FRIESIAN HOLSTEIN (FH) MENGGUNAKAN CATATAN PRODUKSI MINGGUAN AWAL LAKTASI | Penelitian dengan judul PENAKSIRAN HERITABILITAS PRODUKSI SUSU SAPI PERAH FRIESIAN HOLSTEIN (FH) MENGGUNAKAN CATATAN PRODUKSI MINGGUAN AWAL LAKTASI bertujuan untuk mengetahui nilai taksiran heritabilitas produksi susu pada minggu ke-1 sampai ke-4 laktasi, serta menentukan minggu dengan nilai heritabilitas tertinggi. Penelitian ini menggunakan metode korelasi saudara tiri sebapak (half-sib correlation) dan analisis sidik ragam (ANOVA) untuk menghitung nilai heritabilitas. Data yang digunakan adalah produksi susu harian dari 70 ekor sapi betina FH yang berasal dari lima pejantan berbeda dan telah menyelesaikan masa laktasi pertama. Produksi susu harian diubah menjadi produksi mingguan (minggu 1–4). Berdasarkan hasil penelitian bahwa nilai heritabilitas yang diperoleh berturut-turut pada minggu ke-1 sampai ke-4 adalah 0,69±0,42; 0,81±0,47; 0,74±0,44; dan 0,59±0,38. Nilai tertinggi terdapat pada minggu ke-2, menunjukkan bahwa faktor genetik paling berpengaruh terhadap produksi susu pada minggu tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa minggu ke-2 awal laktasi merupakan waktu yang paling optimal untuk melakukan seleksi berdasarkan nilai heritabilitas. Penaksiran heritabilitas menggunakan data produksi mingguan dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif dalam mempercepat program pemuliaan dan mempersingkat interval generasi, karena seleksi dapat dilakukan lebih awal tanpa menunggu akhir masa laktasi. | This study, entitled ESTIMATION OF HERITABILITY OF MILK PRODUCTION IN FRIESIAN HOLSTEIN (FH) DAIRY COWS USING WEEKLY MILK YIELD RECORDS DURING EARLY LACTATION aimed to estimate the heritability values of milk production from the 1st to the 4th week of lactation and to determine which week had the highest heritability value. The study employed the half-sib correlation method and analysis of variance (ANOVA) to calculate heritability. The data used were daily milk yields from 70 Friesian Holstein (FH) dairy cows, all of which had completed their first lactation and were sired by five different bulls. The daily milk yield data were converted into weekly yields (weeks 1–4). The results showed that the heritability values for weeks 1 to 4 were 0.69±0.42, 0.81±0.47, 0.74±0.44, and 0.59±0.38, respectively. The highest value was observed in the 2nd week, indicating that genetic factors had the greatest influence on milk production during that period. This finding suggests that the 2nd week of early lactation is the most optimal time to conduct selection based on heritability values. Estimating heritability using weekly milk production data can serve as an alternative approach to accelerate breeding programs and shorten the generation interval, as selection can be conducted earlier without waiting for the end of the lactation period. | |
| 45076 | 48449 | F1F018044 | Analisis Pelanggaran Israel Terhadap Konvensi Genosida 1948 dan Konvensi Jenewa 1949 Dalam Serangan 7 Oktober 2023 - 1 Desember 2023 | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelanggaran yang dilakukan oleh Israel terhadap Konvensi Genosida 1948 dan Konvensi Jenewa 1949 dalam serangan terhadap Palestina pada periode 7 Oktober 2023 hingga 1 Desember 2023. Kajian ini menggunakan pendekatan Konsep Kejahatan Internasional dan Teori Mazhab Inggris untuk mengidentifikasi unsur-unsur kejahatan genosida serta hambatan dalam penegakan hukum internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan Israel telah memenuhi kriteria sebagai kejahatan genosida berdasarkan kedua konvensi tersebut. Namun, penegakan hukum internasional menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan yurisdiksi dan kurangnya kepatuhan negara-negara terhadap perintah lembaga internasional. Oleh karena itu, diperlukan reformasi dalam sistem penegakan hukum internasional, termasuk penguatan sanksi dan mekanisme yang lebih mengikat, serta peningkatan komitmen negara-negara terhadap kepatuhan hukum internasional demi terciptanya keadilan global. | This study aims to analyze the violations committed by Israel against the 1948 Genocide Convention and the 1949 Geneva Conventions during its attacks on Palestine from October 7 to December 1, 2023. Using the concept of international crimes and the English School theory, the research identifies acts that may constitute genocide and examines the obstacles faced by international legal institutions in addressing the Israel-Palestine conflict. The findings indicate that Israel's actions fulfill the criteria for genocide as defined by the aforementioned conventions. However, international law enforcement faces significant challenges, including limited jurisdiction and a lack of compliance by states with international legal mandates. This highlights the urgent need for reform in the international legal system, including stronger and more binding sanctions, as well as greater commitment from states to uphold international law in order to resolve global conflicts effectively and fairly. | |
| 45077 | 48450 | F1F021015 | EKSPLOITASI PEKERJA MIGRAN PEREMPUAN DALAM PERDAGANGAN SEKS: STUDI KASUS NIGERIA-ITALIA (2017-2020) | Penelitian ini membahas eksploitasi pekerja migran perempuan Nigeria dalam konteks perdagangan seks di jalur migrasi Nigeria–Italia selama periode 2017 hingga 2020. Dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan kerangka teori kapitalisme dan patriarki, studi ini menganalisis bagaimana sistem ekonomi global dan struktur kuasa gender berinterseksi dalam mengkomodifikasi tubuh perempuan dan menormalkan posisi subordinat mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapitalisme menciptakan pasar global yang bergantung pada ketimpangan, menjadikan perempuan miskin dari negara berkembang sebagai komoditas dalam industri seks. Di saat yang sama, patriarki memperkuat norma gender yang membuat perempuan semakin rentan terhadap eksploitasi, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat luas. Banyak perempuan Nigeria terdorong untuk bermigrasi karena kemiskinan, kurangnya pendidikan, serta tekanan sosial, sering kali dengan dalih untuk bekerja atau studi di luar negeri. Namun, sesampainya di negara tujuan, mereka terjebak dalam sistem eksploitasi yang didorong oleh tingginya permintaan pasar dan lemahnya perlindungan hukum. Eksploitasi terjadi di sepanjang jalur migrasi—dari perekrutan di Nigeria, transit ilegal, hingga bentuk legalisasi tidak langsung atas kerja seksual di Italia melalui liberalisasi pasar. Persilangan antara ras, kelas, gender, dan status migran memperparah kerentanan mereka. Penelitian ini menekankan perlunya solusi struktural yang menantang eksploitasi kapitalistik dan dominasi patriarkal, serta reformasi kebijakan yang melindungi hak-hak pekerja migran perempuan. | ABSTRACT This study explores the exploitation of Nigerian female migrant workers in the context of sex trafficking along the Nigeria–Italy migration route from 2017 to 2020. Using a qualitative approach and grounded in the theoretical framework of capitalism and patriarchy, the research investigates how global economic systems and gendered power structures intersect to commodify women's bodies and normalize their subordination. Findings reveal that capitalism creates a global market that thrives on inequality, turning impoverished women into commodities within the sex trade. Simultaneously, patriarchy reinforces gender norms that render women more vulnerable to exploitation, both within family structures and broader society. Many Nigerian women are pushed to migrate due to poverty, lack of education, and socio-cultural pressures, often under the pretense of work or study opportunities abroad. However, upon arrival, they are trapped in exploitative systems that rely on high market demand and weak legal protections. Exploitation occurs across all stages of migration—from recruitment in Nigeria, through illegal transit routes, to the indirect legalization of sexual labor in Italy’s liberalized market. The intersection of race, class, gender, and migration status amplifies their vulnerability. This study highlights the need for structural solutions that challenge both capitalist exploitation and patriarchal domination, as well as policy reforms that ensure the protection of migrant women’s rights. | |
| 45078 | 48451 | A1A021006 | Efisiensi Pemasaran Beras Organik Pada Kelompok Tani Marsudi Among Tani di Desa Dawuhan Kabupaten Banyumas | Kelompok Tani Marsudi Among Tani merupakan kelompok tani yang membudidayakan beras organik. Beras Organik adalah beras yang berasal dari suatu lahan pertanian organik serta menerapkan praktik budidaya organik. Kelompok Tani Marsudi Among Tani melibatkan beberapa lembaga pemasaran yang membentuk saluran pemasaran. Saluran pemasaran beras organik yang terbentuk pada Kelompok Tani Marsudi Among Tani belum dapat dipastikan efisien secara teknis maupun ekonomis sehingga diperlukan penelitian efisiensi pemasaran yang bertujuan untuk 1) mengidentifikasi pola saluran pemasaran, fungsi, dan peran kelompok dalam pemasaran, 2) menghitung besarnya margin pemasaran, 3) menghitung farmer's share, profit share, dan cost share 4) menganalisis efisiensi pemasaran berdasarkan Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) pada pemasaran beras organik Kelompok Tani Marsudi Among Tani di Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei pada Kelompok Tani Marsudi Among Tani di Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas sejak bulan Desember 2024 hingga Januari 2025. Metode pengambilan sampel petani dilakukan menggunakan metode sensus dengan responden 14 petani. Sedangkan pengambilan sampel untuk lembaga pemasaran menggunakan metode snowball dengan jumlah responden 5 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis margin pemasaran, farmer's share, profit share, cost share, keuntungan pemasaran, serta analisis efisiensi pemasaran berdasarkan Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 saluran pemasaran beras organik Kelompok Tani Marsudi Among Tani yaitu 1) petani-KT-konsumen, 2) petani-KT-retailer 1-konsumen, 3) petani-KT-retailer 2-konsumen, 4) petani-KT-retailer 3-konsumen. Margin pemasaran terkecil pada saluran pertama yaitu Rp 11.500,00. Keuntungan pemasaran terbesar pada saluran keempat yaitu Rp4.525,00. Farmer's share terbesar berada di saluran pertama yaitu sebesar 42,5 persen. Cost share terendah ditunjukkan oleh saluran pemasaran keempat dengan persentase 73 persen, sedangkan profit share tertinggi yaitu pada saluran pemasaran keempat dengan persentase 27 persen. Analisis efisiensi pemasaran menunjukkan hasil Indeks Efisiensi Teknis (IET) terkecil berada pada saluran pemasaran pertama yaitu 0,20 sedangkan berdasarkan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) terbesar ditunjukkan oleh saluran pemasaran keempat sebesar 0,38. Dari hasil analisis efisiensi pemasaran berdasarkan Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) belum ada saluran pemasaran yang efisien untuk beras organik. | Kelompok Tani Marsudi Among Tani merupakan kelompok tani yang membudidayakan beras organik. Beras Organik adalah beras yang berasal dari suatu lahan pertanian organik serta menerapkan praktik budidaya organik. Kelompok Tani Marsudi Among Tani melibatkan beberapa lembaga pemasaran yang membentuk saluran pemasaran. Saluran pemasaran beras organik yang terbentuk pada Kelompok Tani Marsudi Among Tani belum dapat dipastikan efisien secara teknis maupun ekonomis sehingga diperlukan penelitian efisiensi pemasaran yang bertujuan untuk 1) mengidentifikasi pola saluran pemasaran, fungsi, dan peran kelompok dalam pemasaran, 2) menghitung besarnya margin pemasaran, 3) menghitung farmer's share, profit share, dan cost share 4) menganalisis efisiensi pemasaran berdasarkan Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) pada pemasaran beras organik Kelompok Tani Marsudi Among Tani di Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei pada Kelompok Tani Marsudi Among Tani di Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas sejak bulan Desember 2024 hingga Januari 2025. Metode pengambilan sampel petani dilakukan menggunakan metode sensus dengan responden 14 petani. Sedangkan pengambilan sampel untuk lembaga pemasaran menggunakan metode snowball dengan jumlah responden 5 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis margin pemasaran, farmer's share, profit share, cost share, keuntungan pemasaran, serta analisis efisiensi pemasaran berdasarkan Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 saluran pemasaran beras organik Kelompok Tani Marsudi Among Tani yaitu 1) petani-KT-konsumen, 2) petani-KT-retailer 1-konsumen, 3) petani-KT-retailer 2-konsumen, 4) petani-KT-retailer 3-konsumen. Margin pemasaran terkecil pada saluran pertama yaitu Rp 11.500,00. Keuntungan pemasaran terbesar pada saluran keempat yaitu Rp4.525,00. Farmer's share terbesar berada di saluran pertama yaitu sebesar 42,5 persen. Cost share terendah ditunjukkan oleh saluran pemasaran keempat dengan persentase 73 persen, sedangkan profit share tertinggi yaitu pada saluran pemasaran keempat dengan persentase 27 persen. Analisis efisiensi pemasaran menunjukkan hasil Indeks Efisiensi Teknis (IET) terkecil berada pada saluran pemasaran pertama yaitu 0,20 sedangkan berdasarkan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) terbesar ditunjukkan oleh saluran pemasaran keempat sebesar 0,38. Dari hasil analisis efisiensi pemasaran berdasarkan Indeks Efisiensi Teknis (IET) dan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE) belum ada saluran pemasaran yang efisien untuk beras organik. | |
| 45079 | 49605 | J1B020002 | Potret Konflik Kelas Sosial dalam Novel Elegi Haekal Karya Dhia'an Farah | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potret konflik kelas sosial yang terdapat dalam novel Elegi Haekal karya Dhia’an Farah berdasarkan teori konflik kelas sosial menurut perspektif Karl Marx. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan menggunakan novel Elegi Haekal karya Dhia’an Farah sebagai sumber datanya.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konflik kelas menurut Karl Marx. Marx membagi kelas menjadi dua, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Dominasi antar salah satu kelas yang lebih berkuasa yang mengakibatkan konflik kelas. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan yaitu pembagian kelas antara kelas borjuis (kelas atas) dan proletar (kelas bawah). Kelas atas (borjuis) direpresentasikan pada tokoh Hanna, Orang tua Hanna, dan Pak Darto, kemudian kelas bawah (proletar) direpresentasikan pada tokoh Jovan dan Tama. Selanjutnya yaitu potret konflik antar kelas sosial tersebut. Konflik pertama, terjadi antara Ketua Yayasan dan Pak Jovan, konflik ini terjadi karena dominasi oleh ketua yayasan sehingga berbuat sewenang-wenang kepada Pak Jovan. Konflik kedua, terjadi antara perusahaan Hanasta dan Tama, konflik ini terjadi karena kekuasaan berada ditangan Perusahaan Hanasta, sehingga Tama hanya bisa tunduk kepada mereka. konflik ketiga terjadi antara keluaga Hanna dan keluarga Jovan, konflik ini terjadi karena perbedaan kelas sosial diantara mereka, sehingga keluarga Jovan ditindas oleh keluarga Hanna. Dari ketiga potret konflik kelas sosial yang terjadi dikarenakan perbedaan kelas sosial dan adanya dominasi dan perbedaan kelas tersebut. | This study aims to identify the portrait of social class conflict found in the novel Elegi Haekal by Dhia’an Farah based on the theory of social class conflict from Karl Marx's perspective. The research method used is descriptive qualitative, using the novel Elegi Haekal by Dhia’an Farah as the data source. The theory used in this research is the class conflict theory according to Karl Marx. Marx divided classes into two, namely the bourgeoisie and the proletariat. The dominance of one class over the other leads to class conflict. The results of the research conducted indicate a class division between the bourgeois class (upper class) and the proletarian class (lower class). The upper class (bourgeois) is represented by the characters Hanna, Hanna's parents, and Mr. Darto, while the lower class (proletarian) is represented by the characters Jovan and Tama. Next is the portrait of the conflict between these social classes. The first conflict occurs between the Chairman of the Foundation and Mr. Jovan; this conflict arises due to the dominance of the chairman, who acts arbitrarily towards Mr. Jovan. The second conflict occurs between the Hanasta company and Tama; this conflict arises because power is in the hands of the Hanasta company, leaving Tama with no choice but to submit to them. The third conflict occurs between the Hanna family and the Jovan family; this conflict arises due to differences in social class among them, causing the Jovan family to be oppressed by the Hanna family. From these three portrayals of social class conflicts, it is evident that they arise due to class disparity and the presence of dominance and differences in social classes. | |
| 45080 | 48452 | B1A021072 | ANALISIS KEMAMPUAN BAKTERI KOLEKSI PT PETROKIMIA GRESIK DALAM MENAMBAT NITROGEN DENGAN VARIASI WAKTU INKUBASI DAN POTENSINYA SEBAGAI BIOFERTILIZER | Biofertilizer adalah pupuk organik dengan kandungan mikroba fungsional yang dapat meminimalisir penggunaan pupuk kimia. Fokus pengembangan dan inovasi produk hayati di PT Petrokimia Gresik adalah melakukan eksplorasi mikroba untuk memperoleh isolat bakteri dengan kemampuan menambat nitrogen bebas (N2) dan memiliki karakteristik lainnya sebagai pelarut fosfat, kalium, dan memiliki aktivitas selulolitik sehingga berpotensi sebagai agensia biofertilizer. PT Petrokimia Gresik memiliki koleksi isolat bakteri dari sampel molase brix 80%, tanah persawahan, dan tanah gambut di Pulau Jawa, yaitu BBONA 0001, BBONB 0001, BASUA, dan BGAM 0101 yang belum teridentifikasi dan diuji kemampuannya dalam menambat nitrogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri koleksi PT Petrokimia Gresik tersebut dalam menambat nitrogen dengan variasi waktu inkubasi, menguji potensi lainnya sebagai agensia biofertilizer, dan karakterisasi fenetik isolat penambat nitrogen terpilih. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial menggunakan dua faktor. Faktor pertama adalah isolat bakteri koleksi (I) dan faktor kedua adalah waktu inkubasi (T). Variabel bebas pada penelitian ini adalah isolat bakteri dan waktu inkubasi, sedangkan sebagai variabel terikat adalah kemampuan bakteri dalam menambat nitrogen. Parameter utama yang diukur yaitu kadar N total dan parameter pendukung terdiri atas pH medium, hasil uji kualitatif penambatan nitrogen pada medium selektif NFB, indeks pelarutan fosfat, indeks pelarutan kalium, aktivitas selulolitik, dan hasil karakterisasi fenetik bakteri. Data kuantitatif diuji dengan menggunakan analisis Two Way ANOVA dengan taraf kesalahan 5% dan diuji lanjut menggunakan Post Hoc DMRT (Duncan Multiple Range Test), sedangkan data kualitatif berupa data karakteristik fenetik bakteri dianalisis secara deskriptif komparatif dengan menggunakan Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology 9th Edition untuk mengetahui identitas isolat. Hasil penelitian menunjukkan isolat BBONA 0001, BBONB 0001, BASUA, dan BGAM 0101 mampu menambat nitrogen. Jenis isolat, variasi waktu inkubasi, dan interaksi keduanya memiliki pengaruh signifikan terhadap kadar N total. Isolat BASUA menjadi isolat dengan penambatan nitrogen tertinggi dengan rerata kadar N total 80,81 ppm. Waktu inkubasi 10 hari menjadi waktu inkubasi paling optimal dengan rerata kadar N total 64,72 ppm. Interaksi isolat BASUA dan waktu inkubasi 10 hari menghasilkan rerata kadar N total tertinggi yaitu 96,90 ppm. Isolat BBONA 0001, BBONB 0001, BASUA, dan BGAM 0101 berpotensi sebagai agensia hayati biofertilizer. Berdasarkan karakteristik fenetik diketahui isolat BBONA 0001 adalah spesies dari genus Bacillus, BBONB 0001 spesies dari genus Azotobacter, BASUA spesies dari genus Bacillus, dan BGAM 0101 spesies dari genus Pseudomonas. | Biofertilizers are organic fertilizers containing functional microbes that can reduce the need for chemical fertilizers. The focus of product development and innovation at PT Petrokimia Gresik is microbial exploration to obtain bacterial isolates capable of fixing atmospheric nitrogen (N₂) and possessing additional characteristics such as phosphate and potassium solubilization as well as cellulolytic activity, making them potential agents for biofertilizer applications. PT Petrokimia Gresik has collected bacterial isolates from various sources including 80% brix molasses, rice paddy soil, and peat soil across the island of Java. These isolates—BBONA 0001, BBONB 0001, BASUA, and BGAM 0101—have not been identified and evaluated for their nitrogenfixing capabilities. The objective of this study is to determine the nitrogen-fixing ability of PT Petrokimia Gresik’s bacterial isolates under different incubation periods and to assess their additional potential as biofertilizer agents. The selected isolates were then phenetics characterized to identify their taxonomy as nitrogen-fixing bacteria. The research was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) in a factorial arrangement involving two factors: the bacterial isolates (Factor I) and the incubation time (Factor T). The independent variables in this study were the bacterial isolates and incubation duration, while the dependent variable was the bacteria’s nitrogen-fixing capacity. The primary parameter measured was total nitrogen content. Supporting parameters included medium pH, qualitative nitrogen fixation tests on selective NFB medium, potassium and phosphate solubilization indexes, cellulolytic activity, and phenetic bacterial characterization results. The quantitative data were analysed using Two-Way ANOVA with 5% significance level, followed by post hoc analysis using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT), while the qualitative data, such as phenetic characteristics, were analysed descriptively and comparatively using Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology (9th Edition) to determine the identity of the isolates. The results indicated that all isolates—BBONA 0001, BBONB 0001, BASUA, and BGAM 0101—were capable of nitrogen fixation. The type of isolate, incubation duration, and their interaction had a significant effect on nitrogen levels. BASUA isolate showed the highest nitrogen fixation capability, with an average nitrogen content of 80.81 ppm. The optimal incubation period was 10 days, yielding an average nitrogen content of 64.72 ppm. The interaction of BASUA and 10 days of incubation produced the highest nitrogen content, at 96.90 ppm. All four isolates demonstrated potential as biofertilizer agents. Phenetic characterization revealed that isolate BBONA 0001 was identified as a member of the genus Bacillus, BBONB 0001 as a member of the genus Azotobacter, BASUA as belonging to the genus Bacillus, and BGAM 0101 as affiliated with the genus Pseudomonas. |