Artikelilmiahs

Menampilkan 44.321-44.340 dari 48.761 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4432147697C1C018024Pengaruh Kompetensi Aparatur Desa, Sistem Pengendalian Internal, dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Akuntabilitas Dana DesaStudi ini menggunakan teknik survei dan kuesioner dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan kepada aparatur pemerintahan desa yang berada di Kabupaten Banyumas. Studi ini bertujuan untuk mengkaji dampak dari kompetensi aparatur desa, sistem pengendalian internal, dan pemanfaatan teknologi informasi pada akuntabilitas dana desa. Populasi studi ini ialah aparatur desa di Kabupaten Banyumas dengan total 301 desa dan teknik proporsional convenience sampling untuk menentukan sampel pada studi ini. Sampel minimal yang didapatkan menggunakan rumus slovin berjumlah 172 desa. Pembagian proporsional dilakukan untuk membagi sampel pada setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Banyumas, sehingga diperoleh 189 desa dengan proporsi di setiap kecamatan. Hasil analisis pada studi ini menunjukkan bahwa: (1) kompetensi aparatur desa berpengaruh positif terhadap akuntabilitas dana desa, (2) sistem pengendalian internal berpengaruh positif terhadap akuntabilitas dana desa, dan (3) pemanfaatan teknologi informasi tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas dana desa. Implikasi dari hasil studi ini perlu dilakukannya sosialisasi tentang peraturan bupati mengenai pengelolaan dana desa yang diselenggarakan oleh dinas terkait, pelatihan terkait akuntansi pemerintahan khusus akuntansi desa juga diperlukan agar kemampuan pencatatan dan pelaporan aparatur desa merata di Kabupaten Banyumas, dan peningkatan pengendalian internal untuk mengurangi terjadinya kesalahan maupun pelanggaran hukum dimana pentingnya peran kepala desa peran kepala desa selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa (PKPKD) untuk konsisten menjaga implementasi sistem pengendalian.This study uses survey and questionnaire techniques with a quantitative approach conducted on village government officials in Banyumas Regency. This study aims to examine the impact of village apparatus competence, internal control systems, and the utilization of information technology on village fund accountability. The population of this study is the village apparatus in Banyumas Regency with a total of 301 villages and the proportional convenience sampling technique to determine the sample in this study. The minimum sample obtained using the Slovin formula amounts to 172 villages. Proportional distribution was carried out to divide the sample in each sub-district in Banyumas Regency, resulting in 189 villages with proportions in each sub-district. The results of the analysis in this study indicate that: (1) the competence of village apparatus has a positive effect on village fund accountability, (2) the internal control system has a positive effect on village fund accountability, and (3) the use of information technology does not affect village fund accountability. The implications of this study's results indicate the need for socialization regarding the regent's regulations on village fund management, organized by the relevant departments. Training related to government accounting, specifically village accounting, is also necessary to ensure uniform recording and reporting capabilities among village officials in Banyumas Regency. Additionally, enhancing internal control is essential to reduce errors and legal violations, highlighting the importance of the village head's role as the Holder of Village Financial Management Authority (PKPKD) in consistently maintaining the implementation of the control system.
4432247698B1A020049UJI KANDUNGAN TOTAL FLAVONOID EKSTRAK LIMA SPESIES EuphorbiaTumbuhan yang ada di lingkungan sekitar beberapa dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit. Tumbuhan tersebut dapat berupa tumbuhan liar yang berasal dari Euphorbia yaitu patikan kebo (Euphorbia hirta L.), patikan cina (Euphorbia thymifolia L.), dan patikan emas (Euphorbia heterophylla L.) serta tumbuhan hias kastuba (Euphorbia pulcherrima Willd.) dan patah tulang (Euphorbia tirucalli L.). Beberapa tumbuhan tersebut dapat digunakan sebagai obat dikarenakan mengandung senyawa metabolit sekunder, salah satunya yaitu flavonoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perbedaan spesies dan organ tumbuhan Euphorbia terhadap kandungan total flavonoid serta menentukan kandungan total flavonoid tertinggi lima spesies Euphorbia di Purwokerto Utara.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan pengambilan sampel tumbuhan secara purposive sampling di Purwokerto Utara dan sekitarnya. Sampel dikeringkan kemudian dimaserasi selama 1 x 24 jam dan disaring setiap harinya untuk kemudian akan dihitung kandungan total flavonoidnya. Variabel bebasnya yaitu organ tumbuhan dan spesies Euphorbia, sedangkan variabel terikatnya yaitu kandungan total flavonoid. Parameter utama yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil uji kualitatif flavonoid berupa perubahan warna dan kuantitatif total flavonoid berupa jumlah tertinggi, sedangkan parameter pendukung yang digunakan adalah berat basah dan kering, warna ekstrak yang dihasilkan, dan berat ekstrak pekat. Hasil uji kandungan total flavonoid dianalisis menggunakan Anova dan dilanjutkan dengan DMRT 5%.
Hasil penelitian menunjukkan spesies yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar total flavonoid. Akan tetapi, organ tumbuhan yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap kadar total flavonoid. Spesies tumbuhan Euphorbia dengan kandungan total flavonoid tertinggi yaitu ada pada daun Euphorbia heterophylla sebesar 53,26 ± 31,98 mg QE/g.
Some plants in the surrounding environment can be used as medicine for various types of diseases. These plants can be wild plants originating from Euphorbia, namely patikan kebo (Euphorbia hirta L.), patikan cina (Euphorbia thymifolia L.), and patikan emas (Euphorbia heterophylla L.) as well as ornamental plants kastuba (Euphorbia pulcherrima Willd.) and patah tulang (Euphorbia tirucalli L.). Some of these plants can be used as medicine because they contain secondary metabolite compounds, one of which is flavonoids. The purpose of this study was to determine whether or not there was an effect of differences in species and organs of Euphorbia plants on the total flavonoid content and to determine the highest total flavonoid content of five Euphorbia species in North Purwokerto.
This study used an experimental method by taking plant samples by purposive sampling in North Purwokerto and its surroundings. The samples were dried then macerated for 1 x 24 hours and filtered every day to then calculate the total flavonoid content. The independent variables are plant organs and Euphorbia species, while the dependent variable is the total flavonoid content. The main parameters used in this study are the results of the qualitative flavonoid test in the form of color changes and the quantitative total flavonoids in the form of the highest amount, while the supporting parameters used are wet and dry weight, the color of the resulting extract, and the weight of the concentrated extract. The results of the total flavonoid content test were analyzed using Anova and continued with 5% DMRT.
The results showed that different species did not have a significant effect on the total flavonoid content. However, different plant organs had a significant effect on the total flavonoid content. The Euphorbia plant species with the highest total flavonoid content was in the Euphorbia heterophylla leaf at 53,26 ± 31,98 mg QE/g.
4432347689B1A020115Aktivitas Enzim Kitinase Isolat Bakteri Asal Saluran Cerna Kecoak Jerman (Blattella germanica) dan Kemampuannya dalam Mendegradasi Dinding Sel Jamur Aspergillus nigerJamur Aspergillus niger merupakan patogen yang dapat menyebabkan pembusukan pada tanaman dan bahan makanan. Salah satu metode pengendalian hayati yang potensial adalah pemanfaatan bakteri kitinolitik yang mampu merusak dinding sel jamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi kitinolitik dari isolat bakteri asal saluran cerna Blattella germanica, mengukur aktivitas enzim kitinase dalam mendegradasi dinding sel A. niger, serta menentukan identitas isolat bakteri yang berpotensi sebagai agen biofungisida.
Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan, yaitu isolat bakteri dan variasi medium. Parameter utama yang diamati yaitu unit aktivitas kitinase isolat bakteri kitinolitik asal saluran cerna B. germanica. Parameter pendukung berupa indeks kitinolitik dan data karakterisasi isolat bakteri asal saluran cerna B. germanica yang memiliki potensi kitinolitik. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dan DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri asal saluran cerna B. germanica memiliki potensi kitinolitik dengan indeks kitinolitik berkisar antara 1,25–1,63. Keempat isolat yang diuji menunjukkan aktivitas enzim kitinase yang bervariasi, dengan aktivitas tertinggi sebesar 0,117 U.mL-1 pada isolat GM 36 D dalam medium CWMB. Identifikasi bakteri menunjukkan bahwa isolat GM 16 A dan GM 25 C termasuk anggota genus Bacillus, GM 26 B termasuk anggota genus Coriobacterium, dan GM 36 D termasuk anggota genus Corynebacterium. Hasil ini mengindikasikan bahwa bakteri asal saluran cerna B. germanica memiliki aktivitas enzim kitinase dan berpotensi dalam mendegradasi dinding sel jamur A. niger.
Aspergillus niger is a pathogenic fungus that causes decay in plants and food products. One potential biocontrol method is the utilization of chitinolytic bacteria capable of degrading fungal cell walls. This study aimed to identify the chitinolytic potential of bacterial isolates from the digestive tract of Blattella germanica, measure chitinase enzyme activity in degrading the cell wall of A. niger, and determine the identity of bacterial isolates with biofungicidal potential.
The research employed a completely randomized design (CRD) with two treatment factors, bacterial isolates and medium variations. The main parameter observed was the chitinase activity unit of chitinolytic bacterial isolates from the digestive tract of B. germanica, while supporting parameters included chitinolytic index and bacterial isolate characterization data. Data were analyzed using ANOVA and DMRT at a 95% confidence level.
The results showed that bacterial isolates from the digestive tract of B. germanica exhibited chitinolytic potential, with chitinolytic index values ranging from 1,25 to 1,63. The four tested isolates demonstrated varying chitinase enzyme activity, with the highest activity of 0,117 U.mL-1 observed in GM 36 D within CWMB medium. Bacterial identification revealed that isolates GM 16 A and GM 25 C belong to the Bacillus genus, GM 26 B to Coriobacterium, and GM 36 D to Corynebacterium. These findings indicate that bacterial isolates from the digestive tract of B. germanica exhibit chitinase enzyme activity and have potential for degrading the cell wall of A. niger.
4432447699I1A021059EVALUASI PELAKSANAAN POSBINDU DI PUSKESMAS PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMASLatar Belakang: Puskesmas Patikraja mengalami peningkatan kasus penyakit tidak menular terutama hipertensi sebesar 8% dari tahun 2021-2023. Puskesmas membentuk posbindu untuk meningkatkan partisipasi masyarakat yang berusia 15 tahun ke atas dalam upaya pengendalian faktor risiko PTM. Pelaksanaan posbindu di Puskesmas Patikraja masih mengalami kendala sehingga belum dapat mencapai target sasaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terkait pelaksanaan posbindu di Puskesmas Patikraja Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Patikraja pada bulan Oktober hingga November 2024. Penentuan subyek penelitian menggunakan purposive sampling. Informan penelitian terdiri dari 5 informan utama, yaitu kepala puskesmas, programmer, bidan desa, dan kader serta 3 informan pendukung yaitu masyarakat. Analisis data yang digunakan adalah analisis tematik.
Hasil Penelitian: Posbindu belum mencapai target, hal ini disebabkan oleh kekurangan dana BOK puskesmas, sarana prasarana yang belum memadai, dan kurangnya partisipasi masyarakat. Tujuan pembentukan posbindu untuk meningkatkan deteksi dini PTM dan mencegah peningkatan kasus hipertensi. Sumber daya dalam posbindu perlu ditingkatkan baik dari sisi sumber daya manusia, anggaran maupun sarana prasarana. Pelaksanaan posbindu masih menemui kendala dalam ketidakteraturan pelaksanaan dan kendala masyarakat. Kurangnya partisipasi masyarakat menyebabkan cakupan posbindu masih kurang dari 85%.
Kesimpulan: Evaluasi pelaksanaan posbindu menemukan masalah pada sumber daya program dan kurangnya partisipasi masyarakat yang menyebabkan posbindu belum mencapai target. Puskesmas diharapkan mampu meningkatkan koordinasi dengan desa, melakukan optimalisasi pengelolaan anggaran, melatih kader bersertifikasi, serta mengembangkan inovasi dan tindak lanjut yang sesuai.
Background: Patikraja Health Center experienced an increase in cases of non-communicable diseases, especially hypertension, by 8% from 2021-2023. The health center established Integrated Health Post to increase community participation aged 15 years and over in efforts to control NCD risk factors. The implementation of Integrated Health Post at the Patikraja Health Center still experiences obstacles so that it cannot reach the target. Therefore, it is necessary to evaluate the implementation of Integrated Health Post at the Patikraja Health Center, Banyumas Regency.
Methods: The study was conducted at the Patikraja Health Center from October to November 2024. Determination of research subjects using purposive sampling. The research informants consisted of 5 main informants, namely the head of the puskesmas, programmer, village midwife, and cadres and 3 supporting informants, namely the community. The data analysis used was thematic analysis.
Research Results: Integrated Health Post has not yet reached the target, this is due to the lack of BOK funds for the health center, inadequate infrastructure, and lack of community participation. The aim of establishing Integrated Health Post is to improve early detection of NCDs and prevent an increase in hypertension cases. Resources in Integrated Health Post need to be improved in terms of human resources, budget and infrastructure. Integrated Health Post implementation still encounters obstacles in the irregularity of implementation and community constraints. Lack of community participation causes Integrated Health Post coverage to be less than 85%.
Conclusion: The evaluation of Integrated Health Post implementation found problems with program resources and lack of community participation that caused Integrated Health Post to not reach the target. Patikraja Health Center are expected to improve coordination with villages, optimize budget management, train certified cadres, and develop appropriate innovations and follow-up.
4432547700F1B020041KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DALAM UPAYA MENURUNKAN
ANGKA KEMATIAN IBU DI PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN
Angka kematian ibu (AKI) merupakan indikator utama dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan di suatu wilayah. Puskesmas Purwokerto Selatan memiliki peran penting dalam
menurunkan AKI melalui berbagai upaya pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk
menilai kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Purwokerto Selatan dalam upaya menurunkan AKI. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitas pelayanan publik berdasarkan teori Zeithaml, Parasuraman, dan Berry yang mencakup aspek bukti fisik (tangible), keandalan
(reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data
melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek reliability, assurance, dan empathy sudah baik, sementara aspek tangible dan responsiveness masih memerlukan perbaikan, terutama dalam hal fasilitas dan partisipasi ibu hamil dalam
kelas ibu hamil. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Purwokerto Selatan cukup baik, tetapi masih terdapat aspek
yang perlu ditingkatkan.
Maternal mortality rate (MMR) is the main indicator in assessing the quality of health services in a region. South Purwokerto Health Center has an important role in reducing MMR through various health service efforts. This study aims to assess the quality of health services at South Purwokerto Health Center in an effort to reduce MMR. This study uses a public service quality
approach based on the theory of Zeithaml, Parasuraman, and Berry which includes aspects of tangible evidence, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques through interviews,
observations, and documentation. The results of the study indicate that the aspects of reliability,
assurance, and empathy are good, while the tangible and responsiveness aspects still need improvement, especially in terms of facilities and participation of pregnant women in pregnancy classes. The conclusion of this study shows that overall, the quality of health services at South Purwokerto Health Center is quite good, but there are still aspects that need to be improved.
4432647701F1D021074Relasi Aktor Dalam Pengembangan Pariwisata Daerah Lembah Asri (D'LAS) di Desa Serang Kabupaten PurbalinggaTujuan penelitian adalah untuk mengetahui relasi aktor dalam pengembangan pariwisata di daerah Lembah Asri. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus dalam bingkai perspektif strukturalisme dan paradigma nonpositivisme, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam pengembangan pariwisata Lembah Asri di daerah Lembah Asri telah terjadi nepotisme dengan menggunakan teori elit; penelitian mengungkapkan bagaimana kekuasaan terkonsentrasi di tangan segelintir elit, seperti kepala desa dan keluarganya, yang memanipulasi struktur politik untuk mempertahankan dominasi. Hasil wawancara dengan pelaku wisata yang berinisial (R) menunjukkan bahwa nepotisme berperan dalam pengaturan kekuasaan dan keputusan yang diambil oleh kepala desa dan kerabatnya yang bernaung di bawah BUMDes.Namun, lemahnya kritik masyarakat terhadap praktik nepotisme dan ketergantungan pada keluarga dalam pengelolaan dapat menghambat keberagaman ide dan inovasi untuk pengembangan pariwisata.The purpose of the research is to find out the relationship of actors in the
development of tourism in the Asri Valley area. Using qualitative methods and a
case study approach in the frame of structuralism perspective and nonpositivism
paradigm, the results of this study reveal that in the development of tourism in the
Asri Valley area, nepotism has occurred using elite theory; the research reveals how
power is concentrated in the hands of a handful of elites, such as the village head
and his family, who manipulate political structures to maintain dominance. The
results of interviews with tourism actors with the initials (R) show that nepotism
plays a role in the regulation of power and decisions taken by the village head and
his relatives under the BUMDes. However, the lack of community criticism of the
practice of nepotism and dependence on family in management can hinder the
diversity of ideas and innovations for tourism development.
Keywords: Actor Relations, Tourism Development
4432747585E1A020250PELINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER AIR DALAM PEMANFAATAN SITU TIRTA MARTA DI KABUPATEN PURBALINGGASegala bentuk kehidupan yang dilakukan di dunia ini memerlukan air untuk keberlangsungannya. Di Kabupaten Purbalingga terdapat Situ Tirta Marta yang merupakan sumber air yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar guna menggerakan kebutuhan ekonomi di daerah tersebut, serta memberikan pendapatan bagi komunitas lokal. Dalam pemanfaatan Situ Tirta Marta, seyogyanya dijaga kelangsungan dan keberadaannya agar dapat berkelanjutan, sehingga perlu adanya pelindungan dan pelestarian atas sumber air.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis implementasi serta hambatan dalam melaksanakan pelindungan dan pelestarian sumber air dalam pemanfaatan Situ Tirta Marta di Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Metode pendekatan yang digunakan antara lain statue approach, analytical approach, dan conseptual approach. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dengan metode pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan. Penulis juga telah melakukan wawancara guna memperkaya dan memperluas penelitian. Data yang terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan teknik reduksi data dan disajikan dalam teks naratif yang dianalisis menggunakan metode deduktif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pelindungan dan pelestarian sumber air dalam pemanfaatan Situ Tirta Marta belum dilaksanakan dengan optimal. Hambatan dalam pelaksanaan pelindungan dan pelestarian sumber air antara lain pengaturan yang masih tergolong baru dan kurangnya sosialisasi serta koordinasi antara para pemangku kepentingan.
All forms of life carried out in this world require water for its sustainability. In Purbalingga Regency, there is Situ Tirta Marta, which is a water source utilized by the surrounding community to drive economic needs in the area, and provide income for the local community. In utilizing Situ Tirta Marta, its sustainability and existence should be maintained so that it can be sustainable, so it is necessary to protect and preserve water sources.
This research aims to determine and analyze the implementation and obstacles in implementing the protection and preservation of water sources in the use of Situ Tirta Marta in Purbalingga Regency. The research method used in this research is normative legal research. The approach methods used include the statue approach, analytical approach, and conceptual approach. The data source used is secondary data with data collection methods using library research. The author has also conducted interviews to enrich and expand the research. The collected data is then processed using data reduction techniques and presented in narrative text which is analyzed using deductive methods.
The research results show that the protection and preservation of water sources in the use of Situ Tirta Marta has not been implemented optimally. Obstacles in implementing the protection and preservation of water sources include regulations that are still relatively new and a lack of socialization and coordination between stakeholders.
4432847702C1L020030PENGARUH PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN, PROJEK PENGUATAN PROFIL
PELAJAR PANCASILA, DAN ENTREPRENEURSHIP TRAINING TERHADAP JIWA
KEWIRAUSAHAAN SISWA SMA NEGERI 3 PURWOKERTO
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan
kewirausahaan, projek penguatan profil pelajar pancasila, dan entrepreneurship training terhadap
jiwa kewirausahaan siswa. Sampel penelitian ini ditentukan menggunakan teknik purposive
sampling berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Hasil penelitian ini menunjukkan : (1) Pendidikan
kewirausahaan berpengaruh positif terhadap jiwa kewirausahaan siswa; (2) Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila berpengaruh positif terhadap jiwa kewirausahaan siswa; (3)
Entrepreneurship training berpengaruh positif terhadap jiwa kewirausahaan siswa. Implikasi pada
penelitian ini yaitu : peran aktif pihak sekolah dalam mendukung kegiatan kewirausahaan sangat
penting untuk mendorong pengembangan jiwa kewirausahaan siswa dengan meningkatkan
kolaborasi dengan pelaku usaha untuk menciptakan program yang memberikan siswa pengalaman
praktis dalam memulai dan menjalankan usaha. Guru perlu lebih peka dalam mengenali potensi
dan minat siswa.
The purpose of this research is to determine the influence of entrepreneurship education,
the project to strengthen the profile of Pancasila students, and entrepreneurship training on
students' entrepreneurial spirit. The sample for this research was determined using a purposive
sampling technique based on certain criteria. The results of this research show: (1)
Entrepreneurship education has a positive effect on students' entrepreneurial spirit; (2) The
Pancasila Student Profile Strengthening Project has a positive influence on students'
entrepreneurial spirit; (3) Entrepreneurship training has a positive effect on students'
entrepreneurial spirit. The implications of this research are: the active role of schools in
supporting entrepreneurial activities is very important to encourage the development of students'
entrepreneurial spirit by increasing collaboration with business actors to create programs that
provide students with practical experience in starting and running a business. Teachers need to be
more sensitive in recognizing students' potential and interests.
4432947703B1A020073PENGARUH PENAMBAHAN BAKTERI ASAM LAKTAT PADA PEMBUATAN SILASE RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum)ABSTRAK
Hijauan seabagi bahan baku pakan akan mengalami peningkatan ketika musim penghujan dan mengalami penurunan ketika musim kemarau. Selain itu, permintaan pakan yang juga meningkat seiring dengan kebutuhan protein hewani untuk manusia menjadikan kuantitas hijauan sebagai bahan pakan ternak perlu tersedia dengan jumlah yang tinggi dan lama. Silase adalah cara pengawetan hijauan dengan memanfaatkan proses fermentasi secara anaerob. Penggunaan BAL mampu mendorong proses fermentasi. BAL yang unggul dapat menghasilkan silase dengan kualitas yang lebih baik. BAL dapat dikatakan unggul karena tergolong dalam Generally Recognized as Safe (GRAS), mampu berkembang secara optimal selama proses fermentasi, menurunkan pH, menghambat pertumbuhan mikroba pathogen, memproduksi asam organik, dan membentuk protein silase. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan isolat BAL terhadap kualitas silase rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan isolat BAL yang paling berpengaruh dalam meningkatkan nutrisi silase rumput gajah.
Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan percobaan adalah jenis isolat BAL, yaitu Lentiplantibacillus kimchii, Limosilactobacillus fermentum, Lantiplantibacillus plantarum, Levilactobacillus brevis, campuran, dan kontrol. Setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 30 unit percobaan. Penelitian ini terdiri atas dua parameter, yaitu parameter utama dan parameter pendukung. Parameter utama penelitian ini adalah konsentrasi asam laktat dan parameter pendukung adalah jumlah populasi bakteri, konsentrasi NH3, senyawa Short Fatty Acid (SCFA) dan proksimat. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis lanjutan tidak dilakukan karena hasil ANOVA menujukkan hasil berbeda tidak nyata.
Hasil penelitian menunjukkan penambahan BAL pada pembuatan silase rumput gajah berbeda nyata berdasarkan hasil pengukuran konsentrasi asam laktat dengan nilai signifikansi 0,178 (p>0,05). Isolat Lantiplantibacillus plantarum InaCC-1028 dan Levilactobacillus brevis InaCC-1052 mampu memberikan dampak positif terhadap kualitas silase rumput gajah.
SUMMARY
Forage as a feed raw material will increase during the rainy season and decrease during the dry season. In addition, the demand for feed which also increases along with the need for animal protein for humans makes the quantity of forage as animal feed ingredients need to be available in high quantities and for a long time. Silage is a way of preserving forage by utilizing the anaerobic fermentation process. The use of LAB can encourage the fermentation process. Superior LAB can produce silage with better quality. LAB can be said to be superior because it is classified as Generally Recognized as Safe (GRAS), able to develop optimally during the fermentation process, reduce pH, inhibit the growth of pathogenic microbes, produce organic acids, and form silage proteins. The purpose of this study was to determine the effect of the addition of LAB isolates on the quality of elephant grass silage (Pennisetum purpureum) and the most influential LAB isolates in improving the nutrition of elephant grass silage.
The research was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD). The experimental treatment was the type of LAB isolate, namely Lentiplantibacillus kimchii, Limosilactobacillus fermentum, Lantiplantibacillus plantarum, Levilactobacillus brevis, mixture, and control. Each treatment was repeated 5 times, resulting in 30 experimental units. This study consisted of two parameters, namely the main parameters and supporting parameters. The main parameter was lactic acid concentration and the supporting parameters were bacterial population, NH3 concentration, Short Fatty Acid (SCFA) compound and proximate. The data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) with 95% confidence level. Further analysis was not conducted because the ANOVA results showed the results were not significantly different.
The results showed that the addition of LAB in making elephant grass silage was significantly different based on the measurement of lactic acid concentration with a significance value of 0.178 (p>0.05). Lantiplantibacillus plantarum InaCC-1028 and Levilactobacillus brevis InaCC-1052 isolates were able to have a positive impact on the quality of elephant grass silage.
4433047704F1B021102Manajemen Aset Sektor Publik
(Studi Tentang Inventarisasi Aset Tetap di Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas)
Penelitian ini membahas pentingnya aset tetap dalam administrasi publik serta permasalahan inventarisasi aset di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas. Ditemukan ketidaksesuaian antara data dalam DBR dan kondisi fisik aset, yang menunjukkan adanya kelemahan dalam proses inventarisasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan inventarisasi
aset tetap berdasarkan dua aspek: fisik dan yuridis. Menggunakan metode kualitatif deskriptif
dengan teknik triangulasi, penelitian ini mengandalkan wawancara, dokumentasi, dan observasi untuk validasi data. Hasilnya menunjukkan perlunya pemutakhiran data, peningkatan pengawasan, serta penguatan akuntabilitas dalam inventarisasi fisik, sementara inventarisasi yuridis menunjukkan kepatuhan yang tinggi terhadap regulasi dan kesiapan pengelolaan aset secara profesional.
This study discusses the importance of fixed assets in public administration and the issues related to asset inventory at the Central Statistics Agency (BPS) of Banyumas Regency. Discrepancies were found between the data recorded in the DBR and the actual physical condition of the assets, indicating weaknesses in the inventory process. The study aims to
describe fixed asset inventory based on two aspects: physical and juridical. Using a descriptive qualitative method with triangulation techniques, the research relies on interviews, documentation, and observations for data validation. The findings highlight the need for data updates, increased supervision, and strengthened accountability in physical inventory, while juridical inventory demonstrates high compliance with regulations and institutional readiness for professional asset management.
4433147672J0A020009Promoting Banyumas Tourism Through Electronic Bilingual Tourism City Maps Catalogue Nama
: Dwi Purwita Sari
Nomor Induk Mahasiswa : J0A020009
Judul
: Promoting Banyumas Tourism Trough
Electronic Bilingual Tourism City Maps
Catalogue
Pembimbing
: 1. Septi Mariasari, S.Pd., M.Hum.
2. Indah P
RINGKASAN
Laporan ini berjudul “Mempromosikan Pariwisata Banyumas Melalui Katalog Peta
Kota Wisata Elektronik Bilingual” dan dibuat berdasarkan praktik kerja lapangan yang
dilaksanakan di Dinporabudpar Kabupaten Banyumas pada tanggal 05 Juni 2023 - 05 Juli
2023. Dinporabudpar merupakan sebuah instansi pemerintah yang membawahi beberapa
bidang dan salah satunya adalah bidang pariwisata.
Tujuan dari kerja praktek ini adalah untuk mempromosikan Katalog Elektronik
mengenai pariwisata di Banyumas khususnya di Puwokerto dalam dua bahasa yaitu
bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, memperkenalkan beberapa wisata di Purwokerto
kepada masyarakat luas tidak hanya masyarakat lokal tetapi juga wisatawan mancanegara
dan menjelaskan wisata tersebut dalam bentuk tulisan dan gambar agar pembaca dapat
memahami katalog dengan lebih baik dan tertarik saat membacanya.
Terdapat beberapa metode dalam pelaksanaan pelatihan kerja, diantaranya observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Tujuan dari kerja praktek ini adalah untuk menghasilkan
katalog elektronik dengan menggunakan bilingual untuk meningkatkan minat wisatawan
berkunjung ke Purwokerto. Selain itu, untuk mengetahui kendala dan mencari solusi
untuk mengatasi kendala yang dialami selama penyusunan laporan akhir ini.
Produk yang dihasilkan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah Katalog Elektronik
Peta Kota Wisata Bilingual. Terdapat beberapa tahapan dalam proses pembuatan Katalog
Elektronik, yaitu Pra-produksi, Produksi, dan Pasca-produksi. Terdapat kendala dalam
proses pembuatan Katalog Elektronik, diantaranya adalah kurangnya keterampilan dalam
menggunakan aplikasi editing. Kendala tersebut dapat diatasi dengan belajar lebih banyak
mengenai penggunaan aplikasi editing dari teman-teman yang sudah ahli dalam bidang
tersebut

SUMMARY
This report is entitled “Promoting Banyumas Tourism Through Electronic Bilingual
Tourism City Maps Catalogue” and made based on field work practices carried out at
Dinporabudpar Banyumas Regency on June 05, 2023 - July 05, 2023. Dinporabudpar is a
government agency that oversees several fields and one of them is the tourism sector.
The purpose of the job training are to promote the Electronic Catalog on tourism in
Banyumas, especially in Puwokerto in two languages, namely Indonesian and English,
introducing several tours in Purwokerto to the wider community, not only local people
but also foreign tourists and explaining the tour in the form of writing and images so that
readers can understand the catalog better and be interested when reading it.
There are several methods in the implementation of job training, including
observation, interviews, and documentation. The purpose of this job training report is to
produce Electronic catalog using bilingual to increase tourist interest in visiting
Purwokerto. In addition, to find out the obstacles and find solutions to overcome the
obstacles experienced during the preparation of this final report.
The product resulting from the implementation of this job training is the Bilingual
Electronic Tourism City Maps Catalogue. There are several stages in the process of
making Electronic Catalogue, namely Pre-production, Production, and Post-production.
There are obstacles in the process of making e-Catalogue, including the lack of skills in
using editing applications. These obstacles can be overcome by learning more about the
use of editing applications from friends who are experts in the field.
4433247705I1B021084HUBUNGAN POSTUR KERJA DAN KELELAHAN DENGAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS PADA PENJAHIT KONVEKSI DI PURWOKERTO SELATANLatar belakang: Penjahit bekerja dengan durasi kerja yang lama, kurang istirahat, dan penurunan kemampuan fisik karena bertambahnya usia yang dapat menyebabkan kelelahan dan postur kerja yang buruk, sehingga berisiko mengalami musculoskeletal disorders. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan postur kerja dan kelelahan dengan musculoskeletal disorders pada penjahit konveksi yang berada di Purwokerto Selatan.
Metode: Penelitian ini merupakaan penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di enam konveksi di Purwokerto Selatan. Jumlah sampel sebanyak 39 responden dengan teknik total sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah Rapid Entire Body Assessment untuk mengukur risiko cedera akibat postur kerja (REBA), Subjective Self Rating Test (SSRT) untuk mengukur tingkat kelelahan, dan Nordic Body Map (NBM) untuk mengukur keluhan musculoskeletal. Analisis data bivariat menggunakan uji korelasi Somers’d.
Hasil penelitian: Mayoritas responden berusia lebih dari 40 tahun (46,2%), berjenis kelamin perempuan (69,2%), bekerja sebagai penjahit lebih dari lima tahun (56,4%), durasi bekerja lebih dari delapan jam (61,5%). Mayoritas responden tidak merokok (82,1%), melakukan stretching di sela-sela bekerja (76,9%), merubah posisi duduk setiap 20-30 menit sekali (89,7%), serta memiliki nilai Indeks Masa Tubuh normal (53,8%). Mayoritas responden memiliki risiko cedera sedang (76,9%), kelelahan tingkat sedang (53,8%), dan gangguan musculoskeletal tingkat ringan (74,4%). Terdapat hubungan yang bermakna antara postur kerja dengan musculoskeletal disorders dengan korelasi rendah (p=0,047, r=0,389). Serta terdapat hubungan antara kelelahan dengan musculoskeletal disorders dengan tingkat korelasi rendah(p=0,007, r=0,309).
Kesimpulan: semakin tinggi risiko cedera pada postur kerja dan semakin tinggi tingkat kelelahan berhubungan dengan semakin meningkatnya keluhan musculoskeletal.
Kata Kunci: Kelelahan, Musculoskeletal disorders, Penjahit, Postur kerja.
Background: Tailors work with long work durations, lack of rest, and decreased physical ability due to aging which can cause fatigue and poor work posture, so they are at risk of musculoskeletal disorders. This study aims to determine the relationship between work posture and fatigue with musculoskeletal disorders in convection tailors in South Purwokerto.
Methods: This study is a correlational study with a cross sectional approach. The research was conducted in six convectiones in South Purwokerto. The number of samples was 39 respondents with a total sampling technique. The instruments in this study are Rapid Entire Body Assessment (REBA) to measure the risk of injury due to work posture, Subjective Self Rating Test (SSRT) to measure fatigue levels, and Nordic Body Map (NBM) to measure musculoskeletal complaints. Bivariate data analysis uses the Somers'd correlation test.
Results: The majority of respondents were over 40 years old (46.2%), female (69.2%), worked as a tailor for more than five years (56.4%), worked for more than eight hours (61.5%). The majority of respondents do not smoke (82.1%), stretching between work (76.9%), change their sitting position every 20-30 minutes (89.7%), and have a normal Body Mass Index (53.8%). The majority of respondents had a moderate risk of injury (76.9%), moderate fatigue (53.8%), and mild musculoskeletal disorders (74.4%). There was a significant association between work posture and musculoskeletal disorders with low correlation (p=0.047, r=0.389). There was also a relationship between fatigue and musculoskeletal disorders with a low correlation rate (p=0.007, r=0.309).
Conclusion: the higher the risk of injury to the work posture and the higher the level of fatigue are associated with increased musculoskeletal complaints.
Keywords: Fatigue, Musculoskeletal disorders, Tailor, Work posture.
4433347706G1A021116Hubungan Rutinitas Kunjungan dengan Kontrol Glikemik pada Pasien Prolanis Diabetes Melitus di Kabupaten BanyumasLatar Belakang: Diabetes Melitus termasuk masalah kesehatan utama di dunia dengan prevalensinya yang tinggi dan banyak membawa beban penyakit bagi penderitanya. Kontrol glikemik merupakan parameter pengendalian DM yang dipengaruhi beberapa faktor salah satunya rutinitas kunjungan pasien ke FKTP untuk pengecekan rutin kadar gula darah dan HbA1c. Tujuan: Menganalisis hubungan rutinitas kunjungan dengan kontrol glikemik pada pasien Prolanis DM di Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian menggunakan rancangan analitik observasional pendekatan cross-sectional dengan data sekunder yang diperoleh dari lembar observasi penelitian Prolanis tahun 2022 berjumlah 358 responden. Hasil: Responden penelitian didominasi individu berusia ≥ 60 tahun, berjenis kelamin perempuan, bertingkat pendidikan rendah, berstatus ekonomi rendah, rutin berkunjung, dan memiliki kontrol glikemik tidak terkendali. Uji Chi-square antara rutinitas kunjungan dengan kontrol glikemik memperoleh nilai p-value = 0,106 (> 0,05) yang artinya tidak berhubungan signifikan. Uji regresi logistik memperoleh nilai p-value > 0,05 untuk semua variabel potensial perancu yang berarti tidak satu pun dari variabel-variabel tersebut merupakan perancu. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rutinitas kunjungan dengan kontrol glikemik pada pasien Prolanis Diabetes Melitus di Kabupaten Banyumas.Background: Diabetes Mellitus (DM) is a major global health issue with high prevalence and significant disease burden for affected individuals. Glycemic control serves as a key parameter in managing DM and is influenced by various factors, including the regularity of patient visits to primary healthcare facilities (PHCs) for routine blood glucose and HbA1c monitoring. Objective: To analyze the relationship between visit regularity and glycemic control among Prolanis DM patients in Banyumas Regency. Methodology: This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach, using secondary data obtained from Prolanis research observation sheets in 2022, encompassing 358 respondents. Results: The majority of respondents were aged ≥ 60 years, female, with low educational and economic status, regular visit habits, and poor glycemic control. A Chi-square test between visit regularity and glycemic control yielded a p-value of 0.106 (> 0.05), indicating no significant association. Logistic regression analysis revealed p-values > 0.05 for all potential confounding variables, suggesting none of these variables acted as confounders. Conclusion: There was no significant relationship between visit regularity and glycemic control among Prolanis DM patients in Banyumas Regency.
4433447707F1B021089Implementasi Program Pembinaan Kemandirian Kegiatan Kerja EcoprintProgram pembinaan kemandirian kegiatan kerja ecoprint di Lembaga
Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIB Purwokerto merupakan program pembekalan
keterampilan kepada warga binaan sebagai upaya peningkatan individu yang
memiliki usia produktif untuk aktif dan produktif sebagai persiapan untuk kembali
ke masyarakat. Ecopint sendiri adalah teknik cetak pada kain dengan menggunakan
bahan-bahan alami seperti daun dan bunga. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kualitatif yang menggunakan metode pengumpulan data melalui
wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan, (1) Komunikasi, pengarahan petugas jelas
dan konsisten ketika kegiatan kerja berdasarkan pelatihan. (2) Sumber daya,
petugas Lapas memadai, tetapi belum memiliki pengetahuan mengenai ecoprint.
Anggaran pelatihan berasal dari APBN, sedangkan modal produksi berasal dari
65% keuntungan penjualan yang tidak tetap. Fasilitas belum memadai akibat lahan
Lapas yang kecil. (3) Disposisi, petugas memiliki persepsi positif akan program dan
berkomitmen untuk meningkatkan warga binaan yang lebih aktif dan produktif. (4)
Struktur Birokrasi, terdapat struktur organisasi yang jelas, sehingga koordinasi
antar petugas saling berkaitan dalam melakukan tugas dan fungsinya berdasarkan
Standard Operational Procedure (SOP). Saran yang diajukan untuk petugas
diberikan pelatihan sebelum memberikan pelatihan, membuat rencana anggaran
untuk modal produksi dan peningkatan fasilitas berupa perluasan lahan.
Ecoprint Work Independence Training Program in Detention Center IIB
Class Purwokerto is a skill acquisition program for the convicts aimed at enhancing
the ability of individuals in their productive age to be back in society. Ecoprint is a
is a printing technique on fabric using natural materials such as leaves and flowers.
This research uses interview, observation, and documentation to collect data while
using descriptive qualitative method.
The results are (1) Communication, guidance given by the officer are clear
and consistent. (2) Resources, officers are adequate, but are lack of knowledge of
the ecoprint. Budget are from state budget allocated for the training program, yet
production capital comes from 65% sales profit, which is unstable from time to
time, lack of facilities. (3) Disposition, officers have a positive perception of the
program and are committed to increasing more active and productive prisoners. (4)
Bureaucracy, a clear organizational structure exists to coordinate among officials in
the performance of their duties and functions on the basis of SOPs.It is proposed
that officers receive training before providing training, make a budget plan for
production capital, and improve facilities in the form of land expansion
4433547708E1A018058TINJAUAN YURIDIS TERHADAP UNSUR WANPRESTASI DALAM
PERJANJIAN JUAL BELI JAGUNG PIPIL BERDASARKAN PUTUSAN
NOMOR 3/PDT.G/2023/PN JKT.PST

ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan perjanjian jual beli antara Penggugat
dan Tergugat yang dimana Tergugat hanya memenuhi sebagian dari prestasinya, Penggugat pun
memberikan somasi kepada Tergugat namun Tergugat mengabaikannya, kemudian Majelis
Hakim menjatuhi putusan wanprestasi kepada Tergugat berdasarkan Pasal 1243 KUHPerdata
yang mana hakim tidak mempertimbangkan pPasal 1238 KUHPerdata terkait adanya somasi
dalam menjatuhkan putusannya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pertimbangan hakim terhadap unsur wanprestasi dalam perjanjian jual beli jagung pipil
berdasarkan putusan nomor 3/Pdt.G/2023/PN Jkt.Pst. dan untuk mengetahui akibat hukumnya.
Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian
preskriptif. Jenis dan sumber bahan hukum yang terdapat dalam penelitian ini berasal dari data
sekunder yaitu bahan hukum primer, sekunder, dan tersier dengan metode pengumpulan data
studi kepustakaan.dan metode analisis data dilakukan secara normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pertama,
Majelis Hakim telah menyatakan Tergugat terbukti sah dan benar melakukan Wanprestasi
kepada Penggugat berdasarkan Pasal 1243 KUHPerdata, tetapi tidak menjelaskan mengenai
unsur wanprestasinya. Menurut Penulis setidaknya terdapat tiga unsur wanprestasi yang telah
terpenuhi dalam kasus ini yaitu: adanya perjanjian(jual beli jagung pipil); debitur tidak
berprestasi (karena tidak menyerahkan sebagian dari prestasi yakni 502,04 ton jagung pipil);
dan telah dinyatakan lalai (somasi Penggugat), namun tetap tidak melaksanakan isi perjanjian.
Adapun mengenai unsur salah, Majelis Hakim dalam pertimbangannya hanya melihat subtansi
ganti kerugian akibat dari tidak terpenuhinya prestasi dan tidak mempertimbangkan Pasal 1238
KUHPerdata mengenai adanya somasi. Kedua, karena kelalaiannya dalam memenuhi
perjanjian maka penulis sependapat dengan hakim dalam putusannya berdasarkan Pasal 1243
KUHPerdata akibat hukum bagi Tergugat diharuskan membayar ganti rugi secara tunai atas
kewajiban Tergugat kepada Penggugat senilai Rp. 2.133.670.000,- atas sisa jagung pipil yang
tidak diberikan sebanyak 502,04 ton sebagaimana tuntutan ganti kerugian dari Penggugat.

ABSTRACT
This research is motivated by the issue of a sale and purchase agreement between the
Plaintiff and the Defendant, where the Defendant only partially fulfilled their obligations. The
Plaintiff served a Legal Notice, but the Defendant ignored it. Consequently, the panel of judges
ruled in favor of the Plaintiff, declaring the Defendant in default under Article 1243 of the
Indonesian Civil Code, without considering Article 1238 regarding the Legal Notice. This
research aims to analyze the judges' consideration of the elements of default in the corn sale
and purchase agreement based on the verdict number 3/Pdt.G/2023/PN Jkt.Pst and to
determine the legal consequences.
The research method used is normative juridical with a prescriptive approach. The
types and sources of legal materials used in this study are secondary data, including primary,
secondary, and tertiary legal materials, collected through library research. The data analysis
is conducted using a normative qualitative method.
Based on the research findings and discussion, it can be concluded that, first, the panel
of judges failed to elaborate on the elements of default in declaring the Defendant in default.
However, based on Article 1243 of the Civil Code, the author identified three elements of
default that were fulfilled: the existence of a contract (corn sales); the debtor's Default (partial
fulfillment of obligations); and the debtor's default (Legal Notice from the Plaintiff), which was
ignored. Nevertheless, the judges only considered the substance of compensation for damages
resulting from the non-fulfillment of obligations and did not take into account Article 1238
regarding the Legal Notice. Second, due to the Defendant's Default, the author agrees with the
judges' decision based on Article 1236 of the Civil Code, which states that the Defendant is
obligated to pay compensation in cash to the Plaintiff in the amount of IDR 2,133,670,000 for
the remaining corn not delivered, totaling 502.04 tons, as claimed by the Plaintiff.
4433647709F1D021073Relasi Kuasa Antara Dinas Sosial Dan Dinas Kesehatan Pada Implementasi Program Kartu Indonesia Sehat Di Kabupaten BanyumasKajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika interaksi antar instansi yang
bertanggung jawab dalam implementasi program KIS, dalam hal ini Dinas Kesehatan
dan Dinas Sosial Kabupaten Banyumas. Relasi kuasa di antara kedua instansi
tersebut menjadi fokus dalam kajian ini. Peneliti menggunakan metode kualitatif yang
didasari oleh paradigma non-positivisme serta perspektif institusionalisme.
Pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode, yaitu wawancara, observasi, dan
studi dokumen. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik
triangulasi sumber. Analisi data penelitian menggunakan analisis model interaktif dari
Miles dan Huberman, yang komponenya mencakup reduksi data, penyajian data, dan
verifikasi atau penarikan kesimpulan yang dilakukan dalam suatu siklus. Berdasarkan
hasil penelitian, ditemukan bahwa Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial memiliki peran
yang berbeda tetapi saling terkait. Dinas Kesehatan bertanggung jawab dalam
penyediaan layanan kesehatan, sedangkan Dinas Sosial berperan dalam proses
pendataan dan verifikasi penerima manfaat KIS. Relasi kuasa antara kedua instansi
ini berjalan secara intensif dan harmonis, di mana Dinas Kesehatan menetapkan
peserta program berdasarkan rekomendasi dari Dinas Sosial. Kolaborasi ini
memastikan bahwa penerima KIS benar-benar berasal dari kelompok masyarakat
yang berhak sesuai ketentuan program. Namun, tantangan tetap ada, seperti
keterbatasan anggaran yang membatasi jumlah penerima manfaat dan potensi konflik
dalam proses penetapan peserta KIS. Meski demikian, sinergi yang baik antara kedua
instansi berhasil meminimalisir kendala tersebut, sehingga implementasi Program KIS
di Kabupaten Banyumas dapat berjalan efektif dan memberikan dampak positif bagi
masyarakat miskin dalam memperoleh pelayanan kesehatan gratis. Dengan
demikian, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan Program KIS sangat
bergantung pada koordinasi dan relasi kuasa yang seimbang antara Dinas Sosial dan
Dinas Kesehatan.
This study aims to explore the dynamics of interaction between the agencies responsible for
implementing the KIS program, namely the Health Office and the Social Affairs Office of
Banyumas Regency. The power relations between these two agencies are the primary focus of
this study. The researcher employs a qualitative method based on the non-positivist paradigm
and an institutionalist perspective.
Data collection is conducted through three methods: interviews, observations, and document
studies. To ensure data validity, this research applies source triangulation techniques. The data
analysis follows the interactive model of Miles and Huberman, which consists of data
reduction, data presentation, and verification or conclusion drawing, carried out in a continuous
cycle.
The study finds that the Health Office and the Social Affairs Office have distinct yet
interconnected roles. The Health Office is responsible for providing healthcare services, while
the Social Affairs Office plays a role in the data collection and verification of KIS beneficiaries.
The power relations between these agencies are intensive and harmonious, with the Health
Office determining program participants based on recommendations from the Social Affairs
Office. This collaboration ensures that KIS recipients truly come from eligible groups
according to program regulations.
However, challenges persist, such as budget constraints that limit the number of beneficiaries
and potential conflicts in the participant selection process. Nevertheless, strong synergy
between the two agencies helps mitigate these obstacles, ensuring that the implementation of
the KIS Program in Banyumas Regency runs effectively and positively impacts
underprivileged communities in accessing free healthcare services.
Thus, this study emphasizes that the success of the KIS Program heavily depends on
coordination and a balanced power relationship between the Social Affairs Office and the
Health Office.
4433747710C1B021078ANALISIS EFISIENSI RUTE DISTRIBUSI PRODUK TISU ILLONA DENGAN METODE SAVING MATRIX & NEAREST NEIGHBORPenelitian ini merupakan penelitian analisis deskriptif pada produk tisu Illona dari PT Juragan Gemilang Indonesia yang berada di kota Purwokerto. Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Efisiensi Distribusi Produk Tisu Illona dengan Metode Saving Matrix & Nearest Neighbor” Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis rute pengiriman yang paling optimal pada proses distribusi produk tisu Illona dari gudang
ke outlet. Proses analisis memperhitungkan jarak tempuh pengiriman, waktu tempuh pengiriman, dan biaya yang dikeluarkan selama proses pengiriman.
Penelitian ini dilakukan di PT Juragan Gemilang Indonesia yang berlokasi di kota Purwokerto mulai dari bulan Agustus sampai Desember 2024, penelitian
difokuskan pada produk tisu Illona dengan menggunakan dua metode analisis, yaitu saving matrix dan metode nearest neighbor. Saving matrix berfungsi mengidentifikasi adanya penghematan dalam rute pengiriman berdasarkan jadwal rute pengiriman yang sudah ada, kemudian digabungkan ke dalam rute yang sama untuk menambah efisiensi distribusi.Sedangkan, metode nearest neighbor berfungsi untukmengurutkan
kunjungan outlet dari yang pertama dikunjungi hingga outlet terakhir dengan gudang sebagai titik nol dan titik kembali.
Analisis dengan kedua metode tersebut harus melalui beberapa tahapan, seperti mengidentifikasi matriks jarak, matriks penghematan, penggabungan rute, dan pengurutan rute dari titik terdekat. Penggabungan kedua metode tersebut menghasilkan penghematan jumlah rute dari 11 rute menjadi 8 rute dan beberapa penghematan lainnya, seperti 44,49% (2.540 km menjadi 1.410 km) untuk jarak, 33,61% (3.904 menit menjadi 2.592 menit) untuk waktu, dan 44,49% (Rp 1.727.200 menjadi Rp 958.800) untuk biaya.
Hasil penelitian ini digunakan sebagai alternatif masukan dan referensi bagi perusahaan dalam melakukan penjadwalan rute distribusi produk tisu Illona sehingga dapat mengidentifikasi potensi efisiensi dan membuat rute distribusi yang lebih
optimal dengan mempertimbangkan jarak, waktu, dan biaya dalam prosesnya yang nantinya akan berdampak pada keuntungan perusahaan, hal ini juga dapat meningkatkan daya saing karena akan menurunkan HPP karena semakin pendek rute yang dilalui, maka biaya yang dikeluarkan juga akan lebih sedikit, terutama dari segi biaya bahan bakar. Selain itu, ketepatan pengiriman juga akan dapat dilakukan dengan baik karena jarak yang pendek akan menghasilkan waktu pengiriman yang pendek pula.
Untuk memudahkan perusahaan dalam menyelesaikan masalah distribusi, perusahaan dapat berinvestasi pada beberapa software yang secara khusus berfungsi untuk menyelesaikan Vehicle Routing Problem (VRP), seperti Locus, Samsara, Geotab, dan PTV Group.
This research is a descriptive analysis research on Illona tissue products from PT Juragan Gemilang Indonesia in the city of Purwokerto. This research takes the title: “Analysis of Distribution Efficiency of Illona Tissue Products with the Saving Matrix
& Nearest Neighbor Method” The purpose of this research is to analyze the most optimal delivery route in the distribution process of Illona tissue products from warehouse to outlet. The analysis process takes into account the shipping distance, shipping travel time, and costs incurred during the shipping process.
This research was conducted at PT Juragan Gemilang Indonesia located in Purwokerto city from August to December 2024, the research focused on Illona tissue products using two analysis methods, namely saving matrix and nearest neighbor method. Saving matrix serves to identify savings in delivery routes based on existing delivery route schedules, then combined into the same route to increase distribution efficiency. Meanwhile, the nearest neighbor method serves to sort outlet visits from the first visited to the last outlet with the warehouse as the zero point and return point. nalysis with the two methods needs to go through several stages, such as identifying the distance matrix, savings matrix, route merging, and route sorting from the nearest point. The combination of these two methods resulted in savings in the number of routes from 11 to 8 routes and several other savings, such as 44.49% (2,540 km to 1,410 km) for distance, 33.61% (3,904 minutes to 2,592 minutes) for time, and 44.49% (Rp1,727,200 to Rp 958,800) for cost.
The results of this study are used as alternative input and reference for companies in scheduling distribution routes for Illona tissue products so that they can identify potential efficiencies and create more
optimaldistribution routes
by considering distance, time, and cost in the process which will have an impact on company profits, this can also increase competitiveness because it will reduce COGS because because the shorter the route traveled, the less costs will be, especially in terms of fuel costs. In addition, the accuracy of delivery will also be well done because the short distance will result in a short delivery time as well.
To make it easier for companies to solve distribution problems, companies can invest in several software that specifically functions to solve the Vehicle Routing Problem (VRP), such as Locus, Samsara, Geotab, and PTV Group.
4433847711F2C021002Analisis Komunikasi Pemberdayaan Dalam Pemulihan Penyalahgunaan Narkoba Melalui Intervensi Berbasis MasyarakatAbstrak
Penelitian ini mengkaji peran komunikasi pemberdayaan dalam program rehabilitasi penyalahgunaan
narkoba berbasis masyarakat di perdesaan Kabupaten Banyumas, khususnya di Desa Karangtengah.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara
mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive sampling, terdiri dari delapan
informan utama dan tiga informan pendukung. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian, dan
penarikan simpulan/verifikasi. Uji keabsahan data diuji melalui triangulasi dengan cara membandingkan
hasil observasi dengan data wawancara mendalam dari berbagai sumber. Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan budaya dan kearifan lokal, memetakan pola komunikasi antar pemangku kepentingan
yang terlibat dalam pencegahan dan rehabilitasi penyalahgunaan narkoba, dan menganalisis bagaimana
komunikasi pemberdayaan dilakukan dalam masyarakat desa. Desa Karangtengah dipilih oleh Badan
Narkotika Nasional (BNNK) Kabupaten Banyumas sebagai pilot project Program Intervensi Berbasis
Masyarakat (IBM) karena statusnya sebagai desa penyangga wisata sehingga rentan terhadap pengaruh
penyalahgunaan narkoba. Program ini memanfaatkan Agen Pemulihan (AP), sebuah tim yang terdiri dari
lima relawan yang didedikasikan untuk membantu individu yang mengalami masalah penyalahgunaan
narkoba ringan. Temuan ini menyoroti bahwa dinamika komunikasi desa secara signifikan dibentuk oleh
struktur sosial, mata pencaharian, dan lembaga masyarakat, yang semuanya memainkan peran penting
dalam interaksi sehari-hari. Proses komunikasi pemberdayaan difasilitasi melalui berbagai layanan IBM,
termasuk sosialisasi, pemetaan, penjangkauan, dan pendampingan. Studi ini menunjukkan bahwa
komunikasi yang efektif sangat penting dalam memengaruhi tindakan dalam masyarakat pedesaan, dengan
kearifan lokal sebagai elemen dasar. Dengan meningkatkan kearifan local dan mempromosikan
pemberdayaan diri kolektif, komunikasi yang efektif mendorong keterlibatan masyarakat dalam
pengembangan dan kemajuan mereka, khususnya dalam inisiatif rehabilitasi narkoba berbasis masyarakat.
Penelitian ini berkontribusi pada ilmu komunikasi dengan menunjukkan kemanjuran komunikasi
pemberdayaan yang berakar pada kearifan lokal, sehingga mendorong keterlibatan masyarakat pedesaan
dalam upaya rehabilitasi narkoba.
Kata kunci: Komunikasi Pemberdayaan, Masyarakat Pedesaan, Agen Pemulihan, Rehabilitasi Narkoba,
Kearifan Lokal
Abstract
This research investigates the role of empowerment communication in a community-based rehabilitation
program for substance abuse in rural Banyumas Regency, specifically focusing on Karangtengah Village.
Adopting a descriptive qualitative method. Data were collected through in-depth interviews, observations, and
documentation. Informants were selected using purposive sampling, consisting of eight primary informants
and three supporting informants. Data analysis was performed through data reduction, display, and
conclusion drawing/verification. The validity of the data was tested through triangulation by comparing
observation results with in-depth interview data from various sources. The study aims to describe the local
culture and wisdom, map the communication patterns among stakeholders involved in drug abuse prevention
and rehabilitation, and analyze how empowerment communication is conducted within the village
community. Karangtengah Village was selected by the Banyumas Regency National Narcotics Board (BNNK)
as a pilot project for the Community-Based Intervention (IBM) Program due to its status as a tourist buffer
village, making it susceptible to drug abuse influences. The program utilizes Recovery Agents (AP), a team of
five volunteers dedicated to assisting individuals experiencing mild drug abuse issues. The findings highlight
that the village's communication dynamics are significantly shaped by social structures, livelihoods, and
community institutions, all of which play crucial roles in daily interactions. The empowerment communication
process is facilitated through various IBM services, including socialization, mapping, outreach, and mentoring.
The study demonstrates that effective communication is pivotal in influencing actions within rural
communities, with local wisdom serving as foundational elements. By enhancing social capital and promoting
collective self-empowerment, effective communication fosters community involvement in their development
and progress, particularly in community-based drug rehabilitation initiatives. This research contributes to
communication science by showcasing the efficacy of empowerment communication rooted in local wisdom,
thereby encouraging rural community engagement in drug rehabilitation efforts.
Keywords: Empowerment Communication, Rural Community, Recovery Agents, Drugs Rehabilitation, Local
Wisdom
4433947712C1C021060Pengaruh Kinerja Keuangan, Tekanan Pemangku Kepentingan dan Ketaatan Terhadap Regulasi Terhadap Pengungkapan KeberlanjutanPenelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat pengaruh positif kinerja keuangan, tekanan pemangku kepentingan dan ketaatan terhadap regulasi terhadap pengungkapan keberlanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan dan laporan keberlanjutan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2021-2023 dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan regresi linier dan hasilnya menunjukkan bahwa secara parsial kinerja keuangan dan ketaatan terhadap regulasi tidak berpengaruh terhadap pengungkapan keberlanjutan. Tekanan pemangku kepentingan berpengaruh positif terhadap pengungkapan keberlanjutan.This study aims to determine whether there is a positive effect of financial performance, stakeholder pressure and regulatory compliance on sustainability disclosure. This research uses quantitative methods. The data used is secondary data obtained from annual financial reports and sustainability reports. The population in this study are banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the period 2021-2023 using purposive sampling method. Data analysis using linear regression and the results show that partially financial performance and compliance with regulations have no effect on sustainability disclosure. Stakeholder pressure has a positive effect on sustainability disclosure.
4434047713C1G021009DETERMINANTS OF COMPETITIVENESS IN REGENCY/CITY AREAS IN CENTRAL JAVA PROVINCE IN 2018-2023Penelitian ini melihat seberapa pengaruh variabel independen yang terdiri dari penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja, panjang jalan, persentase penduduk yang memiliki jaminan kesehatan BPJS, dan PDRB atas harga konstan 2010 terhadap Indeks Daya Saing Daerah di Provinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini selain untuk mengetahui pengaruh keempat variabel independen secara bersama-sama dan secara parsial terhadap Indeks Daya Saing Daerah di Provinsi Jawa tengah.
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif, dengan metode pengumpulan data sekunder. Data yang diambil berupa data tahun 2018-2023 dari 34 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan analisis regresi data panel.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja, panjang jalan, persentase penduduk yang memiliki jaminan kesehatan BPJS, dan PDRB atas harga konstan 2010 secara bersama-sama berpengaruh terhadap indeks daya saing daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Adapun secara parsial variabel persentase penduduk yang memiliki jaminan kesehatan BPJS berpengaruh negatif dan signifikan terhadap indeks daya saing daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Variabel penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja, panjang jalan, dan PDRB atas harga konstan 2010 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap indeks daya saing daerah.
Impilkasi dari penelitian ini yaitu pertama, pemerintah kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah sebaiknya mulai meningkatkan kegiatan yang lebih memfokuskan masyarakat untuk memahami jenis jaminan kesehatan yang sesuai karena pengaruh variabel Persentase penduduk yang memiliki jaminan kesehatan BPJS yang terbukti berpengaruh dan signifikan terhadap Indeks Daya Saing Daerah di Provinsi Jawa Tengah, Kedua, pemerintah perlu meningkatkan kualitas layanan BPJS, termasuk memperbaiki waktu tunggu, ketersediaan fasilitas, dan profesionalisme tenaga kesehatan. Ketiga, Pemerintah daerah harus berfokus pada pelatihan keterampilan berbasis kebutuhan pasar tenaga kerja lokal untuk meningkatkan produktivitas, bukan hanya kuantitas tenaga kerja. Keempat, Peningkatan kualitas jalan, termasuk jalan beraspal dan jalur utama ekonomi, untuk mendukung konektivitas antarwilayah. Kelima, Pemerintah perlu memastikan bahwa peningkatan PDRB tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.
This study examines the influence of independent variables consisting of population aged 15 years and over who work, road length, percentage of population who have BPJS health insurance, and GRDP at constant 2010 prices on the Regional Competitiveness Index in Central Java Province. The purpose of this study is to determine the influence of the four independent variables together and partially on the Regional Competitiveness Index in Central Java Province.
The type of research used is quantitative research, with secondary data collection methods. The data taken is data for 2018-2023 from 34 districts / cities in Central Java Province. The research method used is panel data regression analysis.
Based on the results of the study, it is known that the population aged 15 years and over who work, the length of the road, the percentage of people who have BPJS health insurance, and GRDP at constant 2010 prices jointly affect the competitiveness index of districts / cities in Central Java Province. Partially, the variable percentage of the population that has BPJS health insurance has a negative and significant effect on the competitiveness index of districts / cities in Central Java Province. The variables of population aged 15 years and over who work, road length, and GRDP at constant 2010 prices do not significantly affect the regional competitiveness index.
The implications of this research are first, the district / city government of Central Java Province should start increasing activities that focus more on the community to understand the appropriate type of health insurance because of the influence of the variable Percentage of population who have BPJS health insurance which is proven to have a significant effect on the Regional Competitiveness Index in Central Java Province, Second, the government needs to improve the quality of BPJS services, including improving waiting times, availability of facilities, and professionalism of health workers. Third, local governments should focus on skills training based on local labour market needs to increase productivity, not just the quantity of labour. Fourth, improve the quality of roads, including paved roads and main economic routes, to support inter-regional connectivity. Fifth, the government needs to ensure that the increase in GRDP is not only concentrated in certain regions.