Artikelilmiahs
Menampilkan 40.181-40.200 dari 48.905 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 40181 | 44568 | K1B020052 | Persamaan Subdifusi-Kemotaksis dengan Turunan Fraksional Konformabel | Penelitian ini membahas mengenai penurunan persamaan difusi-kemotaksis dengan turunan fraksional konformabel dan penyelesaian persamaannya dalam ruang multidimensi. Penurunan persamaan difusi-kemotaksis diperoleh dari proses gerak acak waktu kontinu yang dipengaruhi oleh pengaruh eksternal dengan menggunakan turunan fraksional konformabel, transformasi Laplace fraksional, dan menggunakan ukuran peluang pada bola satuan multidimensi-n, yaitu 𝑆^(𝑛−1). Sementara itu, penyelesaian persamaannya diperoleh dengan menggunakan transformasi Laplace fraksional dan transformasi Fourier multidimensi. Model matematika yang diperoleh menggambarkan pergerakan acak partikel yang bergerak secara difusif dan dipengaruhi secara kemotaksis oleh atraksi atraktan. Simulasi numerik dari penyelesaian persamaannya pada kasus satu dan dua dimensi juga menunjukkan fakta bahwa pergerakan partikel dalam difusi-kemotaksis konformabel lebih lambat dibandingan pergerakan partikel dalam difusikemotaksis biasa. | This research discusses the derivation of the conformable fractional diffusionchemotaxis equation and the solution of the equation in multidimensional space. The derivation of the diffusion-chemotaxis equation is obtained from a continuous-time random walk process influenced by external factors using conformable fractional derivatives, fractional Laplace transformation, and probability measures on the multidimensional unit sphere 𝑆^(𝑛−1). Meanwhile, the solution to the equation is obtained using fractional Laplace transformation and multidimensional Fourier transformation. The mathematical model obtained describes the random movement of particles diffusing and influenced by chemotaxis attraction. Numerical simulations of the solution in one and two dimensions also indicate that the particle movement in comformable diffusion-chemotaxis is slower compared to regular diffusion-chemotaxis. | |
| 40182 | 42496 | E1A019197 | WALI ADHAL KARENA PENOLAKAN WALI NASAB ATAS DASAR SURAT WASIAT (Tinjauan Putusan Perkara Nomor 0126/Pdt.P/2022/PA.Bwi) | Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan dalam hal penolakan atau enggannya wali nasab dikarenakan adanya surat wasiat yang berisi perintah untuk menolak menjadi wali nikah apabila Pemohon tetap bersikeras menikah dengan calon suami pilihannya, sebagaimana kasus yang terjadi di daerah Banyuwangi dalam Putusan Nomor 0126/Pdt.P/2022/PA.Bwi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari studi kepustakaan. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk teks naratif dengan menggunakan metode analisis normatif kualitatif. Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa Majelis Hakim telah mengabulkan permohonan wali adhal karena penolakan wali nasab atas dasar surat wasiat. Hakim mendasarkan pada ketentuan Pasal 23 Instruksi Presiden No 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam dan Pasal 2 ayat 2 Peraturan Menteri Agama Nomor Nomor 30 Tahun 2005, yang pada intinya menyatakan apabila wali nasab calon mempelai wanita adhal maka pernikahan dilangsungkan oleh wali hakim. Menurut peneliti, alasan penolakan wali nasab atas surat wasiat tidak bersifat syar’i, karena tidak bersifat syar’i maka permohonan wali adhal dikabulkan hakim. Oleh karena itu wali nasabnya digantikan kepada wali hakim, hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Kompilasi Hukum Islam. Akibat hukum yang timbul dari dikabulkannya permohonan wali adhal yaitu berpindahnya wali nikah dari wali nasab kepada wali hakim. Dalam pelaksanaanya perkawinan karena wali adhal, wali hakim tetap akan menawarkan kembali kepada wali nasabnya untuk menikahkan calon mempelai wanita. Apabila wali nasab tetap menolak maka akan dilaksanakan dengan menggunakan wali hakim. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang di atur dalam Pasal 5 Peraturan Menteri Agama Nomor 30 tahun 2005 tentang Wali Hakim. | Guardian in Islamic marriage law is one of the pillars that must be fulfilled in a marriage. The existence of a guardian who refuses or is unwilling to marry his daughter is called a guardian adhal. This research is motivated by problems in the rejection or reluctance of the guardian by reason of a testament due to the existence of a letter of instruction that commands the rejection of becoming the guardian for marriage if the Applicant insists on marrying her chosen husband, such as a case that occurred in the Banyuwangi area in Decision Number 0126 / Pdt.P / 2022 / PA.Bwi. This research uses a normative juridical research method with descriptive analytical research specifications. The data source used is secondary data obtained from literature studies. The data obtained is presented in the form of narrative text using qualitative normative analysis methods. Based on the research data and discussions, it is shown that the Panel of Judges has granted the request for wali adhal due to the rejection of the wali nasab based on the letter of instruction that commands the refusal to act as the marriage guardian if the Applicant insists on marrying her chosen husband. The judge based this decision on the provisions of Article 23 of Presidential Instruction No. 1 of 1991 concerning the Compilation of Islamic Law and Article 2 number 2 of the Minister of Religious Affairs Regulation Number 2 of 1987 which has been amended by Minister of Religious Affairs Regulation Number 30 of 2005, which essentially states that if the guardian of the prospective female bride is adhal, then the marriage is conducted by the judge as the guardian. According to the researcher, the reason for the rejection of the wali nasab based on the letter of instruction is not of a religious nature, and because it is not of a religious nature, the request for wali adhal is granted by the judge. Therefore, the wali nasab is replaced by the judge as the guardian, in accordance with the provisions of Article 23 of the Compilation of Islamic Law. The legal consequence arising from the granting of the request for wali adhal is the transfer of the marriage guardian from the wali nasab to the judge as the guardian and must be in accordance with the decision of the Religious Court according to the provisions of Article 23 of the Compilation of Islamic Law. In the implementation of marriage due to wali adhal, the judge as the guardian will still offer the role back to the wali nasab to marry the prospective female bride. If the wali nasab still refuses, then it will be carried out with the judge as the guardian. This is in accordance with the provisions set forth in Article 5 of the Minister of Religious Affairs Regulation Number 30 of 2005 concerning the Judge as a Guardian. | |
| 40183 | 42497 | A1C019068 | ANALISIS PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU (PLTB) PADA PERTAMBAKAN UDANG VANAME DI WILAYAH PESISIR PANTAI CILACAP MENGGUNAKAN APLIKASI HOMER | Minat terhadap energi khususnya listrik, berkembang karena perkembangan populasi di Indonesia dan di seluruh dunia serta perubahan dalam perkembangan finansial dan cara hidup. Sebagai sumber daya terbarukan, energi terbarukan merupakan upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidup manusia. Pembangkit listrik tenaga angin merupakan salah satu sumber energi listrik yang cukup signifikan di Indonesia. Turbin angin saat ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik seperti berbudidaya di bidang pertambakan udang vaname karena digunakan untuk menggerakkan pompa kincir air. Penelitian ini melakukan simulasi perancangan sistem pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) sebagai sumber energi penggerak kincir air untuk pertambakan udang dengan menggunakan Hybrid Optimization Model For Electric Renewables (HOMER). Hasil penelitian menunjukkan kecepatan angin dengan rata-rata dalam satu tahun mencapai 4,026 m/s. Daya beban listrik pertambakan dengan jumlah beban 1420 W dengan jumlah daya per hari sebesar 24,48 kW. Total capital pada simulasi yaitu Rp. 157.250.000,00 untuk 2 buah turbin AWS HC 1.8kW, satu buah baterai EnerSys PowerSafe SBS 580, satu buah konverter kapasitas 3kW. Biaya replacement sebesar Rp. 36.044.519,05 dan harga sisa komponen (salvage) sebesar Rp. 14.753.416,17 Biaya O&M untuk kedua buah turbin dan konverter sebesar Rp. 40.657.039,54. Total NPC di total keseluruhan biaya sebesar Rp. 219.198.142,43. Total production pada hasil simulasi menunjukkan total produksi energi yang dihasilkan oleh turbin angin selama satu tahun, besarnya total production pada sistem yaitu 5.178 kWh/tahun. Nilai levelized cost of energy (COE) pada sistem Rp. 3,780,18. | Interest in energy, especially electricity, is growing due to population growth in Indonesia and around the world as well as changes in financial developments and ways of life. As a renewable resource, renewable energy is an effort made to meet human needs and survival. Wind power plants are a significant source of electrical energy in Indonesia. Wind turbines are currently used to meet electricity needs such as cultivating vaname shrimp farming because they are used to drive water wheel pumps. This research simulates the design of a wind power generation system (PLTB) as an energy source to drive waterwheels for shrimp farming using the Hybrid Optimization Model For Electric Renewables (HOMER). The research results show that the average wind speed in one year reaches 4,026 m/s. The farm's electrical load capacity is 1420 W with a total power per day of 24.48 kW. The total capital in the simulation is Rp. 157,250,000.00 for 2 AWS HC 1.8kW turbines, one EnerSys PowerSafe SBS 580 battery, one 3kW capacity converter. The replacement cost is Rp. 36,044,519.05 and the price of the remaining components (salvage) is Rp. 14,753,416.17 O&M costs for the two turbines and converters are Rp. 40,657,039.54. The total NPC cost is IDR. 219,198,142.43. The total production in the simulation results shows the total energy production produced by the wind turbine for one year, the total production in the system is 5,178 kWh/year. The levelized cost of energy (COE) value in the system is Rp. 3,780.18. | |
| 40184 | 42502 | F1F019021 | IMPLEMENTASI PROKLIM DI DESA SEBAGAI UPAYA PERCEPATAN PENCAPAIAN SDGS KE-13: STUDI KASUS DESA REMPOAH | ProKlim adalah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat desa. Program ini sejalan dengan salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yaitu SDGs ke 13 tentang tindakan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi ProKlim di Desa Rempoah, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sebagai upaya percepatan pencapaian SDGs ke 13. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan melalui website. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi ProKlim di Desa Rempoah telah berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian desa. Beberapa kegiatan proklim yang dilakukan di Desa Rempoah antara lain adalah pengelolaan sampah, penghematan energi, penanaman pohon, pengembangan pertanian organik, dan pemberdayaan masyarakat. Faktor-faktor yang mendukung implementasi ProKlim di Desa Rempoah adalah adanya dukungan dari pemerintah, partisipasi aktif dari masyarakat, kesadaran akan pentingnya perlindungan lingkungan, dan keterlibatan berbagai pihak. Kendala yang dihadapi dalam implementasi ProKlim di Desa Rempoah adalah kurangnya sumber daya manusia, anggaran, dan sarana prasarana. Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah terus memberikan bantuan dan fasilitasi kepada Desa Rempoah dalam menjalankan proklim, serta melakukan sosialisasi dan monitoring secara berkala. Selain itu, masyarakat Desa Rempoah harus terus meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam mengembangkan ProKlim, serta menjaga kerjasama dan komunikasi antara berbagai pihak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang proklim dan SDGs, serta memberikan masukan bagi pemerintah dan masyarakat dalam upaya percepatan pencapaian SDGs ke-13 | ProKlim is a government program that aims to increase climate change adaptation and mitigation capacity at the village level. This program is in line with one of the sustainable development goals (SDGs), namely SDGs 13 concerning climate action. This research aims to determine the implementation of ProKlim in Rempoah Village, Banyumas Regency, Central Java, as an effort to accelerate the achievement of SDGs 13. The research method used is a qualitative method with a case study approach. Data was collected through interviews, observations, and via websites. The research results show that the implementation of ProKlim in Rempoah Village has gone well and has had a positive impact on the community, environment and village economy. Some of the pro-climate activities carried out in Rempoah Village include waste management, energy saving, tree planting, organic farming development, and community empowerment. Factors that support the implementation of ProKlim in Rempoah Village are support from the government, active participation from the community, awareness of the importance of environmental protection, and involvement of various parties. The obstacles faced in implementing ProKlim in Rempoah Village are the lack of human resources, budget and infrastructure. This research recommends that the government continue to provide assistance and facilitation to Rempoah Village in implementing the climate change program, as well as carrying out regular outreach and monitoring. Apart from that, the Rempoah Village community must continue to increase creativity and innovation in developing ProKlim, as well as maintaining cooperation and communication between various parties. It is hoped that this research can contribute to the development of science, especially regarding climate and SDGs, as well as providing input for the government and society in efforts to accelerate the achievement of the 13th SDGs. | |
| 40185 | 42503 | F1F018064 | Peran African Union Dalam Menangani Kasus Kekerasan Seksual Oleh Anggota African Union Mission in Somalia (AMISOM) Di Somalia Tahun 2014 | Somalia merupakan salah satu contoh dampak konflik internal yang terus berlangsung. Konflik antarpihak yang memperebutkan kekuasaan dan pengaruh telah membuat negara ini dalam keadaan tidak stabil selama beberapa dekade. Oleh karena itu, African Union membentuk suatu misi perdamaian untuk mengatasi konflik tersebut. Misi perdamian tersebut disebut dengan African Union Mission in Somalia (AMISOM). Dalam menjalankan operasinya, oknum- oknum pasukan AMISOM menggunakan kekuasaan mereka untuk melecehkan kaum perempuan disana. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif dideskripsikan sebagai suatu penelitian yang memiliki fungsi untuk menyelidiki, menggambarkan, dan menjelaskan peran dari African Union sebagai organisasi internasional dalam menangani kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pasukan penjaga perdamaian African Union Mission in Somalia (AMISOM) terhadap masyarakat sipil Somalia dalam situasi konflik disana. Pasukan AMISOM yang dikerahkan ke Somalia sejak tahun 2007 untuk membantu memulihkan stabilitas di Mogadishu, telah menyalahgunakan posisi kekuasaan mereka untuk mengekspolitasi wanita dan anak dibawah umur. Mereka juga telah melakukan tindakan pemerkosaan dan bentuk pelecehan seksual lainnya, serta eksploitasi seksualRespon African Union dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai organisasi internasional dalam menangani kasus kekerasan seksual oleh pasukan AMISOM masih dirasa kurang efektif. Hal ini dapat dilihat dari laporan investigasi yang dilakukan oleh African Union tidak menemukan bukti-bukti yang kuat dalam menyelesaikan kasus tersebut. | Somalia is an example of the impact of ongoing internal conflict. Conflict between parties fighting for power and influence has kept the country in a state of instability for decades. Therefore, the African Union formed a peace mission to resolve this conflict. The peace mission is called the African Union Mission in Somalia (AMISOM). In carrying out their operations, elements of the AMISOM troops used their power to harass women there. In this research, the author used qualitative research methods. Qualitative methods are described as research that has the function of investigating, describing and explaining the role of African Union as an international organization in handling cases of sexual violence committed by African Union Mission in Somalia (AMISOM) peacekeeping troops against Somali civilians in conflict situations there. AMISOM troops deployed to Somalia since 2007 to help restore stability in Mogadishu, have abused their position of power to exploit women and minors. They have also committed acts of rape and other forms of sexual harassment, as well as sexual exploitation. African Union's response in carrying out its role and function as an international organization in handling cases of sexual violence by AMISOM troops is still considered to be less effective. This can be seen from the investigation report carried out by the African Union which did not find strong evidence to solve the case. | |
| 40186 | 42504 | F1D020071 | Gender dan Politik Tubuh: Wacana Pelabelan Negatif terhadap Cara Berpakaian Perempuan di Indonesia | Berbagai ketidakadilan gender masih marak terjadi di Indonesia, khususnya mengenai subordinasi dan stereotipe terhadap kaum perempuan. Penindasan berbasis gender ini dialami oleh kaum perempuan melalui berbagai hal, salah satunya dari bagaimana mereka berpakaian. Artikel mengenai gender dan politik tubuh ini menggunakan analisis wacana historis untuk melihat pergeseran budaya dan cara berpakaian perempuan di Indonesia serta kecenderungan munculnya wacana pelabelan negatif terhadap cara berpakaian tersebut. Data yang dikumpulkan dalam artikel ini berupa wacana dalam jurnal, cerpen, dan konten media sosial, ditemukan kesesuaian sumber wacana dengan realitas yang ada bahwa kaum perempuan masih mendapat berbagai tekanan dari lingkungannya terhadap bagaimana mereka berpenampilan dan berpakaian. Wacana tersebut menunjukkan terjadinya politik tubuh perempuan yang memposisikan perempuan sebagai bagian dari objek visual yang dikuasai oleh subjek kekuasaan dengan bentuk pengendalian atas dominasi. Pembatasan demi pembatasan diberikan pada ruang gerak perempuan dalam bentuk ekspresi berpenampilan perempuan demi mengikuti standar masyarakat. Pada akhirnya, pelabelan negatif terhadap perempuan sebagai pribadi yang baik atau buruk, cantik atau jelek, dan bermoral atau amoral, dinilai dari bagaimana mereka memilih pakaiannya. | Various gender injustices are still widespread in Indonesia, especially regarding subordination and stereotypes against women. Women experience gender-based oppression through various things, one of which is how they dress. This article on gender and body politics uses historical discourse analysis to look at cultural shifts and the way women dress in Indonesia as well as the tendency for negative labeling discourse to emerge regarding this way of dress. The data collected in this article took the form of discourse in journals, short stories and social media content. It was found that the sources of discourse were in line with the existing reality that women still receive various pressures from their environment on how they look and dress. This discourse shows the occurrence of women's body politics which positions women as part of the visual object controlled by the subject of power with a form of control over domination. Restrictions upon restrictions are placed on women's movement in the form of expression of female appearance in order to comply with community standards. In the end, the negative labeling of women as good or bad, beautiful or ugly, and moral or immoral, is judged by how they choose their clothes. | |
| 40187 | 44569 | H1D017035 | Klasifikasi Teks untuk Pengelompokan Kategori Aduan dalam Sistem Lapak Aduan Banyumas menggunakan IndoBERT | Sistem Lapak Aduan Banyumas merupakan sistem informasi berbasis web yang mengelola aduan, keluhan atau pertanyaan terkait pelayanan publik di wilayah Kabupaten Banyumas, di mana aduan-aduan tersebut berasal dari media sosial. Dalam sistem ini, proses untuk menentukan atau mengelompokan kategori aduan terhadap aduan-aduan yang masuk dilakukan secara manual. Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi cara untuk menyederhanakan proses tersebut dengan memanfaatkan teknologi klasfikasi teks. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah pengklasifikasi teks yang dapat mengelompokan aduan-aduan ke dalam kategori-kategori yang tepat secara sistematis dan terkomputerisasi. Sebuah pengklasifikasi teks memerlukan sebuah algoritma atau model pembelajaran mesin. Pengklasifikasi teks pada penelitian ini menggunakan model IndoBERT. Analisis kinerja menggunakan confusion matrix menunjukkan bahwa pengklasifikasi teks mencapai kinerja yang cukup baik. Analisis menunjukkan bahwa pengklasifikasi teks memiliki nilai akurasi rata-rata sebesar 91,6%. | Sistem Lapak Aduan Banyumas is a web-based information system that manages complaints or questions related to public services within the Banyumas district, where these complaints originate from social media. In this system, the process of determining or grouping complaint categories for incoming complaints is done manually. This research aims to explore a way to streamline that process by leveraging text classification technology. The outcome of this research is a text classifier that is capable of grouping complaints into appropriate categories in a systematic and computerized manner. A text classifier requires a machine learning algorithm or model. The text classifier in this research uses the IndoBERT model. Performance analysis utilizing confusion matrix shows that the text classifier achieves decent performance. The analysis shows that the text classifier has an average accuracy value of 91,6%. | |
| 40188 | 42498 | F1A018093 | MAHASISWA PURWOKERTO KEKINIAN: BELAJAR DI KAFE, BEKERJA DI KAFE | Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan pengalaman mahasiswa yang belajar dan mahasiswa yang bekerja di kafe. Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa semakin banyaknya kafe menimbulkan budaya baru yang menjamur di kalangan mahasiswa, yaitu melakukan segala kegiatan di kafe mulai dari berkumpul bersama teman, sekedar bersantai baik sendirian atau berkelompok, bahkan melakukan kegiatan belajar di kafe. Semakin banyakya kafe juga membuka lapangan pekerjaan baru yang umumnya memiliki sistem kerja part time. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan teori fenomonologi Littlejohn dan teori konsumsi Baudrillard. Fenomenologi Littlejohn berfokus pada penampakan suatu objek, peristiwa, atau suatu kondisi dalam persepsi kita yang dimana pengetahuan berasal dari pengalman yang disadari, dalam persepsi kita. Sedangkan teori konsumsi Baudrillard berfokus pada hal yang dikonsumsi oleh masyarakat konsumeris bukanlah kegunaan dari suatu produk, melainkan citra atau pesan yang melekat pada suatu produk sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak pernah merasa puas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan utama dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang belajar di kafe dan mahasiswa yang bekerja di kafe. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya fasilitas working space di kafe sangat membantu mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar, selain itu, maraknya kafe yang menawarkan kerja part time kerap dijadikan mahasiswa untuk mendapatkan uang tambahan. | This research aims to describe and explain the experiences of students who study and students who work in cafes. This research starts from the assumption that the increasing number of cafes has given rise to a new culture that is mushrooming among students, namely doing all kinds of activities in cafes, from hanging out with friends, just relaxing either alone or in groups, even doing activities. learning activities in the cafe. The increase in the number of cafes also opens up new job opportunities which generally have a part-time work system. This research uses qualitative methods and uses Littlejohn's phenomonology theory and Baudrillard's consumption theory. Littlejohn's phenomenology focuses on the appearance of an object, event, or condition in our perception where knowledge comes from conscious experience, in our perception. Meanwhile, Baudrillard's consumption theory focuses on what is consumed by consumerist society, not on the use of a product, but on the image or message attached to a product so that society as consumers never feels satisfied. This study uses a qualitative method. The main informants in this research were students who studied in cafes and students who worked in cafes. The research results show that the existence of work space facilities in cafes really helps students in carrying out study activities, apart from that the rise of cafes that offer part-time work is often used by students to earn extra money. | |
| 40189 | 44822 | A1D020084 | HUBUNGAN ANTARA BEBERAPA KARAKTER PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG HIJAU DENGAN APLIKASI LIMBAH TONGKOL JAGUNG DAN LIMBAH BAGLOG | Luas panen dan jumlah produksi kacang hijau di Indonesia beberapa tahun lalu mengalami fluktuasi. Upaya yang dilakukan dapat berupa aplikasi kompos limbah tongkol jagung dan baglog sehingga pertumbuhan kacang hijau dapat optimal. Penelitian ini dilaksanakan di Screenhouse Fakultas Pertanian Unsoed, Rumah Produksi Jamur Purwanegara, Desa Singasari, Laboratorium Agroekologi, dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura pada September 2023-Februari 2024. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktorial dengan 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, bobot kering akar, jumlah cabang produktif 50 HST, jumlah polong hampa, bobot 100 biji, dan bintil akar panen. Berdasarkan hasil penelitian, aplikasi kompos limbah tongkol jagung belum mampu meningkatkan karakter pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Aplikasi kompos limbah baglog belum mampu meningkatkan karakter pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Aplikasi kompos limbah tongkol jagung dan baglog tidak berdampak terhadap karakter pertumbuhan dan hasil kacang hijau. | The harvested area and amount of mungbean production in Indonesia has fluctuated in the past few years. Efforts can be made in the form of the application of compost from corncob and baglog waste so that the growth of mungbean can be optimal. This research was carried out at the Unsoed Faculty of Agriculture Screenhouse, Purwanegara Mushroom Production House, Singasari Village, Agroecology Laboratory, and Agronomy and Horticulture Laboratory in September 2023-February 2024. The experimental design used was a 2 factorial Randomized Group Design (RGD) with 9 treatment combinations and 3 repetitions. The variables observed were plant height, dry root weight, number of productive branches at 50 DAT, number of empty pods, weight of 100 seeds, and harvested root nodules. Based on the research results, the application of corn cob waste compost has not been able to increase the growth characteristics and yield of mungbeans. The application of baglog waste compost has not been able to increase the growth characteristics and yield of mungbeans. The application of corncob and baglog waste compost did not have an impact on the growth characteristics and yield of mungbeans. | |
| 40190 | 45930 | I1D020081 | HUBUNGAN KECUKUPAN ZAT BESI HEME, NON HEME, DAN TANIN, SERTA KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI (Studi di SMP Negeri 6 Purwokerto) | Latar Belakang: Remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia. Faktor risiko terjadinya anemia pada remaja putri diantaranya adalah defisiensi asupan zat besi, konsumsi faktor penghambat penyerapan zat besi, dan KEK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecukupan zat besi heme, non heme, dan tanin, serta KEK dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Negeri 6 Purwokerto. Metodologi: Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan 70 sampel yang diperoleh dengan teknik cluster random sampling. Penelitian dilaksanakan bulan Mei 2024 pada remaja putri di SMP Negeri 6 Purwokerto. Data asupan zat besi heme, non heme, dan tanin diambil dengan SQ-FFQ, kejadian KEK diketahui melalui pengukuran LiLA, dan kejadian anemia diketahui melalui pengukuran kadar hemoglobin menggunakan Sejoy HB-101. Analisis bivariat menggunakan Fisher Exact test. Hasil Penelitian: Sebanyak 98,6% responden memiliki asupan zat besi heme kurang, 84,3% memiliki asupan zat besi non heme cukup, 81,4% memiliki asupan tanin berlebih, 4,29% mengalami KEK, dan 70% mengalami anemia. Tidak terdapat hubungan antara kecukupan zat besi heme (p>0,05) dan KEK (p>0,05) dengan kejadian anemia serta terdapat hubungan antara kecukupan zat besi non heme (p<0,05) dan tanin (p<0,05) dengan kejadian anemia. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara kecukupan zat besi heme dan KEK dengan kejadian anemia, namun terdapat hubungan antara kecukupan zat besi non heme dan tanin dengan kejadian anemia. | Background: Adolescent girls are a vulnerable group for experiencing anemia. Risk factors for anemia in adolescent girls include deficiencies in iron intake, consumption of substances that inhibit iron absorption, and CED. This study aimed to determine the relationship between the adequacy of heme iron, non-heme iron, and tannins, as well as CED, with the incidence of anemia among adolescent girls at SMP Negeri 6 Purwokerto. Methods: The study used a cross-sectional design with 70 samples obtained by cluster random sampling technique. The study was conducted in May 2024 on adolescent girls at SMP Negeri 6 Purwokerto. Data on heme, non heme, and tannin iron intake were taken with SQ-FFQ, while CED was assessed through LiLA measurements, and anemia incidence was determined by measuring hemoglobin level with Sejoy HB-101. Bivariate analysis used Fisher Exact test. Results: A total of 98.6% of respondents had insufficient heme iron intake, 84.3% had sufficient non-heme iron intake, 81.4% had excessive tannin intake, 4.29% had CED, and 70% had anemia. There was no relationship between heme iron adequacy (p>0.05) and CED (p>0.05) with the incidence of anemia, while there was a relationship between non-heme iron adequacy (p<0.05) and tannin adequacy (p<0.05) with the incidence of anemia. Conclusion: There was no relationship between sufficient heme iron adequacy and CED with the incidence of anemia. However, there were a significant relationship between sufficient non-heme iron adequacy and tannin adequacy with the incidence of anemia. | |
| 40191 | 45931 | F1B019102 | EFEKTIVITAS PENERAPAN TILANG ELEKTRONIK PADA SATUAN LALU LINTAS POLRESTA BANYUMAS | Tilang elektronik adalah penerapan kamera pemantau berteknologi canggih untuk mengontrol pelanggaran lalu lintas di sejumlah ruas jalan. Tujuan program tilang elektronik ini untuk memantau pengendara di jalan raya, meminimalisir pungutan liar, dan menjadikan pengendara tertib peraturan lalu lintas. Penelitian ini menggunakan konsep efektivitas dengan indikator pengukuran menurut Campbell J. P (1989), yaitu keberhasilan program, keberhasilan sasaran, kepuasan terhadap program, dan pencapaian tujuan umum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan ini adalah teknik purposive sampling. Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik validitas data dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan tilang elektronik sudah berjalan dengan baik menggunakan alat handheld dan CCTV. Dalam penerapan tilang elektronik, masyarakat memahami terkait mekanisme pembayaran denda melalui sosialisasi dan sosial media. Tilang elektronik ini juga menjadikan suatu program yang transparan dan bebas korupsi. | ABSTRACT Electronic ticketing is the application of advanced technology monitoring cameras to control traffic violations on a number of roads. The aim of this electronic ticketing program is to monitor drivers on the road, minimize illegal fees, and make drivers comply with traffic regulations. This research uses the concept of effectiveness with measurement indicators according to Campbell J. P (1989), namely program success, target success, satisfaction with the program, and achievement of general goals. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The informant selection technique is a purposive sampling technique. Data collection used was in-depth interviews, observation and documentation. The data analysis methods in this research are data collection, data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The data validity technique in this research is the triangulation technique. The research results show that the implementation of electronic ticketing has gone well using handheld devices and CCTV. In implementing electronic tickets, the public understands the mechanism for paying fines through socialization and social media. This electronic ticketing also makes it a transparent and corruption-free program. | |
| 40192 | 44570 | I1C020046 | Analisis Kemometrik Spektrofotometri Derivatif Fingerprinting untuk Autentikasi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) | Bawang merah varietas bima brebes memiliki permintaan yang tinggi di pasaran sehingga memicu pencampuran dengan varietas lain. Autentikasi perlu dilakukan untuk mengetahui keaslian bawang merah dan dapat dilakukan dengan spektrofotometri derivatif fingerprinting yang dikombinasikan dengan kemometrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spektra asli dan hasil derivatisasinya serta pengelompokkan untuk diskriminasi varietas-varietas bawang merah melalui analisis profil spektra derivatif fingerprinting dengan pendekatan kemometrik. Penelitian ini menggunakan sampel minyak atsiri tiga varietas bawang merah dan campurannya yang diuji dengan spektrofotometri UV-Vis dan dilakukan langkah derivatisasi spektra. Data spektra dilihat pola spektrumnya dari masing-masing sampel varietas bawang merah dan campurannya serta dianalisis lebih lanjut dengan kemometrik menggunakan tipe PCA dan PLS-DA. Spektra asli dan derivatnya menunjukkan kemiripan antar perlakuan sampel. Hasil analisis PCA dan PLS-DA menunjukkan pemisahan terbaik pada data derivat orde kedua dengan nilai total PC1 dan PC2 sebesar 62,2%; nilai total komponen 1 dan 2 sebesar 60,1%; VIP score terbesar pada panjang gelombang 225 nm; dan hasil PLS-DA tervalidasi tidak overfit dilihat dari hasil cross validation Q2/R2 yang cukup baik sebesar 0,693 serta uji permutasi yang signifikan. Spektrofotometri derivatif fingerprinting yang dikombinasikan dengan pendekatan kemometrik dapat mengelompokkan antar perlakuan sampel sehingga dapat diketahui keaslian suatu varietas bawang merah. | The Bima Brebes variety of shallots is in high demand in the market, leading to the mixing with other varieties. Authentication is necessary to know the authenticity of shallots, which can be achieved using derivative spectrophotometric fingerprinting combined with chemometrics. This study aims to determine original spectra and its derivatization results, as well as the classification for the discrimination of shallot varieties through derivative spectrophotometric fingerprinting analysis using a chemometric approach. This research utilized essential oil samples from three varieties of shallots and their mixtures, tested with UV-Vis spectrophotometry, followed by spectral derivatization. The spectral data were analyzed to identify the spectral patterns of each sample, including the individual varieties of shallots and their mixtucres, and further analyzed using chemometrics with PCA and PLS-DA. The original spectra and their derivatives showed similarities across the sample treatments. PCA and PLS-DA analysis indicated the best separation in the second-order derivative data, with a total PC1 and PC2 value of 62.2%; total component 1 and 2 value of 60.1%; the highest VIP score at a wavelength of 225 nm; and validated PLS-DA results that were not overfit, demonstrated by a satisfactory cross-validation Q2/R2 value of 0.693 and significant permutation test. Derivative spectrophotometry fingerprinting combined with a chemometric approach can classify different sample treatments, allowing the authenticity of a specific shallot variety to be determined. | |
| 40193 | 42500 | A1D019028 | PENGARUH APLIKASI PUPUK NPK-SR DENGAN PERBEDAAN GRADE P DAN JERAMI TERHADAP SERAPAN K DAN HASIL PADI SAWAH | Padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman pangan yang sangat penting di dunia, yang digunakan sebagai bahan pangan pokok khususnya di Indonesia dan memiliki peran untuk pemenuh kebutuhan akan karbohidrat dan protein. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan grade pupuk NPK-SR dan takaran jerami terbaik, serta mengetahui pengaruh interaksi antara grade pupuk NPK-SR dan takaran jerami terhadap serapan K dan hasil padi sawah. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2022 hingga Maret 2023 di Screen House, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 2 faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah pupuk majemuk NPK-SR pada perbedaan grade P antara lain K0 : tanpa pemberian pupuk (kontrol), K1 : pemberian P 0% dengan komposisi pupuk 15-0-7,5, K2 : pemberian P 5% dengan komposisi pupuk 15-5-7,5, K3 : pemberian P 10% dengan komposisi pupuk 15-10-7,5, K4 : pemberian P 15% dengan komposisi pupuk 15-15-7,5. Faktor kedua adalah takaran jerami antara lain J0 : tanpa pemberian jerami, dan J1 : pemberian jerami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan K1 dan K3 memiliki pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman padi sawah, seperti K1 memberikan pengaruh terhadap variabel tinggi tanaman, luas daun, jumlah anakan tanaman, jumlah anakan produktif, bobot tanaman kering, dan jumlah gabah berisi, sedangkan K3 memberikan pengaruh terhadap variabel bobot 100 gabah dan serapan K. Kemudian J1 memberikan pengaruh terbaik pada variabel K total, K tersedia, dan serapan K. Serta terdapat interaksi antara pupuk NPK-SR grade 15-0-7,5 tanpa pemberian jerami (K1J0) terhadap variabel luas daun pada tanaman padi sawah. | Rice (Oryza sativa L.) is a very important food crop in the world, which is used as a staple food, especially in Indonesia and has a role in meeting carbohydrate and protein needs. This research aims to obtain the best levels of NPK-SR fertilizer and straw dosage, and to determine the effect of the interaction between NPK-SR fertilizer levels and straw dosage on K uptake and lowland rice yields. This research was carried out from August 2022 to March 2023 at Screen House, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This study used a complete randomized block plan with 2 factors and three replications. The first factor is NPK-SR compound fertilizer with different P grades, including K0: no fertilizer application (control), K1: 0% P application with a fertilizer composition of 15-0-7.5, K2: 5% P application with a fertilizer composition of 15 -5-7.5, K3: giving 10% P with a fertilizer composition of 15-10-7.5, K4: giving 15% P with a fertilizer composition of 15-15-7.5. The second factor is the dose of straw, including J0: without giving straw, and J1: giving straw. The results of the research showed that K1 and K3 treatments had the best growth and results in lowland rice plants, such as K1 had an influence on the variables of plant height, leaf area, number of plant tillers, number of productive tillers, dry plant weight, and number of filled grains, while K3 gave influence on the variable weight of 100 grains and K uptake. Then J1 gave the best influence on the variables total K, available K, and K uptake. And there was an interaction between NPK-SR grade 15-0-7.5 fertilizer without straw (K1J0) on variable leaf area in lowland rice plants. | |
| 40194 | 42499 | J1E019036 | The Use of Auditory Intellectual Repetitive (AIR) Model to Enhance Students’ Writing Ability of Descriptive Text (A Pre - Experimental Research for the Tenth Grade Students of MAN 01 Cilacap in Academic Year 2022/2023) | Tesis ini merupakan penelitian kuantitatif dalam bentuk pre-eksperimental. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan dari penggunaan AIR model terhadap keterampilan menulis teks deskriptif, untuk mendeskripsikan realisasi penggunaan AIR model dalam pembelajaran menulis teks deskriptif, dan untuk menjelaskan presepsi siswa terhadap penggunaan AIR model terhadap pembelajaran menulis teks deskriptif. Dalam penelitian ini, besar sampelnya adalah 38 siswa yang merupakan siswa dari kelas X IPS 1 MAN 01 Cilacap yang diambil secara purposive samping. Seluruh sampel merupakan siswa dari kelas eksperimental yang diberikan perlakuan menggunakan Model AIR. Peneliti mengumpulkan data menggunakan dua kali test yakni pre-test dan post-test, kuesioner dan lembar observasi. Hasil dari pre-test dan post-test diuji menggunakan Paired Sample T-test. Rata-rata dari hasil nilai pre-test siswa adalah 53,22, dan rata-rata dari hasil nilai post-test siswa adalah 81,71. Hasil analisis data menunjukan signifikansi data sebesar <0,001. Dengan kata lain, Ho ditolak dan Ha diterima. Singkatnya, Model Auditory Intellectual, and Repetitive (AIR) dapat menjadi salah satu cara yang efektif terhadap pengajaran menulis teks deskriptif untuk kelas sepuluh. | This research is quantitative research in pre-experimental form. The aim of this research are to determine the effectiveness of using the AIR model on writing descriptive text, to describe the realization of using the AIR model in learning to write descriptive text, and to explain students' perceptions of the use of the AIR model in learning to write descriptive text. In this study, the sample size was 38 students who were students from class X IPS 1 MAN 01 Cilacap who were taken purposively. All samples were students from experimental classes who were given treatment using the AIR Model. Researchers collected data using two tests, namely pre-test and post-test, questionnaires and observation sheets. The results of the pre-test and post-test were tested using the Paired Sample T-test. The average of students' pre-test scores was 53.22, and the average of students' post-test scores was 81.71. The results of data analysis show that the significance of the data is <0.001. In other words, Ho is rejected and Ha is accepted. In short, the Auditory Intellectual and Repetitive (AIR) Model can be an effective way to teach writing descriptive texts for tenth graders. | |
| 40195 | 42493 | F1D020008 | Perlindungan Anak di Singapura dalam Konteks Perlindungan anak Internasional | Setiap anak membutuhkan lingkungan yang aman dan sehat. Anak perlu mendapatkan perlindungan khusus agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Perlindungan anak merupakan segala kegiatan yang dapat memenuhi hak agar anak dapat tumbuh dan juga berkembang secara optimal serta mendapatkan perlindungan dari tindakan kriminal dan kekerasan. Perlindungan anak di Singapura menjadi suatu hal penting karena untuk menjamin kesejahteraan anak-anaknya. Singapura dalam melindungi anak mengandalkan peran keluarga, komunitas dan pemerintah. Tipologi perlindungan anak Internasional dibagi menjadi 4 tipologi yaitu orientasi individu formal, komunitas formal, individu informal, dan komunitas Informal. Dengan menggunakan metode kualitatif dan studi literatur, artikel ini bertujuan untuk mengkategorikan Singapura ke dalam tipologi perlindungan anak internasional dengan teori perlindungan anak dan kebijakan publik. Artikel ini menyimpulkan bahwa Singapura dapat di kategorikan ke dalam sistem orientasi komunitas formal karena keluarga dan komunitas memiliki peran yang penting, namun pemerintah juga memiliki peran melalui Undang – Undang khusus perlindungan anak dan program khusus Perlindungan anak. | Every child needs a safe and healthy environment. Children need special protection so that they can grow and develop well. Child protection is all activities that can fulfill the rights so that children can grow and develop optimally and receive protection from criminal acts and violence. Child protection in Singapore is important because it ensures the welfare of children. Singapore in protecting children relies on the role of family, community and government. The international child protection typology is divided into 4 typologies, namely formal individual, formal community, informal individual and informal community orientation. Using qualitative methods and literature studies, this article aims to categorize Singapore into an international child protection typology based on child protection theory and public policy. This article concludes that Singapore can be categorized into a formal community orientation system because the family and community have an important role, but the government also has a role through special child protection laws and special child protection programs. | |
| 40196 | 42483 | A1F019040 | Analisis Tingkat Penerimaan Konsumen terhadap Kukis dengan Penambahan Bubuk Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) | Kukis merupakan makanan ringan yang disukai oleh semua kalangan karena praktis dan memiliki daya simpan panjang. Rasa pada kukis dipengaruhi oleh bahan tambahan pangan yang ditambahkan. Bubuk bunga kecombrang ditambahkan pada kukis karena memiliki rasa dan aroma yang khas, kandungan kalsium yang cukup tinggi, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif produk pangan yang memiliki flavour yang khas, meningkatkan nilai gizi, dan citarasa yang bervariasi. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui karakterisasi profil atribut sensori dan tingkat penerimaan konsumen berdasarkan profil atribut sensori. Pada penelitian ini digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor variasi penambahan konsentrasi bubuk bunga kecombrang yaitu penambahan 2,50%; 5%; 7,50%; dan 10% bubuk bunga kecombrang. Variabel yang diuji meliputi uji hedonik untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap atribut aroma, rasa, warna, tekstur, aftertaste, dan keseluruhan, serta uji deskriptif menggunakan Quantitative Descriptive Analysis (QDA) untuk mengetahui karakteristik atribut mutu kukis kecombrang. Hasil uji hedonik dianalisis menggunakan uji Friedman dan uji lanjut LSD, serta dianalisis menggunakan analisis klaster dengan metode Hierarchical clustering untuk mengelompokkan panelis yang homogen ke dalam kelompok klaster. Perlakuan terbaik diuji menggunakan metode indeks efektivitas. Hasil Quantitative Descriptive Analysis (QDA) ditampilkan dalam grafik spider web dan dilakukan pemetaan atribut menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi penambahan konsentrasi bubuk bunga kecombrang berpengaruh terhadap tingkat kesukaan konsumen. Kukis kecombrang dengan penambahan 2,50% bubuk bunga kecombrang menjadi sampel terbaik yang paling disukai konsumen. Penentuan klaster menggunakan average linkage menghasilkan 3 klaster pada atribut aroma dan keseluruhan, serta 2 klaster pada atribut rasa, warna, tekstur, dan aftertaste. Uji deskriptif dengan menggunakan metode Quantitative Descriptive Analysis (QDA) dilakukan oleh 8 panelis terlatih menghasilkan atribut rasa manis, rasa asam, rasa pahit, aftertaste sepat, aroma kecombrang, aroma milky, dan aroma vanila. Analisis PCA digunakan untuk mengubah sebagian besar variabel asli menjadi variabel baru yang lebih kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi dari kukis kecombrang. Variabel yang digunakan ada 7, berdasarkan penelitian terbentuk satu komponen utama yang mempengaruhi dengan total varian (cumulative percent of variance) sebesar 93,51% | Cookies are a snack that is liked by all groups because they are practical and have a long shelf life. The various flavors of cookies can be distinguished by the food additives added. Combrang flower powder is added to cookies because it has a distinctive taste and aroma, as well as a fairly high calcium content, so it can be used as an alternative food product that has a dictinctive flavour, increased nutritional value, and varried flavors. The aim of the research is determine the characterization of the sensory attribute profile. In this study, a Completely Randomized Design (CRD) was used with a variation factor in the addition of the concentration of kecombrang flower powder, namely the addition of 2,50%; 5%, 7,50%; and 10% kecombrang flower powder. The variables tested include the hedonic test of determine the panelists level off preference for the attributes of flavour, taste, color, texture, aftertaste, and overall, as well as descriptive test using Quantitative Descriptive Analysis (QDA) to determine the characteristicsof the quality attributes of kecombrang cookies. The results of the hedonic test were analyzed using the Friedman test and further LSD tests, and analyzed using cluster analysis with the Hierarchical clustering method to group homogeneous panelists into cluster groups. The best treatment is tested using the effectiveness index method. The results of Quantitative Descriptive Analysis (QDA) are displayed in a spider web graphs and attribute mapping is carried out using the Principal Component Analysis (PCA) method. The result of research showed that variations in the concentration of combrang flower powder had an effect on the level of consumer preference. Combrang cookies with the addition of 2,50% combrang flower powder are the best samples that consumers like the most. Determining clusters using average linkage produces 3 clusters on flavour and overall attributes and 2 clusters on taste, color, texture, and aftertaste attributes. Descriptive tests using the Quantitative Descriptive Analysis (QDA) method were carried out by 8 trained panelists to produce the attributes of sweet taste, sour taste, bitter taste, partial aftertaste, combrang flavour, milky flavour, and vanilla flavour. PCA analysis was used to change most of the original variables into smaller new variables. This research aims to determine the factors that influence the preference for steambed combrang. There are 7 variables, based on research, one main component that influences the total variance (cumulative percent of variance) of 93,51%. | |
| 40197 | 42506 | A1C019021 | PENGARUH DISTRIBUSI SPASIAL DEBIT IRIGASI TETES OTOMATIS TERHADAP PERTUMBUHAN SERAI WANGI PADA LAHAN MARJINAL | Serai wangi secara ekonomi memiliki peran untuk Indonesia menjadi salah satu sumber minyak atsiri yang diekspor. Serai wangi merupakan tanaman yang memiliki kelebihan untuk mampu bertahan hidup pada lahan marjinal. Secara ekonomi serai wangi memiliki peran untuk Indonesia menjadi salah satu sumber minyak atsiri yang diekspor. Lahan marjinal merupakan lahan terpinggirkan karena memiliki kualitas yang kurang optimal untuk kegiatan budidaya tanaman. Salah satu cara untuk mengoptimalisasikan kualitas dan produktivitas budidaya tanaman serai wangi pada lahan marjinal adalah dengan penggunaan sistem irigasi tetes terjadwal otomatis. Peneliti menganalisis pola distribusi - variabilitas spasial debit irigasi tetes otomatis dan pertumbuhan serai wangi pada lahan marjinal, serta mencari pengaruh debit terhadap pertumbuhannya Penelitian ini dilaksanakan di lahan laboratorium Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Kedungrandu, Patikraja, Banyumas pada bulan September 2022 – Februari 2023. Hasil penelitian menunjukan, secara spasial, pada fase awal dan tengah pertumbuhan pola distribusi air irigasi tetes 7 harian menyebabkan pertumbuhan serai wangi menjadi lebih optimal. Selanjutnya, pada fase akhir pertumbuhan pola distribusi 3 dan 5 harian menyebabkan pertumbuhan lebih optimal. Hal tersebut dikonfirmasi dengan nilai kebutuhan air tanaman serai wangi yang tinggi pada masa akhir pertumbuhan. Nilai produktivitas air pada penelitian menunjukan bahwa pemberian irigasi 7 harian merupakan pemberian air yang paling produktif pada tanaman serai wangi yang ditanam di lahan marjinal. | Citronella economically has a role for Indonesia to become one of the sources of essential oils exported. Citronella is a plant that has the advantage of being able to survive on marginal land. Economically, citronella has a role for Indonesia to become one of the sources of essential oils exported. Marginal land is marginalized land because it has less than optimal quality for crop cultivation activities. One way to optimize the quality and productivity of citronella cultivation on marginal land is with the use of an automatic scheduled drip irrigation system. Researchers analyzed distribution patterns – spatial variability of automatic drip irrigation discharge and citronella growth on marginal lands, and looking for the effect of discharge on plant growth This research was carried out in the Agronomy laboratory land, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Kedungrandu, Patikraja, Banyumas in September 2022 – April 2023. The results showed, spatially, at the early and middle phases of growth the distribution pattern of 7 daily drip irrigation water causes citronella growth to be more optimal. Furthermore, in the final phase of growth the 3- and 5-day distribution patterns lead to more optimal growth. This is confirmed by the high water demand of citronella plants in the late growth period. The value of water productivity in the study showed that the provision of 7 daily irrigation was the most productive water provision for citronella plants planted on marginal land. | |
| 40198 | 42507 | J0B020032 | Penerjemahan Laman Informasi Museum Ranggawarsita Semarang Ke Dalam Bahasa Mandarin Dengan Menggunakan Metode Komunikatif | Laporan praktik kerja ini berjudul “Penerjemahan Laman Informasi Museum Ranggawarsita Semarang ke dalam Bahasa Mandarin dengan Menggunakan Metode Komunikatif”. Kegiatan praktik kerja dilaksanakan di Museum Ranggawarsita Semarang selama enam bulan, dimulai dari bulan November 2022 sampai dengan bulan April 2023. Latar belakang penerjemahan laman di Museum Ranggawarsita yaitu belum tersedianya informasi museum bahasa Mandarin di dalam laman Museum Ranggawarsita, sehingga layanan museum bagi pengunjung berbahasa Mandarin menjadi terbatas. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis yaitu metode observasi, metode wawancara, metode studi pustaka, dan metode jelajah internet. Tujuan dilaksanakannya praktik kerja ini adalah untuk menerjemahkan laman informasi Museum Ranggawarsita ke dalam bahasa Mandarin. Hasil dari laporan praktik kerja ini adalah tersedianya laman informasi Museum Ranggawarsita berbahasa Mandarin sebagai bentuk peningkatan layanan di dalam Museum Ranggawarsita Semarang. Harapan dari laporan praktik kerja ini adalah memberikan kemudahan bagi para pengunjung berbahasa Mandarin untuk mengakses laman informasi Museum Ranggawarsita Semarang. Pada kegiatan praktik kerja, penulis menggunakan metode penerjemahan komunikatif karena hasil terjemahan disesuaikan dengan tata bahasa Bsa sehingga hasil terjemahan laman museum dapat dipahami oleh pengunjung berbahasa Mandarin. Selain menggunakan metode penerjemahan komunikatif, penulis juga meng-gunakan teknik deskripsi dalam proses penerjemahan, hal ini dilakukan untuk mendeskripsikan istilah budaya di dalam laman museum yang tidak memiliki padanan kata dalam Bsa, sehingga pengunjung berbahasa Mandarin akan lebih mudah memahami isi dari laman museum. | This work practice report is entitled "Translation of the Information Page of the Ranggawarsita Museum Semarang into Mandarin Using Communicative Methods". Work practice activities were carried out at the Ranggawarsita Museum in Semarang for six months, starting from November 2022 to April 2023. The background for translating the page at the Ranggawarsita Museum is that there is no Mandarin language museum information available on the Ranggawarsita Museum website, so the museum services for visitors speak Mandarin. become limited. The data collection methods used by the author are observation methods, interview methods, library study methods, and internet browsing methods. The purpose of carrying out this work practice is to translate the Ranggawarsita Museum information page into Mandarin. The result of this work practice report is the availability of the Ranggawarsita Museum information page in Mandarin as a form of improving services at the Ranggawarsita Museum Semarang. The hope of this work practice report is to make it easier for Mandarin-speaking visitors to access the Ranggawarsita Museum Semarang information page. In practical work activities, the author uses the communicative translation method because the translation results are adjusted to the grammar of the target language so that the translation results of the museum page can be understood by Mandarin-speaking visitors. Apart from using the communicative translation method, the author also uses description techniques in the translation process. This is done to describe cultural terms on the museum page which do not have equivalent words in the target language, so that Mandarin-speaking visitors will more easily understand the contents of the museum page. | |
| 40199 | 42516 | E1B019014 | LEGAL PROTECTION OF CONSUMERS PURCHASING ELECTRONIC DEVICE SPARE PARTS WITHOUT WARRANTY BASED ON LAW NUMBER 8 OF 1999 CONCERNING CONSUMER PROTECTION (Study Review of Verdict Number 307/Pdt.Sus-BPSK/2022/PN Mdn) | Masyarakat masa kini sangat bergantung pada produk elektronik, dalam kegiatan transaksi jual beli pelaku usaha dilarang melakukan hal yang melanggar hak-hak konsumen. Penelitian ini berdasarkan Putusan Nomor 307/Pdt.Sus-BPSK/2022/PN.Mdn ditinjau dari Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang membahas tentang pembelian Spare part barang elektronik berupa Lcd Handphone Vivo Y71 oleh Suharto di Toko GMT milik Pelaku Usaha dimana Penggugat meminta penggantian Lcd Handphone dengan alasan tidak bisa disentuh, jual beli Lcd Handphone tersebut tidak memakai garansi. Penelitian ini menggunakan penelitian hukum yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian yang bersifat deskriptif analitis, menggunakan data yang bersumber dari data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier berdasarkan pengumpulan data melalui studi kepustakaan, kemudian dianalisis menggunakan metode yang bersifat normatif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlindungan hukum terhadap konsumen pembelian komponen barang elektronik tanpa garansi berdasarkan Putusan Nomor 307/Pdt.Sus-BPSK/2022/PN.Mdn, bahwa Konsumen yang mengalami kerugian belum terpenuhi, dengan alasan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen belum mengatur terkait regulasi mengenai jual beli komponen barang elektronik tanpa garansi. Akibat hukum terhadap penerapan klausula baku bertentangan dengan ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, maka klausula baku tersebut menjadi batal demi hukum yang akibat hukumnya klausula tersebut dianggap tidak pernah ada. | Today’s community highly depends on electronic devices. Violation of consumer rights in buying and selling electronic devices is prohibited. This study focuses on the Decision Number 307/Pdt.Sus-BPSK/2022/PN.Mdn based on Law No. 8 of 1999 concerning Consumer Protection. It discusses the purchase of spare parts in the form of an LCD for Vivo Y71 Mobile Phone by Suharto at the GMT Shop where Plaintiff asked for a replacement for the LCD purchased as the LCD does not function. This purchase is not completed with a guarantee. This normative juridical legal research used a descriptive-analytical model. It used secondary data consisting of primary, secondary, and tertiary legal materials collected through literature study, Data were analyzed using normative qualitative methods. The results of this study showed that legal protection for consumers purchasing electronic device spare parts without a guarantee was based on Decision Number 307/Pdt.SusBPSK/2022/PN.Mdn, that consumers who have suffered losses have not been fulfilled to get legal protection, on the grounds that Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection has not regulated regulations regarding the sale and purchase of electronic device spare parts without warranty. The legal consequences of applying standard clauses are contrary to the provisions of Article 18 paragraph (1) letter b of Law No. 8 of 1999 concerning Consumer Protection. Thus, the standard clause becomes null and void so the legal consequence is that the clause is considered to have never existed. | |
| 40200 | 42357 | H1B019069 | Kekuatan Tahanan Lateral Komposit Bambu Kayu Laminasi dengan Sistem Penyambungan Menggunakan Pasak Kayu pada Pengaruh Diameter Alat Sambung | Ketersediaan kayu yang semakin berkurang membutuhkan bahan pengganti kayu untuk kebutuhan pembangunan. Salah satunya adalah dengan menggunakan teknik laminasi. Teknik laminasi merupakan penggabungan beberapa lembar tipis menjadi satu kesatuan. Pada penelitian ini digunakan laminasi kayu mindi dan bambu petung sebagai bahan pengganti kayu dengan alat sambung pasak kayu. Sambungan merupakan titik-titik kritis dalam suatu konstruksi. Kekuatan sambungan sangat penting dalam memastikan bahwa konstruksi dapat menahan beban yang terjadi dan berfungsi dengan baik selama masa pakainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan yang dapat dihasilkan oleh balok komposit laminasi bambu petung dengan kayu mindi menggunakan alat sambung pasak kayu. Pasak kayu yang digunakan berdiameter 10 mm, 15 mm, dan 20 mm. Penelitian ini mencakup perhitungan teoritis dan eksperimental. Pada perhitungan teoritis nilai tahanan lateral (Z) dapat diprediksi menggunakan teori European Yield Model (EYM) dan SNI 7973:2013. Dalam perhitungan teoritis pula dibutuhkan nilai kuat lentur pasak, kuat tumpu, dan geometri benda uji. Untuk perhitungan eksperimental nilai tahanan lateral (Z) didapatkan dengan menggunakan alat Hydraulic Pressure Test. Hasil pengujian menunjukan nilai rata-rata Z teoritis, menggunakan teori European Yield Model (EYM) alat sambung pasak kayu 10 mm, 15 mm, dan 20 mm berurutan sebesar 0,593 kN; 0,521 kN; dan 0,505 kN. Sedangkan rata-rata Z menggunakan SNI 7973:2013 alat sambung pasak kayu 10 mm, 15 mm, dan 20 mm berurutan sebesar 2,053 kN; 3,173 kN; dan 4,252 kN. Dan nilai Z ekperimental alat sambung pasak kayu 10 mm, 15 mm, dan 20 mm berurutan cenderung lebih besar dibanding rata-rata nilai Z teoritis sebesar 7,158 kN; 8,989 kN; dan 15,197 kN. | The decreasing availability of wood requires wood substitute materials for construction needs. One way is to use a lamination technique. The lamination technique is a combination of several thin sheets into one unit. In this research, Mindi wood laminate and Petung bamboo were used as wood replacement materials with wooden peg connections. Joints are critical points in a construction. The strength of the connection is very important in ensuring that the construction can withstand the loads that occur and function well throughout its service life. This research aims to determine the strength that can be produced by petung bamboo laminated composite beams with mindi wood using wooden peg connections. The wooden pegs used are 10 mm, 15 mm and 20 mm in diameter. This research includes theoretical and experimental calculations. In theoretical calculations, the lateral resistance value (Z) can be predicted using the European Yield Model (EYM) theory and SNI 7973:2013. Theoretical calculations also require values for the flexural strength of the pegs, support strength and the geometry of the test object. For experimental calculations, the lateral resistance (Z) value was obtained using a Hydraulic Pressure Test tool. The test results show that the average theoretical Z value, using the European Yield Model (EYM) theory of 10 mm, 15 mm and 20 mm wooden peg connecting tools, is 0.593 kN; 0.521 kN; and 0.505 kN. Meanwhile, on average Z uses SNI 7973:2013 wooden dowel connecting tools 10 mm, 15 mm and 20 mm respectively at 2.053 kN; 3,173 kN; and 4,252 kN. And the experimental Z value of the 10 mm, 15 mm, and 20 mm wooden dowel connection tools respectively tends to be greater than the average theoretical Z value of 7.158 kN; 8,989 kN; and 15,197 kN. |