Artikelilmiahs
Menampilkan 3.581-3.600 dari 48.746 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 3581 | 13382 | C1J011019 | VARIABLE ANALYSIS OF MACRO ECONOMIC GROWTH IN INDONESIA AND MALAYSIA PERIOD 1989-2013 | ABSTRAK Pertumbuhan ekonomi di beberapa negara Asia banyak memiliki keragaman, salah satunya adalah negara Malaysia dan Indonesia, meskipun di kedua negara tersebut memiliki kesamaan dari asal mula bahasa yang di gunakan, yaitu bahasa melayu. Jika di lihat dari segi usia Indonesia dan Malaysia yang hanya terpaut 11 tahun lebih tua negara Indonesia, Indonesia memiliki usia sejak kemerdekaan yaitu 69 tahun sedangkan Malaysia baru mencapai 58 tahun sejak kemerdekaan pada tanggal 31 agustus 1957, dan juga dua negara tersebut mempunyai letak geografis yang berdekatan, selain iklim di dua negara tersebut yang sama yaitu iklim tropis di dua negara teserbut memiliki perekonomian yang unik, dengan tingkat jumlah penduduk yang jauh berbeda, di Malaysia sendiri memliki jumlah penduduk sebesar29.839.200 jiwa (Department of StaticticsMalaysia 25 April 2015), sedangkan penduduk Indonesia yang jauh lebih tinggi yaitu sebesar 252.370.792 jiwa (Badan Pusat Statistik Indonesia 12 april 2015). Dari data Bank Dunia yang dikeluarkan pada 1 juli 2009 Malaysia menduduki urutan ke 79 dari seluruh Negara yang ada di dunia dengan GNP per kapita sebesar US$ 13.740 per tahun, disisi lain Indonesia menduduki urutan ke 146 dengan GNP per kapita sebesar US$ 3.840 per tahun, dari data GNP perkapita tersebut maka Malaysia mempunyai nilai 3,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan GNP perkapitaIndonesia, hal ini bisa diartikan penduduk Malaysia secara rata-rata lebih sejahtera dan makmur dari penduduk Indonesia belum lagi bila melihat populasi penduduk Malaysia pada tahun 2008 sejumlah 25 juta jiwa, sedangkan Indonesia sebesar 240 juta jiwa atau 10 kali lipat dari penduduk Malaysia. Tetap harus di akui bahwa Malaysia lebih unggul dari segi pemerataan ekonomi dan pembangunan, pendidikan, infrastruktur, kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Hal ini seharusnya bisa di ambil sisi positif oleh pemerintah Indonesia. | ABSTRACT Economic growth in some Asian countries have a lot of diversity, one of which are Malaysia and Indonesia, though these countries have something in common such as the origin of language in use, namely the Malay language. If viewed in terms of age, Indonesia and Malaysia are just adrift 11 years older, Indonesia independence is 69 years, while Malaysia is 58 years since August 31, 1957, and also the two countries have nearby geographical location, in addition the climate is the same too, namely tropical and the two countries have a unique economy, with much different population levels, Malaysia is 29,839,200 population (Department of Statistics Malaysia 25 April 2015), while Indonesia's population is 252,370,792 (Central Bureau Statistic Indonesia 12 April 2015). World Bank data released on 1 July 2009 Malaysia ranks 79th out of all countries in the world with a GNP per capita was US$ 13,740 per year, on the other hand Indonesia ranks 146 with a GNP per capita was US$ 3,840 per year , the Malaysia GNP of was 3.5 times higher than the Indonesia GNP, it means the population of Malaysia, on average, was more prosperous and affluent than the population of Indonesia, not to mention when you saw the population of Malaysia in 2008 was 25 million, while Indonesia was 240 million people, or 10 times the population of Malaysia. When viewed from opportunity for advancement or improvement, Indonesia's economy is much larger compared to Malaysia, these conditions are very dynamic in certain years. It still recognizes that Malaysia is superior in terms of economic equality and development, education, infrastructure, prosperity and welfare of its people. This should be taken positively by the Indonesian government. | |
| 3582 | 13383 | F1D010040 | GERAKAN SOSIAL BARU CINEMA LOVERS COMMUNITY DALAM KAMPANYE DAN PROPAGANDA ANTI-KORUPSI DI KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2011-2014 | Penelitian ini mengambil judul Gerakan Sosial Baru Cinema Lovers Community dalam Kampanye dan Propaganda Antikorupsi di Kabupaten Purbalingga tahun 2011-2014. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) memahami dan mendeskripsikan bentuk-bentuk dan strategi gerakan yang dilakukan oleh Cinema Lovers Community Purbalingga dalam melakukan kampanye dan propaganda antikorupsi di Kabupaten Purbalingga; 2) mengetahui dan menjelaskan faktor-faktor kontekstual apa saja yang mendukung dan menghambat dalam kampanye dan propaganda antikorupsi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualititatif. Pendeketan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Purbalingga dengan sasaran penelitian yaitu Komunitas Film Cinema Lovers Community dan lembaga lain yang terkait. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling, yaitu Direktur CLC Purbalingga, Humas CLC Purbalingga, Direktur LSM Institut Negeri Perwira, Direktur LSM Mandat, Direktur Jaringan Kerja Film Banyumas, dan Kejaksaan Negeri Purbalingga (Kepala Seksi Pidana Khusus). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interview), observasi dan studi dokumentasi. Analisis data meggunakan model analisis interaktif. Hasil dari penelitin ini dapat disimpulkan : 1) Strategi gerakan sosial baru yang digunakan CLC dalam kampanye dan propaganda anti korupsi di Purbalingga adalah dengan melibatkan lembaga-lembaga yang lebih berkompeten dalam penanganan kasus korupsi seperti LSM, Kejaksaan Negeri, dan juga KPK dengan tujuan agar posisi tawar yang CLC menjadi lebih kuat dalam menggiring opini publik melalui media film; 2) Bentuk gerakan sosial baru yang digunakan CLC adalah melalui produksi film, yang kemudian dipublikasikan melalui pemutaran film dan diskusi, media massa dan media sosial, serta diikutkan dalam festival film antikorupsi. 3) Gerakan sosial baru yang dilakukan oleh CLC dalam kampanye dan propaganda antikorupsi dipengaruhi oleh faktor pendukung utama yaitu CLC merupakan lembaga independen yang tidak terikat dengan lembaga lainnya. Sedangkan faktor penghambat yaitu hubungan yang CLC yang tidak harmonis dengan pemerintah daerah yang seharusnya menjadi mitra dalam gerakan tersebut. Dengan terbukanya arus informasi dan kondisi politik di Indonesia saat ini, gerakan sosial yang dilakukan oleh CLC dalam kampanye dan propaganda antikorupsi bisa diterapkan oleh kelompok lain di berbagai daerah. | The tittle of this research is New Social Movement by Cinema Lovers Community in Anti-Corruption Campaign and Propaganda in Purbalingga 2011-2014. This study aims to: 1) understand and describe the forms and strategies of movements performed by the Cinema Lovers Community Purbalingga in anti-corruption campaigns and propaganda in Purbalingga; 2) identify and explain what contextual factors that support and hinder the anti-corruption campaign and propaganda. The method used in this research is descriptive qualitative with phenomenology as the phenomenological. This research was conducted in Purbalingga Regency. The research target was Cinema Lovers Community and other relevant institutions. Informants selected with purposive sampling technique. They were Director of the CLC, Public Relations of the CLC, Director of Institut Negeri Perwira, Director of Mandat, Director of Jaringan Kerja Film Banyumas, and Purbalingga State Attorney (Head Section of Special Crime). The data were collected through interviews (in-depth interviews), observation and documentation study. The data analysis used is interactive model. The results of this research can be concluded as follow: 1) a new social movement strategies used by CLC in anti-corruption campaigns and propaganda in Purbalingga are by involving more competent institutions in handling cases of corruption such as NGOs, State Attorney, and also the Corruption Eradication Commission with the aim to give CLC a stronger bargaining position to lead public opinion through the medium of film; 2) The form of the new social movements that used by CLC is through the production of the film, which is then published through film screenings and discussions, the mass media and social media, as well as to be included anti-corruption film festival. 3) new social movement undertaken by CLC in anti-corruption campaigns and propaganda influenced by the main supporting factor that CLC is an independent institution that is not tied to other institutions. While the inhibiting factor is that the relationship between CLC and the local government which should be a partner in the movement, is not in harmony. With the opening of the flow of information and political conditions in Indonesia at this time , social movements are performed by CLC in anti-corruption campaigns and propaganda can be applied by other groups in the various regions | |
| 3583 | 13408 | C1B011079 | ANALISIS BOPO, CAR, LDR, NPL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN BANK UMUM YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA | Penelitian ini merupakan studi empiris yang dilakukan di Bursa Efek Indonesia pada periode 2010-2014. Penelitian ini berjudul “Analisis BOPO, CAR, LDR, NPL dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Bank Umum Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL) dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan Bank Umum Go Public yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014. Hipotesisnya antara lain BOPO dan NPL mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap kinerja keuangan, sedangkan CAR, LDR dan Ukuran Perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan. Penelitian ini menggunkaan model regresi berganda sebagai alat pengujian hipotesis. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, tinjauan pustaka dan pencarian internet. Penelitian ini dilakukan selama periode 2010-2014. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan menggunakan purposive sampling sebagai metode pengambilan sampelnya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengujian secara simultan menunjukkan ada pengaruh secara simultan antara biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), capital adequacy ratio (CAR), loan to deposit ratio (LDR), non performing loan (NPL) dan ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan. Untuk hasil uji parsial menunjukkan bahwa biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dan non performing loan (NPL) berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja keuangan, capital adequacy ratio (CAR), loan to deposit ratio (LDR) dan non performing loan (NPL) dan ukuran perusahaan sedangkan ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan. Implikasi dari penelitian ini manajemen bank perlu memperhatikan faktor yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan. Manajemen bank perlu menjaga standar kesehatan bank sesuai ketentuan yang telah ditetapkan, serta melaporkan keuangan perusahaan yang lebih akurat sehingga dapat meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat. Investor dan calon investor sebaiknya tidak terlalu fokus pada ukuran perusahaan dalam berinvestasi. | This research is an empirical study conducted in Indonesia Stock Exchange in 2010-2014 period. This research entitled “Analysis of BOPO, CAR, LDR, NPL and Firm Size on Financial Performance of Commercial Banks Listed in Indonesia Stock Exchange”. The purpose of this research was to determine and analyze the influence of Operational Cost to Operational Income (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non-Performing Loan (NPL) and Firm Size on Financial Performance of Go Public Commercial Banks listed in Indonesia Stock Exchange in 2010-2014 period. The hypotheses were BOPO and NPL had a negative and significant influence on financial performance, while CAR, LDR and Firm Size had positive and significant influence on financial performance. This research used multiple regression model as a means of testing the hypotheses. Data collection technique used documentation method, literature and internet searches. The population in this research was the companies listed in Indonesia Stock Exchange with using purposive sampling as the sampling method. Based on the research result, it indicated that there was simultaneous influence among operational cost to operational income (BOPO), capital adequacy ratio (CAR), loan to deposit ratio (LDR), non-performing loan (NPL) and company size on financial performance. The result of partial test indicated that operational cost to operational income (BOPO) and non-performing loan (NPL) had negative and significant influence on financial performance, capital adequacy ratio (CAR), loan to deposit ratio (LDR) and firm size had positive and significant influence on financial performance. The implication of this research was bank management needed to consider factors that may influence financial performance. Bank management needed to maintain health of bank in accordance with the standard that have been stipulated, as well as reports more accurate company’s financial so as to increase the level of public trust. Investors and prospective investors should not focus too much on the company size in investing. | |
| 3584 | 13385 | B1J011099 | KULTUR SEMUT RANGRANG (Oecophylla smaragdina) SECARA ARTIFISIAL MENGGUNAKAN BEBERAPA JENIS PAKAN BERBEDA | O. smaragdina merupakan predator yang bersifat generalis yang mampu mengendalikan lebih dari 50 spesies hama dari 12 pohon tropis yang berbeda. Hal ini merupakan kelebihan dari O. smaragdina dan upaya untuk mengembangkan biokontrol menggunakan semut rangrang terus dilakukan. Tetapi, jumlah populasi O. smaragdina di alam terus mengalami penurunan secara signifikan karena perburuan secara besar-besaran. Hal ini sangat mendorong dilakukan budidaya O. smaragdina dengan adanya campur tangan manusia. Sehingga, eksistensinya di alam dapat dipertahankan tanpa perlu mengeksploitasi secara berlebihan di habitat aslinya. Tujuan penelitian ini, yaitu 1. mengetahui produksi kroto semut rangrang yang dibudidaya dengan pakan berbeda yaitu keong, cacing tanah, dan ampas tahu, 2. mengetahui jenis pakan yang paling baik terhadap produksi kroto semut rangrang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan dengan pemberian pakan sumber protein berbeda masing-masing yaitu keong mas (Pomacea canaliculata), ampas tahu, dan cacing tanah (Lumbricus rubellus). Masing-masing perlakuan diulang 5 kali. Setelah dianalisis ragam menggunakan uji F didapatkan hasil bahwa perlakuan pemberian pakan pada penelitian ini terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap kroto yang diproduksi. Semut rangrang yang diberi pakan cacing tanah memproduksi kroto paling tinggi adalah dengan total berat kroto yang dihasilkan yaitu 88,9 gram, dan semut yang dibudidaya menggunakan keong mas menghasilkan kroto sebesar 72,1 gram, sedangkan semut yang dibudidaya menggunakan ampas tahu menghasilkan kroto sebesar 44 gram. | Weaver ants belonging to the genus Oecophylla can benefit agriculture in two distinctly different ways. As notorious insect predators, the ants are effective biological control agents able to control more than 50 different pest species in at least 12 different tropical crops. and efforts to develop a biocontrol using weaver ants continued. The whole population of O. smaragdina in the nature has declined significantly due to massive poaching. The cultivation of O. smaragdina with human intervention is very encouraging. Thus, the existence in nature can be maintained without exploit excessively in their natural habitat. The purpose of this study, namely 1. To determine the production of weeaver ants kroto were cultured with different feeds, that are snails, earthworms, and pulp, 2. To determine the type of feed that most effective for increasing the production of weaver ants kroto. The method used was experimental method using a completely randomized design. Treatment by feeding different protein sources that each snails (Pomacea canaliculata), tofu waste, and earthworms (Lumbricus rubellus). Each treatment had done 5 times. After cultured for 25 days using different protein feed sources showed that weaver ants were fed earthworms. It indicate that the highest production of kroto with a total weight of kroto produced is 88.9 grams, and weaver ants were cultured using snails produced kroto 72.1 grams, while the weaver ants were cultivated using the tofu waste produced 44 grams. | |
| 3585 | 13384 | H1A011050 | Sintesis dan Uji Aktivitas Fotokatalitik Komposit Oksida Besi-Perak Ortofosfat Pada Sinar Tampak | Komposit oksida besi-perak ortofosfat berhasil disintesis dengan metode kopresipitasi menggunakan Fe(NO3)3.9H2O, AgNO3, dan Na2HPO4.12 H2O diikuti dengan kalsinasi pada suhu 500oC selama 5 jam. Rasio mol komposit oksida besi-perak ortofosfat disesain pada 0; 0,1; 0.2; 0,3 and 0,4. Sampel dikarakterisasi menggunakan X-ray Diffraction, Diffuse Reflectance Spectroscopy, Scanning Electron Microscopy and Specific Surface Area. Aktivitas fotokatalitik komposit oksida besi-perak ortofosfat diuji menggunakan Rhodamin B dibawah iridiasi sinar tampak. Komposit oksida besi-perak ortofosfat dengan rasio Fe/Ag 0,2 memiliki aktivitas fotokatalitik yang lebih besar dibandingkan dengan Ag3PO4 murni dibawah iridiasi sinar tampak. Peningkatan aktivitas fotokatalitik ditunjukkan pada efisiensi pemisahan pasangan hole (+) and elektron komposit oksida besi-perak ortofosfat. | The iron oxide-silver orthophosphate composites were successfully synthesized by co-precipitation method using Fe(NO3)3.9H2O, AgNO3, and Na2HPO4.12 H2O, followed by calcination at 500oC for 5 hours. The Fe/Ag mole ratios of iron oxide-silver orthophosphate composites were designed at 0, 0.1, 0.2, 0.3 and 0.4. The samples were characterized using X-ray Diffraction, Diffuse Reflectance Spectroscopy, Scanning Electron Microscopy and Specific Surface Area. The photocatalytic activities were evaluated using Rhodamine B degradation under visible light irradiation. The iron oxide-silver orthophosphate composite with the Fe/Ag mole ratio of 0.2, has higher photocatalytic activity than pure Ag3PO4 under visible light irradiation. The enhanced photocatalytic activity could be attributed to the effective separation of hole (+) and electron pairs in the iron oxide-silver orthophosphate composite. | |
| 3586 | 13389 | B1J011148 | STRUKTUR KOMUNITAS DAN ESTIMASI STOK KARBON TUMBUHAN BAWAH MANGROVE DI SEGARA ANAKAN CILACAP | Degradasi dan deforestasi hutan mangrove Segara Anakan merupakan salah satu penyebab peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK). Fungsi hutan mangrove sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) terganggu akibat aktifitas manusia dalam memanfaatkan hutan mangrove Segara Anakan. Aktifitas manusia yang berlebihan dalam memanfaatkan hutan mangrove mengakibatkan struktur komunitas hutan mangrove Segara Anakan didominasi oleh tumbuhan bawah. Peran dan fungsi serta gambaran mengenai komunitas tumbuhan bawah perlu diketahui salah satunya dengan cara mengetahui struktur komunitas dan potensi tumbuhan bawah dalam menyimpan biomassa dan karbon. Menentukan besarnya biomassa dan karbon yang dapat disimpan oleh tumbuhan bawah dilakukan untuk menentukan seberapa besar potensi tumbuhan bawah mangrove dalam menyimpan CO2 dan mengurangi dampak pemanasan global. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui struktur komunitas tumbuhan bawah mangrove, mengetahui potensi biomassa dan stok karbon tumbuhan bawah mangrove dan mengetahui faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap struktur komunitas dan stok karbon tumbuhan bawah mangrove di Segara Anakan Cilacap. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Estimasi stok karbon tumbuhan bawah mangrove dihitung dengan cara non-destructive sampling dengan mengukur tinggi tumbuhan bawah yang terdapat pada plot penelitian. Perhitungan biomassa dan estimasi stok karbon menggunakan persamaan Allometrik. Hasil yang diperoleh adalah struktur komunitas tumbuhan bawah di mangrove Segara Anakan antara lain Acanthaceae, Rhizophoraceae, Asclepiadaceae, Leguminosae, Myrsinaceae, Avicenniaceae, Sonneratiaceae, Arecaceae dan Pteridaceae. Spesies yang paling banyak mendominasi adalah A. ilicifolius. Potensi biomassa tumbuhan bawah katagori semak yang ada di seluruh stasiun pengamatan adalah 340,96 ton.ha-1, sedangkan potensi stok karbon adalah 155,48 ton.ha-1. Korelasi antara faktor lingkungan dengan struktur komunitas, potensi biomassa, dan potensi stok karbon banyak dipengaruhi oleh suhu udara, kelembaban tanah, salinitas, kandungan bahan organik tanah dan tekstur tanah liat. | Degradation and deforestation of mangrove in Segara Anakan, is one of the many clauses of the increasing green house gas level. The use of mangrove forest as carbon dioxide (CO2) sequester, is disrupted by human activity with its utilization in Segara Anakan. The excessive human activity in the utilization of mangrove forest in Segara Anakan resulted in community structure of its vegetation to be dominated by understorey. The role and function as well as an overview of understorey community is need to be known, with knowing the community structure of understorey and its potential in saving the biomass and carbon being one of the usable method. Determination of the amount of biomass and carbon that could be stored by mangrove understorey, is done to determine its potential in storing CO2 and reducing the global warming effect. The aim of this research is to know the community structure of mangrove understorey, to estimate its biomass and carbon supply ,and to know environmental factors which affect its community structure and carbon supply in Segara Anakan – Cilacap. Research is done using survey method with purposive random sampling used as its sampling technique. Carbon supply estimation of mangrove understorey is calculated with non-destructive sampling, with measuring height of plants which present on the research plot. Calculation of biomass and carbon supply estimation is done with using Allometric equation. The obtained result is the community structure of Segara Anakan’s mangrove understorey are consisted of Acanthaceae, Rhizophoraceae, Asclepiadaceae, Leguminosae, Myrsinaceae, Avicenniaceae, Sonneratiaceae, Arecaceae, and Pteridaceae with A. ilicifolius being the most dominating species. Biomass potential of mangrove understorey in shrubs category which present on the whole research station, is 340,96 ton.ha-1, and 154,48 ton.ha-1 for carbon supply potential. Correlation between environmental factor and community structure, biomass potential, and carbon supply potential is immensely influenced by air temperature, soil humidity, salinity, organic material content in soil, and loam texture. | |
| 3587 | 13387 | F1F010037 | SEMANTIC ANALYSIS OF JAVANESE CULTURE-SPECIFIC ITEMS TRANSLATION OF ENTROK NOVEL WHICH IS TRANSLATED INTO THE YEAR OF THE VOICELESS | Fitriani, Ida. 2015. Semantic Analysis of Javanese Culture-Specific Items Translation of Entrok Novel which is translated into The Year of The Voiceless. Skripsi. Program Studi Sastra Inggris. Jurusan Sastra Inggris. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto. Diuji oleh: R. Pujo Handoyo, S.S, M.Hum, Dyah Raina P, S.S, M.Hum, dan Asrofin Nur Kholifah, S.S, M.Hum. Kata kunci: culture-specific item, entrok, Javanese, semantic, translation Penelitian ini memfokuskan pada penerjemahan istilah budaya Jawa yang terdapat dalam novel Entrok dan terjemahan bahasa Inggrisnya dalam novel The Year of The Voiceless. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan istilah budaya Jawa, mengklasifikasikannya berdasarkan klasifikasi istilah budaya asing beserta prosedur penerjemahan menurut teori Newmark, kemudian membandingkan elemen maknanya menggunakan teori frame semantic dipadukan dengan teori componential analysis. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini diambil dari novel Entrok dan terjemahan Inggrisnya dalam novel The Year of The Voiceless.Peneliti mengumpulkan data dengan hanya memfokuskan pada istilah budaya Jawa. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik content analysis. Peneliti menemukan 129 data di dalam novel. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat empat kategori istilah budaya Jawa yaitu tipe ecology dengan 9 data (7,2%), tipe material culture dengan 52 data (40,03%), tipe social culture dengan 17 data (13,2%), tipe social organization-political and administrative dengan 51 data (39,5%). Selain itu, terdapat lima prosedur penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah; transferrence dengan 22 data (17,1%), naturalization dengan 2 data (1,6%), cultural equivalence dengan 57 data (44,2%), functional equivalent dengan 44 data (34,1%), dan shift atau transposition dengan 4 data (3,1%). Analisis semantik menunjukan bahwa terdapatbeberapa perbedaan elemen makna antara istilah budaya Jawa dan terjemahan bahasa Inggrisnya. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa kategori yang paling sering ditemukan adalah material culture, dan prosedur penerjemahan yang paling sering diterapkan oleh penerjemah adalah cultural equivalence. Disamping itu, frame semantics dan componential analysisdapat menjelaskan persamaan dan perbedaan istilah budaya Jawa dan terjemahannya. Namun, frame semantics yang dipadukan dengan componential analysis tidak dapat diterapkan untuk istilah budaya Jawa yang menggunakan prosedur penerjemahan transferrencedan naturalization. Hal ini disebabkan istilah tersebut tidak terdapat dalam bahasa sasaran, untuk itu kesatuan budaya dari istilah tersebut tetap dipertahankan contohnya omah mburi.Pada umumnya, perbedaan elemen semantik yang ada dalam terjemahanterjadi karena perbedaan konsep antara budaya Jawa dengan budaya Inggris. | Fitriani, Ida. 2015. Semantic Analysis of Javanese Culture-Specific Items Translation of Entrok Novel which is translated into The Year of The Voiceless. Thesis. English Study Program. English Department. Faculty of Humanities. Jenderal Soedirman University. Purwokerto. Examined by: R. Pujo Handoyo, S.S, M.Hum, Dyah Raina P, S.S, M.Hum, and Asrofin Nur Kholifah, S.S, M.Hum. Key words: culture-specific item, entrok, Javanese, semantic, translation This research is focused on Javanese culture-specific items translation found in Entrok novel and its English translation in The Year of The Voiceless novel. This research aims to find out Javanese culture-specific items, categorizes them according to Newmark categories of foreign cultural words as well as his categories of translation procedures, then analyzes the semantic features by using frame semantics theory elaborated with componential analysis theory. The method applied in the research is descriptive qualitative method. The data source of the research are Entrok novel and its English version The Year of The Voiceless novel. The researcher collects the data by focusing only on Javanese culture-specific items. Moreover, the researcher uses content analysis technique to collect those data. The researcher finds 129 data in the novel. The result of this research shows that there are four categories of Javanese culture-specific items; ecology type by 9 data (7,2%), material culture type by 52 data (40,3%), social culture type by 17 data (13,2%), social organization-political and administrative type by 51 data (39,5%). Moreover, there are five translation procedures applied by the translator;transference by 21 data (16,3%), naturalization by 2 data (1,6)%, cultural equivalence by 58 data (44,9%), functional equivalent by 45 data (34,9)%, and shift or transposition by 3 data (2,3%). Semantic analysis shows that there are several different semantic features between Javanese culture-specific items and its English translation. Based on the result, the researcher concludes that material culture type is the most frequently type found and cultural equivalent procedure is the most frequently used procedure applied by the translator. Besides, frame semantics and componential analysis can inform both similarities and differences of Javanese culture-specific items and its translation.However, frame semantics analysis elaborated with componential analysis can not be applied for Javanese culture-specific items which apply transference and naturalization procedure. It is because the items are unknown or do not exist in target language, thus the culture entity of the items are preserved, for example omah mburi. Generally, the different semantic features of Javanese culture-specific items and its translation happens because of the different concepts between Javanese culture and English culture. | |
| 3588 | 13390 | F1I011006 | Peran ASEAN TOURISM FORUM (ATF) Dalam Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Banyumas Tahun 2012 – 2014 | “Peran ASEAN Tourism Forum (ATF) Dalam Perkembangan Pariwisata di Kabupaten BanyumasTahun 2012 – 2014” ini merupakan penelitian yang menganalisis apakah ASEAN Tourism Forum (ATF) berperan dalam perkembangan pariwisata yang berada di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teknik pengumpulan data in-depth interview (wawancara), Observasi, Dokumentasi serta menjadikan teori Regionalisme sebagai indikator dalam menentukan peran ASEAN Tourism Forum (ATF) tersebut. Peranan dari adanya ATF ini sangat mempengaruhi suatu negara yang menjadi tuan rumahnya. Hal tersebut dikarenakan dengan terselenggaranya ATF ini memberikan dampak positif maupun dampak negatif terhadap perkembangan pariwisata. Secara tidak langsung ATF tersebut juga memiliki perannya dalam Pariwisata di Kabupaten Banyumas. Hal ini dikarenakan Kabupaten Banyumas merupakan daerah yang berada di Provinsi Jawa Tengah yang merupakan Provinsi Dekonsentralisasi dari adanya Travel Pattern tersebut. | This Thesis, titled "The Role of ASEAN Tourism Forum (ATF) in Tourism Development in Banyumas from 2012 to 2014" is a study to analyze whether the ASEAN Tourism Forum (ATF) was instrumental in the development of tourism which is in Banyumas. The research is a qualitative study that uses data collection techniques in-depth interviews (interview), observation, documentation and make the theory of regionalism as an indicator in determining the role of the ASEAN Tourism Forum (ATF). The role of the ATF is greatly affect a country which became host. That is because with the implementation of this ATF impact both positive and negative effects on the development of tourism. Indirectly, the ATF also has a role in Tourism in Banyumas. This is because Banyumas is an area that is located in Central Java province which is the province of the Travel Pattern deconcentration them. | |
| 3589 | 13392 | F1G011032 | PENGGUNAAN BAHASA SLANG PADA PERGAULAN REMAJA DI KECAMATAN MAJENANG | Penelitian ini berjudul “Penggunaan Bahasa Slang Pada Pergaulan Remaja di Kecamatan Majenang”.Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud-wujud bahasa slang dan faktor-faktor yang memengaruhi munculnya bahasa slang pada kalangan remaja di Kecamatan Majenang. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif, data penelitian ini berupa tuturan-tuturan yang mengandung bahasa slang yang digunakan oleh kelompok remaja kecamatan Majenang utuk berkomunikasi.Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode simak yang diwujudkan dengan teknik simak bebas libat cakap dan tenik catat.Penelitian ini menggunakan metode padan translasional sebagai metode analisis data. Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut. Wujud bahasa slang yang digunakan remaja di kecamatan Majenang yaitu bahasa slang yang berwujud akronim, berwujud singkatan, dan berwujud kata. Bahasa slang berwujud akronim (11 data), bahasa slang berwujud singkatan (4 data), dan bahasa slang berwujud kata (7 data), frasa (2 data). Faktor yang mempengaruhi munculnya Bahasa slang ada beberapa faktor yaitu Setting and scene, participant, ends,dan act sequence. Selain dari empat faktor di atas, faktor yang mempengaruhi munculnya bahasa slang adalah faktor sosial. Bahasa slang yang dipengaruhi oleh faktor setting and scene (2 data), faktor yang dipengaruhi oleh participant (6 data), faktor yang dipengaruhi oleh act sequence (4 data), faktor yang dipengaruhi oleh ends (8 data), dan faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan ada (4 data). | This research is entitled "The Use of Slang Language ofYouth Intercommunication in Majenang Subdistrict". The aim of this research is to describe the forms and factors that influence the emergenceof slang in youth of Majenang subdistrict. This research is a descriptive qualitative, and the data form of this research is a speech that contains slang language used by the youthin Majenang subdistrict to communicate. Methodof data collection in this researchis using observation methodwhich is done by identify method technique,writing technique, and recording technique. This research uses translational as a method of data analysis. Based on the analysis and discussion, it can be concluded as follows. The slang language forms used by the youth in Majenang subdistrict are acronyms, abbreviations, words and phrases. Slang in acronymform (11 data), abbreviation form (4 data), word form (7 data), and phrases form (2 data). There are several factors that influence the emergence of slang language; setting and scene, participant, ends, act sequence and social factor. Slanginfluenced by the setting and scene (2 data), participant (6 data), act sequence (4 data), ends (8 data), and social factor (4 data). | |
| 3590 | 13394 | B1J011031 | Pengaruh Pengunjung Terhadap Tingkah Laku Harian Owa Jawa (Hylobates moloch) Di Pusat Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta | Pengunjung Pusat Primata Schmutzer sangat memungkinkan melihat langsung keberadaan Owa Jawa, dengan seringnya pengunjung yang datang ke Pusat Primata Schmutzer, kemungkinan akan memberikan dampak bagi tingkah laku harian Owa Jawa. Berdasarkan penelitian studi pengaruh pengunjung terhadap keberadaan Owa Jawa di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol pada tahun 2003 menunjukkan bahwa respon Owa Jawa ketika berjumpa dengan pengunjung bersuara ataupun tidak bersuara, sebesar 100% lari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengunjung terhadap tingkah laku harian Owa Jawa (Hylobates moloch) di Pusat Primata Schmutzer, Taman Margasatwa Ragunan. Penelitian tingkah laku harian dilakukan selama satu bulan. Metode yang digunakan adalah survei. Pengambilan data dilakukan dengan teknik Ad Libitum Sampling dan focal animal sampling. Parameter yang akan diamati meliputi pengaruh pengunjung terhadap tingkah laku harian, yaitu gerak berpindah, makan, istirahat, dan sosial seperti agonistik, grooming, calling, kopulasi, duduk berdekatan, perilaku kasih sayang, mengikuti dan bermain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengunjung Pusat Primata Schmutzer tidak mengganggu aktivitas atau tingkah laku harian Owa Jawa (Hylobates moloch). | It’s quiet possible for people who visit Schmutzer Primate Center to see the Javan Gibbon directly. According to that fact, it’s predicted that the presence of visitors in Schmutzer Primate Center will affect the Javan Gibbon daily behavior. Based on a research about effect of visitors towards Javan Gibbon existance in Bodogol Nature Conservation Education Center showed that Javan Gibbon will 100% run when they meet the visitor with voice and voiceless. The purpose of this study was to determine the influence of visitors towards Javan gibbon (Hylobates moloch) in the recreational area of Schmutzer Primate Center, Ragunan Zoo. Daily behavior research conducted during a month. The method used was survey. Data collection was conducted by using Ad Libitum Sampling and Focal Animal Sampling. The parameters observed including the impact of visitors towards the Javan Gibbon’s daily behavior, i.e. moving, eat, rest, and social such as agonistic, grooming, calling, copulation, huddle, affection, follow and playing. The results showed that the presence of visitors in Schmutzer Primate Center is not interfere the Javan Gibbon (H. moloch) activity or daily behavior. | |
| 3591 | 13396 | B1J011149 | KEMAMPUAN ISOLAT MIKROBA BELT2, BELT6 DAN MELT5 DALAM MENGHASILKAN ENERGI LISTRIK PADA MEDIA LIMBAH KULIT PISANG DENGAN VARIASI JENIS INOKULUM | Isolat BELT2, BELT6 dan MELT5 adalah mikroba protensial yang didapatkan dari hasil isolasi dan skrining pada tahap pra penelitian. Mikroba tersebut ditumbuhkan pada media limbah kulit pisang. Kulit pisang memiliki kandungan nutrisi seperti karbohidrat, lemak dan protein sehingga dapat dijadikan sumber nutrisi untuk pertumbuhan mikroba. Mikroba mengubah nutrisi dari kulit pisang menjadi senyawa-senyawa organik. Senyawa organik tersebut digunakan oleh mikroba melalui reaksi redoks, yaitu pada transfer elektron. Proses ini menggunakan dua elektroda yakni anoda dan katoda sebagai potensial redoks untuk mendeteksi beda potensial listrik yang dihasilkan pada reaksi redoks. Beda potensial listrik optimum didapatkan melalui penggunaan variasi jenis inokulum seperti kultur tunggal dan kultur campuran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1.) mengetahui pengaruh variasi jenis inokulum terhadap beda potensial listrik yang dihasilkan pada proses fermentasi menggunakan media limbah kulit pisang dan 2.) mengetahui perlakuan terbaik antara pemberian kultur tunggal dan kultur campuran yang menghasilkan potensial listrik tertinggi pada proses fermentasi menggunakan media limbah kulit pisang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan adalah variasi jenis inokulum (BELT2, BELT6, MELT5, BELT2.6, BELT2.MELT5, BELT6.MELT5, and BELT2.6.MELT5). Parameter yang diukur adalah beda potensial listrik sebagai parameter utama dan pH serta biomassa sebagai parameter pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian variasi inokulum berpengaruh nyata dalam menghasilkan beda potensial listrik. Uji BNT menunjukkan bahwa pemberian kultur tunggal BELT2 memiliki beda potensial listrik tertinggi yaitu 0,49 V dengan pH 4,93 dan biomassa debris 0,04 gram. Semakin kecil biomassa debris dari media fermentasi mengindikasikan semakin besarnya kerapatan sel bakteri secara kualitatif. | The isolates of BELT2, BELT6, and MELT5 was a potential microbes from isolation and screening result at the pra-research. Banana peel contains nutritions such as carbohydrates, lipids and proteins which can be used as nutrition sources of microbes. Microbes changes some nutritions of banana peel to simpler organic compounds in fermentation process. The organic compounds utilized by microbes through some redox reaction, resulted in electron transfer. This process can be recorded with two electrode, cathode and anode as a potential redox to produce voltage. The optimum voltage can be obtained by inoculum variation such as single culture and mix culture. The research aims are (1) to study the effect of inoculum variation to the voltage in fermentation of banana peel waste and (2) to know the best treatment between single culture and mix culture that produces the highest voltage infermentation of banana peel waste. This study used a Completly Randomized Design. The treatments were the inoculum variation, it used BELT2, BELT6, MELT5 as single culture and BELT2.6, BELT2.MELT5, BELT6.MELT5, and BELT2.6.MELT5 as mix culture. The medium in the fermentation was banana peel waste. The parameters studied were voltage as the main parameter, pH and biomass as the second parameters. The research results showed that the variation inoculum had a significant effect to produce electricity (voltage). Furthermore, an LSD test indicates that the best treatment was inoculation of a single culture BELT2, with resulted voltage at 0,49, pH level of medium at 4,93 and biomass a 0,04 grams debris of medium. The lowest debris indicates the highest bacteria density as the qualitative measured. | |
| 3592 | 13398 | B1J011170 | Pengaruh 2,4-D dan Kinetin pada Pembentukan Kalus dalam Kultur Anthera Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) | Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) adalah tanaman yang hampir semua bagian tanamannya bermanfaat yaitu dapat dikonsumsi sebagai sayur. Penelitian tentang kecipir sangat terbatas terutama terkait pemanfaatan pada aspek budidaya, pemuliaan, maupun perbanyakan non-konvensional. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi antara 2,4-D dan kinetin pada pembentukan kalus dalam kultur anthera tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) dan menentukan konsentrasi 2,4-D dan kinetin terbaik untuk memacu pembentukan kalus pada kultur anthera tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.). Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial. Faktor yang dicoba adalah 2,4-D yang terdiri atas empat taraf, yaitu 0 µM; 5 µM; 10 µM; dan 15 µM, dan faktor kinetin dengan empat taraf, yaitu 0 µM; 0,5 µM; 1,5 µM; dan 2,5 µM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara 2,4-D dan Kinetin berpengaruh terhadap waktu induksi kalus pada kultur anthera kecipir. Penggunaan Kinetin 1,5 µM tanpa penambahan 2,4-D (D0K2) merupakan kombinasi yang paling baik untuk memacu pembentukan kalus pada kultur anthera kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) yaitu sebesar 34,2%. | Wing bean (Psophocarpus tetragonolobus L.) is a plant in which all its parts are useful i.e. it can be consumed as vegetable. Research on wing bean is limited with regards to cultivation, breeding, as well as non-conventional propagation aspects. This research has been carried out with a view to study the effect of the interaction between 2,4-D and Kinetin on callus formation of wing bean anther culture as well as determine the best concentration of 2,4-D and Kinetin on callus formation of wing bean anther culture. This research has been carried out experimentally using a Completely Randomised Design (CRD) on factorial treatment pattern. The factor tested are 2,4-D with four levels i.e. 0 µM; 5 µM; 10 µM; 15 µM, and Kinetin with four levels i.e. 0 µM; 0.5 µM; 1.5 µM; and 2.5 µM. The research results showed that the interaction between 2,4-D and Kinetin affected the callus induction time of wing bean anther culture. The addition of 1,5 µM Kinetin without any addition of 2,4-D resulted in the fastest callus induction time of wing bean anther culture and resulted in the highest percentage of callus formation 34.2%. | |
| 3593 | 13397 | B1J011136 | Pengaruh Komposisi Dedak dan Vermikompos pada Medium Tanam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) | Dedak dalam medium tanam berfungsi sebagai sumber nitrogen. Bahan lain sebagai campuran medium tanam seperti vermikompos (kascing) yang memiliki fungsi sebagai sumber nitrogen juga dapat digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh komposisi dedak dan vermikompos pada medium tanam terhadap pertumbuhan dan produksi jamur tiram putih, (2) mengetahui komposisi dedak dan vermikompos pada medium tanam yang paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi jamur tiram putih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang lima kali. Parameter yang diamati terdiri atas parameter utama yaitu bobot segar produksi jamur tiram putih sedangkan parameter pendukungnya adalah morfologi jamur tiram putih, pertumbuhan miselium, nilai Rasio Efisisensi Hayati (REH), nisbah C/N medium tanam, pH awal medium tanam, kondisi harian suhu dan kelembapan ruangan kumbung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi rata-rata tertinggi pada perlakuan dedak 50% dan vermikompos 50% (DK3). Kecepatan pertumbuhan miselium tertinggi pada perlakuan dedak 100% dan vermikompos 0% (DK1), dan Rasio C/N tertinggi pada perlakuan dedak 100% dan vermikompos 0% (DK1). | Bran in the growing medium serves as a source of nitrogen. Other materials such as growing medium mix vermicompost (vermicompost) which has a function as a source of nitrogen may also be used. This study aims to: (1) the effect of the composition of the bran and vermicompost at planting medium on the growth and production of white oyster mushroom, (2) determine the composition of the bran and vermicompost at best planting medium in promoting growth and production of oyster mushroom. The method used in this study is experimental with completely randomized design (CRD) with five treatments. Each treatment was repeated five times. The observed parameters consisting of key parameters, namely the weight of wet white oyster mushroom production while supporting parameter is the morphology of oyster mushroom, mycelium growth, the Biologcal Efficiency Ratio (BER), C/N ratio planting medium, planting medium initial pH, temperature and the daily conditions cultivated room humidity. The results showed that the highest average production in the treatment of bran 50% and 50% vermicompost (DK3). Speed of mycelium growth highest in treatment bran 100% and vermicompost 0% (DK1), and C/N ratio highest in treatment vermicompost bran 100% and 0% (DK1). | |
| 3594 | 13373 | B1J010079 | KARAKTERISASI DAN FENOLOGI ANGGREK SAPROFIT DI GUNUNG TUGEL | Anggrek termasuk dalam famili Orchidaceae dan memiliki bentuk bunga dan warna yang menarik. Anggrek terdiri dari 800 genus dan diperkirakan lebih dari 25.000 species. Penelitian eksploratif untuk karakterisasi anggrek saat ini dirasakan sangat penting karena banyak habitat anggrek alam yang rusak. Kerusakan habitat oleh eksploitasi berlebihan, bencana alam, dan alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian mengancam keberadaan anggrek terutama anggrek saprofit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter morfologi dan fenologi bunga anggrek saprofit di Gunung Tugel. Berdasarkan pengamatan morfologi anggrek saprofit di Gunung Tugel terdapat satu spesies anggrek yaitu Didymoplexis pallens, hidup di atas serasah bambu Gigantochloa apus. Anggrek saprofit berbunga dengan waktu 14-15 hari. Bunga anggrek langsung tumbuh di ujung batang dan tidak mempunyai daun. Bunga berwarna putih bersih, dengan lebar ± 13 mm dan panjang 16 mm, bibir bunga berwarna kuning khas. Tinggi batang rata-rata 10,98 dan dapat mencapai 15 cm, akar kadang membesar dan membentuk tuber. Terdapat rhizome berwarna coklat dan menggembung tersembunyi di dalam tanah | Orchid belongs to the family Orchidaceae and has a flower shape and color. Orchids consists of 800 genera and estimated at more than 25,000 species. Explorative research for the characterization of orchid is now considered to be very important because a lot of damaged natural orchid habitat. Habitat destruction by over-exploitation, natural disasters, and land conversion to agricultural land threatens the existence of orchids especially saprofit. The aim of this study was to determine the character of the species based on morphological characters and orchid flower phenology saprofit Mount Tugel. Based on morphological observation orchid saprofit Mount Tugel there is one species that is Didymoplexis pallens, living on a bamboo litter Gigantochloa sp. Saprofit orchid flowering time of 14-15 days. Orchid flowers grow directly on the stem end and have no leaves. Pure white flowers, with a ± 13 mm wide and 16 mm long, yellow flowers typical lip. Average height rod 10.98 and can reach 15 cm, the roots sometimes swell and form a tuber. There are brown and bulging rhizome hidden in the ground. | |
| 3595 | 13401 | F1C011011 | POLA KOMUNIKASI ANAK DENGAN ORANG TUA TUNGGAL YANG TIDAK TINGGAL BERSAMA PASCA PERCERAIAN DI PURWOKERTO | Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupan sehingga perlu mengadakan komunikasi dengan manusia lainnya. Melalui komunikasi tersebut, manusia diharapkan dapat menjalin sebuah hubungan yang baik dengan orang disekitarnya. Komunikasi keluarga merupakan cara seorang anggota keluarga untuk berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya. Keluarga yang awalnya dibangun berdasarkan cinta kasih, tidak selamanya dapat berjalan dengan harmonis dan dapat terjadi masalah yang berujung pada percerian. Keluarga yang mengalami perceraian akan mengalami perubahan pola komunikasi terutama antara anak dan orang tua. Riset ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi anak dengan orang tua tunggal yang tidak tinggal bersama pasca perceraian di Purwokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah Teori Dialektika Relasional. Teknik yang digunakan dalam memilih informan adalah purposive sampling dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan obeservasi. Berdasarkan analisis data dan hasil penelitian, Pola Komunikasi yang terjadi antara anak dengan orang tua yang tidak tinggal bersama pasca perceraian adalah pergerakan. Pergerakan merujuk pada sifat berproses dari hubungan dan perubahan yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu Melalui riset ini teridentifikasi pemahaman anak mengenai perceraian orang tua, melihat bagaimana anak mengambarkan hambatan yang terjadi dalam hubungan komunikasi, serta upaya anak untuk menjalin komunikasi yang intens. | Human is a social creature who need another human to communicate and have a mutual activities in life. Communication is an important thing in creating a harmonization between human in social life. In family life, communication is a part of vital factor to build a good interaction between parents and child. At the beginning of the family establishment, love is a factor to build a family. Love between family members can’t be guaranteed to make a harmonious family but a good communication between family members is the most important. As time passes, sometimes family also have a problem especially between parents and it can be led to a divorce. When the family has divorce, it changes a communication pattern between family members especially parents and child. The purpose of this research is to know “how is the communication pattern between child and single parent who don’t live together after divorces in Purwokerto?” The method of this research is qualitative descriptive. The theory of the research is Relational Dialectics. Purposive Sampling is the way to choose the informant for the research. Then collecting data for this research is interview and observation. According to data analysis and result of the research, communication pattern between parents and child who don’t live together is “Motion”. This Movement can be explained as a relation and changes which proceed over time. According to this research, it can be identified that the understanding of a child about divorces also can be seen from how the child face many kind of problem which caused by divorces especially about the communication relation between parents and child. | |
| 3596 | 13402 | F1C010052 | Strategi Komunikasi Pemasaran PT Tri Bangun Utama | Kebutuhan akan rumah semakin meningkat di Indonesia, dengan meningkatnya kebutuhan akan rumah juga berimbas pada kenaikan harga rumah yang cukup tinggi dan mengakibatkan pelaku bisnis semakin tertarik untuk melakukan bisnis dalam bidang properti. PT Tri Bangun Utama merupakan salah satu perusahaan yang mengembangkan bisnis ini di Kota Purwokerto, dan dengan potensi Kota Purwokerto yang semakin berkembang menjadikan investasi properti di Kota ini meningkat dengan tajam, semakin banyaknya pesaing dalam bisnis perumahan meenjadikan PT Tri Bangun Utama harus memiliki strategi komunikasi yang untuk meyakinkan konsumen untuk membeli proyek yang dikembangkan perusahaan ini. Maka hal ini yang menjadikan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Strategi Komunikasi Pemasaran PT Tri Bangun Utama” Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi PT Tri Bangun Utama dalam mempengaruhi konsumen untuk melakukan transaksi pembelian. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Validitas data diuji dengan menggunakan triangulasi metode dengan cara menggunakan sumber dan teknik yang berbeda dari data tersebut, Model analisis penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa dalam melakukan strategi pemasaranya perusahaan ini menggunakan lima bauran promosi yaitu periklanan, prmosi penjualan, hubungan masyarakat, penjualan pribadi, dan penujualan langsung. Kata kunci : Komunikasi Pemasaran, Bauran Promosi | The House needs are increase rapidly in Indonesia, with the increase of this needs also influence the property value that make the investment grows faster, and make many businessman more attracted to run this business. PT Tri Bangun Utama is one of the companies that also run this business in Purwokerto City, and with the potency of this city that growing up by the day make the property investnment here already increased rapidly. The rivalry in this business made this company have to keep developing their marketing strategies. This company have to create such strategies that can help the marketer to convincing the consument to make the business deals to buy a house in this company’s projects. Therefore the author interested in this subject and made a research with the title “ The Marketing Communication Strategies of PT Tri Bangun Utama”. The Purpose of this research is to know the marketing communication strategies of PT Tri Bangun Utama in order to influence the consuments to make their purchase transaction. The data collection method are using interview process, observation, and documentation. The validity of the data tested using triangulation method that use another resource and technique for data collection itself. The model of analysis used in this research are data reduction, data display, and conclution drawing. The research result showed that this company use five promotional mix strategies, there are advertisings, sales promotions, public relations, direct sellings, personal sellings. Keywords : Marketing Communication, Promotion Mix | |
| 3597 | 13403 | H1F009060 | Geologi dan Karakteristik Fasies Turbidit Formasi Penosogan Daerah Krakal dan Sekitarnya Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen Jawa Tengah | SARI GEOLOGI DAN STUDI KARAKTERISTIK FASIES TURBIDIT FORMASI PENOSOGANDAERAH KALIJAYA DAN SEKITARNYA KECAMATAN ALIAN KABUPATEN KEBUMEN Jawa Tengah termasuk daerah yang sangat penting dari batuan dasar yang diketahui di jawa, dikenal sebagai kompleks Luk Ulo (Van Bemmelen 1949; asikin et al., 1992; dalam Clement, 2009).Ini dianggap sebagai produk imbrikasi dari perubahan kapur saat batas subduksi meluas dari Jawa Barat, berlanjut ke kompleks Luk Ulo, hingga Pegunungan Meratus.Proses pengangkatan dan perombakan batuan di utara cekungan Karangsambung menjadi sumber utama pengisian cekungan. Satuan breksi basalt-andesit dapat disebandingkan dengan formasi waturanda yang terbentuk pada miosen awal (N4-N8; Blow, 1969) di kedalaman 200-800 meter (Batial atas-batial tengah) oleh mekanisme aliran butir (grain flow) dan aliran pecahan (debris flow).Dengan terjadinya genang laut, material yang diendapkan merupakan material yang relatif lebih halus, terbentuklah Satuan batupasir-batulempungdi daerah Kalijaya dan sekitarnya. Setelah dilakukan pengukuran penampang stratigrafi dan identifikasi batuannya, satuan ini dapat disebandingkan dengan formasi penosoganpada miosen tengah (N9-N14; Blow, 1969) di lingkungan pengendapan Neritik luar sampai Batial atas (150-350 mdpl) melalui mekanisme aliran pecahan (debris flow), arus turbid densitas tinggi, atau arus turbid densitas rendah.Didasarkan pada Bouma (2000) dan Walker (1999), di daerah Karanggayam-Kalijaya tersingkap batuan dengan fasies turbidit yang lengkap.Namun didasarkan pada Shanmugam (2006) fasies turbidit ini dianggap sebagai turbidit tidak lengkap.Peningkatan aktifitas tektonik menyebabkan peningkatan aktifitas vulkanisme dan menghasilkan satuan batupasir yang dapat disebandingkan dengan formasi halang, terbentuk pada miosen akhir sampai pliosen awal (N17-N20) di lingkungan kedalaman 30-200 mdpl dengan mekanisme debris flow atau arus turbid densitas tinggi. Hampir bersamaan dengan pembentukan satuan batupasir, Dengan sumber yang diduga berbeda terbentuk satuan breksi andesit menjari dengan satuan batupasir pada kisaran umur pliosen awal (N18-N20) di lingkungan neritik luar hingga batial atas (100-450 mdpl) melalui mekanisme aliran butir (grain flow) dan aliran pecahan (debris flow).Setelah pengendapan satuan batuan, peningkatan aktifitas tektonik pada pliosen-pleistosen juga berpengaruh besar dalam deformasi dan penyesaran batuan (Sesar Kalimandi). | ABSTRACT GEOLOGY AND CHARACTERISTIC STUDY TURBIDITY FACIES OF PENOSOGAN FORMATION IN KALIJAYA AND AROUNDED OF SUBDISTRICT ALIAN KEBUMEN REGENCY Central Java includes the most extensive area of basement rocks known in Java, the Luk Ulo Complex (van Bemmelen 1949; Asikin et al. 1992; Clement 2009).This is usually regarded as the imbricated product of Cretaceous deformation at a subduction margin that extended from West Java, through the Luk Ulo Complex, to the Meratus Mountains. Northward thrusting, deformation and weathering was the main sources of feeding basin. Basalt-Andesitic Breccia can comparable with Waturanda Formation which formed since lower Miocene (N.4-N.8; Blow 1969) at 200-800 m (upper bathyal-middle bathyal) by grain flow or debris flow mechanism. Transgression was consist in west, and the material be finer then the sandstone-mudstone was formed in Kalijaya and arounded area. After measuring section and identification the lithology, it can comparable with Penosogan Formation while sedimentation begin at middle Miocene (N.9-N.14; Blow 1969) in outer neritic to upper bathyal (150-350) by debris flow, high-density turbidity current or low-density turbidity current. It is the comprehensive turbidites in Bouma (2000) and Walker (1999), but in Shanmugam (2006) this unit was incomplete turbidity facies. Increase of tectonic activity cause increase volcanism activity and result sandstone unit which can comparable with Halang Formation. It is formed in 30-200 m deep inner shelf to outer shelf at upper Miocene to lower Pliocene (N.17-N.20), by debris flow or high density turbidity current. From the other source, formed andesitic breccia unit in outer shelf to upper bathyal (100-450 m) at lower Pliocene (N.18-N.20), by grain flow or debris flow mechanism.Increase of tectonic activity influence the basin and form the deformation of basin, deposit and thrust fault (Kalimandi fault). | |
| 3598 | 13405 | F1B010044 | Kinerja Implementasi Program Raskin di Desa Kalitinggar Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga | Program Raskin adalah salah satu program subsidi beras nasional pemerintah untuk membantu masyarakat yang miskin dan rawan pangan serta menjaga ketahanan pangan. Program ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran hanya kepada Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras dan mencegah penurunan konsumsi energi dan protein. Penelitian yang berjudul “Kinerja Implementasi Program Raskin di Desa Kalitinggar Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga” ini dilatarbelakangi oleh implementasi program Raskin di Desa Kalitinggar ditahun 2014 tidak sesuai dengan Peraturan Bupati No 12 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program Raskin Kabupaten Purbalingga. Raskin yang dibagikan tidak tepat jumlah, kurang dari 15Kg/ RTS-PM. Selain itu Pembagian Raskin juga tidak tepat sasaran karena dibagi rata, dimana yang tidak tercantum sebagai RTS-PM juga memperoleh raskin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja implementasi Program Raskin di Desa Kalitinggar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif-korelatif dengan pendekatan survey. Variabel yang digunakan adalah Kapasitas Aparat Pelaksana sebagai variabel X1, Kualitas Komunikasi dan Sosialisasi sebagai variabel X2, dan Kinerja Implementasi sebagai variabel Y. Metode pengumpulan data menggunakan kuisioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik Pengambilan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling. Metode analisis data menggunakan distribusi frekuensi, serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi Spearman Rank, Regresi Linear, dan Regresi Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Kinerja Implementasi (Y) dipengaruhi oleh variabel Kapasitas Aparat Pelaksana (X1), dan variabel Kualitas Komunikasi dan Sosialisasi (X2). Hubungan antar variabel juga signifikan. Tingkat Kinerja Implementasi Program Raskin di Desa Kalitinggar pada tahun 2015 berada dalam kategori tinggi dan dapat dikatakan berjalan dengan cukup baik. Pada variabel Kapasitas Aparat Pelaksana dalam implementasi program ini berada dalam kategori sangat tinggi dilihat dari sumber daya yang mencukupi dan disposisi aparat pelaksana yang sangat baik. Kualitas Komunikasi dan Sosialisasi berada dalam kategori sangat tinggi dilihat dari intensitas dan metode komunikasi yang baik serta pengetahuan RTS-PM yang baik mengenai implementor program raskin dan kelompok sasaran program. | Raskin is one of the national government's rice subsidy program to help the poor and food insecurity also maintain food security. The program aims to reduce the spending amount of household consumption only for the Target Households Beneficiaries (RTS-PM) through a partial fulfillment of basic food needs in the form of rice and to prevent a decrease of energy and protein consumption. This study, entitled "Implementation Performance Raskin in the Kalitinggar village of Padamara Sub-district of Purbalingga District" is caused by the Raskin program implementation on Desa Kalitinggar in 2014 was not in accordance with district regulation No. 12 of 2014 of Technical Guidelines for the Implementation of Raskin in Purbalingga District. Raskin distributed in improper amount, less than 15kg / RTS-PM. Besides on that, Raskin also poorly targeted because Raskin shared equally, whose are not listed as RTS-PM also received Raskin. This study aims to determine the performance of the implementation of Raskin in the village Kalitinggar. This study uses correlative quantitative methods with survey approach. The variables used in this research is the Capacity of Executive Officers as a variable X1, Quality of Communication and Socialization as X2, and Implementation Performance as a variable Y. Implementation Methods of data collection using questionnaires, interviews, observation, and documentation. Sampling techniques using Simple Random Sampling technique. Methods of data analysis by using frequency distribution, and hypothesis testing by using the formula of Spearman Rank Correlation, Linear Regression and Multiple Regression. The results showed that the Implementation of Performance variable (Y) is affected by the Capacity Executive Officers (X1) variable, and the Quality of Communication and Socialization (X2) variable. The relationship between all variables is also significant. Raskin Performance Implementation level in the Kalitinggar village on 2015 were in the high category and can be said to be running pretty well. Capacity Executive Officers variable in the implementation of this program are in the high category seen from adequate resources and the disposition of executive officers is excellent. The quality of communication and socialization are in the very high category seen from the intensity and communication methods as well as good knowledge of RTS-PM about Raskin program implementor and the target group of the program. | |
| 3599 | 13406 | F1I011023 | Keberhasilan Legalisasi Ganja di Uruguay Pada Masa Pemerintahan Presiden Jose Mujca Tahun 2010-2015 | Penelitian dengan judul “Keberhasilan Legalisasi Ganja di Uruguay Pada Masa Pemerintahan Presiden Jose Mujica Tahun 2010-2015” ini menganalisa tentang proses legalisasi konsumsi, produksi dan distribusi ganja di Uruguay pada tahun 2013. Penelitian ini juga menjabarkan faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi keberhasilan legalisasi ganja di Uruguay. Bagian pertama dari penelitian ini berfokus pada proses perumusan kebijakan di Uruguay mulai dari pengajuan rancangan undang-undang hingga penerimaan dan pemberlakukan undang-undang legalisasi ganja. Selanjutnya, penelitian ini lebih menekankan pada faktor dalam negeri dan faktor internasional yang mempengaruhi sistem politik Uruguay dalam proses perumusan kebijakan sehingga dapat dibuatnya kebijakan legalisasi konsumsi, produksi dan distribusi ganja di Uruguay. | This research paper is entitled “The Success of Cannabis Legalization in Uruguay under President Jose Mujica’s Government in 2010-2015”, where it analyzes the process of cannabis legalization for the purpose of consumption, production and distribution in Uruguay in 2013. This research paper describes the factors, both internal and external which influences the success of cannabis legalization in Uruguay. Fisrts section of this research focuses on the decision making process in Uruguay, starting from the bill’s proposal, to its acceptance, and until the constitution for legalizing cannabis is put into effect. Next section of this research is focusing mainly on the national and international factors which influenced Uruguay political system during the decision making process of cannabis legalization for the purpose of consumption, production and distribution in the country. | |
| 3600 | 13407 | G1G011017 | PENGARUH APLIKASI MADU LEBAH Apis trigona SECARA TOPIKAL TERHADAP EKSPRESI FIBROBLAST GROWTH FACTOR-2 (FGF-2), JUMLAH FIBROBLAS DAN PEMBULUH DARAH KAPILER PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA PASCA EKSTRAKSI GIGI | Ekstraksi gigi merupakan tindakan yang menimbulkan luka pada soket gigi. Luka pada ekstraksi gigi dapat menimbulkan adanya komplikasi. Jaringan yang mengalami perlukaan akan diikuti dengan adanya proses penyambuhan luka. Percepatan penyembuhan luka dapat diamati dari ekspresi fibroblast growth factor-2 (FGF-2), jumlah sel fibroblas dan jumlah pembuluh darah kapiler. Madu Trigona merupakan madu yang berasal dari lebah Apis trigona dan merupakan salah satu produk yang dimanfaatkan untuk obat tradisional. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui ekspresi fibroblast growth factor-2 (FGF-2), jumlah fibroblas, dan jumlah pembuluh darah kapiler pada aplikasi madu Trigona dalam proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi. Jenis penelitian ini eksperimental laboratoris dengan menggunakan 32 marmut (Cavia cobaya) yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 16 marmut kelompok kontrol dan 16 marmut kelompok perlakuan. Kelompok kontrol tidak diberikan aplikasi madu Trigona, sedangkan kelompok perlakuan diberikan aplikasi madu Trigona sebanyak 0,5 mL. Ekstraksi gigi dilakukan pada seluruh hewan coba di hari pertama yang dilanjutkan dengan aplikasi madu Trigona pada kelompok perlakuan. Hari ketiga seluruh marmut dikorbankan dan diambil jaringan mandibula. Jaringan ini selanjutnya diproses secara histologi dan dilakukan pewarnaan secara imuhistokimia untuk mengamati ekspresi fibroblast growth factor-2 dan pewarnaan HE untuk mengamati dan jumlah pembuluh darah kapiler. Hasil pengamatan kemudian dianalisis dengan Independent T-test. Hasil analisis FGF-2 menunjukkan tidak terdapat perbedaan kelompok kontrol dan perlakuan pada pengaruh pemberian madu Trigona terhadap ekspresi FGF-2. Hasil analisis jumlah fibroblas dan jumlah pembuluh darah kapiler menunjukkan adanya perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. | Tooth extraction is an act that causes injury to the tooth socket. Wound on tooth extraction can cause complications. A process of wound healing will follow the tissue experiencing injury. Acceleration of wound healing can be observed from the expression of fibroblast growth factor 2 (FGF-2), the number of fibroblasts, and the number of capillary blood vessels. Trigona honey is honey that comes from bee Apis Trigona and is a product used for traditional medicine. The aim of this research was to determine the expression of fibroblast growth factor-2 (FGF-2), the number of fibroblasts, and the number of capillaries in the application of Trigona honey in wound healing after tooth extraction.This type of laboratory experimental study use 32 guinea pigs (Cavia cobaya) which divided into two groups: the control group of 16 guinea pigs and treatment group of 16 guinea pigs. The 0,5 mL of Trigona honey application is conducted for the treatment group, but the same application was not conducted for the control group. Tooth extractions were performed on the entire animal on the first day and were followed by the application of Trigona honey in the treatment group. In the third day, the entire guinea pig was sacrificed and the mandible tissue were taken. This tissue was further processed histologically and immunohistochemistry staining was done to observe the expression of fibroblast growth factor-2. HE staining was done to observe and number of capillary blood vessels. The observation was then analyzed by independent t-test. The results of the analysis of FGF-2 showed no difference in the control and treatment group on the effect of Trigona honey on the expression of FGF-2. The results of the analysis of the number of fibroblasts and capillary blood vessels showed a difference between the control group and the treatment group. |