Artikelilmiahs
Menampilkan 3.541-3.560 dari 48.746 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 3541 | 13339 | E1A008307 | PENGAWASAN TERHADAP NARAPIDANA TERORISME (Studi di Lapas Klas II A Kembangkuning Nusakambangan) | Penelitian ini mengambil judul Pengawasan Terhadap Narapidana Terorisme (Studi di Lapas Klas II A Kembangkuning Nusakambangan). Metode pendekatan yang dipakai adalah yuridis sosiologis yaitu suatu penelitian yang menekankan pada ilmu hukum, di samping itu juga berusaha menelaah kaidah-kaidah hukum yang berlaku di masyarakat. Spesifikasi Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan objek yang akan diteliti untuk kemudian dianalisis berdasarkan teori-teori hukum dan praktik pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan tanpa maksud untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan yang berlaku umum. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Pengawasan yang dilakukan oleh petugas Lapas Klas II A Kembang Kuning terhadap narapidana terorisme yaitu dengan pengawasan monitoring secara langsung seperti kontrol keliling. Pengawasan tidak langsung melalui evaluasi pembinaan narapidana terorisme. Faktor-faktor penghambat dalam pengawasan narapidana terorisme di Lapas Klas II A Kembangkuning dari segi struktur hukum dan segi budaya hukum. Adapun hambatan dari struktur hukum yaitu kurangnya pengetahuan dari petugas lembaga pemasyaratan mengenai agama Islam, pandangan bahwa pengawasan narapidana terorisme adalah pengetatan atas hak-hak mereka sebagai warga binaan, belum ada petugas khusus untuk pengawasan narapidana terorisme dan minimnya pelatihan terhadap petugas lembaga pemasyarakatan dalam membina narapidana terorisme. Sedangkan hambatan dari budaya hukum yaitu narapidana teroris memiliki pengetahuan agama Islam yang sangat tinggi. Pengawasan menjadi gagal manakala pemahaman agama yang dimiliki oleh petugas lembaga pemasyarakatan lebih dangkal daripada narapidana teroris, narapidana terorisme termasuk pribadi yang ekstrim, cara berpenampilan yang berbeda dengan narapidana lain, perlakuan khusus bagi narapidana terorisme yang kurang diterima oleh narapidana lainnya, narapidana terorisme termasuk narapidana dengan tingkat egois yang tinggi, pandangan negatif narapidana terorisme terhadap petugas lembaga pemasyarakatan, tidak ada rasa penyesalan atas aksi-aksi terorisme yang dilakukannya, motivasi dalam melaksanakan aksi terorisme sangat kuat yang untuk memerangi pihak-pihak yang memerangi umat Islam, narapidana terorisme tetap menyebarluaskan doktrin-doktrinnya meskipun berada di lembaga pemasyarakatan. | This study took the title Supervision Prisoners of Terrorism (Studies in Prison Class II A Kembangkuning reclaiming). The method used is the juridical sociology is a science research that emphasizes the law, in addition, it also seeks to examine the rules of law in society. Specifications research is descriptive analytic research that describes the state of the object to be examined and then analyzed based on the theories of law and positive law enforcement practice concerning issues without intent to draw conclusions that are generally applicable. Based on the results of research and discussion, it can be concluded that the supervision carried out by officers Prison Class II A Kembangkuning against terrorism convicts are supervised directly monitoring as roving control. Indirect supervision through coaching evaluation inmates terrorism. Supervision by the legislature is not optimal, since the performance of legislators (DPR) to supervise simply hearings to evaluate the performance of government officials (executive) and a working visit. Factors inhibiting the supervision of inmates in prisons terrorism Class II A Kembangkuning in terms of legal structure and in terms of legal culture. The constraints of the legal structure, namely the lack of knowledge of the personnel agency pemasyaratan about Islam, the view that the surveillance of prisoners of terrorism are tightening up their rights as prisoners, no special personnel for monitoring prisoners of terrorism and lack of training of prison staff in fostering inmates terrorism. While the obstacles of a legal culture that terrorist prisoners have knowledge of Islam was very high. Supervision to fail when the understanding of religion which is owned by the correctional officer more shallow than terrorist convicts, inmates of terrorism, including personal extreme, how dressed different with other inmates, special treatment for prisoners of terrorism are less accepted by other inmates, inmates of terrorism, including inmates a high level of selfish, negative view inmates terrorism against prison staff, there is no sense of remorse for acts of terrorism that he did, motivation in carrying out acts of terrorism is very strong to fight those who fight Muslims, terrorism prisoners remain disseminate doctrine - doctrine despite being in prison. | |
| 3542 | 13340 | H1C010014 | Perhitungan Diameter dan Jumlah Sel Darah Putih (Leukosit) Menggunakan Metode K-Means Clustering | Sel darah putih mempunyai peran yang penting dalam tubuh. Sel darah putih sebagai sistem imunitas tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari virus, bakteri dan patogen. Dalam keadaan normal sel darah putih mempunyai jumlah yang relatif konstan. Jika jumlah sel darah putih melebihi atau kurang dari jumlah normal maka gangguan kesehatan dapat terjadi. Sehingga jumlah sel darah putih sering dijadikan sebagai indikator kelainan dan penyakit. Pengolahan citra digital merupakan metode alternatif yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sel darah putih selain dengan alat hematology analyzer ataupun secara manual oleh tenaga medis dengan mengolah citra darah sehingga didapatkan informasi yang di inginkan. Citra darah mempunyai beragam kondisi pencahayaan, waktu pewarnaan, dan ketebalan sel yang menyebabkan beragamnya atribut citra darah tersebut. Penelitian ini sel darah putih disegmentasi menggunakan metode K-Means clustering pada komponen hue citra setelah ditransformasikan ke koordinat warna HSV dengan mengelompokan citra sel darah putih (bernilai hue tingg) ke dalam satu cluster. Sistem mampu menghitung jumlah sel darah putih dengan sensitivitas total 80%, spesifitas total 89%, dan akurasi total 82%. Sistem mampu menghitung diameter sel darah putih dengan akurasi rata-rata 98%, akurasi terkecil 71%, dan akurasi terbesar 100%. | White blood cells have an important role in the body. White blood cells as the immune system works to protect the body from viruses, bacteria and pathogens. Under normal circumstances the number of white blood cells have a relatively constant number. If the white blood cell exceeds or is less than the normal number, health problems may occur. So the white blood cell count is often used as an indicator of abnormalities and diseases. Digital image processing is an alternative method that can be used to identify white blood cells in addition to the hematology analyzer, or manually by medical personnel by processing blood image to obtain the desired information. Blood image has a variety of lighting conditions, time staining, and the thickness of the cells that cause the diversity of the attributes of the blood image. In this research, white blood cells segmentation using K-Means clustering in image hue component after being transformed into HSV color coordinates by classifying the image of the white blood cells (high hue value) into a single cluster. System is capable to count the number of white blood cells with 80% overall sensitivity, 89% overall specifity, and 82% overall accuracy. System is capable to measure the diameter of white blood cells with 98% average accuracy, 71% lowest accuracy, and 100% highest accuracy. | |
| 3543 | 13343 | F1F011040 | ALLEGORY OF WORLD WAR 2 IN WILLIAM GOLDING’S LORD OF THE FLIES | Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa alegori yang ditemukan dalam novel karya William Golding yang berjudul Lord Of The Flies serta bagaimana alegori alegori tersebut merefleksikan Perang Dunia II yang mana merupakan kejadian yang sangat berpengaruh ketika novel ditulis. Lord of The Flies memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Perang Dunia II. William Golding menggunakan Perang Dunia II sebagai tema di Lord of the Flies dan dia menggunakan alegori untuk menyampaikan pemikirannya tentang Perang Dunia II. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisa data utama. Karena penelitian ini mencoba mencari hubungan antara alegori dalam novel dan Perang Dunia II, maka Strukturalisme Genetik digunkan dalam penelitian ini. Hal ini karena Strukturalisme Genetik berfokus dalam mencari hubungan antara unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pengarang menggunakan alegori dalam karakter, simbol dan tema untuk menyampaikan pemikirannya mengenai Perang Dunia II dan sifat dasar manusia. Semua karakter di novel masing masing merepresentasikan tokoh tokoh yang terlibat dalam Perang Dunia II seperti Hitler, Orang Orang Yahudi, dan Neville Chamberlain. Kemiripan ditemukan dalam betapa miripnya kelakuan, nasib, dan perlakuan yang diterima karakter di novel dengan tokoh yang mereka representasikan. Alegori juga dapat ditemukan di objek yang ada di novel. Ada tiga objek yang memiliki makna tersembunyi, mereka adalah kerang yang merupakan simbol demokrasi, sang mahluk buas yang menyimbolkan kejahatan yang ada dalam diri manusia, dan topeng yang menyimbolkan seragam militer. Selain itu alegori juga dapat ditemukan dalam tema novel, tema tersebut adalah keuniversalan kejahatan, kebuasan tersembunyi manusia dan efek dari ketakutan. | Abstract This research is aimed to analyze the allegories found in William Golding’s Lord of The Flies and how those allegories reflect the event of World War 2 which was a major issue when the novel was written. Lord of the Flies relates strongly to events from World War II. William Golding used World War 2 as its theme is Lord of The Flies and he used allegory to convey his thoughts on World War 2. The researcher used descriptive qualitative method to analyze the main data, Lord Of The Flies by William Golding. Since the research is trying to find connection between the allegories in the novel and World War 2, Genetic Structuralism is used in this research because it focuses on finding a connection between the intrinsic elements and the extrinsic elements of the novel. The result of the research shows that the author clearly uses allegories in char-acters, symbols and themes to convey his thoughts about World War 2. All the characters in the novel, each represents particular figure or group that was involved in the World War 2 such as Hitler, The Jews, and Neville Chamberlain. The similarities are found in the term of how similar the novel characters act, their fates, and how they are treated compared to the figures they are supposed to represent. Allegories are also found in the symbols in the novel. There are three symbols that hold allegorical meaning, and they are the the conch, the symbol of democracy, the beast, the symbol of human inner evil, and the mask that represents military uniform. The theme are also allegorical to World War 2. There are also themes that are closely related to World War 2. The first is the universality of evil, the inner savagery, and the effect of fear | |
| 3544 | 13342 | E1A109099 | LEGAL STANDING DALAM BERPERKARA DI MAHKAMAH KONSTITUSI (Analisis Yuridis Terhadap Keterpenuhan Syarat Kedudukan Hukum Dalam Berperkara di Mahkamah Konstitusi) | ABSTRAK LEGAL STANDING DALAM BERPERKARA DI MAHKAMAH KONSTITUSI (Analisis Yuridis Terhadap Keterpenuhan Syarat Kedudukan Hukum Dalam Berperkara di Mahkamah Konstitusi) Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut undang-undang untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada Mahkamah Konstitusi. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam berperkara di Mahkamah Konstitusi. Pemohon yang telah memenuhi persyaratan berarti memiliki legal standing untuk berperkara di Mahkamah Konstitusi. Dengan demikian legal standing ini menjadikan pemohon sebagai subjek hukum yang sah untuk mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini berusaha untuk menganalisis keterpenuhan syarat kedudukan hukum (legal standing) dalam berperkara di Mahkamah Konstitusi. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (statute approach), spesifikasi penelitian adalah deskriptif analitis, sedangkan sumber bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang dikumpulkan melalui identifikasi dan inventarisasi terhadap peraturan perundang-undangan dan buku kepustakaan serta dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pemohon memiliki legal standing atau kedudukan hukum dalam berperkara di Mahkamah Konstitusi apabila memenuhi: Syarat formal, yaitu keempat pemohon atau subjek hukum (perorangan warga negara Indonesia, kesatuan masyarakat hukum adat, badan hukum publik atau privat, atau lembaga negara) haruslah terlebih dahulu membuktikan identitas dirinya memang memenuhi syarat sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Syarat material, yaitu pemohon atau subjek hukum yang bersangkutan haruslah membuktikan adanya kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. | ABSTRACT LEGAL STANDING OF CASE IN THE SUPREME COURT (Juridical Analysis To The Condition Fulfillment Of The Law Position Of Case In The Constitution Court) By: MANGGALA BAYU SAKTI E1A1O9O99 Requester is the subject of law who fulfills the conditions according to Ordinance to propose the request of constitution case to the Constitution Court. The fulfillment of those conditions determine the position of law or legal standing a subject of law to become the legal requester of case in the Constitution Court. Requester who has fulfilled those conditions means they have legal standing to have case in Constitution Court. Therefore, this legal standing makes the requester as the legal subject of law to propose the request to the Constitution Court. Based on those explanation, so this research tries to analyze the fulfillment of the condition of the legal standing of case in the Constitution Court. Method of research uses normative juridical by using the statute approach method, research specification is analytical descriptive, and source of material law uses the primary material law and secondary material law is collected through the identification and intervention to the ordinance regulation and literature book and those analyzed by using the method of normative qualitative. Based on the result of research and discussion so it can be concluded that requester has legal standing or law position of case in the Constitution Court if fulfill: formal condition, that is the fourth of requester or subject of law (individually of the citizen of Indonesia, society union of the law of custom, public or private law institution, or state institution) they must previously prove the identity their self has fulfilled the conditions as determined in the Article 51 (1) Ordinance No. 24 in 2003 about the Constitution Court. Material condition, that is the requester or subject of law they must prove the loss of right and/or constitutional authority as explained in the Article 51 (1) Ordinance No. 24 in 2003 about the Constitution Court. The requester who don’t have the legal standing will accept the decision of Constitution Court which explains their request cannot be accepted. Keywords: condition, legal standing, Constitution of Court | |
| 3545 | 13347 | E1A008076 | PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP PUTUSAN TINDAK PIDANA KDRT DALAM HAL PENELANTARAN RUMAH TANGGA ( Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 33/Pid.Sus/2012/PN.Pwr. ) | Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan suatu masalah yang sudah lama terjadi di tengah-tengah masyarakat bagaikan fenomena gunung es. KDRT atau biasa juga disebut sebagai kekerasan domestik (domestic violence) merupakan suatu masalah yang sangat khas karena KDRT terjadi pada semua lapisan masyarakat mulai dari masyarakat berstatus sosial rendah sampai masyarakat berstatus sosial tinggi. Sebagian besar korban KDRT adalah istri dan aanaknya, dan pelakunya biasanya ialah suami (walaupun ada juga korban justru sebaliknya) atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Rika Saraswati menyatakan bahwa: Ketidakadilan gender terwujud dalam berbagai bentuk ketidakadilan, seperti marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotip atau pelabelan negatif, kekerasan (violence),beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden). Kekerasan yang disebabkan oleh bias gender disebut juga dengan gender-related violence. Anak yang sering kali menjadi korban dalam permasalahan rumah tangga merupakan ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat sebaik mungkin, setiap anak perlu mendapatkan perlindungan agar mereka dapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial dan berakhlak mulia. Pengertian anak berdasarkan Undang-undang nomor 23 tahun 2002 adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang berada dalam kandungan. Dalam ruang lingkup rumah tangga, anak menjadi suatu objek Mengenai masalah anak, anak sering mendapatkan perlakuan yang salah terutama masalah yang terjadi akibat adanya perselisihan antara ayah dan ibunya. Perlindungan hak-hak anak pada hakikatnya menyangkut langsung pengaturan dalam peraturan peundang-undangan. Kebijaksanan, usaha, dan kegiatan yang menjamin terwujudnya perlindungan hak-hak anak, pertama-tama didasarkan atas pertimbangan bahwa anak-anak merupakan golongan yang rawan dan dependent, disamping karena adanya golongan anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan, baik rohani, jasmani, maupun sosial. Oleh karena itu tindakan orang terhadap perampasan hak anak dikualifikasikan sebagai tindakan penelantaran anak. Penelantaran anak merupakan salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga, hal ini akibat dari orang tua yang tidak melaksanakan kewajiban dan tangung jawabnya terhadap anak untuk memberikan jaminan perlindungan bagi anak-anak mereka. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan fenomena global yang terjadi sepanjang abad kehidupan manusia, dan terjadi di semua negara. Bentuk kekerasan tersebut bermacam-macam dalam semua aspek kehidupan, baik di bidang sosial budaya, politik, ekonomi, maupun pendidikan yang umumnya korban adalah perempuan dan anak dalam lingkungan keluarga. Seperti yang telah dijelaskan diatas tentang kekerasan, penulis merasa bahwa kekerasan atau tindakan seperti halnya yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang khususnya terpusat pada anak-anak yang dalam hal ini merupakan sebagai objek atau korban, butuh perhatian khusus oleh masyarakat. Seperti halnya kasusu penelantaran terhadap anak yang terjadi di Purworejo, Jawa Tengah. Kasus ini pun sudah diputus pada tahun 2012 dan juga putusan tersebut sudah incracht dengan nomor putusan : 33/Pid.Sus/2012/PN.Pwr. Secara garis besar duduk perkaranya adalah sebagai berikut, ada sepasang suami istri yang bernama Supriyadi Bin Ponidi dan istrinya yang bernama Vivie Hapsary Kusumawardanie binti Saryanto, mereka berdua telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Dewangga Satya Sancahya. Bahwa pada waktu dan tempat yang telah disebutkan dalam Putusannya, Supriyadi bin Ponidi yang merupakan ayah kandung dari Dewangga Satya Sancahya telah membiarkan dan tidak memberikan nafkah serta kasih sayang lahir batin kepada korban yaitu Dewangga Satya Sancahya. Hal ini berawal dari terjadinya pertengkaran atau perselisihan antara Supriyadi bin Ponidi dengan Vivie Hapsary Kusumawardanie binti Saryanto, kemudian singkat cerita Vivie Hapsary Kusumawardanie binti Saryanto pergi meninggalkan Supriyadi bin Ponidi ke rumah orang tua dari Vivie Hapsary Kusumawardanie binti Saryanto dengan serta membawa anaknya yaitu Dewangga Satya Sancahya. Karena belum ada perdamaian dengan Vivie Hapsary Kusumawardanie binti Saryanto maka akibatnya Supriyadi bin Ponidi rela mengorbankan hak-hak korban sebagai anak kandungnya yaitu dengan tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang lahir dan batin kepada korban Dewangga Satya Sancahya dan justru korban Dewangga Satya Sancahya hidup dan dinafkahi oleh Vivie Hapsary Kusumawardanie binti Saryanto. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik dengan Putusan diatas baik dari segi pertimbangan hakimnya dan pengenaan pasal yang diberikan terhadap terdakwa Supriyadi bin Ponidi, lebih spesifik lagi karena kasus tersebut mendapat sorotan penulis dikarenakan objek dari penulisan ini adalah anak-anak yang mendapat kekerasan dalam ruang lingkup rumah tangga. Kesemuanya itulah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian guna penyusunan skripsi yang berjudul “PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP PUTUSAN TINDAK PIDANA KDRT DALAM HAL PENELANTARAN RUMAH TANGGA ( Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 33/Pid.Sus/2012/PN.Pwr. )”. | Domestic Violence (domestic violence) is a problem that has long occurred in the middle of the community is like an iceberg phenomenon. Domestic violence or also called as domestic violence (domestic violence) is an issue which is very typical for domestic violence occurs in all walks of life ranging from a low social status of the community to the community of high social status. Most victims of domestic violence is the wife and aanaknya, and the culprit is usually the husband (although there were also casualties on the contrary), or people who are subordinated in the household. Saraswati Rica stated that: Gender injustice manifested in various forms of injustice, such as the marginalization or the process of economic impoverishment, subordinated or not important assumption in political decisions, the formation of stereotypes or negative labeling, violence (violence), the workload is longer and more (burden). Violence caused by gender bias is also called the gender-related violence. Children who often become victims in the issue of household is a creation of God that must be kept and treated as possible, every child needs to be protected so that they can be opportunities as possible to grow and develop optimally, whether physical, mental, and social and moral noble. Understanding child under Law number 23 of 2002 is someone who has not aged 18 (eighteen) years, including a child in the womb. Within the scope of the household, the child becomes an object Regarding the issue of children, children often get the wrong treatment, especially problems that occur due to a dispute between his father and mother. Protection of children's rights essentially involves directly setting the rules and regulations peundang. Wisdom, effort, and activities that ensure the protection of children's rights, first of all based on the consideration that children are a group that is vulnerable and dependent, as well as the groups of children who experience barriers to growth and development, both spiritual, physical, and social. Therefore, the action against the deprivation of rights of the child qualifies as an act of child neglect. Neglect of children is one form of domestic violence, it is the result of parents who do not carry out the obligations and responsibilities of children to assure the protection of their children. Domestic violence is a global phenomenon that occurred throughout the centuries of human life, and occurs in all countries. The violence forms an assortment in all aspects of life, both in the areas of social, cultural, political, economic, and education in general victims are women and children within the family. As has been described above concerning violence, the authors felt that violence or acts as well as regulated in Law Number 23 of 2004 on the Elimination of Domestic Violence are particularly focused on children in this case are as objects or victims, need special attention by the public. As with any retrospective case series, neglect of children that occur in Purworejo, Central Java. This case was already decided upon in 2012 and also the decision already incracht with decision number 33 / Pid.Sus / 2012 / PN.Pwr. Broadly speaking, sitting his case is as follows, there are a couple who named Supriyadi Bin Ponidi and his wife named Kusumawardanie daughter Vivie Hapsary Saryanto, they had both been blessed with a boy named Dewangga Satya Sancahya. That at the time and place mentioned in the Decision, Supriyadi bin Ponidi who is the biological father of Dewangga Satya Sancahya been let and do not provide a living as well as inner and outer compassion to victims, namely Satya Dewangga Sancahya. It started from an argument or disagreement between Supriyadi bin Ponidi with Vivie Hapsary Kusumawardanie bint Saryanto, then short stories Vivie Hapsary Kusumawardanie bint Saryanto left Supriyadi bin Ponidi to house the parents of Vivie Hapsary Kusumawardanie bint Saryanto with and take his son is Dewangga Satya Sancahya , Because there is no peace with Vivie Hapsary Kusumawardanie bint Saryanto the consequences Supriyadi bin Ponidi willing to sacrifice the rights of victims as a biological child is by never paying attention and affection outwardly and inwardly to victims Dewangga Satya Sancahya and even victims Dewangga Satya Sancahya life and dinafkahi by Vivie Hapsary Kusumawardanie bint Saryanto. Based on the description above, the authors are interested in the Decision above in terms of both consideration of the judge and the imposition of the article is given to the defendant Supriyadi bin Ponidi, more specifically because the case is under the spotlight writer because the object of this paper is the children who got violent in scope household. All of which prompted the authors to conduct research for preparation of the thesis entitled "JUDGE CONSIDERATION OF DECISIONS IN TERMS OF CRIME Violence neglect of household (Judicial Review Decision No. 33 / Pid.Sus / 2012 / PN.Pwr.)". | |
| 3546 | 13345 | C1A010068 | ANALISIS TENAGA KERJA DI RT 01 / RW 02 DESA KEBANGGAN KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS DENGAN PENDEKATAN PEMANFAATAN ANGKATAN KERJA (LABOR UTILISATION APPROACH) OLEH PHILIP HAUSER | Penelitian ini berjudul “Analisis Tenaga Kerja Di Rt 01 / Rw 02 Desa Kebanggan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas dengan Pendekatan Pemanfaatan Angkatan Kerja (Labor Utilisation Approach) Oleh Philip Hauser”. Tujuan untuk mengetahui perbedaan hasil antara pendekatan pemanfaatan angkatan kerja dengan teori sebelumnya yaitu pendekatan angkatan kerja, dan mengetahui bagaimana keadaan di RT 01 / RW 02 Desa Kebanggan Kecamatan Sumbang menurut pendekatan pemanfaatan angkatan kerja. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode study kasus. Penelitian ini menggunakan data primer dengan 120 responden. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Berdasarkan hasil penelitian didapat hasil data yang berbeda dan pendekatan pemanfaatan angkatan kerja lebih jelas dan ditail yang menjadikan lebih tepat digunakan di Rt 01 / Rw 02 Desa Kebanggan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. | This research’s title is “Analysis Of Manpower in Rt 01/Rw 02 Kebanggan Village, Sub District of Sumbang, Banyumas Regency, using Labor Utilisation Approach by Philip Hauser”. The purposes of this study are to knowing the difference between the results of labor utilization approach with the previous theory is labor forcé approach and find out how the situation in RT 01 / RW 02 Kebanggan village Sumbang district Banyumas regency. This type of research is descriptive quantitative by using the case study method. This study uses primary data with 120 respondents. The analytical tools used in this researchis frequency distribution and cross tabulation. Based on the results of the research obtained Theory of Labor Utilisation Approach have different views to the theory of labor approach. labor utilisation approach also see age, income, education, and working hours, which can result different data and more clearly illustrates the state of the labor. | |
| 3547 | 13346 | H1C010018 | IMPLEMENTASI KINEMATIKA INVERS TERHADAP PERGERAKAN KAKI PADA RANCANG BANGUN ROBOT QUADRUPED BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA 16 | Pada penelitian ini dilakukan perancangan robot berkaki yang setiap sendi dikendalikan oleh mikrokontroler ATmega16 dengan menggunakan persamaan matematis trigonometri untuk mencari Kinematika invers. Implementasi Kinematika invers digunakan untuk mengubah derajat servo pada pada servo controller robot Quadruped menggunakan pemrograman C++ sehingga robot dapat melakukan pergerakan kaki sesuai dengan titik koordinat (x, y, z) yang telah dimasukan. Dengan memasukkan beberapa koordinat akan mendapatkan pola pergerakan kaki robot. Pola yang telah didapat akan dikombinasikan pada kaki lain untuk membuat gerakan robot quadruped maju, mundur, ataupun bergerak menyamping. Sedangkan untuk mengendalikan robot quadruped dengan menggunakan komunikasi bluetooth dari aplikasi smartphone yaitu bluetooth serial controller 16 button dengan mengirimkan data perintah ke bluetooth HC-05 untuk melakukan perintah gerak robot. Pada hasil perancangan robot dapat melakukan gerakan maju ataupun mundur. Akan tetapi masih memiliki terkendala pada perubahan sudut yang dihasilkan oleh servo. Pada pengujian servo memiliki tingkat kesalahan sudut sebesar 6,25% yang disebabkan oleh nilai overflow yang dihasilkan terdapat pembulatan nilai akan tetapi nilai masih pada rentang yang diperbolehkan. Sedangkan Pengujian kinematika invers pada kaki robot bergerak sesuai dengan letak koordinat yang dituju tetapi dari 6 kali pengujian terdapat salah satunya yang memiliki tingkat kesalahan koordinat senilai (3.5, 5.8, -17.3) pada kondisi yang diinginkan adalah (3, 5, -18). Dalam menentukan titik koordinat dari robot harus melakukan pengaturan kalibarsi terhadap nilai overflow dari servo agar mendapatkan hasil koordinat yang akurat. | In this research, design-legged robot that each joint is controlled by a microcontroller ATmega16 using mathematical equations trigonometry to find the inverse kinematic. Implementation of inverse kinematics is used to change the degree of servo on the servo controller quadrupeds robot using C ++ programming so that the robot can perform leg movements in accordance with the coordinates (x, y, z) that has been entered. By entering a few coordinates will get a pattern on the movement of the robot legs. The pattern that has been obtained will be combined on the other foot to create a robot quadruped movement forward, backward, or move sideways. As for controlling the robot quadrupeds using Bluetooth communication from a smartphone application called "bluetooth controller 16 button" by sending the command data to bluetooth HC-05 to do the robot motion commands. On the results of the design of the robot can move forward or backward. But still has constrained the angle changes generated by servo. In testing the angle servo has an error rate of 6.25% due to overflow resulting values are rounding value but the value is still in the range of allowable values. While testing on foot robot inverse kinematics move corresponds to the coordinates of the target but of 6 times the test are the one which has an error rate valued coordinates (3.5, 5.8, -17.3) on the condition that has been entered is (3, 5, -18), In determining the coordinates of the robot must perform kalibarsi setting the value of the overflow of the servo in order to get the accurate coordinates. | |
| 3548 | 13361 | B1J011113 | PERTUMBUHAN MISELIUM Pleurotus ostreatus PADA MEDIUM DAN SUHU YANG BERBEDA UNTUK SEDIAAN BIBIT JAMUR F0 DAN F1 | Pleurotus ostreatus sudah banyak dibudidayakan di Indonesia. Faktor keberhasilan budidaya jamur dipengaruhi oleh bibit yang digunakan. Kualitas bibit ditentukan antara lain oleh medium dan suhu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) interaksi jenis medium dan suhu yang menghasilkan pertumbuhan miselium P. ostreatus terbaik untuk sediaan F0 dan F1; 2) jenis medium dan suhu pertumbuhan miselium P. ostreatus terbaik untuk sediaan bibit F0 dan F1; dan 3) pengaruh berbagai macam medium dan suhu terhadap pertumbuhan miselium P. ostreatus untuk sediaan bibit F0 dan F1. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap penelitian menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Percobaan pertama terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah medium (4 taraf), yaitu PDA, SDA, MEA, dan PDYA. Faktor ke dua yaitu suhu (2 taraf), yaitu 24oC dan suhu ruang. Perlakuan diulang 4 kali. Percobaan ke dua terdiri atas dua faktor. Faktor pertama yaitu medium (3 taraf), formula A, formula B, dan formula C. Faktor ke dua berupa suhu (2 taraf), yaitu 24oC dan suhu ruang. Perlakuan diulang 5 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji F tingkat kesalahan 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap F0, jenis medium, suhu, dan interaksi antara jenis medium dan suhu sangat berpengaruh terhadap diameter akhir koloni miselium dan laju pertumbuhan miselium. Hasil uji BNT menunjukkan bahwa medium PDYA suhu ruang merupakan kombinasi medium dan suhu paling baik untuk pertumbuhan miselium P. ostreatus dengan diameter akhir dan laju pertumbuhan masing-masing yaitu 9 cm dan 0,745 cm/hari. Hasil penelitian tahap F1 menunjukkan bahwa jenis medium dan suhu sangat berpengaruh, sedangkan interaksi antara jenis medium dan suhu berpengaruh terhadap laju pertumbuhan miselium. Hasil uji BNT menunjukkan bahwa medium formula B inkubasi suhu ruang merupakan kombinasi medium dan suhu paling baik untuk pertumbuhan miselium P. ostreatus dengan laju pertumbuhan sebesar 0,5160 cm/hari. | Pleurotus ostreatus have been already cultivated widely in Indonesia. This research has goal to knowing: 1) interaction of medium and temperature which result the best mycelial growth of P. ostreatus for F0 and F1 preparations; 2) medium and temperature which result the best mycelial growth of P. ostreatus for F0 and F1 preparations; and 3) affect of types of medium and temperature to mycelial growth P. ostreatus for F0 and F1 preparations. This research has done in two steps use experimental methode of Completely Randomized Design factorial. The first step contains of two factors. The first factors was type of medium (4 levels), that were PDA, SDA, MEA, and PDYA. The second factor was temperature (2 levels), that were 24oC and room temperature. Each of combined treatment was replicated 4 times. The second step contains of two factors. The first factor is medium (3 levels), that were formula A, formula B, and formula C. The second factor was temperature (2 levels), that were 24oC and room temperature. Each of combined treatment was replicated 5 times. Research data were analyzed using analysis of variance (F test), the results showed that in F0 phase, the type of medium, temperature, and interaction between types of medium and temperature had very significant effects to the average of colony diameter and mycelial growth rate. Results of Least Significant Difference (LSD) test showed that the medium PDYA in room temperature was the best combined treatment for mycelial growth of P. ostreatus with average of colony diameter and mycelial growth rate were 9 cm and 0,745 cm.day-1. The results showed in F1 phase, the types of medium and temperature had very significant affects, and interaction between types of medium and temperature has significant effects to the average of mycelial growth rate. Results of Least Significant Difference (LSD) test showed that the medium formula B in room temperature was the best combined treatment for mycelial growth of P. ostreatus with average of mycelial growth rate 0,5160 cm.day-1. | |
| 3549 | 13348 | H1C010073 | STUDI ANALISIS VARIABLE SPEED DRIVE UNTUK MOTOR SINKRON MAGNET PERMANEN TIGA FASA DENGAN MENGGUNAKAN VOLTAGE SOURCE INVERTER | Variable Speed Drive (VSD) merupakan sistem pengendalian motor ac yang paling banyak digunakan dalam aplikasi bidang industri. Akan tetapi pada aplikasinya hanya menggunakan motor induksi. Beberapa tahun belakangan kepopuleran motor induksi mulai tergeser oleh motor sinkron. salah satu jenis motor sinkron adalah motor sinkron yang menggunakan rotor magnet permanent atau biasa disebut motor sinkron magnet permanent (PMSM), Keuntungan dari PMSM meliputi inersia rendah, efisiensi tinggi, daya kepadatan tinggi, dan kehandalan. Kehandalan dari sistem variabel speed drive menggunakan PMSM dapat tergantung dari banyak aspek, namun yang paling mempengaruhi adalah perancangan pulse width modulation dalam mengontrol pensaklarannya. Perancangan rangkaian simulasi pada penelitian ini menggunakan variable speed drive dengan inverter sumber tegangan dan pulse width modulation yang mengontrol umpan balik dari gelombang keluaran kecepatan. Dengan adanya sistem ini akan mengoptimalkan pengontrolan motor dan memberikan nilai tambah pada pengontrolannya. Hasil penelitian menunjukan pada saat kecepatan referensi (speed ref) 180 rpm didapatkan nilai kecepatan yang terukur sebesar 179.99118 rpm dengan error 0.0049 % dan torsi kontan pada nilai 3 Nm, THD arus sebesar 0.3301 %, 0.2536 %,dan 0.2415 % sedangkan THD tegangan 0.3394 %, 0.2507 %, 0.2572 % nilai ini masih berada pada range toletansi standar IEEE 519 – 1992 sehingga nilai tersebut masih bisa diterima. Nilai faktor daya starting yang dihasilkan sebesar 0.650737211 dengan daya aktif sebesar 802.93 W dan daya semu sebesar 1233.877495 VA. Untuk nilai efisiensi dari sistem didapatkan nilai sebesar 99.99547275, hal ini menunjukan tingkat kehandalan yang baik dari sistem. | Variable Speed Drive (VSD) is an ac motor control system that is most widely used in the fields of industrial applications. However, in its application only uses an induction motor. In recent years the popularity of induction motors began displaced by a synchronous motor. one of the synchronous motor type is a synchronous motor that uses a permanent magnet rotor or so-called permanent magnet synchronous motor (PMSM), the advantages of PMSM including low inertia, high efficiency, high power density, and reliability. The reliability of the variable speed drive system using a PMSM depend on many aspects, but the most important thing is the design of pulse width modulation to switching control. The design of the circuit simulation in this study using a variable speed drive with voltage source inverter and pulse width modulation which controls the feedback of the output waveform speed. This system will optimize the motor control and adds value to the controlling. The results showed when speed reference 180 rpm the values of velocity measured obtained at 179.99118 rpm with error 0.0049% and torque constant at a value of 3 Nm, THD current of 0.3301%, 0.2536% and 0.2415%, while the THD voltage of 0.3394%, 0.2507%, and 0.2572%, this value is still in IEEE 519-1992 standart tolerance range so the value can be accapted. Starting power factor value generated by 0.650737211 of 802.93 W of active power and 1233.877495 VA of apparent power. The efficiency value of the system obtained at 99.99547275 %, this value shows a good reliability level of the system. | |
| 3550 | 13349 | F1B010013 | EFEKTIVITAS PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PT INDOCEMENT TBK CIREBON DI KECAMATAN GEMPOL | Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas program Corporate Social Responsibility (CSR). Penelitian program CSR ini sudah banyak dilakukan, meski demikian penelitian dengan menggunakan teori model kesesuaian masih jarang digunakan. Maka dari itu penelitian mengenai CSR menarik untuk ditetliti kembali. Penelitian ini menggunakan metode distribusi frekuensi, kendall tau, kendal w, dan regresi ordinal. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat penerima bantuan program CSR, sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih secara random sampling. Sampel yang dikumpulkan dalam penelitian ini sebanyak 96 responden. Hasil menunjukkan bahwa kesesuaian program dan kelompok sasaran, kesesuaian kemampuan pelaksana dengan program, kesesuaian kelompok sasaran dengan pelaksana berpengaruh postif dan signifikan terhadap efektivitas program CSR. | This study aimed to examine the effectiness of Corporate Social Responsilibility (CSR). The research was The CSR program of research has been done, however studies using the theory of fit model was rarely used. Therefore research on CSR interesting to research again. This study uses a frequency distribution , kendall tau, Kendal w , and ordinal regression . The population used in this study are the beneficiaries of CSR programs , while the samples used in this study were selected by random sampling . Samples collected in this study were 96 respondents. The results showed that the fit of the program and the target group, compliance with program implementers capability, fit target groups with implementing has positive and significant impact on the effectiveness of CSR programs | |
| 3551 | 13350 | H1C010065 | ANALISIS PERBANDINGAN UNJUK KERJA SOFT STARTING MOTOR INDUKSI TIGA FASA JENIS SANGKAR TUPAI DENGAN METODE INDUKTOR DAN METODE KAPASITOR | Hampir 90% industri yang ada menggunakan motor induksi jenis sangkar tupai. Tetapi motor induksi ini mempunyai arus starting yang sangat besar yaitu lima sampai tujuh kali besarnya dari arus nominal motor. Arus starting yang cukup besar ini dapat mengakibatkan jatuh tegangan yang akan merusak instrumen atau peralatan yang terhubung pada saluran yang sama. Untuk mengatasi lonjakan arus yang cukup tinggi ini dikembangkan starting dengan metode soft starting pada motor induksi. Metode soft starting memberikan suplai tegangan secara bertahap sehingga tidak memerlukan arus start yang besar. Pada penelitian ini menggunakan metode soft starting motor induksi dengan metode induktor dan metode kapasitor, metode induktor yaitu dengan cara menghubungkan induktor secara seri dengan motor induksi, sedangkan metode kapasitor yaitu tiga buah kapasitor yang dihubung paralel dengan motor. Untuk mengetahui unjuk kerja dari kedua metode starting ini, digunakan sepuluh variabel reaktansi induktif dan kapasitif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, pada soft starting dengan metode induktor dengan nilai induktansi 20 mH didapat arus starting terbaik sebesar 13,25 A dengan torsi starting sebesar 12,8 Nm dan nilai pf yang didapat adalah 0,5. | Almost 90% of existing industrial uses type of squirrel cage induction motors. But the induction motor has a very large starting current that is five to seven times the size of the motor nominal current. Starting currents large enough it can result in a voltage drop which would damage the instrument or equipment connected to the same line. To cope with a fairly high surge was developed starting with the soft starting method in induction motors. Methods of providing supply voltage soft starting gradually so that it does not require a large starting current. In this study, using the method of induction motor soft starting with the method of the inductor and methods of capacitors, inductors method that is by connecting an inductor in series with an induction motor, while the method of capacitors which are linked three capacitors in parallel with the motor. To determine the performance of the two methods of starting this, use ten variable inductive and capacitive reactance. These results indicate that, in the soft starting method inductor with an inductance value of 20 mH obtained the best starting current of 13.25 A with a starting torque of 12.8 Nm and pf value obtained is 0.5. | |
| 3552 | 13352 | H1C010039 | RANCANG BANGUN DAN ANALISA THREE LEVEL NEUTRAL POINT SHORTED INVERTER TIGA SAKELAR DENGAN KONTROL SPWM DILENGKAPI TRAFO | Inverter merupakan suatu rangkaian yang berfungsi untuk mengubah tegangan masukan arus searah (DC) menjadi tegangan keluaran arus bolak balik (AC). Inverter konvensional umumnya merupakan rangkaian inverter 2 level. Inverter ini memiliki banyak kelemahan dibandingkan dengan inverter 3 level, seperti kualitas bentuk gelombang keluaran yang memiliki distorsi yang besar. Neutral point shorted inverter merupakan topologi baru inverter 3 level. Pada penelitian ini akan dibuat Neutral Point Shoretd Inverter dengan menggunakan tiga sakelar. Studi ini akan meneliti secara simulasi dan eksperimen neutral point shorted inverter 3 level satu fasa dengan teknik pensakelaran sinusoidal PWM (SPWM). Rangkaian dead time digunakan untuk memberikan jeda masing-masing sakelar agar tidak bekerja secara bersama. Pada penelitian ini juga dilengkapi transformator guna menaikan tegangan keluaran inverter agar dapat disambungkan ke jala-jala listrik. Pengamatan hasil simulasi dan pengujian pada gelombang tegangan keluaran dilakukan dengan mengubah-ubah indeks modulasi. | The inverter is a circuit that serves to convert input voltage direct current (DC) into alternating current output voltage (AC). Conventional inverter is generally a two-level inverter circuit. This inverter has a lot of disadvantages compared to 3-level inverter, such as the quality of the output waveform has a great distortion. Neutral point shorted inverter topology is a new 3-level inverter. In this study will be made Neutral Point Shoretd Inverter using three switches. This study will examine simulations and experiments neutral point shorted 3 level single phase inverters with switching technique of sinusoidal PWM (SPWM). Dead time circuits are used to provide respite each switch so as not to work together. In this study, also features a transformer in order to raise the output voltage inverter to be connected to the grid. Observation results of the simulation and testing on the output voltage waveform is done by varying the modulation index. | |
| 3553 | 13353 | E1A011057 | INKONSISTENSI PEMERINTAH DALAM PENYELENGGARAAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH SETELAH DI SAHKANNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA OLEH DPR | Peraturan mengenai pemilihan kepala daerah selalu berubah disesuaikan dengan perkembangan jaman. Setelah amandemen UUD 1945, pemilihan kepala daerah harus di laksanakan secara demokratis sebagaimana di atur dalam Pasal 18 ayat (4). Dalam hal ini Peneliti tertarik untuk meneliti mengenai inkonsistensi pemerintah dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah setelah di sahkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota oleh DPR, serta dampak dari inkonsistensi pemerintah terhadap penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Dalam rangka menjawab permasalahan di atas, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tipe penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan metode pendekatan komparasi. Metode analisis bahan hukum adalah dengan menggunakan metode analisis normatif kualitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa inkonsistensi pemerintah dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota yang mekanismenya secara perwakilan oleh DPRD mengakibatkan penolakan dari masyarakat karena dinilai tidak demokratis. Sebenarnya esensi dari pemilihan kepala daerah bukan pada mekansime pemilihan secara langsung maupun secara perwakilan, tetapi pada di akomodirnya prinsip-prinsip demokrasi sebagaimana di atur dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945, seperti di anutnya asas pemilihan umum yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Dampak dari inkonsistensi tersebut mengakibatkan pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015, dimana dalam undang-undang ini tidak di atur apakah pemilihan kepala daerah termasuk pemilihan umum atau bukan. | Regulator about local election always changing adjusted with the times. After amandement Based Constitutions of 1945, local election must be held according to democracy in the same manner as set in Article 18 paragraph (4). In this case researcher interest to do research about inconsistency government in implementation local election after validated Constitutions Number 22 Year 2014 about Elections of Governor, Regent, and Major by DPR, and impact from inconsistency government toward to implementation local election. In order to answer the problem above, the Researcher use normative juridicial method type with statute approachment and comparative approachment. The analysis of the law substance is using qualitative normative analysis method. Result of the research clarified inconsistency govenrment in implementation local elections after validated Constitution Number 22 Year 2014 about elections of Governor, Regent, and Major which is the mechanism as a representative by DPRD reject from the people because judged not democratic. Actually essence from local election just not on election mechanism of the directly although as a representative, but accomodate the principle of democracy in the same manner as set in Article 18 paragraph (4) Based Constitutions of 1945 based on principle general election which is direct, general, freedom, honest, and fair. Impact from inconsistency cause the government produce government regulator replaced by constitution Number 1 Year 2014 about Elections of Governor, Regent, and Major which is validated become Constitutions Number 1 Year 2015, where in this constitution set wheter the local election include in general election or not. | |
| 3554 | 13375 | B1J010194 | Pengaruh Perlakuan Paklobutrazol terhadap Tanaman Tagetes (Tagetes Erecta L.) Sebagai Upaya Mengubah Fungsi Menjadi Tanaman Hias Pot | Tagetes (Tagetes erecta L.) merupakan salah satu tanaman hias yang secara komersial dapat dimanfaatkan sebagai bunga potong karena bentuk bunga yang unik, tangkainya panjang, dan warnanya yang mencolok. Masa kesegaran Tagetes sebagai bunga potong lebih singkat apabila dibandingkan dengan masa kesegaran Tagetes sebagai tanaman hias pot. Tagetes pot lebih banyak digemari oleh masyarakat saat ini. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengubah fungsi tanaman Tagetes sebagai bunga potong menjadi tanaman hias pot, adalah dengan pemberian perlakuan zat penghambat tumbuh, misalnya paklobutrazol. Paklobutrazol dapat menghambat perpanjangan batang, memperpendek ruas, meningkatkan warna hijau daun, dan mempengaruhi pembungaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsentrasi paklobutrazol terhadap pertumbuhan tanaman Tagetes pot dan menentukan konsentrasi paklobutrazol yang paling baik dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman Tagetes pot. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 konsentrasi paklobutrazol, yaitu 0 ppm (kontrol), 250 ppm, 500 ppm, dan 750 ppm. Masing – masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 12 satuan percobaan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, saat muncul kuncup bunga, jumlah bunga, dan diameter bunga. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Ragam (Anova) pada tingkat kepercayaan 95% dan 99%, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa konsentrasi paklobutrazol berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman Tagetes pot. Konsentrasi paklobutrazol 500 ppm merupakan konsentrasi yang paling baik dalam mempengaruhi pertumbuhan Tagetes pot. | Tagetes (Tagetes erecta L.) is one kind of ornamental plants that can be exploited commercially as cut flowers because its unique shape, stem length, and bright colour. Period of Tagetes vase life as cut flowers is shorter than period of Tagetes vase life as ornamental potted plant. Potted Tagetes is preferred by society currently. Efforts should be made to change the function of Tagetes plant as cut flower into ornamental potted plant by using Plant Growth Regulator (PGR) like paclobutrazol. Paclobutrazol can inhibit stem elongation, shorten segment, increase green colour of leaves and affect flowering. The aim of this research was to know the effect of paclobutrazol concentration in influencing potted Tagetes plant growth and determine the best paclobutrazol concentration in influencing potted Tagetes plant growth. The method used in this research was experimental using Randomized Completely Block Design (RCBD) with 4 treatments of paclobutrazol namely 0 ppm (control), 250 ppm, 500 ppm, and 750 ppm. Each treatment was repeated 3 times so that there were 12 treatments. The parameters observed in this research namely, height of plant, number of branches, emergence of flower buds, number of flowers and flower diameter. Data were analyzed using Variance Analysis (Anova) with the 95% and 99% accuracy, then continued by BNT. The result showed that paclobutrazol concentration influencing potted Tagetes plant growth. Paclobutrazol concentration of 500 ppm was the best concentration in influencing potted Tagetes plant growth. | |
| 3555 | 13459 | C1A011092 | KELAYAKAN USAHA BENGKUANG (Pachyrizisus erosus) DI DESA LINGGASARI DAN PURBADANA KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini merupakan penelitian survei pada petani bengkuang (Pachyrizisus erosus) di Desa Linggasari dan Purbadana Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. Penelitian ini mengambil judul: “Kelayakan Usaha Bengkuang (Pachyrizisus erosus) di Desa Linggasari dan Purbadana Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas”. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat Break Even Point (BEP), efisiensi, dan keuntungan usahatani bengkuang (Pachyrizisus erosus) di Desa Linggasari dan Purbadana Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study) sedangkan sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan metode survai berdasarkan petani yang aktif menanam di bulan Juni – September 2015. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 30 responden terdiri dari 15 responden petani bengkuang di Desa Linggasari dan 15 responden petani bengkuang di Desa Purbadana. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan BEP , R/C Ratio, dan π = TR – TC menunjukkan bahwa: (1) usaha bengkuang (Pachyrizisus erosus) di Desa Linggasari dan Purbadana Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas telah memperoleh keuntungan karena produksinya telah melebihi Break Even Point (BEP), (2) usaha bengkuang (Pachyrizisus erosus) di Desa Linggasari dan Purbadana Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas sudah efisien karena nilai R/C Ratio > 1, (3) usaha bengkuang (Pachyrizisus erosus) di Desa Linggasari dan Purbadana Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas menguntungkan, Implikasi dari kesimpulan diatas yaitu dalam upaya meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat, sebaiknya pemerintah pusat maupun pemerintah desa melalui progam pertanian memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai studi tentang kelayakan usaha sehingga masyarakat maupun petani dapat menilai apakah usahatani yang ingin dijalankan layak secara finansial. Dalam hal ini pemerintah desa juga dapat mengajak petani untuk membudidayakan bengkuang (Pachyrizisus erosus) karena selain menguntungkan juga layak secara finansial. | This research is a survey research towards yam beans (Pachyrizisus erosus) farmers in the Village of Linggasari and Purbadana Sub of Kembaran Regency of Banyumas. This research is entitled “The Yam Beans (Pachyrizisus erosus) Farming in the Village of Linggasari and Purbadana Sub of Kembaran Regency of Banyumas.” The aim of this research is to increase the Break Even Point (BEP), the efficiency of profit of Yam Beans farming in the Village of Linggasari and Purbadana Sub of Kembaran Regency of Banyumas. The method used in this research is a case study whereas while sampling method using survey methods based on active farmers who planted in June - September 2015. The total of respondents are 30 respondents; 15 Yam Beans farmers in Desa Linggasari, and 15 Yam Beans farmers in Desa Purbadana. According to the result and the data analysis which used π = TR – TC, R/C Ratio, and BEP showed that: (1) Yam Beans farming in the Village of Linggasari and Purbadana Sub of Kembaran Regency of Banyumas has got much profit because the products are exceeding the Break Even Point (BEP), (2) Yam Beans farming in the Village of Linggasari and Purbadana Sub of Kembaran Regency of Banyumas is already efficient since the value of R/C Ratio > 1, (3) Yam Beans farming in the Village of Linggasari and Purbadana Sub of Kembaran Regency of Banyumas is profitable. The conclusion implied is that in order to increase the prosperity of its people, it will be better for the central government and local government to give socialization to the people about the worthiness of farming, thus the people and even the farmers can value whether the planned farming is worth financially or not. In this context, the local government can invite the farmers to cultivate yam beans (Pachyrizisus erosus), because it is not only profitable, but also worth financially. | |
| 3556 | 13355 | G1H011029 | Faktor-Faktor Risiko Obesitas Sentral pada Pengemudi Angkutan Kota di Purwokerto | Pengemudi angkutan kota merupakan jenis pekerjaan jasa dengan aktivitas fisik rendah sehingga berisiko untuk mengalami obesitas sentral. Ada faktor lain yang juga berpengaruh terhadap kejadian obesitas sentral seperti umur, tingkat pendidikan, status perkawinan, lama menjadi pengemudi, jam kerja, pengeluaran konsumsi makan, dan tingkat konsumsi gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko obesitas sentral pada pengemudi angkutan kota di Purwokerto. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Subjek penelitian adalah pengemudi angkutan kota di Purwokerto berjumlah 47 orang yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Analisis data meliputi univariat dan bivariat uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 42,6% pengemudi angkutan kota di Purwokerto mengalami obesitas sentral. Faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral adalah umur ( nilai p = 0,031), sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan obesitas sentral adalah tingkat pendidikan, status perkawinan, lama menjadi pengemudi, jam kerja, durasi olah raga, pengeluaran konsumsi makan, tingkat konsumsi energi, karbohidrat, protein, lemak, dan serat (nilai p ≥ 0,05). Pengemudi angkutan kota yang berumur ≥40 tahun dianjurkan cukup beraktivitas fisik untuk mencegah peningkatan kejadian obesitas sentral. | City transport drivers are service job what have low physical activity thus risk to be central obesity. The incidence of central obesity was affected also by factors such as age, educational level, marital status, years of driving, working hours, food consumption expenditure, and food consumption level. The study to determine risk factors of central obesity among city transport drivers in Purwokerto. This study used cross sectional design. Subjects were 47 city transport drivers in Purwokerto, selected by accidental sampling technique. Data analysis comprised univariat and bivariat chi square. The result showed that 42,6% respondents were central obesity. Age was factor associated with central obesity (p value = 0,031). Educational level, marital status, years of driving, working hours, duration of exercise, food consumption expenditure, consumption level of energy, carbohydrat, protein, fat, and fiber were not statistically significant relating with central obesity (p value ≥ 0,05). City transport drivers aged ≥ 40 years were encouraged enough physical activity to prevent cental obesity. | |
| 3557 | 13356 | C1C011112 | Pengaruh Kemanfaatan Persepsian dan Kemudahan Penggunaan Persepsian Terhadap Keefektifan Penggunaan Teknologi Sistem Informasi Akuntansi Dengan Dukungan Manajemen Puncak Sebagai Variabel Moderasi | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dukungan manajemen puncak meningkatkan pengaruh kemanfaatan persepsian dan kemudahan penggunaan persepsian terhadap keefektifan penggunaan teknologi SIA. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei dalam pengumpulan datanya. Kuesioner didistribusikan kepada 84 responden yang merupakan pegawai SKPD Kabupaten Cilacap. Teknis analisis yang digunakan adalah uji interaksi Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil analisis data menunjukkan bahwa dukungan manajemen puncak di sektor publik dalam hal ini pada SKPD Kabupaten Cilacap tidak mampu meningkatkan pengaruh kemanfaatan persepsian dan kemudahan penggunaan persepsian terhadap keefektifan penggunaan teknologi Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Implikasinya adalah pemerintah daerah perlu menelisik lebih jauh SKPD-SKPD mana yang memiliki pegawai yang sudah cakap dan belum dalam menggunakan SIMDA Keuangan sehingga dapat mengoptimalkan peran Kepala SKPD. | This research aims to know whether top management support influence the perceived usefulness and perceived ease of use towards the effectiveness of SIA technology usage. This research is quantitative and use survey to collect the data. The questionnaires are given to 84 SKPD staff of Cilacap regency as the respondents of the study. The data is analysed using Moderated Regression Analysis (MRA). From the study conducted, it is known that the top management support in public sector in this case Cilacap district’s local government agency (SKPD) are unable to increase the influence of perceived usefulness and perceived ease of use towards the effectiveness of Accounting Information System (SIA) usage. It implies that the local government should do a further examination on every local government agencies to determine the qualified staff and the less competent one in applying SIMDA Keuangan therefore, they can optimize the head of local government agency (SKPD) role. | |
| 3558 | 13357 | H1F011051 | Geologi dan Analisis Kestabilan Lereng Daerah Jemblung dan Sekitarnya, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah | Longsor yang terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dengan koordinat lokasi 10941’22,2”BT - 10942’45,6”BT dan 717’43,2”LS - 703’01,9”LS merupakan gerakan tanah jenis gelinciran. Secara dominan, kondisi morfologi di daerah penelitian berupa tinggian-tinggian yang diakibatkan baik kontrol struktur geologi maupun aktivitas volkanik seperti terobosan batuan ataupun akumulatif material vulkanik (breksi), sehingga wilayahnya memiliki lereng yang cukup terjal. Stratigrafi daerah tersebut dibagi menjadi empat, dimulai dari urutan pengendapan tertua yaitu Satuan Batulempung-Batupasir, Batuan Terobosan, Satuan Batulempung, dan Satuan Breksi. Struktur geologi yang ditemukan berupa sesar geser kanan yang berarah timurlaut-baratdaya dan sesar turun yang berarah hampir seirama. Kondisi geologi yang seperti itu, ditunjang dengan adanya struktur geologi yang berkembang, tingkat kejenuhan air, proses pelapukan,dan kondisi tanah yang labil, mengakibatkan terjadinya longsor di Dusun Jemblung. Kestabilan suatu lereng perlu dianalisis agar faktor keamanan dapat diketahui. Dalam perhitungan faktor keamanan, perlu diadakan pengujian di laboratorium agar diperoleh parameter geser tanah seperti kohesi (c), sudut geser dalam (φ), serta berat unit tanah () untuk memenuhi data yang diperlukan. Selanjutnya, analisis kestabilan lereng ini dilakukan dengan bantuan perangkat lunak untuk menghitung faktor keamanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lereng di daerah Jemblung tidak stabil (dalam kondisi kritis) dengan nilai faktor keamanan (FK) sebesar ±1,006 dan potensi bidang gelincir berada di antara derajat pelapukan III dan IV. | Landslide happens in Jemblung, Sampang Village, KarangkobarDistrict, BanjarnegaraRegency, Central Java, where coordinates in 10941'22,2" - 10942'45,6" east longitude and 717'43,2" - 703'01,9" south latitude. It is slide type of mass movement. Morphological conditions in the area is resulting from geological structure control and volcanic activity such as intrusion or accumulated volcanic material (breccia), so that the region has a fairly steep slope. Stratigraphy of this region is divided being four in, in the oldest depositional sequence namely Mudstone-sandstone Unit, Intrusion Unit, Claystone Unit, and Breccia. The geological structure found right slip fault trending northeast-southwest and normal left slip fault that also trending northeast-southwest. This geological conditions, supported with evolving the geological structure, saturation level, weathering processes, and unstable soil conditions which resulted a landslide in the Jemblung. Slope stability should be analyzed to get safety factor value. Safety factor calculation, require laboratory test to get mass movement parameters such as cohesion (c), internal friction angle (φ), and unit weight (). This slope stability analyzes applied with softwareto review calculating safety factor value. The result of this research shows that the condition of slopes in that area is unstable (critical condition) with value ofsafety factor (FK) is ± 1.006 and sliding potential sector in between III and IV weathering grade. | |
| 3559 | 13359 | G1A011004 | HUBUNGAN ANTARA OBESITAS DENGAN FUNGSI EKSEKUTIF PADA SISWA SD ISLAM TERPADU ANNIDA PURWOKERTO | Latar Belakang: Obesitas memiliki angka kejadian yang cukup tinggi di dunia, terutama beberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Obesitas merupakan faktor resiko beberapa penyakit yang akan mempengaruhi kesehatan anak pada masa saat ini ataupun saat sudah dewasa nanti hingga menimbulkan dampak kematian. Selain itu, obesitas salah satunya juga berpengaruh terhadap tingkat kognitif. Pada anak obesitas paling banyak didapatkan penurunan fungsi eksekutif yang merupakan bagian dari fungsi kognitif. Tujuan: Mengetahui hubungan antara obesitas dengan fungsi eksekutif pada anak di SD Islam Terpadu Annida Purwokerto Metode Penelitian:Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan teknik total sampling. Subjek penelitian adalah 55 siswa kelas 4, 5 dan 6 SD Negeri 1 Mersi Purwokerto tahun ajaran 2015/2016 yang terdiri dari 20 siswa obesitas dan 35 siswa non obesitas yang ditentukan berdasarkan grafik persentil IMT untuk anak. Fungsi eksekutif diukur dengan menggunakan WISC-R (Wechsler Intelligence Scale for Children). Analisis penelitian ini menggunakan uji Chi-Square dan Fisher. Hasil: Tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan fungsi eksekutif (p=0,178). Penelitian ini meneliti beberapa variabel perancu, yaitu jenis kelamin dan usia. Tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p=0,358) dan (p=0,613). Tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan fungsi eksekutif pada subyek usia 9 tahun (p=0,592), 10 tahun (p=0,630), 11 dan 12 tahun (p=0,603). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan fungsi eksekutif pada siswa SD Islam Terpadu Annida Purwokerto, faktor perancu jenis kelamin dan usia tidak berpengaruh signifikan. | Background: Obesity has a fairly high incidence in the world , especially some developing countries including Indonesia . Obesity is a risk factor for several diseases that affect the health of children during this time or when it grows up to cause death impact . In addition , obesity is one of them also affects the cognitive level. In the most obese children found a decrease in executive function, which is part of the cognitive functions. Objective : To determine the relationship between obesity and executive function in children in elementary School Islam Annida Purwokerto. Methods : This study used cross sectional with total sampling technique . The subjects were 55 students in grade 4 , 5 and 6 SD Negeri 1 Purwokerto Mersi 2015/2016 academic year consisting of 20 students obese and 35 non obese students were determined based on percentile BMI charts for children . Executive function was measured using the WISC - R ( Wechsler Intelligence Scale for Children ) . This study analysis using Chi - Square and Fisher. Result: There was no relationship between obesity and executive function ( p = 0.178 ) . This study examines several confounding variables ,gender and age . There was no relationship between obesity and sex of male and female ( p = 0.358 ) and ( p = 0.613 ) . There was no relationship between obesity and executive function in subjects aged 9 years ( p = 0.592 ) , 10 years ( p = 0.630 ) , 11 and 12 years ( p = 0.603 ). Conclusion : There was no relationship between obesity and executive function in elementary School Islam Annida Purwokerto , confounding factors gender and age had no significant effect. | |
| 3560 | 13376 | B1J010127 | Pengaruh Perlakuan Paklobutrazol terhadap Tanaman Zinnia (Zinnia elegans Jacq.) sebagai Upaya Mengubah Fungsi Menjadi Tanaman Hias Pot | Zinnia (Zinnia elegans ) merupakan salah satu tanaman hias yang dimanfaatkan sebagai bunga potong. Z. elegans memiliki bentuk dan warna bunga bermacam-macam, sehingga mampu menjadi daya tarik bagi penggemar tanaman hias. Z. elegans sebagai bunga potong memiliki masa kesegaran 3 sampai 5 hari. Pengubahan Z. elegans dari bunga potong menjadi bunga pot merupakan cara yang tepat agar bunga Z. elegans dapat bertahan lebih lama menjadi 35 sampai 42 hari. Penampilan Z. elegans dalam pot lebih menarik apabila membentuk krop dengan batang yang pendek, daun yang rimbun serta memiliki bunga yang indah. Upaya mengubah fungsi Z. elegans dari bunga potong menjadi bunga pot dapat dilakukan dengan aplikasi zat penghambat tumbuh, misalnya paklobutrazol. Paklobutrazol berfungsi untuk mengendalikan tinggi tanaman, menghambat pemanjangan ruas, merangsang pembungaan dan menjadikan Z. elegans lebih indah karena pertumbuhannya kompak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi paklobutrazol terhadap pertumbuhan tanaman Z. elegans sebagai tanaman hias pot dan mengetahui konsentrasi paklobutrazol yang paling efektif dalam mengubah fungsi tanaman Z. elegans sebagai tanaman hias pot. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Konsetrasi paklobutrazol yang digunakan adalah 0 ppm (Kontrol), 50 ppm, 100 ppm dan 150 ppm. Setiap perlakuan diulang 3 kali, sehingga diperoleh 12 satuan percobaan. Data hasil pengamatan yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Ragam atau Uji F pada tingkat kepercayaan 95% dan 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paklobutrazol berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman Zinnia pot. Paklobutrazol konsentrasi 100 ppm efektif untuk meningkatkan penampilan Zinnia pot. | Zinnia (Zinnia elegans) is one of the ornamental plants used as cut flowers. Z. elegans has the shape and color of flowers assortment that can appeals for the ornamental plant enthusiasts. Z. elegans as a cut flower has a vaselife period of 3 to 5 days. Changing Z. elegans from a cut flower to a potted flower is an appropriate way so that Z. elegans can last longer from 35 to 42 days. Z. elegans appearance in pots is more interesting when forming a crop with a short stem, leaf green and a beautiful flower. Efforts to change the function of Z. elegans from a cut flower to a potted flower can be done by treatment with growth retardants, for example paclobutrazol. Paclobutrazol is used to control plants height, inhibit the elongation of nodes, stimulate flowering and make Z. elegans more beautiful because of its compacted perfomance. The purpose of this research was to determine the effect of paclobutrazol concentration on plant growth of Z. elegans as a potted ornamental plants and determine the concentration of paclobutrazol that most effective in altering the function of plant of Z. elegans as an ornamental plant pot. Method used in this research was experimental and the design of the research was a Randomized Completely Block Design. Paclobutrazol concentrations used were 0 ppm (control), 50 ppm, 100 ppm and 150 ppm. Each treatment was repeated three times, in order to obtain 12 units of the experiment. Observed data were analyzed using analysis of Varians or F test at a probability of 95% and 99%. The results showed that the concentration of paclobutrazol gave significant effect on growth of potted Z. elegans. Paclobutrazol concentration of 100 ppm was effective to increase the appearance of potted Zinnia. |