Artikelilmiahs

Menampilkan 27.081-27.100 dari 50.194 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2708130434A1D016020Kemajuan Seleksi Karakter Agronomik Padi Populasi F3 yang Berasal dari Persilangan Varietas Inpari 31 dan Delta 9Perakitan varietas padi guna menghasilkan padi berkarakter basmati telah dilakukan melalui persilangan Inpari 31 dan Delta 9 dilanjutkan dengan seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengukur kemajuan seleksi karakter agronomik padi populasi F3, 2) mengetahui karakter yang paling berpengaruh terhadap hasil yang dapat digunakan sebagai indikator seleksi menggunakan korelasi dan analisis jalur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2019 sampai Mei 2020. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan rancangan perlakuan Augmented Design. Perlakuan yang diuji adalah 1200 individu F3 dari 16 galur terseleksi keturunan persilangan Inpari 31xDelta 9 dan 3 varietas cek (Inpari 31, Delta 9 dan Inpago Unsoed 1). Variabel yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur tanaman berbunga, umur panen, panjang malai, jumlah gabah per malai, bobot gabah per malai, bobot gabah per rumpun, dan bobot 100 biji. Data pengamatan dianalisis nilai duga heritabilitas, harapan kemajuan genetik, kemajuan genetik, kemajuan seleksi dan korelasi antar karakter. Hasil penelitian menunjukkan nilai duga heritabilitas tinggi pada tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, panjang malai, bobot gabah per malai, dan bobot gabah per rumpun, sedangkan jumlah anakan produktif dan bobot 100 biji menunjukkan sedang, nilai duga heritabilitas rendah terdapat pada karakter jumlah gabah per malai. Nilai kemajuan genetik sedang sampai tinggi sedangkan nilai kemajuan seleksi bernilai negatif, kecuali pada bobot gabah per rumpun. Jumlah anakan produktif, bobot gabah per malai, dan jumlah gabah per malai memiliki hubungan yang erat dan pengaruh langsung yang tinggi terhadap bobot gabah per rumpun, sehingga dapat digunakan sebagai indikator seleksi untuk daya hasil tinggi pada generasi selanjutnya.
Kata Kunci: Inpari 31, Delta 9, Basmati, Kemajuan seleksi, Korelasi
Breeding of rice varieties with basmati character has been carried out by crossing Inpari 31 and Delta 9 followed by selection. This study aims to 1) measure the progress of the selection of agronomic characters for rice in the F3 population, 2) to determine which characters have the most influence on the results that can be used as indicators of selection using correlation and path analysis. The research was conducted from December 2019 to Mey 2020. A randomized block design with Augmented was applied. The treatments were 1200 F3 individuals from 16 selected lines from progeny of Inpari 31xDelta 9 crossing and 3 check varieties (Inpari 31, Delta 9 and Inpago Unsoed 1). The variables observed were plant height, number of productive tillers, flowering dates, harvesting age, length of panicle, number of grains per panicle, grain weight per panicle, grain weight per hill, and weight of 100 seeds. The data were analyzed for the predicted value of heritability, expected genetic progress, genetic progress, selection progress and correlation between characters. The results showed high heritability prediction values on the of plant height, flowering age, harvesting age, panicle length, grain weight per panicle, and grain weight per hill, while number of productive tillers and weight of 100 seeds showed moderate, the estimated value of low heritability was found in number of grain per panicle. The grade of genetic progress is moderate to high, while the value of selection progress is negative, except for grain weight per hill. The number of productive tillers, grain weight per panicle, and number of grain per panicle have a close relationship and have a high direct effect on grain weight per hill, so they can be used as selection indicators for high yielding power in the next generation.
Keywords: Inpari 31, Delta 9, Basmati, Selection progress, Correlation
2708230436L1A016020ANALISIS USAHA ALAT TANGKAP GILLNET SEBAGAI ALAT
TANGKAP IKAN BAWAL PUTIH (Pampus argenteus)
DI PERAIRAN KEBUMEN
ABSTRAK: Usaha penangkapan ikan merupakan kegiatan ekonomi yang dipengaruhi
oleh faktor produksi dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Dalam analisis
usaha perikanan ini meliputi pendapatan, keuntungan, Net Present Value (NPV), B/C
Ratio, Payback Period (PP), Break Event Point (BEP), Internal Rate of Return (IRR). Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui Usaha Alat Tangkap Gillnet sebagai Alat Tangkap Ikan
Tongkol yang tertangkap dan didaratkan di TPI Logending, Kabupaten Kebumen yang
dilakukan pada Bulan Agustus 2020. Metode yang digunakan yaitu metode survei.
Metode survei yaitu suatu metode pengambilan data dengan observasi langsung dan
wawancara di lapangan serta melakukan pengumpulan data. Dari penelitian ini
didapatkan hasil rata-rata pendapatan sebesar Rp. 1.326.830.960, keuntungan sebesar
Rp. 1.239.522.410, NPV sebesar 1.776.741.630, B/C Ratio 14,44 PP 0, 04 tahun, BEP
sebesar Rp. 9. 510.233 dan 59, 44 kg, IRR sebesar 17%. Maka dapat disimpulkan bahwa
secara financial usaha perikanan gillnet yang ada di TPI Logending Kabupaten Kebumen
tergolong menguntungkan dan layak serta pengembalian modal yang tergolong cepat
ABSTRACT: Fishing business is an economic activity that is influenced by production
factors with the aim of making a profit. In this fishery business analysis includes income,
profit, Net Present Value (NPV), B / C Ratio, Payback Period (PP), Break Event Point
(BEP), Internal Rate of Return (IRR). This study aims to determine the gillnet fishing gear
business as a tuna fishing gear caught and landed at TPI Logending, Kebumen Regency
which was conducted in August 2020. The method used is the survey method. The
survey method is a method of data collection by direct observation and field interviews
and data collection. From this research, it was found that the average income was Rp.
1,326,830,960, a profit of Rp. 1,239,522,410, NPV of 1,776,741,630, B / C Ratio of 14.44 PP
0, 04 years, BEP of Rp. 9. 510,233 and 59, 44 kg, an IRR of 17%. So it can be concluded
that financially the gillnet fishery business in TPI Logending, Kebumen Regency is
classified as profitable and feasible and the return on capital is relatively
2708330442I1A016009ANALISIS DETERMINAN OBESITAS PADA REMAJA DI SMAN 2 PURWOKERTO WILAYAH KERJA PUSKESMAS II PURWOKERTO TIMUR TAHUN 2019Abstrak
ANALISIS DETERMINAN OBESITAS PADA REMAJA DI SMAN 2 PURWOKERTO WILAYAH KERJA PUSKESMAS II PURWOKERTO TIMUR TAHUN 2019
Annisa Husnul Fauziyah, Colti Sistiarani, Windri Lesmana Rubai

Latar Belakang : Obesitas merupakan salah satu faktor risiko beberapa penyakit tidak menular. Era globalisasi membuat terciptanya fenomena perubahan gaya hidup masyarakat seperti kebiasaan sarapan, aktivitas fisik dan pola makan. Remaja merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang rentan terbawa arus globalisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan yang berpengaruh terhadap kejadian obesitas pada remaja di SMAN 2 Purwokerto.

Metodologi : Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi cross sectional. Metode sampling menggunakan stratified random sampling. Jumlah sampel minimal dalam penelitian ini sebanyak 86 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik. Variabel bebas berupa riwayat keturunan, kebiasaan sarapan, aktivitas fisik dan pola makan, sedangkan variabel terikat berupa status obesitas.

Hasil Penelitian : Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh riwayat keturunan, aktivitas fisik dan pola makan dengan kejadian obesitas pada remaja di SMAN 2 Purwokerto. Variabel kebiasaan sarapan adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian obesitas di SMAN 2 Purwokerto dengan p-value (0.001) < 0.05 dan OR 7,9.

Kesimpulan dan Saran : Determinan kejadian obesitas yang paling berpengaruh adalah kebiasaan sarapan. Sehingga untuk mencegah kejadian obesitas, disarankan membiasakan sarapan sehat di pagi hari sebelum pukul 09.00 dengan gizi yang seimbang.

Kata Kunci : Obesitas, Remaja, Perilaku Kesehatan.
Abstract
ANALYSIS OF DETERMINANT OBESITY IN ADOLESCENTS AT SMAN 2 PURWOKERTO WORKING AREA OF PUSKESMAS II PURWOKERTO TIMUR IN 2019
Annisa Husnul Fauziyah, Colti Sistiarani, Windri Lesmana Rubai

Background : Obesity is a risk factor to some of non-communicable disease. This globalization era has brought the phenomenon of changing forces of people’s lives are like breakfast habits, physical activity and diet. Teenagers are part of communities that are susceptible to the flow of globalization. The purpose of this study is to indentify the deterministic impact on the incidence of teenage obesity at SMAN 2 Purwokerto.

Methodology : This type of study is aquantitative study with cross sectional approach of study. The sampling method used was stratified random sampling. The minimum number of samples in the study as many as 86 respondents to a univariate analysis, bivariate analysis with a chi-square test and multivariate analysis with a regression logistics test.. Independent variables are hereditary history, breakfast habits, physical activity and diet. Meanwhile the dependent variable is obesity status.

Research : Analysis shows that there is no history of heredity, physical distancing and diet due to the incidence of teenage obesity at SMAN 2 Purwokerto. The variable of breakfast habits is the most influential variable in the incidence of obesity at SMAN Purwokerto with p-value 0,000 < 0,05 and OR 11,26.

Conclusion and advice : The most influential determinant of obesity is breakfast habits. So, to prevent the occurrence of obesity, it’s recommended to make a practice of a healthful breakfast in the morning before 09.00 o’clock with balanced nutrition.

Keywods : Obesity, Adolescents, Health Behaviour.
2708430452F1D015032Politik Identitas Kelompok Sapta Darma di Kabupaten BrebesArtikel hasil penelitian ini bertujuan untuk Memahami dan mendeskripsikan pola politik identitas yang dilakukan oleh Kelompok Sapta Darma dalam perjuangan keberadaan mereka sebagai salah satu kepercayaan yang ada di Kabupaten Brebes. Serta untuk mengetahui dan menjelaskan signifikansi politik identitas yang dilakukan leh kelompok Sapta Darma di Kabupaten Brebes melalui pola politik identitas. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan etnografi dalam bingkai perspektif pascastruktutralis dan paradigma konstruktivisme, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa politik identitas Kelompok Sapta Darma di Kabupaten Brebes merupakan bentuk perjuangan untuk memperoleh kesetaraan hak dan diakui sebagai salah satu kelompok keagamaan di Indonesia.
Perjalanan kelompok Sapta Darma dalam mencapai kesetaraan mengalami dinamika, sehingga dalam perjuangannya kelompok Sapta Darma membentuk strategi. Strategi yang dilakukan berupa advokasi dengan pendekatan inclusive citizenship. Diharapkan dengan pendekatan tersebut, dapat tercipta kesadaran tentang realitas sosial yang beragam, dan kehendak untuk mengakui serta menghidupi perbedaan demi terbukanya kesempatan yang sama bagi setiap warga negara. Selain itu, politics of recognition yang dilakukan oleh kelompok Sapta Darma di Kabupaten Brebes memberikan alternatif dalam mencapai kesetaraan. Dalam hal ini, metode yang dilakukan adalah advokasi dan koperasi. Dua metode yang digunakan oleh kelompok Sapta Darma dalam mengenalkan keberadaan kelompoknya memberikan dampak yang besar terhadap pencapaian kesetaraan dalam bidang pelayanan publik. Namun perjuangan politik identitas kelompok Sapta Darma tidak berhenti setelah putusan MK tentang adminduk, karena masih ada pelayanan publik yang belum bisa diakses oleh penghayat, yaitu terkait pelayanan pemakaman.
This research-based paper aims at to understand and describe the pattern of identity politics practiced by the Sapta Darma Group in their struggle for existence as one of the beliefs that exist in Brebes Regency. And to find out and explain the significance of identity politics carried out by the Sapta Darma group in Brebes Regency through the pattern of identity politics. By using a qualitative method and ethnographic approaches in the frame of a post-culturalist perspective and constructivism paradigm, the results of this study reveal that the identity politics of the Sapta Darma Group in Brebes Regency is a form of struggle to obtain equal rights and be recognized as one of the religious groups in Indonesia.
The Sapta Darma group's journey in achieving equality experienced dynamics, so that in its struggle the Sapta Darma group formed a strategy. The strategy carried out is in the form of advocacy with an inclusive citizenship approach. It is hoped that with this approach, awareness of various social realities can be created, and the will to recognize and live out differences in order to open equal opportunities for every citizen. In addition, the politics of recognition carried out by the Sapta Darma group in Brebes Regency provides an alternative in achieving equality. In this case, the methods used are advocacy and cooperatives. Two methods used by the Sapta Darma group in introducing the existence of their group have a great impact on achieving equality in the field of public services. However, the struggle for the identity politics of the Sapta Darma group did not stop after the Constitutional Court's decision regarding the adminduk, because there were still public services that were not yet accessible to worshipers, namely related to funeral services.
2708530344B1A016015Pertumbuhan dan Keanekaragaman Genetik Enam Kultivar Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Berdasarkan Marka RAPDTelah dilakukan penelitian tentang pertumbuhan dan keanekaragaman genetik enam kutivar kedelai (Glycine max (L.) Merr.) berdasarkan marka RAPD. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dan karakterisasi molekuler. Metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu kultivar kedelai. Terdapat enam kultivar kedelai yang diteliti yaitu Dena 2, Detap 1, Gepak Kuning, Deja 1, Sinabung, dan Grobogan yang diulang tiga kali sehingga secara keseluruhan terdapat 18 unit percobaan. Parameter pertumbuhan yang diamati dalam penelitian eksperimental meliputi tinggi tanaman, diameter batang, berat basah dan berat kering tanaman. Karakterisasi molekuler dilakukan menggunakan teknik RAPD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Grobogan memiliki tinggi tanaman tertinggi dan berbeda tidak nyata dengan Dena 2, Deja 1, dan Detap 1. Kultivar dengan diameter batang terbesar adalah Dena2 dan berbeda tidak nyata dengan Deja1, Detap 1, Grobogan dan Sinabung. Kultivar yang menghasilkan berat kering terbesar adalah kultivar Detap 1 dan berbeda tidak nyata dengan Deja 1, Dena 2, Gepak Kuning, dan Grobogan. Analisis keanekaragaman dengan marka RAPD menghasilkan polimorfisme yang rendah, yaitu 21,42 % diantara keenam kultivar kedelai. Jarak genetik terdekat terlihat antara kultivar Deja 1 dengan Dena 1, dan antara Deja1 dengan Sinabung. Jarak genetik terjauh terlihat antara kultivar Dena 2 dengan Detap 1, dan antara Sinabung dengan Detap 1.Research on the growth and genetic diversity of six soybean cutivars (Glycine max (L.) Merr.) Based on RAPD markers has been conducted. The research methods used included experimental and molecular characterization. The experimental method used a completely randomized design (CRD) with one factor, i.e. the soybean cultivar. There were six soybean cultivars studied, namely Dena 2, Detap 1, Gepak Kuning, Deja 1, Sinabung, and Grobogan with three replications resulting in a total of 18 experimental units. Growth parameters observed in the experimental study included plant height, stem diameter, plant fresh weight and plant dry weight. Molecular characterization was conducted using the RAPD technique. The results show that grobogan cultivar has the highest plant height similar to Dena 2, Deja 1, and Detap 1. Cultivar having the biggest stem diameter in Dena 2 similar to Deja 1, Detap 1, Grobogan and Sinabung. Cultivar which give rise to the highest plant dry weight is detap 1 similar to Deja 1, Dena 2, Gepak Kuning, and Grobogan. Genetic diversity analysis based on the RAPD marker results in low level of polymorphism among the six soybean cultivars, i.e. 21,42 %. The closest genetic distance is observed between Deja 1 and Dena 1, as well as Deja1 and Sinabung cultivars. The farthest genetic distance is observed between Dena 2 and Detap 1, as well as Sinabung and Detap 1 cultivars.
2708630438H1F013033GEOLOGI DAN STUDI BIOSTRATIGRAFI DAERAH SEMPRUNG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BANJARHARJO, KABUPATEN BREBES, PROVINSI JAWA TENGAH
Penelitian yang penulis lakukan berada di Desa Semprung, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Penulis melakukan pemetaan lapangan dengan metode Lintasan Geologi, dimana kemudian penulis mengambil sampel untuk analisis petrografi, mikropaleontologi dan palinologi. Hasil penelitian menemukan bahwa Formasi Pemali berumur N14 – N17 berdasarkan penarikan foraminifera Globorotalia Siakensis dan Globigerina Praebulloides menggunakan zonasi Blow dengan lingkungan pengendapan Outer Shelf. Sedangkan Formasi Halang berumur N18 – N20 berdasarkan penarikan foraminifera Globorotalia Margaritae, Globigerinoides Conglobatus dan Globorotalia Crassaformis menggunakan zonasi Blow dengan lingkungan pengendapan Middle Shelf. Korelasi dengan data palinologi cukup dekat dengan data mikropaleontologi, untuk Formasi Pemali ditemukan polen penciri Florschuetzia Levipoli dan Florschuetzia Trilobata sedangkan Formasi Halang ditemukan polen penciri Dacrycapidites Australiensis, Stenochlanidites Papuanus dan Florschuetzia Meridionalis dengan lingkungan pengendapan Mangrove atau Rawa. Study that the author did is located at Semprung Village, Banjarharjo District, Brebes Regency, Central Java Province. The author did surface mapping by Geology Track method, where the author took samples for petrography, micropaleontology and palynology. Study results show that the Pemali Formation age is N14 – N17 based on foraminifera inference of Globorotalia Siakensis and Globigerina Praebulloides using Blow zonation with environment deposition at Outer Shelf. While Halang Formation age is N18 – N20 based on foraminifera inference of Globorotalia Margaritae, Globigerinoides Conglobatus and Globorotalia Crassaformis using Blow zonation with environment deposition at Middle Shelf. Correlation with palynology data is quite close with micropaleontology data, for Pemali Formation is found polen taxon Florschuetzia Levipoli and Florschuetzia Trilobata while Halang Formation is found polen taxon Dacrycapidites Australiensis, Stenochlanidites Papuanus and Florschuetzia Meridionalis with environment deposition at Mangrove or Swamp.
2708730440A1D116045Pengaruh Dosis Bokashi dari Limbah Tongkol Jagung terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Kedelai (Glycine max (L.) Merr) di Tanah Pasir PantaiPenelitian bertujuan untuk (1)mengetahui ragam pertumbuhan dan hasil dari tiga varietas kedelai yang ditanam di tanah pasir pantai, (2)mengetahui pengaruh dosis bokashi dari limbah tongkol jagung terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai di tanah pasir pantai, (3)menentukan dosis pupuk bokashi yang sesuai dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai di tanah pasir pantai.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2020 di screen house Desa Karanggintung dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah ragam tiga varietas kedelai. Faktor kedua adalah pengaruh dosis bokashi limbah tongkol jagung B0=(0g/polibag), B1=(80g/polibag), B2=(160g/polibag), B3=(240g/polibag). Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, umur berbunga, umur panen, bobot kering tanaman, bobot kering akar, jumlah polong pertanaman, persentase polong isi, bobot biji pertanaman, bobot 100 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Devon 1 tanamannya paling tinggi dengan jumlah daun dan jumlah cabang terbanyak. Varietas Grobogan meskipun tanamannya paling pendek dengan, jumlah daun paling sedikit, serta paling cepat dipanen, tetapi hasil biji tinggi dan ukuran bijinya paling besar. Dosis bokashi dari limbah tongkol jagung 80g/polibag paling efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot biji per tanaman, dan bobot tanaman kering. Pemberian bokashi limbah tongkol jagung hingga dosis 160g/polibag akan menambah umur panen, tetapi pertumbuhan dan hasil bijinya justru menurun. Interaksi antara tiga varietas kedelai dengan pemberian dosis bokashi limbah tongkol jagung bobot 100 biji pada varietas Grobogan dengan dosis 80g/polibag memiliki bobot 100 biji yang paling tinggi.
The aims of the study were (1) to determine the growth and yield of three varieties of soybean grown in sand beach soils, (2) to determine the effect of the dose of bokashi from corncob waste on the growth and yield of soybean in sand beach soils, (3) to determine the dosage of bokashi fertilizer which is suitable in increasing the growth and yield of soybeans in sand beach soils.
The research was carried out from May to August 2020 at the Karanggintung Village screen house and the Agronomy and Horticulture Laboratory of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The experimental design used was a completely randomized block design (RAKL) with 2 factors. The first factor is the variety of the three soybean varieties. The second factor is the effect of the dosage of corncob bokashi waste B0 = (0g / polybags), B1 = (80g / polybags), B2 = (160g / polybags), B3 = (240g / polybags). The variables observed were plant height, number of leaves, number of branches, flowering age, harvest age, plant dry weight, root dry weight, number of pods planted, percentage of filled pods, weight of seeds per plant, weight of 100 seeds. The results showed that the Devon 1 plant variety had the highest number of leaves and the highest number of branches. Although the Grobogan variety has the shortest plants with the least number of leaves and is the fastest to harvest, the yield of seeds is high and the size of the seeds is the largest. The dose of bokashi from corn cobs waste of 80g / polybag was the most effective in increasing plant height growth, leaf number, seed weight per plant, and dry plant weight. Giving bokashi corn cobs waste up to a dosage of 160g / polybag will increase the age of the harvest, but the growth and grain yield actually decreases. The interaction between the three varieties of soybeans with a dose of 100 seeds of corn cobs bokashi with a dose of 80g / polybag weighing 100 seeds was the highest.
2708830441D1A016226PENGGUNAAN MINYAK SAFFLOWER (Carthamus tinctorius L)DAN INOSITOL TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN PERTAMBAHAN BOBOT AYAM SENTUL JANTANTujuan penelitian ini untuk mengkaji penggunaan minyak safflower dan inositol terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan ayam Sentul jantan. Materi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam Sentul kelabu jantan umur 4 minggu berjumlah 81 ekor yang dipelihara selama 8 minggu. Bahan yang digunakan sebagai perlakuan adalah minyak safflower (Carthamus tinctorius L) dan inositol. Ransum disusun dari beberapa bahan pakan jagung, dedak, tepung ikan, bungkil kedelai, minyak kelapa sawit, lysin, CaCO3, methionin dan topmix. Bahan yang digunakan sebagai perlakuan adalah minyak safflower dan inositol. Metode yang digunakan yaitu eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari 9 perlakuan dengan 3 kali ulangan, setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam Sentul jantan. Perlakuan terdiri dari: R0=Pakan basal (0% minyak safflower dan 0% inositol), R1= pakan basal+minyak safflower 0,5%, R2= pakan basal+minyak safflower 1%, R3=pakan basal+inositol 0,5%, R4=pakan basal+inositol 1%, R5=pakan basal+minyak safflower 0,5% dan inositol 0,5%, R6=pakan basal+minyak safflower 0,5% dan inositol 1%, R7=pakan basal+minyak safflower 1% dan inositol 1%, R8=pakan basal+minyak safflower 1% dan inositol 1%. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan minyak safflower dan inositol berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan ayam Sentul jantan. Rataan konsumsi pakan ayam Sentul jantan berkisar antara 3.175,942 ± 322,008 sampai 3.520,930 ± 69,056 gram/ekor/8 minggu. Rataan pertambahan bobot badan ayam sentul jantan berkisar antara 391,67 ± 1,768 sampai 556,67 ± 0,262 g/ekor/8 minggu. Penambahan minyak safflower (Carthamus tinctorius L) dan inositol sebanyak 0,5% - 1% tidak meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan secara signifikan ayan Sentul jantan.

Kata Kunci : Ayam sentul, Minyak safflower, Inositol, konsumsi pakan, pertambahan bobot badan
The purpose this research objective was to assess the use of safflower oil and inositol on feed consumption and body weight gain in male Sentul chickens. The research material used in this study was 81 male Sentul gray chickens aged 4 weeks, which were kept for 8 weeks. The materials used as treatment were safflower oil (Carthamus tinctorius L) and inositol. The ration is composed of several feed ingredients for corn, bran, fish meal, soybean meal, palm oil, lysine, CaCO3, methionin and topmix. The materials used as treatment were safflower oil and inositol. The method used was experimental with completely randomized design (CRD), which consisted of 9 treatments with 3 replications, each replication consisting of 4 male sentul chickens. The treatments consisted of: R0 = basal feed (0% safflower oil and 0% inositol), R1 = basalt feed + 0.5% safflower oil, R2 = basalt feed + 1% safflower oil, R3 = basalt feed + 0.5 inositol %, R4 = basal feed + 1% inositol, R5 = basal feed + 0.5% safflower oil and 0.5% inositol, R6 = basal feed + 0.5% safflower oil and 1% inositol, R7 = basal feed + 1% safflower oil and 1% inositol, R8 = basal feed + 1% safflower oil and 1% inositol. The results showed that the use of safflower oil and inositol had no significant effect (P> 0.05) on feed consumption and body weight gain in male Sentul Chicken. The average feed consumption of male sentul hens ranged from 3,175,942 ± 322,008 to 3,520,930 ± 69,056 grams / chicken / 8 weeks. The average body weight gain of male sentul hens ranged from 391.67 ± 1.768 to 556.67 ± 0.262 g /chicken / 8 weeks. The addition of safflower oil (Carthamus tinctorius L) and inositol as much as 0,5%- 1% did not increase feed consumption and significantly increased body weight for male Sentul seizures.

Keywords: Sentul chicken, Safflower oil, Inositol, feed consumption, body weight gain
2708930458D1A016240Hubungan Pengetahuan Peternak Dengan Keterampilan Pemberian Pakan Lokal Pada Ternak Sapi Potong Di Kecamatan Bawang Kabupaten BanjarnegaraPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengetahuan peternak dan keterampilan pemberian pakan lokal pada ternak sapi potong serta menganalisis hubungan pengetahuan peternak dengan keterampilan pemberian pakan lokal pada ternak sapi potong di Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara. Karakteristik keterampilan peternak yang diteliti adalah tingkat pendidikan peternak, umur peternak, dan lama beternak dalam pemberian imbangan pakan, komposisi pemberian pakan dan frekuensi pemberian pakan lokal serta pengetahuan peternak tentang pakan lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penetapan sampel wilayah dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu mengambil wilayah yang memiliki kelompok peternak sapi potong di Kecamatan Bawang. Pengambilan responden dilakukan dengan metode sensus yaitu dengan memilih anggota kelompok tani ternak yang aktif dan memelihara ternak dalam kurun satu tahun terakhir. Total responden berjumlah 40 orang, serta uji yang digunakan adalah uji deskriptif dan uji korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peternak di Kecamatan Bawang pada kategori sedang. Keterampilan pada komposisi pemberian pakan sedang, tidak terampil dalam menentukan imbangan pakan dan sangat terampil dalam frekuensi pemberian pakan. Hasil analisis korelasi rank spearman antara pengetahuan peternak dengan keterampilan pemberian pakan lokal terdapat hubungan yang signifikasi dengan nilai korelasi yang kuat sebesar 0,411. Hal ini menggambarkan bahwa dengan pengetahuan yang cukup tercemin keterampilan peternak yang cukup mendukung dalam pemberian pakan lokal pada ternak. Pengetahuan memberikan pengaruh positif terhadap keterampilan peternak, sehingga peningkatan pengetahuan tentang pakan lokal akan diikuti juga dengan peningkatan keterampilan peternak dalam pemberian pakan lokal. Kesimpulan penelitian adalah terdapat korelasi antara pengetahuan peternak dengan keterampilan pemberian pakan lokal pada kategori sangat terampil dalam frekuensi pemberian pakan.This study aims to determine breeders 'knowledge and local feeding skills for beef cattle and to analyze the relationship between breeders' knowledge and local feeding skills for beef cattle in Bawang District, Banjarnegara Regency. The characteristics of breeders 'skills studied were farmer education level, age of breeders, and length of breeding in feeding balance, composition of feed and frequency of local feeding as well as breeders' knowledge of local feed. The research method used is a survey method. The determination of the sample area was carried out by purposive sampling method, namely taking areas that have a group of beef cattle breeders in Bawang District. Respondents were collected using the census method, namely by selecting members of the livestock farmer groups who were active and kept livestock in the last one year. The total number of respondents was 40 people, and the test used was the descriptive test and the Spearman rank correlation test. The results showed that the level of knowledge of breeders in Bawang District was in the medium category. Skills in moderate feed composition, not skilled in determining the balance of feed and very skilled in frequency of feeding. The results of the spearman rank correlation analysis between breeders' knowledge and local feeding skills have a significant relationship with a strong correlation value of 0,411. This illustrates that with sufficient knowledge, the skills of farmers are sufficiently supportive in providing local feed to livestock. Knowledge has a positive influence on breeders' skills, so that increased knowledge about local feed will also be followed by increasing farmer skills in local feeding. The conclusion of the study is that there is a correlation between breeders' knowledge and local feeding skills in the highly skilled category of feeding frequency.
2709030445K1B016048PEMODELAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMATIAN IBU MELAHIRKAN DI JAWA TENGAH DENGAN ZERO INFLATED POISSON REGRESSIONSalah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) adalah menurunkan angka kematian ibu pada tahun 2030. Dalam menekan angka kematian ibu perlu dikaji terlebih dahulu faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data angka kematian ibu melahirkan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2018 merupakan variabel acak diskrit yang berdistribusi Poisson dan memiliki banyak nilai nol, biasanya dianalisis dengan regresi Poisson. Namun overdispersi pada data menunjukkan bahwa pemodelan Poisson kurang tepat untuk digunakan. Sehingga pada penelitian ini digunakan model untuk mengatasi masalah overdispersi yaitu dengan model Zero Inflated Poisson (ZIP). Hasil model ZIP menunjukkan bahwa Faktor- faktor yang mempengaruhi angka kematian ibu melahirkan yaitu pemberian tablet Fe3 , ibu hamil yang mengalami komplikasi kebidanan, dan rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat.One of the targets of the Sustainable Development Goals (SDGs) is to reduce the maternal mortality rate by 2030. In reducing the maternal mortality rate, it is necessary to first study the factors that influence it. Data on maternal mortality in Central Java Province in 2018 was a discrete random variable that had a Poisson distribution and had many zero values, usually analyzed by Poisson regression. However, the overdispersion of the data showed that Poisson modeling was not appropriate to use. So that in this study a model was used to solve the overdispersion problem, namely the Zero Inflated Poisson (ZIP) model. The results of ZIP model show that influence the maternal mortality rate are the provision of Fe3 tablets, pregnant women who experience obstetric complications, and households with a clean and healthy lifestyle.
2709130378C1A013022ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN INDUSTRI GROPAK SINGKONG DI DESA KARANGDADAP, KECAMATAN KALIBAGOR, KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh upah, jam kerja, modal dan pendidikan terhadap pendapatan industri gropak singkong. Populasi penelitian terdiri dari 64 pengusaha gropak singkong di Desa Karangdadap yang semuanya dipilih sebagai responden. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara berdasarkan kuisioner.
Berdasarkan analisis data menggunakan regresi linier berganda, ditemukan bahwa upah, modal, jam kerja dan pendidikan bernpegaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan usaha gropak singkong. Variabel yang paling berpengaruh terhadap pendapatan yaitu modal.
Implikasi dari hasil penelitian ini yaitu pengusaha gropak singkong sebaiknya memberikan upah yang layak agar meningkatkan produktivitas pekerja, memperhatikan jam kerja agar efektif dan efisien dalam produksi, menambah modal agar meningkatkan produksi dan pendapatan , dan memperbaiki pendidikan nonformal seperti mengikuti pelatihan untuk menghasilkan produk yang lebih inovatif.

Kata kunci : UMKM, Upah, Jam Kerja, Modal, Pendidikan, Keuntungan
This study aims to analyze the effect of wages, working hours, capital and education on the income of the cassava gropak industry. The study population consisted of 64 cassava gropak entrepreneurs in Karangdadap Village, all of whom were selected as respondents. Data were collected by interview based on a questionnaire.
Based on data analysis using multiple linear regression, it was found that wages, capital, working hours and education had a positive and significant effect on cassava gropak business revenues. The most influential variable on income is capital.
The implication of the results of this study is that cassava gropak entrepreneurs should provide decent wages to increase worker productivity, pay attention to working hours to be effective and efficient in production, increase capital to increase production and income, and improve non-formal education such as attending training to produce more innovative products .

Keywords: MSMEs, Wages, Working Hours, Capital, Education, Profit
2709230446C1I016031THE ANALYSIS OF MANAGEMENT AND REPORTING OF PRODUCTIVE WAQF IN WAQF ORGANIZATIONPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk menggambarkan implementasi pengelolaan dan pelaporan wakaf produktif yang dilakukan oleh Lembaga wakaf. Penelitian ini mengambil judul: “The Analysis of Management and Reporting of Productive Waqf in Waqf Organization”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pengelolaan, pelaporan, pengawasan Lembaga wakaf didalam praktik wakaf produktif dan untuk mengetahui strategi Lembaga wakaf dalam melakukan edukasi wakaf produktif terhadap masyarakat. Objek dalam penelitian ini adalah Lembaga wakaf pusat ACT, Global Wakaf dan Dompet Dhuafa di Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan data reduksi, triangulasi dan SWOT menunjukkan bahwa: (1) PSAK 112 merupakan pedoman akuntansi wakaf yang mengatur pada entitas pelaporan terkait wakaf permanen dan wakaf temporer (dalam bentuk uang) , (2) Pengelolaan wakaf yang dilakukan oleh ACT, Global Wakaf dan Dompet Dhuafa telah memenuhi bebrapa prinsip pengelolaan wakaf yang tertuang didalam waqf core principle, (3) Pelaporan yang dilakukan oleh ACT, dan Dompet Dhuafa belum mengikuti standar akuntansi wakaf (PSAK 112), sedangkan untuk Global Wakaf sudah menerapkan PSAK 112, (4) Pengawasan terhadap praktek wakaf yang dilakukan oleh ACT, Global Wakaf dan Dompet Dhuafa sudah memenuhi prinsip pengawasan yang tertuang dalam waqf core principle dengan adanya pengawasan internal (Dewan Syariah, dan Internal Audit) dan eksternal (BWI dan Kantor Akuntan Publik), (5) hasil SWOT menunjukkan bahwa ACT, Global Wakaf, dan Dompet Dhuafa perlu mempertahankan strategi yang sudah dilakukan berdasarkan potensi yang mereka miliki (Jaringan yang luas, memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia) dan menciptakan strategi baru untuk meminimalisir kelemahan (pemerataan program di setiap cabang, sumber daya manusia) dan ancaman (resiko bisnis dari wakaf produktif) didalam praktek pengelolaan dan pelaporan wakaf produktif, dan (6) Proses edukasi wakaf oleh ACT, Global Wakaf dan Dompet Dhuafa terhadap masyarakat dilakukan melalui media social, kelas wakaf via online (daring) dan offline (seminar), serta melalui media cetak. Hasil penelitian ini menyiratkan bahwa Lembaga wakaf perlu untuk meningkatkan kualitas operasi mereka didalam pengelolaan, pelaporan, dan pengawasan agar implementasi wakaf produktif dapat berjalan efisien dan efektif.This research is a descriptive qualitative research that describe implementation of management and reporting of productive waqf in waqf organization. the title of this research is " The Analysis of Management and Reporting of Productive Waqf in Waqf Organization". The purpose of this research was to determine process of management, reporting and supervision of waqf organization in terms of productive waqf and to determine strategy of nazhir in improve society literacy about waqf. Objects in this research are the central of ACT, Global Wakaf and Dompet Dhuafa located in Jakarta. Based on the results of research and analysis of data using reduction data, triangulation and SWOT indicate that : (1) PSAK 112 is a waqf accounting guideline for governing the reporting entity related to permanent waqf and temporary waqf (in form of money), (2) Waqf management conducted by ACT, Global Wakaf and Dompet Dhuafa have fulfilled the principle of waqf core principle, (3) Reporting conducted by ACT, and Dompet Dhaufa has not followed waqf accounting standard (PSAK 112), while for Global Wakaf has implemented PSAK 112, (4) Supervision of productive waqf practice conducted by ACT, Global Wakaf, and Dompet Dhuafa has fulfilled the principle of supervision set out in waqf core principle with internal supervision (Shariah Supervisory Board and Internal auditor) and external (BWI and Public Accounting Firm), (5) SWOT results show that ACT, Global Wakaf, and Dompet Dhuafa need to maintain strategies that have been carried out based on their potential (extensive network, has many branches throughout Indonesia) and created new strategies to minimize weaknesses (equalization of programs in each branch, human resources) and threats (business risk from productive waqf) in the practice of managing and reporting productive waqf, and (6) Waqf education process by ACT, Global Wakaf, and Dompet Dhuafa to the community is through social media, waqf classes via online and offline (seminars), as well as through printing media. The results of this study imply that waqf organization still need to improve the quality of their operation in management, reporting and supervision in order to make implementation of productive waqf become more efficient and effective.
2709330447F1B016053ANALISIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (STUDI KASUS: KESESUAIAN RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS KESEHATAN DENGAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2016-2021)Penyelenggaraan perencanaan pembangunan Indonesia telah diatur secara sistematis dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Setiap daerah membuat perencanaan pembangunan daerah demi mewujudkan perencanaan pembangunan yang berkesinambungan. Bidang kesehatan menjadi salah satu prioritas pembangunan di Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini mengacu pada teori konsistensi pada Principle of Good Regulation berdasarkan 4 aspek. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data dengan wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan secara keseluruhan perencanaan pembangunan pada Renstra Dinas Kesehatan dengan RPJMD Kabupaten Purbalingga tahun 2016-2021 belum seluruhnya sesuai atau konsisten dan upaya penyesuaian belum berjalan secara optimal. Hal ini dikarenakan pada target akhir pada indikator Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Ibu pada Renstra Dinas Kesehatan tidak mendukung pencapaian target RPJMD Kabupaten dan upaya penyesuaian seperti pengawasan belum dilaksanakan secara maksimal terutama pelaksanaan reviu oleh Aparat Pengawas Internal Pemerintah Daerah. Sehingga perlu pengawasan terutama pada tahap penyusunan perencanaan pembangunan serta menjaga komitmen pimpinan dengan mengaplikasikan reward dan punishment dalam merealisasikan target yang telah ditetapkan.The implementation of Indonesia's development planning has been systematically regulated in Law Number 25 of 2004 concerning the National Development Planning System. Each region makes regional development plans in order to realize sustainable development planning. The health sector is one of the development priorities in Purbalingga Regency. This research refers to the consistency theory of the Principle of Good Regulation based on 4 aspects. The research method used is descriptive qualitative method with purposive sampling technique. Retrieval of data by in-depth interviews and documentation. The results showed that overall development planning in the Health Service Strategic Plan with the 2016-2021 Purbalingga District RPJMD was not entirely appropriate or consistent and adjustment efforts had not been running optimally. This is because the final target on the indicators for Infant Mortality Rate and Maternal Mortality Rate in the Health Service Strategic Plan does not support the achievement of the District RPJMD target and adjustment efforts such as supervision have not been implemented optimally, especially the implementation of reviews by the Regional Government Internal Supervisory Apparatus. So that it is necessary to supervise, especially at the stage of preparation of development planning and to maintain the commitment of the leadership by applying rewards and punishments in realizing the targets.
2709430464A1D116034frutescens L.) DI TANAH YANG DIBERI PUPUK GUANO DAN PUPUK KANDANG SAPI DENGAN DOSIS YANG BERBEDA.Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk guano terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit., 2) mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit., 3) mengetahui interaksi antara pemberian dosis pupuk guano dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit. Penelitian ini dilaksanakan di screen house Kelurahan Grendeng Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas Jawa tengah pada ketinggian 110 mdpl dengan jenis tanah ultisol. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari 2020 - Mei 2020. Penelitian ini merupakan penelitian dua faktor dengan tiga ulangan yang di susun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor pertama adalah dosis pupuk guano dan faktor kedua adalah dosis pupuk kandang sapi. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, umur berbunga, bobot akar segar, bobot cabai segar per panenan per tanaman, jumlah cabai segar per panenan per tanaman. Analisis data menggunakan uji F dilanjutkan dengan DMRT pada tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan, pemberian dosis pupuk guano pada variabel umur berbunga dengan hasil tercepat 48 hst 25 g tanaman-1, bobot buah segar dengan hasil terberat 61,80 g dengan dosis 25 g tanaman-1, dan jumlah buah dengan jumlah terbanyak 29,5 dengan dosis 25 g tanaman-1. Pemberian dosis pupuk kandang pada umur berbunga dengan hasil tercepat 49,25 hst 450 g tanaman-1, bobot buah dengan hasil terberat 69,13 g dengan dosis 450 g tanaman-1, dan jumlah buah dengan jumlah terbanyak 32,41 buah dengan dosis 300 g tanaman-1. Terdapat interaksi antara dosis guano dan pupuk kandang sapi pada variabel pengamatan jumlah daun, diameter batang, umur berbunga, dan bobot akar segar.This research aims to 1) determine the effect of guano fertilizer dosage on the growth and yield of cayenne pepper plants., 2) determine the effect of giving various doses of cow manure on the growth and yield of cayenne pepper plants., 3) determine the interaction between guano fertilizer dosage and cow manure on the growth and yield of cayenne pepper plants. This research was conducted at screen house of Grendeng Village, North Purwokerto District, Banyumas Regency, Central Java at 110 meters above sea level with ultisol type of soil. The study was conducted from January 2020 to May 2020. This research was a two-factor study with three replays arranged based on the Complete RandomIzed Group Design (RAKL). The first factor was the dose of guano fertilizer and the second factor was the dose of cow manure. The observed variables were the height of the plant, the number of leaves, the diameter of the stem, the age of flowering, the weight of fresh roots, the weight of fresh chili per harvest per crop, and the amount of fresh chili per harvest per crop. The data obtained were analyzed using the F continues with DMRT at an error rate of 5%. The results showed, guano fertilizer dosage of flowering age variable with the fastest result 48 hst 25 g plant-1, weight of fresh fruit with the heaviest product of 61.80 g with 25 g plant-1 dosage, and the amount of fruit with the most amount of 29.5 with of 25 g plant-1 dosage. The giving of manure dosage at flowering age with the fastest result 49.25 hst 450 g plant-1 dosage, weight of fruit with the heaviest product of 69.13 g with 450 g plant-1, and the number of fruits with the highest amount of 32.41 pieces with 300 g plant-1 dosage. This showed that there was an interaction between the dose of guano and cow manure on the variables observation; of the number of leaves, the diameter of the stem, the age of flowering, and the weight of fresh roots.
2709530424F1A016042Hubungan antara Tingkat Religiusitas dan Perilaku Menjaga Kelestarian LingkunganPenelitian ini menjelaskan mengenai hubungan antara tingkat religiusitas dengan perilaku menjaga kelestarian lingkungan pada siswa SMA Muhammadiyah Wonosobo. Ajaran agama dapat menjadi sebuah faktor yang membimbing manusia untuk memperlakukan lingkungan dengan baik. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling untuk mengambil sampel dari masing – masing tingkatan kelas. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 91 responden menggunakan rumus Slovin. Alat analisis yang digunakan yaitu Korelasi Tau Kendall (τ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat religiusitas pada siswa pada umumnya adalah tinggi. Kemudian perilaku siswa dalam menjaga kelestarian lingkungan adalah cenderung baik sebanyak. Hasil analisis Korelasi Tau Kendall (τ) menunjukkan hubungan yang cukup kuat dan signifikan. This thesis aims to explain how is the relationship between the level of religiosity with the behavior in environmental conservation of SMA Muhammadiyah Wonosobo students. The values contained in religious teachings can be said to be one of the factors that guide humans to treat the environment well. It was conducted by using quantitative survey types. It used stratified random sampling to take samples from each grade. There are 91 respondents based on the sampling technique using the Slovin formula. The analisys tools that used in this research is Tau Kendall's Correlation analysis (τ). The results showed that the level of religiosity among the students was high. Furthermore, the behavior of students in environmental conservation tended to be good. The results of Tau Kendall's Correlation analysis (τ) showed strong enough and significant.
2709630450C1A013115ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHATANI CABAI MERAH KERITING DI DESA GOMBONG KECAMATAN BELIK KABUPATEN PEMALANGPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendapatan dan efisiensi pada usahatani cabai merah keriting di Desa Gombong, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan kuisioner yang dibagikan kepada petani cabai merah keriting di Desa Gombong Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang. Metode pengambilan sampel yaitu dengan mengambil semua petani petani pemilik cabai merah keriting yang ada di Desa Gombong yang berjumlah 37 petani.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa secara rata-rata, penerimaan rata-rata petani melebihi biaya produksi yang dikeluarkan petani dengan pendapatan rata-rata yang diterima petani sebesar Rp 36.603.188. Demikian juga tentang efisiensi usahataninya yaitu usahatani cabai merah keriting di Desa Gombong layak diusahakan, hal tersebut ditunjukkan oleh rata-rata nilai R/C rasio sebesar 2,58.
Oleh karena itu, usahatani cabai merah keriting di Desa Gombong perlu dipertahankan dan untuk mempertahankan kondisi tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan petani yaitu mempertimbangkan biaya-biaya yang digunakan untuk kegiatan produksi usahatani. Semakin tinggi perbandingan antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan maka semakin tinggi tingkat efisiensinya. Semakin besar selisih antara penerimaan petani dengan biaya yang dikeluarkan maka semakin besar pendapatan yang diperoleh.

This study aims to analyze how the income and efficiency of the curly red chili farming in Gombong Village, Belik District, Pemalang Regency. This type of research is quantitative research with the type of data, namely primary data and secondary data. The data collection method used was a survey method with questionnaires distributed to curly red chilli farmers in Gombong Village, Belik District, Pemalang Regency. The sampling method is to take all 37 farmers who own curly red chilies in Gombong Village.
Based on the results of the study, it is found that on average, the average income of farmers exceeds the production costs incurred by farmers with the average income received by farmers of Rp. 36,603,188. Likewise, the farming efficiency, namely that it is feasible to cultivate curly red chilies in Gombong Village, as shown by the average R / C ratio of 2.58.
Therefore, it is necessary to maintain curly red chili farming in Gombong Village and to maintain this condition, one way that farmers can do is to consider the costs used for farming production activities. The higher the ratio between revenue and costs incurred, the higher the level of efficiency. The greater the difference between farmer revenue and costs incurred, the greater the income earned.
2709730426B1J013103VARIASI MORFOLOGI JAMBU BIJI
(Psidium guajava L.) DI PURWOKERTO
DAN SEKITARNYA

Abstrak
Jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan tanaman yang tersebar di daerah tropis termasuk di Indonesia. Produksi buahnya dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan antioksidan dengan kandungan vitamin C. Jambu biji memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi pada variasi daun, batang, biji, bunga, dan buah. Pengetahuan akan keanekaragaman tanaman di tingkat spesies sangat penting sebagai dasar untuk menggali fungsi dan potensi spesies tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfologi jambu biji dan hubungan kemiripannya di Purwokerto sekitarnya.
Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Sampel dikoleksi dari daerah Grendeng, Sumbang, dan Pabuaran. Variabel yang diamati adalah karakter morfologi dengan organ pengamatan meliputi: pohon, batang, daun, dan buah. Variasi morfologi antara berbagai kultivar jambu biji dianalisis secara deskriptif. Hubungan kemiripannya dianalisis dengan metode Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA).
Berdasarkan hasil pengamatan terdapat tujuh kultivar jambu biji yang tersebar di Purwokerto dan sekitarnya. Ketujuh kultivar tersebut adalah Psidium guajava ‘Merah’ , P. guajava ‘Putih’, P. guajava ‘Kristal Merah’, P. guajava ‘Kristal Putih’, P. guajava ‘Getas’, P. guajava ‘Bangkok’, dan P. guajava ‘Australi’. Hasil fenogram hubungan kemiripan menunjukkan ketujuh kultivar tersebut membentuk dua grup utama. Kultivar yang memiliki hubungan kemiripan tertinggi adalah kultivar Kristal Putih dan Bangkok dengan indeks disimilaritas 0,333. Kultivar yang memiliki hubungan kemiripan terjauh adalah kultivar Kristal Merah dan Getas serta Merah dengan indeks disimilaritas 0,917.

Kata Kunci: hubungan kemiripan; keanekaragaman jambu biji; variasi morfologi.
Abstract
The common guava Psidium guajava L. is a tropical plant species distributed across tropical areas, including Indonesia. Its fruit widely consumed, containing antioxidant and vitamin C. The species has high variety, emerging from its leaf, tree trunk, seed, flower and fruit characteristic. This knowledge is in demand for potential exploration of the common guava. Two objectives were defined for this study. Firstly, it was to define morphological variation of the common guava P. guajava L. Secondly, it was to determine similarity and its relationship among the cultivars.
This study conducted purposive sampling method to collect the samples. Samples were collected in Sumbang, Grendeng, and Pabuaran. Variabels such as morphological characteristic in the species tree, tree trunk, leaf, and fruit. The morphological variation was described descriptively. The relationship among the cultivars similarity was analyzed using Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA) method.
The result revealed that there are seven cultivars of the common guava P. guajava L. in Purwokerto area. Those cultivars are Psidium guajava ‘Merah’ , P. guajava ‘Putih’, P. guajava ‘Kristal Merah’, P. guajava ‘Kristal Putih’, P. guajava ‘Getas’, P. guajava ‘Bangkok’, dan P. guajava ‘Australi’. The similarity phenogram showed that the seven cultivars categorized into two main clusters. The Kristal Putih and Bangkok has the highest similarity, supported by its dissimilarity index of 0,333. The Kristal Merah is the least similar with the rest of the cultivars, especially with Getas and Merah, with dissimilarity index of 0,917.

Key words: Common guava diversity; morphological variation; similarity relationship.
2709830451I1E016028EVALUASI PROGRAM EKSTRAKURIKULER FUTSAL PADA SMP DI KABUPATEN BANYUMASAbstrak
EVALUASI PROGRAM EKSTRAKURIKULER FUTSAL
PADA SMP DI KABUPATEN BANYUMAS
(1)Puti Wijayanti
Latar Belakang: Pendidikan merupakan wadah untuk memperluas ilmu
pengetahuan secara terstruktur dengan mengembangkannya melalui jalur sekolah
maupun diluar sekolah. Untuk mengetahui kondisi obyek dari sebuah sebuah
perencanaan sampai mengetahui hasil pembelajaran diperlukan proses evaluasi.
Program ekstrakurikuler merupakan salah satu program pendidikan yang
dilaksanakan di luar jam pelajaran, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan,
potensi, dan minat siswa di luar kegiatan akademik. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengevaluasi program ekstrakurikuler futsal yang dilaksanakan di
SMP Negeri Kabupaten Banyumas dengan pendekatan CIPP (Context, Input,
Process, Product).
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan
pendekatan survey. Sampel pada penelitian ini berjumlah 10 guru pembina
ekstrakurikuler futsal dan 78 siswa peserta ekstrakurikuler futsal SMP Negeri di
Kabupaten Banyumas. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif.
Hasil Penelitian: Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil
evaluasi pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler futsal untuk responden guru
diperoleh aspek konteks sebesar 89,5%, aspek input 83,2%, aspek proses 79,6%,
aspek produk 86,1%. Sedangkan dari penilaian siswa pada aspek input sebesar
87,3%, aspek proses sebesar 86,7%, aspek produk sebesar 89,4%.
Kesimpulan: Dari analisis data yang dilakukan, menunjukkan bahwa pelaksanaan
kegiatan ekstrakurikuler futsal SMP Negeri di Kabupaten Banyumas masuk pada
kategori baik dengan persentase sebesar 85,97%.
Abstract
EVALUATION OF FUTSAL EXTRACURRICULAR PROGRAM
IN JUNIOR HIGH SCHOOL IN BANYUMAS REGENCY
(1)Puti Wijayanti
Background: Education is a platform to expand structured science by developing
it through school and out-of-school pathways. To know the condition of an object
of a planning until learning results are required evaluation process.
Extracurricular programs are one of the educational programs implemented
outside of lesson hours, aiming to develop students' abilities, potential, and
interests outside of academic activities. The purpose of this study is to evaluate
futsal extracurricular programs implemented in Banyumas State Junior High
School with CIPP (Context, Input, Process, Product) approach..
Methodology: This research is a quantitative descriptive study with a survey
approach. The sample in this study amounted to 10 futsal extracurricular
coaching teachers and 78 students of the extracurricular futsal participants of
State Junior High School in Banyumas Regency. Data analysis techniques use
descriptive statistics.
Research Results: Based on the analysis of the data conducted, obtained the
results of evaluation of the implementation of futsal extracurricular activities for
teacher respondents obtained context aspect by 89.5%, input aspect 83.2%,
process aspect 79.6%, product aspect 86.1%. Meanwhile, from the assessment of
students on the input aspect of 87.3%, the process aspect amounted to 86.7%, the
product aspect was 89.4%.
Conclusion: From the analysis of the data conducted, shows that the
implementation of the extracurricular activities futsal SMP Negeri in Banyumas
Regency entered in the category well with a percentage of 85.97%.
2709930475A1A116033Analisis Daya Saing Ekspor Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Indonesia di Pasar InternasionalKakao merupakan komoditas hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam perekonomian di Indonesia karena banyak menyumbang devisa negara melalui ekspor. Indonesia menempati posisi ketiga produksi terbesar dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, kemudian diposisi keempat dan kelima terdapat negara Nigeria dan Kamerun. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis perkembangangan biji kakao Indonesia, 2) menganalisis perbandingan daya saing biji kakao Indonesia dengan empat negara sentra produksi kakao terbesar dunia, dan 3) menganalisis posisi spesialisasi Indonesia sebagai negara spesialisasi importir atau eksportir kakao. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data instansi pemerintah dan badan intenasional terkait secara online mengenai data ekspor kakao Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dalam bentuk runtut waktu selama 10 tahun yaitu mulai 2009 sampai 2018. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan Revelaved Comparative Advantage (RCA) dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Hasil analisis RCA menunjukkan bahwa komoditas biji kakao Indonesia periode 2009-2018 memiliki daya saing atau keunggulan komparatif dengan rata-rata nilai RCA lebih besar dari 1 yaitu 4,76. Namun pada tahun 2017 dan 2018, nilai RCA kurang dari 1 yaitu 0,65 dan 0,89, sehingga biji kakao Indonesia tidak berdaya saing pada tahun 2017 dan 2018, sedangkan hasil analisis ISP menunjukkan bahwa biji kakao Indonesia periode 2009-2018 bernilai positif sebesar 0,16. Namun pada tahun 2014 hingga 2018, biji kakao Indonesia bernilai negatif sehingga Indonesia cenderung menjadi negara importir biji kakao.Cocoa is a plantation commodity that has an important role in the economy in Indonesia because it contributes a lot to the country's foreign exchange through exports. Indonesia is in the third position of the world's largest production after Ivory Coast and Ghana, then in the fourth and fifth positions are Nigeria and Cameroon.. This study aims to: 1) analyze the development of Indonesian cocoa beans, 2) analyze the comparison of the competitiveness of Indonesian cocoa beans with the four largest cocoa production center countries in the world, and 3) analyze the position of Indonesia's specialization as a specialty country of cacao importers or exporters. This research was conducted by collecting data from government agencies and related international agencies online regarding Indonesian cocoa export data. The method used is the case study method. The type of data used is secondary data in the form of a time series for 10 years, from 2009 to 2018. This study uses descriptive analysis with the Revelaved Comparative Advantage (RCA) approach and the Trade Specialization Index (ISP). Result of RCA analysis shows that the Indonesian cocoa commodity for the 2009-2018 period has a competitive advantage with an average RCA value greater than 1, at 4.76. However, in 2017 and 2018, the RCA values were less than 1, at 0.65 and 0.89, so Indonesian cocoa beans were not competitive in 2017 and 2018, while result of ISP analysis showed that Indonesian cocoa beans for the 2009-2018 period were positive at 0,16. However, from 2014 to 2018, Indonesian cocoa beans had a negative value, so that Indonesia tends to be a cacao beans importer country at that period.
2710030455A1A016038Efisiensi Usaha dan Nilai Tambah Agroindustri Tempe di Desa Pliken Kecamatan Kembaran Kabupaten BanyumasDesa Pliken merupakan sentra industri tempe di Kabupaten Banyumas. Pengolahan kedelai dengan menggunakan beberapa perlakuan memberikan nilai tambah terhadap penjualan kedelai. Efisiensi usaha menjadi penting karena berpengaruh terhadap keuntungan serta dalam mengembangkan usaha. Tujuan penelitian adalah: (1) menghitung biaya produksi, penerimaan, dan keuntungan agroindustri tempe pada Strata I, Strata II, dan Strata III, (2) mengetahui tingkat efisiensi usaha pada agroindustri tempe, (3) mengetahui nilai tambah pada agroindustri tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan pada 1 sampai 30 Juni 2020 di Desa Pliken. Objek penelitian ini adalah 40 orang pengrajin tempe. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis biaya, penerimaan, keuntungan, analisis efisiensi usaha, dan analisis nilai tambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agroindustri tempe Strata III memiliki keuntungan paling besar daripada Strata I dan Strata II. Agroindustri tempe di Desa Pliken sudah efisien. Nilai tambah pengolahan kedelai menjadi tempe yaitu Rp6.744,00 per kg dengan rasio nilai tambah sebesar 35 persen terhadap nilai produk.

Kata kunci: kedelai, tempe, efisiensi usaha, nilai tambah.
Pliken Village is the center of the tempe industry in Banyumas Regency. Soybean processing using several treatments provides added value to soybean sales. Business efficiency is important because it affects profits and in developing the business. The research objectives were: (1) calculating the production costs, revenues, and profits of the tempe agro-industry in Strata I, Strata II, and Strata III, (2) knowing the level of business efficiency in the tempe agro-industry, (3) knowing the added value of the tempe agro-industry in the village. Pliken, Kembaran District, Banyumas Regency. The research was conducted from 1 to 30 June 2020 in Pliken Village. The object of this research was 40 tempe craftsmen. The analysis used in this research is cost analysis, revenue, profit, business efficiency analysis, and value added analysis. The results showed that Strata III tempe agroindustry had the greatest advantage over Strata I and Strata II. The tempe agro-industry in Pliken Village is efficient. The added value of processing soybeans into tempeh is IDR 6,744.00 per kg with a value added ratio of 35 percent to the value of the product.

Key words: soybean, tempe, efficiency, added value.