Artikelilmiahs

Menampilkan 12.021-12.040 dari 49.517 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
120214990C1A009090FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI TARGET
PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB)
DI BARLINGMASCAKEB JAWA TENGAH
Setiap pemerintah daerah harus mampu meningkatkan pendapatan daerah mereka sendiri. Pendapatan dari pajak bumi dan bangunan tidak boleh dikesampingkan, karena dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan utama di samping sumber pendapatan masing-masing daerah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor seperti Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita (PDRB Per Kapita), inflasi, jumlah wajib pajak, jumlah luas lahan dan jumlah bangunan yang paling berpengaruh terhadap target penerimaan pajak bumi dan bangunan di Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda data panel dan uji statistik.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan alat analisis data panel dengan pendekatan Fixed Effect, menunjukkan bahwa PDRB Per Kapita dan inflasi tidak berpengaruh terhadap target penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), sedangkan jumlah wajib pajak, jumlah luas lahan, dan jumlah bangunan berpengaruh signifikan terhadap penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Dan variabel yang paling berpengaruh adalah jumlah luas lahan.
Every regions goverment must be able increasing their own regional income. Revenue from land and building tax should not be ruled out, because it can be relied upon as the main source of revenue in addition to the revenue sources of each region.
The aims of this research is to determine factors such as the Gross Domestic Product Per Capita (GDP Per Capita), Inflation, Total Taxpayers, Total Land and Building amount which is the most influencing on revenue targets land and building tax in Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap and Kebumen. The method of analysis used in this study is a multiple linear regression panel data and statistical tests.
Based on the results of research and data analysis using a panel data analysis with Fixed Effect approach, shows that GDP Per Capita and inflation does not affect the revenue target of land and building tax, while total taxpayers, total land and buildings have a significant amount the acceptance of land and building tax. And the most influential variable is total land area.
120224991G1D009016HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA YANG MENGALAMI GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF DI DESA WINDUNEGAR A KECAMATAN WANGON
KABUPATEN BANYUMAS
Latar belakang: Gangguan kognitif adalah salah satu dari beberapa masalah utama yang sering terjadi pada orang tua. Penurunan ini dapat sangat mempengaruhi kemampuan fungsional serta kualitas hidup individu. Keluarga benar-benar memiliki peran yang sangat penting untuk membantu dan merawat anggota keluarga yang lebih tua dengan gangguan kognitif.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran keluarga dan kualitas hidup lansia dengan gangguan kognitif.
Metode: Desain penelitian menggunakan analitik korelasi dengan pendekatan potong lintang atau disebut juga cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Besarnya sampel sebanyak 39 lansia di Desa Windunegara Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan dua buah alat ukur yaitu World Health Organization Quality of Life (WHOQOL-BREF) yang dikembangkan oleh WHO dan koesioner peran keluarga yang diadopsi dari beberapa kuesioner penelitian sebelumnya tentang peran keluarga.
Hasil: Peran keluarga yang paling dominan adalah sebagai fasilitator (56,63), diikuti oleh sebagai edukator dan motivator (51.97 dan 49.36). Skor tertinggi kualitas hidup terdapat pada domain hubungan sosial (70.08). Sementara itu, domain fisik mewakili domain terendah QOL (53.57). Analisis menggunakan pearson product moment menunjukkan hubungan yang signifikan antara peran keluarga dan kualitas hidup lansia dengan gangguan kognitif (r = 0,392; p <0,05).
Kesimpulan: Ada hubungan antara peran keluarga dan kualitas hidup lansia dengan gangguan fungsi kognitif.
Saran: Keluarga harus melakukan perannya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup anggota keluarga lansia dengan gangguan fungsi kognitif.
Background: Cognitive impairment is one of several major problems often occurs in elderly people. The impairment can profoundly affects the functional abilities as well as the quality of life of the individual. Family absolutely has a very important role to assist and care for older family member with cognitive impairment.
Objective: This study aimed to determine the relationship between the role of family and the quality of life of elderly people with cognitive impairment.
Method: This research used cross-sectional design. Purposive sampling method was employed to select the study participants. A total of 39 elderly people who live with their family in Windunegara village participated in this study. The World Health Organization Quality of Life (WHOQOL-BREF) was used to measure quality of life. Family role was measured using a modified questionnaire from several previous researches.
Result: The most dominant role played by the family was as a facilitator (56.63), followed by as an educator and a motivator (51.97 and 49.36). The highest score of Quality of Life was noted in social relationship domain (70.08). Meanwhile, physical domain represented the poorest domain of QOL (53.57). Analysis using Pearson product moment showed a significant correlation between the role of family and the quality of life of elderly with cognitive impairment (r = 0.392; p<0.05).
Conclusion: There is a relationship between the role of the family and the quality of life of the elderly with cognitive impairment.
Suggestion: Family should play its role in order to improve the quality of life of elderly family member suffers from cognitive impairment.
120234992H1F007049GEOLOGI DAN STUDI GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DENGAN METODE GEOLISTRIK PADA REMBESAN GAS DAERAH GUNUNGWETAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN JATILAWANG, KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH
Lokasi penelitian secara administratif berada di Desa Gunungwetan dan sekitarnya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Secara geografis daerah penelitian terletak pada 9165060 mN – 9160000 mN dan 286980 mE – 292030 mE (UTM WGS 84, Zona 49 M). Daerah telitian merupakan daerah Punggungan dengan ketinggian berkisar 22 m - 337.5 m di atas permukaan laut dengan akses jalan yang relatif baik. Sehingga dapat dicapai dengan menggunakan jalur darat. Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi 2 (dua) satuan geomorfologi, menurut klasifikasi van Zuidam, 1985, yaitu Satuan Geomorfologi Dataran Fluvial Terraces (F6) dan Satuan Geomorfologi Bukit Struktural Antiklin (S9). Stratigrafi daerah penelitian terbagi menjadi empat satuan berdasarkan satuan tidak resmi. Urutan satuan batuan yang berumur dari tua ke muda yaitu Satuan Batupasir yang berumur Miosen akhir diendapkan pada Bathial atas, Satuan Batulempung berumur Pliosen diendapkan pada Neritik luar, Satuan intrusi Basalt berumur Pliosen dan Satuan Endapan Aluvial yang diendapkan secara tidak selaras diatas satuan batuan yang berumur lebih tua dan proses pengendapan masih berlangsung hingga saat ini. Struktur Geologi yang terdapat pada daerah penelitian terdiri dari struktur lipatan antiklin Gunungwetan, struktur Sesar Mendatar Kanan Menaik Gunungwetan dan Sesar mendatar kiri menurun Gunungwetan. Berdasar model geologi bawah permukaan yang dibuat menunjukkan adanya lapisan-lapisan dominan pasir dari Formasi Halang yang terisi oleh gas dan menjadi kantong-kantong gas dangkal di dekat permukaan, dengan kata lain batupasir pada daerah penelitian berpotensi sebagai batuan reservoir, sedangkan batulempung sebagai Seal-nya dan Trap pada daerah penelitian ini berupa trap/jebakan struktural berupa struktur antiklin dan sesar-sesar penyertanya. Jumlah sumberdaya atau volume gas pada daerah penelitian berdasar model geologi bawah permukaan pada lintasan 1 Pa, 2 Pb, dan 3 Pc, total sumberdaya terkira (inferred resources) berdasarkan distribusi kantung gas dekat permukaan pada peta zonasi distribusi gas adalah 1.118.452,79 ft3. Menurut hasil wawancara warga sekitar rembesan minyak dan gas (oil seep dan gas seep) di daerah Banyumas dan sekitarnya diperkirakan sudah ada minimal semenjak 60 tahun yang lalu.Study site is administratively located in Jatilawang village and its surroundings Gunungwetan District, Banyumas Regency, Central Java. Geographically, the study area is located at 9165060 mN – 9160000 mN and 286980 mE – 292030 mE (UTM WGS 84, Zona 49 M). This area is an area with altitude ranging from 22 m - 337.5 m above sea level with a relatively good road access. So it can be achieved by using a landline like bus, motorcycle and car. Geomorphology of the study area is divided into two units, such as Plain Fluvial Terraces (F6) and Structural Hill Anticline (S9), according to the classification of van Zuidam, 1985. Stratigraphy of the study area divided into four units. Sequence of lithologies from old to young units in late Miocene sandstones deposited on upper Bathyal, in Pliocene age mudstone deposited at the outer neritik, intrusion Basalt Unit in Pliocene age and Alluvial unit deposits precipitated out of tune over the old lithologies and the deposition process has continued until today. Geological structure at the study area consists of three structures, such as anticline Gunungwetan, Gunungwetan Right Slip Fault and Gunungwetan Left Slip Fault. Based on the subsurface analysis, geological models was indicate dominant layers of sand Halang Formation filled by gas and be shallow gas pockets near the surface, in other words sandstones in the study area has potential as reservoir rocks, whereas the mudstone as Seal and Trap in the study area is structural trap. The number of volume gas resources in the study area based on the subsurface geological models or inferred resources is 1,118,452.79 ft3. According to the results of interviews local residents seepage of oil and gas (oil and gas SEEP) in Banyumas and its surroundings are estimated already at least since 60 years ago.
120244993F1F008062AN ANALYSIS OF SIGNS REPRESENTED IN
A SHORT STORY ENTITLED “YOUNG GOODMAN BROWN”
WRITTEN BY NATHANIEL HAWTHORNE
Tanda adalah sesuatu yang merepresentasikan sesuatu yang lain. Menurut Peirce, terdapat tiga jenis tanda: tanda indeksikal, ikonik, dan simbolik. Tanda indeksikal adalah tanda yang disebabkan oleh objeknya. Tanda ini dibedakan menjadi dua, yaitu: jejak dan gejala. Tanda ikonik adalah tanda yang memiliki kesamaan dengan objeknya. Tanda ini dibedakan menjadi tiga: image, diagram, dan metafora. Sedangkan, tanda simbolik adalah tanda yang menyimbolkan sesuatu. Berdasarkan terminologi Peirce, tanda terdiri dari tiga elemen yang saling berkaitan. Elemen tersebut adalah tanda/representamen, objek, dan interpretant. Tanda/representamen adalah sesuatu yang merepresentasikan sesuatu yang lain. Objek adalah sesuatu yang direpresentasikan oleh tanda. Sedangkan, arti yang mungkin muncul dalam pikiran seseorang saat menemukan tanda disebut interpretant. Penelitian ini mengalisis tanda yang muncul dalam cerita pendek “Young Goodman Brown” karena cerita pendek ini berisi banyak tanda dan menggunakan Middle English yang menimbulkan kerancuan bagi pembaca dalam memahaminya. Data penelitian ini adalah semua kata dalam cerita pendek “Young Goodman Brown” yang mengindikasikan tanda. Dari analisis data, ditemukan 15 tanda dalam cerita pendek ini yang diindikasikan sebagai tanda indeksikal (4), tanda ikonik (2), dan tanda simbolik (9). Dalam menganalis data, peneliti menggunakan konteks untuk mengidentifikasi tanda dan bagaimana tanda tersebut direpresentasikan oleh penulisnya. Sign is something that represents something else. According to Peirce, there are three kinds of signs: indexical, iconic, and symbolic signs. Indexical sign is a sign that is caused by the object. It is divided into two subtypes: track and symptom. Iconic sign is a sign that shares similarity to the object. It is divided into three subtypes: image, diagram, and metaphor. Meanwhile, symbolic sign is a sign that symbolizes something. Based on Peirce’s terminology, a sign consists of three interconnected elements. Those elements are: sign/representamen, object, and interpretant. A sign or representamen is something that represents something else. An object is something that is represented by the sign. Meanwhile, the potential meaning of a sign that is created in someone’s mind when he/she finds a sign is called interpretant. This research analyzes signs which occur in a short story entitled “Young Goodman Brown” because it consists of a lot of signs and uses Middle English that may cause ambiguity for the reader in understanding it. The data of this research are all words in Young Goodman Brown short story which indicate signs. From data analysis, there are 15 signs found in the short story which are indicated as indexical signs (4), iconic signs (2), and symbolic signs (9). In analyzing the data, the researcher uses context to identify the signs and how the signs are represented by the writer.
120254995D1E009046Peranan Tenaga Kerja Perempuan dalam Usaha Ternak Sapi PerahPenelitian dilaksanakan pada tanggal 4 Februari sampai dengan tanggal 11 Maret 2013 di Kabupaten Kuningan. Tujuan penelitian ini yaitu 1) Mengetahui besarannya kontribusi pendapatan tenaga kerja perempuan terhadap total pendapatan usaha ternak sapi perah di Kabupaten Kuningan. 2) Mengetahui pengaruh jumlah ternak, jumlah anggota keluarga, umur peternak, pendidikan peternak, curahan jam kerja dan lama beternak terhadap kontribusi pendapatan perempuan keluarga peternak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan metode pengambilan sampel lokasi menggunakan metode purposive sampling dan metode pengambilan sampel responden menggunakan metode sensus. Besarnya sampel yang diambil adalah 85 responden. Responden adalah tenaga kerja perempuan peternak sapi perah di Kabupaten Kuningan yang terdapat di kecamatan Cigugur, Kramatmulya dan Cilimus. Variabel yang diamati adalah jumlah kepemilikan ternak (X1), jumlah anggota keluarga (x2), umur peternak (x3), pendidikan peternak (x4) dan curahan jam kerja (x5), lama beternak (x6) sebagai variabel independen serta kontribusi pendapatan keluarga peternak (Y) sebagai variabel dependen. Hasil penelitian menunjukan bahwa kontribusi curahan jam kerja perempuan adalah sebesar 29,45 persen dari total curahan jam kerja usaha tenak sapi perah, sementara kontribusi pendapatan kerja wanita sebesar Rp. 12.410.645,76/tahun. Hasil analisis dengan menggunakan regresi linier berganda menunjukan bahwa R2 sebesar 62,10 persen, Uji Fhitung menunjukan signifikasi sebesar 95 persen dan uji thitung menunjukan variabel curahan jam kerja berpengaruh sangat nyata terhadap pendapatan kerja perempuan dengan tingkat signifikasi 99 persen. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kontribusi tenaga kerja perempuan dalam usaha ternak sapi perah di Kabupaten Kuningan cukup besar.This reseach was conducted from February 4th until March 11th, 2013. The aims of this research were (1) to know contribution of women labor income to total income of dairy farm business in Kuningan regency (2) to know the influence of socio-economic factors (number of cattle, number of family, farming age, farming education, duration of work and farming period) on family contribution of women labor income. Survey method was used while the locations of sampling were determinated by purposive sampling. The respondents were selected using census method. The number of collected samples were 85 respondents. The respondents were woman labors in dairy farms in Cigugur, Kramatmulya and Cilimus subdistrict. The number of cattle (X1), number of family (X2),farming age (X3), farming education (X4), duration of work (X5) and farming period (X6) were determined as independent Variables while family contribution of women labor income (Y) was dependent variable. The research results showed that contribution of working duration of woman was 29.45 percents, while the contribution of woman labor income was Rp.12,410,645.76/years. The multiple liniar regression analysis showed that R2 was 62.10 percent. The F test result showed that independent variables had significant influence on woman labor income. The T test result showed that outpouring working hours (X5) had higly significant influence on woman labor income. It can be concluded that the role of woman labors in dairy farm bussiness in Kuningan regency is significantly large.
120264996E1A007239MEKANISME PEMBERIAN IZIN MENDIRIKAN PERUMAHAN UNTUK PERMUKIMAN PENDUDUK DENGAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN
(Studi Mendirikan Perumahan Sapphire Village Di Desa Rempoah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas)
Sesuai dengan perkembangan dunia usaha dan pembangunan, maka izin mendirikan perumahan sangat penting keberadaannya. Izin adalah sebagai penertib, pengatur, pengendali serta pengawas atas kegiatan yang dilakukan masyarakat. IMB menurut Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas nomor 7 tahun 2011 tentang Izin Mendirikan Bangunan Pasal 1 angka 17 menyebutkan banhwa perizinan yang diberikan oleh Bupati atau pejabat yang ditunjuk kepada pemilik untuk membangun baru, merehabilitasi/merenovasi dan melestarikan/memugar bangunan sesuai dengan persyaratan administrasi dan persyaratan teknis yang berlaku.
Mekanisme izin mendririkan perumahan di Kabupaten Banyumas ternyata tidak hanya mengajukan permohonan IMB kemudian melengkapi persyaratannya, akan tetapi para pengembang perumahan harus mengetahui lahan yang digunakan termasuk lahan pertanian yang sudah ditetapkan menjadi lahan pertanian pangan berkelanjutan atau bukan. Sehingga penulis ingin mengetahui bagaimana mekanisme pemberian izin mendirikan perumahan di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan secara yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan analitis dengan spesifikasi penelitian preskriptif.
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa di dalam prosedur mendirikan perumahan meliputi tahap penerimaan permohonan, pemeriksaan administratif, pemeriksaan teknis, pemberian atau penolakan izin, pembayaran retribusi, dan penyerahan Keputusan Pemberian Izin atau surat penolakan izin atau keputusan pencabutan izin, dilakukan terpadu secara satu pintu. Lahan pertanian apabila sudah ditetapkan menjadi lahan pertanian pangan berkelanjutan tidak dapat dialih fungsikan kecuali untuk kepentingan umum.
In accordance with its business growth and development, housing permits importance. Permission is as penertib, regulatory, and supervisory control over the activities conducted by the public. IMB according Banyumas Regency Regulation No. 7 of 2011 on Building Permit Article 1 paragraph 17 mentions banhwa permissions granted by the Regents or officials appointed to the new owner to build, rehabilitate / renovate and preserve / restore the building in accordance with the requirements of the administrative and technical requirements applicable.

Mechanism mendririkan housing permits in Banyumas was not just apply for IMB then complete the requirements, but the housing developers should know that land use including agricultural land that has been set into sustainable agricultural land or not. So I want to know how the mechanism of providing housing permits in Banyumas. The study was conducted with the normative juridical approach of legislation and analytical research with prescriptive specifications.

From the results of this study can be seen that in the setting up procedure includes the step of receiving the petition housing, administrative checks, technical examinations, granting or denial of permits, fees payment, and delivery of Permit Decision or permit denial letter or revocation decision, made ​​by the integrated door . Agricultural land when it is set to become sustainable agricultural land can not be converted functioned except in the public interest.
120274997A1M009056PENGARUH JENIS DAN WAKTU FERMENTASI JAGUNG TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA DAN FUNGSIONAL TEPUNG JAGUNG SERTA APLIKASINYA PADA BISKUITABSTRAK

Memodifikasi tepung jagung merupakan salah satu cara untuk memperbaiki karakteristik tepung jagung. Fermentasi jagung dengan penambahan air, bakteri asam laktat dan ragi tape serta perbedaan waktu fermentasi jagung mampu mengubah karakteristik tepung jagung sehingga dihasilkan tepung jagung termodifikasi. Aplikasi tepung jagung termodifikasi pada pembuatan biskuit diharapkan dapat menghasilkan biskuit yang mirip dengan biskuit dari tepung terigu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jenis fermenetasi, waktu fermentasi, interaksi antara jenis dan waktu fermentasi jagung terhadap karakteristik tepung jagung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Faktor yang dicoba yaitu jenis fermentasiterdiri dari air (S1), bakteri asam laktat (S2), ragi tape (S3) dan waktu fermentasi terdiri dari 24 jam (F1), 36 jam (F2) dan 48 jam (F3) sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik untuk diaplikasikan pada biskuit yaitu kombinasi perlakuan fermentasi jagung dengan larutan ragi tape fermentasi selama 48 jam (S2F3), memilki kapasitas penyerapan air tepung jagung (126,023%bk) sedangkan kapasitas penyerapan minyak (159,603%bk). Biskuit jagung yang dihasilkan memilki kadar air 4,67%, kadar abu 1,51%, kadar lemak 25,43%, kadar protein total 5,94% dan kadar serat 3,09%.
ABSTRACT

Modify of corn flour is one way to improve the characteristics of corn flour. Fermentation of corn with additional of water, lactid acid bacteria and yeast tape and the differences fermentation time can change the characteristic of corn flour so that the resulting modified corn flour. Aplication of modified corn flour in the biscuits is expected to produce biscuits are similar to biscuits of wheat flour. The purpose of this research to determine the effect of type of fermentation, fermentation time, the interaction between type and fermentation time of corn on characteristics of corn flour. This research uses Randomized Complete Block (RAK) factorial with three replicates. The factors tested are kind of a mixed ingredients water (S1), yeast tape (S2), lactic acid (S3) and the long 24 hour submerged (F1), 36 hours (F2) and 48 hours (F3) to obtain 9 combined treatment. The result showed that the best treatment is applied to the biscuit is combination treatment of corn with yeast tape and fermenting for 48 hours (S2F3), have water absorption capasity corn flour (126,023%bk) whereas oil absorption capasity (159,603%bk). The resulting corn biscuits have the water content 4,67%, ash content 1,51%, fat content 25,43%, totally protein content 5,94% and fiber content 3,09%.
120284998C1C009060PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP) DAN PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PADA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dan penggunaan informasi akuntansi pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Banyumas. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan jasa biro perjalanan di Kota Purwokerto yang berjumlah 28. Responden dalam penelitian ini adalah karyawan yang bertugas sebagai pencatat transaksi keuangan, manajer atau pemilik. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Januari 2013.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan dan penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada UMKM di Kabupaten Banyumas belum memadai sedangkan penggunaan informasi akuntansi pada UMKM di Kabupaten Banyumas sudah memadai.
Implikasi penelitian ini adalah pengetahuan pelaku UMKM tentang SAK ETAP perlu ditingkatkan dan pelaku UMKM diharapkan dalam menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku yakni Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Penelitian selanjutnya diharapkan bisa memperluas lingkup sampel penelitian serta menambah teknik pengumpulan data dengan metode lain.
This research aimed to determine the knowledge and implementation of financial accounting standard for entity without public accountability (SAK ETAP) and the use of accounting information in the Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) in Banyumas regency. The sample in this study is a travel agency services in Purwokerto, amounted to 28. Respondents in this study are employees who have the duty as financial transactions recorder, manager or owner. The data are collected in January 2013.
The results of this study show that the knowledge and implementation of financial accounting standards entities without public accountability (SAK ETAP) on MSMEs in Banyumas regency inadequate while the use of accounting information on MSMEs in Banyumas regency already adequate.
Implication of this research is the knowledge about the SAK ETAP MSMEs need to be improved and MSMEs are expected in preparing the financial statements based on the applicable accounting standards which is the financial accounting standards entities without public accountability (SAK ETAP). Future studies are expected to expand the scope of the sample study and increase data collection techniques with other methods.
120294999F1B008100KEMITRAAN MASYARAKAT DAN PERHUTANI
DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN
(STUDI DI LEMBAGA MASYARAKAT DESA HUTAN
(LMDH) WANA BAKTI LUMBIR)
Beberapa langkah telah dilakukan oleh pemerintah dalam memulihkan sumber daya hutan hutan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitar hutan. Guna menjaga kelestarian hutan pemerintah melibatkan masyarakat untuk memperbaiki kualitas sumberdaya hutan sekaligus membantu masyarakat dalam kesejahteraan. Salah satu obyek dalam penelitian ini yaitu di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Bakti di desa Lumbir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan secara mendalam mengenai pola kemitraan yang terjalin antara masyarakat LMDH Wana Bakti dengan Perhutani dalam mengelola sumber daya hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan di Desa Lumbir. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pemahaman akan masyarakat yang tergabung dalam LMDH Wana Bakti masih begitu kurang, karena latar pendidikan yang rendah sehingga partisipasi dalam pengambilan keputusan masih pasif dan masyarakat masih menjadi obyek dari kegiatan ini. Namun sejauh ini meskipun ada beberapa kendala tetapi keamanan hutan terjaga dan adanya peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat desa hutan.
Kata kunci : kemitraan, masyarakat, pengelolaan sumberdaya hutan.
Several measures have been undertaken by the government in restoring of forest resources as well as improving the welfare of forest communities living around the forest. To preserve the governments involve the community forest to improve the quality of forest resources as well as helping people in welfare. One object of this research is in the Forest Village Community Institution (LMDH) in the village of Wana Bakti Lumbir. The purpose of this study is to find out and describe the depth of the partnership that exists between the people of Wana Bakti LMDH with Perhutani in managing of forest resources and improve the welfare of forest communities in the village Lumbir. The research method in this research is descriptive qualitative research method. Informant selection techniques using purposive sampling and snowball sampling. Techniques of data collection using in-depth interviews, observation and documentation. The results of this study is that the understanding of the people who joined in Wana Bakti LMDH still so less, because of low educational background so that participation in decision-making still remains passive and the object of this activity. But so far although there are some problems but maintained forest security and an increase in welfare for the forest villagers.
120304937A1H009054PENGARUH DOSIS PUPUK ORGANIK PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI VARIETAS IR-64 DENGAN METODE UMUM DAN SRI
(SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi tanaman padi pada penggunaan metode umum dan SRI dengan perlakuan pemberian dosis pupuk organik. Penelitian dilaksanakan di Desa Banteran Kecamatan Sumbang dari bulan Mei sampai September 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dua faktor dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Sampel yang diperoleh dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan dengan uji DMRT 5% untuk mengetahui pengaruh faktor perlakuan metode dan penggunaan jumlah pupuk dasar. Perlakuan yang dicoba meliputi: jumlah pemberian pupuk dasar dosis 0 ton/ha, 5 ton/ha, 10 ton/ha, dan 15 ton/ha. Variabel yang diamati adalah: jumlah anakan tiap rumpun, jumlah helai daun tiap rumpun, tinggi tanaman, indeks luas daun, jumlah anakan produktif tiap rumpun, jumlah malai tiap rumpun, panjang malai tiap rumpun, jumlah gabah tiap rumpun, panjang akar, dan berat gabah kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi SRI dengan penggunaan pupuk dasar 15 ton/ha mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi dibandingkan metode umum walaupun pada lahan yang kurang subur. Kombinasi metode SRI dengan dosis pupuk dasar 15 ton/ha memiliki 38 anakan per rumpun, 129 helai daun per rumpun, 28 anakan produktif per rumpun, 218 malai per rumpun, dan 8,4 ton/ha dimana hasil ini lebih tinggi dibandingkan kombinasi metode dan penggunaan jumlah pupuk dasar lain.Research was aimed at knowing the growth and production of rice plants using common methods and SRI with different amounts of fertilizer treatments. The research was carried out in Banteran village, Sumbang from May until September 2012. The research used randomized blocks design of two factors which consists of 4 treatments and 3 replications. Samples were analyzed by F test and followed by 5% DMRT test to determine the influence of cultivation methods factor (SRI and common) and the dosage of organic fertilizer factor. The treatments tested includes: the organic fertilizer dosage of 0 ton/ha, 5 ton/ha, 10 ton/ha, and 15 ton/ha. The variables measured were: number of tillers per clump, number of leaves per clump, plant height, number of productive tillers per clump, number of panicles per clump, panicle length per clump, number of grains per clump, root length, and dry weight grain. Results of the research showed that the application of SRI with organic fertilizer use of 15 ton/ha increases growth and production of the rice plant better than the common method although in fertiless soil. The combination of SRI method with organic fertilizer dosage of 15 ton/ha capable of producing on average 38 tillers per clump, 129 leaves per clump, 28 productive tillers per clump, 218 panicles per clump, and 8.4 ton/ha which is higher than the results of a combination of methods and the use of another organic fertilizer dosage.
120315000G1A009027HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN
PERILAKU ANTISOSIAL PADA REMAJA
(Studi Analitik Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan
Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran
Universitas Jendral Soedirman)
Latar belakang : Masalah perilaku antisosial pada remaja perlu mendapat perhatian penting, karena beberapa alasan. Perilaku antisosial remaja mewakili gambaran sosial masyarakat, masalah sosial, dan masalah klinis yang signifikan dan banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa remaja dengan gangguan perilaku antisosial mempunyai kemungkinan bahwa sebenarnya mereka adalah remaja dengan depresi.
Tujuan : Mengetahui hubungan antara tingkat depresi dengan perilaku antisosial pada remaja di Jurusan Kedokteran Universitas Jendral Soedirman.
Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 47 yang didapat dengan cara Consecutive sampling merupakan mahasiswa FKIK Jurusan Kedokteran Universitas Jendral Soedirman angkatan 2010-2012 dengan rentang usia 18-21 tahun. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi mengisi lembar kuesioner yang diberikan oleh peneliti. Data yang didapatkan dianalisis secara univariat dan bivariat dengan analisis statistik Koefisien Kontingensi.
Hasil : Terdapat korelasi tingkat depresi terhadap perilaku antisosial pada remaja (p < 0.001) dengan kekuatan korelasi sedang (ρ = 0,469).
Kesimpulan : Terdapat korelasi yang bermakna dengan kekuatan korelasi sedang antara tingkat depresi terhadap perilaku antisosial pada remaja, remaja yang mengalami gangguan depresi cenderung melakukan perilaku antisosial.
Background: Antisocial behavior problems in adolescents is critical important for several reasons. Adolescent antisocial behavior represents a snapshot of society, social problems, and a significant clinical problem and many people are not aware that adolescents with antisocial behavior disorders have a real possibility that they are teenagers with depression.
Objective: To determine the relationship between levels of depression and antisocial behavior in adolescents in Department of Medical Education University Jendral Soedirman.
Methods: An observational analytic by cross sectional design. The 47 samples were obtained by Consecutive sampling to Department of Medical Student FKIK University Jendral Soedirman in the class from 2010 to 2012 with age range 18-21 years. The samples, who met the inclusion and exclusion criterias were fill out the questionnaires that was given by the researchers. The datas analyzed by univariat and bivariate Contingency Coefficient statistical analysis.
Results: There was correlation between levels of depression on antisocial behavior in adolescents (p <0.001) with moderate strength correlation (ρ = 0.469).
Conclusion: There was a statistically significant with the strength of the correlation between the level of depression were against antisocial behavior in adolescents, adolescents who experience depression will tend to antisocial behavior.
120325009D1E009078FERMENTASI AMPAS TEBU (Bagasse) MENGGUNAKAN Phanerochaete chrysosporium SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KECERNAAN BAHAN KERING DAN KECERNAAN BAHAN ORGANIK SECARA in vitroPenelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh taraf Phanerochaete chrysosporium pada fermentasi ampas tebu (Bagasse) terhadap tingkat kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik pakan. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah pakan yang terdiri dari ampas tebu dan konsentrat dengan imbangan 40:60, cairan rumen sapi dari sapi yang dipotong. Konsentrat tersusun dari 28% bungkil kelapa, 30% dedak halus, 1% garam dan 1% kapur (CaCO3). Penelitian disusun menggunakan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pakan perlakuan adalah P0 : Pakan yang mengandung ampas tebu tanpa fermentasi (Phanerochaete chrysosporium 0 gram). P1, P2, P3 : pakan yang mengandung ampas tebu (bagasse) 5 g, 10 g, dan 15 g/kg BK ampas tebu. Parameter yang ukur dalam penelitian ini meliputi kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering secara linier dengan persamaan Y = 0,6792X + 35.418, (r2= 0,96). Demikian pula terhadap kecernaan bahan organik juga berpengaruh secara linier dengan persamaan Y = 0,746X + 24.422, (r2= 0,94). Kesimpulan dari penelitian yaitu sampai taraf 15% (15 g/kg BK) fermentasi ampas tebu (bagasse) menggunakan Phanerochaete chrysosporium menunjukkan kecernaan bahan kering dan bahan organik pakan masih meningkat.This research was conducted to investigate the influence of Phanerochaete chrysosporium against granting adequate level of dry matter digestibility (DMD) and organic matter digestibility (OMD) of feed based sugarcane (Bagasse). The materials used in this research were sugarcane bagasse and concentrate with ratio of 40 : 60, and rumen fluid of beef cattle that had been slaughtered. The concentrate composed of 28% coconut meal, 20% rice bran, 1% salt and 1% lime stone (CaCO3). This research was conducted experimentally using Completly Random Design (CRD) with 4 treatments and 5 replicates. The treatments were P0: Feed contained sugarcane bagasse without fermentation, P1, P2, P3 : Feed contained sugarcane bagasse 5 g, 10 g, and 15 g of Phanerochaete chrysosporium (g/kg DM). The results of this research showed that the treatments (Phanerochaete chrysosporium fermentation) had significant (P<0.05) effect on the digestibility of dry matter (DMD) and organic matter digestibility (OMD) were liniear with equation Y = 0,6792X + 35.418, (r2= 0.96) and Y = 0,746X + 24.422, (r2= 0.94) respetivelly. The conclusion of this study was until the level of Phanerochaete chrysosporium 15% (15 g/kg) in the fermentation sugarcane bagasse, steal level digestibilities of dry matter (DMD) and organic matter (OMD) increased.
120335107F1B008067Disparitas Hasil Pembangunan
(Studi Tentang Kegagalan Pembangunan Dalam Peningkatan Partisipasi Kasar Pendidikan Dasar Di Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga)
Pasal 17 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan bahwa pendidikan dasar yang wajib ditempuh adalah selama sembilan tahun yaitu sampai pada jenjang SMP/MTS/yang sederajat. Kondisi pendidikan selama empat tahun terakhir dari tahun 2008-2011 di Kabupaten Purbalingga tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam permasalahan pendidikan dasar. Angka putus sekolah anak usia wajib belajar masih mencapai kisaran angka 6,8 persen. Hal ini menjadi permasalahan mendasar bagi ketimpangan pembangunan sektor pendidikan dibandingkan dengan sektor ekonomi. Menurunnya angka pengangguran berbanding terbalik dengan partisipasi kasar pendidikan dasar yang ditandai dengan angka putus sekolah yang masih tinggi. Paradigma pembangunan yang diterapkan selama ini adalah paradigma pertumbuhan ekonomi. Padahal keberhasilan paradigma pertumbuhan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah membawa berbagai akibat negatif. Momentum pembangunan dicapai dengan pengorbanan deteriorasi ekologis, penyusutan sumber alam, timbulnya kesenjangan sosial dan dependensi (Moeljarto, 2007:9).Article 17 of law No. 20 of 2003 about national education system explain that primary education that is obliged to be taken for nine years until the (junior high school) SMP/MTS/equal. The condition of education during the last four years of 2008-2011 in Purbalingga regency did not significantly changes in the basic educational problems. Dropout rate of school age children was still in the range of 6.8 percent. It becomes a fundamental problem for the education sector development gaps compared to the economic sector. The decreasing of unemployment rate is inversely with the primary education gross which is marked by the dropout rate is still high. The development paradigm that is applied is economic growth paradigm. Though the success of growth paradigm reaches the high economic growth has brought many negative effects. The development momentum is achieved by sacrificing the ecological deterioration, natural resources depletion, the emergence of social inequality and dependency (Moeljarto, 2007:9).
120345001F1F007085THE EFFECTIVENESS OF USING ALPHABET GAMES
AS TEACHING MEDIA TO IMPROVE STUDENTS VOCABULARY
(A case study of the fourth grade students in SD N 1Kalikajar, Purbalingga
academic year 2012/2013).
Fokus dari penelitian ini adalah tentang keefektifitasan pengunaan alphabet game dalam peningkatan kemampuan kosakata bahasa inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa kelas IV SD N 1 Kalikajar Purbalingga dalam penguasaan kosakata, (2) untuk memberikan informasi tentang bagaimana pengunaan alphabet games sebagai salah satu media untuk meningkatan kemampuan kosakata siswa, (3) mengetahui bagaimana pengaruh pengunaan media permainan alphabet dalam pembelajaran kosakata bahasa inggris, (4) mengetahui respos guru terhadap pengunaan permainan alphabet. Data diperoleh melalui Test; pre test dan post test, dan wawancara. Sebelum test diadakan tes uji coba untuk mengecek validiti dan reabiliti dari instrumen dan juga menggunakan program komputer SPSS. Pre test diberikan kepada kelas experiment dan control sebelum diadakan treatmen. Nilai rata rata pre test dari kelas kontrol adalah 5.87 dan kelas experimen 5.73. Setelah diberikan pre test, kelas experimen mendapatkan treatmen, kelas experimen belajar mengunakan alphabet games sebagai media dan kelas kontrol belajar secara konventional. Post test diberikan untuk mengukur keefektivisan pengunaan alphabet games. Nilai rata rata post test dari dari kelas kontrol adalah 6.46 dan experimen adalah 7.14. Kemudian data tersebut dianalisis mengunakan metode T-test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas ekperimental dankelas kontrol. Hasil penelitian, berdasarkan pada hasil analisis dari T-test mengenai pengajaran kosakata melalui alphabet game adalah X = 30.33, dan pengajaran kosakata secara konvensional adalah X = 24.44. Terdapat selisih peningkatan prestasi sebesar 19.41% diantara kedua kelompok tersebut. Itu berarti bahwa pengajaran kosakata melalui alphabet games lebih baik dari pada secara konvensional. Disamping itu, dapat juga disimpulkan bahwa nilai t (8.5) > t table (1,697), maka H0 ditolak dan menerima Ha.Data juga didukung dengan hasil wawancara. Hal itu bisa terlihat bahwa siswa dikelas experimen lebih aktif dan tertarik dalam belajar kosa kata bahasa inggris. The main concern of this research is about “The Effectiveness of Using Alphabet Games as Teaching Media to Improve Students’ Vocabulary. The purposes of this research are (1)To find out the vocabulary mastery in the fourth grade students of SD N 1 Kalikajar, Purbalingga, (2)To give more information about how the alphabet games is used to enrichstudents vocabulary (3) To find out the effects of using alphabet games in improving students’ vocabulary, (4) To findout the teacher’s opinion about the use of alphabet games.The data were collected through tests (pre test and post test) and interview. There was a try out test to check the’ validity and reability of instrument, then SPSS computer program was also used. Pre test was given to experimental and control class before the treatment, the mean of the pre test from the control class was 5.83 and experimental class was 5.73. After given the pre test, the experimental class got the treatment, the experimental class taught by using alphabet games and control class taught the conventionally. Then, the post test was given to meassure the effect of the treatment. The mean of the post test from the control class was 6.46 and experimental class was 7.14. The data were collected and analyzed by using t-test to find out whether there is significant difference between the experimental and the control class.The research results, based on the results of the analysis of T-Test, teaching vocabulary through alphabet games to the Students of SD N 1 Kalikajar, Purbalingga is X=30.33, and Teaching vocabulary conventionally X=24.44. There is 19.41% improvement difference in the two class. It means that teaching vocabulary through alphabet games is better than Teaching vocabulary conventionally. Besides, it can also be concluded that the t calculation value obtained (8.5) > t table (1.697), so H0 is refused and accept the Ha. The data were also supported by the interview result with the English teacher. It could be seen that the students in the experimental class were more active and enjoyed.
120355003F1F007119THE EFFECTIVENESS OF USING SEMANTIC MAPPING TECHNIQUE
TO IMPROVE STUDENTS’ ABILITY IN READING COMPREHENSION
(A study of the Eleventh Grade Students in SMK Muhammadiyah Cimanggu, Cilacap)

Fokus dari penilitian ini adalah tentangkeefektifan penggunaan semantic mapping teknikdalampemahamanmembaca.Tujuandari penelitian ini adalah (1) Mengetahuitingkatkemampuanmembacasiswakelas XI SMK MuhammadiyahCimanggu, Cilacap; (2) memberikaninformasitentangbagaimana semantic mapping digunakansebagaisalahsatuteknikuntukmeningkatkankemampuanmambacasiswakelas XI SMK MuhammadiyahCimanggu, Cilacap; (3) mengetahuibagaimanakeefektifitasanpenggunaan semantic mapping teknikdalampengajaranmembacapadasiswakelas XI SMK MuhammadiyahCimanggu, Cilacap; (4) mengetahuirespon guru dansiswaterhadappenggunaan semantic mapping teknik.
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh darisiswakelas XI SMK MuhammadiyahCimanggu, Cilacap. Peneliti menggunakan teknik purposivesampling.Jumlah seluruh siswa adalah 159 yang terdiri dari 5 kelas. 67 siswa dijadikan sebagai responden. Pengumpulan data diperoleh melalui test, kuesioner,observasidanwawancara.Hasilpenelitianmenunjukanpeningkatankemampuansiswadalampemahamanmembaca.Halitudapatdilihatdarihasil rata-rata grupeksperimen yang meningkatdari 6.01 pada pre test menjadi 7.33 pada post test. Hasil itu didukungdenganhasilkuisioner yang menunjukkanbahwasebagian besar siswa pada grupeksperimenlebihtertarik dan termotivasidalammembacamenggunakansemantic mapping. Berdasarkanhasildiatas, penggunaansemanticmappingmemberikanpengaruh yang baikdalammeningkatkankemampuansiswadalampemahamanmembaca.
The main concern of this research is about “The Effectiveness of Using Semantic Mapping as atechnique ofImproving Students’ Ability in Reading Comprehension. The purposes of this research are (1) to find out the reading competency of eleventh grade students in SMK MuhammadiyahCimanggu, Cilacap; (2) to give more information about how the semantic mapping is used as a teaching technique to enrich the eleventh grade students at SMK MuhammadiyahCimanggu, Cilacap in improving reading comprehension; (3) to find out the effectiveness of using semantic mapping technique on reading comprehension class on the eleventh grade students of SMK muhammadiyahCimanggu, Cilacap; (4) to find out the teacher and the students’ reaction on the use of semantic mapping technique.
The data used for the analysis were taken from the eleventh grade students of SMK MuhammadiyahCimanggu, Cilacap. The researcher appliedpurposive sampling technique. The total number of students are 159 divided into 5 classes.There were 67 studentstaken for the sample. The data were taken from test, questionnaire, observation and interview.The result showed an improvement on students’ reading comprehension. It could be seen from the mean of experimental group which increased from 6.01 in pre test to 7.33 in post test.It was supported by the result of questionnaire showing that most students in the experimental group stated that they were more interested and motivated in learning reading comprehension using semantic mapping. Based on the results above, it revealed that the usage ofsemantic mapping gave good effect in improving the students’ ability and motivation in reading comprehension.
120365014F1G009006POTRET KETIDAKADILAN JENDER DALAM NOVEL TEA FOR TWO
KARYA CLARA NG
Skripsi ini berjudul “Potret Ketidakadilan Jender dalam Novel Tea For Two karya Clara Ng”. Rumusan masalah yang terdapat dalam skripsi ini adalah (1) Bagaimanakah struktur intrinsik novel yang meliputi tokoh dan penokohan serta latar yang terdapat dalam novel Tea For Two karya Clara Ng? (2) Bagaimanakah potret ketidakadilan jender dalam novel Tea For Two karya Clara Ng? Skripsi ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan struktur novel yang meliputi tokoh dan penokohan serta latar yang terdapat dalam novel Tea For Two karya Clara Ng. (2) mendeskripsikan potret ketidakadilan jender dalam novel Tea For Two karya Clara Ng.
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analisis, dengan fokus penelitian yang ditekankan pada potret ketidakadilan jender dalam novel Tea For Two karya Clara Ng. Teknik dalam penelitian ini ada dua tahap, yaitu teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara (1) Menentukan objek penelitian, yaitu novel Tea For Two karya Clara Ng. (2) Membaca berulang-ulang isi novel yang akan diteliti supaya dapat memahami novel dengan baik. (3) Membaca sumber data tambahan yang sesuai dengan rumusan masalah sebagai referensi. (4) Membaca bagian-bagian penting novel. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teori yang berkaitan dengan rumusan masalah, dan menyimpulkan data yang sudah diperoleh.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ketidakadilan jender menjadi masalah sensorik yang diungkapkan pengarang melalui tokoh dan peristiwa yang diceritakan. Unsur intrinsik yang mewakili dalam novel ini meliputi tokoh penokohan, yang tokoh utamanya adalah Sassy yang digambarkan sebagai perempuan yang mandiri, cerdas, cantik, dewasa. Latar meliputi latar tempat dan latar waktu. Latar tempat yang lebih dominan meliputi Bali, Paris, Restoran, Café, Rumah sakit. Sedangkan latar waktu yang terjadi adalah pagi, sore dan malam.
Potret Ketidakadilan jender yang terdapat dalam novel ini ada dua yaitu kekerasan yang dialami oleh perempuan dan stereotipe yang terjadi pada perempuan. Presepsi perempuan dimata laki-laki bahwa seorang perempuan harus tunduk dengan apa yang dikatakan laki-laki, jikalau perempuan tidak melakukan hal tersebut, laki-laki bisa berbuat dengan sekehendak hatinya. Hal ini terjadi karena masih terpengaruh oleh budaya patriarkhi, yang menganggap laki-laki lebih tinggi kedudukannya dari perempuan.


This thesis is entitled “Potret Ketidakadilan Jender dalam Novel Tea for Two karya Clara Ng.” The problem formulations are 1) How are the novel intrinsic structure, namely the characters and the characterization, and the setting in the novel? and 2) How is the gender injustice described in the novel? Thus, this research is aimed at 1) describing the novel intrinsic structure, namely the characters and the characterization, and the setting in the novel; and 2) describing the gender injustices in the novel.
This is a descriptive analysis research focusing on the gender injustices in the novel “Tea for Two” by Clara Ng. The data were collected by 1) determining the research object i.e. the novel “Tea for Two” by Clara Ng; 2) reading it several times to be able to understand the story; 3) finding and reading other supporting references; and 4) finding the important parts of the novel. Furthermore, the data were analyzed by referring to the suficient theories and then it was concluded.
The results show that gender injustice become sensorial problems depicted by the characters and the setting. The intrinsic element in the novel is the characterization that is represented by the main character, Sassy. She is described as a mature independent woman that is also beautiful and smart. The other element is setting that consists of setting of time and place. The events in the story happen in the morning, the afternoon, and the evening; whereas the locations are in Bali, Paris, a restaurant, a café, and a hospital.
Moreover, the novel portrays the gender injustice that is the violence against women and the stereotype of women. To men’s perception women must be obedient to what men say; and if not, men may be impulsive. This happens because of the patriarchal society that gives power and importance only to men.
120375002F1F007146LOVE AS MOTIVATION FOR JAMIE SULLIVAN TO STRUGGLE IN HER LIFEIN NICHOLAS SPARKS’ A WALK TO REMEMBERCinta dan motivasi adalah dua hal yang menjadi topik utama dalam skripsi ini. Kedua topik ini saling berkaitan karena Jamie Sullivan sebagai seorang penderita leukemia mempunyai cinta yang membuatnya bertahan untuk terus berjuang dalam hidupnya. Dengan kata lain, cinta dapat memotivasi Jamie Sullivan untuk melawan penyakitnya dan mewujudkan mimpinya.
Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis objek novel ”A Walk to Remember”. Penelitian in difokuskan pada jenis-jenis cinta yang Jamie Sullivan miliki serta bagaimana cinta tersebut memotivasinya untuk berjuang dalam hidupnya sebagaimana tertulis di novel ”A Walk to Remember” karya Nicholas Sparks.
Jenis cinta yang Jamie Sullivan miliki adalah: cinta kepada Tuhan, eros, dan agape. Sementara cara cinta tersebut memotivasi Jamie Sullivan adalah dengan cara: menjadi penganut kristian yang taat, menjalani kehidupan romantis serta membahagiakan orang lain. Cinta kepada Tuhan berhubungan dengan pengabdian Jamie kepda Tuhan yang membuatnya menjadi orang yang baik kepada Tuhan maupun orang lain. Lalu, memiliki hidup yang romantis bagi Jamie Sullivan seperti mimpi besar yang menjadi kenyataan. Impiannya untuk memiliki hidup yang romantis terutama menikah menjadi salah satu motivasi untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Menjadi anggota gereja dan membantu anak yatim piatu adalah dua dari banyak hal yang Jamie Sullivan lakukan untuk membuat orang alin bahagia. Disamping membahagiakan orang lain, membantu orang lain juga memberikan kekuatan ekstra untuk mengahdapi masa-masa sulit dalm hidupnya.
Kata Kunci : Cinta Jamie Sullivan, motivasi, perjuangan, hidup.
Love and motivation are two main topics in this research. These two topics are related each other as reflected in Nicholas Sparks’ A Walk to Remember. These two topics are related since Jamie Sullivan as a leukemia sufferer has love that makes her stronger to struggle in her life. In other word, love can motivate Jamie Sullivan to fight against her disease and make her dreams come true.
The descriptive qualitative method is used in this research to analyze the main data; Nicholas Sparks’ A Walk to Remember. This research focuses on the kinds of love that motivate Jamie Sullivan to struggle in her life and how those loves motivate Jamie Sullivan to struggle in her life.
The kinds of love that Jamie Sullivan are love of God, eros, and agape. While the ways for Jamie to struggle in her life are: being a pious Christian, dreaming of a marriage, and giving happiness to other people. Love of God relates to Jamie’s devotion through God that influences her attitude in her daily life to be a nice person to God and to other people. Then, having a romantic life for a person like Jamie Sullivan is a big dream that comes true. Her wish to have a romantic life, especially getting married, becomes one of her biggest motivations to reach happiness in her life. Joining as a church member and helping the orphans are two of many things that Jamie Sullivan does to give happiness to other people. Besides it makes other people happy, helping other people also gives Jamie Sullivan more strength to face hard times in her life.
Keyword : Jamie Sullivan’s Love, motivation, struggle, life
120385004F1G009043GAYA BAHASA DAN ROMANTISME DALAM LIRIK LAGU DANGDUT KARYA RHOMA IRAMAPenelitian ini berjudul “Gaya Bahasa dan Romantisme dalam Lirik Lagu dangdut karya Rhoma Irama”. Aliran romantik merupakan aliran yang menggambarkan kenyataan hidup penuh keindahan tanpa cela. Pengarang ingin melukiskan kebahagiaan penuh dengan kesempurnaan. Sebaliknya, jika melukiskan kesedihan, pengarang ingin agar air mata terkuras. Aliran ini lebih menonjolkan perasaan. Kumpulan lirik lagu dangdut karya Rhoma Irama yang berjudul “Bahtera Cinta”, “Cuma Kamu”, “Dawai Asmara”, ”Gelandangan”, “Kehilangan”, “Sebujur Bangkai”, “Pantun Cinta”, “Segalanya Bagiku”, “Surat Terakhir”, dan “Syahdu” terdapat gaya bahasa yang khas serta mengandung makna yang dalam. Gaya bahasa tersebut mendominasi bahwa lirik lagu dangdut karya Rhoma Irama termasuk dalam aliran romantik.
Penelitian ini bertujuan mengetahui gaya bahasa dan aspek romantisme pada kumpulan lirik lagu dangdut karya Rhoma Irama berjudul “Bahtera Cinta”, “Cuma Kamu”, “Dawai Asmara”, ”Gelandangan”, “Kehilangan”, “Sebujur Bangkai”, “Pantun Cinta”, “Segalanya Bagiku”, “Surat Terakhir”, dan “Syahdu”. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyimak, memahami, mencatat lirik lagu dangdut karya Rhoma Irama secara mendalam, kemudian mengklasifikasi beberapa lagu yang mengandung aspek romantis. Tahap analisis data dilakukan dengan reduksi data, mendeskripsikan unsur gaya bahasa dan unsur aspek romantisme pada lirik lagu, kemudian menarik kesimpulan serta membuat laporan penelitian.
Berdasarkan analisis data, penggunaan gaya bahasa dalam lagu dangdut karya Rhoma Irama dimaksudkan untuk memberi nilai estetik dan menambah nilai rasa sesuai dengan situasi. Penggunaan gaya bahasa juga untuk mengungkapkan ide pengarang dalam menentukan kata mana yang lebih tepat mewakili gagasan pengarang. Penggunaan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna terdiri atas dua macam yaitu; gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Hasil penelitian, menunjukan gaya bahasa retoris yang terdapat pada lirik lagu dangdut karya Rhoma Irama yaitu; (1) aliterasi, (2) asonasi, (3) anastrof, (4) apofasis atau preteresio, (5) eufemismus, (6) litotes, dan (7) hiperbola, sedangkan pada penelitian gaya bahasa kiasan yang terdapat pada lirik lagu dangdut karya Rhoma Irama yaitu; (1) persamaan atau simile, (2) metafora, (3) epitet, (4) hipalase, (5) ironi, (6) sinisme, dan (7) sarkasme. Empat macam ciri aliran romantisme ditemukan pada lirik lagu dangdut karya Rhoma Irama yaitu; bersifat kembali ke alam, melankolik atau sendu, sentimentalisme atau menimbulkan perasaan yang berlebihan dan eksotisme.
This research is entitled “Gaya Bahasa dan Romantisme dalam Lirik Lagu Dangdut Karya Rhoma Irama”. Romanticism is a style that depicts the excitement of undefiled real life; and, in this case, the writer defines it as a complete happiness. However, if he describes sadness, he intends to bring tears to our eyes. Besides, it shows emotion and affection. The lyrics compilation from Rhoma Irama’s songs, BahteraCinta,Cuma Kamu, Dawai Asmara, Gelandangan, Kehilangan, Sebujur Bangkai, Pantun Cinta, Segalanya Bagiku, Surat Terakhir, andSyahdu, contain unique meaningful figure of speech which shows that his song lyrics may belong to Romanticism.
The researcher conducted this research to find the figure of speech as well as the romanticism aspects in Rhoma Irama’s songs, namely BahteraCinta,Cuma Kamu, Dawai Asmara, Gelandangan, Kehilangan, Sebujur Bangkai, Pantun Cinta, Segalanya Bagiku, Surat Terakhir, andSyahdu. This is a descriptive-qualitative research and the data were collected by listening, jotting down, comprehending, reducing the lyrics, and clarifying several songs that contain romanticism. The data analysis was done by describing the figure of speech and the aspects of romanticism inside the songs. Then, the researcher drew some conclusions.
The result shows that the figure of speech in Rhoma Irama dangdut songs is used to give aesthetic appreciation and emotions based on particular situations. In addition, they show how the song writer expresses his ideas and feelings. The styles, based on either the meaning directness or the meaning indirectness, are rethorical and figurative. The rethorical styles are (1) alliteration, (2) assonance, (3) anastrophe, (4) apophasis or praeteritio/paralipsis, (5) euphemism, (6) litotes, and (7) hyperbole. On the other hand, the figurative styles are (1) simile, (2) metaphor, (3) epithet, (4) hypallage, (5) irony, (6) cynicism, and (7) sarcasm. Morevover, there are four kinds of romanticism in his song lyrics; they are naturalism, melancholy or sadness, sentimentalism or condition of being sentimental, and exoticism.
120395006F1D007046PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DESA
DI DESA ONJE, KECAMATAN MREBET,
KABUPATEN PURBALINGGA
Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan partisipasi masyarakat Desa Onje dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus sebagai pendekatannya dan analisis interaktif sebagai teknik analisis datanya, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa partisipasi masyarakat mempunyai peran yang strategis dalam keberhasilan pembangunan di Desa Onje. Selain itu, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa partisipasi masyarakat dalam penyusunan RPJMDes di Desa Onje dibagi kedalam empat bentuk partisipasi, yakni partisipasi dalam penyusunan program, partisipasi dalam pelaksanaan program, partisipasi dalam pemanfaatan hasil pelaksanaan dan partispasi dalam mengawasi program pembangunan. Selain itu, dalam penyusunan RPJMDes di Desa Onje terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukungnya diantaranya transparansi pemerintah desa, pemberian motivasi dan pembinaan, kondisi dan sikap dasar masyarakat, kebutuhan masyarakat, mempunyai rasa saling memiliki dan sosok kepemimpinan kepala desa. Selain itu ada faktor yang menghambat partisipasi masyarakat, diantaranya kontur tanah, kurangnya kualitas SDM, ketidakpuasan masyarakat dan faktor cuacaThis research-based paper aims at describing and explaining the participation of society in arranging the Long-term planning of Village in Onje Village. By using a qualitative method with study case and interactive analysis for the data analysis, the result of the research reveals that the participation of society has a strategic role in the succes of rural development in Village Onje. In addition, this the result of the research stated that the participation of society in arranging the long-term planning of onje’s village divide into four kinds of participation. those are, the program of arrangement, program of enforcement, program of benefiting the result and participation of supervising the development program. Besides that, in arranging the Village’s planning in Onje’s village, there are some supporting and or barrier factors. The supporting factors are the transparency of Village official, motivation and guidance a basic attitude of the society, society needs and sense of belonging and the leader of village. And some barriers factors that troubling society participation are office land, lack of human resource, society dissatisfaction and weather.
120405007D1E009107PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN WARU (Hibiscus tiliaceus) DALAM RANSUM SAPI LOKAL BERBASIS JERAMI PADI AMONIASI TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) dalam ransum sapi lokal berbasis jerami padi amoniasi terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik secara in vivo. Materi penelitian adalah 18 ekor sapi lokal jantan PO (Peranakan Ongol). Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan diulang 6 kali. Pakan perlakuan berupa jerami padi amoniasi, konsentrat dengan penambahan level daun waru yang berbeda, (yaitu A : Ransum basal + tepung daun waru dengan presentase penggunaan 0 % dari berat konsentrat; B : Ransum basal + tepung daun waru dengan presentase penggunaan 0,24 % dari berat konsentrat; dan C : Ransum basal + tepung daun waru dengan presentase penggunaan 0,48 % dari berat konsentrat). Peubah yang diukur adalah kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik dengan metode koleksi total. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji Ortogonal Polinomial. Hasil penelitian menunjukkan rataan kecernaan bahan kering masing – masing untuk perlakuan A, B dan C berturut-turut adalah 54,69% ± 6,48; 59,85% ± 3,75 dan 61,70% ± 2,43. Rataan kecernaan bahan organik perlakuan A, B dan C berturut-turut adalah 59,58% ± 5,85; 63,75% ± 2,95 dan 66,91% ± 1,91. Penambahan tepung daun waru dalam ransum meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik secara linier, dengan persamaan garis regresi berturut-turut Y=55,24 + 14,60X (R2 = 0,32 ; P<0,05) dan Y=59,74 + 15,29X (R2 = 0,41; P<0,05). Hasil penellitian menunjukkan penambahan tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) dengan level 0,48% dari berat konsentrat dalam ransum sapi potong lokal berbasis jerami padi amoniasi mampu meningkatkan kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik (P<0,05).This study was aimed at determining the effect of adding waru leaf flour to ammoniated rice straw diets fed to local beef cattle on dry matter and organic matter digestibility in vivo. Research materials were 18 local bulls of Ongole Hybreed (OH). The method of research was experimental using a completely randomized design (CRD). The treatments were repeated six times. Feeding treatments were ammoniated rice straw and concentrate diets added with different levels of hibiscus leaf (A: basal ration + hibiscus leaf flour of 0 % concentrate weight; B: basal ration + hibiscus leaf flour of 0,24 % concentrate weight; and C: basal ration + hibiscus leaf flour of 0,48 % concentrate weight). The variables measured were dry matter and organic matter digestibility, with total collection method. Data were analyzed using analysis of variance and followed by Orthogonal Polinomial Test. The average of dry matter digestibility was 54,69% ± 6,48; 59,85% ± 3,75 dan 61,70% ± 2,43 for treatments A; B and C, respectively. The average of organic matter digestibility was 59,58% ± 5,85; 63,75% ± 2,95 dan 66,91% ± 1,91 for treatments A; B and C, respectively. Increasing waru leaf flour in the ration, increased dry matter and organic matter digestibility linearly with the regression equation of Y=55,24 + 14,60X (R2 = 0,32 ; P<0,05) and Y=59,74 + 15,29X (R2 = 0,41; P<0,05); respectively. The study showed that the addition of waru leaf flour with the level of 0,48% concentrate weight to ammoniated rice straw based diets significantly increased dry matter and organic matter digestibility (P<0,05) of Ongole hybreeds bulls.