Artikelilmiahs

Menampilkan 1.121-1.140 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
11217118G1A010006PERBEDAAN KADAR TESTOSTERON SERUM TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN PADA MODEL STRES PARADOXICAL SLEEP DEPRIVATION (PSD) PASCA PEMBERIAN ANTIOKSIDANLatar Belakang: Testosteron merupakan hormon androgen yang paling penting dan utama dalam sistem reproduksi pria. Penurunan kadar testosteron berhubungan dengan usia, obesitas, rendahnya High Density Lipoprotein (HDL) dan meningkatnya trigliserida. Penurunan kadar testosteron dapat dipercepat dengan adanya stres. Stres meningkatkan kadar glukokortikoid yang akan memicu peningkatan reactive oxygen species (ROS). Antioksidan adalah senyawa yang dapat melindungi sistem biologis contohnya adalah vitamin C dan E. Antioksidan akan mengurangi jumlah ROS sehingga kadar testosteron dapat terkontrol.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah membandingkan perbedaan kadar testosteron serum tikus putih (Rattus norvegicus) jantan pada model stres PSD pasca pemberian antioksidan (vitamin C, E dan kombinasi vitamin C dan E).
Metode: Metode eksperimental post test only with control group design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar usia 3-4 bulan, berat badan 200-300 gram. Tikus dibagi 4 kelompok, yaitu: yaitu kelompok kontrol dengan pemberian model stres PSD, kelompok perlakuan I dengan pemberian model stres PSD ditambah pemberian vitamin C (0,09 mg/grBB/hari), kelompok perlakuan II dengan pemberian model stres PSD ditambah pemberian vitamin E (0,054 mg/grBB/hari), dan kelompok perlakuan III dengan pemberian model stres PSD ditambah pemberian vitamin C dan vitamin E. Antioksidan diberikan dengan cari oral menggunakan sonde lambung. Lama perlakuan yaitu 7 hari. Testosteron serum diukur dengan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Perbedaan kadar testosteron serum dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Post Hoc Mann Whitney.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata kadar testosteron serum yang bermakna antara kelompok kontrol (0,08±0,01 ng/ml) dengan kelompok perlakuan III (0,62±0,53 ng/ml) (p=0,021) dan antara kelompok perlakuan II (0,09±0,04 ng/ml) dengan kelompok perlakuan III (p=0,021).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan kadar testosteron serum pasca pemberian antioksidan vitamin C, vitamin E, dan kombinasi keduanya pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan yang terpapar stres model paradoxical sleep deprivation (PSD)
Background: Testosterone is the most important and principal androgen hormone in male reproduction system. The decrease of testosterone was related to age, obesity, low HDL, and the rising of triglycerides. Decreasing of testosterone levels could be increased by stress. Stress could increase glucocorticoid level that would trigger the rising of ROS. Antioxidant is a chemical compound that could protect the biologycal system, such as vitamin C and E. It may decrease the level of ROS so then the testosterone serum level is controllable.
Objectives: This study aimed to know the difference of testosteron levels of male albino rats (Rattus norvegicus) on the stress PSD model after given antioxidants (Vitamins C, E and combination of those.
Method: Experimental method with post-test only with control group design and Completed Randomized Design (CRD). This study used 20 of rats (Rattus norvegicus) wistar strain 3-4 months old, 200-300 gram body weight. Rats were divided to 4 groups, which was: control group was given intervention the stress PSD model, group I was given intervention the stress PSD model with vitamin C(0,09 mg/grBW/day) treatment, group II was given intervention the stress PSD model with vitamin E (0,054 mg/grBW/day) treatment, and group III was given intervention the stress PSD model and also combination of vitamin C&E. Antioxidant was given per oral. The period of treatment was 7 days. Testosteron serum measured using Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method. The difference of testosteron serum analyzed by using Kruskal-Wallis and Post Hoc Mann Whitney statistical test.
Result: Result showed that there was a difference average that quite significant: control group (0,08±0,01 ng/ml) with group III (0,62±0,53 ng/ml) (p=0,021) and group II (0,09±0,04 ng/ml) with group III (p=0,021).
Conclusion: There was a difference of testosterone serum levels after being given antioxidant vitamin C &E, and combination of both on male albino rats (Rattus norvegicus) that experienced stress PSD model.
11227119H1L009019RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENGGAJIAN KARYAWAN BERBASIS DESKTOP MENGGUNAKAN JAVA (STUDI KASUS di PT. PRIMA CITRA LESTARI BANDUNG)
Penggajian karyawan pada PT. Prima Citra Lestari membutuhkan pengelolaan penggajian yang baik. Pengelolaan penggajian karyawan yang baik akan menyebabkan semua data penggajian yang berada di perusahaan dapat terorganisir dengan baik. Oleh karena itu, perlu dibuat sistem informasi penggajian karyawan berbasis desktop yang dapat mengelola penggajian karyawan dengan baik. Pembuatan sistem tersebut menggunakan beberapa metode diantaranya studi pustaka, observasi dan melakukan penelitian langsung ke instansi tersebut. Metode pengembangan sistem menggunakan metode waterfall. Dalam Sistem Informasi Penggajian Karyawan dapat menyimpan data karyawan dan melakukan perhitungan gaji serta menghasilkan output berupa laporan gaji. Pengujian sistem ini dilakukan dalam 2 tahap, yaitu: pengujian oleh internal tim pengembang dan pengujian di perusahaan. Setelah melalui proses pengujian sistem, didapat hasil dimana sistem informasi penggajian karyawan bisa berjalan sesuai dengan keinginan perusahaan tersebut.Payroll employees at PT . Prima Citra Lestari needs a good payroll management. Good management of payroll will cause all data residing on the company payroll can be well organized. Therefore, the system needs to make a desktop based employee payroll information to properly manage employee payroll . Making the system using several methods including literature review, observations and conducted research directly to the agency. Systems development method using the waterfall method. In the Payroll Information System can store data and perform calculations employee salaries and wages generate output reports. System testing is done in two stages, namely : internal testing by developers and testing team at the company. After going through the process of testing the system, where the results obtained payroll information system can be run in accordance with the wishes of the company.
11237121D1E009080KADAR AIR DAN KADAR GARAM TELUR ASIN DENGAN PERBEDAAN SISTEM PEMELIHARAAN ITIK DAN FREKUENSI PENGGUNAAN MEDIA PENGASINPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan sistem pemeliharaan itik dan frekuensi penggunaan media pengasin terhadap kadar air dan kadar garam telur asin. Penelitian dilaksanakan tanggal 05 sampai 26 September 2013 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan adalah 72 butir telur itik (intensif 36 butir dan ekstensif 36 butir), garam 2160 g, serbuk batu bata merah 4320 g dan air secukupnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimental untuk kadar air dan kadar garam menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 3 dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas 2 faktor, faktor A1 (sistem pemeliharaan secara intensif), A2 (sistem pemeliharaan secara ekstensif); dan faktor B1 (frekuensi penggunaan batu-bata 1 kali), B2 (frekuensi penggunaan batu-bata 2 kali), B3 (frekuensi penggunaan batu-bata 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis variansi dan bila terdapat perbedaan antar perlakuan dilakukan uji lanjut menggunakan orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan (secara intensif dan ekstensif) berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air telur asin itik (P>0,05), sedangkan dilihat dari frekuensi penggunaan media pengasin, menunjukkan bahwa frekuensi media pengasin berpengaruh nyata terhadap kadar air telur asin itik (P<0,05). Sistem pemeliharaan (secara intensif dan ekstensif) dan frekuensi media pengasin berpengaruh nyata terhadap kadar garam telur asin itik (P<0,05). Disimpulkan bahwa frekuensi penggunaan batu bata 1 kali menghasilkan kadar air lebih rendah dibandingkan frekuensi 2 kali, tetapi relatif sama dengan frekuensi 3 kali, baik secara intensif maupun ekstensif. Sistem pemeliharaan secara intensif menghasilkan kadar garam yang lebih rendah daripada sistem pemeliharaan secara ekstensif. Frekuensi penggunaan batu bata 1 kali menghasilkan kadar garam yang lebih tinggi dibandingkan dengan frekuensi 2 kali, tetapi frekuensi 2 kali relatif sama dengan frekuensi 3 kali.The study was aimed to evaluate the effect of difference duck maintenance system and frequency of media usage between moisture and salt content of salted eggs. The study was held on September 05th until 26th 2013 in the Laboratory of Animal Products Technology, Animal Science Faculty of Jenderal Soedirman University Purwokerto. The material used in this study was 72 duck eggs (36 intensive eggs and 36 extensive egg), salt 2160gr, 4320gr brick powder and water. The method used in this study is a quasi-experimental method for moisture and salt content using completely randomized design (CRD) factorial 2 x 3 by 4 replications. The treatment consists of two factors, factors A1 (intensive system maintenance), A2 (extensive system maintenance), and factor B1 (1st frequency of brick use), B2 (2nd frequency of brick use), B3 (3rd frequency of brick use). Data were analyzed by variance analyses and if there is a difference between treatments, there is further tests using orthogonal polynomial. The results showed that
the maintenance system (intensive and extensive) does not significantly affect the moisture content of duck salted eggs (P>0.05), whereas the frequency of media use, the media showed that the frequency significantly affect on the moisture content of duck salted eggs (P<0.05). Maintenance systems (intensive and extensive) and frequency of media usage significantly affect on salt content of duck salted eggs (P <0.05). The result shows that the frequency of the 1st frequency of brick use produces a lower moisture content than the 2nd frequency, but the relatively equal with the 3rd frequency, both intensive and extensive. Intensive maintenance system produces a lower salt content than maintaining an extensive system. The 1st Frequency of brick use produces a higher salt content than the 2nd frequency, but the 2nd frequency is relatively equal to the 3rd frequency.
11247122F1B008011KEPUASAN PASIEN INSTALASI RAWAT INAP KELAS III DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GUNUNG JATI KOTA CIREBONPenelitian ini dilatarbelakangi adanya permasalahan yang muncul di masyarakat tentang pelayanan kesehatan di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon,keadaan pelayanan yang diberikan oleh RSUD Gunung Jati salah satunya dapat disebabkan oleh sumberdaya manusianya, yaitu kemampuan teknis petugas seperti, adanya keraguan para pasien kepada dokter, kurangnya kontrol terhadap pasien pada malam hari. Adanya kesenjangan yang di rasakan oleh pasien yang kurang mampu dalam memperoleh pelayanan, pasien terlalu lama menunggu pemeriksaan sehingga dapat berakibat fatal, penanganan pelayanan yang lambat terhadap pasien yang membutuhkan, bagian pelayanan kurang sopan menghadapi keluhan pasien. Berbagai keluhan yang menandakan pelayanan pasien instalasi rawat inap belum maksimal. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan menggunkan simple random sampling yaitu pengambilan sample dari semua anggota populasi dilakukan secara acak kuesioner sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan Hasil penelitian mengindikasikan bahwa Etika pelayan dan kualitas pelayanan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pasien. Implikasi dari hasil tersebut bagi rumah sakit adalah bahwa RSUD Gunung Jati Kota Cirebon sebaiknya peningkatkan kualitas dan fasilitas. Dengan meningkatnya kualitas pelayanan dan fasilitas maka kepuasan pasien rawat inap kelas III pada RSUD Gunung Jati kota cirebon akan meningkat dan juga akan secara langsung meningkatkan citra RSUD Gunung Jati Kota CirebonThe research was based on the problems that arise in the community about health services in hospitals Gunung Jati Cirebon city , state services provided by hospitals Gunung Jati one of which can be caused by the human resources , the technical capabilities such officer , any doubts the patient to the doctor , lack of control the patient at night . The gap felt by patients who are less able to obtain service , patients wait too long so that checks can be fatal , slow handling services to patients in need , service parts irreverent face patient complaints . Various complaints indicating inpatient patient care is not maximized . The methodology used in this study is probability sampling by using simple random sampling is taking samples from all members of the population was randomly questionnaires as data collection techniques . Results of this study showed results indicate that the Ethics waiters and service quality has a significant impact on patient satisfaction . The implications of these results for the hospitals is that hospitals Gunung Jati Cirebon City should increase the quality and facilities . With the increasing quality of service and facilities that patient satisfaction with hospital grade III Gunung Jati Cirebon city will increase and will also directly improve the image of hospitals Gunung Jati Cirebon.

11257127D1E009213KARAKTERISTIK MORFOLOGI BERBAGAI JENIS AYAM SENTUL DI KELOMPOK TANI TERNAK
“CIUNG WANARA” KECAMATAN CIAMIS KABUPATEN CIAMIS
Penelitian ini bertujuan membandingkan karakteristik morfologi berdasarkan pengukuran kuantitatif dan pengamatan kualitatif berbagai Ayam Sentul yang dipelihara di kelompok peternak Ayam Sentul Ciung Wanara di Kecamatan Ciamis. Sasaran penelitian adalah Ayam Sentul yang dipelihara oleh anggota Kelompok Tani Ternak “Ciung Wanara”. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ayam Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Emas, Sentul Debu, dan Sentul Geni, jantan dan betina dengan umur 12-18 bulan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei. Data di analisis menggunakan analisis variansi General Linear Model dengan faktor pembeda 5 jenis ayam sentul dengan ulangan un-equal dan bila ada pengaruh dalam analisis variansi maka dilanjutkan dengan uji lanjut menggunakan uji beda nyata jujur. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah pengukuran kuantitatif (panjang paruh, panjang punggung, lingkar dada, lebar dada, panjang shank), dan pengamatan kualitatif (warna bulu, warna paruh, warna jengger, bentuk jengger, warna shank, dan warna kulit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ayam sentul berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada uji beda nyata jujur dalam pengukuran karakteristik kuantitatif dan kualitatif berbagai jenis ayam sentul jantan dan betina umur 12-18 bulan berdasarkan panjang paruh, panjang punggung, lingkar dada, lebar dada, panjang shank, warna bulu. Berbagai jenis ayam sentul jantan umur 12-18 bulan, panjang paruh rataan tertinggi pada Sentul Debu 3,08±0,13 cm, panjang punggung rataan tertinggi pada Sentul Debu 24,83±1,67 cm, lingkar dada rataan tertinggi pada Sentul Debu 43,19±1,15 cm, lebar dada rataan tertinggi pada Sentul Emas 17,91±0,63 cm, panjang shank rataan tertinggi pada Sentul Emas 9,71±0,59 cm. Berbagai jenis ayam sentul betina umur 12-18 bulan panjang paruh rataan tertinggi pada Sentul Geni 2,78±0,04 cm, panjang punggung rataan tertinggi pada Sentul Batu 21,20±0,44 cm, lingkar dada rataan tertinggi pada Sentul Batu 33,93±0,62 cm, lebar dada rataan tertinggi pada Sentul Debu 16,37±0,25 cm, panjang shank rataan tertinggi pada Sentul Emas 8,48±0,31 cm. Nilai total rataan skoring karakteristik kualitatif (warna bulu, warna kulit, warna paruh, bentuk jengger, warna jengger dan warna shank) ayam sentul jantan yaitu Ayam Sentul Abu 40,25±1,63, Sentul Batu 40,72±2,70, Sentul Emas 42,89±0,79, Sentul Debu 21,81±2,17 dan Sentul Geni 40,76±0,44. Nilai total rataan skoring karakteristik kualitatif (warna bulu, warna paruh, warna jengger, bentuk jengger, warna shank, dan warna kulit) ayam sentul betina yaitu Ayam Sentul Abu 23,89±0,48, Sentul Batu 33,00±0,02, Sentul Emas 51,98±2,54, Sentul Debu 20,76±0,73, Sentul Geni 39,13±1,73. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai jenis ayam sentul jantan maupun betina umur 12-18 bulan memiliki perbedaan karakteristik kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran kuantitatif dan pengamatan kualitatif dapat dijadikan sebagai pembanding karakteristik morfologi berbagai jenis ayam sentul jantan dan betina umur 12-18 bulan.The purpose of this research was to compare the morphological characteristics based on quantitative measurements and qualitative observations of various Sentul chicken that were kept in Sentul chicken “Ciung Wanara” livestock farmer groups in sub district Ciamis. Chicken Sentul research target is maintained by members of the "Ciung Wanara" Livestock Farmers . The materials used in this study were males and females Sentul Abu chicken, Sentul Batu, Sentul Emas, Sentul Debu, and Sentul Geni, at ages of 12-18 months. The research method that used survey method. The data were analyzed using analysis of variance General Linear Model design with 5 kinds of sentul chickens of treatment with un-equal replications, and if there was an influence in the analysis of variance followed with honestly significant difference test. The variables measured in this study were quantitative measurements (length of beak, length of back, chest circumference, chest width, length of shank), and qualitative observations (color of feathers, beak color, color of comb, shape of comb, shank color, and skin color). The results showed that the type was highly significant effect of Sentul chicken (P<0.01) in honestly significant difference test on quantitative and qualitative characteristics of various types of males and females sentul chickens age 12-18 months based on the length of beak, length of back, chest circumference, chest width, length of shank, fur color. For different types of male sentul chickens at ages 12-18 months, the average highest length of beak of Sentul Abu was 3.08±0.13 cm, the highest mean value of the length back of Sentul Abu was 24.83±1.67 cm, the highest mean value of the chest circumference of Sentul Abu was 43.19±1.15 cm, the highest mean value of chest width of Sentul Emas was 17.91±0.63 cm, and the highest mean value of the length of shank of Sentul Emas was 9.71±0.59 cm. Different types of females sentul chickens at ages of 12-18 month, the average highest length beak of Sentul Geni was 2.78±0.04 cm, the highest mean value of the length of back of Sentul Batu was 21.20±0.44 cm, the highest mean value of the chest circumference of Sentul Batu was 33.93±0.62 cm, the highest mean value of the chest width of Sentul Debu was 16.37±0.25 cm, and the highest mean value of the length of shank of Sentul Emas was 8.48±0.31 cm. The total value of the mean scoring of qualitative characteristic (color of feathers, beak color, color of comb, comb of shape, shank color, and skin color) of males Sentul Abu chicken was 40.28±1.66, Sentul Batu chicken was 40.72±2.70, Sentul Emas chicken was 42.89±0.79, Sentul Debu chicken was 21.81±2.17 and Sentul Geni chicken was 40.76±0.44. The total value of the scoring mean of qualitative characteristic (color of feathers, beak color, color of comb, shape of comb, shank color, and skin color) female Sentul Abu chicken was 23.89±0.48, Sentul Batu chicken was 33.00±0.02, Sentul Emas chicken was 51.98±2.54, Sentul Debu chicken was 20.76±0.73, Sentul Geni chicken was 39.13± 1.73. The results showed various types of males and females sentul chickens at age of 12-18 months have different quantitative and qualitative characteristics. Quantitative measurements and qualitative observations can be used to compare morphological characteristics of various types of sentul chickens males and females at age of 12-18 months.
11267126D1E009204PENGGUNAAN PAKAN FUNGSIONAL MENGANDUNG OMEGA-3 DAN PROBIOTIK TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN PRODUKSI TELUR AYAM KAMPUNGTujuan penelitian untuk Mengevaluasi penggunaan pakan fungsional mengandung omega-3 dan probiotik terhadap Konsumsi Pakan dan Produksi telur ayam kampung. Materi yang digunakan adalah ayam kampung betina umur 18 minggu sebanyak 100 ekor dan pakan fungsional. Penelitian ini digunakan dengan menggunakan metode eksperimental in vivo dan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan yaitu R0 (penggunaan pakan fungsional sebanyak 0%), perlakuan R1 (penggunaan pakan fungsional sebanyak 2,5%),perlakuan R2 (penggunaan pakan fungsional sebanyak 5%), perlakuan R3 (penggunaan pakan fungsional sebanyak 7,5%) dan setiap perlakuan di ulang lima kali, masing-masing ulangan terdiri dari 5 ekor ayam. Peubah yang diamati yaitu Konsumsi Pakan dan Produksi Telur ayam kampung. Hasil analisis menunjukan level penggunaan pakan fungsional berpengaruh tidak nyata (P>0,05). Rataan konsumsi pakan (g) adalah R0, R1, R2, R3 berturut-turut 101,31, 110,40, 110,23, 110,77 dengan kisaran konsumsi pakan sebesar 101,31 ± 110,77 g, dan rataan produksi telur (HHP) adalah R0, R1, R2, R3 berturut-turut 98%, 48,64%, 47,30% dan 47,98% dengan kisaran HHP sebesar 56,98 ± 13,51. Rataan produksi telur (HDP) adalah R0, R1, R2, R3 berturut-turut 68,89%, 55,5%, 64,8% dan 57,5 dengan kisaran HDP 68,89 ± 28,89%.The purpose of this study was to evaluate the use of functional feed containing omega-3 and probiotics on feed intake and egg production of kampung chicken. Materials used were 100 female chicken at age of 18 weeks and functional feed. This study was conducted using experimental methods in vivo and designed using completely randomized design (CRD). Number of treatment were four with repetetion five times and each repetetion consisted of 5 chicken. The treatment tested were R0 (use of functional 0%), treatment R1 (use of functional 2,5%), treatment R2 (use of functional 5%), treatment R3 (use of functional 7,5%) and each treatment was repeated five times. Each repetetion consisted of 5 chicken. Results of the analysis showed a functional effect of feed usage levels are not significant (P>0,05). The avaraging of feed intake (g) are R0, R1, R2, R3 in the series 101,31 ; 110,4; 110,77 with range of feed intake as much as 101,31 110,77 and the avarage of production egg (HHP) are R0, R1, R2 and R3 in the series 98%, 48,64%, 47,30% and 47,98% with range of HHP 56,98 13,51. The avarage of production egg (HDP) are R0, R1, R2,and R3 in the series 68,89%; 55,5%; 64,8% and 57,5% with range of HDP 68,89 28,89%.
11277128A1H009034Karakteristik Pengeringan Kerupuk Singkong dengan Menggunakan Alat Pengering Efek Rumah Kaca Tipe Rak Berputar Perputaran Tidak Kontinyu (Intermittent)Kerupuk merupakan produk makanan kering yang terbuat dari bahan berpati dan mengalami perubahan volume selama penggorangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengeringan kerupuk singkong dengan menggunakan alat pengering efek rumah kaca tipe rak berputar. Variabel yang diukur adalah perubahan suhu pengeringan, perubahan suhu bahan, perubahan kelembaban udara, perubahan kadar air, menghitung laju pengeringan, dan menghitung kadar air prediksi. Penelitian dilakukan 4 kali percobaan dengan perbedaan bobot pada tiap rak dan perbedaan pada perputaran rak dengan masing-masing percobaan dilakukan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerupuk singkong memiliki kadar air awal sebesar 44,44 %bb atau 79,99 %bk. Pengeringan kerupuk singkong dihentikan apabila kerupuk telah mencapai kadar air 7 – 10 %bk. Suhu ruang pengering berkisar antara 33,26¬oC-41,22oC. Suhu bahan berkisar antara 27,81oC-35,49oC. RH ruang pengering berkisar antara 88,41%-96,55%. RH lingkungan berkisar antara 68,71%-85,51%. Sedangkan RH outlet berkisar antara 82,23%-89,64%. Rata-rata laju pengeringan yang dicapai berkisar antara 35,09 %bk/jam-106,10 %bk/jam. Model matematik perubahan kadar air kerupuk singkong selama proses pengeringan dapat ditulis seperti berikut; Percobaan 1 : Mt = Me + [(M0-Me)(exp{(-2,28 x 1068).(e-49959/T).t})] ; Percobaan 2 : Mt = Me + [(M0-Me)(exp{(-4,69 x 1013).(e-10812/T).t})] ; Percobaan 3 : Mt = Me + [(M0-Me)(exp{(-2,06 x 10107).(e-78514/T).t})] ;dan Percobaan 4 : Mt = Me + [(M0-Me)(exp{(-6,49 x 1023).(e-17963/T).t})] . Data kadar air prediksi dan kadar air observasi pada hasil penelitian mengalami error rata-rata yaitu pada Percobaan 1 sebesar 20,28%; pada Percobaan 2 sebesar 22,89%; pada Percobaan 3 sebesar 19,86%; dan pada Percobaan 4 sebesar 28,98%.Cracker is a crispy food product which is made from starchy material and it undergoes volume change during frying process. The aim of this research is to find out the characteristics of cassava cracker drainage using the dryer of greenhouse effect at the rotating rack type. In this research, variables that were measured such as the drainage temperature change, material temperature change, air humidity change, weight temperature change, weight loss change, water content change, calculate the drainage rate, calculate the drainage constants and water content prediction. This research was conducted during 4 times trial with the difference in rack’s weight and rack’s rotation by each experiment did 3 times repetition. The result of this research shows that cassava crackers have early water content as big as 44.44 %wb or 79.99 %db. The cassava crackers drainage will be discontinued if the cracker reaches the water content of 7-10 %db. Besides, the drainage chamber temperature is ranging from 33.26oC ¬ 41.22oC. Material temperature is ranging from 27.81oC – 35.49oC. RH drier chamber is ranging from 88.41 % -96.55 %. RH environment is ranging from 68.71% - 85.51%. Whereas the RH outlet ranging from 82.23% -89.64%. The average of drainage rate that is achieved ranging from 35.09 % bk/hour-106.10% bk/ hour. The mathematics models of water content change toward cassava crackers during drainage process can be written as follows; Trial 1 : Mt = Me + [(M0-Me)(exp{(-2,28 x 1068).(e-49959/T).t})] ; Trial 2 : Mt = Me + [(M0-Me)(exp{(-4,69 x 1013).(e-10812/T).t})] ; Trial 3 : Mt = Me + [(M0-Me)(exp{(-2,06 x 10107).(e-78514/T).t})] ;and Trial 4 : Mt = Me + [(M0-Me)(exp{(-6,49 x 1023).(e-17963/T).t})]. Thus, the data of water content prediction in the research outcome undergoes of average error at Trial 1 as big as20,28 %; Trial 2 as big as22,89%; Trial 3 as big as 19,86%; and Trial 4 as big as 28,98%.
11287125A1H009024Uji Performansi Model Pengering Efek Rumah Kaca Tipe Rak Berputar Perputaran Tidak Kontinyu (Intermitten) pada Pengeringan Kerupuk SingkongKerupuk merupakan makanan ringan yang sangat digemari oleh semua kalangan. Jenis makanan ini umumnya dikonsumsi sebagai makanan tambahan yang menggugah selera. Kerupuk singkong menjadi salah satu kerupuk yang cukup digemari. Singkong termasuk tanaman yang sangat mudah dibudidayakan. Produksi singkong di Indonesia sendiri meningkat setiap tahun. Pengeringan merupakan salah satu proses penting dalam produksi kerupuk. Pengeringan tradisional mempunyai beberapa kendala seperti lahan yang luas dan higienitas yang kurang. Oleh karena Indonesia negara tropis yang mendapatkan radiasi matahari tinggi, maka pengeringan menggunakan pengering efek rumah kaca (memanfaatkan iradiasi matahari) menjadi salah satu solusi. Selain higienitas terjaga pengering ini juga ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah : Mengetahui aspek teknis (kinerja) model pengering efek rumah kaca tipe rak berputar perputaran tidak kontinyu. Penelitian ini menggunakan sampel kerupuk singkong mentah dengan kadar air 79,99 %bk. Data diperoleh dari perancangan percobaan yang kemudian diolah dan dianalasis. Variabel yang diukur yaitu suhu ruang, laju pengeringan, lama pengeringan, kapasitas pengeringan, dan efisiensi penggunaan energi. Hasil penelitian dapat diketahui efisiensi model pengering efek rumah kaca pada tiap-tiap perlakuan berturut-turut adalah 1,19%, 1,20%, 1,44%, dan 5,04%. Cracker is a snack which is very popular to almost all people . This kind of food is generally consumed as an additives tempting food. Nowadays, cassava cracker becomesfairly popular. Cassava plants can be easily cultivated and its production in Indonesia is increasing every year. Drying is one of the important processes in the production of crackers. Traditional drying has several obstacles such as large tracts of land and lack of hygiene. Due to Indonesia is a tropical country which obtained high solar of radiation, therefore drying using greenhouse effect ( utilizing solar irradiation ) can be one ofthe effective solutions. Beside its hygiene, this dryer is also environmentally friendly. The purpose of this study is : Knowing the technical aspects ( performance ) of greenhouse dryer model, rack type of spin rotation withno continuous spin. This study used a sample of raw cassava crackers with a water content of 79.99 %bk. Data obtained from experimental design which is then processed and analyzed. Variables measured are the room’s temperature , the rate of drying , drying duration , drying capacity , and the efficiency of energy use. The result showed that the efficiency model of the greenhouse effect dryers in each successive treatment was 1.19 % , 1.20 % , 1.44 % , and 5.04 % .
11297129D1E009171PENGARUH FERMENTASI DAN SUMBER PROTEIN BERBEDA COMPLETE FEED LIMBAH RAMI TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN LEMAK KASAR SECARA INVITRO PADA KAMBINGPenelitian ini bertujuan mengetahui kecernaan serat kasar dan lemak kasar complete feed limbah rami dengan sumber protein berbeda. Materi yang digunakan adalah cairan rumen kambing dan complete feed. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 x 2 dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri atas CF0N = complete feed hay limbah rami dengan sumber protein nabati, CF0H = complete feed hay limbah rami dengan sumber protein hewani, CF1N = complete feed limbah rami fermentasi dengan sumber protein nabati, dan CF1H = complete feed limbah rami fermentasi dengan sumber protein hewani. Peubah yang diukur adalah kecernaan serat kasar dan lemak kasar. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji BNJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya interaksi perlakuan dan berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) terhadap kecernaan serat kasar dan lemak kasar tidak ada interaksi perlakuan (P > 0,05) namun pada perlakuan individu berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) . Uji BNJ menunjukkan bahwa kecernaan serat kasar perlakuan pakan fermentasi (CF1) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan hay (CF0), perlakuan CF1H lebih tinggi dibanding CF1N (P < 0,01). Kecernaan lemak kasar perlakuan (CF0) lebih tinggi dari (CF1), perlakuan CF0N lebih tinggi dibanding CF0H.
The objectives of this research were to determine of digestibility crude fiber and crude fat complete feed jute waste with different protein sources. The material used in the study were liquid of goat rument and complete feed. The research method was experiment by in vitro using a completely randomized design (CRD), 2 x 2 factorial model with 4 treatments and 5 replications. The treatments consisted of CF0N = complete feed of hay jute waste with vegetable protein sources, CF0H = complete feed of hay jute waste with animal protein sources, CF1N = complete feed of fermentasion jute waste with vegetable protein sources, and CF1H = complete feed of fermentation jute waste with animal protein sources. The variables measured were the digestibility of crude fiber and crude fat. The data were analyzed using analysis of variance, followed by BNJ test. The results showed that the treatment highly significantly (P < 0.01) affected the digestibility of crude fiber. There was an interaction and the treatment had no significantly (P < 0.05). On fat digestibility there was no interaction for digestibility of crude fat. The BNJ test showed that the digestibility of crude fiber in fermentation based feed treatment (CF1) is higher than the hay feed treatment (CF0), treatment CF1H was higher than CF1N. Crude fat digestibility of (CF0) was higher than crude fiber digestibility (CF1) treatment. Crude fat digestibility of treatment (CF0) was higher than that of (CF1), treatment of (CF0N) was higher than (CF0H).
11307132C1B010047Analisis Pengaruh Pembiayaan, Efisiensi Operasional dan Tingkat Resiko Pembiayaan Terhadap Profitabilitas pada Bank Umum Syariah di Indonesia (Periode 2010 – 2012)Penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh Pembiayaan, Efisiensi Operasional dan Tingkat Resiko Pembiayaan Terhadap Profitabilitas pada Bank Umum Syariah di Indonesia (Periode 2010 – 2012)” bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pembiayaan jual beli, pembiayaan bagi hasil, capital adequacy ratio (CAR), financing to debt ratio (FDR), rasio efisiensi operasional (REO), proporsi dana pihak ketiga (PDPK), dan non performing financing (NPF) terhadap return on asset (ROA).

Sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria bank umum syariah menerbitkan laporan keuangan tahunan pada periode tahun 2010-2012 secara konsisten dan telah dipublikasikan di Bank Indonesia atau pada website masing-masing bank syariah tersebut. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dan uji asumsi klasik, sedangkan untuk menguji tingkat signifikansi digunakan uji secara simultan (uji F) dan secara parsial (uji t).

Berdasarkan hasil analisis diketahui dan disimpulkan bahwa pengujian secara simultan menunjukkan bahwa variabel pembiayaan jual beli, pembiayaan bagi hasil, capital adequacy ratio (CAR), financing to debt ratio (FDR), rasio efisiensi operasional (REO), proporsi dana pihak ketiga (PDPK), dan non performing financing (NPF) secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas (ROA). Untuk pengujian secara parsial menunjukkan bahwa variabel pembiayaan jual beli, capital adequacy ratio (CAR), financing to debt ratio (FDR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset (ROA), pembiayaan bagi hasil dan rasio efisiensi operasional (REO) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return on asset (ROA), sedangkan proporsi dana pihak ketiga (PDPK) dan non performing financing (NPF) tidak berpengaruh signifikan terhadap return on asset (ROA).

Implikasi dalam penelitian ini adalah pihak manajemen bank umum syariah di Indonesia perlu memperhatikan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pembiayaan jual beli, pembiayaan bagi hasil, capital adequacy ratio (CAR), financing to debt ratio (FDR), rasio efisiensi operasional (REO), proporsi dana pihak ketiga (PDPK), dan non performing financing (NPF).
This research entitled “The Effect Analysis of Financing, Operational Efficiency, and Level of Risk Financing on Profitability at Islamic Commercial Bank in Indonesia (Period 2010-2012)” purpose to find out and to analyze the effect trading based financing, profit and loss sharing based financing, capital adequacy ratio (CAR), financing to deposit ratio (FDR), operational efficiency ratio (REO), proportion of third party funds, and non performing financing (NPF) on retutn on asset (ROA).
The sample of this study used purposive sampling with certain criteria, islamic commercial bank published their financial statements period 2010-2012 consistenly at Indonesia Bank or each company’s website. To prove the hypothesis of this research is applied multiple linier regression model with classic assumption. Then to examine the significant was used simultaneous (F test) and partial (t test).
The simultaneous test showed that of trading based financing, profit and loss sharing based financing, capital adequacy ratio (CAR), financing to deposit ratio (FDR), operational efficiency ratio (REO), proportion of third party funds, and non performing financing (NPF) had positive and significant effect on return on asset (ROA). And t test showed that trading based financing, capital adequacy ratio (CAR), financing to deposit ratio (FDR) had positive and significant effect on return on asset (ROA), profit and loss sharing based financing and operational efficiency ratio had negative and significant effect on return on asset (ROA), but proportion of third party funds and non performing financing had no significant effect on return on asset (ROA).
Implications of this study is bank management should consider the value of trading based financing, profit and loss sharing based financing, capital adequacy ratio (CAR), financing to deposit ratio (FDR), operational efficiency ratio, proportion of third party funds, and non performing financing (NPF) to make policies and establish profitability.
11317133C1B010110PENGARUH KOMUNIKASI, KEPUASAN KERJA DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. ASKES CABANG PURWOKERTOPenelitian ini berjudul “Pengaruh Komunikasi, Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan PT. Askes (Persero) Cabang Purwokerto”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh komunikasi terhadap kepuasan kerja, untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi serta untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh komunikasi, kepuasan kerja maupun komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan PT. Askes (Persero) Cabang Purwokerto.
Metode penelitian ini adalah survei dengan teknik non probability sampling menggunakan sampel jenuh. Berdasarkan jumlah keseluruhan karyawan tetap PT. Askes (Persero) Cabang Purwokerto, maka dapat diketahui bahwa jumlah sampel penelitian ini adalah 45 responden. Selanjutnya teknik analisis data yang digunakan adalah Partial Least Square (PLS). Mengacu pada hasil analisis PLS, diperoleh nilai t hitung untuk hubungan kausal antara komunikasi dengan kepuasan kerja, nilai t hitung untuk hubungan kausal antara kepuasan kerja dengan komitmen organisasi dan nilai t hitung untuk hubungan kausal antara komunikasi maupun komitmen organisasi dengan kinerja karyawan masing-masing lebih besar dari nilai t tabel. Sedangkan nilai t hitung untuk hubungan kausal antara kepuasan kerja dengan kinerja karyawan lebih kecil dari nilai t tabel. Dengan demikian, maka hipotesis pertama, kedua, ketiga dan hipotesis kelima dapat diterima, sedangkan hipotesis keempat dalam penelitian ini ditolak.
Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi, selanjutnya komunikasi maupun komitmen organisasasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, sedangkan kepuasan kerja berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Askes (Persero) Cabang Purwokerto.
Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka dapat diimplikasikan bahwa sebagai upaya untuk terus meningkatkan kepuasan kerja para karyawannya, pihak manajemen PT. Askes Cabang Purwokerto perlu memperhatikan kebijakan yang berkaitan dengan komunikasi karyawan dalam organisasi, sebagai upaya untuk terus meningkatkan komitmen karyawan terhadap organisasi, pihak manajemen PT. Askes Cabang Purwokerto perlu memperhatikan kebijakan yang berkaitan dengan kepuasan kerja dan sebagai upaya untuk terus meningkatkan kinerja para karyawannya, pihak manajemen PT. Askes Cabang Purwokerto perlu memperhatikan kebijakan yang berkaitan dengan komunikasi, kepuasan kerja maupun komitmen organisasi.
This research is entitled “The Effect of Communication, Job Satisfaction and Organizational Commitment on Employees Job Performance at Branch Office of PT. Askes (Persero) in Purwokerto”. The aims of research are to find out and to analyze the effect of communication on job satisfaction, to find out and to analyze the effect of job satisfaction on organizational commitment, and so to find out and to analyze the effect of communication, job satisfaction as well as organizational commitment on employees job performance at Branch Office of PT. Askes (Persero) in Purwokerto.
The method of research is survey with sampling technique uses non probability sampling by saturation sampling. Based on the total employees of PT. Askes (Persero), Branch Office in Purwokerto as target population, it is known that sample size of this research is 45 respondents. Furthermore, the technique of data analysis that used in this study is Partial Least Square (PLS) analysis. Refers to the PLS analysis results, it has got that t statistic value of the causal relationship between communication and job satisfaction, job satisfaction and organizational commitment and the t statistic value of the causal relationship between communication as well as organizational commitment and employees job performance each is greater than the value of t table. While, the t statistic value of the causal relationship between job satisfaction and job performance is smaller than the t table value. Therefore, the first, second, third and fifth hypotheses are accepted, while the fourth hypothesis is rejected.
Based on the results of data analysis, it can be concluded that communication has positive and significant effect on job satisfaction, job satisfaction has positive and significant effect on organizational commitment, and so communication as well as organizational commitment has positive and significant effect on job performance, while job satisfaction has positive but no significant effect on employees job performance of PT. Askes (Persero), Branch Office in Purwokerto.
Based on the conclusions, it can be implied that as an effort to improve the employees job satisfaction, the management of PT. Askes (Persero), Branch Office in Purwokerto need to pay attention on the communication policy, as an effort to improve the employees commitment on the organization, the management of PT. Askes (Persero), Branch Office in Purwokerto need to pay attention on job performance policy and as an effort to improve the employees job performance, the management of PT. Askes (Persero), Branch Office in Purwokerto need to pay attention on communication, job satisfaction as well as organizational commitment policy.
11327134G1F007051ANALISIS INDEKS KEPUASAN PASIEN TERHADAP
LAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS BOBOTSARI
KABUPATEN PURBALINGGA
ANALISIS INDEKS KEPUASAN PASIEN TERHADAP
LAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS BOBOTSARI
KABUPATEN PURBALINGGA

Intisari
Pelayanan kefarmasian meliputi pengelolaan sumber daya dan pelayanan farmasi klinik dengan memanfaatkan tenaga, dana, prasarana, sarana dan metode tatalaksana yang sesuai dalam upaya mencapai tujuan yang ditetapkan. Pemerintah telah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kepuasan masyarakat terhadap layanan kefarmasian di Puskesmas Bobotsari Kabupaten Purbalingga.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan penjelasan (explanatory research). Metode penelitian menggunakan metode angket dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 100 pasien. Data diperoleh dari jawaban angket yang sudah baku yang telah diisi oleh pasien. Analisis data menggunakan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. KEP/25/M.PAN/2/2004.
Hasil penelitian ini menunjukkan indeks kepuasan pasien terhadap kinerja pelayanan kefarmasian di Puskesmas Rawat Inap Bobotsari Kabupaten Purbalingga masuk dalam kategori sangat baik dengan IKM sebesar 3,43 atau Nilai Interval Konversi IKM sebesar 85,86. Dimensi kualitas pelayanan secara keseluruhan sudah termasuk dalam kategori sangat baik, sehingga Puskesmas Bobotsari Kabupaten Purbalingga hanya perlu mempertahankan pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang sudah dijalankan.



ANALISIS OF PATIENT SATISFACTION INDEX
OF PHARMACEUTICAL SERVICES IN PUBLIC HEALTH
DISTRICT BOBOTSARI PURBALINGGA

ABSTRACT

Pharmacy services include resource management and clinical pharmacy services by utilizing the power, funding, infrastructure, facilities and management of the appropriate methods in order to achieve the goals set. The Government has issued the Decree No. State Minister for Administrative Reform. KEP/25/M.PAN/2/2004 General Guidelines for Preparation of Community Satisfaction Index Unit Government Agencies. This study aims to determine the index of people's satisfaction with pharmaceutical services at the health center Bobotsari Purbalingga.
Quantitative research with explanatory research. Research methods using questionnaires with cross sectional approach. The sampling technique using purposive sampling technique. The total sample of 100 patients. Data obtained from the questionnaire answers is standard that has been filled by the patient. Analysis of data using Public Satisfaction Index by the Minister of State for Administrative Reform No. KEP/25/M.PAN/2/2004 General Guidelines for Preparation of Community Satisfaction Index Services Unit Government Agencies.
Index of people's satisfaction with the performance of services in the health center pharmacy Inpatient Bobotsari Purbalingga on very well with the Public Satisfaction Index category of 3.43 or Value Conversion Public Satisfaction Index interval of 85.86. Overall service quality dimensions are included in both categories, so Public Satisfaction Index Bobotsari Purbalingga only need to maintain the implementation of pharmaceutical services that have been executed.
11337136D1E009029STUDI PENGGUNAAN LEVEL PERASAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP KEEMPUKAN DAYA IKAT AIR DAN SUSUT MASAK DAGING AYAM KAMPUNGPenelitian berjudul Studi penggunaan level perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap keempukan, daya ikat air dan susut masak daging ayam kampung. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh pemberian level perasaan jeruk nipis dan level yang tepat terhadap keempukan, daya ikat air dan susut masak daging ayam kampung bagian dada. Materi penelitian yang digunakan yaitu daging bagian dada ayam kampung sebanyak 16 bagian, air, air perasan jeruk nipis sejumlah 600 m. Peralatan yang digunakan yaitu panci, pisau, saringan, rafia, talenan, nampan, gelas ukur, penggantung daging, kertas milimeterblok, kertas whatman 41, plat kaca, beban 35 kg, plastik transparan, timbangan, kantong plastik, waterbath dan penetrometer. Perlakuan yang diberikan R0 (daging bagian dada ayam kampung direndam dengan 0 % perasan jeruk nipis), R1 (daging bagian dada ayam kampung direndam dengan 5 % perasan jeruk nipis), R2 (daging bagian dada ayam kampung direndam dengan 10 % perasan jeruk nipis) dan R3 (daging bagian dada ayam kampung direndam dengan 15 % perasan jeruk nipis). Setiap perlakuan diulang 4 kali. Data dianalisis dengan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian level perasan jeruk nipis sampai 15 % tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap keempukan, daya ikat air dan susut masak daging ayam kampung bagian dada. Rataan keempukan, daya ikat air dan susut masak masing-masing adalah 0,264 ± 0,076 mm/g/dt, 23,488 ± 8,008 % dan 47,14 ± 8,509 %. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan level perasan jeruk nipis sampai 15 % menghasilkan keempukan, daya ikat air dan susut masak yang relatif sama.A research entitled “Study of the use level lime juice (Citrus aurantifolia) on tenderness, water holding capacity and cooking Loss of chicken meat”. The aims of this research was to investigate the optimum level of Lime Juice (Citrus aurantifolia) on tenderness, water holding capacity and cooking loss of breast chicken meat. The research materials were 16 parts of chicken breast, water, lemon juice of 600 ml and the equipment used is pan, knife, strainer, rope, cutting boards, trays, measuring cups, meat hanger, milimeterblok paper, whatman 41, plate glass, 35 kg load, transparent plastic, scales, plastic bags, waterbath and penetrometer. The research was given four treatments, R0 (breast of chicken meat was marinated with lime juice 0%), R1 (breast of chicken meat was marinated with lime juice 5%), R2 (breast of chicken meat was marinated with lime juice 10%) R3 (breast of chicken meat was marinated with lime juice 15%). Each treatment was repeated four times. The data were analyzed using analysis of variance. The research results showed that the lime juice no significant on tenderness, water holding capacity and cooking loss of breast chicken meat (P> 0.05). The average of tenderness, water hoding capacity and cooking loss was 0,264 ± 0,076 mm/g/dt, 23,488 ± 8,008 % and 47,14 ± 8,509 %, respectively. The conclusion of the research is level of lime juice until 15 % to get similiar the tenderness, water holding capacity and cooking loss of chicken breast.
11347135F1F009068Gregor Samsa's Existential Alienation in Franz Kafka's "Metamorphosis"Penelitian ini membahas tentang analisis penggambaran alienasi eksistensial dalam tokoh Gregor Samsa berdasarkan novel Metamorphosis karya Franz Kafka. Penelitian ini menggunakan pendekatan filsafat dan menerapkan teori alienasi eksistensial. Analisis disajikan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan dari karakter dan karakterisasi didapatkan kesimpulan bahwa Gregor Samsa adalah orang yang optimis, tenang dan ikhlas, bertanggung jawab, kurang realistis, dan ateis. Reaksi orang-orang disekitarnyapun beragam, ada yang takut da ada yang menerimanya. Lalu, untuk symbol metafora perubahan bentuk serangganya, didapatkan kesimpulan bahwa metamorphosis tersebut merupakan representasi penyakit parah yang menghambat Gregor untuk melakukan aktifitas manusia normal. Sedangkan untuk penggambaran alienasi eksistensi, dapat disimpulkan bahwa Gregor awalnya menolak faktisitas perubahannya, lalu dia membuang minat-minatnya (relinquishment), menyerah pada kontrol orang lain (surrender), mengabaikan tanda eksistensinya (renunciation), dan mengalami keterpisahan diri (separation). Di lain pihak, dia juga mengalami krisis identitas diri, dengan merefleksikan orang-orang lain dalam pikirannya, serta mulai menyadari dan menolak dirinya sebagai objek orang lain. Gregor juga mengalami kehidupan yang tidak otentik yang menyebabkannya teralienasi dari eksistensinya.This research studies the analysis of the existential alienation portrayal in Gregor Samsa based on Metamorphosis novel by Franz Kafka. This research uses philosophical approach and applies existential alienation theory. The analysis is presented by using descriptive qualitative method. The findings show that from the character-characterisation, it can be concluded that Gregor Samsa is an optimism, calm and sincere, responsible, unrealistic, and atheist person. The other characters reactions to him are different, some of them fear and some accept him. Then, the metaphorical symbol of Gregor’s insect-like form can be concluded that Gregor’s metamorphosis is a representation to a serious illness which prevents him to do normal human activities. Whereas for the existential alienation portrayal can be concluded that Gregor in the first place refuses the facticity of his transformation, and then he throws his interests (relinquishment), gives up to the other people’s control (surrender), avoids his existence sign (renunciation), and experiences self-separation (separation). On the other hand, Gregor also experiences the self-identity crisis by reflecting the other people in his mind, and begins to realize and refuses himself as the object for others. Gregor also experiences inauthentic way of life that makes him alienated or estranged from his existence.
11357138B1J008031PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARAGINAN RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii YANG DITANAM PADA METODE APUNG DENGAN SISTEM BUDIDAYA YANG BERBEDAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem budidaya dan proses pengolahan yang baik akan menunjukan bobot kandungan yang dihasilkan. paling tinggi dengan penggunaan asam yang berbeda terhadap bobot rendemen karaginan Eucheuma cottonii. Kombinasi sistem penanaman dan pengasaman diharapkan dapat menghasilkan bobot rendemen karaginan Eucheuma cottonii tertinggi. Metode yang digunakan pada penelitian ini secara eksperimental dengan RAL yang diulang 5 kali. Perlakuan sistem budidaya terdiri dari sistem tali tunggal, sistem jaring tabung, dan sistem jaring tubuler. Pengukuran parmeter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah pertambahan berat basah rumput laut Eucheuma cottonii. Parameter pendukung kualitas air antara lain pengukuran suhu, salinitas, derajat keasaman (pH), dan penetrasi cahaya. Pengamatan dan pengambilan data dilakukan pada 10, 20, 30, dan 40 hari setelah tanam (hst). Hasil analisis menunjukan bahwa sistem budidaya rumput laut Eucheuma cottonii pada pertambahan 10 hst adalah berbeda nyata diperoleh perlakuan metode budidaya apung sistem jaring tabung dengan rata-rata tertinggi yaitu 63,0, sistem budidaya rumput laut Eucheuma cottonii pada pertambahan 20 hst adalah berbeda nyata diperoleh perlakuan metode budidaya apung dengan sistem jaring tabung dengan rata-rata tertinggi yaitu 85,0, sistem budidaya rumput laut Eucheuma cottonii pertambahan 30 hst adalah berbeda sangat nyata diperoleh perlakuan metode budidaya apung dengan sistem jaring tabung dengan rata-rata tertinggi yaitu 108,0, sistem budidaya rumput laut Eucheuma cottonii pertambahan 40 hst adalah berbeda sangat nyata diperoleh perlakuan metode budidaya apung dengan sistem jaring tabung dengan rata-rata tertinggi yaitu 138,0. Hasil analisis ragam bobot karaginan di tunjukkan sistem budidaya rumput laut Eucheuma cottonii tidak berpengaruh berbeda nyata terhadap bobot rendemen karaginan yang dihasilkan tersebut analisis bobot karaginan yang diperoleh telah menunjukan adanya perbedaan antara perlakuan yang dicobakan.This research aimed to determine the effect of cultivation and processing system that will either show the highest content of carragenan produced by the use of different acids to the weight of Eucheuma cottonii carragenan. The combination of planting and acidification system are expected to produce the highest yield of carragenan Eucheuma cottonii. The method used was experimental using Completely Randomized design (CRD) that repeated 5 times. The treatments consisted of cultivating a single rope system, tube net system, and a system of tubular nets. Variables observed consisted of independent and dependent variables The independent variable was the culture system. The dependent variable were the growth and weight of carragenan. The main parmeter were growth and carragenan weight. Seaweed growth was measured by wet weight of Eucheuma cottonii seaweed. Observations and data collection were done at 10, 20, 30, and 40 days after planting (dap). The treatment results of the analysis showed that the system Eucheuma cottonii seaweed cultivation at 10 days after planting increase is highly significant treatment obtained by the method of cultivation buoyancy tube net system with the highest average 63,0. Eucheuma cottonii seaweed cultivation system Eucheuma cottonii on 20 days after planting increase is significantly different treatment obtained by the method of cultivation buoyancy tube net system with the highest average 85,0, Eucheuma cottonii seaweed cultivation system cottonii dap 30 days after planting significantly different obtained by the method of cultivation buoyancy tube net system with the highest average 108,0, Eucheuma cottonii seaweed cultivation at 40 days after planting increase is highly significant treatment obtained by the method of cultivation buoyancy tube net system with the highest average 138,0. Results of analysis of variance in weight show Eucheuma cottonii seaweed farming systems not significantly different effect on the weight of the resulting yield of carrageenan carrageenan weight analysis obtained have shown the differences between the tested treatments.

11367147F1A009083“Fashion Di Kalangan Mahasiswi”
(Studi Deskripsi Trend Penggunaan Jilbab Gaul Di Kalangan Mahasiswi Di Lingkungan Kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP))
Fenomena Jilbab Gaul telah menjadi trend tidak hanya di masyarakat bahkan dikalangan mahasiswi khususnya mahasiswi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) padahal didalam aturan UMP tidak memperbolehkannya. Penelitian bertujuan menggambarkan fenomena sosial tentang motivasi mahasiswi menggunakan Jilbab Gaul dan trend penggunaan Jilbab Gaul di kalangan mahasiswi UMP. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan sasaran penelitian yaitu Mahasiswi UMP yang menggunakan Jilbab Gaul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi mahasiswi menggunakan Jilbab Gaul di lingkungan kampus UMP ini dibedakan menjadi dua faktor, yaitu: faktor internal yang berasal dari diri sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri mahasiswi sendiri yaitu pengaruh lingkungan sosial dan perkembangan teknologi informasi. Sedangkan trend dalam berjilbab gaul yang sekarang digemari oleh mahasiswi adalah penggunaan kerudung yang pendek, baju yang ketat, celana jeans ketat, warna yang terang, dan tanpa menggunakan kaos kaki. Kesimpulannya masih banyak mahasiswi UMP yang menggunakan Jilbab Gaul padahal secara sadar memahami aturan Jilbab Syar’i. Pengamalan kembali makna dan fungsi jilbab secara benar perlu dilakukan dikalangan mahasiswi muslim yang merupakan generasi penerus tegaknya nilai Islam.Jilbab Gaul phenomenon has become a trend not only in the community even among colleger, especially Muhammadiyah University of Purwokerto (UMP) colleger whereas in UMP rules do not allow the use of the Jilbab Gaul. The research aims to description of the social phenomenon that occurred with respect of motivation UMP colleger in using Jilbab Gaul on campus at the same time see the trend of the use of Jilbab Gaul among UMP colleger itself. The method used descriptive qualitative with the target of research is the use of UMP colleger Jilbab Gaul.The results showed that motivation colleger to use Hijab Gaul in the UMP campus is divided into two factors: internal factors derived from the self, and external factors that originate from outside the colleger own, the influence of the social environment and the development of information technology. While the trend in current Jilbab Gaul was favored by colleger is use of the veil short, tight clothes, tight jeans, bright colors, and without wearing sock. In conclusion there are many UMP colleger uses Jilbab Gaul while consciously understand the rules of Jilbab Syar'i. Practice the meaning and function the Jilbab needs to be done correctly among Moeslem colleger who is the next generation upholding Islamic values.
11377139B1J009048PERSEBARAN DAN PREFERENSI RAYAP TANAH TERHADAP JENIS KAYU YANG BERBEDA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGUMPANAN DI WILAYAH PURWOKERTOPurwokerto merupakan kota yang berkembang dalam segi pembangunan perumahan, terlihat dari jumlah permintaan kayu bangunan yang semakin meningkat, tetapi kualitas dari kayu bangunan yang digunakan masih relatif rendah sehingga masih terjadi kerusakan-kerusakan pada kayu yang digunakan dalam konstruksinya. Salah satu organisme perusak kayu yang paling banyak merugikan masyarakat adalah rayap. Rayap hidup di tempat yang lembab dan memakan kayu dan bahan yang mengandung selulosa lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mengetahui jenis rayap tanah yang menyerang kayu umpan dan persebarannya di empat kompleks perumahan 2) mengetahui preferensi serangan rayap tanah pada jenis kayu umpan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pengumpanan (biting method) dengan pola tersarang yaitu mengambil 4 lokasi penelitian yaitu di kompleks Perumahan Langen estate di wilayah Baturaden, perumahan Spahire Village di Purwokerto timur, Perumahan Purwosari di Baturaden, dan kompleks Perumahan Ketapang di wilayah Sokaraja yang digunakan sebagai main plot dengan menggunakan tiga jenis kayu yaitu batang kayu albasia (Albizia falcata), kayu jati (Tectona grandis), dan kayu Bengkirai (Shorea laevifolia) yang digunakan sebagai sub plot. Dengan empat kali ulangan atau pengamatan dalam satu bulan. Pengamatan dan pengambilan sampel kayu dilakukan satu minggu sekali dalam satu bulan. Sampel penelitian berupa rayap tanah yang mengerumuni patok umpan dan berada disekitarnya. Variabel yang akan diamati adalah jenis rayap dan preferensi rayap tanah terhadap kayu umpan sedangkan parameternya adalah jenis dan jumlah rayap tanah yang mengerumuni patok umpan dan berada disekitarnya (radius 1m) dan selisih antara bobot awal patok umpan setelah dioven dengan bobot akhir setelah di serang rayap. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F dengan tingkat ketelitian 5% dan 10% dan bila hasil yang diperoleh berpengaruh nyata atau sangat nyata dilanjutkan uji Duncan. Untuk mengidentifikasi rayap tanah menggunakan buku Ahmad (1959). Hasil penelitian menunjukan persebaran rayap tanah di setiap lokasi perumahan di wilayah Purwokerto yaitu dari jenis Macrotermes gilvus (Hagen), Microtermes insperatus Kemner, dan Odontotermes javanicus Kemner yang tersebar di perumahan Langen Estate di Baturaden, Perumahan Saphire Village di Purwokerto Timur, Perumahan Purwosari di Baturaden, dan Kompleks Perumahan Ketapang Indah di wilayah Sokaraja. Kompleks Perumahan Ketapang Indah yang terbanyak ditemukan rayap daripada yang lain. Tidak ada perbedaan preferensi rayap tanah terhadap jenis kayu dilihat dari uji anova Fhitung < Ftabel (0,801 < 3,1504) dan selisih bobot kayu rata-rata 0,08 – 0,09 kg. Hal ini karenakan kandungan zat ektraktif dari masing-masing jenis kayu masih rendah.Purwokerto is a developing city in terms of housing development, seen from the amount of timber demand is increasing, but the quality of the timber used is still relatively low so it still happens defects in the wood used in its construction. One of the wood organisms most harmful to society is termites. Termites live in damp and timber consuming and other cellulose - containing materials. The purpose of this study were 1) to know species of grown termites attacking on the biting wood and their distribution in 4 seatlement, 2) to know the preference of grown termites on the biting wood. The method used in this study is a survey method with techniques of feeding ( biting method) with a nested pattern that took 4 locations namely in the housing complex of Langen estate in Baturaden sub District, housing complex of Spahire Village in eastern Purwokerto, Housing complex of Purwosari in Baturaden, and housing complex of Ketapang in Sokaraja used as the main plot, weather the three types of wood consit of albasia wood ( Albizia falcata ), Jati wood ( Tectona grandis ), and Bengkirai wood ( Shorea laevifolia ) then used as a sub- plot with four replications in a month. Observations and sampling of ground termites and wood preference conducted weekly in a month. The research sample of ground termites are swarming and nearby of bite wood. Variables to be observed is the preference of termites and ground termites feed on wood, while the parameter is the type and amount of ground termites are swarming of bite wood and poles are around ( 1 m radius ) and the rest of wood weight before and after oven constanly. Data were analyzed using the F test with confident level of 95% and 90%.and then continued of Duncant test if significanly or very significanly different. To identify subterranean termites using books Ahmad ( 1959). The results showed the distribution of ground termites namely Macrotermes gilvus ( Hagen ), Microtermes insperatus Kemner, and Odontotermes javanicus Kemner spread normally in housing complex of Langen Estate in Baturaden, housing complex of Saphire Village in Eastern Purwokerto, Housing complex of Purwosari in Baturaden, and housing complex of Ketapang in Sokaraja. But house complex of Ketapang in Sokaraja was larger than others. There is no difference in preference of subterranean termites on wood species seen from ANOVA test Fvalue < Ftable (0,801 < 3,1504) and the difference in average timber weight from 0,08 to 0,09 kg. It is because of ekstraktif substances of each kind of wood is low.
11387140A1H009012Karakteristik Pengeringan Kerupuk Singkong Menggunakan Alat Pengering Efek Rumah Kaca Tipe Rak Berputar Dengan Perlakuan Putaran Rak Secara KontinyuABSTRAK
Salah satu olahan singkong yang dikembangkan di Kabupaten Purbalingga yaitu kerupuk singkong. Sebelum digoreng kerupuk biasanya dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan ini menggunakan alat pengering efek rumah kaca tipe rak berputar secara kontinyu. Penelitian ini bertujuan untuk mencari nilai karakteristik pengeringan kerupuk singkong yang meliputi kadar air bahan, laju pengeringan, kadar air kesetimbangan, konstanta pengeringan dengan perlakuan kapasitas jumlah kerupuk yang berbeda dan perputaran rak secara kontinyu dengan motor penggerak. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai kadar air akhir, yaitu P18,46 %bk, P27,6 %bk, P3 8,17 %bk, dan P4 9,19 %bk. Nilai laju pengeringan rata-rata tiap percobaan, yaitu pada P141,47 %bk/jam, P2 46,37 %bk/jam, P340,13 %bk/jam, dan P429,16 %bk/jam. Nilai kadar air kesetimbangan pada tiap percobaan, yaitu P15,93 %bk, P25,61 %bk, P31,72 %bk, dan P45,03 %bk. Konstanta pengeringan pada P10,035, P20,038, P30,023, dan P4 0,018. Data kadar air prediksi pada hasil penelitian menghasilkan nilai error rata-rata sebesar 4,42%.


ABSTRACT
One of cassava processed, which is developed in Purbalingga, is cassava chips. Before it is deep-fried, the cassava chips must be dried. This desiccation continuously uses the greenhouse effect dryer of rack type. The research intent on finding the desiccation of cassava chips characteristic value which includes the level of material water, the rate of desiccation, the level of equilibrium water, desiccation constant with amount of different chips treatment, and a continuous rack rotation with dynamo. The result of this research indicates that the last water value are P1 8.46%bk, P2 7.6%bk, P3 8.17%bk, and P4 9.19%bk. The average value experiments of rate of desiccation are P1 41.47 %bk/hour, P2 46.37 %bk/hour, P3 40.13%bk/hour, and P4 29.16 %bk/hour. Then the value experiments of the equilibrium water level are P1 5.93 %bk, P2 5.61 %bk, P3 1.72%bk, and P4 5.03%bk. The value experiments of desiccation constant are P1 0.035, P2 0.038, P3 0.023, and P4 0.018. The data of water content prediction in the research outcome undergoes overall of average error as big as 4.42 %.

Keywords: desiccation, cassava chips, water level, the rate of desiccation, the level of equilibrium water, constant, predictive water level
11397141G1F009049FORMULASI TABLET ANTIDIABETES DARI EKSTRAK ETANOL BAWANG MERAH (Allium cepa) MENGGUNAKAN PENGIKAT KARAGENANFormulasi Tablet Antidiabetes Dari Ekstrak Etanol Bawang Merah (Allium cepa) Menggunakan Pengikat Karagenan


INTISARI

Ekstrak etanol bawang merah (Allium cepa) diketahui mengandung quercetin yang mempunyai aktivitas antidiabetes pada pasien diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula tablet ekstrak etanol bawang merah dengan menggunakan pengikat karagenan yang memenuhi persyaratan standar sediaan tablet dan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi karagenan sebagaipengikat, terhadap sifat fisik tablet.
Tablet dibuat menggunakan metode granulasi basah dengan variasi kadar karagenan sebagai pengikat dengan konsentrasi 0,5%; 1,0%; 1,5% dan 2,0% b/b. Pengujian sifat fisik tablet meliputi penampilan fisik, uji kekerasan, friabilitas, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, dan waktu hancur. Analisis data statistik dilakukan menggunakan ANAVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tablet ekstrak etanol bawang merah yang dibuat dengan menggunakan pengikat karagenan mempunyai karakteristik fisik yang memenuhi syarat sifat fisik tablet. Bertambahnya kadar karagenan pada tablet ekstrak etanol bawang merah meningkatkan kekerasan tablet, menurunkan friabilitas tablet, dan memperlama waktu hancur tablet secara signifikan.
Formulation of Antidiabetic Tablet From Ethanol Extract Red Onion (Allium cepa) Using Carrageenan as a Binder


ABSTRACT

Ethanol extract of red onion (Allium cepa) are known to contain quercetin, which has antidiabetic activity in patients with diabetes mellitus. This study aims to get a tablet formula of onion ethanol extracts using carrageenan as a binder to fill the requirement of tablet dosage standards compliant and determine the effect of concentration variations of carrageenan as a binder,against physical properties of the tablet.
The tablets were prepared by wet granulation method with variation concentration of carrageenan as a binderwith concentrations of 0,5%; 1,0%; 1,5% and 2,0% b/b. The physicaltest of the tablet include physical appearance, hardness, friability, uniformity of size, weight uniformity, and disintegration time. Statistical data analysis performed using one-way ANOVA with a 95% confidence level.
The results showed that the ethanol extract of red onion tablets that made using carrageenan binder has the physical characteristics that qualify the physical properties of the tablet. Increased levels of carrageenan on ethanol onion extract tablets significantly improve tablet hardness, lowering tablets friability, and lengthen disintegration time of the tablets.
11407137D1E009208ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI EKONOMI KELOMPOK PENERIMA BANTUAN PEMERINTAH DAN MANDIRI PADA KELOMPOK TERNAK SAPI POTONG DI BANYUMASPenelitian berjudul Analisis Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi Kelompok Penerima Bantuan Pemerintah dan Mandiri Pada Kelompok Ternak Sapi Potong di Banyumas dilaksanakan mulai tanggal 3 Juni 2013 sampai 3 Juli 2013 di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Responden kelompok peternak penerima bantuan sebanyak 60 orang dan peternak mandiri 60 orang dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive random sampling. Rata – rata pendapatan dan efisiensi ekonomi peternak yang mendapat bantuan pemerintah lebih besar daripada peternak mandiri. Hasil analisis menggunakan uji t bahwa pendapatan dan efisiensi ekonomi menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata antara peternak penerima bantuan pemerintah dengan peternak mandiri. Hasil analisis regresi linier berganda pada kedua kelompok tersebut menunjukkan hanya jumlah kepemilikan ternak yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan dan efisiensi ekonomi usaha ternak sapi potong di Kabupaten Banyumas.A study entitled “The Analysis of Income and Economic Efficiency from A Group of Government Aid Recipient and Independent in Beef Cattles in Banyumas Regency “. The research was conducted from June 3rd until July the 3rd 2013 in Banyumas regency. The research method that’s used was survey. The respondents of aid recipient breeders group were 60 people and the independent breeders were 60 people by taking the sample using purposive random sampling method. The average of the breeders income and economic efficiency who get the government aid is higher than the independent breeders. The analysis result using the test that the income and economic efficiency showed that there was real difference between the government aid recipient breeders and the independent breeders. The multiple linear regression analysis result of both groups only showed the amount of cattle ownership which real influenced to the income and economic efficiency of beef cattle in Banyumas regency.