Home
Login.
Artikelilmiahs
6345
Update
RIKA PRIHATI CAHYANING PERTIWI
NIM
Judul Artikel
MASKULINISASI IKAN CUPANG (Bettasplendens) DENGAN KOMBINASI PERENDAMAN MADU DAN PERLAKUAN FOTOPERIOD
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Akuakultur merupakan kegiatan memproduksi organisme akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan dengan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Beberapa spesies ikan hias, yang dibudidayakan, menunjukan adanya perbedaan harga jual, laju pertumbuhan, tingkah laku, warna, bentuk, dan ukuran tubuh antara jantan atau betina. Sebagai contoh, ikan cupang (Betta splendens) jantan dan betina memiliki nilai jual berbeda. Ikan cupang jantan harganya jauh lebih tinggi dari pada betina dan lebih banyak diminati oleh penggemar ikan hias dan masyarakat pada umumnya. Adanya perbedaan nilai jual antara ikan cupang jantan dan betina mendorong fokus budidaya ikan berjenis kelamin dengan nilai jual lebih tinggi. Pemenuhan akan permintaan ikan dengan jenis kelamin tertentu dapat dilakukan dengan sistem budidaya monoseks, yaitu pemeliharaan ikan berjenis kelamin jantan atau betina saja. Salah satu cara untuk memproduksi ikan monoseks secara komersial adalah dengan metode sex reversal atau pengarahan kelamin. Kontrol terhadap siklus reproduksi ikan didalam kegiatan budidaya sangat diperlukan untuk mencapai benih ikan berkualitas, kuantitas mencukupi dan kontinuitas terjamin. Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk mengkaji kinerja reproduksi adalah dengan manipulasi fotoperiod. Penelitian maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens) dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian madu dan perlakuan fotoperiod terhadap maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens), mengetahui dosis optimal madu dan perlakuan fotoperiod yang efektif dalam maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens). Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap perlakuan. Tahap pertama persiapan pemijahan induk ikan cupang yang kemudian larva hasil pemijahan dilakukan perendaman sesaat setelah 20-30 jam dalam larutan madu dengan dosis 0, 5, 10, 15, dan 20 mL/L, masing-masing perlakuan direndam dalam larutan madu selama 10 jam. Tahap kedua setelah 10 jam perendaman masing-masing larva sesuai perlakuan dosis dipindah ke botol air mineral bervolume 500 mL dengan kepadatan larva 10 ekor setiap wadah, selanjutnya ditempatkan di rak yang sudah diatur untuk perlakuan fotoperiod yaitu L0 (12L:12D), L1 (14L:10D), L2 (10L:14D), kemudian dipelihara selama 30 hari. Larva ikan cupang yang dipelihara selama 30 hari kemudian dilakukan fiksasi pada hari ke-31 untuk selanjutnya dilakukan pembuatan preparat histologi untuk mengetahui struktur gonad dari larva cupang. Hasil pengamatan dan perhitungan membuktikan bahwa derajat penetasan telur materi penelitian berkisar antara 76,5 % sampai 97%, kelangsungan hidup larva cupang tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (p>0,05). Hasil pengamatan kelamin larva cupang dari gambaran histologi bakal gonad pada sampel perlakuan menunjukkan persentase larva cupang jantan tinggi pada perendaman madu 10 jam dosis 10 mL/L dan fotoperiod 14 jam terang 10 jam gelap sebesar 83%. Persentase larva cupang jantan rendah pada perendaman madu 10 jam dosis 20 mL/L dan fotoperiod 14 jam terang 10 jam gelap sebesar 17%. Rata-rata jumlah sel spermatogonia tertinggi pada perendaman madu 10 jam dengan berbagai dosis yang dikombinasi perlakuan fotoperiod diperoleh pada perlakuan perendaman madu dosis 15 mL/L dan fotoperiod 14 jam terang 10 jam gelap sebesar 90,3±9,4. Rata-rata jumlah sel spermatogonia rendah pada perendaman madu 10 jam dengan berbagai dosis yang dikombinasi perlakuan fotoperiod diperoleh pada perlakuan perendaman madu dosis 5 mL/L dan fotoperiod 10 jam terang dan 14 jam gelap sebesar 43,0±9,2. Hasil analisis menunjukkan bahwa bakal gonad pada sampel perlakuan terdapat spermatogonia atau oogonia berbeda nyata antar kelompok perlakuan (p<0,05). Hasil analisis lanjut BNJ terhadap data rerata menunjukan bahwa perlakuan fotoperiod 14 jam terang dan 10 jam gelap sangat signifikan (p<0,01) dengan 10 terang 14 gelap dan 12 terang 12 gelap. Hasil analisis BNJ terhadap perlakuan perendaman madu menunjukan bahwa pada perendaman madu dosis 0 mL/L dan dosis 15 mL/L sangat signifikan, perendaman madu dosis 0 mL/L dan 20 mL/L signifikan, perendaman madu dosis 5 mL/L dan 15 mL/L sangat signifikan, perendaman madu dosis 5 mL/L dan 20 mL/L signifikan, perendaman madu dosis 10 mL/L dan 15 mL/L sangat signifikan, perendaman madu dosis 15 mL/L dan 20 mL/L signifikan. Hasil analisis regresi memberikan interaksi yang positif yaitu pada perlakuan perendaman madu dosis 0 mL/L dengan fotoperiod signifikan dengan respon kuadrater R2 = 41,56%. Perlakuan optimum madu diketahui yaitu dosis madu 15 mL/L dikombinasi fotoperiod 14 jam terang. Kesimpulan, perendaman madu dan perlakuan fotoperiod efektif untuk maskulinisasi cupang, terbukti dari hasil histologi larva cupang. Dosis perendaman madu dan perlakuan fotoperiod yang optimal dalam mempengaruhi maskulinisasi ikan cupang adalah madu dosis 15 mL/L dan fotoperiod 14 jam terang dan 10 jam gelap.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Aquaculture represents an activity producing aquatic organisms under controlled, friendly, and sustainable environment to achieve many advantages. Some ornamental fish cultured species differ in selling price, growth rate, behavior, color, shape, and body size for males or females. For instance, fighting fish (Betta splendens) males and females are sold in different prices. Fighting fish males are higher-priced than females since they are more attractive for hobbyists and communities. This encourages fish culturists to produce exclusively the higher-prices fish. To fulfill these fish, single-sex culture method offers a possibility to produce only male or female fish. Such method could be achieved by applying sex reversal method or a technique directs certain sex. Fish reproductive performance control is necessary to produce sufficient quality, quantity and sustainable fish fry or larvae. Fish reproductive performance could be mastered by photoperiod manipulations. A research on masculinization of fighting fish larvae was conducted to examine the effects of dipping in honey solutions and photoperiod regimes on masculinization of the fish. The research used experimental method to apply completely randomized design (CRD) in factorial pattern of two factors (i.e. different honey solutions for dipping and different photoperiod regimes). Produced from spontaneous spawning, fish larvae were then dip 20-30 h after hatching in 0, 5, 10, 15, and 20 mL/L honey solutions for 10 h. The larvae were subsequently moved to rearing bottles of 500 mL vol in a density of 10 individuals each. All bottles were placed under photoperiod regimes i.e. L0 of ambient light; L1 of 14 h light/10 h dark (14 L/10 D); L2 of 10L/14D, and were then reared for 30 d. After that, larvae were entirely fixed in Bouin solution and underwent classic histological process to assess their gonad structure. Results of the research revealed that hatching rate of eggs and survival rate of larvae ranged 76.5-97% and 70-90%, respectively, and no difference between treatments (p>0.05). Histological assessment demonstrated that male larvae were higher (83%) than female ones (17%) in honey solution dose of 10 mL/L and under 14 L/10 D photoperiod. Contrarily, 17% of male larvae were observed in honey solution dose of 20 mL/L and under 14 L/10 D photoperiod. The highest average number of spermatogonia cells (90.3±9.4%) was obtained in honey solution dose of 15 mL/L and under 14 L/10 D photoperiod. However, the lowest average number of spermatogonia cells (43.0±9.2%) was in honey solution dose of 5 mL/L and under 10 L/14 D photoperiod. Statistical analysis showed that gonadal larvae contained both spermatogonia or oogonia cells in all treatments being significantly different (p<0.05). HSD-test showed that regime of 14 L/10 D photoperiod was highly significant different (p<0.01) with 10 L/14 D or ambient photoperiod regimes. The test was also revealed that dipping in honey solutions of 0 mL/L and 5 mL/L doses were significantly different with 15 mL/L and 20 mL/L doses. Dipping in honey solution dose of 10 mL/L was highly significantly different with 15 mL/L dose, and 15 mL/L dose with 20 mL/L. Regression analysis revealed positive interaction between 0 mL/L dose and photoperiod responses, where R2 was equal to 41.56%. The optimum dose of honey solution was 15 mL/L and should be combined with 14 L/10 D photoperiod. In conclusion, dipping honey solutions combined with photoperiod regimes effectively led fighting fish larval gonad to become mostly male. Effective honey solution dose was 15 mL/L and should be combined with 14 L/10 D photoperiod to achieve successfully masculinization results.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save