Artikelilmiahs

Menampilkan 9.801-9.820 dari 48.947 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
98019762D1E010182PEMANFAATAN LIMBAH IKAN TONGKOL DIHIDROLISIS DENGAN ACETIC ACID DAN POLLARD FERMENTASI SEBAGAI BAHAN BAKU KONSENTRAT PAKAN PUYUH DITINJAU DARI
KONSUMSI PAKAN DAN AIR MINUM
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan limbah ikan tongkol yang dihidrolisis dengan acetic acid dan pollard fermentasi terhadap konsumsi pakan dan air minum pada puyuh. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 6 Mei sampai dengan 17 Juli 2014 di Experimental Farm dan Laboratorium INMT Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi yang digunakan adalah puyuh betina (Courtinux-courtinux japonica) umur dua belas minggu sebanyak 100 ekor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), perlakuan terdiri dari empat perlakuan dan setiap perlakuan diulang lima kali. Perlakuan terdiri atas R0 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard fermentasi 0%), R1 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard fermentasi 10%), R2 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard fermentasi 20%), R3 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard fermentasi 35%). Data dianalisis dengan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan dan air minum. Rataan konsumsi pakan dan air minum secara keseluruhan adalah 18,74± 0,31 g/ekor/hari dan 57± 7,94 ml/ekor/hari. Kesimpulan penelitian ini adalah pemanfaatan limbah ikan tongkol yang dihidrolisis dengan acetic acid dan pollard fermentasi sampai 35% dapat menggantikan konsentrat ayam petelur pabrik dengan konsumsi pakan dan air minum puyuh relatif sama.The aim of research was to determine the utilization effect of tuna waste that hydrolyzed by acetic acid and by pollard fermented on feed consumption and on drinking water in the quail. The research was started on 6 Mei until 17 July 2014 at The Experimental Farm and Animal Science and Laboratory INMT Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The material used was female quail (Courtinux-courtinux japonica) with the age of twelve weeks in the number of 100. The research used completely randomized design (CRD), The treatment consisted of four treatments and each treatment was repeated five times. The treatment consists of R0 (tuna waste hydrolyzed and pollard fermented 0%), R1( tuna waste hydrolyzed and pollard fermented 10%), R3(tuna waste hydrolyzed and pollard fermented 35%). Data was analyzed using analysis of variance. The variance analysis results showed that the treatment was having effect but not real (P>0.05) on feed consumption and on drinking water. Overall, the averages of feed consumption and drinking water were 18.74± 0.31 g/piece/day and 57± 7.94 ml/piece/day. The conclusion of this research is the utilization of tuna waste that hydrolyzed by acetic acid and by pollard fermented until 35% can replace concentrations of laying hens into manufacturing with the feed consumption and drinking water are relatively similar quail.
98029710P2CA11036ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG SECARA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG MEMPENGARUHI PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DALAM UPAYA MENDORONG TINGKAT KEMANDIRIAN FISKAL DAERAH
DI PROVINSI JAWA TENGAH (PERIODE 2008-2011)
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk : pertama, menganalisis besarnya tingkat kemandirian dan indeks kapasitas fiskal daerah (kabupaten/kota) di Provinsi Jawa Tengah. Kedua, menganalisis faktor-faktor (variabel eksogen), baik secara langsung maupun secara tidak langsung (mediasi PDRB) mempengaruhi pendapatan asli daerah (PAD). Ketiga, menganalisis pengaruh variabel PDRB dalam memediasi hubungan kausalitas antara variabel eksogen terhadap variabel endogen (PAD). Keempat, menganalisis pengaruh variabel PDRB terhadap perolehan dana perimbangan (kabupaten/kota) di Provinsi Jawa Tengah. Faktor atau variabel eksogen tersebut, antara lain angkatan kerja (bekerja), investasi swasta, belanja modal, penyertaan modal pemerintah pada BUMD, aset daerah. Selanjutnya, PDRB bertindak sebagai variabel mediasi (intervening), sedangkan variabel endogen dalam penelitian ini adalah pendapatan asli daerah (PAD). Data yang dipergunakan dalam penelitian ini bersifat data sekunder (penggabungan data time series dan data cross section). Sedangkan metode penelitian yang dipergunakan adalah metode deskriptif dan metode kuantitatif. Selanjutnya, teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian adalah analisis tingkat kemandirian fiskal dan indeks kapasitas fiskal, analisis jalur (path analysis) dengan metode Trimming, serta analisis variabel mediasi (Metode Kausal Step).
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pertama, sebagian besar (secara umum) daerah (kabupaten/kota) di Provinsi Jawa Tengah memiliki tingkat kemandirian fiskal dan indeks kapasitas fiskal yang tergolong rendah sebagai suatu daerah otonom. Kedua, variabel eksogen (angkatan kerja (bekerja), investasi swasta, belanja modal, dan aset daerah) memiliki pengaruh positif dan signifikan, sedangkan variabel eksogen (penyertaan modal pemerintah pada BUMD) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel mediasi (PDRB). Selanjutnya, variabel mediasi (PDRB) dan variabel eksogen (investasi swasta, belanja modal, dan aset daerah) memiliki pengaruh positif dan signifikan, sedangkan variabel eksogen (angkatan kerja (bekerja) dan penyertaan modal pemerintah pada BUMD) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel endogen (PAD). Ketiga, variabel PDRB memediasi secara parsial hubungan kausalitas antara variabel eksogen (investasi swasta, belanja modal, dan aset daerah) terhadap variabel endogen (PAD). Keempat, variabel PDRB memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perolehan dana perimbangan (kabupaten/kota) di Provinsi Jawa Tengah. Namun demikian, dalam model penelitian yang dibentuk, terkena otokorelasi positif.
The analysis performed in this research aimed to: first, to analyze the level of self-reliance and local fiscal capacity index (district/city) in the province of Central Java. Second, analyze the factors (exogenous variables), either directly or indirectly (mediation GDP) which affect local revenue. Third, analyze the effect of GDP variables in mediating causal relationship between the exogenous variables on endogenous variables. Fourth, analyze the effect of the acquisition GDP variable grants (district/city) in the province of Central Java. Factors or exogenous variables are, among others, the labor force (working), private investment, capital expenditures, government participation in local enterprises, and regional assets. Furthermore, GDP acts as a mediating variable (intervening), whereas endogenous variable in this research is the revenue.
The data used in this research is secondary data (a merge of time series and cross section data). While the research method used is descriptive and quantitative methods. Furthermore, the data analysis techniques used in the research is an analysis of the level of fiscal autonomy and fiscal capacity index, path analysis (path analysis) with Trimming methods, and the mediating variable analysis (Step Causal Methods).
The research concludes that the first, most (in general) area (district/city) in the province of Central Java has a degree of fiscal autonomy and fiscal capacity index is low as an autonomous region. Second, exogenous variables (labor force (working), private investment, capital expenditures, and asset area) have a positive and significant effect while the exogenous variables (government participation in enterprises) do not have a significant effect on the mediating variables (GDP). Furthermore, mediating variables (GDP) and exogenous variables (private investment, capital expenditures, and asset area) has a positive and significant effect while the exogenous variables (labor force (worked) and government participation in enterprises) has no significant effect on endogenous variables (PAD). Third, GDP variable partially mediates the causal relationship between exogenous variables (private investment, capital expenditures, and regional assets) on endogenous variables (PAD). Fourth, GDP variable has a positive and significant effect on the acquisition of grants (district / city) in the province of Central Java. However, the research model is established positive autocorrelation affected.
980310830C1C011027PERSEPSI MAHASISWA S1 AKUNTANSI DAN LULUSAN S1 NON AKUNTANSI TERHADAP PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI SETELAH TERBITNYA PMK No 25/PMK.01/2014 TENTANG AKUNTAN BEREGISTER NEGARA (Studi Empiris Pada Mahasiswa S1 Akuntansi FEB UNSOED dan Lulusan Non Akuntansi Di Instansi Pemerintah Kota Banjar Patroman)    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji persepsi calon pengguna PPAk yakni mahasiswa S1 Akuntansi dan lulusan S1 Non Akuntansi tentang Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Penelitian ini dilakukan melalui studi kasus di PPAk FEB UNSOED pada dua kategori sampel yakni mahasiswa S1 Akuntansi FEB UNSOED dan lulusan S1 Non Akuntansi di Instansi Pemerintah Kota Banjar Patroman. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan persepsi antara mahasiswa S1 Akuntansi dan lulusan S1 Non Akuntansi tentang PPAk. Responden dalam penelitian ini terdiri dari 50 mahasiswa S1 Akuntansi Februari UNSOED dan 40Lulusan S1 Non Akuntansi di Instansi Pemerintah Kota Banjar Patroman. Hasil penelitian ini menunjukkan pada keseluruhan yang calon pengguna PPAk yakni mahasiswa S1 Akuntansi dan lulusan S1 Non Akuntansi memiliki persepsi positif tentang PPAk, namun hasil penelitian juga menunjukkan terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa S1 Akuntansi dan lulusan S1 Non Akuntansi tentang Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) pada variabel pengukur persepsi minat dan kemampuan dan keterkaitan PPAk dengan USAP.
.

    The objective of this study is to examine the perception of PPAk prospective users is student of S1 Accounting and Graduate of S1 Non Accounting about Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). This study was conducted on two samples category of the student S1 Accounting FEB UNSOED and graduate of S1 Non Accounting in Banjar Patroman Government Agencies. It is also to know wheter any difference perception about PPAK between student of S1 Accounting and Graduate of S1 Non Accounting. Respondents consist of 50 student S1 Accounting FEB UNSOED and Graduate of S1 Non Accounting in Banjar Patroman Government Agencies. All data were processed previously with validity test (Pearson moment) and reliability (Alpha Cronbach). The Result of this research indicates on overall that PPAk prospective users is student of S1 Accounting and graduate of S1 Non Accounting have positive perception about PPAk. there is difference perception between student of S1 Accounting and graduate of S1 Non Accountng about Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk).
98049711A1C010093Analisis Komparatif Ayam Pedaging dan Ayam Buras Petelur di Kelompok Wanita Tani Ternak (KWTT) "Wanita Karya" Desa Karanggude Kulon Kecamatan Karanglewas Kabupaten BanyumasSalah satu kelompok peternak ayam pedaging dan ayam buras petelur adalah Kelompok Wanita Tani Ternak (KWTT) Wanita Karya di Desa Karanggude Kulon Kecamatan Karanglewas. Pada dasarnya kelompok ingin mengembangkan usahanya, akan tetapi dari kedua usaha tersebut belum diketahui usaha mana yang menguntungkan dan layak untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk;1) mengetahui besarnya biaya, penerimaan dan pendapatan dari usaha ayam pedaging dan ayam buras petelur; 2) Membandingkan rasio imbangan penerimaan dan biaya total serta mengetahui titik impas atau Break Event Point ; 3) mengetahui kendala faktor produksi apa saja dalam usaha ayam pedaging dan ayam buras petelur melalui pendekatan optimalisasi produksi. Metode penelitian menggunakan studi kasus pada KWTT Wanita Karya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan, R/C, Break Event Point (BEP), dan program linier optimalisasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total ayam pedaging sebesar Rp126.381.280 dan ayam buras petelur sebesar Rp217.295.681, kemudian pendapatan ayam pedaging sebesar Rp41.822.240 dan ayam buras petelur sebesar Rp64.746.319 . Nilai R/C ayam pedaging sebesar 1,33 sedangkan pada ayam buras petelur sebesar 1,30. Nilai BEP penerimaan, produksi dan harga pada ayam pedaging sebesar Rp40.285.627, 1.259 Kg dan Rp24.043, kemudian BEP penerimaan, produksi dan harga pada ayam buras petelur sebesar Rp53.969.190 , 46.306 butir dan Rp1.258. Kendala faktor produksi yang belum dipergunakan secara optimal adalah pakan, tenaga kerja dan kandang. Hal ini harus dapat dimanfaatkan dengan baik agar kelebihan persediaan ini dapat menjadi hasil yang menguntungkan bagi kelompok.
One of breeders of these commodities was Women Livestocks Group at Karanggude Kulon Village in Karanglewas Sub-district. Basicly, livestocks group want to explore their businesses, but form the both of their businesses, they did no find yet the good one to be explored and be able to give them more profitable. This study aim to; 1) identify the cost , revenue, and income of broiler and local layer business; 2) To compare the ratio of balance of revenue and total cost and identify the break-even point or BEP; 3) identify any constraints of production factors on broiler and local layer business with production optimization approach. The study method used a case study on Women Livestocks Group of KWTT “Wanita Karya” at Karanggude Kulon Village. The analitycal method used analysis of costs and revenues, R/C, Break Even Point (BEP), and linear optimization program.
The results of study showed that total cost of broiler is Rp126.381.280 and local layer is Rp217.295.681. Then the income from broiler is Rp41.822.240 and local layer is Rp64.746.319 . R/C on broiler is 1,33 while on local layer is 1,30. BEP values of income, production and cost on broiler is Rp40.285.627, 1.259 kg dan Rp24.043. Then BEP values of income, production and cost on local layer is Rp53.969.190 , 46.306 eggs dan Rp1.257. The constraint factors did not use optimally yet were feed, labor, and cage. This factors must be used well so that excess supply could be favorable outcome for the livestocks group.
98059712C1B010001ANALISIS PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, KEBIJAKAN DIVIDEN, LEVERAGE DAN PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DALAM INDEKS BISNIS-27 TAHUN 2010-2012
Penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan Kebijakan Dividen Leverage dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan yang Terdaftar Dalam Indeks BISNIS-27 Tahun 2010-2012”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh ukuran perusahaan kebijakan dividen leverage dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah 41 perusahaan yang terdaftar dalam INDEKS BISNIS-27 tahun 2010-2012. Pemilihan sampel perusahaan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan mendapatkan hasil 22 perusahaan sebagai sampel penelitian. Alat analisis dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.
Hipotesis yang diajukan adalah 1) ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, 2) kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, 3) leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, 4) profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, 5) ukuran perusahaan, kebijakan dividen, leverage, dan profitabilitas berpengaruh secara simultan terhadap nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa ukuran perusahaan, kebijakan dividen, dan leverage tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan; profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan; dan ukuran perusahaan, kebijakan dividen, leverage, dan profitabilitas berpengaruh secara simultan terhadap nilai perusahaan.
Sebagai implikasi; ukuran perusahaan, kebijakan dividen, dan leverage tidak dapat digunakan investor untuk menilai suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan variabel-variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Meningkatnya profitabilitas melalui Return On Equity dapat digunakan sebagai cara untuk meningkatkan nilai perusahaan. Adanya pertumbuhan ROE menunjukkan prospek perusahaan yang semakin baik, karena peningkatan keuntungan yang diperoleh perusahaan akan meningkatkan kepercayaan investor serta akan mempermudah manajemen perusahaan untuk mendapatkan modal dalam bentuk saham.
This research entitled is “Analysis of the effect of size, dividend policy, leverage, and profitability on firm value in companies listed in BISNIS-27 Index during 2010-2012”. The aim at this study is to analyze the effect of size, dividend policy, leverage, and profitability on firm value.
The population of this research is 41 companies listed in BISNIS-27 Index during 2010-2012. By using purposive sampling technique, this research used 22 companies listed at BISNIS-27 Index during 2010-2012 as samples. Analytical tool in this research is multiple regression analysis.
The hypotheses are: 1) there is positive effect of size on firm value, 2) there is positive effect of dividend policy on firm value, 3) there is negative effect of leverage on firm value, 4) there is positive effect of profitability on firm value, and 5) there is simultaneously effect of size, dividend policy, leverage, and profitability on firm value.
The result states that size, dividend policy, and leverage are not significant effect on firm value; profitability has significant effect on firm value; and size, dividend policy, leverage, and profitability are simultaneously effect on firm value.
As the implications; firm size, dividend policy, and leverage cannot be used by investors to assess a company. This is because these variables do not affect the value of the company. Increased profitability by Return On Equity can be used as a way to increase the value of the company. The growth of ROE shows a company's prospect is better, because the increase in corporate profits will increase investor confidence and will ease the management of the company to raise capital in shares.
98069713F1A009068PERNIKAHAN DINI
(Studi tentang Kehidupan Rumah Tangga Pasangan Nikah Muda di Desa Karanganyar, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi pasangan melakukan pernikahan dini, dampak ekonomi, psikologis, kesehatan, dan sosial dari pasangan nikah muda, serta strategy of survival yang dilakukan pasangan nikah muda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan sasaran utama adalah pasangan suami istri yang menikah muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi seseorang melakukan pernikahan dini karena keinginan sendiri, membantu keuangan orang tua, kasus MBA(married by accident). Dampak dari pernikahan dini yaitu sering terjadi konflik terutama masalah ekonomi, masalah kesehatan bagi ibu muda, keadaan psikologi yang belum siap dalam kehidupan berumah tangga, serta adanya anggapan negatif dari lingkungan sekitar. Strategi yang dilakukan pasangan yang menikah muda yaitu dengan berkomitmen untuk tidak memiliki anak lebih dari dua, saling membantu tanggung jawab suami atau isteri. Semetera itu, strategy of survival dalam ekonomi pasangan nikah muda, antara lain; suami bekerja di luar kota, tinggal bersama orang tua, dan berhutang, sedangkan untuk menyelesaikan konflik, para pasangan nikah muda memilih diskusi dengan bersikap terbuka dan saling mengerti satu sama lain.The research’s purpose is to determine the motivation of bridal couple having the marriage, the economic effects, and also their psychological, health, and social effects from having this early marriage. Also, survival strategies that they applied in Karanganyar Village, Cilacap. Research methods that used for this research was qualitative methods. The collecting methods that used for this research were interview, observation, and also documentation. The main target of the research were bridal couples who have the early marriage. The research result shows that motivation of teenagers doing the early marriage was caused by self willingness, helping parent’s financial, and married by accident cases. The impact from the early marriage was the conflict about economic, wife’s healthiness, and psychological condition that weren’t ready for the household, and for the last was there was a negative assumption from the environment. The strategy of survival that bridal couple in Karanganyar Village has done in economic were husband worked outside the town, lived with parents, and owe money. Meanwhile for conflict resolution were through discussion with open minded and understanding attitudes. .
98079714C1J009038FACTOR AFFECTING INCOME IN INDRAMAYU REGENCYI. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian
Diberlakukannya otonomi daerah, kabupaten dan kota memiliki kewenangan yang lebih luas. Hal ini tercantum dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 BAB III Tentang Pembagian Urusan Pemerintah, juga dijelaskan bahwa Pemerintah Daerah dapat menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
Agar terselenggara otonomi daerah yang optimal maka diberlakukanlah perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Perimbangan keuangan ini diatur dalam Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Desentralisasi fiskal yang di atur dalam Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 terdiri dari tiga macam, yaitu pajak daerah (tax assignment), dana bagi hasil (revenue sharing) dan dana alokasi umum serta dana alokasi khusus. Dengan desentralisasi fiskal ini, pemerintah daerah diharapkan mampu mengoptimalkan penerimaan daerahnya sehingga Pemerintah Daerah mandiri dalam pengelolaan keuangannya dan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat. Kemandirian ini dapat dicapai dengan mengoptimalkan PAD yang bersumber dari pajak daerah, retribusi, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain lain PAD yang sah.
Kabupaten Indramayu adalah salah satu daerah kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang telah menyelenggarakan otonomi, dan dengan demikian kabupaten tersebut telah mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah. Sebelum diberlakukannya UU tentang otonomi daerah, pembiayaan pembangunan Kabupaten Indramayu lebih banyak berasal dari kucuran dana dari pemerintah pusat. Sejalan dengan otonomi daerah yang telah berlangsung selama 5 tahun diharapkan suatu daerah dapat maju dan berkembang pesat tanpa mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat dan pendapatan asli daerah dapat meningkat.Perlu adanya suatu strategi baru ataupun pengembangan strategi yang telah ada untuk terus mendongkrak PAD Kabupaten Indramayu. Dari pertimbangan berbagai hai itulah penulis mengambil judul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Di Kabupaten Indramayu”.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Indramayu?
2. Variabel mana yang paling berpengaruh diantara pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Indramayu?

C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini menganalisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan asli daerah dan variabel yang digunakan yaitu pengeluaran pemerintah, PDRB, jumlah penduduk di Kabupaten Indramayu pada tahun 1993-2012. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendapatan asli daerah di Kabupaten Indramayu tidak dibahas dalam penelitian ini.

D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Indramayu.
2. Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Indramayu.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi penelitiah, sebagai sarana untuk menambah pengetahuan dan membandingkan teori-teori yang diperoleh penulis dengan penerapanya secara langsung, di samping sebagai salah satu syarat bagi penulis untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman.
2. Bagi instansi terkait diharapkan dapat memberi masukan bagi para penyusun kebijakan terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah dan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.
3. Bagi pembaca, penelitian ini bisa sebagai landasan atau bahan informasi untuk penelitian lanjutan.
4. Untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam kuliah ke dalam suatu bentuk penulisan ilmiah.

F. Kerangka Penelitian









G. Hipotesis
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan asli daerah yaitu pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk secara bersama-sama berpengaruh signifikan.
a. Secara parsial pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan dan positif terhadap pendapatan asli daerah di Kabupaten Indramayu.
b. Secara parsial PDRB berpengaruh signifikan dan positif terhadap pendapatan asli daerah di Kabupaten Indramayu.
c. Secara parsial jumlah penduduk berpengaruh tidak signifikan dan negatif terhadap pendapatan asli daerah di Kabupaten Indramayu.
2. Variabel PDRB mempunyai pengaruh paling besar terhadap pendapatan asli daerah di Kabupaten Indramayu.

II. METODE PENELITIAN DAN TEKNIK ANALISIS DATA

A. Metode Analisis Data
1. Jenis penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini dalah metode diskriptif melalui studi pustaka dan didukung analisis data sekunder yang bersifat kuantitatif, penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya. Dengan metode deskriptif, penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Indramayu.
3. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperlukan antara lain : data PAD, data pengeluaran pemerintah data tersebut diperoleh dari kantor BAPPEDA Kabupaten Indramayu sedangkan data PDRB dan data jumlah penduduk diperoleh dari kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu.
4. Jenis Data
a. Data Kabupaten Indramayu tahun 1993-2012.
b. Data pengeluaran pemerintah Kabupaten Indramayu tahun 1993-2012.
c. Data PDRB Kabupaten Indramayu tahun 1993-2012.
d. Data jumlah penduduk Kabupaten Indramayu tahun 1993-2012.
5. Definisi Konseptual
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang digali atau dihasilkan oleh daerah yang bersangkutan dan merupakan pendapatan daerah yang sah.
b. Pengeluaran pemerintah adalah perbelanjaan pemerintah ke atas barang-barang modal, barang konsumsi dan ke atas jasa-jasa.
c. PDRB adalah total nilai tambah yang dapat diciptakan akibat adanya aktivitas ekonomi disuatu daerah dalam suatua daerah tertentu (BPS,2003). Menurut Arsyad (1992 : 163) Produk Domestik Regional Bruto PDRB adalah sejumlah nilai tambah produksi yang ditimbulkan oleh berbagai sektor atau lapangan usaha yang melakukan kegiatan usahanya di suatu daerah atau regional tanpa memilih atas faktor produksi.
d. Jumlah penduduk adalah jumlah penduduk adalah jumlah manusia yang bertempat tinggal/berdomisili pada suatu wilayah atau daerah dan memiliki mata pencaharian tetap di daerah itu serta tercatat secara sah berdasarkan peraturan yang berlaku di daerah tersebut. pencatatan atau peng-kategorian seseorang sebagai penduduk biasanya berdasarkan usia yang telah ditetapkan.
6. Definisi Operasional
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan asli daerah sendiri yang terdiri dari hasil pajak, retribusi daearah, pendapatan dari dinas-dinas, BUMN dan lain-lain, dihitung dalam ribuan rupian pertahun.Data PAD dihitung dari tahun 1993-2012 dan dilambangkan dengan rupiah (Rp).
b. Pengeluaran pemerintah yang digunakan adalah realisasi pengeluaran pembangunan pemerintah Kabupaten Indramayu.Data pengeluaran pemerintah dihitung dari tahun 1993-2012 dan dilambangkan dengan rupiah (Rp).
c. PDRB yang digunakan adalah PDRB menurut lapangan usaha atau dasar harga berlaku.Data PDRB total dihitung dari tahun 1993-2012 dan dilambangkan dengan rupiah (Rp).
d. Jumlah penduduk yang digunakan adalah Jumlah penduduk akhir tahun.Data jumlah penduduk dihitung dari tahun 1993-2012.

B. Teknik Analisis Data
1. Analisis Linier Berganda
Untuk mengetahui pengaruh variabel Pengeluaran pemerintah, PDRB dan Jumlah Penduduk terhadap Pendapatan Asli Daerah, digunakan anilisis regresi linier berganda sebagai berikut :
Y = f(X1, X2, X3)
Dimana :
Y = Pendapatan asli daerah
X1 = Pengeluaran pemerintah
X2 = Produk domestik regional bruto
X3 = Jumlah penduduk
Fungsi regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah model dinamis. Model dinamis mencakup pembentukan deskriptif variabel-variabel endogen (dependent) sebagai fungsi dari himpunan variabel-variabel eksogen (independent) saat yang berlaku.
a. Uji Asumsi Klasik
Untuk mendapatkan penaksir-penaksir yang bersifat BLUE (best liniar unbiased estimator) dari penaksir liniar kuadrat terkecil (ordinary least square) maka harus memenuhi seluruh asumsi-asumsi klasik.
1) Uji Multikolinearitas
Untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas, metode yang digunakan adalah Variance Inflation Factor (VIF) dengan ketentuan jika nilai VIF diatas 10 maka telah terjadi gejala multikolinearitas. Sebaliknya jika VIF lebih rendah dari 10 maka dikatakan tidak terjadi gejala multikolinearitas (Ghozali, 2009).
2) Uji Otokorelasi
Menurut Gujarati (2003) autokorelasi adalah keadaan dimana kesalahan salah satu penguji dalam periode tertentu berkorelasi dengan kesalahan pengganggu periode lainnya.
Pengujian autokolerasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Kriteria pengujian, sebagai berikut :
0 < d < dL : Tolak H0, terdapat autokorelasi positif
4 – dL < d < 4 : Tolak H0, tidak terdapat autokorelasi negative
du < d < 4 – du : Terima H0, tidak terdapat autokorelasi positif /negatif
dL < d < du atau 4– du < d < 4 – dL : Pengujian tidak meyakinkan
3) Uji Heterosdesitas
Heterokedastisitas berarti adanya varians variabel dalam model yang tidak sama, atau konstan (Widarjono, 2009. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heterokedastisitas (Ghozali, 2009). Pada penelitian kali ini untuk menguji ada tidaknya gejala heteroskedastisitas maka digunakan uji Glejser. Untuk mengetahui ada tidaknyagejala heteroskedastisitas.Jika nilai signifikansi antara variabel independent dengan absolut residualnya lebih dari 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi gejala heterokedastisitas dalam penelitian ini adalah dengan melihat Scatter plot pada hasil analisis SPSS, bila hasilnya berpencar maka tidak terjadi gejala heterokedastisitas, namun bila membentuk pola berarti, terdapat gejala heterokedastisitas (Ghozali, 2009). Oleh karena itu persamaan yang digunakan untuk uji Glejser adalah sebagai berikut :
ui = α + βXi + υi
Keterangan :
ui = Nilai residual mutlak
Xi = Variabel bebas
Jika β signifikan maka terdapat pengaruh variabel bebas terhadap nilai residual mutlak sehingga dinyatakan bahwa terdapat gejala heteroskedastisitas. Demikian pula sebaliknya.
b. Uji Statistik
1) Uji Adjusted R2
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi variasi dalam variabel terkait yang dapat dijelaskan oleh variasi beberapa variabel bebas secara bersama-sama. Jika nilai R2 sama dengan satu maka garis regresi yang dicocokan menjelaskan 100 persen variasi dalam Y. Sebaliknya kalau nilai R2 sama dengan nol maka garis regresi tidak menjelaskan sedikitpun variasi dalam Y. Kecocokan dalam model dikatakan lebih baik kalau nilai R2 semakin dekat dengan satu.
2) Uji F
Menurut Gujarati (2003) untuk menguji pengaruh secara bersama-sama antara variabel bebeas terhadap variabel terikat, digunakan rumus uji F (Ghozali,2009) Uji ini dilakukan untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Kriteria pengujian :
a. Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap besarnya PAD di Kabupaten Indramayu.
b. Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak artinya variabel bebas secara bersama- sama berpengaruh terhadap besarny PAD di Kabupaten Indramayu.
3) Uji t
Untuk mengurangi apakah masing-masing variabel bebas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat, digunakan rumus Uji t sebagai berikut (Ghozali,2009) :
a. H0 diterima apabila thitung < ttabel atau –thitung > -ttabel, artinya variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat dengan tingkst keyakinan 95% (α=0,05) dan df = n-k.
b. H0 ditolak apabila thitung > ttabel atau –thitung < -ttabel, artinya variabel bebas secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat dengan tingkat keyakinan 95 persen (α=0,05) dan df = n-k.
c. Variabel Yang Paling Berpengaruh
Uji elastisitas digunakan untuk mengetahui variabel dependen (PDRB sektor industri). Uji elastisitas ini dilakukan dengan cara melihat nilai koefisien elastisitas masing-masing variabel independen dalam model regresi linear berganda pada penelitian ini karena fungsi tersebut telah ditransformasikan menjadi fungsi linear logaritma natural.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Multikoleaniaritas
Pengujian ada atau tidaknya multikolinearitas dilihat dari nilai tolerance atau VIF (Variance Inflation Factor) dari masing-masing variabel. Pada umumnya VIF lebih dari 10 maka variabel tersebut mengalami persoalan multikolinearitas. Sedangkan nilai tolerance dikatakan bebas dari persoalan multikolinearitas apabila nilainya kurang dari 1.
Tabel 1. Uji Multikoleaniaritas
No
Variabel
Collinearity Statistics


Tolerance
VIF
1
Pengeluaran pemerintah
0.111
8.994
2
PDRB
0.142
7.024
3
Jumlah Penduduk
0.121
8.282
Sumber : Data sekunder setelah diolah dengan SPSS
Dari hasil analisis multikolinearitas pada tabel 1 diatas, maka dapat diketahui bahwa nilai tolerance untukvariabel pengeluaran pemerintah sebesar 0,111dan nilia VIF 8,994 untuk variabel PDRB tolerance sebesar 0,142 dan VIF 7,024 dan untuk variabel jumlah penduduk tolerance sebesar 0,121 dan VIF 8,282. Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa tidak ada satupun variabel independen yang nilai VIF-nya lebih dari 10 dan nilai tolerance masing-masing variabel juga kurang dari 1. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa keseluruhan variabel bebas (independen) tersebut tidak memiliki korelasi sehingga tidak terjadi multikolinearitas.
2. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan metode Glejser. Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 2. Hasil Uji Heteroskedastisitas
No
Variabel
Sig.
1
Pengeluaran pemerintah
0.068
2
PDRB
0.637
3
Jumlah penduduk
0.096
Sumber : Data sekunder setelah diolah dengan SPSS
Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui nilai signifikansinya lebih dari 0,05. Dengan demikian dapat diartikan variabel penelitian yang terdiri atas pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk tidak mengandung heteroskedastisitas.
3. Uji Otokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara kesalahan variabel pengganggu pada periode t dengan periode t-1 pada persamaan linier. Hasil uji autokorelasi dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 3. Hasil Uji Otokorelasi
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1
0.981
0.963
0.956
0.18697
1.206
Sumber : Data sekunder setelah diolah dengan SPSS
Dari hasil pengujian otokorelasi diperoleh nilai koefisien Durbin Watson sebesar 1.206. Nilai dibandingkan dengan nilai Durbin watson tabel untuk n = 20 dan k = 3 dengan (α) 0,05 atau 5 %, maka nilai dL = 0,998 dan dU = 1,676. Berdasarkan nilai dL dan dU tersebut selanjutnya dihitung nilai 4-dL = 4 – 0,998 = 3,002 sedangkan nilai 4 – dU = 4 – 1,676 = 2,324.

Gambar 1













DW = 1,206

B. Analisis Regresi
Untuk mengetahui pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk terhadap PAD Kabupaten Indramayu digunakan metode analisis regresi linear berganda. Berdasarkan perhitungan statistik dengan program SPSS diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Analisis Regresi
Variabel
Koef. Regresi
t hitung
Sig
Konstanta
177.025
4.308
0.001
Pengeluaran pemerintah
0.782
8.267
0.000
PDRB
0.479
2.592
0.020
Jumlah penduduk
-8.585
-4.184
0.121
Sumber : Data sekunder setelah diolah dengan SPSS


LnY = 177.025 + 0,782 Ln X1 + 0,478 Ln X2 – 8,585 Ln X3+ e
t hitung = (4,308) (8,267) (– 4,184)
Koefisien determinasi R2 = 0,981
Adjusted Rsquare = 0,956
F hitung = 138,280
F tabel = 3.239
t tabel = 2.110
α = 0,05

C. Pengujian Secara Statistik
1. Uji Adjusted R Square (Koefisien Determinasi)
Melalui perhitungan statistik diperoleh nilai koefisien determinasi (Adjusted R2) sebesar 0,956 artinya adalah bahwa 95,6 persen naik turunnya nilai PAD dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk sedangkan sisanya sebesar 4,4 persen dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti. Dengan anggapan bahwa variabel lain bersifat konstan (ceteris paribus).
2. Uji F
Pengujian terhadap pengaruh variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk secara bersama-sama berpengaruh terhadap jumlah PAD menggunakan uji F. Hasil uji F dibandingkan dengan F tabel atau dengan nilai alfa 0,05. Nilai F tabel = 3,239.
Dari hasil pengujian tersebut diperoleh F hitung 138,280(sig = 0,000). Jadi F hitung (138,280) > F tabel (3,239), dengan demikian dinyatakan bahwa F hitung berada di daerah penolakan H0, artinya variabel pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap PAD.

Gambar 2





1 F tabel=3,239 Fhitung= 138,280

3. Uji t
Uji t dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari masing-masing variabel bebas (pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk) terhadap variabel tidak bebas atau terikat (PAD) secara parsial. Berdasarkan hasilperhitungan yang terlampir, diperoleh nilai t seperti tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5. Hasil Uji t
No
Variabel independent
t hitung
Sig
t tabel
1
Pengeluaran pemerintah
8.267
0.000
2.110
2
PDRB
2.592
0.020
2.110
3
Jumlah penduduk
-4.184
0.001
2.110
Sumber : Data sekunder setelah diolah dengan SPSS
Berdasarkan hasil uji t diatas maka masing masing variabel secara statistik dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengeluaran Pemerintah
Diperoleh bahwa nilai t hitung variabel pengeluaran pemerintah sebesar 8,267 (sig = 0,000). Nilai t tabel pada tingkat keyakinan 95 persen dan derajat kebebasan 11 adalah sebesar 2,110. Jadi t hitung berada lebih besar dari t tabel ( t hitung : 8,267< t tabel : 2.110 ), sehingga t hitung variabel pengeluran pemerintah berada di daerah H0 ditolak artinya secara parsial variabel pengeluaran pemerintah berpengaruh secara signifikan terhadap PAD dan bersifat positif yaitu berpengaruh meningkatkan PAD.
b. PDRB
Diperoleh bahwa nilai t hitung variabel PDRB sebesar 2,592 (sig = 0,020). Nilai t tabel pada tingkat keyakinan 95 persen dan derajat kebebasan 11 adalah sebesar 2,110. Jadi t hitung berada lebih besar dari t tabel ( t hitung : 2,592< t tabel : 2.110 ), sehingga t hitung variabel PDRB berada di daerah H0 ditolak artinya secara parsial variabel pengeluaran pemerintah berpengaruh secara signifikan terhadap PAD dan bersifat positif yaitu berpengaruh meningkatkan PAD.
c. Jumlah penduduk
Diperoleh bahwa nilai t hitung variabel jumlah penduduk sebesar -4,184 ( sig = 0,001). Nilai t tabel pada tingkat keyakinan 95 persen dan derajat kebebasan 11 adalah sebesar 2,110. Jadi t hitung berada lebih kecil daripada t tabel ( t hitung : -4,184 < t tabel : 2,110 ), sehingga t hitung variabel jumlah penduduk berada di daerahH0 diterima, artinya secara parsial variabel jumlah penduduk berpengaruh tidak signifikan dan berpengaruh negatif terhadap PAD karena hasil dari uji t minus. Ini dikarenakan dalam keterbatasan data yang dimiliki membuat variabel jumlah penduduk menjadi tidak signifikan pada uji t kali ini.



Gambar 3





-t tabel= -2,110 0 t tabel= 2,110

tX3 = -4,184 tX2 = 2,592 tX1 = 8,267
dari gambar 3, dapat dilihat bahwa variabel pengeluaran pemerintah dan PDRB berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah, tetapi pada variabel jumlah penduduk tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah di kabupaten indramayu.
D. Variabel Yang Paling Berpengaruh
Untuk mengetahui variabel bebas yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap variabel tidak bebas, dilakukan dengan cara melihat koefisien elastisitas masing-masing variabel independen dalam penelitian yang memiliki nilai terbesar.
Tabel 6. Nilai elastisitas Masing-Masing Variabel Independen
No
Variabel independen
Koefisien elastisitas
1
Pengeluaran pemerintah
0.782
2
PDRB
0.479
3
Jumlah penduduk
-8.584
Sumber : Data sekunder setelah diolah dengan SPSS
Berdasarkan hasil dari tabel 6, diperoleh nilai koefisien elastisitas untuk variabel pengeluaran pemerintah sebesar 0,782, variabel PDRB sebesar 0,479, dan variabel jumlah penduduk sebesar -8,584. Diketahui bahwa variabel Pengeluaran pemerintah mempunyai nilai koefisien lebih besar dibandingkan variabel PDRB dan jumlah penduduk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pengeluaran pemerintah mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap PAD di Kabupaten Indramayu. Dengan demikian hipotesisi kedua yang menyatakan bahwa variabel pengeluaran pemerintah mempunyai pengaruh paling besar terhap PAD Kabupaten Indramayu, diterima






IV. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa pengeluaran pemerintah, PDRB, dan jumlah penduduk secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap besarnya PAD di Kabupaten Indramayu.
a. Secara parsial pengeluaran pemerintah mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap PAD. Hal ini berarti semakin tinggi pengeluaran pemerintah maka semakin tinggi pula PAD di Kabupaten Indramayu.
b. Secara parsial PDRB mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhdap PAD. Hal ini berarti semakin tinggi PDRB maka akan mempengaruhi pendapatan PAD di Kabupaten Indramayu.
c. Secara parsial jumlah penduduk berpengaruh tidak signifikan dan negatif terhadap PAD di Kabupaten Indramayu. Hal ini berarti semakin meningkatnya jumlah penduduk akan berpengaruh terhadap penurunan PAD.
2. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara parsial variabel yang memberikan pengaruh signifikan terhadap PAD di Kabupaten Indramayu adalah variabel Pengeluaran pemerintah. Hal ini berarti semakin tinggi pengeluaran pemerintah maka semakin tinggi pula PAD di Kabupaten Indramayu
B. Implikasi
1. Untuk meningkatkan PAD Pemerintah Kabupaten Indramayu hendaknya terus meninjau berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pengeluaran pemerintah baik untuk pegawai, peralatan maupun pengeluaran lainnya agar labih efisien dan sesuai dengan anggaran yang ditentukan. Untuk mengembangkan daerahnya, pemerintah daerah diberi wewenang untuk mengelola atau mengatur keuangan daerahnya sendiri-sendiri. Komponen pengeluaran daerah adalah sebagai berikut:
a. Belanja aparatur negara, meliputi belanja administrasi umum, belanja operasional dan pemeliharaan, dan belanja modal.
b. Belanja pelayanan publik, meliputi belanja administrasi umum, belanja operasional dan pemeliharaan, dan belanja modal.
c. Belanja bagi hasil dan bantuan keuangan.
d. Belanja tidak disangka.
Belanja merupakan pengeluaran kas daerah yang menjadi beban daerah dalam periode tahun anggaran tertentu. Pos-pos belanja daerah dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Belanja administrasi umum, adalah belanja tidak langsung dan tidak menambah aset tetap. Misalnya belanja gaji pegawai, listrik, air, telepon, dan pemeliharaan kendaraan.
b. Belanja operasional dan pemeliharaan, adalah belanja yang besar atau kecilnya dipengaruhi oleh adanya kegiatan tetapi tidak menambah aset. Misalnya operasi penertiban pedagang kaki lima.
c. Belanja modal, adalah belanja yang besar atau kecilnya dipengaruhi oleh adanya kegiatan secara langsung dan menambah aset. Misalnya pembangunan gedung, pembelian kendaraan bermotor, dan pembangunan jalan.
d. Belanja bagi hasil dan bantuan keuangan. Belanja ini bersifat langsung tanpa indikator kinerja. Misalnya belanja provinsi untuk alokasi bagi hasil. Alokasi tersebut bisa berupa pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor ke kabupaten atau kota, bantuan kepada organisasi kemasyarakatan, olahraga, dan profesi.
e. Belanja tidak disangka, dialokasikan untuk mendanai kebutuhan daerah yang mendesak untuk dilaksanakan tetapi belum ada anggarannya.
Selain itu Kabupaten Indramayu juga dapat melalakukan dengan menggali potensi yang dimiliki agar PDRB yang dicapai pemerintah dapat meningkat. Untuk jumlah penduduk mungkin pemerintah Kabupaten Indramayu memberikan kebijakan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk sepaya tidak meningkat secara signifikan dikarenakan dapan mempengaruhi PAD.
2. Untuk meningkatkan PAD Pemerintah Kabupaten Indramayu dapat melakukan dengan memberi kemudahan perizinan usaha baru dan memperbaiki fasilitas layanan publik yang telah ada sehingga layak digunakan serta menambah fasilitas pelayanan publik untuk menunjang kegiatan ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
Saragih, Juli P. 2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam Otonomi. Ghalia Indonesia : Jakarta.

Suliyanto. 2011. Ekonometrika Terapan : Teori dan Aplikasi dengan SPSS. Penerbit Andi : Yogyakarta.

Suparmoko. 2001. Ekonomi Publik Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah Edisi Pertama. Penerbit Andi : Yogyakarta.

Gujarati, Damodar. 2000. Ekonometrika Dasar. Erlangga : Jakarta.

Insukindro, 2004. Modul Ekonometrika Dasar. FE UGM. Yogyakarta.

J Supranto. 1989. Statistik Teori dan Aplikasi. Edisi 2. Erlangga : Jakarta.

Suliyanto. 2012. Analisis Regresi Berganda. Purwokerto : Tim UPT. Percetakan dan Penebitan Unsoed.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 BAB III Tentang Pembagian Urusan Pemerintah.

Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
I. INTRODUCTION

A. Research Problem Backgroung
The implementation of regional autonomy, regency and city have a wider authority. This is listed in Bill Number 32 year 2004 about Regional Government. Regional autonomy is a right, authority and responsibility of autonomy region to organize its own governance and local people concerns according to the law. Bill Number 32 year 2004 Chapter III on Government Affairs Division, also explains that Regional Government can run its autonomy as wide as possible to arrange and organize its own governance based on autonomy and assistance duty.
In order to accomplish optimal regional autonomy, must be enfored financial balance between central government and local government. This financial balance is regulated in Bill Number 33 year 2004 about Financial Balance between Central Government and Local Government. Fiscal desetralization regulated in Bill Number 33 year 2004 consisting of three types, those are local tax (tax assignment) revenue sharing, and general allocation fund and private allocation fund. With this fiscal desentralization, the government is expected to be able to optimize its local revenue. Thus, the Local Government is independent in managing its financial and can decrease the dependence on Central Government. This independency can be achieved by optimizing PAD which is sourced from local tax, retribution, result of separated local wealth management, and other legitimate and PAD.
Indramayu Regency is one of regency in West Java Province that hasbeen already running autonomy. Thus the regency has been already implementing Bill Number 32 year 2003 about Local Government. Before the enactment of Bill about regional autonomy, development funding of Indramayu Regency mosty came from the funding of the central government. Along with the regional autonomy which has lasted for 5 years, it is expected that a region can develop rapidly without relying on the central government and the Local Income can increase. There should be a new strategy to jack up PAD of Indramayu Regency. This research is intitled to uncover “Factors Affecting Local Income in Indramayu Regency”.

B. Problem formulation
1. Do government expenditure, Gross Regional Domestic Product, and population have effect on Real Local Income in Indramayu Regency?
2. Which variable among government expenditure, GRDP, and Population that affectis Real Local Income most?
C. Problem Limitation
This research analyzed factors affecting regional Income, and variables used are government expenditure, GRDP, and population in Indramayu Regency year 1993-2012. Other factors affecting Local Income of Indramayu Regency was not discussed in this research.


D. Research Purpose
1. To find out the effect of government expenditure, GRDP, and population on Real Local Income in Indramayu Regency.
2. To find out variable the most affecting on Real Local Income in Indramayu Regency.
E. Research Benefits
1. For researcher, this is as a media to add knowledge and compare theories obtained with the direct application, beside fulfiling a requirement to obtain bachelor degree in Economics Faculty of Jenderal Soedirman.
2. For related institution, it is expected to be able to give input for policy makers especially the Local Government of Indramayu Regency in order to increase local income and in the implementation of regional autonomy.
3. For readers, this research can be used as base of information for further research.
4. To implement the knowledge that has been obtained during in the college in the form of a scientific paper.

F. Mind Framework










G. Hypothesis
1. Factors affecting Real Local Income are government expenditure, GRDP, and Population. Significantly.
a. Partially, government expenditure hasignificant and positive effect on Real Local Income in Indramayu Regency.
b. Partially, GRDP has significant and positive effect on Real Local Income in Indramayu Regency .
c. Partially, population has insignificant and negative effect on Real Local Income in Indramayu Regency.
2. The variable of government expenditure has the biggest influence on Real Local Income in Indramayu Regency.


II. RESEARCH METHOD AND DATA ANALYSIS TECHNIQUE

A. Data Analysis Method
1. Research Type
Method used in this research was descriptive method through literature study and supported by secondary data analysis which were quantitative. Descriptive research is research method that tries to describe and interpret object as it is. With descriptive method, this research made it possible to conduct correlation between variables, testing hypothesis, developing generalization, and developing theories that have universal validity.
2. Research Location.
This research was conducted in Indramayu Regency
3. Data Source
Data used in this research were secondary data. Needed such as: Real Local Income, government expenditure date obtained from BAPPEDA office of Indramayu Regency while GRDP and population data obtained from Statistical Central Agency of Indramayu Regency.
4. Data Type
a. Data of Indramayu Regency year 1993-2012
b. Data of Indramayu Regency government expenditure year 1993-2012.
c. Data of GRDP of Indramayu Regency year 1993-2012.
d. Data of population of Indramayu Regency year 1993-2012.
5. Conceptual Definition
a. Real Local Income is income that generated related region and is a legitimated income.
b. Government expenditure is government expenses up to capital goods, consumption goods and up to services.
c. GRDP is total value added that can be generated by economics activity in an area inside a certain region (BPS, 2003). According to Arsyad (1992 : 163)Gross Regional Domestic Product is an amount of value added caused by many sectors or business field that conducts its business in an area or region without choosing based on production factor.
d. Population is the amount of people that stay or resides in an area or region and having fixed job in that region and listed legally based on the law in the area.The process of recordingor categorizing someone as residentusually based on age that has been set.
6. Operational Definition.
a. Real Local Income is Real Local Income of its area consisted of tax result, local retribution, income from agencies, State Owned Company, etc, counted in thousand rupiah per year. Real Local Income data calculated from 1993-2012, and symbolized with rupiah.
b. Government expenditure used is realization of government development expenses of Indramayu Regency.
c. GRDP used is GRDP based on business field or applied price. Total GRDP data calculated from year 1993-2012 and symbolized by rupiah.
d. Population data used is the amount of people by the end of the year. Population data calculated from 1993-2012.

B. Data Analysis Technic
1. Multiple Linear Analysis
To find out the effect of variable Government Expenditure, GDRP, and population on Real Local Income, it used multiple linear regression as follow.
Y = f(X1, X2, X3)
Where :
Y = Real Local Income
X1 = Government Expenditure
X2 = Gross Regional Domestic Product
X3 = Population
Regression function used in this research wes dynamic method. Dynamic method including descriptive formation of endogenous variables (dependent ) as the function of compilation if exogenous variables (independent ) in the applied time.
a. Classical Assumption Test
To get estimators that is BLUE (best linear unbiased estimator) from least square linear estimator (ordinary least square) then shall comply all classical assumption.
1) Multicollinearity Test
To test the existence of multicollinearity, the method used wes Variance Inflation Factor with the term if the VIF value is above 10 then there is Multicollinearity. In the contrary, if the VIF is lower than 10 then there is no Multicollinearity (Ghozali, 2009).
2) Autocorrelation Test
According to Gujarati (2003) Autocorrelation is a condition where the mistake of one tester in certain period correlated with disturbance mistake of other period.
Autocorrelation testing can be conducted by using Durbin
Watson test. The testing criteria, are as follow.
0 < d < dL : Reject H0,Reject Ho, there is positive Autocorrelation.
4 – dL < d < 4 : Reject Ho, there is no negative Autocorrelation.
du < d < 4 – du : Accept Ho, there is no positive /negative Autocorrelation.
dL < d < du or 4– du < d < 4 – dL : Testing is uncertain.
3) Heteroscedasticity Test
Heteroscedasticity means there is variable variant that is not alike, or constant (Widarjono, 2009). A good regression model is if there is no Heteroscedasticity (Ghozali, 2009). In this research to find out whether there wes Heteroscedasticity or not Glejser test wes used. If the significance value between independent variables with the residual absolute is more than 0,05 then there is no Heteroscedasticity. To detect Heteroscedasticity symptom in this research wes by looking at the Scatter Plot in the result of SPSS analysis. If the result is spread out then there is no Heteroscedasticity, but if it forms a pattern then there is Heteroscedasticity (Ghozali, 2009). Therefore, the equation used for Glejser test wes as follow.
ui = α + βXi + υi
Explanation.
ui = Absolute residual value.
Xi = Independent variable
If β issignificant then there is effect of independent variable on absolute residual valuethus it is stated that there is Heteroscedasticity symptom. And vice versa.
b. Statistics Test
1) Adjusted R2 Test
This Test aims to find out the proportion of variation in related variable that can be explained by variant of some independent variables altogether.If the value of R2 equals to one then the regression line that being matched explains 100 percents variant in Y. In the contrary if the value of R2 equal to 0 then the regression line doesnot explain variant in Y at all. Match in the model is said better if the value of R2 is closer to one.
2) F Test
According to Gujarati (2003) to test the effect jointly among independent variables on dependent variables, used F test formula is used (Ghozali, 2009).
Testing criteria
a. If Fstatistic < Ftable, then Ho is accepted. This means independent variables jointly have no effect on the amount of Real Local Income in Indramayu Regency.
b. If Fstatistic > Ftable then Ho is rejected. This means independent variables jointly have effect on the amount of Real Local Income in Indramayu Regency.
3) T Test
to decrease whether each independent variables have significant effect on dependent variables, used formula of t test as follow. was used
a. Ho is accepted if tstatistic < ttable or – tstatistic > -ttable. This means independent variables Partially have no significant effect on dependent variables with the degree of confidence of 95% (α=0,05) and df=n-k.
b. Ho is rejected if tstatistic > ttable or – tstatisti < ttable. This means independent variables partially have effect on dependent variables with the degree of confidence 95% (α=0,05) and df=n-k.
c. Variable with the most effect
Elasticity test is used to find out the dependent variable government expenditure. This elasticity test was conducted by looking at the value of elasticity coefficient of each independent variable in the multiple linear regression model in this research because that function has been transformed into natural logarithm of linear function.

III. RESULT AND DISCUSSION

A. Classical Assumption Test
1. Multicollinearity Test
Testing whether is there is Multicollinearity or on is seen from the value of tolerance or VIF of each variables. Generally, VIF is higher than 10 then the variable experiencing Multicollinearity problem. While tolerance value is said to be free from Multicollinearity problem if the value is less than 1.
Table 1. Multicollinearity Test
No
Variable
Collinearity Statistics


Tolerance
VIF
1
Goverment Expenditure
0.111
8.994
2
GRDP
0.142
7.024
3
Population
0.121
8.282
Source: Secondary data after processed with SPSS
From the result of multicollinearity analysis in Table 1 above, it could be known that the value of tolerance and VIF for govermrnt expenditure variable was 0,111 and VIF was 8,994 for the variable GRDP at 0,142 and VIF was 7,024 for the population at 0,121 and VIF was 8,282. From the analysis result, it could be clearly seen that no independent variable had more than 10 for the VIF value and the tolerance value of each variable was less than 1. Therefore, it could be concluded that all independent variables did not have correlation, so that multicollinearity did not occur.
2. Heteroscedasticity Test
Heteroscedasticity testing was conducted by using Glejser method. Heteroscedasticity test result can be seen in table 2




Table 2. Heteroscedasticity Test
No
Variable
Sig.
1
Goverment Expenditure
0.068
2
GRDP
0.637
3
Population
0.096
Source: secondary data processed with SPSS.
Based on table 2, it can be known the significance value is more than 0,05. Therefore can be said that research variable consisting of government expenditure, GDRP, and population contain no Heteroscedasticity.
3. Autocorrelation Test
Autocorrelation test wes conducted to find out the existence of correlation between disturbance variable mistake in the t period with t-1 period in the linear equation. The result of Autocorrelation test can be seen in table 3.
Table 3. Autocorrelation Test Result
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1
0.981
0.963
0.956
0.18697
1.206
Source : Secondary data after processed with SPSS.
The result of Autocorrelation test obtains coefficient value of Durbin Watson of 1,206. The value was compared with the value of Durbin Watson table for n=20 and k=3 with α 0,05 or 5% then dL value =0,998 and dU=1,676.Based on dL and
dU value, then calculated the value of 4 – dL=4-0,998=3,002 while the value of 4 – dU=4-1,676=2,324.

Image 1













DW = 1,206


B. Regression Analysis
To find out the effect of government expenditure, GRDP, and population on Real Local Income of Indramayu Regency. Multiple linear regression analysis method. Was used the statistics calculation obtains multiple linear regression equation as follow.
Table 4. Regression Analysis Result
Variable
Koef. Regresi
t statistic
Sig
Konstanta
177.025
4.308
0.001
Goverment Expenditure
0.782
8.267
0.000
GRDI
0.479
2.592
0.020
Population
-8.585
-4.184
0.121
Source: secondary data processed with SPSS
.
LnY = 177.025 + 0,782 Ln X1 + 0,478 Ln X2 – 8,585 Ln X3+ e
t statistic = (4,308) (8,267) (– 4,184)
R2determination coefficient = 0,981
Adjusted Rsquare = 0,956
F statistic = 138,280
F table = 3.239
t table = 2.110
α = 0,05

C. Statistically Testing
1. Adjusted R Square Test (Determination Coefficient)
Through statistics test, it obtains coefficient determination value (Adjusted R2) of 0,956 which means that 95,6 percent of the ups and down of Real Local Income is affected by government expenditure, GRDP, and poulationwhile the rest of 4,4 in percent affected by other variable that not being studied. With the consideration that other variables remain constant.
2. F Test
Testing on the effect of independent variables in this research were government expenditure, GRDP, and population jointly have influence on the amount of Real Local Income using F test. The result of F test was compared to Ftable or with the alpha value 0,05. The value of Ftable= 3,239.
The calculation result obtains Fstatistic of 138,280 (sig=0,000). So Fstatistic (138,280) > Ftable (3,239) therefore stated that Fstatistic lies in Ho rejection area. This means that the variables of government expenditure, GRDP, and population jointly have significant influence on Real Local Income.




Image 2.





0 F table=3,478 F statistic= 92,243
3. T test
T test was conducted to find out to what externt is the effect of each independent variable (government expenditure, GRDP, population ) on dependent variable (Real Local Income ) partially. Based on the calculation result attached, obtained the value of t as in table 5 below.
Table 5. T test result.
No
Independent Variable
t statistic
Sig
t table
1
Goverment Expenditure
8.267
0.000
2.110
2
GRDP
2.592
0.020
2.110
3
Population
-4.184
0.001
2.110
Source: secondary data processed with SPSS.
Based on the t test result above then each variables statistically can be explained as follow.
a. Government Expenditure
The value of tstatistic of government expenditure variable is 8,267 (sig=0,000). The value of t table in the level of confidence of 95% and degree of freedom 11 is 2,110. So the value of t statistic lies bigger than ttable (tstatistic : 8,267< ttable : 2.110), therefore tstatistic of the variable government expenditure lies in the area of Ho rejected. That means partially variable of government expenditure hassignificant effect on Real Local Income and positive means has effect in increasing Real Local Income.
b. GRDP
The value of tstatistic of variable GRDP is 2,592 (sig=0,020). The value of t table in level of confidence 95 percents and degree of freedom 11 is by 2,110. So t statistic lies bigger than t table (t statistic; 2,592<t table: 2,110). Thus, tstatistic variable of GRDP lies in Ho of rejected area it means partially, the variable of government expenditure has significant effect on Real Local Income and positive which means affecting to increase Real Local Income.


c. Population
The value of t statistic of variable population is -4,184 (sig=0,001). The value of t table in the level of confidence 95 percents and degree of freedom 11 is 2,110. So tstatistic lies smaller than ttable (tstatistic: -4,184< ttable: 2,110). Thus tstatistic of the variable population lies in Ho accepted area. That means partially the variable of population has insignificant effect and negative on Real Local Income because the result of t test is minus. This is caused by limit of data owned makes the variable of population becomes insignificant in t test this time.

Image 3.


Rejection Area Ho Rejection Area Ho
Acceptance Area
Ho

-t table= -2,110 0 t table= 2,110
tX3 = -4,184 tX2 = 2,59 tX1 = 8,267
From image 3, it can be seen that the variable of government expenditure and GRDP have significant effect on Real Local Income, but the variable of population has no significant effect on Real Local Income in Indramayu Regency.

D. Variable with the most influence
To find out which independent variable that have the biggest effect on dependent variable, it was conducted by looking at the elasticity coefficient of each independent variable in the research that heaving the biggest value.
Table 6. Elasticity Value of Each Independent Variables
No
Independen Variable
Coefficient elasticity
1
Goverment Expenditure
0.782
2
GRDP
0.479
3
Population
-8.584
Source: secondary data after processed with SPSS
Based on the result from table 6, it obtains the value of coefficient elasticity for the variable of government expenditure is 0,782, the variable of GRDP by 0,479, the variable of population is -8,584. It is known that the variable of Government Expenditure has bigger coefficient value than GRDP and population. Thus, it can be concluded that the variable of government expenditure has the biggest influence on Real Local Income in Indramayu Regency. Therefore, the hypothesis stating that variable of go expenditure has the biggest influence on Real Local Income, is accepted.

IV. CONCLUSION AND IMPLICATION

A. Conclusion
1. Based on this research Renault, the government expenditure, GRDP, and population jointly have significant influence on the amount of Real Local Income in Indramayu Regency.
a. Partially, government expenditure has significant and positive influence on Real Local Income. This means the higher the government expenditure the higher the Real Local Income in Indramayu Regency.
b. Partially, GRDP has significant and positive influence on Real Local Income. This means the higher GRDP will affect Real Local Income in Indramayu Regency.
c. Partially, population has insignificant and negative influence on Real Local Income in Indramayu Regency. This means the increase in population will affect the decrease on Real Local Income.
2. The research result shows that partially variable that gives significant influence on Real Local Income in Indramayu Regency is the variable of Government expenditure. This means the higher the government expenses, the higher the Real Local Income in Indramayu Regency.

B. Implications
1. To increase Real Local Income the Government of Indramayu Regency, supposedly it keeps observing many policies related to government expenditures either for employees, equipment or other expenses in order to be more efficient and appropriate to the budget set. To develop its region, the regional government akould be given the authority to manage and arrange its own financial. The components of regional expenses are as follow.
a. State apparatus expense, including general administration expense, maintenance and operational expense, and capital expense.
b. Public service expense, including public administration expense, maintenance and operational expense, and capital expense.
c. Dividend sharing expense and financial aid.
d. Unexpected expense.
Expense is regional cash expense which is burden of the region in certain period year budget. Regional expenses posts can be explained as follow.
a. Public administration expense is indirect expense and doesnot add fixed asset. Such as employees salary expense, electricity, water, telephone, and vehicle maintenance.
b. Operational and maintenance expense is expenseaffected by activity but doesnot add asset. Such as operation of regulating street vendors.
c. Capital expense is expense affected by direct activity and adds asset. Such as building development, purchase of motor vehicle, and road construction.
d. Sharing dividend expense and financial aid. This expense is direct without working indicator. In example, province expense for sharing dividend allocation. That allocation can be motor vehicle tax and motor vehicle name transfer tax to the regency or city, aid for people’s organization, sports, and profession.
e. Unexpected expense is alocated to fund pressing matter of the region to be conducted but there is no budget yet.
Other than that, Indramayu Regency can develop potency owned so that GRDP achieved by the government can increase. For population, the government of Indramayu Regency gives policy to reduce the growth rate in order not to increase significantly because it can affect Real Local Income.
2. To increase Real Local Income the government of Indramayu Regency can ease new business licensing and improve public services facility. Thus become more decent to be used and also add public services facility to support economic activity.

REFERENCES
Insukindro, 2004. Modul Ekonometrika Dasar. FE UGM. Yogyakarta.

Gujarati, Damodar. 2000. Ekonometrika Dasar. Erlangga : Jakarta.

Saragih, Juli P. 2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam Otonomi. Ghalia Indonesia : Jakarta.

Suliyanto. 2011. Ekonometrika Terapan : Teori dan Aplikasi dengan SPSS. Penerbit Andi : Yogyakarta.

Suparmoko. 2001. Ekonomi Publik Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah Edisi Pertama. Penerbit Andi : Yogyakarta.

Supranto, 1989. Statistik Teori dan Aplikasi. Edisi 2. Erlangga : Jakarta.

Suliyanto. 2012. Analisis Regresi Berganda. Purwokerto : Tim UPT. Percetakan dan Penebitan Unsoed.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 BAB III Tentang Pembagian Urusan Pemerintah.

Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.







98089715A1C010079ANALISIS EKUITAS MEREK KECAP BANGO DI KECAMATAN NUSAHERANG KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARATTerjadi penurunan market share, kepuasan konsumen dan loyalitas konsumen kecap Bango yang merupakan brand leader untuk kategori kecap manis. Isu tersebut diperkuat dengan terjadinya penurunan penjualan kecap Bango di Kabupaten Kuningan selama tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan mengetahui ekuitas merek kecap Bango yang terdiri dari 1)Kesadaran Merek, 2)Asosiasi Merek, 3)Persepsi Kualitas, 4)Loyalitas Merek.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2014. Jumlah sampel sebanyak 55 ibu rumah tangga yang pernah mengkonsumsi kecap Bango selama dua bulan terakhir. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode snow ball sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, uji cochran, importance and performance analysis, dan piramida loyalitas merek.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1)Konsumen yang menempatkan kecap Bango sebagai top of mind sebesar 85,45 persen dan recall sebesar 14,54 persen, 2)Terdapat tujuh asosiasi merek yang membentuk citra merek kecap Bango diantaranya rasa enak, kekentalan pas, harga terjangkau, merek terkenal, mudah meresap dalam masakan, mudah didapat, dan informasi kemasan lengkap, 3)Nilai rata – tata total performance atribut kecap Bango yaitu sebesar 4,276 lebih besar dari rata – rata total importance yaitu sebesar 4,058. Hal ini berarti kinerja atribut pada kecap Bango memenuhi harapan konsumen terhadap produk tersebut, 4)Loyalitas konsumen Kecap Bango baik karena hanya memiliki jumlah switcher buyer sebesar 7,27 persen. Jumlah habitual buyer sebesar 32,73 persen, jumlah satisfied buyer sebesar 85,45 persen, jumlah liking the brand buyer sebesar 92,73 persen, meskipun jumlah committed buyer hanya sebesar 25,45 persen.
There was a decraese in market share, customer satisfaction and customer loyalty of Bango soy sauce that brand leader in the category of sweet soy sauce. That issue was strong with decraese in sales of Bango soy sauce in Kuningan Regency during the last three years. This research was aimed to know the brand equity of Bango soy sauce consisting of 1)Brand Awareness, 2)Brand Association, 3)Perceived Quality, 4)Brand Loyalty.
This research was conducted in April – May 2014. The number of sample 55 housewives who ever consumed Bango soy sauce over the last two months. Sampling was done by using the snow ball sampling method. Data was analyzed by using descriptive analysis, Cochran test, importance and performance analysis and pyramid of brand loyalty.
Research results showed that 1)Consumer who put Bango soy sauce as a top of mind is 85,45 percent and recall is 14,45 percent, 2)There are seven attribute that make up the brand image of Bango soy sauce such good taste, viscosity fitting, reasonably priced, well-known brand, easily absorbed in cooking, easy to obtain and complete packaging information, 3)Average value of total performance of Bango soy sauce’s attribute that is 4,276 bigger than average value of total importance that is 4,058. It means that attribute work suitable with consumers expectation toward the product, 4)Consumer loyalty of Bango soy sauce is good because has a switcher buyer amount 7,27 percent, 32,73 percent for habitual buyer, satisfied buyer at 85,45 percent, liking the brand buyer at 92,73 percent and just 25,45 percent for committed buyer.
98099716A1C010006FAKTOR-FAKTOR YANG BERKORELASI DENGAN MOTIVASI PERAJIN DALAM MENGUSAHAKAN GULA KRISTAL DI DESA KEMAWI KECAMATAN SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMASGula kristal adalah salah satu produk agroindustri yang berbahan baku nira kelapa. Pembuatan gula kristal merupakan salah satu bentuk diversifikasi produk yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan pelaku usaha gula kelapa, terutama bagi perajin karena harga jualnya yang lebih mahal dibandingkan gula kelapa cetak. Salah satu desa di Kecamatan Somagede yang mengusahakan gula kristal adalah Desa Kemawi. Meskipun banyak perajin yang mulai mengusahakan gula kristal, namun sebagian besar dari perajin tersebut masih mengusahakan gula kelapa cetak dan hanya kadang-kadang saja memproduksi gula kristal. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui tingkat motivasi yang dimiliki perajin dalam mengusahakan gula kristal dan (2) mengetahui faktor-faktor apa saja yang memiliki hubungan dengan motivasi perajin dalam mengusahakan gula kristal.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kemawi Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas, mulai tanggal 3 Juni sampai 10 Juli 2014. Sasaran penelitian ini adalah perajin gula kristal. Metode penelitian dilaksanakan dengan mtode survei. Rancangan penentuan responden menggunakan metode sensus dengan jumlah perajin sebanyak 58 orang. Metode analisis yang digunakan yaitu uji validitas dan reliabilitas kuisioner, analisis deskriftif untuk menggambarkan usaha gula kristal, metode pengukuran skala Likert’s untuk mengetahui skor motivasi dan metode korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan motivasi perajin dalam mengusahakan gula kristal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat motivasi perajin dalam mengusahakan gula kristal tergolong tinggi. Motivasi tinggi dari perajin terbentuk dari faktor pendorong baik berupa harga jual tinggi, pendapatan yang lebih tinggi, mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, kemudahan menjual, keinginan untuk tetap mengusahakan gula kristal dan kesadaran perajin mengikuti penyuluhan dan (2) Terdapat hubungan signifikan antara jumlah tanggungan keluarga dan lembaga penyuluhan dengan tingkat motivasi perajin dalam mengusahakan gula kristal. Sedangkan hubungan antara umur, tingkat pendidikan, lama usaha, sifat kosmopolit perajin dan informasi yang didapat dengan tingkat motivasi perajin dalam mengusahakan gula kristal tidak signifikan.
Crystals sugar are one agroindustri products are made from raw coconut sap. Making crystals sugar is a form of diversification of products are being made to increase revenues regular coconut sugar businesses, especially for artisans because the selling price is more expensive than regular coconut sugar. One of the village in the district who seek Somagede crystals sugar are Kemawi village. Although many artisans who began seeking crystals sugar, but most of the craftsmen still seeking regular coconut sugar and just occasionally produce crystals sugar. This study aims to: (1) to know the level of motivation of artisans in getting crystals sugar and (2) to know the factors that has correlation with motivation artisans in getting crystals sugar.
The research was conducted in the village of Kemawi District of Banyumas Somagede starting on 3 June to 10 July 2014. Objective of this research is crystal sugar artisans. The research conducted by survey method. The draft determination using the method of census respondents by the number of artisans as many as 58 people. The analytical method used is the validity and reliability of questionnaires, descriptive analysis to describe the business of sugar crystals, Likert's scale of measurement methods to determine the motivation scores and Spearman Rank correlation methods to determine the relationship between the internal and external factors motivated artisans in getting crystals sugar.
Research results showed that: (1) The level of motivation artisans in getting crystals sugar is high. High motivation of artisans formed from a driving factor in the form of high selling prices, higher incomes, are able to meet the needs of family life, the ease of selling, the desire to keep the sugar crystals and cultivates awareness crafters follow extension and Research results showed that: (1) The level of motivation artisans in getting crystals sugar is high. High motivation of artisans formed from a driving factor in the form of high selling prices, higher incomes, are able to meet the needs of family life, the ease of selling, the desire to keep the sugar crystals and cultivates awareness crafters follow extension and (2) there is a significant correlation between the number of dependents family and the axtension counseling with motivation levels artisans in getting of crystals sugar. While the correlation between age, education level, long duration of the trade, cosmopolit character and information obtained with the motivation level artisans in getting the crystals sugar are not significant.
981010831E1A010095PENJATUHAN HUKUMAN DISIPLIN POLRI DI SEKOLAH POLISI NEGARA PURWOKERTO (Kajian Terhadap Penerapan PP Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Republik Indonesia)Polri merupakan salah satu fungsi pemerintahan negara yang bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia. Peranan Polri yang berhubungan langsung dengan masyarakat menyebabkan adanya suatu penyimpangan, salah satunya yaitu kasus penyalahgunaan wewenang dalam penerimaan calon anggota Kepolisian Republik Indonesia dan juga merupakan kasus tindak pidana penggelapan yang terjadi di Sekolah Polisi Negara Purwokerto. Adapun yang menjadi permasalahan yaitu bagaimanakah penegakan hukuman disiplin Polri yang melakukan tindak pidana di SPN Purwokerto dan upaya apa yang harus dilakukan SPN Purwokerto untuk mencegah agar anggota Polri tidak melakukan pelanggaran disiplin dan juga tindak pidana.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan spesifikasi penelitian preskriptif, serta dengan menggunakan metode pendekatan yuridis-normatif. Kesimpulan dari penelitian adalah penegakan hukum dan disiplin terhadap anggota Polri yang melakukan pelanggaran disiplin diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Polri. Sanksi disiplin bagi anggota Polri yang melakukan penggelapan adalah diberhentikan secara tidak hormat, sesuai dengan Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 Tentang Pemberhentian Anggota Polri. Upaya yang harus dilakukan oleh SPN Purwokerto dalam menciptakan disiplin anggota Polri yaitu dapat berupa upaya preventif yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin dan juga upaya represif yang dilakukan sesuai prosedur penyelesaian pelanggaran disiplin yang telah dilakukan oleh anggota Kepolisian Republik Indonesia.
Police is one of the functions of state administration which includes the maintenance of public order and safety, order and rule of law, protection terselenggranya, shelter, and service to the community, as well as on building public tranquility to uphold human rights. Role of the Police who deal directly with the public led to a bias, one of which is the case of abuse of authority in receipt of prospective members of the Indonesian National Police, and is also a criminal offense embezzlement cases that occurred in the State Police School Navan. As for the problem, namely how the enforcement of disciplinary punishment Police who commit criminal offenses in the NES Navan and effort what to do SPN Purwokerto to prevent members of the police not disciplinary offenses and criminal offenses.
The method used in this study using prescriptive research specifications, as well as by using a normative juridical approach. The conclusion of the study is the rule of law and discipline of the members of the police who commit disciplinary offenses stipulated in Government Regulation No. 2 of 2003 on Police Discipline Regulations. Disciplinary sanctions for police officers who commit fraud was dishonorably discharged, in accordance with Article 11 of Government Regulation No. 1 of 2003 on Termination Police. Efforts must be made by SPN Purwokerto in creating a disciplined member of the Police which can be a preventive effort that works to prevent violations of discipline and repressive efforts undertaken in accordance settlement procedure disciplinary offense which has been committed by members of the Indonesian National Police.
98116208C1A009062Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Permintaan Listrik Prabayar Kelompok Rumah Tangga Di PurwokertoPenelitian ini berjudul “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Permintaan Listrik Prabayar Kelompok Rumah Tangga di Purwokerto”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel bebas Tarif Listrik, Daya Listrik Terpasang, Jumlah Anggota Rumah Tangga, Jumlah Ruangan Rumah, dan Stok Alat-Alat Listrik terhadap permintaan Listrik Prabayar kelompok Rumah Tangga di Purwokerto serta untuk mengetahui variabel bebas yang paling elastis hubungannya terhadap permintaan Listrik Prabayar kelompok Rumah Tangga di Purwokerto.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan menggunakan analisis data primer. Data diperoleh dari hasil wawancara dan penyebaran kuisioner. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah Propotionate Stratified Random Sampling. Alat analisis yang digunakan adalah Regresi Logaritma Natural Berganda dengan model statistik untuk pengujian secara parsial menggunakan Uji t dan secara bersama-sama menggunakan Uji F. Untuk mengetahui penyimpangan asumsi klasik dalam penelitian ini di gunakan Uji Multikolinearitas, Uji Autokorelasi, Uji Heteroskedastisitas.
Berdasarkan hasil perhitungan Uji F dapat diketahui bahwa variabel Tarif Listrik, Daya Listrik Terpasang, Jumlah Anggota Rumah Tangga, Jumlah Ruangan Rumah, dan Stok Alat-Alat Listrik secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap permintaan Listrik Prabayar kelompok Rumah Tangga di Purwokerto. Sedangkan berdasarkan Uji t dapat diketahui bahwa variabel Daya Listrik Terpasang dan Stok Alat-Alat Listrik secara parsial berpengaruh signifikan terhadap permintaan Listrik Prabayar kelompok Rumah Tangga di Purwokerto, namun variabel Tarif Listrik, Jumlah Anggota Rumah Tangga dan Jumlah Ruangan Rumah tidak berpengaruh signifikan. Stok Alat-Alat Listrik merupakan variabel yang paling elastis hubungannya terhadap permintaan Listrik Prabayar kelompok Rumah Tangga di Purwokerto.
Implikasi dari penelitian ini adalah pelanggan Listrik Prabayar Kelompok Rumah Tangga di Purwokerto perlu memperhatikan variabel yang berpengaruh terhadap permintaan Listrik Prabayar kelompok Rumah Tangga di Purwokerto, diantaranya : Daya Listrik Terpasang dan Stok Alat-Alat Listrik. Selain itu PLN diharapkan dapat meninjau kembali dan memperbaiki kinerjanya khususnya dalam layanan Listrik Prabayar, baik itu secara administratif maupun secara teknis. PLN diharapkan dapat menyediakan data pelanggan Listrik Prabayar berdasarkan klasifikasi wilayah yang lebih sempit, guna mempermudah dalam mengawasi dan mengatasi adanya pungutan liar yang dilakukan oleh para petugas instalator PLN. PLN juga harus menetapkan aturan yang tegas untuk para petugas instalator PLN yang melakukan pungutan liar.
The tittle of research is examine “The Factor are Influence Prepaid Electricity to Household Group of Demand in Purwokerto Region”. The purpose of research is to know how influence independent variabel : Electricity tariff, The power electricity to be used, The number of household members, The number of electricity room, and Electric device of supplies toward Prepaid Electricity Household Group of Demand in Purwokerto Region and to know what the most elesticity of independent variable influence related to Prepaid Electricity Household Group of Demand in Purwokerto Region.
The research using survei methods with primary data analyse approach. The primary data acquired from interview and questioner result. The sampling techniq using Propotionate Stratified Random Sampling. The analise tools are Natural Logaritm of Multiple Regression with statistic model put to tes partially using t and F Test simulteneously. This reseach of test using Multicolinieritas, Aoutocorelation and Heterocadisitas Test.
Based on the result calculation use F Test known that Electricity tariff, The power electricity to be used, The number of household members, The number of electricity room, and Electric device of supplies are influence significant simulteneously toward Prepaid Electricity Household Group of Demand in Purwokerto Region. Based on the result calculation use t Tes known that The power electricity to be used and Electric device of supplies are influence significant simulteneously toward Prepaid Electricity Household Group of Demand in Purwokerto Region. Yet, Electricity tariff, The number of household members and The number of electricity room variabel are not influence significantly. Electric device of supplies is the most elasticity of variabel corelated with Prepaid Electricity Household Group of Demand in Purwokerto Region.
The research of output are costumer Prepaid Electricity Group of Household in Purwokerto Region need to know that the most variabel influencing them are : The power electricity to be used and Electric device of supplies. Hopingly, The PLN considering it and improve costumer satisfication service in particular with prepaid electricity, technically support, and administrasion service performance as well. PLN was expected to provide the costumer’s prepaid electricity data based on narrower area clasiffication, this is used to help the institution to keep watch and anticipate any kind of illegal levies which is sometimes done by the electrical installation officer. PLN should also set the strict rules to them that do some kind of illegal levies to the costumer.
98129717E1A010222URGENSI JUSTICE COLLABORATOR DALAM PENGUNGKAPAN KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 59/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst)Tindak pidana korupsi sudah meluas dalam masyarakat, baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian negara. Untuk dapat mengungkap pelaku tindak pidana korupsi yang mempunyai kedudukan ekonomi dan politik yang kuat tersebut tentunya membutuhkan keberanian dan saksi yang secara langsung mengetahui perbuatan tindak pidana korupsi tersebut, yang disebut justice collaborator. Peranan saksi sebagai justice collaborator sangat penting dan dibutuhkan dalam proses pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia, yang mana jumlah kasusnya masih tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui urgensi justice collaborator dalam pengungkapan kasus tindak pidana korupsi di Indonesia, dan untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memutus seorang terdakwa yang sekaligus merupakan justice collaborator. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Yuridis Normatif yaitu dengan cara menelaah bahan pustaka (data sekunder) yang ada. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif kualitatif yaitu mengolah dan menafsirkan berdasarkan pada putusan maupun perundang-undangan yang berkaitan dengan penelitian.
Penelitian yang dilakukan dari Putusan Nomor: 59/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst diperoleh hasil sebagai berikut: Urgensi justice collaborator dalam pengungkapan kasus tindak pidana korupsi dalam Putusan No. 59/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst yaitu, a.) Membantu aparat penegak hukum dalam menemukan alat-alat bukti dan tersangka lain yang signifikan; b.) Posisi justice collaborator sangat relevan bagi sistem peradilan pidana Indonesia untuk mengatasi kemacetan prosedural dalam pengungkapan suatu kejahatan terorganisir dan sulit pembuktiannya; c.) Memudahkan pembuktian dan penuntutan. Majelis Hakim memberikan vonis putusan yang terlalu tinggi untuk terdakwa II, dan juga tidak mempertimbangkan Kosasih sebagai justice collaborator dalam hal-hal yang meringankan bagi terdakwa II dalam Putusan No. 59/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst.
Corruption has been widespread in the society, both from the number of cases and the amount of loss to the state. To be able to uncover the perpetrators of corruption that have strong both of economy and political position, of course requires courage from witness that directly knows the act of corruption, which is called the justice collaborator. The role of the witness as a justice collaborator is very important and necessary in the process of combating corruption in Indonesia, where the number of cases is still high.
This study aims to find the urgency of justice collaborator in the disclosure of corruption cases in Indonesia, and to find the consideration of the judge in deciding a defendant who was also a justice collaborator. This study used a normative juridical approach to examine available library materials (secondary data). The method used in this study is qualitative normative that the process and the interpretation is based on a decision or regulation relating to research.
Research conducted on the verdict No. 59/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst obtained the following results: Urgency justice collaborator in the disclosure of corruption cases in verdict No. 59/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst are, a.) To assist law enforcement in finding evidence and other suspects were significant; b.) The position of justice collaborator is highly relevant for the Indonesian criminal justice system to address the procedural bottlenecks in the disclosure of an organized crime and difficult of proof; c.) Make it easier to verification of evidence and prosecution. The judges give a verdict is too high for the second defendant, and also did not consider Kosasih as a justice collaborator in terms of mitigating circumstances for the second defendant in verdict No. 59/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst.
98139705C1K010044AN ASSESSMENT ON IMPRESSION MANAGEMENT TACTICS, ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB), SUPERVISOR’S LIKING AND PERFORMANCE APPRAISAL OF EMPLOYEE IN PURWOKERTOTujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana pengelolaan kesan dapat mempengaruhi proses evaluasi kinerja. Penelitian dilakukan di beberapa toko di sekitar Universitas Jenderal Soedirman. Dengan menggunakan metode survei, 100 kuesioner tersebut didistribusikan kepada para karyawan toko. Penelitian ini menggunakan Partial Least Square (PLS) sebagai metode penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa supervisor-focused tactics memiliki pengaruh positif pada supervisor ratings of OCB dan supervisors liking. Job-focused tactics memiliki pengaruh negatif pada supervisor ratings of OCB dan supervisors liking. Physical attractiveness memiliki pengaruh positif pada supervisors liking. Supervisor ratings of OCB memiliki pengaruh positif pada supervisor liking. Supervisor ratings of OCB memiliki pengaruh positif pada penilaian kinerja. Supervisors liking berpengaruh positif terhadap penilaian kinerja.The purpose of this research is to explore how impression management can affect the process of performance evaluation. The research was conducted in several stores around Jenderal Soedirman University. By using survey method, 100 questionnaires were distributed among the employees of these stores. This study used Partial Least Square (PLS) as the method of research. The results of this research show that supervisor-focused tactics have positive influence on supervisor ratings of OCB and supervisors liking. Job-focused tactics have negative influence on supervisor ratings of OCB and supervisors liking. Physical attractiveness has positive influence on supervisors liking. Supervisor ratings of OCB have positive influence on supervisors liking. Supervisor ratings of OCB have positive influence on performance appraisal. Supervisors liking has positive influence on performance appraisal.
98149718D1E010261SUPLEMENTASI TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera) PENGARUHNYA TERHADAP KONSENTRASI NITROGEN-AMONIA DAN ASAM LEMAK ATSIRI CAIRAN RUMEN SAPI POTONGSuatu penelitian yang bertujuan untuk mengkaji pengaruh tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap konsentrasi nitrogen-amonia dan asam lemak atsiri cairan rumen sapi potong telah dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2014. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung daun kelor, pakan yang terdiri dari rumput dan konsentrat dengan perbandingan 40:60. Konsentrat terdiri dari dedak padi 30%, onggok 20%, bungkil kelapa 20%, jagung giling 20%, Pollard 9%, dan mineral mix 1 %. Cairan rumen sapi diambil dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) segera setelah sapi dipotong. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental, Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan setiap perlakuan diulang 5 kali, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Perlakuan tersebut yaitu P0 : pakan tanpa tepung daun Moringa oleifera, P1 : pakan ditambah 7,5% tepung daun Moringa oleifera, P2 : pakan ditambah 15% tepung daun Moringa oleifera, P3 : pakan ditambah 22,5% tepung daun Moringa oleifera. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji Orthogonal Polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun Moringa oleifera berpengaruh secara linier terhadap konsentrasi Volatile Fatty Acid (VFA) total dengan persamaan Y= 95,6 – 0,586x, koefisien determinasi (r2)= 0,09 dan terhadap konsentrasi N-NH3 dengan persamaan Y= 8,15 + 0,1x, koefisien determinasi (r2) = 0,54. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Penambahan tepung daun Moringa oleifera pada ransum sapi potong sampai 22,5% dapat meningkatkan konsentrasi N-NH3, namun menurunkan konsentrasi VFA.The aimed of this study was to assess the effect of Moringa oleifera leaf meal on the concentration of ammonia and volatile fatty acids of beef cattle rumen fluid was carried out from August to September 2014. The material used in this study is the Moringa leaf meal, basal feed consisted of grass and concentrate with a ratio of 40:60. Concentrate is composed of 30% rice bran, 20% cassava-by product, 20% coconut meal, 20% corn ground, 9% Pollard, and 1% mineral mix. Cattle rumen fluid was taken from the slaughter house as soon as the cattle slaughtered. The research method is experimental, completely randomized design (CRD) with 4 treatments, each treatment was 5 replicated, so there are 20 experiments unit. The treatmen P0 : basal feed without Moringa oleifera leaf meal, P1: basal feed plus 7.5% leaves meal of Moringa oleifera, P2 : basal feed plus 15% Moringa oleifera leaf meal, P3: basal feed plus 22.5% Moringa oleifera leaf meal. Data were analyzed using analysis of variance and the test Orthogonal Polynomials. The results showed that the addition of Moringa oleifera leaf meal affects linearly with the concentration of total Volatile Fatty Acids (VFA) by the equation Y = 95.6 - 0,586x, r2 = 0.09 and the concentration of N-NH3 with the equation Y = 8.15 + 0.1x, r2 = 0.54. The conclusion of this study is the addition of Moringa oleifera leaf meal in beef cattle diets to 22.5% can increase the concentration of N-NH3, but decrease concentrations of VFA.
981510823E1A009221PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KARDINAH KOTA TEGALABSTRAK
PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KARDINAH KOTA TEGAL
Ariawan
E1A009221
Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah landasan hukum untuk menjamin Pegawai Negeri Sipil dan dapat dijadikan dasar untuk mengatur penyusunan aparatur Negara yang baik dan benar. Dilingkungan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah Kota Tegal sendiri telah terjadi pelanggaran Disiplin Pegawai Negeri Sipil, seperti tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama beberapa hari hari,pelanggaran terlambatnya Pegawai Negeri Sipil masuk kantor bahkan ada yang pulang sebelum jam pulang kantor. Hal ini tentu menghambat upaya pemerintah dalam mewujudkan penyelenggaran pemerintah yang Produktif, Efisien, Efektif, Ekonomis, Berdaya guna dan berhasil guna, dengan adanya perilaku Pegawai Negeri Sipil yang kurang mematuhi peraturan disiplin. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan peraturan pemerintah tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil di RSUD Kardinah Kota Tegal dan apa saja hambatan – hambatan didalam penerapannya. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dan spesifikasi penelitian deskriptif. Lokasi penelitian di RSUD Kardinah, PII Fakultas Hukum Unsoed dan Perpustakaan Pusat Unsoed. Jenis data menggunakan Data Sekunder dengan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yang disusun secara sistematis. Data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian ini memberikan simpulan bahwa Penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 di RSUD Kardinah sudah diterapkan dengan baik, namun masih terdapat hambatan dalam pelaksanaannya. Pihak RSUD Kardinah telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kedisiplinan dan mengurangi pelanggaran yang terjadi.
ABSTRACT
The government regulation no. 53 / 2010 on discipline of civil servant is the law for ensuring civil and could be a basis for arranging the state apparatus is good and right.In the regional public hospital ( rsud ) kardinah of traveling alone there have been violations discipline of civil servant, as absent without legitimate reason for a few days, the delays of civil servants in office in fact, in their home before the home office.It certainly impede efforts by the government to create productive, efficient, effective. Economically, to work in, and a sappy the behavior of civil servants not obey the regulation.Because of this research is to find out how the government policy regarding discipline of civil servants in the regional public hospital kardinah tegal and whatever barriers inside Obstacles in its application .This research uses the method approach juridical normative and descriptive specifications research .Survey areas in rsud kardinah , PII unsoed faculty of law and libraries unsoed central .The kind of data using secondary data with other materials law the primary and secondary legal material , who arranged systematically .Data analyzed in kualitatif. this research give drawing conclusions that the implementation of government regulation no 53 in 2010 in rsud kardinah it has been applied with good , but there are still obstacles in its implementation . The hospital side kardinah has implement measures to increase discipline and reduce a breach that occurs
981610834H1B010057SIFAT-SIFAT OPERASI JUMLAH LANGSUNG PADA GRAF FUZZYGraf fuzzy merupakan perluasan dari graf klasik (tegas). Setiap titik dan sisi graf fuzzy memiliki derajat keanggotaan yang terletak dalam selang [0,1].Salah satu operasi pada graf fuzzy adalah operasi jumlah langsung. Penelitian ini membahas sifat-sifat operasi jumlah langsung pada graf fuzzy. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa jumlah langsung dari dua graf fuzzy menghasilkan suatu graf fuzzy, jumlah langsung dua graf fuzzy efektif belum tentu menghasilkan suatu graf fuzzy efektif, dan jumlah langsung dari graf fuzzy efektif dan komplemennya menghasilkan suatu graf fuzzy lengkap.Fuzzy graph is generalize of the crisp graph. Every vertex and edge in the fuzzy graph have a degree of membership in interval [0,1]. One of the operations on fuzzy graphs is direct sum. This research discusses the properties of direct sum on fuzzy graphs. The results of this research obtain that the direct sum of two fuzzy graphs is a fuzzy graph, the direct sum of two effective fuzzy graphs need not be an effective fuzzy graph, and then the direct sum of an effective fuzzy graph and its complement is a complete fuzzy graph.
981710832H1B010052APLIKASI REGRESI LINIER BIVARIAT SEDERHANA PADA DATA CUACA DI CILACAPPenelitian ini membahas tentang regresi linier bivariat sederhana pada data cuaca di Kabupaten Cilacap. Regresi linier bivariat sederhana ini menggunakan dua variabel respon, curah hujan dan kelembaban udara suatu wilayah, dan satu variabel prediktor, temperatur udara. Metode pengujian signifikansi model persamaan regresi adalah uji Wilks’ Lamda, dengan nilai Wilks’ Lamda = 0,881101 bernilai lebih kecil dari lambda tabel 0,903 yang berarti paling tidak terdapat satu parameter yang signifikan pada model.Hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi model regresi linier bivariat sederhana pada data ini (time series) kurang sesuai, karena terdapat dua asumsi yang tidak dipenuhi yaitu asumsi linieritas dan asumsi independen.This study discussed the simple bivariate linier regression on weather data in Cilacap district. There are the two response variables, rainfall and humidity of an area and one predictor (the air temperature). The method for checking significant the model is a Wilks’ Lamda tes. The value of Wilks’ Lamda = 0.881101 less than lambda table 0,903 which means there is at least one significant parameter in the model. The results showed that the application of simple bivariate linear regression model to the data (time series) is less appropriate, because there are two assumptions that are not fulfilled, that are the assumption of linearity and independent.
98189719D1E010234KAJIAN KONSENTRASI BIJI KEFIR DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KADAR LEMAK, pH, DAN VISKOSITAS KEFIR SUSU KAMBINGPenelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsetrasi biji kefir dengan lama penyimpanan yang berbeda terhadap kadar lemak, pH, dan viskositas kefir susu kambing. Metode penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial 2x4 dengan ulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara konsentrasi biji kefir dan lama penyimpanan yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar lemak kefir susu kambing. Konsentrasi dan lama penyimpanan menunjukkan adanya interaksi berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap pH kefir susu kambing dengan persamaan garis konsentrasi biji kefir 1 % Y= 6,1333 - 0,1716 X + 0,0190 X2 - 0,0006 X3, koefisien determinasi (r2) = 96,35% dan konsentrasi biji kefir 3% dengan persamaan garis kubik Y= 4,7400 - 0,1016 X + 0,0115 X2 - 0,0003 X3, koefisien determinasi (r2) = 86,16%. Konsentrasi dan lama penyimpanan menunjukkan adanya interaksi berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap viskositas kefir susu kambing dengan persamaan garis konsentrasi biji kefir 1 % Y = 64,6667 + 4,0000 X dengan koefisien determinasi (r2) = 98,69% konsentrasi 3% Y= 136,6667 + 6,7063 X - 0,5272 X2 + 0,0162 X3, koefisien determinasi (r2) = 99,05%. Kesimpulan penelitian ini, peningkatan konsentrasi biji kefir sampai dengan 3% menghasilkan kadar lemak dan pH terendah serta viskositas tertinggi, dan lama penyimpanan sampai 21 hari dapat menurunkan kadar lemak, menurunkan pH, dan menaikkan viskositas. The goal of this research was to study about the effect of kefir grain concentration with different storage time on the fat content, pH and the viscosity of kefir goat milk. The research method was experimental completely randomized design, 2x4 factorial pattern by repetition 3 times. The results of this research showed that the interaction between the concentration of kefir grain and the different length of storage had no significant effect (P>0.05) on the fat content of goat milk. The concentration and the length of storage showed that there was an interaction effect (P<0.01) on the pH of the kefir goat milk with the line equation of kefir goat milk of 1% Y= 6.1333 – 0.1716 X + 0.0190 X2- 0.0006 X3 determination coefficient (r2) = 96.35% and the concentration of the kefir grain of 3% with the cubic equation line, Y= 4.7400 – 0.1016 X + 0.0115 X2 – 0.0003 X3, determination coefficient (r2) = 86.16%. The concentration and the length of storage showed that there was interaction (P<0.01) on the viscosity of kefir goat milk with the line equation of concentration of kefir grain of 1%, Y= 64.6667 + 4.0000 X with determination coefficient (r2) = 98.69% and concentration of 3% Y= 136.6667 + 6.7063 X – 0.5272 X2 + 0.0162 X3, determination coefficient (r2) = 99.5%. The conclusion of this research is, the increase of the concentration of kefir grain up to 3% resulting on the lowest fat content and pH, and the highest viscosity; and that the keeping up to 21 days decreases the fat content and pH, but increases the viscosity.
98199721P2PA11003KAJIAN KUALITAS AIR DAN PERILAKU PENGGUNAAN SUMUR GALI OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR SUNGAI KALIYASA KECAMATAN CILACAP SELATAN KABUPATEN CILACAP
Sungai Kaliyasa yang terletak di wilayah Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap diduga mengalami penurunan kualitas. Masyarakat yang bermukim di sepanjang Sungai Kaliyasa menggunakan air sumur gali untuk keperluan air bersih. Sungai Kaliyasa diduga mengalami penurunan kualitas, sehingga mempengaruhi kualitas air sumur gali.
Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mengkaji kualitas air sumur gali ditinjau dari parameter; fisika, kimia dan mikrobiologi; 2) mengkaji perilaku masyarakat dalam penggunaan air sumur gali; dan 3) menganalisis hubungan antara perilaku masyarakat dan kualitas air sumur gali sekitar Sungai Kaliyasa di Kelurahan Tegal Kamulyan.
Penelitian dilakukan dengan metode survei terhadap air sumur gali dan perilaku masyarakat sekitar Sungai Kaliyasa di Kelurahan Tegal Kamulyan. Sampel air sumur gali ditentukan dengan stratified sampling, dalam strata jarak sumur gali dari Sungai Kaliyasa dengan 6 tingkatan jarak dari 30 m, 60 m, 90 m, 120 m, dan 150 m. Tiap strata diambil 1 sumur yang masing-masing pengambilan sampel sebanayak 3 kali ulangan. Jumlah responden perilaku masyarakat dalam penelitian ini adalah 100 orang penduduk yang berada di sekitar Sungai Kaliyasa Kelurahan Tegal Kamulyan Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap. Pengukuran kualitas air sumur gali menggunakan standar baku mutu kualitas air bersih Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990. Dalam penelitian ini, parameter dibatasi pada bau, TDS, warna, besi, klorida, mangan, pH, dan total coliform. Kualitas air sumur gali dan pengaruh jarak sumur dari sungai dianalisis dengan analisis of varians (anova). Perilaku masyarakat dibagi dalam tiga aspek sebagai berikut (1) pengetahuan, (2) sikap, dan (3) tindakan yang diperoleh melalui kuisioner dan wawancara kepada masyarakat berdasarkan skala Likert dan dibuat rangking. Analisis hubungan antara perilaku masyarakat Kelurahan Tegal Kamulyan dan kualitas air sumur gali di sekitar Sungai Kaliyasa dengan metode Uji Korelasi Spearman Rank.
Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa parameter fisika dan kimia air yang tercemar berada di Stasiun I (kandungan TDS sebesar 31.159 mg/l) dan kemudian diikuti sampai Stasiun VI (kandungan TDS sebesar 459 mg/l). Kandungan total coliform mempunyai kecenderungan yang sama di Stasiun I (kandungan total coliform sebesar 61,67 jumlah/100 ml) kemudian diikuti samapai Stasiun VI (kandungan total coliform sebesar 25,33 jumlah/100 ml). Perilaku masyarakat Kelurahan Tegal Kamulyan untuk aspek pengetahuan cenderung tidak tahu pada Stasiun I (1,96) kemudian diikuti sampai Stasiun VI (1,81). Secara umum, aspek pengetahuan yang tidak baik mempunyai kecenderungan yang sama dengan kualitas air sumur gali.
Kaliyasa River, which is in South Cilacap District Cilacap; Regency, is estimated to have lower water quality and it affects the quality of the inhabitants’ wells. In fact, they use the wells to get cleaner water.
This research is aimed to study the wells’ water quality by observing the parameter, physical, chemical, and microbiological qualities; study the society’s attitude towards the use of the wells; and analyses the correlation between the attitude and the wells’ quality around Kaliyasa River in Tegal Kamulyan village.
A survey is carried out to take the water samples and to observe the society’s attitude. The water samples are determined by a stratified sampling, in distance strata of six levels from 30 m, 60 m, 90 m, 120 m, and 150 m. From each stratum, the researcher takes the sample three times for one well. This research involves 100 inhabitants, as respondents, around Kaliyasa River, Tegal Kamulyan Village, South Cilacap District Cilacap Regency. The water quality is tested by the water quality standard as suggested by the Indonesian Health Minister’s Regulation (Permenkes) No. 416/Menkes/Per/IX/1990. Whereas the parameters are limited to the smell, TDS, colour, iron, chloride, manganese, pH, and the total coliform. Then, the water quality and the effect of the wells distance are analysed by variance analysis (anova). In this case, the society’s attitude is classified into three features, knowledge, attitude, and activities, collected from a detailed questionnaire and an interview. The data is ranked and then analysed according to a Likert scale. On another hand, the correlation between the society’s attitude and the water quality is analysed by employing a correlation test of Spearman Rank.
The research findings provide three results that, the physical as well as the chemical qualities of the contaminated water are in Station I (TDS content of 31,159 mg/l) and followed until Station VI (TDS content of 459 mg/l). The total content of coliform tends to be the same in Station I (total coliform content of 61.67/100ml) until Station VI (total coliform content of 25.33/100ml). Second, the society ignorance is shown in Station I (1.96) and followed until Station VI (1.81); In general, the lack of knowledge tends to influence the water quality in their wells.
98206220G1A006162AN ANALYSIS OF READING TEACHING MATERIALS
USED FOR ENGLISH SUBJECT
IN AN INTERNATIONAL STANDARDIZED SCHOOL
(A Case of the Seventh Grade on SMP N 2 Purwokerto)
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “An Analysis of Reading Teaching Materials Used for English Subject in an International Standardized School (A Case Study of the Seventh Grade on SMP N 2 Purwokerto)”. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui materi reading bahasa Inggris yg digunakan di SMP N 2 Purwokerto (2) untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara materi reading bahasa Inggris dengan silabus (3) untuk mengungkapkan pendapat guru, orangtua, dan siswa tentang materi reading bahasa Inggis yg digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas tujuh. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. reading bahasa Inggris untuk kelas 7 di sekolah berstandar internasional. Setelah melakukan penelitian,dapat disimpulkan bahwa tidak semua materi reading bahasa Inggris yang digunakan untuk kelas 7 sesuai dengan silabus, tetapi silabus yang ada sesuai dengan Standar Isi. Ada dua pendapat dari guru tentang materi reading bahasa Inggris, yaitu materi reading bahasa Inggris yang diberikan kepada siswa sesuai dengan Standar Isi. Terlebih lagi, dia mengatakan bahwa materi reading bahasa Inggris yang diberikan kepada siswa sesuai dengan silabus. Selain itu, para siswa juga berpendapat bahwa materi reading bahasa Inggris sesuai dengan kebutuhan mereka. Sementara, orangtua murid menagatakan bahwa materi reading bahasa Inggris sesuai dengan kebutuhan anak-anak mereka. Penelitian ini diharapkan memberikan keuntungan bagi para mahasiswa bahasa Inggris sebagai referensi bagi mereka yang tertarik melakukan penelitian dibidang linguistik terapan.
Kata kunci: Materi Reading bahasa Inggris, Sekolah Bertaraf Internasional, Siswa Kelas Tujuh SMP N 2 Purwokerto.
ABSTRACT
The research is entitled “ An Analysis of Reading Teaching Materials Used for English Subject in an International Standardized School (A Case Study of the Seventh Grade on SMP N 2 Purwokerto)”. The purposes of the research are (1) to see the existing English reading materials used in SMP N 2 Purwokerto, (2) to find out how English reading materials relate to the syllabus, (3) To reveal the perceptions of teachers, stake holders, and students about reading materials used in teaching learning process in seventh grade. This research belongs to a qualitative research. It was conducted to obtain a clear description about English reading materials used for the seventh grade in international standardized school. After conducting the research, it is concluded that not all the English reading materials used for the seventh grade matched with the syllabus, but the syllabus is matched with the Standar Isi. There were two opinions from the English teachers about the English reading material, i.e. English reading material given for students was appropriate with “Standar Isi”. She said that English reading material given for students was appropriate with the syllabus. Besides, the students had an opinion that English reading material was appropriate with their needs. While, the stakeholders said that English reading material was appropriate with their student’s need. This research is expected to give benefit to the students of English Department as a reference for them who are interested in conducting the research in the field of applied linguistic.
Keywords: The English reading material, International Standardized School, the Seventh Grade Students of SMP N 2 Purwokerto.