Artikelilmiahs
Menampilkan 841-860 dari 48.725 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 841 | 6831 | E1A008266 | PERLINDUNGAN HUKUM BAGI ANAK YANG MENJADI KORBAN HUMAN TRAFFICKING BERDASARKAN PROTOKOL PERDAGANGAN ORANG 2000 | Anak sering kali menjadi korban, baik itu korban perceraian orang tua, meninggalnya orang tua, kesibukan orang tua, bahkan kesibukan orang tua itu sendiri anak sering menjadi korban human trafficking . Oleh karena itu, anak perlu dilindungi harga diri dan martabatnya, serta dijamin hak hidupnya untuk tumbuh dan berkembang. Segala bentuk perlakuan yang mengganggu dan merusak hak-hak dasarnya dalam berbagai pemanfaatan dan eksploitasi yang tidak berperikemanusiaan harus segera dihentikan. Terlebih pada kasus tindak pidana perdagangan orang, posisi anak benar-benar tidak berdaya dan lemah, baik secara fisik maupun mental. Sebagai identifikasi masalah adalah: (1) Bagaimana pengaturan tentang human trafficking menurut hukum internasional?; dan (2) Bagaimana perlindungan hukum bagi anak korban human trafficking di Indonesia?. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaturan tentang human trafficking menurut hukum internasional dan perlindungan hukum bagi anak korban human trafficking di Indonesia. Tipe penelitian adalah penelitian hukum normatif, dengan metode pendekatan yuridis normatif, dan spesifikasi penelitian adalah deskriptif yuridis analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pengaturan perdagangan orang harus dilaksanakan dengan memperhatikan kewajiban negara berdasarkan hukum internasional HAM. Upaya pengaturan dilakukan sejalan dengan standar yang ditetapkan PBB berkenaan dengan perdagangan orang, khususnya UN Trafficking Protocol 2000. Berdasarkan Pasal 6 negara harus mengatur dalam hukum nasionalnya. Setiap Negara pihak wajib melindungi privasi dan kerahasiaan identitas korban perdagangan orang, termasuk membuat proses hukumnya. Setiap negara pihak harus menjamin bahwa hukum nasional dan sistem administrasinya memberikan perlindungan kepada korban perdagangan orang. Setiap negara pihak wajib mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah seperti menyediakan penanganan secara psikologis, dan pemulihan fisik korban perdagangan orang. Perlindungan hukum terhadap anak telah diatur dalam peraturan perundangan di Indonesia, hanya di dalam penerapannya masih terdapat kekurangan atau belum maksimal. Hal ini disebabkan: diantara penegak hukum masih terdapat keengganan untuk menggunakan UU. No. 21 Tahun 2007 tentang PTPPO; pemberian restitusi kurang memberikan keadilan bagi anak sebagai korban;masih terjadi pemalsuan dokumen perjalanan; serta kurangnya dana untuk pemulangan korban perdagangan. | Children frequently become victim of either parents’ divorce or death. Even, the parents’ liveliness often results in human trafficking for their own children. Thus, children need dignity and self esteem protection along with life assurance to grow as their nature. Accordingly, any treatment which violates their human right in terms of utilizing and inhumane exploitation must be immediately ceased. Particularly in the case of human trafficking, it places child in either physically or mentally powerless, weak position. As the problem identifications are then (1) how is the arrangement of human trafficking based on international law? and (2) how is the legal protection for children as the victim of human trafficking in Indonesia? This research is aimed at discovering the arrangement of human trafficking based on international law and legal protection for children as the victim of human trafficking in Indonesia. It is a normative law research by applying normative judicial approach and it is specifically analytical judicial descriptive study. The result shows that the arrangement of human trafficking must be implemented by considering state’s obligation based on international law on human right. The effort of arrangement is conducted in accordance with the standard issued by the United Nations on human trafficking, especially UN Trafficking Protocol 2000. According to article 6, every state shall protect the privacy as well as confidentiality of trafficking victim identity including the legal process. Then, every state shall assure that its national law and administration system provide protection for the victim. Moreover, every state shall take into account of taking some measurements such as providing psychological treatment and physical recovery for the victim of trafficking. Likewise, the legal protection for children has been regulated by Indonesian legislation. In regard to its implementation, however, there were still weaknesses since among law enforcers remained reluctant to apply UU No. 21 Year 2007 on PTPPO in administration of justice. Besides, there were still document falsification and restitution which provides less justice on child as well as the shortage of fund to bring the victim back home. | |
| 842 | 6916 | B1J009014 | DISTRIBUSI TUNGAU PREDATOR FAMILIA PHYTOSEIIDAE PADA BERBAGAI KLON DI PT PN IX KALIGUA BUMIAYU JAWA TENGAH | Pola distribusi tungau predator familia Phytoseiidae pada berbagai klon tanaman teh di perkebunan teh Kaligua telah dilakukan. Kemampuan distribusi tungau tersebut di alam akan menentukan tingkat keberhasilan tungau sebagai agen pengendalian hayati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola distribusi tungau predator familia Phytoseiidae pada berbagai klon di perkebunan teh Kaligua. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara sistematis. Penentuan titik pengambilan sampel pada lokasi penelitian menggunakan metode diagonal. Sampel berupa daun teh diambil sebanyak lima helai dari tiap titik di setiap sudut dan bagian tengah kebun. Pengambilan sampel diulang sebanyak empat kali, dengan interval waktu satu minggu. Seluruh daun teh diperiksa di bawah mikroskop stereo dan dihitung jumlah telur, larva, nimfa dan dewasa tungau familia Phytoseiidae yang ditemukan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan rumus perhitungan Distribusi Poisson untuk menentukan pola distribusi tungau predator dan Indeks “K” distribusi negatif binominal untuk menghitung indeks distribusi tungau. Hasil menunjukkan bahwa pola distribusi tungau predator familia Phytoseiidae pada berbagai klon di Kaligua adalah mengelompok pada klon CIN 143, klon Gambung dan klon TRI 2024 dan pola distribusi teratur pada klon Kiara 8. Pola distribusi mengelompok yang diindikasi indeks “K” tertinggi ditemukan pada klon Gambung. | The distribution patterns of predatory mites of Phytoseiidae family from different tea clones at Kaligua have been conducted. The distribution of predatory mites in a nature may affect their success as biological control agent of pest mites. The purpose of this research is to study the distribution patterns of predatory mites of Phytoseiidae family from different tea clones at Kaligua. This research used a survey method with a systematic sampling technique. Samples were taken from every coner and from the middle of the files. Samples of tea leaves were taken as many as 5 petioles from each sampling points. Sampling were repeated 4 times, with an interval of one week. All of samples were examined under a stereo microscope and the stadium of eggs, larvae, nymphs and adult mites of Phytoseiidae family found in the leaves were counted. The data were calculated and analyzed using qualitatif Poisson Distribution formula to determine the distribution pattern of predatory mite by calculating the “K” indices of negative binominal distribution. The results showed that the distribution pattern of predatory mites Phytoseiidae family from different tea clones at Kaligua were aggregated at CIN 143’s clon, Gambung’s clon and TRI 2024’s clon and regular at Kiara 8’s clon. The most aggregated pattern of distribution was found from Gambung’s clon indicated by the highest value of “K” index. | |
| 843 | 6832 | C1L008036 | THE INFLUENCE OF SIZE, TYPE AND LEADERSHIP STYLE ONINTERNAL CONTROL SYSTEM QUALITY IN COOPERATIVES AT BANYUMAS REGENCY | Penelitian ini berjudul “TheInfluence of Size, Type and Leadership Style onInternal Control System Quality in Cooperatives at Banyumas Regency”.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap pengaruh ukurankoperasi, jenis koperasi, dangaya kepemimpinan terhadap kualitas sistem pengendaian internal. Penelitian ini mengambil sampel koperasi-koperasi yang ada di Banyumas. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu metode convenience sampling dengan total sampel 50koperasi. Analisis data menggunakan analisis asumsi klasik dan analisis linier regresi berganda. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ukuran koperasi dan gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian internal. Sedangkan jenis koperasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kuaitas sistem pengendalian internal. | This research was entitled “The Influence ofSize, Type and Leadership Style onInternal Control System Quality in Cooperatives at Banyumas Regency”. The aim of this research was to uncover the influence ofsize cooperative, type of cooperative, and style leadership on quality of the internal control system. This research used the cooperatives sample in Banyumas. The sampling technique method used wasconvenience sampling with the total sample of 50 cooperative. The data analyses usedwere classical assumption and multiple linear regression. The result showed that the size cooperative and style leadershiphadsignificant influence on quality of the internal control system. Meanwhile, type of cooperative hadno significant influence on quality of the internal control system. | |
| 844 | 6833 | H1B009016 | Kuasa dan Ukuran Uji pada Model Regresi Linier Sederhana dengan Variansi Tidak Diketahui | NSPI (non-sample prior information) adalah informasi tentang parameter populasi yang tidak berhubungan dengan data sampel. Terdapat tiga uji yang terkait NSPI, yaitu unrestricted test (UT), restricted test (RT), dan preliminary-test test (PTT). Pada penelitian ini dibahas mengenai kuasa dan ukuran uji dari ketiga uji tersebut untuk mengevaluasi kinerja uji pada model regresi linier sederhana dengan variansi tidak diketahui. Kuasa dan ukuran uji dari UT, RT, dan PTT pada model tersebut dibandingkan secara grafik menggunakan data simulasi. Uji yang memiliki kuasa maksimum dan ukuran minimum merupakan uji terbaik. Menurut teori, PTT merupakan uji terbaik. Akan tetapi, dari simulasi yang dilakukan untuk kasus tingkat signifikansi 0,05 dan nilai rata-rata variabel bebas sama dengan 2 diperoleh bahwa PTT bukan merupakan uji terbaik. Hasil yang ditunjukkan bahwa UT merupakan uji yang terbaik. Hal ini berarti bahwa NSPI pada uji hipotesis untuk data simulasi tidak significant. Dengan demikian, untuk kasus tersebut sebaiknya pengujian dilakukan tanpa NSPI. | NSPI (non-sample prior information) is an information about population parameters which has no relation with sample data. There are three statistical tests related to NSPI, namely unrestricted test (UT), restricted test (RT), and preliminary-test test (PTT). This research discussed about power and size of these three test to evaluate the performance of the tests for a simple regression linier model with unknown variance. Using a simulation data, we compare here graphically the power and size of UT, RT and PTT of the model. The best test is the test which has both a maximum power and minimum size. PTT is the best test theoritically. However, the simulation result for the case significant level 0,05 and mean independent variabel value 2, we found that PTT is not the best test. The result shown that UT is the best test. As UT does not take NSPI into account, we conclude that NSPI is not significant. Therefore, it is better to test the data in our case without NSPI. | |
| 845 | 6835 | E1A008259 | PENYELESAIAN SENGKETA MALAYSIA DENGAN SINGAPURA TERHADAP PULAU BATU PUTEH, MIDDLE ROCKS, DAN SOUTH LEDGE | Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui penyelesaian sengketa Malaysia dengan Singapura terhadap Pulau Batu Puteh, Middle Rocks, Dan South Ledge. Selain itu juga ditujukan untuk mengetahui akibat hukum Putusan Mahkamah Internasional berkaitan dengan batas wilayah antara Malaysia dengan Singapura. Guna mencapai tujuan tersebut maka peneletian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data sekunder yang terkumpul kemudian diolah, disajikan, dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif. Hasil penelitian menyatakan bahwa, pertimbangan Mahkamah Internasional mengenai pemberian kewenangan Singapura terhadap Pulau Batu Puteh lebih didasarkan pada pendudukan daerah yang bukan terra nullius atau disebut preskripsi. Middle Rock diputuskan tetap berada di bawah kepemilikan aslinya, yakni Malaysia. Setelah meneliti fakta yang ada, Mahkamah tak melihat adanya unsur-unsur yang bisa membuat kedaulatan atas Middle Rock beralih ke dalam kepemilikan Singapura. Untuk South Ledge, Mahkamah Internasional memutuskan bahwa bebatuan tersebut menjadi kepemilikan oleh negara dimana wilayah perairannya mencakup letak South Ledge. Akibat hukum Putusan Mahkamah Internasional berkaitan dengan batas wilayah antara Malaysia dengan Singapura adalah di bagian barat ialah Tanjung Penyusoh/ teluk Ramunia (Johor Malaysia), dan Midlle Rock, Selat Johor di utara, dan dari Kepulauan Riau, Indonesia oleh Selat Singapura di selatan. Setelah putusan Mahkamah Internasional, dimungkinkan Singapura akan mengklaim bahwa Pulau Batu Puteh memiliki Zone Ekonomi Ekslusif. Berdasarkan Pasal 121 ayat (3) UNCLOS, Singapura tidak dapat mengklaim Pulau Batu Puteh sebagai pulau, karena Pulau Batu Puteh hanya merupakan batuan granit yang diatasnya dibangun mercusuar dan lapangan helikopter. Singapura hanya dapat menarik garis zona keamanan sepanjang 500 Meter berdasarkan Pasal 60 ayat (4) dan Pasal 80 UNCLOS. | This study was conducted in order to determine the dispute resolution Malaysia with Singapore to Batu Puteh Island , Middle Rocks , and South Ledge . It also aimed to determine the legal effect of the ICJ ruling relating to borders between Malaysia and Singapore . To achieve these aims the intensive search was conducted using the normative juridical approach. Secondary data were collected and processed, presented, and analyzed qualitatively with the presentation of narrative text data . The study states that, in consideration of the granting authority of the International Court of Singapore against Batu Puteh Island is more based on the occupation of the area that is not terra nullius or called prescription . Middle Rock decided to remain under original ownership , namely Malaysia . After examining the facts, the Court did not see any elements that could make sovereignty over Middle Rock turned into a possession Singapore. For South Ledge , the ICJ ruled that the rocks into ownership by the state in which the water area covers the location of South Ledge . International Court of Justice ruling legal consequences relating to borders between Malaysia and Singapore is in the west is Cape Penyusoh / bay Ramunia ( Johor Malaysia ) , and Midlle Rock , Strait of Johor to the north , and from the Riau Islands , Indonesia by the Singapore Strait to the south . After the ICJ ruling , it is possible to claim that the island of Singapore Batu Puteh have Exclusive Economic Zone . Pursuant to Article 121 paragraph ( 3 ) of UNCLOS , Singapore can not claim the island as an island Batu Puteh , Batu Puteh Island just because a granite rock on which it is built lighthouse and heliport . Singapore can only draw a line along the 500 meter safety zone under Article 60 paragraph ( 4 ) and Article 80 of UNCLOS . | |
| 846 | 6834 | C1B008055 | Pengaruh Advertising Appeals, Perceived Quality, Perceived Prestige dan Country of Origin Image Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Samsung Galaxy (Studi Pada Mahasiswa S1 Reguler Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman) | Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari Advertising Appeals, Perceived Quality, Perceived Prestige dan Country of Origin Image terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Samsung Galaxy. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 reguler Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki Smartphone Samsung Galaxy. Purposive sampling digunakan untuk memilih 100 responden. Untuk membuktikan hipotesis dari penelitian ini diterapkan Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dari Advertising Appeals, Perceived Quality, dan Country of Origin Image terhadap Keputusan Pembelian. Di sisi lain, ada pengaruh negatif dari Perceived Prestige terhadap Keputusan Pembelian. | Purpose of this research was to analyze the effect of Advertising Appeals, Perceived Quality, Perceived Prestige and Country of Origin Image to Samsung Galaxy Smartphone Purchase Decisions. The population in this research were all regular S1 student of the Faculty of Economics Jenderal Soedirman University who had a Samsung Galaxy Smartphone. Purposive sampling was used to choose 100 respondents. To prove the hypothesis of this research is applied Multiple Linear Regression. The result show that there were positive effect of Advertising Appeals, Perceived Quality, and Country of Origin Image on Purchase Decisions. On the other hand, there were negative effect of Perceived Prestige toward Purchase Decisions. | |
| 847 | 6837 | E1A007317 | PENERAPAN PASAL 8 UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DALAM PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA PURWOKERTO | Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan dan hambatan yang terjadi dalam penerapan pasal 8 Undang-Undang No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Purwokerto. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kantor Wilayah mempunyai tugas melaksanakan kewenangan perbendaharaan dan bendahara umum, penyaluran pembiayaan atas beban negara serta penatusahaan penerimaan dan pengeluaran anggaran melalui dan dari kas negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang-Undang No. 1 tahun 2004 terdapat pemisahan yang tegas antara pemegang kewenangan administratif dengan pemegang kewenangan kebendaharaan. Penyelenggaraan kewenangan administratif diserahkan kepada Kementerian negara/ lembaga, sementara penyelenggaraan kewenangan kebendaharaan diserahkan kepada Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan selaku bendahara umum negara dalam melaksanakan fungsinya sebagian didelegasikan kepada instansi vertikal dibawahnya yaitu KPPN. Bentuk delegasi tersebut dengan cara mengangkat sebagai Kuasa Bendahara Umum Negara untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran dalam wilayah kerja yang telah ditetapkan sesuai dengan pasal 8 Undang-Undang No. 1 tahun 2004. | The purpose of this research is to analyze the implementation and barrier that occur in the implementation of article 8 No. 1 in 2004 about the State Treasury in Implementing the duty and function of State Treasury Service Office Purwokerto. State Treasury Service Office (KPPN) is the Vertical Department of the General Directorate of Treasury that is under of and responsible for the Area Office that is has the duty to do the treasury authority and general treasurer, distribution of costing for the state expenditure and the income of business and the expenditure of budget through and from state cash bases on the ordinance regulation that has been existed before. Ordinance No. 1 in 2004 there is the strong separation between the administrative authority holder and with the treasury authority holder. The implementation of administrative authority is given to the Ministry Institution and the treasury authority implementation is given to the Financial Ministry. The Financial Ministry as the state general treasury in conducting its function which some of them is delegated to the vertical department under him that is KPPN. The form of delegation by giving the authority to the State General Treasury to conduct the treasury duty in order to implement the budget in the work area that has been determined which it has been determined that based on the article 8 Ordinance No. 1 in 204. | |
| 848 | 6838 | E1A008061 | PELAKSANAAN PEMBERIAN REMISI KEPADA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA WIROGUNAN YOGYAKARTA | PELAKSANAAN PEMBERIAN REMISI KEPADA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA WIROGUNAN YOGYAKARTA Hilda Amalia Widyastuti ABSTRAK Remisi adalah pengurangan masa pidana yang diberikan kepada narapidana, pemberian remisi kepada narapidana merupakan perintah dari Undang-undang sebagai rangsangan agar narapidana bersedia menjalani pembinaan untuk merubah perilaku sesuai dengan tujuan Sistem Pemasyarakatan. Namun masalah yang muncul adalah Bagaimana pelaksanaan pemberian remisi bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan itu sendiri, kendala – kendala yang dihadapi Lembaga pemasyarakatan dalam pelaksanaan pemberian remisi kepada narapidana,serta upaya yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan dalam mengatasi kendala pelaksanaan pemberian remisi kepada narapidana. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan pemberian remisi kepada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan, untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh Lembaga Pemasyarakatan dalam pelaksanaan pemberian remisi kepada narapidana., serta untuk mengetahui upaya yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan dalam mengatasi kendala pelaksanaan pemberian remisi kepada narapidana Penelitian mengambil lokasi di Lembaga Pemasyarakatan klas IIA Wirogunan Yogyakrta, Jalan Tamansiswa No. 6 Yogyakarta 55111. Penelitian dilakukan dengan cara mengadakan wawancara secara langsung dengan respoden. Metode yang digunakan yaitu purposive sampling agar sampel yang dipilih dapat relevan. Penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan metode wawancara, metode yang digunakan adalah yuridis sosiologis dan dalam hal ini analisis data penulis menggunakan deskriptif kualitatif. Kesimpulan dari Pelaksanaan pemberian remisi kepada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wirogunan Yogyakarta sudah diberikan dan berjalan sesuai dengan Undang – Undang yang berlaku mengenai hak – hak narapidana salah satunya adalah remisi. Adapun kendala yang dihadapi Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wirogunan Yogyakarta dalam pelaksanaan pemberian remisi antara lain: 1) Kendala Internal yaitu faktor yuridis belum adanya sarana peraturan perundang – undangan dan peraturan pelaksanaan sebagai payung hukum yang kuat yang merupakan landasan yuridis dan struktural. 2) Kendala Eksternal yaitu faktor yang berasal dari prilaku narapidana, faktor budaya kultural keterlambatan dalam pengajuan remisi bagi narapidana. Upaya yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan klas IIA Wirogunan Yogyakarta dalam mengatasi kendala pelaksanaan pemberian Remisi antara lain: 1) Upaya Internal yaitu upaya yuridis dengan menjalankan semaksimal mungkin Undang - Undang yang berlaku menegnai Pemasyarakatan dan Remisi ,2) Upaya Eksternal : meningkatkan kinerja dan memberdayakan lembaga sebagai instrumen dalam pelaksanaan pemberian remisi sehingga meminimalisir keterlambatan dalam memberikan hak – hak narapidana, adanya pembinaan secara terstruktur dan berkesinambungan agar narapidana menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulangi perbuatannya. | POVIDING REMISSIONS FOR PRISIONERS IN INSTITUSIONS SOCIALIZATION IN CLASS IIA WIROGUNAN YOGYAKARTA By : Hilda Amalia W ABSTRACT Remissions is the crime reduction granted to inmates, grating remissions to prisoners is an order of the Act as a stimulus for inmates willing to undergo training to change behavior in accordancewith the purpose of penal system. But the problem that arises is How the implementation of remissions for prisoners in the penitentiary itself, the constraints faced by correctional institutions in the implementation of remissions for prisoners, as well a efforts to evercome obstacles correctional institution in the implementation of remissions for prisoners. The study was conducted to determine the implementation of remmisions for prisoners in the penitentiary, to find out the constraints faced by corrections in the implementation of remmisions for prisoner, and learn about efforts to to evercome obstacles correctional institutions in the immplementtion of remmision for prisoners’ studies took place in prison Taman Siswa No. 6 Yogyakarta 55111 street, class IIA Wirogunan Yogyakarta. Research carried out by conducting interviews with respondents directly. The method used is purposive sampling in order to be relevant to the selected sample. The author uses the method of collecting data by interview method, the method used is the normative sociologis analysis of the data in this case the authors used qualitative descriptive. Implementation of conclusions of the remmisions for inmates in correctional institutions have been granted in class IIA Wirogunan Yogyakarta and run in accordance with applicable law regarding the right of prisoners one of whom is remission. The constraints faced Penitentiary Class IIA Wirogunan in the implementation of remissions among others: 1) Internal Constraints are factors juridical means the absence of legislation and regulations implementing the law as a powerful umbrella that is a juridical basis and structural. 2) External Constraints are factors derived from the behavior of inmates, cultural factors of delay in submission of remission for prisoners. Efforts are made of class IIA prison Wirogunan Yogyakarta in granting remission to overcome implementation obstacles include: 1) Internal Efforts that attempt to run as much as possible juridical law applicable about Corrections and remission, 2) External Efforts: improve performance and enable the institutions as instrument in the implementation of remissions to minimize delays in delivering prisoners rights, the existence of a structured and continuous training so that prisoners will realize their mistakes and not repeat his actions. | |
| 849 | 6839 | H1B010026 | SEGITIGA PADA TRIGONOMETRI RASIONAL DI LAPANGAN HIMPUNAN BILANGAN RIIL DAN LAPANGAN HIMPUNAN BILANGAN BULAT MODULO 17 | Trigonometri rasional merupakan trigonometri yang membahas garis dan segitiga pada berbagai lapangan seperti lapangan himpunan bilangan riil, lapangan himpunan bilangan kompleks, dan lapangan himpunan bilangan bulat modulo p (dengan p bilangan prima). Pada penelitian ini dibahas mengenai definisi, contoh, dan sifat segitiga pada trigonometri rasional, khususnya di lapangan himpunan bilangan riil dan lapangan himpunan bilangan bulat modulo 17. Sifat segitiga yang diberikan didasarkan pada quadrance dan spread dari sisi-sisinya. | Rational trigonometry is a trigonometry which discusses lines and triangles in any field such as the field of real numbers, the field of complex numbers, and the field of integers modulo p (with p is a prime number). In this research discusses definition, example and properties of triangles in rational trigonometry, particularly in the field of real numbers and the field of integers modulo 17. The properties of triangles based on quadrance and spread from its sides. | |
| 850 | 6840 | H1B008009 | APLIKASI POLINOM KARAKTERISTIK MATRIKS SIGNLESS LAPLACE UNTUK MENENTUKAN TREE NUMBER PADA GRAF REGULER | Matriks signless Laplace dari graf G merupakan matriks yang diperoleh dari hasil penjumlahan matriks diagonal dan matriks ketetangaan graf G. Selanjutnya sebuah graf dapat direpresentasikan dalam bentuk matriks signless Laplace. Penelitian ini mengkaji penggunaan polinom karakteristik dari matriks signless Laplace untuk menentukan tree number pada suatu graf reguler. Berdasarkan hasil pembahasan, diperoleh bahwa tree number pada graf reguler dapat ditentukan dengan menggunakan polinom karakteristik matriks signless Laplace yaitu 1𝑛𝑑𝑑𝜆𝜒(𝑄(𝐺):𝜆)|𝜆=2𝑟. | Signless Laplace matrix of G graph is matrix determined by sum of diagonalize matrix and adjence matrix of G graph. Futhermore a graph can be represented in the from of signless Laplace matrix. This research discussed characteristic polynomial of signless Laplace matrix to determining tree number on regular graph. The results showed that tree number on a regular graph can be determined using the characteristics polynomial signless Laplace matrix, that is 1𝑛𝑑𝑑𝜆𝜒(𝑄(𝐺):𝜆)|𝜆=2𝑟. | |
| 851 | 6846 | D1E009242 | PENGARUH PENGGUNAAN Azolla microphilla DAN Lemna pollyrhiza DALAM PAKAN ITIK PEKING PADA BEDA LEVEL PROTEIN TERHADAP WATER HOLDING CAPACITY DAN COOKING LOSSES | Penelitian bertujuan mengkaji interaksi antara level protein dengan level kombinasi Azolla microphilla dan Lemna pollyrhiza, pengaruh penggunaan level protein dan pengaruh penggunaan Azolla microphilla dan Lemna pollyrhiza dalam pakan itik Peking umur 8 minggu terhadap Water Holding Capacity dan Cooking Losses. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik Peking unsexed, Azolla microphilla dan Lemna pollyrhiza, ransum basal dengan protein 16%, 18%, dan 20%. Metode penelitian adalah eksperimental in vivo menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 4. Faktor pertama adalah kombinasi Azolla microphilla dan Lemna pollyrhiza terdiri dari Azolla 0% dan Lemna 0% (AL0), Azolla 15% dan Lemna 5% (AL1), Azolla 10% dan Lemna 10%(AL2), dan Azolla 5% dan Lemna 15%(AL3). Faktor kedua adalah level protein terdiri dari 16% (P1), 18%(P2), dan 20%(P3). Terdapat 12 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan ditabulasikan dalam tabel, kemudian dianalisis menggunakan analisis variansi. Apabila tiap pengaruh perlakuan berpengaruh nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan uji beda nyata jujur dan Ortogonal Polinomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian Azolla microphilla dan Lemna pollirhyza pada ransum itik Peking hingga umur delapan minggu berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap Water Holding Capacity (WHC) dan Cooking Losses daging itik Peking umur delapan minggu. Disimpulkan bahwa penggunaan kombinasi Azolla microphilla dan Lemna pollirhyza diperoleh nilai Water Holding Capacity dan Cooking Losses yang relatif sama. Water Holding Capacity daging itik Peking berkisar antara 27,7%-47,0 % dan Cooking Losses antara 25,7%-28,7%. Akan tetapi level protein dan kombinasi kedua bahan masih dapat digunakan sebagai pakan alternative | The purpose of the research is to examine the interaction between the protein level with the level combination of Azolla microphilla and Lemna pollyrhiza , the effect of the use of protein level and the use of Azolla microphilla and Lemna pollyrhiza in 8 weeks Peking duck feed on Water Holding Capacity and Cooking Losses . The material that is used in this study is the Peking duck unsexed, Azolla microphilla and Lemna pollyrhiza, basal diet with 16 % protein, 18%, and 20%. The research method is experimental in vivo study using a Completely Randomized Design (CRD) factorial 3 x 4. The first factor is the Azzola microphilla combination and Lemna pollyrhiza consists of Azolla 0% and Lemna 0 % (AL0), Azolla 15 % and Lemna 5 % (AL1), Azolla 10 % and Lemna 10 % (AL2), and Azolla 5 % and Lemna 15 % (AL3). The second factor is the level of the protein consists of 16 % (P1), 18 % (P2), and 20 % (P3). There are 12 combinations of treatments with 3 replications. The data obtained by observation are tabulated in the table, then analyzed by using variance analysis. If each significant treatment gives the real effect, so the next testing is Honestly Significant Diffrence Test and Orthogonal Polynomials. The results showed that giving Azolla microphilla and Lemna pollirhyza on 8 weeks Peking duck did not affect significantly (P > 0.05) on Water Holding Capacity (WHC) and 8 weeks Peking duck meat Cooking Losses. It is Concluded that the use of a combination of Azolla microphilla and Lemna pollirhyza values obtained Water Holding Capacity and Cooking Losses were relatively similar. Water Holding Capacity Peking duck meat ranged between 27.7% -47.0% and Cooking Losses between 25.7% -28.7%. However, the protein levels and the combination of both materials can still be used as an alternative feed. | |
| 852 | 6842 | C1B009029 | ANALISIS PENGARUH PERSEPSI HARGA, KUALITAS PELAYANAN, NILAI YANG DIRASAKAN TERHADAP KEPUASAN DAN LOYALITAS PELANGGAN GREEN PRODUCT COSMETICS (Studi Pada Pelanggan Larissa Aesthetic Center Purwokerto) | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh persepsi harga, kualitas pelayanan, dan nilai yang dirasakan terhadap kepuasan dan loyalitas pelanggan Larissa Aesthetic Center Cabang Purwokerto. Penelitian ini diolah dengan menggunakan pengembangan tujuh hipotesis sebagai model penelitian. Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan data primer, dengan melalui wawancara pribadi dalam bentuk kuesioner kepada 180 sampel responden dengan menggunakan metode probability sampling. Untuk membuktikan hipotesis dari penelitian ini, peneliti menggunakan alat analisis Structural Equation Modelling ( SEM ). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persepsi harga, kualitas pelayanan, dan nilai yang dirasakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Serta kualitas pelayanan dan nilai yang dirasakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan Larissa Aesthetic Center Cabang Purwokerto. Sementara persepsi harga tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan Larissa Aesthetic Center Cabang Purwokerto. | The purpose of this research is to describe and analyze the effect of price perception, service quality, and perceived value to the customer's satisfaction and loyalty Larissa Aesthetic Center Branch Purwokerto. Processed using the seven research hypotheses development as a model. Data collection methods used are primary data, such as through personal interviews in the form of questionnaires to a sample of 180 respondents using a probability sampling method. To prove the hypothesis of this study, using analytical tools Structural Equation Modelling ( SEM ). The results of this study it can be concluded that the perception of price, service quality, and perceived value of a positive and significant effect on customer satisfaction. As well as service quality and perceived value positive and significant effect on customer loyalty Larissa Aesthetic Center Branch Purwokerto. While the perception of prices does not significantly influence customer loyalty Larissa Aesthetic Center Branch Purwokerto. | |
| 853 | 6843 | B1J009057 | HUBUNGAN MASA KERJA DENGAN GAMBARAN DARAH SOPIR ANGKUTAN KOTA (ANGKOT) YANG TERPAPAR TIMBAL (Pb) DI PURWOKERTO | Asap kendaraaan bermotor merupakan suatu polutan yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Asap tersebut mengandung timbal bromida (PbBr) yang merupakan sisa hasil pembakaran bensin, dimana bensin yang digunakan mengandung campuran tetrametil lead (TML) dan tetraetil lead (TEL). Timbal yang masuk ke dalam tubuh menyebabkan berbagai efek dalam tubuh, salah satunya yaitu efek pada darah. Individu yang rentan terpapar timbal adalah sopir angkot. Sopir angkot rata-rata bekerja selama 10-11 jam perhari, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan masa kerja dengan gambaran darah pada sopir angkutan kota (angkot) yang terpapar Pb di Purwokerto. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan masa kerja dengan kadar Pb dalam darah pada sopir angkot di Purwokerto dan mengetahui hubungan kadar Pb dengan gambaran darah pada sopir angkot di Purwokerto. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah sampel darah sopir angkot di Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan yaitu purposive random sampling dan wawancara terhadap responden (interview). Variabel bebas dalam penelitian adalah masa kerja sopir angkot sedangkan variabel terikat dalam penelitian adalah kadar Pb darah dan gambaran darah yang dibatasi pada jumlah leukosit, trombosit, nilai MCV, MCH dan MCHC. Hubungan masa kerja dengan kadar Pb dan hubungan kadar Pb dengan gambaran darah meliputi jumlah leukosit, trombosit, MCV, MCH dan MCHC dianalisis dengan uji pearson corellation. Hasil penelitian menunjukkan hubungan masa kerja dengan kadar Pb diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,002. Hubungan masa kerja dengan jumlah leukosit berturut-turut dari leukosit normal, leukositosis dan leukopenia adalah -0,059; 0,367 dan 0,877. Nilai koefisien korelasi hubungan masa kerja dengan jumlah trombosit normal, trombositosis dan trombositopenia yaitu -0,209; -0,141 dan -1, sedangkan nilai koefisien korelasi nilai MCV, MCH dan MCHC normal yaitu 0,123; 0,083 dan -0,038. Semakin lama masa kerja dapat meningkatkan kadar Pb darah sopir angkot di Purwokerto tetapi menurunkan jumlah leukosit, trombosit, sedangkan nilai MCV, MCH dan MCHC tidak terpengaruh oleh lama masa kerja. | Vehicle fumes is a pollutant that is very harmful for environment. The smoke contains lead bromide (PbBr) which is the residue of the gasoline. The gasoline which is used contains TEM (tetramethyl lead) and TEL (tetraethyl lead). Lead that gets into the body causing various effects, such as blood. Individu that susceptible to be affected by lead are public transportation drivers. Average public transportation drivers work for 10-11 hours a day, so it is necessary to study the relationship between job period with the blood representation of public transportation drivers that exposed by lead in Purwokerto. The research objective was for knowing the relationship between working period with the blood lead concentrations and knowing the relationship between working period with the blood representation of public transportation drivers in Purwokerto. The material used in the study were blood samples of public transportation drivers in Purwokerto. The research method used was purposive random sampling and interviews of respondents. The independent variable was working period of public transportation drivers while the dependent variable in the study were blood lead levels and blood representation that limited to the number of leukocytes, platelets, the value of MCV, MCH and MCHC. The variables number and value were performed by statistical tests used Pearson corellation. The research results showed that correlation value of relationships the working period with lead concentrations was 0,002. The relationship of the working period with the number of leukocyte from normal leukocyte, leukocytosis and leukopenia are -0,059; 0,0367 and 0,877. The value of coefficient correlation of working period with the number of normal trombocyte, trombocytosis and trombocytopenia are -0,209; -0,141 and -1. Meanwhile, the value of coefficient correlation normal of MCV, MCH and MCHC are 0,123; 0,083 and -0,038. Longer working period can increase blood lead levels of public transportation drivers in Purwokerto but decrease the number of leukocytes and platelets, while the value of MCV, MCH and MCHC are not effected by longer working period. | |
| 854 | 6844 | H1B009041 | ESTIMATOR DERET FOURIER DARI MODEL REGRESI NONPARAMETRIK UNTUK DATA PANJANG GELOMBANG LAUT TERHADAP TINGGI GELOMBANG LAUT DI PANTAI PANGANDARAN | Metode deret Fourier merupakan salah satu metode statistika yang digunakan untuk menduga fungsi regresi nonparametrik dengan estimator deret Fourier. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh estimator deret Fourier pada data panjang gelombang laut terhadap tinggi gelombang laut di pantai Pangandaran. Estimator deret Fourier yang terbaik diperoleh dari estimator yang mempunyai parameter penghalus dengan ukuran kinerja minimum. Ukuran kinerja ini dihitung dengan menggunakan mean square error. Untuk data panjang gelombang terhadap tinggi gelombang laut di Pantai Pangandaran, ukuran kinerja minimum diperoleh saat parameter penghalus dari estimator deret Fourier bernilai 3. Jadi, estimasi terbaik untuk data panjang gelombang terhadap tinggi gelombang laut diperoleh dari estimator deret Fourier dengan koefisien regresi deret Fourier sampai 3 suku pertama. | The Fourier series method is a statistical method used to estimate a nonparametric regression function using Fourier series estimator. The purpose of this research is to obtain a Fourier series estimator for the data of the sea wave lenght versus wave height of Pangandaran beach. The best estimator of Fourier series is obtained from the estimator have smoothing parameter with minimum performance value. The performance measures calculated using the mean square error. This is achieved when estimator of Fourier series has smoothing parameter of value 3. This mean that the best Fourier series estimator has the first 3 terms in regression coefficiens. | |
| 855 | 6845 | B1J009072 | HUBUNGAN RASIO TOTAL NITROGEN DAN TOTAL FOSFOR DENGAN KELIMPAHAN CYANOPHYTA DI PERAIRAN WADUK PENJALIN, KABUPATEN BREBES | Nitrogen (N) dan fosfor (P) dalam perairan mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Nitrogen merupakan unsur yang terkandung dalam protoplasma dan dibutuhkan fitoplankton untuk mensintesis protein. Fosfor berfungsi dalam sintesis protein dan metabolisme bagi fitoplankton. Aktivitas dari daerah tangkapan air yang masuk ke perairan Waduk Penjalin dapat mempengaruhi konsentrasi N maupun P dalam perairan. Rasio total nitrogen (TN) dan total fosfor (TP) dalam perairan merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Cyanophyta merupakan salah satu divisi dari fitoplankton yang berperan sebagai produsen, beberapa diantaranya memiliki manfaat sebagai pakan alami ikan dan dapat memfiksasi N bebas dari udara. Sebagian besar dari Cyanophyta juga diketahui mampu menghasilkan toksin (cyanoksin). Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan TN dengan kelimpahan Cyanophyta; TP dengan kelimpahan Cyanophyta; TN/TP dengan kelimpahan Cyanophyta; TN, TP, TN/TP dengan kelimpahan Cyanophyta di perairan Waduk Penjalin, Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling pada 7 stasiun dengan ulangan tiga kali. Hubungan TN/TP dengan kelimpahan Cyanophyta dianalisa dengan analisis regresi - korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan TN/TP dengan kelimpahan Cyanophyta mempunyai tingkat hubungan sangat lemah hingga sangat kuat. Hubungan yang sangat kuat pengaruhnya ditunjukkan oleh hubungan TN, TP, TN/TP secara bersama dengan kelimpahan Cyanophyta, nilai koefesien korelasi (r) yang didapatkan 0,892 dengan kehandalan hubungan 79,6%. Hasil analisis regresi hubungan TN, TP, TN/TP secara bersama dengan kelimpahan Cyanophyta ditunjukan dengan persamaan Y=58,598 + 10, 935TN – 503,570TP – 0,334TN/TP. | Nitrogen (N) and phosphorus (P) affect the growth of phytoplankton in the waters. Nitrogen consist in protoplasma and it is required to synthesize protein of phytoplankton. Phosphorus is function in the synthesis protein and metabolism of the phytoplankton. The activities from the water flow that enter into the Penjalin Reservoir can affect both of concentration of N and P. The ratio nitrogen total (TN) and phosphorus total (TP) is the limit factor to affect the growth of phytoplankton. Cyanophyta is one of division from phytoplankton that function as producers, one of them have benefit as a natural food of fish and fix the free N of the air. Most of Cyanophyta are also known can to produce toxins ( cyanoksin ). The purpose of research to know relations of TN with the abundance of Cyanophyta; TP with the abundance of Cyanophyta; TN/TP with the abundance of Cyanophyta; TN, TP, TN/TP with the abundance Cyanophyta in the Penjalin Reservoir, Brebes Regency. This research used survey method with purposive sampling technique at 7 observation stations with 3 repeating. The relation of TN/TP with the abundance of Cyanophyta were analyzed use correlation regression - correlation analyzis. The results of the research shown that relation between TN/TP with the abundance of Cyanophyta with the degree was very weak to very strong correlation. The most affection correlation is shown by of TN, TP, TN/TP are collectively with the abundance of Cyanophyta with value coefficient (r) of 0,892 with the strength of the relation of 79,6%. The regression analyzis of TN, TP, TN/TP is collectively with the abundance of Cyanophyta are shown by the equation Y = 58,598 + 10, 935TN – 503,570TP – 0,334 TN/TP | |
| 856 | 6841 | H1B009039 | MODEL PENGOBATAN TUMOR DENGAN MENGGUNAKAN VIRUS ONCOLYTIC | Tumor merupakan hasil kelainan genetik dalam sel yang mengakibatkan adanya pertumbuhan abnormal sel, yang tetap ada walaupun penyebab awalnya dihilangkan. Pengobatan tumor dengan menggunakan virus dapat dimodelkan secara matematis. Pada penelitian ini, dikaji perilaku model pengobatan tumor dengan menggunakan virus oncolytic dengan asumsi virus tidak mengalami kejenuhan dalam menginfeksi sel tumor. Model tersebut mempunyai empat titik kesetimbangan, yaitu dan Pada titik kesetimbangan jumlah sel tumor yang tidak terinfeksi virus dan yang terinfeksi virus mengalami kepunahan. Pada titik kesetimbangan pengobatan tumor tersebut mengalami keberhasilan, sedangkan pada titik kesetimbangan pengobatan tumor mengalami kegagalan. Pada titik kesetimbangan pengobatan tumor dikatakan belum berhasil. Titik kesetimbangan bersifat tidak stabil, sedangkan dan dapat bersifat tidak stabil atau stabil asimtotis, bergantung pada nilai parameter yang digunakan. Berdasarkan hasil simulasi model, semakin besar tingkat pertumbuhan instrinsik sel tumor yang terinfeksi virus atau semakin kecil tingkat kematian alaminya, dengan tingkat pertumbuhan instrinsik sel tumor yang tidak terinfeksi virus tetap, maka proporsi jumlah sel tumor yang terinfeksi virus akan semakin besar dan stabil asimtotis, sehingga pengobatan tumor dengan menggunakan virus oncolytic mengalami keberhasilan. | Tumor is the result of genetic abnormalities in cells that lead to the abnormal growth of cells, which remain there even the initial cause is omitted. Tumor therapy by viruses can be modeled mathematically . In this research, the behavior of tumor therapy by oncolytic viruses model was analyzed. The model assumed that the virus were never satuarated to infect the tumor cells. The model has four equilibrium points, they are and At the equilibrium point the number of uninfected tumor cells and infected tumor cells were extincted. At the equilibrium point tumor therapy will be successful, while at the equilibrium point the therapy will be faild. At the equilibrium point the tumor therapy has not been successful yet. Equilibrium point is unstable, while and can be unstable or asymptotically stable, depend on the value of the parameter that are used. Based on the simulation, the greater intrinsic growth rate of tumor cells infected by the virus or the smaller the natural mortality rate, in the constant intrinsic growth rate of tumor cells uninfected by the virus, then the proportion of tumor cells infected by the virus will become bigger and is asymptotically stable, therefore the tumor therapy by oncolytic viruses will be successful. | |
| 857 | 6848 | P2AA10012 | KEMAJUAN SELEKSI F3/F4 KOMPONEN HASIL DAN PROTEIN PADI G39×CIHERANG DAN MENTIK WANGI×G39 | Seleksi tidak langsung umum digunakan untuk mengembangkan kultivar padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh seleksi tidak langsung melalui jumlah anakan produktif terhadap komponen hasil dan protein. Analisis lintas komponen hasil dan protein terhadap hasil digunakan untuk melihat pengaruh langsung dan tidak langsung dari komponen hasil dan protein terhadap hasil. Seleksi dilakukan di dua keturunan persilangan(G39×CH dan MW×G39) dalam dua generasi (F3/F4). Setiap genotip dipilih dari generasi F3 ditanam dalam baris berdasarkan rancangan teraugmentasi. Respon seleksi generasi F3/F4 dievaluasi berdasarkan komponen hasil (jumlah anakan produktif, panjang malai, bobot 1000 butir, persentase gabah isi per malai) dan kandungan protein total. Analisis lintas dilakukan pada jumlah anakan produktif, panjang malai, bobot 1000 butir, persentase gabah isi per malai, dan kandungan protein terhadap hasil di generasi F4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seleksi jumlah anakan produktif meningkatkan jumlah anakan secara langsung di kedua populasi dan persen gabah isi secara tidak langsung pada MW×G39. Seleksi jumlah anakan produktif secara tidak langsung menurunkan kandungan protein. Jumlah anakan produktif merupakan komponen hasil yang memiliki pengaruh langsung yang tinggi terhadap hasil. | Indirect selection commonly used for developing rice cultivars. This study aims to identify the effect of indirect selection through a number of productive tillering to yield components and protein. Path analysis yield components and protein used to study the direct and indirect effects of yield components and protein to yield. The selection was conducted at two populations (G39×CH and MW×G39) in two generation (F3/F4). Every selected genotype from F3 generation were planted in a row based on augmented design. Selection resoponses F3/F4 generation was evaluated based on yield components (number of productive tillering, panicle length, 1000 grain weight, percentage filled grain per panicle) and crude protein content. The result showed that number of productive tillering directly increased number of productive tillering in both population and indirectly increased percentage filled grain in MW×G39. Number of productive tillering selection indirectly decreased protein content. Number of productive tillering has high direct effect to yield. | |
| 858 | 6849 | P2CA11032 | ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI DAN FINANSIAL PENDIRIAN PERUSAHAAN DAERAH JASA PELAKSANA KONSTRUKSI DI KABUPATEN PEMALANG | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan ekonomi dan finansial pendirian perusahaan daerah jasa pelaksana konstruksi di Kabupaten Pemalang dengan menggunakan alat analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), Discounted Payback Period (DPP), Analisis Sensitivitas dan Analisis Simulasi Monte Carlo. Penelitian ini juga menganalisis kelayakan pendirian perusahaan daerah jasa pelaksana konstruksi berdasarkan aspek hukum serta strategi pendirian dan pengembangan perusahaan dengan menggunakan analisis SWOT. | This research aims to analize the feasibility of economic and financial terms of a construction maintenance service regional companies in Pemalang regency. To analyze the economic and financial feasibility, the researcher uses Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), Discounted Payback Period (DPP), sensitivity analysis and Monte Carlo analysis. This reseach also analyze the feasibility of maintainance construction service regional companies based of legality aspect and establishment strategy and firm improvement by using SWOT analysis. | |
| 859 | 6850 | C1L009013 | THE INFLUENCE OF MANAGEMENT COMPETENCY IN IMPROVING ORGANIZATION PERFORMANCE WITH INNOVATION OF MANAGEMENT AS MODERATING VARIABLE (An Empirical Study in Small and Medium Enterprises in Banyumas Regency) | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kompetensi manajemen dalam meningkatkan kinerja organisasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten Banyumas dan untuk menganalisis pengaruh inovasi manajemen dalam memperkuat pengaruh kompetensi manajemen dalam meningkatkan kinerja organisasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten Banyumas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh UKM di Kabupaten Banyumas. Jumlah sample adalah 84 UKM yang memenuhi criteria UKM berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Micro, Kecil, dan Menengah. Moderating regresi analisis dengan SPSS program digunakan untuk menguji pernyataan dari 84 sample. Hasil analisis menunjukan bahwa nilai tstatistik variabel manajemen kompetensi dengan kinerja organisasi 4.081 lebih besar daripada nilai ttabel 1.664. Nilai signifikansi variabel interaksi antara variabel manajemen kompetensi dan inovasi manajemen 0.033 lebih kecil daripada nilai signifikansi alpha 0.05. Hal ini menunjukan bahwa hipotesis1 dan hipotesis2 diterima. Berdasarkan hasil dari analisis data, dapat disimpulkan bahwa kompetensi manajemen memiliki pengaruh positif dalam meningkatkan kinerja organisasi UKM di Kabupaten Banyumas. Lalu, inovasi manajemen memperkuat pengaruh manajemen kompetensi dalam meningkatkan kinerja organisasi UKM di Kabupaten Banyumas. | The objectives of this study are to analyze the influence of management competency in improving the organizational performance in Small and Medium Enterprise (SMEs) in Banyumas Regency and to analyze whether innovation of management as moderating variable will strengthen the influence of management competency in improving the organizational performance of SMEs in Banyumas Regency. The population in this study was SMEs in Banyumas Regency. The number of sample was 84 SMEs that meet the criteria of SMEs based on Regulation No. 20 of 2008 about MSMEs. Moderated regression analysis with SPSS program was used to analyze the statement of 84 respondents. The result shows that the value of t (tstatistic) between management competency variable and organizational performance variable of 4.081 was greater than the value of ttable 1.664. The significant value of interaction between management competency variable and innovation of management variable of 0.033 was lower than the level of significance (α) 0.05. Therefore, the first and second hypotheses are accepted. Based on the result of data analysis, it could be concluded that management competency has a positive influence in improving the organizational performance of Small and Medium Enterprises in Banyumas Regency. Then, innovation of management strengthens the influence of management competency in improving the organizational performance of Small and Medium Enterprises in Banyumas Regency. | |
| 860 | 6852 | H1D009016 | PENGARUH PANJANG TERTANAM ALAT SAMBUNG PADA SAMBUNGAN GESER KOMPOSIT KAYU GLUGU LAMINASI-BETON TERHADAP BEBAN LATERAL | Kayu glugu biasa tumbuh di daerah beriklim tropis. Sifat kayu kelapa bagian tepi mempunyai kekuatan dan kekerasan yang tinggi, sedangkan bagian inti mempunyai kekuatan dan kekerasan yang rendah. Kayu glugu dapat menjadi alternatif pengganti kayu dengan cara dilaminasi. Kayu glugu laminasi dapat digunakan untuk pemanfaatan gelagar jembatan atau struktur bangunan lainnya dengan dikompositkan dengan material beton. Pada penggunaan struktur komposit tersebut, komponen sambungan merupakan salah satu bagian yang perlu didesain dengan baik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tahanan lateral alat sambung (dowel) dan mode kegagalan yang terjadi. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian geser dengan 27 benda uji komposit kayu glugu laminasi-beton dengan variasi panjang tertanam dowel dengan panjang tertanam dowel pada benda uji pertama di beton 30 mm dan di kayu glugu laminasi 30 mm, benda uji kedua di beton 30 mm dan di kayu glugu laminasi 50 mm, benda uji ketiga di beton 30 mm dan di kayu glugu laminasi 70 mm, benda uji ketiga di beton 30 mm dan di kayu glugu laminasi 70 mm, benda uji keempat di beton 50 mm dan di kayu glugu laminasi 30 mm, benda uji kelima di beton 50 mm dan di kayu glugu laminasi 50 mm, benda uji keenam di beton 50 mm dan di kayu glugu laminasi 70 mm, benda uji ketujuh di beton 70 mm dan di kayu glugu laminasi 30 mm, benda uji kedelapan di beton 50 mm dan di kayu glugu laminasi 70 mm dan benda uji kesembilan di beton 30 mm dan di kayu glugu laminasi 70 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benda uji yang optimal adalah benda uji dengan variasi panjang tertanam di beton 70 mm dan di kayu glugu laminasi 50 mm, karena memiliki nilai tahanan lateral paling besar dan indeks daktilitas yang cukup tinggi. | Coconut wood grows in the tropics. Properties of coconut wood edges have a high strength and hardness, while the core have the strength and low hardness. Coconut wood can be an alternative to wood laminated manner. Coconut wood laminate can be used for the utilization of bridge girder or other structures with composite with concrete materials. On the use of the composite structure, component connection is one part that needs to be designed well. The research objective was to determine the lateral resistance shear connector (dowel) and the failure mode. Testing is done with a shear testing 27 specimens glugu laminate composite wood-concrete with embedded dowel length variation with embedded dowel length on the first specimen in concrete 30 mm and in glugu laminate 30 mm, the second specimen in concrete 30 mm and in glugu laminate 50 mm, the third specimen in concrete 30 mm and in glugu laminate 70 mm, the fourth specimen in concrete 50 mm and in glugu laminate 30 mm, the fifth specimen in concrete 50 mm and in glugu laminate 50 mm, the sixth specimen in concrete 50 mm and in glugu laminate 70 mm, the seventh specimen in concrete 70 mm and in glugu laminate 30 mm, the eighth specimen in concrete 70 mm and in glugu laminate 50 mm, and then the ninth specimen in concrete 70 mm and in glugu laminate 70 mm . The results showed that the optimal specimen is the specimen length variation embedded G.70.50, because it has the greatest lateral resistance and ductility index is high enough . |