Artikelilmiahs

Menampilkan 8.141-8.160 dari 48.903 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
81418775F1A009085METODE BELAJAR DALAM FILM FREEDOM WRITERS
(Analisis Semiotika terhadap Film Freedom Writers)
Metode belajar dalam kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu hal yang terpenting untuk meraih tujuan pendidikan. Dalam mengajar seorang guru harus memiliki strategi untuk membuat anak didiknya menjadi seperti yang diharapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar daya serap peserta didik tidaklah sama. Metode belajar merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru. Penelitian ini akan menganalisis sebuah film pendidikan berjudul Freedom Writers untuk mengetahui metode belajar guru bernama Erin Gruwell dalam menghadapi tantangan cukup banyak, mulai dari pihak sekolah tidak sepaham dengan dirinya, siswa-siswi bermasalah, suami dan ayahnya kurang mendukung membuat ia tidak pernah putus semangat, adanya diskriminasi oleh pihak sekolah seperti pemisahan kelas, perbedaan fasilitas kelas yang terlihat sangat berbeda. Erin berusaha menemukan cara melakukan pendekatan dan metode pengajaran tepat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika. Semiotika sebagai suatu model ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan antartanda. Semiotika dipakai sebagai pendekatan untuk menganalisis sesuatu, baik itu berupa teks, gambar, ataupun simbol di dalam media cetak ataupun elektronik, dengan asumsi bahwa media itu sendiri dikomunikasikan melalui simbol dan kata. Penelitian ini dimulai dengan melakukan pengamatan terhadap objek penelitian, yaitu metode belajar yang terungkap dalam film Freedom Writers. Peneliti kemudian melakukan “pemotongan” (analisis) terhadap film Freedom Writers dengan menggunakan metode semiotika dan alat-alat analisisnya. Setelah itu barulah didapat beberapa scene pilihan yang diduga mengandung muatan metode belajar yang terungkap dalam film Freedom Writers.
Hasil penelitian mengenai metode belajar oleh Erin Gruwell yang terungkap dalam film Freedom Writers Erin Gruwell telah melakukan pendidikan yang humanis, membebaskan, dan beralaskan kasih. Ini adalah kisah nyata tentang kelas 203, dimana Erin Gruwell melakukan pendidikan yang benar-benar menakjubkan. Gruwell telah mendobrak paradigma pendidikan dan memberi pandangan baru sebagai solusi. Berawal dari kelas yang susah diatur dan akhirnya mulai terjalin hubungan baik antara siswa dan siswi di dalam kelas tersebut. Mereka mulai bertegur sapa dengan lainnya, bekerja sama dan tidak ada lagi terlibat geng atau kelompok ras tertentu. Mereka menjadi satu dalam kelas tersebut tanpa adanya perbedaan kelompok ras tertentu. Metode belajar oleh Erin Gruwell yang terungkap dalam film Freedom Writers yang pertama permainan garis, kedua membuat buku harian, yang ketiga mengadakan study tour, keempat mendatangkan narasumber, kelima menyatukan buku harian semua siswa menjadi satu buku.
Learning methods in the teaching and learning activities is one of the most important things to achieve educational goals. In teaching a teacher should have a strategy to make their students be as expected. In the teaching and learning activities of learners absorption is not the same. The method of learning is one of the learning strategies that can be done by the teacher. This study will analyze an educational movie called Freedom Writers to know the methods of studying teacher named Erin Gruwell in the face of quite a lot of challenges, ranging from the school did not agree with him, troubled students, husband and father less support makes it never broke the spirit, discrimination by the school such as the separation of class, distinction facilities that look very different. Erin tried to find a way to approach and appropriate teaching methods.

The method used in this study is a semiotic analysis. Semiotics as a model of social science to understand the world as a system of relations between sign. Semiotics is used as an approach to analyze something, whether it be text, pictures, or symbols in the print or electronic media, with the assumption that the medium it self is communicated through symbols and words. The study began with the observation of the research object, a method of learning that is revealed in the movie Freedom Writers. Researchers then "cutting" (analysis) of the Freedom Writers movie using semiotics and analysis tools. Afterwards, obtained some choice scenes suspected to contain payloads of learning methods are revealed in the movie Freedom Writers.

Results of research on method of learning by Erin Gruwell is revealed in the movie Freedom Writers Erin Gruwell has done a humanist education, liberating, and paved with love. This is a true story about the 203 class, where Erin Gruwell make education truly amazing. Gruwell has to break the paradigm of education and provide new perspectives as a solution. Starting from unruly classes and eventually began intertwined good relationship between male and female students in the class. They began to greet each other, work together and there is no longer involved in gangs or certain racial groups. They became one of the class without any differences in certain racial groups. The method of learning by Erin Gruwell is revealed in the film Freedom Writers is the first line of the game, the two make a diary, which held a third study tour, bringing the four speakers, unites fifth diary of all students into one book.
81428776F1C008039Pergeseran Tradisi Cowongan di Padepokan CowongsewuBangsa Indonesia memiliki berbagai keanekaragaman seni serta budaya yang beragam yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Dari keanekaragaman kebudayaan yang berbeda, sehingga masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang multikultural (majemuk). Seni serta budayanya pun melekat dalam setiap masyarakatnya, karena pada dasarnya seni serta budaya merupakan sebuah warisan agung dari nenek moyang yang harus terjaga serta dilestarikan. Derasnya pengaruh modernisme kini mulai mengikis eksistensi budaya-budaya lokal yang ada di sub kultur Banyumas. Salah satu bentuk kesenian yang berkaitan langsung dengan ritual atau kepercayaan tradisional yaitu ritual turun hujan atau yang disebut dengan cowongan. Kesenian tradisi yang sangat tua dan hampir punah ini awalnya merupakan sebuah upacara ritual masyarakat lampau yang bertujuan untuk meminta hujan pada musim paceklik ataupun musim kering yang hingga kini masih sangat dijaga kelestarianya. Seiring perkembangan jaman yang modern, terjadi pergeseran para pelaku pementasan cowongan.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dimana pemaparannya didasarkan pada proses pengumpulan data baik melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Fokus penelitian ini dibedah dengan menggunakan pisau Fenomenologi Alfred Schutz yang di dalamnya menyebutkan dua fase yang diberi nama in-order-to-motive yang merujuk pada masa yang akan datang dan tindakan because motive yang merujuk pada masa lalu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan jaman yang modern mempengaruhi motivasi para pelaku cowongan yang lambat laun pemaknaan cowongan pun telah mengalami perubahan, dari seni tradisi ritual berubah fungsinya menjadi seni pertunjukan. Dapat disimpulan bahwa saat ini cowongan tidak lagi menjadi sebuah tradisi ritual untuk meminta hujan, namun sudah berubah menjadi seni pertunjukan yang sifatnya kontemporer dan sebagai media kritik sosial serta sebagai salah satu bentuk upaya para seniman untuk melestarikan budaya tradisional bangsa Indonesia.
Kata kunci: cowongan, pergeseran, pemaknaan
Indonesia has an art and cultural diversity widespread from Sabang to Merauke. From variously distinct cultures, Indonesia people become multicultural (plural). Art and culture are ingrained in society because those are majestic ancestral heritage that have to be protected and preserved. The strong current of modernism has recently abraded local cultural existence in Banyumas sub-culture. One form of arts that is directly related to traditional rites or belief is rain dance ritual known as cowongan. This ancient and near-extinct art form is a past social ritual to bring in rain during famine or drought season which to date is still under preservation. The development of modern era has brought a shiftto the role players of cowongan dance.
This research was descriptive qualitative with an exposition based on data collection either through in-depth interview, observation and documentation. Research focus was analyzed using Alfred Shutz’s phenomenology, mentioning two phase called in-order-to-motive that refers to the future and because motive act that refers to the past.
The result of the research indicated that modern era development affects the motivation of cowongan role player that gradually changes cowongan implications from ritual art tradition to performance art. It can be concluded that cowongan at present is no longer ritual tradition to bring in rain but it has shifted into a contemporary performance art, a social criticism media and as an effort from the artists to preserve Indonesian traditional culture.
Key words: cowongan, shift, implication
81438856A1G011003EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA INDUSTRI TAHU DI DESA CIKEMBULAN
KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS
Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung biaya dan pendapatan, mengetahui pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi terhadap produksi tahu dan menghitung efisiensi penggunaan faktor produksi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan pengambilan sampel secara Stratified Random Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 64 pengrajin tahu. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya pendapatan dan R/C, analisis fungsi produksi Cobb Douglas, dan analisis efisiensi faktor-faktor produksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada industri tahu strata I (<50 Kg kedelai) rata-rata biaya total sebesar Rp450.844,61 per produksi dan rata-rata pendapatan bersih sebesar Rp168.891,55 per produksi dengan nilai R/C sebesar 1,37. Pada industri tahu strata II (51-100 Kg kedelai) rata-rata biaya total sebesar Rp1.017.586,32 per produksi dan rata-rata pendapatan bersih sebesar Rp455.419,93 per produksi dengan nilai R/C sebesar 1,45. Pada industri tahu strata III (>101 Kg kedelai) rata-rata biaya total sebesar Rp1.590.948,59 per produksi dan rata-rata pendapatan bersih sebesar Rp890.601,41 per produksi dengan nilai R/C sebesar 1,56. Pada industri tahu strata I dan industri tahu strata II faktor produksi yang berpengaruh sangat nyata terhadap produk tahu adalah kedelai, sedangkan pada industri tahu strata III faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi tahu adalah kedelai, laru, solar dan tenaga kerja. Pada industri tahu strata I penggunaan kedelai, kayu bakar dan solar belum efisien, sedangkan penggunaan laru, bahan penunjang dan tenaga kerja tidak efisien. Pada industri tahu strata II penggunaan kedelai dan bahan penunjang belum efisien, sedangkan penggunaan laru, kayu bakar, solar dan tenaga kerja tidak efisien. Pada industri tahu strata III penggunaan kedelai, laru dan kayu bakar belum efisien, sedangkan penggunaan bahan penunjang, solar dan tenaga kerja tidak efisien. The objectives of this study were to count earnings and expense, know effect of using tofu production factors towards the tofu production, and count the efficiency of of using production factor on tofu industry in Cikembulan Village, Pekuncen subdistrict, Banyumas Regency. The research method was used by survey through Stratified Random Sampling to 64 respondent. The analysis method were used are earnings cost analysis and R/C, Cobb Douglas production function analysis, and efficiency of production factors analysis. The results showed that the tofu industry stratum I (<50 Kg soybean) average total cost of Rp450.844,61 per production and an average net income of Rp168.891,55 per production with a value of R/C of 1,37. In tofu industry stratum II (51-100 Kg soybean) average total cost of Rp1.017.586,32 per production and an average net income of Rp455.419,93 per production with a value of R/C of 1,45. In tofu industry stratum III (> 101 Kg soybean) average total cost of Rp1.590.948,59 per production and an average net income of Rp890.601,41 per production with a value of R/C of 1,56. It shows that in every stratum of tofu industry are quite economically profitable and feasible to be developed because it has the value of R/C ratio > 1. In tofu industry stratum I and stratum II, production factor which clearly affect the product is the soybean (X1), whereas fermenting agent (X2), supporting material (X3), firewood (X4), diesel fuel (X5) and labour (X6) indirectly affect the tofu production (Y). In tofu industry stratum III, soybean (X1), fermenting agent (X2), diesel fuel (X5) and labour (X6) directly affect the tofu production, while supporting material (X3) and fire wood (X4) indirectly affect the tofu production (Y). In tofu industry stratum I the use of soybean, firewood, and diesel fuel have not yet efficient, while use of fermenting agent, supporting materials and labour are inefficient. In tofu industry stratum II the use of soybean and supporting materials have not yet efficient, while use of fermenting agent, firewood, diesel fuel and labour are inefficient. In tofu industry stratum III the use of soybean, fermenting agent, and firewood have not yet efficient, while use of supporting materials, diesel fuel and labour are inefficient.
81448777H1C010027PERANCANGAN DAN ANALISIS RANGKAIAN SNUBBER UNTUK NEUTRAL POINT SHORTED INVERTER KAPASITAS 10 kWUntuk kondisi real dari operasi suatu inverter adanya komponen parasitik induktor dan kapasitor dalam rangkaian inverter akan menimbulkan tegangan lebih transien yang bisa merusak komponen sakelar elektronik yang digunakan pada inverter. Untuk mengatasi tegangan lebih transien ini pada inverter dilengkapi dengan rangkaian snubber. Pada tugas akhir ini akan dibahas rangkaian snubber untuk neutral point shorted inverter empat sakelar kapasitas 10 kW. Hasil penelitian menunjukkan neutral point shorted inverter dapat menghasilkan gelombang keluaran tiga level kondisi yaitu kondisi level positif, nol dan negatif. Hasil penelitian juga menunjukkan rangkaian snubber dapat mengurangi tegangan beban lebih dari 384.0725 Volt ke 321.1584 Volt saat indeks modulasi 0.97 dan besarnya indeks modulasi 0≤ma≤1 nilai THD arus dan tegangan beban yang dihasilkan akan semakin menurun. Selain itu, semakin naik orde harmonisa maka nilai amplitudo semakin turun. Nilai efisiensi inverter rangkaian dengan snubber yaitu 80.0067 % saat kondisi beban RL maksimum.For the real condition of operation of an inverter that with parasitic components of inductors and capacitors in the inverter circuit will cause overvoltage transients that can damage the electronic switch components used in the inverter. To resolve this transient overvoltage in the inverter is equipped with snubber circuit. On this final assignment will be discussed for the snubber circuit neutral point shorted inverter four switches capacity 10 kW. The results showed neutral point shorted inverter output waveform can produce a three level are the condition level of positive, zero and negative. The results also showed a snubber circuit can reduce the load overvoltage 382.1044 to 316.0488 volts when the modulation index 1 and the magnitude of the modulation index 0≤ma≤1 THD value of the load current and voltage produced will decrease. In addition, the rising value of the the amplitude of the harmonics of order getting down. The value efficiency inverter circuit with snubber is 77.0014 %. while the maximum load RL conditions.
81458778H1E009011Analisis DInamika Nonlinier pada Osilator Magnetik dengan Memperhitungkan Gaya Gesek Menggunakan Metode Runge-KuttaTelah dilakukan analisis untuk memperoleh solusi persamaan differensial nonlinear dari osilator magnetik dengan menggunakan metode Runge-Kutta. Nilai-nilai fisis yang dipakai adalah nilai-nilai fisis yang dipakai pada penelitian sebelumnya (Adam, 2012). Pada saat gaya gesek diabaikan sistem menjadi tidak stabil. Kemudian untuk sistem yang terpengaruhi oleh gaya gesek (y_0=0,001 m) terjadi 3 kemungkinan keadaan, yaitu sistem yang tidak stabil, sistem yang berosilasi secara harmonik dan sistem yang stabil. Untuk tetapan redaman b <0,015 kg/s sistem menjadi tidak stabil, sedangkan untuk nilai tetapan redaman 0,015 kg/s ≤ b ≤ 0,16 kg/s sistem berosilasi harmonik dan untuk nilai tetapan redaman b >0,016 kg/s sistem menjadi stabil. Dari hasil yang diperoleh besarnya nilai simpangan awal dan tetapan redaman yang diberikan akan mempengaruhi kstabilan sistem osilator magnetik yang ditinjau. An analysis has been performed to obtain solutions of nonlinear differential equations forh a magnetic oscillator using the Runge-Kutta method. The physical values used is this study are physical values used in previous studiy (Adam, 2012). when the frictional forces ignored the system is unstable. Then under influence of frictional forces (y_0 = 0.001 m) 3 possible states occurred, i.e. an unstable system, a system that oscillates a stable system. For the damping constant b <0.015 kg/s the system becomes unstable, the whereas for damping constant value of 0.015 kg/s ≤ b ≤ 0.16 kg/s the system oscilation harmonicaly and for the value of the damping constant b > 0.016 kg/s the system becomes stable. From the results obtained the value of the initial deviation and damping constants affect the value of the stability of the magnetic oscilation of interest.
814611456E1A010170PERANAN BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM DALAM PENANGANAN KEJAHATAN TERHADAP SATWA LIAR DILINDUNGI (STUDI DI BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM KABUPATEN CILACAP) Perdagangan secara ilegal satwa liar yang dilindungi di Indonesia semakin tidak terkendali inilah salah satu pemicu lemahnya penegakkan hukum dan perlindungan satwa liar di Indonesia sehingga menyebabkan satwa terancam punah dan tindak kejahatan semakin meningkat. Indonesia merupakan negara dengan tingkat keterancaman yang tinggi terutama kepunahan satwanya yang akan mengganggu keseimbangan alam. Apabila masalah ini tidak ditangani secara serius maka akan sangat besar kemungkinan punah satwa yang paling berharga.
Dalam hal ini penulis merumuskan masalah, 1. Bagaimana peranan Balai Konservasi Sumber Daya Alam terhadap satwa liar dilindungi dan penanganan dari tindak pidana kejahatan terhadap satwa liar dilindungi ?, 2. Faktor-faktor apa yang menghambat dan menunjang peranan BKSDA dalam melindungi satwa liar dari tindak kejahatan ?
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan yang berorientasi pada pendekatan hukum yang ditempuh lewat pendekatan yuridis sosiologis dengan penyajian hasil penelitian secara kualitatif.
Peranan Balai Konservasi Sumber Daya Alam telah diatur di dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.53 /Menhut-II/2006. Balai Konservasi Sumber Daya Alam terhadap satwa liar dilindungi mempunyai peranan penting dalam hal perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan.Upaya yang dilakukan BKSDA Cilacap dalam peranannya seperti upaya preventif melakukan sosialisasi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pada masyarakat dan pedagang satwa, upaya represif dengan melakukan operasi gabungan bersama polisi hutan, mengawasi perdagangan, perburuan, membuat berita acara perkara. Dalam hal ini pihak BKSDA didalam tugasnya mengalami kendala seperti jumlah personil yang terbatas serta faktor sarana dan fasilitas yang kurang memadai serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan satwa liar dilindungi membuat kinerja pegawai BKSDA belum berjalan secara maksimal.
Illegal trade in protected wildlife in Indonesia increasingly unmanageable this is one trigger for weak enforcement of the law and the protection of wildlife in Indonesia causing the endangered wildlife and the increasing crimes. Indonesia is a country with a high level of keterancaman especially its animal extinctions that would disrupt the balance of nature. If the problem is not tackled seriously then it would very likely become extinct the most precious wildlife.
In this case the author formulates problems, 1. How is the role of the Conservation of the natural resources of the protected wildlife and handling of the criminal offence of crimes against wildlife are protected?, 2. What factors that inhibit and support the role of the BKSDA in protecting wildlife from the crimes?
In this study the author uses an approach that is oriented on legal approaches taken by the juridical sociological approach to the presentation of the results of the qualitative research.
The role of the Conservation of natural resources has been set in the regulation of the Minister of forestry Number P. 53/Menhut-II/2006. Conservation of the natural resources of the protected wildlife have an important role in terms of protection, preservation and utilization. Efforts are being made in its role as BKSDA Cilacap preventive efforts doing the socialization Act No. 5 of 1990 concerning conservation of natural resources, the ecosystem and Biodiversity on society and animal traders, repressive efforts by conducting a joint operation with the Rangers, overseeing trade, poaching, make a news event of things. In this case the BKSDA in job experience constraints such as limited number of personnel as well as the means and factors of less adequate facilities as well as the low level of public awareness of the importance of the protection of wildlife is protected performance makes employee BKSDA has yet to run its full potential.
81478779G1A010038FAKTOR – FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUMAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMASPneumonia masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian utama pada balita. Salah satu usaha pemerintah dalam menekan angka kejadian pneumonia diantaranya melalui upaya pencegahan dan penanggulangan faktor risiko yang meliputi faktor instrisik dan ekstrinsik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor-faktor lingkungan fisik rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan case-control study. Populasi terjangkau adalah Balita yang berobat di Puskesmas Purwokerto Selatan antara Mei 2013 sampai Mei 2014. Jumlah sampel sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 sampel kasus dan 50 sampel kontrol. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistic. Kejadian pneumonia pada balita lebih tinggi pada balita yang tinggal di dalam rumah dengan jenis lantai yang tidak memenuhi syarat. Kejadian pneumonia pada balita lebih tinggi pada balita yang tinggal di dalam rumah dengan kondisi dinding yang tidak memenuhi syarat, rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat, rumah dengan tingkat kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat, dan rumah dengan pemakaian jenis bahan bakar memasak yang tidak memenuhi syarat. Jenis lantai, kondisi dinding, luas ventilasi, tingkat kepadatan hunian dan pemakaian jenis bahan bakar berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia pada balita (p <0,05). Jenis lantai rumah merupakan variabel yang paling besar hubungannya dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas.Pneumonia still remains a major cause of morbidity and mortality in children. One of the government programs reducing the pneumonia case is through prevention and control of risk factors, including intrinsic and extrinsic factors. The aim of this study was to investigate the relation between house physical condition factors and incidence of pneumonia in children at regional public health centre (Puskesmas) in South Purwokerto Banyumas. This study is an observational analytic study with case-control study approach. The subjects are children who seeking treatment at Puskesmas in South Purwokerto between May 2013 to May 2014. The total sample were 100 subjects consist of 50 cases and 50 control samples. Chi-square test and logistic regression was conducted to determine the relationship between house physical condition factors and incidence of pneumonia. The result shows that incidence of pneumonia was higher in children who live in the home with unpaved flooring, lack of wall condition, bad ventilation, high population density, and unappropriate type of fuel using for daily cooking. There is a significant association of house physical condition including type of floor, wall conditions, ventilation, population density and type of fuel consumption with the incidence of pneumonia in children (p<0.05). The main factor that determine the relationship with the incidence of pneumonia in children at Puskesmas in South Purwokerto Banyumas is the type of floor.
81488781G1A010065HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) DENGAN PERILAKU PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN PASIEN JKN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS PEKUNCENPemerintah membuat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), untuk memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. Berdasarkan data kunjungan rawat jalan Puskesmas Pekuncen, setelah dilaksanakan JKN terjadi peningkatan 80,79% pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Puskesmas Pekuncen. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah pengetahuan pasien tentang asuransi kesehatan JKN. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang JKN dengan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan pada pasien JKN rawat jalan di Puskesmas Pekuncen. Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Peneliti mewawancarai 55 pasien JKN rawat jalan berumur 18-60 tahun yang memeriksakan diri di Puskesmas Pekuncen. Responden diambil menggunakan non probability sampling dengan metode consecutive sampling. Pengetahuan tentang JKN diukur dengan kuesioner pengetahuan tentang JKN dan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan pasien JKN rawat jalan diperoleh melalui pengisian kuesioner perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square (x2). Terdapat perbedaan yang signifikan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan pasien yang memiliki pengetahuan tentang JKN tinggi dan rendah di Puskesmas Pekuncen (p<0,001). Hasil penelitian menunjukkan proporsi pasien JKN rawat jalan yang memiliki pengetahuan tentang JKN tinggi sebesar 67,3%. Mayoritas pasien JKN rawat jalan dengan pengetahuan tinggi memiliki perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan tinggi sebesar 86,5%. Terdapat hubungan pengetahuan tentang JKN dengan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan pada pasien JKN rawat jalan di Puskesmas Pekuncen.Government has development National Health Insurance (JKN) through the Social Security Organizing Agency (BPJS) to provide health insurance for entire population of Indonesia. Based on data from outpatients visit at Pekuncen health center, implemented JKN has increased 80,79% utilization of JKN outpatients at Pekuncen health center. One of the factors that are affecting patient’s knowledge of National Health Insurance (JKN). The aims of this study was to determine the association of knowledge about JKN with outpatients health service utilization of JKN at Pekuncen health center. This research was an analytic observational with cross-sectional approach. Researchers interviewed 55 JKN outpatients between 18-60 years old who visited at Pekuncen health center. Respondents were taken by using a non-probability sampling with consecutive sampling method. Both of knowledge about JKN and health care utilization behavior measured by questionnaires. Bivariate analysis used is chi square test (x2). There was significant differences of knowledge about JKN, between patients who have high and low in health service utilization behavior at Pekuncen health center (p <0.001). The results showed the proportion of patients who have high of knowledge about JKN was 67,3%. The majority of JKN outpatient who have high knowledge about JKN and high health care utilization behavior was 86.5%. There is a association of knowledge about JKN with outpatients health service utilization of JKN behavior at Pekuncen health center.
814911466C1A011060ANALISIS PEMBANGUNAN DAERAH BERBASIS SEKTOR EKONOMI POTENSIAL DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA DI KABUPATEN PURWAKARTA PERIODE 2008-2013Penelitian ini berjudul “ANALISIS PEMBANGUNAN DAERAH BERBASIS SEKTOR EKONOMI POTENSIAL DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA DI KABUPATEN PURWAKARTA PERIODE 2008-2013”. Tujuan adanya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasikan sektor dan subsektor ekonomi basis, sektor dan subsektor ekonomi potensial, klasifikasi pertumbuhan subsektor dan merumuskan strategi kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini menggunakan alat analisis Location Quotient (LQ), Model Rasio Pertumbuhan (MRP), Analisis Overlay, Analisis Klassen Typology, dan Analisis SWOT.
Berdasarkan hasil analisis LQ dari tahun 2008 sampai tahun 2013 yang teridentifikasi sebagai sektor basis beserta nilainya adalah sektor industri pengolahan (1,11); sektor listrik, gas, dan air bersih (1,05); sektor perdagangan, hotel dan restoran (1,07); serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (1,40). Sedangkan jika dilihatper subsektor, maka terdapat 6 subsektor basis di Kabupaten Purwakarta, yaitu perikanan (1,92), industri non migas (1,13), listrik (1,25), perdagangan (1,12), bank (1,21) dan sewa bangunan (5,03).Berdasarkan analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP) 3 subsektor yang tergolong potensial dari segi pertumbuhannya, yakni perikanan, listrik dan bank.
Berdasarkan analisis Overlay yang merupakan kombinasi dari hasil penghitungan Location Quotient (LQ) dan Model Rasio Pertumbuhan (MRP) menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan sebagai satu-satunya sektor potensial baik dari sisi kontribusi maupun pertumbuhan ekonomi. Sedangkan jika dilihat per-subsektor terdapat 4 subsektor yang tergolong potensial yakni perikanan, industri non migas, listrik, dan bank. Hasil analisis Klassen Typology menunjukkan sektor yang sama dengan hasil analisis Overlay yang merupakan subsektor yang maju dan tumbuh dengan pesat di Kabupaten Purwakarta. Berdasarkan hasil analisis SWOT, strategi kebijakan pembangunan sektor unggulan yang perlu diambil adalah meningkatkan potensi khususnya pada sektor dan subsektor yang tergolong basis dan potenisal. Hal ini dengan memanfaatkan dukungan dari pemerintah daerah, investor dan posisi yang sangat strategis. Namun, pada kenyataannya Kabupaten Purwakarta masih menghadapi kendala berupa kualitas sumber daya manusia yang masih rendah, kurang optimalnya pemanfaatan sumber daya alam, kurangnya infrastruktur pendukung dan kegiatan ekonomi yang masih terpusat.
Implikasi dalam penelitian ini adalah pemerintah perlu melakukan pengoptimalan pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan, perbaikan sarana dan prasarana yang dapat mempermudah arus barang, serta perbaikan arus komunikasi dan informasi pada sektor dan subsektor yang menjadi basis di Kabupaten Purwakarta. Selain itu pemerintah daerah Kabupaten Purwakarta juga perlu meningkatkan keunggulan kompetitif produknya melalui perbaikan kualitas produk, menciptakan iklim usaha yang kondusif, menjalin keterpaduan peran pemerintah dan pihak swasta, peningkatan kualitas SDM dari segi pendidikan dan pelatihan soft skill, serta pemangkasan birokrasi sehingga tercipta kemudahan dalam pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah Kabupaten Purwakarta.
This research, entitled "ANALYSIS OF REGIONAL DEVELOPMENT BASED POTENTIAL ECONOMIC SECTORS AND STRATEGY DEVELOPMENT IN THE DISTRICT PURWAKARTA PERIOD 2008-2013". The purpose of this research to identify the sectors and sub-sectors of economic base, the potential economic sectors and sub-sectors, subsectors growth classification and formulate regional development policy strategy Purwakarta. The analysis methods used in this research are Location Quotient (LQ), Growth Ratio Model (MRP), Overlay Analysis, Typology Klassen analysis, and SWOT analysis.
Based on the analysis of LQ from 2008 until 2013 were identified as the base sector and value is the manufacturing sector (1.11); electricity, gas, and water (1.05); trade, hotels and restaurants (1.07); as well as the financial sector, leasing and business services (1.40). Meanwhile, if viewed per subsector, then there are 6 sub-sector base in Purwakarta, the fisheries (1.92), non-oil industry (1.13), electricity (1.25), the trade (1.12), banks (1.21) and the building lease (5.03). Based on the analysis Growth Ratio Model (MRP) 3 sub-sectors that are categorized in terms of its growth potential, the fisheries, electricity and banks.
Based Overlay analysis which is a combination of the results of the calculation Location Quotient (LQ) and Growth Ratio Model (MRP) indicates that the manufacturing sector as the only potential sector both in terms of contribution and growth economic. Meanwhile, if viewed per-sectors, there are 4 sub-sectors that are categorized as potentially the fisheries, non-oil industry, electricity and banks. Typology Klassen analysis indicate that the sector is equal to the result of which is a sub-sector analysis Overlay developed and is growing rapidly in Purwakarta. Based on the results of SWOT analysis, strategy development policies leading sectors that need to be taken is to increase the potential, especially in sectors and sub-sectors are classified as base and potenisal. It is by utilizing the support of the local government, investors and strategic position. However, in reality Purwakarta still face obstacles such as the quality of human resources is still low, less than optimal utilization of natural resources, lack of supporting infrastructure and economic activities are still centralized.
The implication of this research is that the government needs to do the optimization of sustainable use of resources, improvement of infrastructure that can facilitate the flow of goods, as well as improving the flow of communication and information in sectors and subsectors which are the basis in Purwakarta. In addition, local governments Purwakarta also need to improve their products competitive advantage through improved product quality, create a conducive business climate, the role of government to establish cohesion and the private sector, improving the quality of human resources in terms of education and training of soft skills, as well as the reduction of red tape so as to create ease of service provided by the local government Purwakarta.

Keywords: Purwakarta, Base Sector, Sector Potential, Location Quotient, Growth Ratio Model, Overlay, Klassen Typology and SWOT.
815010491E1A010213PERLINDUNGAN HUKUM HAK CIPTA ATAS TARI TRADISIONALIndonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan budaya yang beragam. Banyak kebudayaan Indonesia yang diklaim negara lain. Salah satu bentuk kebudayaan yang dimiliki Indonesia adalah Seni Tari Tradisional. Tari tradisional di dalam Hak Cipta merupakan bagian dari folklor. Folklor merupakan ciptaan tradisional yang tidak diketahui penciptanya. Tari tradisional merupakan folklor sebagian lisan, yang merupakan percampuran unsur lisan dan bukan lisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah Perlindungan Hukum Hak Cipta atas Tari Tradisional di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, yaitu pendekatan dari segi-segi hukum dan kaidah-kaidah hukum yang ada serta yang berlaku dalam masyarakat, untuk mengetahui apakah hukum yang digunakan sesuai dengan hukum yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlindungan Hukum Hak Cipta atas tari tradisional, terlihat dengan diaturnya folklor didalam Pasal 10 Undang-Undang Hak Cipta No.19 Tahun 2002 dan perlindungan dapat dilakukan dengan perlindungan hukum defensif, yaitu melakukan inventarisasi dan dokumentasi dengan menyusun database dan juga perlindungan hukum secara represif dan preventif.Indonesia is one country with a wealth of diverse cultures. Indonesia, which claimed many cultures of other countries. One form of culture that Indonesia is a Traditional Dance. Traditional dance in the Copyright is part of the folklore. Traditional folklore is unknown creature creator. Traditional dance is partly oral folklore, which is a mixture of verbal and non verbal elements. This study aims to determine how the Copyright Law on the Protection of Traditional Dance in Indonesia. This research was conducted by using a normative juridical approach, the approach of the aspects of the law and the rules of existing law and applicable in the community, to determine whether the law is used in accordance with applicable law. The results showed that the Legal Protection of Copyright on traditional dance, visible with the regulation of folklore in Article 10 of the Copyright Act 19 of 2002 and the protection can be done with a defensive legal protection, namely the inventory and documentation with a database and also protection of the law repressive and preventive.
815110490C1A010046EFISIENSI USAHA DAN SUMBANGAN PENDAPATAN INDUSTRI RUMAH TANGGA IKAN BANDENG TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA DI DESA ADISARA KECAMATAN JATILAWANG KABUPATEN BANYUMASJudul penelitian ini “Efisiensi Usaha Dan Sumbangan Pendapatan Industri Rumah Tangga Ikan Bandeng Terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Adisara Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas”. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung efisiensi usaha industri rumah tangga ikan bandeng, sumbangan pendapatan pengolah ikan bandeng terhadap pendapatan keluarga, dan kemampuan pendapatan keluarga pengolah ikan bandeng dalam memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL). Penelitian ini dilakukan dengan menggunankan metode purposive sampling dengan menggunakan data primer.
Untuk mengetahui efisiensi usaha industri rumah tangga ikan bandeng menggunakan perhitungan R/C Ratio. Untuk mengetahui sumbangan pendapatan pengolah ikan bandeng terhadap pendapatan keluarga menggunakan rumus perbandingan, sedangkan untuk mengetahui pendapatan perkapita keluarga pengolah ikan bandeng yang dilihat dari pemenuhan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) digunakan perbandingan pendapatan perkapita terhadap KHL yang ditetapkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banyumas bulan April 2014.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data data diperoleh kesimpulan bahwa efisiensi usaha pada industri rumah tangga ikan bandeng sudah dikatakan efisien. Sumbangan pendapatan pengolah ikan bandeng terhadap pendapatan keluarga dikatakan cukup besar karena rata – rata sumbangan pendapatannya lebih besar dari lima puluh persen. Pendapatan rumah tangga pengolah ikan bandeng di Desa Adisara Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas sudah memenuhi standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL).
Implikasi yang dapat disampaikan yaitu hendaknya pengolah ikan bandeng berusaha mempertahankan efisiensi yang sudah baik, yaitu dengan memperhatikan pasokan bahan baku ikan bandeng agar ketika pasokan berhenti industri rumah tangga ikan bandeng tetap berjalan. Pengolah ikan bandeng di Desa Adisara harus tetap fokus dalam usaha ini karena melihat sumbangan pendapatannya yang besar dari usaha ini sangat berperan dalam pemenuhan hidup keluarga.
Kata Kunci: Pengolah ikan bandeng, Efisiensi Usaha, Sumbangan Pendapatan Pengolah ikan bandeng, dan Pendapatan Rumah Tangga.
This research takes the tittle of the “ Business Efficiency and Contribution Of Income Household Bandeng Fish to Household Income at the Village of Adisara in the Sub District of Jatilawang in the Regency of Banyumas “. This research aims to measure business efficiency of bandeng fish household, how big is the income support that has been given by crafters to the household income, and the ability of crafters income fulfilling the Desserved Life Need (KHL). This research conducted by using purposive sampling method and primary data.
To determine the efficiency business bandeng fish household using R/C ratio. To determine contribution income of bandeng fish craftsman to the household income using cross tabulation comparison , whereas the income ratio per capita to the KHL is used by doing the comparison between the income per capita with the level of KHL that is started by the Departement of Labor and Transmigration in Regency of Banyumas on April 2014.
Based on the result of research and analysis data, it can be concluded household income of bandeng fish craftsman can be said already efficient. The crafters income give quite big support to the household income with the contribution income more fifty percent. The household income of bandeng fish craftsman at the Village of Adisara in the Sub District of Jatilawang in the Regency of Banyumas has fulfilled the standard of Disserved Life Need (KHL).
The implication is that is it supposed bandeng fish craftsman try to maintain on the good efficiency level, beside that the bandeng fish craftsman must pay attention of supply the basic ingredient bandeng fish. The craftsman of bandeng fish at the Village of Adisara must keep focus this business because looked contribution income is big from this business for already to tak level of household prosperity.

Keyword: Bandeng Fish Craftsman, Business Efficiency, Contribution Income Of Bandeng Fish Craftsman, Household Income.
815211465C1A011091ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI SEBELUM DAN PADA MASA OTONOMI DAERAH (STUDI KASUS : KABUPATEN BANJARNEGARA DAN PURBALINGGA TAHUN 1990-2013)Penelitian ini berjudul “Analisis Pertumbuhan Ekonomi Sebelum dan Pada Masa Otonomi Daerah (Studi Kasus: Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga Tahun 1990-2013) dengan tujuan, Pertama, mengidentifikasi sektor-sektor basis di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga sebelum otonomi dan pada masa otonomi daerah. Kedua, menganalisis perubahan struktur ekonomi di Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga sebelum otonomi dan pada masa otonomi daerah. Ketiga, mengetahui kelompok sektor dominan pertumbuhan dan potensial dalam perekonomian Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga sebelum otonomi dan pada masa otonomi. Data sekunder dalam penelitian ini terdiri atas data PDRB Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, dan Provinsi Jawa Tengahdengan periode waktu tahun 1990-2013. Penelitian ini menggunakan alat analisis Location Quotient (LQ), Shift Share, Model Rasio Pertumbuhan (MRP), dan Overlay.
Temuan dari penelitian yaitu sektor basis di Kabupaten Banjarnegara selama otonomi tidak jauh berbeda dari periode sebelum otonomi, sedangkan di Purbalingga selama otonomi daerah kesembilan sektor kecuali industri pengolahan masuk dalam kategori sektor basis. Baik sebelum maupun masa otonomi daerah kedua kabupaten telah mengalami pergeseran struktur ekonomi dari sektor primer ke tersier. Sebelum otonomi di Kabupaten Banjarnegara sektor bangunan merupakan sektor dominan pertumbuhan maupun kontribusi sedangkan selama otonomi sektor pertanian, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang masuk dalam klasifikasi. Sektor pengangkutan dan komunikasi merupakan sektor dominan pertumbuhan kontribusi dan pertumbuhan di Kabupaten Purbalingga sebelum otonomi daerah sedangkan selama otonomi daerah sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, perdagangan, hotel dan restoran serta keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor yang masuk dalam kategori ini.
Berlakunya otonomi daerah di tiap kabupaten seharusnya membuat pemerintah daerah lebih leluasa untuk mengembangkan dan mendukung sektor-sektor potensial untuk dikembangan menjadi sektor unggulan baru. Selain itu, pembangunan sarana dan prasarana pendukung seperti jalur transportasi, jaringan komunikasi, kawasan industri, dll. juga perlu diperhatikan guna menstimulus peningkatan pendapatan daerah.
This research, entitled “The Financing Channel of Islamic Bank Analysis in Monetary The title of this research is “Analysis of Economic Growth Before and During Regional Autonomy (Case Study: Banjarnegara and Purbalingga-district in 1990-2013)”. This study aims, First, to identify the leading sectors in Banjarnegara and Purbalingga-district before and during regional autonomy. Second, to analyze the economic structure changes in both Banjarnegara and Purbalingga before and during autonomy. Third, to determine which sectors that growth dominant and potential in economy of Banjarnegara and Purbalingga-district before and during the autonomy. This study using secondary data of Banjarnegara, Purbalingga, and Central Java’s GDP data in 1990-2013. This research using Location Quotient analysis (LQ), Shift Share, Growth Model analysis (MRP), and Overlay.
The results of this research are; Banjarnegara’s sector basis in regional autonomy are not much different from the period before autonomy, but Purbalingga during regional autonomy hasthe nine sectors except the manufacturing,mining and quarrying sector into the category of a sector basis. Before and during the regional autonomy both the districts’s structurehave changed and shifted from the primary to the tertiary sector. Before autonomy in Banjarnegara building sector is the dominant sector growth and contribution for autonomy while the agricultural sector, finance, leasing and business services are included in the classification. Transport and communications sector is the growthdominant and contributes dominant sector in Purbalingga before autonomy, but during the autonomy agriculture, mining and quarrying, trade, hotels and restaurants, finance, leasing and business services sectors are included in this category.
Regional autonomy in each district should make local governments more flexible to develop and support the potential sectors to be expanded into a new leading sectors. In addition, the construction of supporting facilities and infrastructure such as transportation routes, communication networks, industrial estates, etc. also need to be considered in order to stimulate increased local revenues.
81538780F1B009054EVALUASI PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA BIDANG PARIWISATA DI DESA SERANG KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGABadan Usaha Milik Desa atau sering disebut BUMDes merupakan suatu usaha desa yang dibentuk/didirikan oleh Pemerintah Desa yang yang kepemilikan modal dan pengelolaannya dilakukan oleh Pemerintah Desa dan masyarakat. pembentukan BUMDes dimaksudkan guna menampung seluruh kegiatan peningkatan pendapatan masyarakat, baik yang berkembang menurut adat istiadat maupun melalui program Pemerintah. Pada penelitian ini berjudul “evaluasi pengelolaan badan usaha milik desa bidang pariwisata di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga.” Permasalahan yang diteliti adalah Bagaimana pengelolaan badan usaha milik desa bidang pariwisata di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Sasaran penelitian adalah pengelola BUMDes, masyarakat Desa Serang, Pemerintah Desa Serang, Pemerintah Kecamatan Karangreja, dan Bapermasdes Purbalingga. Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan evaluasi before-after. teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dan teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengelolaan BUMDes bidang pariwisata di Desa Serang sudah menunjukkan adanya peningkatan efektifitas. Namun pemerataan manfaat masih belum dapat dilaksanakan menjadikan belum seluruh masyarakat merasakan manfaat dari Bumdes di Desa Serang.

Kata kunci : evaluasi, badan usaha milik desa, pariwisata
Badan Usaha Milik Desa or commonly addressed as BUMDes is a village coorporation which is established by village government. The capital ownership and management are held by village government and villagers. BUMDes establishment is aimed to accomodate all income improvement activities of the society, including the developing one according to the custom and the government program. This research entitled “Evaluation of Tourism Sector of Badan Usaha Milik Desa Management in Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga”. This research analyses the management of Badan Usaha Milik Desa in tourism sector in Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. The research was held in Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. The target of the research is BUMDes administrators, Desa Serang villagers, the government of Desa Serang, the government of Kecamatan Karangreja, and Bapermasdes Purbalingga. This research uses qualitative research method with before-after evaluation approach. Purposive sampling and snowball sampling is applied as informant-selecting technique in which data are collected using in-depth interview, observation, and documentation. Source triangulation is used as data validity technique. Based on the research result, it can be concluded that the tourism sector of BUMDes management has shown an effectivity improvement. However, the benefit distribution is still dysfunctional which makes some of the villagers can not perceive the benefit of Bumdes in Desa Serang.

Keyword : evaluation, badan usaha milik desa, tourism
81548782B1J009085BIODIVERSITAS EKTOPARASIT PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIBUDIDAYAKAN SECARA POLIKULTUR DI DESA BEJI
KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN
BANYUMAS
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu ikan air tawar yang dibudidayakan di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas dengan sistem polikultur. Adanya infeksi ektoparasit merupakan salah satu kendala dalam budidaya tersebut. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kelimpahan ektoparasit, perbedaannya pada tiap organ ikan nila dan dominansi ektoparasit serta prevalensi ikan nila yang terinfeksi ektoparasit yang dibudidayakan dengan sistem polikultur. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan penentuan lokasi sampling secara purposive sampling, teknik pengambilan sampel secara acak. Sampel ikan nila diambil pada kolam ikan sistem polikultur diulang sebanyak 4 kali dengan selang waktu setiap 1 minggu. Pemeriksaan ektoparasit menggunakan metode preparat rentang di Laboratorium Entomologi-Parasitologi Fakultas Biologi, UNSOED. Hasil penelitian ditemukan sembilan jenis ektoparasit yaitu kelompok Protozoa (Trichodina sp., Epistylis sp., Ichthyophthirius sp., Heneguya sp., Tetrahymena sp. dan Oodinium sp.). Jenis ektoparasit Platyhelminthes (Dactylogyrus sp. dan Gyrodactylus sp.), Jenis ektoparasit Crustacea (Lernaea sp.). Kelimpahan ektoparasit pada ikan nila menunjukkan ada perbedaan (P<1%). Perbedaan kelimpahan pada tiap organ ikan nila menunjukkan ada perbedaan (P<5%). Ektoparasit yang dominan adalah Trichodina sp. dan Epistylis sp. termasuk dominansi sedang. Prevalensi ikan nila yang terinfeksi sebesar 64% termasuk kategori sedang.Tilapia (Oreochromis niloticus) is one of the freshwater fish cultivated in Beji subdistrict Kedungbanteng Banyumas with polyculture system. Ectoparasite infection is one of the constraints in the cultivation. Has conducted research that aims to determine the abundance of ectoparasites, the difference in each organ of tilapia and ectoparasites dominance and prevalence of ectoparasites infected tilapia are cultured with a polyculture system. Research carried out by the method of determining the location of sampling survey with purposive sampling, random sampling technique. Samples were taken on Tilapia fish pond polyculture system repeated 4 times at intervals of every 1 week. Ectoparasites examination used preparation range method in Parasitology-Entomology Laboratory of the Faculty of Biology, UNSOED. The research found nine types of ectoparasites namely the Protozoa (Trichodina sp., Epistylis sp., Ichthyophthirius sp., Heneguya sp., Tetrahymena sp., and Oodinium sp.), type of Platyhelminthes ectoparasites (Dactylogyrus sp., and Gyrodactylus sp.), Type of Crustacean ectoparasites (Lernaea sp.). Abundance of ectoparasites in Tilapia showing a differences (P <1%).The differences of abundance of each organ of Tilapia showing a differences (P <5%).Ectoparasites Trichodina sp. and Epistylis sp.is dominant, including dominance being included the medium category. The prevalence of infected Tilapia by 64% included the medium category.
81558784D1E010190KEUNGGULAN TINGKAH LAKU MAKAN SAPI BALI DIBANDINGKAN BANGSA SAPI LOKAL LAIN YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI AMONIASI DAN KONSENTRAT
(SUPERIORITY OF FEEDING BEHAVIOR OF BALI CATTLE COMPARED TO OTHER LOCAL BEEF CATTLE BREEDS FED AMMONIATED RICE STRAW AND CONCENTRATE)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan berbagai bangsa sapi lokal meliputi lama waktu makan, lama waktu ruminasi dan frekuensi ruminasi dalam satu hari, siang dan malam hari. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan bangsa sapi sebagai perlakuan. Ada 4 macam bangsa sapi lokal yaitu, sapi Crossing (P1), sapi Madura (P2), sapi Bali (P3) dan sapi Peranakan Ongole (P4) berjumlah 20 ekor (masing-masing 5 ekor) dengan kisaran umur 1.5-2 tahun dan bobot badan awal 200-280 kg (=2.5). Sapi tersebut ditempatkan pada kandang individual dan diberi pakan yang sama yaitu jerami padi amoniasi dan konsentrat dengan imbangan 40:60. Pemberian pakan dilakukan dengan metode component feeding dengan frekuensi pemberian jerami padi amoniasi sebanyak 4 kali dan konsentrat 2 kali. Peubah yang diamati adalah lama waktu makan, lama waktu ruminasi dan frekuensi ruminasi dalam waktu satu hari, siang hari dan malam hari serta lama sekali makan dan lama sekali ruminasi dalam waktu satu hari, siang hari dan malam hari. Data lama waktu makan dan lama waktu ruminasi dianalisis menggunakan sidik ragam kemudian dilanjutkan dengan uji BNJ, sedangkan data frekuensi ruminasi dianalisis menggunakan Uji Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi Bali menunjukkan aktivitas makan terlama diikuti sapi Peranakan Ongole, sapi Crossing dan sapi Madura akan tetapi, diantara sapi Peranakan Ongole, sapi Crossing dan sapi Madura tidak berbeda nyata (P>0,05). Rataan lama makan adalah 3.137±0.404; 3.033±0.416; 3.869±0.480; 3.259±0.248 (jam). Frekuensi ruminasi sapi Bali tertinggi diikuti sapi Peranakan Ongole, sapi Madura dan sapi Crossing dengan rataan berturut-turut adalah 13.4±0.722; 14.2±1.345; 16.4±1.570; 14.67±1.312 (kali). Akan tetapi lama waktu ruminasinya tidak berbeda nyata dengan bangsa sapi lokal lain (P>0.05). Hasil penelitian disimpulkan bahwa tingkah laku makan dipengaruhi oleh bangsa sapi.The objective of the research was to determine the feeding behavior in local beef cattle breeds include the duration of eating time, the frequency and duration of rumination in one day, night and daytime. The research designed used Completely Randomized Design (CRD) and local beef cattle breeds were used as treatments. There were four local beef cattle breeds of Crossbred cattles (T1), Madura cattles (T2), Bali cattles (T3) and Ongole Cross (T4) with the age range of 1.5-2 years old and initial body weight of 200-280 kg (=2.5). The cattles were housed in individual cages and fed ammoniated rice straw and concentrates with a dry matter ratio of 40:60. The frequency of feeding was 4 times for ammoniated rice straw and 2 times for concentrates.The variable observed were duration of eating time, rumination time and rumination frequency for one day, night and daytime and duration of time in one eating and one rumination for one day, night and daytime. The length data of eating and rumination time were analyzed using analysis of variance and continued by honestly significant difference test (HSD) while the frequency of rumination was analyzed using kruskall-wallis test. The result showed that Bali Cattle had the longest eating time followed by Ongole Cross, Crossbred cattle and Madura cattle, but between Ongole Cross, Crossbred cattle and Madura cattle were not significantly different (P>0.05). The average of eating length were 3.137±0.404; 3.033±0.416; 3.869±0.480; 3.259±0.248 (hours) for T1, T2, T3 and T4, respectively. The highest rumination frequency was Bali cattle followed by Ongole Cross, Madura cattle and Crossbred cattle with successive average were 13.4±0.722; 14.2±1.345; 16.4±1.570; 14.67±1.312 (times).However, the rumination time was not significantly different with other local beef cattle breeds (P>0.05). The results of the study concludes that feeding behavior is influenced by local beef cattle breeds.
815610492C1C009102PENGARUH PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN BADAN USAHA MILIK NEGARAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan Badan Usaha Milik Negara. Penerapan Good Corporate Governance diukur dengan Keputusan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara nomor: SK-16/S.MBU/2012 tentang Indikator/Parameter Penilaian dan Evaluasi atas Penerapan Tata Kelola yang Baik (Good Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara. Kinerja Keuangan diukur dengan menggunakan empat variable, yaitu Return On Asset (ROA), Current Ratio (CR), Debt to Total Asset (DTA), dan Price Earning Ratio (PER) .

Sampel yang dipilih adalah sebanyak 18 BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier.

Penelitian ini menemukan bahwa Good Corporate Governance berpengaruh signifikan terhadap Return on Asset (ROA) dan Price Earning Ratio (PER). Namun, penelitian ini tidak berhasil membuktikan adanya pengaruh Good Corporate Governance terhadap Current Ratio (CR) dan Debt to Total Asset (DTA).
This study tests whether the implementation of Good Corporate Governance affects Indonesian State Owned Enterprise’s financial performance. The implementation of Good Corporate Governance was measured by Keputusan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara nomor: SK-16/S.MBU/2012. Which explaining about indicator/ parameter of Good Corporate Governance’s measurement and evaluation in Indonesian State Owned Enterprise. Meanwhile, Financial Performance is measured by using four variable that is Return On Asset (ROA), Current Ratio (CR), Debt to Total Asset (DTA), and Price Earning Ratio (PER) .

18 Indonesian State Owned Enterprises which are listed in Indonesian Stock Exchange were choosen as sample for this research. Reseach data were analyzed by using linear regretion analysis.

Result shows that Good Corporate Governance were significally affect Return on Asset (ROA) and Price Earning Ratio (PER). However, this study cannot prove if Good Corporate Governance were have influence toward Debt to Total Asset (DTA), and Price Earning Ratio (PER) .
815711023B1J010143DIFERENSIASI GONAD IKAN NILEM (Osteochilus hasselti C.V.) HASIL KEJUT PANAS PADA MENIT KE-25, 27, DAN 29 SETELAH PENCAMPURAN MILT DAN OOSITIkan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) merupakan salah satu komoditas perikanan di Indonesia yang memiliki nilai potensial untuk dibudidayakan. Meskipun produksi ikan nilem selama 5 tahun meningkat tetapi masih belum memenuhi permintaan konsumen. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi adalah dengan poliploidisasi. Ikan poliploid dilaporkan memiliki pertumbuhan yang lebih cepat karena memiliki ukuran sel yang lebih besar dari ikan diploid. Penelitian tentang perkembangan gonad pada ikan poliploidi belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi differensiasi dan ukuran gonad dan mengevaluasi kolonisasi dan Primordial Germ Cell ikan nilem hasil kejut panas pada menit ke-25, 27, dan 29 setelah pencampuran milt dan oosit. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap.
Perlakuan berupa kontrol (tanpa pemberian kejut panas) dan pemberian kejut panas pada menit ke-25, 27, dan 29 setelah pencampuran milt dan oosit dengan setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Evaluasi perkembangan gonad dilakukan pada ikan umur 30, 60, 90, dan 120 hari setelah penetasan, melalui sediaan histologi. Variabel bebas berupa waktu kejut panas dan variabel tegantung respon dari pemberian kejut panas pada waktu yang berbeda. Parameter utama yaitu berupa diferensiasi gonad, Primordial Germ Cell, dan volume gonad serta parameter pendukung berupa panjang dan bobot ikan, dan diameter eritrosit. Data volume gonad dan jumlah Primordial Germ Cell dianalisis dengan anova satu arah sedangkan diferensiasi gonad dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hingga umur 120 hari gonad ikan nilem belum terdiferensiasi, volume gonad ikan nilem mengalami peningkatan setiap bulannya dari 0,20 ± 0,42mm3 hingga 1,08 ± 0,14 mm3. Jumlah Primordial Germ Cell ekstra gonad mengalami penurunan seiring dengan peningkatan jumlah Primordial Germ Cell intra gonad pada setiap waktu pengamatan. Primordial Germ Cell berdiameter 3,11 ± 0,17µm hingga 4,75 ± 0,43µm belum mengalami diferensiasi. Dimensi eritrosit menunjukan hasil signifikan (p<0,05) ditunjukkan pada kejut panas menit ke 25 dengan nilai panjang eritrosit 12,64 ± 0,58µm dan volume eritrosit 364,02 ± 44,72µm3.
Nilem carp fish (Osteochilus hasselti C.V.) is one of fish commodity in Indonesia with potential value to be cultivated. Although there was an increasing in nilem carp fish production for 5 years, it still can’t fulfill the demand of consumer. Polyploidization is one of some attempts to increase fish production. Polyploid fish is reported has faster growth and larger cells size. However, research about gonadal development in polyploidy has not been widely studied. This study aimed to evaluate the size and differentiate of the gonads, its colonization and primordial germ cell from Nilem carp fish from heat shock at 25, 27, and 29 minutes after mixing milt and oocytes.
The study was conducted used complete random experimental design. The treatments consist of control (without gave the heat shock) and the heat shock are given at 25, 27, and 29 minutes after milt and oocytes mixing with 6 times repeat for each treatment. Evaluation of fish gonadal development held at ages of 30, 60, 90, and 120 days after hatching, through histological preparations. The independent variable was heat shock time and dependent variable was response towards heat shock at different times. The main parameter were the gonadal differentiation, the observation of germinalis primordia cells, gonad volume and the supporting parameter were length and weight of fish, erythrocytes measurement, and the number of live larvae at the end of the study. Gonad volumes and amount of primordia germinalis cells are analyzed by ANOVA whereas gonadal differentiation were analyzed descriptively.
The results obtained in this study were gonads of 120 days old Nilem carp fish have not differentiated yet, the gonads volume has increased from 0.20 ± 0.42 to 1.08 ± 0.14 every month. The number of Nilem carp fish extra-gonadal Primordial Germ Cell has decreased whereas even the number of increased intra-gonadal Primordial Germ Cell has not differentiated yet. The significant erythrocytes dimensions (p <0.05) were shown at the 25 minutes heat shock with erythrocyte length 12,64 ± 0,58µm and erythrocyte volume 364,02 ± 44,72µm3.
815811467C1A011100Usahatani Padi di Desa Tambaksogra Kecamatan Sumbang Kabupaten BanyumasPenelitian ini berjudul “Usahatani Padi di Desa Tambaksogra Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas”.Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh penggunaan faktor produksi (luas lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida) terhadap produksi padi, mengukur efisiensi penggunaan faktor produksi dan menentukan titik impas pada usahatani padi di Desa Tambaksogra Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas.
Metode penelitian adalah survey.Jenis penelitian adalah primer dengan pengambilan sampel menggunakan acak sederhana dengan teknik pengundian sebanyak 68 petani.Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda, uji F dan uji t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1)Hasil Uji F menunjukkan bahwa variabel luas lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja dan pestisida secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi. Hasil Uji t menunjukkan bahwa variabel luas lahan, bibit dan pupuk berpengaruh signifikan, sedangkan variabel tenaga kerja dan pestisida tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi padi di Desa Tambaksogra Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. 2) Dari hasil analisis Pengujian Efisiensi Alokatif, penggunaan faktor produksi luas lahan, bibit dan pupuk di Desa Tambaksogra belum efisien. 3) Dari hasil perhitungan, titik impas atas dasar rupiah sebesar Rp3.076.714,17; titik impas atas dasar unit sebanyak 632,04 kg dan titik impas atas dasar harga produksi sebesar Rp2.615,78/kg.
Implikasi dari penelitian ini adalah usahatani padi di Desa Tambaksogra Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas menguntungkan dan layak untuk terus dikembangkan melalui penambahan penggunaan faktor produksi lahan, bibit dan pupuk mengingat variabel lahan, bibit dan pupuk berpengaruh signifikan terhadap produksi padi. Selain itu dapat dilakukan dengan pemilihan bibit padi yang berkualitas yang nantinya akan berpengaruh pada hasil produksi padi.
The title of this research is “Farm in Tambaksogra Village Subdistrict of Sumbang, Banyumas Regency. The purpose of this research are to test the influence of production factors (consist of measurement of area, seed, manure, labor, and pesticide) towards rice production, to measure the efficiency of utilizing production factors and to determine break even pointfarm in Tambaksogra Village Subdistrict of Sumbang, Banyumas Regency.
The method of this research is survey and using simple random sampling with lottery technique as many as 68 farmers. The analyze method are multiple linear regression, F test and t test.
The result of this research showed if,1) The result of F test, showed the variable of measure of area, seed, manure, labor, and pesticide simultaneously has significant influence, in another hand the result of t test showed the variable of labor and pesticide there is no significant influence towards rice production in Tambaksogra Village Subdistrict Sumbang,Banyumas Regency. 2)Based on analyze towards allocative efficiency test, utilizing the measure of area, seed and manure in Tambaksogra Village is inefficient 4) Based on calculation of break even pointtowards value of rupiah is Rp3.076.714,17; break even point according the amount of unit is 632,04 kilograms and break even point according to the price of production Rp2.615,78 per kilogram.
The implication of this research is farm in Tambaksogra Village Subdistrict of Sumbang, Banyumas Regency still suitable to developed by increase utilizing of production factors area, seed, and manure which has significant influence. Moreover , the quality of seed will influence towards production.
815911471D1E011037PENGGUNAAN FERMEHERBAFIT DALAM RANSUM AYAM BROILER TERHADAP KADAR KOLESTEROL DAN LEMAK DAGINGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan fermeherbafit dalam ransum ayam broiler terhadap kadar kolesterol dan lemak daging. Materi yang digunakan adalah ayam broiler betina umur 1 hari (DOC) sebanyak 80 ekor yang dipelihara sampai umur 35 hari. Percobaan dilakukan menggunakan metode eksperimental in vivo dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari 4 macam ransum yaitu setiap perlakuan di ulang 5 kali dan setiap ulangan berisi 4 ekor ayam. R0 = 0% fermeherafit, R1= 2% fermeherbafit, R2= 4% fermeherbafit, R3 = 6% fermeherbafit. Peubah yang diamati adalah kadar kolesterol dan kadar lemak daging. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan fermeherbafit berpengaruh nyata terhadap kadar kolesterol daging dada (P<0,05) R0, R1, R2, R3 masing-masing 173,90 mg/g, 166,74 mg/g, 154,34 mg/g, 149,06 mg/g sedangkan berpengaruh tidak nyata terhadap kadar kolesterol daging paha R0, R1, R2, R3 yaitu 166,94 mg/g, 172,00 mg/g, 160,08 mg/g, 150,42 mg/g. Penggunaan fermeherbafit berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar lemak daging dada maupun paha. Rataan kadar lemak daging dada R0, R1, R2, R3 berturut-turut 2,30%, 2,60%, 2,38%, 4,42%. Dan rataan kadar lemak daging paha R0, R1, R2, R3 yaitu 5,12%, 4,85%, 6,24%, 4,51%. Kesimpulan bahwa penggunaan fermeherbafit dalam ransum ayam broiler mampu menurunkan kadar kolesterol daging dada sedangkan kadar kolesterol daging paha relatif sama. Kadar lemak daging paha dengan penggunaan fermeherbafit 4% meningkat sebesar 6,24% sedangkan lemak daging dada penggunaan 6% meningkat sebesar 4,42%.This study aimed to determine the use effect of fermeherbafit in broiler chicken ration cholesterol and fatty meats. The materials is used were female broiler chickens aged 1 day (DOC) maintained until the age of 35 days. Experiments were conducted using in vivo experimental methods with completely randomized design (CRD). The treatment consisted of four kinds of diets that each treatment is repeated 5 times and each repetition contains 4 chickens. R0 = 0% fermeherbafit, R1 = 2% fermeherbafit, R2 = 4% fermeherbafit, R3 = 6% fermeherbafit. Variables measured were cholesterol and fat content of meat. Results of analysis of variance showed that the use of fermeherbafit significantly affected on cholesterol level of breast meat (P <0.05) R0, R1, R2, R3 each 173.90 mg / g, 166.74 mg / g, 154.34 mg / g, 149.06 mg / g whereas no real effect on cholesterol levels thigh meat R0, R1, R2, R3 is 166.94 mg / g, 172.00 mg / g, 160.08 mg / g, 150.42 mg / g. Fermeherbafit use was highly significant (P <0.01) on the fat content of breast and thigh meat. The fat content average of breast meat R0, R1, R2, R3 respectively 2.30%, 2.60%, 2.38%, 4.42%. And the fat content average of thigh meat R0, R1, R2, R3, respectively 5.12%, 4.85%, 6.24%, 4.51%. The conclusion was that the use of fermeherbafit in the ration of broiler capable of lowering cholesterol level, while meat cholesterol level were relatively similar. Thigh fat meat content with 4% fermeherbafit use increased by 6.24% while the breast meat fat level with 6% fermeherbafit increased by 4.42%.
81608657G1A010069FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PADA PASIEN PESERTA
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS)
CABANG PURWOKERTO YANG MENGIKUTI PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS)
Latar belakang: Hipertensi adalah penyakit yang dapat memberikan gejala berlanjut pada organ lain. Penderita hipertensi sangat heterogen sehingga dapat diderita orang banyak dari berbagai sub kelompok berisiko di dalam masyarakat. Data RS dan Puskesmas di daerah jawa tengah melaporkan kasus hipertensi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dibandingkan kasus penyakit tidak menular yang lain.
Tujuan: Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi pada pasien BPJS yang mengikuti program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS).
Metode: Desain penelitian menggunakan kasus kontrol pada pasien BPJS cabang Purwokerto yang mengikuti program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS). Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Data diperoleh dari wawancara dengan menggunakan kuesioner, pengukuran tekanan darah dan IMT. Analisis data secara bertahap menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi square dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik multipel.
Hasil: Faktor-faktor yang terbukti sebagai faktor risiko hipertensi adalah umur (p < 0,001; OR = 29,7 dan 95% CI = 8,687-101,543), riwayat keluarga (p < 0,001; OR = 3,67 dan 95% CI = 1,932-6,996), stres (p < 0,001; OR = 2,64 dan 95% CI = 1,417-4,926) dan obesitas (p < 0,001; OR = 3,30 dan 95% CI = 1,746-6,253). Faktor-faktor yang tidak terbukti sebagai faktor risiko hipertensi adalah merokok (ringan, sedang, berat) dan aktivitas fisik.
Kesimpulan: Faktor risiko hipertensi pada pasien BPJS cabang Purwokerto yang mengikuti program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) adalah umur, riwayat keluarga, stres dan obesitas.

Kata kunci : faktor risiko, hipertensi, pasien BPJS program PROLANIS
Background: Hypertension is a disease that can give symptoms persist in other organs. Patients with hypertension are very heterogeneous so that many people can suffer from a variety of sub-groups at risk in the community. Data from hospitals and health centers in Central Java reported cases of hypertension annualy has increased compared to the case of other non-communicable diseases.
Purpose: To determine risk factors that associated with hypertension in patients of BPJS in the program of chronic disease management (PROLANIS).
Methods: Using a case-control study design in patients of BPJS that follow the program of chronic disease management (PROLANIS). Sampling technique used consecutive sampling. Data obtained from interviews using questionnaires, blood pressure and BMI measurements. Data analysis using univariate, bivariate analysis with the chi square test and multivariate analysis using multiple logistic regression.
Results: Many factors that proved to be risk factors for hypertension were age (p <0.001; OR = 29.7 and 95% CI = 8.687 to 101.543), family history (p <0.001; OR = 3.67 and 95% CI = 1.932 to 6.996), stress (p <0.001; OR = 2.64 and 95% CI = 1.417 to 4.926) and obesity (p <0.001; OR = 3.30 and 95% CI = 1.746 to 6.253). Factors that was not proven to be s risk factor was smoking hypertension (mild, moderate, severe) and physical activity.
Conclusions: Risk factors for hypertension in patients of PBJS that follow the program of chronic disease management (PROLANIS) are age, family history, stress and obesity.

Key words: risk factors, hypertension, patients of BPJS in PROLANIS’s program