Home
Login.
Artikelilmiahs
8776
Update
HENDI SETIO NUGROHO
NIM
Judul Artikel
Pergeseran Tradisi Cowongan di Padepokan Cowongsewu
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Bangsa Indonesia memiliki berbagai keanekaragaman seni serta budaya yang beragam yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Dari keanekaragaman kebudayaan yang berbeda, sehingga masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang multikultural (majemuk). Seni serta budayanya pun melekat dalam setiap masyarakatnya, karena pada dasarnya seni serta budaya merupakan sebuah warisan agung dari nenek moyang yang harus terjaga serta dilestarikan. Derasnya pengaruh modernisme kini mulai mengikis eksistensi budaya-budaya lokal yang ada di sub kultur Banyumas. Salah satu bentuk kesenian yang berkaitan langsung dengan ritual atau kepercayaan tradisional yaitu ritual turun hujan atau yang disebut dengan cowongan. Kesenian tradisi yang sangat tua dan hampir punah ini awalnya merupakan sebuah upacara ritual masyarakat lampau yang bertujuan untuk meminta hujan pada musim paceklik ataupun musim kering yang hingga kini masih sangat dijaga kelestarianya. Seiring perkembangan jaman yang modern, terjadi pergeseran para pelaku pementasan cowongan. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dimana pemaparannya didasarkan pada proses pengumpulan data baik melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Fokus penelitian ini dibedah dengan menggunakan pisau Fenomenologi Alfred Schutz yang di dalamnya menyebutkan dua fase yang diberi nama in-order-to-motive yang merujuk pada masa yang akan datang dan tindakan because motive yang merujuk pada masa lalu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan jaman yang modern mempengaruhi motivasi para pelaku cowongan yang lambat laun pemaknaan cowongan pun telah mengalami perubahan, dari seni tradisi ritual berubah fungsinya menjadi seni pertunjukan. Dapat disimpulan bahwa saat ini cowongan tidak lagi menjadi sebuah tradisi ritual untuk meminta hujan, namun sudah berubah menjadi seni pertunjukan yang sifatnya kontemporer dan sebagai media kritik sosial serta sebagai salah satu bentuk upaya para seniman untuk melestarikan budaya tradisional bangsa Indonesia. Kata kunci: cowongan, pergeseran, pemaknaan
Abtrak (Bhs. Inggris)
Indonesia has an art and cultural diversity widespread from Sabang to Merauke. From variously distinct cultures, Indonesia people become multicultural (plural). Art and culture are ingrained in society because those are majestic ancestral heritage that have to be protected and preserved. The strong current of modernism has recently abraded local cultural existence in Banyumas sub-culture. One form of arts that is directly related to traditional rites or belief is rain dance ritual known as cowongan. This ancient and near-extinct art form is a past social ritual to bring in rain during famine or drought season which to date is still under preservation. The development of modern era has brought a shiftto the role players of cowongan dance. This research was descriptive qualitative with an exposition based on data collection either through in-depth interview, observation and documentation. Research focus was analyzed using Alfred Shutz’s phenomenology, mentioning two phase called in-order-to-motive that refers to the future and because motive act that refers to the past. The result of the research indicated that modern era development affects the motivation of cowongan role player that gradually changes cowongan implications from ritual art tradition to performance art. It can be concluded that cowongan at present is no longer ritual tradition to bring in rain but it has shifted into a contemporary performance art, a social criticism media and as an effort from the artists to preserve Indonesian traditional culture. Key words: cowongan, shift, implication
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save