Home
Login.
Artikelilmiahs
8784
Update
MUHAMMAD SUFRON
NIM
Judul Artikel
KEUNGGULAN TINGKAH LAKU MAKAN SAPI BALI DIBANDINGKAN BANGSA SAPI LOKAL LAIN YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI AMONIASI DAN KONSENTRAT (SUPERIORITY OF FEEDING BEHAVIOR OF BALI CATTLE COMPARED TO OTHER LOCAL BEEF CATTLE BREEDS FED AMMONIATED RICE STRAW AND CONCENTRATE)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan berbagai bangsa sapi lokal meliputi lama waktu makan, lama waktu ruminasi dan frekuensi ruminasi dalam satu hari, siang dan malam hari. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan bangsa sapi sebagai perlakuan. Ada 4 macam bangsa sapi lokal yaitu, sapi Crossing (P1), sapi Madura (P2), sapi Bali (P3) dan sapi Peranakan Ongole (P4) berjumlah 20 ekor (masing-masing 5 ekor) dengan kisaran umur 1.5-2 tahun dan bobot badan awal 200-280 kg (=2.5). Sapi tersebut ditempatkan pada kandang individual dan diberi pakan yang sama yaitu jerami padi amoniasi dan konsentrat dengan imbangan 40:60. Pemberian pakan dilakukan dengan metode component feeding dengan frekuensi pemberian jerami padi amoniasi sebanyak 4 kali dan konsentrat 2 kali. Peubah yang diamati adalah lama waktu makan, lama waktu ruminasi dan frekuensi ruminasi dalam waktu satu hari, siang hari dan malam hari serta lama sekali makan dan lama sekali ruminasi dalam waktu satu hari, siang hari dan malam hari. Data lama waktu makan dan lama waktu ruminasi dianalisis menggunakan sidik ragam kemudian dilanjutkan dengan uji BNJ, sedangkan data frekuensi ruminasi dianalisis menggunakan Uji Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi Bali menunjukkan aktivitas makan terlama diikuti sapi Peranakan Ongole, sapi Crossing dan sapi Madura akan tetapi, diantara sapi Peranakan Ongole, sapi Crossing dan sapi Madura tidak berbeda nyata (P>0,05). Rataan lama makan adalah 3.137±0.404; 3.033±0.416; 3.869±0.480; 3.259±0.248 (jam). Frekuensi ruminasi sapi Bali tertinggi diikuti sapi Peranakan Ongole, sapi Madura dan sapi Crossing dengan rataan berturut-turut adalah 13.4±0.722; 14.2±1.345; 16.4±1.570; 14.67±1.312 (kali). Akan tetapi lama waktu ruminasinya tidak berbeda nyata dengan bangsa sapi lokal lain (P>0.05). Hasil penelitian disimpulkan bahwa tingkah laku makan dipengaruhi oleh bangsa sapi.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The objective of the research was to determine the feeding behavior in local beef cattle breeds include the duration of eating time, the frequency and duration of rumination in one day, night and daytime. The research designed used Completely Randomized Design (CRD) and local beef cattle breeds were used as treatments. There were four local beef cattle breeds of Crossbred cattles (T1), Madura cattles (T2), Bali cattles (T3) and Ongole Cross (T4) with the age range of 1.5-2 years old and initial body weight of 200-280 kg (=2.5). The cattles were housed in individual cages and fed ammoniated rice straw and concentrates with a dry matter ratio of 40:60. The frequency of feeding was 4 times for ammoniated rice straw and 2 times for concentrates.The variable observed were duration of eating time, rumination time and rumination frequency for one day, night and daytime and duration of time in one eating and one rumination for one day, night and daytime. The length data of eating and rumination time were analyzed using analysis of variance and continued by honestly significant difference test (HSD) while the frequency of rumination was analyzed using kruskall-wallis test. The result showed that Bali Cattle had the longest eating time followed by Ongole Cross, Crossbred cattle and Madura cattle, but between Ongole Cross, Crossbred cattle and Madura cattle were not significantly different (P>0.05). The average of eating length were 3.137±0.404; 3.033±0.416; 3.869±0.480; 3.259±0.248 (hours) for T1, T2, T3 and T4, respectively. The highest rumination frequency was Bali cattle followed by Ongole Cross, Madura cattle and Crossbred cattle with successive average were 13.4±0.722; 14.2±1.345; 16.4±1.570; 14.67±1.312 (times).However, the rumination time was not significantly different with other local beef cattle breeds (P>0.05). The results of the study concludes that feeding behavior is influenced by local beef cattle breeds.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save