Artikelilmiahs

Menampilkan 7.841-7.860 dari 48.897 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
784111255H1L011006Membangun Game Listening "Let's Learning & Listening" Menggunakan Adobe Flash Bebasis AndroidBahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang memegang peranan penting diberbagai negara. Salah satu aspek pembelajaran yang cukup sulit dalam bahasa inggris adalah listening. Mengingat sulitnya aspek tersebut, maka dalam pembelajarannya perlu dilakukkan pada saat dan momen yang tepat. Usia sekolah dasar yaitu 7-12 tahun dinilai sebagai usia yang tepat, karena pada usia ini pembelajan berbahasa dapat lebih berkembang. Salah satu cara pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelajaran multimedia berbasis android. Oleh karena itu dibangunlah sebuah game listening yang dapat membantu dan menambah wawasan anak-anak dalam belajar bahasa inggris khususnya aspek listening. Game listening ini dibangun menggunakan konsep multimedia, yang pembuatannya menggunakan software Adobe Flash dengan Actionscript sebagai bahasa pemogramannya dan XML sebagai format data.

English is an international language which has crucial role in every country. One difficult aspect of learning English is listening, and needed the right time and moment to learn it. Elementary school aged is about 7-12 years old considered as the right age to learn English, because in these ages, language learning can be improved rapidly. Related to this, one way to learn listening is android-based multimedia learning. Therefore, to help and improve students’ ability especially in listening aspect, then it is made a listening game. This game is designed using multimedia concept in which it uses Adobe Flash software with Action Script as the language programming and XML as the data format.


78428628D1E010248INFEKSI Eimeria spp. TERHADAP PERSENTASE BOBOT SEKUM DAN PERSENTASE BOBOT KARKAS KELINCI LEPAS SAPIH Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh infeksi Eimeria spp. terhadap persentase bobot sekum dan persentase bobot karkas kelinci lepas sapih. Penelitian menggunakan metode eksperimental dan laboratorium. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah kelinci Rex cross jantan, umur 2–3 bulan sebanyak 20 ekor yang diinfeksi koksidiosis dengan bobot badan antara 0.8–1.1 kg. Model analisis yang digunakan adalah Pengujian Fisher (F test). Perlakuan dosis Eimeria spp. yaitu 0 ookista (R0 atau kontrol); 10 ookista (R1); 100 ookista (R2); 1.000 ookista (R3); dan 10.000 ookista (R4). Hasil penelitian dihasilkan rataan persentase bobot sekum R0, R1, R2, R3, dan R4 berturut–turut 2.12±0.18%, 2.72±1.18%, 1.91±0.36%, 2.35±0.28%, dan 2.59±0.47%. Rataan persentase bobot karkas R0, R1, R2, R3, dan R4 berturut–turut sebesar 38.84±3.90%, 38.46±4.95%, 39.82±3.09%, 36.02±2.98%, dan 34.10±5.79%. Hasil uji F menunjukkan bahwa pengaruh dari infeksi Eimeria spp., tidak menimbulkan perubahan terhadap persentase bobot sekum dan persentase bobot karkas (P > 0.05).The aim of this research was to determine the effect Eimeria spp. infection on the percentage of caecum weight and carcass weight of weaned rabbit. The research used experimental and laboratory methods. The material used in the study were 20 male Rex cross rabbits, aged 2nd–3st month, weighing between 0.8–1.1 kg. The analysis model was used Fisher Testing (F test). The treatment dosage of Eimeria spp. was, 0 oocyst (R0 or control); 10 oocyst (R1); 100 oocyst (R2); 1.000 oocyst (R3); 10.000 oocyst (R4). The results were obtained by averaging percentage of caecum weight R0, R1, R2, R3, dan R4 that is 2.12±0.18%, 2.72±1.18%, 1.91±0.36%, 2.35±0.28%, dan 2.59±0.47%. The average percentage of carcass weight R0, R1, R2, R3, dan R4 respectively 38.84±3.90%, 38.46±4.95%, 39.82±3.09%, 36.02±2.98%, dan 34.10±5.79%. The F test results showed that the effect of infection Eimeria spp., infection not result in changes to the percentage of caecum weight and carcass weight (P > 0.05).
78438629H1A010012PENENTUAN KARAKTERISTIK MEMBRAN KOMPOSIT SELULOSA ASETAT DARI NATA DE BANANA SKIN-POLISTIRENA (SA-PS) TERMODIFIKASI POLI(ETILEN GLIKOL)-6000Selulosa asetat nata de banana skin adalah salah satu polimer alam yang diproduksi melalui empat tahap yaitu aktivasi, asetilasi, hidrolisis, dan pemurnian. Selulosa asetat kemudian digunakan sebagai bahan dasar pembuatan membran komposit dengan polistirena serta dilakukan penambahan poli(etilen glikol) sebagai porogen. Selulosa asetat yang diperoleh berbentuk serbuk kering berwarna cokelat muda, halus, dan tidak berbau sedangkan membran komposit SA-PS berporogen yang diperoleh berbentuk lembaran tipis berwarna putih. Karakterisasi selulosa asetat telah dilakukan dengan menganalisis gugus fungsi, menentukan massa molekul relatif, dan kadar asetil. Hasil analisis spektroskopi infra merah menunjukkan bahwa puncak spesifik gugus asetil pada 1234,44 cm-1 (C-O) dan 1751,36 cm-1 (C=O karbonil) dengan massa molekul relatif sebesar 4,4786 x 104 g/mol dan kadar asetil 37,31%. Membran komposit SA-PS berporogen juga telah dikarakterisasi dengan mengukur nilai fluks air dan menguji kuat tarik membran. Hasil pengukuran diperoleh nilai fluks air sebesar 2,4382 L/(m2.jam) dan nilai uji tarik sebesar 10,38 MPa.Cellulose acetate from nata de banana skin is one of the natural polymer which is produced through the four steps. The steps are activation, acetylation, hydrolysis, and purification. This cellulose acetate was used in the manufacture of composite membrane with polystyrene and poly (ethylene glycol) as porogen. Cellulose acetate was dried powder with light brown colour, smooth, and odorless. CA-PS composite membrane with porogen was white thin sheet. Characterization of cellulose acetate had been carried out by analyzing the functional groups, determine the molecular weight, and contents of acetyl. The results of infrared spectroscopy analysis showed that the acetyl group on specific peaks 1234.44 cm-1 (C-O) and 1751.36 cm-1 (C=O carbonyl) with a molecular weight of 4.4786 x 104 g/mol and the contents of acetyl 37.31%. CA-PS composite membrane with porogen also been characterized by measuring the water flux values and test the tensile strength of the membrane. The results showed that the water flux was 2.4382 L/(m2.hour) and the tensile test was 10.38 MPa
78448630D1F011014OPTIMALISASI PENGGUNAAN PUPUK CAIR ORGANIK USB DENGAN SUPLEMENTASI HERBAL TERHADAP TINGGI TANAMAN DAN DIAMETER BATANG RUMPUT GAJAH DEFOLIASI KEDUA Penelitian bertujuan untuk mengkaji dan mengetahui tinggi tanaman dan diameter batang rumput gajah varietas Hawai dengan penggunaan pupuk cair organik USB (Urin Sapi Bunting) dengan suplementasi herbal. Penelitian menggunakan metode experimental. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Nested (Grouped) dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rataan tinggi tanaman rumput gajah P1d1 (257,517 cm), P1d2 (275,400 cm), P1d3 (282,717 cm), P2d1 (243,933 cm), P2d2 (215,223 cm), P2d3 (262,500 cm), P3d1 (282,333 cm), P3d2 (268,533 cm), P3d3 (263,133 cm), P4d1 (305,000), P4d2 (266,400 cm), P4d3 (252,200 cm) dan nilai rataan diameter batang rumput gajah P1d1 (0,7620 cm), P1d2 (1,0248 cm), P1d3 (1,0620 cm), P2d1 (0,9300 cm), P2d2 (0,9953 cm), P2d3 (0,8387 cm), P3d1 (0,8340 cm), P3d2 (1,0573 cm), P3d3 (1,0327 cm), P4d1 (1,1967 cm), P4d2 (1,0613 cm), P4d3 (1,0453 cm). Hasil analisis variansi menunjukkan perlakuan jenis dan dosis pupuk tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap tinggi tanaman dan diameter batang rumput gajah. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penggunaan pupuk cair organik USB (Urin Sapi Bunting) dengan suplementasi herbal dan peningkatan dosis pupuk dalam penelitian ini belum mampu meningkatkan tinggi tanaman dan diameter batang rumput gajah pada defoliasi kedua.The study aimed to assess and determine plant height and stem diameter of elephant grass fertilized with liquid organic fertilizer of PCU (Pregnant Cow Urine) supplemented with herbal. The research used was experimental method. The study design was nested design (grouped) with 12 treatments and 3 replications. The results showed that the average value of plant height of elephant grass at P1d1 was 257.517 cm, P1d2 was 275.400 cm, P1d3 was 282.717 cm, P2d1 was 243.933 cm, P2d2 was 215.223 cm, P2d3 was 262.500 cm, P3d1 was 282.333 cm, P3d2 was 268.533 cm, P3d3 was 263.133 cm, P4d1 was 305.000, P4d2 was 266.400 cm, P4d3 252.200 cm and the average value of stem diameter of elephant grass at P1d1 was 0.7620 cm, P1d2 was 1.0248 cm, P1d3 was 1.0620 cm, P2d1 was 0.9300 cm, P2d2 was 0.9953 cm, P2d3 was 0.8387 cm, P3d1 was 0.8340 cm, P3d2 was 1.0573 cm, P3d3 was 1.0327 cm, P4d1 was 1.1967 cm, P4d2 was 1.0613 cm, P4d3 was 1.0453 cm. The results of analysis of variance showed, there was no significant differences (P > 0.05) of plant height and stem diameter of elephant grass. Based on the results of analysis and discussion, it can be concluded that the use of liquid organic of fertilizer of PCU (Pregnant Cow Urine) with herbal supplementation and increased fertilizer dose in this study were not able to increase plant heigh and stem diameter of elephant grass at second defoliation.
78458631D1F011013OPTIMALISASI PENGGUNAAN PUPUK CAIR ORGANIK USB DENGAN SUPLEMENTASI HERBAL TERHADAP BAHAN KERING DAN IMBANGAN DAUN-BATANG RUMPUT GAJAH
DEFOLIASI KEDUA
Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan pupuk organik cair urin sapi bunting (USB) dengan penambahan herbal terhadap bahan kering dan imbangan daun-batang rumput gajah. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan dasar Pola Tersarang. Adapun materi yang digunakan adalah rumput gajah periode defoliasi kedua sebanyak 36 petak dengan luas tiap petak 2m2 dengan jarak antar tanam 1m. Jumlah perlakuan 12 dengan ulangan sebanyak tiga kali.
Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah bahan kering dan imbangan daun-batang rumput gajah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rataan produksi bahan kering gajah P1d1 (4,150±3,151), P1d2 (7,610±7,551), P1d3 (8,107±0,653), P2d1 (13,247±1,432), P2d2 (7,330±2,711), P2d3 (6,977±5,062), P3d1 (10,600±2,867), P3d2 (10,587±5,348), P3d3 (13,077±2,075), P4d1 (6,063±5,193), P4d2 (10,053±6,716), P4d3 (10,183±6,199) dan nilai rataan imbangan daun batang P1d1 (2,487±1,285), P1d2 (2,063±0,877), P1d3 (1,880±0,867), P2d1 (2,780±1,640), P2d2 (2,6±1,004), P2d3 (2,520±0,333), P3d1 (2,5±0,834), P3d2 (2,037±0,550), P3d3 (2,917±0,140), P4d1 (1,720±0,089), P4d2 (2,177±0,846), P4d3 (2,4±0,855). Hasil analisis variansi menunjukkan tidak berbeda nyata (P > 0,05) terhadap bahan kering dan imbangan daun batang rumput gajah. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penggunaan pupuk cair organik USB dengan suplementasi herbal dan peningkatan level pupuk dalam penelitian ini belum mampu meningkatkan produksi bahan kering dan imbangan daun batang rumput gajah defoliasi kedua.
The study was aimed to assess the level of the optimizing use of liquid organic fertilizer PCU to Hawai variety of Elephant Grass on dry matter production and the proportion of leaf stems, was evaluated. An Experimental research method was used, applying Grouped. The materials used were Elephant Grass (Pennisetum purpureum) variety of Hawai at 2nd defoliation. The number of treatments with twelve replications three times. The variables were observed in this study is dry matter production and leaf to stem ratio of Elephants grass. The data were analyzed using analysis of variance and were tested further by orthogonal Countrast test. The results showed that P1d1 was (4,150±3,151), P1d2 was (7,610±7,551), P1d3 was (8,107±0,653), P2d1 was (13,247±1,432), P2d2 was (7,330±2,711), P2d3 was (6,977±5,062), P3d1 was (10,600±2,867), P3d2 was (10,587±5,348), P3d3 was (13,077±2,075), P4d1 was (6,063±5,193), P4d2 was (10,053±6,716), P4d3 was (10,183±6,199) andthe averagevalue of leaf to stem ratio of elephantgrass at P1d1 was (2,487±1,285), P1d2 was (2,063±0,877), P1d3 was (1,880±0,867), P2d1 was (2,780±1,640), P2d2 was (2,6±1,004), P2d3 was (2,520±0,333), P3d1 was (2,5±0,834), P3d2 was (2,037±0,550), P3d3 was (2,917±0,140), P4d1 was (1,720±0,089), P4d2 was (2,177±0,846), P4d3 was (2,4±0,855) The results of analysis of variances howed, there was no significant differences (P >0.05) of dry matter production and leaf to stem ratio of elephant grass. Based on the results of analysis and discussion, it can be concluded that the use of liquid organic fertilizer Pregnant Cow Urine (PCU) with herbal supplementation and increased fertilizer level in this study were not able to increase on dry matter and leaf to stem ratio of elephant grass at 2nd defoliation.
78468632C1L010016THE INFLUENCE OF FINANCIAL INFORMATION
ON EARNINGS GROWTH AT KOPERASI PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA (KPRI) IN PEKALONGAN
Tujuan dari penelelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh informasi keuangan terhadap pertumbuhan laba yang diukur dengan Total Assets to Debt Ratio (TADR), Total Assets Turnover (TAT), ) Net Profit Margin (NPM), Current Ratio (CR), dan Return on Equity (ROE) pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) di Pekalongan selama 2010 sampai 2012. Dengan menggunakan teknik purposive sampling, penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 41 koperasi selama periode penelitian. Untuk membuktikan hipotesis, penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Berganda dan Model Elastisitas.Kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut: (1) Total Assets to Debt Ratio (TADR) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan laba, (2) Total Assets Turnover (TAT) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan laba, (3) Net Profit Margin (NPM) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan laba, (4) Current Ratio (CR) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan laba, (5) Return on Equity sebagai variable kontrol berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, (6) Net Profit Margin (NPM) merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.The purpose of this research was to analyze the influence of financial information on earning growth which were measured by Total Assets to Debt Ratio (TADR), Total Assets Turnover (TAT), ) Net Profit Margin (NPM), Current Ratio (CR), and Return on Equity (ROE) at Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) in Pekalongan during 2010 until 2012. By using purposive sampling technique, this research used 41 cooperatives during research period as the sample. To prove the hypothesis, this research was applied Multiple Linier Regression and Elasticity Model. The conclusions were as follow: (1) Total Assets to Debt Ratio (TADR) have no significant influence to Earning Growth, (2) Total Assets Turnover (TAT) have significant influence to Earning Growth, (3) Net Profit Margin (NPM) have significant influence to Earning Growth, (4) Current Ratio (CR) have no significant influence to Earning Growth, (5) Return on Equity as a control variable have influence on Earnings Growth, (6) Net Profit Margin (NPM) is the most dominant variable which influences Earning Growth.
784710430H1F010019IDENTIFIKASI FASIES DAN ANALISA PETROFISIKA ZONA “C” FORMASI SANTUL LAPANGAN DA, SUB CEKUNGAN TARAKAN, CEKUNGAN TARAKAN, KALIMANTAN UTARACekungan Tarakan merupakan salah satu dari 3 (tiga) Cekungan Tersier utama yang terdapat di bagian timur continental margin Kalimantan. Pada Cekungan Tarakan khususnya Sub Cekungan Tarakan terdapat potensi hidrokarbon yang menarik untuk diteliti. Penelitian yang dilakukan meliputi analisa kualitatif maupun kuantitatif. Kualitatif berdasarkan analisa log maupun data sekunder, sedangkan analisa kuantitatif menggunakan metode perhitungan petrofisika.
Berdasarkan hasil identifikasi dan korelasi fasies pada sumur DA-1, DA-2, dan DA-3, didapatkan fasies yang terbagi menjadi fasies distributary channel, tidal flat, distributary mouthbar dan tidal ridge dengan siklus SB1 – SB2 dan SB2 – SB3, dan SB3 – MFS3 yang terendapkan di delta plain dan delta front pada kala Miosen Akhir – Pliosen Awal yang terdiri dari perselingan batupasir dan serpih, serta terdapat shaly sand dan batugamping. Untuk hasil analisa petrofisika terhadap zona “C” di sumur DA-1 dan DA-2 dari lima zona yaitu, C-1, C-2, C-3, C-4, C-5U, C-5 didapatkan zona hidrokarbon yang terbaik untuk dilakukan test yaitu, untuk sumur DA-1 zona C-2 dan C-3, sedangkan untuk sumur DA-2 zona C-3 dan zona C-5.
Tarakan Basin is one of three main tertiary basin in East continental margin of Kalimantan. In Tarakan Basin especially Tarakan Sub Basin own any hydrocarbon potential which attract to be a research. This research contains qualitative and quantitative analysis. Qualitative analysis based on log analysis and secondary data, whereas quantitative analysis using calculation of petrophysics analysis.
Based on result of identification and correlation of facies in well DA-1, DA-2, DA-3, facies consist of distributary channel, tidal flat, distributary mouthbar and tidal ridge in three cycles that are SB1 – SB2 dan SB2 – SB3, and SB3 – MFS3 which deposited in delta plain and delta front at Late Miocene – Early Pliocene that consist of sandstone, shale, shaly sand, and limestone. For the result of petrophysics analysis in zone “C” well DA-1 and DA-2 consist of 5 zones are C-1, C-2, C-3, C-4, C-5U, C-5, from that 5 zones we got the best hydrocarbon zone to be test zone there are zone C-2 and C-3 in DA-1 well, zone C-3 and C-5 in DA-2 well.
78488652F1F007055KETIDAKHADIRAN PERAN AYAH SEBAGAI KEPALA KELUARGA PADA KARAKTER UTAMA TANPA NAMA YANG TERLIHAT DALAM NOVEL EVERYMAN OLEH PHILIP ROTHPenelitian ini berjudul The Role of Father Absence as a Householder in the Anonymous Main Character as Seen in Phillip Roth. Novel yang digunakan dalam penelitian ini ditulis oleh Philip Roth. Tujuan dari penetian ini adalah untuk menganalisis ketidakhadiran peran ayah yang mengakibatkan anak – anaknya menderita.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif qualitatif dan beberapa teori seperti psikologi keluarga, ketergantungan terhadap seks dan cinta, ketidakhadiran ayah, dan ayah yang ideal.
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa karakter utama tanpa nama adalah seorang ayah yang melakukan banyak perselingkuhan dan bercerai sebanyak tiga kali. Sikapnya tersebut dipengaruhi oleh penyakit yang membawanya menjadi orang tua yang bercerai. Karena perceraiannya tersebut, anak- anaknya merasakan ketidakhadiran peran ayah baik secara fisik maupun emosional. Anak laki- lakinya tumbuh dengan perasaan benci terhadap ayahnya, sementara anak perempuannya tumbuh dengan perasaan ingin memiliki keluarga yang utuh kembali. Sang anak perempuan pun menjadi orang tua yang bercerai ketika dia tumbuh dewasa. Bagaimanapun juga mereka selalu mencintai sang ayah dan hal ini terlihat dari reaksi mereka setelah sang ayah meninggal. Di samping itu tokoh utama tanpa nama ini tidak menjadi ayah yang ideal bagi anak- anaknya dan hal tersebut terlihat dalam gambaran peran ayah di penelitian ini.
This research is entitled ―The Role of Father Absence as a Householder in the Anonymous Main Character as Seen in Philip Roth‘s Everyman”. The aim of this research is to analyze the father absence which affects children‘s suffered.
This research employs descriptive qualitative method and some theories such as psychology of family, sex and love addiction, father absence, and ideal father.
The result of this research describes that the anonymous main character is the father who conducts some affairs and have three times divorces. His attitude is caused by his illness which leads him to be a divorced parent. Because of his divorces the children feel father absence both physical and emotional absence. His children grow up without involvement of father and it creates different impact of this father absence. His sons grow up with father hatred feeling and his daughter grows up with willingness to have complete family. The daughter also becomes divorced parent when she is adult. However, the children always love their father and it is seen from their reaction after the anonymous main character death. Besides, the anonymous main character cannot be the ideal father and it is explained in the depiction of father‘s role of this research.
784910431A1L010252KEEFEKTIFAN BAKTERI Serratia ENDOSIMBION WBC TERHADAP LALAT BUAH MELON Bactrocera cucurbitaePenelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui keefektifan bakteri Serratia Endosimbion WBC berdasarkan mortalitas lalat buah Bactrocera cucurbitae, 2) memastikan penularan bakteri tersebut secara transovarial, 3) mengetahui abnormalitas imago keturunan pertama (G1) akibat perlakuan bakteri tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – Juni 2014 di BBPOPT Jatisari, Karawang dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan DMRT. Hasil penelitian mengungkapkan mortalitas imago sangat rendah yaitu 4 %, bakteri bersifat transovarial, tidak mengakibatkan abnormalitas imago keturunan pertama. Bakteri ini belum dapat digunakan sebagai agen pengendali hayati lalat buah yang potensial.
The goals of the research were to: 1) find out the effectiveness of Bacteria Serratia Endosimbion WBC based on mortality of fruit flies Bactrocera cucurbitae, 2) examine bacterial transmission that is transovarial, 3) know abnormality of imago at the first generation (G1). This research was conducted on March until June 2014 in BBPOPT Jatisari, Karawang, using a complete randomized design (CRD) with 5 treatments and 5 replications. Data were analyzed using ANOVA and followed with DMRT. The result showed mortality of imago was very low, only 4 %, the bacteria are transovarial, there were not effect for abnormality imago at the first generation. This bacterium is not recommended as a biological agent of fruit flies.
78508633G1A010022Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Tingkat Kepuasan Pasien Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional di Instalasi Rawat Inap kelas III Ruanng Perawatan Kebidanan RSMS PurwokertoProgram Jaminan Kesehatan Nasional adalah jaminan kesehatan milik pemerintah yang dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2014. Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional sebagai salah satu program untuk menekan angka kematian ibu dan angka kematian bayi tetap harus mengedepankan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas pelayanan dengan kepuasan pasien penerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional di instalasi rawat inap kelas III ruang perawatan kebidanan Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto. Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien penerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional yang dirawat inap di kelas III ruang perawatan kebidanan Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto periode 24 April 2014 – 12 Mei 2014 sebanyak 109 orang. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian didapatkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara bukti langsung (tangible) (r = 0,708), kehandalan (reliability) ( r = 0,734), jaminan (assurance) ( r = 0,702), daya tanggap (responsiveness) ( r = 0,824), empati (emphaty) ( r = 0,609), dan kualitas pelayanan secara keseluruhan ( r = 0,848) dengan kepuasan pasien penerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional di instalasi rawat inap kelas III ruang perawatan kebidanan Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto.National Health Insurance is a government-owned health insurance implemented in Indonesia since January 1, 2014. Implementation of the National Health Insurance program as one of the programs to reduce maternal mortality and infant mortality rates must prioritize service quality and patient satisfaction. The research objective is analyzing the correlation of healthcare quality with patient satisfaction of National Health Insurance beneficiaries at obstetrics ward Margono Soekarjo Purwokerto hospital. This research is an observational analytic with cross-sectional design. The samples were patient of National Health Insurance beneficiaries at obstetrics ward Margono Soekarjo Purwokerto Hospital period 24 April 2014 – 12 May 2014 as many as 109 people. Data analysis used Spearman correlation. There was a positive correlation of tangible (r = 0,708), reliability (r = 0,734), assurance (r = 0,702), responsiveness (r = 0,824), emphaty (r = 0,609), and healthcare quality (r = 0,848) with patient satisfaction of National Health Insurance beneficiaries at obstetrics ward Margono Soekarjo Purwokerto hospital.
78518634G1A010107LATAR BELAKANG KONDISI SOSIODEMOGRAFI DAN KEHARMONISAN KELUARGA PADA REMAJA PELAKU TINDAK KEJAHATAN SEKSUAL (Studi Kasus Kejahatan Seksual Remaja di Wilayah Hukum Kejaksaan Negeri Banyumas dan Purwokerto Tahun 2013)LatarBelakang:Kasus kejahatan seksual merupakan fenomena gunung es, dikarenakan fakta yang terjadi sesungguhnya jauh lebih besar dibandingkan dengan yang dilaporkan, sehingga perlu dilakukan peninjauan ke berbagai wilayah aspek kehidupan yang berpengaruh terhadap perilaku manusia. Remaja adalah tahap awal dari perkembangan seksual sekunder sampai mencapai kematangan seksual, apabila tidak didukung dengan lingkungan yang kondusif akan menyebabkan terjadinya kenakalan remaja. Oleh karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting untuk diteliti karena merupakan lembaga utama pembentukan kepribadian seseorang.
Tujuan:Untuk menggambarkan latar belakang sosiodemografi dan keharmonisan keluarga pada remaja pelaku tindak kejahatan seksual di Kabupaten Banyumas tahun 2013.
Metode:Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan subjek menggunakan non probability sampling jenis purposive. Informan penelitian ini adalah orangtua dari remaja pelaku kejahatan seksual di Kabupaten Banyumas yang berjumlah 5 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara mengenai sosiodemografi dan keharmonisan keluarga. Validitas data menggunakan metode triangulasi waktu dan analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif.
Hasil: Terjadi 35 kasus kejahatan seksual di Kabupaten Banyumas pada tahun 2013 dengan semua pelakunya laki-laki dan sebanyak 62,9% berusia remaja. Dari 5 informan penelitian, didapatkan hasil sebagian besar memiliki tingkat pendidikan menengah, status sosio-ekonomi rendah, status perceraian orangtua dan kurangnya keharmonisan keluarga.
Kesimpulan.Kurangnya keharmonisan keluarga yang dipengaruhi oleh aspek sosiodemografi menjadi salah satu faktor yang berkaitan erat dengan terjadinya kasus kenakalan remaja, termasuk kasus kejahatan seksual.
Background: Cases of sexual crime an iceberg phenomenon, which occurs due to the fact actually much larger than reported, so we need to review the various areas of life aspects that influence human behaviour. Teenagers are the early stages of secondary sexual development until it reaches sexual maturity, if not supported by a conducive environment will lead to juvenile delinquency. Therefore, the role of the family is very important to study because it is the lead agency formation of one’s personality.
Objective: The aim of this study was to describe the sosiodemographic background and family harmony in juvenile sexual offenders in Banyumas in 2013.
Methods:This study uses a qualitative case study approach. The method of collecting the subjects using non-probability purposive sampling types. Informants of this study were the parents of teenage sex offenders in Banyumas, amounting to 5 people. The research instrument used was the interview guidelines regarding sosiodemographic and family harmony. The validity of the data using triangulation of time method and data analysis used id interactive analysis.
Results: There were 35 cases of sexual crime in Banyumas in 2013 with all the perpetrators of men and 62.9% were teenagers. Of 5 informant, showed most had secondary education, low socio-economic status, parental divorce status and lack of family harmony.
Conclusion: Lack of family harmony is influenced by sosiodemographic aspects to be one factor is closely related to the occurrence of juvenile deliquency cases, including cases of sexual crimes.
78528599D1E010037PENGGUNAAN TEPUNG DAUN PEPAYA (Carica papaya L) DALAM RANSUM TERHADAP KADAR AIR DAN KEEMPUKAN DAGING AYAM KAMPUNG SUPERPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan dan persentase pemberian tepung daun pepaya (Carica papaya) terhadap kadar air dan keempukan daging ayam kampung super. Materi yang digunakan adalah 60 ekor ayam kampung super umur dua minggu, bahan pakan yang digunakan yaitu jagung giling, dedak, tepung ikan, bungkil kedelai, minyak kelapa, minyak ikan lemuru, premix dan tepung daun papaya, sedangkan peralatan yang digunakan timbangan analog, timbangan digital, pnetrometer dan oven serta peralatan kandang. Penelitian dilakukan menggunakan metode experimental in vivo dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari R0 =pakan basal; R1 =R0 + 2 % tepung daun pepaya; R2 =R0 + 4 % tepung daun pepaya; R3 =R0 + 6 % tepung daun pepaya. Peubah yang diamati adalah kadar air dan keempukan daging. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dengan uji ortogonal. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun pepaya sampai kadar 6% berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar air dan keempukan daging. Rataan kadar air daging paha 49,25 ± 2,40%, dan rataan kadar air daging dada 48,26 ± 1,99%. Rataan keempukan daging paha 0,21 ± 0,05 mm/g/dt dan rataan keempukan daging dada 0,23 ± 0,01 mm/g/dt. Kesimpulan bahwa penggunaan tepung daun pepaya sampai kadar 6% dalam ransum masing-masing menghasilkan kadar air dan keempukan daging ayam kampung super bagian dada dan paha yang relatif sama.The research aimed to investigate the effect of uses and percentage of granting dried papaya meal (Carica papaya) appropriate on moisture and tenderness of meat of super native chicken. The materials used were 60 chickens with the age of two weeks, some of feed stuff such as grilled corn, fish meal, rice bran, soy bean meal, coconut oil, fish oil, premix and dried papaya meal. The tools used include analog scales, digital scales, pnetrometer, oven and farm equipment. The research was performed using in vivo experimental method with Completely Randomized Design (CRD), ortogonal test. The treatment consisted of R0 = control; R1 = R0 + 2% dried papaya meal; R2 = R0 + 4% dried papaya meal; R3 = R0 + 6% dried papaya meal. The variables measured were moisture and tenderness meat of Super Native chicken. Data were analyzed using analysis of variance with ortogonal test. The result of analysis variance showed that the uses of dried papaya meal until 6% not significantly (P>0.05) affect moisture and tenderness of meat. The means moisture of thigh meat were 49,25 ± 2.40 % and the means moisture of chest meat were 48.26 ± 1.99%. The means of thigh tenderness of meat were 0.21 ± 0.05 mm/g/sec and the means of chest tenderness of meat were 0.23 ± 0.01 mm/g/sec. The conclusion of this research is the uses of dried papaya meal until the level of 6% in feed produces relatively similiar moisture and tenderness of meat of the chest and thighs.
785311439A1H011026ANALISIS WARNA JERUK SIAM (Citrus nobilis Lour var. microcarpa Hassk) PADA PENGGUNAAN KEMASAN BERWARNA SELAMA PENYIMPANANJeruk siam (Citrus nobilis) termasuk varietas yang paling banyak diusahakan dan paling luas penyebarannya. Buah jeruk segar sebagai komoditas hortikultura, pada umumnya memiliki sifat mudah rusak. Buah jeruk harus mendapatkan teknologi pascapanen yang tepat agar kesegaran sekaligus umur simpannya dapat bertahan lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna kemasan terhadap beberapa parameter mutu buah jeruk siam, terutama parameter warna selama penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penyimpanan dilakukan selama 10 hari pada suhu ruang dengan kelembaban relatif udara antara 75-83% dengan perlakuan tanpa kemasan (P0T), kemasan merah satu lapis (P1T), kemasan merah dua lapis (P2T), kemasan hijau satu lapis (P3T), kemasan hijau dua lapis (P4T), kemasan biru satu lapis (P5T) dan kemasan biru dua lapis (P6T). Variabel yang diukur adalah warna, kadar air, kadar brix, kekerasan dan kandungan vitamin C, serta variabel lain yaitu suhu dan kelembaban relatif udara. Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan data dianalisis menggunakan persamaan kinetika reaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeruk siam yang dikemas dengan kemasan hijau dua lapis (P4T) memiliki laju peningkatan warna paling rendah untuk nilai L dan b(+), dan laju penurunan warna paling rendah untuk nilai a(-); kadar air jeruk siam pada hari ke-10 penyimpanan dapat dipertahankan dengan perlakuan kemasan biru satu lapis (P5T); kadar brix paling tinggi pada hari ke-10 penyimpanan yaitu pada kemasan hijau dua lapis (P4T); kekerasan jeruk siam yang mengalami penurunan paling lambat yaitu pada kemasan biru satu lapis (P5T); dan kandungan vitamin C yang mengalami peningkatan paling tinggi yaitu pada jeruk siam dengan perlakuan tanpa kemasan (P0T). Penurunan nilai kehijauan warna jeruk siam yang paling rendah yaitu dari -7,65556 menjadi -6,9 selama 10 hari penyimpanan dengan kondisi buah telah mengalami pelayuan.Citrus (Citrus nobilis) is one of varieties which are most commonly cultivated and widely spread. Fresh citrus fruits as horticultural commodities, in general is easily damaged. Citrus fruits have to get proper postharvest technology in order freshness and their shelf life can be long last. This research aims to understand the influence of packaging color on the quality parameters of citrus fruit, especially the color parameters during storage. The research was conducted in Laboratory of Food Processing Techniques and Agricultural Product, Agricultural Technology, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. Storage was conducted during 10 days at ambient temperature with 75-83% RH with non packaging (P0T) treatment, a red layer packaging (P1T), two red layers packaging (P2T), a green layer packaging (P3T), two green layers packaging (P4T), a blue layer packaging (P5T), and two blue layers packaging (P6T). The variable observed are color, the moisture content, the brix level, hardness and vitamin C content, the other variable are temperature and relative humidity. The experimental method that’s being used is Completely Randomized Design (CRD) and data were analyze using reaction kinetics equation. The results showed that citrus are packed with two green layers packaging (P4T) has the lowest rate of color increasing for the value of L and b(+), and the lowest rate of color decreasing for the value of a(-); moisture content of citrus on the 10th day of storage can be maintained with a blue layer packaging (P5T) treatment; the most high brix level on the 10th day of storage is in two green layers packaging (P4T); the slowest decreasing hardness of citrus is in the blue layer packaging (P5T); and vitamin C content that has the highest increasing is in citrus are packed with non packaging (P0T) treatment. The lowest decreasing of greenness value of citrus color is from -7,65556 until -6,9 for 10 days of storage with fruit condition has been senescence.
785411597F1C011072Pola Komunikasi Pengasuhan Pembantu Rumah Tangga Di Anak Usia Dini
Di Perumahan Bumi Arca Indah Kelurahan Arcawinangun Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas
Demi meningkatkan kesejahteraan hidup dijaman yang semakin maju dan modern, tak jarang saat ini banyak seorang wanita yang memilki tanggung jawab dan peran ganda yakni sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga. Peran dan beban ganda pada seorang wanita, membuat pengasuhan anak digantikan oleh pembantu rumah tangga. Dalam sebuah pengasuhan tentunya terdapat sebuah pola komunikasi antara pembantu rumah tangga dengan anak usia dini. Anak usia dini merupakan masa golden age, dimana anak tersebut akan meniru apa yang dilihat, didengar dan diajarkan oleh orang- orang yang ada didekatnya. Berdasarkan fenomena tersebut, membuat peneliti tertarik melakukan sebuah penelitian mengenai Pola Komunikasi Pengasuhan Pembantu Rumah Tangga Pada Anak Usia Dini Di Perumahan Bumi Arca Indah Kelurahan Arcawinangun Kecamatan Purwokerto Timur kabupaten Banyumas. Tujuan dalam penelitian ini yakni mengetahui pola komunikasi pengasuhan yang diterapkan pembantu rumah tangga pada anak usia dini di perumahan Bumi Arca Indah Kelurahan Arcawinangun Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas.
Metode pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah Komunikasi Antarpribadi perspektif humanistik. Teknik yang digunakan dalam memilih informan yakni menggunakan purposive sampling dan pengumpulan data dilakukan dengan data primer, wawancara, observasi serta data sekunder. Berdasarkan analisis data dan hasil penelitian, maka dapat dikemukakan bahwa Pola komunikasi pengasuhan pembantu rumah tangga pada anak usia dini di perumahan Bumi Arca Indah Kelurahan Arcawinagun Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas, menggunakan pola asuh permisif dan pola asuh demokratis dalam mengasuh anak usia dini. Pola komunikasi pengasuhan yang dilakukan pembantu rumah tangga dapat mempengaruhi perkembangan anak usia dini. Sehingga hendaknya pengasuhan dilakukan oleh pembantu rumah tangga yang telah berpengalaman baik dalam mengasuh anak, serta dapat menempatkan diri di berbagai situasi dalam membimbing dan mengarahkan anak.
In order to enhance the welfare in modern era like today, there are so many women who have the responsibility and the dual role as a career woman and housewife. Role and double burden on a woman, makes parenting replaced by a housekeeper. In a parenting course, there is a pattern of communication between the housemaid with early childhood. Early childhood is the golden age, where the child will imitate what they see, hear and be taught by people who stood by. Based on this phenomenon, the research interested in conducting a study on the communication patterns of care which is applied by housemaids in early childhood in the housing Bumi Arca Indah village Arcawinangun the District East Purwokerto, Banyumas Regency. The goal in this research is to know the communication patterns of care which is applied by housemaids in early childhood in the housing Bumi Arca Indah village Arcawinangun the District East Purwokerto, Banyumas Regency.

This research method used descriptive qualitative method. The theory that is used is the Interpersonal Communication humanistic perspective. Techniques used in selecting the informants using purposive sampling and data collection is done with the primary data, interviews, observation, and secondary data. Based on data analysis and research results, it can be argued that the communication patterns of care housemaids in early childhood in the housing Bumi Arca Indah village Arcawinangun the district East Purwokerto, Banyumas regency, using permissive parenting and democratic parenting in early childhood parenting. Parenting communication pattern can influence the developing of early childhood. So parenting communication patterns by housekeeper should be on who had experienced both in parenting, and can put themselves in various situations in guiding and directing the children.
78558635F1C007049POLA KOMUNIKASI PERDAGANGAN ILEGAL ELANG DAN BURUNG HANTU DI PASAR BURUNG PEKSI BACINGAH PURWOKERTOPerdagangan ilegal satwa liar, termasuk di dalamnya elang dan burung hantu merupakan fenomena yang menarik dan tengah hangat diperbincangkan publik. Berdasarkan data dari lembaga Burung Nusantara, tercatat 1.700 jenis burung yang ada di Indonesia dimana 386 jenis diantaranya dilindungi karena memiliki peran secara ekologi dan termasuk jenis yang langka di alam, namun patut disayangkan bahwa jenis burung tersebut masih kerap diperdagangkan secara ilegal (Wihardandi, 2013). Hewan-hewan exotic tersebut, dijual secara ilegal oleh pengepul atau penadah sehingga sulit untuk dilacak keberadaannya. Tetapi ada juga pedagang yang memberanikan diri untuk menjual di pasar burung lokal, seperti yang terjadi di Pasar Burung Peksi Bacingah Purwokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuai pola komunikasi antara penjual dan pembeli serta untuk mengetahui pesan verbal dan non-verbal yang digunakan oleh penjual dan pembeli dalam proses perdagangan ilegal elang dan burung hantu di Pasar Burung Peksi Bacingah Purwokerto.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan model interaktif melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi, sedangkan teknik penentuan informan yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling. Berdasarkan teknik sampling tersebut, maka dapat ditentukan bahwa jumlah informan dalam penelitian ini adalah 4 orang yang terdiri dari 2 pembeli dan 2 penjual dalam perdagangan ilegal elang dan burung hantu di pasar Peksi Bacingah Purwokerto.
Mengacu pada hasil observasi dan dokumentasi dapat diketahui bahwa terdapat 30 kios yang aktif digunakan, dan dapat diindikasikan terdapat adanya praktik perdagangan ilegal elang dan burung hantu di pasar Peksi Bacingah Purwokerto. Praktik perdagangan ilegal elang dan burung hantu merupakan salah satu bentuk kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar karena melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan informan penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pola komunikasi perdagangan elang dan burung hantu di pasar burung Peksi Bacingah Purwokerto dilakukan secara langsung, yaitu penjual bertatap muka dengan pembeli. Pesan verbal yang digunakan oleh penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli elang dan burung hantu di pasar burung Peksi Bacingah Purwokerto diawali dengan obrolan sehari-hari dan beberapa istilah yang khas dengan menggunakan dialek Banyumasan, misalnya “dogjali” dan “kokok beluk”. Selain itu, penjual dan pembeli juga menggunakan pesan-pesan non-verbal, diantaranya adalah gaya dan penampilan pembeli sasaran, menepuk pundak dan berjabatan tangan.
Illegal wildlife trade including eagle and owls is an interesting phenomenon and an issue that is being hotly discussed by the public. Based on data from Burung Nusantara agency, there is 1,700 bird species are recorded in Indonesia, where 386 species of them is legally protected because it has the important ecological roles and included a critically endangered species, but it is regrettable that the bird species is often traded illegally (Wihardandi, 2013. The exotic animals are traded illegally by collectors or receivers, so it is difficult to detect and track down. However, there are bird traders who trade eagle and owls in local bird market as happened in Peksi Bacingah bird market in Purwokerto. The aims of this study are to find out the communication patterns in the illegal bird trade of eagle and owl, and so to find out the verbal and non-verbal communication shapes which are used by seller and buyer in process of illegal bird trade of eagle and owl at Peksi Bacingah bird market in Purwokerto.
The method of this study is qualitative descriptive research method by indepth interview, observation and documentation with sampling technique uses purposive sampling. Based on the sampling technique, it can be determined the number of informant in this research are 4 people, consist of 2 buyers and 2 sellers in the illegal bird trade of eagle and owl at Peksi Bacingah Market in Purwokerto.
Refers to the results of observation and documentation, it known that there are 30 active stalls and it is indicated there is an illegal bird trade practices of eagle and owl at Peksi Bacingah Market in Purwokerto. Trade practices of eagle and owl is one of wildlife crime, because it violates the laws, rules or regulations applicable, namely Indonesian Regulation Number 5 Year 1990 about Conservation on Natural Resouces and Ecosystems, Indonesian Law Number 41 Year 1999 concerning Forestry, Government Regulation Number 7 Year 1999 concerning Preservation of Plants and Animals Species and so Government Regulation Number 8 of 1999 on the Use of Wild Animals and Plants.
Based on the results of indepth interview, it can be concluded that communication patterns of illegal bird trade of eagle and owl at Peksi Bacingah Market in Purwokerto is done directly by face to face between seller and buyer. Verbal messages are used by seller and buyer in sale and purchase transaction of eagle and owl bird at Peksi Bacingah Market in Purwokerto starting with daily conversation using Banyumasan dialect, they also use some typical terms, for example “dogjali” and “kokok beluk”. Additionally, seller and buyer also use non-verbal messages in sale and purchase transaction of eagle and owl bird, for example style and appearance of target buyer, pat on the shoulder and shake hands.
78568636P2EA12047EFEKTIFITAS PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP TERHADAP PABRIK RAMBUT PALSU DAN BULU MATA PALSU DI KABUPATEN PURBALINGGA
Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu kabupaten yang terletak di wilayah barat Provinsi Jawa Tengah. Dalam 10 tahun belakangan Kabupaten Purbalingga mengalami perkembangan dibidang industri. Industri di Purbalingga di dominasi oleh Pabrik rambut dan bulu mata yang dalam proses produksi menggunakan bahan kimia yang menghasilkan limbah B3. Seiring perjalanannya waktu mulai timbul permasalahan-permasalahan dengan lingkungan. Hal ini dikarenakan limbah dari industri tadi di buang ke media lingkungan dan lokasi industri yang berdampingan dengan pemukiman penduduk. Sehingga dampak dari limbah tersebut sekarang mulai dirasakan oleh penduduk sekitar. Hampir sebagian besar pabrik yang menghasilkan limbah di Kabupaten Purbalingga tidak mempunyai Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Beberapa teguran dari BLH pun mengenai hal tersebut seakan tidak di indahkan. Dan pencemaran terus berlanjut hingga saat sekarang ini. Masyarakat sudah melaporkan kejadian ini pada penegak hukum, akan tetapi sampai saat sekarang ini belum ada tindakan dan sanksi yang tegas dari aparat. Lemahnya fungsi pengawasan , perizinan hingga kinerja aparat penegak hukum mengakibatkan penegakan hukum terhadap tindak pidana lingkungan hidup ini dirasakan tidak efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab Penegakan Hukum Tindak Pidana Lingkungan Hidup Terhadap Pabrik Rambut palsu dan Bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga tidak efektif dilaksanakan, kemudian mencari cara untuk mengatasi ketidak efektifan dalam Penegakan Hukum Tindak Pidana Lingkungan Hidup Terhadap Pabrik Rambut palsu dan Bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga.
Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis. Penelitian yuridis sosiologis adalah Penelitian Hukum yang mempergunakan sumber data primer. Kemudian dari data tersebut dideskripsikan kedalam tulisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta yang ditemukan. Sebagai data awal dilakukan analisa terhadap peraturan-peraturan perundang-undangan yang mengatur terhadap permasalahan mengenai AMDAL, UKL/UPL serta perizinan sebuah perusahaan serta upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana lingkungan di Kabupaten Purbalingga. Dengan pendekatan ini utamanya yang di pelajari dan di teliti adalah mengenai hukum dalam pelaksanaan (Law In Action) Ditinjau dari segi pendekatan objek yang diteliti, maka penelitian ini menggunakan studi kasus.
1. Hasil penelitian menunjukan bahwa penegakan hukum tindak pidana lingkungan hidup di kabupaten purbalingga tidak efektif dikarenakan :
a. Faktor hukum, hukum lingkungan yang berada pada 3 silang ilmu hukum Perdata, Administrasi dan pidana menjadikan kesulitan dalam proses penegakan hukum dan penerapan sanksi mana yang dipergunakan terlebih dahulu, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam penerapan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan apakah dapat diterapkan secara bersamaan ataukah berdiri sendiri-sendiri.
b. Faktor penegak hukum, dalam pelaksanaan penegakan hukum lingkungan ada beberapa kendala yang mengakibatkan penegak hukum tidak efektif dalam menerapkan UUPPLH diantaranya ; (1) Belum menguasai dengan baik materi hukum yang terkandung didalam UUPLH sehingga sulit dalam mengaplikasikannya. (2) Belum adanya PPNS tindak pidana lingkungan hidup di Kabupaten Purbalingga (3) Tidak adanya kesepahaman dan kerja sama antar lembaga penegak hukum lingkungan dalam memproses tindak pidana lingkungan yang terjadi. (4) Kinerja Aparat Penegak Hukum dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam proses : (a) Administrasi pengawasan kepatuhan terhadap peraturan lingkungan, (b) Langkah-langkah administratif, (c) Investigasi kriminal yang tidak maksimal dilaksanakan.
c. Faktor masyarakat, ketidak pahaman masyarakat tentang bahaya dari pencemaran bagi lingkungan. Tidak mengetahui atau tidak menyadari, apabila hak-hak mereka dilanggar atau terganggu, Tidak mengetahui akan adanya upaya-upaya hukum untuk melindungi kepentingan-kepentingannya, Tidak berdaya untuk memanfaatkan upaya-upaya hukum karena tidak paham akan hukum, Tidak mempunyai pengalaman menjadi anggota organisasi yang memperjuangkan kepentingan-kepentingannya.
d. Faktor Pelaku Usaha, kurangnya kesadaran hukum dari pelaku usaha yang menjalankan industri di Kaupaten purbalingga.
e. Simbiosis mutualisme perusahaan dengan masyarakat, sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan dari pekerjaan sebagai karyawan pabrik.
2. Cara agar Penegakan Hukum Tindak Pidana Lingkungan Hidup Terhadap Pabrik Rambut palsu dan Bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga dapat berjalan efektif :
a. Faktor hukum, kesulitan dalam penerapan hukum perdata, administrasi, atau pidana dapat dibuat sebuah peraturan pelaksana sebagai sebuah peraturan untuk menyamakan persepsi dan sinergitas yang berisikan standar prosedur tindakan para penegak hukum terhadap pelanggaran atau tindak pidana lingkungan untuk pedoman antar lembaga penegak hukum agar tidak terjadi tumpang-tindih penanganan kasus.
b. Faktor penegak hukum, (1) Meningkatkan kemampuan dan kinerja aparat penegak hukum dengan serangkaian penyuluhan dan pelatihan mengenai UUPPLH dalam penerapannya, (2) Menjalin kerjasama antar lembaga penegak hukum dalam proses penegakan hukum lingkungan (3) memaksimalkan pengawasan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam proses : (a) Administrasi pengawasan kepatuhan terhadap peraturan lingkungan dengan cara Memaksimalkan dalam hal pendataan pabrik dan menambah petugas pengawas, Tidak mengeluarkan izin lingkungan bagi pabrik yang tidak memenuhi syarat-syarat izin lingkungan. (b) penjatuhan sanksi yang tegas berupa pencabutan izin / penutupan tempat usaha dari pemerintah setempat terhadap industri yang melanggar aturan. (c) Investigasi kriminal dalam kasus tindak pidana lingkungan para penegak hukum harus bekerja sama dengan ahli lingkungan agar pembuktian pidana dapat maksimal.
c. Faktor masyarakat, Peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya pengawasan dan pengelolaan lingkungan yang sehat dengan Pembentukan suatu forum komunikasi, yang berisikan penyuluhan hukum oleh ahli lingkungan.
d. Faktor Pelaku Usaha, meningkatkan kesadaran hukum dari pelaku usaha yang menjalankan industri di Kaupaten purbalingga melalui pemberian rewards and punishment terhadap usahanya dalam peran serta pengelolaan lingkungan.
Purbalingga district is one of the counties located in the western part of Central Java province . In the past 10 years Purbalingga experience in industrial development . The industry is dominated by factory Purbalingga wigs and eyelashes are in the production process uses chemicals that produce dangerous and poisonous waste . it began when problems arouse in the environment . This because of the industrial waste was disposed into the environment and industrial sites and some of them are close to residential areas, so that the impact of such waste is now being felt by people around . Most of the factories that produce the waste don’t have Installation of Wastewater Management. Those factories have always ignored the warning letter sent by the Environmental control bureau. And the pollution continues up to this present moment. Society has reported this to the authority, but until now there has been no action and sanctions. the weak of controling function, license, and the performance of law enforcement officers has resulted in the law enforcement against environmental crime to be ineffective.
This study aims to determine the cause of Law Enforcement Against Environmental Crime Factory wig and false eyelashes Purbalingga not effectively implemented, then find ways to over come it.
The method of approach used in this study is socio-juridical. Juridical sociological research is a deductive study. It begins by analysing of secondary data. Then the data gathatered is described sistematicly, factualy and accurately. At the beginning we analyze the data about the regulation related to the environment, the process of a company's licensing and law enforcement efforts against environment crime acts in Purbalingga. This approach is primarily meant to study about the implementation of law ( Law In Action ). Based on the approach, this research applies a case study.
1. The results showed that law enforcement environmental crime in the district purbalingga are ineffective because :
a. The legal factors - environmental laws that are on the 3 cross science Civil Law , Administrative and Criminal have made its own difficulties in its application. It becomes a problem which one must be implemented first.
b. Law enforcement factors :(1) The officers in charge don’t comprehend the law and regulation of the environmental law so that they have some handicaps in the application (2) The absences of coordination and mutual understanding among the law enforcement official. (3) The performance of the law enforcement official in the process of – the controling of the implementation of the environmental regulation – step of administration procedures - criminal investigation in environmental cases are not implemented maximaly.
c. Community factors – the lack of understanding about the dangers of pollution in the environment, their right, law protection of their right, the absences of experiences being the member of environmental organization.
d. The businessman factor - The lack of legal awareness of the businesses actors conducting industry in Kaupaten purbalingga.
e. Symbiotic mutualism with public companies, most people rely on work life as a factory worker
2. The way for Law Enforcement Against Environmental Crime Factory wig and false eyelashes Purbalingga can be effective
a The law factor , the local goverment should prepare the local regulation to harmonize and synergize the standard procedures to avoid overlapping in handling the cases .
b The law enforcement Factors : (1) Improving the capacity and performance of law enforcement officers with a series of education and training in environmental monitoring and management of the administrative supervision of compliance with environmental regulations, (2) to create coordination of law enforcement officers in the process of environtmental law enforcement (3) maximalzing controlling and supervising in the managing the environtment in the way of – maximalizing the recording of the factories and increase the number and upgrade the officials - the local goverment shuoldn’t release the license to the new factories which don’t fulfill the regulation. – banning the factories with don’t obey the regulation – criminal investigating in the case of environtmental crime, the law enforcement official must coordinate with the environtmental expert to prove the crimes
c The public Factor – the society should be educated about their right and responsibilty about the environtment thrught the communication forum.
D Increasing the legal awareness of the bussinesman and giving rewards and punishment concerning to their role in environmental management .
785713606D1E010020ANALISIS FUNGSI PRODUKSI PADA USAHA PETERNAKAN ITIK PETELUR DI KECAMATAN KESUGIHAN KABUPATEN CILACAPPenelitian yang berjudul analisis fungsi produksi pada usaha peternakan itik petelur di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, ini dilaksanakan mulai tanggal 14 Mei 2015 sampai 14 Juli 2015. Penelitian ini bertujuan untuk 1. mengetahui perbedaan hasil produksi telur itik antara yang menggunakan pola sistem pemeliharaan intensif dengan yang menggunakan system semi intensif di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, dan 2. mengetahui pengaruh faktor produksi (jumlah pakan, obat–obatan dan vitamin, umur ternak dan curahan jam kerja) terhadap produksi telur pada sistem pemeliharaan intensif dan semi intensif di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan sasaran peternakan itik petelur di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Penetapan sampel wilayah menggunakan metode Stratified Random Sampling yaitu dengan memilih 3 desa yang memiliki populasi banyak, sedang dan sedikit ( populasi ). Desa yang terpilih adalah Desa Slarang, Kuripan dan Desa Jangrana. Hasil produksi telur itik di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap pada sistem pola pemeliharan intensif dan semi intensif tidak jauh berbeda dengan hasil produksi di bawah 5.000 butir/bulan. Hasil analisis regresi diperoleh persamaan Log Y = Log 6,7741 + 0,6260 Log X1 – 0,2082 Log X2 – 0,05231 Log X3 – 0,1803 Log X4 + 0,0426 (D). Faktor yang mempengaruhi produksi telur itik adalah jumlah pakan, dan umur ternak.This study, entitled production function analysis in egg-laying ducks farming business in sub-district Kesugihan, Cilacap, had been conducted from May 14 until July 14, 2015. It aimed (1.) to compare the egg production in farms using an intensive system to that using a semi-intensive system the district, and (2.) to determine the influence of the production factors (amount of feed, drugs and vitamins, the ducks’ ages and the working hours) on the egg production using the both systems. Conducted by using a survey method, this research was targeted at some egg-laying duck farms in the sub-district. The sample areas were determined by using the stratified random sampling method by which three villages with, respectively, the highest, medium and the lowest number of population were chosen; they were Slarang, Kuripan, and Jangrana villages. The research resulted that the egg production iusing both the intensive and the semi-intensive nurturing systems was not much different from the production that was below 5000 eggs/ month. Based on the regression analysis, it was obtained an equation Log Y=Log 6,7741 + 0,6260 Log X1 – 0,2082 Log X2 – 0,05231 Log X3 – 0,1803 Log X4 + 0,0426 (D). Meanwhile, the factors affecting the egg production were the amount of feed and the age of ducks.
78588637H1A010032PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI MEMBRAN KOMPOSIT SELULOSA ASETAT DARI NATA DE SOYA-POLISTIRENA (PS)-POLIETILENAGLIKOL(PEG) DENGAN VARIASI KONSENTRASI PERENDAMABSTRAK
Membran selulosa asetat merupakan membran yang bisa diperoleh dari nata de soya berbahan dasar limbah air tahu yang dibuat melalui proses asetilasi. Membran selulosa asetat memiliki bahan yang rapuh dan struktur pori-pori yang tidak seragam sehingga menurunkan kualitas dan kinerja membran. Penambahan polistirena (PS) pada selulosa asetat (SA) digunakan untuk memperbaiki sifat mekanik membran dan polietilenaglikol (PEG) untuk menyeragamkan pori-pori membran. Kualitas dan kinerja membran juga ditentukan oleh hidrofilisitas membran. Peningkatan hidrofilisitas membran komposit dilakukan dengan perendaman membran komposit SA-PS-PEG dalam larutan etanol untuk meningkatkan permeabilitas membran. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi konsentrasi etanol terhadap permeabilitas membran komposit. Karakterisasi membran komposit SA-PS-PEG telah dilakukan dengan menentukan permeabilitas (fluks) dan kekuatan tarik. Penentuan permeabilitas membran komposit SA-PS-PEG perendaman dalam etanol 50, 70 dan 90% menghasilkan nilai fluks masing-masing adalah 39,45; 113,65; 218,39 L/(m2.jam) dan nilai Modulus Young masing-masing adalah 0,157; 0,303 dan 0,734 MPa.

Kata kunci: Membran komposit SA-PS-PEG, Etanol, Permeabilitas, Modulus Young


ABSTRACT
Cellulose acetate membrane is a membrane that was obtained from nata de soya-based soya wash water that is made through a process of acetylation. Cellulose acetate membrane has a brittle material and structure of the porous are not uniform, thus degrading the performance of membrane. It can be modified by the addition of polystyrene (PS) to amending the mechanical properties and polyethylene glycol (PEG) to uniform membrane porous. Quality and performance of membrane is also determined by the hydrophilicity of membrane. A composite membrane SA-PS-PEG with immersion ethanol can increase the permeability of the membrane. This research aims to determine effect concentration variations on permeability composite membrane. Characteristic of composite membrane SA-PS-PEG was performed by permeability and tensile strength. Membrane permeability of SA-PS-PEG composite membrane with immersion in ethanol 50, 70, 90% were 39.45; 113.65 and 218.39 L/(m2.h) while the Modulus Young value were 0.157; 0.303 and 0.734 MPa.

Key word: SA-PS-PEG composite membrane, ethanol, permeability, Young Modulus
78599982A1L010112PENGARUH APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR “LEACHATE PLUS” DAN PENGURANGAN DOSIS PUPUK KIMIA BUATAN PADA HASIL WORTEL (Daucus carota L) DI DATARAN RENDAH
Wortel adalah tanaman yang dibudidayakan di dataran tinggi, namun akan dicoba untuk dibudidayakan di dataran rendah dengan mengaplikasikan Pupuk Organik Cair “Leachate Plus” dan pengurangan dosis pupuk kimia N, P, K buatan. Pupuk organik cair “Leachate Plus”, merupakan pupuk organik cair hasil biosorbsi limbah dari tempat pembuangan akhir yang sudah diperkaya dengan Phospat alam, sehingga kandungan unsur posfat meningkat. Pupuk kimia buatan dengan pengurangan dosis dimaksudkan untuk menambah hara bagi tanaman wortel karena dari pupuk organik cair belum terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendapatkan dosis Pupuk Organik Cair “Leachate Plus” yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil wortel di dataran rendah. (2) Mendapatkan pengurangan dosis pupuk N,P,K yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman wortel di dataran rendah. (3) Mengetahui interaksi antara dosis Pupuk Organik Cair “Leachate Plus” dengan pengurangan dosis pupuk N,P,K yang paling tepat untuk pertumbuhan dan produksi wortel di dataran rendah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah Dosis POC “Leachate Plus” dengan empat taraf yaitu : 0 cc/m2, 500 cc/m2, 750 cc/m2, 1000 cc/m2. Faktor kedua adalah pupuk N, P, K dengan tiga taraf yaitu 100%, 75%, dan 50%. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter umbi, volume umbi, panjang umbi, bobot umbi per tanaman, bobot umbi per petak efektif, dan bobot brangkasan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F, dan dilanjutkan dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) jika nyata. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan dosis pupuk organik cair yang dicoba berbeda sangat nyata terhadap tinggi tanaman, diameter umbi, volume umbi, panjang umbi, bobot umbi per tanaman, bobot umbi per petak efektif, dan bobot brangkasan. Perlakuan pemberian pupuk kimia tidak berbeda nyata terhadap semua variabel yang diamati, dan tidak terdapat interaksi antara dosis pupuk organik cair dan pemberian pupuk kimia.

Carrots are crops that are cultivated in the highlands, but will try to be cultivated in the lowlands area with applying a liquid organic fertilizer of “Leachate Plus” and chemical fertilizer dose reduction of N, P, K. Leachate Plus, is organic fertilizer liquid results from biosorpsi that are already enriched with natural Phospat, so the content of elements phospat mounting. Artificial chemical fertilizer with dose reduction is intended to supplement the nutrient for plant carrots because of liquid organic fertilizers have not been fulfilled. This research aimed to: 1) get the appropriate dose of liquid organic fertilizer “Leachate Plus” for growth and the yield of carrot in the lowland area. 2) to get the appropriate dose of N, P,K for growth and the yield of the carrot in the lowland area. 3) findout the interaction between the dose of liquid organic fertilizer “leachate plus” and dose reduction of N, P, K fertilizer for growth and the yield of the carrot lowland area. The design of experiment was Randomized Completely Block Design (RCBD) with 2 factor and 3 replications. The first factor was the dose of POC with four levels i.e. 0 cc / m2 , 500 cc / m2 , 750 cc / m2 , 1000 cc / m2 .The second factor was dose of N , P , K fertilizer with three levels i.e. 100 %, 75 %, 50 % of recommended dose. Variable observed were plant height, leaves number, diameter of carrot , volume , tuber length , tuber weight, and tuber weight per effective plot. Data were anallized by F test, and continued by duncan’s multiple range test (DMRT) if significant. The result showed the treatment dose of liquid organic fertilizer was applied differently to the high plants, diameter of carrot, volume, tuber length, tuber weight,and tuber weight per effective plot. Chemical fertilizer dosing treatment did not differ markedly about all the observed variable, and there is no interaction between the doses of liquid organic fertilizer and chemical fertilizer.
786011445A1H011048RANCANGBANGUN DESAIN KEMASAN/ RAK TELUR BIODEGRADABLE (LIMBAH KERTAS, PELEPAH PISANG, SEKAM PADI DAN DAUN NANAS)Kemasan/ rak telur biodegradable terbuat dari bahan baku kertas bekas, pelepah pisang, daun nanas dan sekam padi merupakan salah satu teknologi untuk meningkatkan nilai fungsional dan nilai finansial limbah. Kemasan ini dapat menjadi alternatif mengurangi penggunaan kemasan plastik (non degradable). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisik, sifat mekanik kemasan, tingkat biodegradable kemasan serta mengetahui kelayakan finansial kemasan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah perancangan fungsional dan perancangan struktural. Hasil dari sifat fisik meliputi gramatur tertinggi dari kemasan dengan bahan kertas bekas (940,16 g/m2), daya serap air yaitu kemasan dengan bahan merang (7,5 g/sec), dan densitas tertinggi yaitu kemasan dengan bahan kertas bekas (0,911 g/m3) . Sifat mekanik meliputi, kuat tarik kemasan dengan bahan baku kertas bekas, pelepah pisang, daun nanas dan sekam padi adalah 0,988 MPa, 5,2 MPa, 5,9 MPa, 0,0253 MPa, sedangkan nilai elastisitas yaitu 54,8 MPa, 169,8 MPa, 298,52 MPa, 0,84 MPa, ketahanan sobek 3533 MPa, 2,0475 MPa, 2,5578 MPa 0,0108 MPa, dan kuat tekan 3,3546 MPa, 1,5787 MPa, 2,23901 MPa, 2,8317 MPa. Kemasan bahan baku kertas bekas dan sekam padi terdegradasi sempurna pada hari ke-17, sedangkan kemasan bahan baku pelepah pisang, daun nanas terdegradasi sempurna pada hari ke-25. Analisis finansial kemasan bahan baku kertas bekas, usaha layak dijalankan (IRR=12,45%) , bahan baku pelepah pisang, daun nanas dan sekam padi yaitu usaha layak dijalankan (IRR=11,11%).Biodegradable egg rack /packaging made from waste paper, banana stem, pineapple leaves and rice husks are one of the technologies to improve the functional value and financial value of waste material. This packaging can be an alternative to reduce the use of plastic packaging (non-degradable). This study aims to determine the physical and mechanical properties of packaging, biodegradability packaging and financial analysis of packaging. The method used in this research is the functional design and structural design. Results of physical properties include the highest grammage of packaging with waste paper material (940.16 g/m2), highest thickness, water absorption (0,328 cm), (7.5 gr/sec) , and density are packaging made from waste paper (0,911 g/m3) . Mechanical properties are tensile strength of the packaging with waste paper, banana stem, pineapple leaf and rice husk material is 0.988 MPa, 5.2 MPa, 5.9 MPa, 0 , 0253 MPa, while the value of elasticity is 54.8 MPa, 169.8 MPa, 298.52 MPa, 0.84 MPa, tear resistance 3533 MPa, 2.0475 MPa, 2.5578 MPa, 0.0108 MPa, and compressive strength 3.3546 MPa, 1,5787 MPa, 2,23901 MPa, 2,83.7 MPa. Packaging made from waste paper and rice husks degraded perfect on day 17, meanwhile packaging made from banana stem, pineapple leaves degraded perfect on day 25. Financial analysis of packaging made from waste paper, a viable business (IRR = 12.45%), packaging made from banana stem , pineapple leaves and rice husks are a viable business (IRR = 11.11%).