Home
Login.
Artikelilmiahs
8040
Update
FUAD HASAN
NIM
Judul Artikel
STUDI KOMPARATIF FINANSIAL POLA TANAM MONOKULTUR DAN TUMPANGSARI USAHATANI DURIAN DI KECAMATAN KEMRANJEN KABUPATEN BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kecamatan Kemranjen merupakan daerah sentra penghasil buah durian di Kabupaten Banyumas. Pola tanam tanaman durian yang dikembangkan di Kecamatan Kemranjen yaitu monokultur, tumpangsari 1 dan tumpangsari 2. Keberagaman pola tanam membuat produktivitas durian belum optimal. Petani beranggapan durian sebagai salah satu hasil kebun, bukan sebagai tanaman utama. Pola tanam yang terbaik akan memberikan keragaman keuntungan yang dapat dikembangkan sebagai contoh. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui karakteristik petani durian berdasarkan pola tanam yang dibudidayakan (2) menganalisis perbedaan aspek finansial antara pola tanam monokultur dan tumpangsari pada usahatani durian. Penelitian ini dilakukan di Desa Pageralang, Alasmalang, dan Karangsalam di Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas dengan metode penelitian dilakukan dengan metode survey dengan rancangan pengambilan sampel yaitu judgement samping. Berdasarkan kriteria-kriteria sebagai sumber data : (1) Petani yang memiliki lebih dari ≥ 10 pohon durian (2) Petani yang mempunyai pengalaman usahatani durian ≥ 5 tahun, didapat 34 responden petani. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Metode analisis data menggunakan deskriptif, analisis biaya dan pendapatan usahatani, uji beda annova,analisis kelayakan investasi dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) karakteristik petani durian dalam kelompok pertama menganggap tanaman durian sebagai tanaman investasi memiliki rata-rata jumlah pohon sebanyak 220 pohon, kelompok kedua melihat durian belum menjadi tanaman utama dikarenakan masih beragamnya tanaman yang dibudidayakan dengan rata-rata jumlah pohon yang dimiliki sebanyak 91 pohon, pendapatan diluar usahatani durian sebesar Rp148.286.666,70;. Kelompok ketiga melihat durian sebagai hasil kebun, rata-rata jumlah pohon yang dimiliki sebanyak 27 pohon dengan pendapatan diluar usahatani durian sebesar Rp116.206.669,00; kelompok kedua dan ketiga menggunakan pendapatan diluar usahatani durian bilamana tanaman durian tidak dalam musim panen (2) Usahatani durian dalam kelompok pertama layak secara finansial dengan nilai NPV sebesar Rp1.248.217.762,00; pada kelompok kedua nilai NPV sebesar Rp452.105.786,90; kelompok ketiga dengan nilai NPV sebesar Rp97.604.283,48; (3) Usahatani durian sensitif terhadap penurunan harga jual dan penurunan hasil produksi sebesar 25 dan 50 persen, tidak sensitif dengan kenaikan biaya pupuk sebesar 25 dan 50 persen.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Kemranjen district is an area durian fruit production centers in Banyumas. Durian crop The cropping patterns developed in the District Kemranjen are monoculture, intercropping 1 and intercropping 2. Diverse cropping pattern made of durian production is not optimal. Farmers think durian as one of the gardens , not as the main crop . The best cropping pattern will provide diversity gains which is developed as model. Therefore, the purpose of this research is (1) knowing the characteristics of durian farmers who cultivated by planting patterns (2) analyze the financial aspects of the differences between monoculture and intercropping in durian farm. The method of research was conducted using a survey with a sampling design that judgment aside. Based on the criteria as a source of data : (1) Farmers who have more than ≥ 10 durian trees (2) Farmers who have experience of durian farming ≥ 5 years , gained 34 respondent farmers. This study was conducted by survey in three villages are Pageralang, Alasmalang, and Karangsalam, Kemranjen district, Banyumas regency. The technique of collecting data through observation, interviews, and literature. Methods of data analysis using descriptive, analytical costs and farm income, different test Annova, investment feasibility analysis and sensitivity analysis. The results showed that (1) the characteristics of the first group of farmers in regard durian durian as plant investments had an average number of trees as much as 220 tress, the second group saw durian durian has not become a major crop due to the diversity of plants that still cultivated with the average number of trees have 91 trees, durian farm outside income of Rp148.286.666,70; The third group saw durian as a result from garden with the average number of trees have 27 trees, durian farm outside income of Rp116.206. 669,00; The second and third groups using outside revenue when farming durian is not in the harvest season (2) durian farm in the first group is financially feasible with NPV of Rp1,248,217,762 and the second group NPV of Rp452.105.786.90; The third group with a NPV of Rp97.604.283,48; Durian farming is sensitive to a decrease in selling prices and decreased production by 25 and 50 percent, are not sensitive to the increase in the cost of fertilizer by 25 and 50 percent.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save