Home
Login.
Artikelilmiahs
55472
Update
SETYO GUNAWAN
NIM
Judul Artikel
Keterkaitan Variabilitas Suhu Permukaan Laut, Angin, dan Kelembapan dengan Curah Hujan Kemarau Basah di Perairan Barat Sumatra
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Fenomena kemarau basah merupakan kondisi ketika curah hujan berada di atas normal klimatologis pada periode yang seharusnya musim kemarau. Perairan barat Sumatra dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi laut dan dinamika atmosfer. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola variabilitas spasio-temporal curah hujan, suhu permukaan laut (SPL), angin, dan kelembapan serta keterkaitannya dengan curah hujan pada periode kemarau basah di perairan barat Sumatra tahun 1996–2025. Penelitian menggunakan data bulanan ERA5 Reanalysis v5 dengan resolusi spasial 0,25° × 0,25°, meliputi curah hujan, SPL, angin pada level 850 hPa, dan kelembapan relatif pada level 850 hPa. Identifikasi kemarau basah dilakukan berdasarkan kriteria sifat hujan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, yaitu curah hujan kategori atas normal (>115% klimatologi) pada Juni–Juli–Agustus (JJA). Analisis variabilitas dilakukan menggunakan anomali dan Empirical Orthogonal Function (EOF), sedangkan keterkaitan antarvariabel dianalisis menggunakan korelasi spasial Spearman pada setiap grid berdasarkan nilai anomali masing-masing variabel pada tahun-tahun yang mengalami kemarau basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemarau basah terjadi pada tahun 1996, 1998, 2010, 2021, dan 2022. Variabilitas curah hujan, SPL, dan kelembapan lebih kuat di bagian selatan, sedangkan angin menunjukkan pola dipol antara wilayah utara dan selatan. Pada tahun kemarau basah, kelembapan menunjukkan korelasi positif paling kuat dengan curah hujan (0,51–0,89). SPL berkorelasi negatif sedang di perairan barat Sumatra (−0,52–−0,59), sedangkan hubungan angin dengan curah hujan di wilayah perairan umumnya lemah atau tidak signifikan. Hasil menunjukkan bahwa kondisi atmosfer lembap merupakan variabel yang menunjukkan keterkaitan paling konsisten.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Wet dry season refers to a condition in which rainfall exceeds its climatological normal during what is typically the dry season. The waters west of Sumatra are shaped by interactions between oceanic conditions and atmospheric dynamics. This study analyzes the spatio-temporal variability of rainfall, sea surface temperature (SST), wind, and humidity, and their relationships with rainfall during wet dry seasons in the waters west of Sumatra from 1996 to 2025. Monthly ERA5 reanalysis v5 data at 0.25° × 0.25° resolution were used, covering rainfall, SST, 850 hPa wind, and 850 hPa relative humidity. Wet dry seasons were identified using the rainfall classification of the Indonesian Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics, defined as above-normal rainfall (>115% of climatology) in June–July–August (JJA). Variability was examined through anomalies and Empirical Orthogonal Function analysis, while relationships among variables were assessed using grid-based Spearman spatial correlation applied to the anomaly values of each variable during wet dry years. Wet dry seasons were found in 1996, 1998, 2010, 2021, and 2022. Rainfall, SST, and humidity varied more strongly in the southern area, whereas wind exhibited a dipole pattern between the northern and southern regions. During wet dry years, humidity showed the strongest positive correlation with rainfall (0,51–0,89). SST displayed a moderate negative correlation with rainfall in the waters west of Sumatra (−0,59 to −0,52), while the relationship between wind and rainfall was generally weak or not significant. Overall, humid atmospheric conditions emerged as the variable with the most consistent relationship with rainfall.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save