Artikel Ilmiah : E1A022022 a.n. MUHAMMAD NAUFAL HABIB FALAH
| NIM | E1A022022 |
|---|---|
| Namamhs | MUHAMMAD NAUFAL HABIB FALAH |
| Judul Artikel | Analisis Yuridis Mekanisme Konsinyasi dalam Sengketa Tumpang Tindih Alas Hak pada Pengadaan Tanah Proyek Jalan Tol Semarang-Demak |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak menghadapi persoalan tumpang tindih alas hak antara Letter C dengan Sertifikat Hak Milik, sehingga Panitia Pengadaan Tanah (P2T) menempuh mekanisme konsinyasi ke Pengadilan Negeri Semarang sebagai jalan keluar administratif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi sengketa tumpang tindih alas hak tersebut terhadap proses administrasi pengadaan tanah, serta mengkaji keabsahan tindakan administratif berupa konsinyasi yang dilakukan P2T berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Semarang Nomor 43/Pdt.G/2024/PN Smg. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus, yang dianalisis secara deduktif dengan menggunakan teori kepastian hukum dan teori pengadaan tanah bagi kepentingan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P2T bersifat ad hoc dan tidak memiliki kewenangan yudisial untuk memutus sengketa kepemilikan, sehingga sengketa tumpang tindih alas hak mengakibatkan terhambatnya proses administrasi pengadaan tanah dan penyelesaiannya ditempuh melalui konsinyasi. Keabsahan tindakan konsinyasi sah secara materiil menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 jo Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2016, namun secara prosedural masih dipertanyakan karena tidak terpenuhinya syarat berita acara musyawarah penetapan ganti kerugian, bertentangan dengan asas kecermatan dan tidak memenuhi prinsip kehati-hatian. Penelitian ini menegaskan perlunya penyempurnaan pengaturan mengenai konsinyasi agar mampu memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan terhadap hak para pihak dalam pengadaan tanah. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The land acquisition process for the Semarang–Demak Toll Road Project encountered overlapping land title disputes between Letter C documents and Freehold Title Certificates (SHM), prompting the Land Acquisition Committee (P2T) to implement a consignment mechanism through the Semarang District Court as an administrative solution. This study aims to analyze the implications of overlapping land title disputes on the administrative process of land acquisition and to examine the legality of the administrative action in the form of consignment carried out by the P2T based on the Decision of the Semarang District Court Number 43/Pdt.G/2024/PN Smg. This research employs a normative legal research method using statutory, conceptual, and case approaches. The collected legal materials are analyzed deductively based on the theory of legal certainty and the theory of land acquisition for public interest. The findings indicate that the P2T is an ad hoc body without judicial authority to adjudicate ownership disputes. Consequently, overlapping land title disputes impede the administrative process of land acquisition, and their resolution is pursued through the consignment mechanism. Substantively, the consignment action is legally valid under Law Number 2 of 2012 in conjunction with Supreme Court Regulation Number 3 of 2016. However, procedurally, its validity remains questionable due to the absence of the required official report of the compensation deliberation, rendering it inconsistent with the principles of accuracy and prudence in administrative law. This study emphasizes the necessity of improving the legal framework governing consignment to ensure legal certainty while providing adequate protection for the rights of all parties involved in land acquisition for public purposes. |
| Kata kunci | Konsinyasi, Pengadaan Tanah, Sengketa Tumpang Tindih |
| Pembimbing 1 | Dr. Sri Wahyu Handayani, S.H., M.H. |
| Pembimbing 2 | Dr. Siti Kunarti, S.H., M.Hum. |
| Pembimbing 3 | Sri Hartini, S.H., M.H. |
| Tahun | 2026 |
| Jumlah Halaman | 14 |
| Tgl. Entri | 2026-08-21 16:56:24.836778 |