Artikel Ilmiah : B1A022016 a.n. URFAZA ATSTSAQAFI

Kembali Update Delete

NIMB1A022016
NamamhsURFAZA ATSTSAQAFI
Judul ArtikelInduksi dan Multiplikasi Kalus Malapari (Pongamia pinnata L.) secara In Vitro dengan Pemberian Konsentrasi 2,4-D dan BAP Berbeda
Abstrak (Bhs. Indonesia)Malapari (Pongamia pinnata L.) merupakan salah satu tanaman potensial sebagai bahan baku biodiesel yang menjanjikan karena menghasilkan minyak biji dengan kadar tinggi dan berkualitas serta mampu tumbuh di lahan marginal. Namun, perbanyakannya masih menghadapi kendala karena benih bersifat rekalsitran dan daya perkecambahan yang rendah. Perbanyakan vegetatif melalui stek dan cangkok kurang efisien karena memerlukan waktu lama, tingkat keberhasilan tidak konsisten, perakaran kurang optimal, dan ketersediaan bahan tanam terbatas. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan teknik kultur in vitro melalui induksi dan multiplikasi kalus. Keberhasilan pembentukan kalus dalam kultur in vitro dipengaruhi oleh jenis eksplan dan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT). Daun muda dipilih sebagai eksplan karena memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi serta menyediakan bahan eksplan dalam jumlah banyak. ZPT berupa auksin 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) dan sitokinin 6-Benzylaminopurine (BAP) berperan dalam merangsang pembelahan dan proliferasi sel selama pembentukan kalus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh interaksi antara 2,4-D dan BAP terhadap induksi dan multiplikasi kalus malapari secara in vitro serta menentukan konsentrasi 2,4-D dan BAP terbaik untuk induksi dan multiplikasi kalus malapari secara in vitro.
Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola perlakuan faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi 2,4-D dengan 4 taraf, yaitu 0, 5, 10, dan 15 µM. Faktor kedua adalah konsentrasi BAP dengan 4 taraf, yaitu 0, 2, 4, dan 6 µM. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% dan 1%, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dan uji regresi pada taraf signifikansi 5% .
Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara 2,4-D dan BAP berpengaruh terhadap ukuran kalus pada tahap induksi dan multiplikasi malapari secara in vitro, tetapi tidak berpengaruh terhadap persentase pembentukan dan pertambahan ukuran kalus. Kombinasi 2,4-D 15 µM dan BAP 4 µM merupakan kombinasi terbaik dalam penelitian ini untuk induksi dan multiplikasi kalus malapari, dengan mempertimbangkan respons pertumbuhan kalus dan persentase kalus embriogenik tertinggi sebesar 33,3%.
Abtrak (Bhs. Inggris)Malapari (Pongamia pinnata L.) is a promising plant species for biodiesel production due to its high seed oil content and oil quality, as well as its ability to grow on marginal land. However, its propagation remains challenging because of its recalcitrant seeds and low germination rate. Conventional vegetative propagation through cuttings and air layering is relatively inefficient due to the lengthy propagation process, inconsistent success rates, suboptimal rooting, and limited availability of planting material. One potential approach to overcoming these constraints is in vitro culture through callus induction and multiplication. The success of callus formation under in vitro conditions is influenced by explant type and the application of plant growth regulators (PGRs). Young leaves were selected as explants because of their high regenerative capacity and their potential to provide abundant explant material. The auxin 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) and the cytokinin 6-benzylaminopurine (BAP) play important roles in stimulating cell division and proliferation during callus formation. This study aimed to evaluate the interaction between 2,4-D and BAP concentrations on in vitro callus induction and multiplication of P. pinnata and to determine the optimum concentrations of 2,4-D and BAP for these processes.
The experiment was conducted using a completely randomised design (CRD) with a two-factor factorial arrangement. The first factor was 2,4-D concentration at four levels (0, 5, 10, and 15 µM), while the second factor was BAP concentration at four levels (0, 2, 4, and 6 µM). Each treatment combination was replicated three times, resulting in a total of 48 experimental units. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) and regression analysis at the 5% significance level.
The results demonstrated that the interaction between 2,4-D and BAP significantly affected callus size during both the induction and multiplication stages but had no significant effect on the percentage of callus formation or the increase in callus size. The combination of 15 µM 2,4-D and 4 µM BAP was identified as the optimum treatment for in vitro callus induction and multiplication of P. pinnata under the conditions of this study, based on overall callus growth responses and the highest percentage of embryogenic callus formation (33.3%).
Kata kunciKata kunci: 2,4-D, BAP, induksi kalus, multiplikasi kalus, Pongamia pinnata.
Pembimbing 1Sugiyono, Ph.D.
Pembimbing 2Riska Desi Aryani, S.Si., M.Sc.
Pembimbing 3
Tahun2026
Jumlah Halaman55
Tgl. Entri2026-08-10 16:23:23.114285
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.