Home
Login.
Artikelilmiahs
51941
Update
ALFHY FEBRI GALLINGGA
NIM
Judul Artikel
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN VO2MAX PADA SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA (SSB) KALKER KECAMATAN BUMIAYU
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang: Sepak bola merupakan olahraga yang menuntut kapasitas kebugaran kardiorespirasi tinggi, terutama pada fase pembinaan usia muda. Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai indikator status gizi diduga memiliki hubungan dengan Volume Oksigen Maksimal (VO₂max) yang merupakan parameter utama kebugaran aerobik. Penelitian mengenai hubungan kedua variabel pada siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) tingkat lokal di wilayah non-metropolitan masih terbatas. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada 49 siswa laki-laki SSB Kalker rentang usia 9–16 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran IMT dilakukan menggunakan timbangan digital dan stadiometer, kemudian dihitung menggunakan WHO AnthroPlus. Pengukuran VO₂max dilakukan menggunakan Multistage Fitness Test (MFT). Analisis data diawali dengan uji normalitas Shapiro-Wilk untuk menentukan distribusi data. Hasil uji normalitas menunjukkan data IMT tidak berdistribusi normal (p < 0,05) sementara data VO₂max berdistribusi normal (p > 0,05), sehingga analisis korelasi menggunakan uji non-parametrik Rank Spearman dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil Penelitian: Distribusi status gizi berdasarkan IMT menunjukkan 26 responden (53,06%) kategori gizi normal, 19 responden (38,78%) gizi buruk, 3 responden (6,12%) gizi kurang, dan 1 responden (2,04%) obesitas. Tingkat VO₂max menunjukkan 25 responden (51,02%) kategori sedang, 18 responden (36,73%) kategori kurang, dan 6 responden (12,25%) kategori baik. Uji korelasi Rank Spearman menunjukkan hubungan negatif signifikan antara IMT dengan VO₂max (r = -0,358; p = 0,011 < 0,05) dengan kekuatan hubungan kategori sedang. Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara IMT dengan VO₂max pada siswa SSB Kalker Kecamatan Bumiayu. Peningkatan IMT cenderung diikuti oleh penurunan nilai VO₂max. Pemantauan status gizi dan program latihan kardiorespirasi yang terstruktur perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan kebugaran aerobik siswa SSB.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background: Football demands high cardiorespiratory fitness capacity, particularly during youth development phases. Body Mass Index (BMI) as a nutritional status indicator is hypothesized to have a relationship with Maximum Oxygen Volume (VO₂max). Research on the relationship between these variables in local Football School students in non-metropolitan areas remains limited. Objective: To determine BMI distribution, VO₂max levels, and the relationship between BMI and VO₂max in SSB Kalker Bumiayu District students. Methods: Quantitative correlational study with cross-sectional approach involving 49 male students of SSB Kalker aged 9–16 years. BMI measurements used WHO AnthroPlus. VO₂max measurements used Multistage Fitness Test (MFT). Analysis used Spearman Rank test (α = 0.05). Results: Nutritional status showed 53.06% normal nutrition, 38.78% severely thin, 6.12% thin, and 2.04% obese. VO₂max levels indicated 51.02% moderate category, 36.73% poor, and 12.25% good. There was a significant negative relationship between BMI and VO₂max (r = -0.358; p = 0.011). Conclusion: An increase in BMI tends to be followed by a decrease in VO₂max values. Monitoring nutritional status and structured cardiorespiratory training programs need to be enhanced to optimize aerobic fitness of football school students.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save