| NIM | F1F021062 |
| Namamhs | SHOFI LUTHFIA HANIFAH |
| Judul Artikel | TRANSISI KEKUASAAN DI ASIA TENGAH PASCAKONFLIK NAGORNO KARABAKH (2020-2024) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Konflik Nagorno Karabakh kedua pada tahun 2020 menjadi salah satu momentum penting yang mengubah lanskap geopolitik di Asia Tengah. Kekalahan Armenia dan kemenangan Azerbaijan yang didukung oleh teknologi militer Turki melalui penggunaan drone Bayraktar TB2 semakin meningkatkan peran Turki sebagai aktor regional yang strategis bagi negara-negara Asia Tengah. Rusia yang selama ini memiliki berperan sebagai hegemon di kawasan ini mulai menunjukkan kelemahan dalam mempertahankan posisinya yang ditunjukkan dengan ketidakmampuan Rusia untuk memberikan bantuan kepada sekutunya yaitu Armenia dalam konflik Nagorno Karabakh yang menimbulkan kekecewaan dari pihak Armenia. Dalam situasi ini, Turki berupaya untuk meningkatkan perannya sebagai mitra strategis bagi negara-negara Asia Tengah melalui Organization of Turkic States (OTS) sebagai wadah integrasi politik, ekonomi dan budaya yang memperkuat pengaruh Turki di kawasan Asia Tengah. Di sisi lain, Cina melihat melemahnya pengaruh Rusia sebagai peluang strategis untuk meningkatkan keterlibatan di kawasan melalui jalur ekonomi, perdagangan, energi, dan infrastruktur. Melalui inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) serta penguatan kerja sama multilateral dalam kerangka Shanghai Cooperation Organization (SCO), Cina berhasil membangun citra sebagai mitra pembangunan yang strategis dibandingkan Rusia. Investasi besar dalam jaringan transportasi, pipa energi, dan proyek konektivitas lintas batas menjadikan negara-negara Asia Tengah semakin bergantung pada diplomasi ekonomi Cina. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The Second Nagorno-Karabakh conflict in 2020 became one of the crucial turning points that reshaped the geopolitical landscape of Central Asia. Armenia’s defeat and Azerbaijan’s victory, supported by Turkish military technology through the use of Bayraktar TB2 drones, significantly elevated Turkey’s role as a strategic regional actor for Central Asian states. Russia, which had long positioned itself as the hegemon in the region, began to show weaknesses in maintaining its dominant position, as reflected in its inability to provide assistance to its ally Armenia during the Nagorno-Karabakh conflict—an inaction that led to Armenia’s disappointment. In this context, Turkey sought to enhance its role as a strategic partner for Central Asian countries through the Organization of Turkic States (OTS), which serves as a platform for political, economic, and cultural integration, thereby strengthening Turkey’s influence across the region. Meanwhile, China viewed the weakening of Russia’s influence as a strategic opportunity to expand its engagement in the region through economic, trade, energy, and infrastructure channels. Through the Belt and Road Initiative (BRI) and deeper multilateral cooperation within the framework of the Shanghai Cooperation Organization (SCO), China has successfully built an image of itself as a more credible development partner compared to Russia. Large-scale investments in transportation networks, energy pipelines, and cross-border connectivity projects have made Central Asian states increasingly dependent on China’s economic diplomacy. |
| Kata kunci | Transisi Kekuasaan, Asia Tengah, Rusia, Cina, Turki |
| Pembimbing 1 | Arief Bakhtiar Darmawan, S.IP., M.A. |
| Pembimbing 2 | Fitri Adi Setyorini, S.IP., M.H.I. |
| Pembimbing 3 | Dr.Tundjung Linggarwati, M.Si |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 105 |
| Tgl. Entri | 2025-09-25 11:22:31.487467 |
|---|