Home
Login.
Artikelilmiahs
49343
Update
JUWITA AYUNIN AS.
NIM
Judul Artikel
Representasi Omoiyari dalam Film Belle: Ryuu To Sobakasu No Hime Karya Mamoru Hosoda
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan representasi nilai omoiyari dalam film Belle: Ryuu to Sobakasu no Hime karya Mamoru Hosoda. Di era digital, remaja menghadapi tantangan dalam membangun empati meski intens berinteraksi secara virtual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori representasi Fiske serta konsep budaya omoiyari menurut Lebra. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi terhadap adegan dan dialog dalam film, kemudian dianalisis berdasarkan enam bentuk omoiyari: memelihara konsensus, pengoptimalan kenyamanan lawan bicara, kerentanan perasaan, efek gema sosial, komunikasi intuitif, dan rasa bersalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 temuan, bentuk omoiyari yang paling dominan adalah kerentanan perasaan dan pengoptimalan kenyamanan lawan bicara. Kerentanan perasaan tercermin dalam empati Suzu terhadap trauma yang dialami Ryuu, yang direspons dengan kelembutan dan tanpa penilaian. Sementara itu, pengoptimalan kenyamanan tampak dalam usaha Suzu membangun komunikasi yang aman dan penuh pengertian di dunia nyata maupun virtual.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study aims to identify and describe the representation of omoiyari values in the film Belle: Ryuu to Sobakasu no Hime directed by Mamoru Hosoda. In the digital era, teenagers face challenges in developing empathy despite engaging in frequent virtual interactions. This research employs a descriptive qualitative approach using Fiske’s theory of representation and the cultural concept of omoiyari as defined by Lebra. Data were collected through observation and documentation of scenes and dialogues in the film, and then analyzed based on six forms of omoiyari: maintaining consensus, optimizing the comfort of the interlocutor, emotional vulnerability, social echo effect, intuitive communication, and sense of guilt. The findings show that among the 16 identified instances, the most dominant forms of omoiyari are emotional vulnerability and optimizing the comfort of the interlocutor. Emotional vulnerability is reflected in Suzu’s empathy toward Ryuu’s trauma, which she responds to with gentleness and without judgment. Meanwhile, the optimization of comfort is evident in Suzu’s efforts to build safe and understanding communication in both real and virtual spaces.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save