Artikelilmiahs

Menampilkan 4.561-4.580 dari 48.761 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
456114270B1J011158Prevalensi Tungau Parasit Larva Nyamuk Aedes sp. di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Kabupaten BanjarnegaraBanjarnegara merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang Incidence Rate kasus demam berdarah dengue (DBD) cenderung meningkat setiap tahunnya. Diduga peningkatan kasus DBD ini dikarenakan keberadaan perkebunan salak yang menjadi tempat peristarahatan dan tempat perindukan bagi nyamuk Aedes sp.. Kemampuan Aedes sp. sebagai vektor mampu menyebar hingga berbagai wilayah kecamatan di Banjarnegara. Diduga, penyebaran Aedes sp. juga meningkatkan peluang bagi tungau parasit untuk bertemu dan menginfeksi vektor tersebut. Meningkatnya peluang bertemu dan menginfeksi menyebabkan prevalensi tungau parasit pada Aedes sp. kemungkinan juga bertambah. Prevalensi atau peluang bagi tungau untuk menginfeksi nyamuk juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan prevalensi tungau parasit pada larva nyamuk Aedes sp. di daerah endemis DBD di Kabupaten Banjarnegara. Metode yang digunakan survei dengan teknik pengambilan sampel secara stratified random sampling. Lokasi ditentukan berdasarkan tingkat endemisitas demam berdarah tertinggi di Kabupaten Banjarnegara yaitu Kecamatan Banjarnegara dan Kecamatan Madukara, sedangkan jumlah sampel yang dibutuhkan sebagai sampel adalah 800 individu. Sampel tersebut diperoleh dari setiap strata. Parameter utama yang diamati adalah jumlah individu seluruh stadium larva yang terinfeksi tungau, sedangkan variabel pendukung yang diukur yaitu temperatur/suhu, DO, pH air dan curah hujan. Metode analisis menggunakan rumus prevalensi yaitu jumlah larva yang terparasit tungau dibagi jumlah larva yang diperiksa dikali 100%. Hasil penelitian diperoleh tiga individu tungau parasit dari 837 sampel larva nyamuk Aedes sp. yang teridentifikasi sebagai Famili Hydrachnidae, Pionidae dan Hydryphantidae. Nilai prevalensi tertinggi yaitu Kecamatan Banjarnegara 0,47% dan Kecamatan Madukara 0,28% dan prevalensi untuk Kabupaten Banjarnegara 0,35%.Banjarnegara is one of the districts in Central Java province with Incidence Rate of dengue hemorrhagic fever (DHF) tends to increase every year. Presumably, dengue cases increased because the zalacca plantations which became the rest area and breeding places for the Aedes sp. The ability of Aedes sp. as vectors it capable to spread to different areas of the districts in Banjarnegara. Allegedly, the spread of Aedes sp. also increases opportunities for parasitic mites to meet and infect the vectors. Increased opportunities to meet and infect cause the prevalence of parasitic mites on Aedes sp. also increased, probably. Prevalence or opportunities for mites to infect mosquitoes can also be influenced by environmental factors. The purpose of this study was to determine the prevalence of parasitic mites on the larvae of Aedes sp. in endemic areas of dengue in Banjarnegara district. The method used was survey sampling technique with stratified random sampling. The location was determined on the highest levels of endemicity of dengue fever in the District Banjarnegara, Banjarnegara subdistrict and Madukara subdistrict, while the samples required were 800 individuals. The sample was obtained from each stratum. The main variables measured were the number of larva infected by mites, while secondary variables of the measured variable is the temperature, DO, pH of water, and rainfall. Analysis carried out using the formula prevalence, which the number of infected larvae divided by the number of larvae were examined, and multiplied by 100%. The results shows three parasitic mite individuals obtained of 837 samples of larvae of Aedes sp, identified belong to Family of Hydrachnidae, Pionidae, and Hydryphantidae. The highest prevalence values were subdistrict of Banjarnegara 0.47% and subdistrict of Madukara 0.28%, and 0.35% in Banjarnegara district.
456213249D1E008112Perbandingan Kualitas Telur Itik (Anas Plathyrincos) dan Entog (Cairina Moschata) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas fisik telur itik Magelang, itik
Mojosari dan telur Entog berdasarkan bobot telur, indek telur, spesifik grafitasi, kekentalan, warna
kuning telur, dan tebal kerabang. Materi yang digunakan adalah 192 butir telur yang berasal dari
itik Magelang, itik Mojosari, dan Entog. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen
dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian diperoleh rataan bobot telur, indek telur,
kekentalan, warna kuning telur, dan tebal kerabang masing-masing sebesar 2,247g; 7,277%;
7,763HU; 1,797; dan 0,056mm. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa bobot telur, indek telur,
kekentalan, warna kuning telur dan tebal kerabang Entog berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan
dengan itik Magelang maupun itik Mojosari. Namun, spesifik grafitasi berbeda tidak nyata (P>0,05)
dibandingkan dengan itik Magelang dan itik Mojosari. Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa kualitas telur Entog paling baik dibandingkan dengan telur itik Magelang dan
Mojosari ditinjau dari variabel yang diteliti.
This study aimed to find out information about the differences in the physical quality of
Magelang duck eggs, Mojosari duck eggs and Entog based on the weight of the egg, the egg index,
specific gravity, viscosity, yolk color and eggshell thickness. The research used 192 eggs sourced of
Magelang duck, Mojosari duck, and Entog eggs. The research method was experiment, used
Completely Randomized Design (CRD). The results of the research showed that egg weight, egg
index, viscosity, yolk color, and eggshell thickness of Entog was higher (P<0,05) compared with
Magelang and Mojosari ducks eggs, however, the specific gravity wasn’t significantly different
(P>0,05). Based on the result of this study concluded that the quality of the eggs Entog was better
than Magelang and Mojosari duck eggs.
456314361H1L010007DIAGNOSA PENYAKIT GIGI DAN MULUT MENGGUNAKAN SISTEM PAKARGigi dan mulut merupakan bagian tubuh yang berperan sangat penting dan vital dalam proses pencernaan. Namun, seringkali masyarakat menganggap remeh kesehatan gigi dan mulut. Ketika sadar, gigi sudah terasa sakit atau terlalu parah. Dibutuhkan seorang ahli seperti dokter gigi dalam mendiagnosa penyakit gigi dan mulut. Tetapi, biaya yang tidak sedikit memunculkan rasa malas untuk periksa ke dokter gigi. Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan sebuah sistem yang dapat memberikan informasi mengenai penyakit yang diderita berdasarkan gejala-gejala yang ada, dan sistem tersebut adalah sistem pakar. Perancangan sistem pakar ini menggunakan kaidah produksi sebagai metode representasi pengetahuan serta metode inferensi forward chaining. Sistem pakar dalam penelitian ini dapat melakukan pendiagnosaan penyakit gigi dan mulut berdasarkan gejala-gejala yang ada, dengan output berupa penyakit gigi dan mulut beserta penjelasannya.Teeth and mouth are part of the body that plays a very important and vital in the process of digestion. However, often people underestimate about teeth and mouth health. When they realize the teeth have been hurt or severe. It takes an expert such as a dentist in diagnosing diseases of the teeth and mouth. But, high cost making people reluctant to check to the dentist. Based on this, it needs a system that can provide information about the disease based on the symptoms, and the system is called expert system. Design of expert system using production rules as a method of knowledge representation and forward chaining method. In this research, the expert system can diagnose a disease of the teeth and mouth based on symptoms, with output in the form of diseases of the teeth and mouth and its explanation.
456414363B1J011133PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN LIPID MIKROALGA Chlorella pyrenoidosa YANG DIKULTUR PADA MEDIA
LIMBAH CAIR TAPIOKA DENGAN TINGKAT
PENGENCERAN BERBEDA
Limbah cair tapioka merupakan salah satu sumber media alami yang dapat digunakan sebagai media pertumbuhan mikroalga, karena mengandung nutrien yang dibutuhkan untuk kehidupan mikroalga. Salah satu mikroalga yang dapat hidup di limbah cair tapioka yaitu Chlorella pyrenoidosa. Mikroalga tersebut merupakan salah satu jenis mikroalga dari kelas Chlorophyceae yang memiliki potensi sebagai penghasil bahan baku biofuel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat pengenceran pada media limbah cair tapioka terhadap pertumbuhan mikroalga Chlorella pyrenoidosa dan mengetahui kandungan lipid mikroalga Chlorella pyrenoidosa pada masing-masing tingkat pengenceran imbah cair tapioka. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental pada skala laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diujikan adalah tingkat pengenceran limbah cair tapioka, yaitu 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. Parameter utama yang diukur yaitu jumlah sel dan kandungan lipid Chlorella pyrenoidosa. Hasil uji variansi pada tingkat kepercayaan 95% dan 99% menunjukkan bahwa tingkat pengenceran limbah cair tapioka tidak berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan Chlorella pyrenoidosa, sedangkan kandungan lipid mikroalga Chlorella pyrenoidosa yang dihaslikan pada masing-masing tingkat pengenceran (0%, 10%. 20%, 30%, 40%, dan 50%) yaitu sebesar 1,441%, 2,383%, 4,166%, 7,382%, 12,361%, dan 10,598%.


Tapioca liquid waste is one of the natural sources of medium that can be used as a medium for the growth of microalgae, because they contains some nutrients that support microalgae’s life. One of microalgae that can live in tapioca liquid waste is Chlorella pyrenoidosa. This microalgae is one kind of the class Chlorophyceae which has potential as a producer of biofuel feedstock. The purpose of this study was to determine the effect of dilution on media tapioca liquid waste to the growth of microalgae Chlorella pyrenoidosa and knowing the lipid content of microalgae Chlorella pyrenoidosa at each level of dilution liquid imbah tapioca. This research uses experimental methods on a laboratory scale with Completely Randomized Design (RAL). The treatments tested are tapioca liquid waste dilution rate, which were 0%, 10%, 20%, 30%, 40% and 50%. The main parameters measured is cell and lipid content of Chlorella pyrenoidosa. The test results of variance at 95% confidence level and 99% indicate that the rate of dilution of tapioca liquid waste does not affect the increased growth of Chlorella pyrenoidosa, while the lipid content microalgae Chlorella pyrenoidosa that dihaslikan at each dilution rate (0%, 10%, 20%, 30%, 40% and 50%) in the amount of 1.441%, 2.383%, 4.166%, 7.382%, 12.361% and 10.598%.
456514366G1D012019PENGARUH TERAPI VIBRASI FREKUENSI 40 HZ SELAMA 5 MENIT TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA TIKUS DIABETIKLatar belakang : Luka diabetes merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus. Sebagian besar penanganan luka diabetes di Indonesia masih menggunakan cara konvensional yang sering mendapatkan hasil kurang memuaskan. Salah satu terapi alternatif penyembuhan luka diabetes yaitu terapi vibrasi. Frekuensi vibrasi dan lama waktu terapi harus disesuaikan agar memberikan hasil efektif dan efisien.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi vibrasi berfrekuensi 40 Hz selama 5 menit terhadap penyembuhan luka diabetes pada tikus.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni dengan pendekatan posttest only with control grup design. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang masing-masing menggunakan 5 ekor tikus. Tikus perlakuan mendapatkan perawatan dengan vibrasi berfrekuensi 40 Hz selama 5 menit, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan secara konvensional. Pengamatan penyembuhan luka pada kedua kelompok dilakukan selama 7 hari secara makroskopis dan mikroskopis.
Hasil : Secara makroskopis warna luka kedua kelompok pada hari ke-0 adalah merah terang. Edema kelompok perlakuan lebih singkat dibandingkan kelompok kontrol. Jaringan putih (slough) pada kelompok perlakuan lebih tipis dibanding kelompok kontrol. Area permukaan luka kelompok perlakuan lebih kecil dibandingkan dengan kelompok kontrol. Secara mikroskopis, inflamasi kelompok kontrol lebih banyak, reepitelisasi kelompok perlakuan lebih panjang, dan jaringan nekrotik lebih banyak pada kelompok kontrol.
Kesimpulan : Penggunaan terapi vibrasi frekuensi 40 Hz selama 5 menit dapat mempercepat penyembuhan luka diabetes pada tikus.

Background: Diabetic wounds are a common complication in patients with diabetes mellitus. Most treatments of diabetic wounds in Indonesia still use conventional methods that often get unsatisfactory results. One of alternative therapies for wound healing is vibration therapy. The frequency of vibration and the duration of therapy should be adjusted in order to provide effective and efficient results.
Purpose: This research aimed to determine the influence of vibration therapy with the frequency of 40 Hz for 5 minutes on diabetic wound healing in rats.
Method: This research used true experimental method with posttest only with control group design approach. The research subjects were divided into two groups: the treatment group and the control group, each group used 5 rats. The treatment group received vibration with the frequency of 40 Hz for 5 minutes, while control group received conventional treatment. The observation of wound healing in both groups was carried out for 7 days macroscopically and microscopically.
Result: macroscopically, the wound color in both groups on day 0 was bright red. The edema of treatment group was shorter compared to control group. The slough tissue in the treatment group was thinner compared to control group. The surface area of the wound in treatment group was smaller compared to control group. Microscopically, inflammation in control group was greater, re-epithelialization in treatment group was longer, and necrotic tissue was greater in control group.
Conclusion: Therapeutic use of vibrational frequency of 40 Hz for 5 minutes can accelerate diabetic wound healing in rats.


Keywords: Diabetes, Vibration, Wound Healing



456614367G1D012081Hubungan Motivasi Belajar dan Hardiness dengan Kecemasan dalam Menyusun Skripsi pada Mahasiswa Jurusan Keperawatan FIKES UNSOEDHUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DAN HARDINESS DENGAN KECEMASAN DALAM MENYUSUN SKRIPSI PADA MAHASISWA JURUSAN KEPERAWATAN FIKES UNSOED

Rifa Riviani1 Keksi Girindra Swasti2 Wahyu Ekowati2

ABSTRAK

Latar Belakang : Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditulis sebagai syarat memperoleh gelar sarjana (S1). Hambatan saat penyusunan skripsi dapat mengakibatkan kecemasan. Kecemasan yang dialami oleh mahasiswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu motivasi belajar dan kepribadian hardiness.
Tujuan :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi belajar dan hardiness terhadap kecemasan dalam menyusun skripsi pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Unsoed.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Besar sampel adalah 99 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji statistik korelasi Pearson.
Hasil : Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (82,8%), berasal dari tahun angkatan 2012 (84,8%), dan IPK 2,76-3,50 (83,8%). Uji statistik Pearsonpada motivasi belajar dan hardiness menunjukkan p value 0,00. Nilai r pada motivasi belajar -0,64 dan hardiness -0,639.
Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan hardiness dengan kecemasan menyusun skripsi pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Unsoed. Semakin tinggi motivasi belajar dan hardiness maka kecemasan mahasiswa semakin rendah.

Kata kunci : hardiness, kecemasan, motivasi belajar, skripsi.
RELATIONSHIP BETWEEN LEARNING MOTIVATION AND HARDINESS ON ANXIETY IN PREPARING THESIS OF STUDENTS OF NURSING DEPARTMENT, FACULTY OF HEALTH SCIENCES, UNSOED

Rifa Riviani1 Keksi Girindra Swasti2 Wahyu Ekowati2



ABSTRACT

Background: Thesis is a scientific paper compiled as a requirement of obtaining a bachelor degree (S1). The obstacles in the preparation of thesis can lead to anxiety. Anxiety experienced by students can be influenced by several factors; one of the factors is learning motivation and hardiness personality.
Purpose: This research aimed to determine the relationship between learning motivation and hardiness on anxiety in preparing thesis of students of nursing department, Faculty of Health Sciences, Unsoed.
Method: This research was quantitative research with cross sectional approach. Sampling in this research used total sampling technique. The sample size was 99 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Data analysis used Pearson correlation statistical test.
Result: The majority of respondents were female (82,8%) from 2012 lifting (84,8%) and GPA of 2,76 to 3,50 (83,8%). Pearson statistical test on learning motivation and hardiness showed p value of 0,00. r value on learning motivation was -0,64 and r value on hardiness was -0,639.
Conclusion: There was significant relationship between learning motivation and hardiness on anxiety in preparing thesis of students of Nursing Department, Faculty of Health Sciences, Unsoed. If learning motivation and hardiness are higher, then the anxiety of students is getting lower.

Keywords: anxiety, hardiness, learning motivation, thesis
456714370G1D012006PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI KURMA (Phoenix dactylifera L.) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA TIKUS PUTIH MODEL DIABETESLatar Belakang : Penderita diabetes melitus setiap tahun mengalami peningkatan seiring dengan berubahnya gaya hidup. Pengobatan diabetes menggunakan obat kimiawi dapat menimbulkan efek samping, sehingga perlu terapi alternatif yang lebih aman, dan memiliki efek samping yang relatif kecil. Salah satu obat alternatif yang dapat berfungsi sebagai antidiabetes yaitu biji kurma.
Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak biji kurma (Phoenix Dactylifera L) terhadap kadar Glukosa Darah pada tikus putih model diabetes. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian true experiment dengan pendekatan pre-test and post-test with control group design. Dua puluh empat tikus putih jantan galur wistar dengan berat badan 150-200gram dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok A (kontrol negatif) kelompok normal, Kelompok B (kontrol positif) kelompok yang diberi induksi aloksan, kelompok C, D dan E kelompok yang diberi induksi aloksan dan ekstrak biji kurma dosis bertingkat (250mg/KgBB, 500mg/KgBB, 1000mg/KgBB) dan kelompok F kelompok yang diberi induksi aloksan dan glibenklamid. Kadar glukosa darah diperiksa pada awal dan akhir perlakuan yaitu pada hari ke-7. Hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan uji analysis of variance (ANOVA) dengan Duncan.
Hasil : Hasil rerata selisih kadar glukosa darah kelompok E (121,5±82,71) lebih tinggi dibandingan kelima kelompok lain. Kelompok C memiliki rerata kadar glukosa darah posttest tertinggi berbeda terhadap kelompok B (p<0,05). Selisih kadar glukosa darah pre-post test kelompok C dan E berbeda terhadap kelompok A (p<0,05), sedangkan kadar glukosa darah pre-post kelompok D dan F tidak ada beda terhadap kelompok A (p>0,05).
Kesimpulan : Ekstrak biji kurma berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus model diabetes dengan dosis 250 mg/KgBB.
Background: Patients with diabetes mellitus increases every year in line with changing of lifestyle. Diabetes treatment with using pharmacology can cause side effects, so that it needs other effective therapies with relatively small side effects. One of the alternative medicines is by using palm seed as an anti-diabetic. Purpose: To determine the influence of palm seed extract (Phoenix Dactylifera L) on blood glucose level in rat model of diabetes.
Method: This research used true experiment design with pre-test and post-test with control group design approach. Twenty four Wistar strain rats with the weight of ±200g were divided into 6 groups. Group A (negative control) was a normal group, Group B (positive control) was induced by alloxan, Group C, D and E were induced by alloxan and palm seed extract with gradual doses (250mg/KgBW, 500mg/KgBW, 1000mg/KgBW) and Group F was induced by alloxan and glibenclamide. Blood glucose level was examined at the early and end of treatments for 7 days. The result was analyzed by using analysis of variance test (One way ANOVA) with Duncan Post Hoc.
Result: The result of average difference of blood glucose level of Group E (121.5±82.71) was higher than five other groups. Group C had the highest average of blood glucose level in the posttest that was significantly different with Group B (p<0.05). The difference of blood glucose level in the pre-post of Group C and E were significantly different on Group A (p<0.05), while blood glucose level in Group D and F was not significantly different on Group A (p>0.05).
Conclusion: Palm seed extract had influence on the decreasing blood glucose level of rat model of diabetes with an dose of 250 mg/KgBW.
456814372G1D012061PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI KURMA (Phoenix dactylifera L.) TERHADAP KADAR ALBUMIN PADA TIKUS PUTIH MODEL DIABETES
Latar Belakang : Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit yang sangat kompleks. DM seringkali disertai dengan komplikasi mikro maupun makrovaskular. Salah satu komplikasi pada diabetes melitus adalah penurunan kadar albumin yang disebabkan karena penurunan produksi insulin. Terapi medis atau farmakologis biasanya dilakukan untuk meningkatkan kadar albumin, tetapi biasanya menimbulkan efek samping. Terapi non-farmakologis yang bisa dilakukan adalah dengan pemanfaatan biji kurma. Biji kurma mengandung flavanoid, serat pangan β glukan, dan protein yang dapat meningkatkan kadar albumin.
Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak biji kurma (Phoenix Dactylifera L) terhadap kadar albumin pada tikus putih model diabetes.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain rancangan acak lengkap dan pendekatan pre and post with control group design. Dua puluh empat tikus putih galur Wistar dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok A (kontrol negatif), Kelompok B (kontrol positif) diiduksi aloksan, kelompok C, D, dan E diinduksi aloksan dan diberikan ekstrak biji kurma dosis bertingkat, serta kelompok F diinduksi aloksan dan diberikan glibenklamid. Kadar albumin diperiksa pada awal dan akhir perlakuan selama 7 hari. Hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan uji analysis of variance (ANOVA) dengan Post Hoc Duncan.
Hasil : Hasil pretest menunjukkan kadar albumin kelompok A berbeda signifikan dengan kelompok B dan kelompok F (p<0,05). Hasil posttest kadar albumin kelompok B paling rendah berbeda signifikan dengan kelompok A, C, D, E, F (p<0,05). Hasil rerata selisih kelompok B menunjukkan angka negatif (-0,5 ± 0,4), artinya kelompok B mengalami penurunan kadar albumin selama perlakuan, berbeda signifikan dengan kelompok C, D, E, dan F (p<0,05).
Kesimpulan : Pemberian ekstrak biji kurma dengan dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB, dan 1000 mg/kgBB selama 7 hari berpengaruh terhadap peningkatan kadar albumin pada tikus putih model diabetes, namun tidak ada dosis yang lebih efektif. Sehingga dosis yang disarankan adalah dosis terkecil yaitu 250 mg/kgBB
Background: Diabetes mellitus (DM) is a very complex disease. It is often accompanied by micro and macro vascular complications. One of the complications in diabetes mellitus is the decreasing albumin level due to the decreasing production of insulin. The medical or pharmacological therapy is usually performed to increase albumin level, but it usually causes the side effects. Non-pharmacological therapy which can be performed is the utilization of palm seed. Palm seed contains flavonoids, β glucan dietary fiber, and protein that can increase albumin level.
Objective : The purpose of this study was to determine the effect of date seed extract (Phoenix dactylifera L.) on albumin levels in diabetes rats models.
Method: This research was an experimental research with randomized complete block design and pre and post with control group design approach. Twenty four Wistar strain rats were divided into 6 groups. Group A (negative control), Group B (positive control) induced by alloxan, Group C, D, and E induced by alloxan and given glibenclamide. Albumin level was examined at the initial and end of treatments for 7 days. The test result was analyzed by using analysis of variance (ANOVA) test with Duncan’s Post Hoc.
Result: The result of pretest indicated that albumin level in Group A was significantly different with Group B and Group F (p< 0.05). The posttest result of albumin level in Group B was the lowest. It was significantly different with Group A, C, D, E, F (p<0.05). The average result of the difference in Group B was negative (-0.5 ± 0.4), it meant that the albumin level of Group B decreased during the treatment, it differed significantly from Group C, D, E and F (p<0.05).
Conclusion: Palm seed extract 250 mg /kgBW, 500 mg/kgBW and 1000 mg/KgBW doses affected the increasing levels of albumin for 7 days in diabetes model of rats, but no more effective dose. So that the recommended dose is the lowest dose (250 mg/KgBW).
456914369G1D012083GAMBARAN PENYEMBUHAN LUKA
DIABETES MELITUS MENGGUNAKAN VIBRASI 200 Hz SELAMA 5 MENIT
Latar belakang : Neuropati merupakan komplikasi pada penderita DM yang menyebabkan penurunan sensitivitas terhadap rangsangan. Vibrasi merupakan terapi non-infasif yang dapat meningkatkan aliran darah ke jaringan, sehingga mempercepat proses penyembuhan luka.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian vibrasi dengan frekuensi 200 hz selama 5 menit terhadap penyembuhan luka diabetes pada tikus.
Metode : Penelitian ini menggunakan eksperimen murni dengan posttest only with control group design. Jumlah sampel adalah 10 ekor tikus wistar jantan untuk perlakuan dan kontrol. Keseluruhan jaringan luka diamati secara makroskopis dan mikroskopis.
Hasil : Secara makroskopis, warna dasar luka kedua kelompok pada hari ke-0 adalah merah terang. Kemudian pada kelompok perlakuan tepi luka berwarna kemerahan pada hari ke-5 dan tidak muncul pada kelompok kontrol. Edema muncul pada kedua kelompok namun pada kelompok perlakuan muncul lebih cepat dan lebih lama. Jaringan putih (slough) kelompok perlakuan lebih tebal dibandingkan kontrol. Secara mikroskopis, kelompok perlakuan intensitas inflamasinya lebih banyak dan tersebar merata. Reepitelisasi kelompok kontrol lebih tebal dari pada kelompok perlakuan. Jaringan nekrotik pada kelompok perlakuan lebih tebal dari pada kelompok kontrol.
Kesimpulan : Penggunaan vibrasi dengan frekuensi 200 Hz selama 5 menit tidak efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka diabetes pada tikus yang diinduksi aloksan.
Background: Neuropathy is a complication in patients with diabetes mellitus that causes a decreased sensitivity to stimuli. The vibration is a non-invasive therapy that can increase blood flow to the tissues, so as to accelerate the wound healing process.
Purpose: This research aimed to determine the effect of vibration with 200 hz frequency for 5 minutes on diabetes mellitus wound healing in winstar rats.
Method: This research used true experimental method with posttest only with control group design. The total sample was 10 male winstar rats for the treatment and control group. Overall wound tissues were observed macroscopically and microscopically.
Result: Macroscopically, wound base color in both groups on day 0 was bright red. Then in the treatment group, the color of wound edge was reddish on day 5 and disappeared in control group. Edema appeared in both groups, but it appeared faster and longer in the treatment group. Slough tissue in the treatment group was thicker than in the control group. Microscopically, the inflammation intensity in the treatment group was greater and spread evenly. Reepithelialization in the control group was thicker than in the treatment group. Necrotic tissue in the treatment group was thicker than in the control group.
Conclusion: The use of vibration with 200 Hz frequency for 5 minutes was ineffective in accelerating diabetic wound healing process in winstar rats induced by alloxan.
457014373G1D012028HUBUNGAN FUNGSI KOGNITIF DENGAN PENCAPAIAN SUCCESSFUL AGING LANSIA DI DESA KARANGLO KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASLatar Belakang : Lansia menghadapi berbagai permasalahan kesehatan, salah satu masalah kesehatan utama adalah penurunan fungsi kognitif. Fungsi kognitif merupakan salah satu indikator objektif pencapaian successful aging.
Tujuan : Mengetahui hubungan yang positif antara fungsi kognitif dengan pencapaian successful aging pada lansia di Desa Karanglo Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Jumlah total responden penelitian ini adalah 72 lansia yang dipilih menggunakan teknik sampling simple random sampling. Pengukuran fungsi kognitif menggunakan MMSE dan successful aging menggunakan Successful Aging Scale (SAS). Uji statistik menggunakan uji korelasi Pearson.
Hasil : Median skor fungsi kognitif lansia yaitu 25 dan domain yang paling banyak bermasalah adalah domain mengingat (memori). Rata-rata skor pencapaian successful aging yaitu 73,28 dengan rata-rata pencapaian paling rendah pada aspek selection, optimatization, & compensation. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan terdapat hubungan positif lemah yang signifikan secara statistik antara fungsi kognitif dengan pencapaian successful aging.
Kesimpulan : Fungsi kognitif bukan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pencapaian successful aging karena nilai korelasinya lemah.
Background: Most elderly face various health problems. One of thos is a degradation of cognitive function. Cognitive function is one objective indicator of successful aging achievement.
Purpose: To figure out positive relationship between elderly cognitive function and successful aging achievement in Karanglo village, Cilongok sub-district, Banyumas regency.
Method: This research uses a cross sectional design with a total respondents of 72 people obtained through a simple random sampling technique. The cognitive function is measured using MMSE while successful aging is measured using Successful Aging Scale (SAS). The Pearson correlation is used statistical test.
Result: The median score of elderly cognitive function is 25, and the most problematic domain on memory. Average score of successful aging achievement is 73.28, with the lowest average achievement on selection, optimization, & compensation aspect. The Pearson correlation test results shows that statistically significant there is a weak positive significance between cognitive function and successful aging achievement.
Conclusion: Cognitive function is not the most influential factor upon the successful aging achievement as its correlation score is low.
457114375G1D012057PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI KURMA
(Phoenix dactylifera L.) TERHADAP AKTIVITAS GLUTATHIONE S-TRANSFERASE (GST) PADA TIKUS PUTIH MODEL DIABETES
Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit dengan komponen strs oksidatif. Stres oksidatif adalah keadaan tidak seimbang antara radikal bebas kemampuan aantioksidan dalam tubuh. Salah satu penyebab Stres oksidatif adalah adanya penurunan enzim-enzim antioksidan termasuk Glutathione S-Transferase. Glutathione S-Tranferase merupakan enzim detoksifikasi yang berfungsi mengkatalisis reaksi konjugasi glutathione dengan sejumlah besar xenobiotik elektrofilik. Enzim GST mampu melindungi sel dari ROS akibat stres oksidatif. Terapi untuk meningkatkan aktivitas GST melalui farmakologis memili banyak efek samping sehingga perlu terapi lain bentuk obat herbal berbahan Biji kurma. Biji kurma memiliki kandungan flavonoid sebagai senaya penangkap radikal bebas dan meningkatkan aktivitas GST. Penelitian ini bertujuan untuk
Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak biji kurma (Phoenix Dactylifera L) terhadap aktivitas GST pada tikus model diabetes.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain rancangan acak lengkap dan pendekatan pre and post with control group design. Tiga puluh enam tikus putih galur wistar dengan berat badan ±200g dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok A (kontrol negatif) tidak diinduksi aloksan, Kelompok B (kontrol positif) diberikan pakan standar), kelompok C, D dan E diberikan ekstrak biji kurma dosis bertingkat dan kelompok F diberikan glibenklamid. Aktivitas GST diperiksa pada awal perlakuan dan akhir perlakuan selama 7 hari.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerian ekstrak biji kurma dapat meningkatkan aktivitas GST. Dosis paling efektif untuk mendekati aktivitas GST normal adalah dosis 250mg/KgBB. Hasil rerata kenaikan aktivitas GST pada kelompok C sebesar (2,265), sedangkan kelompok E hanya mengalami peningkatan sebesar 1,01.
Kesimpulan: Ekstrak biji kurma berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas GST pada tikus model diabetes dengan dosis paling mendekati efektif 250 mg/KgBB.

Kata Kunci: Diabetes Melitus, Ekstrak Biji Kurma, Glutathione S-Transferase
Stres Oksidatif.
Background: Diabetes mellitus (DM) is a disease with oxidative stress component. Oxidative stress is a state of imbalance between free radicals and ability of antioxidant in the body. One of the causes of oxidative stress is the decrease of antioxidant enzymes, including glutathione S-transferase. Glutathione S-Transferase is a detoxifying enzyme that has a function to catalyze the conjugation of glutathione with a large number of electrophilic xenobiotic. GST enzyme is able to protect cells from oxidative stress-induced ROS. However, the increase of GST activities through pharmacology may led to various side effects so that it requires other therapy in the form of herbal medicine made from palm seed. Palm seed contains flavonoids as the compound to eliminate free radical and increases GST activity. This research aimed to:
Purpose: determine the effect of palm seed extract (Phoenix Dactylifera L)on GST activities in winstar rat model of diabetes.
Method: This research was an experimental research with a randomized complete block design and pre and post with control group design approach. Thirty six Winstar strain rats with the weight ±200g were divided into 6 groups. Group A (negative control) was not induced by alloxan, Group B (positive control) was given the standard food. Group C, D, and E were given palm seed extract with gradual doses and Group F was given glibenclamide. GST activity was examined at the initial and end treatments for 7 days.
Result: The result indicated that palm seed extract with the dose of 250 mg/KgBW can increase GST activity. The most effective dose to approach normal GST activity was a dose of 250 mg/KgBW. The result of average increase of GST activity in Group C was (2.265), while group E was only increased by 1.01.
Conclusion: Palm seed extract had effect on the increasing activity of GST of winstar rat model of diabetes with the dose close to effective of 250 mg/KgBW.

Keywords: Diabetes Mellitus, Palm Seed Extract, Glutathione S-Transferase, Oxidative Stress
457214374G1D012098PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA BOOKLET TERHADAP PENGETAHUAN DAN MOTIVASI SUAMI DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI PADA IBU PRIMIGRAVIDALatar Belakang: Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) masih rendah di Indonesia, terutama pada ibu primigravida. Dukungan dari suami merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam pelaksanaan IMD. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi suami dalam mendukung pelaksanaan IMD. Booklet merupakan salah satu media yang bisa digunakan sebagai media pemberian pendidikan kesehatan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan dengan media booklet untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi suami dalam mendukung pelaksanaan IMD di wilayah kerja Puskesmas Sumbang II.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pre experimental dengan pendekatan pre and post test one group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sejumlah 43 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner data demografi, pengetahuan dan motivasi mengenai IMD. Analisa data menggunakan uji statistik Wilcoxon test karena data tidak terdistribusi normal.
Hasil: Hasil Wilcoxon test menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan menggunakan booklet efektif meningkatkan pengetahuan (p<0,001) dan motivasi (p<0,001).
Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan media booklet dapat meningkatkan pengetahuan dan motivasi suami dalam mendukung pelaksanaan IMD pada ibu primigravida. Perawat dapat menggunakan booklet sebagai salah satu media untuk meningkatkan dukungan suami terhadap pelaksanaan IMD.
Background: Early breastfeeding initiation rate in Indonesia is still low, especially, among primigravida. Husband's support was a significant factor of early breastfeeding initiation practice. Health education may improve the husband's knowledge and motivation of supporting the early breastfeeding initiation. Booklet may be used as a media to provide health education.
Purpose: This study aimed to determine the effect of health education using booklet to improve the knowledge and motivation of the husband in supporting early breastfeeding initiation in Primary Health Care Sumbang II.
Methods: This was pre-experimental study with pre and posttest one group design. This study used total sampling method and recruited 43 respondents who met the inclusion criteria and did not meet the exclusion criteria. This study used three questionnaires; they were demographic data questionnaire, knowledge questionnaire, and motivation questionnaire. Data was analyzed using Wilcoxon test since the data were not normally distributed.
Results: The result of Wilcoxon test showed that the booklet was an effective media to increase the husband's knowledge (p<0,001) and motivation (p<0,001).
Conclusion: Health education using a booklet may increase the husband's knowledge and motivation to support early breastfeeding initiation. Nurse may use booklet as a media to promote husband's support in order to increase early breastfeeding initiation.
457314377G1H011032PERBEDAAN POLA ASUPAN KARBOHIDRAT DAN PENGOLAHAN MAKANAN PADA PENYANDANG DIABETES MELITUS DAN NON DIABETES MELITUS DI KECAMATAN PURWOKERTO TIMURDiabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, akan tetapi dapat dikendalikan. Penyandang DM mampu hidup sehat, jika dapat patuh dan dapat mengontrol kadar gula darah secara teratur. Pada umumnya, yang dapat memperberat penyakit DM adalah pola makan yang tidak sesuai dengan yang telah dianjurkan. Pola makan sangat erat kaitannya dengan diet, dalam hal ini pengaturan jenis, jumlah dan cara mengkonsumi makanan merupakan hal yang sangat diperlukan untuk penyandang DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pola asupan karbohidrat dan pola pengolahan makanan pada penyandang DM dan non DM di Kecamatan Purwokerto Timur. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di Puskesmas I dan II Purwokerto Timur pada bulan Desember 2015 hingga Januari 2016. Sampel diambil dengan cara purposive sampling sebanyak 88 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok DM dan kelompok non DM. Metode pengukuran pola asupan karbohidrat menggunakan FFQ dan pola pengolahan makanan menggunakan recall-24 hours pengolahan pangan. Analisis data menggunakan uji T independent. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola asupan karbohidrat kompleks pada penyandang DM sebagian besar mamiliki kategori kurang baik (68,2%) dan untuk pola asupan karbohidrat sederhana pada penyandang DM sebagian besar memiliki kategori baik (59,1%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah untuk pola asupan karbohidrat kompleks ada perbedaan secara signifikan (p= 0,00), namun untuk asupan karbohidrat sederhana tidak ada perbedaan secara signifikan (p= 0,29), sedangkan pada pola pengolahan makanan menunjukkan bahwa ada perbedaan secara signifikan (p= 0,00). Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that can not be healed, but it can be controlled. Patients with DM are able to live healthy if they could obey are control blood sugar level regulary. In general, diet that does not appropriate with the recommended could aggravate DM. Dietary habit is closely related to diet, in this case, regulation of types, quantity, and way to consume food is the most important thing for people with DM. This study aimed to determine the difference pettern of carbohydrate and the pettern of food processing in patients with DM and non DM in Purwokerto Timur sub-district. This research is an observational study with cross sectional approach. This study was conducted in Puskesmas I and II Purwokerto Timur on December 2015 to January 2016 using purposive sampling as sampling method. A total of 88 subjects consisting of two groups, DM and non DM group. Food Frequency Questionnaire (FFQ) and Recall 24 Hours were used to assess pettern of carbohydrate intake and pettern of food processing. Data analysis using Independent sample T-test. The result showed the pettern of complex carbohydrate intake in DM subjects mostly include in the bad category (68,2%) and the pettern of simple carbohydrate intake in DM subject mostly include in the good category (59,1%). The conclusion of this study is that there is significant difference in the pettern of complex carbohydrate intake (p=0,00), however no significant difference in the pattern of simple carbohydrate intake (p=0,29) and there is significant difference in the pettern of food processing (0,00).
457414378G1D012036HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PENCAPAIAN SUCCESSFUL AGING PADA LANSIA WANITA
DI DESA KARANGTENGAH
Perubahan secara fisik, psikologis dan sosial pada lansia dapat menyebabkan munculnya perasaan tidak berharga, tidak berdaya dan tidak berguna sehingga dapat mempengaruhi harga dirinya.Kondisi fisik, psikologis dan sosial lansia wanita di Indonesia menunjukan kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan lansia pria.Harga diri berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis yang diperlukan untuk mencapai successful aging.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang positif antara harga diri dengan pencapaian successful aging padalansia wanita di Desa Karangtengah.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional. Sampel sebanyak 142 lansia wanita dipilih dengan teknik simple random sampling.Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Rosenberg Self-Esteem Scale dan Successful Aging Scale.Analisis data menggunakan uji Spearman.Hasil uji korelasi menunjukan ada hubungan positif sangat kuat yang signifikan secara statistik antara harga diri dengan pencapaian successful aging pada lansia wanita di Desa Karangtengah (r=0,866, p=0,000). Selanjutnya, hasil uji korelasi juga menunjukan ada hubungan positif yang signifikan secara statistik antara harga diri dengan aspek-aspek successful aging diantaranya fungsional yang baik (r=0,660, p=0,000), kesejahteraan psikologis (r=0,539, p=0,000), seleksi optimasi dan kompensasi (r=0,607, p=0,000) serta kontrol primer dan sekunder (r=0,705, p=0,000). Harga diri yang tinggi dapat meningkatkan pencapaian successful aging pada lansia wanita di Desa Karangtengah.

The changes in physical, psychological and social condition in the elderly can lead to the emergence of feelings of worthlessness, helplessness and uselessness that may influence their self-esteem. Physical, psychological and social condition in elderly women in Indonesia indicated a lower quality compared with elderly men. Self-esteem has influence on psychological well-being required to achieve successful aging. This research aimed to determine a positive relationship between self-esteem and achievement of successful aging on elderly women in Karangtengah village.This research was a quantitative research using cross sectional study design. The sample in this research was 142 elderly women selected by using simple random sampling technique. Data were collected using a questionnaire of Rosenberg Self-Esteem Scale and Successful Aging Scale. Data analysis in this research used Spearman test. The result of correlation test indicated that there was a statistically very strong positive relationship between self-esteem and achievement of successful aging on elderly women in Karangtengah village (r=0.866, p=0.000). Furthermore, the result of correlation test also indicated that there was a statistically positive relationship between self-esteem and the aspects of successful aging, such as a functional well (r=0.660, p=0.000), psychological well-being (r=0.539, p=0.000), selection, optimization and compensation (r=0.607, p=0.000) as well as primary and secondary control (r=0.705, p=0.000). High self-esteem can improve the achievement of successful aging on elderly women in Karangtengah village.
457513727A1L011127PENGARUH PEMANGKASAN DAN PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH IAA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annuum L.)Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh pemangkasan pucuk tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah, 2) mendapatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA yang baik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah, dan 3) mendapatkan kombinasi perlakuan yang baik antara pemangkasan pucuk tanaman dan konsentrasi zat pengatur tumbuh bagi pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah. Penelitian dilaksanakan di screenhouse dan laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, pada bulan Februari sampai Juli 2015. Penelitian ini berupa percobaan pot dengan rancangan perlakuan faktorial 2 x 4. Faktor pertama yaitu pemangkasan dengan dua taraf, yakni tanpa pemangkasan dan pemangkasan, sedangkan faktor kedua yaitu pemberian zat pengatur tumbuh dengan empat taraf konsentrasi, yakni 0, 50, 100, dan 150 ppm. Semua kombinasi perlakuan dialokasikan ke dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari 2 pot tanaman cabai merah, tiap pot terdiri 1 tanaman. Variabel yang diamati pada percobaan ini meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang batang tanaman, panjang akar, jumlah bunga, jumlah buah, bobot buah, bobot satuan buah, dan jumlah biji. Hasil penelitian menunjukkan 1) pemangkasan pucuk tanaman menurunkan jumlah cabang, meningkatkan panjang batang, dan tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman cabai merah, 2) konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA 100 ppm merupakan konsentrasi terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah, 3) Pemberian zat pengatur tumbuh IAA pada konsentrasi 100 ppm dengan pemangkasan maupun tanpa pemangkasan mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai.This research aims to 1) know the effect of prunning on the growth and yield of red pepper, 2) get the best concenration of plant growth regulator for the gowth and yield of red pepper, and 3) get the best combination of prunning and plant growth regulator concentration for the growth and yield of red pepper. This research was pot experiment with 2 x 4 factorial treatments. The first factor consisted of without prunning and pruning, the second factor consisted of 0, 50, 100, and 150 ppm IAA. All treatment combinations were allocated to complete randomized block design with three replications. Each experimental unit consisted of 2 potted red pepper plants, each pot comprised by one plant. The observed variables were plant height, number of branches, stem length, root length, the amount of flower, the amount of fruit, fruit weight, fruit weight units, and the amount of seed. The results showed 1) Prunning of plant decreased the number of branches, increased stem length, and didn’t affect on the yield of red pepper, 2) 100 ppm IAA concentration was the best concentration for the growth and yield of red pepper, 3) application of IAA, with or without prunning, on 100 ppm affected growth and yield of red pepper.
457614379G1G008005PERBANDINGAN BESAR RELAPS PENGGUNAAN RETAINER
CEKAT DAN LEPASAN PASCA PERAWATAN ORTODONSI
MALOKLUSI KLAS I TIPE 1 DENGAN PENCABUTAN
PREMOLAR PERTAMA
Tahap terakhir dari penggunaan ortodonti adalah penggunaan retainer. Retainer yang digunakan ada dua macam yaitu retainer cekat dan lepasan. Setelah digunakan kedua retainer tersebut dapat terjadi relaps. Dari semua jenis maloklusi yang ada, kejadian relaps yang sering terjadi adalah pada klas 1 tipe 1 yaitu relasi molar klas 1 dengan crowding anterior, disertai dengan pencabutan premolar pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan besar relaps pada penggunaan retainer cekat dan lepasan pasca perawatan ortodonsi kasus maloklusi klas I tipe 1 dengan pencabutan premolar pertama. Penelitian Survei crossectional ini menggunakan studi model pada 16 sampel, 8 sampel pengguna retainer cekat dan 8 sampel pengguna retainer lepasan dengan metode purposive sampling. Studi model diukur menggunakan little irregullarry index yaitu mengukur jumlah jarak kontak poin yang bergeser menggunakan caliper digital dari premolar kedua kanan sampai premolar kedua kiri dan pengukuran dilakukan tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan besar relaps pengguna retainer cekat dengan rata- rata sebesar 1,67 dan pada pengguna retainer lepasan dengan rata- rata sebesar 3,46. Berdasarkan hasil uji Independent T Test didapatkan nilai p= 0,00 (p<0,05) sehingga terdapat perbedaan yang bermakna pada nilai relaps pada penggunaan retainer cekat dan lepasan pasca perawatan ortodonsi maloklusi klas 1 tipe 1 dengan pencabutan premolar pertama.The last stage of orthodontic treatment is use retainer. Two kinds of retainer, they are fixed retainer and removable retainer. Both the retainer may relapse. The most incidence of relapse is common in class 1 type 1 with anterior crowding, along with the lifting of the first premolar. This study has goal to find a big difference in the relapse use of fixed and removable retainer after orthodontic treatment of Class I malocclusion cases of type 1 with the lifting of the first premolar. This cross-sectional survey study using a model study on 16 samples, eight samples of the retainer fixed and removable retainer user 8 samples by purposive sampling method. Study models were measured using a little irregullarry index that measures the number of contact points are shifted distance using a digital caliper of second premolar right to left second premolar and measurements were performed three times. The results showed fixed retainer user relapse has mean 1.67 and removable retainer has mean 3.46. Based on the test results Independent t test p value = 0.00 (p <0.05) so that there is a significant difference in the value of relapse in the use of fixed and removable retainer after orthodontic treatment of malocclusion of class 1 type 1 with the lifting of the first premolar.
457714386P2AA14006PENGARUH DOSIS PUPUK NH4NO3 DAN FREKUENSI PENYEMPROTAN KITOSAN TERHADAP PERTUMBUHAN ANGGREK DENDROBIUMPenelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh kitosan terhadap peningkatan serapan N untuk pertumbuhan bibit anggrek dendrobium, (2) mengetahui pengaruh dosis pupuk NH4NO3 yang diberikan melalui daun terhadap peningkatan serapan N untuk pertumbuhan bibit anggrek dendrobium, dan (3) mencari kombinasi perlakuan yang baik antara kitosan dan dosis pupuk NH4NO3 untuk pertumbuhan bibit anggrek dendrobium. Penelitian ini dilakukan pada rumah plastik, laboratorium penelitian dan laboratorium perlindungan tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dari Januari sampai Mei 2015. Penelitian ini merupakan percobaan pot dengan rancangan faktorial 3x3 dengan 3 ulangan. Satu unit percobaan terdiri dari 3 pot tanaman. Faktor pertama adalah dosis pupuk NH4NO3, terdiri dari 3 taraf yaitu 96,04 mg/tanaman, 19,94 mg/tanaman, 287,98 mg/tanaman. Faktor kedua adalah frekuensi penyemprotan kitosan konsentrasi 3 ppm terdiri dari 3 taraf yaitu tanpa penyemprotan kitosan, kitosan disemprotkan setiap 2 minggu, dan kitosan disemprot sekali dalam seminggu. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, jumlah anakan, jumlah dan ukuran daun stomata, serapan N dan nitrat reduktase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyemprotan kitosan tidak meningkatkan serapan N, tetapi mengurangi ukuran stomata, dan meningkatkan anakan dan jumlah akar. Peningkatan dosis pupuk NH4NO3 mengakibatkan peningkatan serapan N, jumlah stomata, jumlah daun, jumlah anakan dan bobot tanaman kering. Aplikasi pupuk NH4NO3 287,98 mg/tanaman dan penyemprotan kitosan seminggu sekali meningkatkan jumlah akar, jumlah anakan dan bobot tanaman kering.
The purpose of this study were (1) knowing the effect of chitosan to increase N uptake for the growth of dendrobium orchid seedlings, (2) knowing the influence of doses of NH4NO3 fertilizer provided through the leaves to increase N uptake for the growth of dendrobium orchid seedling, and (3) looking for a good treatment combination of chitosan and doses of NH4NO3 fertilizer for the growth of dendrobium orchid seedlings. The research was conducted at a plastic-house, research laboratory and plant protection laboratory, Faculty of Agriculture, the Jenderal Soedirman University from January to May 2015. The research was pot experiments arranged in factorial block design of 3x3 with 3 replications. One experiment unit was consisted of 3 plant pots. The first factor was NH4NO3 doses consisting of 3 levels i.e. 96.04 mg/plant, 19.94 mg/plant, 287.98 mg/plant. The second factor was the frequency of 3 ppm chitosan spraying consisting of 3 levels i.e. without chitosan spraying, chitosan was sprayed every 2 weeks, and chitosan was sprayed once in a week. The observed variables were plant height, number of leaves, number of roots, roots length, number of tillers, number and size of stomata leaves, N uptake and nitrate reductase. Result showed that chitosan spraying did not increased the N uptake, but it reduced the size of stomates, and it increased tillers and number of roots. Increasing doses of NH4NO3 resulted in the increase of N uptake, the number of stomates, the number of leaves, the number of tillers and the weight of dried plants. Application of fertilizers NH4NO3 287,98 mg/plants and spraying chitosan once a week increased the number of roots, the number of tillers and the weight of dried plant.
457814380G1G008011DESKRIPSI MUKOSITIS ORAL PADA PENDERITA ANAK
LIMFOMA NON-HODGKIN YANG SEDANG
MENJALANI KEMOTERAPI
Lia Agustina A 1, Ariadne Tiara Hapsari2, A. Haris Budi W.3
1Mahasiswa Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah
2Bidang Biologi Oral, Universitas Jenderal Soedirman
3Bidang Farmakologi, Universitas Jenderal Soedirman

Alamat korespodensi: Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 53122. Email: dentisgirllea@yahoo.co.id


INTISARI

Limfoma Non-Hodgkin terjadi karena adanya suatu keganasan pada jaringan limfoid, dan berproliferasi klonal dari limfosit sel T dan sel B pada tumor. Gejala yang dialami penderita yaitu massa intra abdomen, efusi pleura, disfagia, pembengkakan daerah kepala leher, pembesaran kelenjar limfe, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan. Pengobatan yang dapat dilakukan berupa kemoterapi. Efek samping kemoterapi adalah mukositis oral. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan fase mukositis oral anak yang sedang menjalani kemoterapi. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Cara pengambilan sampel penelitian adalah dengan metode accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dekripsi mukositis oral fase induksi lesi yang timbul berwarna merah dengan tepi putih, berbentuk bulat, berjumlah ≥ 1, dan berlokasi pada mukosa bukal dan labial. Deskripsi mukositis oral yang muncul pada fase induksi adalah grade 1. Lesi yang timbul berwarna merah dengan tepi putih, berbentuk bulat, berjumlah ≥ 1, dan berlokasi pada mukosa bukal dan labial. Pada fase konsolidasi ditandai dengan lesi kemerahan dengan ulkus dalam sekitar 0,5 mm, terkadang diselimuti plak putih, berwama merah, dan ukuran>lcm. berlokasi di sudut mulut, mukosa bukal, dorsal, ventral, lateral lidah dan berjumlah>l. Deskripsi mukositis oral pada fase konsolidasi adalah grade 1,3, 4. Pada fase pemeliharaan penderita mengalami nyeri yang ringan dengan lesi kemerahan bertepi putih, berbentuk bulat, berlokasi pada mukosa labial dan mukosa bukal. Deskripsi mukositis oral yang muncul pada fase ini adalah grade 1. Saran dalam penelitian adalah perlu edukasi terhadap penderita mukositis oral anak yang sedang menjalani kemoterapi agar perawatan lebih maksimal.

Kata Kunci : Limfoma Non-Hodgkin, deskripsi fase mukositis oral, anak
Kepustakaan : 11 (2000- 2011)
ORAL MUCOSITIS DESCRIPTION OF PATIENTS NON-HODGKIN LYMPHOMA CHILDREN ARE UNDERGOING CHEMOTHERAPY

Lia Agustina A.1, Ariadne Tiara Hapsari2, A. Haris Budi W.3
1Student of Dental Medicine, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java
2Department of Oral Biology, Jenderal Soedirman University
3Department of Pharmacology, Jenderal Soedirman University

Address of correspondence: Dental Medicine of Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java, Indonesia, 53122. Email: dentisgirllea@yahoo.co.id

ABSTRACT
Non-Hodgkin's lymphoma occurs because of a malignancy of lymphoid tissue, and proliferates T-cell lymphocytes and B cells in the tumor clonally. Symptoms experienced by patients are intra-abdominal mass, pleural effusion, dysphagia, swelling at the head and neck area, enlarged lymph nodes, fever, night sweats, and weight loss. Treatment can be done by chemotherapy. The side effect of chemotherapy is oral mucositis. The purpose of this study is describing the phase of oral mucositis in children who are undergoing chemotherapy. The methode was a cross sectional study. The sampling method that is used was accidental sampling method. The results showed that the type of decryption of oral mucositis lesions arising induction phase is red with white edges, round, totaling ≥ 1, located on the buccal and labial mucosa. Oral mucositis descriptions that appear in the induction phase is grade 1 lesions arising in red with white edges, round, totaling ≥ 1, located on the buccal and labial mucosa. The consolidation phase is characterized by reddish lesions with ulcers in about 0.5 mm, sometimes covered with white plaques, colored red, and size> lcm. Located at the corners of the mouth, the buccal mucosa, dorsal, ventral, lateral tongue and numbered> l. Description of oral mucositis in the consolidation phase is grade 1.3, 4. In the maintenance phase patients had mild pain with reddish lesion white edged, round, located on the labial mucosa and buccal mucosa. Oral mucositis descriptions that appear in this phase are grade 1. Suggestions in the study are the need more complete data from the study to support the informant in order to make the data more complete and accurate.

Keywords : Non-Hodgkin's Lymphoma, a description of oral mucositis phases, children
Bibliography : 11 (2000- 2011)
457914381G1D011075HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL PONDOK PESANTREN DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL IHYA ULUMADIN KESUGIHAN CILACAPHUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DI PONDOK PESANTREN DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA REMAJA SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL IHYA ULUMADDIN KESUGIHAN CILACAP
Ulfahtun Sani Khasanah1, Eva Rahayu2, Asep Iskandar3.

ABSTRAK

Latar Belakang: Remaja merupakan tahapan dimana individu berada antara usia anak dan usia dewasa. Umumnya pada usia remaja, seseorang tinggal bersama keluarganya. Namun, beberapa remaja memilih tingggal di pondok pesantren untuk memperdalam ilmu agama Islam. Kehidupan di pondok pesantren memberikan dilematika tersendiri pada remaja, apabila remaja tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan pondok pesantren, akan berakibat pada kekacauan dari dalam diri remaja. Kehidupan pondok pesantren yang menuntut kepatuhan pada remaja santri dapat diimbangi apabila remaja santri memiliki kecerdasan emosional yang baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional adalah dukungan sosial. Oleh karena itu, dukungan sosial pondok pesantren sangat dibutuhkan untuk menghadapi permasalahan yang timbul di usia remaja.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan positif antara dukungan sosial pondok pesantren dengan kecerdasan emosional pada remaja santri.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 96 santri. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kecerdasan emosional dan dukungan sosial. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji spearman.
Hasil: Hasil menunjukan nilai p-value sebesar 0,008 dan nilai korelasi 0,268. Hal ini memiliki arti terdapat hubungan yang positif antara dukungan sosial pondok pesantren dengan kecerdasan emosional remaja santri di pondok pesantren dengan kekuatan lemah.
Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial pondok pesantren dengan kecerdasan emosional remaja santri di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap.

Kata Kunci: dukungan sosial, kecerdasan emosional, remaja santri

1Mahasiswa Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
2Praktisi Pendidikan Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
3Praktisi Pendidikan Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

THE RELATIONSHIP BETWEEN SOCIAL SUPPORT ISLAMIC BOARDING HOUSE WITH EMOTIONAL INTELLIGENCE ADOLESCENT STUDENTS IN AL IHYA ULUMADDIN BOARDING HOUSE KESUGIHAN CILACAP
Ulfahtun Sani Khasanah1, Eva Rahayu2, Asep Iskandar3


ABSTRACT

Background: Adolescence is a stage where people are between the age of the child and adult. Generally in adolescence, the person living with his family. However, some teens choose live in boarding school to deepen their knowledge of Islam. Life at the boarding school provides its own dilemmain adolescents, if teenagers can not adjust to the boarding school environment, it will result in the chaos of the adolescent. Life of boarding schools that require adherence in adolescents students can be offset if the adolescent students have good emotional intelligence. One of the factors that affect the emotional intelligence is social support. Therefore, social support from Islamic boarding house is needed to deal with the problems that arise in adolescence.
Purpose: This research is aimed to analyze relation between social support in Islamic boarding house with emotional intelligence in adolescent.
Method: This research used cross sectional design and simple random sampling for taking 96 respondents as the sample. This research used emotional intelligence questionnaire and social support questionnaire. Then, the data was analyzed statistically by the spearman test.
Result: This research result show p-value for 0,008 and correlation value 0,268 and this it reflects a positive correlation. Thus, there was positive relation between social support Islamic boarding house and emotional intelligence for adolescent student in Islamic boarding house with low strength.
Conclusion: There is significant positive relation between social support Islamic boarding house and emotional intelligence for adolescent in Al Ihya Ulumaddin Islamic Boarding House Kesugihan Cilacap.

Keywords: Social support, emotional intelligence, adolescent

1Student of Nursing Major in Jendral Soedirman University
2Lecturer of Nursing Major of Health scienes Faculty in Jendral Soedirman University
3Lecturer of Nursing Major of Health scienes Faculty in Jendral Soedirman University
458014382G1F012047VALUASI PENGGUNAAN OBAT PROFILAKSIS STRESS ULCER PADA PASIEN DI BANGSAL PENYAKIT DALAM RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOPenggunaan obat penekan asam lambung sebagai stress ulcer prophylaxis (SUP) mencapai 20-25% pada pasien non-critically ill. Penggunaan obat penekan asam lambung yang tidak sesuai mencapai 62%-67% sehingga beresiko terjadi efek samping obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peresepan obat penekan asam lambung untuk SUP, kesesuian pemberian terapi dan interaksi obat potensial yang beresiko terjadi.
Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif pada pasien rawat inap di bangsal mawar RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode Mei 2015. Data rekam medik 80 pasien diambil secara retrospektif dengan simple random sampling. Analisis data secara deskriptif untuk mengetahui ketepatan indikasi dan dosis berdasarkan ASHP (1999) dan interaksi obat menggunakan Drug Interaction Fact (2006).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis obat SUP yang digunakan adalah ranitidin (63%), omeprazole (22%), lansoprazole (8%), antasid (3%), sukralfat (2%), dan pantoprazole (1%). Persentase ketepatan indikasi pemberian terapi SUP dengan guideline sebanyak 32,5%, dengan persentase kesesuaian dosis obat SUP sebanyak 18%. Kejadian interaksi obat potensial sebanyak 19%. Obat profilaksis stress ulcer yang sering berinteraksi adalah ranitidin dengan ketorolak.
The use of gastric acid suppresant drug like H2RA and PPI as stress ulcer prophylaxis (SUP) was up to 20-25% in non-critically ill patient. Inappropriate use of acid suppressant drugs up to 62%-67% and potentially causing adverse drug reaction risk. This research was aimed to know about gastric acid suppresant drug prescribing for SUP, appropriateness of therapy and potential drug interactions.
This research used descriptive observational design of inpatient in Mawar Ward of RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto in May 2015 period. Medical record of 80 patients were taken retrospectively by simple random sampling. Data were analyzed descriptively to know about appropriateness of indication and dose using ASHP (1999) and drug interaction using Drug Interaction Fact (2006).
The result showed that SUP drug used were ranitidine (63%), omeprazole (22%), lansoprazole (8%), antacids (3%), sucralfate (2%) and pantoprazole (1%). Percent of indication appropriateness was 32,5%, with percent of dose appropriateness was 18%. Occurrence of the potential drug interaction was 19%. Stress ulcer prophylaxis drugs which often causing drug interaction were ranitidine and ketorolac.