Artikelilmiahs

Menampilkan 45.721-45.740 dari 48.749 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4572149092H1A021016PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI KONTROL DIGITAL BERBASIS PLC DAN HMI PADA RETROFITTING MESIN EPS SHAPE MOLDING (1996) UNTUK OPTIMALISASI PRODUKSI POLYFOAMPenelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya downtime dan keterbatasan kinerja mesin EPS Shape Molding (1996) yang masih mengandalkan sistem kontrol konvensional electromechanical. Permasalahan utama meliputi kesulitan pengaturan parameter produksi, ketersediaan suku cadang, serta inkonsistensi kualitas polyfoam. Tujuan penelitian ialah merancang dan mengimplementasikan sistem kontrol digital berbasis PLC Omron NX1P2 dan HMI Weintek MT8102iP untuk meningkatkan efisiensi, keandalan, dan kualitas produksi. Metode yang digunakan mencakup perancangan ulang electrical wiring diagram, pemrograman ladder logic di Sysmac Studio, dan pembuatan antarmuka operator menggunakan EasyBuilder Pro. Implementasi meliputi penggantian hardware lama, rewiring, instalasi PLC-HMI, serta pengujian konektivitas, fungsi operasi manual, dan mode operasi otomatis. Evaluasi performa menggunakan analisis rekam data produksi pra dan pasca retrofit dengan standar Overall Equipment Effectiveness (OEE). Hasil menunjukkan peningkatan laju produksi dari 0,644 menjadi 0,694 produk baik per menit, penurunan total waktu breakdown dari 660 menjadi 555 menit dalam tiga bulan, serta kenaikan OEE hingga mendekati 100 % (Quality > 99 %, Availability hingga 99,81 %, Performance > 100 %). Produktivitas operator bertambah dari rata-rata 38 unit/jam menjadi 42,75 unit/jam. Kesimpulannya, penerapan sistem kontrol digital signifikan memperbaiki efisiensi operasional, stabilitas proses, dan konsistensi kualitas polyfoam, sekaligus memperpanjang usia pakai mesin tanpa modifikasi struktural besar.This study was motivated by the high downtime and limited Performance of the EPS Shape Molding machine (1996), which still relies on a conventional electromechanical control system. The main problems include difficulties in setting production parameters, Availability of spare parts, and inconsistency in the quality of polyfoam. The objective of this study is to design and implement a digital control system based on Omron NX1P2 PLC and Weintek MT8102iP HMI to improve production efficiency, reliability, and quality. The methods used include redesigning the electrical wiring diagram, programming ladder logic in Sysmac Studio, and creating an operator interface using EasyBuilder Pro. The implementation involved replacing old hardware, rewiring, installing the PLC-HMI, and testing connectivity, as well as manual and automatic operation modes. Performance evaluation was conducted using production data analysis before and after the retrofit, with the Overall Equipment Effectiveness (OEE) standard as a benchmark. Results showed an increase in production rate from 0.644 to 0.694 good products per minute, a reduction in total breakdown time from 660 to 555 minutes over three months, and an increase in OEE to nearly 100% (Quality > 99%, Availability up to 99.81%, Performance > 100%). Operator productivity increased from an average of 38 units per hour to 42.75 units per hour. In conclusion, the implementation of the digital control system has significantly improved operational efficiency, process stability, and quality consistency of polyfoam while extending the machine's service life without requiring major structural modifications.
4572249093L1A021094Potensi Ekspor Udang Melalui Penilaian Daya Saing Produk Udang Indonesia di Pasar InternasionalPenelitian ini berjudul “Potensi Ekspor Udang Melalui Penilaian Daya Saing Produk
Udang Indonesia di Pasar Internasional”. Berkembangnya ekonomi Indonesia saat ini
disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi global yang didorong oleh perdagangan
internasional. Impor dan eskpor barang merupakan salah satu elemen penting dalam
perdagangan internasional. Produk industri perikanan dan kelautan memiliki peluang yang
cukup besar dalam meningkatkan ekspor Indonesia. Komoditas udang termasuk kedalam
sepuluh komoditas unggulan ekspor Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui
penilaian daya saing komparatif dan kompetitif ekspor produk udang Indonesia di pasar
internasional. Materi yang digunakan pada penelitian ini merujuk pada data statistik
perdagangan internasional (ITC) berupa jenis data tahunan selama kurun waktu 2020-2024.
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Revealed Comparative Advantage (RCA)
dan Constant Market Share Analysis (CMSA). Didapatkan hasil analisis penilaian daya
saing komparatif ekspor udang Indonesia menunjukkan indeks RCA sebesar 1,22.
Sedangkan, hasil analisis penilaian daya saing kompetitif ekspor udang Indonesia
menunjukkan nilai efek komposisi sebesar -38.507, nilai efek distribusi pasar sebesar
65.878, nilai efek daya saing sebesar -43.131, dan didapatkan hasil akhir nilai CMSA
sebesar -15.760. Strategi yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan
ekspor udang Indonesia di pasar internasional, antara lain dengan meningkatkan volume
dan daya saing ekspor, serta perluasan pangsa pasar baru melalui penguatan kerja sama.
KATA KUNCI: Potensi udang; daya saing produk; ekspor; RCA; CMSA
This research is entitled “Shrimp Export Potential Through Assessment of Competitiveness of
Indonesian Shrimp Products in the International Market”. Indonesia's current economic
development is caused by global economic growth driven by international trade. Import and export
of goods is one of the important elements in international trade. Fisheries and marine industry
products have considerable opportunities in increasing Indonesia's exports. Shrimp commodities
are included in the ten leading Indonesian export commodities. The purpose of this study was to
determine the assessment of comparative competitiveness and competitive exports of Indonesian
shrimp products in the international market. The material used in this study refers to international
trade statistics (ITC) data in the form of annual data types during the period 2020-2024. The
methods used in this study are Revealed Comparative Advantage (RCA) and Constant Market
Share Analysis (CMSA). The results of the comparative competitiveness assessment analysis of
Indonesian shrimp exports showed an RCA index of 1.22. Meanwhile, the results of the analysis of
the assessment of the competitive competitiveness of Indonesian shrimp exports showed a
composition effect value of -38,507, a market distribution effect value of 65,878, a competitiveness
effect value of -43,131, and obtained the final CMSA value of -15,760. Strategies that can be
implemented by the Indonesian government to increase Indonesian shrimp exports in the
international market include increasing the volume and competitiveness of exports, as well as
expanding new market shares through strengthening cooperation.
KEYWORDS: Shrimp potential; product competitiveness; export; RCA; CMSA
4572349094C2C023042Pengaruh Gaya Hidup Hedonis, Gaya Hidup Sehat Dan Pengaruh Sosial Terhadap Partisipasi Runners Pada Kegiatan Lari Dengan Usia Dan Gender Sebagai Variabel Moderasi (Studi Pada Anggota Komunitas Banyumas Runners) Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya hidup hedonis, gaya hidup sehat, dan pengaruh sosial terhadap partisipasi dalam event lari. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui aplikasi SmartPLS. Responden dalam penelitian ini berjumlah 160 anggota aktif Banyumas Runners, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Penelitian menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data dengan skala likert 1-5.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis berpengaruh positif terhadap partisipasi (β = 0,432; p < 0,001), diikuti oleh gaya hidup sehat (β = 0,298; p < 0,001), sedangkan pengaruh sosial memberikan kontribusi lebih kecil namun tetap signifikan (β = 0,121; p = 0,049). Implikasi dalam penelitian ini meliputi penyelenggaraan kegiatan bertema eksklusif, berkolaborasi dengan brand makanan sehat, klinik, gym, atau komunitas nutrisi, serta memanfaatkan pengaruh sosial dengan membuat kompetisi antar komunitas dan menyelenggarakan system pendaftaran dengan referral. Saran bagi penelitian selanjutnya untuk dapat mempertimbangkan penggunaan variabel moderasi atau mediasi seperti cakupan demografi, status sosial dan lain sebagainya supaya memperkaya model penelitian dan hasil yang lebih luas.
This study aims to examine the influence of hedonistic lifestyle, healthy lifestyle, and social influence on participation in a running community. A quantitative approach was employed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) via the SmartPLS application. A total of 160 active members of Banyumas Runners were selected as respondents using purposive sampling technique. The research used a questionnaire as a data collection instrument with a Likert scale of 1-5.
The results of the study showed that hedonic lifestyle had a significant positive effect on participation (β = 0.432; p < 0.001), followed by healthy lifestyle (β = 0.298; p < 0.001), while social influence contributed less but remained significant (β = 0.121; p = 0.049). The implications in this study include organizing exclusive themed activities, collaborating with healthy food brands, clinics, gyms, or nutrition communities, and utilizing social influence by creating competitions between communities and organizing a registration system with referrals. Suggestions for further research are to consider the use of moderating or mediating variables such as demographic coverage, social status etc. to enrich the research model and broader results.
4572449095C1C019065ANTESEDEN KEPUTUSAN INVESTASI DIGITAL DI PASAR MODAL INDONESIAInvestasi di pasar modal pada saat ini mengalami peningkatan yang cukup siginifikan, walaupun jika dibandingkan dengan negara lain jumlah investor pasar modal di indonesia masih tergolong rendah. Mayoritas investor pasar modal berasal dari kalangan generasi z dan milenial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perceived usefulness, perceived ease of use, literasi keuangan, financial experience, dan persepsi keamanan terhadap keputusan investasi digital di pasar modal indonesia. Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat Purwokerto yang tergabung dalam grup investor saham Purwokerto.Sampel pada penelitian ini sebanyak 180 anggota yang tergabung dalam grup investor saham Purwokerto. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan kuesioner. Data dianlaisis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) perceived usefulness berpengaruh positif terhadap keputusan investasi digital; (2) perceived ease of use berpengaruh positif terhadap keputusan investasi digital; (3) literasi keuangan tidak berpengaruh terhadap keputusan investasi digital; (4) financial experience tidak berpengaruh terhadap keputusan investasi digital; (5) persepsi keamanan berpengaruh positif terhadap keputusan investasi digital. Implikasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola keuangan dan kemajuan teknologi berdampak positif terhadap keputusan investasi di pasar modal. Pemahaman keuangan membantu individu menghindari kerugian dan merencanakan investasi lebih baik, sedangkan teknologi mempermudah akses informasi, transaksi, dan pemantauan portofolio secara real-time, sehingga mendukung pengambilan keputusan investasi yang lebih tepat.Investment in the capital market in Indonesia has been experiencing a significant increase in recent years. However, compared to other countries, the number of capital market investors in Indonesia remains relatively low. The majority of these investors belong to Generation Z and the millennial generation. This study aims to examine the influence of perceived usefulness, perceived ease of use, financial literacy, financial experience, and security perception on digital investment decisions in the Indonesian capital market. The population of this research consists of individuals residing in Purwokerto who are members of the Purwokerto stock investor group. The sample comprises 180 members selected from this investor group. Data were collected through questionnaires. The data were then analyzed using multiple linear regression analysis. The results of the study indicate that: (1) perceived usefulness has a positive influence on digital investment decisions; (2) perceived ease of use has a positive influence on digital investment decisions; (3) financial literacy does not have a significant influence on digital investment decisions; (4) financial experience does not have a significant influence on digital investment decisions; (5) security perception has a positive influence on digital investment decisions.
The implications of this research suggest that the ability to manage personal finances and the advancement of technology have a positive impact on investment decisions in the capital market. Financial literacy enables individuals to avoid losses and to plan investments more effectively, while technology facilitates access to information, transactions, and real-time portfolio monitoring, thereby supporting more informed and accurate investment decision-making.
4572549096L1A021001Implementasi Model Berlian Porter dalam Strategi Pemasaran Benih Ikan BandengPenelitian ini berfokus pada Implementasi Model Porter di Industri Perikanan Indonesia,
khususnya industri pengolahan hasil perikanan, untuk meningkatkan kebutuhan protein
nasional dan pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan industri perikanan bergantung pada faktor
internal seperti kualitas sumber daya manusia, fasilitas produksi, dan efisiensi proses, serta
faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah, dinamika pasar, dan persaingan dengan produk
lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang
mempengaruhi kualitas perikanan dan manajemen perikanan di Indonesia dan menerapkan
Model Porter untuk meningkatkan efisiensi dan strategi perikanan. Penelitian ini menggunakan
analisis SWOT, Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM), dan perencanaan strategis
berdasarkan Model Porter, yang meliputi faktor, kondisi, kondisi industri, struktur, dan harga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki fokus pada kualitas produk, fasilitas,
dan sumber daya pemerintah, tetapi masih menghadapi tantangan dalam promosi digital,
regenerasi SDM, dan kinerja perikanan. Penerapan model Porter membantu Indonesia
mengembangkan strategi yang efektif untuk meningkatkan efisiensi perikanan dan memenuhi
kebutuhan sektor perikanan.
The study focuses on the implementation of the Porter Model in the Indonesian Fisheries
Industry, specifically fisheries processing industries, to improve national protein needs and
economic growth. The success of fisheries depends on internal factors such as human resource
quality, production facilities, and process efficiency, as well as external factors like
government policies, market dynamics, and competition with other products. The research
aims to identify internal and external factors influencing fisheries quality and fisheries
management in Indonesia and implement the Porter Model to enhance fisheries efficiency and
strategy. The study uses SWOT analysis, Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM), and
strategic planning based on the Porter Model, which includes factors, conditions, industry
conditions, structure, and pricing. The results show that Indonesia has a focus on product
quality, facilities, and government resources, but still faces challenges in digital promotion,SDM regeneration, and fisheries performance. The implementation of Porter's model helps
Indonesia develop effective strategies to increase fisheries efficiency and meet the needs of the
fisheries sector.
4572649098H1A021052ANALISIS SISTEM EKSITASI DAN KINERJA GENERATOR SINKRON UNIT 7, 8 DAN 9 PLTU PT.INDONESIA MOROWALI INDUSTRIAL PARK DAN PT.INDONESIA TSINGSHAN STAINLEES STEELTenaga listrik merupakan kebutuhan vital bagi industri, dan kualitas sistem tenaga listrik yang buruk dapat menyebabkan kerugian besar. Beban listrik di kawasan industri sering berubah-ubah, sehingga generator harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Salah satu sistem penting dalam generator adalah sistem eksitasi, yang berfungsi menjaga stabilitas tegangan keluaran.
PLTU PT Indonesia Morowali Industrial Park dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel merupakan pembangkit besar yang menopang kawasan industri, sehingga kualitas sistem eksitasi harus optimal agar generator bekerja andal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik sistem eksitasi dan kinerja generator sinkron unit 7, 8, dan 9 di kedua PLTU tersebut. Dengan memahami karakteristik eksitasi, dapat dicegah gangguan akibat eksitasi yang berlebihan atau kurang, sehingga generator tetap beroperasi optimal.
Electric power is a vital necessity for industries, and poor power system quality can lead to significant losses. Electrical loads in industrial areas often fluctuate, requiring generators to adapt accordingly. One of the crucial systems in a generator is the excitation system, which functions to maintain output voltage stability.
PLTU PT Indonesia Morowali Industrial Park and PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel are major power plants supporting the industrial area. Therefore, the excitation system must operate optimally to ensure reliable generator performance. This study aims to analyze the characteristics of the excitation system and the performance of synchronous generators in units 7, 8, and 9 at these power plants. By understanding excitation characteristics, disruptions caused by excessive or insufficient excitation can be prevented, ensuring optimal generator operation
4572749051B1A021029Pengaruh Tipe Media dan Konsentrasi NAA pada Perakaran Putative Mutant Tebu Kultivar NXI 1-3-401 dan Kelulusan Hidupnya pada Tahap AklimatisasiTanaman tebu (Saccharum officinarum L.) adalah tanaman bernilai ekonomi tinggi sebagai bahan baku gula. Produksi gula Indonesia tahun 2023 sebesar 2,27 juta ton tidak mampu memenuhi konsumsi domestik 7,6 juta ton. Oleh karena itu diperlukan pengembangan varietas tebu unggul untuk meningkatkan produksi gula nasional. Pembentukan plantlet dan aklimatisasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam kultur in vitro. Perakaran harus dioptimalkan agar plantlet dapat diaklimatisasi dengan baik di lingkungan luar kultur. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh interaksi antara tipe media dan konsentrasi NAA pada perakaran tebu putative mutant tebu NXI 1-3-401 dalam kultur in vitro; 2) menentukan tipe media dan konsentrasi NAA terbaik untuk memacu perakaran tebu putative mutant tebu NXI 1-3-401 dalam kultur in vitro; dan 3) Menguji tingkat kelulusan hidup tebu putative mutant tebu NXI 1-3-401 pada tahap aklimatisasi. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah tipe media (media padat dengan 8 g.L-1 agar, media padat dengan 2,5 g.L-1 phytagel, media cair dengan filter paper bridge, media cair dengan spons). Faktor kedua adalah konsentrasi NAA dengan taraf 0; 5; 10; dan 15 µM. Setiap kombinasi perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Variabel bebas yang dicobakan adalah tipe media dan konsentrasi NAA. Variabel terikat yang diamati adalah pembentukan plantlet dan kelulusan hidupnya pada tahap aklimatisasi. Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar, dan persentase lolos hidup. Data yang diperoleh dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) pada tingkat kesalahan 5% dan 1%, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan faktor mandiri tipe media berpengaruh sangat nyata terhadap parameter jumlah tunas, jumlah daun, dan jumlah akar. Plantlet tebu putative mutant NXI 1-3-401 dari semua perlakuan tidak mampu bertahan hidup pada tahap aklimatisasiSugarcane (Saccharum officinarum L.) is a of high economic value plant used as a raw material for sugar production. Indonesia's sugar production in 2023 was 2.27 million tons, which was far below domestic consumption of 7.6 million tons. Therefore, it is necessary to develop superior sugarcane varieties to increase national sugar production. Plantlet development and acclimatization are critical stages in in vitro culture. The rooting has to be optimized so that the plantlets can be acclimatized well in the outside culture environments. This research has been conducted with the aims to: 1) determine the effect of the interaction between media type and NAA concentrations on the rooting of sugarcane NXI 1-3-401 putative mutant in in vitro culture; 2) determine the best type of media and NAA concentration to stimulate sugarcane NXI 1-3-401 putative mutant rooting in in vitro culture; and 3) test the survival rate of sugarcane NXI 1-3-401 putative mutant plantlets in the acclimatization stage. This study has been conducted experimentally using a two-factor factorial completely randomized design (CRD). The first factor was media type (solid media with 8 g.L-1 agar, solid media with 2.5 g.L-1 phytagel, liquid media with filter paper bridge, liquid media with sponge). The second factor was NAA concentration consisting 0, 5, 10, and 15 µM. Each treatment combination was repeated 3 times,
which resulted in 48 experimental units. The independent variables tested were media types and NAA concentrations. The dependent variables observed were plantlet formation and their survival in the acclimatization stage. The parameters observed included the number of shoots, leaves, and roots and the percentage of plantlets survival rates. The data obtained were analyzed using an analysis of variance (ANOVA) at 5% and 1% error levels and continued with Duncan's Multiple Range Test at a 5% error level. The results showed that the independent factor of media types significantly controlled the number of shoots, leaves, and roots formed. Unfortunately, all sugarcane NXI 1-3-401 putative mutant plantlets failed to survive at the acclimatization stage.
4572849100K1C021020ANALISIS NILAI DIAGNOSTIC REFERENCE LEVEL (DRL) BERDASARKAN BODY MASS INDEX (BMI) DAN JENIS KELAMIN PADA PEMERIKSAAN DIGITAL SUBTRACTION ANGIOGRAPHY (DSA) CEREBRALBesarnya dosis radiasi yang diterima pasien pada pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) Cerebral sangat beragam dan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya karakteristik pasien berupa nilai BMI dan jenis kelamin. Diperlukan pemantauan rutin berupa pengukuran DRL untuk memastikan dosis yang diterima tidak melebihi nilai batas yang ditetapkan BAPETEN. Dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menentukan nilai DRL lokal dan nasional pemeriksaan DSA di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto dan menganalisis variabel yang berpengaruh. Metode penelitian kuantitatif deskriptif dengan data retrospektif bulan Januari 2025. DRL lokal ditetapkan pada kuartil ke-2 sebaran dosis radiasi berupa DAP, air kerma, dan fluorotime, sedangkan DRL nasional pada kuartil ke-3 yang selanjutnya dibandingkan dengan standar nilai batas dosis. Diperoleh 40 data dosis pasien klasifikasi 10 pasien BMI normal, 8 pasien kelebihan berat badan, dan 22 pasien obesitas, serta 22 pasien laki-laki dan 18 pasien perempuan. Hasil penelitian menunjukan nilai DRL lokal dan nasional yaitu DAP 81,29 mGycm2 dan 96,87 mGycm2, air kerma 349,59 mGy dan 4552,60 mGy, dan fluorotime 252,5 s dan 357,5 s. Nilai dosis radiasi terhadap variabel BMI berbanding lurus dan pasien laki-laki menerima dosis lebih tinggi dibandingkan pasien perempuan. The amount of radiation dose received by patients during Cerebral Digital Subtraction Angiography (DSA) examination varies widely and is influenced by several factors, one of which is patient characteristics in the form of BMI and gender. Routine monitoring in the form of DRL measurements is needed to ensure that the dose received does not exceed the limit value set by BAPETEN. A study was conducted with the aim of determining the local and national DRL values for DSA examinations at the Margono Soekardjo Purwokerto Regional General Hospital and analyzing the influencing variables. The quantitative descriptive research method with retrospective data from January 2025. The local DRL was determined in the 2nd quartile of radiation dose distribution in the form of DAP, air kerma, and fluorotime, while the national DRL was in the 3rd quartile which was then compared with the standard dose limit value. 40 patient dose data were obtained, 10 patients with normal BMI, 8 overweight patients, and 22 obese patients, as well as 22 male patients and 18 female patients. The results showed local and national DRL values, namely DAP 81.29 mGycm2 and 96.87 mGycm2, air kerma 349.59 mGy and 4552.60 mGy, and fluorotime 252.5 s and 357.5 s. The radiation dose value to the BMI variable is directly proportional and male patients receive higher doses than female patients.
4572948945L1C021055KARAKTERISTIK REPRODUKSI IKAN GELODOK (FAMILI: GOBIIDAE) DI KAWASAN HUTAN MANGROVE
KARANGTALUN CILACAP
Ikan gelodok merupakan ikan khas dan unik di area mangrove yang penting bagi
penyeimbang ekosistem mangrove (keystone species) sehingga perlu adanya
ketersedian ikan ini dialam yaitu dengan proses reproduksi. Tujuan penelitian
ini yaitu mengetahui karakteristik reproduksi (TKG, IGS, rasio kelamin, dan
fekunditas) serta menganalisis histologi gonad ikan gelodok yang ditemukan di
Kawasan Hutan Mangrove Karangtalun. Metode penelitian ini meliputi metode
purposive sampling untuk menentukan stasiun penelitian berdasarkan
karakteristik lokasi. Ikan gelodok yang didapatkan dilakukan pengukuran
panjang, berat, identifikasi kelamin, pembedahan, penimbangan gonad dan
penghitungan jumlah telur, serta pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Jumlah ikan
gelodok yang ditemukan di kedua stasiun sebanyak 119 ekor dengan rasio
kelamin jantan dan betina dikategorikan seimbang yaitu 1,13:1. TKG ikan
gelodok jantan dan betina yaitu I-IV dengan nilai IGS 0-1,9% (jantan) dan 0-4,7%
(betina). Nilai fekunditas dikategorikan sedang sampai tinggi dengan TKG III
(4.088 ± 2.680 butir) dan TKG IV (10.142 ± 2808 butir). Histologi ikan gelodok
jantan TKG I (spermatogonium dan spermatosit primer), TKG II (spermatosit
primer dan sekunder), TKG III (spermatosit sekunder dan spermatid), dan TKG
IV (spermatid dan spermatozoa). Sedangkan, ikan gelodok betina TKG I (oosit
primer), TKG II (oosit sekunder), TKG III (oosit sekunder dan ootid), dan TKG
IV (ootid).
Gelodok fish is a typical and unique fish in mangrove areas that is important for
balancing mangrove ecosystems (keystone species) so it is necessary to have the
availability of this fish in nature, namely by the process of reproduction. The
purpose of this study was to determine the reproductive characteristics (TKG,
IGS, sex ratio, and fecundity) and analyze the histology of the gonads of
spadefish found in the Karangtalun Mangrove Forest Area. This research method
includes purposive sampling method to determine research stations based on
location characteristics. The frogfish obtained were measured for length, weight,
sex identification, dissection, gonad weighing and egg count, and Hematoxylin-
Eosin staining. The number of skinks found at both stations was 119 with a sex
ratio of males and females categorized as balanced at 1.13:1. TKG of male and
female frogfish are I-IV with IGS values of 0-1.9% (males) and 0-4.7% (females).
Fecundity values were categorized as medium to high with TKG III (4,088 ± 2,680
grains) and TKG IV (10,142 ± 2808 grains). Histology of TKG I (spermatogonium
and primary spermatocytes), TKG II (primary and secondary spermatocytes),
TKG III (secondary spermatocytes and spermatids), and TKG IV (spermatids and
spermatozoa). Meanwhile, female octopus TKG I (primary oocytes), TKG II
(secondary oocytes), TKG III (secondary oocytes and ootids), and TKG IV
(ootids).
4573049102C1B021036ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN DAN RANTAI NILAI PEMASARAN PADA PENGEMBANGAN PRODUK PAKAN TERNAK BERBASIS MAGGOT (STUDI KASUS DI DESA SALEM KABUPATEN BREBES)Penelitian ini mengkaji preferensi konsumen, rantai nilai pemasaran, dan strategi efektif untuk mempromosikan pakan ternak berbasis maggot di Desa Salem, Brebes. Meskipun memiliki manfaat bagi pertumbuhan ternak dan efisiensi biaya, minat konsumen masih rendah. Faktor utama yang memengaruhi pembelian meliputi harga, ketersediaan, manfaat, dan akses informasi. Distribusi masih belum optimal karena jangkauan pasar yang terbatas dan sistem logistik yang belum terstruktur, meskipun terdapat nilai tambah melalui proses fermentasi dan pengemasan. Strategi yang disarankan meliputi edukasi petani, kerja sama dengan pemerintah desa dan BUMDes, serta pemberian insentif bagi yang mengadopsi pakan ini. Studi ini mendorong pemerintah desa untuk mendukung budidaya maggot sebagai solusi pakan berkelanjutan
dan pengelolaan limbah, serta mendorong petani untuk mempertimbangkan maggot sebagai alternatif pakan yang lebih hemat biaya.
This study examines consumer preferences, the marketing value chain, and effective strategies for promoting maggot-based livestock feed in Salem Village, Brebes. Despite its benefits for livestock growth and cost efficiency, consumer interest remains low. Key factors influencing purchases include price, availability, benefits, and information access. Distribution is still suboptimal due to limited market reach and unstructured logistics, though value is added through fermentation and packaging. Recommended strategies include farmer education, collaboration with the village government and BUMDes, and incentives for adoption. The study urges local authorities to support maggot cultivation as a sustainable feed and waste solution, while encouraging farmers to consider it as a cost-saving alternative.
4573149103I1C021046Formulasi dan Uji Aktivitas Gel Kombinasi Ekstrak Sambiloto (Andrographis Paniculata) dan Lidah Buaya (Aloe Vera) terhadap Panjang Luka Sayat dan Reepitalisasi EpidermisAbstrak
Sambiloto (Andrographis paniculata) dan lidah buaya (Aloe vera) mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid yang memiliki efek terhadap penyembuhan luka sayat dengan meningkatkan reepitelisasi pada area luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas gel kombinasi ekstrak sambiloto dan lidah buaya terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus berdasarkan panjang luka dan reepitalisasi epidermis. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental laboratorium. Penelitian dilakukan dengan formulasi sediaan gel kombinasi ekstrak etanol sambiloto dan lidah buaya yang dilanjutkan uji efektivitas pada enam kelompok perlakuan. Sediaan gel dibuat sebanyak empat formula meliputi formula gel kombinasi ekstrak sambiloto (5%, 10%, 15%) dan lidah buaya (15%) serta formula kontrol negatif berupa gel tanpa ekstrak sambiloto dan lidah buaya. Uji efektivitas dilakukan pada enam kelompok perlakuan meliputi kelompok perlakuan yang diberikan gel kombinasi ekstrak sambiloto dan lidah buaya, kelompok kontrol negatif yang diberikan gel tanpa ekstrak sambiloto dan lidah buaya, kelompok kontrol positif yang diberikan povidone iodine cair 10%, serta kelompok kontrol normal yang tidak diberi perlakuan luka sayat dan pemberian gel. Pengamatan dilakukan untuk mendapatkan persentase penyembuhan luka sayat dan skor reepitalisasi epidermis. Data dianalisis menggunakan uji nonparametrik Kruskall-Wallis. Gel kombinasi ekstrak sambiloto 10% dan lidah buaya 10% memiliki persentase penyembuhan luka sayat (77,50%) dan skor reepitalisasi epidermis (1,95) yang paling tinggi dari semua kelompok variasi konsentrasi ekstrak sambiloto. Formula FII yang mengandung kombinasi ekstrak sambiloto 10% dan lidah buaya 10% memiliki aktivitas penyembuhan luka sayat yang paling baik berdasarkan panjang luka dan reepitalisasi epidermis.
Andrographis paniculata and Aloe vera are medicinal plants containing secondary metabolites such as flavonoids, saponins, tannins, and terpenoids, which aid wound healing by supporting cell proliferation and enhancing epidermal reepithelialization. This study aimed to evaluate the wound healing activity of a gel formulated with ethanol extracts of A. paniculata and A. vera on incision wounds in white rats using a laboratory experimental method. A gel combining ethanol extracts of A. paniculata and A. vera was tested in six treatment groups. Four gel formulas were prepared: three with A. paniculata extract (5%, 10%, 15%) and A. vera extract (15%), and one negative control without extracts. The six groups included the three extract combinations, a negative control (gel without extracts), a positive control (povidone iodine 10%), and a normal control (no incised wounds). Observations assessed wound healing percentage and epidermal reepithelialization scores. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis test. The gel with 10% A. paniculata and 10% A. vera showed the highest wound healing percentage (77.50%) and reepithelialization score (1.95). Formula FII, containing 10% ethanol extract of A. paniculata and A. vera, demonstrated the most effective wound healing based on wound length reduction and reepithelialization.
4573249104D1A021034PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG IKAN MENGGUNAKAN HIDROLISAT MAGGOT TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN BAHAN KERING PAKAN AYAM KUBPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh substitusi tepung ikan oleh hidrolisat maggot terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering pakan ayam KUB. Materi yang digunakan dalam penelitian meliputi DOC ayam Kampung Unggul Balitbangtan, maggot, probiotik lokal (Mix-C), pakan basal, hidrolisat tepung maggot, air minum, kandang baterai 25 unit, tempat pakan dan minum, dan tempat penampungan feses. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan, setiap ulangan terdiri atas 6 ekor ayam KUB. Perlakuan adalah: R0: 100% tepung ikan (10% dari total ransum); R1: 75% tepung ikan + 25% hidrolisat tepung maggot; R2: 50% tepung ikan + 50% hidrolisat tepung maggot; R3: 25% tepung ikan + 75% hidrolisat tepung maggot; R4: 100% hidrolisat tepung maggot (10% dari total ransum). Perlakuan yang berpengaruh nyata diuji lanjut menggunakan Uji Ortogonal Polinomial. Variabel penelitian yang diukur yaitu konsumsi dan kecernaan bahan kering pakan ayam KUB. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi bahan kering namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering pakan ayam KUB. Level terbaik penggunaan hidrolisat maggot sebagai pengganti tepung ikan adalah 3,75% dalam pakan ayam KUB umur 1-5 minggu ditinjau dari konsumsi bahan kering.The study aims to examine the effect of fish meal substitution by maggot hydrolysate on the consumption and digestibility of dry ingredients of KUB chicken feed. The materials used in the study included DOC chickens from Kampung Unggul Balitbangtan, maggots, local probiotics (Mix-C), basalt feed, hydrolysate maggot flour, drinking water, 25 units of battery cage, feed and drinking containers, and fecal shelters. The research design used was a Complete Random Design (RAL) with 5 treatments and 5 replicates, each replication consisted of 6 KUB chickens. The treatment was: R0: 100% fishmeal (10% of the total ration); R1: 75% fishmeal + 25% hydrolysate maggot flour; R2: 50% fishmeal + 50% hydrolysate maggot flour; R3: 25% fishmeal + 75% hydrolysate maggot flour; R4: 100% hydrolysate maggot flour (10% of the total ration). The treatment that had a real effect was further tested using the Polynomial Orthogonal Test. The variables of the study measured were the consumption and digestibility of dry ingredients of KUB chicken feed. The results of the variance analysis showed that the treatment had a very significant effect (P<0.01) on the consumption of dry ingredients but no real effect (P>0.05) on the digestibility of dry ingredients of KUB chicken feed. The best level of maggot hydrolysate use as a substitute for fishmeal is 3.75% in KUB chicken feed aged 1-5 weeks judging from the consumption of dry matter.
4573349110H1B021083Asesmen Dermaga Transportasi Laut Di Laguna Segara AnakanDi bagian selatan Pulau Jawa, di batas antara Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah,
terdapat sebuah laguna yang disebut Laguna Segara Anakan. Laguna ini terletak di Kabupaten
Cilacap dan Kabupaten Pangandaran yang mempunyai beberapa dermaga. Dermaga yang terdapat
pada Laguna Segara Anakan ini memiliki peranan signifikan sebagai tempat untuk menunjang
transportasi air berjalan dengan lebih mudah, serta berfungsi sebagai penghubung aktivitas ekonomi
di antara kedua daerah tersebut.Namun, untuk memperlancar aktivitas tersebut perlu adanya
pengkajian tentang ukuran dermaga dan kolam labuh, serta fasilitas untuk menunjang keamanan dan
kenyamanan dermaga. Metode penelitian yang digunakan meliputi survey sarana dan prasarana
dermaga, kedalaman kolam labuh dengan alat echo sounder, analisis kebutuhan dermaga berdsarkan
luas dermaga, serta analisis kelayakan kolam labuh dermaga berdasarkan ukuran standar. Hasil
penelitian menunjukan pada sarana dan prasanan dermaga Ujung Gagak, Majingklak, Klaces, dan
Ujung Alang banyak terdapat sarana dan prasana yang kurang lengkap. Berdasarkan jumlah
penumpang pertahun, untuk hasil analisis kebutuhan dermaga dari keempat dermaga dalam kategori
layak, hanya saja untuk kelayakan kolam labuh dermaga pada panjang kolam labuh dari masing –
masing dermaga belum memenuhi untuk kelayakannya. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan seperti
tindak lanjut terhadap fasilitas dermaga serta evaluasi terhadap ukuran kolam labuh yang ada disetiap
dermaga.
In the southern part of Java Island, at the border between West Java Province and Central
Java Province, there is a lagoon called Segara Anakan Lagoon. This lagoon is located in Cilacap
Regency and Pangandaran Regency, which have several jetties. The jetties in Segara Anakan Lagoon
play a significant role as facilities that support smoother water transportation and function as
connectors for economic activities between the two regions. However, to facilitate these activities, it
is necessary to conduct assessments on the size of the jetties and anchorage basins, as well as the
facilities needed to ensure safety and comfort at the jetties. The research methods used include surveys of the jetty facilities and infrastructure, measurement of anchorage basin depth using an echo
sounder, analysis of jetty requirements based on the area of the jetties, and feasibility analysis of the
anchorage basins based on standard dimensions. The research results show that the facilities and
infrastructure at Ujung Gagak, Majingklak, Klaces, and Ujung Alang jetties are generally
incomplete. Based on the annual number of passengers, the analysis of jetty requirements indicates
that all four jetties are categorized as feasible; however, the feasibility of the anchorage basins in
terms of their lengths at each jetty has not yet met the standards. Therefore, policies are needed to
follow up on jetty facilities and to evaluate the existing anchorage basin dimensions at each jetty.
4573449111I1B021076Gambaran Perilaku pada Anak Tunagrahita yang Mengikuti Latihan MenariLatar Belakang: Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif, yang sering ditunjukkan melalui perilaku agresif, impulsif, penarikan diri, serta kesulitan berinteraksi sosial. Salah satu bentuk stimulasi yang rutin diberikan untuk perubahan perilaku di sekolah inklusi adalah latihan menari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku anak tunagrahita yang mengikuti latihan menari.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Februari 2025. Jumlah responden terdiri dari 44 orang tua anak tunagrahita usia 6-12 tahun dengan teknik total sampling di SLB C dan C1 Yakut Purwokerto. Perilaku diukur menggunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) versi bahasa indonesia. Analisis data dilakukan secara univariat.
Hasil Penelitian: Anak yang mengikuti latihan menari menunjukkan kecenderungan perilaku yang lebih adaptif, dengan 57,1% berada dalam kategori normal. Sebaliknya, 55,6% anak yang tidak mengikuti latihan berada dalam kategori abnormal. Masalah perilaku yang paling menonjol terdapat pada domain peer problems, baik pada anak yang mengikuti maupun tidak mengikuti latihan menari.
Kesimpulan: Anak tunagrahita yang mengikuti latihan menari cenderung menunjukkan proporsi perilaku adaptif yang lebih tinggi berdasarkan hasil deskriptif dibandingkan yang tidak mengikuti. Latihan menari sebagai aktivitas rutin sekolah berpotensi mendukung perilaku adaptif anak tunagrahita.
Background: Children with intellectual disabilities often face challenges in both intellectual functioning and adaptive behavior, which may manifest as aggressive, impulsivity, social withdrawal, and difficulties in social interaction. In inclusive schools, dance practice is one of the structured activities regularly offered to support their behavioral development. This study aims to describe the behavioral characteristic of children with intellectual disabilities who participate in school-based dance practice.
Methods: This research used a descriptive quantitative design with a comparative approach. Participants included 44 parents of children with intellectual disabilities aged 6 to 12 years, selected through total sampling from SLB C and C1 Yakut Purwokerto. Children’s behavior was assessed using the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Data were analyzed using univariate analysis.
Results: Children who participated in dance practice tended to display more adaptive behavior, with 57,1% categorized as normal. In contrast, 55,6% of children who did not participated were classified as having abnormal behavior. Among all behavioral domain, peer-related problems were reported most frequently in both groups.
Conclusion: Children with intellectual disabilities who participated in dance practice at school showed a higher proportion of adaptive behavior based on descriptive analysis compare to those who do not. As a routine school activity, dance practice has the potential to support the development of adaptive behavior in children with intellectual disabilities.
4573549106C1L021026Pengaruh Magang Kependidikan, Kompetendi Digital, dan Efikasi Diri terhadap Kesiapan Menjadi Guru Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Jenderal SoedirmanPenelitian ini mengkaji kesenjangan antara harapan institusi dan pilihan karier lulusan Program Studi Pendidikan Ekonomi UNSOED, yang diperkuat oleh persepsi ketidaksiapan mahasiswa untuk menjadi guru. Bertujuan menganalisis pengaruh magang kependidikan, kompetensi digital, dan efikasi diri terhadap kesiapan mahasiswa menjadi guru, penelitian kuantitatif ini dilakukan pada tahun ajaran 2024/2025 dengan metode survei menggunakan kuesioner terhadap 81 mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah magang kependidikan. Analisis data menggunakan regresi linear berganda. Hasilnya menunjukkan bahwa magang kependidikan, kompetensi digital, dan efikasi diri secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menjadi guru. Namun, magang kependidikan secara parsial tidak berpengaruh signifikan, sementara kompetensi digital dan efikasi diri secara parsial berpengaruh positif dan signifikan. Penelitian ini merekomendasikan agar mahasiswa mengoptimalkan magang, meningkatkan kompetensi digital, dan efikasi diri. Program Studi Pendidikan Ekonomi perlu meninjau ulang kualitas magang, memperkuat kurikulum dan fasilitas digital, serta memaksimalkan kegiatan peningkatan efikasi diri. Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNSOED diharapkan mendukung dengan menyediakan infrastruktur digital, mendorong penelitian lanjutan, dan memfasilitasi kolaborasi dengan sekolah mitra.This research addresses the disparity between institutional expectations and the career choices of graduates from the Economics Education Study Program at UNSOED, further supported by the perceived unpreparedness of active students to become teachers. The study aims to analyze the influence of teaching internships, digital competence, and self-efficacy on the readiness of students to become teachers. This quantitative research, utilizing a survey approach, was conducted in the 2024/2025 academic year at the Economics Education Study Program, Faculty of Economics and Business, UNSOED. Data was collected via questionnaires from 81 students who had completed the teaching internship course, and analyzed using multiple linear regression.The results indicate that teaching internships, digital competence, and self-efficacy collectively have a positive and significant influence on the readiness of Economics Education students to become teachers. However, teaching internships alone did not show a significant partial influence, while digital competence and self-efficacy individually had a positive and significant partial influence. This study presents implications for the development of prospective teachers in Economics Education at UNSOED. Students are encouraged to optimize their internship experiences and enhance their digital competence and self-efficacy, as these three aspects are essential for preparing them to face educational challenges. The Economics Education Study Program needs to respond by designing an integrated curriculum that simultaneously improves students' internship experiences, digital competence, and self-efficacy; reviewing the quality of the internship program; strengthening digital curriculum and facilities; and maximizing activities that boost self-efficacy. Meanwhile, the Faculty of Economics and Business at UNSOED is expected to support by providing digital infrastructure, encouraging further research related to graduate readiness, and facilitating collaborations with partner schools to ensure the relevance of internships and career information.
4573649105C1C021085Pengaruh Reputasi Kantor Akuntan Publik dan Good Corporate Governance terhadap Kualitas Audit pada Perusahaan BUMN yang Terdaftar di Bursa Efek IndonesiaStudi ini menganalisis dampak reputasi Kantor Akuntan Publik dan Good Corporate Governance terhadap kualitas audit pada perusahaan negara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2023. Menggunakan teori agen dan teori kepatuhan, penelitian ini
menerapkan metode kuantitatif dan data sekunder dari laporan keuangan. Temuan menunjukkan bahwa ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP), audit delay, dan ukuran direksi secara positif mempengaruhi kualitas audit. Sementara itu, audit fee, proporsi komisaris,
komite audit, dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh. Studi ini menyarankan implikasi bagi perusahaan untuk meningkatkan efektivitas tata kelola, menekankan independensi auditor, dan merekomendasikan perbaikan regulasi untuk pengawasan tata kelola yang lebih baik dan kredibilitas kualitas audit.
This study analyzes the impact of the reputation of Public Accounting Firms and Good
Corporate Governance on audit quality in state-owned companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2020-2023. Using agency theory and compliance theory, this
research applies quantitative methods and secondary data from financial reports. The findings show that the size of Public Accounting Firms (KAP), audit delay, and the size of the board of directors positively influence audit quality. Meanwhile, audit fees, the proportion of commissioners, audit committees, and managerial ownership have no effect. This study
suggests implications for companies to improve governance effectiveness, emphasize auditor independence, and recommend regulatory improvements for better governance oversight and audit quality credibility.
4573749107F1B020045PERENCANAAN STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA PEKUNDEN, KECAMATAN BANYUMAS, KABUPATEN BANYUMAS
Potensi ekonomi kreatif dapat dimaksimalkan melalui desa wisata. Namun, bertambahnya jumlah desa wisata belum diimbangi dengan strategi yang matang. Pembentukan desa wisata dapat diawali dengan mengidentifikasi potensi unik untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang sesuai dengan visi pembangunan desa. Maka dari itu, diperlukan perencanaan strategis yang matang agar dapat mengembangkan desa wisata menjadi lebih maju. Penelitian ini berfokus pada proses penyusunan perencanaan strategis di Desa Wisata Pekunden melalui konsep perencanaan strategis model J. David Hunger dan Thomas L. Wheelen (2001). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan sasaran penelitian yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian menunjukkan bahwa Desa Wisata Pekunden sebagai desa wisata rintisan telah menyusun perencanaan strategis mulai dari pengamatan lingkungan melalui SWOT, penetapan visi misi organisasi, penetapan tujuan organisasi, pengembangan strategi, dan penetapan kebijakan sesuai kesepakatan bersama yang dapat membantu dalam pengembangan desa wisata. Perencanaan yang disusun dapat dikatakan berhasil karena telah memberikan dampak yang luar biasa kepada masyarakat walaupun dalam pelaksanaannya masih mengikuti alur. Implementasi dari semua aspek perencanaan ini akan menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan potensi desa sebagai destinasi wisata yang menarik dan berkelanjutan.The potential of the creative economy can be maximized through tourism villages. However, the increasing number of tourist villages has not been matched by a mature strategy. The establishment of a tourism village can begin with identifying unique potential to be developed into a tourist attraction in accordance with the vision of village development. Therefore, careful strategic planning is needed in order to develop tourist villages to become more advanced. This research focuses on the process of strategic planning in Pekunden Tourism Village through the concept of strategic planning model of J. David Hunger and Thomas L. Wheelen (2001). The method used in this research is a qualitative method with a case study approach with research targets determined through purposive sampling technique. Data were collected through interviews, observation and documentation. The research shows that Pekunden Tourism Village as a pilot tourism village has developed strategic planning starting from observing the environment through SWOT, determining the organization's vision and mission, setting organizational goals, developing strategies, and determining policies according to mutual agreements that can help in the development of tourism villages. The planning that was prepared can be said to be successful because it has had a tremendous impact on the community even though the implementation is still following the flow. The implementation of all aspects of this plan will be the key to success in realizing the potential of the village as an attractive and sustainable tourist destination.
4573849108K1C018044KONTAMINASI DOSIS NEUTRON PADA PENYINARAN KANKER SERVIKS DENGAN PESAWAT LINAC VARIASI TEGANGAN 8, 10, 15, 20, DAN 25 MV BERDASARKAN TEKNIK SSD DAN SADRadiasi foton berenergi tinggi yang digunakan dalam radioterapi eksternal dapat menghasilkan neutron sekunder melalui interaksi foton dengan komponen logam pesawat Linac. Neutron yang dihasilkan bersifat sebagai kontaminan radiasi yang tidak diinginkan karena dapat meningkatkan dosis radiasi total yang diterima jaringan sehat, khususnya pada kasus penyinaran kanker serviks. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spektrum energi neutron serta laju dosis neutron yang dihasilkan pada variasi tegangan 8, 10, 15, 20, dan 25 MV dengan pendekatan teknik SSD dan SAD menggunakan perangkat Linac serta menghitung prosentase kontaminasi dosis neutron yang mengenai organ-organ di sekitar target penyinaran kanker serviks. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Monte Carlo berbasis MCNPX. Spektrum energi neutron dikaji untuk masing-masing variasi tegangan dan teknik penyinaran. Selain itu, perhitungan laju dosis dan prosentase dosis kontaminasi neutron pada Organ at risk (OAR) seperti rektum, kandung kemih, tulang belakang, dan ovarium dilakukan untuk menilai dampak radiasi neutron. Hasil simulasi menunjukkan bahwa spektrum neutron yang dominan berada pada kategori neutron cepat, baik pada teknik SSD maupun SAD. Laju dosis neutron meningkat seiring dengan kenaikan tegangan. Persentase kontaminasi dosis neutron tertinggi ditemukan pada organ target utama yaitu kanker serviks dengan nilai maksimum sebesar 0,278% pada teknik SSD dan 0,303% pada teknik SAD pada tegangan 25 MV, nilai ini masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan oleh IAEA, yaitu maksimum 0,5% dari dosis foton untuk radiasi sekunder neutron. Organ sekitar lainnya juga menerima dosis kontaminasi yang bervariasi, bergantung pada posisi relatif terhadap sumber penyinaran. Peningkatan tegangan berkas foton linier berbanding lurus dengan peningkatan laju dan kontaminasi dosis neutron. Teknik penyinaran juga memengaruhi distribusi spektrum dan dosis neutron. Hasil ini penting untuk mempertimbangkan aspek proteksi radiasi sekunder dalam perencanaan radioterapi menggunakan Linac.
Kata kunci: Linac, kontaminasi dosis neutron, MCNPX, teknik SSD, teknik SAD.
High-energy photon radiation used in external radiotherapy can generate secondary neutrons through interactions between photons and metallic components of the linear accelerator (Linac). These secondary neutrons act as unwanted radiation contaminants because they can increase the total radiation dose absorbed by healthy tissues, particularly in cervical cancer treatments. This study aims to determine the neutron energy spectrum and neutron dose rate produced at voltage levels of 8, 10, 15, 20, and 25 MV using SSD and SAD techniques with a Linac system, as well as to calculate the percentage of neutron dose contamination affecting organs surrounding the cervical cancer irradiation target. The simulation was carried out using the Monte Carlo–based MCNPX software. The neutron energy spectra were analyzed for each voltage level and irradiation technique. Additionally, dose rate and neutron dose contamination percentages in organs at risk (OARs) such as the rectum, bladder, spinal cord, and ovaries were calculated to assess the impact of neutron radiation. The simulation results show that the dominant neutron spectrum falls within the fast neutron category for both SSD and SAD techniques. The neutron dose rate increases with higher photon beam energies. The highest neutron dose contamination was found in the main target organ, the cervix, with maximum values of 0.278% for SSD and 0.303% for SAD at 25 MV. These values remain below the safety limit set by the IAEA, which is a maximum of 0.5% of the photon dose for secondary neutron radiation. Surrounding organs also received varying degrees of contamination, depending on their relative position to the irradiation source. The increase in photon beam energy is directly proportional to the rise in both neutron dose rate and contamination. Irradiation technique also influences the distribution of neutron spectra and dose levels. These findings are essential for considering secondary radiation protection aspects in radiotherapy planning using Linac systems.
Keywords: Linac, neutron dose contamination, MCNPX, SSD technique, SAD technique.

4573949109J0A022091Creating English Video Promotion of the Education Program at Jasa Angkasa Semesta Academy to Increase RegistrantLaporan ini disusun berdasarkan praktik kerja yang dilaksanakan di JAS Learning Center (JAS Academy) dari tanggal 13 Agustus hingga 15 November 2024. Tujuan dari laporan ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan praktik kerja, proses pembuatan video promosi dengan subtitle berbahasa Inggris, serta kendala yang dihadapi dan solusi yang diterapkan selama proses produksi video di JAS Academy. Tempat ini dipilih karena masih terbatasnya konten promosi dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, pembuatan video promosi dengan subtitle bahasa Inggris dianggap penting untuk memperluas jangkauan promosi dan memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai JAS Academy.
Laporan ini disusun dengan menggunakan tiga metode utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan sebelum dan selama masa praktik kerja, sedangkan wawancara dan dokumentasi dilakukan sepanjang periode pelatihan. Ketiga metode ini mendukung kegiatan utama dalam praktik kerja, yaitu pembuatan video promosi dengan voice-over berbahasa Inggris dan subtitle berbahasa Indonesia yang menampilkan profil PT. JAS Academy serta program pelatihannya.
Proses produksi video terdiri dari tiga tahap utama: pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Tahap pra-produksi meliputi pengembangan ide, penyusunan jadwal, penulisan naskah, pembuatan storyboard, dan persiapan peralatan. Tahap produksi mencakup proses pengambilan gambar dan perekaman suara, sementara tahap pasca-produksi berfokus pada penyuntingan video. Meskipun terdapat beberapa kendala selama proses berlangsung, semuanya dapat diatasi dengan baik. Video akhir kemudian diunggah ke saluran YouTube resmi milik JAS Academy sebagai bagian dari upaya promosi mereka.
This report is prepared based on job training carried out at JAS Learning Center (JAS Academy) from August 13 to November 15, 2024. The purpose of this report is to explain the implementation of job training, the process of making promotional videos with English subtitles, and the obstacles and solutions in making videos at JAS Academy. This training place was chosen because there is still a lack of promotional videos in English. Therefore, creating a promotional video with English subtitles is necessary to help the promotion reach more widely and obtain information about JAS Academy.
In compiling this job training report, there are three methods, namely observation, interview, and documentation. Observations were conducted before and during the job training, while interviews and documentation were conducted during the job training. The three methods were used to carry out job training, namely making promotional videos with English subtitles. The producty project is a video about the company PT.JAS Academy and the training program at JAS Academy with English voice over and Indonesian subtitles.
There were three stages in the video-making process: pre-production, production, and post-production. Determining ideas, making schedules, writing scripts, creating storyboards, and preparing tools were the preparatory stages referred to as pre-production. The video shooting and sound recording process was referred to as the production stage, while video editing was the final stage referred to as post-production. There were many obstacles during the process, but they were overcome. The resulting video was uploaded on JAS Academy's YouTube channel to support their promotion.
4574049117A1A021089DAMPAK EKSTERNALITAS INDUSTRI KECIL TAHU
TERHADAP KONDISI SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN MASYARAKAT DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS
Eksternalitas merupakan dampak yang terjadi karena adanya kegiatan yang dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lain, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Salah satu kegiatan ekonomi yang menimbulkan dampak positif dan negatif ialah industrialisasi. Sektor industri tahu yang terletak di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas dapat menimbulkan dampak eksternalitas positif maupun negatif terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat yang tinggal di sekitar industri. Eksternalitas tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap pembangunan berkelanjutan yang ada di Desa Kalisari. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan penanganan eksternalitas untuk mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan perlindungan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk 1) mengetahui dampak eksternalitas positif dan negatif yang ditimbulkan dari adanya industri kecil tahu terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat sekitar industri, 2) mengetahui besarnya persentase nilai eksternalitas positif dan negatif yang diperoleh industri kecil tahu Desa Kalisari, dan 3) mengetahui besarnya perbandingan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh industri kecil tahu Desa Kalisari.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 100 orang yang dihitung menggunakan metode purposive sampling. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Data yang digunakan ialah data primer dan data sekunder. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel sosial, ekonomi, dan lingkungan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif untuk mengetahui dampak eksternalitas yang terjadi dengan melakukan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sedangkan deskriptif kuantitatif untuk menghitung nilai persentase dan B/C ratio dengan melakukan skoring serta membandingkan antara manfaat dan biaya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak eksternalitas positif dari aspek sosial keberadaan industri kecil tahu Desa Kalisari berupa peningkatan kualitas pendidikan masyarakat, berkurangnya jumlah masyarakat yang tidak tamat sekolah, pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik dan beragam, terjadinya peralihan profesi, peningkatan daya beli masyarakat, bertambahnya jumlah kendaraan dan hewan ternak, serta mendorong terciptanya sarana dan prasarana kesehatan di Desa Kalisari. Dampak positif dari aspek ekonomi berupa berkurangnya jumlah pengangguran, adanya penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak, terbukanya lapangan pekerjaan, adanya kesempatan bagi masyarakat untuk dapat berwirausaha dan berinovasi, serta terciptanya peluang investasi. Dampak eksternalitas negatif dari keberadaan industri kecil tahu Desa Kalisari berupa kurangnya sosialisasi dari pihak eksternal terkait pentingnya pendidikan bagi masyarakat, menurunnya kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh limbah cair, tidak adanya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan, belum terpenuhinya sarana dan prasarana penunjang kesejahteraan untuk tenaga kerja, pola konsumsi masyarakat yang boros, pencemaran sungai yang diakibatkan oleh limbah cair hasil produksi, sungai yang kehilangan keindahannya, air sungai menimbulkan bau tidak sedap, serta polusi udara akibat dari proses produksi yang masih menggunakan kayu bakar. Persentase eksternalitas positif secara keseluruhan yakni sebesar 75,673 persen dengan skor eksternalitasnya 378,364 dan dikategorikan tinggi, sedangkan persentase eksternalitas negatif secara keseluruhan yakni sebesar 60,911 persen dengan skor eksternalitasnya 304,556 dan dikategorikan cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih merasakan dampak positif dari keberadaan industri kecil tahu Desa Kalisari dibandingkan dengan dampak negatifnya. Hasil nilai PWB (Present Worth of Benefit atau nilai sekarang dari manfaat) yaitu sebesar Rp92.854.610 dan hasil nilai PWC (Pressent Worth of Cost atau nilai sekarang dari biaya) sebesar Rp85.296.000. Maka nilai dari benefit-cost ratio yakni sebesar 1,08. Nilai ini lebih besar dari 1 atau 1,08 > 1 maka industri kecil tahu Desa Kalisari dapat dikatakan menguntungkan untuk dijalankan.
Externalities are impacts that occur due to activities carried out by certain parties that affect other parties, whether beneficial or detrimental. One economic activity that has both positive and negative impacts is industrialization. The tofu industry located in Kalisari Village, Cilongok District, Banyumas Regency can have both positive and negative externalities on the social, economic, and environmental conditions of the communities living around the industry. These externalities can influence sustainable development in Kalisari Village. Sustainable development requires the management of externalities to achieve a balance between economic growth, social welfare, and environmental protection. The objectives of this study are: 1) to identify the positive and negative externalities caused by the presence of small-scale tofu industries on the social, economic, and environmental conditions of the communities surrounding the industry, 2) to determine the percentage of positive and negative externalities generated by the small-scale tofu industry in Kalisari Village, and 3) to assess the ratio between the benefits obtained and the costs incurred by the small-scale tofu industry in Kalisari Village.
This study uses a qualitative descriptive and quantitative descriptive approach with 100 respondents calculated using purposive sampling. The research was conducted in Kalisari Village, Cilongok District, Banyumas Regency. The data used were primary and secondary data. The variables used in this study were social, economic, and environmental variables. Data analysis was conducted using a qualitative descriptive and quantitative descriptive approach. Qualitative descriptive analysis was used to determine the externalities that occurred by reducing, presenting, and drawing conclusions, while quantitative descriptive analysis was used to calculate percentage values and B/C ratios by scoring and comparing benefits and costs.
The research results indicate that the positive externalities of the social aspects of the small tofu industry in Kalisari Village include improved community education quality, a decrease in the number of people who did not complete school, better and more diverse jobs, career transitions, increased community purchasing power, an increase in the number of vehicles and livestock, and the creation of health facilities and infrastructure in Kalisari Village. The positive economic impacts include a decrease in the number of unemployed individuals, significant job creation, the opening of new job opportunities, opportunities for the community to engage in entrepreneurship and innovation, and the creation of investment opportunities. The negative externalities of the small-scale tofu industry in Kalisari Village include insufficient external communication regarding the importance of education for the community, declining community health due to liquid waste, a lack of community awareness in maintaining health, insufficient supporting facilities and infrastructure for workers' well-being, wasteful consumption patterns, river pollution caused by liquid waste from production, rivers losing their beauty, river water emitting unpleasant odors, and air pollution resulting from production processes that still use firewood. The overall percentage of positive externalities is 75.673 percent with an externality score of 378,364, categorized as high, while the overall percentage of negative externalities is 60.911 percent with an externality score of 304,556, categorized as moderately high. This indicates that the community feels more positive impacts from the presence of the small tofu industry in Kalisari Village than negative impacts. The Present Worth of Benefit (PWB) value is Rp92,854,610, and the Present Worth of Cost (PWC) value is Rp85,296,000. Thus, the benefit-cost ratio is 1.08. This value is greater than 1 (1.08 > 1), so the small-scale tofu industry in Kalisari Village can be considered profitable to operate.