Home
Login.
Artikelilmiahs
41774
Update
ALFIANA JULISTIMAWATI
NIM
Judul Artikel
Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi dan Magnesium, serta Aktivitas Fisik dengan Kejadian Dismenorea Primer pada Mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang: Remaja akhir merupakan salah satu kelompok yang sering mengalami dismenorea primer. Prevalensi dismenorea primer di Indonesia diketahui sebesar 72,89%. Penyebab dismenorea primer belum diketahui secara pasti, namun beberapa penelitian menyebutkan asupan zat besi dan magnesium, serta aktivitas fisik menjadi faktor penyebab dismenorea primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecukupan zat besi dan magnesium, serta aktivitas fisik dengan kejadian dismenorea primer pada mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman. Metodologi : Penelitian menggunakan desain cross sectional terhadap 105 responden berusia 18-23 tahun dengan teknik cluster sampling. Instrumen yang digunakan yaitu IPAQ-SF untuk aktivitas fisik dan Numeric Rating Scale (NRS) untuk dismenorea primer. Konsumsi zat besi dan magnesium diperoleh melalui SQ-FFQ berisi makanan sumber zat besi dan magnesium. Analisis data statistik menggunakan Uji Likelihood. Hasil Penelitian : Tingkat kecukupan zat besi defisit (86,7%) dan normal (13,3%). Tingkat kecukupan magnesium defisit (97,1%) dan normal (2,9%). Aktivitas fisik rendah (34,3%), sedang (59%), dan tinggi (6,7%). Dismenorea primer dengan nyeri berat (19%), nyeri sedang (49,5%), nyeri ringan (21%), dan tidak nyeri (10,5%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan zat besi (p=0,346) dan magnesium (p=0,732) dengan kejadian dismenorea primer. Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik (p=0,029) dengan kejadian dismenorea primer. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian dismenorea primer pada mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman. Kata Kunci : aktivitas fisik, dismenorea primer, magnesium, zat besi
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background : Late adolescents are one of the groups that often experience primary dysmenorrhea. The prevalence of primary dysmenorrhea in Indonesia is known to be 72,89%. The etiology of primary dysmenorrhea isn’t known with certainty, but several studies have stated that iron and magnesium intake, and physical activity are factors that cause primary dysmenorrhea. This study aims to analyze the correlation between the level of adequacy of iron and magnesium, and physical activity with the incidence of primary dysmenorrhea in female students at Jenderal Soedirman University. Methods : This research used a cross sectional design of 105 respondents aged 18-23 years with a cluster sampling method. The instruments used were the IPAQ-SF for physical activity and the Numeric Rating Scale (NRS) for primary dysmenorrhea. Iron and magnesium intake was obtained using SQ-FFQ containing food sources of iron and magnesium. Statistical data analysis using the Likelihood test. Results : Deficit (86,7%) and normal (13,3%) levels of iron adequacy. Deficit (97,1%) and normal (2,9%) levels of magnesium adequacy. Low (34,3%), moderate (59%), and high (6,7%) physical activity. Primary dysmenorrhea with severe pain (19%), moderate pain (49,5%), mild pain (21%), and no pain (10,5%). There was no correlation between iron (p=0,346) and magnesium adequacy levels (p=0,732) with primary dysmenorrhea. There was a significant correlation between physical activity (p=0,029) with primary dysmenorrhea. Conclusion : There was a correlation between physical activity with primary dysmenorrhea in female students at Jenderal Soedirman University.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save