Artikelilmiahs
Menampilkan 38.041-38.060 dari 48.977 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 38041 | 44294 | E1A020075 | PENERAPAN DIVERSI DALAM PENYELESAIAN PERKARA TINDAK PIDANA ANAK DI KEJAKSAAN NEGERI BANJARNEGARA | Perlindungan hukum terhadap anak merupakan upaya dalam mewujudkan kondisi anak agar memperoleh hak dan kewajiban demi baiknya pertumbuhan dan perkembangan anak secara sosial, fisik dan mental. Salah satu bentuknya merupakan diversi, diversi merupakan sebuah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Kekerasan yang dilakukan oleh anak sebagai pelaku hingga saat ini masih sering terjadi dan terus dilaporkan oleh korban, keluarga, ataupun Masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses penerapan diversi yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Banjarnegara serta hambatan yang dialami dalam melindungi hak hak anak berdasarkan UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Lokasi penelitian yaitu di Kejaksaan Negeri Banjarnegara. Metode penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan Teknik Purposive Sampling. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi upaya diversi yang dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum perkara tindak pidana anak di Kejaksaan Negeri Banjarnegara telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan hambatan hambatan yang ada dipengaruhi oleh tiga aspek, yaitu aspek fakta hukum yang mana salah satu pihak tidak menghendaki maka proses diversi tidak dapat berjalan, aspek JPU yang kurang optimal ketika menawarkan diversi kepada para pihak, aspek budaya hukum dimana pemikiran masyarakat yang masih beranggapan bahwa hukuman paling tepat terhadap pelaku dari sebuah tindakan kejahatan adalah sebuah pidana. | Legal protection for children is an effort to ensure that children obtain rights and obligations for their social, physical, and mental growth and development. One form of this protection is diversion, which entails diverting juvenile cases from the criminal justice process to processes outside of criminal justice. Violence perpetrated by children as offenders still frequently occurs and continues to be reported by victims, families, and the community. This research aims to understand the process of implementing diversion by the Banjarnegara District Attorney's Office and the obstacles encountered in protecting children's rights based on Law No. 11 of 2012 concerning the Juvenile Justice System. The research employs an empirical juridical approach with descriptive-analytical specifications. The research is conducted at the Banjarnegara District Attorney's Office using Purposive Sampling technique to select informants. Both primary and secondary data sources are utilized. The research findings indicate that the implementation of diversion efforts by the Public Prosecutor's Office for juvenile criminal cases at the Banjarnegara District Attorney's Office is in accordance with Law No. 11 of 2012 concerning the Juvenile Justice System. However, obstacles are influenced by three aspects: legal factual aspects where if one party does not agree, the diversion process cannot proceed; the Public Prosecutor's Office's suboptimal offering of diversion to the parties involved; and legal cultural aspects where societal perceptions still favor punishment as the most appropriate response to criminal actions by perpetrators. | |
| 38042 | 40734 | F1A019099 | Peran Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Dalam Penanganan Sampah Sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup di Desa Tipar Kidul, Ajibarang, Banyumas | Adanya permasalahan lingkungan hidup yang terus meningkat terutama persoalan penanganan sampah dikarenakan kurangnya kesadaran manusia untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Lembaga masyarakat dan masyarakat memiliki tanggung jawab dalam persoalan sampah. Salah satu Lembaga masyarakat yang berperan penting adalah Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui apa saja peran PKK dalam melestarikan lingkungan hidup di Desa Tipar Kidul, (2) mengetahui proses PKK dalam penanganan sampah di Desa Tipar Kidul, (3) mengetahui kendala yang dihadapi oleh PKK dalam menangani permasalahan sampah. Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik penentuan informannya menggunakan purposive sampling dengan subjek penelitiannya ketua dan anggota PKK. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian, teknik analisis datanya adalah interaktif model dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran PKK dalam melestarikan lingkungan hidup memiliki beberapa program kegiatan yaitu Kelompok Wanita Tani (KWT), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), rumah sehat, perawatan pekarangan, dan kerja bakti. Program kegiatan PKK tersebut merupakan program kombinasi antara program pokok kelestarian lingkungan hidup dan program pokok lainnya, seperti program pokok kesehatan, program pokok gotong royong, dan lain-lain. Peran PKK dalam proses penanganan sampah yang dilakukan oleh anggota PKK dan masyarakat Desa Tipar Kidul masih sederhana yaitu, melakukan kerja bakti dengan mengumpulkan sampah dan selanjutnya diolah oleh pihak hanggar Desa Tipar Kidul. Namun PKK memiliki rencana untuk kedepannya membangun bank sampah yang dikelola sendiri dan penanganan sampah selanjutnya yaitu melakukan pemilahan secara mandiri meskipun kegiatannya belum maksimal. Penanganan sampah selanjutnya yaitu penyediaan tempat sampah di sisi jalan desa. Kendala yang dihadapi oleh anggota PKK adalah kurangnya fasilitas untuk mendukung upaya penanganan sampah, kurangnya kesadaran masyarakat desa untuk menjaga kebersihan lingkungan, dan kurangnya antusias dan partisipasi dari masyarakat maupun anggota PKK dalam mengikuti kegiatan penanganan sampah. | There are environmental problems that continue to increase, especially the problem of waste handling due to a lack of human awareness to preserve the environment. Community institutions and the community have a responsibility in waste matters. One of the community institutions that plays an important role is the Family Welfare Empowerment (PKK). The aims of this study were: (1) to find out the role of the PKK in preserving the environment in Tipar Kidul Village, (2) to find out the PKK process in handling waste in Tipar Kidul Village, (3) to find out the obstacles faced by the PKK in dealing with waste problems. The research was conducted using descriptive qualitative research methods. The technique for determining the informants used purposive sampling with the research subjects being the chairman and members of the PKK. Data collection methods used are interviews, observation, and documentation. Then, the data analysis technique is an interactive model from Miles and Huberman. The results of the study show that the PKK's role in preserving the environment has several program activities, namely Women Farmer Groups (KWT), Eradication of Mosquito Nests (PSN), healthy homes, yard care, and community service. The PKK activity program is a combination program between the main program for environmental sustainability and other main programs, such as the main health program, the main mutual cooperation program, and others. The role of the PKK in the waste handling process carried out by PKK members and the people of Tipar Kidul Village is still simple, namely, doing voluntary work by collecting garbage and then processing it by the Tipar Kidul Village hangar. However, PKK has plans for the future to build a self-managed waste bank and further waste management, namely to sort it independently, even though its activities are not optimal. The next waste management is the provision of trash bins on the side of the village road. The obstacles faced by PKK members are the lack of facilities to support waste handling efforts, the lack of awareness of the village community to keep the environment clean, and the lack of enthusiasm and participation from the community and PKK members in participating in waste handling activities. | |
| 38043 | 40737 | L1C019058 | Model Pertumbuhan Populasi Udang Jerbung ( Penaeus Merguensis de Man 1888) Di Perairan Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat. | Udang jerbung (Penaeus merguensis de man 1888) merupakan sumberdaya ekonomis penting dan komoditi eksport sehingga merupakan target utama penangkapan. Alat tangkap yang efektif untuk menangkap udang sebagai biota dasar perairan adalah alat tangkap ikan trawl dan salah satu alat tangkap yang masih cukup efektif untuk menangkap udang adalah jaring trammel net. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui model pertumbuhan populasi udang jerbung di perairan Kabupaten Teluk Bintuni Propinsi Papua Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2023 dengan mengunakan Metode survey. data sekunder hasil pencatatan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat. Data variabel dianalisis dengan menggunakan model Gordon Schaefer dengan aplikasi minitab. Hasil penelitian model pertumbuhan populasi udang jerbung menunjukkan bahwa udang jerbung tingkat batasan maksimum pertumbuhan (MSY) sebanyak 4071.517,083 ton/tahun. Adapun biomassa sumberdaya udang jerbung di perairan Kabupaten Teluk Bintuni kurang dari MSY ketika terjadi penangkapan. | Jerbung shrimp (Penaeus merguensis de man 1888) is an important economic resource and export commodity so it is the main target of fishing. An effective fishing gear for catching shrimp as a bottom aquatic biota is trawl fishing gear and one of the fishing gear that is still quite effective for catching shrimp is the trammel net. The purpose of this study was to determine the growth model of jerbung shrimp population in the waters of Teluk Bintuni Regency, West Papua Province. This research was conducted in February 2023 using the survey method. secondary data recorded by the Marine and Fisheries Service of Bintuni Bay Regency, West Papua. Variable data were analyzed using Gordon Schaefer's model with minitab application. The results of the jerbung shrimp population growth model showed that jerbung shrimp had a maximum growth limit level (MSY) of 4071,517,083 tons / year. As for the biomass of jerbung shrimp resources in Kabupate waters . | |
| 38044 | 45390 | D1A019171 | pengaruh perendaman daging itik afkir dengan menggunakan sumber enzim dan lama perendaman yang berbeda terhadap keempukan, pH, warna dan rasa | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman menggunakan ekstrak nanas dan ektrak papaya dengan lama perendaman yang berbeda terhadap keempukan, pH, warna dan rasa. Penelitian ini dilakukan secara ekspeimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3x2 dengan jumlah perlakuan 6 perlakuan dan 4 ulangan sehingga menghasilkan 24 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan yaitu perendaman daging itik afkir dengan menggunakan ekstrak nanas selama 30 menit (E1L1), 45 menit (E1L2), 60 menit (E1L3) dan daging itik afkir yang direndam dengan menggunakan ekstrak pepaya selama 30 menit (E2L1), 45 menit (E2L2), dan 60 menit (E2L3). Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu keempukan, pH, rasa dan warna pada daging itik afkir. Data analisis menggunakan analisis variansi dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Perendaman daging itik afkir dengan menggunakan ekstrak nanas dan ekstrak pepaya dengan waktu perendaman yang berbeda menghasilkan nilai rata-rata L1= 19387,87, E2= 10331,18, E3=10781,03. Nilai rata-rata pada daging itik afkir yang direndam dengan menggunakan ekstak nanas dan ekstak pepaya dengan lama perendaman 30 menit dengan menggunakan ekstrak nanas cenderung menghasilkan tidak ada perbedaan rasa sedangkan lama perendaman 30 menit dengan menggunakan ekstak pepaya cenderung menghasilkan rasa paling pahit dibandingkan dengan sampel lainnya. Nilai rata-rata dengan lama perendaman 45 menit pada enzim yang berbeda dapat menghasilkan warna yang cenderung lebih pucat dibandigkan dengan sampel lainnya. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lama perendaman dapat mempengaruhi tingkat keempukan, warna dan rasa. | ABSTRACT This research aims to determine the effect of soaking using pineapple extract and papaya extract with different soaking times on tenderness, pH, color and taste. This research was carried out experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with a 3x2 factorial pattern with a total of 6 treatments and 4 replications, resulting in 24 experimental units. The treatments given were soaking the meat of the rejected ducks using pineapple extract for 30 minutes (E1L1), 45 minutes (E1L2), 60 minutes (E1L3) and the meat of the rejected ducks which was soaked using papaya extract for 30 minutes (E2L1), 45 minutes ( E2L2), and 60 minutes (E2L3). The variables observed in this research were tenderness, pH, taste and color of cull duck meat. Data analysis uses variance analysis with a follow-up Honestly Significant Difference (BNJ) test. Soaking cull duck meat using pineapple extract and papaya extract with different soaking times produced average values L1= 19387.87, E2= 10331.18, E3=10781.03. The average value for cull duck meat that was soaked using pineapple extract and papaya extract with a soaking time of 30 minutes using pineapple extract tended to produce no difference in taste, while a soaking time of 30 minutes using papaya extract tended to produce the most bitter taste compared to the other samples. . The average value with a soaking time of 45 minutes in different enzymes can produce colors that tend to be paler compared to other samples. The results of this research can be concluded that the length of soaking can affect the level of tenderness, color and taste. | |
| 38045 | 40581 | C1G016031 | Factors Affecting Income of Scavengers in Bantargebang Final Disposal, Bekasi, West Java | Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh jenis kelamin, usia, jarak, jam kerja, dan lama usaha terhadap pendapatan pemulung di TPST Bantargebang dan untuk menguji variabel yang paling mempengaruhi pendapatan pemulung di TPST Bantargebang. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari narasumber melalui kuesioner. Alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda, dengan menggunakan uji asumsi klasik, uji F dan uji t. Hasil Penelitian, secara bersama-sama jenis kelamin, usia, jarak, jam kerja, dan lama usaha memiliki pengaruh yang signifikan. Kemudian jenis kelamin, jam kerja, dan lama usaha berpengaruh positif signifikan dan usia berpengaruh negatif signifikan terhadap pendapatan pemulung di TPST Bantargebang. Kemudian variabel usia adalah variabel yang paling mempengaruhi pendapatan pemulung di TPST Bantargebang. Implikasi dari kesimpulan di atas adalah perlunya bantuan serta peran pemerintah tentang teknologi daur ulang sampah, pemberian bantuan berupa baju / alat pelindung kerja, serta bantuan modal usaha kepada pemulung agar mereka mendapatkan penghasilan tambahan, sehingga pendapatan pemulung bisa lebih tinggi lagi. | This study aims to examine the effect of gender, age, distance, working hours, and length of experience on scavengers' income at Bantargebang Final Disposal and to examine the variables that most influence scavengers' income at Bantargebang Final Disposal. The data used are primary data obtained from informants through questionnaires. The analytical tool used is multiple linear regression, using the classical assumption test, F test and t test.. Research results, jointly gender, age, distance, working hours, and length of experience have a significant effect. Then gender, working hours, and length of experience had a significant positive effect, and age had a significant negative effect on scavenger income at Bantargebang Final Disposal. Then the age variable is the variable that most influences the income of scavengers in Bantargebang Final Disposal. The implications of the conclusions above are the need for assistance and the government's role regarding waste recycling technology, providing assistance in the form of work protective clothing/equipment, as well as business capital assistance to scavengers so that they earn additional income, so that scavenger income can be even higher. | |
| 38046 | 40738 | H1B019073 | Studi Perbandingan Kekuatan Tahanan Lateral Sambungan Komposit Laminasi Bambu - Kayu dengan Alat Sambung Baut, Pasak Kayu, dan Pasak Bambu | Bambu dapat digunakan sebagai material struktural untuk mengurangi penggunaan kayu. Namun dalam penggunaannya dimensi bambu kurang cocok untuk konstruksi karena berbentuk silindris. Maka dilakukan teknik laminasi kayu dan bambu sebagai alternatif. Perlu dilakukan analisis dan pengujian tahanan lateral untuk mengetahui kekuatan sambungan pada balok komposit laminasi bambu petung-kayu mindi. Nilai tahanan lateral (Z) dapat diprediksi dengan acuan SNI 7973 tahun 2013 tentang Spesifikasi Desain untuk Konstruksi Kayu dan teori European Yield Model (EYM). Dalam perhitungan teoritis dibutuhkan data nilai kuat tumpu, nilai kuat lentur alat sambung, serta bentuk geometri dari benda uji. Benda uji kuat tumpu yang digunakan yaitu balok laminasi kayu mindi dan bambu petung. Pengujian kuat tumpu yang dilakukan menggunakan metode setengah lubang dengan dimensi balok 50x50x50 mm. Benda uji tahanan lateral yang digunakan yaitu 3 buah balok komposit laminasi bambu petung-kayu mindi dengan dimensi 16x5,5x6,8 cm dengan variasi jenis sambungan baut, pasak kayu, dan pasak bambu berdiameter 10 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kelelehan yang terjadi pada pengujian eksperimental sesuai dengan model kelelehan yang direncanakan, yaitu model kelelehan IV. Nilai Z eksperimental selalu lebih besar dari Z teoritis dengan nilai rata-rata Zmaks eksperimental pada alat sambung baut, pasak kayu, dan pasak bambu berturut-turut adalah 23,867 kN, 7,038 kN, dan 7,529 kN. Nilai rata-rata Zmaks berdasarkan SNI 7973:2013 pada alat sambung baut, pasak kayu, dan pasak bambu berturut-turut adalah 4,974 kN, 2,222 kN, dan 2,080 kN. Nilai rata-rata Zmaks berdasarkan EYM pada alat sambung baut, pasak kayu, dan pasak bambu berturut-turut adalah 1,775 kN, 0,652 kN, dan 0,602 kN. | Bamboo can be used as a structural material to reduce the use of wood. However, bamboo is unsuitable for construction because of its cylindrical shape. The lamination of wood and bamboo was then carried out as an alternative. It is necessary to analyze and test the lateral resistance to determine the strength of the joints in petung bamboo laminated-mindi wood composite beams. The value of lateral resistance (Z) can be predicted with reference to SNI 7973 of 2013 based on the Design Specifications for Timber Construction and the European Yield Model (EYM) theory. In theoretical calculations, data on the bearing strength, flexural strength of the joints, and geometric shape of the test object are required. Mindi wood and petung bamboo laminated beams were used as the fulcrum strength test objects. The bearing strength test was performed using the half-hole method with beam dimensions of 50x50x50 mm. The specimens for the lateral resistance test used were 3 pieces of petung-mindi bamboo laminated composite beams with dimensions of 16x5,5x6,8 cm with various types of bolt connections, wooden dowels, and bamboo dowels with a diameter of 10 mm. The results showed that the melting model that occurred in the experimental test was in accordance with the planned melting model, namely the IV melting model. The experimental Z values were always greater than the theoretical Z values, with average experimental Zmax values for bolted joints, wooden dowels, and bamboo dowels being 23,867 kN, 7,038 kN, and 7,529 kN, respectively. The average values of Zmax based on SNI 7973:2013 for the connecting bolts, wooden dowels, and bamboo dowels were 4,974 kN, 2,222 kN, and 2,080 kN, respectively. The average values of Zmax based on EYM on the bolt connectors, wooden dowels, and bamboo dowels were 1,775 kN, 0,652 kN, and 0,602 kN, respectively. | |
| 38047 | 40739 | H1B019049 | Pengaruh Diameter Alat Sambung Terhadap Kekuatan Tahanan Lateral Komposit Laminasi Bambu Petung - Kayu Mindi pada Sistem Penyambungan dengan Pasak Bambu | Kayu merupakan bahan bangunan dapat diperbaharui (renewable). Namun, ketersediaannya semakin menipis karena kebutuhan yang cukup tinggi, sehingga dibutuhkan alternatif untuk mengurangi penggunaan untuk bahan konstruksi, salah-satunya adalah teknik laminasi dengan menggabungkan kayu lunak dengan material keras. Material yang digunakan pada penelitian ini adalah kayu mindi dan bambu petung. Dalam konstruksi kayu, sambungan menjadi bagian yang perlu didesain dengan baik karena kegagalan pada sambungan dapat mengakibatkan keruntuhan struktur bangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan yang dapat dihasilkan oleh balok komposit laminasi bambu petung dengan kayu mindi menggunakan alat sambung pasak bambu diameter 10 mm, 15 mm, dan 20 mm. Nilai tahanan lateral (Z) dapat diprediksi menggunakan teori European Yield Model (EYM) dan SNI 7973:2013 mengenai spesifikasi desain untuk konstruksi kayu. Dalam perhitungan teoritis dibutuhkan nilai kuat lentur pasak, kuat tumpu, dan geometri benda uji. Hasil pengujian menunjukan nilai rata-rata Z teoritis, menggunakan teori European Yield Model (EYM) alat sambung pasak bambu 10 mm, 15 mm, dan 20 mm berurutan sebesar 0,592 KN; 0,623 KN; dan 0,676 KN. Sedangkan rata-rata Z menggunakan SNI 7973:2013 alat sambung pasak bambu 10 mm, 15 mm, dan 20 mm berurutan sebesar 2,046 KN; 3,792 KN; dan 5,685 KN. Dan nilai Z ekperimental alat sambung pasak bambu 10 mm, 15 mm, dan 20 mm berurutan cenderung lebih besar dibanding rata-rata nilai Z teoritis sebesar 7,249 KN; 12,979 KN; dan 15,251 KN. | Wood is a renewable building material that can be used in various applications. However, its availability is dwindling due to high demand; therefore, alternatives are needed to reduce the use of construction materials, one of which is the lamination technique that combines soft wood with hard materials. Mindi wood and Petung bamboo were used in this study. In wooden construction, joints are a part that needs to be designed properly because failure in a connection can result in the collapse of the building structure. The purpose of this study was to determine the strength that can be generated by the connection of petung bamboo laminated composite beams with mindi wood using bamboo pegs with a diameter of 10 mm, 15 mm, and 20 mm. The value of the lateral resistance (Z) can be predicted using the European Yield Model (EYM) theory and SNI 7973:2013 regarding the design specifications for wood construction. In the theoretical calculations, the values of the flexural strength of the pin, bearing strength, and geometry of the specimen are required. The test results show that the theoretical average Z value, using the European Yield Model (EYM) theory for connecting 10 mm, 15 mm, and 20 mm bamboo pegs, is 0.592 KN; 0.623 KN; and 0.676 KN, respectively. The average Z values used for SNI 7973:2013 connecting rods for 10 mm, 15 mm, and 20 mm bamboo pegs were 2.046 KN; 3,792 KN; and 5.685 KN. The experimental Z values of the 10 mm, 15 mm, and 20 mm bamboo peg joints tended to be greater than the average theoretical Z values of 7.249 KN; 12,979 KN; and 15,251 KN. | |
| 38048 | 40740 | B1A016121 | CADANGAN KARBON PADA TEGAKAN JATI (Tectona grandis Linn. f.) DI KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN BALAPULANG JAWA TENGAH | Pemanasan global merupakan masalah yang dialami dan dirasakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Mengurangi laju pemanasan global dapat dilakukan dengan menyerap karbon dioksida melalui peningkatan cadangan karbon hutan. Vegetasi yang dapat dikembangkan sebagai penyerap karbon dioksida diantaranya adalah vegetasi hutan jati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah cadangan karbon tegakan jati di KPH Balapulang serta untuk mengetahui hubungan antara umur tegakan jati dengan jumlah cadangan karbonnya. Penelitian dilakukan di KPH Balapulang dengan menggunakan metode survey dan teknik cluster sampling. Jumlah cadangan karbon pada setiap kelas umur tegakan dihitung menggunakan rumus alometrik. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dari penelitian diolah dengan analisis varian dan analisis regresi. Penggunaan analisis varian bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh dari umur tegakan jati terhadap biomassa dan cadangan karbon jati. Analisis regresi digunakan untuk menemukan hubungan antara umur tegakan dengan biomassa tegakan jati, serta untuk menentukan usia tegakan yang paling optimal dalam menyimpan biomassa dan cadangan karbon di KPH Balapulang. Hasil penelitian didapatkan umur tegakan jati berpengaruh sangat nyata terhadap biomassa dan cadangan karbon tegakan jati. Jumlah biomassa dan cadangan karbon akan meningkat jumlahnya seiring bertambahnya umur tegakan. Hubungan antara umur tegakan dengan cadangan karbon tegakan menghasilkan pola pertumbuhan eksponensial yang artinya penambahan cadangan karbon dengan umur tegakan mengalami pertumbuhan yang cepat serta signifikan. Pertumbuhan eksponensial juga menandakan dalam penelitian ini belum ditemukan umur optimal pada tegakan jati dikarenakan grafik kurva cadangan karbon yang masih naik hingga umur 41-50 tahun | Global warming is a problem experienced and felt by people all over the world. Reducing the rate of global warming can be done by absorbing carbon dioxide through increasing forest carbon stocks. Vegetation that can be developed as a carbon dioxide absorber includes teak forest vegetation. This study aims to determine the amount of carbon stock of teak stands in KPH Balapulang and to determine the relationship between the age of teak stands and the amount of carbon stock. The research was conducted at the Balapulang KPH using survey methods and cluster sampling techniques. The amount of carbon stock in each age class of the stand was calculated using an allometric formula. In this study, the data obtained from the research were processed by analysis of variance and regression analysis. The use of analysis of variance aims to identify the effect of the age of teak stands on teak biomass and carbon stocks. Regression analysis was used to find the relationship between the age of the stand and the biomass of the teak stand, and to determine the most optimal age for storing biomass and carbon stock in the Balapulang FMU. The results showed that the age of teak stands had a very significant effect on the biomass and carbon stocks of teak stands. The amount of biomass and carbon stock will increase as the stand gets older. The relationship between the age of the stand and the carbon stock of the stand produces an exponential growth pattern, which means that the addition of carbon stock with the age of the stand experiences rapid and significant growth. Exponential growth also indicates that in this study an optimal age has not been found for teak stands because the graph of the carbon stock curve continues to increase until the age of 41-50 years | |
| 38049 | 44295 | E1B020043 | PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN YANG DIRUGIKAN AKIBAT SERTIFIKAT KEPEMILIKAN TANAH DIJADIKAN JAMINAN KE BANK OLEH DEVELOPER PERUMAHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN | PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN YANG DIRUGIKAN AKIBAT SERTIFIKAT KEPEMILIKAN TANAH DIJADIKAN JAMINAN KE BANK OLEH DEVELOPER PERUMAHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN (Studi Putusan 01/Med/BPSK-YK/III/2023) Oleh: Muhammad Raihan Nugroho E1B020043 ABSTRAK Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya. Terpenuhinya tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang akan terus ada dan berkembang sesuai dengan siklus kehidupan manusia. Masalah perlindungan konsumen perumahan semakin marak terjadi. Seperti dalam kasus seorang konsumen yaitu Ibu X yang membeli unit rumah di Perumahan Graha Kencana Glampong dari PT Adhiwangsa Rahayu Propertindo selaku developer/pelaku usaha di Sleman, Yogyakarta. Unit rumah tersebut dibeli secara tunai oleh konsumen, namun ternyata sertifikat kepemilikan tanah dari rumah tersebut telah dijadikan jaminan ke bank oleh pelaku usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap konsumen yang dirugikan akibat sertifikat kepemilikan tanah dijadikan jaminan ke bank oleh developer perumahan berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Pendekatan penelitian tersebut dilakukan dengan cara meneliti data sekunder sebagai bahan dasar untuk diteliti dengan cara studi pustaka terhadap bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum tersier. Data yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif dan dianalisis menggunakan metode normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, konsumen telah mendapatkan perlindungan hukum. Putusan BPSK yang didasari akta perdamaian para pihak telah memberikan perlindungan hukum bagi konsumen, khususnya pemenuhan hak konsumen pada Pasal 4 huruf a, c, dan h Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dari sisi pelaku usaha, jelas bahwa pelaku usaha telah melanggar kewajiban yang diatur dalam ketentuan Pasal 7 huruf a, b, dan g Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Konsumen, Sertifikat Kepemilikan Tanah Dijadikan Jaminan Ke Bank, Rumah | LEGAL PROTECTTION OF CONSUMER WHO ARE HARMED DUE TO LAND OWNERSHIP CERTIFICATE USED AS COLLATERAL TO BANK BY HOUSING DEVELOPER BASED ON LAW NO. 8 OF 1999 CONCERNING CONSUMER PROTECTION (Case Study Number 01/Med/BPSK-YK/III/2023) By: Muhammad Raihan Nugroho E1B020043 ABSTRACT A house is a building that serves as a livable residence, a means of family development, a reflection of the dignity of its occupants, and an asset for its owner. The fulfillment of house is a basic need for every human being that will continue to exist and develop in accordance with the cycle of human life. Housing consumer protection issues are increasingly prevalent. As in the case of a consumer, namely Mrs. X, who bought a housing unit in Graha Kencana Glampong Housing from PT Adhiwangsa Rahayu Propertindo as a developer/business actor in Sleman, Yogyakarta. The housing unit was purchased in cash by the consumer, but it turned out that the land ownership certificate of the house had been used as collateral to the bank by the business actor. This study aims to determine the legal protection of consumers who are harmed due to land ownership certificates used as collateral to banks by housing developers based on Law No. 8 of 1999 concerning Consumer Protection. This research uses a normative juridical approach method. The research approach is carried out by examining secondary data as a basic material to be researched by means of a literature study of legal materials, both primary legal materials, secondary legal materials, and tertiary legal materials. The data obtained is then presented in the form of narrative text and analyzed using qualitative normative methods. Based on the results of the research and discussion, consumers have received legal protection. The BPSK decision based on the peace deed of the parties has provided legal protection for consumers, especially the fulfillment of consumer rights in Article 4 letters a, c, and h of Law No. 8 of 1999 concerning Consumer Protection. From the side of business actors, it obviously that business actors have violated the obligations stipulated in the provisions of Article 7 letters a, b, and g of Law No. 8 of 1999 concerning Consumer Protection. Keywords: Legal Protection, Consumer, Land Ownership Certificate Used as Collateral to Bank, House | |
| 38050 | 40742 | E1A019249 | Cerai Gugat Karena Penganiayaan Yang Menyebabkan Perselisihan (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 2078/Pdt.G/2022/PA.Pbg) | Salah satu alasan perceraian dalam Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan jo. Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam yaitu antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran. Penelitian ini membahas mengenai perceraian yang diajukan oleh pihak isteri dengan alasan kekerasan dalam rumah tangga dan tidak adanya nafkah wajib atau lahir sehingga menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara perceraian terhadap Putusan Pengadilan Agama Purbalingga Nomor: 2078/Pdt.G/2022/PA.Pbg dan bagaimana akibat hukum cerai gugat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitan yuridis normatif, metode pendekatan kasus, spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Data yang digunakan yaitu data sekunder dengan pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dengan bentuk teks naratif, kemudian dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan perceraian pada perkara Nomor 2078/Pdt.G/2022/PA.Pbg mendasar pada Penjelasan Pasal 39 ayat (2) huruf f Undang-Undang Perkawinan jo Pasal 116 huruf f KHI. Untuk memperkuat putusan tersebut, Majelis Hakim dalam pertimbangan hukumnya dapat menambahkan Penjelasan Pasal 39 ayat (2) huruf d Undang-Undang Perkawinan jo Pasal 116 huruf d KHI serta Pasal 116 huruf g KHI. Akibat hukum dari adanya cerai gugat dalam putusan ini terdapat 3 hal, yaitu pada para pihak yang bersangkutan, kepada anak khususnya tentang pemeliharaan dan pemberian nafkah serta pembagian harta bersama. Akibat terhadap hubungan suami isteri yaitu Talak Satu Bain Sughra sesuai maksud Pasal 119 ayat (2) KHI beserta penjelasannya. Berkaitan dengan pengurusan anak di atur dalam Pasal 41 Undang-Undang Perkawinan yaitu orang tua wajib mengurus anaknya hingga dia dewasa, sedangkan dalam hukum Islam di atur dalam Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam yaitu anak yang belum mumayyiz atau belum berusia 12 (dua belas) tahun maka isteri lah yang berhak mengasuh, mendidik, dan memelihara anak-anaknya. Selain itu, harta bersama dibagi sebagaimana ketentuan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan jo. Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam yang menyebutkan bahwa janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama. | One of the reasons for divorce in the Explanation to Article 39 paragraph (2) of the Marriage Law jo. Article 116 of the Compilation of Islamic Law i.e. between husband and wife there are constant disputes and quarrels. This study discusses divorce filed by the wife on the grounds of domestic violence and the absence of compulsory income or birth, causing disputes and quarrels. The formulation of this research problem is how the judge's legal considerations in deciding divorce cases against the Purbalingga Religious Court Decision Number: 2078 / Pdt.G / 2022 / PA. Pbg and what are the legal consequences of divorce. This research uses normative juridical research types, case approach methods, analytical descriptive research specifications. The data used are secondary data with data collection using literature studies in the form of narrative texts, then analyzed normatively qualitatively. The results showed that the judge's legal considerations in granting divorce in case Number 2078/Pdt.G/2022/PA. Pbg is based on the Explanation of Article 39 paragraph (2) letter f of the Marriage Law jo Article 116 point f KHI. To strengthen the decision, the Panel of Judges in its legal consideration may add an Explanation to Article 39 paragraph (2) letter d of the Marriage Law jo Article 116 letter d of the KHI and Article 116 point g of the KHI. The legal consequences of divorce in this decision are 3 things, namely on the parties concerned, to children, especially regarding the maintenance and provision of income and the division of joint property. The consequences of the husband and wife relationship, namely Talak Satu Bain Sughra in accordance with the meaning of Article 119 paragraph (2) of the KHI and its explanation. Regarding the management of children regulated in Article 41 of the Marriage Law, parents are obliged to take care of their children until they are adults, while in Islamic law it is regulated in Article 105 of the Compilation of Islamic Law, namely children who have not been mumayyiz or have not yet reached the age of 12 (twelve) years, the wife is the one who has the right to nurture, educate, and maintain her children. In addition, the joint property is divided as stipulated in Article 37 of the Marriage Law. Article 97 of the Compilation of Islamic Law states that widows or divorced widowers are each entitled to one-second of the joint property. | |
| 38051 | 44296 | F1B020101 | Efektivitas Program 'Ceting Sega' Di Desa Karangaren, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga | Prevalensi stunting di Desa Karangaren pada tahun 2022 adalah sebesar 21%, prevalensi di Desa Karangaren pada tahun 2023 adalah sebesar 11,55%. Pemerintah Kabupaten Purbalingga pada awal tahun 2023 mengadakan program yang dinamakan Ceting Sega yang merupakan singkatan dari Cegah Stunting Segera. Program ini berisi tentang kebijakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada beberapa anak-anak dengan kelompom usia 6-8 bulan, 9-11 bulan, 12-23 bulan, 24-59 bulan, dan remaja. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Crosstabulation Chi-Square yaitu dengan membandingkan variabel-variabel yang ditentukan yaitu tingkat pendidikan, usia ibu balita, status ekonomi dengan kejadian stunting. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara program Ceting Sega pada usia ibu balita p=0,176, Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) p=0,880, pendidikan ibu balita p=0,389, pendapatan per bulan suami p=0,811, dan pendapatan per bulan istri p=0,425 dengan kejadian stunting di Desa Karangaren, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. | The prevalence of stunting in Karangaren Village in 2022 is 21%, the prevalence in Karangaren Village in 2023 is 11.55%. The Purbalingga Regency Government at the beginning of 2023 held a program called Ceting Sega which is an abbreviation for Prevent Immediate Stunting. This program contains the policy of providing additional food (PMT) to several children aged 6-8 months, 9-11 months, 12-23 months, 24-59 months, and teenagers. The method used in this research is a quantitative descriptive method with a Chi-Square Crosstabulation approach, namely by comparing the determined variables, namely education level, age of the mother of the toddler, economic status and the incidence of stunting. The results of the study showed that there was a significant relationship between the Ceting Sega program on the age of mothers under five p=0.176, height according to age (TB/U) p=0.880, education of mothers under five p=0.389, monthly income of husbands p=0.811, and income per wife's month p=0.425 with the incidence of stunting in Karangaren Village, Kutasari District, Purbalingga Regency. | |
| 38052 | 40743 | I1A019093 | Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Unsafe Action Pada Pekerja Sektor Pertambangan Batu Dan Pasir Di PT Kalingga Makmur Sentosa Abadi | Latar Belakang : Usaha pertambangan skala kecil dan menengah terindikasi masih minim implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sektor usaha pertambangan memiliki potensi risiko bahaya kompleks dan risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena faktor Unsafe action. Unsafe action merupakan sekumpulan tindakan menyimpang pekerja dan berisiko yang tidak sesuai standar operasional prosedur pekerjaan. Pekerja tambang batu dan pasir di PT Kalingga Makmur Sentosa Abadi kerap melakukan tindakan tidak aman saat bekerja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor apa yang berhubungan dengan unsafe action pada pekerja sektor pertambangan batu dan pasir di PT Kalingga Makmur Sentosa Abadi. Metode : Metode penelitian ini adalah kuantitatif berupa observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi sebanyak 66 pekerja di PT Kalingga Makmur Sentosa Abadi. Jumlah sampel sebayak 44 pekerja menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Rank Spearman dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil Penelitian : Variabel yang berhubungan adalah tingkat pendidikan (p-value 0,001), tingkat pengetahuan (p-value 0,037), sosialisasi K3 (p-value 0,006), dan ketersediaan APD (p-value 0,000). Variabel yang tidak berhubungan umur (p-value 0,188), masa kerja (p-value 0,522), motivasi kerja (p-value 0,689), dan persepsi (p-value 0,165). Simpulan : Ada hubungan antara tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, sosialisasi K3, dan ketersediaan APD dengan unsafe action. Saran : Perusahaan lebih memperhatikan implementasi budaya K3 di tempat kerja, yakni menambah ketersediaan fasilitas APD, meningkatkan pengetahuan pekerja melalui sosialisasi K3 yang masif, dan menetapkan regulasi prasyarat tingkat pendidikan minimal pekerja yang direkrut, serta membudayakan perilaku aman pekerja ketika bekerja secara konsisten melalui Behavior Based Safety (BBS). Kata Kunci : Unsafe Action, Pekerja Tambang Batu dan Pasir, Keselamatan dan Kesehatan Kerja. | Background : Small and medium scale mining businesses are indicated to still have minimal implementation of Occupational Safety and Health (K3). The mining business sector has the potential for complex hazard risks and a high risk of work accidents. Work accidents can occur due to unsafe action factors. Unsafe action is a set of deviant and risky actions of workers that are not in accordance with standard operating procedures. Stone and sand mining workers at PT Kalingga Makmur Sentosa Abadi often take unsafe actions while working. The purpose of this study was to determine what factors are associated with unsafe actions in stone and sand mining sector workers at PT Kalingga Makmur Sentosa Abadi. Method : This research method is quantitative in the form of an analytical observations with a cross sectional design. The population was 66 workers at PT Kalingga Makmur Sentosa Abadi. The sample size was 44 workers using purposive sampling method. Data collection was carried out by observation and interview using a questionnaire. Data analysis using the Spearman Rank test with a 95% confidence degree. Research Results: Associated variables are education level (p-value 0.001), knowledge level (p-value 0.037), OHS socialization (p-value 0.006), and PPE availability (p-value 0.000). Unrelated variables were age (p-value 0.188), tenure (p-value 0.522), work motivation (p-value 0.689), and perception (p-value 0.165). Conclusion: There is a relationship between education level, knowledge level, OHS socialization, and PPE availability with unsafe actions. Suggestion: The company pays more attention to the implementation of OHS culture in the workplace, including increasing the availability of PPE facilities, increasing workers' knowledge through massive OHS socialization, and setting regulations on the prerequisites for the minimum education level of recruited workers, as well as cultivating workers' safe behavior when working consistently through Behavior Based Safety (BBS). Keywords: Unsafe Action, Stone and Sand Mine Workers, Occupational Safety and Health | |
| 38053 | 44297 | I1E020009 | PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN RENANG BERBASIS SMART APPS CREATOR (SAC) UNTUK SISWA SMA | Latar Belakang: Pembelajaran didukung oleh teknologi, bukan hanya sekadar menggantikan metode pengajaran tradisional, tetapi membuka pintu untuk pengalaman belajar yang lebih menarik, interaktif, dan berdampak positif pada prestasi akademik siswa.Tujuan dari penelitian ini untuk membuat media pembelajaran yang layak dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metodologi: Penelitian ini akan menggunakan penelitian dan pengembangan (R&D), Populasi yang ditetapkan adalah siswa kelas XI dari tiga sekolah di wilayah tertentu: SMAN 2 Cilacap (72 siswa), SMA Negeri 1 Jeruklegi (31 Siswa), dan SMA Negeri 1 Maos (71 Siswa). Model penelitian yang akan peneliti gunakan yaitu menggunakan model pengembangan sugiyono yang berisikan 10 tahapan. Instrumen penelitian menggunakan angket yang menggunakan rentang skala likert 1-5. Hasil Penelitian: Media pembelajaran renang berbasis Smart Apps Creator layak untuk digunakan berdasarkan penilaian siswa sebesar 91.75% dan penilaian guru sebesar 95.76%, kemudian hasil penilaian ahli media 92.38%, ahli materi 88.00% dan ahli bahasa 100% sehingga dapat disimpulkan media tersebut berada pada kategori sangat layak. Hasil penelitian menunjukan terjadi peningkatan terhadap kedua kelompok secara signifikan. Kelompok treatment meningkat 0.000 sedangkan kelompok kontrol 0.016, sehingga dapat disimpulkan media SAC efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kesimpulan: Media pembelajaran renang berbasis Smart Apps Creator layak untuk digunakan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. | Background: Technology-supported learning not only replaces traditional teaching methods, but opens the door to a more exciting, interactive learning experience that has a positive impact on student academic achievement. Methodology: This research will use research and development (R&D), The population set is eleventh grade students from three schools in a particular region: SMAN 2 Cilacap (72 students), 1 Jeruklegi State High School (31 students), and 1 Maos State High school (71 Siswa). The research model that the researchers are going to use is a sugiyono development model that consists of 10 stages. The research instrument uses a lift that uses a likert scale range of 1-5. Research Results: The Smart Apps Creator-based swimming learning media is eligible for use based on a student rating of 91.75% and a teacher score of 95.76%, then media expert ratings of 92.38%, material expert of 88.00% and language expert of 100% so it can be concluded that the media belongs to the category of highly qualified. The results show a significant increase in both groups. The treatment group increased to 0,000 and the control group to 0.016, so it can be concluded that SAC media is effective in improving student learning outcomes. Conclusion: The Smart Apps Creator-based swimming learning media is user-friendly and can improve student learning outcomes. | |
| 38054 | 45277 | A1C019073 | RANCANG BANGUN AKUAPONIK SISTEM DEEP FLOW TECHNIQUE (DFT) BERENERGI SURYA DENGAN KENDALI MANUAL PADA SELADA (Lactuca sativa L.) | Pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat membuat kebutuhan akan lahan pertanian juga semakin meningkat, hal ini dikarenakan kebutuhan akan konsumsi pangan juga akan semakin besar. Sistem drainase semakin buruk yang berakibat pada kegagalan panen dan berkurangnya sumber air serta buruknya kualitas perairan menjadi masalah yang harus ditangani. Sistem budidaya akuaponik menjadi alternatif dari keterbatasan lahan budidaya serta sistem drainase. Tanaman akan berfungsi sebagai biofilter dengan menyerap zat racun ammonia menjadi nitrat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman sekaligus menyuplai oksigen pada air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan menggunakan pompa air. Pemanfaatan energi terbarukan seperti energi matahari (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dapat menjadi alternatif yang memiliki dampak positif. Pelaksanaan penelitian memberikan hasil berupa rancang bangun akuaponik sistem DFT bekerja dengan baik secara struktur dan fungsi. Uji Performansi pada panel surya menghasilkan nilai tegangan dengan rata-rata sebesar 14,27 V, nilai arus dengan rata-rata sebesar 1,47 A, dan nilai daya dengan rata-rata sebesar 21,20 W. Konsumsi daya listrik yang dihasilkan sumber energi listrik tenaga surya pada pompa air 10 W sebesar 70 Wh setiap harinya. Intensitas cahaya matahari tertinggi sebesar 80430 lux, sementara itu nilai daya tertinggi sebesar 40,32 W. Panel surya akuaponik berenergi surya menghasilkan efisiensi dengan rata-rata sebesar 10,34%. Perhitungan pada NPV diperoleh hasil sebesar negatif Rp. 1.493.202, dengan tingkat usaha pada suku bunga 6%. Nilai IRR yang diperoleh sebesar -50% atau kurang dari suku bunga yang berlaku. Perhitungan nilai B/C Ratio yang diperoleh sebesar 0,19. Perhitungan PP diperoleh hasil bahwa usaha akan mendapatkan kembali modal yang telah dikeluarkan selama lebih dari sepuluh tahun. | The continuing increase in population means the need for agricultural land is also increasing, this is because the need for food consumption will also be greater. The drainage system is getting worse, resulting in crop failure and reduced sources of water and poor water quality, which is a problem that must be addressed. The aquaponic cultivation system is an alternative to limited cultivation land and drainage systems. Plants will function as biofilters by absorbing the toxic substance ammonia into nitrates needed for plant growth as well as supplying oxygen to the water used for raising fish using a water pump. Utilization of renewable energy such as solar energy (Solar Power) can be an alternative that has a positive impact.The implementation of the research provided results in the form of a DFT aquaponics system design that worked well structurally and functionally. Performance tests on solar panels produce an average voltage value of 14.27 V, an average current value of 1.47 A, and an average power value of 21.20 W. Consumption of electrical power produced by energy sources Solar electricity on a 10 W water pump is 70 Wh every day. The highest intensity of sunlight is 80430 lux, while the highest power value is 40.32 W. Solar energy aquaponic solar panels produce an efficiency with an average of 10.34%. Calculations on NPV yielded a result of negative Rp. 1.493.202, with business rates at an interest rate of 6%. The IRR value obtained is -50% or lessr than the applicable interest rate. The calculation of the B/C Ratio value obtained is 0,19. Payback period calculations show that the business will get back the capital that has been spent more than 10 years. | |
| 38055 | 40745 | E1A116085 | TINJAUAN TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM MENGENAI DOXING DI INDONESIA | Tindak kejahatan Doxing di Indonesia dewasa ini kian marak terjadi, namun perlindungan hukum mengenai tindak kejahatan Doxing masih dirasa kurang karena walaupun sudah ada beberapa peraturan yang menyinggung tentang Doxing, namun belum ada peraturan yang mengatur tentang Doxing secara spesifik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaturan mengenai Doxing dan upaya perlindungan hukum tentang Doxing di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan masalah yaitu metode doktriner dimana pendekatan permasalahan ditinjau dari aspek norma hukum yang diimplementasikan dalam tataran normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder dan pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan. Metode analisis data yang digunakan adalah yuridis kualitatif. Kejahatan Doxing belum memiliki definisi yang tertuang secara khusus dalam undang-undang. Kejahatan ini biasanya dilakukan terhadap informasi seseorang yang bersifat rahasia dan informasi tersebut diketahui dan disebarluaskan oleh orang lain tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan sehingga akan menimbulkan kerugian baik secara materil maupun imateril. | Nowadays, Doxing crimes in Indonesia are increasingly common, but legal protection regarding Doxing crimes is still lacking because even though there have been several regulations pertaining to Doxing, there are no regulations specifically governing Doxing. The purpose of this study is to find out the regulations regarding Doxing and legal protection efforts regarding Doxing in Indonesia. This research is a normative juridical with problem approach method are doctrinal method in which the approach to the problem is viewed from the aspect of legal norms implemented at a normative level. The data source used in this research is secondary data, collected by library research method, and analyzed with qualitative juridical method. The crime of doxing does not yet have a definition specifically stated in the law. This crime is usually committed against someone's confidential information and this information is known and disseminated by another person without the consent of the party concerned so that it will cause material and immaterial losses. | |
| 38056 | 40746 | C1B019084 | Analisis Pengaruh Investasi dan Jumlah Penduduk terhadap Pendapatan Asli Daerah di Jawa Tengah Dengan PDRB sebagai Variabel Mediasi | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Investasi dan Jumlah Penduduk dapat berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah dan apakah Produk Domestik Regional Bruto dapat berperan sebagai mediasi antara variabel tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Sampel pada penelitian ini adalah laporan keuangan daerah dan jumlah penduduk di Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah Statistical Package for Social Science (SPSS). Hasil dari uji statistik pada penelitian ini menunjukan bahwa Investasi dan Jumlah Penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah. Pada penelitian ini, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) memiliki peran yang dapat memediasi pengaruh Investasi dan Jumlah Penduduk terhadap Pendapatan Asli Daerah. Studi ini diharapkan memberikan implikasi pada pihak-pihak yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah yang berkelanjutan. | This study aims to determine whether Investment and Population can affect Original Local Government Revenue and whether Gross Regional Domestic Product can act as a mediation between these variables. The research method used quantitative research. The sampling technique in this study used purposive sampling. The sample in this study is using regional financial statements and the population in Central Java. Data is collected through literature study and documentation. The data analysis method used is the Statistical Package for Social Science (SPSS). The results of the statistical tests in this study show that Investment and Population have a positive and significant effect on Original Local Government Revenue. In this study, the Gross Regional Domestic Product (GRDP) has a role that can mediate the effect of Investment and Population on Original Local Government Revenue. This study is expected to provide implications for parties related to regional financial management to increase sustainable local revenue. | |
| 38057 | 40748 | B1A019125 | KELIMPAHAN EKTOPARASIT PADA BENIH GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.) DI PASAR IKAN PURWONEGORO KABUPATEN BANJARNEGARA | Pasar Ikan Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara adalah salah satu tempat jual beli ikan yang terkenal di Jawa Tengah, yang diperjualbelikan antara lain adalah benih gurami (Osphronemus gouramy Lac.). Benih gurami sangat rentan terhadap serangan penyakit, termasuk serangan ektoparasit. Infeksi ektoparasit merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup benih gurami, dapat menjadi sumber infeksi sekunder yang menghambat pertumbuhan bahkan menyebabkan kematian. Pasar ikan juga dapat berfungsi sebagai sarana penyebaran penyakit dari petani yang memproduksi benih ikan ke petani yang melakukan budidaya ikan di lokasi lain. Penelitian ini untuk mengetahui tingkat keberadaan ektoparasit pada benih gurami (pendederan I) yang ditemukan di Pasar Ikan Purwonegoro, Kabupaten Banjarnegara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis ektoparasit dan kelimpahannya pada benih gurami (pendederan I) di Pasar Ikan Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara. Metode yang digunakan adalah metode survei dan pengambilan sampel menggunakan metode purpose random sampling. Pengambilan sampel dilakukan dua kali dengan jangka waktu dua minggu dari salah satu penjual ikan. Jumlah sampel benih gurami yang digunakan adalah 100 ekor benih gurami (O. gouramy Lac.). Hasil analisis menunjukkan adanya tiga jenis ektoparasit, yaitu Oodinium sp., Dactylogyrus sp., dan Gyrodactylus sp. Kelimpahan ektoparasit tertinggi terdapat pada Oodinium sp. dengan jumlah (0,41 individu per ekor ikan), diikuti oleh Dactylogyrus sp. (0,16 individu per ekor ikan), dan Gyrodactylus sp. (0,04 individu per ekor ikan). Organ yang paling banyak terinfeksi ektoparasit adalah sirip pektoral, terutama oleh Oodinium sp. dengan jumlah rata-rata 0,23 individu per ekor ikan. | The Purwonegoro Fish Market in Banjarnegara Regency is one of the renowned places for buying and selling fish in Central Java. Among the fish traded here is the gourami fry (Osphronemus gouramy Lac.). Gourami fry are highly susceptible to disease, including attacks from ectoparasites. Ectoparasite infections pose a serious threat to the survival of gourami fry, as they can lead to secondary infections that hinder growth and even cause death. The fish market can also serve as a means of disease transmission from farmers producing fish fry to those engaged in fish cultivation at other locations. This research aims to determine the prevalence of ectoparasites in gourami fry (nursery phase I) found in the Purwonegoro Fish Market, Banjarnegara Regency. The objectives of this study are to identify the types of ectoparasites and their abundance in gourami fry (nursery phase I) at the Purwonegoro Fish Market, Banjarnegara Regency. The method used in this research is a survey method with purpose random sampling. Sampling was conducted twice within a two-week interval, from one of the fish sellers. The total number of gourami fry samples used was 100 individuals (O. gouramy Lac.). The results of the analysis revealed three types of ectoparasites: Oodinium sp., Dactylogyrus sp., and Gyrodactylus sp. The highest abundance of ectoparasites was found in Oodinium sp., with a count of (0.41 individuals/fish), followed by Dactylogyrus sp. (0.16 individuals/fish), and Gyrodactylus sp. (0.04 individuals/fish). The pectoral fins were the most affected organ, primarily by Oodinium sp., with an average count of 0.23 individuals/fish. | |
| 38058 | 40782 | I1D019010 | Hubungan antara Muscle Dysmorphia dengan Tingkat Kecukupan Asupan Zat Gizi Makro pada Remaja Akhir Laki-laki (Studi pada Member Pusat Kebugaran di Wilayah Banyumas) | Latar Belakang: Pada remaja laki-laki terdapat perubahan otot dan jaringan lemak secara cepat yang merupakan aspek penting dari body dissatisfaction dan dapat mengakibatkan gangguan psikologis, salah satunya Muscle Dysmorphia. Muscle Dysmorphia dapat membuat seseorang melakukan perubahan pola makan, seperti konsumsi protein yang berlebihan dan pembatasan asupan non-protein, termasuk karbohidrat atau lemak sehingga akan mempengaruhi tingkat kecukupan zat gizi makro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Muscle Dysmorphia dengan tingkat kecukupan asupan zat gizi makro pada remaja akhir laki-laki member pusat kebugaran di wilayah Banyumas. Metodologi: Penelitian cross sectional dengan total sampel sebanyak 81 orang yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner Drive for Muscularity Scale (DMS) dan wawancara SQ-FFQ. Analisis data menggunakan uji Likelihood Ratio dan Uji Chi square. Hasil Penelitian: Sebanyak 53,1% responden mengalami Muscle Dysmorphia. Tingkat kecukupan asupan kerbohidrat (87,7%) dan lemak (70,4%) sebagian besar defisit, sedangkan tingkat kecukupan asupan protein sebagian besar lebih (54,3%). Tidak terdapat hubungan antara Muscle Dysmorphia dengan tingkat kecukupan asupan karbohidrat (p>0,05), lemak (p>0,05), dan protein (p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara Muscle Dysmorphia dengan tingkat kecukupan asupan karbohidrat, lemak, dan protein. | Background: In male adolescents, there is a rapid change in muscle and fat tissue which is an important aspect of body dissatisfaction and it can cause psychological disorders, one of which is Muscle Dysmorphia. Muscle Dysmorphia can make a person changing their dietary, such as consuming excessive protein and limiting non-protein intake, including carbohydrates or fat, that will affect adequacy level of macronutrients. This study aims to determine the relationship between Muscle Dysmorphia and the adequacy level of macronutrient intake in late adolescent male members of fitness centers in Banyumas region. Methodology: This was cross-sectional study with total sample of 81 people that was taken using purposive sampling technique. The research used Drive for Muscularity Scale (DMS) questionnaires and SQ-FFQ interviews. Data analysis used Likelihood Ratio test and Chi square test. Results: The total of 53.1% respondents experienced Muscle Dysmorphia. The adequacy level of carbohydrate (87.7%) and fat (70.4%) intake were mostly deficit, while protein level of adequacy was mostly over (54.3%). There was no relationship between Muscle Dysmorphia and the adequacy level of carbohydrates (p>0.05), fat (p>0.05), and protein (p>0.05). Conclusion: There was no relationship between Muscle Dysmorphia and the adequacy level of carbohydrates, fat, and protein. | |
| 38059 | 40750 | F1D019008 | Relasi Aktor Dalam Implementasi Peraturan Bupati Nomor 62 Tahun 2022 Tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Di Kabupaten Cilacap | Permasalahan sampah plastik di Kabupaten Cilacap memiliki salah satu jalan keluar dalam penanganannya melalui penerapan Program Cilacap Tanpa Kantong Plastik (CANTIK) yang telah diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 62 Tahun 2022 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. Dalam implementasinya, diperlukan peran aktif aktor-aktor untuk mewujudkan tujuan dibentuknya Perbup tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan relasi yang terjalin antar aktor-aktor politik dan apa saja faktor-faktor yang mendorong dan menghambat dalam proses implementasi kebijakan. Untuk mendukung tulisan ini, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dari jurnal, buku, serta artikel media online. Tulisan ini menunjukkan hasil, pertama, relasi antar aktor politik dalam implementasi kebijakan terjalin melalui bentuk interaksi yang baik namun belum semuanya mengarah pada relasi yang bersifat asosiatif. Kedua, implementasi kebijakan ini didorong oleh (1) Dorongan kuat dalam menyukseskan program nasional pengurangan sampah plastik sebesar 30%; (2) Kemampuan DLH dalam menjalin kerjasama dengan bank sampah. Sedangkan faktor penghambatnya disebabkan oleh (1) Pelaksanaan sosialisasi yang tidak merata; (2) Sumber daya manusia para aktor non pemerintah yang rendah; (3) Belum meratanya komitmen dari pelaku usaha karena ketidaktegasan pemerintah dalam menegakkan sanksi; serta (4) Belum maksimalnya tugas dan peran yang dijalankan oleh setiap aktor. Dengan demikian, implementasi Perbup ini belum dapat dinyatakan berhasil atau efektif dikarenakan beberapa hambatan yang belum mampu diatasi dengan baik. Sehingga perlu ada komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi yang baik supaya Perbup ini mampu mewujudkan tujuan yang telah direncanakan. Kata Kunci: Kebijakan, Aktor Politik, Relasi Aktor | The problem of plastic waste in Cilacap Regency has one way out in handling it through the implementation of the Cilacap Tanpa Kantong Plastik (CANTIK) Program which has been regulated in Regent Regulation Number 62 of 2022 concerning Reducing the Use of Plastic Bags. In its implementation, the active role of actors is needed to realize the purpose of establishing the Regent Regulation. This paper aims to explain the relations that exist between political actors and what are the factors that encourage and hinder the process of policy implementation. To support this paper, data was collected through interviews, observation, and documentation from journals, books, and online media articles. This paper shows the results, first, the relationship between political actors in implementing policies is established through good forms of interaction, but not all of them lead to associative relations. Second, the implementation of this policy is driven by (1) a strong drive to succeed in the national program of reducing plastic waste by 30%; (2) DLH's ability to cooperate with waste banks. Meanwhile, the inhibiting factors were caused by (1) Uneven implementation of socialization; (2) Human resources of non-government actors are low; (3) Uneven commitment from business actors due to the government's indecisiveness in enforcing sanctions; and (4) the tasks and roles carried out by each actor have not been maximized. Thus, the implementation of this Regent Regulation cannot be declared successful or effective due to several obstacles that have not been able to be overcome properly. So there needs to be good communication, resources, disposition, and bureaucratic structure so that this Regent Regulation can realize the planned goals. Keywords: Policies, Political Actors, Actor Relations | |
| 38060 | 44299 | I1E020001 | PENGARUH INTERVAL TRAINING TERHADAP PENINGKATAN KARDIORESPIRATORI SISWA EKSTRAKURIKULER BOLA BASKET SMA NEGERI 1 BATURRADEN | Latar Belakang: Berdasarkan pengamatan dan observasi peneliti, tingkat daya tahan siswa belum maksimal dalam mengikuti pertandingan. Untuk mendapatkan daya tahan yang baik maka diperlukan latihan fisik yang disiplin dan terprogram. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan One Group Pretest Posttest Design. Penentuan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 8 siswa, dengan 5 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan. Pengujian dalam penelitian ini menggunakan SPSS versi 25 dengan teknik analisis uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis menggunakan Uji Paired Sample T Test. Hasil Penelitian: Setelah dianalisis menggunakan uji t tingkat kardiorespiratori siswa ektrakurikuler bola basket mendapat nilai signifikansi sebesar 0,0001 hal ini menunjukan bahwa Interval Training mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kardiorespiratori. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat pengaruh Interval Training terhadap peningkatan kardiorespiratori. | Background: Based on observations, students' endurance levels are not optimal when participating in competitions. To get good endurance, disciplined and programmed physical exercise is needed. Methodology: This research uses an experimental method with One Group Pretest Posttest Design. Determination of the sample using Purposive Sampling technique. The sample in this study consisted of 8 students, with details of 5 male students and 3 female students. Testing in this research used SPSS version 25 with the analysis technique of normality test, homogeneity test, and hypothesis testing using the Paired Sample T Test. Research Results: After analyzing using the t test, the cardiorespiratory level of basketball extracurricular students obtained a significance value of 0.0001, this shows that Interval Training has a significant influence on cardiorespiratory levels. Conclusion: Based on the results of research that has been conducted, there is an influence of Interval Training on improving cardiorespiration. |