Artikelilmiahs

Menampilkan 36.981-37.000 dari 49.002 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3698139835I1J019013THE EFFECTIVENESS MORINGA (Moringa oleifera) AND GEDI LEAVES (Abelmoschus manihot L) COMBINATION ON TRYGLYCERIDE IN DYSLIPIDEMIA INDUCED RATS (Rattus norvegicus)Latar belakang: Dislipidemia adalah peningkatan kadar lemak dan kolesterol dalam darah. Penurunan kadar High-Density Lipoprotein (HDL) dan peningkatan kolesterol total, Low-Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida terjadi pada dislipidemia. Daun kelor dan daun gedi mengandung antioksidan, flavonoid, dan saponin yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi daun kelor dan daun gedi terhadap kadar trigliserida pada tikus putih hiperlipidemia.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang valid dengan hasil Pre-test dan Post-test dengan desain kelompok kontrol ceria. Sampel dibuat menjadi enam kelompok kontrol sehat; kelompok B, kontrol negatif; kelompok C kombinasi air rebusan dosis 80mg/200gBB kelor : 30mg/200gBB daun gedi, kelompok D kombinasi air rebusan kelor 80mg/200gBB dosis : 60mg/200gBB daun gedi, kelompok E kombinasi air rebusan dosis 160mg/200gBB kelor : 30mg /200gBB daun gedi, kontrol positif kelompok F (simvastatin 0,18 mg/200grBB). Hewan coba diberi diet tinggi lemak (H.F.D.) selama 14 hari kemudian diberi intervensi kombinasi air matang sesuai dosis selama 14 hari. Data kadar trigliserida yang diperoleh diuji dengan Way ANOVA dilanjutkan dengan Posthoc Duncan.
Hasil: Pada masing-masing kelompok perlakuan terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok B dengan kelompok A, C, D, E, dan F. Namun kelompok C mengalami penurunan yang sangat rendah mendekati kelompok positif biasa (A), sehingga penelitian ini menggunakan sebagai dosis yang paling efektif. Pada tabel 4.4 di atas diperoleh hasil post test bahwa kelompok B memiliki perbedaan yang signifikan dengan kelompok A, C, D, E, dan F. Berdasarkan hasil yang diperoleh terlihat bahwa kelompok C mengalami penurunan yang paling signifikan pada nilai kadar TG dengan penurunan sebesar 108,525 dibandingkan kelompok perlakuan lainnya, selain mengalami penurunan nilai kelompok C yang signifikan juga mendekati nilai kelompok kontrol sehat.
Simpulan: Pemberian HFD & PTU pada kelompok perlakuan B, C, D, E, dan F dapat meningkatkan kadar Trigliserida, rebusan kelor dan daun gedi dengan perbandingan gabungan 1:1 berpengaruh menurunkan kadar Trigliserida, rebusan kelor dan gedi Daun kelor dengan perbandingan 1:2 berpengaruh menurunkan kadar Trigliserida, daun kelor rebus dan daun gedi dengan perbandingan 2:1 berpengaruh menurunkan kadar Trigliserida, daun kelor rebus dan daun gedi memiliki penurunan paling besar dengan dosis kombinasi 1 : 1 sehingga kelompok tersebut dapat dinyatakan sebagai kelompok dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar Trigliserida simvastatin dengan dosis 0,18 mg/200 gBB menurunkan kadar Trigliserida yang sama dengan kelompok kontrol negatif daun kelor dan gedi yang digabungkan dalam suatu rasio gabungan 1:1 mempengaruhi tingkat TG
Background: Dyslipidemia is an elevated level of fat and cholesterol in the blood. Decreased High-Density Lipoprotein (HDL) levels and increased total cholesterol, Low-Density Lipoprotein (LDL), and triglycerides occur in dyslipidemia. Moringa and gedi leave contain anti-oxidants, flavonoids, and saponins that benefit the body. This study aimed to determine the effect of a combination of moringa and gedi leaves on triglyceride levels in hyperlipidemic white rats.
Methodology: This study uses a valid experimental method with Pre-test and Post-test results with a cheerful control group design. Samples were made into six groups A healthy control; group B, negative control; group C combination of boiled water doses of 80mg/200gBW moringa: 30mg/200gBW gedi leaves, group D combination of 80mg/200gBW moringa decoction water dose: 60mg/200gBW gedi leaves, group E combination of boiled water dose 160mg/200gBW moringa: 30mg/200gBW gedi leaves, group F positive control (simvastatin 0.18 mg / 200grBB). Experimental animals were given a high-fat diet (H.F.D.) for 14 days and then given a combined intervention of boiled water according to the dose for 14 days. Data on triglyceride levels obtained were tested with Way ANOVA followed by Posthoc Duncan.
Result: In each treatment group, there was a significant difference between groups B and A, C, D, E, and F. However, group C had a very low decrease close to the usual positive group (A), so this study used it as the most effective dose. In table 4.4 above, the post-test results obtained are group B has a significant difference with groups A, C, D, E, and F. Based on the results obtained, it can be seen that group C has the most significant decrease in the value of TG levels with a decrease of 108.525 compared to other treatment groups, in addition to having a significant decrease in the value of group C is also close to the value of the healthy control group.
Conclusion: Administration of HFD & PTU in treatment groups B, C, D, E, and F can increase Triglyceride levels, Moringa boiled and gedi leaves in a combined ratio of 1: 1 have an effect in reducing Triglyceride levels, moringa boiled and gedi leaves in a combination ratio of 1: 2 has an effect in reducing Triglyceride levels, moringa leaf boiled and gedi leaves in a combination ratio of 2: 1 has an effect in reducing Triglyceride levels, moringa boiled and gedi leaves have the most decrease at a combination dose of 1: 1 so the group can be stated as the most effective dose in reducing Triglyceride levels simvastatin at a dose of 0.18 mg / 200 gBW decreased Triglyceride levels which were the same as the negative control group moringa and gedi leaves combined in a combined ratio of 1:1 affect TG levels.
3698239825I1C019035ANALISIS BIOINFORMATIKA DAN MOLECULAR DOCKING SENYAWA GALANGIN PADA KANKER KOLOREKTALLatar Belakang: Kanker kolorektal merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker. Pengobatan kanker kolorektal memiliki keterbatasan seperti kelarutan obat yang buruk, resistensi obat, dan penargetan obat tidak spesifik. Oleh karena itu, dilakukan eksplorasi senyawa yang berpotensi sebagai antikanker. Galangin diketahui memiliki efek antikanker pada sel kanker kolorektal HCT-15 dan HT-29 setelah diuji secara in-vitro. Penelitian in-silico ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui target molekuler, energi dan jenis ikatan galangin pada kanker kolorektal.

Metodologi: Penelusuran gena target dilakukan dengan menggunakan NCBI, STITCH, STRING, dan PDB. DTP dan ITP dibandingkan dengan gena pada kanker kolorektal. Dicari top 10 hub gene menggunakan cytoscape untuk dilakukan docking. Validasi docking dilakukan dengan pymol untuk mengetahui RMSD dan docking menggunakan autodock vina untuk mengetahui energi ikatan dan divisualisasikan menggunakan Biovia.

Hasil Penelitian: Target potensial kanker kolorektal dari galangin adalah AKT1, VEGFA, FN1, CYP1A1, MMP2, CYP1A2, SRC, STAT3, TGFB1, dan HGF. Protein AKT1 dan SRC merupakan target potensial untuk penambatan dengan RMSD <2Å. Docking memberikan hasil bahwa SRC berpotensi sebagai target dari galangin karena memiliki energi ikatan yang lebih rendah dari kontrol positif yaitu -8,4 kkal/mol dengan mengikat residu asam amino Lys295.

Kesimpulan: Galangin pada kanker kolorektal berpotensi sebagai antikanker kolorektal dengan menargetkan protein SRC.
Background: Colorectal cancer is one of the leading causes of cancer death. Colorectal cancer treatment shows limitations such as poor drug solubility, drug resistance, and non-specific drug targeting. Therefore, an exploration of potential compounds as anticancer was carried out. Galangin is known to have anticancer effects in colorectal cancer cells HCT-15 and HT-29 after being tested through an in-vitro. In-silico research was conducted with the aims to knowing molecular targets, energy and types of galangin bonds in colorectal cancer.

Methodology: Target genes search were performed using PubMed, STITCH, STRING, and PDB. DTP and ITP were compared with genes in colorectal cancer. Top 10 hub genes were searched using cytoscape for docking. Docking validation using pymol to find the RMSD and docking using Autodock vina to determine bond energy and visualized with Biovia.

Results: Colorectal cancer potential targets of galangin are AKT1, VEGFA, FN1, CYP1A1, MMP2, CYP1A2, SRC, STAT3, TGFB1, and HGF. AKT1 and SRC are potential proteins for docking with RMSD <2Å. Docking showed that SRC is potential target of galangin because it has lower binding energy than the positive control which is -8,4 kcal/mol by binding to amino acid residue Lys295

Conclusion: Galangin in colorectal cancer potential as an anticancer by targeting SRC protein.
3698344166E1A019246PERTANGGUNGJAWABAN GANTI RUGI TERHADAP KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN KELAPA SAWIT OLEH PT RAFI KAMAJAYA ABADI
(Studi Terhadap Putusan Nomor 44/Pdt.G/LH/2021/PN Stg)
Dalam lingkungan hidup Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) digunakan untuk melindungi dari kerusakan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengkualifisir perbuatan melawan hukum kebakaran hutan dan lahan serta memutuskan besarnya ganti rugi dalam kerusakan lingkungan, khususnya dalam kebakaran hutan dan lahan.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan undang-undang dan pendekatan kasus. Spesifikasi penelitian preskriptif. Data bersumber dari data primer, sekunder, dan tersier. Metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan, menggunakan metode analisis yuridis kualitatif.
Majelis Hakim dalam pertimbangannya tidak mengkualifisir perbuatan melawan hukum, namun dalam gugatan, Penggugat mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum. Penulis berpendapat, dengan diajukannya gugatan perbuatan melawan hukum, Majelis Hakim sepatutnya untuk tetap membuktikan gugatan perbuatan melawan hukum. Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan kelapa sawit merupakan perbuatan melawan hukum karena terbuktinya kebakaran tersebut telah melanggar kewajiban hukumnya sendiri dalam memelihara fungsi kelestarian lingkungan hidup sehingga kebakaran hutan dan lahan kelapa sawit yang terjadi dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, penelitian ini membahas penerapan pertanggungjawaban ganti rugi yang diatur dalam Pasal 1365 KUHPer. Dengan diterapkannya strict liability, unsur kesalahan tidak perlu dipenuhi. Terpenuhinya keempat unsur kumulatif dalam Pasal 1365 KUHPer, hakim memutuskan untuk memberikan ganti rugi kerusakan lingkungan sejumlah Rp.270.807.710.959,00 dan biaya pemulihan sebesar Rp.646.216.640.000,00. Penghitungan ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Lampiran II PERMENLH 7/2014.
In the environmental context of Indonesia, Environmental Protection and Management Law Number 32 of 2009 is employed to safeguard against environmental damage, including forest and land fires. The aim of this research is to analyze the legal considerations made by the judges in qualifying the unlawful act of forest and land fires and determining the extent of compensation for environmental damage, particularly in cases of forest and land fires.
The method utilized in this study is normative juridical with a legal and case-based approach. The research is characterized as prescriptive. Data is sourced from primary, secondary, and tertiary sources, collected through literature studies, and analyzed using a qualitative juridical analysis method.
The Panel of Judges, in its deliberation, did not qualify the act as illegal. However, the plaintiff files a lawsuit alleging an illegal act. The Author argues that with the filing of the lawsuit alleging an illegal act, the Panel of Judges should still substantiate the allegation of an illegal act. The analysis and discussion results indicate that forest fires and oil palm land fires constitute illegal acts because the fires have been proven to violate their own legal obligations in preserving the function of environmental sustainability, thus making the forest fires and oil palm land fires accountable. Second, this study discusses the application of compensation liability as regulated in Article 1365 of the Indonesian Civil Code (KUHPer). With the application of strict liability, the element of fault does not need to be fulfilled. With the fulfillment of the four cumulative elements in Article 1365 of KUHPer, the judge decided to grant compensation for environmental damage in the amount of IDR 270,807,710,959.00 and restoration costs amounting to IDR 646,216,640,000.00. This calculation complies with the provisions stipulated in Attachment II of Minister of Environment Regulation of the Republic of Indonesia Number 7 of 2014 concerning Environmental Damage Due to Pollution and/or Environmental Destruction.
3698439815I1C019072Pemantauan Keberhasilan Terapi dan Adverse Event Penggunaan Unfractionated Heparin dibandingkan dengan Fondaparinux pada Pasien Infark Miokard AkutPenggunaan unfractionated heparin atau fondaparinux dapat mencegah terjadinya kejadian infark miokard berulang, tetapi memiliki risiko perdarahan sebagai adverse event utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keberhasilan terapi penggunaan unfractionated heparin dibandingkan dengan fondaparinux terhadap kejadian infark miokard berulang dan kejadian adverse event pada pasien infark miokard akut. Penelitian ini dilakukan secara observasional dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan metode total sampling dengan mengambil data rekam medis pasien acute transmural myocardial infarction of anterior wall rawat inap di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode Januari 2019-Desember 2021 yang berjumlah 126 pasien. Analisis data dilakukan terkait penggunaan unfractionated heparin atau fondaparinux terhadap tanda klinis kejadian infark miokard berulang secara statistik menggunakan Uji Chi-Square. Analisis kejadian adverse event dilakukan secara deskriptif. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat perbedaan signifikan keberhasilan terapi penggunaan unfractionated heparin dibandingkan dengan fondaparinux terhadap kejadian infark miokard berulang (p-value 0,004). Sebanyak 57,14% pasien yang menggunakan unfractionated heparin memiliki tanda klinis kejadian infark miokard berulang, sementara pada pasien yang menggunakan fondaparinux sebanyak 31,75%. Adverse event berupa perdarahan terjadi sebanyak 32 kasus meliputi hematuri (59,38%), epistaxis (12,5%), melena (9,37%), batuk berdarah (6,25%), hematemesis (6,25%), dan gusi berdarah (6,25%). Penggunaan fondaparinux memberikan keberhasilan terapi yang lebih baik dari unfractionated heparin jika dilihat dari kejadian infark miokard berulang. Kejadian adverse event berupa perdarahan meliputi hematuria, epistaxis, melena, batuk berdarah, hematemesis, dan gusi berdarah.Using unfractionated heparin or fondaparinux can prevent the recurrence of myocardial infarction, but it causes bleeding risk as the primary adverse event. This research aims to discover the differences between therapy success in using unfractionated heparin and fondaparinux in the recurrence of myocardial infarction and the adverse event in acute myocardial infarction patients. This research was conducted observationally. The data were obtained retrospectively using a total sampling method by collecting the medical record data of 126 acute transmural myocardial infarctions of the anterior wall inpatients in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital from January 2019 to December 2021. The data regarding the use of unfractionated heparin or fondaparinux to the clinical signs of recurrent myocardial infarction were analyzed using a Chi-Square Test statistically. The adverse events were analyzed using a descriptive method. The result of the statistical analysis shows that there is a significant difference between using unfractionated heparin and fondaparinux to the recurrence of myocardial infarction (p-value 0,004). 57,14% of the patients who use unfractionated heparin have clinical signs of recurrent myocardial infarction. Meanwhile, only 31,75% of the patients who use fondaparinux have clinical signs of recurrent myocardial infarction. The adverse event in the form of bleeding occurs in 32 cases including hematuria (59,38%), epistaxis (12,5%), melena (9,37%), bleeding cough (6,25%), haematemesis (6,25%), and bleeding gums (6,25%). Using fondaparinux gives a better therapy success compared to unfractionated heparin in the recurrence of myocardial infarction. The adverse event in the form of bleeding includes hematuria, epistaxis, melena, bleeding cough, haematemesis, and bleeding gums.
3698539840I1C019085Pengaruh Penggunaan Heparin Terhadap Kesesuaian
Pemanjangan Nilai APTT Pasien dengan Penyakit Kardiovaskular di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyakit yang memiliki angka kematian yang cukup tinggi di dunia. Salah satu obat yang digunakan dalam menangani penyakit kardiovaskular adalah antikoagulan. Pasien dengan penyakit kardiovaskular yang menggunakan antikoagulan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto diantaranya adalah pasien atrial fibrilasi, unstable angina, dan infark miokard. Heparin menjadi landasan manajemen antikoagulasi dengan respon farmakodinamik yang memerlukan pemantauan rutin melalui activated partial tromboplastin time. Penelitian guna meninjau pengaruh penggunaan heparin terhadap kesesuaian pemanjangan nilai aPTT sebagai target efektivitas pada pasien kardiovaskular di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain observasional. Pengambilan data secara retrospektif melalui data rekam medik pasien periode Januari 2019 - Desember 2021. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan terkait nilai aPTT antara sebelum dan sesudah penggunaan heparin terhadap secara statistik menggunakan Uji tanda (Sign Test).
Hasil Penelitiam: Sebanyak 55 pasien memenuhi sampel penelitian. Hasil Pola penggunaan heparin pada 55 pasien tersebut paling banyak mendapat terapi heparin dengan durasi pemberian paling banyak adalah 4 hari pada dosis drip UFH intravena 12 IU/KgBB/jam (Maksimal 1000 IU). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kesesuaian pemanjangan nilai aPTT setelah penggunaan antikoagulan heparin terhadap pasien kardiovaskular dengan (p<0,001) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh kesesuaian pemanjangan nilai aPTT setelah penggunaan antikoagulan heparin terhadap pasien kardiovaskular dengan (p<0,001) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.



Background: Cardiovascular disease is one of the diseases that has a fairly high mortality rate in the world. One of the drugs used in dealing with cardiovascular diseases is anticoagulants. Patients with cardiovascular disease who use anticoagulants at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto include patients with atrial fibrillation, unstable angina, and myocardial infarction. Heparin is the cornerstone of anticoagulation management with pharmacodynamic responses that require routine monitoring through activated partial thromboplastin time. This research is to review the effect of using heparin on the suitability of aPTT value prolongation as a target for effectiveness in cardiovascular patients at Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Methodology: This study is a study with an observational design. Retrospective data collection through patient medical record data for the period January 2019 December 2021. Sampling using the total sampling method according to inclusion and exclusion criteria. Data analysis was carried out regarding the aPTT value between before and after heparin use on statistically using the Sign Test.
Research Results: A total of 55 patients filled out the study sample. Results The pattern of heparin use in 55 patients received the most heparin therapy with the most duration of administration was 4 days at an intravenous UFH drip dose of 12 IU/KgBB/hour (Maximum 1000 IU). The results of statistical tests showed that there was an effect on the suitability of extending the aPTT value after the use of heparin anticoagulants on cardiovascular patients with (p<0,001) at Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Conclusion: The results showed that there was an effect of the suitability of lengthening the aPTT value after the use of heparin anticoagulant on cardiovascular patients (p<0,001) at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.



3698639841I1C019101OPTIMIZATION OF ULTRASOUND ASSISTED EXTRACTION METHODS OF KECOMBRANG FLOWER (Etlingera elatior) AQUABIDEST EXTRACT USING RESPONSE SURFACE METHODOLOGY FOR APPLICATION TO HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY FINGERPRINTING METHODSBunga kecombrang (Etlingera elatior) merupakan tanaman herbal dengan berbagai kandungan metabolit. HPLC fingerprinting dapat digunakan sebagai salah satu metode analisis untuk menunjukan profil metabolit dalam tanaman secara komprehensif. Ultrasound Assisted Extraction (UAE) dikembangkan untuk mendapatkan profil metabolit yang optimal. Penelitian ini bertujuan memperoleh waktu ekstraksi dan rasio simplisia dengan pelarut yang optimal dalam mengesktraksi E. elatior dan aplikasinya pada HPLC fingerprinting. Penelitian eksperimental ini menggunakan metode analisis Central Composite Design (CCD) dan Response Surface Methodology (RSM) untuk mengoptimasi proses ekstraksi bunga kecombrang dengan parameter yang dioptimasi yaitu waktu ekstraksi dan rasio simplisia dengan pelarut. Hasil ekstraksi bunga kecombrang yang optimal diaplikasikan pada HPLC fingerprinting dengan daun dan batang sebagai sampel tambahan. Kromatogram dianalisis lebih lanjut dengan metode kemometrik yaitu Principal Component Analysis, Partial Least Square Discriminant Analysis, dan Hierarchical Cluster Analysis. Didapatkan kondisi optimal yang sudah diverifikasi yaitu pada waktu 46 menit dan rasio 1:25 dengan nilai respon total AUC sebesar 2110,5. Hasil analisis PCA dan PLS-DA menunjukan sampel mengelompok dengan baik. Hasil HCA menunjukan bahwa bunga kecombrang memiliki kedekatan profil metabolit dengan batang kecombrang. CCD-RSM dapat digunakan untuk mengembangkan metode ekstraksi UAE pada bunga kecombrang dan hasilnya dapat diaplikasikan pada analisis HPLC fingerprinting.Kecombrang flower (Etlingera elatior) is a herbal plant with various metabolites. HPLC fingerprinting can be used as an analytical method to comprehensively show the profile of metabolites. Ultrasound Assisted Extraction (UAE) was developed to obtain optimal metabolite profiles. This study aims to obtain the optimal extraction time and dissolution ratio with simplicia in extracting E. elatior and its application in HPLC fingerprinting. This experimental study used the Central Composite Design (CCD) and Response Surface Methodology (RSM) analysis methods to optimize the kecombrang flower extraction process with optimized parameters, i.e. extraction time and dissolution ratio with simplicia. Optimal kecombrang flower extraction results were applied to HPLC fingerprints with leaves and stems as additional samples. The chromatograms were further analyzed using chemometric methods, namely Principal Component Analysis, Partial Least Square Discriminant Analysis, and Hierarchical Cluster Analysis. Obtained optimal conditions that have been alert, namely at a time of 46 minutes and a ratio of 1:25 with a total AUC response value of 2110.5. The results of PCA and PLS-DA analysis showed that the samples were well clustered. HCA results show that kecombrang flowers have a close metabolite profile with kecombrang stems. CCD-RSM can be used to develop the UAE extraction method on kecombrang flowers and the results can be applied to HPLC fingerprint analysis
3698739794I1A019050FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PEGAWAI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA CILEGON Latar Belakang : Salah satu tempat kerja yang berpotensi mengalami keluhan subjektif kelelahan mata adalah perkantoran. Pegawai perkantoran menggunakan komputer dalam pekerjaannya. Kemungkinan para pegawai mengalami keluhan kelelahan mata pun menjadi meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap keluhan subjektif kelelahan mata pada pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Cilegon.

Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai yang menggunakan komputer di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Cilegon. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling sebanyak 100 pegawai. Analisis yang digunakan adalah uji chi-square dan regresi logistik ganda.

Hasil Penelitian : Variabel yang berpengaruh adalah jarak pandang pada monitor (0,002) dan pencahayaan (0,033). Variabel yang tidak berpengaruh adalah usia (0,321), refraksi mata (0,663), riwayat penyakit (0,118), lama tidur (0,429), istirahat mata (0,131), durasi penggunaan komputer (0,506), dan masa kerja (0,214).
Kesimpulan : Faktor yang paling berpengaruh terhadap keluhan subjektif kelelahan mata adalah jarak pandang pada komputer dengan nilai odds ratio (OR) 7,613 yang artinya jika memiliki jarak pandang pada monitor < 50 cm maka 7,613 kali lebih berisiko mengalami keluhan subjektif kelelahan mata.
Saran : Mengatur jarak pandang pada monitor sehingga jaraknya 50 cm – 100 cm.
Kata Kunci : Keluhan Subjektif Kelelahan Mata, Pegawai Kantor, Komputer, Jarak Pandang Pada Monitor
Background : One of the workplaces that have the potential to experience subjective grievance of eye fatigue is the office. Office workers use computers in their work. The possibility of employees experiencing subjective grievance of eye fatigue has also increased. This study aims to determine what factors influence the subjective complaints of eye fatigue in Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Cilegon.
Methods : This research use quantitative type with a cross-sectional study design. The population of this study is all employees who use computers at the Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Cilegon. For the sampling, this research use total sampling method and the total are 100 employees. Chi-square test and multiple logistic regression are used for the analysis.
Results : The influential variables are the distance between eyes and the monitor (0,002) and lighting (0,033). Variables that has no effect are age (0,321), eye refraction (0,663), history of illness (0,118), length of sleep (0,429), eye rest (0,131), duration of computer use (0,506), and work period (0,214).
Conclusion : The most influence factor on subjective grievance of eye fatigue is the distance between eyes and the monitor with an odds ratio (OR) value is 7,613, which means that if you have a viewing distance on the monitor <50 cm then you are 7,613 times more at risk of experiencing subjective grievance of eye fatigue.
Suggestion : Set the distance between eyes and the monitor until the distance is 50 cm – 100 cm.
Keyword : Subjective Grievance of Eye Fatigue, Office Employees, Computers, The Distance Between Eyes and The Monitor
3698844165K1C020023APLIKASI FAST FOURIER TRANSFORM (FFT) UNTUK
ANALISA PREKURSOR GEMPA BUMI JANGKA PENDEK
DENGAN MENGGUNAKAN DATA GEOMAGNETIK
(Studi Kasus Stasiun Geomagnetik Kupang)
Mitigasi gempa dapat dilakukan dengan menyelidiki aktivitas geomagnetik
frekuensi ultra rendah (ULF). Salah satu caranya adalah menginvestigasi adanya
anomali medan magnetik dengan metode Fast Fourier Transform. Data yang
digunakan adalah data geomagnetik yang terekam pada bulan Januari hingga Juni
2010. Penelitian difokuskan pada rentang frekuensi optimal untuk mendeteksi
gempa bumi, yaitu frekuensi 0.01 Hz hingga 0.06 Hz. Prekursor gempa berhasil
diidentifikasi dari analisis tiga komponen data geomagnetik gempa Kupang.
Temuan menunjukkan bahwa energi geomagnetik mengalami peningkatan sekitar
tiga hari sebelum gempa terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa anomali
geomagnetik kemungkinan terkait dengan kejadian gempa tersebut.
Earthquake mitigation can be done by investigating ultra-low frequency (ULF)
geomagnetic activity. One way is to investigate the anomaly of the magnetic field
with the Fast Fourier Transform method. The data used are geomagnetic data
recorded from January to June 2010. The research focused on the optimal
frequency range for earthquake detection, which is 0.01 Hz to 0.06 Hz. Earthquake
precursors were identified from the three-component analysis of Kupang
earthquake geomagnetic data. The findings show that the geomagnetic energy
increased about three days before the earthquake occurred. This indicates that the
geomagnetic anomaly may be related to the earthquake event.
3698939842J1E018014A CASE STUDY OF ENGLISH TEACHING METHODS IMPLEMENTED IN AN INCLUSIVE CLASSROOM IN THE SECOND GRADE OF SMP PERMATA HATI PURWOKERTO IN THE ACADEMIC YEAR OF 2022/2023Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya metode pengajaran bahasa inggris dalam proses pembelajaran di kelas inklusi baik untuk siswa maupun guru. Penggunaan metode pengajaran dapat menjadi faktor penting bagi siswa untuk membantu mereka mencapai hasil belajar dan memahami materi pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui metode pengajaran yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas inklusi di SMP Permata Hati Purwokerto, tentang bagaimana guru menerapkan metode tersebut melalui proses belajar mengajar, dan apa saja tantangan yang dihadapi oleh guru dalam menerapkan metode di kelas inklusif. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi. Data dari teknik tersebut ditulis dalam bentuk deskripsi. Hasil dari penelitian ini adalah (1) metode pengajaran bahasa Inggris yang digunakan oleh guru di kelas inklusif adalah metode terjemahan dan audio-visual (2) penerapan metode pengajaran adalah dengan sesi pendampingan satu lawan satu antara guru dan siswa (3) Kurangnya kolaborasi orang tua merupakan tantangan dalam penerapan metode pembelajaran.The background of this research was based on the importance of English teaching methods in a learning process in an inclusive classroom because learning English in an inclusive classroom is challenging both for students and teacher. The use of teaching methods can be an important factor for students to help them achieve learning outcomes and understand the content of the course. Because of this condition, the researcher conducted research to find out the teaching methods used in learning English in an inclusive classroom at SMP Permata Hati Purwokerto, the implementation of those methods through the teaching and learning process, and the common challenges faced by the teacher in implementing the methods in an inclusive classroom. This is a qualitative case study research. Data were obtained through interview and observations. The data from those techniques were written in the form of descriptions. The result of this research were (1) the English teaching methods used by the teacher in an inclusive classroom are translation and audio-visual methods (2) the implementation of the teaching methods is by one-on-one session between teacher and student (3) Fewer parents’ collaboration is the challenge in implementing the teaching methods.
3699044167L1C020083Kondisi Morfoanatomi dan Profil Glukosa Darah Ikan Giru (Amphiprion
ocellaris) akibat Kontaminasi Crude Oil pada Skala Laboratorium
Tumpahan minyak mentah (crude oil) merupakan salah satu pencemar yang
memberikan dampak terbesar bagi ekosistem laut dan dapat mempengaruhi
morfoanatomi serta menyebabkan stres ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui kondisi morfoanatomi ikan giru (A. ocellaris) yang
terkontaminasi crude oil, mengetahui pengaruh kontaminasi crude oil terhadap
profil glukosa darah ikan giru (A. ocellaris), dan mengetahui hubungan antara
kontaminasi crude oil dengan profil glukosa darah ikan giru (A. ocellaris). Metode
yang digunakan pada penelitian ini adalah rangkaian acak lengkap (RAL)
dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, yang kemudian dianalisis dengan analisis
deskriptif untuk kondisi morfoanatomi, serta analisis one-way anova dan regresi
eksponensial sederhana untuk profil glukosa darah ikan giru (A. ocellaris).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kondisi morfoanatomi ikan giru
(A. ocellaris) mengalami perubahan warna dan kerusakan berupa geripis pada
sirip dan adanya bercak cokelat kehitaman pada insang serta viscera, selain itu
berdasarkan analisis one-way anova, crude oil dengan konsentrasi berbeda
memberikan pengaruh terhadap kadar glukosa darah ikan giru (A. ocellaris),
sementara berdasarkan hasil analisis regresi eksponensial sederhana, hubungan
konsentrasi pencemar crude oil dan profil glukosa darah ikan giru (A. ocellaris)
masuk ke dalam kategori yang sangat kuat.
Crude oil spills are one of the pollutants that have the biggest impact on
marine ecosystems and can affect fish morphoanatomy and cause fish stress. The
aim of this research is to determine the morphoanatomical condition of clownfish
(A. ocellaris) contaminated with crude oil, to determine the effect of crude oil
contamination on the blood glucose profile of clownfish (A. ocellaris), and to
determine the relationship between crude oil contamination and the clownfish's
(A. ocellaris) blood glucose profile. The method used in this research was a
completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications,
which were then analyzed using descriptive analysis for morphoanatomycal
conditions, as well as one-way anova analysis and simple exponential regression
for the blood glucose profile of clownfish (A. ocellaris). Based on research that has
been carried out, the morphoanatomycal condition of clownfish (A. ocellaris) has
experienced color changes and damage in the form of cracks on the fins and the
presence of blackish brown spots on the gills and viscera. Apart from that, based
on one-way anova analysis, crude oil with different concentrations had an
influence on the blood glucose of clownfish (A. ocellaris), while based on the
results of simple exponential regression analysis, the relationship between the
concentration of crude oil pollutants and the blood glucose profile of clownfish
(A. ocellaris) is in the very strong category.
3699139845I1C019093ANALISIS TARGET PROTEIN PADA PENYAKIT KANKER SERVIKS DARI SENYAWA ETHYL PARA METHOXY CINNAMATE SECARA IN SILICOLatar belakang : Kanker serviks merupakan kanker tertinggi ke-5 di dunia. Kanker serviks dapat terjadi salah satunya karena mekanisme amplifikasi DNA dimana genes yang penting dalam perkembangan kanker diaktifkan seperti CCNB1, CCNB2, CDK, MMP, dan lainnya. Namun, terdapat permasalahan obat yang menargetkan beberapa protein tersebut seperti erlotinib, alvocidib, dan marimastat. Senyawa Ethyl Para Methoxy Cinnamate (EPMC) memiliki aktivitas sitotoksik IC50 sebesar 35 μg/ml yang sangat sitotoksik terhadap sel HeLa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui protein target dan profil penambatan dari senyawa EPMC yang berpotensi dalam menghambat kanker serviks.
Metodologi : Penelusuran data menggunakan database Pubchem, SWISS Target Prediction, PubMed, dan PDB. Website Webgestalt dilakukan untuk analisis Geneontology, KEGG pathway, dan drug association. PTTGs yang dihasilkan digunakan untuk melihat interaksi antar protein menggunakan STRING dan 10 top hub gene dengan cystoscape. Dilakukan simulasi docking untuk mengetahui profil penambatan.
Hasil penelitian : Target potensial EPMC yaitu EGFR, CCND1, CDK4, CDK2, CCNA1, HGF, MMP9, CCNE1, CCNB1, CDH1. Hasil simulasi docking menunjukkan bahwa MMP9 memiliki energi ikatan yang lebih rendah dari kontrol positif yaitu -6,9 kkal/mol. Oleh karena itu MMP9 berpotensi sebagai target dari EPMC melalui jalur persinyalan PI3K-Akt.
Kesimpulan : Senyawa EPMC berpotensi sebagai target aksi obat terhadap kanker serviks sel kanker dengan menargetkan MMP9 melalui jalur persinyalan PI3K-Akt.
Background : Until today, cervical cancer case is the 5th highest cancer among other cancer in the world. DNA amplification is one of the mechanism this cancer may occur. Because of that, severity of this disease can develop. Genes which play a role in cervical cancer development are CCNB1, CCNB2, CDK, and MMP. There are problems with several drugs that target some of these proteins such as erlotinib, alvocidib, marimastat, and others. Therefore, discoveries new drugs to overcome this case should be performed. Ethyl Para Methoxy Cinnamate (EPMC) compounds have an IC50 cytotoxic activity of 35 μg/ml which is highly cytotoxic to HeLa cells. This study aims to determine the potential target and molecular docking profile of EPMC compounds that have the potential to inhibit cervical cancer.
Methodology : Data search using database Pubchem, SWISS Target Prediction, PubMed, STRING, and PDB. Website Webgestalt was performed for analysis of Geneontology, KEGG pathway, and drug association. Result of PTTGs is used to see interactions between proteins using STRING and 10 top hub gene with cystoscape. Docking simulation was carried out to determine the mooring profile.
Result : The potential targets of EPMC are EGFR, CCND1, CDK4, CDK2, CCNA1, HGF, MMP9, CCNE1, CCNB1, CDH1. Simulation resultsdocking showed that MMP9 had a lower bond energy than the positive control, around -6.9 kcal/mol. Therefore, MMP9 has the potential as a target for EPMC through the PI3K-Akt signaling pathway.
Conclusion : EPMC compounds can inhibit cancer cell growth by targeting MMP9 through the PI3K-Akt signaling pathway
3699239843F1C019061Analisis Pola Komunikasi Pada Komunitas Bekasi BerkebunKomunitas Bekasi Berkebun adalah sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang lingkungan dengan mengembangkan pertanian di perkotaan melalui sistem urban farming. Dalam melakukan gerakkan urban farming, Bekasi Berkebun memiliki visi misi yang berlandaskan 3E (Edukasi, Ekologi, Ekonomi) dengan menjalankan misi yang sudah dirancang dalam program kerja yang berkelanjutan di setiap periodenya. Peran komunikasi antar anggota sangat berperan sebagai jembatan dalam pelaksanaan kegiatan Bekasi Berkebun, tetapi seiring berjalannya waktu banyak anggota yang pasif dengan tidak mengikuti kegiatan. Berdasarkan fenomena yang terjadi dalam interaksi Komunitas Bekasi Berkebun, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi yang digunakan Bekasi Berkebun dan mengkaji hambatan serta pendukung komunikasi Bekasi Berkebun dalam menerapkan internalisasi value terhadap antar anggota kelompok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan konsep dinamika kelompok dan Groupthink Theory sebagai teori yang membantu peneliti untuk mengkaji hasil penelitian yang telah diperoleh di lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni wawancara mendalam dan observasi. Wawancara dilakukan dengan 8 (delapan) informan yang terdiri dari 3 (tiga) orang pengurus dan 5 (lima) anggota yang merupakan penggiat. Metode analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikkan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bekasi Berkebun menggunakan pola komunikasi Bintang dan Roda untuk saling berinteraksi di dalam kelompok. Pola Komunikasi Bintang digunakan dalam interaksi pengurus dengan anggota maupun dengan sesama anggota secara informal. Sedangkan, pola roda terjadi ketika koordinator membagikan informasi secara formal dan membuat acara tentang berkebun. Selain itu, Bekasi Berkebun juga berkomunikasi melalui media Whatsapp Group dan Zoom untuk berdiskusi dan berkoordinasi menjelang acara. Adapun hambatan dari proses komunikasi adalah pasifnya anggota karena ketidaksesuaian waktu pelaksanaan kegiatan dengan waktu luang anggota.Komunitas Bekasi Berkebun adalah sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang lingkungan dengan mengembangkan pertanian di perkotaan melalui sistem urban farming. Dalam melakukan gerakkan urban farming, Bekasi Berkebun memiliki visi misi yang berlandaskan 3E (Edukasi, Ekologi, Ekonomi) dengan menjalankan misi yang sudah dirancang dalam program kerja yang berkelanjutan di setiap periodenya. Peran komunikasi antar anggota sangat berperan sebagai jembatan dalam pelaksanaan kegiatan Bekasi Berkebun, tetapi seiring berjalannya waktu banyak anggota yang pasif dengan tidak mengikuti kegiatan. Berdasarkan fenomena yang terjadi dalam interaksi Komunitas Bekasi Berkebun, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi yang digunakan Bekasi Berkebun dan mengkaji hambatan serta pendukung komunikasi Bekasi Berkebun dalam menerapkan internalisasi value terhadap antar anggota kelompok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan konsep dinamika kelompok dan Groupthink Theory sebagai teori yang membantu peneliti untuk mengkaji hasil penelitian yang telah diperoleh di lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni wawancara mendalam dan observasi. Wawancara dilakukan dengan 8 (delapan) informan yang terdiri dari 3 (tiga) orang pengurus dan 5 (lima) anggota yang merupakan penggiat. Metode analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikkan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bekasi Berkebun menggunakan pola komunikasi Bintang dan Roda untuk saling berinteraksi di dalam kelompok. Pola Komunikasi Bintang digunakan dalam interaksi pengurus dengan anggota maupun dengan sesama anggota secara informal. Sedangkan, pola roda terjadi ketika koordinator membagikan informasi secara formal dan membuat acara tentang berkebun. Selain itu, Bekasi Berkebun juga berkomunikasi melalui media Whatsapp Group dan Zoom untuk berdiskusi dan berkoordinasi menjelang acara. Adapun hambatan dari proses komunikasi adalah pasifnya anggota karena ketidaksesuaian waktu pelaksanaan kegiatan dengan waktu luang anggota.

Abstract
Bekasi Berkebun Community is an institution non-profit by developing agriculture with urban communities through the system urban farming. In their implemention of urban farming, Bekasi Berkebun has a vision and mission that is based on 3E (Education, Ecology, Economy) by carrying out the missions that have been designed in a sustainable work program in each period. The role of communication between members plays a very important role a bridge in carrying out Bekasi Berkebun activities, but over time many members become passive by not participating in activities. Based on the phenomena that occur in the interaction of the Bekasi Berkebun Community, this study aims to analyze the communication patterns used by Bekasi Berkebun and examine the barriers and communication support of Bekasi Berkebun in implementing value internalization among group members. This reasearch uses a qualitative descriptive method, with the concept of group dynamics and Groupthink Theory as a theory that helps researchers to examine the results of research that has been obtained in the fields. Data collection techniques used are in-depth interviews and observation. Interviews were conducted with 8 (eight) informants consisting of 3 (three) administratos and 5 (five) members. Methods of data analysis through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of research show that Bekasi Berkebun uses star communication patterns and wheel communication patterns to interact within groups. The star communication pattern is used in the interaction of the board with members and with fellow members informally. Meanwhile, the wheel communication pattern occurs when the coordinator shares information formally and organized events about gardening. Apart form that, Bekasi Berkebun also communicates through the media Whatsapp Group and Zoom to discuss and coordinate ahead of the event. The obstacle to the communication process is the passiveness of the members due to the discrepancy in the timing of activites and the free time of the member.
3699344168E1A020239PEMBUKTIAN UNSUR KETURUTSERTAAN ANAK DALAM TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN BERAT (Studi Putusan Nomor: 4/PID/Sus.Anak/2023/PN.Jkt.Sel)Tindak Pidana Penyertaan merupakan kejahatan yang dilakukan lebih dari satu orang yang dimana tiap-tiap pelaku memiliki peran dan fungsi agar Tindak Pidana tersebut dapat terealisasikan dengan baik. Pasal 55, 56, dan 57 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengatur mengenai sanksi penyertaan dalam tindak pidana. Salah satu perkara turut serta dalam tindak pidana penganiayaan berat adalah Putusan Nomor: 4/PID/Sus.Anak/2023/PN.Jkt.Sel, dimana Anak AG sebagai Terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan. Tujuan penelitian ini untuk megetahui apakah Anak layak dijatuhi hukuman seperti yang telah didakwakan oleh Penuntut Umum. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan kasus. Spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Sumber bahan hukum yang digunakan adalah data sekunder dengan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dilakukan dengan studi kepustakaan. Bahan hukum disajikan dalam bentuk uraian yang kemudian dianalisis menggunakan metode normatif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah mengetahui bahwa perbuatan Anak tidak memenuhi unsur ke-3 “yang turut serta melakukan” dalam Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP berdasarkan barang bukti serta fakta-fakta di persidangan dan mengenai pertimbangan hukum Hakim dinilai masih belum mempertimbangkan aspek keadilan dan kemanfaatan, karena hanya berpedoman pada peraturan perundang-undangan (kepastian hukum).Crime of Participation is a crime committed by more than once person where each perpetrator has a role and function so that the crime can be carried out properly. Articles 55, 56, and 57 of the Criminal Code regulate sanctions for the participation in criminal acts. One of the cases of participation in the crime of serious abuse is Decision Number: 4/PID/Sus.Anak/2023/PN.Jkt.Sel, where AG Child as the defendant was sentenced to prison for 3 (three) years and 6 (six) months. The purpose of this research is to find out whether the Child deserves to be sentenced as charged by the Public Prosecutor. This research uses normative juridical methods with statute approach and case approach. Specifications of analytical descriptive research. The source of legal materials used is secondary data with primary, secondary, and tertiary legal materials carried out using library research. Legal materials are presented in the form of descriptions which are then analyzed using qualitative normative methods. The result of this research is to find out that the Child’s actions do not fulfilled the 3rd element “participating in committing” in Article 55 paragraph (1) number 1 of the Criminal Code is based on evidence and facts at trial. The Judge’s legal considerations are considered to have not considered aspects of justice and expediency because the Judge’s is only guided by statutory regulations (legal certainty).
3699439849L1A019045DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR BERDASARKAN KADAR P-TOTAL DI PERAIRAN WADUK PENJALINWaduk Penjalin terletak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah mempunyai fungsi antara lain kegiatan pertanian, pariwisata dan kegiatan perikanan. Waduk Penjalin merupakan waduk yang digunakan sebagai sarana irigasi di Kabupaten Brebes sehingga perlu dilakukan monitoring kualitas air terutama fosfor dengan menghitung jumlah daya tampung beban pencemar fosfor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil pengukuran P-Total dan mengetahui jumlah daya tampung beban pencemar P-Total. Penelitian dimulai pada Desember 2022 pada 9 stasiun. Daya tampung beban pencemar fosfor di Waduk Penjalin berdasarkan PP Nomor 21 Tahun 2021 adalah sebesar -9.697,82 kg Pa/tahun (kelas 2) dan -269,39 kg Pa/tahun (kelas 3). Jumlah daya tampung yang menunjukkan angka minus berarti Waduk Penjalin sudah tidak dapat menampung jumlah beban pencemar fosfor sehingga perlu diketahui sumber fosfor dan solusi yang perlu dilakukan untuk mengurangi fosfor yang ada di Waduk Penjalin.The Penjalin Reservoir is located in Brebes Regency, Central Java. Its functions include agricultural activities, tourism and fishing activities. Penjalin Reservoir is a reservoir used as an irrigation facility in Brebes Regency, it is necessary to monitor water quality, especially phosphorus, by calculating the amount of phosphorus pollutant load capacity. The purpose of this study was to determine the results of P-Total measurements and to determine the amount of P-Total pollutant load capacity. They started in December 2022 at nine stations. Based on PP No. 21 of 2021, the carrying capacity of the phosphorus pollutant load in the Penjalin Reservoir is -9,697.82 kg Pa/year (class 2) and -269.39 kg Pa/year (class 3). The amount of capacity that shows a minus number means that the Penjalin Reservoir is no longer able to accommodate the amount of phosphorus pollutant load, so it is necessary to know the source of phosphorus and the solutions that need to be taken to reduce the phosphorus in Penjalin Reservoir.
Keywords : Penjalin Reservoir, pollutant load capacity, phosphorus
3699539850L1A019020TRUSS MORFOMETRIK PADA IKAN NILEM (Osteochilus hasseltii) JANTAN DAN BETINA DI SUNGAI BANJARAN, BANYUMASMorfometrik adalah suatu kajian yang mempelajari mengenai bentuk tubuh, variasi, dan ukuran tubuh organisme yang berfokus pada pengukuran analisis kerangka dan panjang tubuh secara kuantitatif. Penelitian memiliki tujuan yaitu, mengetahui perbedaan jantan dan betina ikan nilem menggunakan metode morfometrik dan mengetahui morfologi ikan nilem. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive random sampling. Dilakukan uji pendahuluan berupa uji normalitas dan uji homogenitas sebelum dilakukan uji t. Kemudian dianalisis menggunakan Uji-t agar diketahui karakter morfometrik yang menjadi pembeda jantan dan betina. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat 8 karakter truss morfometrik yang menjadi pembeda jantan dan betina. Karakter tersebut yaitu, jarak moncong-akhir tulang kepala, panjang moncong, jarak moncong-sirip dada, jarak moncong insang, panjang kepala belakang, jarak insang-pangkal sirip perut, jarak awal sirip dorsal-pangkal sirip perut, dan panjang sirip punggung.Morphometrics is a study that studies body shape, variation, and body size of organisms that focus on measuring skeletal analysis and body length quantitatively. The aim of the study was to find out the differences between male and female nilem using morphometric methods and knowing the morphology of nilem. The method used is survey method with purposive random sampling technique. Preliminary tests were carried out in the form of normality tests and homogeneity tests before the t test was carried out. Then analyzed using the t-test in order to know the morphometric characters that differentiate males and females. The results obtained are that there are 8 morphometric truss characters that differentiate between males and females. These characters are snout-end of head spine distance, length of snout, length of snout-pectoral fin, snout-gill distance, length of head and back, distance of gill-base of pelvic fins, initial distance of dorsal fin-base of pelvic fins, and length of dorsal fin.
3699644169E1A017353PERANAN PENGAWAS KETENAGAKERJAAN
DALAM PELAKSANAAN PENGAWASAN PENGUPAHAN
DI WILAYAH III CIREBON
Salah satu masalah di bidang ketenagakerjaan yaitu mengenai pengupahan. Tidak
sedikit perusahaan yang belum melakukan pemenuhan upah pekerja, masih banyak
ditemukan pekerja dalam penerimaan upahnya tidak sesuai dengan dengan
peraturan perundang-undangan. Melihat kondisi tersebut sangat diperlukan upaya
pengawasan yang dilakukan oleh pengawas ketenagakerjaan. Pengawasan tersebut
dilakukan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2010 tentang
Pengawasan Ketenagakerjaan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan
mengkaji peranan dan kendala yang dihadapi pengawas ketenagakerjaan. Penelitian
ini menggunakan metode pendekatan secara yuridis normatif, dengan spesifikasi
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan jenis dan sumber data sekunder
dan analisis data dilakukan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
peranan pengawas ketenagakerjaan telah melakukan kegiatan pemeriksaan
perusahaan, pembuatan nota pemeriksaan terkait pelanggaran pengupahan, dan
kendala-kendala yang dihadapi pengawas ketenagakerjaan dalam menjalankan
tugasnya, yaitu kendala internal yang berupa peraturan perundang-undangan,
sumber daya manusia, serta sarana atau fasilitas. Kendala lain yang dihadapi
pengawas ketenagakerjaan yaitu kendala eksternal yang berasal dari pekerja dan
perusahaan.
One of the problems in the field of employment is about wages. Not a few companies
have fulfilled workers' wages, there are still many workers found receiving wages
not by laws and regulations. Seeing these conditions, it is very necessary to
supervise efforts carried out by labor supervisors. The supervision is carried out
based on Presidential Regulation Number 21 of 2010 concerning Labor
Supervision. This study aims to determine and examine the roles and constraints
faced by labor supervisors. This research uses a juridical normative approach
method, with the specification of this research being qualitative descriptive, with
secondary data types and sources and data analysis carried out systematically. The
results showed that the role of labor supervisors has been to carry out company
inspection activities, make inspection notes related to wage violations, and
obstacles faced by labor supervisors in carrying out their duties, namely internal
obstacles in the form of laws and regulations, human resources, and facilities or
facilities. Another obstacle faced by labor inspectors is external constraints coming
from workers and companies.
3699752331I1A019028FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU TIDAK AMAN PERAWAT DI RSUD CILACAPLatar Belakang: Perilaku tidak aman perawat merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan menurunkan kualitas pelayanan kesehatan. Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh unsafe actions (perilaku yang tidak aman) dan unsafe conditions (kondisi lingkungan yang tidak aman). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku tidak aman perawat di RSUD Cilacap. Faktor-faktor tersebut meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, masa kerja, pelatihan, beban kerja, ketersediaan APD, pengawasan dan dukungan kerja.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat di RSUD Cilacap, sedangkan sampel diambil dengan teknik simple random sampling pada perawat IGD dan IBS. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji statistik deskriptif, uji bivariat dan uji multivariat.
Hasil Penelitian: menunjukkan hubungan bermakna (p < 0,05) antara pengetahuan, beban kerja, ketersediaan APD dan pengawasan terhadap perilaku tidak aman perawat di RSUD Cilacap. Hasil uji regresi logistik menunjukkan faktor yang paling dominan memengaruhi perilaku tidak aman perawat di RSUD Cilacap adalah faktor pengawasan, diikuti oleh faktor pengetahuan dan faktor ketersediaan APD.
Kesimpulan: perilaku tidak aman perawat di RSUD Cilacap dipengaruhi oleh faktor pengawasan, pengetahuan dan ketersediaan APD. Saran bagi manajemen adalah meningkatkan sistem pengawasan, memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan pengetahuan K3 bagi perawat, serta memastikan ketersediaan APD.

Kata kunci: perilaku tidak aman, perawat, pengawasan, pengetahuan, APD
Background: Unsafe behavior of nurses is a factor that can increase the risk of work accidents and reduce the quality of health services. Work accidents can be caused by unsafe actions (unsafe behavior) and unsafe conditions (unsafe environmental conditions). This study aims to analyze the factors that influence the unsafe behavior of nurses at RSUD Cilacap. These factors include age, gender, level of education, knowledge, attitudes, length of service, training, workload, availability of PPE, supervision and work support.
Methodology: This research uses a quantitative approach with a cross-sectional design. The research population was all nurses at Cilacap Regional Hospital, while the sample was taken using a simple random sampling technique from emergency room and IBS nurses. Data was collected using a questionnaire and analyzed using descriptive statistical tests, bivariate tests and multivariate tests.
Research Results: showed a significant relationship (p < 0.05) between knowledge, workload, availability of PPE and supervision of unsafe behavior of nurses at RSUD Cilacap. The results of the logistic regression test show that the most dominant factor influencing the unsafe behavior of nurses at Cilacap Regional Hospital is the supervision factor, followed by the knowledge factor and the availability of PPE.
Conclusion: unsafe behavior of nurses at RSUD Cilacap is influenced by supervision factors, knowledge and availability of PPE. Suggestions for management are to improve the supervision system, facilitate activities related to increasing K3 knowledge for nurses, and ensure the availability of PPE.

Key words: unsafe behavior, nurses, supervision, knowledge, PPE
3699839852E1A019219PEMBATALAN PERKAWINAN KARENA PEMALSUAN IDENTITAS (Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Agama Ngawi Nomor 87/Pdt.G/2022/PA.Ngw)Pembatalan perkawinan adalah tindakan pengadilan yang berupa keputusan yang menyatakan bahwa perkawinan yang dilakukan tersebut tidak sah sehingga perkawinan dianggap tidak pernah ada. Penelitian ini dilakukan terhadap Putusan Pengadilan Agama Ngawi Nomor 87/Pdt.G/2022/PA.Ngw mengenai permohonan pembatalan perkawinan yang diajukan oleh Pemohon karena adanya pemalsuan identitas istri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum Hakim dalam mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan pada perkara Nomor 87/Pdt.G/2022/PA.Ngw dan untuk mengetahui akibat hukum dari pembatalan perkawinan.
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana dasar pertimbangan hukum Hakim dalam mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan pada perkara Nomor 87/Pdt.G/2022/PA.Ngw dan bagaimana akibat hukum dari pembatalan perkawinan. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan kasus. Spesifikasi penelitian berupa perspektif analisis dan sumber data yang digunakan adalah jenis data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti diperoleh melalui studi kepustakaan dengan metode penyajian data dalam bentuk teks naratif dan dianalisis dengan metode normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan menurut peneliti, Majelis Hakim kurang tepat dalam menggunakan Pasal 4 dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 karena kedua pasal tersebut mengatur tentang poligami, sementara perkara ini membahas tentang perkawinan yang dilakukan oleh seorang wanita yang masih terikat perkawinan. Berdasarkan hal tersebut, menurut peneliti pertimbangan hukum Hakim akan lebih tepat jika menggunakan Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 9 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Pertimbangan hukum Hakim juga dapat dilengkapi dengan Pasal 8 huruf f, Pasal 27 ayat (2) serta Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Akibat hukum dari pembatalan perkawinan diatur dalam Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 75 dan Pasal 76 Kompilasi Hukum Islam. Secara normatif pembatalan perkawinan menimbulkan akibat hukum terhadap hubungan suami istri, status anak, harta bersama dan pihak ketiga. Akibat hukum dari pembatalan perkawinan dalam perkara ini adalah putusnya hubungan perkawinan antara Pemohon dengan Termohon dan Buku Kutipan Akta Nikah antara Pemohon dan Termohon dinyatakan tidak berkekuatan hukum. Kemudian dikarenakan Pemohon dan Termohon baru menjalankan perkawinan selama satu bulan sehingga tidak terdapat akibat hukum pembatalan perkawinan terhadap status anak, harta bersama dan pihak ketiga dalam perkara ini.
Marriage annulment is a court action in the form of a decision stating that the marriage is invalid so that the marriage is considered never to have existed. This research was conducted on the Decision of the Ngawi Religious Court Number 87/Pdt.G/2022/PA.Ngw regarding the request for annulment of marriage submitted by the Petitioner due to falsification of the wife's identity. The purpose of this research is to find out the basis of the Judge's legal considerations in granting the request for annulment of marriage in case Number 87/Pdt.G/2022/PA.Ngw and to find out the legal consequences of annulment of marriage.
The formulation of the problem in this study is how the basis of the Judge's legal considerations in granting a marriage annulment application in case Number 87/Pdt.G/2022/PA.Ngw and what are the legal consequences of marriage annulment. This research uses normative juridical research with statutory and case approach methods. The research specification is in the form of an analytical perspective and the data source used is secondary data. The data collection method used by researchers is obtained through literature study with the method of presenting data in the form of narrative text and analyzed with qualitative normative methods.
Based on the results of research and discussion, according to the researcher, the Panel of Judges was incorrect in using Article 4 and Article 5 of Law Number 1 of 1974 because the two articles regulate polygamy, while this case discusses a marriage conducted by a woman who is still in a marriage. Based on this, according to the researchers, the legal considerations of the Judges would be more appropriate if they used Article 3 paragraph (1) and Article 9 of Law Number 1 Year 1974. The Judge's legal considerations can also be supplemented with Article 8 letter f, Article 27 paragraph (2) and Article 27 paragraph (3) of Law Number 1 Year 1974. The legal consequences of marriage annulment are regulated in Article 28 paragraph (2) of Law Number 1 Year 1974 jo. Article 75 and Article 76 of the Compilation of Islamic Law. Normatively, the annulment of marriage has legal consequences for the relationship between husband and wife, the status of children, joint property and third parties. The legal consequences of marriage annulment in this case are the dissolution of the marriage relationship between the Petitioner and the Respondent and the Marriage Certificate Excerpt Book between the Petitioner and the Respondent is declared legally invalid. Then because the Petitioner and Respondent have only been married for one month, there are no legal consequences of marriage annulment on the status of children, joint property and third parties in this case.
3699939853G1A019096HUBUNGAN STATUS VAKSINASI DENGAN KEJADIAN COVID-19 DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANLatar belakang: Pada akhir tahun 2019, terjadi wabah pneumonia yang belum diketahui sebab pastinya. Pada 11 Februari 2020, World Health Organization secara resmi menamakan penyakit ini Coronavirus Disease 2019 yang disingkat COVID-19 dan nama virus tersebut adalah SARS-CoV-2. Penyebaran COVID-19 yang sangat cepat tersebar di seluruh negara di dunia, tercatat kasus di Indonesia per 16 Maret 2022 yaitu 5.847.900. Pemerintah Indonesia melakukan upaya untuk mengatasi penyebaran COVID-19 salah satunya dengan program vaksinasi. Vaksinasi COVID-19 adalah suatu program yang bertujuan untuk menurunkan angka penularan COVID-19 dan pembentukan kekebalan imun masyarakat (herd immunity). Walaupun terdapat masyarakat yang terpapar COVID-19 setelah divaksin. Namun, status vaksinasi lengkap tetap berpengaruh terhadap kejadian COVID-19. Tujuan: Mengetahui hubungan status vaksinasi dengan kejadian COVID-19 di Universitas Jenderal Soedirman. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan metode cross sectional pada populasi target mahasiswa dan dosen Unsoed. Penelitian ini menggunakan kuesioner mengenai COVID-19 dengan Teknik pengambilan sampel secara random sampling sebanyak seratus dua responden. Teknik analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara hubungan status vaksinasi dengan kejadian COVID-19 di Universitas Jenderal Soedirman. Didapatkan nilai prevalensi ratio sebesar 6,85 yang memiliki makna bahwa status vaksin kurang dari dua memiliki prevalensi COVID-19 6,85 kali dibanding vaksin lebih dari dua. Analisis bivariat menggunakan uji Chi square diperoleh nilai p value = 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status vaksinasi dengan kejadian COVID-19 di Universitas Jenderal Soedirman. Masyarakat yang status vaksinnya kurang dari 2 memiliki prevalensi COVID-19 sebesar 6,85 dibanding vaksin lebih dari dua.Background: At the end of 2019, happen pneumoniae with no known cause. On February 11, 2020, the World Health Organization officially named this disease Coronavirus Disease 2019, which is abbreviated as COVID-19 and the name of the virus is SARS-CoV-2. The spread of COVID-19 is very fast spreading to all countries in the world, recorded cases in Indonesia as of March 16 2022, namely 5,847,900. The Indonesian government is making efforts to overcome one of the ways to spread COVID-19 is through the vaccination program. Vaccination against COVID-19 is a program that aims to reduce the transmission rate of COVID-19 and build public immunity (herd immunity). Even though there are people who are exposed to COVID-19 after vaccinated. However, complete vaccination status still has an effect on the incidence of COVID-19. Objective: Knowing the relationship between vaccination status and the incidence of COVID-19 at Jenderal Soedirman University. Method: This research is an analytic research with cross sectional method on the target population of Unsoed students and lecturers. This study used a questionnaire regarding COVID-19 with a random sampling technique of one hundred and two respondents. Data analysis technique using Chi-square test. Results: The results showed that there was a significant relationship between vaccination status and the incidence of COVID-19 at Jenderal Soedirman University. A prevalence ratio value of 6.85 was obtained, which means that less than two vaccines have a prevalence of COVID-19 6.85 times compared to more than two vaccines. Bivariate analysis using the Chi square test obtained a p value = 0.000 (p <0.05). Conclusion: There is a relationship between vaccination status and the incidence of COVID-19 at Jenderal Soedirman University. People with less than 2 vaccines have a COVID-19 prevalence of 6.85 compared to more than 2 vaccines.
3700039854E1A019221RESTORATIVE JUSTICE YANG TIDAK
BERHASIL DALAM PROSES
PENYELESAIAN KASUS PENGANIAYAAN
PADA PERTANDINGAN SEPAK BOLA DI
PURBALINGGA
(Studi Kasus Bola Berujung Pidana di
Kejaksaan Negeri Purbalingga)
Konsep Restorative Justice memungkinkan adanya penyelesaian perkara tindak
pidana dengan melibatkan pelaku, Korban, keluarga pelaku/Korban, dan pihak
lain yang terkait untuk Bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan
menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula. Konsep Restorative
Justice pada tahap penuntutan sebagaimana diatur dalam Peraturan Kejaksaan
Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Penghentian Penuntutan
Berdasarkan Keadilan Restoratif, membawa angin segar kepada pelaku tindak
pidana/Tersangka, karena proses hukum yang dijalaninya dapat dihentikan
melalui Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif. Namun, tidak
demikian dengan TEGUH FAJAR RAMADHAN ALS TEGUH BIN JUHARNO
salah satu Tersangka kasus penganiayaan dalam pertandingan sepak bola di
Purbalingga, dirinya justru menolak atas upaya Restorative Justice yang
ditawarkan oleh Penuntut Umum. Penelitian ini bertujuan mengetahui
implementasi Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020
Tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif di Kejaksaan
Negeri Purbalingga dan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab Restorative
Justice tidak berhasil dalam proses penyelesaian kasus penganiayaan pada
pertandingan sepak bola di Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan
Normatif-Empiris, dengan spesifikasi penelitian deskriptif-analitis. Sumber data
yang digunakan data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh disajikan
secara runtut dan sistematis. Analisis dilakukan kualitatif, komprehensif, dan
lengkap. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Implementasi
Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 Tentang
Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif Di Kejaksaan Negeri
Purbalingga adalah sesuai dengan Peraturan Kejaksaan tentang Penghentian
Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif tersebut, serta penyebab utama
Tersangka TEGUH FAJAR RAMADHAN ALS TEGUH BIN JUHARNO
menolak upaya Perdamaian adalah karena ingin mencari keadilan di Pengadilan.
Kata kunci : Restorative Justice, Penghentian Penuntutan, Tersangka
The concept of Restorative Justice allows for the settlement of criminal cases
involving perpetrators, victims, families of perpetrators/victims, and other related
parties to jointly seek a fair solution by emphasizing restoration to its original
state. The concept of Restorative Justice at the prosecution stage as stipulated in
the Attorney General's Regulation of the Republic of Indonesia Number 15 of
2020 concerning Termination of Prosecution Based on Restorative Justice, brings
fresh air to the perpetrators of criminal acts/suspects, because the legal process
they are undergoing can be terminated through Termination of Prosecution Based
on Restorative Justice. However, that is not the case with TEGUH FAJAR
RAMADHAN ALS TEGUH BIN JUHARNO, one of the suspects in the abuse case
at a football match in Purbalingga, on the other hand, refused the Restorative
Justice efforts offered by the Public Prosecutor. This study aims to find out the
implementation of the Republic of Indonesia Prosecutor's Office Regulation
Number 15 of 2020 concerning Termination of Prosecution Based on Restorative
Justice at the Purbalingga District Attorney's Office and to find out the factors
that cause Restorative Justice to be unsuccessful in the process of resolving cases
of abuse at a football match in Purbalingga. The research method used is
Normative-Empirical, with descriptive-analytical research specifications. Source
of data used primary data and secondary data. The data obtained is presented in
a coherent and systematic manner. The analysis was carried out qualitatively,
comprehensively and completely. Based on the research results, it can be
concluded that the implementation of the Republic of Indonesia Prosecutors'
Regulation Number 15 of 2020 concerning Termination of Prosecution Based on
Restorative Justice at the Purbalingga District Attorney's Office is in accordance
with the Prosecutor's Regulations concerning Termination of Prosecution Based
on Restorative Justice, as well as the main cause of the suspect TEGUH DAJAR
RAMADHAN ALS TEGUH BIN JUHARNO's refusal Peace efforts are because
they want to seek justice in court.
Keynote : Restorative Justice. Termination of Prosecution, Suspects