Home
Login.
Artikelilmiahs
39815
Update
DWI APRILIA ASTUTI
NIM
Judul Artikel
Pemantauan Keberhasilan Terapi dan Adverse Event Penggunaan Unfractionated Heparin dibandingkan dengan Fondaparinux pada Pasien Infark Miokard Akut
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penggunaan unfractionated heparin atau fondaparinux dapat mencegah terjadinya kejadian infark miokard berulang, tetapi memiliki risiko perdarahan sebagai adverse event utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keberhasilan terapi penggunaan unfractionated heparin dibandingkan dengan fondaparinux terhadap kejadian infark miokard berulang dan kejadian adverse event pada pasien infark miokard akut. Penelitian ini dilakukan secara observasional dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan metode total sampling dengan mengambil data rekam medis pasien acute transmural myocardial infarction of anterior wall rawat inap di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode Januari 2019-Desember 2021 yang berjumlah 126 pasien. Analisis data dilakukan terkait penggunaan unfractionated heparin atau fondaparinux terhadap tanda klinis kejadian infark miokard berulang secara statistik menggunakan Uji Chi-Square. Analisis kejadian adverse event dilakukan secara deskriptif. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat perbedaan signifikan keberhasilan terapi penggunaan unfractionated heparin dibandingkan dengan fondaparinux terhadap kejadian infark miokard berulang (p-value 0,004). Sebanyak 57,14% pasien yang menggunakan unfractionated heparin memiliki tanda klinis kejadian infark miokard berulang, sementara pada pasien yang menggunakan fondaparinux sebanyak 31,75%. Adverse event berupa perdarahan terjadi sebanyak 32 kasus meliputi hematuri (59,38%), epistaxis (12,5%), melena (9,37%), batuk berdarah (6,25%), hematemesis (6,25%), dan gusi berdarah (6,25%). Penggunaan fondaparinux memberikan keberhasilan terapi yang lebih baik dari unfractionated heparin jika dilihat dari kejadian infark miokard berulang. Kejadian adverse event berupa perdarahan meliputi hematuria, epistaxis, melena, batuk berdarah, hematemesis, dan gusi berdarah.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Using unfractionated heparin or fondaparinux can prevent the recurrence of myocardial infarction, but it causes bleeding risk as the primary adverse event. This research aims to discover the differences between therapy success in using unfractionated heparin and fondaparinux in the recurrence of myocardial infarction and the adverse event in acute myocardial infarction patients. This research was conducted observationally. The data were obtained retrospectively using a total sampling method by collecting the medical record data of 126 acute transmural myocardial infarctions of the anterior wall inpatients in Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Hospital from January 2019 to December 2021. The data regarding the use of unfractionated heparin or fondaparinux to the clinical signs of recurrent myocardial infarction were analyzed using a Chi-Square Test statistically. The adverse events were analyzed using a descriptive method. The result of the statistical analysis shows that there is a significant difference between using unfractionated heparin and fondaparinux to the recurrence of myocardial infarction (p-value 0,004). 57,14% of the patients who use unfractionated heparin have clinical signs of recurrent myocardial infarction. Meanwhile, only 31,75% of the patients who use fondaparinux have clinical signs of recurrent myocardial infarction. The adverse event in the form of bleeding occurs in 32 cases including hematuria (59,38%), epistaxis (12,5%), melena (9,37%), bleeding cough (6,25%), haematemesis (6,25%), and bleeding gums (6,25%). Using fondaparinux gives a better therapy success compared to unfractionated heparin in the recurrence of myocardial infarction. The adverse event in the form of bleeding includes hematuria, epistaxis, melena, bleeding cough, haematemesis, and bleeding gums.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save