Home
Login.
Artikelilmiahs
13339
Update
WAHYU DWI ANGGORO
NIM
Judul Artikel
PENGAWASAN TERHADAP NARAPIDANA TERORISME (Studi di Lapas Klas II A Kembangkuning Nusakambangan)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini mengambil judul Pengawasan Terhadap Narapidana Terorisme (Studi di Lapas Klas II A Kembangkuning Nusakambangan). Metode pendekatan yang dipakai adalah yuridis sosiologis yaitu suatu penelitian yang menekankan pada ilmu hukum, di samping itu juga berusaha menelaah kaidah-kaidah hukum yang berlaku di masyarakat. Spesifikasi Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan objek yang akan diteliti untuk kemudian dianalisis berdasarkan teori-teori hukum dan praktik pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan tanpa maksud untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan yang berlaku umum. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Pengawasan yang dilakukan oleh petugas Lapas Klas II A Kembang Kuning terhadap narapidana terorisme yaitu dengan pengawasan monitoring secara langsung seperti kontrol keliling. Pengawasan tidak langsung melalui evaluasi pembinaan narapidana terorisme. Faktor-faktor penghambat dalam pengawasan narapidana terorisme di Lapas Klas II A Kembangkuning dari segi struktur hukum dan segi budaya hukum. Adapun hambatan dari struktur hukum yaitu kurangnya pengetahuan dari petugas lembaga pemasyaratan mengenai agama Islam, pandangan bahwa pengawasan narapidana terorisme adalah pengetatan atas hak-hak mereka sebagai warga binaan, belum ada petugas khusus untuk pengawasan narapidana terorisme dan minimnya pelatihan terhadap petugas lembaga pemasyarakatan dalam membina narapidana terorisme. Sedangkan hambatan dari budaya hukum yaitu narapidana teroris memiliki pengetahuan agama Islam yang sangat tinggi. Pengawasan menjadi gagal manakala pemahaman agama yang dimiliki oleh petugas lembaga pemasyarakatan lebih dangkal daripada narapidana teroris, narapidana terorisme termasuk pribadi yang ekstrim, cara berpenampilan yang berbeda dengan narapidana lain, perlakuan khusus bagi narapidana terorisme yang kurang diterima oleh narapidana lainnya, narapidana terorisme termasuk narapidana dengan tingkat egois yang tinggi, pandangan negatif narapidana terorisme terhadap petugas lembaga pemasyarakatan, tidak ada rasa penyesalan atas aksi-aksi terorisme yang dilakukannya, motivasi dalam melaksanakan aksi terorisme sangat kuat yang untuk memerangi pihak-pihak yang memerangi umat Islam, narapidana terorisme tetap menyebarluaskan doktrin-doktrinnya meskipun berada di lembaga pemasyarakatan.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study took the title Supervision Prisoners of Terrorism (Studies in Prison Class II A Kembangkuning reclaiming). The method used is the juridical sociology is a science research that emphasizes the law, in addition, it also seeks to examine the rules of law in society. Specifications research is descriptive analytic research that describes the state of the object to be examined and then analyzed based on the theories of law and positive law enforcement practice concerning issues without intent to draw conclusions that are generally applicable. Based on the results of research and discussion, it can be concluded that the supervision carried out by officers Prison Class II A Kembangkuning against terrorism convicts are supervised directly monitoring as roving control. Indirect supervision through coaching evaluation inmates terrorism. Supervision by the legislature is not optimal, since the performance of legislators (DPR) to supervise simply hearings to evaluate the performance of government officials (executive) and a working visit. Factors inhibiting the supervision of inmates in prisons terrorism Class II A Kembangkuning in terms of legal structure and in terms of legal culture. The constraints of the legal structure, namely the lack of knowledge of the personnel agency pemasyaratan about Islam, the view that the surveillance of prisoners of terrorism are tightening up their rights as prisoners, no special personnel for monitoring prisoners of terrorism and lack of training of prison staff in fostering inmates terrorism. While the obstacles of a legal culture that terrorist prisoners have knowledge of Islam was very high. Supervision to fail when the understanding of religion which is owned by the correctional officer more shallow than terrorist convicts, inmates of terrorism, including personal extreme, how dressed different with other inmates, special treatment for prisoners of terrorism are less accepted by other inmates, inmates of terrorism, including inmates a high level of selfish, negative view inmates terrorism against prison staff, there is no sense of remorse for acts of terrorism that he did, motivation in carrying out acts of terrorism is very strong to fight those who fight Muslims, terrorism prisoners remain disseminate doctrine - doctrine despite being in prison.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save