Artikelilmiahs

Menampilkan 3.461-3.480 dari 48.741 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
346113267H1C011038OPTIMASI KETEBALAN YOKE DAN BENTUK INTI STATOR GENERATOR AKSIAL MAGNET PERMANEN PUTARAN RENDAH 1 (SATU) FASA MENGGUNAKAN SOFTWARE FEMM 4.2Pada studi ini membahas tentang pengaruh ketebalan yoke dan bentuk inti stator terhadap tegangan dan daya keluaran generator aksial magnet permanen putaran rendah 1 (satu) fasa menggunakan sofware FEMM 4.2. Generator yang digunakan memiliki konstruksi sederhana yaitu terdiri dari 2 rotor dan 1 stator. Ketebalan yoke akan diubah-ubah dari 0,25 cm, 0,5 cm, 0,75 cm dan 1 cm sedangkan untuk bentuk inti stator yang akan digunakan yaitu persegi dan persegi panjang. Setelah dilakukan simulasi didapatkan generator yang paling optimal terdapat pada tebal yoke 1 cm dan bentuk inti persegi panjang dengan tegangan keluaran sebesar 152,2612541 volt dan daya 563,3666403 VA sedangkan yang paling minimal yaitu terdapat pada generator dengan tebal yoke 0,25 cm dan bentuk inti stator persegi dengan tegangan keluaran 129,9675727 volt dan daya keluaran 480,8800192 VA.In this study discusses about influence of yoke thickness and stator core shape toward voltage and output power of a axial flux permanent magnet generator low round of 1 (one) phase using FEMM 4.2 software. Generator used has a simple construction and consists of 2 rotors and 1 stator. The thickness of yoke will be varied from 0.25 cm, 0.5 cm, 0.75 cm and 1 cm while the stator core form to be used is square and rectangular. After the simulation, the optimal generator found on the yoke 1 cm thick and forms a rectangular core with output voltage amounting 152.2612541 Volt and the power 563.3666403 VA and while the most minimal that is contained in the generator with the yoke thickness 0.25 cm and forms square with a stator core output voltage 129.9675727 Volt and output power 480.8800192 VA.
346213257A1L111053UJI KEMEMPANAN BIO P60 DAN Trichoderma sp. TERHADAP PENYAKIT LAYU PHYTOPHTHORA PADA PEPAYA CALIFORNIAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggap pemberian Bio P60 (Pseudomonas fluorescens P60) dan Trichoderma sp. terhadap penyakit layu Phytophthora dan pertumbuhan tanaman pepaya. Penelitian dilaksanakan di lahan pepaya, Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, dari bulan Juli sampai September 2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial 5 perlakuan dan 6 kali ulangan. Perlakuan yang dicoba meliputi: kontrol (fungisida berbahan aktif mankozeb) (siram dan semprot), Trichoderma sp. (siram) + Trichoderma sp. (semprot), Trichoderma sp.(siram) + Bio P60 (P. fluorescens P60) (semprot), Bio P60 (P. fluorescens P60) (siram) + Trichoderma sp. (semprot), Bio P60 (P fluorescens P60) (siram) + Bio P60 (P. fluorescens P60) (semprot). Variabel yang diamati adalah persentase daun sehat, laju infeksi, jumlah daun sehat, dan jumlah buah sehat tanaman pepaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan mikroba antagonis Bio P60 (P. fluorescens P60) (siram) dan Trichoderma sp. (semprot) efektif mengobati penyakit layu Phytophthora dengan peningkatan persentase daun sehat 38,57% dibandingkan kontrol. Kombinasi Bio P60 (P. fluorescens P60) (siram) + Trichoderma sp. (semprot) mampu meningkatkan jumlah daun sehat, dan jumlah buah sehat.This study aimed to know the response of Bio P60 (Pseudomonas fluorescens P60) and Trichoderma sp. addition to Phytophthora wilt and the growth of papaya. The research was conducted at the papaya field, Linggasari Village, Kembaran Sub-district, Banyumas Regency, from July to September 2015. Randomized block design was used with 5 treatments and 6 replicates. The treatments tested included: control (fungicide with active ingredients of mancozeb) (splash and spray), Trichoderma sp. (splash) + Trichoderma sp. (spray), Trichoderma sp. (splash) + Bio P60 (P. fluorescens P60) (spray), Bio P60 (P. fluorescens P60) (splash) + Trichoderma sp. (spray), Bio P60 (P. fluorescens P60) (splash) + Bio P60 (P. fluorescens P60) (spray). Variables observed were percentage of healthy leaves, infection rate, the number of healthy leaves, and the number of healthy fruit. Result of the research showed that the use of Bio P60 (P. fluorescens P60) (splash) and Trichoderma sp. (spray) could effectively treat the Phytophthora wilt with the increased percentage of healthy leaves as 38,57% compared to control. Bio P60 (P. fluorescens P60) (splash) + Trichoderma sp. (spray) could be able to increase the number of healthy leaves, and number of healthy fruit.
346313268E1A009141DISPENSASI PERKAWINAN DIBAWAH UMUR (Studi Terhadap Putusan Nomor 0164/pdt.P/2013/PA.Pwt)Banyak fenomena yang hidup di masyarakat modern di era Globalisasi sekarang ini, salah satunya perkawinan di bawah umur. Perkawinan di bawah umur adalah perkawinan yang salah satu atau kedua belah pihaknya belum mencukupi batasan umur yang telah ditentukan dalam pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu 19 (Sembilan belas) tahun bagi pria dan 16 (enam belas) tahun bagi wanita. Bagi para pihak yang belum mencukupi umur dan akan melakukan perkawinan harus meminta izin kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria atau wanita sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat (2) Undang-undang Perkawinan.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dasar-dasar pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Purwokerto yang ditunjuk untuk menangani perkara nomor 0164/pdt.P/2013/PA.Pwt dan mengabulkan permohonan dispensasi perkawinan di bawah umur. Metode yang digunakan dalam menganalisa permasalahan adalah analisis deskriptif. Setelah dilakukan deskripsi dari hasil penelitian, dilakukan analisis secara kritis terhadap pertimbangan-pertimbangan hakim.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa dasar pertimbangan hakim secara yuridis mengabulkan permohonan dispensasi perkawinan yaitu tidak adanya larangan perkawinan dengan mendasarkan pada Pasal 8 Undang-undang Perkawinan dan juga pertimbangan bahwa pihak mempelai wanita telah dalam kondisi hamil 4 bulan dengan mendasar pada Pasal 7 ayat (2) Undang-undang Perkawinan dan Pasal 53 Kompilasi Hukum Islam.
There are many life phenomena in modern society in today's globalization era ,one of them is underage marriage. Underage marriage is a marriage which one or both sides it has not been sufficient age limit specified in Article 7 paragraph (1) of Law No. 1 of 1974 is 19 (nineteen) years for men and 16 (sixteen) years for women. For those who have not been sufficient age and willing to do marriage must ask permission from the court or other official designated by both parents party men or women as stipulated in Article 7 paragraph (2) of the Law of Marriage.

This study was conducted to know the basics consideration Purwokerto Religious Court Judges appointed to handle the case number 0164 / Pdt.P / 2013 / PA.Pwt and granted dispensation of underage marriage. The method used in analyzing the problems is descriptive analysis. After a description of the results of the research, carried out critical analysis of the deliberations of judges.

The results obtained showed that the consideration of judges legally granted dispensation marriage is that there is not the prohibition of marriage basing on Article 8 of the Marriage Law, and also the consideration that the bride has been in a state of 4 months pregnant with fundamental in Article 7 (2 ) Marriage Law and Article 53 Compilation of Islamic Law.
346413270A1H011084PENGARUH PRAPERLAKUAN BAHAN BAKU DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP PRODUKSI BIOETANOL DARI KULIT PISANG SEBAGAI ENERGI ALTERNATIFKulit pisang merupakan salah satu limbah pertanian yang berpotensi dikembangkan menjadi bioetanol karena mengandung cukup karbohidrat yang dapat digunakan sebagai sumber karbon. Produksi bioetanol dari tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) dengan metode hidrolisis.Semakin lama fermentasi, mikroba berkembangbiak dan jumlahnya bertambah sehingga kemampuan untuk memecah substrat atau glukosa yang ada menjadi asam laktat dan alkohol semakin besar. Glukosa yang diperoleh difermentasi dengan menggunakan khamir Saccharomyces cerevisiae dengan variasi waktu fermentasi 3, 6, dan 9 hari sehingga diperoleh bioetanol. Selanjutnya etanol dipisahkan dari larutan dengan distilasi. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat bioetanol dari kulit pisang dengan variasi praperlakuan bahan baku yaitu pembuatan tepung kulit pisang serta bubur kulit pisang, dan waktu fermentasi serta mengetahui mengetahui pengaruh praperlakuan bahan baku dan waktu fermentasi terhadap kadar bioetanol, kadar glukosa dan rendemen bioetanol. Variabel yang diamati meliputi kadar glukosa, kadar bioetanol, dan rendemen bioetanol. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, jika berpengaruh maka dilanjutkan dengan uji perbandingan ganda menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% dan ditampilkan dalam bentuk grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praperlakuan dan waktu fermentasi mempengaruhi hasil bioetanol. Praperlakuan bahan baku bubur dengan waktu fermentasi 9 hari merupakan perlakuan optimum yang menghasilkan kadar bioetanol dari kulit pisang sebesar7,692%(v/v) dan rendemen bioetanol murni dari kulit pisang sebesar 3,034%(v/m).Banana peels is one of the agricultural waste can be used as bioethanol because it contain enough carbohydrate sources of carbon. Bioethanol production of plant containing carbohydrate or starch, be done through the process if conversion of sugar (glucose) with hydrolysis method. The longer fermentation, microbes multiplied with the numbers increased so that the ability to break up the substratum or glucose are a priority lactic acid and alcohol higher. Glucose obtained, fermented using leaven Saccharomyces cerevisiae with variations fermentation time 3, 6, and 9 days so obtained bioethanol. After that bioethanol separated from a solution by distillation. This research aimed is making ethanol from waste banana peels with variation pretreatmentthat is manufacture of banana peels flour and banana peels pulp, fermentation time and to determine influence of pretreatment material rawand fermentation time on the bioethanol levels, the glucose levels and the bioethanol yield. Variable observed include glucose levels, bioethanol levels, and yield of bioethanol. The results will be analysis of varians, if the effect is significant then followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at the level of 5% and shown in the form charts.The results showed proper pretreatment and longer fermentation time affect of bioethanol produced. Pretreatment of puree banana peels and fermentation time 9 days is the optimum treatments produced bioethanol from banana peels 7.692% (v/v) and bioethanol yield from banana peels 3.034 (v/m).
346513271E1A009040KAJIAN TENTANG PENGGUNAAN LAMBANG PALANG MERAH DI INDONESIAPenggunaan Lambang Palang Merah di Indonesia banyak menuai kritik, karena Indonesia didominasi kaum muslim yang menganggap lambang palang merah mendekati symbol agama nasrani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan Lambang Palang Merah di Indonesia . Selain itu juga bertujuan untuk menganalisis azas kesatuan sebagai prinsip dasar gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di Indonesia. Guna mencapai tujuan tersebut maka peneletian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data sekunder yang terkumpul kemudian diolah, disajikan, dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif.
Hasil penelitian menyatakan bahwa, keberadaan Lambang Palang Merah di Indonesia didukung oleh berbagai macam peraturan di Indonesia, antara lain sejak Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI) yang didirikan oleh Belanda yang diatur dalam Undang-Undang (wet) tanggal 1 Juli 1909 dan keputusan Raja Tanggal 22 Februari 1919 berlaku pula bagi Hindia Belanda, Undang-undang Nomor 59 Tahun 1958 tentang Ikut Serta Negara Republik Indonesia dalam seluruh Konvensi Jenewa, Keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat No. 25 Tahun 1950, Peraturan Penguasa Perang Tertinggi Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1962 Tentang Pemakaian/Penggunaan Tanda dan Kata- Kata Palang Merah, Keputusan Presiden Repulik Indonesia Nomor 246 Tahun 1963, dan Anggaran Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Palang Merah Indonesia. Keberadaan Lambang Palang Merah di Indonesia diperkuat dengan adanya RUU tentang Lambang Palang Merah. Eksistensi azas kesatuan terkait prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan sabit merah di Indonesia terlihat dari Keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat No. 25 Tahun 1950 yang dikeluarkan tanggal 16 Januari 1950 yang menetapkan mengesahkan Anggaran Dasar dari dan mengakui sebagai badan hukum Perhimpunan Palang Merah Indonesia, menunjuk Perhimpunan Palang Merah Indonesia sebagai satu satunya organisasi untuk menjalankan pekerjaan palang merah di Republik Indonesia Serikat menurut Conventie Geneve (1864,1906,1929,1949).

Kata Kunci: Lambang, Palang Merah, dan Indonesia


Use of Red Cross Emblem in Indonesia a lot of criticism, because Indonesia is dominated by Muslims who consider approaching the red cross symbol Christian religious symbol. This study aims to determine the presence of the Red Cross emblem in Indonesia. It also aims to analyze the principles of unity as the basic principles of movement of Red Cross and Red Crescent Societies in Indonesia. In order to achieve these objectives, the peneletian is done by using a normative juridical approach. Secondary data were collected and then processed, presented and analyzed qualitatively with the presentation of narrative text data.
The study states that, where emblem of the Red Cross in Indonesia is supported by various regulations in Indonesia, among others from the Nederlands Rode Kruis Cambodgien Indie (NERKAI) established by the Netherlands set out in the Act (wet) dated July 1, 1909 and the decision of the King dated February 22, 1919 applies to the Dutch East Indies, Act No. 59 of 1958 on the Republic of Indonesia Participate in all the Geneva Conventions, United Republic of Indonesia Presidential Decree No. 25 In 1950, the Supreme War Lord of the Regulation of the Republic of Indonesia Number 1 of 1962 About the Use / Use of Signs and Words Red Cross, Repulik Indonesia Presidential Decree No. 246 of 1963, and the Articles of Association and Bylaws of the Indonesian Red Cross. The existence of the Red Cross emblem in Indonesia reinforced by the Draft Law on Red Cross emblem. The existence of the principle of the unity of the movement related to the basic principles of the red cross and red crescent in Indonesia can be seen from the Decision of the President of the Republic of Indonesia No. 25 of 1950 issued on January 16, 1950 which sets ratify the Statutes of and admitted as a legal entity of the Indonesian Red Cross Society, pointed to the Indonesian Red Cross Society as the only organization to carry out the work the Red Cross in the Republic of Indonesia according to Conventie Geneve (1864.1906 , 1929.1949).

Keywords: Emblem, the Red Cross, and Indonesia

346613272D1E011225PENGARUH LAMA PENGASAPAN TELUR ASIN DENGAN BAHAN TEMPURUNG KELAPA TERHADAP WARNA PUTIH TELUR DAN TINGKAT KESUKAANPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama pengasapan telur asin dengan bahan pengasap tempurung kelapa terhadap warna putih telur dan mengkaji pengaruh lama pengasapan terhadap tingkat kesukaan panelis. Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2015 sampai dengan 28 Agustus 2015 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan dan Laboratorium Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Materi yang digunakan adalah telur itik 180 butir, garam, dan air. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental, untuk warna putih telur menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu P0 = Telur asin tanpa pengasapan, P1 = Telur asin dengan pengasapan 4 jam, P2 = Telur asin dengan pengasapan 8 jam, P3 = Telur asin dengan pengasapan 12 jam dengan 5 ulangan, sedangkan untuk tingkat kesukaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 60 panelis. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Variansi kemudian dilanjutkan dengan uji Orthogonal Polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengasapan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna putih telur, sedangkan lama pengasapan berpengaruh sangat nyata (P>0,01) terhadap tingkat kesukaan. Disimpulkan bahwa lama pengasapan telur asin asap terhadap warna putih telur asin asap mengalami penurunan warna menjadi keruh (coklat), sedangkan lama pengasapan terhadap tingkat kesukaan putih telur asin asap tanpa pengasapan paling disukai dibandingkan dengan putih telur asin asap dengan perlakuan pengasapan 4 jam, 8 jam, dan 12 jam.The study aimed to assess the effects of different length in curing salted eggs using coconut shells on the egg whites color and on people’s preference. The study had been conducted from 10th until 28th of August 2015 at the Livestock Technology Laboratory, Faculty of Animal Science, and Agricultural Technology Laboratory, Agricultural Faculty, University of Jenderal Soedirman. The materials that were used were 180 duck eggs, salt, and water. The research method used was experiment, for the egg white color, it was Completely Randomized Design (CRD) with four treatments namely P0=salt egg without curing, P1= four-hour curing, P2= eight-hour curing, P3= twelve-hour curing with five repetitions, while for people’s preference, it was Completely Randomized Block Design (CRBD) with 60 panelists. The data were analyzed by variance analysis and followed by Orthogonal Polynomial test. The results showed that curing length had a significant (P<0,05) effect on the egg whites color, and a highly significant (P>0,01) effect on people’s preference. It could be concluded that the effect of curing duration on the egg whites color is to darken it, and the non-cured eggs are more prefered than those cured for four, eight, and twelve hours.
346713273D1E011139PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU YANG BERBEDA TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT, ASAM LEMAK BEBAS DAN pH YOGHURT SUSU KAMBING
Penelitian bertujuan mengkaji interaksi antara suhu dan lama penyimpanan terhadap kadar asam laktat, asam lemak bebas dan pH yoghurt susu kambing. Peubah yang diukur adalah asam laktat, asam lemak bebas dan pH. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2x4 dengan 8 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji : L0S1 = Tanpa disimpan 0 hari ( 270 C) selama 8 jam, L0S2 = Tanpa disimpan 0 hari (5 - 10ᵒ C) selama 8 jam, L1S1 = penyimpanan selama 3 hari pada suhu kamar (270C), L1S2= penyimpanan selama 3 hari pada suhu kulkas (5 – 100 C), L2S1= penyimpanan selama 6 hari pada suhu kamar ( 270C), L2S2= penyimpanan selama 6 hari pada suhu kulkas (5 – 100 C), L3S1= penyimpanan selama 9 hari pada suhu kamar ( 270 C), L3S3 = penyimpanan selama 9 hari pada suhu kulkas (5 – 100 C). Hasil penelitian menunjukkan pada kadar asam laktat dan asam lemak bebas interaksi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) sedangkan pada pH berpengaruh sangat nyata (P<0,01). Kesimpulan dari penelitian adalah tidak ada perbedaan kadar asam laktat dan kadar asam lemak bebas pada yoghurt yang di simpan pada suhu dan lama penyimpanan yang berbeda. pH tertinggi pada suhu ruang dengan lama penyimpanan 9 hari dan yang terendah pada 0 hari (8 jam). This research purpose was to assess interaction between temperature and storage duration of the lactic acid, free fatty acids and pH. The parameters measured is lactic acid, free fatty acids and pH. Using a completely randomized design (CRD) factorial 2x4 with 8 treatments and 4 replicates. The treatments were: L0S1 = Without stored 0 days (270 C) for 8 hours, L0S2 = Without stored 0 days (5 - 10ᵒ C) for 8 hours, L1S1 = 3 days storage at room temperature (270C), L1S2 = 3 days storage at refrigerator temperature (5-100 C), L2S1 = 6 days storage at room temperature (270C), L2S2 = 6 days storage at refrigerator temperature (5-100 C), L3S1 = 9 days storage at room temperature (270 C), L3S3 = 9 days storage at refrigerator temperature (5-100 C). The results showed on the lactic acid and free fatty acid interaction was not effect (P>0.05), but on the pH was highly significant (P <0.01). The conclusion of the study is no difference in the levels of lactic acid and free fatty acid levels in yoghurt stored at a different temperature and storage time. The highest pH at room temperature with 9 days storage and the lowest at 0 day (8 hours).
346813274D1E011150PERSEPSI PETERNAK TENTANG KAMBINGPERANAKAN ETTAWA SEBAGAI PENGHASIL SUSU ( Studi Kasus di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo )Penelitian bertujuan untuk: 1) mengetahui persepsi peternak kambing Peranakan Ettawa sebagai penghasil susu, 2) mengetahui karakteristik peternak ditinjau dari umur, tingkat pendidikan, dan lama beternak, 3) mengetahui hubungan antara umur peternak, tingkat pendidikan peternak dan lama beternak dengan persepsi peternak tentang kambing Peranakan Ettawa sebagai penghasil susu di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.Penelitian dilakukan dengan metode survei.Analisis data yang digunakanadalahanalisisDeskriptifdanAnalisisRankSpearman. Teknik penetapan sampel wilayah dilakukan secara Purposive sampling, yaitu Kecamatan Kaligesing. Kecamatan Kaligesing merupakan pusat pengembangan kambing Peranakan Ettawa, yang terdiri atas 21 desa. Pemilihan desa dilakukan dengan mengambil 3 desa yang memiliki jumlah populasi kambing Peranakan Ettawa tertinggi yaitu Desa Tlogoguwo, Pandanrejo dan Donorejo. Masing-masing desa terpilih diambil 30 % Kelompok Tani Ternak (KTT) dan pemilihan responden dilakukan dengan mengambil sampel 40 % dari masing-masing Kelompok Tani Ternak tersebut.
Hasil penelitianmenunjukanbahwapersepsi peternak tentang kambing Peranakan Ettawa sebagai penghasil susu memiliki kategori baik.HubunganumurdantingkatpendidikandenganpersepsipeternakkambingPeranakanEttawasebagaipenghasilsusumemilikikorelasisangatrendah, sedangkanhubungan antara lama beternakdenganpersepsipeternaktentangkambingPeranakanEttawasebagipenghasilsusumemilikikorelasi yang rendah.
Conducted in Kaligesing-Purworejo,the purposes of this research were toasses: 1) farmers’perceptions PE goats as milk producers, 2) their characteristicsbased on their age,education, and experience, 3) the relation between the their characteristics and perception.The study was conducted through a survey method.Analyse the data used Descriptive analysis and Analyse the Rank Spearman. Descriptive Analysis to explain about perception of farmer’s and farmer’s characteristic. Analyse the Rank Spearman used to analyse the relationship between perception with the farmer’s characteristic.
Result of research that thefarmer’sperception ofEttawa Cross (PE) goatsas milk producerisin a good category. The relation between the age and the level of education and theperceptionn is very low,meanwhile the duration of farming and the perception is low.
346913275A1H011015KAJIAN MOTIVASI PETANI MELANJUTKAN METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS MEANS-END CHAIN (MEC) DI KABUPATEN TABANAN, BALISubak sebagai lembaga tradisional pengelola air irigasi di Bali memiliki potensi yang besar untuk mengadopsi inovasi SRI sehingga dapat meningkatkan produktifitas padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi petani tetap melanjutkan metode SRI dan mengetahui sosial – demografi petani SRI. Penelitan ini dilakukan secara survai langsung terhadap petani SRI di Kabupaten Tabanan, Bali. Data dianalisis dengan metode MEC (Means-End Chain) menggunakan software MECAnalysist untuk mendapatkan HVM serta abstractness ratio untuk mengetahui tingkatan atribut, konsekuensi, dan nilai. Dari hasil MECAnalysist terdapat tiga hubungan keterlibatan paling utama yaitu 1) Metode SRI merupakan metode tanam yang cukup efektif untuk diaplikasikan, 2) Metode SRI dapat menjadikan pertumbuhan tanaman lebih optimal, 3) Metode SRI berpengaruh baik terhadap kesuburan tanah, ketiga tema tersebut mengarah pada hasil yang sama yaitu pencapaian diri. Berdasarkan centrality index, peningkatan hasil (0.19), memenuhi kebutuhan sehari – hari (0.19), dan peningkatan pendapatan (0.12) adalah motivasi yang paling dominan. Petani SRI di Kabupaten Tabanan, Bali dikategorikan pada level ke empat teori hirarki Maslow yaitu kebutuhan akan penghargaan atau esteem needs merupakan kebutuhan akan pencapaian diri atas sesuatu hal yang ingin dicapai“Subak” is a traditional institution for water irrigation management in Bali. This can support the adoption of SRI method to improve rice productivity. This research is aimed to determine the motivation of farmers to continue SRI method and determine social demographic of SRI farmers. This research was conducted by using survey method SRI farmers in Tabanan district, Bali. Data was analyzed using MEC method (Means-End Chain) with the use of MEC Analyst software. HVM abstractness ratio and centrality index were calculated in this study in addition, HVM’s were generated by using MEC analyst software. The results showed that there were three most important motives. They were 1) SRI was an effective growing applied, 2) SRI can make plant growth optimaly and 3) SRI positively influence in soil fertility. The three themes led to the same result which was self-achievement. Based on centrality index, the “increasing result” (0.19) “fulfillment the daily needs” (0.19) and “increasing income” (0.12) was the most dominant motivation. SRI farmers in Tabanan district, Bali was categorized at the fourth level in Maslow’s hierarchy theory that was the esteem needs. It is the need for self-achievement over something that is to be achieved.
347013276A1H011052KAJIAN MOTIVASI PETANI SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)
MELALUI METODE MEC (MEANS-END CHAIN)
DI KABUPATEN TASIKMALAYA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi petani SRI dan karakteristik sosial-demografi di Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian dilakukan di Kecamatan Manonjaya dan Kecamatan Salawu pada bulan Mei-Juni 2015 kepada 60 responden. Penelitian dilakukan dengan metode survai menggunakan multistage purposive sampling. Pendekatan Means-End Chain (MEC) dalam penelitian ini mempekerjakan teknik wawancara laddering, analisis isi, pembuatan HVM (Hierarchical Value Map), dan interpretasi data. Kode berupa atribut, konsekuen, dan nilai yang dihasilkan untuk digunakan menganalisis konten. Rasio keabstrakan dan indeks sentralitas dihitung untuk membentuk HVM. Terdapat 3 tema yang teridentifikasi dari penelitian ini a) produksi meningkat, memperbaiki kesuburan tanah akan meningkatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga agar mencapai kebahagiaan b) hasil sehat c) memperbaiki kesuburan tanah. Berdasarkan indeks sentralitas, ‘mencukupi kebutuhan keluarga’ dan ‘peningkatan pendapatan’ merupakan nilai tertinggi dengan 0.17 dan 0.12. Sosial-demografi petani paling banyak berumur 46-55 tahun, dominan laki-laki dengan tingkat pendidikan terakhir Sekolah Dasar dan mempunyai 4-5 orang tanggungan keluarga.The aims of the research is to understand motivation of SRI’s farmer and their social-demography of characteristic in Tasikmalaya Regency. The research was conducted in Manonjaya and Salawu on Mei-June 2015 for 60 respondens. The research was conducted with survey method using multistage purposive sampling. Means-End Chain approach was employed in this study with laddering interview technique, content analisys, generating HVM (Hierarchical Value Map), and interpretation data. Master codes of attribute, consequence, and value were generated by using content analisys produce. Abstracness ratio and centrality index was calculated to construct the HVM. There are 3 themes identified from this study a) incresed production and improve soil fertility will incresed the revenue to satisfy the needs of their families to accomplish happiness b) the result of healthy c) improve soil fertility. Based on centrality index, ‘satisfy the needs of their families’ and ‘increasing the revenue’ have the higest values which are 0.17 and 0.12 respectively. Social-demography of characteristic farmers the most 46-55 years old, most dominant mens with the education level last Primary School and have 4-5 the responsibility of other families.
347113277E1A111063EXTRAORDINARY RENDITION (Kajian Terhadap Tanggungjawab Negara Pada Kasus Maher Arar Tahun 2002)
Setiap manusia mempunyai Hak Asasi Manusia (HAM), dan negara mempunyai kewajiban untuk menghormati, melindungi, memenuhi dan mengembangkan HAM dari setiap warga negaranya. Contoh dari perbuatan yang melanggar HAM internasional adalah extraordinary rendition. Salah satu kasus mengenai extraordinary rendition adalah kasus Maher Arar yang terjadi pada tahun 2002.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggung jawab negara pada peristiwa extraordinary rendition dalam kasus Maher Arar tahun 2002. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif. Data-data sekunder yang terkumpul diolah, disajikan, dan dianalisis secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tindakan extraordinary rendition yang dilakukan Amerika Serikat dalam kasus Maher Arar telah melanggar Pasal 3 dari Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (UNCAT) tahun 1984 dan Pasal 36 Konvensi Wina tahun 1963, akan tetapi pihak AS belum memberikan pernyataan maaf ataupun ganti kerugian terhadap pihak Maher sebagai bentuk pertanggungjawaban negara. Penyiksaan yang dilakukan Suriah telah melanggar Pasal 2 UNCAT tahun 1984 dan merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM). Pemerintah Kanada berusaha untuk melakukan upaya perlindungan tetapi hal itu mendapatkan halangan dari adanya doktrin non responsibility yang diakibatkan oleh kewarganegaraan ganda Maher. Pemerintah Kanada secara resmi meminta maaf kepada Maher pada tahun 2007 dan memberikan ganti rugi sebesar 9,8 juta dollar AS sebagai bentuk pertanggungjawaban negara berkaitan dengan kasus tersebut.
Every human being has a Human Rights, and the state has an obligation to respect, protect, fulfill and develop the human rights of every citizen. Examples of acts that violate international human rights is the extraordinary rendition. One case of the extraordinary rendition of Maher Arar is a case that occurred in 2002.
This study aims to determine the responsibility of the state in the event of extraordinary rendition in the case of Maher Arar in 2002. The method used in this research is normative juridical approach. Secondary data collected was processed, presented and analyzed qualitatively with the presentation of narrative text data.
Based on the survey results revealed that the actions of extraordinary rendition by the United States in the case of Maher Arar had violated Article 3 of the Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (UNCAT) 1984 and Article 36 of the Vienna Convention of 1963, but the The US has not given a statement of apology or compensation to Maher parties as a form of state. Torture by Syria has violated Article 2 UNCAT in 1984 and is a violation of human rights. The Government of Canada strives to make efforts to gain protection but it obstruction of the doctrine of non responsibility caused by Maher dual citizenship. Government of Canada formally apologized to Maher in 2007 and provide compensation of 9.8 million US dollars as a form of state pertaining to the case.
347213279H1E011020OPTIMASI DIMENSI TARGET BERILLIUM DAN DINDING TARGET TIMBAL DALAM MENGHASILKAN FLUKS NEUTRON MENGGUNAKAN SIMULASI PROGRAM MCNPXTelah dilakukan penelitian tentang optimasi dimensi target berillium dan dinding target timbal dalam menghasilkan fluks neutron menggunakan simulasi program MCNPX. Berkas proton dihasilkan dari mesin akselerator siklotron dengan energi 30 MeV. Spesifikasi dimensi dari material target divariasikan untuk mendapatkan desain yang dapat menghasilkan berkas neutron yang optimal. Simulasi menunjukkan bahwa spesifikasi dimensi target berillium yang optimal dalam menyerap proton adalah dengan ketebalan 1,4 cm dan jari-jari 1 cm, dinding target dengan material timbal ketebalan 25 cm dan jari-jari 25 cm. Fluks neutron untuk setiap kategori energinya adalah fluks neutron cepat sebesar 1.42×1014 n.〖cm〗^(-2) s^(-1), fluks neutron epitermal 6,83×1010 n.cm^(-2) s^(-1) dan fluks neutron termal bernilai 0.
A research on optimization of target dimensions beryllium and lead walls of target in produce neutron flux using MCNPX simulation program. Proton beams produced from a 30 MeV cyclotron. Dimensional specifications of berilium target component are varied to obtain a design that can produce optimal neutron beam. Simulations show that the optimal dimentional to absorbed proton source specifications of berillium target with a thickness of 1.4 cm and 1 cm radius, the target wall based with a thickness of 25 cm and 25 cm radius and neutron flux to each neutron energy categories are fast neutron flux is 1.42×1014 n.〖cm〗^(-2) s^(-1), epithermal neutron flux is 6.83×1010 n.〖cm〗^(-2) s^(-1) and thermal neutron flux is 0.
347313280A1H011049KARAKTERISTIK OPTIK BIJI KEDELAI HITAM (Glycine Soja Sieb. et Zucc) TUNGGAL
PADA BERBAGAI KADAR AIR
Kedelai hitam (Glycine Soja Sieb. et Zucc) termasuk salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, mutu kedelai hitam perlu diperhatikan dengan baik seperti halnya kadar air yang merupakan salah satu parameter mutu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: Mengetahui karakteristik optik (reflektansi) biji kedelai utuh, rusak dan terkontaminasi pada berbagai tingkat kadar air dan menentukan hubungan matematis antara karakteristik optik (reflektansi) dengan kadar air kedelai utuh, rusak dan terkontaminasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan integrating sphere. Variabel yang diamati meliputi nilai resistansi LDR dari 40 sensor dengan mengunakan tiga sumber cahaya (532 nm, 650 nm dan bright white) dan kadar air kedelai hitam tunggal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi untuk mengetahui hubungan kadar air kedelai dengan intensitas cahaya yang dipantulkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengukuran dengan menggunakan tiga sumber cahaya untuk kedelai hitam pada masing-masing kondisi memiliki perbedaan karakteristik optik antara satu dengan lainya. Penggunaan cahaya bright white menunjukkan hubungan yang erat antara resistansi dan kadar air pada kondisi rusak dengan persamaan matematis y = 195039x + 197843 dengan r2 = 0,96, penggunaan cahaya 532 nm menunjukkan hubungan yang erat pada kondisi utuh dengan persamaan matematis y = -92099x + 8000000 dengan r2 = 1,00, dan penggunaan cahaya 650 nm menunjukkan hubungan yang erat pada kondisi rusak dan terkontaminasi dengan persamaan matematis kondisi rusak adalah y = 61423x – 13470 dengan r2 = 0,98 kemudian kondisi terkontaminasi y = 10594x – 47318 dengan r2 = 0,98.Black soybean (Glycine Soja Sieb. Et Zucc) include of legumes species are consumed by Indonesian. Therefore, quality of black soybeans need to be considered by the moisture content is one of the quality parameters. The aim of this study was to: Knowing the optical characteristics (reflectance) soybean seeds intact, damaged and contaminated at different levels of moisture content and determine the mathematical relationship between the optical characteristics (reflectance) with moisture content of soybean intact, damaged and contaminated. Research carried out by using the integrating sphere. Variables observed LDR resistance values from 40 sensors by using three sources of light (532 nm, 650 nm and bright white) in a single black soybean moisture content. Data analysis was performed using regression analysis to determine the relationship of moisture content of soybeans with the intensity of reflected light. The result of this research showed if measurement with using three light sources for black soybean in each conditions have different optical characteristic between the one and other. The used of brigt white light showed the close relation between resistancy and water content level in intact condition with mathematic equation y = 195039x + 197843 with r2 = 0,96, and using 532 nm light showed close relation in intact condition with mathematic equation y = - 92099x + 8000000 with r2 =1,00, and the using 650 nm light showed close relation in damage condition and contamined with mathematic equation damage condition was y = 61423x – 13470 with r2 = 0,98 then contamined condition y = 10594x – 47318 with r2 = 0,98.
347413281H1C011009PERANCANGAN SISTEM MONITORING TEGANGAN AC PADA GENERATOR PLTMH BERBASIS ARDUINO MELALUI KOMUNIKASI DATA ZIGBEEPembangkit energi listrik terbarukan saat ini, salah satunya adalah pembangkit litstrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yakni pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai penggeraknya. Pada umumnya ruang kontrol PLTMH dengan PLTMH nya sendiri memiliki jarak yang cukup jauh, untuk dapat mengoptimalkan jarak dan biaya pengkabelan seringkali menjadi kendala dalam proses monitoring. Penggunaan sistem komunikasi nirkabel (wireless) sebagai media komunikasi pada sistem jaringan komputer semakin popular sekarang ini . Hal ini membuat proses pertukaran informasi dan komunikasi menjadi cepat dan mudah. Untuk itu dirancang sebuah prototype sistem monitoring tegangan AC dari generator secara nirkabel menggunakan mikrokontroler Arduino. Untuk dapat mengetahui nilai tegangan AC digunakan rangkaian pembagi tegangan sebagai sensor, dan untuk pengiriman data secara nirkabel menggunakan Xbee Series 2 berbasis protokol Zigbee. Pengujian keseluruhan sistem dilakukan dengan melihat nilai tegangan AC keluaran dari jala-jala listrik PLN 220V, yang kemudian diproses oleh Arduino. Data nilai tegangan AC akan dikirim melalui Xbee Series 2 dengan jarak yang bervariatif serta akan ditampilkan pada LCD. Dari perancangan prototype sistem ini diharapkan dapat menjadi sistem monitoring tegangan AC generator pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro secara realtime. Hasil pengujian sensor tegangan dengan nilai Vrms yang diperoleh dari pengujian memiliki nilai error sebesar 5,5%. Hasil monitoring secara nirkabel dengan modul Xbee diperoleh data yang sama dengan sebelum data dikirim. Berdasarkan pengukuran, jarak pancar Xbee maksimal pada indoor dengan skema ruangan kamar adalah 22 meter, dan pada outdoor tanpa halangan sejauh 120 meter.

Microhidro power plant is renewable power plant in small scale which used water power as driving force. Generally, control room of microhidro power plant with power plant it self have considerable distance. The distance and wiring fee sometimes become problem in process monitoring and optimizing power plant it self.Utilization wireless communication system as communication tool on computer network system which become popular right now. This matter make information exchange and communication become fast and easy.Therefor will be designed a prototype of AC voltage from generator with wireless using Arduino microcontroller. In order to know rated AC voltage from generator will be used a rectifier and a voltage divider as sensor. And for wireless transmission will be used Xbee Series 2 based on Zigbee protocol.Entire system will be tested by see rated AC voltage output from AC voltage source 220V and then will be processed by Arduino. Rated AC voltage data will be transfered by Xbee Series 2 with variety distance and then will be displayed on LCD. From this prototype system design can be as monitoring system rated AC voltage generator on microhidro power plant in realtime. And result for voltage sensor test which using Vrms has 5,5% in error percentage. Result for wireless monitoring which using Xbee module had the same result with monitoring before using Xbee module. Based on measurement, maximum indoor transmit distance with room scheme was 22 meter, and maximum transmit distance for outdoor which not any obstacles was 120 meter.
347513282A1L011114KAJIAN BIOLOGI PARASITOID TELUR HAMA PENGGEREK BATANG PADI KUNING (Tetrastichus schoenobii Ferriere.) PADA BEBERAPA VARIETAS PADIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh perbedaan varietas padi terhadap biologi parasitoid T. schoenobii, 2) kemampuan pemarasitan telur penggerek batang padi kuning (PBPK) oleh T. schoenobiii. Penelitian ini dilaksanakan di rumah plastik di Desa Pasir Kidul, Purwokerto Barat dan Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada bulan Februari 2015 hingga Agustus 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor yang dicoba adalah 10 varietas padi yang terdiri dari Inpari 31, Inpari 32, Inpari 33, Hipa 18, Hipa 19, Hipa 13, Hipa 12 SBU, Ciherang, Situ Bagendit, dan IR64, dengan 3 ulangan. Variabel yang diamati adalah nisbah kelamin T. schoenobii, ukuran tubuh T. schoenobii, lama muncul dan lama hidup T. schoenobii, serta tingkat pemarasitan. Data di analisis dengan uji F pada taraf kesalahan 5%, kemudian dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan varietas padi tidak berpengaruh terhadap biologi parasitoid T. schoenobii meliputi nisbah kelamin, ukuran tubuh imago, lama muncul dan lama hidup. Tingkat pemarasitan telur PBPK tertinggi dari T. schoenobii terdapat pada varietas Inpari 31 yaitu sebesar 75%, sedangkan terendah pada varietas IR64 yaitu sebesar 8,33 %.This research aimed to determine: 1) the effect of the different varieties of rice on the parasitoid biology T. schoenobii, 2) the ability of yellow rice stem borer (YRSB) eggs parasitism of T. schoenobiii. The research was conducted at a plastic house in Pasir Kidul village, West Purwokerto and The Laboratory of Plant Protection, Faculty Agriculture of Jenderal Soedirman University, Purwokerto from February 2015 to August 2015. This research used a randomized block design (RAK). The factors were 10 varieties of rice which consists of Inpari 31 Inpari 32, Inpari 33, Hipa 18, Hipa 19, Hipa 13, Hipa 12 SBU, Ciherang, Situ Bagendit, and IR64, with 3 repetitions. The variables measured were T. schoenobii sex ratio, body size, long emerging and long-life, as well as the parasitism level. The data was analyzed by F test at 5% error level, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that treatment rice varieties did not affect the parasitoid biology T. schoenobii include sex ratio, body size imago, long emerging and long-life The highest YRSB eggs parasitism level of T. schoenobii was in Inpari 31 as 75%, whereas the lowest parasitism level of T. schoenobii was in IR64 as 8,33%.
347613283C1A011107ANALISIS PENDAPATAN USAHA HOMESTAY PULAU TIDUNG KABUPATEN ADIMINSTRASI KEPULAUAN SERIBU JAKARTAPenelitian ini berjudul “Analisis Pendapatan Usaha Homestay Pulau Tidung Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Jakarta”. Adapun latar belakang dari penelitian ini yaitu sebagai salah satu pusat pariwisata di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Pulau Tidung juga memiliki fasilitas yang diperlukan wisatawan mulai salah satunya penginapan (homestay), tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui tingkat pendapatan dari usaha jasa penginapan (homestay) di Pulau Tidung Kepulauan Seribu. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang diperoleh dari hasil wawancara dan kuesioner serta dinas-dinas terkait. Alat analisis yang digunakan adalah tabulasi dan deskriptif mengetahui pendapatan bersih dari pemilik penginapan (homestay).
Berdasarkan hasil penelitian pada bulan Desember 2014 dari 106 responden rata-rata penerimaan Rp8.524.528,00 dan rata-rata biaya total Rp2.505.428,00. Dari hasil tersebut maka diperoleh rata-rata pendapatan bersih atau keuntungan Rp6.019.100,00, dengan pendapatan terendah dari usaha penginapan Rp348.958,00 dan pendapatan tertinggi dari usaha penginapan Rp29.901.167,00 serta standar deviasi Rp5.605.084.
Implikasi dari penelitian ini adalah disarankan para pengusaha penyedia jasa penginapan (homestay) yang ada di Pulau Tidung Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Jakarta untuk terus meningkatkan pelayan sehingga menarik wisatawan untuk menginap di homestay. Selain itu penambahan fasilitas yang ada akan menarik minat wisatawan (konsumen) untuk menginap di homestay. Pemerintah daerah juga bisa meningkatkan pendapatan para pengusaha penyedia jasa penginapan (homestay) di Pulau tidung Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Jakarta, dengan membantu pemberian dana usaha untuk mengembangkan usaha penginapan dan membantu memberikan informasi terhadap wisatan yang berkunjung ke Pulau Tidung. Sehingga akan berdampak positif terhadap pendapatan yang diterima oleh pengusaha penginapan dari usaha penyewaan tempat menginap (homestay).
This study entitled "Analysis of Operating Revenue Homestay Tidung Jakarta District Thousand Islands". The background of this research that as one of the centers of tourism in the Thousand Islands District Administration, Tidung also has necessary amenities tourists began one of accommodation (homestay), the purpose of this study is to determine the level of income from the business lodging services (homestay) Tidung Island Thousand Islands. This research uses primary and secondary data obtained from interviews and questionnaires as well as relevant agencies. The analytical tool used is the tabulation and descriptive determine the net income of the innkeeper (homestay).
Based on the results of the study in December 2014 from 106 respondents the average acceptance Rp8.524.528,00 and average total cost Rp2.505.428,00. From these results we obtained an average net income or profit Rp6.019.100,00, with the lowest incomes from businesses Rp348.958,00 accommodation and the highest revenue of the business as well as the standard deviation Rp29.901.167,00 accommodation Rp5.605.084.
The implications of this study are advised entrepreneurs lodging service providers (homestay) in the island Tidung Jakarta Thousand Islands District Administration to continue to improve the waiter so attract tourists to stay in a homestay. Besides the addition of the existing facilities would attract tourists (consumers) to stay in a homestay. The local government can also increase the income of entrepreneurs lodging service providers (homestay) in tidung Island Administrative District Thousand Islands Jakarta, with the help funding efforts to develop lodging businesses and help provide information on visiting the island wisatan Tidung. So it will have a positive impact on the income earned by entrepreneurs of lodging rental business places to stay (homestay).
347713284A1L011108PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK DAN PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELENGKENG (Dimocarpus longan)
DATARAN RENDAH VARIETAS PINGPONG
Kelengkeng merupakan tanaman buah yang berasal dari Asia Tenggara. Salah satu varietas kelengkeng unggul adalah Pingpong. Pembibitan kelengkeng varietas Pingpong masih memerlukan penanganan yang khusus. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendapatkan dosis pupuk NPK yang optimal untuk pertumbuhan bibit kelengkeng varietas Pingpong; 2) Mendapatkan konsentrasi pupuk daun yang optimal untuk pertumbuhan bibit kelengkeng varietas Pingpong; 3) Mendapatkan bentuk perlakuan terbaik dari pemberian dosis pupuk NPK dan konsentrasi pupuk daun untuk pertumbuhan bibit kelengkeng varietas Pingpong.
Penelitian dilaksanakan di screenhouse Cilengko Farm Desa Pandak Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas pada bulan April sampai Agustus 2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari 9 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor ke-1 adalah pupuk NPK dengan dosis: (0 g/bibit, 40 g/bibit dan 60 g/bibit) dan faktor ke-2 adalah pupuk daun dengan konsentrasi: (0 g/l air, 2 g/l air dan 2,5 g/l air). Data dianalisis menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa beberapa dosis pupuk NPK dan beberapa konsentrasi pupuk daun tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit kelengkeng varietas Pingpong. Penelitian ini belum mendapatkan dosis pupuk NPK dan konsentrasi yang optimum.
Longan is a fruit plant originally from Southeast Asia. One of superiority varieties of longan is Pingpong. Longan varieties Pingpong breeding need special handling require. This research purpose to: 1) Getting the optimal dose of NPK fertilizer for growing longan seed varieties Pingpong; 2) Getting the optimal concentration of foliar fertilizer for growing longan seed varieties Pingpong; 3) Getting the form tratment of dose NPK fertilizer and concentration foliar fertilizer for growing longan seed varieties Pingpong.
The experiment was conducted in screenhouse Cilengko Farm Village Pandak Baturraden District of Banyumas in April to August 2015. The research using a complete randomized block design, factorial consisting of 9 treatments and 3 repetitions. 1st Factors is NPK fertilizer with dose (0 g/seed, 40 g/seed, and 60 g/seed) and 2nd factor is foliar fertilizer with concentration (0 g/l, 2 g/l air and 2,5 g/l of water)) . Data were analyzed using Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at the 5% level of error. The results showed that multiple doses of NPK fertilizer and foliar fertilizer several concentration had no effect on seedling growth of longan varieties of Pingpong. This research has not received a dose of NPK fertilizer and the optimum concentration.
347813286B1J011025PERKECAMBAHAN DAN PERKEMBANGAN BULUH POLINIA
Vanda suksamran Gold. PADA STIGMA HINGGA KANTUNG EMBRIO Vanda diana Blue. BESERTA RESIPROKNYA SECARA ANATOMI
Vanda adalah salah satu spesies anggrek anggota familia Orchidaceae yang banyak diminati oleh masyarakat. Genus Vanda tidak memiliki jumlah spesies yang banyak, namun dianggap paling digemari oleh pecinta anggrek. Anggrek Vanda memiliki warna bunga yang bervariasi dan tahan lama.
Kajian mengenai perkecambahan dan perkembangan polinia anggrek Vanda sejauh ini belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan mempelajari perkecambahan dan perkembangan polinia anggrek Vanda yang dilihat secara anatomi.Penelitian ini menggunakan metode secara acak yaitu pengambilan sampel terpilih. Pembuatan preparat mikroskopis dengan metode parafin atau embedding, pewarnaan dengan safranin 1% untuk mengamati proses perkecambahan dan perkembangan polinia anggrek Vanda. Parameter yang diamati adalah viabiltas polinia, panjang buluh polinia dan proses perkecambahan dan perkembangan polinia dari stigma, stylus dan ovarium sampai kantung embrio. Pengamatan dilakukan secara deskriptif yaitu dengan mengamati proses perkecambahan dan perkembangan polinia anggrek Vanda. Perkecambahan dan perkembangan polinia anggrek Vanda suksamran Gold.xVanda diana Blue. danVanda diana Blue. xVanda suksamran Gold. Ditandai dengan terbentuknya buluh polinia terbentuknya buluh polinia pada minggu pertama. Persilangan Vanda suksamran Gold.xVanda diana Blue. Ditandai dengan buluh polinia yang memanjang terlihat dari stigma, stylus hingga ke kantung embrio minggu ke dua dan ke tiga. Persilangan Vanda diana Blue. xVanda suksamran Gold. Pada minggu kedua mengalami kematian.
Vanda is one of the Orchidaceae family members which is publicity high demand. Vanda genus does not have a lot of number of species, but it is considered the most favorable orchid. Vanda orchid flowers vary in color and durablity.
The study of germination and development of Vanda orchidpolinia so far has not been done yet. This research aims to study the germination and development Vandapolinia orchids are seen anatomy. This study used random sampling is selected. The preparations for a microscopic method or a paraffin embedding, staining with safranin 1% to observe the process of germination and growth polinia Vanda orchids. Parameters measured were polinia viability, long reed polinia and polinia germination and development of stigma, stylus, and ovary to the embryo sac. Observations were made descriptively by observing the process of germination and growth polinia Vanda orchids.Germination and development of the orchid polinia Vanda suksamranGold. x Vanda Diana Blue. and Vanda Diana Blue. XVanda suksamranGold. characterized by the formation reed polinia formation in the first week. A cross between Vanda suksamranGold. x Vanda Diana Blue.characterized by the reed polinia elongated lookof the stigma, stylus up to the embryo sac second and third weeks. A cross between Vanda Diana Blue. XVanda suksamranGold. in the second week of death.
347913287H1F011040GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DAN STUDI KARAKTERISTIK ENDAPAN FLUVIAL BERDASARKAN DATA SEISMIK DAERAH PERAIRAN TELUK JAKARTA DAN SEKITARNYA PROVINSI DKI JAKARTAHasil penelitian beberapa penelitian terdahulu di Paparan Sunda (Sunda Shelf) di antaranya berupa alur-alur sungai purba sewaktu periode susut laut pada akhir kala Pleistosen. Studi ini melaporkan temuan alur sungai purba di sebelah utara Perairan Teluk Jakarta hasil penelitian geofisika dengan metode seismik resolusi tinggi oleh Pusat Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keberadaan serta untuk mengetahui posisi dan gambaran morfologi alur sungai purba di utara Teluk Jakarta, Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2015. Berdasarkan penafsiran rekaman data seismik tersebut dapat dikenali dua sistem alur sungai purba dengan arah aliran berarah hampir sama yaitu Timur - Barat. Alur sungai purba yang lebih besar memiliki lebar sekitar 2250 m hingga 3454 m dan kedalaman antara 15 m hingga 40 m dari dasar laut setempat sedangkan alur purba yang lebih kecil memiliki lebar sekitar 586 m hingga 1711 m dengan kedalaman antara 7 m hingga 17 m. Keberadaan alur sungai purba di sini merupakan pendetilan dari keberadaan alur-alur sungai purba yang telah diduga oleh Mollengraaff dan Kuenen sebelumnya.
Kata Kunci: Teluk Jakarta, Sungai Purba, Seismik Fluvial, Paparan Sunda, Seismik.
Some research results of previous studies on the Sunda Shelf of them in the ravines of ancient sea during the period of regretion in the late Pleistocene. This study reported finding an ancient river channel in the north of Jakarta Bay geophysical research results with high resolution seismic method by the Center for Development of Marine Geology (P3GL). This study aims to explore the existence and to know the position and of an ancient river channel morphology in the north of Jakarta bay, Jakarta Province. This research was conducted in April 2015. Based on the interpretation of the seismic data records can be identified which two river channel system with flow direction directed almost the same, namely the East-Weast. Old river channel has a greater width of approximately 2250 m to 3454 m and a thickness of between 15 m and 40 m from the seabed ancient local while the smaller grooves having a width of about 586 m to 1711 m with a thickness of between 7 m to 17m. The existence of an ancient river channel here is deatailing of the existence of ancient ravines that have been alleged by Mollengraaff and Kuenen earlier.
Keywords: Jakarta Bay, Old River, Fluvial Seismic, Sunda Shelf, Seismic
348013288A1L011110TOLERANSI SEBELAS GENOTIP KEDELAI TERHADAP CEKAMAN KEKERINGANPenggunaan tanaman toleran merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil pada kondisi cekaman kekeringan. Penelitian toleransi sebelas genotip kedelai terhadap cekaman kekeringan bertujuan untuk 1) mengetahui respon dan potensi hasil sebelas genotip kedelai terhadap cekaman kekeringan, 2) mengetahui tingkatan toleransi cekaman kekeringan pada sebelas genotip kedelai, 3) mengetahui galur kedelai yang toleran terhadap cekaman kekeringan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama berupa sebelas genotipe kedelai, yakni G1, G2, G3, G4, G5, G6, G7, G8, G9, Slamet, dan Grobogan. Faktor kedua berupa cekaman kekeringan yang terdiri atas tiga taraf, yaitu 90% kapasitas lapang (KL), 60% KL, dan 30% KL. Perlakuan diberikan pada saat tanaman sudah memasuki fase R1 (pembungaan). Variabel yang diamati adalah panjang akar, volume akar, buku utama, buku total, tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot kering akar, bobot kering tajuk, polong total per tanaman, polong isi per tanaman, biji total per tanaman, biji utuh per tanaman, bobot biji utuh, bobot biji keriput, bobot biji total, bobot 100 biji, dan umur tanaman. Data dianalisis dengan uji F dilanjutkan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan 1) Genotip G10, G3, dan G4 mempunyai respon dan hasil lebih baik dibanding genotip lainnya terhadap cekaman kekeringan, dilihat dari variabel jumlah polong total, jumlah polong isi, biji total, biji utuh, dan bobot biji utuh per tanaman. 2) Berdasarkan hasil Stress Tolerance Index (STI) genotip yang toleran terhadap pemberian air 60% kapasitas lapang yaitu G10, G3, G4, dan G1, sedangkan genotip yang moderat yaitu G11 dan G2, genotip yang peka yaitu G9, G6, G7, G5, dan G8. 3) Berdasarkan hasil STI genotip yang toleran terhadap pemberian air 30% kapasitas lapang yaitu G10 dan G4, sedangkan genotip yang lainnya tergolong peka.The implementation of drought tolerant soybean genotypes is one of many efforts to improve the production level of soybeans. This drought tolerance reserach of eleven soybean genotypes was aimed to: 1) figure out the response and potential production of eleven soybean genotypes towards drought, 2) determine the drought level tolerance for each genotype, 3) figure out which soybean line is tolerant towards drought. This reserach used a factorial randomized block design with 2 factors and 3 replications. The first factor was the eleven soybean genotypes which were include: G1, G2, G3, G4, G5, G6, G7, G8, G9, Slamet and Grobogan. The second factor was the drought treatment, consisted of three levels: 90% of field capacity (FC), 60% of FC, and 30% of FC. Treatments were given during the R1 (flowering) stage of soybean. The variables measured were root length, root volume, main node, total node, plant height, total branch, dry root weight, dry shoot weight, seed number per plant, total pods per plant, filled pods per plant, intact seed per plants, intact seed weight, wrinkled seed weight, total seed weight, 100 seeds weight, and plant's age. Data were analyzed in F-test then continued in Least Significant Difference Test (LSD) at 95% significance level. The result showed: 1) G10, G3, and G4 had a both better response and yield production level towards drought, observed from total pods, total filled pods, total seeds, intact seeds, and intact seeds weight for plant 2) Based on the Stress Tolerance Index (STI) result, showed that the most tolerant genotype towards 60% of field capacity watering level were G10, G3, G4, and G1, the moderate genotypes were G2 and G11, meanwhile the succeptible genotypes were G9, G6, G7, G5, dan G8. 3) Based on the Stress Tolerance Index (STI) result, showed that the most tolerant genotype towards 30% of field capacity watering level were G10 and G4, meanwhile the other genotypes were succeptible.