Artikelilmiahs

Menampilkan 31.541-31.560 dari 50.040 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3154134778I1C017067ANALISIS KUALITATIF PERSEPSI DAN PERILAKU APOTEKER DI RUMAH SAKIT TERKAIT IMPLEMENTASI PROGRAM KONVERSI PEMBERIAN OBAT DARI SEDIAAN INTRAVENA KE ORAL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYALatar Belakang: Program konversi intravena ke oral di rumah sakit memiliki beberapa keuntungan, antara lain mengurangi risiko infeksi terkait kanula, mengurangi risiko tromboflebitis, menghemat biaya, mempersingkat durasi rawat inap, dan meningkatkan kenyamanan pasien. Apoteker memegang peranan dan perilaku penting dalam pelaksanaan program konversi terapi sediaan intravena ke oral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi persepsi dan perilaku apoteker di rumah sakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi peran dan perilaku apoteker dalam implementasi konversi dari sediaan intravena ke oral.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis melalui wawancara mendalam (indepth interview) secara daring menggunakan Google Meet. Metode perekrutan informan dilakukan dengan rekomendasi dari dosen pembimbing dan jumlah informan ditentukan hingga data jenuh. Wawancara dilakukan setelah mendapatkan persetujuan informed consent oleh informan. Keabsahan data melalui uji kredibilitas menggunakan member checking, uji dependabilitas dan uji konfirmabilitas melalui audit dosen pembimbing. Hasil wawancara dianalisis menggunakan teknik analisis tematik.
Hasil: Tujuh informan dilibatkan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apoteker memiliki peran strategis dalam konversi terapi sediaan intravena ke oral. Apoteker juga menerapkan beberapa strategi dalam aktivitas konversi. Faktor pendukung peran dan perilaku apoteker antara lain apoteker memahami pertimbangan klinis dan aspek farmakologi obat, kolaborasi profesional antara apoteker dengan tenaga kesehatan lain, persepsi apoteker mengenai manfaat konversi, penerapan konsep Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan konversi mengatasi kelangkaan obat dalam sediaan iv. Faktor penghambat peran dan perilaku apoteker seperti perbedaan persepsi antara dokter dan apoteker, keterbatasan sumber daya apoteker, apoteker membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih terkait konversi, tidak semua kondisi bisa dilakukan konversi, dan konversi belum menjadi prioritas apoteker di rumah sakit.
Kesimpulan: Peran apoteker sangat strategis dalam kegiatan konversi terapi dari sediaan intravena ke oral. Dalam melakukan kegiatan konversi terapi, apoteker dipengaruhi oleh faktor pendukung dan penghambat.
Background: Intravenous to oral conversion programs in hospitals have several advantages, including reducing the risk of cannula-related infections, reducing the risk of thrombophlebitis, saving costs, shortening the duration of hospitalization, and improving patient comfort. Pharmacists play an important role and behavior in the implementation of intravenous to oral preparation therapy conversion programs. The goal of the study was to explore the perception and behavior of pharmacists in hospitals and the factors that influence the role and behavior of pharmacists in the implementation of conversion from intravenous to oral preparations.
Methodology: This study uses qualitative methods with phenomenological approaches through indepth interviews online using Google Meet. The method of informant recruitment is carried out with recommendations from the guidance lecturer and the number of informants is determined until the data is saturated. The interview was conducted after obtaining informed consent by the informant. The validity of the data through credibility tests using member checking, dependability tests and confirmability tests through audits of guidance lecturers. Interview results are analyzed using thematic analysis techniques.
Result: Seven informants were involved in the study. The results showed that pharmacists had a strategic role in the conversion of intravenous to oral preparation therapy. Pharmacists also implement several strategies in conversion activities. Factors supporting the role and behavior of pharmacists include pharmacists understanding clinical considerations and aspects of drug pharmacology, professional collaboration between pharmacists and other health workers, pharmacist perception of the benefits of conversion, application of the concept of National Health Insurance (JKN), and conversion to overcome the scarcity of drugs in iv preparations. Factors inhibiting the role and behavior of pharmacists such as differences in perception between doctors and pharmacists, limitations of pharmacist resources, pharmacists need more knowledge and understanding related to conversion, not all conditions can be converted, and conversion has not been a priority of pharmacists in hospitals.
Conclusion: The role of pharmacists is very strategic in the conversion of therapy from intravenous to oral preparations. In carrying out therapeutic conversion activities, pharmacists are influenced by supporting factors and inhibitors.
3154234779G1A018117EFEK MODIFIED ALTERNATE DAY FASTING TERHADAP INDEKS MASSA TUBUH PADA MAHASISWA PRIA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN DENGAN OBESITASLatar Belakang – Sebanyak 35,4% penduduk Indonesia diatas usia 15 tahun mengalami obesitas. Orang dengan obesitas berisiko tinggi mengalami penyakit kronik degeneratif sehingga obesitas perlu untuk ditangani. Modified Alternate Day Fasting merupakan metode yang dapat dilakukan untuk menangani obesitas.
Tujuan – Mengetahui efek Modified Alternate Day Fasting terhadap indeks massa tubuh serta perbedaan selisih indeks massa tubuh antara kelompok perlakuan dengan kontrol pada Mahasiswa Pria Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman dengan Obesitas.
Desain Penelitian – Penelitian ini menggunakan desain Quasi Experimental Pre and Post Test with Control Group. Kelompok perlakuan melakukan Modified Alternate Day Fasting 14 jam/hari selama 14 hari, sementara kelompok kontrol mengkonsumsi kalori seperti biasa. Indeks massa tubuh diukur sebelum dan setelah intervensi. Perubahan indeks massa tubuh sebelum dan setelah intervensi dianalisis dengan uji Wilcoxon. Perbedaan selisih indeks massa tubuh antara kelompok perlakuan dengan kontrol dianalisis dengan uji t tidak berpasangan.
Hasil – Nilai median(min-max) indeks massa tubuh sebelum dan setelah intervensi pada kelompok perlakuan berturut-turut 28,81(26,33-44,50) kg/m2 dan 28,33(25,89-44,12) kg/m2, sedangkan pada kelompok kontrol 29,46(25,43-43,15) kg/m2 dan 29,34(25,54-42,49) kg/m2. Uji Wilcoxon menghasilkan p=0,074(p>0,05) pada kelompok perlakuan dan p=0,285(p>0,05) pada kontrol. Selisih indeks massa tubuh kelompok perlakuan dan kontrol mengalami penurunan dalam rerata±SD berturut-turut 0,26±0,49 kg/m2 dan 0,09±0,33 kg/m2 dengan uji t tidak berpasangan menghasilkan p=0,374(p>0,05).
Kesimpulan – Modified Alternate Day Fasting tidak memberikan efek yang bermakna terhadap indeks massa tubuh kelompok perlakuan dan kontrol serta tidak memberikan perbedaan selisih indeks massa tubuh yang bermakna antara kedua kelompok tersebut pada Mahasiswa Pria Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman dengan obesitas.
Background – As many as 35.4% of the Indonesian population over 15 years old are obese. People with obesity are at high risk of developing degenerative diseases, therefore obesity needs to be treated. Modified Alternative Day Fasting (mADF) is one method that can be used to treat obesity.
Objectives – Understood the effect of mADF on body mass index (BMI) and the differences in changes of BMI between the experimental and control group in Male Students of Faculty of Medicine Jenderal Soedirman University with Obesity.
Research Designs – This study used Quasi Experimental Pre and Post Test with Control Group Design. The experimental group completed 14 hours/day mADF for 14 days, while the control group consumed usual calories. BMI was measured before and after the intervention. Changes in BMI before and after the intervention were analyzed by Wilcoxon test. Differences in changes of BMI between the experimental and control group were analyzed by t test.
Results – The median(min-max) value of BMI before and after intervention in the experimental group shows respectively 28.81(26.33-44.50) kg/m2 and 28.33(25.89-44.12) kg/m2, while control group shows 29.46(25.43-43.15) kg/m2 and 29.34(25.54-42.49) kg/m2. Wilcoxon test shows p=0.074(p>0.05) in the experimental group and p=0.285(p>0.05) in the control group. Changes of BMI in the experimental and control groups decrease in mean±SD respectively shows 0.26±0.49 kg/m2 and 0.09±0.33 kg/m2 with t test shows p=0.374(p>0.05).
Conclusion – mADF has no significant effect on BMI of the experimental and control groups as well as on difference in changes of BMI between the two groups in Male Students of the Faculty of Medicine Jenderal Soedirman University with obesity.
3154334785D1A015241Kualitas Fisik Daging Ayam Petelur Afkir Bagian Dada yang Direndam Larutan Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Pada Waktu Perendaman yang Berbeda
Penelitian bertujan untuk mengetahui pH, keempukan, daya ikat air dan susut masak daging dada ayam petelur afkir setelah direndam larutan jahe. Materi penelitian adalah 20 bagian daging dada diperoleh dari 10 ayam petelur afkir, 2,5 kg jahe dan peralatan untuk pengujian pH, keempukan, daya ikat air dan susut masak. Percobaan dilakukan secara eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap, dengan perlakuan lama perendaman daging dada ayam petelur afkir pada larutan jahe selama 0 menit (P0), 30 menit (P1), 60 menit (P2) dan 90 menit (P3) serta tiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perendaman daging ayam petelur afkir bagian dada berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap pH, keempukan, daya ikat air, dan susut masak, rataan nilai pH berkisar 5,58-5,98, keempukan 0,038-0,042 mm/g/dt, daya ikat air 46,99-48,63%, susut masak 33,32-37,38%. Perendaman daging dada ayam petelur afkir dengan waktu perendaman yang berbeda menghasilkan pH, daya ikat, susut masak dan keempukan yang sama.
The study determined to find the pH, tenderness, water holding capacity and cooking losses after soaking the ginger solution. Research material are 20 pieces of breast meat obtained from 10 culled layer chicken, 2,5 kg ginger and test kit pH, tenderness, water holding capacity and cooking losses. The research was conducted in an experiments and used a complete random design. The design consist of four treatments of soaking meat for P0 (0 minute), P1 (30 minute), P2 (60 minute) and P3 (90 minute) each treatment is repeated five times. The result of the variance showed that the immersion of the brest laying hens had no significant effect (P>0,05) on the pH, tenderness, water holding capacity and cooking losses of culled layer chicken. The average pH obtained is 5,58-5,98, the tenderness is 0,038-0,042 mm/g/dt, the water holding capacity is 46,99-48,63%, the cooking losses is 33,32-37,38%. The soaking of culled layer chicken with different immersion times produce the same pH, tenderness, water holding capacity and cooking losses.
3154434781L1B017005MODULASI SISTEM MONITORING KUALITAS AIR PADA TEKNOLOGI
AKUAPONIK BERBASIS INTERNET OF THINGS (IoT)
Aquaponik adalah sistem pertanian berkelanjutan dalam lingkungan
simbiosis dengan menggabungkan akuakultur dan hidroponik. Sistem air ini
harus mengalir pada medium periodik untuk memastikan tanaman
mendapatkan nutrisi, sementara air dapat disaring dengan benar oleh media. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat rancang bangun sistem monitoring
kualitas air pada sistem akuaponik berbasis Internet of Things (IoT). Metode
penelitian dilakukan dengan merakit, mengembangkan dan mengintegrasikan
beberapa sensor parameter kualitas air diantaranya pH, suhu, oksigen terlarut
dan amonia. Integrasi sistem ini menggunakan aplikasi mobile berbasis internet
dan server cloud Blynk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian akurasi
sensor pH didapatkan rata-rata error sebesar 1,52%, sensor suhu rata-rata error
sebesar 0,238%, sensor oksigen terlarut rata-rata error sebesar 0,23% dan
amonia rata-rata error sebesar 1,723%.Hasil pengujian ini terlihat bahwa sistem
pemantauan berjalan seperti yang diharapkan.
Aquaponics is a sustainable agriculture system in a symbiotic environment by
combining aquaculture and hydroponics. This water sistem should flow on the planting medium periodically to ensure the plants get the nutrients, while the water can be filtered properly by the medium. The purpose of this research is to design a water quality monitoring system for an aquaponic system based on the Internet of Things (IoT). The research method is carried out by assembling, developing and integrating several sensors of water quality parameters including pH, temperature, dissolved oxygen, and ammonia. This system integration uses internet-based mobile applications and Blynk cloud servers. Results showed that the accuracy of the pH sensor for acidic water is 1.52% of error, temperature sensor had an average error of 0.238%, dissolved oxygen had an average error of 0,23% and ammonia had an average error of 1.732% and the monitoring sistem proceeded as expected goal.
3154534782I1A015026EFEKTIVITAS BERBAGAI MACAM KOAGULAN TERHADAP PENURUNAN KADAR TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) LIMBAH CAIR TAHU: SYSTEMATIC REVIEWLatar Belakang: Limbah cair tahu mengandung cemaran Total Suspended Solid (TSS) yang tinggi. Metode koagulasi-flokulasi menggunakan koagulan PAC, Tawas, Biji Kelor, Kitosan, Biji Asam Jawa dapat menurunkan kadar TSS yang terdapat dalam limbah cair tahu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui koagulan yang paling efektif terhadap penurunan kadar TSS limbah cair tahu berdasarkan systematic review.

Metodologi: Desain penelitian yang digunakan studi kepustakaan (Literature review). Metode yang digunakan yaitu systematic review

Hasil Penelitian: metode yang digunakan dalam artikel tersebut yaitu eksperimen. Terdapat 13 artikel yang didapatkan dimana semua koagulan efektif dalam menurunkan kadar TSS limbah cair tahu karena presentase keefektifannya melebihi 50% meskipun hasil dari beberapa penelitian belum mencapai baku mutu yang telah ditetapkan.

Kesimpulan: Koagulan yang paling efektif dalam menurunkan kadar TSS limbah cair tahu yaitu koagulan biji kelor dengan prosentase penurunan sebesar 98,78%.
Background: Tofu liquid waste contains high total suspended solid (TSS) contamination. Coagulation-flocculation method using PAC, Alum, Moringa Seed, Chitosan, Tamarind Seed can reduce TSS levels contained in tofu liquid waste. This study aims to determine the most effective coagulant for reducing TSS levels in tofu wastewater based on a systematic review.

Method: The research design that is used for this research is a literature review. And the method is systematic review.
Result: Experimental were used for the method of said articles, 13 articles were found in which all coagulants tested effective in reducing the TSS levels in tofu wastewater by exceeding 50% of effectiveness percentage even though the results of several studies had not met the established quality standards.

Conclution: moringa seed coagulant with the percentage reduction of 98.78%.
3154634783I1D016002GAMBARAN PENERAPAN PERSONAL HYGIENE DI PABRIK PENGOLAHAN NOPIA X DI DESA PEKUNDEN BANYUMASLatar Belakang : Personal hygiene akan berdampak pada kesehatan seseorang. Personal hygiene yang baik dapat mengendalikan faktor risiko terjadinya kontaminasi terhadap makanan yang berasal dari individu penjamah makanan. Rendahnya personal hygiene pada penjamah makanan dapat menurunkan keamanan pangan dan kualitas makanan yang dihasilkan sehingga berisiko menyebabkan gangguan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran penerapan personal hygiene di pabrik pengolahan Nopia X di Desa Pekunden Banyumas.
Metode : Penelitian menggunakan metode kualitatif, dengan teknik accidental sampling untuk wawancara mendalam dan total sampling untuk observasi. Subjek penelitian terdiri dari 10 orang karyawan dan 1 orang manager. Alur tahapan analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Hasil Penelitian : Hasil analisis penelitian yang berasal dari wawancara mendalam di dapati dua tema besar yaitu peran tenaga penjamah makanan dalam menerapkan personal hygiene dan peran institusi dalam menerapkan personal hygiene. Pada gambaran perilaku personal hygiene didapati hasil observasi yaitu cukup baik (58%) walaupun dari beberapa indikator ada yang tidak menerapkan secara maksimal.
Kesimpulan : Gambaran persepsi personal hygiene secara umum masih kurang. Gambaran informasi personal hygiene masih rendah karena pendidikan yang rendah serta tidak ada pelatihan dan pendidikan khusus. Gambaran perilaku kebersihan diri pada saat menyentuh makanan, karyawan semaksimal mungkin selalu menjaga kebersihan diri salah satunya mencuci tangan secara rutin. Gambaran kebijakan personal hygiene yang dimiliki kurang optimal.
Background : Personal hygiene will have an impact on a person's health. Good personal hygiene can control the risk factors for contamination of food from individual food handlers. The low personal hygiene of food handlers can reduce food safety and the quality of the food produced so that it is at risk of causing health problems. The purpose of this study was to describe the application of personal hygiene at the Nopia X processing plant in Pekunden Village, Banyumas.
Methodology : The study used a qualitative method, with accidental sampling technique for in-depth interviews and total sampling for observation. The research subjects consisted of 10 employees and 1 manager. The flow of data analysis stages includes data reduction, data presentation, conclusion drawing and verification.
Research Results : The results of research analysis derived from in-depth interviews found two major themes, namely the role of food handlers in implementing personal hygiene and the role of institutions in implementing personal hygiene. In the description of personal hygiene behavior, it was found that the observation results were quite good (58%) although some indicators did not apply optimally.
Conclusion : The general perception of personal hygiene is still lacking. The description of personal hygiene information is still low due to low education and no special training and education. The description of personal hygiene behavior when touching food, employees as much as possible always maintain personal hygiene, one of which is washing hands regularly. The description of the personal hygiene policy that is owned is less than optimal.
Keywords: Personal Hygiene, Food Processing, Perception, Behavior
3154734784I1B018018Gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku mencuci tangan Guru TK di Lingkungan KalideresLatar Belakang : Cuci Tangan merupakan salah satu solusi yang murah dan efektif dalam pencegahan penyakit menular dan guru memiliki peran yang besar dalam membentuk perilaku anak dalam mencuci tangan.
Metode : Penelitian deskriptif. Besar sampel adalah 40 responden, dengan menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dengan kuesioner dan analisis univariat.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian diperoleh data bahwa mayoritas responden rata-rata berusia (31-40 tahun) sebanyak (42,5%) dengan sebagian besar berjenis kelamin perempuan (90,0%), sebagian besar responden berpendidikan perguruan tinggi sebanyak (85,0%) dan mayoritas responden bekerja kurang dari 8 jam (90,0%). Selanjutnya, pengetahuan guru TK masuk dalam kategori cukup (50,0%) dan sebagian besar responden memiliki sikap kategori sedang sebanyak (62,5%). Mayoritas responden memiliki perilaku kategori sedang (67,5%).
Kesimpulan : Sebagian besar responden memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku mencuci tangan dengan kategori sedang. Beberapa upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku mencuci tangan.
Kata Kunci : Pengetahuan, sikap, perilaku, mencuci tangan, Guru TK.
Background : Hand washing is a cheap and effective solution in preventing infectious diseases and teachers have a big role in shaping children’s behavior in washing hands.
Methods : Descriptive research. The sample size was 40 respondents, using the total sampling technique. Data were obtained by questionnaire and univariate analysis.
Research Results : The results of the study obtained data that the majority of respondents were on average aged (31-40 years) as much as (42,5%) with most of them being female (90,0%), most of the respondents having college education (85,0%) and the majority of respondents worked lesser than 8 hours (90,0%). Furthermore, the knowledge of kindergarten teachers falls into the adequate category (50,0%) and the majority of respondents have a moderate attitude (62,5%). The behavior of the majority of respondents fell into the moderate category (67,5%).
Conclusion : The majority of respondents hand washing knowledge, attitudes and behaviors were in the moderate category.
Keywords : Knowledge, attitude, behavior, hand washing, kindergarten teacher.
3154834799E2A019007IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PELAYANAN ADMINISTRASI PENDAFTARAN PENDUDUK SECARA ONLINE PADA MASA PANDEMI
(Studi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ciamis)
Penyelenggaraan pelayanan administrasi penduduk merupakan hal yang penting
khususnya di masa pandemic, salah satunya sebagai sumber data untuk menyalurkan bantuan terhadap penduduk yang terkena dampak dari pandemic dengan cepat. Oleh sebab itu penyelenggaraan administrasi kependudukan dilakukan secara online sebagaimana diatur dalam Permendagri No 7 Tahun 2019. Pelaksanaan secara online di Disdukcapil Kabupaten Ciamis merupakan hal yang baru, maka perlu diketahui secara mendalam dalam implementasi kebijakan penyelenggaraan administrasi pendafataran penduduk secara online ini dapat meminimalisir penyebaran virus corona atau tidak, dan perlu diketahui juga kendala yang terjadi dalam pelaksanaanya serta upaya yang dilakukan oleh Disdukcapil Kab. Ciamis untuk tetap terselenggaranya pelayanan adminduk dapat terlaksana dengan tetap menjaga penyebaran virus corona.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis empiris
dengan spesifikasi deskriptif analitsis. Sumber bahan hukum yang terdapat dalam penelitian ini berasal dari bahan hukum primer, sekunder dengan metode pengumpulan data berdasarkan wawancara secara komperhensif dengan metode snowball dan pengamatan, dan juga studi kepustakaan.
Berdasarkan hasil penelitian, atas dasar kebijakan yang dikeluarkan Bupati Ciamis dalam
Surat Edaran Bapak Bupati Ciamis Nomor 800-407/BKPSDM 4/2020 tentang Penyesuaian
Sistem Kerja ASN Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran COVID-19 Di Lingkungan
Pemerintah Kabupaten Ciamis dan Surat Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri RI Nomor 443.1/2978/Dukcapil hal Pelayanan Administrasi Kependudukan dan Pencegahan Virus Corona (COVID-19), kebijakan tersebut sebagai mengurang pencegahaan penyebaran virus COVID 19 dan juga sebagai pelaksana pelayanan secara online dengan memberhatikan protokol kesehatan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Faktor-faktor yang mempengaruhi yakni: Pertama, faktor hukum, peraturan hukum sudah mengamanatkan Penyelenggaraan Kebijakan Pelayanan Administrasi Pendaftaran Penduduk Secara Online di Dinas Kependudukan Catatan Sipil; Kedua, faktor penegak hukum, bahwa para penegak hukum kepolisian harus menegakan hukum dan mengikuti asas-asas yang berlaku didalam menertibkan masyarakakat yang tidak menaati Larangan Berkerumun dan Mobilisasi Masyarakat sesuai SOP pelayanan Pembuatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik; Ketiga, faktor Sarana dan Prasarana yang kurang mendukung; Keempat, faktor masyarakat, dukungan masyarakat dalam menjalankan SOP pelayanan Pembuatan Kartu Tanda Penduduk secara Elektronik demi mematahui protokol kesehatan,; dan Kelima, factor budaya hukum dan pengetahuan dalam Masyarakat yang masih awam teknologi; Tidak semua masyarakat memiliki Handphone android yang ada aplikasi WhatsApp; File susah terbacatidak jelas terbaca; jangka waktu pemenuhan kekurangan syaratterlalu lama.
The implementation of population administration services is important, especially during a pandemic, one of which is as a source of data to quickly distribute assistance to residents affected by the pandemic. Therefore, the implementation of population administration is carried out online as regulated in Permendagri No. 7 of 2019. The online implementation at the Disdukcapil of Ciamis Regency is a new thing, so it is necessary to know in depth the implementation of the policy of administering the administration of online population registration to minimize the spread of the corona virus. or not, and it is also necessary to know the obstacles that occur in its implementation and the efforts made by the Disdukcapil Kab. Ciamis to keep the administration of administrative services can be carried out while maintaining the spread of the corona virus.
The approach method used in this research is empirical juridical research with analytical descriptive specifications. The sources of legal materials contained in this study came from primary and secondary legal materials with data collection methods based on comprehensive interviews with the snowball and observation methods, as well as literature studies.
Based on the results of the study, based on the policies issued by the Ciamis Regent in the Ciamis Regent Circular Number 800-407/BKPSDM 4/2020 concerning Adjustment of the ASN Work System in Efforts to Prevent the Spread of COVID-19 in the Ciamis Regency Government and the Letter of the Director General of Population and Registration Civil Service Ministry of Home Affairs RI Number 443.1/2978/Dukcapil regarding Population Administration Services and Corona Virus Prevention (COVID-19), this policy is to reduce the prevention of the spread of the COVID 19 virus and also to implement online services by observing the health protokols that have been determined by the government . And the first obstacle, legal factors, legal regulations have mandated the Implementation of the Online Population Registration Administration Service Policy at the Civil Registry Population Service; Second, law enforcement factors, that police law enforcers must enforce the law and follow applicable principles in bringing order to people who do not comply with the Prohibition of Crowding and Community Mobilization according to the SOP for the Electronic Identity Card Making service; Third, the lack of supporting facilities and infrastructure; Fourth, community factors, community support in carrying out SOPs for Electronic Identity Card Making services in order to comply with the Health protokol; and Fifth, the factor of legal culture and knowledge in a society that is still new to technology; Not all people have Android phones that have the WhatsApp application; Hard to read files not clearly legible; the period of fulfillment of the shortfall requirements is too long.
3154934786E1A018299PENERAPAN PASAL 74 UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS MENGENAI TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY) PADA PT. WIJAYA KARYA BETON (PT. WIKA BETON) TBK. JAKARTAKegiatan usaha yang dilaksanakan oleh perusahaan tidak hanya menimbulkan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan, namun juga menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu, kewajiban pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dalam Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sebagai salah satu wujud nyata dari konsep pembangunan berdasarkan ekonomi yang memiliki prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan serta menjaga keseimbangan dan kesatuan ekonomi yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan nasional sebagaimana diatur dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Data penelitian bersumber dari data sekunder dan data primer. Model penyajian data menggunakan bentuk teks naratif dan model analisis data secara normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa PT. Wijaya Karya Beton (PT. WIKA Beton) Tbk. Telah melaksanakan kegiatan CSR yang memfokuskan kegiatannya pada ekonomi berkelanjutan melalui program yang menguntungkan bagi perusahaan dan masyarakat berdasarkan ketentuan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Oleh karena itu PT. Wijaya Karya Beton (PT. WIKA Beton) Tbk tidak dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan Pasal 74 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
A business activity done by a company can result in both positive and negative effects on society and the environment. Therefore, a company social and environmental responsibilities are regulated in article 74 of Law number 40 of 2007 on Limited Liability Company, constituting an economic development that is based togetherness, fairness, sustainability, and environmental awareness to realize the national welfare, as stated in article 33 of the 1945 Constitution.
This legal study applied a normative approach using secondary and primary data. The data were presented narratively and analyzed qualitatively.
The finding of the study showed that PT. Wijaya Karya Beton (PT. WIKA Beton) Tbk. has implemented CSR activities focusing on the sustainable economy through several useful programs for the company and the society following article 74 of Law number 40 of 2007 on Limited Liability Company. Therefore, PT. Wijaya Karya Beton (PT. WIKA Beton) Tbk. could not be imposed by sanctions regulated by article 74 paragraph (3) of Law number 40 of 2007 on Lmited Liability Company.
3155035428H1D017044RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI KESEHATAN BERSUMBER DAYA MASYARAKATPosyandu merupakan salah satu upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang berjalan di Desa Kedungpuji. Posyandu meliputi aktivitas pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan balita. Sering kali terjadi keterlambatan pelaporan dan kesalahan penulisan akibat proses pencatatan secara manual menggunakan buku oleh kader kesehatan. Untuk mempermudah pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan maka dibuatlah sistem informasi kesehatan bersumber daya masyarakat di Desa Kedungpuji. Sistem informasi dibuat menggunakan metode pengembangan extreme programming (XP). Sistem dikembangkan menggunakan framework PHP Laravel, Livewire, Tailwind CSS, dan Alpine js. Sistem memiliki tiga level pengguna yaitu bidan desa, kader kesehatan, dan admin super. Sistem menerima masukkan berupa data penduduk, data keluarga, data pasangan, data kehamilan, data layanan kesehatan ibu hamil, data ibu nifas, data layanan kesehatan ibu nifas, data neonatal, data layanan neonatus, dan data layanan posyandu. Sistem memiliki keluaran berupa laporan tahunan kehamilan, laporan tahunan kelahiran, dan laporan bulanan keluarga berencana.Posyandu is one of the community-based health efforts that runs in Kedungpuji Village. Posyandu includes health service activities for pregnant women, mothers in labor, postpartum mothers, and toddlers. There are often delays in reporting and writing errors due to the manual recording process using books by health cadres. To facilitate the recording and reporting of health services, a community-based health information system was created in Kedungpuji Village. The information system was created using the extreme programming development method. The system was developed using the Laravel PHP framework, Livewire, Tailwind CSS, and Alpine js. The system has three user levels, namely village midwives, health cadres, and super admins. The system accepts input in the form of population data, family data, partner data, pregnancy data, health service data for pregnant women, postpartum mother data, postpartum maternal health service data, neonatal data, neonatal service data, and posyandu service data. The system has outputs in the form of annual pregnancy reports, annual birth reports, and monthly family planning reports.
3155135441C1G017006ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING STUDENT CONSUMPTION PATTERNS THROUGH ONLINE SHOPPING
(CASE STUDY ON SHOPEE AND TOKOPEDIA BY STUDENTS OF JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY)
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis apakah uang saku, jenis kelamin, status tempat tinggal, dan persepsi terhadap harga berpengaruh terhadap pola konsumsi belanja online mahasiwa di Universitas Jenderal Soedirman Penelitian ini menggunakan data primer dengan metode kuanitatif dan dalam perolehan datanya menggunakan sistem wawancara berdasarkan kuisioner. Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan Taro Yamane karena telah diidentifikasi jumlah populasi dalam penelitian ini. Alat analisis yang digunakan adalah regresi model probit untuk mengetahui apakah uang saku, jenis kelamin, status tempat tinggal, dan persepsi terhadap harga berpengaruh terhadap pola konsumsi belanja online mahasiwa di Universitas Jenderal Soedirman. Hasil dari penelitian ini yaitu (1) uang saku, jenis kelamin dan persepsi terhadap harga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pola konsumsi mahasiswa, (2) perbedaan status tempat tinggal tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pola konsumsi mahasiswa. This study aims to determine and analyze whether student income, gender, residence status, and perceptions of price affect the online shopping consumption patterns of students at Jenderal Soedirman University. This study uses primary data with quantitative methods and in obtaining data using an interview system based on questionnaires. The sample in this study was determined by Taro Yamane because the population in this study has been identified. The analytical tool used is the probit regression model to determine whether student income, gender, residence status, and perceptions of price affect the online shopping consumption pattern of students at Jenderal Sudirman University. The results of this study are (1) student income, gender and perception of price have a significant influence on student consumption patterns, (2) differences in residence status have no significant effect on student consumption patterns.
3155234787F1C016087Analisis Kepuasan Pelanggan Terhadap Pelayanan "Koffie Time" PurwokertoKeberhasilan suatu usaha dapat dilihat dari bagaimana pelanggan merespon apa yang perusahaan sediakan dan berikan. Melalui pelayanan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan, maka kepuasan pelanggan terhadap pelayanan Koffie Time Purwokerto akan mudah didapatkan oleh Koffie Time sendiri.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepuasan pelanggan terhadap pelayanan Koffie Time Purwokerto. Dalam penelitian ini metode yang digunakan ialah kualitatif dan menggunakan teknik pemilihan informan secara purposive sampling. Dalam mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi, dan teknik analisis data.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepuasan pelanggan didapatkan dari faktor-faktor yang diberikan oleh Koffie Time, yakni kepuasan dari pelayanan yang diberikan, produk yang enak, harga yang terjangkau, serta tempat maupun suasana yang memadai dan juga nyaman. Dari penjelasan di atas, kepuasan pelanggan adalah pemenuhan secara maksimal yang berhasil didapatkan oleh pelanggan dari pelayanan-pelayanan yang disediakan perusahaan sebagai daya tarik dan faktor pemuas pelanggan.
The success of a business can be seen from how customers respond to what the company provides and provides. Through good service and in accordance with customer needs, customer satisfaction with Koffie Time Purwokerto service will be easily obtained by Koffie Time itself.
This study aims to analyze customer satisfaction with Koffie Time Purwokerto services. In this study the method used is qualitative and uses the technique of selecting informants purposive sampling. In collecting data, the study used interviews, observations, documentation, and data analysis techniques.
The results of this study show that customer satisfaction is obtained from factors provided by Koffie Time, namely satisfaction from the services provided, good products, affordable prices, and adequate and comfortable places and atmosphere. From the explanation above, customer satisfaction is the maximum fulfillment that successfully obtained by customers from the services providedby the company as an attraction and customer expansion factor.
3155334788C1A017065Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan Di Kabupaten Kuningan Tahun 2004-2019Kemiskinan yaitu ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dimana rata-rata pengeluaran perkapitanya di bawah garis kemiskinan. Pada tahun 2019, tingkat kemiskinan di Kabupaten Kuningan sebesar 11,41 persen lebih tinggi dari tingkat kemiskinan di Jawa Barat sebesar 6,91 persen dan belum sesuai dengan target Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Kuningan yaitu sebesar 7-8 persen. Tujuan dalam penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran terbuka, rata-rata lama sekolah dan angka harapan hidup terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Kuningan, dan menganalisis variabel mana yang memiliki pengaruh paling besar. Kami menggunakan data time sereis dari tahun 2004 hingga 2019. Untuk mengetahui dampak seluruh variabel menggunakan metode regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran terbuka, rata-rata lama sekolah dan angka harapan hidup berpengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Kuningan. Sedangkan untuk hasil analisis masing-masing variabel menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi dan rata-rata lama sekolah berpengaruh secara negatif dan signifikan. Untuk variabel tingkat pengangguran terbuka dan angka harapan hidup tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Kuningan. Dari ke-lima variabel yang paling berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Kuningan adalah variabel rata-rata lama sekolah. Poverty is the inability of people to meet their daily needs where the average per capita expenditure is below the poverty line. In 2019, the poverty rate in Kuningan Regency is 11.41 percent higher than the poverty rate in West Java of 6.91 percent and it’s not in accordance with the target of the Kuningan Regency Medium-Term Development Plan, which is 7-8 percent.The goal of this research is to analyze the effect of economic growth, open unemployment rate, the average length of school, and life expectancy on poverty rate in Kuningan Regency and to analyze which variable has the most effect on that poverty rate in Kuningan Regency. We used time series data from 2004 to 2019. The method using in this research is multiple linear regression. This result conclude economic growth, open unemployment rate, the average length of school, and life expectancy have a positive and significant effect jointly on poverty rate in Kuningan Regency. The analysis result in partially is economic growth and the average length of school have significant effect. Meanwhile, variables of open unemployment rate dan life expectancy have no significant effect on poverty rate in Kuningan Regency. From these four variables, the most influential variable on poverty rate in Kuningan Regency is the average length of school variable.
3155434789E1A018005PENATAAN KEPEGAWAIAN DAN KELEMBAGAAN KOMISI
PEMBERANTASAN KORUPSI BERDASARKAN UU NO.19 TAHUN 2019
TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UU NO. 30 TAHUN 2002
TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI
Penulisan hukum dengan judul Penataan Kepegawaian Dan Kelembagaan Komisi
Pemberantasan Korupsi Berdasarkan UU No.19 Tahun 2019 tentang Perubahan
Kedua Atas UU No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan peralihan status
kepegawaian Pegawai di Komisi Pemberantasan Korupsi dan untuk menganalisis
menganalisis penataan kelembagaan Komisi Pemberantasan Korupsi. Penelitian
ini menggunakan tipe penelitian yuridis normatif, dengan pendekatan perundangundangan (StatuteApproach) dan pendekatan analisis (Analitical approach).
Dalam penelitian ini sumber bahan hukum yang dilakukan adalah data primer dan
sekunder dan analisis data dilakukan secara normatif kualitatif. Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan, peralihan status kepegawaian pegawai KPK
berdasarkan UU No.19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas UU No.30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pegawai KPK
yang memenuhi syarat dan prosedur yang sesuai dengan peraturan yang ada maka
akan berubah status kepegawaian dari pegawai KPK menjadi pegawai ASN.
Penataan kelembagaan KPK berdasarkan UU No.19 Tahun 2019 tentang
Perubahan Kedua Atas UU No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi dari lembaga independent menjadi lembaga eksekutif nonstruktural.
Writing the law with the title Staffing and Institutional Arrangement of the
Corruption Eradication Commission Based on UU No. 19 of 2019 concerning the
Second Amendment to UU No. 30 of 2002 concerning the Corruption Eradication
Commission. This study aims to analyze the policy of transitioning the
employment status of employees at the Corruption Eradication Commission and
to analyze the institutional arrangement of the Corruption Eradication
Commission. This study uses a normative juridical research type, with a statutory
approach (Statute Approach) and an analytical approach (Analytical approach).
In this study, the sources of legal material used were primary and secondary data
and data analysis was carried out in a qualitative normative manner. Based on
the results of research and discussion, the transition of the employment status of
KPK employees based on Law No. 19 of 2019 concerning the Second Amendment
to Law No. 30 of 2002 concerning the Corruption Eradication Commission for
KPK employees who meet the requirements and procedures in accordance with
existing regulations will change employment status from KPK employees to ASN
employees. The institutional arrangement of the KPK is based on Law No. 19 of
2019 concerning the Second Amendment to Law No. 30 of 2002 concerning the
Corruption Eradication Commission from an independent institution to a nonstructural executive agency.
3155534744I1A016013HUBUNGAN KETERSEDIAAN SANITASI DASAR, PRAKTIK KEBERSIHAN IBU, RIWAYAT PENYAKIT DIARE DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI INDONESIA : SYSTEMATIC REVIEWLatar Belakang : Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian stunting, meliputi aspek sanitasi dasar (air bersih, jamban sehat, SPAL, dan pengelolaan sampah rumah tangga) dan praktik higiene. Faktor tersebut saling berkaitan dan memengaruhi terhadap faktor risiko langsung kejadian stunting seperti riwayat penyakit diare pada balita. Pravelensi balita stunting nasional pada tahun 2019 sebesar 27,67%, bersasarkan data World Bank tahun 2020 menunjukan, bahwa pravelensi stunting Indonesia berada pada urutan ke 115 dari 151 negara di dunia, dan prediksi angka pravelensi stunting di Indonesia tahun 2020 diperkirakan turun menjadi 26,92%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor tersebut dengan kejadian stunting balita.
Metodologi : Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kepustakaan dengan desain Systematic Riview (SR). Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi. Pencarian artikel penelitian dilakukan menggunakan elektronik database. Kriteria Inklusi : menjelaskan faktor Ketersediaan Sanitasi Dasar, Praktik kebersihan ibu, dan Riwayat Penyakit Diare, desain studi observasional, tahun publikasi 2016-2021. Menggunakan, PICOS Systematic Review, dan Prisma flow diagram dalam menyeleksi literasi yang akan ditelaah.
Hasil Penelitian : Penelitian ini berdasarkan 28 artikel yang ditelaah, paling banyak dengan tahun publikasi pada tahun 2019, serta dengan desian penelitian Case Control, selain itu wilayah lokasi penelitian banyak dilakukan di Kelurahan, Kecamatan, dan Kabupaten. Hasil telaah menunjukan bahwa faktor Jamban Keluarga, Air Bersih, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), Pengelolaan sampah rumah tangga, Praktik kebersihan ibu, dan Riwayat Penyakit Diare berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia dengan faktor resiko yang paling berhubungan adalah faktor kualitas sarana sanitasi dengan OR= 31,875.
Kesimpulan : Sanitasi dasar (air bersih, jamban sehat, SPAL, pengelolaan sampah rumah tangga) dan praktik kebersihan ibu, dan riwayat penyakit diare memiliki hubungan yang siginifikan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia, apabila faktor tersebut tidak memenuhi syarat strandar kesehatan maka resiko terjadinya stunting pada balita meningkat. Peningkatan upaya promosi kesehatan dan kerjasama serta koordinasi lintas sektoral antar tingkatan pemerintah hingga desa agar adanya keselarasan program sehingga kejadian stunting dapat dicegah.
Kata Kunci : Stunting, Sanitasi, Higiene, Diare, Balita, Indonesia.
Background : Environmental factors are one of the factors that influence the incidence of stunting, including aspects of basic sanitation (clean water, healthy latrines, sewage disposal, and household waste management) and hygiene practices. These factors are interrelated and influence the direct risk factors for stunting, such as a history of diarrheal disease in toddlers. The national prevalence of stunting under five in 2019 was 27.67%, based on World Bank data in 2020 showing that the prevalence of stunting in Indonesia is at 115th out of 151 countries in the world, and the prediction of stunting prevalence in Indonesia in 2020 is estimated to decrease to 26. 92%. This study aims to determine the relationship between these factors and the incidence of stunting in children under five.
Metodology : The type of research used is library research with a Systematic Review (SR) design. Methods of data collection using the method of documentation. Research article searches were conducted using an electronic database. Inclusion Criteria: explain the factors of Basic Sanitation Availability, Maternal hygiene practices, and history of diarrheal disease, observational study design, 2016-2021 publication year. Using, PICOS Systematic Review, and Prisma flow diagrams in selecting literacy to be studied.
Result : This research is based on 28 articles that have been reviewed, most of them with the year of publication in 2019, as well as with a Case Control research design, besides that the research location areas are mostly carried out in Kelurahan, Subdistrict, and Regency. The results of the study show that the factors of family latrines, clean water, sewage disposal, household waste management, maternal hygiene practices, and a history of diarrheal disease are associated with the incidence of stunting in children under five in Indonesia with the most related risk factor being the quality of facilities. sanitation with OR = 31,875.
Conclusion :
Basic sanitation (clean water, healthy latrines, sewage disposal, household waste management) and maternal hygiene practices, and a history of diarrheal disease have a significant relationship with the incidence of stunting in children under five in Indonesia. if these factors not eligible of health standards, the risk of stunting in toddlers increases. Increased health promotion efforts and cross-sectoral collaboration and coordination between government and village levels so that there is program alignment so that stunting events can be prevented.
Keywords : Stunting, Sanitation, Hygiene, Diarrhea, Under-five child, Indonesia
3155634777G1A014089KORELASI REGULASI DIRI DAN KEPATUHAN MINUM OBAT SUBSTITUSI PADA PASIEN REHABILITASI NAPZA
DI RSUD BANYUMAS
Latar Belakang - Kepatuhan mengonsumsi obat-obatan substitusi pada pasien rehabilitasi NAPZA untuk mencapai keberhasilan terapi ketergantungan. Regulasi diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengarahkan pikiran, perasaan, keinginan, dan tindakan untuk mencapai tujuan tertentu, dalam hal ini adalah keberhasilan terapi ketergantungan yang diperlukan oleh pasien rehabilitasi NAPZA untuk mengarahkan tindakan pengobatannya.
Tujuan - Mengetahui korelasi regulasi diri dan kepatuhan minum obat substitusi pada pasien rehabilitasi NAPZA di RSUD Banyumas.
Metode - Penelitian analitik observasional terhadap pasien rehabilitasi NAPZA di RSUD Banyumas ini menggunakan desain studi cross-sectional. Responden diinklusi apabila telah menyetujui informed consent, dan menjawab “tidak” sebanyak ≤ 10 pada L-MMPI. Responden perempuan dan tidak komunikatif akan dieksklusi dari penelitian. Kuesioner Self-Regulation Questionnaire (SRQ) digunakan untuk mengukur tingkat regulasi diri sedangkan kepatuhan minum obat dievaluasi berdasarkan interval waktu obat substitusi habis. Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui korelasi antar variabel menggunakan uji Somers’d dengan taraf signifikansi 0,05.
Hasil - Sebanyak 37 responden menyetujui informed consent dan 28 orang diantaranya (75,7%) memenuhi kriteria skoring L-MMPI. Uji Somers’d menyatakan adanya korelasi positif yang moderate (r=0,350; p=0,024).
Kesimpulan - Terdapat korelasi positif antara regulasi diri dan kepatuhan minum obat substitusi pasien rehabilitasi NAPZA di RSUD Banyumas.
Kata kunci: regulasi diri, kepatuhan, obat substitusi, pasien rehabilitasi NAPZA
Background - Adherence to taking substitute drugs in drug rehabilitation patients to achieve the success of dependence therapy. Self-regulation is a person's ability to direct thoughts, feelings, desires, and actions to achieve certain goals, in this case is the success of dependence therapy needed by drug rehabilitation patients to direct their treatment actions.
Objective - Identify the correlation between self-regulation and medication adherence in drug rehabilitation patients at RSUD Banyumas.
Method - This observational analytic study of drug rehabilitation patients at RSUD Banyumas used a cross-sectional study design. Respondents were included if they had agreed to the informed consent, and answered "no" as much as 10 on the L-MMPI. Female and uncommunicative respondents will be excluded from the study. The Self-Regulation Questionnaire (SRQ) was used to measure the level of self-regulation, while medication adherence was evaluated based on the time interval for the substituted drug to run out. Bivariate analysis aims to determine the correlation between variables using the Somers'd test at significance level of 0.05.
Results - A total of 37 respondents agreed to the informed consent and 28 of them (75.7%) passed the L-MMPI’s criteria. Somers'd test stated that there was a moderate positive correlation (r=0.350; p=0.024).
Conclusion - There is a positive correlation between self-regulation and adherence to taking substitute drugs in drug rehabilitation patients at RSUD Banyumas.
Keywords: self-regulation, compliance, substitute drugs, drug rehabilitation patient
3155734790E1A016103PENYIDIKAN TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENCURIAN
(Studi di Kepolisian Resor Cilacap)
PENYIDIKAN TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENCURIAN (Studi di Kepolisian Resor Cilacap)
Oleh:
Muhammad Iqbal
E1A016103

ABSTRAK

Tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak masih menjadi permasalahan yang sering ditemui saat ini. Ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak secara khusus telah mengatur proses peradilan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan proses pemeriksaan di pengadilan negeri. Penyidikan sebagai serangkaian tindakan penyidik dalam hal menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti guna menemukan tersangkanya merupakan tahap pertama dalam sistem peradilan pidana. Dalam proses penyidikan juga tidak terlepas dari perlindungan dan apa saja yang menjadi hak anak sesuai dengan Unang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris dan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Adapun penelitian ini dilakukan di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak, Kantor Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Resor Cilacap (Polres Cilacap). Jenis data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data primer diperoleh melalui wawancara dengan informan sementara itu data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Berdasarkan analisis dari hasil penelitian menunjukan bahwa proses penyidikan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana pencurian di Polres Cilacap dilakukan sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, dan Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019 tentang penyidikan. Adapun hambatan yang mempengaruhi penyidik dalam melakukan proses penyidikan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana pencurian timvul dari faktor hukum, faktor aparat penegak hukum, faktor sarana prasarana, faktor masyarakat, dan faktor kebudayaan.

Kata Kunci : Penyidikan, Anak yang melakukan tindak pidana, Pencurian

INVESTIGATION OF CHILDREN AS PERPETRATORS OF CRIMINAL ACTS OF THEFT
(Study at the Cilacap Resort Police)
by:
Muhammad Iqbal
E1A016103

ABSTRACT

The crime of theft committed by children is still a problem that is often encountered today. The provisions of Law Number 11 of 2012 concerning the juvenile criminal justice system specifically regulate the judicial process against children in conflict with the law at the level of investigation, prosecution, and examination process in district courts. Investigation as a series of actions of investigators in cases according to the method regulated by law to seek and collect evidence to find suspects is the first stage in the criminal justice system. In the investigation process, it is also inseparable from protection and the rights of children under Law Number 35 of 2014 concerning amendments to Law Number 23 of 2002 concerning child protection. This study used qualitative research methods with an empirical juridical approach and descriptive-analytical research specifications. This research has conducted at the Women and Children Service Unit, Office of the Directorate General of Criminal Investigation of the Cilacap Resort Police (Polres Cilacap). The data used the types of primary data and secondary data. The primary data collection method was obtained through interviews with the informants while the secondary data was obtained through library research.The analysis result of this study showed that the process of investigating children as perpetrators of the crime of theft at the Cilacap Police conducted by the provisions of Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System, the Criminal Procedure Code, and the National Police Chief Regulation Number 6 of 2012 2019 regarding the investigation. The obstacles that affect investigators in conducting the investigation process against children as perpetrators of criminal acts of theft came from the legal factors, law enforcement officials, infrastructure factors, community factors, and cultural factors.
Keywords: Investigation, Children who commit crimes, Theft.

3155834791J1D017040Analisis Kesalahan Fonologis dalam Pidato Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Relevansinya pada Pembelajaran Teks Eksposisi di SMAPenelitian ini berawal dari banyaknya kesalahan dalam berbahasa yang dilakukan oleh masyarakat terutama para petinggi negara ketika berkomunikasi khususnya dalam situasi formal seperti berpidato. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesalahan fonologis dalam pidato Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan relevansinya pada pembelajaran teks eksposisi di SMA.
Subjek penelitian ini adalah pidato Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebanyak dua pidato yang dimuat dalam kanal Youtube Sekretariat Presiden pada bulan Desember 2020. Objek dalam penelitian ini merupakan kutipan kalimat tuturan yang mengandung kesalahan berbahasa secara fonologis. Bentuk penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat dengan metode analisis padan fonetis artikulatoris.
Hasil penelitian analisis kesalahan fonologis pada pidato Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yaitu terdapat tiga bentuk kesalahan. Pertama, 9 perubahan fonem yang terbagi lagi menjadi perubahan fonem vokal dan konsonan. Kedua, 17 penghilangan fonem, yang terbagi menjadi penghilangan fonem vokal, fonem konsonan, dan penghilangan fonem vokal rangkap (diftong) yang dilafalkan menjadi fonem vokal tunggal. Ketiga, 1 kesalahan pelafalan karena penambahan fonem yaitu penambahan fonem konsonan. Setelah itu, hasil analisis data direlevansikan dengan kegiatan pembelajaran pada KD 3.4 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks eksposisi.
This research stems from the many errors in language made by the public, especially important in communication are widely done in formal situation such as when making speeches. This study aims to describe the form of phonological error in the speech of Health Minister Budi Gunadi Sadikin and its relevance to the study of exposition texts in high school.
The subject of this study was a speech by Health Minister Budi Gunadi Sadikin as many as two speeches published on the Presidential Secretariat youtube channel in December 2020. The object in this study is a quote of a speech sentence that contains phonological language errors. This form of research is qualitative descriptive research. Data collection is carried out using the Simak Bebas Libat Cakap technique (SBLC) and the technique of recording with the method of analysis of articulate phonetics.
The results of the phonological error analysis in the speech of Health Minister Budi Gunadi Sadikin are three forms of error. First, 9 pronunciation errors due to phoneme changes are further divided into changes in vowels and consonants. Second, 17 pronunciation errors due to phoneme removal, which is divided into vowels phoneme removal, consonant phoneme removal, and removal of double vocal phonemes (diphthers) pronounced into single vowel phones. Third, 1 pronunciation error due to the addition of phonemes is the addition of consonant phonemes. After that the results of data analysis are relevant to learning activities in KD 3.4 Analyzing the structures and languagess exposition text.
3155935429E1A017176KEKUATAN PEMBUKTIAN ALAT BUKTI ELEKTRONIK DALAM DIGITAL FORENSIK DALAM PERKARA PIDANA KASUS DJOKO TJANDRA
(Putusan Nomor 1035/Pid.B/2020/PN Jkt.Tim)
Alat bukti mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan zaman. Alat bukti elektronik merupakan perkembangan dari alat bukti yang tertera dalam KUHAP. Alat bukti elektronik dapat ditemukan dengan analisa digital forensik. Penelitian ini bersumber pada Putusan Nomor 1035/Pid.B/2020/PN Jkt.Tim yang mana dalam persidangan Jaksa Penunntut Umum mengajukan alat bukti elektronik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kekuatan pembuktian alat bukti elektronik dan untuk mengetahui pembuktian digital forensik yang mempengaruhi pertimbangan dalam kasus tindak pidana pembuatan surat palsu dalam Putusan Nomor 1035/Pid.B/2020/PN Jkt.Tim. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah Yuridis Normatif, dengan spesifikasi penelitian preskriptif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka yang akan dianalisa menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat bukti elektronik yang diajukan dalam persidangan berupa surat keterangan sehat dan surat keterangan covid-19 dalam bentuk foto dan dokumen elektronik memiliki kekuatan alat bukti yang sah berdasarkan pasal 5 ayat (1) UU ITE sebagai perluasan alat bukti yang diatur dalam KUHAP. Pembuktian digital forensik mempengaruhi pertimbangan hakim dalam kasus tindak pidana pembuatan surat palsu dalam Putusan Nomor 1035/Pid.B/2020/PN Jkt.Tim karens penemuan alat bukti elektronik yang selanjutnya dapat digunakan alat bukti yang sah dan dari alat bukti tersebut beserta kesesuaian keterangan saksi dapat memberikan keyakinan terhadap hakim bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama dan berlanjut membuat surat palsu.

Evidence has developed along with the times. Electronic evidence is a development of the evidence listed in the Criminal Procedure Code. Electronic evidence can be found by digital forensic analysis. This research is based on Decision Number 1035/Pid.B/2020/PN Jkt.Tim which in the trial the Public Prosecutor submitted electronic evidence. The purpose of this study is to determine the strength of evidence of electronic evidence and to determine forensic digital evidence that influences considerations in the criminal case of making fake letters in Decision Number 1035/Pid.B/2020/PN Jkt.Tim. The approach method in this research is normative juridical, with prescriptive research specifications. The data used is secondary data obtained from literature study which will be analyzed using descriptive analytical method with a qualitative approach. The results show that the electronic evidence submitted in the trial in the form of a health certificate and a COVID-19 certificate in the form of photos and electronic documents has the power of valid evidence based on article 5 paragraph (1) of the ITE Law as an expansion of evidence set forth in the Criminal Procedure Code. . Forensic digital evidence affects judges' considerations in the case of the criminal act of making fake letters in Decision Number 1035/Pid.B/2020/PN Jkt. The karens team finds electronic evidence which can then be used as valid evidence and from that evidence along with the suitability of witness statements can provide confidence to the judge that the defendant is guilty of committing a crime together and continues to make a false letter.

3156034793E1A017138DISSENTING OPINION DALAM PUTUSAN KASASI PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI ZAINUDIN HASAN
(Tinjauan Yuridis Putusan Mahkamah Agung Nomor: 113 K/Pid.Sus/2020)
Penelitian ini bersumber pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 113 K/Pid.Sus/2020 yang akan menguraikan mengenai kedudukan dissenting opinion dan menganalisa dasar pertimbangan hakim minoritas dalam menentukan unsur penerimaan gratifikasi yang dianggap sebagai suap yang berhubungan dengan jabatan Terdakwa berdasarkan pasal 12 B Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada putusan a quo. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif. Data penelitian ini bersumber dari data sekunder berupa Peraturan Perundang-Undangan, Putusan Pengadilan, dan literatur berupa buku-buku dan jurnal yang relevan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan. Metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan dissenting opinion dimaksudkan untuk pelaksanaan asas transparansi dalam penyelesaian perkara. Pertimbangan hakim minoritas dalam menentukan unsur penerimaan gratifikasi yang dianggap sebagai suap yang berhubungan dengan jabatan Terdakwa adalah kurang cermat karena mengesampingkan pembuktian terkait dengan penerimaan Gratifikasi oleh Terdakwa dengan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan selaku kakak kandung Terdakwa dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Dalam melakukan pembuktian tindak pidana gratifikasi yang dilakukan Terdakwa seharusnya memperhatikan ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, karena undang-undang ini memuat tentang ketentuan yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi, kolusi, dan nepotisme yang khusus ditujukan kepada para Penyelenggara Negara dan pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara.This research is based on the Supreme Court Decision Number 113 K/Pid.Sus/2020 which will describe the position of dissenting opinion and analyze the basis for consideration of minority judges in determining the element of receiving gratification which is considered a bribe related to the position of the Defendant based on Article 12 B of Law Number 20 of 2001 concerning the Eradication of Criminal Acts of Corruption in the a quo decision. The approach method used in this study is a normative juridical approach. The data of this study were sourced from secondary data in the form of legislation, court decisions, and literature in the form of relevant books and journals. The method of data collection is done by literature study. The analytical method used in this research is normative qualitative. Based on the results of research and data analysis, it can be concluded that the position of dissenting opinion is intended to implement the principle of transparency in case settlement. The consideration of minority judges in determining the element of receiving gratification which is considered a bribe related to the Defendant's position is not precise because it excludes evidence related to the acceptance of Gratification by the Defendant with the Minister of Forestry, Zulkifli Hasan as the Defendant's older brother, in connection with Law Number 28 of 1999 concerning State Administration. Clean and Free from Corruption, Collusion and Nepotism. In proving the criminal act of gratification by the Defendant, the minority judges should pay attention to the provisions of Law Number 28 of 1999 concerning State Administration that is Clean and Free from Corruption, Collusion and Nepotism, because this law contains provisions relating directly or indirectly to law enforcement. against criminal acts of corruption, collusion, and nepotism specifically aimed at State Administrators and other officials who have strategic functions in relation to state administration.