Artikelilmiahs
Menampilkan 23.961-23.980 dari 50.277 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 23961 | 28652 | D1A016146 | PENGARUH UMUR DAN JENIS KELAMIN TERHADAP KOKSIDIOSIS PADA KELINCI (STUDI KASUS PADA PETERNAKAN KELINCI DI KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS) | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Umur dan Jenis Kelamin terhadap Koksidiosis pada Kelinci (Studi Kasus pada Peternakan Kelinci di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas)”. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas pada bulan Januari-Februari 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi penyakit koksidiosis pada kelinci serta mengetahui pengaruh umur dan jenis kelamin terhadap penyakit koksidiosis pada kelinci di Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan sasaran penelitian yaitu kelinci jantan dan betina pada tiga periode umur yaitu periode pra sapih (lahir-5 minggu), periode sapih (5-24 minggu), dan periode dewasa (lebih dari 24 minggu) di Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas sebanyak 96 ekor dengan lokasi pengambilan di 9 peternakan kelinci di desa Karangsalam, Karangtengah, Rempoah, dan Pamijen. Analisis Chi-square digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel umur dan jenis kelamin terhadap koksidiosis pada kelinci. Hasil penelitian menghasilkan prevalensi koksidiosis pada kelinci sebesar 46,88%. Umur berpengaruh terhadap penyakit koksidiosis pada kelinci (P<0,05). Kelinci yang berumur 5-24 minggu memiliki prevalensi koksidiosis tertinggi dibandingkan periode umur lainnya yaitu sebanyak 68,8%. Jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap koksidiosis pada kelinci (P>0,05). | The research was called “The Influence of Age and Sex to Coccidiosis on Rabbit (A Case Study on Rabbit’s Farm in Baturraden Sub-District, Banyumas Regency)”. This research was conducted at Baturraden Sub-district, Banyumas Regency in January-February 2020. This study aims to determine the prevalence of coccidiosis in rabbits and determine the effect of age and sex on coccidiosis in rabbits in Baturraden District, Banyumas Regency. The research method was used a survey with the research target of male and female rabbits in three age periods, namely the pre-weaning period (birth-5 weeks), weaning period (5-24 weeks), and the adult period (more than 24 weeks) in the District Baturraden, Banyumas Regency as many as 96 with the location of taking in 9 rabbit farms in the villages of Karangsalam, Karangtengah, Rempoah, and Pamijen. Chi-square analysis was used to determine the effect of age and sex variables on coccidiosis in rabbits. The results of the study are the prevalence of coccidiosis in rabbits of 46.88%. Age affects coccidiosis in rabbits (P<0.05). Rabbits aged 5-24 weeks have the highest prevalence of coccidiosis compared to other age periods of 68.8%. Sex did not affect coccidiosis in rabbits (P> 0.05). | |
| 23962 | 27061 | C1M014049 | Pengaruh Potensi Diri, Status Ekonomi Keluarga dan Teman Sebaya Terhadap Minat Melanjutkan ke Perguruan Tinggi (studi kasus di SMA Negeri 1 Bukateja) | Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh potensi diri, status ekonomi keluarga dan teman sebaya terhadap minat melanjutkan ke perguruan tinggi (studi kasus di SMA Negeri 1 Bukateja). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII yang mempunyai minat melanjutkan ke perguruan tinggi sebanyak 190 siswa dengan menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling dan menghasilkan sampel sebanyak 129 responden. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Potensi diri berpengaruh positif terhadap minat melanjutkan ke perguruan tinggi, yang dibuktikan dengan nilai thitung 4,600 > ttabel 1,657 ; (2) Status ekonomi keluarga berpengaruh positif terhadap minat melanjutkan ke perguruan tinggi, yang dibuktikan dengan nilai thitung 1,760 > ttabel 1,657; (3) Teman sebaya berpengaruh positif terhadap minat melanjutkan ke perguruan tinggi, yang dibuktikan dengan nilai thitung 2,828 > ttabel 1,657. Berdasarkan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,300 atau 30% dapat diartikan bahwa 30% minat melanjutkan ke perguruan tinggi dipengaruhi oleh faktor potensi diri, status ekonomi keluarga dan teman sebaya. Sedangkan sisanya sebesar 70% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. | This research is a quantitative research. This study aims to determine and analyze the influence of self potential, economic status of family and peers on the interest in continuing to college (case study in SMA Negeri 1 Bukateja). The population in this study was class XII students who had an interest in continuing to college as many as 190 students by using the Proportionate Stratified Random Sampling technique and produced a sample of 129 respondents. The results showed: (1) Potential self-positive effect on interest in continuing to college, as evidenced by the value of tcount 4.600 > 1.657 ttable; (2) The economic status of the family has a positive effect on interest in continuing to college, as evidenced by the of tcount 1.760 > ttable 1.657; (3) Peers have a positive effect on interest in continuing to college, as evidenced by a of tcount 2.828 > ttable 1.657. Based on the coefficient of determination (R2) of 0.300 or 30% it can be interpreted that 30% interest in continuing to college is influenced by factors of self potential, economic status of family and peers. While the remaining 70% is influenced by other factors not examined in this study. | |
| 23963 | 27064 | A1F015079 | Pengaruh Suhu Penyimpanan dan Jenis Kemasan Terhadap Perubahan Mutu Keju Oles Analog Berbasis Jagung | Keju mengandung komponen gizi yang mudah mengalami penurunan mutu, untuk mencegah penurunan mutu pada keju oles analog, diperlukan jenis pengemasan dan teknik penyimpanan berupa suhu penyimpanan yang dapat mempertahankan mutu keju. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian terkait penyimpanan keju oles analog berbasis jagung dengan tujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh jenis kemasan dan suhu penyimpanan terhadap perubahan mutu keju oles analog jagung; 2) Mengetahui perubahan sensori yang terjadi pada keju oles analog jagung selama penyimpanan; 3) Mendapatkan informasi tentang jenis kemasan dan suhu penyimpanan terbaik yang dapat digunakan untuk menyimpan produk keju oles analog. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan rancangan percobaan yang digunakan adalah Split Plot Design dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 42 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak dua kali sehingga diperoleh 84 unit percobaan. Faktor yang diteliti adalah lama penyimpanan (M) sebagai main plot, terdiri atas; 1 minggu (M1), 2 minggu (M2), 3 minggu (M3), dan 4 minggu (M4) dan jenis kemas (K) sebagai sub plot, terdiri atas; kemasan PP (Polyprohylene) (K1), kemasan PET (Polyethylene Terephthalate) (K2), dan kemasan kaca (K3) serta suhu penyimpanan sebagai sub plot (S) terdiri atas; 10°C (S1), 5°C (S2), -5°C (S3), dan 30°C (S4). Hasil penelitian menunjukkan jenis kemasan dan suhu penyimpanan (suhu rendah) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan mutu keju oles analog jagung selama penyimpanan. Kombinasi perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah jenis kemasan kaca dan suhu penyimpanan 5°C. Karakteristik sensoris keju oles analog jagung yang dihasilkan yaitu tekstur halus, tidak ada gumpalan, mudah dioles (6,18); penampakan tidak berjamur, menarik, mengkilap (6,22); warna kuning pucat, menarik, cerah (6,08); aroma tidak ada bau yang mengganggu, aroma khas keju berkurang (6,18). | Cheese contains nutritional components that are easily degraded, in order to prevent degradation in spreadable cheese analogue, packaging types and storage techniques are needed in the form of storage temperatures that can maintain cheese quality. The objectives of this study are: 1) To determine the effect of various types of packaging and storage temperature on changes in the quality of corn analogue spreadable cheese; 2) To determine the physicochemical and sensory changes that occur in analogue spreadable cheese during storage; 3) Get information about the type of packaging and the best storage temperature that can be used to store analogue spreadable cheese products. The method used in this research was a split plot design with randomized block design (RBD) as its basic design that arranged in a factorial with the 42 combinations of treatment and repeated 2 times to obtain 84 experimental units. The factors studied were the length of storage (M) as the main plot, consisting of; 1 week (M1), 2 weeks (M2), 3 weeks (M3), and 4 weeks (M4) and packaging type (K) as sub-plots, consisting of; PP (Polyprohylene) packaging (K1), PET (Polyethylene Terephthalate) packaging (K2), and glass packaging (K3) and storage temperature as sub plot (S) consists of; 10 ° C (S1), 5 ° C (S2), -5 ° C (S3), and 30 ° C (S4). Sensory variables include texture, color, appearance and aroma. The results showed that the type of packaging and storage temperature (low temperature) provide a significant influence on changes in the quality of corn analogue spreadable cheese. The best combination of treatments in this study was the type of glass packaging and storage temperature of 5 ° C for a storage period of 1 week (M1S2K3) with the sensory characteristics of analogue topical cheese, which is fine texture, no lumps, easily rubbed (6,18); appearance not moldy, attractive, shiny (6,22); pale yellow, attractive, bright (6.08); the aroma has no annoying odor, the distinctive aroma of cheese is reduced (6,18). | |
| 23964 | 28653 | B1A016069 | Pengaruh Inokulasi PGPR Indigenous Lahan Salin terhadap Pertumbuhan Vegetatif Padi pada Media dengan Salinitas Tinggi | Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) merupakan suatu kelompok mikroorganisme yang dapat hidup di daerah perakaran tanaman yang memiliki kemampuan menghasilkan IAA sehingga memberikan dampak positif untuk pertumbuhan tanaman. Bakteri PGPR dapat hidup di berbagai kondisi, salah satunya di lahan salin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi PGPR indigenous lahan salin terhadap pertumbuhan vegetatif padi pada media dengan salinitas tinggi dan menentukan isolat yang paling efektif meningkatkan pertumbuhan vegetatif padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, serta Screen House Fakultas Pertanian UNSOED pada bulan Oktober 2019-Januari 2020. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan yaitu kontrol (tanpa inokulasi isolat), JA2, JB1, JB2, JD1, dan JE1 pada medium cair AB Mix dengan tingkat salinitas 5 dSm-1. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga didapat 24 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri atas 6 tanaman padi. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, panjang akar, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot kering total, luas daun, dan kadar klorofil. Data dianalisis dengan ANOVA, jika berbeda nyata dilakukan uji lanjut DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) pada α=5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi isolat PGPR indigenous lahan salin mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif padi pada media dengan salinitas tinggi dan semua isolat mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif padi pada media dengan salinitas tinggi, namun isolat JE1 menunjukkan hasil terbaik pada parameter panjang akar, biomassa akar, biomassa tajuk, biomassa total dan tinggi tanaman. | Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) is a group of microorganisms that can live in plant roots that have the ability to produce IAA so that it has a positive impact on plant growth. PGPR bacteria can live in a variety of conditions, one of which is in saline land. The research was aimed to study the effect of PGPR inoculation of indigenous land on vegetative growth of rice in media with high salinity and determine which isolates are most effective in increasing vegetative growth of Inpari Unsoed 79 Agritan varieties. The research was carried out at the Agronomi and Horticulture Laboratory, and the Screen House of the Faculty of Agriculture UNSOED in October 2019-January 2020. The research was arranged by Randomized Block Design with 6 treatments, namely control (without inoculation of PGPR), JA2, JB1, JB2, JD1 , JE1 and repeated in 4 times, so they were 24 unit experimental. Each experimental used AB Mix liquid medium with a salinity level of 5 dSm-1. The observed variabels were plant height, root length, root biomass, sub dry weight, total dry weight, leaf area, and leaf greenness. The data were analyzed by using ANOVA, if significantly different, a continued by DMRT α=5%. The results showed that inoculation of PGPR indigenous isolates of saline land was able to increased vegetative growth of rice in media with high salinity and all isolates were able to increased vegetative growth of rice in media with high salinity, however JE1 isolate showed the best results on parameters of root length, root biomass, sub dry weight, total dry weight and plant height. | |
| 23965 | 27065 | F1D015011 | Relasi Aktor Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Desa Suro Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas Tahun 2018 | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai bagaimana relasi aktor yang terjadi dalam pengelolaan sumber daya alam di Desa Suro Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas tahun 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan paradigma kontruktivisme, serta menggunakan prespektif strukturalisme dan pendekatan penelitian studi kasus. Dalam pemilihan informan, peneliti ini menggunakan dua teknik pemilihan informan diantaranya adalah teknik purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sendiri dilakukan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah Politik Di Desa, Relasi Aktor, Sumber Daya Alam: Galian C. Hasil penelitian menunjukan bahwa relasi aktor yang terjadi dalam pengelolaan sumber daya alam di Desa Suro Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas tahun 2018 melibatkan aktor-aktor yang berasal dari pihak pemerintah desa serta tokoh-tokoh lokal yang memiliki kekuasaan serta modal yang cukup untuk membiayai pengoperasian galian di Desa Suro Kecamatan Kalibagor. Galian pasir yang berjalan tidak memiliki izin resmi namun dapat tetap berjalan hingga saat ini dikarenakan relasi dan kedekatan pihak galian dengan pemerintah desa. Relasi yang tejalin ini mengakibatkan keberadaan galian mendapat dukungan dari pihak pemerintah desa. Aktor-aktor yang terlibat dalam proses pengelolaan galian ini dikategorikan melakukan kegiatan politik dengan tujuan untuk mencapai kepentingan atas nama pribadi atau pun kelompok. Sikap politik dari para aktor yang terlibat dalam pengelolaan galian pasir ini menunjukan bahwa terdapat relasi kolutif yang terjadi. Permasalahan lingkungan yang diakibatkan adanya galian pasir tidak dapat dianggap remeh. Dampak jangka panjang harus dipikirkan agar kerusakan lingkungan tidak semakin parah. Karena hal tersebut merupakan ancaman mengerikan bagi kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem disekitar lokasi galian pasir. Dalam kasus pengelolaan galian pasir di Desa Suro Kecamatan Kalibagor diperlukan upaya yang tegas. Pemerintah desa harus bersikap tegas berkaitan dengan izin serta dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat adanya galian pasir. | The purpose of this study is to describe how the relation between actors that occur in the management of natural resources in Suro Village, Kalibagor District, Banyumas Regency in 2018. The method used in this study is a qualitative method using the paradigm of constructivism, as well as using a structuralism perspective and a case study research approach. In the selection of informants, this researcher used two informant selection techniques including purposive sampling and snowball sampling techniques. Data collection used in this study itself was carried out by observation, in-depth interviews, and documentation. The framework of thought used in this study include Politics in the Village, Actor Relations, Natural Resources: Galian C. The results showed that the relation of actors that occurred in the management of natural resources in Suro Village, Kalibagor District, Banyumas Regency in 2018 involved actors from the village government as well as local figures who had sufficient power and capital to finance the operation of excavations in the village. Suro, Kalibagor District. Sand excavation that runs does not have official permission but can continue to run until now due to the relations and closeness of the excavation party with the village government. This close relationship resulted in the excavation being supported by the village government. The actors involved in the process of managing the excavation are categorized to carry out political activities with the aim of achieving interests on behalf of individuals or groups. The political attitude of the actors involved in the management of the sand excavation shows that there is a collusive relation that has taken place. Environmental problems caused by sand excavation cannot be underestimated. Long-term impacts must be considered so that environmental damage is not getting worse. Because it is a terrible threat to environmental sustainability and the balance of the ecosystem around the sand excavation location. In the case of sand excavation management in Suro Village, Kalibagor District, a firm effort is needed. The village government must act decisively with regard to permits and the environmental impacts caused by sand excavation. | |
| 23966 | 27057 | L1C015041 | Produktivitas Suara Harian Lobster Hijau Pasir (Panulirus homarus) | Penelitian ini berjudul “Produktivitas Suara Harian Lobster Hijau Pasir (Panulirus homarus)”. Lobster Hijau Pasir digolongkan dalam kelompok lobster berduri, merupakan salah satu jenis Lobster yang banyak ditemukan di perairan Indonesia. Lobster merupakan salah satu kelompok hewan yang menghasilkan suara dengan karakteristik yang berbeda, lobster mengeluarkan sinyal akustik dengan 2 organ, yaitu sebuah plectrum yang bergerak yang terdapat pada ujung segmen tangkai antenna dan sebuah rigid file. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik suara dan laju produktivitas suara harian dari Lobster Hijau Pasir (P. homarus). Metode yang digunakan adalah metode observasi skala laboratorium. Hasil penelitian ini menunjukan Lobster P. homarus menghasilkan tiga jenis suara, yaitu Slow rattle sound, Squeaking sound dan Popping sound. Popping sound merupakan jenis suara yang paling banyak dihasilkan. Peningkatan produksi suara diperoleh pada pagi hari hingga malam hari. Hal ini dikarekanan lobster merupakan hewan nokturnal sehingga aktif pada malam hari, waktu pemberian pakan juga mempengaruhi aktivitas dan produksi suara yang dihasilkan oleh lobster P. homarus. | This study is entitled "Daily Sound Productivity of Green Sand Lobster (Panulirus homarus)". Green Sand Lobster is classified as a spiny lobster group, which is one type of Lobster that is found in Indonesian waters. Lobster is one of the groups of animals that produce different characteristic sounds. The lobster produces an acoustic signal with 2 organs, a moving plectrum located at the end of the antenna stem segment and a rigid file. The purpose of this study was to determine the characteristics of the sound and the rate of daily sound productivity of the Green Sand Lobster (P. homarus). The method used is a laboratory-scale observation method. The results of this study indicate lobster P. homarus produces three types of sound, namely slow rattle sound, squeaking sound and popping sound. Popping sound is the type of sound that is most widely produced. Increased sound production is obtained in the morning until night.. This is because lobster is a nocturnal animal so it is active at night, feeding time also affects the activity and sound production produced by P. homarus lobster. | |
| 23967 | 28654 | D1A016135 | PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK TERHADAP WARNA KUNING TELUR DAN KANDUNGAN KOLESTEROL TELUR PADA AYAM NIAGA PETELUR AFKIR | Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik dalam pakan terhadap warna kuning telur dan kandungan kolesterol telur ayam niaga petelur afkir. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah ayam niaga petelur afkir strain Lohmann Brown umur ± 88 minggu dan probiotik komersil yang mengandung bakteri Lactobacillus, Lactococcus, Streptococcus dan Bifidobacterium. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperiment dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan P0 (pakan basal ditambah probiotik 0 ml/kg pakan), P1 (pakan basal ditambah probiotik 1 ml/kg pakan) dan P2 (pakan basal ditambah probiotik 2 ml/kg pakan) dan di ulang sebanyak 6 kali dan melibatkan 72 ekor ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan probiotik berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap warna kuning tetapi bepengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan kolesterol telur. Hasil uji lanjut orthogonal pholynomial didapatkan hasil linier dengan persamaan Y= 488,99-100,51X. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penambahan probiotik sampai dengan 2ml/kg pakan belum mampu meningkatkan intensitas warna kuning telur tetapi dapat menurunkan kandungan kolesterol telur pada ayam niaga petelur afkir. | The purpose of this study was to observe the effect of probiotic addition on egg yolk color and egg cholesterol content of spent laying hens. The material used in this study was spent laying hens with Lohmann Brown strains ± 88 weeks old and commercial probiotics containing Lactobacillus, Lactococcus, Streptococcus and Bifidobacterium bacteria. The research method used was experimental with a Completely Randomized Design (CRD) with treatment P0 (basal feed plus probiotics 0 ml/kg of feed), P1 (basal feed plus 1 ml/kg probiotic feed) and P2 (basal feed plus probiotic 2 ml/kg kg of feed) and repeated 6 times and involved 72 chickens. The results showed that the addition of probiotics had no significant effect (P> 0.05) on the yellow color but a very significant effect (P <0.01) on egg cholesterol content. The results of orthogonal pholynomial tests obtained linear results with the equation Y = 488.99-100.51X. The conclusion of the study was that the addition of probiotic up 2ml/kg of feed has not been able to increase the color of the yolk but can reduce the cholesterol contetnt of egg on spent laying hens. | |
| 23968 | 27069 | E1A014070 | GUGAT CERAI KARENA NAFKAH WAJIB TIDAK TERPENUHI (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan Agama Banjarnegara Nomor:719/Pdt.G/2018/PA.Ba) | GUGAT CERAI KARENA NAFKAH WAJIB TIDAK TERPENUHI (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan Agama Banjarnegara Nomor:719/Pdt.G/2018/PA.Ba) Oleh : DIAN SUSANTIKA DEWI E1A014070 ABSTRAK Perceraian adalah putusnya hubungan perkawinan antara suami isteri salah satunya terjadi pada perkara gugat cerai di Pengadilan Agama Banjarnegara Nomor: 719/Pdt.G/2018/PA.Ba. Permasalahan dalam penelitian ini adalah mengenai Pertimbangan hukum Hakim dalam mengabulkan perkara gugat cerai karena nafkah wajib tidak terpenuhi dalam Pengadilan Agama Banjarnegara Nomor:719/Pdt.G/2018/PA.Ba. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian prefektif analitis, metode pengumpulan data studi kepustakaan, metode analisis dan normatif kualitatif. Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan Perkara tersebut berdasarkan pada Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan jo Pasal 19 huruf (b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf (b) Kompilasi Hukum Islam sebagai alasan dikabulkanya gugat cerai tersebut, sehingga menurut peneliti sebaiknya dilengkapi dengan Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam dan Pasal 33 dan 34 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan jo Pasal 80 ayat (1) dan ayat (2) Kompilasi Hukum Islam yang berisi Hak dan Kewajiban suami isteri, serta mempertimbangkan alasan- alasan perceraian pada Pasal 116 huruf (g) angka 4 (empat) Kompilasi Hukum Islam mengenai sighat taklik talak. Kata Kunci: Gugat Cerai, Nafkah Wajib | DIVORCE SUED BECAUSE THE MANDATORY INCOME IS NOT FULFILLED (Juridical Review of the Banjarnegara Religious Court Decision Number: 719 / Pdt.G / 2018 / PA.Ba) By: DIAN SUSANTIKA DEWI E1A014070 ABSTRACK Divorce is a broken marriage relationship between husband and wife, one of which occurs in divorce cases in the Banjarnegara Religious Court Number: 719 / Pdt.G / 2018 / PA.Ba. The problem in this research is how the legal consideration of judges in granting divorce sued because the mandatory income is not fulfilled in the Banjarnegara Religious Court Number: 719 / Pdt.G / 2018 / PA.Ba. The research method used in this study was using a normative jurdical approach, prescriptive analytical research specifications, secondary data sources, collection of literature study data and inventory, presentation of narrative text data, qualitative normative data analysis. The results of the research and discussion can be concluded that the judges' legal considerations in granting the case were based on Article 39 paragraph (2) of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage in conjunction with Article 19 letter (b) Government Regulation Number 9 of 1975 jo. Article 116 letter (b) Compilation of Islamic Law as the reason for granting the divorce suit, so according to the researcher, it should be completed with Article 19 letter (f) Government Regulation Number 9 of 1975 jo. Article 116 letter (f) Compilation of Islamic Law and Articles 33 and 34 of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage in conjunction with Article 80 paragraph (1) and paragraph (2) Compilation of Islamic Law which contains the rights and obligations of husband and wife, as well 116 letter (g) number 4 (four) Compilation of Islamic Law concerning sighat taklik talak. Keywords: Divorce sued, Mandatory income | |
| 23969 | 26967 | K1C015061 | Analisis Radiasi Primer dan Sekunder Pada Penyinaran Tiga Arah Kanker Nasofaring Terhadap Dosis Phantom Organ Lensa Mata | Penyinaran kanker nasofaring umumnya diketahui radiasi total yang terserap sel kanker dan tidak memperhitungkan radiasi sekunder yang terserap organ sekitar. Organ sekitar sel kanker nasofaring salah satunya yaitu lensa mata yang termasuk organ sensitif terhadap radiasi, dengan dosis yang diterima tidak boleh melebihi ambang batas (<25 Gy). Penelitian ini mensimulasikan perhitungan interaksi foton dengan phantom organ lensa mata guna melihat radiasi primer dan sekunder dengan teknik penyinaran lateral (sudut 90˚dan 270˚ target penyinaran GTV dan PTV) dan penyinaran supraclave (sudut 0˚) serta menentukan dosis serap gabungan dari variasi penyinaran. Untuk simulasi perhitungan memanfaatkan program Monte Carlo MCNPX. Hasil perhitungan simulasi disajikan sebagai kurva PDD. Phantom organ lensa mata menerima persebaran radiasi sekunder lebih banyak dibandingkan dengan dosis radiasi primer, serta nilai dosis akan turun pada setiap kedalaman. Namun pada target GTV masih terdapat sebaran dosis radiasi primer yang lebih tinggi. Sedangkan dosis serap total pada setiap penyinaran, lensa mata kanan menerima dosis lebih banyak dibandingkan dengan lensa mata sebelah kiri. Nilai dosis serap total gabungan penyinaran supraclave dan lateral target GTV lensa mata kanan sebesar 34.112538 Gy dan lensa mata kiri sebesar 34.18682 Gy, sedangkan pada target PTV lensa mata kanan sebesar 9.189119 Gy dan lensa mata kiri sebesar 9.239113 Gy. Dosis serap lensa mata target GTV melebihi batas ambang dan target PTV dapat dikatakan aman dari efek radioterapi, namun hal itu masih kurang sempurna karena geometri kepala dan leher yang disimulasikan masih sejajar. | Nasopharyngeal cancer radiation is generally known to be total radiation absorbed by cancer cells and does not take into account secondary radiation absorbed surrounding organs. Surrounding organs nasopharyngeal cancer cells one of which is the eye's lens that includes organ sensitive to radiation, the doses received shall not exceed the threshold (<25 Gy). This study simulates the calculation of photon interaction with phantom organ eye lens to look at the primary and secondary radiation the lateral iradiation technique (angle of 90 ° and 270 ° the radiation target of GTV and PTV) as well as the supraclave radiation (angle of 0 °) and determine the absorbed dose combination of variations in illumination. For the simulation calculations utilizing the Monte Carlo MCNPX program. The results of the simulation calculation are presented as curves PDD. The phantom of the eye lens organ receive more distribution of secondary radiation than the primary radiation dose and dose values will go down at any depth. But on the target's GTV is still a primary distribution of the radiation dose is higher. While for the total dose at each irradiation, the right eye lens receive a dose more than the left eye lens. The value of total absorption dose combined supraclave and lateral to the target of the GTV right eye lens of 34.112538 Gy and left eye lens of 34.18682 Gy, whereas in supraclave and lateral irradiation PTV target right eye lens is 9.189119 Gy and left eye lens is 9.239113 Gy. Eye lens absorbed dose exceeds the threshold of the target's GTV and PTV targets can be said to be safe from the effects of radiotherapy, but it is still less than perfect because the geometry of the head and neck are simulated is still parallel to the position of the neck higher than the head. | |
| 23970 | 27070 | A1F015061 | PENGARUH PENAMBAHAN WHEY PROTEIN CONCENTRATE DAN JENIS EMULSIFIER TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA KEJU CHEDDAR ANALOG BERBASIS SUSU JAGUNG | Susu jagung merupakan salah satu bahan dasar yang dapat digunakan dalam pembuatan keju cheddar analog. Proses pembuatan keju cheddar analog pada dasarnya diperlukan bahan tambahan yang berfungsi untuk meningkatkan tekstur dan meningkatkan rendemen diantaranya whey protein concentrate. Selain itu terdapat bahan yang digunakan untuk menstabilkan kandungan air dan lemak diperlukan emulsifier, misalnya Tween-80 dan Span-80. Penelitian ini mengkaji mengenai pengaruh variasi konsentrasi WPC (Whey Protein Concentrate) dan jenis emulsifier terhadap sifat sensori keju cheddar analog. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakaan adalah RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan dua faktor perlakuan, yaitu WPC (Whey Protein Concentrate) (W) terhadap susu jagung yang terdiri dari 3 taraf yaitu konsentrasi 20% (W1), konsentrasi 25% (W2), dan konsentrasi 30% (W3). Faktor penambahan jenis emulsifier (E) terdiri dari 3 taraf, yaitu Tween-80 1% (E1), Span-80 1% (E2), dan Tween-80:Span-80 1% (E3). Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu variabel sensori. Data variabel sensori dianalisis menggunakan Uji F taraf 5%, apabila hasil analisis menunjukan pengaruh yang nyata maka dilanjutkan dengan Uji Duncan’s Multiple Range Test taraf 5%. Penentuan formula dan perlakuan terbaik menggunakan Uji Indeks Efektivitas. Hasil penelitian menunjukan proporsi formula terbaik keju cheddar analog adalah konsentrasi WPC (Whey Protein Concentrate) 30%, dan konsentrasi emulsifier jenis Tween-80 sebesar 1% (W3E1) karena memiliki sensori warna putih kekuningan, aroma sedikit khas keju, rasa agak asin, tekstur tidak keras, dan agak suka secara keseluruhan. Variasi konsentrasi WPC (Whey Protein Concentrate) yang berbeda menghasilkan nilai warna, rasa, aroma, tekstur, dan kesukaan yang berbeda. Variasi jenis emulsifier yang berbeda menghasilkan nilai warna, rasa, aroma, tekstur, dan kesukaan yang berbeda. | Corn milk is one of the basic ingredients that be used in making analog cheddar cheese. The processing of analog cheddar cheese basically need additional ingredients which increase the texture and sucrose content including whey protein concentrate. In addition, there are some materials used to stabilize the water and fat content required emulsifiers, such as Tween-80 and Span-80. The objective of this research was to examines the effect of variations in the concentration of WPC (Whey Protein Concentrate) and the type of emulsifier on the sensory properties of analog cheddar cheese. This research was using an experimental research method. The experimental was using a Randomized Block Design (RAK) with two treatment factors there are WPC (Whey Protein Concentrate) (W) on corn milk consisting of 3 levels, i.e a concentration of 20% (W1), 25% (W2), and 30% (W3). The addition factor of the emulsifier’s type (E) consists of 3 levels there are Tween-80 1% (E1), Span-80 1% (E2), and Tween-80: Span-80 1% (E3). The variable observed in this study consisted of sensory variable. Data on sensory variables was analyzed using F test amount 5% if the treatment effect on the observed variable then followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) amount 5%. The determination of the best formula and treatment was using the Effectiveness Index Test. The results showed that the proportion of the best formula of analog cheddar cheese was obtained by using 30% of WPC (Whey Protein Concentrate), and 1% (W3E1) Tween-80 of emulsifier concentration. It had a sensory yellowish white (color), slightly typical cheese (aroma), slightly salty (taste), it is soft (texture), and overall acceptance (like). The variations in WPC concentration have an effect on different color, taste, aroma, texture and overall acceptance. The different variations of emulsifier’s type influence to the different color, taste, aroma, texture and overall acceptance. | |
| 23971 | 28655 | H1B015051 | Pemodelan Stabilitas Lereng dan Analisis Hujan pada Daerah Rawan Longsor di Kabupaten Banyumas | Tingginya resiko bencana tanah longsor di musim hujan menjadi ancaman yang sering terjadi di Kabupaten Banyumas. Berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat bahwa terdapat total 96 kejadian bencana tanah longsor di Kabupaten Banyumas dari tahun 2015 sampai 2019. Peristiwa terbanyak terjadi pada tahun 2017 dengan angka kejadian mencapai 35 kali. Identifikasi mengenai daerah rawan longsor sangat diperlukan di lokasi penelitian untuk keperluan mitigasi kebencanaan. Identifikasi dilakukan dengan membuat peta stabilitas lereng yang dimodelkan melalui pendekatan spasial serta mengetahui korelasinya dengan curah hujan harian. Pemodelan stabilitas lereng dianalisis dengan menghitung faktor keamanan lereng pada bidang potensi longsor menggunakan data spasial yang diperoleh dari metode interpolasi kriging dan IDW melalui software R Studio dan QGIS. Perhitungan diasumsikan bahwa tanah berjenis lempung organik dan longsor akan terjadi bila tanah jenuh atau kadar air mencapai 100%. Dari hasil pemodelan yang dilakukan tercatat 277 desa yang terprediksi sebagai daerah rawan longsor, diantaranya 255 desa dengan kategori lereng labil dan 188 desa dengan kategori lereng kritis. Hasil tersebut memiliki validasi sebesar 95,71 % dari data histori bencana longsor selama tahun 2005 – 2019. Hasil korelasi menunjukkan bahwa curah hujan berpengaruh terhadap nilai faktor keamanan lereng. Semakin besar curah hujan maka nilai faktor aman semakin kecil yang artinya semakin rentan pula untuk terjadinya tanah longsor. | The high risk of landslides in the rainy season is a frequent threat in Banyumas Regency. Based on information from the National Disaster Management Agency (BNPB) it was noted that there were 96 landslide disasters in Banyumas Regency from 2015 to 2019. Landslide most occurred in 2017 with an incidence reach 35 times. Identification of landslide prone areas is required in the research location for disaster mitigation purposes. Identification is done by making a slope stability map modeled through a spatial approach and knowing its correlation with daily rainfall. Slope stability modeling is analyzed by calculating the slope safety factor in the field of potential landslides using spatial data obtained from the kriging interpolation and IDW methods through R Studio software and QGIS. The calculation is assumed that organic clays soil and landslides will occur if the soil is saturated or the water content reach 100%. From the modeling results, 277 villages were predicted as landslide prone areas, including 255 villages with unstable slope categories and 188 villages with critical slope categories. The results have a validation of 95.71% from the historical data of landslides during 2005 - 2019. The correlation results showed that rainfall affects the value of the slope safety factor. The greater rainfall, the smaller value of the slope safety factor, which means the more susceptible to landslides. | |
| 23972 | 27072 | G1A015051 | PENGARUH POLIMORFISME GEN ACTN3 TERHADAP PERUBAHAN KETAHANAN OTOT PASCA INTERVENSI PLYOMETRIC TRAINING: Studi pada Mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang. Gen ACTN3 berpotensi menjadi kunci performa atletik individu dengan mengkode protein α-actinin-3 pada serat otot tipe cepat, sehingga menjadi marker genetik yang paling sering diteliti. Plyometric training (PT) adalah latihan yang dirancang untuk memperbaiki kinerja diri dengan memasukkan beberapa kegiatan dasar yang salah satunya untuk menilai ketahanan otot. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh polimorfisme gen ACTN3 terhadap perubahan ketahanan otot pasca intervensi plyometric training pada mahasiswa UKM olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Metode. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan pre test dan post test design tanpa kontrol. Sebanyak 31 orang laki-laki dipilih dengan metode consecutive sampling. Subjek dikelompokan berdasarkan polimorfisme gen ACTN3 menjalani tahapan penelitian berupa pengukuran ketahanan otot sebelum PT dan setelah PT. Responden mengikuti latihan PT selama 5 minggu dengan 2 sesi setiap minggunya. Pengukuran ketahanan otot dilakukan dengan gerakan half squat jump selama 1 menit. Hasil. Uji T berpasangan menunjukkan perbedaan bermakna antara ketahanan otot sebelum dan sesudah intervensi PT. Hasil uji One - Way ANOVA menunjukkan tidak terpat perbedaan bermakna antara polimorfisme gen ACTN3 dengan perubahan ketahanan otot (p>0,05). Kesimpulan. Polimorfisme gen ACTN3 tidak berpengaruh terhadap perubahan ketahanan otot pasca intervensi plyometric training pada mahasiswa UKM olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. | Background: The ACTN3 gene has the potential to be the key to individual athletic performance by encoding the α-actinin-3 protein in fast type muscle fibers, making it the most frequently investigated genetic marker. Plyometric training (PT) is an exercise design to improve self-performance by incorporating several basic activities, one of which is to assess muscle endurance. Objective: This study aimed to determine the effect of ACTN3 gene polymorphism on muscle endurance changed after PT interventions on student of SAU in Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. Method: A quasi-experimental method was conducted without control using pretest and postest design. A total of 31 male students were selected by using consecutive sampling technique. Subjects were grouped based on ACTN3 gene polymorphisms and underwent two stages of muscle endurance measurements which were taken before and after PT interventions. Subjects attended 2 sessions of PT each week for 5 consecutive weeks. Muscle endurance is measured for a minute by doing half squat jumps. Results: The result of pair T-test showsignificant difference between muscle endurance before and after plyometric training. The result of One-Way ANOVA test shows that there is no significant difference of the ACTN3 gene polimorphism on muscle endurance changes after plyometric training intervention (p>0,05) Conclusions: The ACTN3 gene polymorphism doesn’t affect the muscle endurance changes after PT interventions on student of SAU in Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. | |
| 23973 | 27073 | A1F015032 | Analisis Aktivitas Antioksidan Teh Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) dengan Penambahan Bubuk Kulit Buah Naga dan Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) | Teh bunga kecombrang merupakan produk olahan teh herbal yang dapat dibuat dari bunga kecombrang, kulit buah naga, teh hitam dan kayu manis. Bahan baku tersebut telah diketahui memiliki senyawa bioaktif seperti polifenol dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengetahui proporsi bunga kecombrang : kulit buah naga : teh hitam terhadap aktivitas antioksidan teh bunga kecombrang; 2) Mengetahui persentase bubuk kayu manis terhadap aktivitas antioksidan teh bunga kecombrang; 3) Mengetahui interaksi perlakuan antara bunga kecombrang : kulit buah naga : teh hitam dan persentase bubuk kayu manis terhadap aktivitas antioksidan teh bunga kecombrang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor yang teliti yaitu proporsi bunga kecombrang : kulit buah naga : teh hitam (B) yang terdiri atas tiga taraf yaitu 80 : 15 : 5 (B1), 70 : 25 : 5 (B2) dan 60 : 35 : 5 (B3), dan persentase bubuk kayu manis (K) terdiri atas tiga taraf yaitu 2% (K1), 4% (K2) dan 6% (K3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi bunga kecombrang : kulit buah naga : teh hitam serta persentase bubuk kayu manis berpengaruh nyata terhadap total fenol, total flavonoid, aktivitas antioksidan dan sensori (warna, aroma, rasa dan kesukaan) tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air. Perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan B3K2 (Proporsi bahan 60:35:5 (b/b/b) dan persentase bubuk kayu manis 4%) dengan aktivitas antioksidan 80,58%; total fenol 16,63 mg TAE/g; total flavonoid 2,50 mg QE/g; kadar air 5,89%; warna 2,64 (merah keunguan); flavor kecombrang 2,65 (agak kuat); aroma kecombrang 2,51 (agak kuat); aroma kayu manis 2,78 (agak kuat); flavor kayu manis 3,08 (agak kuat) dan kesukaan 3,12 (agak suka). | Kecombrang flower tea is a processed herbal tea product that can be made from kecombrang flowers, dragon fruit peel, black tea and cinnamon. These raw materials have bioactive contents such as polyphenols and flavonoids. This research aims to: 1) Knowing the proportions of kecombrang flowers: dragon fruit peel: black tea against the antioxidant activity of kecombrang flower tea; 2) Knowing the percentage of cinnamon powder on the antioxidant activity of kecombrang flower tea; 3) Knowing the interaction of treatments between the proportion of kecombrang flowers: dragon fruit peel: black tea and the percentage of cinnamon powder on the antioxidant activity of kecombrang flower tea. This research uses a randomized block design (RBD). The factors examined are the proportion of kecombrang flowers: dragon fruit peel: black tea (B) which consists of three levels, namely 80: 15: 5 (B1), 70: 25: 5 (B2) and 60: 35: 5 (B3), and the percentage of cinnamon powder (K) which consists of three levels, namely 2% (K1), 4% (K2) and 6% (K3). The results showed that the proportion of kecombrang flowers are: dragon fruit peel: black tea and the percentage of cinnamon powder significantly affect on total phenols, total flavonoids, antioxidants and sensory (color, aroma, taste, and preferences), but did not significantly affect on moisture content. The best treatment is on the treatment of B3K2 (proportion of ingredients 60: 35: 5 (w/w/w) and the percentage of cinnamon powder 4%) with antioxidant activity 80.58%; total phenol 16.63 mg TAE / g; total flavonoids 2.50 mg QE / g; moisture content of 5.89%; color 1.65 (red); kecombrang flavor 2.5 (rather strong); aroma of kecombrang 2.4 (slightly strong); aroma of cinnamon 3.2 (rather strong); cinnamon flavor 3.1 (rather strong) and preferences 2.9 (rather like). | |
| 23974 | 27074 | G1A014105 | PERBEDAAN PERSEPSI KELUARGA TERHADAP PENYAKIT SKIZOFRENIA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD BANYUMAS DAN RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO | Latar Belakang: skizofrenia adalah bentuk paling umum dari penyakit mental yang parah. Penyakit ini adalah penyakit yang serius dan mengkhawatirkan yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan realitas (berupa halusinasi dan waham), gangguan kognitif (tidak mampu berpikir abstrak) serta mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. skizofrenia adalah bentuk paling umum dari penyakit mental yang parah. Penyakit ini adalah penyakit yang serius dan mengkhawatirkan yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan realitas (berupa halusinasi dan waham), gangguan kognitif (tidak mampu berpikir abstrak) serta mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kurangnya pengetahuan dari keluarga dalam hal merawat pasien, menjadi faktor utama dalam meningkatnya angka kekambuhan penderita skizofrenia. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi pengetahuan, diantaranya: tingkat pendidikan, motivasi, pengalaman, dan persepsi. Tujuan : Untuk mengetahui persepsi keluarga tentang penyakit Skizofrenia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik observasional, dengan metode pendekatan secara cross-sectional. Penelitian ini menggunakan teknik Consecutive sampling. Uji yang digunakan pada penelitian ini adalah Uji chi-square. Hasil: Hasil uji Chi-Square bernilai p = 0,546 untuk jenis kelamin, p = 0,214 untuk usia, p = 0,997 untuk hubungan keluarga dengan pasien, dan p = 0,431 antara persepsi keluarga di RSUD Banyumas dan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05) Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara Persepsi Keluarga di RSUD Banyumas dan RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo | Background: Schizofrenia is the most common form of severe mental illness. This disease is a serious and worrying disease that is characterized by a decrease or inability to communicate, disruption of reality (in the form of hallucinations and understandings), cognitive impairment (unable to think abstractly) and having difficulty doing daily activities. Lack of knowledge from the family in terms of caring for patients, is a major factor in the increasing rate of recurrence in szhizofrenics. Several factors can influence knowledge, including: level of education, motivation, experience, and perception. Objective: finding out family perceptions about schizophrenia. Methods: this research is an observational analytic quantitative research, with ceross-sectional approach. This study uses Consecutve Sampling technique. The test used in this study is the Chi-Square test. Result: the result from Chi-Square test are p = 0,546 for gender, p = 0,214 for age, p = 0,997 for family relationship with patients, and p = 0,431 between family perceptions in Banyumas Hospital and RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo showed no significant difference (p>0,05) Conclusion: There was no significant difference between Family Perception at Banyumas General Hospital and Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital. | |
| 23975 | 27075 | D1A015031 | PREVALENSI FASCIOLIASIS PADA HATI DAN FESES KAMBING DENGAN VARIASI UMUR BERBEDA DI RPH SOKARAJA BANYUMAS | Penelitian ini berjudul “Prevalensi fascioliasis pada hati dan feses Kambing dengan variasi umur berbeda di RPH Sokaraja Kabupaten Banyumas”. Penelitian tersebut dilaksanakan di RPh Sokaraja dan di Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe B Purwokerto. Penelitian ini dimulai pada Bulan Juni 2019 sampai dengan bulan Juli 2019. Materi penelitian menggunakan 74 ekor kambing dengan menggunakan rumus slovin. Metode penelitian ini menggunakan metode survey dan uji laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi fascioliasis pada ternak kambing di RPH Sokaraja dengan menggunakan pemeriksaan hati adalah 12,16% sedangkan pemeriksaan feses menggunakan uji sedimentasi adalah 24,3%. Berdasarkan hasil analisis Chi-Square untuk pemeriksaan hati chi hitung yaitu 7,387, jika dibandingkan dengan Chi tabel yaitu 3,84 maka ada hubungan antara umur dengan tingkat infeksi, karena 7,387> chi table sedangan hasil analisis Chi-Square pemeriksaan feses adalah chi hitung yaitu 11,756, jika dibandingkan dengan Chi tabel yaitu 3,84 maka ada hubungan antara umur dengan tingkat infeksi, karena 11,756>chi tabel, dapat disimpulkan bahwa umur ternak kambing berpengaruh nyata terhadap infeksi fascioliasis pada kambing yang di potong di RPH Sokaraja Kabupaten Banyumas. | This research titled "The prevalence of fascioliasis in liver and goat feces with different age variations in slaughterhouse Sokaraja, Banyumas Regency". The research was conducted in Sokaraja slaughterhouse and in the Type B Health Laboratory Purwokerto. This research began in June 2019 until July 2019. The research material uses 74 goats by using the Slovin formula. The results showed that the prevalence of fascioliasis in goats in Sokaraja Slaughterhouse using a liver examination was 12,16% while the stool examination using sedimentation test was 24,3%. Based on the results of the Chi-Square analysis for the liver count chi calculation that is 7,387, when compared with the Chi table that is 3,84 then there is a relationship between age and infection rates, because 7,387> chi table whereas the Chi-Square analysis results fecal examination is the chi count that is 11,756 , when compared with Chi table which is 3,84, there is a relationship between age and infection rate, because 11,756> chi table, it can be concluded that the age of the goat has a significant effect on fascioliasis infection in the goat which is slaughtered in slaughterhouse Sokaraja, Banyumas Regency. | |
| 23976 | 27078 | D1E013104 | STUDI KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETERNAK DOMBA BATUR DI KABUPATEN BANJARNEGARA | Penelitian yang berjudul “Studi Kesejahteraan Rumah Tangga Peternak Domba Batur di Kabupaten Banjarnegara”, bertujuan untuk (1) menganalisis kontribusi usaha ternak terhadap pendapatan rumah tangga peternak domba Batur, (2) mengetahui tingkat kesejahteraan rumah tangga peternak domba Batur, dan (3) menganalisis pengaruh karakteristik peternak yang meliputi: jumlah ternak, tingkat pendidikan peternak, jumlah anggota keluarga, lama beternak, dan umur peternak terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga peternak domba Batur. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei terhadap 50 peternak domba Batur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan regresi linier berganda dan statistik deskriptif. Peubah yang diamati yatu tingkat kesejahteraan rumah tangga peternak domba Batur dan karakteristik peternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan sebesar Rp 7.079.046/tahun, biaya variabel sebesar Rp 241.416/tahun, biaya tetap sebesar Rp 1.474.175/tahun, pendapatan sebesar Rp 5.363.455/tahun, dan kontribusi usaha ternak domba Batur sebesar 32%. Peternak domba Batur rata-rata memelihara 9,26 ekor, tingkat pendidikan peternak rendah sebesar 60% tidak lulus pendidikan dasar, jumlah anggota keluarga sebanyak empat jiwa sebesar 76%, dengan lama beternak lebih dari 16 tahun sebesar 42%, dan umur peternak antara 30−39 tahun sebesar 32%. Peternak domba Batur di Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2018 sebesar 54% berada pada tingkat belum sejahtera dengan Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Peternak (NTPRP<1). Analisis regresi terdapat pengaruh jumlah ternak, tingkat pendidikan peternak, jumlah anggota keluarga, lama beternak, dan umur beternak terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga peternak domba Batur dengan koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 0,91 sehingga H1 dan hipotesisnya dapat diterima. Jumlah ternak dan lama beternak secara parsial berpengaruh nyata terhadap tingkat kesejahteraan peternak domba Batur. | The study entitled "Study on Household Welfare of Batur Sheep Farmers in Banjarnegara Regency", was aimed to (1) analyze the contribution of Batur sheep farming to the household income of Batur sheep farmers, (2) find out the welfare levels of Batur sheep farmers, and (3) analyze the characteristics of farmers included: number of Batur sheep, educational level of farmers, number of family members, farming experience, and age of farmers influence the level of household welfare of Batur sheep farmers. The research method used the survey to 50 Batur sheep farmers. The data obtained were analyzed using descriptive statistic and multiple linear regression. The variables observed were the level of household welfare of Batur sheep farmers and the characteristics of the farmers. The results showed that the average revenue of farmers was IDR 7,079,046.00/year, variable costs of IDR 241,416.00/year, fixed costs of IDR 1,474,175.00/year, income of IDR 5,363,455/year, and contribution of Batur sheep farming to the total household income was 32%. Batur sheep farmers have an average farms size was 9.26 head, educational level of farmers was mostly low by 60% not graduating from basic education, number of family members is four people by 76%, farming experience more than 16 years by 42%, and age of farmers dominated in range of 30 and 39 years. Batur sheep farmers in Banjarnegara Regency in 2018 by 54% are at level of unprosperity which Household Farmers Revenues Exchange (NTPRP<1). Regression analysis is effects between the number of sheep, educational level of farmers, number of family members, farming experience, and age of farmers on the household welfare of Batur sheep farmers with the coefficient of determination (R2) was 0.91. The number of sheep and farming experience were partially influencing significantly the household welfare of Batur sheep farmers. | |
| 23977 | 27080 | A1D115016 | KAJIAN KONSENTRASI PELILINAN DAN LAMA PERENDAMAN DALAM LARUTAN CaCl2 UNTUK MEMPERPANJANG DAYA SIMPAN BUAH JAMU BIJI (Psidium guajava L.) | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendapatkan konsentrasi pelilinan terbaik untuk memperpanjang daya simpan buah jambu biji, 2) mendapatkan lama perendaman terbaik dalam larutan CaCl2 untuk memperpanjang daya simpan buah jambu biji, dan 3) mendapatkan kombinasi konsentrasi peilinan terbaik dan lama peerendaman yang tepat dalam larutan CaCl2 untuk memperpanjang daya simpan buah jambu biji. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2019 diLaboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL), faktor yang dicoba terdiri dari 2, yaitu 4 taraf konsentrasi pelilinan (kontrol, 4%, 6%, 8%) dan 4 taraf lama perendaman(kontrol, 60 menit 90 menit 120 menit). Masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, setiap unit percobaan terdiri dari 3 buah, sehingga secara keseluruhan diperoleh 16 kombinasi perlakuandan 144buah yang dievaluasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F dan uji lanjut dengan DMRT pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pelilinan terbaik yaitu konsentrasi 8%, dengan nilai rerata variabel susut bobot 3,90%, kehilangan kadar air 46,08%, kadar vitamin C 28,22 mg/gr, kadar gula 7,00 brix, kekerasan 7,16 cm/cm2, lama kesegaran 9,08 hari, aroma 4,66, rasa 5,58, warna daging 4,33, dan warna kulit 4,83, sedangkan lama perendaman terbaik dalam larutan CaCl2 yaitu 60 menit, dengan nilai rerata variabel susut bobot 9,91%, kehilangan kadar air 45,49%, kadar vitamin C 23,9 mg/gr, kadar gula 6,95 brix, kekerasan 6,39 cm/cm2, lama kesegaran 8,00 hari, aroma 4,75, rasa 5,00, warna daging 4,75, dan warna kulit 4,83. | The research aims to: 1) get the best waxing concentration to extend the shelf life of guava fruit, 2) get the best soaking time in CaCl2 solution to extend the shelf life of guava fruit, and 3) get the best combination of waxing concentration and appropriate soaking length in CaCl2 solution to extend the shelf life of guava fruit. The research was conducted in May to July 2018 at the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The study used a Completely Randomized Block Design (RCBD), the tried factor consisted of 2, namely 4 levels of waxing concentration (control, 4%, 6%, 8%) and 4 levels of soaking time (control, 60 minutes 90 minutes 120 minutes). Each treatment combination was repeated 3 times, each unit of the experiment consisted of 3 pieces, so that overall a total of 16 treatment combinations and 144 fruits were evaluated. The data obtained were analyzed using the F test and follow-up tests with DMRT at the error level of 5%. The results showed that the best waxing concentration was 8% concentration, with a mean value of weight loss of 3.90%, loss of water content of 46.08%, vitamin C content of 28.22 mg / gr, sugar content of 7.00 brix, hardness of 7 , 16 cm / cm2, freshness time of 9.08 days, aroma 4.66, taste 5.58, meat color 4.33, and skin color 4.83, while the best soaking time in CaCl2 solution is 60 minutes, with a mean value variable weight loss of 9.91%, loss of water content of 45.49%, vitamin C content of 23.9 mg / gr, sugar content of 6.95 brix, hardness of 6.39 cm / cm2, freshness of 8.00 days, aroma 4 , 75, flavor 5.00, meat color 4.75, and skin color 4.83. | |
| 23978 | 27081 | G2A017006 | KORELASI GENOTIP-FENOTIP PASIEN TALASEMIA BETA DI KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR | Talasemia merupakan salah satu kelainan darah genetik yang bersifat autosomal resesif dan cukup banyak ditemui di seluruh dunia. Diperkirakan 3-10% masyarakat Indonesia adalah pembawa sifat talasemia dengan berbagai macam latar belakang etnik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis mutasi gen HBB dengan derajat klinis dan hematologis pada subyek 31 pasien talasemia-beta di Kota Samarinda Kalimantan Timur. Sampel darah pasien diambil untuk memperoleh DNA kemudian dilakukan amplifikasi dengan Polymerase Chain Reaction dan dilakukan teknik direct sekuensing untuk menganalisa mutasi gen hemoglobin-beta. Etnik jawa merupakan yang paling dominan dalam penelitian ini (64,5%) dan derajat klinis paling umum adalah kategori sedang (77,4%). Rerata nilai MCV dan MCH masing-masing adalah 72 fL dan 24 pg. Analisa DNA didapatkan 8 jenis alel mutan yaitu Cd26/HbE (GAG>AAG) 48,4%, selanjutnya IVS-1-5 (G>C) 14,5%, IVS-1-2 (T>C) 12,9%, Cd35 (-C) 8,1%, IVS-1-1 (G>T) 6,5%, Cd30 (AGG>ACG) 3,2%, Cd60 (GTG>GAG) dan Cd2 (CAT>CAC) masing-masing 1,6%. Studi ini menemukan mutasi yang belum dilaporkan sebelumnya di Indonesia yaitu Cd60 (GTG>GAG) dan Cd2 (CAT>CAC). Uji statistik spearman rank menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis mutasi dengan derajat klinis dan hematologis. | Thalassemia is a genetic blood disorder that is autosomal recessive and is quite common throughout the world. It is estimated that 3-10% of Indonesians are carriers of thalassemia with a variety of ethnic backgrounds. This study aims to determine the relationship of HBB gene mutations types with clinical levels and hematological in the subjects of 31 thalassemia-beta patients in Samarinda City, East Kalimantan. Blood samples were taken from patients to obtain DNA then amplified with the Polymerase Chain Reaction and direct sequencing techniques were performed to analyze the hemoglobin-beta gene mutation. Javanese ethnics is the most dominant in this study (64.5%) and the most common clinical levels is the moderate category (77.4%). The mean MCV and MCH values were 72 fL and 24 pg. DNA analysis found 8 types of mutant alleles : Cd26 / HbE (GAG> AAG) 48.4%, then IVS-1-5 (G> C) 14.5%, IVS-1-2 (T> C) 12.9 %, Cd35 (-C) 8.1%, IVS-1-1 (G> T) 6.5%, Cd30 (AGG> ACG) 3.2%, Cd60 (GTG> GAG) and Cd2 (CAT> CAC ) 1.6% each. This study found mutations that had not been previously reported in Indonesia, namely Cd60 (GTG> GAG) and Cd2 (CAT> CAC). Spearman rank statistical tests show there is no significant relationship between the type of mutations with clinical levels and hematological. | |
| 23979 | 27082 | A1A015059 | Analisis Kinerja Sub Terminal Agribisnis Kutabawa (Kasus pada Pemasaran Sayuran Bawang Daun, Petsai dan Caisim di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga) | Sub Terminal Agribisnis (STA) merupakan infrastruktur pemasaran sebagai tempat transaksi jual beli hasil pertanian baik transaksi fisik maupun non fisik yang terletak di sentra produksi. STA Kutabawa merupakan pasar yang didirikan oleh pemerintah daerah Purbalingga untuk memfasilitasi pemasaran komoditas pertanian di Desa Kutabawa dan sekitarnya. Meskipun STA telah beroperasi cukup lama namun di Desa Kutabawa masih terdapat lembaga pemasaran tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa petani di desa ini belum seluruhnya menggunakan STA sebagai sarana memasarkan hasil pertaniannya. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis kinerja Sub Terminal Agribisnis Kutabawa dan 2) Menganalisis peluang pilihan petani dalam memilih kelembagaan pemasaran beserta alasannya.Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penelitian dilaksanakan di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga pada bulan April 2019. Pengambilan sampel petani sebanyak 56 orang diperoleh menggunakan metode simple random sampling dan lembaga pemasaran sebanyak 37 orang diperoleh menggunakan metode snow ball sampling. Metode analisis kinerja STA yang digunakan yaitu saluran pemasaran, marjin pemasaran, farmer’s share rasio keuntungan terhadap biaya serta peluang pilihan kelembagaan pemasaran menggunakan binary logistic regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kinerja Sub Terminal Agribisnis Kutabawa menunjukkan bahwa terdapat perbedaan marjin pemasaran, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya pada setiap saluran pemasaran yang melalui STA Kutabawa dan kelembagaan tradisional. Saluran pemasaran yang melalui STA Kutabawa lebih efisien dari kelembagaan tradisional, karena memiliki marjin pemasaran yang lebih rendah, bagian harga yang diterima petani lebih tinggi dan setiap lembaga pemasaran memperoleh keuntungan dari biaya pemasaran yang dikeluarkan. 2) Peluang dipilihnya kelembagaan pemasaran dipengaruhi oleh cara pembayaran, volume penjualan, jarak lahan ke STA dan kepemilikan kendaraan. Peluang petani yang menginginkan hasil panen dibayar langsung, jumlah hasil panen kurang dari sama dengan 140 kilogram, jarak lahan kurang dari dua kilometer dan memiliki kendaraan cenderung memilih menjual langsung ke STA Kutabawa. | Agribusiness Sub Terminal (STA) is marketing infrastructure as a place for buying and selling agricultural products both physical and non-physical transactions located in the production center. STA Kutabawa is a market established by the local government of Purbalingga to facilitate the marketing of agricultural commodities in kutabawa village and its surroundings. Even though STA has been operating for a long time, there are still traditional marketing institutions in Kutabawa Village.this shows that farmers in this village have not all used STA as a means to market their agricultural products.This study aims to 1) analyze the performance of the Kutabawa Agribusiness Sub-Terminal and 2) Analyze the farmers' choice opportunities in choosing marketing institutional and their reasons. The research method used was a survey method. The study was conducted in Kutabawa Village, Karangreja Subdistrict, Purbalingga Regency in April 2019. Sampling of 56 farmers was obtained using the simple random sampling method and as many as 37 marketing institutions were obtained using the snow ball sampling method. STA performance analysis methods used are marketing channels, marketing margins, farmer's share and profit-to-cost ratios, and opportunities for marketing institutional choices using binary logistic regression. The results showed that 1) The performance of the Kutubawa Agribusiness Sub-Terminal shows that there are differences in marketing margins, farmer share and profit-to-cost ratios for each marketing channel through the Kutabawa STA and traditional institutions. Marketing channels through the Kutabawa STA are more efficient than traditional institutions, because they have lower marketing margins, prices received by farmers is higher and each marketing institution get the benefits from the marketing costs incurred. 2) Opportunity to choose it as a place of payment, sales volume, land distance to STA and vehicle ownership. Opportunities for farmers who requested directly, the number of harvests is less than equal to 140 kilograms, planting distance is less than two kilometers and has a vehicle that uses to choose directly to Kutabawa STA. | |
| 23980 | 28656 | F1B114004 | Efektivitas Program Kartu Banyumas Pintar Pada Jenjang Pendidikan Sekolah Dasar di Kelurahan Grendeng Kabupaten Banyumas | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis efektivitas program Kartu Banyumas Pintar pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar di Kelurahan Grendeng Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Fokus penelitian ini menggunakan 3 aspek kajian yaitu pencapaian tujan, integrasi, dan adaptasi. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan aspek pencapaian tujuan, program Kartu Banyumas Pintar bagi siswa sekolah dasar di Kelurahan Grendeng Kabupaten Banyumas sudah tepat sasaran. Pemanfaatan dana program ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah siswa. Berdasarkan aspek integrasi, perilaku siswa menjadi lebih rajin, sosialisasi sudah dilakukan oleh pihak sekolah dan dinas pendidikan serta pengawasan dilakukan dengan mengkolektifkan bukti kuitansi. Apabila ada penyelewengan maka akan diberikan sanksi berupa tidak diusulkan kembali menjadi penerima bantuan. Dan berdasarkan aspek adaptasi, sekolah dan dinas sudah menjalankan tugasnya dalam menyalurkan bantuan program KBP. Wali murid juga komunikatif dan kooperatif menerima program ini. Faktor penghambat yang ditemukan adalah wali murid kadang lama dalam mengumpulkan berkas pengajuan program KBP. | This research aims to find out and analyze the effectiveness of the Banyumas Smart Card program at the elementary school level in the Grendeng Urban Village Banyumas Regency This research was conducted using qualitative methods. The selection of informants uses purposive sampling technique. The focus of this study uses 3 aspects of the study, namely the achievement of goals, integration, and adaptation. The results showed based on aspects of achieving goals, the Smart Banyumas Card program for elementary school students in Grendeng Urban Village, Banyumas Regency was right on target. Utilization of program funds is used to meet the needs of student schools. Based on the aspect of integration, student behavior becomes more diligent, socialization has been carried out by schools and education offices and supervision is carried out by collecting evidence of receipts. If there is misappropriation, sanctions will be given in the form of not being proposed to be a recipient again. And based on aspects of adaptation, schools and offices have carried out their duties in channeling the KBP program assistance. Student guardians are also communicative and cooperative in accepting this program. The inhibiting factor found was that students' guardians sometimes took a long time to collect the KBP program submission file. |